Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan
berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi, seluruh organ kandungan baru
pulih kembali seperti sebelum hamil, dalam waktu 3 bulan setelah bersalin. Masa nifas tidak
kalah penting dengan masa-masa ketika hamil, karena pada saat ini organ-organ reproduksi
sedang mengalami proses pemulihan setelah terjadinya proses kehamilan dan persalinan.
Masa nifas dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pasca nifas, masa nifas dini dan masa
nifas lanjut, yang masing-masing memiliki ciri khas tertentu. Pasca nifas adalah masa setelah
persalinan sampai 24 jam sesudahnya (0-24 jam sesudah melahirkan). Masa nifas dini adalah
masa permulaan nifas, yaitu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari lamanya (1 minggu
pertama).Masa nifas lanjut adalah 1 minggu sesudah melahirkan sampai dengan 6 minggu
setelah melahirkan.
Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan sampai alat-
alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Fungsi perawatan masa nifas yakni
memberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung dengan normal,
mengamati proses kembalinya rahim ke ukuran normal, membantu ibu untuk dapat
memberikan ASI dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat bayinya. Perawatan masa
nifas sebenarnya dimulai sejak plasenta lahir, dengan menghindarkan adanya kemungkinan-
kemungkinan perdarahan setelah melahirkan dan infeksi.Bila ada luka robek pada jalan lahir
atau luka bekas guntingan episiotomi, dilakukan penjahitan dan perawatan luka dengan
sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah
melahirkan, khususnya untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan.
Sesudah bersalin, suhu badan ibu dapat naik 0,5 derajat C, tapi tidak melebihi 38 derajat
C. Sesudah 12 jam pertama, suhu badan akan kembali normal. Bila suhu melebihi dari 38
derajat C, kemungkinan telah terjadi infeksi.Rasa mulas di perut setelah melahirkan timbul
akibat kontraksi rahim dan biasanya lebih terasa saat menyusui.Keluhan ini dapat dialami
selama 2-3 hari sesudah bersalin.Rasa mulas ini juga dapat timbul jika masih terdapat sisa
selaput ketuban, plasenta atau bekuan darah di dalam rongga rahim.Bila mulas tersebut
2

sangat mengganggu, dapat diberikan obat antinyeri dan penenang, supaya ibu dapat
beristirahat dan tidur.
Setelah melahirkan, ibu harus segera buang air kecil sendiri.Kadang-kadang timbul
keluhan kesulitan berkemih yang disebabkan pada saat persalinan otot-otot kandung kemih
mengalami tekanan oleh kepala janin, disertai pembengkakan kandung kemih. Bila kandung
kemih terisi penuh sedangkan si ibu tidak dapat buang air kecil, sebaiknya dilakukan
pemasangan kateter (selang kencing), untuk mengistirahatkan sementara otot-otot tersebut,
yang berikutnya diikuti dengan latihan berkemih. Ketidakmampuan berkemih dapat
menyebabkan terjadinya infeksi, sehingga harus diberikan antibiotika.Dalam 3-4 hari setelah
bersalin, ibu harus sudah buang air besar.Bila ada sembelit dan tinja mengeras, dapat
diberikan obat pencahar atau dilakukan klisma (pembersihan usus).Demam dapat muncul jika
tinja tertimbun lama di usus besar.
Dalam hal menyusui, saat ini sedang digalakkan upaya pemberian ASI sedini mungkin
setelah bayi lahir. Bayi diletakkan tengkurap di atas dada ibu yang masih berbaring,
kemudian dalam dekapan ibu, dalam beberapa jam pertama si bayi akan berusaha mencari
puting susu ibunya dan belajar menghisap sehingga dapat merangsang produksi ASI.
Pada ibu yang bersalin secara normal (bukan operasi), sebaiknya dianjurkan untuk
kontrol kembali 6 minggu sesudah melahirkan. Pemeriksaan meliputi keluhan, selera makan,
gangguan berkemih dan buang air besar, ASI (payudara dan puting susu), luka jalan lahir,
keputihan, riwayat demam dan perdarahan, dan pemeriksaan organ kandungan. Pemeriksaan
tersebut tidak merupakan pemeriksaan terakhir, terlebih jika ditemukan kelainan meskipun
sifatnya ringan.
1.2 Tujuan
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang deteksi dini pada masa nifas 6jam ,
6hari , 6minggu dan penatalaksanaannya
b. Memahami asuhan yang diberikan pada masa nifas dengan penatalaksanaannya.
c. Merupakan salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir.



3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Masa Nifas
a. Definisi Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul
Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang
meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak
hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk
memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu.(
Ibrahim C, 1998).
b. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
b. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB,
cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
Memberikan pelayanan keluarga berencana.Mendapatkan kesehatan emosi.



4

2.2 Komplikasi dan Penyulit pada Masa Nifas
a. Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai
perdarahan pasca persalinan, terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini :
a. Perkiraan kehilangan darah biasannya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-
kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan
amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di
dalam ember dan lantai.
b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar
hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan
diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang
ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan
darah.
c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan
kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya
perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua
wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan
akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis
perdarahan fase persalinan
Penyebab:
1. Uterus atonik (terjadi karena misalnya: plasenta atau selaput ketuban tertahan).
2. Trauma genetalia (meliputi penyebab spontan dan trauma akibat pelaksanaan atau
gangguan, misalnya kelahiran yang menggunakan peralatan termasuk sectio
caesaria, episiotomi).
3. Koagulasi intravascular disetaminata.
4. Inversi uterus.
Hemorargi post partum sekunder adalah mencakup semua kejadian PPH yang terjadi
antara 24 jam setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum.
Penatalaksanaan:
5

1. Pijat uterus agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
2. Kaji kondisi pasien (denyut jantung, tekanan darah, warna kulit, kesadaran,
kontraksi uterus) dan perkirakan banyaknya darah yang sudah keluar. Jika pasien
dalam kondisi syok, pastikan jalan nafas dalam kondisi terbuka, palingkan wajah
hilang.
3. Berikan oksitosin (oksitosin untuk 10 iu IV dan ergometrin 0,5 IV. Berikan
melalui IM apabila tidak bisa melalui IV).
4. Siapkan donor untuk tranfusi, ambil darah untuk cross cek, berikan NaCl 11/15
menit apabila pasien mengalami syok), pada kasus syok yang parah gunakan
plasma ekspander.
5. Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
6. Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik. Tambahkan 40 iu oksitosin
dalam 1 liter cairan infus dengan tetesan 40 tetes/menit. Usahakan tetap menyusui
bayinya.
7. Jika perdarahan persisten dan uterus tetap relaks, lakukan kompresi bimanual.
8. Jika perdarahan persisten dan uterus tetap berkontraksi dengan baik, pastikan
laserasi jalan lahir.
9. Jika ada indikasi mungkin terjadi infeksi maka berikan antibiotik.
10. Lakukan pencatatan yang akurat.
Hal yang harus di hindari:
1. Jangan pernah meninggalkan pasien sendiri sampai perdarahan telah terkendali
dan keadaan umum telah stabil.
2. Pada kasus PPH atonik jangan pernah memasukkan pack vagina.
3. Jika penolong berada si rumah perlu dilakukan rujukan.Hemorargi post partum
traumatic
4. Pastikan asal perdarahan.
5. Ambil darah untuk cros check dan lakukan sek kadar HB.
6. Pasang infus IV, NaCl atu Rl jika pasien mengalami syok.
7. Pasien dalam posisi litotomi dan penerangan yang cukup.
8. Perkirakan darah yang hilang.
9. Periksa denyut nadi, tekanan darah dan kondisi umum.
10. Jahit robekan.
11. Berikan antibiotik.
6

12. Membuat catatan yang akurat.

b. Infeksi Masa Nifas
Infeksi nifas merupakan masuknya bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah
melahirkan.Kenaikan suhu sampai 38 derajat serius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari
pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.

Etiologi
Organisme pada bekas implantasi plasenta atau laserasi akibat persalinan adalah:
Kuman anaerob : kokus gram positif (pespoptreptokok, peptokok, bakteriodes &
clostridium)
Kuman aerob : gram positif & E coli.
Faktor perdisposisi
1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh
2. Partus lama dengan ketuban pecah lama
3. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah
4. Teknik aseptik yang tidak baik dan benar
5. Pemeriksaan vagina selama persalinan
6. Manipulasi intra uterus
7. Trauma/luka terbuka
8. Hematom &hemoragi(darah hilang lebih dari 1000ml)
9. Perawatan perineum yang tidak tepat
10. Infeksi vagina/serviks atau penyakit menular seksual yang tidak ditangani

Patofisiologi
1. Setelah kala III daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan
diameter 4 cm. Permukaannya tidak rata berbenjol-benjol terkena banyaknya
vena yang di tutupi trombus.
2. Daerah ini merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya kuman & masuknya
jenis yang patogen dalam tubuh wanita.
3. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinan, demikian vulva, vagina &
perineum, yang merupakan tempat masuknya kuman patogen.
Infeksi Masa Nifas dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks & endometrium
7

Penyebaran dari tempat tersebut melalui vena, melalui jalan limfe & melalui
permukaan endometrium.
Tanda & Gejala :
Infeksi akut di tandai dengan demam, sakit di daerah infeksi berwarna kemerahan,
fungsi organ tersebut terganggu. Gambaran klinis infeksi nifas dapat berbrntuk:
a. Infeksi lokal
b. Pembengkakn luka episiotomi, terjadi penanahan, perubahan warna kulit,
pengeluaranlochia bercampur nanah, temperatur badan meningkat.
c. Infeksi umum
d. Tampak sakit dan lemah, tekanan darah menurun, pernafasan meningkat dan
terasa sesak, kesadaran gelisah sampai menurun dan koma, terjadi gangguan
involusi uterus, lochea berbau dan bernanah serta kotor.
Faktor Perdisposisi terjadinya infeksi yaitu:
a. Persalinan yang berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar
b. Tertinggalnya plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah
c. Ketuban pecah dini
d. Keadaan umum yang menurun
Pencegahan :
a. Lakukan mobilisasi dini sehingga darah lochea keluar dengan lancar
b. Perlukaan dirawat dengan baik
c. Rawat gabung dengan isolasi untuk mengurangi infeksi nosokomial.

c. Sakit Kepala, Nyeri Epigastrik, Penglihatan Kabur
Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan
kabur. Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya Eklampsia post partum, bila
disertai dengan tekanan darah yang tinggi
Penanganan :
1. Jika ibu sadar periksa nadi, tekanan darah, pernafasan.
2. Jika ibu tidak bernafas periksa lakukan ventilasi dengan masker dan balon.
Lakukan intubasi jika perlu dan jika pernafasan dangkal periksa dan bebaskan
jalan nafas dan beri oksigen 4-6 liter per menit.
3. Jika pasien tidak sadar/ koma bebaskan jalan nafas, baringkan pada sisi kiri,
ukur suhu, periksa apakah ada kaku tengkuk.

8

d. Pembengkakan di Wajah atau Ekstrenitas.
Ini berhubungan dengan no 3.
1. Periksa adanya varises
2. Periksa kemerahan pada betis
3. Periksa apakah tulang kering,pergelangan kaki, kaki oedema (perhatikan
adanya oedema pitting)

e. Demam, Muntah, Rasa Sakit Waktu Berkemih
Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam
vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal.Sensasi
peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang
ditimbulkan oleh epiosomi yang lebar, laserasi, hematom dinding vagina.
Setelah melahirkan terutama saat infuse oksitosin dihentikan terjadi diuresis yang
disertai peningkatan produksi urine dan distensi kandung kemih. Overdistensi yang disertai
kateterisasi untuk mengeluarkan air yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih.
f. Kelainan Payudara
Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat dapat menyebabkan payudara
menjadi merah, panas, terasa sakit, akhirnya terjadi mastitis. Puting lecet akan memudahkan
masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak. B.H yang terlalu ketat, mengakibatkan
segmental engorgement.Kalau tidak disusu dengan adekuat, bisa terjadi mastitis.
Ibu yang diit jelek, kurang istirahat, anemia akan mudah terkena infeksi.
Gejala :
1. Bengkak, nyeri seluruh payudara/ nyeri lokal.
2. Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal
3. Payudara keras dan berbenjol-benjol (merongkol)
4. Panas badan dan rasa sakit umum.


Pencegahan :
1. Menyusui bayi segera setelah lahir dengan posisi dan perlekatan yang benar
2. Menyusui bayi tanpa jadwal ( on demand )
9

3. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi kebutuhan
bayi
4. Jangan memberikan minuman lain pada bayi sebelum bayi umur 6 bulan
5. Lakukan perawatan payudara ( Berast Care )
Penatalaksanaan :
1. Menyusui diteruskan.Pertama bayi disusukan pada payudara yang terkena
edema dan sesering mungkin, agar payudara kosong kemudian pada payudara
yang normal.
2. Berilah kompres panas, bisa menggunakan shower hangat atau lap basah
panas pada payudara yang terkena.
3. Ubahlah posisi menyusui dari waktu ke waktu, yaitu dengan posisi tiduran,
duduk atau posisi memegang bola (football position)
4. Pakailah baju B. H yang longgar
5. Istirahat yang cukup , makanan yang bergizi
6. Banyak minum sekitar 2 liter per hari
Dengan cara-cara seperti tersebut di atas biasanya peradangan akan menghilang
setelah 48 jam, jarang sekali yang menjadi abses. Tetapi apabila dengan cara-cara seperti
tersebut di atas tidaka da perbaikan setelah 12 jam, maka diberikan antibiotik selama 5-10
hari dan analgesia.

g. Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang Lama
Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat mengganggu nafsu
makan,sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah
bersalin berikan ibu minuman hangat,susu,kopi atau teh yang bergula untuk mengembalikan
tenaga yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya ringan,karena alat pencernaan perlu
istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.
Penyebab Hilangnya nafsu makan ibu :
1. Post Partum blues
2. Kurangnya dukungan keluarga ( terutama suami )
3. Ibu mengidap suatu penyakit dalam pencernaan atau anggota tubuh
4. Keadaan ekonomi yang tidak mendukung
5. Kurang istirahat
Penatalaksanaan :
10

1. Dengan pendekatan atau bimbingan psikiatri
2. Anjurkan ibu untuk makan makanan yang segar dan bervariasi setiap hari yaitu
:
a. Makanan yang mengandung sumber protein nabati dan hewani seperti :
daging,telur, kacang-kacangan, ayam, dll
b. Makanan sumber karbohidrat, seperti : beras, jagung, kentang, ubi, dll
c. Sayuran, seperti : bayam, kangkung,dll dan buah buahan seperti jeruk,
pisang, papaya, dll
3. Anjurkan ibu untuk makan sedikit-sedikit tapi sering
4. Anjurkan ibu untuk minum tablet tambah darah

h. Rasa sakit,merah,lunak dan pembengkakan di kaki
1. Rasa sakit
Rasa sakit yang disebut after pain ( mules mules ) disebabkan kontraksi Rahim,
biasanya berlangsung 2 4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu
mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat pengurang rasa sakit.
2. Kemerahan
Kemerahan pada ibu nifas disebabkan karena pada ibu nifas terbentuk thrombus (
munculnya ) vena vena kecil yang mengalami pengembangan. Selain itu, vena vena juga
mengalami dilatasi ( pembukaan ) sehingga sering terjadinya pembengkakan tersebut, maka
akan tampak kaki kemerah-merahan serta lunak dan menimbulkan sedikit rasa sakit pada
kaki, atau disebabkan pada saat persalinan, kandung kemih tidak dikosongkan sehingga
cairan tersebut turun kebagian lateral / kaki.
3. Nyeri tekan
Selama masa nifas , dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena manapun
di pelvis yang mengalami dilatasi dan mungkin lebih sering mengalaminya. Rasa sakit yang
berlebihan pada masa nifas berkemungkinan besar jika pada masa kehamilan ibu juga
mengalaminya.
Factor Predisposisi, yaitu :
a. Obesitas
b. Peningkatan umur ibu dan tingginya paritas
c. Riwayat sebelumnya
11

d. Anastesi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang lama pada
pembuluh vena
e. Anemia Maternal
f. Hipotermi , penyakit jantung
g. Endometritis
h. Varicositis
Tanda tanda dan gejala yang timbul :
a. Timbul secara akut
b. Timbul rasa nyeri akibat tertekan ( nyeri tekan permukaan )
4. Pembengkakan pada kaki
Kaki bengkak ( ankle edema ) adalah pembengkakan pada tungkai bawah yang
disebabkan penumpukan cairan pada kaki tersebut. Factor yang berperan adalah kadar protein
( albumin ) dalam darah rendah, fungsi pompa jantung menurun, sumbatan pembuluh darah
atau pembuluh limfe, penyakit liver dan ginjal kronis, posisi tungkai terlalu lama tergantung.

i. Baby Blues
Penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami
kebanyakan wanita hamil dan melahirkan, rasa nyeri pada awal masa nifas,kelelahan akibat
kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan, kecemasan akan kemampuannya
untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit, ketakutan akan menjadi tidak
menarik lagi
Pada minggu minggu awal setelah persalinan, ibi post partum cenderung akan
mengalami perasaan perasaan yang tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, atau tidak
mampu mengasuh sendiri bayinya dan dirinya sendiri.
Penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami
kebanyakan wanita hamil dan melahirkan, rasa nyeri pada awal masa nifas,kelelahan akibat
kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan, kecemasan akan kemampuannya
untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit, ketakutan akan menjadi tidak
menarik lagi

Penanganan :
a. Posisi tidur yang baik
12

b. Menganjurkan ibu untuk senam nifas akan mencegah pembengkan pada kaki
c. Memberikan dukungan emosional kepada ibu serta keluarganya

2.3 Kelainan-Kelainan Lainnya Dalam Nifas
a. Kelainan pada rahim
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana berat rahim
dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi 4060 gram 6 minggu kemudian. Pada
beberapa keadaan terjadinya proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya,
sehingga proses pengecilannya terlambat. Keadaan demikian disebut sub involusi uteri.
Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat
sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah atau mioma uteri. Pada palpasi uterus
teraba masih besar, fundus masih tinggi, lochea banyak, dapat berbau dan terjadi perdarahan.
b. Perdarahan Masa Nifas
Perdarahan lebih dari 500 600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir.
Pembagian
1. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorhage) yang terjadi pada
24 jam pertama.
2. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi
setelah 24 jam.
Etiologi
Penyebab perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa
plasenta, laserasi jalan lahir dan inversio uteri. Sedangkan penyebab perdarahan postpartum
sekunder adalah sub involusi, retensi sisa plasenta, infeksi nifas.
Pencegahan
Pencegahan perdarahan post partum dapat dilakukan dengan mengenali resiko
perdarahan post partum (uterus distensi, partus lama, partus dengan pacuan), memberikan
oksitoksin injeksi setelah bayi lahir, memastikan kontraksi uterus setelah bayi lahir,
memastikan plasenta lahir lengkap, menangani robekan jalan lahir.

13

c. Flegmasia alba dolens
Yaitu suatu tromboflebitis yang mengenai satu atau kedua vena vemoralis. Hal ini
disebabkan oleh adanya trombosis atau embolus yang disebabkan karena adanya perubahan
atau kerusakan pada intima pembuluh darah, perubahan pada susunan darah, laju peredaran
darah, atau karena pengaruh infeksi atau venaseksi.
Faktor predisposisinya adalah usia lanjut, multi paritas, obstetri operatif, adanya
farices dan infeksi nifas. Gejala klinisnya meliputi suhu badan naik, nyeri kaki dan betis pada
saat berjalan atau ditekan (tanda homan) dan bengkak (tumor) kalau ditekan menjadi cekung
d. Nekrosis hipofisis lobus anterior post partum
Sindroma sheehan atau nekrosis lobus depan dari hipofisis karena syock akibat
perdarahan persalinan. Hipofisis ikut berinvolusi setelah persalinan karena syock akibat
perdarahan hebat pada hipofisis terjadilah nekrosis pada pars anterior.Mungkin pula nekrosis
ini terjadi karena pembekuan intravaskuler menyebabkan trombosis pada sinusoid hipofisis.
Gejala timbul agalaksia, amenore, dan insufisiensi hormon pars anterior hipofisis.
A. Jenis Jenis Infeksi masa Nifas
a. Septikemia dan Piemia
Septikemia adalah keadaan di mana kuman-kuman dan atau toksiknya langsung
masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Piemia dimulai
dengan tromboflebitis vena daerah perlukaan yang lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil,
dibawa oleh peredaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh
yang di hinggapinya (paru-paru, ginjal, jantung, otak dan sebagainya).
Gambaran klinis dan diagnosis :
Baik septikemia maupun piemia adalah penyakit berat. Gejala septikemia lebih akut
dari piemia, ibu kelihataan sakit dan lemah, suhu badan naik 39-40
o
C, keadaan umum jelek,
menggigil, nadi cepat 140-160 kali permenit atau lebih, tekanan darah turun bila keadaan
umum memburuk, sesak nafas, kesadaran menurun, gelisah.
Pada piemia, dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboflebitis tidak lama
postpartum, dan setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum seperti diatas.
14

Pada pemeriksaan laboratorium terdapat lekositas, pada kultur darah di jumpai kuman-kuman
yang patogen.
Prognosis :
Septikemia dan piemia adalah infeksi berat dengan angka kematian yang tinggi,
apalagi bila diikuti oleh peritonotis umum.Kadang-kadang walaupun dengan pemberian
antibiotik dan upaya yang cukup kematian ibu tidak terhindarkan.
b. Parametritis ( Selulitis Pelvika )
Parametritis adalah infeksi jaringan ikat pelvis yang dapat terjadi melalui beberapa jalan :
a. Dari servisitis atau endometritis yang tersebar melalui pembuluh limfe.
b. Langsung meluas dari servisitis ke dasar ligamentum sampai ke parametrium.
c. Atau sekunder dari tromboflebitis.

c. Salfingitis ( Salfingo- ooforitis )
Salfingitis adalah peradangan dari adneksa.Terdiri dari salfingitis akut dan kronik.
Diagnosis dan gejala klinis hampir sama dengan parametritis. Bila infeksi berlanjut dapat
terjadi piosalfing.
B. Pencegahan Infeksi Nifas
a. Masa kehamilan
Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan
kelemahan, serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu.Pemeriksaan dalam
jangan dilakukan kalau tidak ada indikasiyang perlu. Begitu pula pada koitus ibu hamil tua
hendaknya dihindari atau dikurangi dan di lakukan hati-hati karena dapat menyebabkan
pecahnya ketuban, kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.

b. Masa Persalinan
1. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan
sterilitas yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
2. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama.
3. Jagalah sterilitas kamar bersalian dan pakailah masker, alat-alat harus suci
hama.
15

4. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun
perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas.
5. Perdarahan yang banyak harus dicegah, bila terjadi darah yang hilang harus
segera diganti dengan transfusi darah




















16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu.
(Abdul Bari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang
meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak
hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).

3.2 Saran













17

DAFTAR PUSTAKA
Seller P. 1993. Midwifery Vol. I
V Ruth Bennet dan Linda. 1999. Myles Textbook For Midwifery.
Varney .2007. Varneys Midwifves.
Pusdiknakes. WHO, JIHPIEGO. 2001. Buku IV Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas;
Saifudin, Abdul Bari. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Anggraini, Yetti, 2010, Asuhan Kebidanan Masa Nifas















18






TABEL
Kunjungan Waktu Asuhan
I
6-8 jam
post
partum
Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lainperdarahan serta
melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara
mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahanhipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus
menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau
sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II
6 hari post
partum
Memastikan involusiuterus barjalan dengan normal, uterus
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus,
tidak ada perdarahan abnormal.
19

Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada
tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III
2 minggu
post
partum
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang
diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV
6 minggu
post
partum
Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konselingKB secara dini.