Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pruritus adalah suatu sensasi kulit yang tidak nyaman, bersifat iritatif
dan menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Pruritus senilis sering
terjadi pada orang tua dengan usia 60 tahun atau lebih. Penyebab paling
sering dari pruritus senilis adalah kulit yang sangat kering (xerosis kutis
atau xerodermia). Selain itu juga disebabkan oleh degenerasi atrofi serta
menurunnya fungsi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Rasa gatal
terjadi karena stimulasi ringan, seperti gosokan dengan pakaian atau
perubahan suhu di sekitar penderita. Pruritus merupakan gejala dari
berbagai penyakit. Oleh karenanya penting untuk mengetahui penyebab
dari gejala tersebut.

2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pruritus
2.1.1 Definisi
Pruritus berasal dari kata Prurire: gatal; rasa gatal; berbagai macam
keadaan yang ditandai oleh rasa gatal (Kamus Kedokteran Dorland.1996).
Djuanda A, dkk (1993), mengemukakan pruritus adalah sensasi kulit yang
iritatif dan menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Berdasarkan dua
pendapat di atas, Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan ditandai oleh
rasa gatal, serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Reseptor rasa
gatal tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (penicillate) yang
hanya ditemukan pada kulit, membran mukosa dan kornea
(Sher,1992). Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah keluhan yang
paling sering dijumpai pada gangguan dermatologik. Bila tidak disertai
dengan kelainan kulit maka disebut pruritus esensial atau pruritus sine
materia atau pruritus simtomatik. Dan pada orangtua biasanya pruritus
terjadi dikarenakan kulit kering.

2.1.2 Klasifikasi Pruritus
Bentuk Pruritus:
1. Pruritus pada gravidarum
Di induksi oleh hormon estrogen terutama pada trimester III akhir
gravidarum dimulai dari abdomen atau badan kemudian generalisata, bisa
3

disertai dengan gejala anorexia, nausea atau muntah juga disertai ikterus
kolestatik setelah pruritus 2- 4 minggu karena garam empedu ada dalam
kulit.

2. Pruritus pada hepatikum
Pruritus sebagai akspresi kolestatis tanda adanya obstruksi pada empedu
(obstruksi biliarry disease) yang berlokalisasi pad daerah hepatal, bisa
juga disebabkan efek samping obat-obatan yang memberi obstruksi intra
hepatal sehingga terjadi ekskresi garam asam billiar.

3. Pruritus pada Senilitas / Senilis
Kulit senile yang kering mudah menderita fisur (chapped skin) mudak
menjadi pruritik, terjadi dengan atau tanpa reaksi inflamatorik. Rasa gatal
terjadi karena stimulasi ringan / perubahan suhu. Daerah yang tersering
ialah daerah genital eksterna, perineal dan perianal.

4. Pruritus pada Sistem Endokrin (DM, Hiperparatiroid, Mixedema)
Pada DM terjadi hiperglikemia, sehingga terjadi iritabilitas ujung-ujung
saraf dan kelenjar metabolik di kulit terutama daerah anogenital atau
submammae pada wanita. Glikogen sel sel epitel kulit dan vagina
meningkat sehingga terjadi diabetes kulit oleh karena predisposisi berupa
dermatitis, kandidiasis, dan furunkulosis. Pada hiperparatiroid terjadi
4

peningkatan hormon paratiroid dalam plasma sehingga terjadi defisit
kalsium dalam kulit khususnya kalsium fosfat.
5. Pruritus pada Generalisata / Payah Ginjal
Terjadi pruritus generalisata, terutama pada GGK (payah ginjal kronis)
disertai edema dan terjadi kekeringan kulit (Xerosis) oleh karena terjadi
atrofi kelenjar sebasea dab kelenjar sudorifera.
Pada penyakit ginjal juga mengakibatkan gangguan metabolisme pada
fosfor dan kalsium, magnesium dalam serum meningkat sehingga terjadi
uremia yang menyebabkan terjadinya pruritus, penyebabnya oleh bahan-
bahan yang mengalami retensi, ginjal gagal mensekresinya sehingga
perlu dilakukan hemodialisis.
6. Pruritus pada neopalstik
Pruritus pada keganasan internal terutama berasal dari sistem
limforetikuler menyebabkan penyakit Hodgkin dengan insidens sampai
berbulan-bulan, sebelum penyakit gejala mendasari diketahui.
7. Pruritus pada Mikosis Fungoides
Merupakan limfoma maligna yang progresif. Pruritus timbul pad waktu
lesi kulit masih tidak khas dan belum terdapat infiltrasi maligna. Pruritus
dapat bersifat menetap dan intoleran.
8. Pruritus pada neurologik
Defisit saraf sentral / perifer sebagai pengatur sensasi perabaan dapat
menyebabkan pruritus.
9. Pruritus pada Psokologik
5

Respons garukan berbeda dengan pruritus karena penyebab lain. Pad gatal
karena penyakit organis terdapat korelasi antara sensasi gatal dengan
beratnya respons garuk. Pada gatal psikologik ternyata respons garukan
lebih kecil daripada derajat gatal subjektif, tampak lebih sedikit efek
garukan dan lebih sedikit efek garukan dan lebih banyak picking (cubitan),
serta tidak dijumpai gangguan tidur.

10. Pruritus pada Penyakit lain
a. Gout / rhematik
b. Hipertensi, aterosklerotik menyebabkan pruritus di seluruh tubuh
sebelum timbulnya aplopexia
c. Polisitemia vena disertai pruritus dan urtikaria.
d. Defisiensi Fe bukan anemia, karena gangguan pembentukan Fe,
sebelumnya anemia pruritus sudah hilang.









6

2.2 Pruritus senilis
2.2.1 Definisi
Rasa gatal yang terjadi pada orang tua dikarenakan proses degeneratif
sehingga menyebabkan kulit menjadi kering sehingga terbentunya
fisur(belahan kulit), yang terjadi dengan atau tanpa reaksi inflamatorik.
Daerah yang paling sering terkena ialah daerah genitalia eksterna, perineal
dan perianal.
2.2.2 Etiologi
Dikarenakan proses penuaan, akan terjadi perubahan-perubahan fisik
maupun fungsi dalam tubuh. Pada kulit akan mengalami perubahan
struktur anatomis dan fungsi.
Perubahan struktur anatomis berupa:
1. Lapisan epidermis
a. Lapisan keratinosit : tebalnya berkurang, daya adhesi kurang, terjadi
perubahan secara morfologis dan kandungan air pada stratum korneum
berkurang sehingga kulit menjadi kering dan kasar.
b. Lapisan stratum basal mengalami perubahan ukuran dan bentuk,
reduplikasi pada lamina densa serta ruang antar sel keranosit menjadi
bertambah lebar.
c. Perbatasan dermis dan epidermis lebih datar sehingga pemberian
nutrisi berkurang pada epidermis akibat lapisan tersebut bila terjadi
trauma akan mudah robek dan abrasi (bula).
7

d. Sel melanosit jumlahnya berkurang, hal ini mengakibatkan terjadinya
pigmentasi kulit tidak teratur, sebagian dampak lainnya insiden
neoplasma kulit meningkat yang disebabkan oleh sel melanositnya
menyerap ultraviolet.
e. Sel-sel Langerhans menurun, akibatnya: respon kekebalan seluler kulit
terganggu sehingga pembentukan antigen terganggu, dampak lain
terjadinya karsinoma kulit.
2. Lapisan Dermis
a. Dermis atrofi, relatif aselular dan avaskular, sel mati berkurang
sehingga reaksi hipersensitif menurun.
b. Sel fibroblas mengandung banyak retikulum endoplasmik yang kasar.
c. Serat kolagen jumlahnya berkurang disertai penebalan, kemampuan
membengkak berkurang dan susunannya tidak teratur sehingga kulit
menjadi kendur (lax).
d. Jumlah glikosaminoglikan (bahan dasar dermis) berkurang sehingga
viscoelastisitas berubah.
e. Serat-serat elastik mengalami degradasi, anyaman serat hilang,
akibatnya kulit keriput dan kendur.
3. Jaringan Subkutis
a. Adanya atrofi pada muka, dorsum tangan dan tungkai bawah, hal ini
mengakibatkan hipotermi, telapak kaki mudah luka atau ulserasi.
b. Jaringan subkutis mengalami hipertrofi, pada laki-laki lebih banyak
pada daerah pinggang dan pada wanita pada paha.
8

Perubahan fungsi :
a. Proliferasi dan penyembuhan
1. Waktu pergantian kulit menjadi lebih panjang.
2. Epidermal repair berkurang sehingga risiko infeksi sekundernya tinggi.
3. Pertumbuhan kuku dan rambut lambat.
4. Anaplasia : hampir semua orang di atas 65 tahun mengalami tumor
jinak (keratosis seboroika), penyebabnya :
Sel epidermis bermacam bentuk dan ukuran.
Paparan bahan karsinogen.
Jumlah sel melanosit berkurang proteksinya berkurang.
Jumlah sel Langerhans berkurang.
b. Absorbsi dan Clearance Dermal
1. Permeabilitas meningkat.
2. Dermal clearance-nya menurun
Menurunkan sirkulasi pada dermis
Dermatitis kontak menetap
3. Cenderung timbul gangguan termoregulator
c. Respon terhadap stimulasi eksternal
1. Reaksi terhadap rangsangan raba, vibrasi dan kornea kurang, nilai
ambang nyeri meningkat.
Respon vaskular menurun yang akan mengakibatkan gangguan
regulasi suhu tubuh hipotermi atau heat stroke
Produksi keringat berkurang
9

Produksi sebum menurun

2. Sifat-sifat mekanis
Serat kolagen dan serat elastisitas mengalami perubahan (perubahan
sifat mekanik) sehingga elastic recovery menurun (kulit lama
kembali), hal ini mengakibatkan kulit mudah robek bila trauma.
3. Respon Imun
a. Gangguan fungsi sel beta
b. Gangguan imunitas selular, sehingga mudah mengalami infeksi
virus, jamur dan keganasan.

2.2.3 Patofisiologi
Pada orang tua, terjadi perubahan struktur anatomi dari kulit yakni pada
lapisan epidermis tebalnya berkurang, daya adhesi kurang, terjadi
perubahan secara morfologis dan kandungan air pada stratum korneum
berkurang sehingga kulit menjadi kering dan kasar. Kulit kering tersebut
ditandai dengan berkurangnya kelembaban dalam stratum korneum. Air
merupakan bahan utama untuk kelenturan kulit dan jika kadarnya rendah
akan terjadi pecahan dan fisura pada kulit. Normalnya, air pada kulit
>10%. Saat kulit menjadi terlalu kering, lapisan kulit terluar menjadi kaku
dan dapat pecah. Pecahnya kulit dapat menjadi fisura ke dalam kulit yang
dapat teriritasi, mengalami inflamasi dan terasa gatal. Rasa gatal tersebut
timbul dari ujung saraf mirip sikat yang tidak bermielin yang hanya
10

ditemukan pada kulit, membran mukosa dan kornea. Garukan
menyebabkan terjadinya inflamasi sel dan pelepasan histamin oleh ujung
saraf yang memperberat gejala pruritus yang selanjutnya mendorong untuk
menggaruk yang lebih atau meningkat lingkaran setan pruritus.

2.2.4 Manifestasi Klinis
1. Garukan yang terus menerus.
2. Ekskoriasi, kemerahan, area penonjolan pada kulit (kutil).
3. Infeksi, peruhahan pigmentasi kulit.
4. Gatal yang amat sangat sehingga menyebabkan ketidakmampuan pada
individu untuk melakukan aktivitas.

2.2.5 Diagnosis Banding
1. Dermatitis kontak iritan subyektif
Kelainan kulit tidak terlihat tetapi penderita merasa tersengat, pedih, atau
panas terbakar setelah kontak dengan bahan kimia misalnya asam laktat.
2. Pruritus pada DM
3. Pruritus esensial
Pruritus yang tidak disertai kelainan pada kulit.




11


2.2.6 Tata Laksana
B. Tata Laksana Pruritus
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu
sendiri. terdapat beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga
menimbulkan perasaan lega pada penderita, yaitu:
Pengobatan topical:
Dinginkan kulit dengan kain basah atau air hangat.
Pemakaian emmolient yang teratur, terutama jika kulit kering.
Kortikosteroid topical sedang untuk periode waktu yang pendek.
Antihistamin topical sebaiknya tidak digunakan karena dapat
mensensitisasi kulit dan menimbulkan alergi dermatitis kontak.
Pengobatan dengan medikasi oral mungkin diperlukan, jika rasa gatal
cukup parah dan menyebabkan tidur terganggu:
Antihistamin: antihistamin yang tidak mengandung penenang
memiliki antipruritus.
2.2.7 Prognosis
Individu dengan pruritus senilis memiliki prognosis yang baik, jika
dilakukan penanganan yang adekuat.




12

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Pruritus senilis adalah Rasa gatal yang terjadi pada orang tua dikarenakan
proses degeneratif sehingga menyebabkan kulit menjadi kering sehingga
terbentunya fisur(belahan kulit), yang terjadi dengan atau tanpa reaksi
inflamatorik. Pada orang tua, terjadi perubahan struktur anatomi dari kulit
yang ditandai dengan berkurangnya kelembaban dalam stratum korneum.
Air merupakan bahan utama untuk kelenturan kulit dan jika kadarnya
rendah akan terjadi pecahan dan fisura pada kulit.

SARAN
Untuk meminimalkan penyakit tersebut sebaiknya kita Jaga kebersihan
lingkungan dan kebersihan kulit, dan melakukan hal-hal berikut ini :
1. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
2. Hindari sabun berlemak/yang mengandung deterjen.
3. Hindari perubahan cuaca yang mendadak/ekstrem.
4. Hindari faktor pencetus gatal/lesi.