Anda di halaman 1dari 36

1.1 Latar Belakang 3,4,5

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan perkembangan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik dimana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa kanak kanak awal umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan dan menyebabkan disfungsi yang bersistem.

Istilah gangguan perkembangan meluas (PDDs) mengacu pada sekelompok kondisi yang mempengaruhi perkembangan anak-anak dan melibatkan penundaan atau gangguan dalam komunikasi dan sosialisasi serta keterampilan. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara mendalam. Autisme adalah yang paling terkenal dari gangguan perkembangan ini, sehingga PDDs juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme. PDDs juga termasuk dalam Sindrom Asperger dan dan dua kondisi yang kurang lazim disebut gangguan disintegratif masa kanak-kanak dan Rett syndrome. Biasanya, pertama-tama PDDs didiagnosis selama masa bayi, balita, atau anak usia dini. Tanda PDD biasanya dikenali sebelum anak berusia 3 tahun. Namun, gejala-gejala dapat berkisar dari berat kepada begitu halus sehingga mereka tampaknya aspek normal dari perkembangan anak muda.

Gangguan Perkembangan Pervasif

1
1

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Gangguan Perkembangan Pervasif 3,5

Gangguan perkembangan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik dimana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa kanak kanak awal umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan dan menyebabkan disfungsi yang bersistem.

Gangguan autistik (juga dikenal sebagai autisme infantil), merupakan gangguan yang terkenal, ditandai oleh gangguan berlarut larut pada interaksi sosial timbal balik, penyimpangan komunikasi dan pola perilaku yang terbatas dan stereotipik. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disordersedisi ke empat (DSM-IV), fungsi abnormal pada bidang diatas harus ditemukan pada usia 3 tahun. Lebih dari duapertiga orang dengan gangguan autistik memiliki retardasi mental, tetapi hal tersebut tidak diperlukan untuk diagnosik.

Autistime infantile digambarkan oleh Leo Kanner di tahun 1943, tetapi sampai tahun 1980, dalam DSM edisi ketiga (DSM-III), gangguan autistik tersebut tidak dikenali sebagai kesatuan klinis tersendiri. Sebelum tahun 1980, anak anak dengan salah satu gangguan perkembangan pervatif diklasifikasikan menderita skizofrenia tipe masa kanak kanak.

DSM-IV mempertahankan kategori gangguan perkembangan pervatif yang tidak ditentukan untuk pasien yang menunjukan gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik dan komunikasi verbal dan nonverbal tetapi yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan autistik.

DSM-IV memiliki beberapa gangguan lain dalam kategori gangguan perkembangan pervatif : Gangguan Rett, gangguan disintegratif masa kanak kanak dan gangguan asperger. Gangguan Rett tampaknya terjadi pada anak perempuan; ditandai

Gangguan Perkembangan Pervasif

2
2

oleh perkembangan normal untuk sekurangnya 6 bulan, diikuti dengan degenerasi perjalanan perkembangan. Biasanya, anak mulai menunjukan gerakan tangan stereotipik, kehilangan gerakan bertujuan, menurunnya keterlibatan social, koordinasi buruk dan menurunnya pemakaian bahasa. Pada gangguan disintegratif masa kanak kanak, perkembangan maju dengan normal selama 2 tahun pertama mana anak menunjukan hilangnya keterampilan yang telah dicapai sebelumnya dalam dua atau lebih bidang berikut :pemakaian bahasa, responsivitas social, bermain, keterampialn motorik, dan pengendalian kandung kemih dan usus. Gangguan Asperger adalah suatu kondisi dimana anak menunjukan gangguan jelas dalam hubungan social dan pola perilaku yang berulang dan stereotipik tanpa keterlambatan dalam perkembangan bahasa. Kemanmupan kogniif dan keterampilan adaftif anak adalah normal.

Anak-anak dengan gangguan perkembangan pervasif (pervasif developmental disorder/PDDs) menunjukkan hendaknya perilaku atau fungsi pada berbagai area perkembangan. Gangguan ini umumnya menjadi tampak nyata pada tahun-tahun pertama kehidupan dan sering kali dihubungkan dengan retardasi mental. Gangguan ini umumnya diklasifikasikan sebagai bentuk psikosis pada edisi awal DSM. Keanehan dalam berkomunikasi dan perilaku motorik yang stereotip.

  • - Gangguan Asperger (Asperger’s disorder) ditunjukan dengan adanya deficit pada Interaksi sosial dan perilaku stereotip. Gangguan Asperger tidak melibatkan deficit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA,2000;Szatmari dkk 2000).

Type gangguan perkembangan pervasif yang lebih jarang muncul, mencakup :

- Gangguan Rett (Rett’s disorder), gangguan yang dilaporkan hanya terjadi pada wanita - Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood disintegrative disorder), kondisi yang jarang ada, biasanya muncul pada laki-laki.

2.1.1 Early Infantile Autism 2,4,6 “Seorang anak berlari-lari dengan riangnya kesana kemari. Dengan wajah ceria ia bolak-balik mematikan kenop lampu yang ada di ruangan rumahnya. Teriakan dan larangan ibunya sama sekali tidak dihiraukannya, seakan-akan ia tidak mendengar suara

Gangguan Perkembangan Pervasif

3
3

panik sang ibu yang takut terjadi sesuatu pada anaknya. Beberapa menit kemudian ketika “jingle” sebuah iklan muncul di TV, tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya dan berlari kearah TV serta mendengarkan dengan seksama “jingle iklan“ tersebut. Sesaat iklan tersebut berakhir, ia kembali berlari-lari dengan tangan yang berkali-kali dihentakkan ke bawah disertai kata-kata atau suara yang hanya ia sendiri dapat mengerti.

Gejala-gejala seperti ilustrasi diatas belakangan banyak terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Autis adalah salah satu dari kesekian gangguan perkembangan yang prevalensinya semakin meningkat belakangan ini. Dari 1:5000 anak pada tahun 1943 saat Leo Kanner memperkenalkan istilah autisme menjadi 1:100 ditahun 2001 (Nakita, 2002).

PENGERTIAN AUTISME

Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autism berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer), sedangkan Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation.

Belakangan istilah psikosis cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental disorders), secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik.

Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anakanak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan dengan sidrom Asperger atau autis

Gangguan Perkembangan Pervasif

4
4

Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.

GEJALA-GEJALA YANG NAMPAK

Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Chris Williams dan Barry Wright (2007) mengemukakan beberapa simptom autistik yang mungkin sudah muncul diusia 18 bulan, seperti:

  • A. Tidak melakukan kontak mata.

  • B. Tidak merespon segera jika dipanggil nama.

  • C. Tampak berada “didunianya sendiri”.

  • D. Mengalami hambatan perkembangan bahasa.

  • E. Kehilangan kemampuan berbahasa.

  • F. Tidak menggunakan sikap tubuh.

  • G. Memegang tangan orang dewasa dan menaruhnya pada sesuatu yang ingin dia buka.

  • H. Tidak memahami sikap tubuh orang lain.

  • I. Tidak bermain pura-pura.

  • J. Lebih tertarik pada bagian-bagian permainan.

  • K. Menghabiskan banyak waktu untuk membariskan benda-benda.

  • L. Dan melakukan gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit).

  • M. Memaksa membawa dua benda, satu disetiap tangan, seringkali dengan bentuk dan

warna sama.

Gangguan Perkembangan Pervasif

5
5

Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak dengan indicator perkembangan yang normal. Dibawah ini disajikan tabel perkembangan motorik dan perkembangan bahasa pada anak normal.

Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka
Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka

Gangguan Perkembangan Pervasif

6
6
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:

  • A. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara,

mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dan seterusnya.

  • B. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak

melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dan seterusnya.

Gangguan Perkembangan Pervasif

7
7
  • C. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih

(excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, boneka dan lain-lain yang dibawanya kemana-mana.

  • D. Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan

toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering

mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

  • E. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau

benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan

dan pelukan, dan sebagainya.

  • F. Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,

tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.

KRITERIA DIAGNOSTIK

Autistik (Autistic Disorder) berbeda dengan gangguan Rett (Rett’s Disorder), gangguan disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger (Asperger’s Disorder). Secara detail, menurut DSM IV, kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut:

  • A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan

masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3):

1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini:

a. Kelemahan dalam penggunaan perilaku non-verbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial.

b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Gangguan Perkembangan Pervasif

8
8

Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain.

c.

d.

Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang

timbal balik.

 

2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:

Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara

a.

non-verbal.

b.

Bila

anak

bisa

bicara,

maka

bicaranya

tidak

digunakan

untuk

berkomunikasi.

 

c.

Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang.

d.

Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau permainan

imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf perkembangannya.

 

3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:

a.

Preokupasi

terhadap

satu

atau

lebih

kegiatan

dengan

fokus

dan

intensitas yang abnormal atau berlebihan.

 

b.

Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas

 

c.

Gerakan-gerakan

fisik

yang

aneh

dan

berulang-ulang

seperti

menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh.

d.

Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagianbagian

tertentu dari obyek.

Gangguan Perkembangan Pervasif

9
9
  • B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah

satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain

simbolik dan imajinatif.

  • C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak.

PEDOMAN DALAM MELAKUKAN OBSERVASI UNTUK KEPERLUAN DIAGNOSIS ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS.

Ada beberapa gejala yang harus diperhatikan sebagai pedoman dalam melakukan diagnosis, sebagai berikut:

  • A. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 3-5 tahun

    • 1. Tidak melakukan kontak mata dengan baik.

    • 2. Tidak tertarik dengan orang lain dan lebih suka bermain sendirian.

    • 3. Menunjukka respon yang tidak biasa yang mengganggu orang lain.

    • 4. Menggunakan bahasa yang berbeda dengan anak-anak lain (sangat sedikit

berbahasa, berbahasa dengan baik tapi diulang-ulang, mengulangi kata-kata dari film, video atau program TV, ekolalia, sulit mengerti perkataan orang lain.

  • 5. Punya sedikit atau tidak tertarik dengan permainan imajinasi.

  • 6. Tidak tertarik bergabung dalam permainan kelompok.

  • 7. Sangat terpaku pada beberapa permainan atau permainan tertentu.

  • 8. Perilaku sangat rutinitas.

  • 9. Membuat gerakan tidak biasa seperti berputar atau berayun.

    • 10. Sangat senditif dengan suara

    • 11. Sangat sensitif dengan bau-bauan.

    • 12. Sangat sensitif dengan sentuhan.

Gangguan Perkembangan Pervasif

10
10
  • B. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 6 11 tahun

    • 1. Melakukan kontak mata yang buruk.

    • 2. Tidak suka menggunakan sikap seperti menunjuk, memberi tanda, melambai.

    • 3. Tidak punya teman sebaya.

    • 4. Tidak menunjukkan pekerjaannya kepada guru meskipun diminta.

    • 5. Lebih sulit berbagi dengan anak-anak lain.

    • 6. Sulit untuk saling bergantian, dan selalu ingin menjadi yang pertama.

    • 7. Tampak tidak peduli dengan perasaan anak-anak lain.

    • 8. Mengatakan hal yang sama berulang-ulang.

    • 9. Tidak ingin dan tidak menikmati permainan berpura-pura.

      • 10. Tidak mudah berbicara dengannya, tentang apa yang ingin anda bicarakan.

      • 11. Bicara dengan cara yang tidak biasa (intonasi).

      • 12. Ingin bermain dengan benda yang sama selama periode waktu yang panjang.

  • 13. Mengepakkan

tangannya

atau

membuat

gerakan

aneh

saat

kesal

atau

bersemangat.

  • C. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 12 17 tahun

 
  • 1. Sulit membuat kontak mata.

 
  • 2. Membuat ekspresi wajah yang datar atau tidak biasa.

 
  • 3. Sulit memiliki atau mempertahankan teman.

 
  • 4. Menunjukkan

pemahaman

buruk

atas

kebutuhan

orang

lain

dalam

pembicaraan.

  • 5. Mengalami kesulitan memperkirakan apa yang orang lain pikirkan.

Gangguan Perkembangan Pervasif

11
11

6.

Menunjukkan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial.

  • 7. Menunjukkan kebutuhan obsesif atau rutinitas.

  • 8. Menunjukkan sikap kompulsif.

PENYEBAB AUTISME

Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:

  • Teori Psikoanalitik (efrigerator mother). Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).

  • Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind). Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).

  • Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak. Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University of California, SanDiego, para penyandang autism memiliki cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).

  • Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.

  • Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.

BEBERAPA GANGGUAN YANG MENYERTAI AUTIS

  • Gangguan sulit tidur dan makan.

  • Gangguan afek dan mood.

  • Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

  • Gangguan kejang (10 25 %).

  • Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek disbanding anak seusianya).

Gangguan Perkembangan Pervasif

12
12

PENGGOLONGAN AUTISM

  • Autism (autisme masa anak-anak).

  • Autisme atipikal atau Pervasive Develompmental Disorder-Not Otherwise Specified atau PDD-NOS (Diagnosis ini dibuat jika anak tidak memenuhi semua kriteria untuk diagnosis autis dan asperger, tapi ada kecacatan parah dan menetap di area yang dipengaruhi ASD.

  • High Functioning Autism (Autisme dengan IQ tinggi).

  • Low Functioning Autism (Autisme dengan IQ rendah).

PENANGANAN

Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi (treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-anak lain secara normal. (Wenar, 1994)

Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

  • A. Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.

  • B. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat

dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.

  • C. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya

  • D. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur

hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai

prognosis yang lebih baik.

  • E. Terapi yang intensif dan terpadu.

TERAPI YANG TERPADU

Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam

Gangguan Perkembangan Pervasif

13
13

sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autism memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidiki. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:

  • A. Terapi medikamentosa. Obat-obatan yang sering dipakai di Indonesia adalah:

    • 1. Vitamin (Efek samping: Hiperaktivitas, marah-marah, agresif, sulit tidur dan

lain sebagainya).

  • 2. Obat-obatan untuk memperbaiki keseimbangan neorutransmitter serotonin dan

dopamin (Efek samping: Ngiler,ngantuk, kaku otot).

  • B. Terapi Wicara

  • C. Terapi Perilaku

  • D. Terapi Okupasi

  • E. Terapi Edukatif atau Pendidikan Khusus.

2.1.2 Syndrome Asperger 1,4,6

Sindrom Asperger pertama kali dijelaskan oleh seorang pediatri (ahli kesehatan anak) dari Wina, Hans Asperger. Dalam tesis doktoral yang dipublikasikan pada 1944, Hans Asperger menggambarkan empat anak lakilaki yang tidak memiliki kemampuan

berinteraksi, linguistik, dan kognitif. Ia menggunakan istilah “Psikopati Autistik” untuk

menjelaskan gejala ini. Baik Leo Kanner maupun Hans Asperger menggambarkan anak- anak tersebut sebagai orang yang memiliki interaksi sosial yang sangat minim, kegagalan berkomunikasi, dan perkembangan pada minat-minat khusus. Leo Kanner menggambarkan anak-anak dengan ekspresi Autism yang lebih para, sementara Hans Asperger menjelaskan anak-anak yang lebih memiliki kecakapan. Adapun kriteria diagnostik gangguan Asperger menurut DSM-IV adalah sebagai berikut:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Asperger

Gangguan Perkembangan Pervasif

14
14
  • A. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti ditunjukkan oleh sekurangnya dua

dari berikut:

1) Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku non verbal multiple seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.

2) Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkan perkembangan.

3) Gangguan jelas dalam ekspresi kesenangan dalam kegembiraan orang lain. 4) Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.

  • B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipik, seperti

ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut:

1) Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.

2) Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang spesifik dan non fungsional.

3) Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya, menjentikkan atau memuntirkan tangan atau jari, atau gerakan kompleks seluruh tubuh).

4) Preokupasi persisten dengan bagian-bagian benda.

  • C. Gangguan menyebabkan ganggguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial,

pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

  • D. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara klinis dalam bahasa

(misalnya, menggunakan kata tunggal pada usia 2 tahun, frasa komunkatif digunakan pada usia 3 tahun).

  • E. Tidak terdapat keterlambatan yang bermakna secara klinis dalam perkembangan

kognitif atau dalam perkembangan keterampilan menolong diri sendiri dan perilaku

Gangguan Perkembangan Pervasif

15
15

adaptif yang sesuai dengan usia (selain dalam interaksi sosial), dan keinginan tahuan tentang lingkungan pada masa anak-anak.

F. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasive spesifik atau skizofrenia.

Catatan: berbeda dengan autis infantil asperger baru dapat terdeteksi saat umur 6 11 tahun.

SKALA ASPERGER (By M.S. Garnett and A.J. Attwood)

Kuesioner berikut ini di dibuat untuk mengidentifikasi perilaku dan kemampuan dari Asperger Sindrom pada anak-anak usia sekolah dasar yang merupakan saat dimana pola perilaku dan kemampuan mereka dapat dengan jelas dapat diamati. Masing-masing pertanyaan berikut memiliki peringkat skor dimulai dari angka nol (0) atau sama dengan tingkat rata-rata dari anak normal: 0 =jarang (jrg), 6 = sering.

Kuesioner:

KEMAMPUAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

  • 1. Apakah anak tersebut kurang memiliki pemahaman mengenai bagaimana cara bermain

dengan anak lain? Contohnya, tidak menyadari akan adanya aturan permainan yang tak tertulis?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 2. Jikalau sedang bebas bermain dengan anak lain, saat makan siang di sekolah, apakah

anak tersebut menolak melakukan kontak social dengan anak lain? Misalnya, ia lebih

suka memilih tempat yang sunyi atau pergi ke ruang perpustakaan?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 3. Apakah anak tersebut tampaknya tidak menyadari akan kebiasaan sosial atau tata cara

bertingkah laku lalu melakukan tindakan dan memberikan komentar-komentar yang tidak pada tempatnya? Contohnya, dia melontarkan suatu komentar pribadi kepada seseorang,

Gangguan Perkembangan Pervasif

16
16

sedangkan dia sendiri tampaknya tidak sadar bahwa ucapannya itu akan membuat orang lain marah?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 4. Apakah anak tersebut biasanya mengharapkan orang lain mengerti perasaan-perasaan,

pengalaman dan pendapat-pendapat mereka? Misalnya dia, tidak menyadari bahwa kita tidak dapat mengetahui hal tersebut karena pada saat itu kita tidak berada disamping dia?.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 5. Apakah anak tersebut perlu selalu diyakinkan kembali, terutama ketika ada perubahan

atau jika terjadi sesuatu kesalahan?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 6. Apakah anak tersebut tidak dapat mengekpresikan pengalaman-pengalaman

emosionalnya? Contohnya, anak tersebut memberikan reaksi tertekan atau mengasihi

yang tidak sesuai dengan suatu situasi/keadaan ?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 7. Apakah anak tersebut kurang memiliki kemampuan dalam mengexpresikan emosinya?

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 8. Apakah anak tersebut tidak berminat untuk ikut serta dalam pertandingan olah raga,

permainan dan aktivitas lainnya? Angka nol (0) berarti anak tersebut menyukai pertandingan olah raga.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 9. Apakah anak tersebut berbeda terhadap trend anak sekarang atau tekanan teman?

Angka nol (0) berarti bahwa anak tersebut tergila-gila trend. Contohnya, anak tidak

menuruti trend mutakhir dalam memilih mainan atau baju-baju?

|0|1|2|3|4|5|6|

Gangguan Perkembangan Pervasif

17
17

KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

1. Apakah anak tersebut kurang menerima secara harafiah suatu penjelasan dari suatu kritik? Misalnya ia menjadi bingung mengartikan idiom seperti 'pull your socks up - berusahalah', atau 'looks can kill - pandangan yang mematikan' atau 'hop on the scales - melompat lebih tinggi' ?

|0|1|2|3|4|5|6|

2. Apakah anak tersebut memiliki nada suara yang tidak biasa? Misalnya, anak tersebut memiliki tekanan suara yang terdengar asing di telinga atau suaranya membosankan, atau tidak ada tekanan pada kata-kata kunci/utama?

|0|1|2|3|4|5|6|

3. Pada saat berbicara apakah anak tersebut cenderung jarang memandang lawan bicaranya sebagaimana kita harapkan?

|0|1|2|3|4|5|6|

4. Apakah anak tersebut berbicara terlalu teliti atau memperlihatkan pengetahuannya, misalnya cara berbicaranya terlalu formal atau mirip kamus berjalan?

|0|1|2|3|4|5|6|

5. Apakah anak tersebut punya masalah dalam memperbaiki suatu percakapan? Contohnya jika kebingungan mereka (perempuan atau laki-laki) tidak meminta penjelasan namun hanya beralih pada suatu topik yang mereka kenal atau perlu waktu lama untuk mencari jawabannya.

|0|1|2|3|4|5|6|

KEMAMPUAN PENGENALAN/KOGNITIF

1. Apakah anak tersebut membaca buku khusus untuk mencari informasi, dan tidak tertarik pada bacaan fiksi? Misalnya anak

Gangguan Perkembangan Pervasif

18
18

tersebut gemar membaca buku ensiklopedi atau buku ilmu pengetahuan, namun tidak senang dengan buku cerita tentang petualangan.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 2. Apakah anak tersebut memiliki daya ingat yang kuat mengenai sesuatu kejadian atau

fakta? Misalnya mampu mengingat nomor plat mobil milik tetangga yang dilihatnya beberapa tahun lalu, atau dengan mudah dapat mengingat kembali suatu kejadian beberapa tahun yang lalu.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 3. Apakah anak tersebut kurang memiliki imajinasi sosial, misalnya tidak mengikut

sertakan anak-anak lain dalam permainan imajinasinya atau dia menjadi bingung ketika ikut serta dalam permainan berpura-pura dengan anak lain.

|0|1|2|3|4|5|6|

MINAT KHUSUS

  • 1. Apakah anak tersebut merasa kagum pada suatu topik khusus dan kemudian gemar

mengumpulkan informasi atau statistik mengenai topik tersebut? Misalnya anak tersebut

berubah menjadi ensiklopedi berjalan, punya pengetahuan mengenai kendaraan, peta-peta ataupun table liga sepak bola.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 2. Apakah anak tersebut menjadi marah atau kecewa berlebihan karena adanya suatu

perubahan dari keadaan biasanya, atau terjadi perubahan di luar harapannya? Misalnya:

dia kesal jika pergi ke sekolah melewati rute perjalanan yang lain dari biasanya.

|0|1|2|3|4|5|6|

  • 3. Apakah anak tersebut mengerjakan (mengembangkan) suatu rutinitas atau ritual yang

harus diselesaikan? Umpamanya menempatkan mainannya dengan sejajar sebelum pergi tidur.

Gangguan Perkembangan Pervasif

19
19

|0|1|2|3|4|5|6|

KELINCAHAN DALAM BERGERAK

1. Apakah anak tersebut memiliki koordinasi motorik yang lemah? Misalnya kurang cepat menangkap bola.

|0|1|2|3|4|5|6|

2. Apakah anak tersebut berlari dengan cara yang aneh?

|0|1|2|3|4|5|6|

KARAKTER / SIFAT LAIN

Untuk bagian ini, beri tanda silang jika anak menunjukkan tanda-tanda yang dapat memperlihatkan sifat mereka seperti dibawah ini:

  • a. Rasa takut yang tidak biasa karena:

o Bunyi yang wajar, misalnya ala-alat elektronik. [_] o Sentuhan lembut dikulit atau kepala, [_] o Menggunakan aksesori atau benda tertentu dalam berpakaian, [_] o Suara berisik yang tiba-tiba,[_]

o Melihat sesuatu obyek/barang, [_] o Kebisingan, berada di suatu tempat yang bising misalnya supermarket [_]

b.

Cenderung

menepuk-nepuk

atau

kegembiraan atau suatu kekesalan[_]

bergoncang-goncang

bila

sedang

dilanda

  • c. Kurang sensitif terhadap rasa sakit yang tidak terlalu parah. [_]

  • d. Lamban dalam menjawab pertanyaan [_]

  • e. Memperlihatkan mimik wajah yang aneh/lucu [_]

Gangguan Perkembangan Pervasif

20
20

2.1.3 Syndrome Rett 4,6

Gangguan RETT dikenalkan oleh Andreas Rett (1965) untuk menjelaskan perkembangan 22 anak perempuan yang mengalami perkembangan normal selama sekurangnya enam bulan, diikuti oleh pemburukan perkembangan yang menakutkan. Prevalensi kejadian antara 67 per 100.000 anak perempuan. Adapun kriteria diagnostik sindrom RETT menurut DSM-IV adalah sebagai berikut:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Rett

  • A. Semua berikut:

1) Perkembangan pranatal dan perinatal yang tampaknya normal.

2) Perkembangan psikomotor yang tampaknya normal selama lima bulan pertama setelah lahir.

3) Lingkaran kepala yang normal saat lahir.

  • B. Onset semua berikut ini setelah periode perkembangan normal:

1) Perlambatan pertumbuhan kepala antara usia 5 dan 48 bulan.

2) Hilangnya keterampilan tangan bertujuan yang sebelumnya telah dicapai antara usia 5 dan 30 bulan dengan diikuti perkembangan gerakan tangan stereotipik (misalnya, memuntirkan tangan atau mencuci tangan).

3) Hilangnya keterlibatan sosial dalam awal perjalanan (walaupun seringkali interaksi sosial tumbuh kemudian).

4) Terlihatnya gaya berjalan atau gerakan batang tubuh yang terkoordinasi secara buruk.

5) Gangguan parah pada perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif dengan retardasi psikomotor yang parah.

Catatan: Yang membedakan gangguan Rett dengan Autis:

Gangguan Perkembangan Pervasif

21
21
  • A. Pada gangguan autis penyimpangan perkembangan secara umum terjadi sejak awal.

  • B. Pada gangguan Rett, gerakan tangan yang spesifik dan karakteristik selalu ditemukan,

sementara pada autis tidak.

  • C. Koordinasi yang buruk, ataxia dan apraxia banyak ditemukan pada gangguan Rett.

  • D. Gangguan verbal biasanya hilang sama sekali.

  • E. Pada gangguan Rett kejang ditemukan sejak awal, sementara pada gangguan autis

biasanya sering terjadi pada masa remaja.

  • F. Adanya disorganisasi pernafasan.

2.1.4 Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak 4,6

Dikenal juga sebagai sindroma Heller dan psikosis disintegratif, dijelaskan pertama kali pada tahun 1908. Prevalensi kejadian kira-kira 1 dari 100.000 anak laki-laki. Adapun kriteria diagnostik gangguan disintegratif masa anak-anak seperti dijelaskan dalam DSM-IV adalah sebagai berikut:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak

  • A. Pertumbuhan yang tampaknya normal selama sekurangnya dua tahun pertama setelah

lahir seperti yang ditunjukkan oleh adanya komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai

dengan usia, hubungan sosial, permainan dan perilaku adaptif.

  • B. Kehilangan bermakna secara klinis keterampilan yang telah dicapai sebelumnya

(sebelum usia 10 tahun) dalam sekurangnya bidang berikut:

1) Bahasa ekspresif atau reseptif 2) Keterampilan sosial atau perilaku adaptif. 3) Pengendalian usus atau kandung kemih. 4) Bermain. 5) Keterampilan motorik.

Gangguan Perkembangan Pervasif

22
22
  • C. Kelainan fungsi dalam sekurangnya dua bidang berikut:

1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (misalnya, gangguan dalam perilaku non verbal, gagal untuk mengembangkan hubungan teman sebaya, tidak ada timbal balik sosial atau emosiaonal).

2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi (misalnya, keterlambatan atau tidak adanya bahasa ucapan, ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan suatu percakapan, pemakaian bahasa yang stereotipik dan berulang, tidak adanya berbagai permainan khayalan).

3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, termasuk stereotipik dan manerisme motorik.

  • D. Gangguan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan perkembangan pervasif spesifik

lain atau oleh skizofrenia. 2.1.5 ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) 6

Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia. Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.

POLA PERHATIAN

  • A. Over Esklusif: anak hanya fokus pada suatu yang menarik perhatiannya tanpa

mempedulikan hal lain secara ekstrim (Autism).

  • B. Perhatian mudah teralihkan & hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu

rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat (ADHD).

  • C. Hiperaktifitas: suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkat

tertentu ya menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yg berbeda.

Gangguan Perkembangan Pervasif

23
23

PREVALENSI KEJADIAN

  • A. Sekitar 3 10 %, di Amerika sekitar 3 7 % sedang di Jerman, Canada &

Selandia Baru sekitar 5 10 %.

  • B. Di Indonesia angka kejadiannya masih belum pasti.

  • C. Prevalensi kejadian pada anak usia sekolah 3 5 % (DSM IV).

  • D. Secara epidemologis perbandingan antara anak laki-laki & perempuan adalah

4:1

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan ADHD

PREVALENSI KEJADIAN A. Sekitar 3 – 10 %, di Amerika sekitar 3 – 7 % sedang

Gangguan Perkembangan Pervasif

24
24
FAKTOR PENYEBAB A. Faktor genetik. B. disfungsi Adanya sirkuit neuron diotak yang dipengaruhi dopamine sebagai neurotransmitter

FAKTOR PENYEBAB

  • A. Faktor genetik.

  • B. disfungsi

Adanya

sirkuit

neuron

diotak

yang

dipengaruhi

dopamine

sebagai

neurotransmitter pencetus gerakan & sebagai kontrol aktivitas diri.

  • C. Kerusakan jaringan otak (brain demage).

  • D. Kerusakan susunan syaraf pusat.

GANGGUAN YANG MENYERTAI

  • A. Gangguan belajar.

  • B. Depresi.

  • C. Kecemasan.

Gangguan Perkembangan Pervasif

25
25
  • D. Kepribadian anti sosial.

  • E. Perilaku obsesif kompulsif.

2.1.6 Retardasi Mental 3,6 KRITERIA DIAGNOSTIK UNTUK RM

  • A. IQ kira-kira 70 atau kurang pada tes IQ (Individual).

  • B. Adanya defisit atau gangguan yang menyertai dalam fungsi adaptif sekarang (yaitu:

efektivitas orang tersebut untuk memenuhi standar-standar yang dituntut menurut usianya dan kelompok kulturalnya) pada sekurangnya dua bidang keterampilan berikut:

komuikasi, merawat diri sendiri, dirumah, keterampilan interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan diri sendiri, keteramplilan akademik fungsional, pekerjaan, kesehatan, liburan dan keamanan.

  • C. Onset sebelum usia 18 tahun.

KLASIFIKASI RM

  • A. RM ringan: IQ 50-55 sampai kira-kira 70.

  • B. RM sedang: IQ 35-40 sampai 50-55.

  • C. RM berat: IQ 20-25 sampai 35-40.

  • D. RM sangat berat: IQ dibawah 20 atau 25.

Catatan: keparahan tidak ditentukan: jika terdapat kecurigaan kuat adanya RM tetapi IQ pasien tidak dapat diuji oleh tes IQ baku.

FAKTOR PENYEBAB

  • A. Faktor sosial ekonomi, genetik & lingkungan sosial.

  • B. Keruskan fisik otak.

  • C. Usia ibu hamil, radiasi, infeksi virus.

Gangguan Perkembangan Pervasif

26
26

D. Phenylketunuria (PKU) atau gangguan metabolisme bawaan. E. Kelainan Kromosom

1. Down Sindrom. Diagnosis: Hambatan bahasa, daya ingat, keterampilan bina diri, memecahkan masalah (pada usia 30 tahun), rata-rata IQ kurang dari 50 (penurunan terus terjadi mulai usia 1 s/d 30 tahun). Catatan: penderita down sindrom kebanyakan hidup tidak lebih dari 40 tahun.

2. Sindrom X Rapuh. Fenotip: Kepala besar & Panjang, perawakan pendek. Diagnosis: gangguan hiperaktivitas, gangguan belajar & gangguan pervasif. Catatan: Fungsi Intelektual mulai menurun pada periode pubertal.

D. Phenylketunuria (PKU) atau gangguan metabolisme bawaan. E. Kelainan Kromosom 1. Down Sindrom. Diagnosis: Hambatan bahasa,
D. Phenylketunuria (PKU) atau gangguan metabolisme bawaan. E. Kelainan Kromosom 1. Down Sindrom. Diagnosis: Hambatan bahasa,

Gangguan Perkembangan Pervasif

27
27

2.1.7 Cerebral Palsy 6

Celebral Palsy atau CP adalah penyakit yg mengenai pusat pengendalian pergerakan tubuh karena terjadi perkembangan yang salah atau adanya kerusakan pada area motorik otak sehingga mengganggu kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan dan postur. Ditemukan oleh william little (1860) untuk menjelaskan kesulitan anak dalam memegang objek, merangkak dan berjalan pada beberapa tahun pertama. Kondisi tersebut dulu disebut little deseases yg sekarang dikenal dengan spastic diplegia. Merupakan salah satu penyakit yang mengenai pengendalian pergerakan dan masuk dalam terminologi cerebral palsy (CP). Prevalensi kejadiannya adalah 1.2 2.5 per 1000 anak usia dini , sedang khusus untuk CP Kongenital derajad sedang berat mencapai 1,2 per 1000 anak usia 3 tahun.

GEJALA-GEJALA GANGGUAN CP

  • A. Kesulitan Motorik Halus Ex. Menulis, Menggunting, keseimbangan dan berjalan, atau.

  • B. Gerakan involunter Ex. Sulit mengontrol gerakan menulis atau selalu mengeluarkan

air liur.

  • C. CP berat menyebabkan tidak dapat berjalan.

  • D. Penderita CP juga sering menderita penyakit lain, missal: Kejang dan Retardasi

mental.

KLASIFIKASI CP

  • A. CP SPASTIK (70-80 %): Otot mengalami kekakuan & secara permanen akan menjadi

kontraktur (monoplegi, diplegia, triplegia, Quadriplegia, Hemiplegia).

  • B. CP ATETOIT: Gerakan menulis tidak terkontrol, menyeringai, selalu mengeluarkan

air liur.

  • C. CP ATAKSIT (5-10 % CP): Menunjukkan koordinasi yang buruk, missal: Berjalan

tidak seimbang, kesulitan melakukan gerakan cepat.

  • D. CP CAMPURAN

Gangguan Perkembangan Pervasif

28
28

GANGGUAN YANG MENYERTAI

  • A. Gangguan Mental (1/3 dengan gangguan ringan, 1/3 dengan gangguan berat&sedang,

1/3 normal).

  • B. Kejang.

  • C. Gangguan pertumbuhan.

  • D. Gangguan penglihatan & pendengaran.

  • E. Gangguan pada sensai & persepsi

2.1.8 Speech Delay 6

Keterlambatan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 10% pada anak sekolah.

KRITERIA DIAGNOSTIK GANGGUAN SPEECH DELAY

Untuk mengetahui apakah anak mengalami gangguan keterlambatan bicara atau tidak, perlu dilakukan observasi yang menyangkut beberapa pertanyaan berikut, apakah anak sudah dapat melakukan hal-hal berikut:

  • A. Mengucapkan perulangan suku kata antara umur 12 15 bulan.

  • B. Mengerti kata-kata sederhana (seperti “tidak”) setelah umur 18 bulan.

  • C. Berbicara dengan kalimat pendek setelah mencapai umur sekitar 3 tahun.

  • D. Bercerita dengan cerita sederhana saat berumur 4 5 tahun.

  • E. Atau dengan melakukan perbandingan dengan tahapan perkembangan bahasa pada

anak normal. PENYEBAB GANGGUAN SPEECH DELAY

Gangguan Perkembangan Pervasif

29
29

A.

Retardasi mental.

B.

Gangguan pendengaran.

C.

Gangguan bicara karena kelainan orang bicara. Kelainan ini meliputi lidah pendek,

kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah),

kelainan bibir sumbing (palatoschizis atau cleft palate).

D.

Gangguan berbahasa sentral. Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan

untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah

dengan kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat dalam bentuk kesulitan belajar.

E.

Deprivasi (tidak mendapat rangsangan yang baik dari lingkungan).

F.

Bilingual (penggunaan dua bahasa dalam keluarga).

G.

Keterlambatan fungsional. Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik,

dan anak hanya mengalami gangguan dalam fungsi ekspresif: Ciri khasnya adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis lain.

H.

Mutisme selektif. Biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau

bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua.

Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.

I.

Celebral Palsy.

J.

Autisme.

METODE APPLIED BEHAVIORAL ANALISYS (ABA)

SEJARAH

Gangguan Perkembangan Pervasif

30
30

Dikembangkan oleh Ivar Lovaas berdasar pada:

  • 1. Teori Operant Conditioning (Burrhus Frederic Skinner 1904 1990).

  • 2. Skinner

mengembangkan

Operant

Conditioning

berdasar

pada

teori

Clasical

Conditioning (Pavlop).

 
  • 3. Berawal

dari

Behaviour

Modification

yang

kemudian

dikembangkan

menjadi

Pedagogical Approach.

  • 4. Loovas menggunakan pendekatan ini sejak tahun 1964 untuk menangani anak Autis.

DASAR-DASAR TEORI LOVAAS

  • 1. Berdasar pada Behaviour Modification atau Discrete Trial Training.

  • 2. Menggunakan urutan ABC (Antecedent, Behaviour, Consequence berupa Reinforcer).

  • 3. Prompt (Fisik, Model, Verbal, Gestural, Posisional).

  • 4. Menekankan pada Kepatuhan, Kontak Mata dan Konsentrasi.

PROSEDUR PENGAJARAN ABA

  • A. Shaping

Suatu proses dimana secara bertahap kita memodifikasi perilaku anak sesuai dengan yang kita kehendaki. Shaping biasanya dilakukan dengan menyesuaikan persyaratan sebelum reinforcement diberikan. Contohnya, jika anak belajar mengucapkan suatu kata, pada awalnya anak akan diminta untuk memegang bendanya sebelum mendapatkan benda tersebut. Kemudian, kita minta anak menirukan suara awal, suku kata dan akhirnya keseluruhan kata.

  • B. Chaining

Pada dasarnya chaining berarti bahwa skill dipecah-pecah menjadi unit terkecil atau termudah dan diajarkan sedikit demi sedikit. Chaining ada dua macam: forward atau backward, yang dipakai untuk mengajarkan suatu skill baru.

Gangguan Perkembangan Pervasif

31
31
  • C. Prompting

Bantuan yang diberikan oleh instruktur supaya anak dapat memberikan respon yang benar. Salah satu perbedaan pokok antara kebanyakan ABA tradisional dan model Verbal Behaviour Analisis (VB) adalah penggunaan “errorless learning” pada model VB sedangkan pada model ABA tradisional menggunakan prosedur “tidak, tidak, prompt”.

  • D. Fading

Ini adalah bagian yang paling kritikal dari mengajari anak, jangan sampai anak menjadi tergantung pada prompt. Bentuk prompt apapun harus berangsur-angsur dikurangi sesuai dengan kemampuan anak.

  • E. Differential Reinforcement

Reinforcement adalah bagian yang paling penting dari pengajaran. Reinforcement adalah memberikan respon terhadap perilaku anak dan respon tersebut dapat meningkatkan perilaku tersebut. Differential artinya bahwa reinforcement tingkatnya berbeda-beda tergantung dari respon anak.

Tugas yang lebih sulit diberi reinforcer yang lebih ketimbang tugas yang mudah. Reinforcer ini harus diganti-ganti secara sistematik supaya anak mau memberikan respon yang sesuai dalam berbagai kondisi.

BEBERAPA

HAL

YANG

PERLU

DIKETAHUI

SEBELUM

MELAKUKAN

TERAPI DENGAN METODE ABA

  • A. Perilaku Autistik (exces atau deficit).

Exces : Tantrum, Stimulasi diri (hand-flapping, rocking, lining, spinning), Self-abuse, Agresi. Deficit : Bicara (sedikit suara, meracau, membeo), Sosial (menganggap orang sebagai suatu benda), Sensasi (disangka tuli), Bermain (putar roda mobil-mobilan, Emosi tak sesuai (menjerit atau tertawa dengan sedikit provokasi, hanya bengong saat dikelitiki).

Gangguan Perkembangan Pervasif

32
32
  • B. Metode pengajaran.

    • 1. Sistem one on-one.

    • 2. Instruksi spesifik yang singkat, jelas, dan konsisten.

    • 3. Awalnya perlu prompt + reinforcer.

    • 4. Berulang-ulang sampai respon tanpa prompt.

    • 5. Respon sederhana dikombinasikan dan divariasikan.

    • 6. Membangun respons yang kompleks.

    • 7. Kemudian dilakukan generalisasi secara bertahap.

      • a. Dimulai dari one on-one.

      • b. Kelompok kecil.

      • c. Kelompok besar.

  • C. Persiapa

    • 1. Persiapan orang tua.

    • 2. Persiapan Sarana (kamar khusus, 3 kursi, meja belajar, meja atau rak 2 buah

  • untuk alat-alat/bahan/perlengkapan, lemari penyimpan alat/bahan, lembar rencana

    pelajaran, lembar penilaian, alat-alat tulis

    • 3. Persiapan Terapis.

    • D. Kurikulum

      • 1. Mulai dengan sejumlah kecil.

        • a. Pilih 15 20 kegiatan dalam 3 6 bulan.

        • b. Mulai 3 5 kegiatan, tingkatkan bertahap. 1) Membiasakan anak.

    Gangguan Perkembangan Pervasif

    33
    33

    2) Membiasakan terapis.

    • 2. Mula-mula meningkatkan reseptif atau kognitif.

    • 3. Mengajarkan konsep-konsep.

    • 4. Umumnya kegiatan bejalar selesai sekitar 23 jam (termasuk istirahat).

    • 5. Per satu tugas atau aktivitas selesai 25 menit.

    • 6. Pada akhir dari setiap jam umumnya istirahat 1520 menit.

    • 7. Untuk makan kecil, bermain bebas, aktivitas lain (awalnya bebas, kemudian

    sedapatnya terarah walau kurang terstruktur).

    • 8. Istirahat bukan keharusan.

    E. Instruksi

    • 1. Singkat jelas konsisten

    • 2. Hanya sekali

    • 3. Hemat kata hemat gerakan

    • 4. Bahasa indonesia yang baik dan benar

    • 5. Suara netral (tegas, keras, bukan membentak).

    • 6. Siklus pemberian instruksi

    Instruksi #1: Tidak bisa“Tidak” Instruksi #2: Tidak bisa“Tidak” Instruksi #3+promptimbalan

    Gangguan Perkembangan Pervasif

    34
    34

    3.1 Kesimpulan

    BAB III

    PENUTUP

    Gangguan perkembangan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik dimana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa kanak kanak awal umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan dan menyebabkan disfungsi yang bersistem.

    Gangguan perkembangan meluas (PDDs) mengacu pada sekelompok kondisi yang mempengaruhi perkembangan anak-anak dan melibatkan penundaan atau gangguan dalam komunikasi dan sosialisasi serta keterampilan. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara mendalam. Autisme adalah yang paling terkenal dari gangguan perkembangan ini, sehingga PDDs juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme. PDDs juga termasuk dalam Sindrom Asperger dan dua kondisi yang kurang lazim disebut gangguan disintegratif masa kanak-kanak dan Rett syndrome. Biasanya, pertama- tama PDDs didiagnosis selama masa bayi, balita, atau anak usia dini. Tanda PDD biasanya dikenali sebelum anak berusia 3 tahun. Namun, gejala-gejala dapat berkisar dari berat kepada begitu halus sehingga mereka tampaknya aspek normal dari perkembangan anak muda.

    Gangguan Perkembangan Pervasif

    35
    35

    Daftar Pustaka

    1)

    Attwood Tony. 2005. Sindrom Asperger. Jakarta:Serambi.

    2)

    Hadis Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung:Alfabeta.

    3)

    Kaplan Harold & Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid-2. Jakarta: Binarupa Aksara.

    4) MinnesotanAssociationnfornChildren’snMentalnHealth.(www.macmh.org/publications/e

    5)

    cgfactsheets/PDD.pdf).[diakses : 10 september 2014] Semiun,Yustinus,Drs,OFM.2006.Kesehatan Mental 2.Kanisius:Jakarta

    6) QuantumnSpecialnNeednTrainingnCenter:nPedomannDiagnosis.(http://www.scribd.com/

    [diakses 12 september 2014]

    Gangguan Perkembangan Pervasif

    36
    36