Anda di halaman 1dari 33

1

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,
atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga pada akhirnya penulis
dapat menyelesaikan referat dengan tema Tonsilitis.
Referat ini disusun untuk melengkapi tugas di kepanitraan klinik ilmu penyakit
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher (THT-KL) di Rumah Sakit Moh.Ridwan
Meuraksa, Jakarta. Dalam menyelesaikan tugas referat ini, penulis mengucapkan terima
kasih kepada, Kolonel (Purn) dr. Tri Damijatno, Sp.THT, LetKol CKM dr. Rakhmat
Haryanto, M.Kes, Sp.THT-KL dan Mayor CKM dr. M. Andi Fathurakhman, Sp. THT-
KL sebagai pembimbing referat penulis di Kepaniteraan Klinik THT-KL Rumah Sakit
Moh.Ridwan Meuraksa, Jakarta.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk
kesempurnaan referat yang penulis buat ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga referat ini dapat bermanfaat
bagi masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa kedokteran.
Terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb

Jakarta, Agustus 2014

Penyusun,






2

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran
yang disebut cincin waldeyer.
Jaringan limfoid yang mengelilingi faring, pertama kali digambarkan
anatominya oleh Heinrich von Waldeyer, seorang ahli anatomi Jerman. Jaringan limfoid
lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini
tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah mukosa dinding faring posterior faring dan
dekat orifisium tuba eustachius (tonsil Gerlachs).
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfe yang terdapat di dalam
rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil
lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau
Gerlachs tonsil) (Soepardi, 2007). Sedangkan menurut Reeves (2001) tonsilitis
merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel. Tonsilektomi
adalah pengangkatan tonsil dan struktur adenoid, bagian jaringan limfoid yang
mengelilingi faring melalui pembedahan (Nettina, 2006)
Berdasarkan pengertian di atas kesimpulan dari penulis adalah tonsilitis
merupakan suatu peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri ataupun virus,
prosesnya bisa akut atau kronis.





3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. ANATOMI CINCIN WELDEYER
EMBRIOLOGI
Pada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke
dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil
pada bagian dorsal kantong tersebut, yang kemudian ditutupi epitel. Bagian yang
mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian, sehingga terjadi
kripta. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 - 6 kehidupan janin, berasal dari epitel
permukaan. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul
pada bulan ke 6, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. Kapsul dan jaringan ikat
lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim, dengan demikian terbentuklah
massa jaringan tonsil.

ANATOMI
Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. Bagian
terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Unsur yang lain
adalah tonsil lingual, gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang
tersebar dalam fosa Rosenmuller, di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat
orifisium tuba eustachius.
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid yang terdapat di dalam
faring, diliputi epitel skuamosa dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
didalamnya . Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsila faringeal (adenoid), tonsila
palatina (tonsil faucium), dan tonsila lingualis yang ketiga-tiganya membentuk
lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.
Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan tonsil adalah tonsila
palatina, sedang tonsila faringeal lebih dikenal sebagai adenoid.
Untuk kepentingan klinis, faring dibagi menjadi 3 bagian utama: nasofaring,
orofaring, dan laringofaring. Satu pertiga bagian atas atau nasofaring adalah bagian
4

pernafasan dari faring dan tidak dapat bergerak kecuali palatum molle bagian bawah.
Bagian tengah faring disebut orofaring, meluas dari batas bawah palatum molle sampai
permukaan lingual epiglotis. Bagian bawah faring dikenal dengan nama hipofaring atau
laringofaring, menunjukkan daerah jalan nafas bagian atas yang terpisah dari saluran
pencernaan bagian atas.
Pada orofaring yang disebut juga mesofaring, terdapat cincin jaringan limfoid
yang melingkar dikenal dengan Cincin Waldeyer, terdiri dari Tonsila pharingeal
(adenoid), Tonsila palatina, dan Tonsila lingualis.

Gambar 1. 1.Pharyngeal tonsil, 2. Palatine tonsil , 3. Lingual tonsil, 4. Epiglottis


Gambar 2. Anatomi cincin waldayer

5

Tonsila Faringeal (adenoid)
Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan
limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut
tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau
kantong diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di
bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus.
Adenoid terletak pada nasofaring yaitu pada dinding atas nasofaring bagian
belakang. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan
posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius
Pada masa pubertas adenoid ini akan menghilang atau mengecil sehingga jarang sekali
dijumpai pada orang dewasa. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak.
Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun
kemudian akan mengalami regresi.
Apabila adenoid membesar maka akan tampak sebagai sebuah massa yang
terdiri dari 4-5 lipatan longitudinal anteroposterior serta mengisi sebagian besar atas
nasofaring. Berlainan dengan tonsil, adenoid mengandung sedikit sekali kripta dan letak
kripta tersebut dangkal. Tidak ada jaringan khusus yang memisahkan adenoid ini
dengan m. konstriktor superior sehingga pada waktu adenoidektomi sukar mengangkat
jaringan ini secara keseluruhan. Adenoid mendapat darah dari cabang-cabang faringeal
A. Karotis interna dan sebagian kecil dari cabang-cabang palatina A. Maksilaris. Darah
vena dialirkan sepanjang pleksus faringeus ke dalam V. Jugularis interna. Sedangkan
persarafan sensoris melelui N. Nasofaringeal yaitu cabang dari saraf otak ke IX dan juga
melalui N. Vagus.
Tonsila Lingualis
Merupakan kumpulan jaringan limfoid yang tidak berkapsul dan terdapat pada
basis lidah diantara kedua tonsil palatina dan meluas ke arah anteroposterior dari papilla
sirkumvalata ke epiglottis. Jaringan limfoid ini menyebar ke arah lateral dan ukurannya
mengecil. Dipisahkan dari otot-otot lidah oleh suatu lapisan jaringan fibrosa. Jumlahnya
bervariasi, antara 30-100 buah. Pada permukaannya terdapat kripta yang dangkal
6

dengan jumlah yang sedikit. Sel-sel limfoid ini sering mengalami degenerasi disertai
deskuamasi sel-sel epitel dan bakteri, yang akhirnya membentuk detritus.
Tonsila lingualis mendapat perdarahan dari A. Lingualis yang merupakan
cabang dari A. Karotis eksterna. Darah vena dialirkan sepanjang V. Lingualis ke V.
Jugularis interna. Aliran limfe menuju ke kelenjar servikalis profunda. Persarafannya
melalui cabang lingual N. IX.
Tonsila Palatina
Tonsil terletak di bagian samping belakang orofaring, dalam fossa tonsilaris,
berbentuk oval dengan ukuran dewasa panjang 20-25 mm, lebar 15-20 mm, tebal 15
mm, dan berat sekitar 1,5 gram. Berat tonsil pada laki-laki berkurang dengan
bertambahnya umur, sedangkan pada wanita berat bertambah pada masa pubertas dan
kemudian menyusut kembali.
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa
tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus)
dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm.
Permukaan tonsil merupakan permukaan bebas dan mempunyai lekukan yang
merupakan muara dari kripta tonsil. Jumlah kripta tonsil berkisar antara 20-30 buah,
berbentuk celah kecil yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. Beberapa kripta ada
yang berjalan kearah dalam substansia tonsil dan berakhir dibawah permukaan kapsul..
Kripta dengan ukuran terbesar terletak pada pole atas tonsil dan disebut kripta superior,
normalnya mengandung sel-sel epitel, limfosit, bakteri, dan sisa makanan. Kripta
superior sering menjadi tempat pertumbuhan kuman karena kelembaban dan suhunya
sesuai untuk pertumbuhan kuman, juga karena tersedianya substansi makanan di daerah
tersebut. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong
diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar
Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
Lateral : M. konstriktor faring superior
Anterior : M. palatoglosus
Posterior : M. palatofaringeus
Superior : Palatum mole
7

Inferior : Tonsil lingual
Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat, folikel
germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan
limfoid).
Fossa tonsilaris di bagian depan dibatasi oleh pilar anterior (arkus plalatina
anterior), sedangkan di bagian belakang dibatasi oleh pilar posterior (arkus palatina
posterior), yang kemudian bersatu di pole atas dan selanjutnya bersama-sama dengan m.
Palatina membentuk palatum molle. Bagian atas fossa tonsilaris kosong dinamakan
fossa supratonsiler yang merupakan jaringan ikat longgar.
Permukaan lateral tonsil ditutupi oleh kapsula fibrosa yang kuat dan
berhubungan dengan fascia faringobasilaris yang melapisi M. konstriktor faringeus.
Kapsul tonsil tersebut masuk ke dalam jaringan tonsil, membentuk septa yang
mengandung pembuluh darah dan saraf tonsil.
Kutub bawah tonsil melekat pada lipatan mukosa yang disebut plika
triangularis, dimana pada bagian bawahnya terdapat folikel yang kadang-kadang
membesar. Plika ini penting karena sikatrik yang terbantuk setelah proses tonsilektomi
dapat menarik folikel tersebut ke dalam fossa tonsilaris, sehingga dapat dikelirukan
sebagai sisa tonsil.
Pole atas tonsil terletak pada cekungan yang berbentuk bulan sabit, disebut
sebagai plika semilunaris. Pada plika ini terdapat massa kecil lunak, letaknya dekat
dengan ruang supratonsil dan disebut glandula salivaris mukosa dari Weber, yang
penting peranannya dalam pembentukan abses peritonsil. Pada saat tonsilektomi,
jaringan areolar yang lunak antara tonsil dengan fosa tonsilaris mudah dipisahkan.

8


Gambar 3.Potongan sagital rongga hidung, rongga mulut, faring, dan laring.

Di sekitar tonsil terdapat 3 ruang potensial yang secara klinik sering menjadi tempat
penyebaran infeksi dari tonsil. Ketiga ruang potensial tersebut adalah :
1. Ruang peritonsil (ruang supratonsil)
Berbentuk hampir segitiga dengan batas-batas :
- Anterior : m. palatoglosus
- Lateral & posterior : m. palatofaringeus
- Dasar segitiga : pole atas tonsil
9

Dalam ruang ini terdapat kelenjar salivarius Weber, yang bila terinfeksi dapat menyebar
ke ruang peritonsil, menjadi abses peritonsil.
2. Ruang retromolar
Terdapat tepat di belakang gigi molar 3, berbentuk oval, merupakan sudut yang
dibentuk oleh ramus dan korpus mandibula. Di sebelah medial terdapat m. Buccinator,
sementara pada bagian postero-medialnya terdapat m. Pterygoideus internus dan bagian
atas terdapat fasikulus longus M. temporalis. Bila terjadi abses hebat pada daerah ini
akan menimbulkan gejala utama trismus disertai sakit yang amat sangat, sehingga sulit
dibedakan dengan abses peritonsil.
3. Ruang parafaring (ruang faringomaksila ; ruang pterygomandibula)
Merupakan ruang yang lebih besar dan luas serta banyak terdapat pembuluh darah
besar, sehingga bila terjadi abses, berbahaya sekali. Adapun batas-batas ruang ini adalah
- Superior : Basis kranii dekat foramen jugulare
- Inferior : Os hyoid
- Medial : M. Konstriktor faringeus superior
- Lateral : Ramus ascendens mandibula, tempat m. Pterygoideus interna dan
bagian posterior kelenjar parotis
- Posterior : Otot-otot prevertebra
Ruang parafaring ini terbagi 2 (tidak sama besar) oleh prosesus styloideus dan otot-otot
yang melekat pada prosesus styloideus tersebut :
- Ruang pre-styloid, lebih besar, abses dapat timbul oleh karena : radng tonsil,
mastoiditis, parotitis, karies gigi atau tindakan operatif.
- Ruang post-styloid, lebih kecil, di dalamnya terdapat : A. karotis interna, V.
Jugularis, N. Vagus dan saraf-saraf simpatis.
Ruang parafaring ini hanya dibatasi oleh fascia yang tipis dengan ruang retro faring.
Ruang retrofaring
Batas-batasnya adalah sebagai berikut :
- Anterior : fascia m. Konstriktor superior
10

- Posterior : fascia prevertebralis
- Superior : basis cranii
- Inferior : mediastinum setinggi bifurkasio trakea
- Lateral : parafaringeal space
Aliran Limfe Tonsil
Tonsil tidak mempunyai sistem limfatik aferen. Aliran limfe dari parenkim
tonsil ditampung pada ujung pembuluh limfe eferen yang terletak pada trabekula, yang
kemudian membentuk pleksus pada permukaan luar tonsil dan berjalan menembus M.
Konstriktor faringeus superior, selanjutnya menembus fascia bukofaringeus dan
akhirnya menuju kelenjar servikalis profunda yang terletak sepanjang pembuluh darah
besar leher, di belakang dan di bawah arkus mendibula. Kemudian aliran limfe ini
dilanjutkan ke nodulus limfatikus daerah dada, untuk selanjutnya bermuara ke dalam
duktus torasikus.



11

Vaskularisasi Tonsil
Tonsil diperdarahi oleh beberapa cabang pembuluh darah, yaitu :
- A. Palatina Ascenden, cabang A. Fasialis, memperdarahi bagian postero inferior
- A. Tonsilaris, cabang A. Fasialis, memperdarahi daerah antero-inferior
- A. Lingualis Dorsalis, cabang A. Maksilaris Interna, memperdarahi daerah antero-
media
- A. Faringeal Ascenden, cabang A. Karotis Eksterna, memperdarahi daerah postero-
superior
- A. Palatida Descenden dan cabangnya, A. Palatina Mayor dan A. Palatina Minor,
memperdarahi daerah antero-superior
Daerah vena dialirkan melalui pleksus venosus perikapsular ke V. Lingualis dan
pleksus venosus faringeal, yang kemudian bermuara ke V. Jugularis Interna. Pembuluh
vena tonsil berjalan dari palatum, menyilang bagian lateral kapsula dan selanjutnya
menembus dinding faring.


Gambar 4. Vaskularisasi Tonsil


12

Persarafan Tonsil
Persarafan tonsil berasal dari saraf trigeminus dan saraf glossopharingeus.
Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang melewati
ganglion sphenopaltina yaitu n. palatina. Bagian bawah tonsil dipersarafi n.
glossopharingeus.

II.2. FISIOLOGI
Fungsi jaringan limfoid faring adalah memproduksi sel-sel limfosit tetapi
peranannya sendiri dalam mekanisme pertahanan tubuh masih diragukan. Penelitian
menunjukkan bahwa tonsil memegang peranan penting dalam fase-fase permulaan
kehidupan terhadap infeksi mukosa nasofaring dari udara pernafasan sebelum masuk ke
dalam saluran nafas bagian bawah.
Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel
membran), makrofag, sel dendrit, dan APCs yang berperan dalam transportasi antigen
ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobin spesifik. Juga terdapat sel limfosit
B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG. Tonsil merupakan jaringan limfoid
yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang
dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-
75%:15-30%.
Tonsil merupakan organ limfotik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi
dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama
yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ
utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.
Hasil penelitian mengenai kadar antibodi pada tonsil menunjukkan bahwa
perenkim tonsil mempunyai kemampuan untuk memproduksi antibodi. Penelitian
terakhir menyatakan bahwa tonsil memegang peranan dalam memproduksi Ig-A, yang
menyebabkan jaringan lokal resisten terhadap organisme patogen.
Sewaktu baru lahir tonsil secara histologis tidak mempunyai centrum
germinativum, biasanya ukurannya kecil. Setelah antibodi dari ibu habis, barulah mulai
terjadi pembesaran tonsil dan adenoid, yamg pada permulaan kehidupan masa kanak-
13

kanak dianggap normal dan dipakai sebagai indeks aktifitas sistem imun. Pada waktu
pubertas atau sebelum masa pubertas, terjadi kemunduran fungsi tonsil yang disertai
proses involusi.
Kuman-kuman patogen yang terdapat dalam flora normal tonsil dan faring tidak
menimbulkan peradangan, karena pada daerah ini terdapat mekanisme pertahanan dan
hubungan timbal balik antara berbagai jenis kuman.
Terdapat 2 bentuk mekanisme pertahanan tubuh, yaitu :
1. Mekanisme pertahanan non spesifik
Berupa kemampuan sel limfoid untuk menghancurkan mikroorganisme. Pada
beberapa tempat lapisan mukosa tonsil sangat tipis sehingga menjadi tempat yang lemah
terhadap masuknya kuman ke dalam jaringan tonsil. Dengan masuknya kuman ke dalam
lapisan mukosa, maka kuman ini akan ditangkap oleh sel fagosit, dalam hal ini adalah
elemen tonsil. Selanjutnya sel fagosit akan membunuh kuman dengan proses oksidasi
dan digesti.
2. Mekanisme pertahanan spesifik
Merupakan mekanisme pertahanan yang penting dalam mekanisme pertahanan
tubuh terhadap udaran pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bawah. Tonsil
dapat memproduksi IgA yang akan menyebabkan resistensi jaringan lokal terhadap
organisme patogen. Disamping itu, tonsil dan adenoid juga dapat menghasilkan IgE
yang berfungsi untuk mengikat sel basofil dan sel mastosit, dimana sel-sel tersebut
mengandung granula yang berisi mediator vasoaktif, yaitu histamin. Sel basofil yang
terutama adalah sel basofil dalam sirkulasi (sel basofil mononuklear) dan sel basofil
dalam jaringan (sel mastosit).
Bila ada alergen, maka alergen tersebut akan bereaksi dengan IgE sehingga
permukaan sel membrannya terangsang dan terjadilah proses degranulasi. Proses ini
akan menyebabkan keluarnya histamin sehingga timbul reaksi hipersensitivitas tipe 1,
yaitu atopi, anafilaksis, urtikaria, dan angioedema.
Dengan teknik immunoperoksida, dapat diketahui bahwa IgE dihasilkan dari
plasma sel terutama dari epitel yang menutupi permukaan tonsil, adenoid, dan kripta
14

tonsil. Sedangkan mekanisme kerja IgA, bukanlah menghancurkan antigen akan tetapi
mencegah substansi tersebut masuk ke dalam proses imunologi, sehingga dalam proses
netralisasi dari infeksi virus, IgA mencegah terjadinya penyakit autoimun. Oleh karena
itu, IgA merupakan barier untuk mencegah reaksi imunologi serta untuk menghambat
proses bakteriolisis.
Apabila terjadi peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
waldeyer, maka dapat terjadi pembesaran tonsil, berikut pembagian menurut Thane &
Cody :
T1 : batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai jarak pilar anterior
uvula
T2 : batas medial tonsil melewati pilar anterior-uvula sampai jarak pilar
anterior-uvula
T3 : batas medial tonsil melewati pilar anterior-uvula sampai jarak pilar
anterior-uvula
T4 : batas medial tonsil melewati pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.



Gambar 5. Pembesaran Tonsil

15

BAB III
TONSILITIS
II. 3. TONSILITIS
II. 3. 1. Definisi
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam
rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil
lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau
Gerlachs tonsil) (Soepardi, 2007). Sedangkan menurut Reeves (2001) tonsilitis
merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel.

II. 3. 2. Epidemiologi
Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, terutama berusia 5 tahun dan 10
tahun dimana penyebarannya melalui droplet infection yaitu alat makan dan makanan
II. 3. 3. Etiologi
A. Tonsillitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta
hemolitikus group A,Misalnya: Pneumococcus, staphylococcus, Haemalphilus
influenza, sterptoccoccus non hemoliticus atau streptoccus viridens.
B. Bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus. Antara lain streptococcus B
hemoliticus grup A, streptococcus, Pneumoccoccus,Virus, Adenovirus, Virus influenza
serta herpes.
C. Penyebabnya infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus. Tonsil berfungsi
membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan
pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus,
sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis.


16

Faktor presdiposisi :
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu :
10

Rangsangan kronis (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
Alergi (iritasi kronis dari allergen)
Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
II. 3. 4. Patofisiologi
Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut, amandel
berperan sebagai filter, menyelimuti organism yang berbahaya tersebut sel-sel darah
putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel. Hal ini akan memicu tubuh
untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-
kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus. Infeksi bakteri dari virus
inilah yang menyebabkan tonsillitis.
Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil-tonsil epitel menjadikan
terkikis dan terjadi peradangan serta infeksi pada tonsil. Infeksi tonsil jarang
menampilkan gejala tetapi dalam kasus yang ekstrim pembesaran ini dapat
menimbulkan gejala menelan. Infeksi tonsil yang ini adalah peradangan di tenggorokan
terutama dengan tonsil yang abses (abses peritonsiler). Abses besar yang terbentuk
dibelakang tonsil menimbulkan rasa sakit yang intens dan demam tinggi (39C-40C).
Abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil menyeberang ke tengah tenggorokan.
Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga menjadi parah, pasien hanya
mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga berhenti makan.
Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan, panas, bengkak, dan kelenjar
getah bening melemah didalam daerah submandibuler, sakit pada sendi dan otot,
kedinginan, seluruh tubuh sakit, sakit kepala dan biasanya sakit pada telinga.Sekresi
yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan,belakang tenggorokan akan
17

terasa mengental. Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah
72 jam.

Gambar 6. Patofisiologi tonsillitis



Gambar 7. Patogenesis tonsillitis kronik
18

II. 3. 5. Klasifikasi

Bagan 1. Klasifikasi tonsilitis
Macam-macam tonsillitis
1. Tonsillitis akut



Gambar 7. Tonsilitis akut



19

Dibagi lagi menjadi 2, yaitu :
a. Tonsilitis viral
Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab
paling tersering adalah virus Epstein Barr.
b. Tonsilitis Bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta
hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus
viridian dan streptococcus piogenes. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel
jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit
polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus . Detritus merupakan kumpulan
leukosit, bakteri yang mulai mati.
Tonsilitis Folikularis : Adalah tonsillitis akut dengan detritus yang jelas
Tonsilitis Lakunaris : Bila bercak detritus ini memjadi satu membentuk
alur- alur .



Gambar 8. Perbedaan tonsillitis bakteri dan viral

20


Gambar 9. Dari kiri ke kanan, tonsillitis folikularis dan tonsillitis lakunaris

2. Tonsilitis membranosa
a. Tonsilitis Difteri
Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang
termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung,
faring dan laring. Sering dituemukan pada anak berusia < 10 tahun dan frekuensi
tertinggi pada usia 2 5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin
menderita penyakit ini .

Gambar 10. Tonsilitis Difteri

b. Tonsilitis Septik
Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga
menimbulkan epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan
cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
3. Angina Plout Vincent
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang
didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi
21

vitamin C. Gejala berupa demam sampai 39 C, nyeri kepala , badan lemah dan
kadang gangguan pecernaan.
4. Tonsilitis kronik
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun
dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca
kelemahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman
penyebabnya sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah
menjadi kuman golongan gram negatif.


Gambar 11. Tonsilitis kronis


II. 3. 6. Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan
(odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan
bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau.
Gejala umum yang dikeluhkan :
Nyeri seringkali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki
persyarafan yang sama ). ,Demam, tidak enak badan, sakit kepala, muntah, pasien
mengeluh ada penghalang di tenggorokan, tenggorokan terasa kering, pernafasan bau,
pada pemeriksaan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus membesar
22

dan terisi detritus, tidak nafsu makan, mudah lelah, nyeri abdomen, pucat, letargi, nyeri
kepala, disfagia (sakit saat menelan), mual dan muntah.
Tonsillitis akut :
Seperti gejala common cold, rasa gatal/ kering ditenggorokan, lesu, nyeri sendi
odinafagia, anoreksia, otalgia, suara serak (bila laring terkena), tonsil membengkak,
demam, nafsu makan menurun .
Tonsilitis memnranosa :

Angina Plaut Vincent :
Demam sampai 39C, nyeri kepala, badan lemah dan terkadnag terdapat gangguan
pencernaan, rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah .
Tonsilitis kronik :
Rasa mengganjal di tenggorokan,nafas berbau, tenggorok terasa kering,

II. 3. 7. Diagnosis
1. Fokus pengkajian menurut Firman (2006) yaitu :
a. Anamnesis
1) Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsilitis)
2) Apakah pengobatan adekuat
3) Kapan gejala itu muncul
4) Bagaimana pola makannya
23

5) Apakah rutin atau rajin membersihkan mulut
b. Pemeriksaan fisik
Tonsilitis akut :
Tonsilitis tampak hiperemis, membengkak, detritus (+) berbentuk folikel atau
lacuna atau tertutup membrane semu, kelenjar submandibular membengkak dan
nyeri tekan .
Tonsilitis membranosa :
Tonsil membengkak ditutupi bercak putih, KGB membengkak (bull neck),
kelumpuhan otot palatum dan pernafasan, demam, nyeri kepala, badan lemah,
hipersaliva, gigi dan gusi mudah berdarah, nyeri tenggorok .
Tonsilitis kronik :
Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis
yang mungkin tampak, yakni :
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan
sekitar, kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau
seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti
terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang melebar
dan ditutupi eksudat yang purulen.

Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak
antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil,
maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :
T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring




24

II. 3. 8. Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil
(Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan
medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejala-gejala.
Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotika penisilin yang lama, irigasi
tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris dengan alat
irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan infeksi
kronis atau berulang-ulang.
Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh Celsus
dalam buku De Medicina (tahun 10 Masehi). Jenis tindakan ini juga merupakan
tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan secara ilmiah oleh Lague
dari Rheims (1757).
Penatalaksanaan tonsillitis secara umum:
a. Jika penyebab bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut ) selama 10 hari,
jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
b. Pengangkatan tonsil (Tonsilektomi ) dilakukan jika:
1) Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih /tahun .
2) Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
3) Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
4) Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.

Penatalaksanaan tonsillitis adalah:
a. Penatalaksanaan tonsillitis akut :
1) Antibiotik golongan penelitian atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur
atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau
klidomisin.
2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid
untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.
3) Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi
kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3 kali negatif
25

4) Pemberian antipiretik
b. Penatalaksanaan tonsillitis kronik
1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi
konservatif tidak berhasil.

TONSILEKTOMI
Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.
Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di
nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.
Menurut The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical
Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi :

1. Indikasi Absolut (AAO)
Tonsil yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri telan yang
berat, gangguan tidur atau komplikasi penyakit-penyakit kardiopulmonal.
Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan
Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan
gambaran patologis jaringan.

2. Indikasi Relatif (AAO)
Jika mengalami tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak
menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang
memadai.
Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada tonsillitis kronis yang
tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
Tonsillitis kronis atau tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan
dengan antibiotika.
Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan
dengan keganasan (neoplastik)
26

Kontraindikasi:
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila
sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan
imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah:
1. Gangguan perdarahan, Hipertensi
2. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat
3. Anemia
4. Infeksi akut yang berat
5. Demam, albuminuria.

Kontraindikasi absolut:
a. Penyakit darah: leukemia, anemia aplastik, hemofilia dan purpura
b. Penyakit sistemik yang tidak terkontrol: diabetes melitus, penyakit jantung dan
sebagainya.
Kontraindikasi relatif:
a. Anemia (Hb <10 gr% atau HCT <30%)
b. Infeksi akut saluran nafas atau tonsil (tidak termasuk abses peritonsiler)
c. Poliomielitis epidemik
d. Usia di bawah 3 tahun (sebaiknya ditunggu sampai 5 tahun)



Gambar . Tonsilektomi

27

Tehnik Tonsilektomi



28




















29

HIPERTOFI ADENOID
Adenoid adalah masa yang terdiri dari jaringan limfoid yang terletak pada
dinding posterior nasofaring, termasuk dalam rangkaian cincin waldayer. Secara
fisiologik adenoid ini membesar pada anak usia 3 tahun dan kemudian mengecil dan
hilang sama sekali pad ausia 14 tahun . Bila sering terjadi infeksi saluran nafas bagian
atas maka dapat terjadi hipertrofi adenoid . Akibat dari hipertrofi adenoid ini akan
timbul simbatan pada koana dan sumbatan tuba eustacius .



Apabila sumbatan koana pasien akan bernafas melalui mulut sehingga terjadi :
a. Fasies adenoid : tampak hidung kecil, gigi insisivus kedepan, arkus faring tinggi
yang menyebabkan kesan wajah pasien tampak seperti orang bodoh
b. Faringitis dan bronchitis
c. Gangguan ventilasi dan drainase sinus paranasal sehingga menumbulkan
sinusitis kronis .
Apabila terjadi sumbatan tuba eustacius akan terjadi otitis media akut berulang, otitis
media kronik dan akhirnya akan terjadi OMSK. Akibat hipertrofi adenoid juga akan
30

menimbulkan gangguan tidur, tidur ngorok, retardasi mental dan pertumbuhan fisik
berkurang .

Diagnosis
Dengan rhinoskopi anterior dengan melihat tertahannya gerakan palatum mole pada
waktu fonasi . serta pemeriksaan foto rontgen lateral kepala, ini sering pada anak .

Penatalaksanaan
Dilakukan terapi bedah adenoidektomi dengan cara kuretase memakai adenotom
Indikasi adenoidektomi :
- Sumbatan yang menyebabkan gangguan menelan,bernafas lewat mulut,
sleep apnea, kelainan bentuk wajah dan gigi (adenoid face), gangguan
berbicara
- Infeksi, adenoiditis berulang, OME berulang, OMA berulang
- Kecurigaan neoplasma jinak atau ganas


II. 3. 9. Komplikasi
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar
atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai
komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :
1. Komplikasi sekitar tonsila
Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses.
Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari
penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan
penjalaran dari infeksi gigi.

31

Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh
darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe
faringeal, os mastoid dan os petrosus.
Abses Retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia
3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.
Kista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini
menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa cekungan,
biasanya kecil dan multipel.



32

BAB III
KESIMPULAN
Tonsilitis adalah inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel.
Tonsilitis terdapat pada tonsil palatina yang merupakan bagian dari Cincin Waldeyer.
Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, terutama berusia 5 tahun dan 10 tahun
dimana penyebarannya melalui droplet infection yaitu alat makan dan makanan.
Bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus. Antara lain streptococcus B
hemoliticus grup A, streptococcus, Pneumoccoccus,Virus, Adenovirus, Virus influenza
serta herpes. Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau
mulut,amandel berperan sebagai filter, menyelimuti organism yang berbahaya tersebut
sel-sel darah putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel.Hal ini akan
memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan
tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus.Infeksi
bakteri dari virus inilah yang menyebabkan tonsillitis.
Tonsilitis dibagi menjadi tonsilitis akut, membranosa, dan Angina Plout
Vincent. Gejala yang timbul biasanya berupa nyeri tenggorokan, demam, sulit menelan,
dan gangguan lain pada daerah tonsil dan tenggorokan.
Untuk diagnosis tonsilitis biasanya hanya dengan melihat tonsil secara langusng
dengan pemeriksaan pada orofaring.
Penatalaksanaan pada tonsilitis akut meliputi antibiotik peroral, antipiretik,
kortikostreroid jika perlu untuk mengurangi edema, dan tonsilektomi dilakukan sesuai
indikasi .





33

DAFTAR PUSTAKA

1. Boies A, dkk. 1997. Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Jakarta. Penerbit EGC
2. Efiaty Arsyad Soepardi, dkk. 1990. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung
dan Tenggorok. Balai Penerbit FKUI. Edisi ke-5. Jakarta
3. Andrina YMR. Tonsilitis. Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Telinga
Hidung Tenggorokan Universitas Sumatera Utara. 2003. Diunduh
dari:repository.usu.ac.id pada tanggal 15 April 2011.
4. Baba Y, Kato Y, Saito H, Ogawa K. Management of deep neck infection by a
transnasal approach: a case report. Journal of Medical Case Report. 3: 7317,
2009. Diunduh dari:www.jmedicalcasereports.com pada tanggal 22 April 2011
5. Ballenger, John Jacob. M.S, M.D. Penyakit Telinga Hidung, Tenggorok Kepala
dan Leher. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal : 295-97, 318-23, 346-55
6. E, Steyer, Terrence, M.D, Peritonsiller Abscess: Diagnosis and Treatment.
Available at: www.aafp.org/afp, Accesed on Okt, 2010.
7. Fachruddin,Darnila, Abses Leher Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga
Hidung Tenggorokkan, editor Soepardi EA, Iskandar N, Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, edisi keenam, Jakarta, 2007: 185-8.
8. Mehta, Ninfa. MD. Peritonsillar Abscess. Available from. www.emedicine.com.
Accessed at Okt 2010.
9. Murray A.D. MD, Marcincuk M.C. MD. Deep neck infections. [Diperbaharui
Juli 2009] Diunduh dari: www.eMedicine Specialties//Otolaringology and facial
plastic surgery.com pada tanggal 25 April 2011
10. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring.
Dalam: Adams, Boies, dan Higler, editors. Boies: Buku ajar penyakit THT Edisi
VI. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran; 1997. hal. 320-355.