Anda di halaman 1dari 15

ADAPTASI BAYI BARU LAHIR

TUGAS SEMESTER PENDEK BLOG REPRODUKSI



KELOMPOK 1













Oleh:
Rindika Illa Kurniawan 115070200111036
Rismaya Novitasari 115070200111041
Jummani 115070201111012
Isroah 115070201111031
Asmawati Fitriana J 115070201111051



JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak baru lahir atau bayi merupakan hal terindah bagi orang tua. Ibu
pada khususnya merelakan tingkat stress tinggi dan tingkat nyeri yang tak kecil
hanya untuk berusaha mengeluarkan bayi ke lingkungan. Namun hanya sedikit
orangtua yang mengetahui berbagai respon bayi yang baru lahir tersebut.
Bayi Baru Lahir (BBL) memiliki berbagai macam respon tubuh. Respon
tubuh bayi baru lahir ini difungsikan untuk berbagai macam hal, contohnya untuk
menutup saluran atau foramen yang ada pada area jantung, untuk membentuk
respon agar bayi dapat segera bernafas, untuk membentuk respon agar bayi
dapat menghisap dan masih banyak lagi.
Banyak orang tua yang menganggap respon bayi baru lahir merupakan
respon yang tidak baik. Orang tua masih banyak yang menganggap respon bayi
baru lahir samaa dengan respon orang dewasa, contohnya bayi dilarang
menghisap benda asing seperti jarinya sendiri. Hal tersebut adalah salah karena
reflek untuk menghisap telah ditakdirkan ada untuk bayi.
Melihat hal diatas, kami bertekat untuk membuat makalah ini. Makalah
yang berjudul Adaptasi Bayi Baru Lahir diharapkan mampu menambah
wawasan bagi pembaca, serta mampu bermanfaat bagi halayak banyak.
1.2 Manfaat
1. Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang
adaptasi bayi segera setelah lahir
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengenali berbagai macam respon bayi baru lahir
2. Mahasiswa mampu menjelaskan adaptasi bayi setelah lahir dengan
benar


BAB II
PEMBAHASAN
Perubahan fisiologi pada BBL (Bayi Baru Lahir) merupakan suatu proses
adaptasi dengan lingkungan luar atau dikenal dengan kehidupan ekstrauteri.
Sebelumnya bayi cukup hanya beradaptasi dengan kehidupan intrauteri
(Hidayat, A Aziz Alimul. 2008). Perubahan fisiologis BBL diantaranya:
1. Sistem Pernafasan
Perubahan sistem ini diawali dari perkembangan organ paru itu
sendiri dengan perkembangan struktur bronkus, bronkeolus serta
alveolus yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat
menentukan proses pematangan dalam sistem pernafasan. Proses
perubahan BBL adalah dalam hal bernafas yang dapat dipengaruhi oleh
keadaan hipoksia pada akhir persalinan dan ranganan fisik (lingkungan)
yang merangsang pusat pernafasan medulla oblongata di otak. Selain itu
juga terjadi tekanan rongga dada karena kompresi paru selama
persalinan, sehingga merangsang udara kedalam paru, kemudian
timbulnya pernafasan dapat terjadi akibat interaksi sistem pernafasan itu
sendiri dengan sistem kardiovaskular dan susunan saraf pusat. Selain itu
adanya surfaktan dan upaya respirasi dalam bernafas dapat berfungsi
untuk mengeluarkan cairan dalam paru serta mengembangan jaringan
alveolus paru agar dapat berfungsi. Surfaktan tersebut dapat mengurangi
tekanan permukaan paru dan membantu menstabilkan dinding alveolus
untuk mencegah kolaps (Betz dan Sowden. 2002; dalam Hidayat, A Aziz
Alimul. 2008).
BBL akan bernafas dengan cepat dan biasanya frekuensi
pernafasannya sedikit melebihi 40x/menit. Untuk membantu
pernafasannya bayi akan menggunakan otot perut dan biasanya nafas
tersebut juga dibarengi dengan tangisan. Tangisan tersebut akan
membantu mengembangan paru dengan baik. Irama pernafasan biasanya
tidak teratur dalam beberapa jam setelah lahir (Ferrer, Helen. 1999).
Surfaktan tidak muncul begitu saja saat kelahiran. Peristiwa
selama persalinan dan pelahiran normal akan menciptakan stress. Stress
persalinan menginduksi pengeluaran katekolamin, adrenalin,
nonadrenalin dalam tingkat tinggi, yang member manfaat pada
perubahan kardiovaskular dan dalam hubungannya dengan produksi
steroid akan menginduksi sekresi surfaktan (Henderson, Christine; Jones,
Katgleen. 2005).
2. Sistem Peredaran Darah
Pada sistem peredaran darah, terjadi perubahan fisiologis pada
BBL, yaitu setelah bayi itu lahir akan terjadi proses pengantaran darah
yang mengandung oksigen ke seluruh jaringan tubuh, maka terdapat
perubahan, yaitu penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan
penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta (Betz dan
Sowden. 2002; dalam Hidayat, A Aziz Alimul. 2008). Paru-paru akan
mengembang dengan dimulainya respirasi, dan pengembangan paru ini
akan membuka pulmonary capillary bed sehingga terjadi tekanan negatif.
Darah kini mengalir dari arteri pulmonaris lewat paru-paru (untuk
mengimbangi tekanan negatif tersebut) bagi keperluan oksigenasi,
Duktus arteriosus akan berkontrasi dengan mengembangnya paru-paru
dan akhirnya duktus ini akan menjadi ligamentum penyangga di dalam
toraks (Ferrer, Helen. 1999).
Peningkatan aliran darah ke paru-paru mengurangi tekanan pada
jantung sisi yang kanan dan meningkatkan tekanan pada sisi yang kiri.
Sekarang tekanan dalam jantung sudah sama besar sehingga foramen
ovale tidak lagi dipaksa terbuka dan dengan demikian lubang ini akan
menutup (Ferrer, Helen. 1999).
Pembuluh darah umbilikus akan berkontraksi pada saat lahir.
Bekuan darah akan terbentuk dalam arteri serta vena umbilikalis dan
dalam duktus venosus serta arteri hipogastrika (Ferrer, Helen. 1999).
Keempat struktur ini tetap ada sebagai pita jaringan fibrosa dan hal ini
membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan (Betz dan Sowden. 2002; dalam
Hidayat, A Aziz Alimul. 2008).
3. Sistem Integumen
Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir tetapi masih
belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan
sangat tipis. Verniks kaseosa juga berfusi dengan epidermis dan berfungsi
sebagai lapisan pelindung. Kulit bayi sangat sensitive dan dapat rusak
dengan mudah. Bayi baru lahir yang sehat dan cukup bulan tampak
gemuk. Lanugo halus terlihat di wajah, bahu dan punggung. Edema dan
ekimosis (memar) dapat timul akibat presentasi muka atau kelahiran
dengan forsep. Ptekie juga dapat timbul jika daerah tersebut ditekan.
Beberapa permasalahan yang dialami oleh bayi baru lahir terkait sistem
integument antara lain:
a. Kaput Suksedaneum: edema pada akulit yang ditemukan dini
akibat tekanan vertex yang lam pada serviks sehingga pembuluh
darah tertekan dan memperlambat aliran balik vena yang
memperlambat membuat cairan di kulit daerah kepala meningkat
sehingga akibatnya menyebabkan edema/bengkak.
b. Sefalhematoma: perdarahan diantara periosteum dan tulang
tengkorak dan periosteumnya. Dengan demikian, sefaltoma tidak
pernah meleewati garis sutura chepal. Perdarahan dapat terjadi
pada kelahiran spontan akibat penekanan pada panggul ibu.
c. Deskuamasi : pengelupasan kulit. Pada kulit bayi tidak terjadi
sampai beberapa hari setelah lahir. Ini merupakan indikasi
ppascamaturitas.
d. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat: kelnjar keringat sudah ada
saat bayi baru lahir, tetapi kelenjar ini tidak berespon terhadap
peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit hyperplasia kelenjar
sebasea dan sekresi sebum akibat pengaruh hormone saat hamil.
e. Bintik mogolia: daerah pigmentasi biru kehitaman pada semua
permukaan tubuh termasuk ekstremitas.
f. Nevi atau dikenal dengan gigitan burung bangau yaitu nevi
telangiektasis berwarna merah muda dan mudah memutih, terlihat
pada kelopak mata bagian atas, daerah hidung, bagian atas bibir,
tulang oksipital bawah dna tengkuk.
g. Eritema toksium: suatu ruam sementara, eritema toksium juga
disebut eritema neonatorum atau dermagalis gigitan kuku. Eritema
toksium memiliki lesi dalam berbagai tahap, yakni macula
eritematosa, papula dan vesikel kecil (Bobak, M Irene. 2005).
4. Sistem Pengaturan Tubuh, Metabolisme Glukosa, Gastrointestinal dan
Kekebalan Tubuh
a. Sistem Pengaturan Tubuh
Ketika bayi baru lahir dan langsung berhubungan dunia luar
(lingkungan) yang lebih dingin, maka dapat menyebabkan air
ketuban menuap melalui kulit yang dapat mendinginkan darah
bayi. Pada saat lingkuan dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa
melalui mekanisme mengigil yang merupakan cara untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya serta hasil penggunaan
lemak cokelat untuk produksi panas. Adanya timbunan lemak
tersebut menyebabkan panas tubuh meningkat, sehingga
terjadilah proses adaptasi. Dalam pembakaran lemak, agar
menjadi panas, bayi menggunakan kadar glukosa. Selanjutnya
cadangan lemak tersebut akan habis dengan adanya stress dingin
bila bayi kedinginan akan mengalami proses hipoglikemi (Hidayat,
A Aziz Alimul. 2008). Dan jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan
penurunan produksi surfaktan, seperti kita ketahui bahwa
surfaktan sangat dibutuhkan oleh bayi untuk pencegahan koleps
paru. Sehingga akan meninbulkan distress pernafasan (Nelwati.
2014).
Ketika terjadinya peningkatan metabolisme untuk membakar
glukosa, secara tidak langsung terjadi peningkatan konsumsi
oksigen yang mana akan meningkatkan RR dan jika hal tersebut
tidak terpenuhi akan menyebabkan hipoksia. Jika hal tersebut
terjadi maka pH tubuh akan mengalami penurunan dan
menyebabkan BBL mengalami asidosis metabolisme (Nelwati.
2014).
b. Metabolisme Gula
Setelah tali pusat diikat atau diklem, maka kadar glukosa akan
dipertahankan oleh bayi itu sendiri serta mengalami penurunan
waktu yang cepat 1-2 jam. Guna mengetahui atau memperbaiki
kondisi tersebut, maka dilakukan dengan menggunakan ASI,
penggunan cadangan glikogen (glikogenesis), dan pembuatan
glukosa dari sumber lain khususnya lemak (glukoneogenesis).
Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai
glikogen dalam hati (Hidayat, A Aziz Alimul. 2008).
c. Sistem Gastrointestinal
Proses menghisap dan menelan sebelum lahir sudah dimulai.
Refleks gumoh dan batuk sudah terbentuk ketika bayi lahir.
Kemampuan menelan dan mencerna makanan masih sangat
terbatas, mengingat hubungan esophagus bawah dan lambung
masih belum sempurna yang dapat menyebabkan gumoh dan
kapasitasnya sangat terbatas kurang lebih 30-90 cc (Hidayat, A
Aziz Alimul. 2008).
d. Sistem Kekebalan Tubuh
Pengembangan sistem imun pada bayi juga mengalami proses
penyesuaian dengan perlindungan oleh kulit membrane mukosa,
fungsi saluran nafas, pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan
usus, serta perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Perkembangan kekebalan alami pada tingkat sel oleh sel darah
akan membuat terjadinya sistem kekebalan melalui pemberian
kolostrum dan lambat laun akan terjadi kekebalan sejalan dengan
perkembangan usia (Jane Ball. 1999; dalam Hidayat, A Aziz Alimul.
2008).
Bayi juga memperoleh antigen dan imunitas pasif dari ibu
terhadapt jenis-jenis infeksi tertentu dalam waktu 6 minggu atau
lebih sebelum dilahirkan. Namun demikian, bayi ini meninggalkan
lingkungan yang steril untuk kemudian secara tiba-tiba bertemu
dengan banyak mikroorganisme dan antigen lainnya. Diperlukan
waktu beberapa minggu sebelum imunitas aktif terbentuk (Ferrer,
Helen. 1999).
5. Sistem Neuromuskular
Munculnya beberapa respon tubuh atau refleks pada bayi baru lahir,
antara lain:
a. Refleks moro
Releks Moro adalah suatu respon tiba tiba pada bayi yang
baru lahir yang terjadi akibat suara atau gerakan yang
mengejutkan. Ketika dikagetkan, bayi yang baru lahir itu
melengkungkan punggungnya, melemparkan kepalanya
kebelakang, dan merentangkan tangan dan kakinya. Refleks ini
berbeda dengan refleks lainnya yang termasuk dalam ketegori
gerakan motor. Refleks moro adalah peninggalan nenek moyang
primate kita dan refleks ini merupakan upaya untuk
mempertahankan hidup. Refleks ini merupakan keadaan yang
normal bagi semua bayi yang baru lahir, juga cenderung
menghilang pada usia 3 hingga 4 bulan. Sentuhan yang lembut
pada setiap bagian tubuh bayi akan menenangkan bayi yang
sempat terkejut. Memegang lengan bayi yang dilenturkan pada
bahu akan menenangkan bayi. Menurut para ahli, refleks moro ini
termasuk reaksi emosional yang timbul dari kemauan atau
kesadaran bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu yg
singkat. Refleks moro ini timbul ketika bayi dikejutkan secara tiba-
tiba atau mendengar suara yang keras. Bayi melakukan gerakan
refleks dengan melengkungkan punggungnya dan mendongakkan
kepalanya ke arah belakang. Bersamaan dengan gerakan tersebut,
kaki dan tangan bayi digerakkan ke depan. Reaksi yang
berlangsung sesaat ini pada umumnya diiringi dengan tangisan
yang keras.
b. Refleks rooting
Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau
di sentuh bagian pinggir mulutnya. Sebagai respons, bayi itu
memalingkan kepalanya ke arah benda yang menyentuhnya,
dalam upaya menemukan sesuatu yang dapat dihisap. Refleks
menghisap dan mencari menghilang setelah bayi berusia sekitar 3
hingga 4 bulan. Refleks digantikan dengan makan secara sukarela.
Refleks menghisap dan mencari adalah upaya untuk
mempertahankan hidup bagi bayi mamalia atau binatang
menyusui yang baru lahir, karena dengan begitu dia dapat
menemukan susu ibu untuk memperoleh makanan.
c. Refleks menghisap
Bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika Anda
menyentuhkan puting susu ke ujung mulut bayi. Refleks
menghisap terjadi ketika bayi yang baru lahir secara otomatis
menghisap benda yang ditempatkan di mulut mereka. Refleks
menghisap memudahkan bayi yang baru lahir untuk memperoleh
makanan sebelum mereka mengasosiasikan puting susu dengan
makanan. Menghisap adalah refleks yang sangat penting pada
bayi. Refleks ini merupakan rute bayi menuju pengenalan akan
makanan. Kemampuan menghisap bayi yang baru lahir berbeda
beda. Sebagian bayi yang baru lahir menghisap dengan efisien dan
bertenaga untuk memperoleh susu, sementara bayi bayi lain tidak
begitu terampil dan kelelahan bahkan sebelum mereka kenyang.
Kebanyakan bayi yang baru lahir memerlukan waktu beberapa
minggu untuk mengembangkan suatu gaya menghisap yang
dikoordinasikan dengan cara ibu memegang bayi, cara susu keluar
dari botol atau payudara, serta dengan kecepatan dan
temperamen bayi waktu menghisap. Refleks menghisap adalah
suatu contoh refleks yang muncul saat lahir dan kemudian akan
menghilang seiring dengan usia bayi.
d. Refleks grasping
Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari-jari tangan
mencengkram benda-benda yang disentuhkan ke bayi, indikasi
syaraf berkembang normal. Hilang setelah 3-4 bulan. Bayi akan
otomatis menggenggam jari ketika Anda menyodorkan jari
telunjuk kepadanya. Reflek menggenggam tejadi ketika sesuatu
menyentuh telapak tangan bayi. Bayi akan merespons dengan
cara menggenggamnya kuat kuat. Pada akhir bulan ketika, refleks
menggenggam berkurang dan bayi memperlihatkan suatu
genggaman yang lebih spontan, yang sering dihasilkan dari
rangasangan visual. Misalnya, ketika bayi melihat suatu gerakan
yang berputar diatas tempat tidurnya, ia akan meraih dan
mencoba menggenggamnya. Ketika perkembangan motoriknya
semakin lancar, bayi akan menggenggam benda benda,
menggunakannya secara hati hati, dan mengamati benda benda
tersebut.
e. Refleks stepping
Jika ibu atau seseorang menggendong bayi dengan posisi
berdiri dan telapak kakinya menyentuh permukaan yang keras,
ibu atau orang tersebut akan melihat refleks berjalan, yaitu
gerakan kaki seperti melangkah ke depan. Jika tulang keringnya
menyentuh sesuatu, ia akan mengangkat kakinya sepertiakan
melangkahi benda tersebut. Refleks berjalan ini akan hilang dan
berbedadengan gerakan berjalan normal, yang ia kuasai beberapa
bulan berikutnya. Menurun setelah 1 minggu dan akan lenyap
sekitar 2 bulan.
f. Refleks neck tonis
Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus) pada
lengan dan tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh ke salah satu
sisi. Saat bayi pada posisi supine dan kepala menghadap ke satu
sisi, lengan dan tungkai kaki pada sisi itu berekstensi sementara
lengan dan tungkai kaki yang berlawanan pada posisi fleksi (posisi
netral). Sebagian besar, refleks ini akan hilang pada umur 6 bulan.
g. Refleks babinski
Refleks primitif pada bayi berupa gerakan jari-jari
mencengkram ketika bagian bawah kaki diusap, indikasi syaraf
berkembang dengan normal. Hilang di usia 4 bulan.
6. Sistem Hepatika (Hati)
Hati dan kandung empedu dibentuk pada minggu keempat
kehamilan. Pada bayi baru lahir, hati dapat dipalpasi sekitar 1 cm
dibawah batas kanan iga karena hati besar dan menempati sekitar 40%
rongga abdomen.
a. Penyimpanan Besi
Hati janin (berfungsi memproduksi Hb setelah lahir) mulai menyimpan
besi sejah dalam kandungan. Apabila ibu mendapat cukup asupan
besi selama hamil, bayi akan memiliki simpanan besi yang dapat
bertahan sampai bulan kelima di luar rahim.
b. Konjugasi Bilirubin
Hati mengatur jumlah bilirubin tidak terikat dalam peredaran darah.
Bilirubin ialah pigmen yang berasal dari Hb yang terlebas saat
pemecahan eritrosit dan mioglobulin di dalam sel otot.
c. Hiperbilirubinuminemia Fisiologi
Hiperbilirubinuminemia fisiologi atau ikterik neonatal merupakan
kondisi yang normal pada 50% bayi cukup bulan dan pada 805 bayi
premature (Bobak, M Irene. 2005).
7. Sistem Skeletal
Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh.
Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil
terhadap ukuran tengkorak yang jika dibandingkan, lebih besar dan berat.
Ukuran dan bentuk cranium dapat mengalami distorsi akibat molase
(pembukaan kepala janin akibat tumpang tindih tulang-tulang kepala).
Ada dua kurvatura pada kolumna vertebralis: toraks dan sacrum.
Ketika bayi mulai dapat mengendalikan kepalanya, kurvatura lain
terbentuk di daerah servikal. Pada bayi baru lahir, lutut saling berjauhan
saat kaki diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai bawah terlihat
agak melengkung. Saat baru lahir, tidak terlihat lengkungan pada telapak
kaki (Bobak, M Irene. 2005).
8. Sistem Reproduksi
a. Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitive.
Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi baru lahir sampai
dewasa. peningkatan kadar estrogen selama masa kehamilan yang
diikuti dengan penurunan setelah bayi lahir, mengakibatkan
pengeluaran suatu cairan mukoid atau kadang-kadang pengeluaran
bercak darahh melalui vagina (pseudomenstruasi). Genitalia eksterna
biasanya edematosa disertai pigmentasi yang lebih banyak. Pada bayi
lahir cukup bulan, labia mayora dan minora menutupi vestibulum
(Bobak, M Irene. 2005).
b. Pria
Testis turun kedalam skrotum pada 90% bayi baru lahir laki-laki.
Walaupun menurun pada kelahiran bayi premature. Preposium yang
ketat seringkali dijumpai pada bayi baru lahir. Muara uretra dapat
tertutup preposium dan tidak dapat ditarik kebelakang selama 3-4
tahun. Terdapat rugae yang melapisi kantung skrotum dan hidrokel
(penimbunan cairan disekitar testis) sering terjadi dan biasanya akan
mengecil tanpa pengobatan (Bobak, M Irene. 2005).


























BAB III
KESIMPULAN
Bayi baru lahir memiliki berbagai respon tubuh yang berguna bagi dirinya.
Respon tubuh ini meliputi sistem respirasi, sistem kardiovaskular, sistem
gastrointestinal, sistem renal, sistem reproduksi, sistem skeletal, sistem hepatika
dan masih banyak lagi. Berbagai respon tersebut secara berkesinambungan dan
secara multifungsional akan membuat bayi baru lahir dapat bertahan hidup.
Sistem pernafasan berawal dari terbentuknya jaringan-jaringan paru.
Jaringan paru akan membentuk seluruh paru-paru yang sedemikian rupa dan
paru-paru inilah yang akan menjadi penyedot udara saat bayi lahir ke lingkungan.
Sistem peredaran darah sangan berkaitan dengan sistem pernafasan, ketika bayi
mulai melakukan nafas pertamanya maka disitupula proses kardiovaskular
berjalan. Bermula dari menutup berbagai duktus hingga oksigen menajalar ke
seluruh tubuh.
Sistem integumen bayi pada setelah lahir belumlah matang. Kulit bayi
akan mudah rusak karena strukturnya yang lembek, namun demikian menurut
berjalannya waktu kulit akan semakin membaik dan dapat menjadi perlindungan
primer bayi. Sistem neuromuskular bayi sangat berfariasi dan sangat berguna
bagi bayi. Refleks yang normal pada bayi adalah unik, seperti reflex moro, reflex
babinski, refleks stepping dan lain lain. Sistem hepatika bayi berfungsi sebagai
penyimpan besi, konjugasi billirubin dan lain lain.
Sistem reproduksi pada bayi perempuan lahir cukup bulan, labia mayora
dan minora menutupi vestibulum. Pada bayi laki laki terdapat rugae yang
melapisi kantung skrotum dan hidrokel (penimbunan cairan disekitar testis)
sering terjadi dan biasanya akan mengecil tanpa pengobatan.





Referensi
Bobak, M. Irene, et al. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. Alih
Bahasa: Maria A. Wijayarini. Jakarta : EGC.
Farrer, Helen. 1999. Perawatan Maternitas. Alih Bahasa: Andry Hartono. Jakarta:
EGC.
Henderson, Christine; Jones, Kathleen. 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Alih
Bahasa: Ria Anjarwati, Renata Komalasari, Dian Adningsih. Jakarta: ECG.
Hidayat, A Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Nelwati. 2014. Adaptasi Fisiologi dan Psikologi Bayi Baru Lahir. PPT. Padang: FKep
UNAND.