Anda di halaman 1dari 36

SENGKENIT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Parasitologi


Dosen Pengampu drg.Yunita Dyah Puspita Santik
Oleh:
1. Yetik Marlinda (Rombel 4/6411412132)
2. Difta Khairunnisa (Rombel 4/6411412133)
3. Enik Sugiarti (Rombel 4/6411412145)
4. Khoiriyyah (Rombel 4/6411412146)
5. Kartika Kirana (Rombel 4/6411412151)
6. Diyan Sitimawaddah (Rombel 4/6411412153)
7. Ulfah Husna L (Rombel 4/6411412159)
8. Jony Saputra (Rombel 5/6411412163)
9. Anisah Ayu Sholihati (Rombel 5/6411412171)
10. Eka Novia R. (Rombel 5/6411412172)
11. Anis Fitriani (Rombel 5/6411412181)
12. Ida Julina M. (Rombel 5/6411412182)
13. Lia Ristiyanti (Rombel 5/6411412184)
14. Khasiatun N.K (Rombel 5/6411412189)
15. Lucky Alfi J. (Rombel 6/6411412202)
16. Anggita K. (Rombel 6/6411412209)
17. Gondo W.P (Rombel 6/6411412221)
18. Melyani Dyah N (Rombel 6/6411412225)
19. Tsalist K. M (Rombel 6/6411412228)
20. Rizki Khalalia (Rombel 6/6411412230)
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNNES
2013
1.DEFINISI
Sengkenit, cengkenit, kutu babi atau pirah (bahasa Inggris: tick) ialah
nama biasa untuk araknid kecil dalam superkeluarga Ixodoidea, bersama dengan
hama lain, membentuk Acarina. Sengkenit ialah ektoparasit (parasit luaran) yang
hidup dengan makan darah pada mamalia, burung, dan kadang-kadang reptilia
dan amfibia.
Sengkenit ialah hewan halus yang menghisap darah, yang berkaitan dengan
hama, laba laba dan kalajengking. Sengkenit berbentuk bujur. Ia adalah
parasit, hidup pada hewan hewan lain. Sengkenit dan hama menyebabkan
berbagai penyakit pada manusia dan pada hewan ternak. Sengkenit sering
membawa kuman penyakit tertentu dalam badannya dan memindahkan kuman
ini ke dalam darah mangsanya dan kadangkala gigitan sengkenit adalah beracun.
Tubuh sengkenit terdiri atas kapitulum dan abdomen berupa kantong yang
sebenarnya terbentuk dari bagian kepala,toraks dan abdomen. Metamorfosis
tidak sempurna. Stadium dewasa mempunyai 4 pasang kaki, sedangkan larva
dan nimfa muda mempunyai 3 pasang kaki. Besar sengkenit kira-kira 1 cm,
kulitnya kuat dan berbulu pendek.Bagian mulut dilengkapi dengan hipostoma
dan kelisera yang bergigi.
Perbedaan sengkenit dan tungau
Sengkenit (Caplak) mempunyai ukuran makroskopis, bentuk tubuh
bulat/oval, dorsoventral, hipostoma ada. Gambaran badan caput, torax, dan
abdomen bersatu tanpa segmen. Tubuh sengkenit lebih besar dibandingkan
dengan tungau.
Tungau (Mites) memiliki ciri ukuran tubuh yang mikroskopis, tubuh oval
bagian dorsal cembung,tidak ada hiptostoma, pedipalpi 3 segmen,celiceralia
tersembunyi.




Gambar Perbedaan Caplak (Sengkenit) dan Tungau
2. MORFOLOGI
Sengkenit mudah dikenali karena ukurannya yang besar hingga 30
milimeter dengan bentuknya yang memiliki tiga pasang kaki (tahap belum
dewasa) dan empat pasang kaki (tahap dewasa) serta berwarna coklat gelap.
Sengkenit betina bagian punggungnya berbentuk heksagonal. Sedangkan
sengkenit jantan memiliki lempeng adanal yang menyolok. Parasit ini paling
sering ditemukan di kepala, leher, telinga dan telapak kaki anjing
Ciri-ciri umum sengkenit yaitu:
Caplak jantan memiliki lempeng adanal yang menyolok.
Tubuh terdiri capitulum abdomen yg berupa kantung.
Tidak mempunyai antenna.
Stadium larva 3 pasang tungkai, stadium dewasa 4 pasang tungkai.
Ukuran sampai 1 cm.
Kulit (penutup tubuh) kuat dan berambut pendek.
Bagian mulut mempunyai hipostoma dengan gigi-gigi mengarah ke
belakang serta sepasang chelicera.
Hidup sebagai ektoparasit pada mamalia, aves, dan reptile.
Hidup dengan menghisap darah dan jaringan tubuh hospes.
Berkembang biak pada permukaan tubuh hospes, serta dapat menyebabkan
trauma mekanik dan paralisis.








Gambar Morfologi Sengkenit
Gambar perbedaan sengkenit lunak dan sengkenit keras


3.SIKLUS HIDUP
Sengkenit dan kutu memiliki 4 tahapan siklus hidup mulai dari telur, larva,
nimfa dan dewasa.Keduanya juga hidup dengan menghisap darah inang.Namun
kutu memiliki lama siklus hidup lebih pendek yaitu mulai 2 minggu sedangkan
sengkenit kurang lebih 3 bulan.
Sengkenit betina bertelur sampai 5.000 butir telur, selanjutnya telur akan
menetas dalam 17-30 hari dan kemudian larva menempel pada inang ke-1 (rambut
panjang belakang leher anjing). Larva menghisap darah 26 hari, jatuh, dan
berubah menjadi nimfa 523 hari. Lalu nimfa menempel pada inang ke-2,
terutama di belakang leher, menghisap darah 49 hari, jatuh, dan berubah
menjadi dewasa 11-73 hari. Sengkenit dewasa kemudian menempel pada inang
ke-3 yang sering pada hospes telinga dan sela-sela jari kaki anjing, menghisap
darah pada 621 hari dan lalu jatuh untuk bertelur. Larva tidak makan dapat
hidup sampai dengan 8,5 bulan, sedangkan Sengkenit dewasa dapat bertahan 19
bulan.
Seekor sengkenit betina mampu bertelur 100 butir sehari . Setelah menetas,
muncul larvanya yang segera mencari induk semang untuk menghisap darah yang
pertama . Setelah itu larva berubah menjadi sengkenit muda. Sengkenit muda ini
bisa mengalami hibernasi selama bertahun-tahun sebelum berubah menjadi
sengkenit dewasa. Sengkenit dewasa pun mampu hidup tanpa menghisap darah
selama bertahun-tahun. Sengkenit betina menghisap darah 8-10 hari hingga
bobotnya mencapai 100 kali lipat dan kemudian melepaskan diri dari anjing untuk
mencari tempat bertelur.






























Sengkenit meletakkan telur-telur mereka di berbagai tempat, tetapi tidak
pada induk semangnya. Sengkenit muda mencari induk semangnya setelah
mereka menetas.
Terdapat tiga siklus hidup semang:
1. Larva makan pada satu induk semang, lalu jatuh ke tanah dan berganti
kulit
2. Nimpa makan pada induk semang yang kedua
3. Dewasa makan pada induk semang yang ketiga

4.EPIDEMIOLOGI
Sengkenit telah dikenal sebagai vector penyakit sejak tahun 1893, ketika
Smith dan Kilbourne menemukan species Boophilus annulatus sebagai vector
penular demam Texas pada lembu.Pada beberapa species tidak saja dapat
menularkan penyakit melalui stadium metamorphosis dari pada sengkenit, tetapi
juga melalui telur, kepada generasi berikutnya. Bila penyakit ini menular diantara
binatang peliharaan akan menyebabkan kerugian keuangan yang besar. Ricketsia
merupakan parasit intrasellular obligate yang mampu hidup di luar jaringan hewan
dan dapat ditularkan di antara hewan oleh Rat fleas, Body lice dan Wood tick
adalah vector arthropoda yang menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan
ricketsia.
Sengkenit tersebar di seluruh Indonesia dengan spesies b.ixodes ricinus
Linnaeus pada tahun 1758. Sengkenit ini berhasil dikoleksi dari kambing di
Lhokseumawe, dari babi di Padang Sidempuan, dari anjing di sebagian besar
kota-kota di Jawa, dari sapi di Madura dan Menado, dari sapi dan anjing di
Singaraja(Saim ,1992). Didapatkan juga sengkenit ini dari kambing, anjing dan
sambar (Cervus unicolorequinus) di Lampung(Matsimura 1999). Secara umum
memang sengkenit tersebut ditemukan pada anjing tetapi sering juga terdapat pada
mamalia lainnya (Audy dkk 2000) menemukan tidak saja dari anjing bahkan dari
manusia. (Wilson N,1980) bahkan menemukan dari satwa yang lebih beraneka
ragam yaitu dari sapi (Bos javanicus) dari kerbau (Bubalusbubalis), dari sambar
(Cervus unicolorequinus) dan dari ayam.(Munaf H.B.,1978)
Sengkenit dapat menularkan organisme penyebab penyakit dengan 2 cara,
antara lain secara transisional dan transovarian. Transisional yaitu tiap stadium
tick dapat menularkan mikroorganisme penyebab penyakit. Sedangkan
transovarian yaitu tick dewasa betina yang terinfeksi mikroorganisme penyebab
penyakit dapat menularkan pada generasi berikutnya melalui saluran telur yang
terinfeksi. Sengkenit dapat menularkan mikroorganisme penyebab penyakit
diantaranya ialah:
Ricketsia (ex: Dermacentor sp: Penyebab mountain spotter fever)
Virus: Arbovirus,penyakit Kyasanur Forest disease, Russian Spring summer
encephalitis,
Bakteri
Borellia recurensis penyebab penyakit Relapsing fever ditularkan oleh
Ornitoodorus
Pasteurella pestis
Protozoa (Anaplomosis ditularkan oleh boophilus).

5. PERILAKU SENGKENIT
Habitat Sengkenit
Habitat sengkenit harus memenuhi dua persyaratan penting untuk
kelangsungan hidupnya. Ini adalah penyediaan kelembaban cukup tinggi untuk
sengkenit untuk menjaga keseimbangan air dan campuran spesies hewan untuk
bertindak sebagai host untuk tiga tahap kutu, larva, nimfa dan dewasa. Sengkenit
rentan terhadap pengeringan selama periode intermiten dari host mencari
(Questing) dan di daerah yang terkena kegiatan seperti itu hanya mungkin
berlangsung beberapa minggu, sedangkan di lingkungan terlindung questing bisa
berlanjut selama beberapa bulan. Sengkenit juga rentan terhadap kekeringan
selama fase pengembangan yang panjang, ketika mereka terletak pada atau dekat
permukaan tanah. Di sini mereka mengubah selama periode bulan ke tahap
berikutnya, atau dalam kasus betina dewasa, bertelur. Dalam kedua questing dan
mengembangkan fase kutu dapat memperoleh air dari udara subsaturated dengan
mengeluarkan dan kemudian kembali menelan higroskopis cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar saliva
Kegiatan ini memungkinkan sengkenit untuk menjaga keseimbangan air
yang stabil selama kelembaban relatif mikro mereka tidak jatuh di bawah 80-85%
untuk waktu yang lama. Sengkenit ini sehingga dapat hanya bertahan di daerah di
mana cover bagus vegetasi dan tikar dari vegetasi yang membusuk terjadi
sehingga kelembaban relatif di dasar vegetasi tetap di atas 80-85% sepanjang
tahun terkering kali, biasanya musim panas. Namun, habitat tersebut juga dapat
terlalu basah dan senkenit tidak akan bertahan hidup di daerah yang terkena
banjir untuk waktu yang lama di musim dingin.
Habitat juga harus mengandung konsentrasi yang cocok dan berbagai host
untuk setiap tahap parasit (larva, anakan dan dewasa betina). Betina dewasa (laki-
laki mengambil darah sedikit atau tidak) hanya akan berhasil makan pada hewan
besar seperti rusa, domba, sapi dan anjing (pengecualian adalah landak, Erinaceus
europaeus, meskipun ukuran kecil). Yang belum dewasa dapat parasitis hampir
semua hewan berdarah hangat (termasuk host di atas dan hewan pengerat, burung
dan beberapa reptil), tetapi peri kurang sukses di mamalia kecil daripada larva.
Persyaratan ini berarti bahwa sengkenit terutama berlokasi di hutan yang
mengandung sulung kecil dan mamalia besar, tetapi mereka juga dapat ditemukan
di konifer hutan, asalkan ada vegetasi sampah yang memadai pada tanah dan
iklim mikro yang lembab. Dalam habitat seperti padang rumput tua dan
Moorland, dimana curah hujan cukup tinggi dan cukup padat vegetasi untuk
mempertahankan kelembaban yang memadai, sumber utama makanan darah untuk
semua tahap biasanya ternak seperti domba dan sapi.
Kebiasaan Sengkenit
Sengkenit terutama sengkenit betina akan kembung penuh dengan
darah,makan di atas leher atau dekat dengan dasar tengkorak induk semang
mereka,memasukkan racun yang menimbulkan kelumpuhan,kelumpuhan itu dapat
memetikan bila sengkenit itu tidak di ambil.

.










6.KLASIFIKASI
Kerajaan : Animalia
Filum : Anthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Acarina
Upaordo : Parasitiformes
Superfamili : Ixodidae
Genus :Rhipicephalus
Spesies :R. Sanguineus

Berdasarkan superfamilinya sengkenit dibedakan menjadi 2 yaitu
sengkenit keras dan sengkenit lunak.
1. SENGKENIT KERAS (IXODIDAE)
Kutu keras (FamiIi Ixodidae), sengkenit keras, disebut demikian karena
scutumnya yang keras, terdapat tersebar secara kosmopolit. Jenis kelamin jantan
dan betina biasanya tidak sama.
Morfologi Sengkenit Keras
Sengkenit memiliki sebuah keping dorsal yang keras yang disebut
skutum,dan mempunyai bagian-bagian mulut menonjol di sebelah anterior dan
terlihat dari atas. Pada sengkenit keras kepala terdiri atas lapisan dasar atau basis
capituli yang penting untuk taksonomi, dan bagian mulut terdiri dari hipostoma,
chelicera dan pedipalp. Bagian mulut jika dilihat dari atas, sengkenit keras
memiliki perisai di belakangnya. Ini memiliki piring dorsal keras dan bagian-
bagian mulut yang memanjang dengan deretan gigi mundur. Hipostoma yang
terdapat di tengah-tengah dengan gigi-giginya yang menyerupai kikir berderet
melintang melekatkan parasit pada hospes. Sepasang chelicerae yang berchitin
dan berbentuk menyerupai tombak terdapat pada sebelah lateral dan berfungsi
sebagai alat pemotong untuk memungkinkan masuknya hipostoma. Sepasang
pedipalp yang beruas empat tidak masuk ke dalam jaringan, tetapi berfungsi
sebagai pembantu. Pada sengkenit keras, perisai yang berkitin, yaitu scutum
menutup seluruh permukaan dorsal pada yang jantan dan hanya bagian anterior
pada yang betina. Matanya, apabila ada, terdapat di atas atau di dekat tepi lateral
sebelah anterior scutum. Lapisan keras yang dimiliki oleh sengkenit berjenis Hard
Ticks berfungsi sebagai pelindung dan memungkinkan bagi tubuhnya untuk
tumbuh dan berkembang hingga 15 kali lipat tubuh aslinya jika telah terisi dengan
darah yang dihisapnya dari induk semang.


Siklus hidup sengkenit keras

Sengkenit keras pada umumnya memiliki 4 (empat) fase dalam siklus
kehidupan mereka, yakni :
1. Telur
2. Larva kecil (disebut dengan benih kutu atau seed ticks)
3. Nympha besar
4. Sengkenit Dewasa

Penyelesaian siklus hidup dapat berlangsung dari 6 minggu sampai 2
tahun. Semua tahap terakhir makan telur di darah vertebrata, sebagian besar
mamalia. Betina menjadi sangat distensi whiIe makan, periode biasanya 5 sampai
10 hari. Kopulasi berlangsung di whiIe tuan betina makan. Setelah kopulasi,
betina membutuhkan lebih banyak darah, turun ke tanah, menemukan tempat yang
terlindung, dan dalam beberapa hari deposito massa agar-agar telur yang
jumlahnya menjadi ribuan. Oviposisi ini mungkin memakan waktu beberapa hari,
setelah yang betina mati.
Dalam kondisi yang menguntungkan, telur menetas dalam waktu sekitar
satu bulan, tetapi selama cuaca dingin, mereka tidak mungkin menetas selama
beberapa bulan. Beberapa hari setelah menetas, larva berkaki enam (juga disebut
"kutu benih") memanjat gulma, batang, atau ranting atau berjalan di atas tanah
untuk menemukan host yang cocok seperti mamalia kecil. Mereka makan dengan
lahap pada darah dari tuan rumah, turun ke tanah, dan meranggas ke tahap nimfa.
Nimfa kemudian menunggu hewan, makan, turun ke tanah, dan berganti kulit ke
dewasa yang kemudian mengulangi siklus.
Terdapat 3 jenis siklus hidup sengkenit keras, yaitu
Sengkenit berumah satu yaitu semua stadiumnya (larva, nimfa dan
dewasa) tinggal dalam satu inang yang sama, begitu pula proses pergantian kulit
(molting) dan perkawinan. Setelah sengkenit dewasa kenyang darah barulah ia
menjatuhkan diri dan bertelur di tanah, menetas menjadi larva dan menunggu
inangnya dipucuk daun atau rumput. Contohnya sengkenit sapi Boophilus
microplus.






Gambar Daur Hidup Sengkenit Berumah Satu






Sengkenit berumah dua yaitu larva dan nimfa tinggal dalam satu inang
sedangkan dewasa tinggal dalam inang yang lain, jadi dalam melengkapi siklus
hidupnya sengkenit memerlukan dua inang. Contohnya Haemaphysalis dan
Hyalomma.











Gambar Daur Hidup Sengkenit Berumah Dua
Sengkenit berumah tiga yaitu setiap stadium larva, nimfa, dan dewasa
masing-masing memerlukan inang yang berbeda. Larva berada pada inang
pertama sampai kenyang menghisap darah, setelah jatuh dan berganti kulit
menjadi nimfa segera mencari inang kedua. Nimfa yang kenyang
akanmenjatuhkan diri dan berkembang menjadi sengkenit dewasa. sengkenit
dewasa makan dan kawin pada inang ketiga. Contohnya Amblyomma
(Anonymous, 2009).










Gambar Daur Hidup Sengkenit Berumah Tiga
Perilaku sengkenit keras
Sengkenit keras hanya menghisap darah satu kali pada tiap-tiap instar
mereka. Mereka tinggal diatas induk semang beberapa hari sambil makan, dan
jatuh ke tanah untuk berganti kulit. Sengkenit keras memiliki dua atau kali inang
semang selama perkembangan hidupnya. Hal yang unik dari sengkenit keras
yakni, bila tidak sedang melekat pada hospesnya untuk menghisap darah,
sengkenit keras dapat ditemukan di tanah atau tanaman atau semak-
semak.Biasanya melekat pada hospes dalam waktu lama, melepaskan diri ke tanah
untuk pergantian kulit atau bertelur. Lama menghisap darah tergantung jenis
(famili, species), jenis kelamin, stadium. Hidup sebagai ektoparasit, menghisap
darah dan makan jaringan. Mengisap darah sekali untuk tiap perkembangan Mid
stadium berikutnya. Jantan dan betina mengisap darah saat perlu untuk kopulasi.
Jantan akan mati setelah kopulasi (dengan satu atau lebih betina).

Klasifikasi Sengkenit keras
Sengkenit keras dibagi menjadi beberapa spesies yaitu sebagai berikut:
1. Black-Legged Tick (Genus Ixodes)
Nama lain : Deer Tick atau Kutu Rusa

Ixodes jantan Ixodes betina
Genus ini berbeda dengan semua sengkenit yang lainnya karena memiliki
sebuah lekukan yaitu lekukan anal di muka anus. Tidak ada mat dan feston.
Tarsusnya tidak mempunyai taji. Dimorfisme seksual jelas, bagian ventral jantan
ditutupi oleh keping-keping yang tidak jelas.
Ixodes ricinus adalah sengkenit biji jarak. Sengkenit ini penting di Eropa
tetapi tidak terdapat di Amerika Utara. Sengkenit ini berinduk semang tiga dan
terdapat di berbagai hewan termasuk semua jenis hewan piaraan. Sengkenit ini
menularkan Babesia divergens, B.bovis dan anaplasmosis pada sapi, louping ill
dan demam disebabkan rickettsia yang ditularkan sengkenit pada biri-biri dan
demam Q, beberapa ensefalitida dan demam berdarah Bukhovinia. Dapat juga
sengkenit ini menyebabkan paralisis sengkenit dan dapat menularkan piemia yang
disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada biri-biri. Siklus hidupnya
berlangsung 3 tahun.
Ixodes scapularis adalah sengkenit berkaki hitam di bagian tenggara
Amerika Serikat dan Pantai Timur. Sengkenit ini terdapa pada sapi, biri-biri,
kuda, sapi, kucing dan anjing. Sengkenit ini tedapat di sepanjang jalan, jalan
setapak, dan jalan besar dan dapat menggigit yang menyakitkan kepada orang.
Ixodes pacificus adalah sengkenit berkaki hitam di california. Sengkenit ini
umum terdapat pada rusa di california dan pantai barat, tetapi juga terdapat pada
sapi, biri-biri, kuda, anjing dan kucing dan dapat menggigit manusia.
Ixodes cookei terdapat pada beberapa induk semang di Amerika Utara
termasuk sapi dan anjing.
Pada fase larva Deer Tick umumnya hidup di indung semang hewan
pengerat seperti tikus putih, dan setelah dewasa mereka akan mencari induk
semang mamalia lainnya yang lebih besar seperti anjing, kucing dan juga manusia
serta rusa, karena itu kutu jenis ini dinamakan juga Kutu Rusa. Seperti pada
umumnya fase kutu saat mereka belum mendapati induk semang, Kutu Rusa
biasanya akan menunggu di areal rumput dan juga dahan-dahan kayu untuk
menunggu induk semang yang melintasi lalu menghinggapinya untuk melanjutkan
fase hidupnya. Waktu yang diperlukan bagi kutu jenis ini untuk menyelesaikan
keseluruhan siklus hidupnya pada umumnya 2-3 tahun namun dapat juga
mencapai hingga waktu 6 tahun.
Sengkenit ini membawa bakteri bernama Borrelia burgdorferi (B.
burgdorferi) yang dapat menyebabkan penyakit Lyme (Lyme desease), yakni
suatu infeksi dengan gejala seperti demam, gatal di sekitar gigitan serta bercak
memerah, menggigil dan juga pusing kepala.

2. Brown Dog Tick (Genus Rhipicephalus)

Jantan Betina



Lekuk anus jelas dan terletak di posterior anus
Alat mulut sangat panjang dengan basis capitula
Panjang palpi ruas kedua sama dengan lebarnyadan tidak menonjol ke
lateral
Basis capitula menonjol ke lateral
Mempunyaifestoon
Coxa kaki depan mempunyai celah yang sama
Sengkenit jenis ini merupakan kutu yang paling sering dijumpai pada anjing
dan sesuai namanya kutu sejenis ini telah seringkali menjadi wabah bagi para
breeder anjing. Mekanisme tubuh yang agak berbeda pada kutu jenis lainnya
adalah bahwa kutu jenis Brown Dog Tick ini memiliki ketahanan tubuh untuk
bertahan hidup di areal indoor (di dalam rumah). Saat sedang tidak berada di
induk semang mereka biasa menghinggapi dinding-dinding, pintu rumah, plafon
dan juga di bawah karpet serta daerah-daerah yang sangat jarang tersentuh.
Meskipun usia dari kutu jenis ini relatif lebih muda daripada jenis sengkenit
lainnya, yakni sekitar 14 bulan lamanya, namun pada saat bertelur sang betina
dapat menurunkan 3000-7000 butir telur untuk kembali menjadi larva dan
melanjutkan siklus hidupnya.
Sengkenit jenis ini tidak menghinggapi manusia untuk dijadikan induk
semang. Mamalia lain yang biasa dihinggapinya adalah anjing, kucing, kuda,
domba dan juga hewan pengerat.Jika pada anjing terdapat jumlah kutu yang
terlampau banyak dapat menyebabkan infeksi kulit, kerontokan bulu dan juga
kelumpuhan otot (Tick Paralysis) hingga komplikasi pada kegagalan sistem
pernafasan.

3. Lone Star Ticks (Genus Amblyomma)


Jantan Betina

Lekuk anus terletak di posterior anus,tidak jelas atau tidak ada
Alat mulut sama panjang dengan basis capitulum
Pada palpi ruas kedua,panjang = 2xlebar
Mempunyai mata
Amblyomma americanum yaitu sengkenit bintang terasing disebut demikian
karena sengkenit ini mempunyai sebuah bintik putih di tepi posterior dari
skutumnya. Sengkenit ini terdapat di Texas, Missouri dan Illinois selatan ke
selatan sampai Brazillia. Ia dapat menyerang berbagai mamalia, unggas bahkan
manusia. Sengkenit ini berinduk semang tiga, tetapi hewan yang sama dapat
sebagai induk semang untuk semua stadium. Yang betina bertelur 1000-8000
butir. Larva menetas dalam waktu 23 sampai 117 hari, menempel pada induk
semang, menghisap darah dalam waktu 3 sampai 9 hari dan jatuh. Larva menyilih
menjadi stadium nimfa dalam waktu 8-26 hari dan nimfa menempel pada induk
semang, menghisap darah dalam waktu 3-8 hari, jatuh dan menyilih menjadi
dewasa dalam waktu 13 sampai 46 hari. Yang dewasa menempel pada induk
semang yang baru, menghisap darah dalam waktu 9 sampai 24 hari, dan kemudia
jatuh untuk bertelur. Larva yang tidak makan dapat hidup sampai 279 hari, nimfa
yang tidak makan sampai 476 hari, dan dewasa yang tidak makan sampai 430
hari. A.americanum menularkan demam Q, rocky mountain spotted fever,
tularemia dan demam bullis. Selain itu sengkenit tersebt juga dapat menyebabkan
paralisis sengkenit.
Amblyomma maculantum yaitu sengkenit Pantai teluk. Ia terdapat di
sepanjang teluk Mexico dan pantai Atlantik sebelah selatan tetapi pernah sekali
terdapat di pasar hewan St. Louis timur. Larva dan nimfanya terdapat terutama
pada burung lark dan unggas penghuni tanah juga rodensia. Sengkenit yang
dewasa terdapat pada sapi, anjing dan manusia. Sengkenit ini berinduk semang
tiga. Ia belum diketahui apakah dapat menularkan penyakit, tetapi dikaitkan
dengan adanya paralisis sengkenit.









4. Kutu Anjing Amerika (Genus Dermacentor)
Nama lain : American Dog Ticks, Kutu Kayu

Jantan Betina
Genus ini merupakan sengkenit ornata
Festonnya 11
Palpinya relatif pendek
Basis kapitulum berbentuk segi empat disebelah dorsal.

Dermacentor variabilis yaitu sengkenit hutan umum atau sengkenit anjing
Amerika. Sengkenit ini berinduk semang tiga. Larva dan nimfa biasanya pada
berbagai jenis mencit ular, terutama tikus tanah Microtus pennsylvanicus.
Sengkenit dewasa menyukai anjing, tetapi juga menggigit mamalia lain, termasuk
manusia. Sengkenit ini terdapat diseluruh Amerika Utara, terutama di sepanjang
jalan-jalan kecil dan besar. Yang betina menghisap darah selam 4 sampai 10 hari,
menjatuhkan diri dari induk semang dan bertelur 4000 smapai 6500 butir diatas
tanah. Telur ini menetas kira-kira20 sampai 57 hari dan larvanya menempel pada
rodensia. Larva-larva ini memerlukan waktu 3 sampai 12 hari untuk menghisap
darah, sesudah itu mereka jatuh ke tanah dan menyilih dalam waktu 6 sampai 247
hari. Nimfa kemudian menempel pada induk semang rodensia lainnya. Nimfa
menghisap darah dalam waktu 3 sampai 12 hari, jatuh dan menyilih dalam waktu
16 sampai 291 hari. Sengkenit dewasa menempel pada induk semang ketiga,
menghisap darah dalam waktu 5 sampai 27 hari dan kemudian yang betina jatuh
dan bertelur. Larva yang tidak makan dapat hidup sampai 540 hari, nimfa yang
tidak makan tahan sampai 584 hari, dan dewasa yang tidak makan tahan sampai
1053 hari. Seluruh siklus hidupnya berlangsung 3 bulan sampai 3 tahun,
tergantung keadaan. D.variabilis diketahui merupakan satu-satunya vektor Rocky
Mountain spotted fever di Midwest dan bagian timur Amerika Serikat. Sengkenit
ini juga menularkan tularemia pada orang dan anaplamosis pada sapi dan dapat
menyebabkan paralisis pada anjing.
Dermacentor andersoni (atau D.venutus) adalah sengkenit hutan Rocky
Mountain. Sengkenit ini umum ada di negara bagian sebelah barat Amerika
Serikat. Sengkenit ini berinduk semang tiga. Larva dan nimfa makan rodensia dan
lagomorf, yang dewasa pada mamalia besar atau sedang, termasuk kuda, sapi,
biri-biri, rusa beruang, coyote, kelinci liar, trenggiling dan manusia. Siklus
hidupnya serupa dengan D.variabilis. yang betina bertelur 4000 sampai 8000 butir
dan siklus hidupnya berlangsung 1 sampai 3 tahun (biasanya 2 tahun) tergantung
dari keadaan. Dua musim dingin dapat dilalui oleh nimfa maupun dewasa yang
tidak makan. D.andersoni menularkan penyakit Rocky mountain spotted fever dan
tularemia serta anaplasmosis, Colorado tick fever, babesiosis anjing, demam Q
dan leptospirosis. Sengkenit ini juga menyebabkan paralisis pada manusia, sapi,
biri-biri, bison dan anjing.
Dermacentor albipictus adalah sengkenit musim dingin atau sengkenit
rusa besar. Sengkenit ini terdapat di bagian utara Amerika Serikat dan seluruh
negara bagian sebelah barat sampai Texas, sengkenit ini umum di Kanada. Ia
menyukai rusa besar tetapi juga terdapat pada elk, kuda, sapi, rusa dan sebagainya.
Kebanyakan terdapat di daerah dataran tinggi dan pegunungan. Sengkenit ini
berinduk semang satu dan tidak menyerang pada musim panas. Yang betina
bertelur 1500 sampai 4400 butir dalam musim semi. Telur menetas dalam waktu
3 sampai 10 minggu, tetapi larva tetap diam selaama musim panas dan tidak
menyerang sampai permulaan udara dingin musim gugur. Larva menyilih pada
induk semang, mencapai stadium dewasa kira-kira dalam waktu 6 minggu. Yang
betina jatuh tetapi tidak bertelur sampai musim semi. Larva yang tidak makan
dapat hidup 50 sampai 346 hati.
Dermacentor occidentalis adalah sengkenit Pantai Pasifik. Ia terdapat di
Oregon dan kalifornia pada banyak hewan termasuk sapi dan kuda. Sengkenit ini
berinduk semang tiga, larva terdapat pada berbagai rodensia dan lagomorf
sengkenit ini dapat menularkan anaplasmosis, Colorado tick fever, dan penyakit
lainnya.

5. North American Cattle Tick (Genus Boophilus)

Pada jenis ini tidak ada feston atau ornamentasi, tetapi terdapat mata.
Palpus dan hipostoma pendek, gepeng, dan bidang dorsal dan lateral bergigi.
Basis kapituli sebelah dorsal bersegi enam. Dewasa yang tidak makan kecil dan
skutum yang betina sangat kecil. Spirakulum nulat atau telur pada kedua jenis
kelamin. Beberapa orang menganggap genus ini dengan Margaropus tetapi
kebanyakan orang tidak. Hanya ada beberapa jenis.
Boophilus annulatus adalah sengkenit sapi Amerika Utara. Ia terdapat di
bagian selatan Amerika Serikat dan Mexico, biasanya pada ruminansia liar tetapi
kadang-kadang pada mamalia lain dan bahkan manusia. Sengkenit ini beinduk
semang satu. Yang betina bertelur 1800 sampai 4000 butir selama waktu 14
sampai 59 hari. Telur ini menetas dalam waktu 19 sampai 180 hari. Larva
menempel ke induk semang dan tinggal disana15 sampai 55 hari, menyilh
menjadi stadium nimfa dan dewasa, dan kemudian jatuh. Larva yang tidak makn
dapat hidup sampai 8 bulan. Boophilus annulatus membawa membawa demam
Texas yang disebabkan oleh Babesia bigemina dan anaplasmosis.
Boophilus calcaratus serupa bahkan mungkin identik dengan B.annulatus.
Sengkenit ini terdapat di daerah lembah Mediterran dan Timur Dekat, dan juga
menularkan Babesia.
Boophilus microplus terdapat di Karibia dan mexico ke selatan sampai
Argentina dan juga di Afrika, Australia dan Asia. Sengkenit ini juga menularkan
Babesia, Anaplasma, Coxiella burnetti, dan Borrelia theileri.
Boophilus decoloratus terdapat di daerah Ethiopia dan sengkenit ini
manularkan Babesia, Anaplasma dan Borrelia.

6. Rabbit Fever Tick (Genus Haemaphysalis)


Ciri-cirinya :
Lekuk anus terletak di posterior anus,tidak jelas atau tidak ada
Alat mulut sama panjang dengan basis capitulum
Panjang palpi ruas kedua sama denganlebarnya
Palpi ruas kedua,menonjol ke lateral
Tanpa mata
Spesiesnya yang dapat menyerang hewan seperti H.chordeilis,H.leachii, dan
H.bispinosa
Haemaphysalis leporispalstris yaitu sengkenit demam kelinci. Sengkenit
ini terdapat pada cottontails, kelinci, unggas buruan di dataran tinggi, dan
kadang-kadang hewan peliharaan di Alaska dan Kanada sampai Argentina.
Sengkenit ini berinduk semang tiga. Ia jarang menggigit orang tetapi penting
karena sebagai vektor penyakit Rocky mountain spotted fever dan tularemia
dalam induk semang reservoir tersebut di atas.

Peranan sengkenit keras
Sengkenit keras merupakan parasit dalam kesehatan, ini terlihat dari
perannya yang menyebabkan trauma mekanik.Yaitu dari luka pada tempat
gigitan yang memudahkan infeksi bakteri, contohnya Rhipichepalus sanguineus.
Sengkenit keras juga menyebabkan tick paralysis, ialah beberapa spesies
mengeluarkan racun akibat paralisis tipe motorik, dapat terjadi paralisis
pernafasan & kematian. Penyakit ini memiliki gejala berat, jika gigitan di
kepala, leher, pundak, sepanjang/dekat tulang belakang, maka toksin keluar
bersama ludah yang mengandung antikoagulan pada saat menghisap darah,
contohnyaDermacentor andersoni, D. variabilis, Amblyoma maculatum (AS,
Eropa Timur, Rusia), Izxodes holocyclus (Australia). Sengkenit keras juga
merupakan vektor beberapa penyakit, antara lain penyakit Bakterial (Tularemia)
oleh Yersinia (Pasteurella) tularensis, dan yang menjadi vector ialah
Dermacentorandersoni, D. variabilis, D. silvarum, Mblyoma maculatum. Selain
itu, ada pula penyakit protozoal (Human babesionis) yang disebabkan Babesia
sp. Dengan Boophilus annulatus sebagai vektornya.Serta penyakit
viral(Colorado tick fever dengan vektornya ialah Dermacentor pictus, D.
marginatus, Ixodes persulcatusdan disebabkan oleh Arbovirus golongan B.





Gambar Penyakit protozoal Gambar Penyakit bacterial




2. SENGKENIT LUNAK (ARGASIDAE)
Kutu lunak berbentuk bulat atau oval dan sedikit memiliki perisai di
belakang, kulitnya kasar dan berkerut. Pada kutu lunak dewasa, mulut tidak
terlihat dari atas. kutu lunak dapat mengirimkan spirochetes yang menyebabkan
demam kambuh. kutu mendapat spirochetes ketika menelan darah hewan yang
terinfeksi.

Morfologi sengkenit lunak
Pada sengkenit lunak tidak mempunyai scutum, tubuhnya ditutupi kulit
lunak. Capitulum di bagian ventral, tidak terlihat dari dorsal. Spirakel di samping
tubuh, di atas pasangan coxae ke-4. Sulit membedakan jantan dan betina, bahkan
pada stadium dewasa, untuk membedakan kelamin menggunakan anatomi genital,
yaitu sengkenit lunak jantan berbentuk bulat atau bulan sabit, sedangkan betina
berbentuk celah melintang














Siklus Hidup Sengkenit Lunak



Multihost siklus hidup untuk sengkenit lunak. Berbeda dengan Ixodidae,
anggota Argasidae keluarga memiliki dua atau lebih tahap nimfa, masing-masing
memerlukan makan darah. Pola ini disebut sebagai siklus hidup multihost.
Perkawinan dan bertelur biasanya selalu terjadi, dari induk semang di
daerah terlindung (biasanya sarang hewan). Telur menetas menjadi larva (1)
berkaki enam di daerah perlindungan orang tua. Mereka mencari induk semang di
sekitar daerah terlindung. Setelah menemukan induk semang yang cocok, mereka
makan kapanpun dari satu sampai beberapa hari, tergantung pada spesies (2).
Setelah makan, larva meninggalkan induk semang dan meranggas ke instar nimfa
pertama di daerah terlindung (3a-3b). Pencarian induk semang dan makan
keduanya berlangsung dengan cepat (4) (biasanya sekitar satu jam). Induk semang
yang kedua biasanya merupakan spesies yang sama, dan sering individu yang
sama seperti induk semang yang pertama. Para instar nimfa pertama
meninggalkan induk semang dan meranggas ke instar nimfa berikutnya di daerah
terlindung (5a-5b). Siklus ini dapat terus menampung hingga tujuh instar nimfa,
tergantung pada spesies. Setelah nimfa terakhir instar telah makan (6), ia
meninggalkan induk semang dan berganti kulit menjadi dewasa (7a-7b) di daerah
terlindung. Pada stadium dewasa dapat terus makan pada induk semang (8),
makan dengan cepat dan berpisah setelah makan darah. Betina dari beberapa
spesies meletakkan sekumpulan telur setelah makan. Manusia biasanya hanya
induk semang yang tidak disengaja untuk sengkenit lunak dan sengkenit hanya
makan pada stau tahap.

Perilaku sengkenit lunak
Pada sengkenit lunak rahasia dalam kebiasaan mereka, makan di malam
hari dan menyembunyikan diri pada siang hari di celah-celah atau retak di dekat
sarang atau bertengger dari tuan rumah. Para perempuan mencari makan dan
bertelur secara bergantian selama waktu yang relatif panjang. Dengan demikian,
kutu lunak tunggal dapat makan, pada host yang berbeda selama satu periode
tertentu, yang tajam meningkatkan pembawa penyakit potensial. Banyak kutu
lunak memakan burung dan reptil, meskipun yang lain lebih suka mamalia
sebagai tuan rumah.












Klasifikasi sengkenit lunak
Sengkenit lunak di bagi menjadi 4 dengan morfologi atau bentuk tubuh yang
memiliki sedikit perbedaan adalah sebagai berikut :
a. Argas

Ciri-ciri:
Tepi tubuh tipis dan tajam pada nimfa
Integumennya seperti kulit dan seringkali mengandung kancing kecil,
bulat dengan sebuah lekuk ditengahnya
Dewasa pada garis pemisah dorsal dan ventral yang tajam

Argas percisus merupakan senkenit ayam atau kutu biru (sebenarnya apa
yang disebut A.percisus adalah sesuatu janis yang kompleks mencakup
A.persicus, A.sanchezi dan A.radiatus). Sengkenit ini panjangnya 0,5-1,3 cm dan
lebarnya 0,25-0,6 cm. Sengkenit yang belum menghisap darah kira-kira tebalnya
0,75 mm dan yang sudah menghisap darah tebalnya hampir 3 mm. Sengkenit ini
terdapat di bagian-bagian dunia yang curah hujannya ringan. Di Amerika Serikat
sengkenit ini didapatkan di negara bagian sebelah selatan dan terutama di barat
daya.
Siklus hidupnya sangat khas bagi sengkenit argasida pada umunya. Telur
diletakkan di celah-celah dan lekukan-lekukan kandang unggas. Telur tersebut
menetas dalam waktu 2 minggu sampai 3 bulan tergantung dari suhunya. Larva
menempel pada unggas yang bulunya jarang-di bawah sayap, pada paha dan leher,
dan tetap disitu untuk menghisap darah kira-kira seminggu.kemudian mereka
jatuh dan menyilih menjadi nimfa sesudah beberapa hari. Nimfa menggunakan
hampir seluruh waktunya bersembunyi di celah-celah dan lekukan-lekukan
kandang. Mereka keluar pada waktu malam hari untuk makan pada unggas,
tinggal hanya beberapa menit disitu dan kemudian kembali ke tempat
persembunyiannya. Mereka makan dua atau tiga kali dan kemudian menyilih
menjadi dewasa. Yang dewasa juga merupakan hampir seluruh waktunya dalam
persembunyian, tetapi keluar pada malam hari untuk menghisap darah. Mereka
memerlukan 20-45 menit untuk menghisap darah.
Yang betina bertelur 25-100 butir atau lebih setiap kali sesudah memakan
darah, seluruhnya berjumlah kira-kira 700 butir. Kebiasaan sengkenit ayam
stadium nimfa dan dewasa menyerupai kebiasaan kutu busuk. Nimfa dan dewsa
mampu hidup dalam keadaan kelaparan selama kira-kira 5 tahun. Sengkenit ayam
tidak hanya menghisap darah, tetapi dapa menularkan Borrelia anserina,
spiroketa dari spiroketosis unggas. Sengkenit-sengkenit ini juga dapat menggigit
manusia.

b. Ornithodoros

Ciri-ciri:
Tepi tubuh membulat,tanpa garis batas yang jelas
Hipostoma mempunyai gigi yang berkembang
Kulit mammilated atau tuberculated

Ornithodoros turicata, O.parkeri, dan O.hermsi terdapat di Rocky
Mountain dan negara-negara bagian Pantai Pasifik Amerika Serikat dan O.talaje
di Kansas, California, dan Florida ke selatan sampai Argentina. Ornithodoros
kadang-kadang terdapat di rumah-rumah dan terkadang di gubug-gubug kayu
musim panas di Amerika Serikat bagian barat dan barat daya. Sengkenit ini
gigitannya menyakitkan dan dapat membawa demam kambuhan yang disebabkan
oleh spiroketa Borrelia recurrentis, O. Hermsi dan O.turica merupakan jenis yang
paling penting. Betina yang masak berukuran 5-6 mm x 3-4 mm. Genus ini
barangkali lebih penting pada rodensia liar dan manusia daripada ternak.
Yang betina bertelur dari bulan Mei sampai Oktober di celah-celah dan
lekukan-lekukan kandang. Telur ini menetas dalam waktu 15 sampai 21 hari., dan
beberapa hari kemudian, larva makan beberapa kali, tetap menempel pada induk
semangnya selama 12 sampai 30 menit setiap kali makan. Mereka menyilih kira-
kira dalam waktu 15 hari dan nimfanya makan untuk beberapa hari, menyilih
menjadi nimfa instar kedua, makan lagi, dan menyilih menjadi instar ketiga dalam
waktu 10-32 hari lagi. Nimfa ini kemudian makan dan menyilih menjadi stadium
dewasa. Pembuahan terjadi bila jantan menaruhkan spermanofora pada lubang
kelamin betina.
Yang betina mulai bertelur dalam waktu kira-kira sebulan. Siklus mulai
dari telur ke telur berlangsung kira-kira 4 bulan di laboratorium, menunggu
berbulan-bulan sebelum munculnya hewan yang mereka hisap darahnya.
Sengkenit dewasa dapat hidup 7 bulan tanpa makan dan nimfa serta larvanya
waktunya lebih singkat.


c. Antricola

Ciri-ciri:
Tepi tubuh membulat,tapa garis batas yang jelas
Hipostoma kecil seperti sekop tanpa gigi yang efektif
Kulit pada limfa dan dewasatuberculated
Biasanya menyerang kelelawar


d. Otobius


Ciri-ciri:
Tepi tubuh mermbulat tanpa batas yang jelas
Kulit pada dewasa granuler, pada limfa sangat berduri
Biasanya menyerang sapi,kuda atau kelinci

Otobius megnini yaitu sengkinit telinga berduri. Sengeknit ini terdapa di
bagian-bagian dunia yang lebih panas, tetapi barangkali merupakan sengkenit asli
bagi Amerika. Sengkenit ini tidak ada di daerah-daerah dengan curah hujan
tahunan lebih dari 1000 mm. Larva dan nimfa ditemukan di dalam telinga sapi,
kuda, keledai, biri-biri, kucing, anjing dan berbagai hewan liar di selatan mulai
dari British Columbia sampai exico, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
Yang betina bertelur di atas tanah. Telur menetas dalam waktu 18 sampai
23 hari dan larva yang baru muncul merayap ke atas pada tumbuh-tumbuhan
untuk menemukan hewan sebagai induk semangnya dan berjalan ke dalam lubang
telinga. Disini mereka menempel, menghisap darah dan menyilih menjadi nimfa
stadium pertama. Nimfa-nimfa ini menempel, menghisap darah kemudian
menyilih menjadi nimfa stadium kedua yang juga menghisap darah. Sengkenit ini
dapat berada di telinga selama 4 bulan. Nimfa yang kenyang menghisap darah
panjangnya 8-10 mm. Kemudian mereka melepaskan diri, keluar dari lubang
telinga, jatuh ke tanah dan menyilih menjadi stadium dewasa. Mereka berkopulasi
dan yang betina mulai bertelur sampai kira-kira 5 bulan. Selama waktu itu mereka
menghasilkan lebih dari 500 telur. Larva yang tidak makan mampu hidup 19
sampai 63 hari pada suhu kamar.

Peranan sengkenit lunak

Sengkenit bersifat ektoparasit intermiten, yaitu lebih banyak
kemungkinanmenularkan penyakit dari satu hospes ke hospes lain. Cara infeksi
pada manusia antara lain dengan gigitan sengkenit yang infektif, kontaminasi
sekret kelenjar (toxal fluid) pada kulit yang akhirnya membunuh sengkenit di
kulit. Selain itu, sengkenit lunak juga merupakan vektor penyakit relapsing fever
dan penularan penyakit yellow fever. Pada penyakit relapsing fever, vektornya
adalahOrnithodoros moubata, O. turicata, O. herasi, O. rudis, O. tajale, dan O.
tholozani. Sedangkan vektor pada penularan penyakit yellow fever ialah
Ornithodoros moubata.

7. PENGENDALIAN VEKTOR
Penanganan Pertama
Orang-orang yang berada di daerah pandemi sengkenit harus memeriksa baju
dan tubuhnya untuk menghilangkan semua sengkenit yang ada sebelum mereka
bisa meletakkan diri. Tanaman-tanaman rendah dan rumput di tempat-tempat
rekreasi harus dibersihkan atau dibakar. Sengkenit yang sudah melekatkan dirinya
harus ditarik dengan perlahan-lahan supaya kepala dan bagian-bagian mulutnya
yang menggigit tidak sampai terputus dan tertinggal dalam luka gigitan. Cara
mudah lainnya ialah dengan mendekatkan rokok yang dibakar pada tubuh
sengkenit itu atau dengan meneteskan chloroform, ether, karbon tetra chlorida,
vaseline atau cat kuku pada tubuh sengkenit itu. Setelah beberapa menit
sampai setengah jam sengkenit akan melepaskan gigitannya dan dapat dilepaskan.


Pengendalian secara kimia.
Yaitu dengan cara penggunaan akarisida, antara lain spraying
(penyemprotan), dipping (perendaman), pour on (penuangan), jetting
(penyemprotan dengan tekanan tinggi), atau dengan backrubber (penggosok
punggung). Cara penggunaan akarisida untuk pengendalian sengkenit berbeda
pada setiap negara. Misalnya di Australia, cara jetting sepanjang punggung dan
daerah bahu merupakan cara yang dinilai lebih efektif dibandingkan
penyemprotan biasa. Di Selandia Baru dan Inggris digunakan cara dipping,
sedangkan di Amerika Serikat, Australia dan Afrika cara dipping dan spraying
digunakan untuk pengawasan sebagian infestasi sengkenit.
Selang waktu penggunaan akarisida tergantung jenis sengkenit yang
menginfestasi. Perlakuan terhadap sengkenit berinang satu diulang selang waktu
2-5 minggu, sedangkan sengkenit berinang dua atau tiga diulang setiap 5-7 hari.
Akarisida yang digunakan untuk penyemprotan adalah Lindane 0,03-0,05 %,
Toxaphene 0,5 %, Metoxychlor 0,05 %, Coumaphos 0,125 %, Dioxanthion 0,15
%, Malation 0,5 %, atau Ronnel 0,75 %. Untuk dipping digunakan Lindane 0,03
%, Toxaphene 0,5 %, Coumaphos 0, 125 % atau Dioxanthion 0,5 %.
Roberts (1963) mengemukakan bahwa larutan akarisida yang digunakan
untuk pour on merupakan campuran emulsi akarisida yang pekat dengan minyak
disel. Akarisida yang digunakan dengan cara ini antara lain Coumaphos,
Fenchlorphos, Fenthion dan Ruelene yang dituangkan sepanjang bagian dorsal
punggung dari anterior ke posterior dengan menggunakan gayung atau cawan.
Alat backrubber dibuat dari karung goni yang digulung pada rantai besi dan
kemudian dialiri akarisida. Akarisida yang biasanya digunakan biasanya bersifat
sistemik.

Pengendalian secara biologi atau biokontrol
Cara ini dilakukan dengan melibatkan sengkenit, predator atau pemangsa,
organisme patogen dan spesies tandingan. Sebagai musuh alam sengkenit,
beberapa Hymenoptera kecil seperti Ixodiphagus dan Hunterelus, semut serta
burung Bubulcus ibis, Buphagus erythrorhynchus dan B. africanus dapat
dilibatkan dalam metode ini.
Pemberantasan sengkenit bisa juga dilakukan dengan insektisida. Antara
lain dengan menyemprotan residual. Misalnya, untuk menyemprotkan dalam
rumah menggunakan Emulsi atau larutan 5% DDT;3% chlordane; 0.5% dieldrin;
0.5% lindane; 0,5% diazinon; 1% malathion. Kadang-kadang baik ditambahkan
0,2-0.5% DDVP karena fumigant effentnya. DDT dipakai untuk penyemprotan
daerah yang luas. Untuk penyemprotan daerah-daerah kecil bisa dipakai
insektisida lain. Untuk penyemprotan diluar rumah, seperti daerah-daerah dengan
banyak tumbuh-tumbuhan bisa dipakai DDT, chlordane, dieldrin, toxhapeno (1/2-
1 kg insektisida untuk setiap aere). Selain itu juga bisa memakai BHC (
gamma isomer) sebanyak
1
/
4
kg/aere sebagai debu suspensi atau emulsi. Hal ini
dikarenakan BHC lebih aman untuk ikan.







DAFTAR PUSTAKA
Soulsby, E.J.L (1982). Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated
Animals. 7
th
Ed. Bailliere Tindal London
Porsongnern. P, Jamjanya. T, Thangrabeab. M. (2009). Pathogenicity Of
Metarhizium spp. And Paecilomyces Fusmosoroseus to Cattle Tick
(Boohilus mikroplus), Rajamanggala University Of Technology
Lanna, Chang-Mai, Thailand
Anonimous. (2009). Gejala klinis dan dampak umum akibat terkena caplak.
http://duniaveteriner.com/2009/12/gejala-klinis-dan-dampak-umum-akibat-
terkena-caplak/print akses tanggal 29 September 2010
Anonimous. (2009). Studi literature mengenai ektoparasit bagian empat.
http://duniaveteriner.com/2009/12/studi-literatur-mengenal-ektoparasit-bagian-
4/print. Akses tanggal 29 September 2010
Anonimous.(2007).Jurnal.LIPI.
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/21742?mode=full&submit_simple=Sh
ow+full+item+record.
Anonymous. (2009). Caplak sapi atau Boophilus mikroplus.
http://robertstynblog.wordpress.com/2009/09/17/caplak-sapi-atau-boophilus-
micropluss/ Akses tanggal 29 September 2010
Anonimous. Live Cycle of Nematoda Image.http//www.dpc.cdc.gov/dpdx.
Diakses tanggal 18 Mei 2010
Anonimous. Live Cycle of Trematoda Image. http//www.dpc.cdc.gov/dpdx.
Bowman, D.D (1999). Georgis Parasitology for Veterinery. 8
th
Ed. Saunders an
Imprint of Elsevier Science
Felix D, Guerrero, Vishavanath M, Nene, John E, George, Stephen C, Barker,
Peter Willadsen. (2006). Sequencing a New Target Genome: The
Boohhilus Mikroplus (Acari: Ixosodidae) Genome Project. J. Med.
Entomol. 43(1): 9-16
Kang. YB, Jang. DH. (1985) Scanning Electron Microscopic Observation On The
Surface Structure Of The Tick Boophilus microplus (Cestrini, 1887)
Female Specimens. Seoul National University, Kyonggi-Do, Korea
Levine, N.D (1990). Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi. Gajah
Mada University Press Mei 2010 Nusa Tenggara Barat.
Roberts, J.A., 1963. Resistance of cattle to the tick Boophilus microplus
(Canestrini). I. Development of ticks on Bos taurus. J. Parasitol. 54, ,
663666.
Levine, D. Norman. 1977. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gajah mada
University Press: Yogyakarta