Anda di halaman 1dari 4

Tugas Biostatistik

Dosen : drs. Zulaela


1


Oleh : Rahmawati Hanifah (12/335322/KU/15135)


TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Teknik pengambilan sampel secara umum ada dua cara yaitu dengan cara acak (random
sampling) dan tanpa acak (non-random sampling). Dalam pengambilan sampel secara acak dilakukan
dengan objektif agar probabilitas setiap sampel diketahui. Sedangkan, pengambilan sampel tanpa
acak memiliki tingkat kewakilan yang tinggi, namun tingkat probabilitasnya tidak diketahui dan
faktor subjektif memiliki peran yang penting. Sehingga teknik pengambilan sampel tana acak tidak
dapat dievaluasi secara objektif.
Teknik pengambilan sampel acak dibagi dalam beberapa kategori, antara lain :
A. Simple Random Sampling (Sampel Acak Sederhana)
Setiap pasienatau responden atau subjek penelitian memiliki kemungkinan yang sama untuk
terpilih. Syarat pengambilan simple random sampling, yaitu :
1. Populasi homogen
2. Penelitiannya tidak tersebar secara geografis
3. Ada sample frame, atau daftarnya, sehingga diketahui siapa populasinya dan
jumlahnya berapa.
Langkahnya dilakukan dengan cara menggunakan tabel acak. Misalnya, akan dipilih
50 sampel dari 1000 populasi. Dalam tabel acak terdapat identitas masing-masing individu
dalam populasi, atau dapat juga menggunakan kode yang berurutan. Caranya dengan
meletakkan ujung pensil pada tabel tanpa melihatnya, maka akan terpilih suatu kode atau
identitas secara acak, maka identitas selanjutnya merupakan sampel yang terpilih hingga
sampel ke 50.
B. Stratified Random Sampling ( Sampel Acak Stratifikasi)
Dalam pengambilan sampel dapat juga dilakukan dengan cara membagi populasi menjadi
beberapa strata dimana dalam setiap strata adalah homogen sedangkan antar strata
memiliki sifat yang berbeda dan kemudian dilakukan pengambilan pada tiap-tiap strata. Ciri-
ciri pengambilan sampel dengan stratifikasi antara lain :
1. Deviasi standart lebih kecil dibandinkan dengan pengambilan sampel acak sederhana.
Hal ini terjadi karena antar individu dalam dalam kelompok populasi memiliki perbedaan
yang kecil dan antarkelompok memiliki perbedaan yang besar saat pengambilan sampel
dilakukan dengan proporsional.
2. Teknik ini lebih efektif digunakan bila pada distribusi populasi terdapat nilai ekstrem
yang bisa dikelompokkan tersendiri.
3. Peluang pada setiap unit untuk dijadikan sampel adalah sama hingga prakiraan hasilnya
tidak bias.
Misalnya, penelitian tentang tingkat kesuburan wanita pada usia 15-44 tahun dengan
populasi 1000 orang akan diambil 50 sampel maka dikelompokkan menjadi 3 strata
yaitu:
300 orang pada strata I : wanita usia 15-24 th
400 orang strata II : wanita usia 25-34 th
300 orang strata III : wanita usia 35-44 th
Tugas Biostatistik
Dosen : drs. Zulaela
2


Oleh : Rahmawati Hanifah (12/335322/KU/15135)


Dalam setiap strata diharapkan tingkat kesuburannya relatif sama. Pada setiap strata,
dicari sampel dengan metode simple random sampling. Strata I dan III dicari dengan
300/1000* 50 = 15 sampel pada masing-masing strata I dan III, strata II dicari dengan
400/1000 * 50 = 20 sampel. Maka didapat 50 sampel dengan proporsional pada masing-
masing strata.
C. Cluster Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Kelompok)
Cara ini dapat dilakukan apabila kita akan mengadakan suatu penelitian dengan
menentukan suatu unit dasar sebagai sampel. Cluster sampling dapat pula dilakukan dengan
membagi populasi menjadi beberapa bagian sebagai cluster dan dilakukan pengambilan
sampel cluster tersebut. Contoh : misalnya, kita akan mengadakan penelitian tentang status
gizi murid sekolah dasar di kota Yogyakarta, Bila seluruh murid SD diteliti maka disebut one
stage simple cluster sampling. Bila populasi terlalu luas maka dipilih salah satu kabupaten
atau kota yang dianggap dapat merepresentasikan kondisi status gizi siswa SD, misal
didapatkan kabupaten Sleman. Namun bila populasi masih terlalu luas maka dapat dilakukan
dengan two stage simple cluster random sampling. Bila populasi masih teralalu luas maka
dipilih lagi 2 kecamatan. Bila wilayah kecamatan terlalu luas, maka dipilih satu desa pada
masing-masing kecamatan, dst.
D. Systemic Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Sistematis)
Pengambilan sampel secara acak sistematis dilakukan apabila pengambilan sampel acak
dilakukasn berurutan dengan interval tertentu. Besarnya interval dapat ditentukan dengan
membagi populasi (N) dengan jumlah samepl yang diinginkan (n) atau i = N/n. Misalnya,
dalam suatu penelitian terdapat populasi sebanyak 1000 rumah, dan akan diambilsampel
sebanyak 50. Maka 1000 rumah tersebuat dibagi menjadi 50 bagian, pada masing-masing
bagian terdapat 20 rumah, kemudian dipilih 1 rumah pada bagian I secara acak. Maka
misalkan terpilih nomor 5 pada bagian I, pada bagian II secara sistematis terpilih nomor 25,
bagian III terpilih nomor 45, bagian IV terpilih nomor 65, dst.
E. Multistage Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Bertahap)
Pengambilan sampel dengan cara ini dilakukan dengan membagi populasi menjadi bebrapa
fraksi kemudian diambil sampelnya. Setiap sampel fraksi yang diambil dibagi lagi menjadi
fraksi-fraksi yang lebih kecil kemudian diambil sampelnya. Pembagian menjadi fraksi-fraksi
yang lebih kecil ini dilakukan sampai didapatkan unit sampel yang diinginkan. Unit sampel
yang pertaman disebut sebagai Primary Sampling Unit (PSU) yang dapat berupa fraksi kecil
maupun fraksi besar. Pengambilan sampel dengan cara ini dilakukan apabila ingin
mengambil sampel dengan jumlah yang tidak banyak pada populasi besar.
Contoh:
1. Pengambilan sampel acak bertahap terhadap PSU kecil
Misalnya, akan diadakan penelitian tentang pola pemanfaatan pelayanan
kesehatan oleh penduduk sebuah kota. Di sini, kota tersebut merupakan populasi
studi dengan RT sebagai unit sampel dan kelurahan sebagai PSU. Dari jumlah PSU
tersebut diambil sampel dengan cara acak sederhana kemudian sampel
kelurahan dibagi menjadi RW dan diambil sampelnya. Selanjutnya, dari sampel
RW diambil sampel RT dan semua penduduk dewasa dalam RT tersebut
merupakan sasaran penelitian.

Tugas Biostatistik
Dosen : drs. Zulaela
3


Oleh : Rahmawati Hanifah (12/335322/KU/15135)


2. Pengambilan sampel acak terhadap PSU besar
Bila kita gunakan contoh di atas, maka kota dibagi menjadi 4 bagian atau wilayah
yang dianggap sebagai PSU dan secara acak diambil satu sebagai sampel. PSU
sampel kemudian dibagi menjadi kecamatan kemudian kecamatan sampel dibagi
lagi menjadi kelurahan sampel, kelurahan dibagi lagi menjadi RW, dan dari
smapel RW diambil sampel RT dan seluruh penduduk dewasa dalam sampel
tersebut diteliti.


F. Probability Proportionate to Size (PPS)
Pengambilan sampel dengan cara PPS ini merupakan variasi dari pengambilan sampel
bertingkat dengan pemilihan PSU yang dilakukan secara proporsional. Cara ini biasanya
dilakukan bersama dengan cara pengambilan sampel yang lain seperti sampel acak
sederhana, sampel sistemik, dan sampel kelompok. Secara singkat prosedur pengambilan
sampel dengan PPS adalah sebagai berikut :
1. Tentukan PSU yang akan digunakan sebagai penimbang.
2. Tentukan kelompok yang akan diambil sebagai sampel.
3. Tuliskan jumlah unit dasar secara kualitatif.
4. Hitunglah jumlah unit secara kuantitatif.
5. Bagilah jumlah kumulatif dengan banyaknya kelompok yang akan diambil untuk
mendapatkan interval (i).
Tugas Biostatistik
Dosen : drs. Zulaela
4


Oleh : Rahmawati Hanifah (12/335322/KU/15135)


6. Susunlah secara berurutan mulai dari nol secara sistematik dengan interval (i) lalu
tentukan sampel pertama antara nol dengan interval pertama dengan acak sederhana
dan secara berurutan sampai jumlah kelompok yang diinginkan.
7. Sesuaikan angka yang diperoleh dengan kelompok terpilih.
Selain itu, terdapat beberapa cara pengambilan sampel yang dilakukan tanpa acak, yaitu
A. Accidental Sampling (Pengambilan Sampel Seadanya)
Sampel diambil atas dasar seandainya saja, tanpa direncanakan terlebih dahulu. Cara
ini sudah tidak digunakan lagi dalam bidang kedokteran, namun masih digunakan dalam
bidang sosial ekonomi dan politik untuk pengetahuan opini masyarakat terhadap suatu hal.
Contohnya, bila kita ingin meneliti tentang pendapat masyarakat terhadap larangan
merokok karena merugikan kesehatan maka untuk pengambilan sampel peniliti cukup
berdiri dipinggir jalan dan menanyakan kepada orang yang kebetulan lewat, tergantung dari
keinginan peneliti dengan jumlah yang seadanya dan dianggap cukup oleh peneliti.
Selanjutnya, data diolah dan dianalisis lalu ditarik kesimpulan. Kesimpulan yang dihasilkan
dapat memberikan bias yang sangat besar.
B. Quota Sampling (Pengambil Sampel Berjatah)
Pengambilan sampel hanya berdasarkan pertimbangan peneliti saja, hanya saja, besar
dan kriteria sampel telah ditentukan terlebih dahulu. Cara pengambilan sampel dengan jatah
ini hampir sama dengan pengambilan sampel seadanya, tetapi kontrol yang lebih baik untuk
mengurangi terjadinya bias. Contoh :
Penelitian tentang tingkat pendidikan masyarakat. Dalam hal ini telah ditentukan
jumlahnya, yaitu sebanyak 100 orang dengan kriteria 50 orang laki-laki dan 50 orang
perempuan dengan usia antara 20 sampai 35 tahun, tetapi sampelnya tergantung dari
keinginan peneliti.
C. Purposive Sampling (Pengambilan Sampel Berdasarkan Pertimbangan)
Pengambilan sampel dilakaukan hanya atas dasar pertimbangan penelitiannya saja
yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang
diambil. Dikatakan pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan apabial cara
pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa sehingga keterwakilannya ditentukan oleh
peneliti berdasarkan pertimbangan orang-orang yang telah berpengalaman. Cara ini lebih
baik dari kedua cara yang lain. Contoh : pengambilan sampel satu desa dalam suatu
kabupaten yang dapat mewakili seluruhnya akan sangat sulit dilakukan secara acak. Dalam
kondisi demikian maka cara yang memadai adalah dilakukan pengambilan sampel dengan
pertimbangan orang-orang yang telah berpengalaman sehingga didapat sampel yang cukup
mewakili kabupaten tersebut.


Oleh :
Rahmawati Hanifah
NIM : 12/335322/KU/15135
Gizi Kesehatan FK UGM