Anda di halaman 1dari 26

iii

ABSTRAK
Penelitian Tindakan kelas dilaksanakan di SMKN 1 Kuala Kapuas bermaksud
untuk memperbaiki dan meningkatkan strategi belajar mengajar guru, agar lebih efektif.
Selama ini pelajaran kewirausahaan dianggap membosankan dan tidak merespon tindakan
guru, sehingga dari hasil penelitian selalu menurun.
Disamping itu guru belum merencanakan dan melaksanakan strategi dan teknik-
teknik pembelajaran sesuai yang diharapkan. Kondisi ini dirumuskan dalam masalah
bahwa siswa tidak menyukai pelajaran Kewirausahaan melalui Penelitian Tindakan Kelas
disusunlah strategi dan teknik-teknik pembelajaran untuk menjawab pertanyaan diatas
antara lain :
1. Menyajikan metode yang bervariasi selain ceramah, yaitu diskusi kelompok atau
kooperatif learning.
2. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil antara 5-6 orang masing-masing
kelompok diminta untuk membahas materi / konsep yang telah ditetapkan pada
tiap-tiap siklus.
3. Mengkaji ketergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima informasi
antara anggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berpikir.
4. Menyediakan kesempatan berlatih berbicara dan mengeluarkan pendapat dan
menyampaikan informasi.
5. Menciptakan situasi belajar mengajar yang bermakna yaitu berupa kegiatan nyata
dalam interaksi pembelajaran dengan kata lain siswa terlibat langsung sehingga
mereka berusaha membangun makna bagi dirinya.

Setelah strategi dan teknik-teknik pembelajaran tersebut dilaksanakan dan
dievakuasi ternyata hasilnya sangat menggembirakan ada perubahan sikap siswa,
sudah menyenangi pelajaran Kewirausahaan, timbul percaya diri serta mereka
termotivasi untuk belajar Kewirausahaan.









iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan
karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dalam rangka pembuatan
Laporan Penelitian Kelas (Classroom Action Research) siswa SMKN 1 Kuala Kapuas.
Dalam pembuatan laporan ini tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Bapak Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.
2. Bapak Konsultan Pendidikan Bagian Proyek Perluasan SMK di Palangka Raya
3. Bapak Koordinator Pelatihan Mutu Guru dan Pendidikan Bagian Proyek Perluasan
SMK Palangka Raya.
4. Kepala Sekolah SMKN 1 Kuala Kapuas serta kepada semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu demi tersusunnya laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam melaksanakan tugas ini masih banyak di jumpai
kekurangan dan keterbatasan, sehingga penulis masih mengharapkan bimbingan
dan bantuan serta saran-saran dan kritik dari semua pihak demi kesempurnaan
tugas selanjutnya.









Kuala Kapuas, September 2014



Penulis


v

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... ii
ABSTRAK ................................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................................. iv
DAFTAR ISI ................................................................................................................ v
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Deskripsi Masalah .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
BAB II. KAJIAN TEORITIK DAN RENCANA TINDAKAN
A. Kajian Teori .............................................................................................. 4
1. Hakekat Diklat Kewirausahaan ........................................................... 4
2. Hakekat Hasil Belajar .......................................................................... 5
3. Pendekatan Dan Metode Pembelajara ................................................. 5
4. Pendekatan Pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) .......... 6
B. Rencana Tindakan .................................................................................... 9
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Latar Penelitian ....................................................................................... 11
B. Persiapan Penelitian ................................................................................ 11
C. Siklus Penelitian ...................................................................................... 11
D. Instrumen ................................................................................................. 12
vi

BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Siklus Pertama ......................................................................................... 13
1. Perencanaan ........................................................................................ 13
2. Pelaksanaan ........................................................................................ 13
3. Pengamatan ......................................................................................... 14
B. Siklus Kedua ............................................................................................ 14
1. Perencanaan ......................................................................................... 14
2. Pelaksanaan .......................................................................................... 15
3. Pengamatan ............................................................................................ 15
C. Siklus Ketiga .............................................................................................. 16
1. Perencanaan ........................................................................................ 16
2. Pelaksanaan .......................................................................................... 16
3. Pengamatan ............................................................................................ 17
4. Refleksi .................................................................................................. 18
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................................. 19
B. Saran ........................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA









1

BAB I. PENDAHULUAN

A. Deskripsi Masalah
Menurunnya prestasi siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMKN 1
Kuala Kapuas dalam beberapa tahun terakhir ini, karena kurang efektif nya kegiatan
dalam proses pembelajaran. Fenomena ini terkait dari minat dan motivasi siswa
yang rendah, kinerja guru yang kurang produktif, serta sarana dan prasarana yang
tidak mendukung sehingga apa yang di harapkan dalam upaya meningkatkan kualitas
pendidikan tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, justru sebaliknya levelnya
terus menurun.
Selain kemungkinan tersbut diatas masih ada beberapa masalah pokok yang
ditemukan sebagai penyebab kurang efektifnya kegiatan dalam pembelajaran antara
lain.
1. Sebagian pelajaran yang diberikan oleh guru tidak bervariasi tetapi cenderung
bersifat ceramah sehingga siswa menjadi pasif.
2. Banyak materi pelajaran yang diberikan kepada siswa yang bersifat abstrak, diluar
kemampuan intelejen siswa SMK.
3. Suasana pembelajaran dikelas tidak menumbuhkan lingkungan belajar yang
kondusif.
4. Kerja kelompok jarang dilakukan siswa.
5. Siswa jarang bertanya untuk menumbuhkan pemahamannya dan bahkan kurang
untuk bertanya.
6. Kadang-kadang guru kurang untuk memahami konsep yang akan diajarkan.
Dari masalah tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa guru belum
menggunakan strategi pembelajaran di atas yaitu dengan experimen penelitian
tindakan kelas (Class Action Research) yang merupakan implementasi dari hasil
pelatihan Proyek Peluasan dan Peningkatan untuk SMK di Kuala Kapuas, dengan
2

metode pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan judul yang diangkat oleh
peneliti.

B. Rumusan Masalah
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini permasalahan atau fokus yang akan
diteliti adalah :
1. Siswa kelas X
A1
SMKN 1 Kuala Kapuas tidak mampu meningkatkan prestasi
belajar kewirausahaan.
2. Penilitian Tindakan Kelas (PTK) percaya bahwa hal ini terjadi karena metode
mengajar yang digunakan adalah kurang bervariasi.
3. Penilitian Tindakan Kelas (PTK) menginginkan siswa kelas X
A1
SMKN 1 Kuala
Kapuas mampu meningkatkan prestasi belajar kewirausahaan.
4. Oleh karena itu Penilitian Tindakan Kelas (PTK) SMKN 1 Kuala Kapuas Cawu 1
melalui Kooperatif Learning.

C. Tujuan Penilitian
Tujuan penilitian Action Research adalah :
1. Meniliti siswa kelas X
A1
SMKN 1 Kuala Kapuas yang kurang berminat belajar
kewirausahaan.
2. Mengetahui kemampuas siswa kelas X
A1
SMKN 1 Kuala Kapuas dalam belajar
Kewirausahaan.
3. Mengetahui dampak penggunaan metode kooperatif Learning dalam
meningkatkan prestasi belajar Kewirausahaan.





3

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
- Dapat meningkatkan minat belajar siswa.
- Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep.
- Meningkatkan kesiapan dalam menerima hasil pembelajaran.
2. Bagi Guru
- Memberi sumbangan pengetahuan pada guru lain tentang penelitian
Action Research.
- Mengetahui kekurangan / kemampuan guru sebagai peneliti.
- Meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan teknik yang
bervariasi.
- Memperbaiki diri sendiri sebagai guru dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar
3. Kegiatan proses belajar mengajar dibagi dalam kelompok-kelompok kecil
antara lain 5-6 orang.
4. Pemberian pengalaman belajar yang bermakna seperti diskusi kelompok, tanya
jawab, tugas-tugas yang kontektual.
5. Penggunaan metode / teknik belajar yang bervariasi.





4

BAB II. KAJIAN TEORITIK DAN RENCANA TINDAKAN

A. Kajian Teori
Sejumlah teori yang dibahas pada bab ini meliputi: hakekat Diklat
Kewirausahaan, hakekat hasil belajar, pendekatan pembelajaran, dan Experiential
Learning Cycle (ELC).
1. Hakekat Diklat Kewirausahaan
Diklat merupakan kependekan kata dari pendidikan dan latihan. Adapun
pendidikan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bahwa
pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan (Depdiknas, 2005: 263). Sedangkan latihan diartikan
sebagai belajar dan membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu
(Depdiknas, 2005: 643). Selanutnya, pada bahan ajar Diklat Manajemen,
dikemukakan bahwa pelatihan merupakan proses pembelajaran yang
memungkinkan pegawai melaksanakan pekerjaan yang sekarang sesuai dengan
standar (Depdiknas(d), 2007: 2). Sehingga Diklat dapat didefinisikan sebagai
kegiatan belajar untuk pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang agar lebih dewasa dan mampu melakukan sesuatu. Adapun
menurut Kata kewirausahaan berasal dari kata dasar wirausaha, yang
menurut Buchari Alma (2008: 24) bahwa seorang wirausaha adalah orang
yang melihat adanya peluang, kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk
memanfaatkan peluang tersebut. Sedangkan menurut Joseph Schumpeter,
wirausaha adalah.orang yeng mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan
memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk
organisasi baru atau mengolah bahan baku baru.
Mencermati dua pengertian di atas, secara sederhana kewirausahaan
dapat diartikan sebagai kegiatan memanfaatkan peluang dengan
5

mempertimbangkan berbagai resiko untuk memperoleh keuntungan dalam
bentuk uang atau kepuasan. Mengacu pada pengertian diklat dan
kewirausahaan, maka dapat dirumuskan bahwa Diklat Kewirausahaan adalah
kegiatan belajar untuk pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang agar lebih mampu memanfaatkan peluang dan memiliki pola
pikir ekonomis yang efektif.
2. Hakekat Hasil Belajar
Belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-
perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. (WS
Winkel, 1991: 36). Hal ini menunjukkan bahwa dalam belajar terdapat
kegiatan-kegiatan seperti: melihat, mendengarkan, bertanya, mempraktikkan
atau menirukan, mendiskusikan, dan kegiatan lain untuk mengekspresikan apa
yang ada dalam pikiran.
Sedangkan untuk hasil belajar, oleh WS Winkel (1991: 38) dinyatakan
bahwa hasil belajar merupakan kemampuan baru atau penyempurnaan atau
pengembangan dari kemampuan yang telah dimiliki. Perlu diketahui pula
bahwa tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. Perubahan yang terjadi
karena kelelahan, penggunaan obat, penyakit, pertumbuhan jasmani bukan
merupakan kasus gejala belajar.
3. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran merupakan perlakuan umum yang diberikan
kepada peserta didik oleh guru, pengajar, fasilitator, atau penyaji yang lain
dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan pembelajaran memiliki peran
penting dalam kegiatan pembelajaran, karena perlakuan guru atu fasilitator
sangat berpengaruh secara psikologis bagi peserta didik. Beberapa pendekatan
pembelajaran yang digunakan selama ini meliputi: pendekatan individual,
pendekatan kelompok, pendekatan permainan, pendekatan Contextual
6

Teaching Learning (CTL), pendekatan Experiential Learning Cycle (ELC), dan
pendekatan quantum teaching-learning. Namun dalam penggunaannya harus
menyesuaikan dengan kondisi dan situasi kelompok/ rombongan belajar
beserta lingkungannya.
Metode pembelajaran adalah perlakuan khusus yang lebih bersifat teknis
kepada peserta didik untuk membentuk pemahaman atau pengertian,
keterampilan, dan sikap sesuai tujuan yang diharapkan. Beberapa metode yang
selama ini digunakan dalam pembelajaran meliputi: ceramah, tanya jawab,
demonstrasi, bermain peran (role play), proyek, PETRA, leittexte, Dalam
penggunannya, juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, serta
situasi pesrta didik dan lingkungannya.
4. Pendekatan Pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC)
Ada tiga hal pokok yang menjadi bahasan pada pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini, yaitu: pengertian, metode
yang relevan, dan implementasi pendekatan pembelajaran ELC.
a. Pengertian ELC
Experiential Learning Cycle (ELC) merupakan suatu pendekatan
pembelajaran yang mengacu pada siklus tingkatan gaya belajar, mulai dari
pemberian kegiatan sebagai pengalaman nyata sampai dengan aplikasi
pengembangan. Pada awalnya, Experiential Learning Cycle (ELC)ini
diperkenalkan oleh David Kolb dengan empat tingkatan gaya belajar,
meliputi: memberikan pengalaman (experiencing), melakukan tinjauan
(reviewing), menyimpulkan (concluding), dan merencanakan aplikasi
(planning for application). Namun beberapa saat kemudian, teori ini
dikembangkan oleh Anne Wyscocki, yang tadinya empat tahap
dikembangkan menjadi lima tahap, yaitu: memberikan pengalaman
(experiencing), berbagi pengalaman (sharing), mencermati permasalahan
(processing), membuat kesimpulan (generalizing), dan menerapkan
7

(applying). Hal ini dinyatakan oleh Center for Service Learning at Denison
University (CSL, 2009).
b. Metode yang Relevan dengan ELC
Sesuai dengan karakteristiknya, bahwa pada pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), bentuk pembelajarannya
lebih mengarah pada pemberian pengalaman yang dikembangkan menjadi
pengalaman baru. Karena itu metode yang digunakan dalam kegiatan
pembelajarannya harus yang lebih bisa mendukung pada
pembentukan pengalaman.nyata. Sehingga metode-metode yang relevan
dengan pendekatan pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) untuk
digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah:
1. Demonstrasi
2. Tanya jawab
3. Diskusi
4. Kerja kelompok
5. Curah pendapat (brain storming)
6. Micro teaching
c. Implementasi ELC dalam Pembelajaran
Tahap implementasi yang digunakan pada penelitian ini mengikuti
tahapan yang dikemukakan oleh Anne Wyscocki, yaitu tahapan Experiential
Learning Cycle (ELC) yang terdiri atas lima tahapan, adalah:
1. Memberikan pengalaman (experiencing).
Pada tahap ini guru dapat membuat kegiatan dengan pemberian
penugasan kepada peserta didik untuk dikerjakan, secara individual
atau kelompok. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan
pengalaman nyata kepada peserta didik, yang selanjutnya bisa
digunakan sebagai sarana diskusi untuk pembahasan lebih mendalam.

8

2. Berbagi pengalaman (sharing)
Setelah memberikan pengalaman nyata melalui kegiatan, guru dapat
menindaklanjuti hasil penugasan dengan diskusi kelompok, atau tanya
jawab untuk menanggapi hasil pemikiran yang disajikan oleh
kelompok tersebut.
3. Mencermati permasalahan (processing)
Pada tahap ini, peserta didik diminta menganisis berbagai temuan
dalam diskusi, setelah itu dikelompokkan sesuai dengan jenis
permasalahannya. Dan selanjutnya direkapitulasi untuk
dijadikan bahan pada tahap selanjutnya, yaitu pembuatan kesimpulan.
4. Membuat kesimpulan (generalizing)
Selanjutnya, setelah melakukan analisis temuan, yang harus dilakukan
adalah mengembangkan temuan-temuan menjadi prinsip-prinsip
umum. Hal ini sering disebut dengan istilah meyimpulkan.
5. Menerapkan (applying)
Tahapan terakhir dari pendekatan pembelajaran Experiential Learning
Cycle (ELC),adalah membuat perencanaan aplikasi untuk
pemanfaatan/penggunaan pada kehidupan nyata. Tentu saja yang ada
kaitannya dengan kondisi dan situasi setempat.







9

B. Rencana Tindakan

KONDISI AWAL
TINDAKAN
TINDAKAN
KONDISIN AKHIR
Peneliti belum menerapkan pendekatan pembelajaran ELC
Peserta Diklat:
Mengalami kesulitan mengembangkan pembelajaran kewirausahaan
Memanfaatkan pendekatan pembelajaran ELC
SIKLUS I
Memberikan pengalaman nyata melaluicontoh dari peragaan fasilitator
SKLUS II
Memberikan pengalaman nyata melalui mencoba langsung
Diduga melalui pemanfaatan pendekatan pembelajaran ELC dapat meningkatkan
hasil Diklat Kewirausahaan bagi guru SMK

Deskripsi Rencana Tindakan:
1. Kondisi awal, fasilitator belum memanfaatkan pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan
pembelajaran. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kelompok,
dengan metode-metode: ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan diskusi.
Hasilnya, banyak peserta Diklat yang masih mengalami kesulitan
mengembangkan pembelajaran kewirausahaan secara bervariatif.
2. Agar semua peserta Diklat dapat mengembangkan pembelajaran
kewirausahaan secara bervariatif, maka perlu tindakan yang harus dilakukan
oleh fasilitator, yaitu dengan memanfaatkan pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan
pembelajaran kewirausahaan bagi guru Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK).
10

3. Pada Sillus 1: fasilitator memanfaatkan pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan
pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk peserta Diklat,
diberikan melalui contoh-contoh yang diperagakan oleh fasilitator.
4. Pada Siklus 2: fasilitatos memanfaatkan pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan
pembelajaran. Adapun wujud pengalaman nyata untuk peserta Diklat
diberikan melalui aplikasi langsung atau mempraktikkan
langsungExperiential Learning Cycle (ELC) pada kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan topik yang ada pada modul. Aplikasi tersebut dalam
bentuk microteaching.
5. Dari kondisi siklus 1 ke siklus 2 diharapkan para peserta Diklat dapat
meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan pembelajaran
kewirausahaan secara bervariatif.
6. Pada kondisi akhir, diduga melalui pemanfaatan pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC), dapat meningkatkan hasil
Diklat kewirausahaan.








11

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting (Latar Belakang)
Latar peneltian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1. Lokasi sekolah SMKN 1 Kuala Kapuas berada dekat jalan raya.
2. Waktu belajar dilaksanakan pada waktu pagi hari.
3. Karakteristik mata pelajaran adalah Kewirausahaan.
4. Subyek penelitian adalah siswa kelas X
A1
SMKN 1 Kuala Kapuas dan sebagian
besar orang tuanya petani dan minat belajarnya rendah.
5. Guru penilitian Berizajah Diploma III pengalaman mengajar sudah 11 tahun.
B. Persiapan Penilitian
Dalam penelitian Action Research telah mempersiapkan berbagai instrumen
pengumpulan data yang berkaitan dengan pelaksanaan siklus.
1. Mempersiapkan media / alat bantu mengajar.
2. Menyusun instrumen untuk mengumpulkan data kelas berupa catatan lapangan
pribadi (guru), catatan harian siswa, angket, lembar format wawancara, tes untuk
masing-masing siklus.
C. Siklus Penelitian
Jumlah siklus penelitian terdiri dari 3 siklus dan masing-masing siklus
dilaksanakan 2 kali tatap muka, adapun pembagian pokok bahasan pada masing-
masing siklus adalah :
1. Siklus pertama tentang : Pengetahun Kewirausahaan
2. Siklus kedua tentang : Pembinaan sikap disiplin
3. Siklus ketiga tentang : Pembinanaan kemampuan kreativitas



12

Selengkapnya pembagian siklus dapat digambar sebagai berikut :
No. Siklus Pokok Bahasan / Sub Pokok Alokasi Waktu
1




2



3
I




II



III
1.1. Pengetahun Kewirausahaan
1.1.1. Pengertian Kewirausahaan
1.1.2. Tujuan Kewirausahaan
1.1.3. Ruang Lingkup Kewirausahaan

2.1 Pembinaan Sikap Disiplin
2.1.1. Arti Kata Disiplin
2.1.2. Konsep Disiplin

3.1. Pembinaan Kemampuan Kreativitas
3.1.1. Melatih Kemampuan Kreativitas
3.1.2. Menerapkan Kemampuan Kreativitas
3.1.3. Mengukur Kemampuan Kreativitas
4 Jam Pelajaran




4 Jam Pelajaran



4 Jam Pelajaran

D. Instrumen Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian, peneliti menggunakan 3 jenis instrumen untuk
mencatat hasil perlakuan pada setiap siklus.
1. Catatan Lapangan
2. Lembar Observasi
3. Lembar Tes






13

BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Siklus Pertama
1. Perencanaan
1) Guru akan menetapkan konsep / materi tentang Kewirausahaan.
2) Guru akan menyiapkan media / alat bantu.
3) Siswa akan dibagi dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelas
membahas materi tentang pengetahuan Kewirausahaan.
4) Guru akan menetapkan teknik dan cara-cara dalam melaksanakan diskusi.
5) Guru akan menjelaskan materi pelajaran yang berkaitan dengan topik yang
akan di ajarkan.
6) Guru akan memberikan kesempatan kepada siswa secara kelompok untuk
menanyakan hal-hal yang dianggap masih kurang jelas, tiap kelompok wajib
bertanya.
7) Guru akan memberikan tes.
2. Pelaksanaan
1) Guru menetapkan konsep / materi yang akan diajarkan.
2) Guru menyiapkan media / alat bantu.
3) Siswa dibagi dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelas membahas
meteri tentang pengetahuan Kewirausahaan.
4) Guru menetapkan teknik dan cara-cara dalam melaksanakan diskusi.
5) Guru menjelaskan materi pelajaran yang berkaitan dengan topik yang akan
diajarkan.
6) Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang masih belum jelas.
7) Guru memberi tes.




14

3. Pengamatan
Dari hasil pengamatan siklus pertama diperoleh gambaran berdasarkan
catatan lapangan pribadi guru Tabel : 1.
1) 20 orang siswa yang aktif mengikuti pelajaran, masing-masing aktif bertanya,
mencatat dan memperhatikan penjelasan guru dengan serius dan sungguh-
sungguh.
2) 10 orang cukup aktif mengikuti pelajaran yaitu mencatat dengan sungguh-
sungguh tetapi kadang sambil ngobrol dengan temannya.
3) 10 orang siswa yang tidak aktif mengikuti pelajaran ada yang mengantuk,
ngobrol, bermain dan sebagainya.
Dilihat dari kesiapan menerima pelajaran Tabel : 2
1) 21 Siswa yang membawa buku paket.
2) 19 orang yang tidak membawa buku paket.

B. Siklus Kedua
1. Perencanaan
Rencana pada siklus II berdasarkan hasil refleksi siklus 1 adalah :
1) Guru akan menjelaskan konsep / materi tentang sikap disiplin pada diri
sendiri dan lingkungan sebelah.
2) Siswa akan diminta untuk mengadakan diskusi kelas membahas materi yang
telah ditetapkan dalam pokok bahasan.
3) Guru akan membagi siswa dalam kelompok dengan cara pembauran siswa
kurang pandai / tidak aktif / tidak punya buku paket dengan siswa pandai /
aktif / ada buku untuk membahas materi yang telah ditetapkan dalam
suplemen teks.
4) Guru akan memantau sambil berjalan dari kelompok yang satu ke kelompok
yang lain sambil membimbing kelompok yang masih mengalami kesulitan.
15

5) Guru akan memberikan kesempatan kepada siswa secara kelompok untuk
menanyakan hal-hal yang dianggap masih kurang jelas. Tiap kelompok wajib
mengajukan pertanyaan.
6) Guru akan memberi tes secara klasikal.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan perencanaan pada siklus II adalah sebagai berikut :
1) Guru menjelaskan konsep / materi tentang pembinaan disiplin terhadap diri
sendiri dan lingkungan sekolah.
2) Siswa mengadakan diskusi kelas membahas materi yang telah ditetapkan
dalam pokok bahasan.
3) Guru akan menbagi siswa dalam kelompok dengan cara pembaharuan siswa
kurang pandai / tidak aktif / tidak punya buku paket dengan siswa pandai /
aktif / ada buku untuk membahas materi yang telah ditetapkan dalam
suplemen teks.
4) Guru memantau sambil berjalan dari kelompok yang satu ke kelompok yang
lain sambil membimbing kelompok yang masih kesulitan.
5) Guru memberikan kesempatan kepada siswa secara kelompok untuk
menanyakan hal-hal yang dianggap masih kurang jelas. Tiap kelompok wajib
mengajukan pertanyaan.
6) Guru akan memberi tes secara klasikal.
3. Pengamatan
Dari hasil pengamatan siklus II memberikan gambaran bahwa, siswa
dalam melakukan diskusi kelompok penuh antusias, baik dalam menyampaikan
pendapat, menjawab pertanyaan-pertanyaan maupun mencatat hal-hal yang penting
dari materi / konsep pembelajaran mereka sambil berdiskusi untuk bertukar
pendapat. Hampir seluruh pembicaraan siswa berkaitan dengan pokok bahasan.
Masing-masing kelompok aktif untuk membahas materi / isi dari suplemen.
Peneliti selalu memantau sambil membimbing dalam melaksanakan diskusi bila
16

ada yang menemukan kesulitan. 7 orang siswa yang tidak aktif, hanya mendengar
dan mengikuti pendapat temannya saja dan ngobrol tentang masalah lain diluar
kegiatan proses belajar mengajar berdasarkan catatan lapangan pribadi guru.
C. Siklus Ketiga
1. Perencanaan
Rencana pada siklus III berdasarkan hasil refleksi siklus II adalah :
1) Guru akan menjelaskan konsep / materi tentang pembinaan kemampuan
kreativitas.
2) Siswa akan diminta untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sulit terhadap
materi pelajaran.
3) Guru akan mengadakan diskusi membahas konsep pembelajaran yang telah
ditetapkan pada suplemen teks untuk dibagikan pada masing-masing
kelompok.
4) Guru akan membagi siswa dalam kelompok dengan cara pembaruan siswa
kurang pandai / tidak aktif / tidak punya buku paket dengan siswa pandai /
aktif / ada buku untuk membahas materi pembelajaran dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang ada pada suplemen.
5) Guru akan berjalan keliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk
memantau dan membimbing siswa yang masih mengalami kesulitan.
6) Guru akan memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal
yang belum jelas. Tiap kelompok wajib mengajukan pertanyaan.
7) Guru akan memberi tes secara klasikal.
2. Pelaksanaan
1. Guru menjelaskan konsep / materi pelajaran tentang pembinaan kemampuan
kreativitas.
2. Siswa diminta menanyakan hal-hal yang dianggap sulit terhadap materi.
17

3. Guru mengadakan diskusi membahas konsep pembelajaran yang telah
ditetapkan pada suplemen teks untuk dibagikan pada masing-masing
kelompok.
4. Guru akan membagi siswa dalam kelompok dengan cara pembaruan siswa
kurang pandai / tidak aktif / tidak punya buku paket dengan siswa pandai / aktif
/ ada buku untuk membahas materi pembelajaran dan menjawab pertanyaan
yang terdapat dalam suplemen teks.
5. Guru berjalan kelilimg dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain untuk
memantau dan membimbing kelompok yang masih mengalami kesulitan.
6. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang
belum jelas, tiap kelompok wajib mengajukan pertanyaan.
7. Guru akan memberi tes secara klasikal.
3. Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan siklus-siklus secara keseluruhan diperoleh
gambaran sebagai berikut :
Tabel 1 : Perolehan nilai siklus keseluruhan
No Skala Nilai
Siklus I Siklus II Siklus III
Keterangan
F % F % F %
1.
2.
3.
4.
80 - 100
65 - 79
55 - 69
0 - 54
8
11
7
14
20%
27%
18%
35%
10
17
5
8
25%
42%
13%
20%
12
20
4
4
28%
52%
10%
10%
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah 40 org 100% 40 org 100% 40 org 100%

Tabel 2 : Keaktifan siswa dalam PBM (catatan pribadi guru) keseluruhan
No Aspek Keaktifan Siswa
Siklus 1 Siklus II Siklus III
F % F % F %
1.
2.
3.
Aktif
Cukup Aktif
Tidak Aktif
20
10
10
50%
25%
25%
23
10
7
57%
25%
18%
25
13
2
62%
33%
5%
Jumlah 40 org 100% 40 org 100% 40 org 100%


18

Tabel 3 : Hasil siklus secara keseluruhan
No Aspek Keaktifan Siswa
Siklus 1 Siklus II Siklus III
F % F % F %
1.
2.

Siswa membawa buku paket
Siswa tidak membawa buku
paket
21
10
53%
47%


Jumlah 40 org 100%

4. Refleksi
Pada putaran siklus III terjadi peningkatan yang signifikan baik motivasi
maupun prestasi belajar siswa yang mendapat nilai amat baik meningkat dari 10
orang siswa menjadi 12 atau (28%) dari 40 orang siswa yang mendapat nilai baik
dari 17 orang siswa pada siklus II menjadi 20 orang atau (52%) dari 40 siswa
sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 8 orang siswa dari siklus II turun
menjadi 4 orang siswa atau (18%) dari 40 orang siswa.
Dari keaktifan siswa juga menjadi peningkatan yaitu 23 orang siswa yang
aktif pada siklus II meningkat menjadi 25 orang siswa pada siklus III atau (62%)
dari 40 orang siswa dan yang tidak aktif dari 7 orang siswa menjadi 2 orang siswa
atau (5%) dari 40 siswa.
Peningkatan prestasi dan motivasi siswa ini menjadi karena mereka diberi
kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berinteraksi dan kerjasama kelompok,
selain itu sikap ilmiah seperti keterbukaan menghargai pendapat orang lain, jujur,
rasa ingin tahu, maupun sikap kritis selalu tertanam pada diri siswa.
Disamping itu tidak terlepas dari sikap refleksi guru terhadap proses pembelajaran
yang dilaksanakan. Guru senantiasa melakukan refleksi diri secara kritis tentang
kemampuan mengajar untuk meningkatkan kualitas belajar.



19

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Proses
1) Teknik pembelajaran yang digunakan bervariasi.
2) Penggunaan media / alat bantu.
3) Kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan secara berkelompok.
4) Guru berjalan sambil berkeliling dari suatu kelompok ke kelompok yang
lain sambil memantau dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
5) Memberi kesempatan bertanya kepada siswa secara kelompok menanyakan
hal-hal yang kurang jelas.
6) Memberi tes kepada siswa secara klasikal setiap akhir siklus.
2. Produk
1) Dengan teknik / metode yang bervariasi siswa tidak mudah jenuh dan selalu
aktif dalam proses belajar mengajar.
2) Penggunaan media / alat bantu dapat memudahkan siswa dalam memahami
materi dengan jelas.
3) Kegiatan belajar mengajar dengan cara berdiskusi dapat melatih siswa agar
berani menyampaikan pendapatnya, semua siswa akan terlibat dalam
kegiatan PBM.
4) Prestasi belajar siswa meningkat dari tiap-tiap siklus karena guru senantiasa
memantau dan membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar.







20

B. Saran
Mengacu pada simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan
pada kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, kepada berbagai pihak terkait disarankan:
1. Untuk guru, disarankan untuk mencoba mengimplementasikan pendekatan
pembelajaran ini sebagai alternatif pengembangan pembelajaran, agar dinamika
kegiatan pembelajaran bersama siswa dapat ditingkatkan.
2. Untuk kepala sekolah, disarankan agar mencermati pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini untuk tambahan wawasan,
sebagai bekal dalam membina para guru.
3. Untuk P4TK, disarankan untuk mencermati pendekatan
pembelajaran Experiential Learning Cycle (ELC) ini agar dapat digunakan
sebagai tambahan bahan layanan kepada para guru-guru di sekolah.



















21

DAFTAR PUSTAKA

Atherton, J S. (2009). Learning and Teaching: Experiential Learning (on-line).
UK:http://www.learningandteaching.info/learning/experience.htm Accessed:
30 march 2009.
Buchari, A. (2008). Kewirausahaan. Bandung: Penerbit ALFABETA.
Center for Service Learning at Denison University (2009). Reflection
Ideas.http://www.denison.edu/service-learning/refideas.hatml.
Departemen Pendidikan Nasional (a). (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional (b). (2006). Peraturan Menteri Diknas No. 22 Tahun
2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional (c). (2007). Peraturan Menteri Diknas No. 16 Tahun
2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional (d). (2007). Prinsip-Prinsip Manajemen Pelatihan.
Jakarta: Pusdiklat Depdiknas.
ILO. (2007). Modul 1 Mari Belajar Bisinis (MBB). Jakarta: ILO
Kolb, D. (2002). Powerful Learning http://www.Learningfrom experience.com
Kunandar (20080). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rajawali Pers
Winkel, WS.(1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo.




UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
SISWA KELAS X A1 SEMESTER I MELALUI
METODE KOOPERATIF LEARNING













O
L
E
H

UNTENG, SPd., MA
NIP 19650713 198812 1 001

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
TAHUN 2012