Anda di halaman 1dari 113

i

INDEKS KARIES GIGI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR


PERKOTAAN DAN PEDESAAN DI KECAMATAN PATRANG
KABUPATEN JEMBER


SKRIPSI
diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Studi Kedokteran Gigi (S1)
dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi





Oleh
Sekti Anggara
NIM 091610101079



FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2013
ii
PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk :
1. Bangsaku Indonesia;
2. Kedua orang tuaku, Ayahanda Santoso dan Ibunda Siti Kotimah serta Adikku
Robbi Nur Mulyo yang tercinta;
3. Guru-guruku dan teman-temanku sampai saat ini;
4. Almamater Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

iii
MOTTO

Asyhadu allaa ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu
merubah diri mereka sendiri *)
(Q.S. Al Radu : 11)
Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan *)
(Q.S. Al Insyirah : 6)
Kesabaran dan keteguhan menaklukkan segalanya
(Ralph Waldo Emerson)


















*) Departemen Agama Republik Indonesia. 1998. Al Quran dan Terjemahannya.
Semarang: PT Kumudasmoro Grafindo
iv
PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Sekti Anggara
NIM : 091610101079
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul: Indeks Karies Gigi
Siswa Kelas V Sekolah Dasar Perkotaan dan Pedesaan di Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah
saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi manapun dan bukan
karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai
dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya tekanan
dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika
ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.




Jember, 21 Maret 2013
Yang menyatakan,



Sekti Anggara
NIM 091610101079


v
SKRIPSI



INDEKS KARIES GIGI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR
PERKOTAAN DAN PEDESAAN DI KECAMATAN PATRANG
KABUPATEN JEMBER






Oleh
Sekti Anggara
NIM 091610101079









Pembimbing
Dosen Pembimbing Utama : drg. Erawati Wulandari, M.Kes
Dosen Pembimbing Pendamping : drg. Kiswaluyo, M.Kes
vi
PENGESAHAN

Skripsi berjudul Indeks Karies Gigi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Perkotaan dan
Pedesaan di Kecamatan Patrang Kabupaten Jember telah diuji dan disahkan pada:
hari, tanggal : Rabu, 21 Maret 2013
tempat : Fakultas kedokteran Gigi Universitas Jember


Tim Penguji Tim Penguji
Ketua, Anggota,


Drg. Sri Lestari, K.Kes drg, Dyah Setyorini, M. Kes
NIP. 196608191996011001 NIP. 196604012000032001

Pembimbing Ketua, Pembimbing Pendamping,


drg. Erawati Wulandari, M.Kes drg. Kiswaluyo, M.Kes
NIP. 196708191993032001 NIP. 19670821199601001


Mengesahkan
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi


drg. Hj. Herniyati, M.Kes
NIP. 195909061985032001

vii
RINGKASAN

Indeks Karies Gigi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Perkotaan dan Pedesaan di
Kecamatan Patrang Kabupaten Jember: Sekti Anggara, 091610101079; 2013: 96
Halaman; Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak
dapat dipisahkan satu dengan lainnya sebab kesehatan gigi dan mulut mempengaruhi
kesehatan tubuh keseluruhan. Karies gigi merupakan penyakit yang sering dialami
masyarakat disamping penyakit periodontal. Karies adalah penyakit pada jaringan
keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pada karbohidrat yang
dapat diragikan. Penyebab karies merupakan multifaktorial, salah satu faktor utama
penyebab karies gigi adalah substrat karbohidrat pada makanan.
Anak usia sekolah dasar memiliki kebiasaan mengkonsumsi jajanan yang
lebih banyak dibandingkan usia Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah
Atas. Perilaku konsumsi jajanan siswa sekolah dasar di kota maupun di desa sama,
namun siswa sekolah dasar di kota lebih selektif dalam memilih jajanan, mereka
cenderung memilih jajanan yang lebih bersih dan higienis. Usia rata-rata murid SD
kelas V adalah 10-12 tahun, pada usia tersebut gigi permanen sudah tumbuh.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan
indeks karies gigi pada siswa kelas V sekolah dasar perkotaan dan pedesaan di
Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik
dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan
pengambilan secara Cluster Random Sampling dan didapatkan 4 sekolah dasar di
daerah pedesaan dan 4 sekolah dasar di daerah perkotaan sebagai sampel yang
diambil secara acak dengan jumlah siswa sebanyak 352 orang. Tahap awal penelitian
dilakukan pemberian kuisioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya kepada
responden untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan perbedaan hasil
pengukuran indeks DMF-T. Variabel kuesioner terdiri atas pengetahuan, perilaku,
viii
peran serta orang tua, serta pola dan jenis jajanan yang dikonsumsi siswa. Kemudian
dilakukan pemeriksaan gigi dan dilihat jumlah gigi karies, hilang, dan yang
direstorasi. Hasil pemeriksaan gigi dicatat pada odontogram dan dihitung
menggunakan indeks DMF-T.
Data yang diperoleh menunjukkan nilai rata-rata indeks DMF-T sekolah dasar
daerah perkotaan sebesar 3,67 (moderat) dan sekolah dasar daerah perkotaan sebesar
2,24 (rendah). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan angka signifikansi 0,00
(P<0.05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks DMF-T siswa
kelas V sekolah dasar pedesaan dengan perkotaan. Perbedaan indeks DMF-T antara
siswa kelas V sekolah dasar pedesaan dengan perkotaan dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan, peran orang tua, dan perilaku siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan
mulut. Kesimpulan penelitian adalah rata-rata indeks DMF-T gigi siswa sekolah
dasar pedesaan lebih tinggi dibandingkan sekolah dasar perkotaan dan berbeda secara
signifikan

ix
PRAKATA

Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT atas segala anugerah dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Indeks Karies Gigi
Siswa Kelas V Sekolah Dasar Perkotaan dan Pedesaan di Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat
menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan motivasi
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:
1. Orang tuaku yang sangat ananda cintai dan sayangi, Ayahanda Santoso dan
Ibunda Siti Kotimah, serta Adikku Robbi Nur Mulyo. Terimakasih atas doa, kasih
sayang, perhatian, dukungan, dan kesabaran yang selalu tercurah setiap waktu
untuk ananda.
2. drg. Hj. Herniyati, M. Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember, beserta seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember;
3. drg. Erawati Wulandari, M.Kes., selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan, saran dan motivasi dengan penuh kesabaran sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan;
4. drg. Kiswaluyo, M.Kes., selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang telah
memberikan bimbingan, saran dan motivasi dengan penuh kesabaran sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan;
5. drg. Sri Lestari, M.Kes., selaku Dosen Penguji Ketua dan drg. Diah Setyorini, M.
Kes selaku Dosen Penguji Anggota yang telah bersedia menguji dan memberikan
masukan hingga terselesaikannya skripsi ini;
x
6. Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Patrang, seluruh Kepala Sekolah SDN yang
menjadi tempat penelitian, dan Adik Siswa kelas V SD yang sudah memberikan
izin dan kerjasamanya sehingga penelitian ini bisa berjalan dengan baik;
7. Rekan-rekanku yang telah membantu skripsi ini; Wilda, Karina, Tami, Nindy,
Gilang, Ririh, Armada, Ongky, Sufi, Roni, Dawai, Dzanuar, Krisna, Izzah, dan
yang terlupa untuk disebutkan.
8. Sahabat-sahabatku yang terus memberikan semangat; Tino, Riklas, Kris, Adi,
Bagus, dan Getha. Semoga persahabatan ini terus terjaga sampai nanti.
9. Rekan-rekan angkatan 2009 yang kubanggakan, dan adik kelas angkatan 2011
kekompakan kita akan terus terjalin hingga kapanpun tak akan terlupakan;
10. Guru-guruku terhormat, baik guru dalam pendidikan formal dan non-formal,
hingga dosen-dosen di Perguruan Tinggi yang telah memberikan ilmu dan
bimbingannya;
11. Semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini baik tertulis
maupun tidak, semoga amal ibadah kalian dibalaskan oleh Allah SWT.
Penulis telah berupaya sekuat tenaga dan pikiran dalam pembuatan dan
penyempurnaan skripsi ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jember, Maret 2013


Penulis

xi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................ i
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................... ii
HALAMAN MOTO .................................................................................. iii
HALAMAN PERNYATAAN ................................................................... iv
HALAMAN PEMBIMBING ................................................................... v
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... vi
RINGKASAN ............................................................................................ vii
PRAKATA ................................................................................................. ix
DAFTAR ISI .............................................................................................. xi
DAFTAR TABEL ..................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xvi
BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................... 3
1.4 Manfaat ..................................................................................... 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 4
2.1 Karies gigi ................................................................................. 4
2.1.1 Definisi Karies Gigi ............................................................. 4
2.1.2 Klasifikasi Karies Gigi ......................................................... 4
2.1.3 Etiologi Karies Gigi ............................................................. 5
2.1.4 Proses Terjadinya Karies Gigi .............................................. 10
2.1.5 Pemeriksaan Karies Gigi ...................................................... 11
2.2 Definisi Perkotaan dan Pedesaan ........................................... 13
2.2.1 Perkotaan .............................................................................. 13
xii
2.2.2 Pedesaan ............................................................................... 14
2.3 Pola Jajanan Siswa SD di Pedesaan dan Perkotaan .............. 14
2.4 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Patrang................... 15
2.5 Kerangka Konseptual ............................................................... 17
2.5 Hipotesis .................................................................................... 18
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 19
3.1 Jenis Penelitian ........................................................................ 19
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 19
3.2.2 Tempat Penelitian ................................................................. 19
3.2.3 Waktu Penelitian .................................................................. 19
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian .............................................. 19
3.3.1 Populasi ................................................................................ 19
3.3.2 Sampel Penelitian ................................................................. 19
3.4 Identifikasi Variabel Penelitian .............................................. 22
3.4.1 Variabel Bebas ..................................................................... 22
3.4.2 Variabel Terikat .................................................................... 22
3.4.3 Variabel Terkendali .............................................................. 22
3.5 Definisi Operasional Penelitian ............................................... 22
3.5.1 Karies Gigi ........................................................................... 22
3.6 Alat dan Bahan Penelitian ........................................................ 23
3.6.1 Alat Penelitian ...................................................................... 23
3.5.1 Bahan Penelitian ................................................................... 23
3.7 Prosedur Penelitian .................................................................. 23
3.8 Analisa Data .............................................................................. 31
3.9 Alur Penelitian .......................................................................... 32
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 33
4.1 Hasil Penelitian ......................................................................... 33
4.1.1 Hasil Pemeriksaan Karies Gigi ............................................ 33
4.1.2 Hasil Kuesioner .................................................................... 37
xiii
4.2 Analisis Data .............................................................................. 40
4.3 Pembahasan .............................................................................. 41
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 46
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 46
5.1 Saran .......................................................................................... 46
DAFTAR BACAAN .................................................................................. 47
LAMPIRAN ............................................................................................... 50















xiv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Kriteria dan nilai indeks karies gigi ................................................... 12
2.2 Sekolah Dasar di Kecamatan Patrang ................................................ 16
3.1 Jumlah sampel SD di daerah pedesaan .............................................. 22
3.2 Jumlah sampel SD di daerah perkotaan ............................................. 22
4.1 Hasil pemeriksaan indeks DMF-T di SD daerah pedesaan ................. 33
4.2 Hasil pemeriksaan indeks DMF-T di SD daerah perkotaan................ 34
4.3 Distribusi silang indeks DMF-T menurut kelompok umur responden
berdasarkan daerah pedesaan dan perkotaan ...................................... 34
4.4 Distribusi silang indeks DMF-T menurut jenis kelamin responden
berdasarkan daerah pedesaan dan perkotaan ...................................... 35
4.5 Distribusi silang indeks DMF-T menurut pekerjaan orang tua responden
berdasarkan daerah pedesaan dan perkotaan ...................................... 36
4.6 Distribusi Silang Indeks DMF-T Menurut Jenis Jajanan yang
Dikonsumsi Siswa .............................................................................. 37
4.7 Hasil Uji Mann-Whitney Indeks DMF-T antara Sekolah Dasar
Pedesaan dan Perkotaan ..................................................................... 40
4.8 Hasil Uji Mann-Whitney Data Kuesioner antara Sekolah Dasar
Pedesaan dan Perkotaan ..................................................................... 41

xv
DAFTAR GAMBAR

Tabel Halaman
2.1 Skema kerangka konseptual .............................................................. 17
3.1 Odontogram Gigi Geligi .................................................................... 28
3.2 Skema Alur Penelitan ......................................................................... 32
4.1 Distribusi frekuensi pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut
siswa kelas V SD di daerah pedesaan dan perkotaan ......................... 38
4.2 Distribusi frekuensi perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut
siswa kelas V SD di daerah pedesaan dan perkotaan ......................... 38
4.3 Distribusi frekuensi peran serta orang tua siswa Kelas V SD
di daerah pedesaan dan perkotaan ...................................................... 39
4.4 Distribusi frekuensi pola dan jenis jajanan siswa Kelas V SD
di daerah pedesaan dan perkotan........................................................ 40














xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
A. Perhitungan Besar Sampel ................................................................ 50
B. Kuesioner ........................................................................................... 52
C. Lembar Peneletian ............................................................................. 56
D. Pernyataan Persetujuan ...................................................................... 57
E. Analisa Data ....................................................................................... 60
F. Foto Alat dan Bahan .......................................................................... 71
G. Hasil Kuesioner .................................................................................. 72
H. Surat Izin Penelitian ........................................................................... 73
I. Surat Persetujuan Kepala Sekolah ..................................................... 75
J. Foto Penelitian ................................................................................... 83
K. Data Hasil Pemeriksaan Indeks Karies Gigi dan Kuesioner .............. 85




BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak
dapat dipisahkan satu dengan lainnya sebab kesehatan gigi dan mulut akan
mempengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan. Karies gigi merupakan penyakit yang
sering dialami masyarakat selain penyakit periodontal. Penyakit ini menjadi masalah
nasional di beberapa negara berkembang terutama di Indonesia (Angela, 2005: 130-
134).
Karies adalah penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh
aktivitas mikroorganisme pada karbohidrat yang dapat diragikan. Penyebab karies
multifaktorial, yang merupakan interaksi dari empat faktor utama : mikroorganisme,
substrat karbohidrat makanan, host dan gigi yang merupakan kerentanan permukaan
gigi, dan faktor waktu (Kidd dan Bechal, 2012: 1-2).
Pola makan berpengaruh dalam proses karies lebih bersifat lokal daripada
sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengonsumsi makanan. Makanan yang
mengandung karbohidrat khususnya gula banyak terkandung dalam jajanan yang
dikonsumsi anak sekolah. Pedagang jajanan sering dijumpai di setiap sekolah, hal ini
mendorong timbulnya kebiasaan mengkonsumsi jajanan pada anak sekolah terutama
pada jeda jam istirahat sekolah. Kebiasaan jajan merupakan perilaku yang
berhubungan dengan makan dan makanan seperti frekuensi makan, jenis makanan,
dan jumlah kandungan zat gizi dari jajanan setiap harinya. Kebiasaan mengkonsumsi
jajanan sehat masih belum banyak dimiliki oleh siswa, terutama siswa sekolah dasar
(Suyuti, 2010: 14-18).
Community Data Oral Epidemiology menyatakan bahwa siswa sekolah dasar
di pedesaan mempunyai rata-rata oral hygene yaitu 3,760,89, lebih tinggi
dibandingkan di daerah perkotaan 2,761,01, pengetahuan tentang kesehatan gigi dan
2

mulut yang kurang, dan rendahnya kesadaran orang tua untuk membawa anaknya
memeriksakan gigi dibandingkan daerah perkotaan (Purba, 2009: 41). Perilaku
konsumsi jajanan siswa sekolah dasar di kota maupun di desa sama, yaitu siswa
memilih jajanan berdasarkan kesukaannya dengan tampilan yang menarik, dan
harganya murah. Siswa sekolah dasar di kota lebih selektif dalam memilih jajanan,
mereka cenderung memilih jajanan yang lebih bersih dan higienis (Suci, 2009: 29-
38).
Berdasarkan uraian di atas, dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan
indeks karies gigi pada siswa kelas V sekolah dasar di pedesaan dan perkotaan di
Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Sekolah dasar dipilih karena siswa sekolah
dasar memiliki kebiasaan mengkonsumsi jajanan yang lebih banyak daripada siswa
SMP maupun SMA. Penelitian dilakukan pada siswa kelas V sebagai sampel dengan
pertimbangan bahwa rata-rata usia murid sekolah dasar kelas V adalah 10-12 tahun
karena pada usia tersebut gigi permanen sudah tumbuh (Karmawati et. al., 2012:
224). Usia tersebut juga dianggap lebih kooperatif dalam menjawab pertanyaan
sehingga diharapkan dapat mengurangi bias responden (Yani, 2003: 9-14). Kelas VI
tidak dipilih sebagai sampel karena sedang persiapan untuk ujian nasional.
Kecamatan Patrang dipilih karena memiliki kondisi wilayah yang sangat berbeda
antara sekolah dasar yang bertempat didaerah pedesaan dan perkotaan dibanding
kecamatan lain di Kabupaten Jember, kondisi geografis berupa daerah pegunungan
dan dataran, selain itu dipilihnya Kecamatan Patrang karena tempatnya yang mudah
dijangkau oleh peneliti.

1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimanakah indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah Dasar di
pedesaan Kecamatan Patrang?
1.2.2. Bagaimanakah indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah Dasar di
perkotaan Kecamatan Patrang?
3

1.2.3. Apakah terdapat perbedaan indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah
Dasar pada daerah pedesasan dan perkotaan di wilayah Kecamatan Patrang?

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Mengetahui indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah Dasar di pedesaan
Kecamatan Patrang.
1.3.2. Mengetahui indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah Dasar di perkotaan
Kecamatan Patrang.
1.3.3. Mengetahui perbedaan indeks karies gigi pada siswa kelas V Sekolah Dasar
pada daerah pedesasan dan perkotaan di wilayah Kecamatan Patrang.

1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diambil dari penelitian ini adalah :
1.4.1. Memberikan informasi tentang indeks karies gigi pada siswa Sekolah Dasar di
Wilayah Kecamatan Patrang di pedesaan maupun perkotaan, sehingga dapat
digunakan sebagai acuan dalam melakukan tindakan yang lebih lanjut seperti
tindakan promotif, preventif dan kuratif.
1.4.2. Sebagai dasar pertimbangan untuk pengembangan penelitian-penelitian
selanjutnya.





BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karies Gigi
2.1.1 Definisi Karies Gigi
Karies gigi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hasil (tanda
dan gejala) dari pembubaran kimia lokal di permukaan gigi yang disebabkan oleh
peristiwa metabolisme yang terjadi didalam plak (Fejerskov dan Kidd, 2008: 4).
Karies gigi merupakan penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin, dan
sementum. Ditandai dengan proses demineralisasi jaringan keras gigi yang diikuti
kerusakan bahan organiknya. Karies merupakan penyakit yang multifaktorial
sehingga untuk terjadinya karies gigi harus ada faktor-faktor yang berperan yaitu
permukaan gigi itu sendiri, substrat, mikroorganisme, dan waktu (Kidd dan Bechal,
2012: 1-2).

2.1.2 Klasifikasi Karies Gigi
Metode dalam mengklasifikasikan karies adalah menurut cara yang
dikemukakan oleh Dr. G.V. Black masih digunakan sampai sekarang. Klasifikasi
tersebut berdasarakan lokasi spesifik dari lesi karies pada gigi, yaitu :
a. Klas I
Lesi klas I terjadi pada ceruk dan fisur dari semua gigi, meskipun lebih
ditujukan untuk premolar dan molar.
b. Klas II
Kavitas yang terjadi pada permukaan aproksimal gigi posterior, kavitas pada
permukaan halus dan lesi mesial atau distalnya. Menurut definisi Dr. Black, karies
kelas II mengenai kedua permukaan proksimal maupun satu sisi permukaan
proksimalnya saja sehingga dapat digolongkan mejadi kavitas MO (mesial oklusal),
DO (disto-oklusal), dan MOD (mesio-oklusal-distal).


5
c. Klas III
Karies Klas III merupakan lesi yang mengenai gigi anterior bisa terjadi pada
permukaan mesial atau distal gigi insisiv dan caninus.
d. Klas IV
Karies klas IV adalah lanjutan dari kavitas klas III yang merupakan lesi pada
permukaan proksimal gigi anterior yang telah meluas sampai sudut insisal.
e. Klas V
Karies kelas V disebut juga kavitas gingival yaitu kavitas pada permukaan
yang halus. Menurut definisi Dr.Black, karies Klas V juga dapat terjadi baik pada
permukaan fasial maupun lingual, namun lesi ini lebih dominan timbul pada
permukaan yang menghadap bibir dan pipi dibandingkan lidah.
f. Klas VI
Tipe kavitas ini terjadi pada ujung tonjol gigi posterior dan insisal edge gigi
insisivus. Pembentukan yang tidak sempurna pada ujung tonjol atau insisal edge
seringkali membuat daerah rentan terhadap karies.Karies Klas VI sebenarnya bukan
diidentifikasi oleh Dr.Black, tetapi pada daerah geografis tertentu ditambahkan
sehingga menjadi bagian dari sistem klasifikasinya (Fejerskov dan Kidd, 2008:10-
17).

2.1.3 Etiologi Karies Gigi
Karies gigi termasuk penyakit dengan etiologi yang multifaktorial, yaitu
adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya lesi karies.
Etiologinya merupakan kombinasi dari empat faktor utama yaitu inang,
mikroorganisme dalam plak, substrat, dan waktu. Selain faktor etiologi, ada juga
yang disebut faktor non-etiologi atau dikenal dengan istilah indikator resiko.
Indikator resiko ini bukan merupakan faktor-faktor penyebab, tetapi faktor yang
pengaruhnya berkaitan dengan terjadinya karies. Efek faktor-faktor tersebut
dibedakan menjadi faktor resiko dan faktor modifikasi. Faktor resiko yang terdiri atas
karies, fluor, oral hiegene, bakteri, saliva, dan pola makan. Faktor modifikasi ini


6
memang tidak berpengaruh secara langsung, tapi pengaruhnya berkaitan dengan
perkembangan karies. Faktor tersebut meliputi umur, jenis kelamin, perilaku, faktor
sosial, genetik, pekerjaan, dan kesehatan umum (Pintauli dan Silitonga, 2007: 96-
100).
a. Faktor Etiologi
1) Host yang meliputi gigi dan saliva
Struktur anatomi dari gigi terdiri dari lapisan enamel di bagian terluar gigi
dan lapisan dentin yang terdapat di bawah lapisan enamel. Struktur enamel sangat
menentukan dalam proses terjadinya karies karena berada di posisi terluar sehingga
lebih rentan terhadap kemungkinan terjadinya karies. Struktur enamel gigi terdiri
dari susunan kimia yang kompleks dengan gugus kristal yang terpenting yaitu kristal
hidroksil apatit Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
. Permukaan enamel lebih banyak mengandung
mineral dan bahan-bahan organik dengan air yang relatif sedikit seperti F, Cl, Zn, Pb
dan Fe. Ion kimia yang paling diharapkan untuk berikatan dengan hidroksi apatit
adalah ion fluor. Dengan penambahan fluor, hidroksi apatit dapat berubah menjadi
fluorapatit yang bersifat lebih tahan terhadap asam sehingga diharapkan dapat
mereduksi karies Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
+F Ca
10
(PO
4
)
6
(OHF)(1). Faktor-faktor lain
dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan karies, yaitu bentuk gigi dengan pit
dan fisur, posisi gigi yang berjejal, dan susunannya tidak teratur sehingga lebih sukar
dibersihkan (Kidd dan Bechal, 2012: 99-100).
Mulut merupakan pintu masuk kedalam tubuh manusia. Makanan yang
masuk perlu dilumatkan dengan cara dikunyah. Proses pelumatan makanan dibantu
oleh saliva.Saliva berfungsi sebagai pelicin dalam proses pencernaan, pelindung
jaringan lunak rongga mulut, anti bakteri, dan berperan dalam menghambat proses
pembentukan plak. Saliva juga mampu meremineralisasikan karies yang masih dini,
karena di dalam saliva terkandung banyak ion kalsium dan fosfat. Kemampuan
saliva dalam remineralisasi akan bertambah jika ada ion fluor. Komposisi fluor juga
mempengaruhi jumlah mikroorganisme dalam plak. Peningkatan bakteri plak akan
menciptakan suasana asam dan menurunkan pH saliva sehingga mengakibatkan


7
demineralisasi enamel diikuti dengan proses karies, oleh karena itu jika aliran saliva
berkurang atau hilang, maka karies mungkin akan tidak terkendali. (Stookey, 2008:
139).
Mekanisme imunologi perlindungan terhadap karies, yaitu adanya antibodi
terhadap Streptococcus Mutans dalam saliva sitemik pada aliran darah. Proses
perlindungan berupa peliputan permukaan gigi oleh saliva yang mengandung
antibodi atau serum yang keluar dari sulkus gingival. Saliva juga sebagai pembersih
mekanis permukaan gigi, sehingga mengurangi akumulasi plak (Kidd dan Bechal,
2012: 8-9).
2) Mikroorganisme
Karies gigi tidak akan terjadi tanpa mikroorganisme, banyak yang telah
membuktikan bahwa mikroorganisme di dalam mulut berhubungan dengan karies
gigi antara lain bermacam strain Streptococcus, Lactobacillus, Actinomyces, dan
lain-lain. Streptococcus berperan pada saat awal terjadinya karies saat lapisan luar
permukaan enamel rusak. Proses selanjutnya, Lactobacillus mengambilalih peranan
itu untuk proses karies yang lebih dalam (Kidd dan Bechal, 2012: 3-4).
Beberapa menit setelah permukaan gigi bersih akan terbentuk pelikel yang
menempel erat dipermukaan gigi. Pelikel tersebut adalah glikoprotein yang berasal
dari saliva dan mempunyai kecenderungan untuk mengikat mikroorganisme tertentu.
Setelah 24 jam akan terbentuk koloni mikroorganisme di pelikel. Pelikeljuga terikat
bahan yang lain misalnya karbohidrat dan unsur-unsur lain yang ada dalam saliva
(Kidd dan Bechal, 2012: 4-5).
Bakteri yang sangat dominan dalam proses karies gigi adalah Streptococcus
mutans. Bakteri ini sangat kariogenik karena mampu membuat asam dari karbohidrat
Streptococcus mutans yang dapat diragikan menempel pada permukaan gigi karena
kemampuannya membuat polisakarida ektrasel yang sangat lengket dari karbohidrat
makanan. Polisakarida ini terdiri dari polimer glukosa yang menyebabkan matriks
plak gigi mempunyai konsistensi seperti gelatin akibatnya bakteri-bakteri terbantu
melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain. Plak yang semakin tebal akan


8
menyebabkan fungsi saliva terhambat dalam menetralkan plak tersebut (Kidd dan
Bechal, 2012: 4-5).
3) Substrat
Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang menempel pada
permukaan gigi. Substrat berpengaruh terhadap karies secara lokal didalam mulut.
Substrat yang menempel dipermukaan gigi berbeda dengan makanan yang masuk
kedalam tubuh yang diperlukan untuk mendapatkan energi. Plak dan karbohidrat
membutuhkan waktu minimum untuk menempel pada gigi, membuat asam, dan
mampu mengakibatkan demineralisasi enamel. pH akan kembali ke normal sekitar 7
dibutuhkan waktu 30-60 menit. Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung
gula secara berulang-ulang akan tetap menahan pH dibawah batas normal dan
menyebabkan demineralisasi enamel (Kidd dan Bechal, 2012: 79-80).
4) Waktu
Pengertian waktu disini adalah kecepatan terbentuknya karies serta lama dan
frekuensi substrat menempel dipermukaan gigi. Kemampuan saliva untuk
mendepositkan kembali mineral selama berlasungnya proses karies, menandakan
bahwa proses karies tersebut terdiri atas proses perusakan dan perbaikan yang silih
berganti. Oleh karena itu, apabila saliva berada pada lingkungan permukaan gigi,
maka karies tidak akan menghancurkan gigi dalam waktu hitungan hari ataupun
minggu, melainkan dalam bulan maupun tahunan (Kidd dan Bechal, 2012: 9).

b. Faktor Resiko
1) Usia
Usia seseorang bertambah jumlah karies pun juga akan bertambah. Hal ini
jelas karena faktor resiko terjadinya karies akan lebih berpengaruh terhadap gigi. Usia
anak-anak mempunyai resiko karies paling tinggi ketika gigi mereka baru erupsi
sedangkan orangtua lebih berisiko terhadap terjadinya karies akar (Fejerskov dan
Kidd, 2003: 134-135).



9
2) Jenis Kelamin
Prevalensi karies gigi pada perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki.
Begitu juga dengan prevalensi karies gigi sulung anak perempuan sedikit lebih tinggi
dibandingkan anak laki-laki. Hal ini disebabkan antara lain karena erupsi gigi anak
perempuan lebih cepat dibanding anak laki-laki, sehingga gigi anak perempuan lebih
lama ada di dalam rongga mulut dan terpajan oleh faktor-faktor resiko terjadinya
karies (Fejerskov dan Kidd, 2008: 136).
3) Suku Bangsa
Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat
tentang hubungan suku bangsa dengan karies; perbedaan ini karena sosial ekonomi,
pendidikan, makanan, cara pencegahan karies, dan jangkauan pelayanan kesehatan
gigi dan mulut yang berbeda pada masing-masing suku tersebut (Fejerskov dan
Kidd, 2008: 136).
4) Letak Geografis
Perbedaan prevalensi karies juga ditemukan pada penduduk yang tempat
tinggal geografisnya berbeda. Kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah perbedaan lamanya mendapat sinar matahari, suhu, cuaca, air,
keadaan tanah, dan jarak tanah dari laut. Adanya kandungan fluor dalam air minum
sangat berpengaruh dalam perbedaan prevalensi karies pada suatu daerah (Fejerskov
dan Kidd, 2008: 130-133).
5) Kultur Sosial Penduduk
Faktor yang mempengaruhi perbedaan ini adalah pendidikan dan penghasilan
yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi, dan lain-lain. Perilaku sosial
dan kebiasaan menyebabkan perbedaan jumlah karies. Selain itu perbedaan suku,
budaya, lingkungan, dan agama menyebabkan keadaan karies yang berbeda pula
(Fejerskov dan Kidd, 2008: 137-138).
6) Kesadaran, Sikap,dan Perilaku Individu terhadap kesehatan gigi
Fase perkembangan usia anak masing tergantung pada pemeliharaan dan
bantuan orang dewasa. Orang tua di desa belum mempunyai motivasi untuk merawat


10
gigi, artinya belum mengetahui kegunaan perawatan gigi sehingga banyak orang tua
desa yang belum mau secara sukarela melakukan perawatan gigi. Mengubah sikap
dan perilaku seseorang harus didasari motivasi tertentu, sehingga yang bersangkutan
melakukannya secara sukarela (Fejerskov and Kidd, 2008: 137-138).

2.1.4 Proses Terjadinya Karies Gigi
Kerusakan akibat karies bersifat lokal, tetapi sering juga digambarkan sebagai
penyakit kronis. Kerusakan tersebut disebabkan oleh bakteri pembentuk asam. Hal ini
merupakan tahap awal terjadinya demineralisasi subpermukaan. Tahap ini
berlangsung progresif dan berlanjut, melalui enamel, melintasi pertautan enamel-
dentin dan menuju ke dentin. Karies akan terus berkembang jika plak gigi yang
meliputi permukaan gigi tidak dihilangkan (Fejerskov and Kidd, 2008: 20).
Tanda awal dari suatu karies biasa terlihat sebagai suatu bercak putih jika
plaknya sudah dibersihkan. Ukuran bercak putih dikaitkan dengan luasnya plak
kariogenik, bisa meliputi daerah permukaan yang luas, serta berbeda dari enamel
sekelilingnya karena keopakannya. Lesi karies dini ditandai oleh tetap utuhnya
enamel permukaan dan terjadinya demineralisasi di dalam enamel. Lesi enamel yang
lebih lanjut masih mempunyai permukaan yang utuh, sehingga proses kariesnya
dapat terhenti dengan pengendalian diet dan plak. Jika karies telah mencapai daerah
pertautan enamel-dentin, respon dari dentin timbul sebelum kavitas terjadi (Kidd dan
Bechal, 2012: 18-19).
Karies menyebar ke arah lateral sepanjang daerah pertautan tersebut,
sehingga melibatkan daerah dentin yang lebih luas. Hal ini mengakibatkan enamel
sehat menggaung (undermined). Lesi yang terbentuk lebih luas dibandingkan lesi
yang terlihat di permukaan enamel, terutama pada lesi di fisur. Enamel yang
menggaung bersifat rapuh, mudah fraktur jika terkena tekanan oklusal, serta
membentuk kavitas yang lebar (Kidd dan Bechal, 2012: 32).
Karies mencapai dentin, proses demineralisasi berjalan sepanjang daerah
pertautan enamel-dentin dengan cakupan yang luas. Penyebaran ke dentin


11
dipengaruhi oleh tubuli dentin. Perubahan destruktif atau degeneratif di dalam
dentin meliputi demineralisasi dentin, kerusakan matriks organik, serta kerusakan
dan kematian odontoblast. Enamel yang mengalami karies merupakan jaringan
yang porus sehingga asam, enzim, dan bahan kimia lain dari permukaan gigi
mencapai bagian luar dentin yang merangsang terjadinya respon kompleks dentin-
pulpa. Tiga pertahanan komplek dentin-pulpa yaitu:
a. Sklerosis tubuler
Sklerosis tubuler adalah proses penempatan mineral didalam lumen tubulus
dentin yang menyebabkan penurunan permeabilitas jaringan sehingga mencegah
penetrasi asam dan toksin-toksin bakteri.
b. Dentin reaksioner
Dentin reaksioner adalah suatu lapisan dentin yang terbentuk diantara dentin
dan pulpa,sebagai reaksi terhadap rangsang di daerah perifer. Oleh karena itu,
penyebaran dentin reaksioner terbatas di daerah di bawah rangsang.
c. Peradangan pulpa
Peradangan pulpa juga disebut pulpitis, merupakan reaksi jaringan ikat
vaskuler terhadap cedera. Peradangan pulpa bias merupakan perdangan akut atau
kronik, tergantung oleh lama dan intensitas rangsang (Kidd dan Bechal, 2012: 33-
36).
Laju perkembangan karies pada dentin sangat bervariasi. Lesi yang
berkembang aktif secara klinis terlihat lunak, berwarna kuning atau coklat muda.
Saat penjalaran lesi menjadi cepat maka reaksi pertahanan tidak sempat bekerja
efektif. Lesi terhenti atau lesi dengan penjalaran lambat terlihat coklat tua dan
mempunyai konsistensi keras. Reaksi pertahanan tampak jelas dan lesi karies
mengakumulasi mineral dan cairan mulut (Kidd dan Bechal, 2012: 44).

2.1.5 Pemeriksaan Karies Gigi
Pembentukan kavitas dapat diketahui dengan pemeriksaan menggunakan
sonde. Tanda-tanda karies tersebut dicatat dan dilakukan penghitungan


12
menggunakan indeks DMF-T. Cara pencatatan menggunakan indeks DMF-T adalah
sebagai berikut (Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan RI, 2007: 25-26) :
a. Decay (D) : Gigi yang mempunyai satu atau lebih tanda karies yang tidak
ditambal tapi masih bisa ditambal. (D) hanya dihitung satu
walaupun pada gigi tersebut ditemukan beberapa karies gigi.
b. Missing (M) : Gigi yang telah dicabut atau hancur sendiri karena karies
atau harus dicabut karena karies.
c. Filling (F) : Gigi yang mempunyai satu atau lebih tambalan yang masih
baik.
Perhitungan DMF-T berdasarkan pada 28 gigi permanen, adapun yang
tidak dihitung adalah sebagai berikut (Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2007: 26-27) :
a. Gigi molar tiga.
b. Gigi yang belum erupsi.
Gigi disebut erupsi apabila ada bagian gigi yang menembus gusi baik itu
erupsi awal (clinical emergence), erupsi sebagian (partial eruption), maupun
erupsi penuh (full eruption).
c. Gigi yang tidak ada karena kelainan kongenital dan gigi berlebih.
d. Gigi yang hilang bukan karena karies, seperti impaksi atau perawatan ortodontik.
e. Gigi tiruan yang disebabkan trauma, estetik, dan jembatan.
f. Gigi susu yang belum tanggal
Kriteria indeks DMF-T menurut WHO, berupa derajat interval sebagai
berikut.
Tabel. 2.1 Kriteria dan Nilai Indeks Karies Gigi
Kriteria Nilai DMF-T
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
0.0-1.1
1.2-2.6
2.7-4.4
4.5-6.5
>6.6
(Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2007: 29).


13
2.2. Definisi Perkotaan dan Pedesaan
2.2.1. Definisi Perkotaan
Kota merupakan pemukiman yang relatif padat dan permanen dengan
penduduk yang heterogen, sehingga hubungan sosial antara penghuninya serba
longgar, acuh, dan relasinya tidak pribadi. Beberapa aspek yang mendasari dalam
pemberian definisi dari kota ada lima. Misalnya aspek morfologis, jumlah penduduk,
sosial, ekonomi, dan hukum (Daldjoeni, 2003: 40-42).
a. Morfologi
Masalah pokok adalah membandingkan bentuk fisik kota dengan pedesaan;
di kota terlihat bangunan-bangunan permanen yang terletak saling berdekatan
sedangkan di desa tersebar dalam lingkungan alam wajar fisis-biotis.
b. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk kota lebih banyak dibandingkan penduduk desa
dikarenakan secara morfologi letak antar bangunan penduduk kota yang padat.
c. Ekonomi
Ciri kota adalah hidup yang non-agraris; mempunyai fungsi yang lebih
kultural, industri, dan perdagangan. Ciri yang menonjol adalah ekonomi
perdagangan. Adanya pasar dengan keramaian perniagaan mencirikan kota.
d. Sosial
Hubungan-hubungan antar penduduk secara sosial disebut interpersonal;
orang bergaul serba lugas, sepintas lalu, mereka hidup terkotak-kotak oleh
kepentingan yang berbeda-beda dan manusia bebas memilih hubungannya dengan
siapa yang diinginkannya.
e. Hukum
Pengertian kota dikaitkan dengan adanya hak-hak tersendri bagi penghuni kota.
Contohnya ada beberapa daerah tidak dikepalai oleh seorang bupati melainkan
seorang walikota.




14
2.2.2. Definisi Pedesaan
Desa dalam arti umum adalah pemukiman manusiawi yang letaknya diluar
kota dan penduduknya agraris. Desa adalah suatu tempat penduduk berkumpul dan
hidup bersama. Mereka dapat menggunakan lingkungan setempat untuk
mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidup mereka. Tiga unsur
desa yaitu, daerah, penduduk, dan tata kehidupan. Daerah dalam arti tanah-tanah
pekarangan dan pertanian beserta penggunaannya, termasuk aspek lokasi,luas, batas,
yang kesemuanya merupakan kesatuan lingkungan geografis setempat. Penduduk ini
meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran serta mata pencaharian. Tata
kehidupan merupakan norma, tata pergaulan, peraturan-peraturan, dan ikatatan-
ikatan yang berlaku pada wilayah tertentu (Daldjoeni,2003: 53-54)
Penduduk desa merupakan satu unit sosial dan unit kerja; jumlah mereka
relatif tidaklah besar dan sebagian besar struktur ekonominya adalah agraris.
Masyarakat desa mewujudkan suatu panguyuban dengan ikatan kekeluargaan yang
erat. Sementara itu proses sosial, perubahannya berjalan lambat. Kontrol
kemasyarakatannya lebih ditentukan oleh adaptasi, moral, dan hukum yang informal
(Daldjoeni,2003: 59).

2.3. Pola Jajanan Siswa Sekolah Dasar di Pedesaan dan Perkotaan
Budaya makan telah mengalami perubahan. Makanan siap saji menjadi sangat
populer bagi orang-orang dari semua usia terutama anak-anak. Anak mudah
terpengaruh oleh acara-acara komersial yang menawarkan berbagai produk makanan
termasuk makanan manis seperti berbagai macam merk coklat, permen dan manisan
(Ernawati, 2010: 4).
Perilaku anak dalam mengkonsumsi makanan manis menurut Suyuti (2010:
17) dipengaruhi oleh pengetahuan tentang makanan jajanan manis anak, pilihan
jajanan anak, dan kebiasaan jajan anak. Faktor-faktoryang mempengaruhi perilaku
konsumsi manis jajan anak yaitu orang tua dan keluarga, teman, lingkungan, media,
tempat jajan, dan pedagang. Orang tua dan guru perlu memberikan keteladanan,


15
pendampingan, pemantauan dan tindakan yang nyata kepada anak. Ernawati (2010:
5) menyatakan bahwa jenis makanan yang disukai anak sekolah dasar di Surakarta
adalah makanan yang berwarna mencolok, rasanya manis, dikemas menarik, dan
terdapat hadiah didalamnya. Jenis makanan yang mengandung glukosa atau manis
sangat berbahaya bagi kesehatan gigi anak. Sisa makanan dan susu sering lama
mengendap berada didalam mulut sampai tanpa sempat terbersihkan dalam menyikat
gigi.
Tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara jenis jajanan di
daerah pedesaan dan perkotaan. Pola makan murid sekolah dasar pada dasarnya sama,
yaitu lebih menyukai makanan yang manis-manis (permen, coklat, susu, dll).
Kurangnya pengetahuan, kemandirian sikap anak dalam menjaga kesehatan dan
kebersihan gigi dan mulutnya, dan kurangnya kesadaran orang tua untuk membawa
anaknya memeriksakan gigi merupakan faktor utama yang menyebabkan
meningkatnya indeks karies gigi (Suwargiani, 2008: 19-21).

2.4. Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Patrang
Berdasarkan letak geografisnya, Kecamatan Patrang Kabupaten Jember
mempunyai luas wilayah 3.699 Ha dengan ketinggian rata-rata 80-159 meter dari atas
permukaan air laut. Kecamatan Patrang terdiri dari 8 kelurahan yaitu : Banjarsengon,
Baratan, Bintoro, Gebang, Jember Lor, Jumerto, Patrang, dan Slawu. Populasi
penduduk Kecamatan Patrang pada tahun 2010 adalah sebanyak 255.393 jiwa. Batas
administrasi Kecamatan Patrang adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Arjasa
Sebelah Timur : Kecamatan Sumbersari
Sebelah Selatan : Kecamatan Kaliwates
Sebelah Barat : Kecamatan Sukorambi
(Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember, 2010)





16
Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Patrang berjumlah 28. Terbagi menjadi
13 SD yang berada pada daerah pedesaan dan 15 SD yang ada di wilayah perkotaan.
Berikut daftar nama SD yang ada di Kecamatan Patrang :
Tabel. 2.2 Sekolah Dasar di Kecamatan Patrang
NO SD di wilayah perkotaan SD di wilayah pedesaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14
15.
SDN Jember Lor 01
SDN Jember Lor 02
SDN Jember Lor 03
SDN Jember Lor 04
SDN Jember Lor 05
SDN Jember Lor 06
SDN Patrang 01
SDN Patrang 02
SDN Gebang 01
SDN Gebang 02
SDN Gebang 03
SDN Gebang 04
SDN Gebang 05
SDN Baratan 01
SDN Slawu 03
SDN Bintoro 01
SDN Bintoro 02
SDN Bintoro 03
SDN Bintoro 04
SDN Bintoro 05
SDN Jomerto 01
SDN Jomerto 02
SDN Slawu 01
SDN Slawu 02
SDN Baratan 02
SDN Baratan 03
SDN Banjarsengon 01
SDN Banjarsengon 02

(UPTD Pendidikan Kecamatan Patrang, 2012)



17
2.5. Kerangka Konseptual























Gambar 2.1 Skema kerangka konseptual


Kec. Patrang
SD Pedesaan SD Perkotaan
Karies
Faktor Etiologi
a. Substrat


Faktor Resiko
a. Usia
b. Jenis Kelamin
c. Letak Geografis
d. Kultur Sosial
Penduduk
e. Pendidikan
kesehatan gigi dan
mulut
f. Kesadaran, Sikap,
dan Perilaku
Indeks DMF-T


18
2.6. Hipotesis
1. Indeks karies gigi sekolah dasar daerah perkotaan berkriteria sedang.
2. Indeks karies gigi sekolah dasar daerah pedesaan berkriteria sedang.
3. Tidak ada perbedaan indeks karies gigi siswa kelas V sekolah dasar di pedesaan
dan perkotaan.



BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik
dengan pendekatan cross sectional. Pendekatan cross sectional merupakan
penelitian untuk mempelajari dinamika antara faktor resiko dengan efek,
menggunakan model pendekatan atau obeservasi sekaligus pada satu saat
(Notoatmojo, 2010: 37-44).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di sekolah dasar negeri (SDN) desa dan kota dalam satu
wilayah Kecamatan Patrang Kabupaten Jember.

3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2012 Desember 2012

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SDN di Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember dengan jumlah populasi 1482 siswa yang terdiri dari 28 SDN,
dengan pembagian 13 sekolah dasar desa dan 15 sekolah negeri kota.

3.3.2 Sampel Penelitian
a. Kriteria Sampel
Kriteria sampel untuk penelitian yaitu:
1. Siswa SDN yang masih terdaftar pada sekolah dasar di Kecamatan Patrang
20
2. Sampel adalah siswa sekolah dasar negeri yang duduk di kelas V
3. Siswa tersebut berada dalam kelas saat dilakukan penelitian
4. Siswa berusia 10-12 tahun
5. Wali murid siswa bersedia mengisi informed consent

b. Cara Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan pengambilan secara
Cluster Random Sampling. Sampel sekolah dasar dikelompokkan menjadi 2, yaitu
sekolah dasar di perkotaan dan sekolah dasar di pedesaan (13 sekolah dasar pedesaan
dan 15 sekolah dasar perkotaan). Sampel akan diambil secara acak sebesar 20% dari
populasi sehingga didapatkan masing-masing 3 untuk sekolah dasar pedesaan
maupun perkotaan (Notoatmojo, 2010: 123). Kekurangan sampel pada saat
penelitian, diantisipasi dengan penambahan satu sekolah sehingga menjadi 4 sekolah
dasar di daerah pedesaan dan 4 sekolah dasar di daerah perkotaan.

c. Besar Sampel
Z
2
Z
1- /2
p (1-p) N
n = -----------------------------------
d
2
(N-1) + Z
2
Z
1- /2
p (1-p)
Keterangan :
n : Besar sampel
Z
1-/2 :
Nilai Z pada derajat kemaknaan (biasanya 90%= 1,645, 95%= 1,96, dan
99%= 2,576 )
P : Proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi bila tidak diketahui
proporsinya, ditetapkan 50 % (0,50)
d : Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan: 10% (0,1), 5%
(0,05), atau 1% (0,01)
(Notoatmodjo, 2010: 127-128)

21

Z
2
Z
1- /2
p (1-p) N
n = -------------------------------
d
2
(N-1) + Z
2
Z
1- /2
p (1-p)

1.96
2

x 0.5 (0.5) x 1482
n = -----------------------------------
0.05
2
(1481) + 1.96
2

x 0.5 (0.5)

3.8416 x 0.25 x 1482
n = ----------------------------
0.0025 (1481) + 0.9604

1423.3128
n = ----------------
4.6629

n = 305.24 = 305

Hasil perhitungan sampel di atas digunakan untuk mewakili seluruh sekolah
dasar negeri di Kecamatan Patrang. Kemudian setiap unit dihitung menggunakan
rumus (Notoatmojo, 2010: 122-123) sebagai berikut:

n
unit
= besar populasi dalam kelompok x total sampel
total populasi

Berdasarkan perhitungan tersebut maka akan didapatkan jumlah sampel sebagai
berikut :
a. Pada sekolah dasar wilayah pedesaan diambil 4 sekolah dengan total sampel
sebanyak 72 siswa kelas V, dengan distribusi setiap sekolah dasar terlihat pada
tabel 3.1 :


22
Tabel 3.1 Jumlah Sampel Siswa Kelas V Sekolah Dasar Daerah Pedesaan
No. Nama Sekolah Dasar
Jumlah
Siswa
Jumlah
siswa*BesarSampel
Jumlah populasi(417)
Jumlah Sampel
tiap Sekolah
1 SDN Bintoro 3 21 21 x 305 : 417 = 15
2 SDN Slawu 2 11 11 x 305 : 417 = 8
3 SDN Baratan 3 42 42 x 305 : 417 = 31
4 SDN Bintoro 5 25 25 x 305 : 417 = 18

Jumlah 99

72

b. Pada sekolah dasar wilayah perkotaan diambil 4 sekolah dengan total sampel
sebanyak 233 siswa kelas V, dengan distribusi setiap sekolah dasar terlihat pada
tabel 3.2 :
Tabel 3.2 Jumlah Sampel Siswa Kelas V Sekolah Dasar Daerah Perkotaan
No. Nama Sekolah Dasar
Jumlah
Siswa
Jumlah
siswa*BesarSampel
Jumlah populasi(417)
Jumlah
Sampel tiap
Sekolah
1 SDN Jember Lor 1 98 98 x 305 : 417 = 72
2 SDN Jember Lor 3 76 76 x 305 : 417 = 56
3 SDN Patrang 1 73 73 x 305 : 417 = 53
4 SDN Gebang 3 71 71 x 305 : 417 = 52

Jumlah 318

233

3.4 Variabel Penelitian
3.4.1 Variabel Bebas : Sekolah Dasar di Pedesaan dan Perkotaan
3.4.2 Variabel Terikat : Indeks karies gigi
3.4.3 Variabel Terkendali : Usia siswa dan Kelas

3.5. Definisi operasional karies gigi
Karies gigi adalah kavitas pada permukaan gigi yang diperiksa menggunakan
kaca mulut dan sonde.

23
3.6 Alat dan Bahan Penelitian
3.6.1. Alat Pemeriksaan Karies Gigi :
a. Kaca mulut
b. Sonde
c. Pinset
d. Nierbeken
e. Sarung tangan
f. Masker
g. Gelas kumur
h. Tisu
i. Head lamp

3.6.2. Bahan Pemeriksaan Karies Gigi :
a. Alkohol
b. Sabun cuci tangan atau Hand sanitizer

3.7 Prosedur Penelitian
a. Perizinan penelitian dari Fakultas, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dan
Sekolah Dasar yang bersangkutan.
b. Informed consent ditujukan kepada kepala sekolah, sebagai seseorang yang
mewakili Wali murid dalam memberi izin atas tindakan penelitian terhadap
siswa sebagai sampel.
c. Pemberian kuesioner
Kuisioner diberikan kepada responden untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi hasil pengukuran indeks DMF-T. Kuesioner yang dibagikan
kepada responden, sebelumnya telah dilakukan studi pendahuluan (trial
kuesioner) dan selanjutnya dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Terdapat
empat variabel dalam kuesioner, yaitu pengetahuan, perilaku, peran serta orang
tua, serta pola dan jenis jajanan yang dikonsumsi siswa. Perhitungan skoring
24
kuesioner sebagai berikut:
1) Pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut
Pengetahuan diukur melalui kuesioner dengan lima buah pertanyaan.
Setiap item pertanyaan terdapat empat pilihan jawaban.
Pilihan jawaban benar diberi skor : 1
Pilihan jawaban salah diberi skor : 0
(Notoadmodjo, 2010: 165)
Berdasarkan skoring diatas, didapatkan skor sebesar:
Maksimal : 1x5 = 5
Minimal : 0x5 = 0
Untuk memudahkan dalam penyajian data pengetahuan dikategorikan
menjadi 3 kategori, yaitu baik, cukup baik/sedang, dan buruk (Simanjuntak
dan Daulay, 2006: 22). Penilaian dari range 0-5, kemudian hasil yang didapat
diintepretasikan dalam kriteria kualitatif untuk tiap responden dengan kriteria
sebagai berikut (Nazir, 2003: 338):
Range Nilai = Nilai maksimal kuesioner-Nilai minimal kuesioner
Jumlah kategori penilaian
Range Nilai = 5-0
3
Range Nilai = 1,67 = 2
Jadi, pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dikategorikan
menjadi:
Baik : 4 - 5
Sedang : 2 - 3
Buruk : 0 - 1
2) Perilaku untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut
Perilaku diukur melalui kuesioner dengan enam buah pertanyaan dan
setiap item pertanyaan terdapat 3 pilihan jawaban.
Pilihan jawaban benar diberi skor : 2
25
Pilihan jawaban mendekati benar diberi skor : 1
Pilihan jawaban salah diberi skor : 0
(Notoadmodjo, 2010: 165)
Berdasarkan skoring diatas, didapatkan skor sebesar:
Maksimal : 2x6 = 12
Minimal : 0x6 = 0
Range Nilai = Nilai maksimal kuesioner-Nilai minimal kuesioner
Jumlah kategori penilaian
Range Nilai = 12-0 = 4
3
Jadi, perilaku tentang kesehatan gigi dan mulut dikategorikan menjadi:
Baik : 8 - 12
Sedang : 4 - 7
Buruk : 0 - 3
3) Peran serta orang tua
Peran serta orang tua terhadap kesehatan gigi dan mulut anaknya
diukur melalui kuesioner dengan empat pertanyaan dan setiap item
pertanyaan terdapat 3 pilihan jawaban.
Pilihan jawaban benar diberi skor : 2
Pilihan jawaban mendekati benar diberi skor : 1
Pilihan jawaban salah diberi skor : 0
Berdasarkan skoring diatas, didapatkan skor sebesar:
Maksimal : 2x4 = 4
Minimal : 0x4 = 0
Range Nilai = Nilai maksimal kuesioner-Nilai minimal kuesioner
Jumlah kategori penilaian
Range Nilai = 8-0
3
Range Nilai = 2,67 = 3
26
Jadi, peran serta orang tua terhadap kesehatan gigi dan mulut anaknya
dikategorikan menjadi:
Baik : 6 - 8
Sedang : 3 - 5
Buruk : 0 - 2
4) Pola dan Jenis Jajanan
Pola jajan responden diukur melalui kuesioner dengan jumlah satu
pertanyaan setiap dan item pertanyaan terdapat 3 pilihan jawaban.
Pilihan jawaban benar diberi skor : 2
Pilihan jawaban mendekati benar diberi skor : 1
Pilihan jawaban salah diberi skor : 0
Jenis jajanan dikelompokkan berdasar potensi penyebab karies dapat
dikategorikan sebagai berikut: (Jamil, 2011: 19)
a) Jajanan berpotensi tinggi menyebabkan karies : permen, coklat , kue,
biskuit, dan snack.
b) Jajanan berpotensi sedang menyebabkan karies : jus buah, sirup buah,
manisan (jelly), buah kalengan, minuman ringan, dan roti.
c) Jajanan berpotensi rendah menyebabkan karies : sayur, buah, dan susu
d) Jajanan yang tidak berpotensi menyebabkan karies : daging (bakso,
siomay, mie ayam), ikan, lemak dan minyak.
e) Jajanan yang menghambat karies : keju, kacang-kacangan, permen
karet xylitol.

Untuk memudahkan dalam skoring jenis jajanan dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu:
Jajanan yang tidak berpotensi menyebabkan dan menghambat karies
(jawaban paling benar) diberi skor : 2
Jajanan berpotensi sedang dan rendah menyebabkan karies
(jawaban mendekati benar) diberi skor : 1
27
Jajanan berpotensi tinggi menyebabkan karies (jawaban salah)
diberi skor ` : 0
(Notoadmodjo, 2010: 165).
Berdasarkan skor pola dan jenis jajanan maka didapatkan skor sebesar:
Maksimal : 4
Minimal : 0
Range Nilai = Nilai maksimal kuesioner-Nilai minimal kuesioner
Jumlah kategori penilaian
Range Nilai = 4
3
Range Nilai = 1,33 = 1
Jadi, pola dan jenis jajanan siswa dapat dikategorikan menjadi:
Baik : 4
Sedang : 2 - 3
Buruk : 0 - 1
d. Persiapan Alat
1) Sebelum pelaksanaan hand instrument disterilkan terlebih dahulu
menggunakan sterilisator panas kering (Dry Heat Oven) pada suhu 170
o
C
selama 1 jam.
2) Apabila Hand instrument selesai digunakan, selanjutnya dicuci dan dibilas
dengan air, kemudian dibersihkan dengan tisu yang dibasahi dengan
alkohol 70% kemudian keringkan dengan tisu kering.
e. Persiapan Operator
1) Melakukan cuci tangan menggunakan Hand sanitizer sebelum dan setelah
pelaksanaan.
2) Menggunakan masker dan sarung tangan.
f. Prosedur pemeriksaan gigi
1) Subyek membersihkan giginya terlebih dahulu dengan kumur-kumur.
28
2) Subyek didudukkan di kursi dengan posisi menghadap sumber sinar (sinar
matahari, lampu, senter, dsb).
3) Kepala subyek bersandar pada dinding sedemikian rupa sehingga kepala
setengah menengadah dan Subyek diminta untuk membuka mulut.
4) Apabila penerangan kurang, dapat dibantu dengan menggunakan Head
lamp.
5) Pengamatan gigi dilakukan dengan menggunakan 2 kaca mulut. Kaca
mulut pertama untuk menarik sudut mulut agar pandangan rongga mulut
lebih jelas. Kaca mulut yang lain untuk melakukan pemeriksaan yaitu
mengamati adanya gigi berlubang, dicabut atau ditambal.
6) Untuk mendeteksi karies di daerah pit dan fissure digunakan sonde.
7) Pemeriksaan dilakukan pada semua gigi, diawali rahang atas yang dimulai
dari garis median. Pemeriksaan ke arah kanan, mulai dari gigi 11 sampai
gigi 18. Selanjutnya dari garis median ke arah kiri mulai dari gigi 21
sampai gigi 28. Demikian juga untuk pemeriksaan gigi rahang bawah dari
garis median ke kanan kemudian dari garis median ke kiri.










Gambar 3.1 Odontogram Gigi Geligi

29
g. Skoring (Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI,
2007: 16-20)
1) Digunakan model Odontogram seperti di atas untuk skoring yaitu memberi
kode masing-masing elemen gigi sesuai hasil pemeriksaan. Cara skoring yaitu
dengan memberi kode pada setiap gigi pada odontogram, sesuai hasil
pemeriksaan yaitu sebagai berikut:
a. Gigi berlubang (Decay) diberi tanda dengan menebalkan kavitas
menggunakan tinta hitam sesuai luas dan letaknya pada odontogram.
Apabila pada satu gigi terdapat lebih dari satu kavitas tetap dihitung satu
poin.
b. Gigi yang telah dicabut atau gigi tinggal sisa akar (Missing) diberi kode

c. Gigi yang sudah ditumpat/ditambal (Filling), diberi kode dengan
cara mewarnai odontogram sesuai warna material restorasi: amalgam
dan inlay logam selain emas berwana hitam, emas berwarna merah, dan
restorasi yang sewarna gigi (komposit, SIK, dan porselen) diwarnai
hijau. Meskipun seandainya pada satu gigi terdapat lebih dari satu
tumpatan, tetap dihitung satu poin.
d. Apabila dalam satu gigi terdapat lubang gigi (Decay) dan penumpatan
(Filling); maka diberi kode dan arsiran sesuai warna material restorasi
pada kolom gigi tersebut. Apabila gigi sehat, elemen gigi yang
bersangkutan tidak diberi kode.
2) Pada subyek umur 12 tahun ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan
yaitu:
a) Bila gigi 3 (kaninus) tidak ada, beri kode K pada ruang Odontogram gigi
kaninus.
b) Bila gigi 6 (molar1) tidak ada, beri kode M di ruang Odontogram gigi
molar1.
30
c) Bila gigi 7 (molar 2) dan gigi 8 (molar3) tidak ada, beri kode K pada
ruang Odontogram gigi molar2 dan molar3.
3) Perhitungan jumlah gigi yang karies, ditumpat, dan hilang dilakukan pada
semua gigi :
a) D-T= jumlah kode D pada Odontogram. Jumlah komponen D ini
menunjukkan jumlah gigi berlubang yang belum ditumpat.
b) F-T= jumlah kode F pada Odontogram. Jumlah komponen F ini
menunjukkan jumlah gigi yang sudah ditumpat.
c) M-T= jumlah kode M pada Odontogram. Jumlah komponen M ini
menunjukkan jumlah gigi yang sudah dicabut/perlu dicabut (Badan
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI,
2007: 24-29)

Setelah semua dijumlah maka dimasukkan kedalam rumus :
Indeks DMF-T = Jumlah seluruh nilai DMF
Jumlah seluruh gigi yang diperiksa
Hasil perhitungan indeks berdasarkan rumus di atas selanjutnya
dikategorikan berdasarkan derajat interval WHO, sebagai berikut:
Sangat rendah = 0,0 1,1
Rendah = 1,2 2,6
Moderat = 2,7 4,4
Tinggi = 4,5 6,5
Sangat tinggi = >6,6
(Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI,
2007: 24-29).
h. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis.


31

3.8 Analisis Data
Data yang diperoleh merupakan data ordinal, maka dilakukan uji non
parametrik. Uji non parametrik Mann-Withney digunakan untuk mengetahui
perbedaan indeks karies gigi antara siswa di sekolah dasar pedesaan dan perkotaan.

32
3.9 Alur Penelitian
























Gambar 3.2 Skema Alur Penelitan



SDN Kecamatan Patrang Kabupaten Jember
SDN Kota (15 SD)
n= 1020 siswa
SDN Desa (13 SD)
n= 462 siswa
SDN Kota (4SD)
n= 233 siswa
SDN Desa (4 SD)
n= 72 siswa
Pemberian kuisioner dan
Pemeriksaan Karies gigi
Analisis Data
Kesimpulan
Cluster Random
Sampling



BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian
Penelitian indeks karies gigi pada sekolah dasar di perkotaan dan pedesaan
kecamatan Patrang kabupaten Jember ini dilakukan pada bulan Oktober sampai
Desember 2012. Pemeriksaan karies gigi dilakukan di kecamatan Patrang
kabupaten Jember terdiri dari delapan sekolah dasar, yaitu empat sekolah dasar di
pedesaan dan empat sekolah dasar di perkotaan. Sampel dipilih dengan metode
cluster random sampling didapatkan jumlah sampel keseluruhan sebesar 352.
Penelitian dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan karies gigi kemudian
dilanjutkan dengan pengisian kuesioner sebagai data pendukung hasil
pemeriksaan karies gigi.
4.1.1. Hasil Pemeriksaan Karies Gigi (Indeks DMF-T)
Data karies gigi diperoleh melalui pemeriksaan terhadap siswa kelas V
sekolah dasar dari masing-masing wilayah yang dipilih secara random dengan
memeriksa tanda-tanda klinis decay, missing, dan filling. Kemudian dilakukan
pencatatan dan dihitung rata-rata DMF-Tnya.
Penghitungan DMF-T yang diperoleh dari tiap wilayah dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Indeks DMF-T di Sekolah Dasar Daerah Pedesaan
Sekolah Dasar Pedesaan Jumlah Sampel
Pemeriksaan Gigi
D M F DMF-T Kriteria
SDN Bintoro 5 14 85 9 0
6.71
Tinggi
SDN Bintoro 3 16 56 0 0
3.50
Moderat
SDN Baratan 3 36 92 3 1
2.66
Moderat
SDN Slawu 2 13 44 0 0
3.38
Moderat
jumlah
79 277 12 1
3,67
Moderat
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.

34


Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Indeks DMF-T di Sekolah Dasar Daerah Perkotaan
Sekolah Dasar Perkotaan Jumlah Sampel
Pemeriksaan Gigi
D M F DMF-T Kriteria
SDN Jember Lor 1 92 149 3 3
1.68
Rendah
SDN Jember Lor 3 72 107 2 2
1.54
Rendah
SDN Gebang 3 66 208 14 6
3.45
Moderat
SDN Patrang 1 43 115 2 1
2.74
Moderat
jumlah
273 579 21 12
2,24
Rendah
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Berdasarkan tabel 4.1 dan 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata indeks DMF-T
sekolah dasar pedesaan sebesar 3,67 (moderat) dan rata-rata indeks DMF-T sekolah
dasar perkotaan sebesar 2,24 (rendah).
Hasil pemeriksaan indeks karies gigi menurut umur responden dapat dilihat
pada tabel 4.3
Tabel 4.3 Distribusi Silang Indeks DMF-T Menurut Kelompok Umur Responden
Berdasarkan Daerah Pedesaan dan Perkotaan

Sekolah Dasar Pedesaan Sekolah Dasar Perkotaan
Umur Jumlah
Pemeriksaan Karies gigi
Jumlah
Pemeriksaan Karies Gigi
D M F Indeks D M F Indeks
10 Tahun 18 70 0 0 3.88 76 141 2 4 1.93
11 Tahun 39 112 8 1 3.10 179 382 15 8 2.26
12 Tahun 22 95 4 0 4.5 18 56 4

3.33
Total 79 277 12 1 3.67 273 579 21 12 2.24
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data dari tabel 4.3 menunjukkan distribusi responden siswa sekolah dasar
kelas V berdasarkan kelompok umur yang terbagi menjadi 3 kelompok yaitu berumur
10 tahun, 11 tahun, dan 12 tahun. Indeks DMF-T tertinggi pada sekolah dasar
pedesaan maupun perkotaan ada pada umur 12 tahun, meskipun nilainya berbeda,
sekolah dasar wilayah pedesaan mempunyai skor 4,5 (tinggi) sedangkan sekolah
dasar wilayah perkotaan sebesar 3,33 (moderat). Umur 11 tahun menjadi skor
35
terendah untuk sekolah dasar wilayah pedesaan dengan skor 3,1 (moderat) dan untuk
sekolah dasar wilayah perkotaan mempunyai skor 1,93 (rendah) pada umur 10 tahun.
Jenis kelamin berhubungan dengan indeks karies gigi. Distribusi silang antara
jenis kelamin dengan jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel 4.4
Tabel 4.4 Distribusi Silang Indeks DMF-T dengan Jenis Kelamin Responden Berdasarkan
Daerah Pedesaan dan Perkotaan
Jenis
Kelamin
Usia
Sekolah Dasar Desa Sekolah Dasar Kota
jumlah
Indeks DMF-T indeks jumlah Indeks DMF-T indeks
D M F

D M F

L
10 Th 9 31 0 0 3.44 29 49 0 0 1.69
11 Th 14 43 1 1 3.21 88 181 5 4 2.16
12 Th 14 53 4 0 4.07 12 35 1 0 3
Total

37 127 5 1 3.59 129 265 6 4 2.13
P
10 Th 9 39 0 0 4.33 47 92 2 4 2.09
11 Th 25 69 7 0 3.04 90 200 10 4 2.38
12 Th 8 42 0 0 5.25 7 22 3 0 3.57
Total

42 150 7 0 3.73 144 314 15 8 2.34
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa sampel yang berjenis kelamin
perempuan memiliki indeks DMF-T lebih tinggi daripada laki-laki. Pada sekolah
dasar wilayah pedesaan rata-rata indeks DMF-T untuk responden perempuan sebesar
3,73 (moderat) dan laki-laki sebesar 3,59 (moderat). Rata-rata indeks DMF-T sekolah
dasar wilayah perkotaan pada responden perempuan sebesar 2,34 (rendah) dan untuk
responden laki-laki sebesar 2,13 (rendah). Hubungan jenis kelamin dengan usia
menunjukkan bahwa siswa perempuan usia 12 tahun mempunyai indeks DMF-T
tertinggi dengan skor 5.25 (tinggi) untuk sekolah dasar pedesaan dan 3.57 (moderat)
untuk sekolah dasar di perkotaan.
Jenis pekerjaan orang tua mempengaruhi indeks karies gigi anaknya. Tabel
4.5 menggambarkan distribusi silang antara jenis pekerjaan orang tua dengan indeks
karies gigi anaknya.


36
Tabel 4.5 Distribusi Silang Indeks DMF-T Menurut Pekerjaan Orang Tua Responden
Berdasarkan Daerah Pedesaan dan Perkotaan
Pekerjaan
Orang tua
Sekolah Dasar Pedesaan Sekolah Dasar Perkotaan
Jumlah
Pemeriksaan Karies Gigi Jumlah Pemeriksaan Karies Gigi
D M F Indeks

D M F Indeks
swasta 6 21

3.5 61 144 7 5 2.55
wiraswasta 22 50 1

2.31 89 189 10 6 2.30
PNS 1

0 65 127 2 1 2
guru/dosen 0

0 33 58 1

1.78
petani 34 144 7

4.44 1 2

2
buruh 15 56 2 1 3.93 13 41

3.15
ibu rumah
tangga
1 6 2

8 9 14 1

1.66
pensiunan 0

0 2 4

2
total 79 277 12 1 3.67 273 579 21 12 2.24
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data pada Tabel 4.5 menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan
orang tua, yang diklasifikasikan menjadi 8 kelompok pekerjaan yaitu pegawai swasta,
wiraswasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru atau dosen, petani, buruh, ibu rumah
tangga, dan pensiunan. Pekerjaan sebagai petani menjadi mata pencaharian utama
wali murid sekolah dasar di pedesaan dengan presentase 43% diikuti Wiraswasta
sebesar 28%, buruh sebanyak 19%, swasta 8%, dan pekerjaan lain yang
presentasenya kurang dari 2%. Pekerjaan orang tua siswa di sekolah dasar di
perkotaan yang dominan adalah wiraswasta sebesar 32,6 % dan yang paling sedikit
bekerja sebagai petani dengan presentase 0,37%. Hasil pemeriksaan karies gigi
menunjukkan bahwa indeks DMF-T tertinggi pada sekolah dasar di pedesaan untuk
pekerjaan orang tua sebagai petani dengan skor 4,44 (sedang) dan terendah untuk
orang tua yang bekerja sebagai PNS dengan skor 0. Sekolah dasar di wilayah
perkotaan, indeks DMF-T tertinggi untuk pekerjaan orang tua sebagai buruh dengan
skor 3,15 (moderat) dan skor terendah untuk orang tua yang bekerja sebagai ibu
rumah tangga dengan skor 1,66 (rendah).
Jenis jajanan yang dikonsumsi siswa kemungkinan berhubungan dengan
indeks karies gigi. Distribusi silang antara jenis pekerjaan orang tua dengan indeks
karies gigi anaknya dapat dilihat pada tabel 4.6
37
Tabel 4.6 Distribusi Silang Indeks DMF-T Menurut Jenis Jajanan yang Dikonsumsi Siswa

Sekolah Dasar Desa Sekolah Dasar Kota
Jenis Jajanan jumlah
pemeriksaan karies gigi
jumlah
pemeriksaan karies gigi
D M F indeks D M F indeks
snack 23 55 3

2.52 133 294 8 4 2.30
nasi,mie, 9 30 1

3.44 22 58 6 2 3
bakso, cilok,sosis 2 8

4 17 20

1.18
buah

0 7 16

2.29
roti 13 41

1 3.23 13 43 1 1 3.46
permen 6 44

7.33 9 16 0 4 2.22
coklat 11 42 8

4.55 19 43 1

2.31
biskuit 9 29

3.22 15 17

1.13
es 6 28

4.67 38 72 5 1 2.05
Total 79 277 12 1 3.67 273 579 21 12 2.24
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data pada tabel 4.6 menunjukkan distribusi responden berdasarkan jajanan
yang dikonsumsi oleh siswa. Snack merupakan jenis jajanan yang sering dikonsumsi
siswa sekolah dasar di pedesaan maupun perkotaan. Siswa sekolah dasar di pedesaan
yang mengkonsumsi permen mempunyai indeks DMF-T tertinggi dengan skor 7,33
(sangat tinggi) dibandingkan jenis jajanan yang, sedangkan untuk sekolah dasar di
perkotaan siswa yang mengkonsumsi roti mempunyai indeks tertinggi sebesar 3,46
(sedang).

4.1.2. Hasil Kuesioner
Data hasil kuesioner diperoleh dari pemberian kuesinoner kepada responden
setelah dilakukan pemeriksaan karies gigi. Kategori pertanyaan kuesioner dibagi
menjadi empat yaitu: pengetahuan, perilaku, peran serta orang tua, serta pola dan
jenis jajanan yang di konsumsi siswa.
Distribusi frekuensi jawaban siswa atas pertanyaan tentang pengetahuan
tentang kesehatan gigi dan mulut dapat dilihat pada Gambar 4.1


38
Gambar 4.1 Diagaram Batang Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi
dan Mulut Siswa Kelas V SD di Daerah Pedesaan dan Perkotaan

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data dari kuesinoner tentang pengetahuan diatas, menunjukkan frekuensi
siswa sekolah dasar di daerah pedesaan mempunyai kriteria pengetahuan sedang
sebesar 73,42%. Sekolah dasar di daerah perkotaan mempunyai pengetahuan lebih
baik dibandingkan sekolah dasar di daerah pedesaan, sebanyak 91,94% siswa
mempunyai kriteria pengetahuan baik.
Distribusi frekuensi jawaban siswa atas pertanyaan tentang perilaku menjaga
kesehatan gigi dan mulut dapat dilihat pada gambar 4.2
Gambar 4.2 Diagaram Batang Distribusi Frekuensi Perilaku Menjaga Kesehatan Gigi dan
Mulut Siswa Kelas V SD di Daerah Pedesaan dan Perkotaan

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
18.99
91.94
73.42
8.06 7.59
0
0
20
40
60
80
100
SD pedesaaan SD perkotaan
Baik
Sedang
Buruk
2.53
95.97
17.72
3.66
79.75
0.37
0
20
40
60
80
100
SD pedesaaan SD perkotaan
Baik
Sedang
Buruk
39
Data pada gambar 4.2 menunjukkan perilaku siswa sekolah dasar di pedesaan
kurang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya dibandingkan siswa sekolah
dasar di daerah perkotaan, ditunjukkan dengan 79,74% siswa mempunyai kriteria
perilaku buruk, frekuensi tertinggi untuk siswa sekolah dasar perkotaan sebesar
95,97% mempunyai perilaku baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.
Orang tua sangat berperan dalam kesehatan gigi dan mulut anaknya,
distribusi frekuensi jawaban siswa atas peran serta orang tua dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut anaknya dapat dilihat pada gambar 4.3
Gambar 4.3 Diagaram Batang Distribusi Frekuensi Peran Serta Orang Tua Siswa Kelas V
SD di Daerah Pedesaan dan Perkotaan

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data pada gambar 4.3 menunjukkan bahwa presentase peran serta orang tua
siswa yang berkriteria baik untuk sekolah dasar di daerah perkotaan 82,78%
sedangkan peran serta orang tua siswa sekolah dasar di daerah pedesaan 8,86%.
Distribusi frekuensi jawaban siswa atas pertanyaan tentang pola dan jenis
jajanan yang sering dikonsumsi siswa dapat dilihat pada gambar 4.4




8.86
82.78
40.51
16.12
50.63
1.1
0
20
40
60
80
100
SD pedesaaan SD perkotaan
Baik
Sedang
Buruk
40
Gambar 4.4 Diagaram Batang Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola dan Jenis
Jajanan Siswa di Sekolah Dasar Daerah Pedesaan dan Perkotaan

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012.
Data pada gambar 4.4 tentang distribusi frekuensi responden menurut pola
dan jenis jajanan yang dikonsumsi siswa, menunjukan sebanyak 1,27 % siswa
sekolah dasar pedesaan dan 2,20% siswa sekolah dasar daerah perkotaan
mengonsumsi jajanan yang berkriteria baik untuk kesehatan gigi dan mulutnya.

4.2. Analisis Data
Data yang didapat merupakan data ordinal, maka selanjutnya diuji
menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan indeks
DMF-T antara siswa di daerah pedesaan dengan perkotaan. Hasil uji Mann-Whitney
terlihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7 Hasil Uji Mann-Whitney Indeks DMF-T antara Sekolah Dasar Pedesaan dan
Perkotaan
Daerah n Mean Rank Mann-Withney Sig
Desa 79 5.33
7.035.500 0.000*
Kota 273 5.75

Hasil uji Mann-Whitney diatas menunjukkan bahwa P= 0.000 (p<0.05)
dengan kata lain Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks
DMF-T Siswa kelas V sekolah dasar di Pedesaan dengan Perkotaan.
2.53
8.79
39.24
18.32
58.23
72.89
0
20
40
60
80
100
SD pedesaaan SD perkotaan
Baik
Sedang
Buruk
41
Data hasil kuesioner juga dilakukan analisis, untuk mengetahui adanya
perbedaan yang bermakna antara faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks DMF-T
antara siswa sekolah dasar di pedesaan dan perkotaan. Ada empat kategori yaitu,
pengetahuan, perilaku, peran serta orang tua, serta pola dan jenis jajanan yang di
konsumsi siswa. Hasil analisis data kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.8
Tabel 4.8 Hasil Uji Mann-Whitney Data Kuesioner antara Sekolah Dasar Pedesaan dan
Perkotaan
Kategori Daerah n Mean Rank Mann-Withney Sig
Pengetahuan
Desa 79 74.08
2692.500 0.000*
Kota 273 206.14
Perilaku
Desa 79 67.85
2200.500 0.000*
Kota 273 207.94
Peran Orang Tua
Desa 79 56.98
1341.500 0.000*
Kota 273 211.09
Pola dan Jenis Jajanan
Desa 79 165.54
9917.500 0.267
Kota 273 179.67

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara
pengetahuan, perilaku, dan peran orang tua siswa sekolah dasar di pedesaan dengan
perkotaan sedangkan pola dan jenis jajanan siswa sekolah dasar di pedesaan dan
perkotaan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (dinyatakan signifikan apabila
p<0.05).

4.3. Pembahasan
Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin
dan sementum yang disebabkan aktivitas mikroorganisme dalam karbohidrat yang
diragikan. Indikator karies gigi dapat berupa prevalensi karies gigi dan skor dari
indeks karies. Indeks karies gigi yaitu angka yang menunjukkan jumlah gigi karies
seseorang atau sekelompok orang. Indeks karies gigi permanen disebut DMF-T.
Penelitian ini diawali dengan melakukan pengamatan karies gigi pada responden
untuk mendapatkan data indeks karies gigi, kemudian pemberian kuesioner. Hasil
kuesioner digunakan sebagai data pendukung dalam pembahasan dari perbedaan hasil
42
indeks karies gigi pada sekolah dasar di wilayah pedesaan dan perkotaan.
Berdasarkan data yang diperoleh, terlihat bahwa indeks karies gigi siswa kelas V di
wilayah pedesaan lebih tinggi daripada dan secara statistik berbeda bermakna.
Hasil penelitian indeks DMF-T berdasarkan kategori umur, menunjukkan
bahwa siswa kelas V yang berumur 12 tahun baik didaerah pedesaan dan perkotaan
mempunyai indeks DMF-T tertinggi dibandingkan kategori umur 11 tahun dan 10
tahun. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Burt dan Eklund (2005: 194-195) yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan prevalensi karies dengan
bertambahnya usia. Hal ini berhubungan dengan waktu erupsi gigi, yaitu gigi erupsi
lebih awal akan cenderung mempunyai karies lebih tinggi dari gigi yang akhir
erupsinya karena akan lebih lama terpapar faktor resiko penyebab karies gigi
(Fejerskov dan Kidd, 2008:134-135).
Indeks DMF-T menurut kategori jenis kelamin menunjukkan bahwa jenis
kelamin perempuan mempunyai indeks DMF-T lebih tinggi dari laki-laki baik di
sekolah dasar pedesaan maupun perkotaan. Menurut Fejerskov dan Kidd (2008: 136)
prevalensi karies gigi pada perempuan lebih tinggi dari laki-laki disebabkan karena
erupsi gigi anak perempuan lebih cepat daripada anak laki-laki, sehingga gigi anak
perempuan lebih lama berada dalam rongga mulut yang berakibat juga akan lebih
lama terpapar oleh faktor resiko penyebab karies.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan indeks karies gigi antara siswa
sekolah dasar di wilayah pedesaan dan perkotaan dapat disebabkan karena perbedaan
pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut, tingkat sosial ekonomi, serta pola dan
jenis jajanan siswa. Pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut yang kurang dapat
menyebabkan indeks DMF-T menjadi tinggi. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa
presentase siswa sekolah dasar di pedesaan mempunyai skor pengetahuan lebih
rendah dibanding dengan di daerah perkotaan.
Berdasarkan data kuesioner yang sudah dianalisis secara statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan siswa
sekolah dasar di pedesaan dan perkotaan. Perbedaan tingkat pengetahuan siswa akan
43
menyebabkan perbedaan pemahamannya, sehingga perilaku siswa tersebut dalam
menjaga kebersihan gigi dan mulutnya juga kurang. Pengetahuan yang kurang pada
siswa sekolah dasar di pedesaan juga disebabkan kurangnya informasi tentang
kesehatan gigi dan mulut yang disampaikan guru di sekolah serta tidak adanya
kegiatan penyuluhan oleh petugas kesehatan. Hal ini disebabkan ada beberapa
sekolah dasar di daerah pedesaan yang akses tranportasinya sulit terjangkau.
Suwargiani (2008: 21) menyatakan bahwa pengetahuan yang rendah menyebabkan
indeks DMF-T tinggi, dikarenakan belum adanya kesadaran untuk menerapkan
kebiasaan yang positif dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut sehari-hari.
Perilaku sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, seperti yang diungkapkan
Maulana dalam Purwaningsih et al (2011: 63) bahwa perilaku kesehatan erat
kaitannya dengan pengetahuan kesehatan sehingga untuk meningkatkannya
diperlukan pendidikan kesehatan. Gambar 4.2 menunjukkan bahwa perilaku siswa
sekolah dasar di pedesaan kurang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya
dibandingkan siswa sekolah dasar di daerah perkotaan. Berdasarkan uji statistik, hal
tersebut berbeda secara signifikan. Hasil kuesioner tentang perilaku responen
menunjukkan bahwa hanya 12% siswa sekolah dasar pedesaan yang memeriksakan
gigi ke dokter gigi enam bulan sekali, meskipun dalam keadaan sakit. Siswa lebih
memilih membiarkannya atau mengobati sendiri dengan obat tradisional, dan siswa
yang berkumur setelah makan makanan manis hanya 5%. Selain itu, siswa
mempunyai kebiasaan menyikat gigi hanya atas anjuran orang tuanya. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya kesadaran pada siswa di pedesaan untuk menjaga kesehatan
gigi dan mulut.
Indeks karies gigi lebih tinggi pada kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini
dikaitkan dengan rendahnya minat hidup sehat. Kondisi ekonomi dipengaruhi oleh
jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi jenis
pekerjaan, sehingga tingkat pendidikan orang tua yang rendah menyebabkan indeks
DMF-T siswa sekolah dasar di pedesaan lebih tinggi daripada perkotaan, seperti yang
terlihat pada Tabel 4.5 tentang pekerjaan orang tua siswa sekolah dasar di pedesaan
44
dan perkotaan. Orang tua siswa sekolah dasar di daerah perkotaan sebagian besar
bekerja sebagai pegawai negeri sipil maupun swasta, pendidikan minimal tamat
Sekolah Menengah Atas (SMA). Pekerjaan orang tua siswa sekolah dasar di daerah
pedesaan umumnya bekerja sebagai buruh dan petani. Pendidikan mereka maksimal
tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurut Tirthankar dalam Melur dan
Pintauli (2004: 78-79), pendidikan adalah faktor kedua terbesar dari faktor sosial
ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan. Seseorang yang mempunyai tingkat
pendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut
sehingga akan mempengaruhi perilaku untuk hidup sehat. Gambar 4.3 menunjukkan
orang tua siswa sekolah dasar di perkotaan lebih peduli daripada orang tua siswa
sekolah dasar di pedesaan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anaknya dan
secara statistik berbeda bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua siswa di
perkotaan lebih peduli untuk mengajari cara menggosok gigi yang benar,
mengingatkan waktu menggosok gigi, dan peduli mengajak anaknya untuk
memeriksakan giginya ke dokter sebelum ada keluhan.
Pengaruh pola jajanan dalam proses karies biasanya lebih bersifat lokal daripada
sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengkonsumsi makanan. Konsumsi makanan
dan minuman yang mengandung karbohidrat khususnya sukrosa secara berulang akan
menyebabkan pH plak tertahan di bawah normal sehingga menyebabkan
dimineralisasi (Kidd dan Bechal, 2012: 4). Siswa sekolah dasar di pedesaan dan
perkotaan pada dasarnya mempunyai persamaan dalam hal waktu mengkonsumsi
jajanan yaitu tidak tergantung waktu dan tempat, tetapi tergantung keinginan. Jenis
jajanan siswa sekolah dasar di pedesaan maupun perkotaan pada umumnya hampir
sama, karena banyaknya penjual jajan keliling dan tersedianya jajanan di kantin
sekolah. Siswa sekolah dasar di pedesaan yang mengkonsumsi permen mempunyai
indeks DMF-T sebesar 7,33 (sangat tinggi), sedangkan siswa sekolah dasar di
perkotaan yang mengkonsumsi permen mempunyai indeks DMF-T 2,22 (rendah).
Hal ini menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi jenis jajanan yang sama belum
tentu mempunyai indeks DMF-T yang sama, dikarenakan perbedaan perilaku dalam
45
menjaga kesehatan gigi dan mulut. Suwargiani (2008: 19-21) menyatakan bahwa
frekuensi makan dan jenis makanan tidak terlalu berpengaruh terhadap indek DMF-T
jika perilaku menjaga kebersihan gigi dan mulutnya baik. Hal ini sesuai Tabel 4.8
yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara pola dan jenis jajanan siswa
sekolah dasar di pedesaan dan perkotaan (p>0.05).
Data penelitian menunjukkan bahwa SDN Bintoro 5 mempunyai indeks
DMF-T tinggi yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: (1) pengetahuan
tentang kesehatan gigi dan mulut yang kurang disebabkan karena sekolah tidak
memiliki sarana kesehatan yang memadai (ruang UKS), guru tidak pernah
mengajarkan tentang pendidikan menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta tidak
adanya penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan, (2) peran
orang tua yang kurang terhadap kesehatan gigi dan mulut anaknya. Hal ini
dipengaruhi oleh pekerjaan orang tua yang bekerja sebagai petani dan buruh, (3)
tingkat pengetahuan siswa yang rendah akan menyebabkan perilaku menjaga
kesehatan gigi dan mulut menjadi rendah, (4) lokasi sekolah paling jauh dari pusat
pelayanan kesehatan dibandingkan sekolah yang lain.
SDN Jember Lor 3 dan SDN Jember Lor 1 memiliki indeks DMF-T yang
rendah. Hal ini disebabkan sekolah dasar tersebut telah memiliki sarana kesehatan
yang memadai, adanya pemeriksaan kesehatan berkala, rata-rata orang tua bekerja
sebagai pegawai negeri sipil sehingga lebih peduli terhadap kesehatan anaknya,
kesadaran anak akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut yang lebih tinggi ,
serta lokasi sekolah dekat dengan pusat pelayanan kesehatan, dan dokter gigi praktek
swasta. Beberapa sekolah dasar di perkotaan dan pedesaan memiliki indeks DMF-T
moderat, yang disebabkan tingkat pengetahuan dan perilaku dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut memiliki skor yang hampir sama dan jenis pekerjaan orang
tua yang beragam.

46


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
5.1.1. Sekolah dasar di daerah pedesaan mempunyai rata-rata indeks karies gigi
moderat.
5.1.2. Sekolah dasar di daerah perkotaan mempunyai rata-rata indeks karies gigi
rendah.
5.1.3. Terdapat perbedaan indeks karies gigi yang signifikan antara siswa sekolah
dasar kelas V di pedesaan dan perkotaan dalam wilayah Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember.

5.2.Saran
5.2.1. Adanya upaya peningkatan pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada anak-
anak sekolah dasar daerah pedesaan dan perkotaan baik di lingkungan sekolah
maupun di rumah sebagai upaya untuk peningkatan kebersihan rongga mulut .
5.2.2. Perlu adanya kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut
secara berkala terhadap siswa sekolah dasar di daerah pedesaan oleh tenaga
kesehatan di puskesmas guna peningkatan status kesehatan gigi dan mulut.
5.2.3. Dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan acuan dalam penelitian lebih
lanjut.



DAFTAR PUSTAKA

Angela, A. 2005. Pencegahan Primer Pada Anak Yang Berisiko Karies Tinggi.
Majalah Kedokteran Gigi (Dental Journal) Vol.38 (3).
Badan Kepegawaian Kabupaten Jember. 2011. [serial online]
http://bkd.jemberkab.go.id/gisguru/sd.php?id=18&lvl=1. [7 Mei 2012].
Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2007.
Pedoman Pengukuran Dan Pemeriksaan. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. 2010. Hasil Sensus Penduduk 2010 Data
Agregat per Kecamatan Kabupaten Jember. [serial online]
sp2010.bps.go.id/files/ebook/3509.pdf. [5 Mei 2012].
Burt, B.A., & Eklund, S. A. 2005. Dentistry, Dental Practice and The Community.6th
ed. Philadelphia: Saunders Company. p 194-195.
Daldjoeni, N. 2003. Geografi Kota dan Desa. Bandung : IKAPI.
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 2007. Standar
Nasional Rekam Medis Kedokteran Gigi. Cetakan II. Jakarta: Departemen
Kesehatan.
Ernawati. 2010. Hubungan Antara Perilaku Mengkonsumsi Makan Makanan Manis
dan Perilaku Gosok Gigi Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Tk
Pertiwi 37 Gunung pati. Universitas Muhammadiyah Semarang.
Fejerskov, O. & Edwina. A. M. Kidd. 2008. Dental Caries. The Disease and Its
Clinical Management Second Edition. UK: Blackwell Publishing Ltd.
Jamil, J.A. 2011. Hubungan Antara Kebiasaan Mengkonsumsi Jajanan Dengan
Pengalaman Karies Pada Gigi Susu Anak Usia 4-6 Tahun Di Tk Medan.
Skripsi. Medan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Karmawati, I.T., Tauchid, S.N., Harahap, N.N. 2012. Perbedaan Risiko Terjadinya
Karies Baru Pada Anak Usia 12 Tahun Murid SD UKGS dan SD NON
48
UKGS di Wilayah Kecamatan Cilandak Jakarta Selatan Tahun 2011. Jurnal
Health Quality Vol.2 (4).
Kidd, E.A.M. & Bechal, S.J. 2012. Dasar-Dasar Karies Penyakit dan
Penanggulangan. Jakarta: EGC
Melur, T. & Pintauli, S. 2004. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Karies Gigi
Pada Ibu-Ibu Rumah Tangga Usia 20 Sampai 45 Tahun Di Kelurahan
Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan. Dentika Dental Jurnal
Vol.9 (2) .
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Notoadmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Pintauli, S. & Silitonga, H.E. 2007. Pengukuran Resiko Karies. Dentika Dental
Journal Vol.12 (1).
Purba, T.R. 2009. Perilaku kebersihan gigi dan perbedaan status oral higiene murid
kelas V SD di daerah rural Kecamatan Pantai Cermin dan daerah urban
Kecamatan Medan Barat. [serial online] http://repository.usu.ac.id
/handle/123456789/24910 [28 April 2012].
Purwaningsih, Misutarno, Imamah, S.N. 2011. Analisis Faktor Pemanfaatan VCT
Pada Orang Risiko Tinggi HIV/AIDS. Jurnal Ners Vol. 6 (1)
Simanjuntak, I.T. & Daulay, W. 2006. Hubungan Pengetahuan Keluarga dengan
Tingkat Kecemasan Dalam Menghadapi Anggota Keluarga yang Mengalami
Gangguan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Propinsi Sumatera Utara Medan.
Jurnal Keperawatan Rufaidah Universitas Sumatera Utara Vol. 2 (1)
Stookey, G.K. 2008. The effect of saliva on dental caries. J Am Dent Assoc. May;139
Suppl:11S-17S.
Suci, E. S. T. 2009. Gambaran Perilaku Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta.
Psikobuana Vol. 1.
Suwargiani, A. A. 2008. Indeks def-t dan DMF-T Masyarakat Desa Cipondoh dan
Desa Mekarsari Kecamatan Tirtamulya Kabupaten Karawang. [serial
online]http://resources.unpad.ac.id/unpad- content/uploads/publikasi_dosen/
masyarakat%20Desa%20%Cipondoh.PD. [8 Mei 2012].
49
Suyuti, M. 2010. Pengaruh Makanan Serba Manis dan Lengket Terhadap Terjadinya
Karies Gigi pada Anak Usia 9-10 tahun di SD Negeri Monginsidi II
Makasar. Media Kesehatan Gigi Vol. 1 (2).
Yani, R. W. E. 2003. Hubungan Perilaku Membersihkan Gigi terhadap Kebersihan
Mulut Siswa Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Kerja PUSKESMAS Gladak
Pakem Kabupaten Jember. Jakarta : Jurnal Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia.

LAMPIRAN

Lampiran A. Perhitungan Sampel
Jumlah SD yang terdapat di Kecamatan Patrang Kabupaten Jember sejumlah
28 SD Negeri, dengan pembagian 4 SD di perkotaan dan 4 SD di pedesaan. Jumlah
populasi seluruh siswa SD kelas V adalah 1482 siswa, dengan jumlah subyek 305
siswa didapatkan dari rumus :

Z
2
Z
1- /2
p (1-p) N
n = -------------------------------
d
2
(N-1) + Z
2
Z
1- /2
p (1-p)

1.96
2

x 0.5 (0.5) x 1482
n = -----------------------------------
0.05
2
(1481) + 1.96
2

x 0.5 (0.5)

3.8416 x 0.25 x 1482
n = ----------------------------
0.0025 (1481) + 0.9604

1423.3128
n = ----------------
4.6629
n = 305.24
n = 305

ini digunakan seluruh SD di Kecamatan Patrang. Kemudian setiap unit dihitung
menggunakan rumus (Prasetyo dan Jannah, 2005) sebagai berikut:



51
n
unit
= besar populasi dalam kelompok x total subyek
total populasi

Berdasarkan perhitungan tersebut maka akan didapatkan jumlah sampel sebagai
berikut :
a. Pada Sekolah Dasar wilayah pedesaan diambil 4 SD dengan total sampel
sebanyak 72 siswa kelas V SD, dengan distribusi setiap SD sebagai berikut:
No. Nama Sekolah Dasar
Jumlah
Siswa
Jumlah
siswa*BesarSampel
Jumlah populasi(417)
Jumlah Sampel
tiap Sekolah
1 SDN Bintoro 03 21 21 x 305 : 417 = 15
2 SDN Slawu 02 11 11 x 305 : 417 = 8
3 SDN Baratan 03 42 42 x 305 : 417 = 31
4 SDN Bintoro 05 25 25 x 305 : 417 = 18

Jumlah 99

72

b. Pada Sekolah Dasar wilayah perkotaan diambil 4 SD dengan total sampel
sebanyak 233 siswa kelas V SD, dengan distribusi setiap SD sebagai berikut :
No. Nama Sekolah Dasar
Jumlah
Siswa
Jumlah
siswa*BesarSampel
Jumlah populasi(417)
Jumlah
Sampel tiap
Sekolah
1 SDN Jember Lor 01 98 98 x 305 : 417 = 72
2 SDN Jember Lor 3 76 76 x 305 : 417 = 56
3 SDN Patrang 1 73 73 x 305 : 417 = 53
4 SDN Gebang 03 71 71 x 305 : 417 = 52

Jumlah 318

233


52

Lampiran B. Kuesioner
KUESIONER

Nama Siswa :
Umur :
Nama Orang Tua :
Pekerjaan :
Asal Sekolah :

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memilih salah satu jawaban yang dianggap
paling benar dengan cara menyilangnya (x).

Pengetahuan
1. Gigi berlubang dapat terjadi karena :
a. makanan yang mengandung gula
b. makanan yang asam
c. makanan yang asin
d. makanan yang panas
2. Sisa-sisa makanan dapat dibersihkan dengan :
a. kumur-kumur saja
b. hilang dengan sendirinya
c. dicongkel dengan tusuk gigi
d. menyikat gigi
3. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi :
a. setiap mandi pagi hari
b. setiap mandi sore hari
c. pagi sesudah sarapan dan malam sebelum tidur
d. setiap mandi

53
4. Permukaan gigi yang harus disikat :
a. bagian sebelah depan saja
b. bagian sebelah dalam saja
c. bagian depan dan dalam
d. seluruh permukaan gigi yaitu bagian depan, dalam dan dataran pengunyahan.
5. Jajanan yang tidak merusak gigi :
a. es krim
b. cokelat
c. buah-buahan
d. permen

Pola jajan dan Jenis Jajanan
6. Kapan waktu yang tepat saat makan makanan ringan (permen, coklat, dan
snack)?
a. Waktu istrahat sekolah saja
b. Waktu malam hari dirumah
c. Setiap kali setelah makan
7. Jajanan apa yang sering Anda konsumsi?

Peran orang tua
8. apakah orang tua anda selalu mengingatkan untuk menggosok gigi?
a. sering
b. tidak pernah
c. jarang
9. apakah orang tua anda pernah mengajari bagaimana cara menyikat gigi?
a. sering
b. tidak pernah
c. jarang


54
10. apakah orang tua anda selalu mengajak ke dokter gigi untuk memeriksakan gigi?
a. sering
b. tidak pernah
c. jarang
11. Apakah anda pernah diajari tentang kebersihan gigi dan mulut di sekolah?
a. sering
b. Tidak pernah
c. Jarang

Perilaku
12. Saya mau ke dokter gigi sekali dalam enam bulan untuk memeriksakan gigi.
a. Setuju
b. tidak setuju
c. kurang setuju
13. Tindakan apa yang dilakukan setelah kita makan makanan manis..
a. langsung kumur-kumur
b. langsung tidur
c. tidak melakukan apa-apa
14. Saya malas ke dokter gigi karena gigi saya tidak ada yang sakit.
a. Setuju
b. tidak setuju
c. kurang setuju
15. Saya lebih suka menyikat gigi sewaktu mandi karena praktis.
a. Setuju
b. tidak setuju
c. kurang setuju




55
16. Saya tidak mau menyikat gigi malam sebelum tidur karena ngantuk.
a. Setuju
b. tidak setuju
c. kurang setuju
17. Saya menyikat gigi tanpa disuruh orang tua.
a. Setuju
b. tidak setuju
c. kurang setuju


56
Lampran C. Lembar Penelitian
LEMBAR PENELITIAN
Perbedaan Indeks Karies Gigi Antara Siswa Kelas V Sekolah Dasar Di
Pedesaan Dan Perkotaan Di Kecamatan Patrang Kabupaten Jember

DATA UMUM
1. NAMA :
2. UMUR :
3. JENIS KELAMIN :
4. ALAMAT :
5. SEKOLAH :

DATA PENDUKUNG
Keterangan :
Gigi Karies :
Gigi Hilang :
Gigi Ditumpat :

Jumlah Gigi Karies :
Jumlah Gigi Hilang :
Jumlah Gigi Ditumpat :
Indeks DMF-T


57
Lampiran D. Pernyataan Persetujuan

PERNYATAAN PERSETUJUAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama :.
Umur : ..
.Jenis Kelamin :
Alamat :
Kepala Sekolah : ..

Dengan ini saya bersedia mengizinkan anak didik saya menjadi subyek
penelitian yang dilakukan Oleh
Nama : Sekti Anggara
NIM : 091610101079
Fakultas : Kedokteran Gigi
Universitas : Universitas Jember
Judul penelitian : Perbedaan Indeks Karies Gigi Antara Siswa Kelas V
Sekolah Dasar Di Pedesaan Dan Perkotaan Di Kecamatan
Patrang Kabupaten Jember
Saya telah menerima penjelasan mengenai apa saja yang dilakukan
sebagai subyek dalam penelitian ini. Dengan demikian saya mengijinkan, anak
didik saya menjadi subyek penelitian dengan sukarela.

Jember, .........................2012


( ......................................... )

58
PENJELASAN MENGENAI PENELITIAN YANG BERJUDUL Perbedaan
Indeks Karies Gigi Antara Siswa Kelas V Sekolah Dasar Di Pedesaan Dan
Perkotaan Di Kecamatan Patrang Kabupaten Jember


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember, Sekti Anggara
(NIM. 091610101079) sedang melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada
perbedaan indeks gigi berlubang pada siswa SD kelas V di pedesaan dan
perkotaan di kecamatan Patrang. Penelitian ini melibatkan siswa kelas V sekolah
dasar di kecamatan Patrang.
Siswa Anda merupakan subyek penelitian yang berjudul perbedaan indeks
gigi berlubang pada siswa SD kelas V di pedesaan dan perkotaan di kecamatan
Patrang . Anak didik anda akan dilakukan pengamatan tentang bagaimana kondisi
giginya (hilang, berlubang, dan ditambal). Untuk mendukung data hasil penelitian,
maka diberikan kuesioner yang diberikan kepada siswa yang dilakukan penelitian,
kuesioner harus dijawab. Bila Anda mengijinkan anak didik anda ikut serta dalam
penelitian ini, Anda akan diminta mengisi pernyataan. Prosedur penelitian sebagai
berikut:
Prosedur Penelitian
a. Persiapan Alat
1. Alat disterilisasi untuk menhindari adanya kuman
b. Persiapan Operator
1. Menggunakan masker dan sarung tangan
2. Melakukan cuci tangan menggunakan Hand sanitizer sebelum dan setelah
pelaksanaan
c. Persiapan siswa
1. Siswa perlu membersihkan giginya terlebih dahulu dengan kumur-kumur
2. Siswa didudukkan di kursi dengan posisi menghadap sumber sinar (sinar
matahari, lampu, senter dsb).


59
d. Prosedur Pemeriksaan Gigi
1. Siswa didudukan dan kepalanya bersandar pada dinding sedemikian rupa
sehingga kepala setengah menengadah dan responden diminta untuk
membuka mulut.
2. Apabila penerangan kurang, dapat dibantu dengan menggunakan lampu
senter.
3. Dilakukan Pengamatan gigi dengan menihitung semua gigi yang berlubang,
hilang,atau ditambal. Kemudian dijumlahkan semua.

Apabila kurang memahami maksud diatas, Anda akan diberi kesempatan
untuk menanyakan semua hal yang belum jelas sehubungan dengan penelitian ini.


60
Lampiran E. Analisa Data

E.1. Validitas Kuesioner

CORRELATIONS /VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006
/PRINT=TWOTAIL NOSIG /MISSING=PAIRWISE.
Correlations
Notes
Output Created 05-Dec-2012 06:34:31
Comments
Input Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 30
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each pair of variables are based
on all the cases with valid data for that pair.
Syntax CORRELATIONS
/VARIABLES=VAR00001 VAR00002
VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006
/PRINT=TWOTAIL NOSIG
/MISSING=PAIRWISE.

Resources Processor Time 0:00:00.249
Elapsed Time 0:00:00.249
[DataSet0]
Correlations
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004
VAR00001 Pearson Correlation 1 .088 .280 .049
Sig. (2-tailed) .645 .134 .797
N 30 30 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .088 1 .183 .000
Sig. (2-tailed) .645 .334 1.000
N 30 30 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .280 .183 1 .442
*

Sig. (2-tailed) .134 .334 .014
N 30 30 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .049 .000 .442
*
1
Sig. (2-tailed) .797 1.000 .014
N 30 30 30 30
VAR00005 Pearson Correlation .288 .239 .055 .200
Sig. (2-tailed) .122 .203 .775 .288
N 30 30 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .501
**
.550
**
.779
**
.598
**

Sig. (2-tailed) .005 .002 .000 .000
N 30 30 30 30

61
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Correlations
VAR00005 VAR00006
VAR00001 Pearson Correlation .288 .501
**

Sig. (2-tailed) .122 .005
N 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .239 .550
**

Sig. (2-tailed) .203 .002
N 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .055 .779
**

Sig. (2-tailed) .775 .000
N 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .200 .598
**

Sig. (2-tailed) .288 .000
N 30 30
VAR00005 Pearson Correlation 1 .406
*

Sig. (2-tailed) .026
N 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .406
*
1
Sig. (2-tailed) .026
N 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
SAVE OUTFILE='C:\Users\robbin\Documents\OUTPUT SPSS VALIDITAS\dibagi pengetahuan.sav' /COMPRESSED.
CORRELATIONS /VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 /PRINT=TWOTAIL NOSIG
/MISSING=PAIRWISE.
Correlations
Notes
Output Created 05-Dec-2012 06:43:53
Comments
Input Active Dataset DataSet2
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 30
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each pair of variables are based
on all the cases with valid data for that pair.
Syntax CORRELATIONS
/VARIABLES=VAR00001 VAR00002
VAR00003 VAR00004
/PRINT=TWOTAIL NOSIG
/MISSING=PAIRWISE.

Resources Processor Time 0:00:00.125
Elapsed Time 0:00:00.203
[DataSet2]

62
Correlations
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004
VAR00001 Pearson Correlation 1 -.217 .193 .646
**

Sig. (2-tailed) .249 .308 .000
N 30 30 30 30
VAR00002 Pearson Correlation -.217 1 .303 .435
*

Sig. (2-tailed) .249 .104 .016
N 30 30 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .193 .303 1 .777
**

Sig. (2-tailed) .308 .104 .000
N 30 30 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .646
**
.435 .777 1
Sig. (2-tailed) .000 .016 .000
N 30 30 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
SAVE OUTFILE='C:\Users\robbin\Documents\OUTPUT SPSS VALIDITAS\dibagi polajajan.sav' /COMPRESSED. NEW
FILE. CORRELATIONS /VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006
/PRINT=TWOTAIL NOSIG /MISSING=PAIRWISE.
Correlations
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004
VAR00001 Pearson Correlation 1 .849
**
.801
**
.741
**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 30 30 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .849
**
1 .692
**
.581
**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .001
N 30 30 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .801
**
.692
**
1 .686
**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 30 30 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .741
**
.581
**
.686
**
1
Sig. (2-tailed) .000 .001 .000
N 30 30 30 30
VAR00005 Pearson Correlation .604
**
.641
**
.384
*
.416
*

Sig. (2-tailed) .000 .000 .036 .022
N 30 30 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .948
**
.903
**
.832
**
.796
**

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000
N 30 30 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Correlations
VAR00005 VAR00006
VAR00001 Pearson Correlation .604
**
.948
**

Sig. (2-tailed) .000 .000

63
N 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .641
**
.903
**

Sig. (2-tailed) .000 .000
N 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .384
*
.832
**

Sig. (2-tailed) .036 .000
N 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .416
*
.796
**

Sig. (2-tailed) .022 .000
N 30 30
VAR00005 Pearson Correlation 1 .736
**

Sig. (2-tailed) .000
N 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .736
**
1
Sig. (2-tailed) .000
N 30 30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
SAVE OUTFILE='C:\Users\robbin\Documents\OUTPUT SPSS VALIDITAS\dibagi peranortu.sav' /COMPRESSED. NEW
FILE. CORRELATIONS /VARIABLES=VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007
/PRINT=TWOTAIL NOSIG /MISSING=PAIRWISE.
Correlations
Notes
Output Created 05-Dec-2012 06:51:33
Comments
Input Active Dataset DataSet4
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 30
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each pair of variables are based
on all the cases with valid data for that pair.
Syntax CORRELATIONS
/VARIABLES=VAR00001 VAR00002
VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006
VAR00007
/PRINT=TWOTAIL NOSIG
/MISSING=PAIRWISE.

Resources Processor Time 0:00:00.078
Elapsed Time 0:00:00.093
DataSet4]
Correlations
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005
VAR00001 Pearson Correlation 1 .263 .424
*
.241 .538
**

Sig. (2-tailed) .160 .020 .200 .002
N 30 30 30 30 30

64
VAR00002 Pearson Correlation .263 1 .122 .362
*
.217
Sig. (2-tailed) .160 .522 .050 .248
N 30 30 30 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .424
*
.122 1 .235 .331
Sig. (2-tailed) .020 .522 .212 .074
N 30 30 30 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .241 .362
*
.235 1 .411
*

Sig. (2-tailed) .200 .050 .212 .024
N 30 30 30 30 30
VAR00005 Pearson Correlation .538
**
.217 .331 .411
*
1
Sig. (2-tailed) .002 .248 .074 .024
N 30 30 30 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .002 .072 .304 .003 .393
*

Sig. (2-tailed) .991 .704 .103 .988 .032
N 30 30 30 30 30
VAR00007 Pearson Correlation .677
**
.537
**
.669
**
.554
**
.792
**

Sig. (2-tailed) .000 .002 .000 .002 .000
N 30 30 30 30 30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Correlations
VAR00006 VAR00007
VAR00001 Pearson Correlation .002 .677
**

Sig. (2-tailed) .991 .000
N 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .072 .537
**

Sig. (2-tailed) .704 .002
N 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .304 .669
**

Sig. (2-tailed) .103 .000
N 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .003 .554
**

Sig. (2-tailed) .988 .002
N 30 30
VAR00005 Pearson Correlation .393
*
.792
**

Sig. (2-tailed) .032 .000
N 30 30
VAR00006 Pearson Correlation 1 .482
**

Sig. (2-tailed) .007
N 30 30
VAR00007 Pearson Correlation .482
**
1
Sig. (2-tailed) .007
N 30 30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

65
Correlations
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005
VAR00001 Pearson Correlation 1 .263 .424
*
.241 .538
**

Sig. (2-tailed) .160 .020 .200 .002
N 30 30 30 30 30
VAR00002 Pearson Correlation .263 1 .122 .362
*
.217
Sig. (2-tailed) .160 .522 .050 .248
N 30 30 30 30 30
VAR00003 Pearson Correlation .424
*
.122 1 .235 .331
Sig. (2-tailed) .020 .522 .212 .074
N 30 30 30 30 30
VAR00004 Pearson Correlation .241 .362
*
.235 1 .411
*

Sig. (2-tailed) .200 .050 .212 .024
N 30 30 30 30 30
VAR00005 Pearson Correlation .538
**
.217 .331 .411
*
1
Sig. (2-tailed) .002 .248 .074 .024
N 30 30 30 30 30
VAR00006 Pearson Correlation .002 .072 .304 .003 .393
*

Sig. (2-tailed) .991 .704 .103 .988 .032
N 30 30 30 30 30
VAR00007 Pearson Correlation .677
**
.537
**
.669
**
.554
**
.792
**

Sig. (2-tailed) .000 .002 .000 .002 .000
N 30 30 30 30 30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
SAVE OUTFILE='C:\Users\robbin\Documents\OUTPUT SPSS VALIDITAS\dibagi sikap.sav' /COMPRESSED. DATASET
ACTIVATE DataSet2. DATASET CLOSE DataSet4. DATASET ACTIVATE DataSet3. DATASET CLOSE DataSet2.

E.2. Uji Reliabilitas Kuesioner

Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excluded
a
0 .0
Total 30 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.893 17



66

E.3. Uji Beda Indeks DMF=T
NPAR TESTS /M-W= Daerah BY Group(1 2) /STATISTICS=DESCRIPTIVES /MISSING ANALYSIS.
NPar Tests
Notes
Output Created 20-Dec-2012 19:51:16
Comments
Input Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 352
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each test are based on all cases
with valid data for the variable(s) used in that
test.
Syntax NPAR TESTS
/M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES
/MISSING ANALYSIS.

Resources Processor Time 0:00:00.032
Elapsed Time 0:00:00.110
Number of Cases Allowed
a
112347
a. Based on availability of workspace memory.
[DataSet0]
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Daerah 352 2.5625 2.43000 .00 14.00
Group 352 1.78 .418 1 2
Mann-Whitney Test
Ranks
Group N Mean Rank Sum of Ranks
Daerah Desa 79 223.94 17691.50
Kota 273 162.77 44436.50
Total 352
Test Statistics
a

Daerah
Mann-Whitney U 7035.500
Wilcoxon W 44436.500
Z -4.773
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Grouping Variable: Group



67
E.4. Uji Beda Kuesioner Pengetahuan
NPAR TESTS /M-W= Daerah BY Group(1 2) /STATISTICS=DESCRIPTIVES /MISSING ANALYSIS.
NPar Tests

Notes
Output Created 31-Jan-2013 05:21:54
Comments
Input Data C:\Users\i7\Documents\pengetahuan.sav
Active Dataset DataSet2
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 352
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each test are based on all cases
with valid data for the variable(s) used in that
test.
Syntax NPAR TESTS
/M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES
/MISSING ANALYSIS.

Resources Processor Time 0:00:00.016
Elapsed Time 0:00:00.010
Number of Cases Allowed
a
112347
a. Based on availability of workspace memory.
[DataSet2] C:\Users\i7\Documents\pengetahuan.sav
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Daerah 352 4.6705 .65323 2.00 5.00
Group 352 1.78 .418 1 2
Mann-Whitney Test
Ranks
Group N Mean Rank Sum of Ranks
Daerah desa 79 74.08 5852.50
kota 273 206.14 56275.50
Total 352
Test Statistics
a

Daerah
Mann-Whitney U 2692.500
Wilcoxon W 5852.500
Z -13.540
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Grouping Variable: Group



68

E.5. Uji Beda Kuesioner Perilaku
GET FILE='C:\Users\i7\Documents\perilaku.sav'. NPAR TESTS /M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES /MISSING ANALYSIS.
NPar Tests

Notes
Output Created 31-Jan-2013 05:22:35
Comments
Input Data C:\Users\i7\Documents\perilaku.sav
Active Dataset DataSet3
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 352
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each test are based on all cases
with valid data for the variable(s) used in that
test.
Syntax NPAR TESTS
/M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES
/MISSING ANALYSIS.

Resources Processor Time 0:00:00.016
Elapsed Time 0:00:00.009
Number of Cases Allowed
a
112347
a. Based on availability of workspace memory.
[DataSet3] C:\Users\i7\Documents\perilaku.sav
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Daerah 352 9.3409 2.09537 2.00 12.00
Group 352 1.78 .418 1 2
Mann-Whitney Test
Ranks
Group N Mean Rank Sum of Ranks
Daerah desa 79 67.85 5360.50
kota 273 207.94 56767.50
Total 352
Test Statistics
a

Daerah
Mann-Whitney U 2200.500
Wilcoxon W 5360.500
Z -10.958
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Grouping Variable: Group



69
E.6. Uji Beda Kuesioner Peran Orang Tua
DATASET CLOSE DataSet1. GET FILE='C:\Users\i7\Documents\peran orang tua.sav'. NPAR TESTS /M-W= Daerah BY
Group(1 2) /STATISTICS=DESCRIPTIVES /MISSING ANALYSIS.
NPar Tests

Notes
Output Created 31-Jan-2013 05:23:58
Comments
Input Data C:\Users\i7\Documents\peran orang tua.sav
Active Dataset DataSet4
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 352
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each test are based on all cases
with valid data for the variable(s) used in that
test.
Syntax NPAR TESTS
/M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES
/MISSING ANALYSIS.

Resources Processor Time 0:00:00.015
Elapsed Time 0:00:00.014
Number of Cases Allowed
a
112347
a. Based on availability of workspace memory.
DataSet4] C:\Users\i7\Documents\peran orang tua.sav
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Daerah 352 6.9886 2.50012 .00 10.00
Group 352 1.78 .418 1 2
Mann-Whitney Test
Ranks
Group N Mean Rank Sum of Ranks
Daerah desa 79 56.98 4501.50
kota 273 211.09 57626.50
Total 352

Test Statistics
a

Daerah
Mann-Whitney U 1341.500
Wilcoxon W 4501.500
Z -12.012
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Grouping Variable: Group




70
E.7. Uji Beda Kuesioner Pola dan Jenis Jajan
GET FILE='C:\Users\i7\Documents\pola jajan.sav'. NPAR TESTS /M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES /MISSING ANALYSIS.

NPar Tests
Notes
Output Created 31-Jan-2013 05:24:27
Comments
Input Data C:\Users\i7\Documents\pola jajan.sav
Active Dataset DataSet5
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 352
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.
Cases Used Statistics for each test are based on all cases
with valid data for the variable(s) used in that
test.
Syntax NPAR TESTS
/M-W= Daerah BY Group(1 2)
/STATISTICS=DESCRIPTIVES
/MISSING ANALYSIS.

Resources Processor Time 0:00:00.000
Elapsed Time 0:00:00.009
Number of Cases Allowed
a
112347
a. Based on availability of workspace memory.
[DataSet5] C:\Users\i7\Documents\pola jajan.sav
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Daerah 352 1.2188 1.05430 .00 4.00
Group 352 1.78 .418 1 2
Mann-Whitney Test
Ranks
Group N Mean Rank Sum of Ranks
Daerah desa 79 165.54 13077.50
kota 273 179.67 49050.50
Total 352

Test Statistics
a

Daerah
Mann-Whitney U 9917.500
Wilcoxon W 13077.500
Z -1.133
Asymp. Sig. (2-tailed) .257
a. Grouping Variable: Group



71
Lampiran F. Foto Alat dan Bahan















Alat dan Bahan Pemeriksaan Karies Gigi :
a. Kaca mulut
b. Sonde
c. Pinset
d. Nierbeken
e. Alkohol
f. Sarung tangan
g. Masker
h. Gelas kumur
i. Sabun cuci tangan atau Hand sanitizer
j. Tissue
k. Senter

a
.
b
.
c
.
d
.
e
f
g
.
h
i
j
k

72
Lampiran G. Hasil Pengisian Kuesioner









































73
Lampiran H. Surat Izin Penelitian

74


75



76
Lampiran I. Surat Persetujuan Kepala Sekolah



77


78


79


80


81


82




83

Lampiran I. Foto Penelitian

1. Foto pemeriksaan gigi










2. Foto pengisian kuesioner












3. Foto gambaran rongga mulut siswa sekolah dasar daerah pedesaan














84

4. Foto gambaran rongga mulut siswa sekolah dasar daerah perkotaan







8
5
8
6
8
7
8
8
8
9
9
0
9
1
9
2
9
3
9
4
9
5
9
6
9
7