Anda di halaman 1dari 23

Menelaah Konsep Dasar Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus,


Bayi, Balita , dan Anak Pra Sekolah
Dosen : Sudiyati SST, MKes






Disusun Oleh :
Desi natalis Rahmalia
Fiki amalia
Laelya PAY
Maria Destri Yanti
Widya Ayu P
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA I
JURUSAN KEBIDANAN
Jalan RS. Fatmawati, Cilandak-Jakarta Selatan
TAHUN 2013



KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Menelaah Konsep Dasar Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra
Sekolah dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi, Balita , dan Anak Pra Sekolah
Dalam menyusun makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk
itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Sudiyati SST,Mkes selaku dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi, Balita , dan Anak Pra Sekolah
2. Teman teman kelompok 2 kelas IIA
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran
dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Harapan
penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang
budiman.



Jakarta, 3 September 2013


Penulis




DAFTAR ISI

Halaman judul i
Kata pengantarii
Daftar isi ..iii
BAB I PENDAHULUAN..1
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN......2
2.1 Definisi neonatus
2.2 Klasifikasi neonatus
2.3 Asuhan neonatus essensial
2.4 Konsep dasar bayi baru lahir
2.5 Pengertian balita
2.6 Perkembangan fisik dan psikologis pada balita
2.7 Karakteristik balita
BAB III PENUTUP..14
1. Kesimpulan .....14
2. Saran 14
Daftar pustaka





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kondisi angka kematian neonatal bayi dan balita di Indonesia. Menurut data
hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012. Angka
Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia sebesar 19 kematian/1000 kelahiran
hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 32 kematian/1000 kelahiran hidup
dan Angka Kematian Balita (AKABA) sebesar 40 kematian/1000 kelahiran hidup.
Dengan demikian tidak ada kenaikan berarti dibanding hasil SDKI 2007.
Penyebab tersering kematian neonatus (0-28 hari) adalah gangguan
pernapasan. Bayi lahir prematur dan sepsis penyebab tersering kematian bayi
(0-1 bulan). Kelainan kongenital dan pneumonia penyebab tersering kematian
bayi (1-11 bulan).
Bayi baru lahir memerlukan asuhan yang segera yang cepat , tepat , aman
dan bersih. Inilah hal yang akan penulis jelaskan dalam makalah ini. Pada jaman
sekarang ini, asuhan pada bayi baru lahir atau neonates masih kurang sesuai
dengan yang diharapkan. Misalnya saja, orang orang masih percaya bahwa
saat bayi lahir dan tali pusat dipotong, mereka masih memberikan salep ke tali
pusat dngan alasan untuk mempercepat pengeringan, padahal hal yang
dilakukan ini salah. Karena hal tersebut bias saja menyebabkan infeksi di bagian
pusat bayi tersebut. Bukan itu saja, untuk mengurangi angka kesakitan dan
kematian BBL, maka dibutuhkan tenaga kesehatan yang telah dibekali dengan
keterampilan, pengetahuan yang memadai.

1.2 Maksud
Disamping guna memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus,
Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah penyusunan makalah ini juga dimaksudkan
untuk memberikan informasi mengenai konsep dasar asuhan neonatus, bayi,
balita, dan anak pra sekolah.

1.3 Tujuan
1. Memberikan informasi tentang definisi neonatus
2. Memberikan informasi tentang pembagian neonatus
3. Memberikan informasi tentang asuhan neonatus essensial
4. Memberikan informasi tentang bayi baru lahir normal
5. Memberikan informasi tentang pengertian balita
6. Memberikan informasi tentang perkembangan fisik dan psikologi balita
7. Memberikan informasi tentang karakteristik balita
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 DEFINISI NEONATUS
Menurut kamus kedokteran Dorland (2003), dj el askan bahwa
neonatal adalah jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu.
Menurut kamus kesehatan , neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia
sampai dengan 28 hari. Neonatus atau bayi baru lahir adalah mulai sampai
usia satu bulan periode neonatal atau neonatus adalah bulan pertama selama
periode neonatal bayi mengalami pertumbuhan yang amat menakjubkan.

2.2 KLASIFIKASI NEONATUS
Klasifikasi bayi baru lahir (neonatus), dibedakan menjadi 3 kategori:
1.) Pertama, klasifikasi neonatus menurut masa gestasi :
a. Neonatus kurang bulan (Preterm infant): kurang 259 hari (37 minggu)
b. Neonatus cukup bulan (term infant): 259-294 hari (37-42 minggu)
c. Neonatus lebih bulan (postterm infant):lebih dari 294 hari (42 minggu
lebih)
2.) Kedua, klasifikasi neonatus menurut berat lahir :
a. Neonatus berat lahir rendah : kurang dari 2500 gram.
b. Neonatus berat cukup : antara 2500-4000 gram
c. Neonatus berat lahir lebih : lebih dari 4000 gram.
3.) Ketiga klasifikasi menurut berat lahir terhadap masa gestasi,
Dideskripsikan dengan masa gestasi dan ukuran berat lahir yang
sesuai untuk masa kehamilannya, yaitu neonatus cukup/kurang/lebih
bulan (NCB/NKB/NLB) apakah sesuai/kecil/besar untuk masa
kehamilan (SMK/KMK/BMK).

Ada 2 masa pada neonatus, yaitu :
Masa portunate pada bayi berlangsung antara 15-20 menit
pertama sejak bayi lahir sampai tali puasatnya terpotong.
Masa neonate berlangsung pada saat pengguntingan talipusat ,
anak menjadi individu yang terpisah dan berdiri sendiri
2.3 ASUHAN NEONATUS ESSENSIAL
Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi baru lahir :
Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat
Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dan kulit ibunya sesegera
mungkin.
Segera setelah melahirkan badan bayi lakukan penilaian sepintas :
Sambil secara cepat menilai pernapasannya (menangis kuat, bayi
bergerak aktif, warna kulit kemerahan) letakkan bayi dengan handuk
diatas perut ibu.
Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah/lendir dari wajah
bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang.
Periksa ulang pernapasan bayi (sebagian besar bayi akan menangis
atau bernapas spontan dalam waktu 30 detik setelah lahir).
Dan nilai APGAR SKORnya, jika bayi bernafas megap-megap atau
lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir

Nilai
Tanda 0 1 2
Denyut Jantung
(pulse)
Tidak
ada
Lambat < 100 >100
Usaha Nafas
(respisration)
Tidak
ada
Lambat, tidak
teratur
Menangis dengan
keras
Tonus otot (activity) Lemah
Fleksi pada
ekstremitas
Gerakan aktif



Tidak
ada
Merintih Menangis kuat
Kepekaan Reflek
(gremace)
Warna (apperence)
Biru
pucat
Tubuh merah
muda,
ekstremitas
biru
Seluruhnya merah
muda

Penatalaksanaan awal dimulai sejak proses persalinan hingga
kelahiran bayi, dikenal sebagai Asuhan Esensial Neonatal yang meliputi:
1) Persalinan bersih dan aman
Telah dibicarakan dalam bab-bab terdahulu, yang penting di sini agar
selalu menerapkan upaya pencegahan infeksi yang baku (standar) dan
ditatalaksana sesuai dengan ketentuan atau indikasi yang tepat.
Persiapan diri
1. Cuci tangan dan keringkan
2. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi sebelum
dimandikan
Persiapan Alat :
1. Peralatan yang digunakan (klem, gunting dan lain-lain ) DTT atau
sterilisasi
2. Bola karet baru dan bersih
3. Handuk, selimut, pakaian bersih
4. Termometer, timbangan, stetoskop dan lain lain
5. Dekontaminasi dan cuci setiap alat habis pakai
Persiapan tempat
1. Ruangan yang hangat dan terang
2. Siapkan tempat resusitasi yang bersih, kering, hangat, datar dan rata
3. Letakkan resusitasi dekat pemancar panas dan tidak dingin tutup jendela
dan pintu
4. Gunakan lampu pijar 60 watt dengan jrak 60 cm jika panas tak tersedia























2) Klem dan potong tali pusat

a) Klem tali pusat dengan 2 buah klem pada klem pertama kira-kira 2
dan 3 cm dari pangkal pusat bayi
b) Potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari
gunting dengan tangan kiri
c) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Potong tali
pusat dengan gunting yang perawatan alat steril atau desinfeksi
tingkat tinggi
d) Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila masih terjadi perdarahan
pengikatan ulang yang lebih ketat.perawatan tali pusat , jangan
membungkus punting tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan
cairan atau bahan apapun ke punting tali pusat

3) Memulai / inisiasi pernapasan spontan
Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan dengan
melakukan penilaian awal, sebagai iberikut :
Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan
tepat (0-30 detik).
Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan
atau menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
b. Apakah bayi bernapas spontan?
c. Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
d. Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?
e. Apakah ini kehamilan cukup bulan?

4) Stabilisasi temperatur tubuh bayi menjaga agar bayi tetap hangat
Pencegahan kehilangan panas
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara
memadai, dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak
segera dicegah. Bayi yang mengalami kehilangan panas (hipotermia) berisiko
tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal. Jika bayi dalam keadaan basah atau
tidak diselimuti, mungkin akan mengalami hipotermia, meskipun berada
dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi prematur atau berat badan lahir
rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.
Mekanisme kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir dapat terjadi melalui
mekanisme berikut :
Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi.
Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada
permukaan tubuh setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera
dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi setelah bayi dimandikan
Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara
tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan di
atas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan cepat
mengalami kehilangan panas tubuh akibat proses konduksi.
Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar
dengan udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau
ditempatkan dalam ruang yang dingin akan cepat mengalami
kehilangan panas. Kehilangan panas juga dapat terjadi jika ada tiupan
kipas angin, aliran udara atau penyejuk ruangan.
Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan
dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh lebih rendah dan
temperatur tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui
cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan
langsung dengan tubuh bayi.



Kehilangan panas tubuh bayi dapat dihindarkan melalui upaya-upaya
berikut ini :
Keringkan bayi secara seksama.
Segera setelah lahir, segera keringkan permukaan tubuh
sebagai upaya untuk mencegah kehilangan panas akibat evaporasi
cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi. Hal ini juga merupakan
rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasan.
Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat.
Segera setelah tubuh bayi dikeringkan dan tali pusat dipotong,
ganti handuk atau kain yang telah dipakai kemudian selimuti bayi
dengan selimut atau kain hangat, kering dan bersih. Kain basah yang
diletakkan dekat tubuh bayi akan menyebabkan bayi tersebut
mengalami kehilangan panas tubuh. Jika selimut bayi harus dibuka
untuk melakukan suatu prosedur, segera selimuti kembali dengan
handuk atau selimut kering, segera setelah prosedur tersebut selesai.
Tutupi kepala bayi.
Pastikan bahwa bagian kepala bayi ditutupi setiap saat. Bagian
kepala bayi memiliki luas permukaan yang cukup besar sehingga bayi
akan dengan cepat kehilangan panas tubuh jika bagian kepalanya
tidak tertutup.
Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI.
Memeluk bayi akan membuat bayi tetap hangat dan merupakan
upaya pencegahan kehilangan panas yang sangat baik. Anjurkan ibu
untuk sesegera mungkin menyusukan bayinya setelah lahir.
Pemberian ASI, sebaiknya dimulai dalam waktu satu jam setelah bayi
lahir
Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
Karena bayi baru lahir mudah mengalami kehilangan panas
tubuh, (terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan
penimbangan, selimuti tubuh bayi dengan kain atau selimut bersih dan
kering. Timbang selimut atau kain secara terpisah, kemudian kurangi
berat selimut atau kain tersebut dan total berat bayi saat memakai
selimut tadi.
Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir.
Tunda untuk memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam setelah
lahir. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama kehidupannya
dapat mengarah pada kondisi hipotermia dan sangat membahayakan
keselamatan bayi.
Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. Idealnya, segera
setelah lahir bayi harus ditempatkan bersama ibunya di tempat tidur
yang sama. Menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang
paling mudah untuk menjaga bayi agar tetap hangat, mendorong
upaya untuk menyusui dan mencegah bayi terpapar infeksi.
Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15
menit yaitu :
1). Apabila telapak bayi terasa dingin, periksa suhu aksila bayi
2). Apabila suhu bayi kurang dari 36,5C, segera hangatkan bayi

5) Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya yang
mungkin lebih dari satu persalinan maka alat pengenal harus diberikan
kepada setiap bayi baru lahir :
a. Alat yang digunakan hendaknya kebal air, tidak mudah melukai, tidak
mudah sobek, tidak mudah lepas (gelang bayi)

b. Pada alat identifikasi harus tercantum :
1) Nama bayi /Nama ibu
2) Tanggal lahir dan jam
3) Nomor bayi
4) Jenis kelamin
5) Nama ibu lengkap

6) Memulai pemberian ASI (menyusui)
Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam waktu 30 menit setelah
bayi lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusukan
bayinya segera setelah tali pusat di klem dan dipotong. Tenteramkan ibu
bahwa penolong akan membantu ibu menyusukan bayi setelah plasenta lahir
dan penjahitan laserasi selesai dikerjakan. Anggota keluarga mungkin bisa
membantunya untuk memulai pemberian ASI lebih awal. Setelah semua
prosedur yang diperlukan diselesaikan, ibu sudah bersih dan mengganti baju,
bantu ibu untuk rnenyusukan bayinya.
Pemberian ASI memiliki beberapa keuntungan. Memulai pemberian ASI
secara dini akan :
o Merangsang produksi air susu ibu (ASI)
o Memperkuat refleks menghisap (refleks menghisap awal pada bayi,
paling kuat dalarn beberapa jam pertarna setelah lahir).
o Memulai pemberian ASI secara dini akan memberikan pengaruh yang
positif bagi kesehatan bayi.
o Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayinya.
o Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum.
o Merangsang kontraksi uterus.



7) Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat melakukan
penanganan bayi baru lahir, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan
infeksi berikut ini:
Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak
dengan bayi.
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan.
Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang
tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan
bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru.
Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap dari satu bayi ke
bayi yang lain.
Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang
digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.
Pastikan bahwa timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan
benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam
keadaan bersih (dekontaininasi, cuci, dan keringkan setiap kali setelah
digunakan).
8) Perawatan mata
Memberikan eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% untuk mencegah
penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). Obat mata
diberikan pada 1 jam pertama setelah persalinan.

9) Pemberian vitamin K
Karena sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum
sempurna, maka bayi baru lahir beresiko untuk mengalami pendarahan, tidak
tergantung apakah bayi mendapat ASI atau susu formula atau usia kehamilan
dan BB bayi saat lahir.
Pendarahan dapat ringan atau berat, berupa pendarahan pada
kejadian pasca imunisasi ataupun pendarahan intrakranial. Untuk itu maka
semua bayi baru lahir apalagi BBLR diberi suntikan Vitamin K1
(Phytomenadione) sebanyak 1 mg dosis tunggal IM, pada paha kiri
anterolateral. Diberikan setelah proses IMD dan sebelum imunisasi hepatitis B

10) Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Pemberian imunisasi Hepatitis B ini untuk mencegah infeksi Hepatitis
B di berikan pada usia 0 (segera setelah lahir menggunakan uniject) di suntik,
IM dipaha kanan dan selanjutnya di berikan ulangan sesuai imunisasi dasar
lengkap.

2.4 KONSEP DASAR BAYI BARU LAHIR

A. Pengertian
Bayi Baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42
minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Menurut Dep. Kes RI bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir
dengan umur kehamilan 37 minggu sampai dengan 42 minggu dan berat lahir
2500 gram sampai 4000 gram.

B. Ciri-Ciri Bayi Normal
1. BB 2500 4000 gram
2. PB 48 52 cm
3. Lingkar dada 30 38 cm
4. Lingkar kepala 33 35 cm
5. Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 180 x/mnt, kemudian
menurun sampai 120-110 x/mnt.
6. Pernafasan pada menit pertama kira-kira 100 x/mnt, kemudian
menurun setelah tenang 40 x/mnt.
7. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subcutan cukup
terbentuk dan diliputi verniks caseosa
8. Rambut kepala biasanya telah sempurna.
9. Kuku agak panjang atau melewati jari-jari
10. Genetalia labia mayora sudah menutupi labia minora (pada anak
perempuan) testis sudah turun (Pada anak laki-laki).
11. Reflek hisap dan menelan baik
12. Reflek suara sudah baik, bila bayi dikagetkan akan memperlihatkan
gerakan memeluk.
13. Reflek menggenggam sudah baik
14. Eliminasi baki urine dan meconium akan keluar 24 jam pertama.
Meconium berwarna hitam kecoklatan.

C. Perubahan-Perubahan Yang terjadi Pada Bayi Baru Lahir
a. Perubahan metabolisme karbohidrat
b. Perubahan suhu tubuh
Ketika bayi lahir berada pada suhu yang lebih rendah dan suhu
di dalam rahim ibu .Apabila dibiarkan dalam suhu 25C, maka bayi
akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi
sebanyak 200 kkal/kb BB/mnt, sedangkan produksi panas yang
dihasilkan tubuh bayi hanya 1/10 nya. Sehingga menyebabkan suhu
tubuh turun, akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan meningkat
dan kebutuhan oksigen.
c. Perubahan Pernapasan
Selama dalam uterus janin mendapat O
2
dari pernafasan gas
melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-
paru bayi. Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama adalah :
Tekanan metabolism dan toraks sewaktu melalui jalan lahir
Penurunan O
2
dan kenaikan CO
2
merangsang kemoreseptor
yang terletak di sinus karotis.
Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang
permukaan pernafasan
d. Perubahan Sirkulasi
Dengan Perkembangan paru mengakibatkan tekanan O
2
naik
dan tekanan CO
2
menurun, sehingga menurunkan resistensi pembuluh
darah paru, sehingga aliran darah meningkat hal ini menyebabkan
darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru. Dan duktus
arteriosus menutup. Dengan menciutnya arteri dan vena umbilicus
kemudian tali pusat dipotong aliran darah dari plasenta melalui vena
inferior dan foramen ovale di triun kiri terhenti. Sirkulasi janin sekarang
berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu.

e. Perubahan alat pencernaan, hati, ginjal, alat lainnya mulai berfungsi.
Setelah anak lahir harus segera mendapat perawatan dan
pengawasan agar tidak terjadi kelainan-kelainan. Adapun perawatan
dan pengawasan bayi meliputi :
a. Menghisap lender
b. Memotong tali pusat
c. Meneteki / Memberi Salep Mata
d. Memberi injeksi vitamin K
e. Mengukur panjang badan dan menimbang berat badan bayi.
f. Mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas), LD (Lingkar Kepala)
g. Mengukur suhu tubuh
h. Memandikan setelah 6 jam post partum

2.5 PENGERTIAN BALITA
Balita adalah anak dengan usia dibawah 5 tahun dengan karakteristik
pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun dimana umur 5 bulan BB naik 2x
BB lahir dan 3x BB lahir pada umur 1 tahun dan menjadi 4x pada umur 2
tahun. Pertumbuhan mulai lambat pada masa pra sekolah kenaikan BB
kurang lebih 2 kg/tahun kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir. (
soetjiningsih,2001)
Bawah lima tahun atau sering disebut balita merupakan salah satu
periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita
dimulai dari satu sama dengan lima tahun .

2.6 PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOLOGIS PADA BALITA
Balita merupakan singkatan bawah lima tahun, salah satu periode usia
manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun. Ada juga yang
menyebut dengan periode usia prasekolah. Pada fase ini, anak berkembang
dengan sangat pesat.

Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya menjadi generasi
yang sehat, cerdas, dan kuat. Karenanya, memberikan yang terbaik untuk
anak adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu orang tua harus memahami
tumbuh kembang tubuh dan otak anaknya, terutama pada masa balita.
Gejala kuantitatif : perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan
intraseluler pada tubuh anak ditandai oleh:
a. Meningkatnya berat badan dan tinggi badan
b. Bertambahnya ukuran lingkar kepala
c. Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham
d. Menguatnya tulang dan membesarnya otot
e. Bertambahnya organ tubuh lainnya seperti, rambut, kuku, dan
sebagainya
Berlangsung perlahan, bertahap, dan terpola secara proposional
pada tiap bulannya. Adanya penambahan ukuran tubuh, artinya proses
pertumbuhannya berlangsung baik. Sebaliknya jika telihat gejala penurunan
ukuran itu sinyal terjadinya gangguan atau hambatan proses pertumbuhan.
Untuk mengetahui baik tidaknya pertumbuhan bayi dan balita adalah
dengan mengamati grafik pertambahan berat dan tinggi badan yang terdapat
di KMS. Cara lain yaitu dengan pemamtauan status gizi pemamtauan status
gizi pada bayi dan balita telah dibuatkan standarisasi oleh Harvard University
dan Wolanski
Gejala kualitatif, artinya berlangsung proses peningkatan dan
pematangan kemampuan personal dan kemampuan sosial.
Kemampuan personal ditandai pendayagunaan segenap fungsi alat-
alat pengindaraan dan sistem organ tubuh lain yang dimilikinya.
Kemampuan fungsi pengindaraan meliputi :
1) Penglihatan : melihat, melirik,menonton, dan lain-lain
2) Pendengaran : reaksi mendengarkan bunyi, menyimak
pembicaraan dan lain-lain
3) Penciuman : memcium dan membau sesuatu
4) Peraba : reaksi saat menyentuh atau disentuh, meraba benda,
dan lain-lain
5) Pengecap : menghisap ASI, mengatur rasa makanan dan
minuman
Sistem tubuh yang lain meliputi :
1) Tangan : menggenggam , mengangkat, melempar, mencoret-coret,
menulis dan lain-lain
2) Kaki : menendang, berdiri, berjalan, berlari, dan lain- lain
3) Gigi : mengigit, menguyah, dan lain-lain
4) Mulut : mengoceh, melafal, teriak, berbicara, menyanyi, dan lain-
lain
5) Emosi : menangis, senyum tertawa, gembira, bahagia, percaya diri,
empati, dan lain-lain
6) Kognisi : mengenal objek, mengingat, memahami, mengerti,
membandingkan,dan lain-lain
7) Kreatifitas : kemampuan imajinasi membuat, merangkai,
menciptkan objek,dan lain-lainrguling, berjinjit, mengenggam, m
f. Kemampuan sosial : kemampuan berinteraksi dengan lingkungan,
berusaha mengenal teman di lingkungan sekitarnya
g. Psikomotor : balita mulai terampil dalam pergerakannya seperti,
berlari, memanjat, melompat, berguling, melempar yang berguna
untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan
rentang atensi
h. Kognitif : pemahaman terhadapt objek sudah lebih ajeg
i. Motorik halus : pada akhir masa balita anak mulai terlatih untuk
meronce, menulis, menggambarm menggunakan gerakan pincer
yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari
telunjukdan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta
memegang sendok dan meyuapkan makanan mulutnya, mengikat
tali sepatu.

j. Bahasa : kemampuan bahasa balita tumbung dengan pesat. Pada
usia 2 tahun kosata balita rata-rata 50 kata, pada usia 5 tahun
>1000 kosakata, 3 tahun balita mulai bicara dengan kalimat
sederhana, berisi 3 kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari
ibunya.

2.7 KARAKTERISTIK BALITA
1. Umur Balita
Masalah gizi mulai muncul pada usia-usia sesudah 6 bulan. Nilai rata-
rata persen berat badan menurut umur (BB/U) tampak menurun mulai usia 7
bulan ada beberapa kemungkinan yang mempengaruhi keadaan tersebut
yaitu usia penyapihan terlalu dini atau pemberian ASI terlalu lama tanpa
diimbangi pemberiaan makanan tambahan, pola asuh, dan keadaan ekonomi
yang merupakan faktor penting bagi ketersediaan makanan yang cukup untuk
anak-anak yang sedang tumbuh-kembang
Hasil penelitian Kunanto pada tahun 1992, menunjukan bahwa ada
hubungan antara umur balita dengan status gizi, hal ini berkaitan erat dengan
menurunnya perhatian orang tua terhadap anaknya, yang mungkin
disebabkan oleh adanya anak yang lebih muda (adik) atau kesibukan orang
tua anak tersebut.
Anak balita kadang dianggap kelompok umur yang paling belum
berguna bagi keluarga, karena belum sanggup ikut membantu menambah
kebutuhan keluarga. Anak saudaranya yang lebih tua, tetapi seiring belum
cukup umur untuk mempunyai pengalaman dan keterampilan untuk mengurus
anak dengan baik.
Umur anak juga dapat mempengaruhi kuantitas waktu ibu untuk
pengasuhan. Pada anak umur dua tahun perhatian dan kasih sayang ibu
lebih banyak tercurah kepadanya karena anak belum mandiri dan masih
sangat membutuhkan bantuan ibu sebagai pengasuh utama. Diatas umur dua
tahun anak semakin mandiri dan mempunyai jaringan sosial lebih luas dan
ketergantungan dengan sosok ibu mulai berkurang.



2. Jenis Kelamin Balita
Jenis kelamin merupakan faktor gizi internal yang menentukan
kebutuhan gizi, sehingga pada gilirannya ada keterkaitan antara jenis kelamin
dengan keadaan gizi dalam pola asuh anak . Beberapa penelitian
menunjukan bahwa ada kaitan antara jenis kelamin dengan status gizi balita.
Presentase balita laki-laki yang berstatus gizi kurang dan buruk cenderung
lebih rendah dibandingkan dengan balita perempuan. Kecendrungan ini
konsisten seperti yang ditemui di India




























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Neonatus atau bayi baru lahir adalah mulai sampai usia satu bulan periode
neonatal atau neonatus adalah bulan pertama selama periode neonatal bayi
mengalami pertumbuhan yang amat menakjubkan. Klasifikasi neonatus dibagi 3
yaitu, klasifikasi neonatus menurut masa gestasi, klasifikasi neonatus menurut berat
lahir, klasifikasi menurut berat lahir terhadap masa gestasi. Aspek-aspek penting
dari asuhan segera bayi baru lahir adalah Jagalah agar bayi tetap kering dan
hangat. Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dan kulit ibunya sesegera
mungkin. Balita merupakan singkatan bawah lima tahun, salah satu periode usia
manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun. Ada juga yang menyebut
dengan periode usia prasekolah. Pada fase ini, anak berkembang dengan sangat
pesat. Klasifikasi balita dibagi menjadi 2 yaitu umur balita dan jenis kelamin balita.
3.2 Saran
Hendaknya seorang bidan mengetahui tentang konsep dasar asuhan pada
neonatus, bayi , balita dan anak pra sekolah Untuk mewujudkan hal tersebut tenaga
penolong persalinan harus dibekali dengan keterampilan , pengetahuan yang
memadai sehingga menjadikan seorang tenaga kesehatan yang profesional












DAFTAR PUSTAKA

1. MNH, JNPK-KR dan DepKes. 2002. Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta :
DepKes.RI
2. DepKes. 2005. Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta : DepKes.RI
3. Saifuddin, abdul bari.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
4. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/116/jtptunimus-gdl-muksing2a2-5767-2-
babii.pdf
5. http://anneahira.com/perkembangan-fisik-balita.htm
6. www. Kamuskesehatan.com/arti/neonatus/
7. Smbr http://id.scribd.com/doc/55698413/11/Pengertian-Neonatal
8. Soetjiningsih. 2001. Tumbuh Kembang Anak . Jakarta. EGC