Anda di halaman 1dari 9

FISIKA KUANTUM

1. Radiasi Benda Hitam


Benda hitam (black body) dalam bahasa fisika adalah obyek yang
menyerap seluruh radiasi elektromagnetik yang jatuh kepadanya dan tidak ada
radiasi yang dapat keluar atau dipantulkannya. Istilah benda hitam ini, pertama
kali diperkenalkan oleh fisikawan Belanda, yang bernama Gustav Robert
Kirchhoff pada tahun 1862. Istilah benda hitam (black body) tidaklah harus
merupakan benda yang benar-benar hitam. Hal ini disebabkan karena benda
tersebut juga memancarkan cahaya/gelombang yang warna cahayanya tergantung
pada suhu/temperatur benda tersebut. Semakin tinggi suhu benda tersebut, radiasi
yang dipancarkannya akan mendekati radiasi cahaya tampak, mulai dari merah,
jingga, kuning, hijau, dan seterusnya. Dari hasil percobaan tentang benda hitam,
didapat kurva seperti berikut.










Gambar 1. Kurva Radiasi Benda Hitam
Pada kurva di atas tampak suatu kurva dari garis hitam yang merupakan
tafsiran Rayleigh-Jeans terhadap suatu radiasi elektromagnetik oleh suatu benda
hitam. Rayleigh-Jeans menerapkan hukum hukum fisika klasik dalam
menganalisis pancaran/radiasi oleh suatu benda hitam, yang menganggap bahwa
pancaran atau serapan tersebut merupakan suatu spektrum yang kontinu. Hasil
analisis tersebut menghasilkan suatu kurva dengan garis hitam pada gambar 1.
Jika ditinjau kurva Rayleigh-Jeans tersebut, tampak bahwa semakin pendek
panjang gelombang, maka intensitas radiasi juga akan semakin besar. Hal ini
disebut dengan bencana ultraviolet (Ultraviolet catastrophe).
Namun pada kenyataannya, bencana ultraviolet tersebut tidak ada. Hal ini
membuktikan bahwa tafsiran Rayleigh-Jeans tentang radiasi benda hitam tidaklah
benar. Ini merupakan salah satu kegagalan dari fisika klasik itu sendiri. Oleh
karena itu, Max Planck berusaha mengatasi kegagalan ini. Planck berasumsi
bahwa distribusi energi benda hitam haruslah merupakan distribusi atom-atom
yang bergetar disebut dengan osilator sehingga merupakan suatu spektrum yang
diskrit, dalam artian energi yang terpancar/terserap sudah terpaket/terkuantisasi
dalam bentuk kuanta-kuanta energi dan tidak merupakan spektrum yang kontinu.
Berdasarkan percobaan terhadap energi radiasi benda hitam, Max Planck
membuat hipotesis seperti berikut:
"Radiasi hanya dipancarkan (atau diserap) dalam bentuk satuan-
satuan/kuantum energi disebut foton yang besarnya berbanding lurus
dengan frekuensi radiasi".
Energi total foton (masa diam foton = 0):
E = n . h . f = n . h . c/
Dengan:
E = energi radiasi (joule)
h = konstanta Planck = 6.62 x 10-34 J.det
f = frekuensi radiasi (Hz)
l = panjang gelombang radiasi (m)
n = jumlah foton, jadi energi cahaya adalah terkuantisasi
Menurut Planck, berdasarkan kurva hubungan antara panjang gelombang
dengan intensitas radiasi pada gambar 1 yang ditunjukkan oleh garis yang
berwarna (merah, hijau, biru). Dari kurva tersebut dapat disimpulkan bahwa
panjang gelombang/frekuensi tidak mempengaruhi intensitas radiasi. Akan tetapi
sangat berpengaruh terhadap energi radiasi.
Dalam kurva tersebut juga ditunjukkan bahwa semakin rendah temperatur
benda hitam, puncak kurva akan semakin rendah dan mendekat ke daerah panjang
gelombang/wavelength yang lebih besar, dan sebaliknya apabila suhu/temperatur
benda hitam semakin tinggi, puncak kurva akan semakin tinggi, dan lebih
mendekati daerah panjang gelombang/wavelength yang lebih kecil. Puncak kurva
merupakan intensitas maksimum yang dapat dicapai oleh suatu radiasi, di mana
intesitas ini bergantung pada temperatur/suhu benda hitam tersebut, dan tidak
bergantung pada panjang gelombang radiasi. Temuan dari Max Planck ini dalam
mengatasi kelemahan fisika klasik merupakan tonggak lahirnya fisika modern.
Dalam laboratorium, benda yang paling mendekati radiasi benda hitam
adalah radiasi dari sebuah lubang kecil pada sebuah rongga. Cahaya apa pun yang
memasuki lubang ini akan dipantulkan dan energinya diserap oleh dinding-
dinding rongga berulang kali, tanpa mempedulikan bahan dinding dan panjang
gelombang radiasi yang masuk (selama panjang gelombang tersebut lebih kecil
dibandingkan dengan diameter lubang). Seperti pada gambar berikut ini.




Gambar 2. Arah Cahaya yang Diserap oleh Sebuah Benda Hitam

Lubang ini adalah pendekatan dari sebuah benda hitam. Jika rongga
dipanaskan, spektrum yang dipancarkan lubang akan merupakan spektrum diskrit
dan tidak bergantung pada bahan pembuat rongga.










Gambar 3. Radiasi yang Dipancarkan oleh Benda Hitam Saat Rongga
Dipanaskan
Cahaya datang

Pancaran radiasinya mengikuti suatu kurva umum seperti pada gambar 1.
Berdasarkan hukum radiasi termal dari Kirchhoff, kurva ini hanya bergantung
pada suhu dinding rongga, dan setiap benda hitam akan mengikuti kurva ini.
Seperti yang telah diketahui bahwa sumber radiasi/pancaran dari benda
hitam berasal dari osilator-osilator harmonik dalam rongga. Satu osilator bisa
dianggap sebagai satu mode getar, di mana untuk mendapatkan rapat energi
osilator ( ) (u
T
) dalam sebuah benda hitam haruslah dicari terlebih dahulu energi
rata-rata masing-masing mode getar ( E )
Untuk mendapatkan nilai E ini, ada beberapa rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut.
1. Rumus Rayleigh-Jeans
Dalam menentukan E , Rayleigh-Jeans menggunakan prinsip ekipartisi
energi. Dikatakan bahwa osilator memiliki 2 derajat kebebasan. Sehingga energi
rata-rata masing-masing mode getar adalah
E = T k T k X
b b
=
2
1
2 ...................................................(1)
Dengan:
b
k = konstanta Boltzmann besarnya 1,38 X 10
-23
J. K
-1

T = suhu mutlak (kelvin)
Jadi besarnya rapat energi osilator ( ) (u
T
) dalam sebuah benda hitam,
diwujudkan oleh persamaan berikut
) (u
T
= u u
t
u
u
d
c
T k
d E
V
N
b 2
3
8 ) (
=
..............................(2)

Persamaan ini memang benar/sesuai kenyataan, tapi hanya terbatas pada
frekuensi rendah, dan memiliki nilai yang sangat menyimpang dari sebenarnya
pada daerah frekuensi tinggi.
2. Rumus Planck
Dalam menentukan E , Planck tidak menggunakan prinsip ekipartisi
energi. Dia beranggapan bahwa energi yang dimiliki osilator-osilator tersebut
tidak kontinu, melainkan berharga diskrit, yaitu merupakan kelipatan dari u h
u u u u nh h h h E ......, , 3 , 2 , , 0 =
.........................................(3)

h = tetapan Planck besarnya 6,626 X 10
-34
J s

= =
n
T k nh
T k nh
n
n
T k E
n
T k E
n
b
b
b n
b n
e
e nh
e
e E
E
/
/
/
/
u
u
u
.(4)
Jika dimisalkan
T k
h
b
u
o = , maka persamaan (4) akan menjadi sebagai
berikut.

=
n
n
n
n
b
e
e
d
d
T k E
o
o
o
o) (
...........................................(5)

Selanjutnya dari hubungan
o
o

e
e
n
n
1
1
.....................(6), maka
diperoleh:
2
) 1 ( 1
1
o
o
o
o
o o

e
e
e d
d
e
d
d
n
n
.........................(7)
Dengan mensubstitusi persamaan (6) dan (7) ke persamaan (5), maka akan
didapat persamaan sebagai berikut
1
=
o
o
e
T k
E
b
................................................................(8)

Oleh karena
T k
h
b
u
o = , maka akan didapat suatu persamaan untuk energi
rata-rata sebuah osilator/mode getar sebagai berikut.
1
/

=
T k h
b
e
h
E
u
u
.............................................(9)

Oleh karena energi rata-rata sebuah mode getar diketahui, maka rapat
energi seluruh osilator dalam benda hitam dapat diukur dengar persamaan berikut
) (u
T
= u
u
u
t
u
u
u
d
e
h
c
d E
V
N
T k h
b
1
8 ) (
/
2
3

=
.....................(10)

Persamaan ini ternyata sesuai dengan kenyataan yang diperoleh pada
eksperimen, sehingga bencana ultraviolet yang diperkirakan akan terjadi,
sesungguhnya tidak ada. Keberhasilan Planck ini dalam mengatasi kelemahan
fisika klasik merupakan tonggak awal lahirnya fisika modern/Fisika Kuantum.

2. Efek Fotolistrik
Sejarah Efek Foto Listrik
Penemuan efek fotolistrik merupakan tonggak sejarah perkembangan
fisika kuantum. Pada saat itu orang-orang dihadapkan pada situasi yang
mana paham klasik yang telah mereka yakini sebelumnya terpaksa
dirombak menjadi paham baru. Konsepsi yang ada pada paham
sebelumnya yaitu menyatakan bahwa cahaya tersebut merupakan sebuah
gelombang. Paham baru yang muncul menyatakan bahwa cahaya sebagai
partikel. Konsepsi cahaya sebagai partikel ini merupakan cikal bakal yang
nantinya mampu menjelaskan gejala efek fotolistrik tersebut.
Paham baru yang muncul ini tidak diterima begitu saja olah masyarakan,
tetapi menimbulkan suatu polemik dimana cahaya sebagai gelombang
telah dibuktikan kehandalannya dalam menjelaskan difraksi, interferensi
dan polarisasi dimana gejala-gejala ini tidak mampu dijelaskan
berdasarkan paham cahaya sebagai partilel. Oleh karena itu para ahli
sepakat bahwa cahaya tersebut memiliki dualisme sifat yaitu cahaya
sebagai gelombang dan partikel.
Penemuan gejala efek foto listrik ini diawali oleh eksperimen Heinrich
Hertz melalui percobaan tabung lucutan. Ia mengemukakan bahwa lucutan
elektrik akan lebih mudah jika cahaya ultraviolet dijatuhkan pada electron
tabung lucutan. Ini membuktikan bahwa cahaya ultraviolet dapat mencabut
atau melepaskan electron dari permukaan logam. Pengamatan gejala efek
fotolistrik ini kemudian dilanjutkan oleh P. Lenard dan secara teoritis
dijelaskan oleh Einstein.
Proses Terjadinya Efek Fotolistrik.
Gambar





G
V
+
-
Potensiometer
a
Foton
Anoda Katoda
Voltmeter
Galvanometer
Elemen




Dari gambar di atas, untuk menghasilkan efek fotolistrik dipelukan sebuah
tabung yang difakumkan yang diisi dengan dua elektroda (katoda dan
anoda) yang dihubungkan dengan rangkaian eksternal. Cahaya
monokromatis ditembakkan menuju tabung yang kemudian mengenai
pelat anoda yang potensialnya dibuat lebih besar dari potensial katoda.
Untuk cahaya dengan frekuensi tertentu, ternyata galvanometer G
mendeteksi adanya arus listrik. Hal ini menunjukkan bahwa electron yang
dipancarkan pelat A tersebut mampu mencpai pelat K. hal ini juga berarti
bahwa ketika terlepas dari pelat A electron sudah memiliki energi kinetic
yang cukup besar untuk menembus potensial penghalang yang dipasang
antara pelat A dan K. untuk menghentikan gerakan electron ini diperlukan
suatu potensial penghalang V. Besarnya potensial penghalang (V
S
) ini
dapat diatur dengan menggeser ke kiri atau ke kanan titil a pada
potensiometer. Menggeser titik a ke kiri berarti memperbesr hambatan
potensiometer akibatnya tegangan/potensial antara anoda dengan katoda
mengecil, dan sebaliknya apabila titik a digeser ke kanan, hambatan
potensiometer akan mengecil, akibatanya tegangan antara anoda dengan
kaotoda membesar. jika V diperbesar maka jumlah electron yang
mencapai pelat K akan berkurang sehingga arusnya menjadi semakin
kecil. Hingga pada beda potensial (V) tertentu electron-elektron ini tidak
bergerak sehingga tidak ada arus yang mengalir. Potensial (V) ini disebut
potensial pemberhenti yang dilambangkan dengan
0
V .
Energi kinetic electron-foto ini dapat diketahui dari nilai
0
V . Berdasarkan
prinsip kekekalan energi dinyatakan bahwa energi kinetic electron-foto
tercepat sama dengan
0
.V e . Jika dirumuskan secara matematis maka maka
energi kinetic maksimum adalah
0 max
.V e K =
(1)
Adapun suatu syarat untuk dapat mewujudkan fenomena efek fotolistrik
adalah bahwa frekuensi foton yang diberikan pada plat haruslah lebih
besar daripada nilai frekuensi ambang (
0
).




















Grafik diatas menunjukkan bahwa jika frekuensi cahaya yang digunakan
kurang dari
0
maka tidak diperlukan potensial pemberhenti. Tidak
diperlukannya potensial pemberhenti ini menunjukkan bahwa tidak ada
elektron yang dilepaskan. Jika electron tidak ada yang lepas maka tidak
akan terjedi efek fotolistrik. Dapat disimpulkan bahwa agar terjadi efek
fotolistrik maka diperlukan foton dengan frekuensi yang melebihi nilai
frekuensi ambang (
0
).
Dari garif di atas dapat diperoleh hubungan bahwa
0
V sebanding dengan

0
. Kesebandingan ini dapat diubah menjadi kesamaan dengan
menggunakan kesebandingan h/e dengan e menyatakan muatan electron
dan h suatu tetapan yang berdimensikan energi kali waktu. Secara
matematis dapat dirumuskan:

K
cu
0
u

cs
0
u k
0
u
cs
cu
0
V

0 0
. u u h h V e = .(2)
Dari persamaan (1) dan (2) maka:
0 max
u u h h K =
0 max
. u u h K h + = ...(3)