Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gel yang kadang disebut jelly merupakan sistem semipadat (massa lembek)
terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri atas
jaringan partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan sebagai sistem dua fase
(misalnya gel aluminium hidroksida). Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel
dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang dinyatakan sebagai magma
(misalnya magma bentonit), di mana massanya bersifat tiksotropik, artinya massa
akan mengental jika didiamkan dan akan mencair kembali jika dikocok. Jika
massanya banyak mengandung air, gel itu disebut jelly. Gel dapat diberikan untuk
penggunaan topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh. Penyimpanan:
dalam wadah tertutup baik, dalam botol mulut lebar terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk (Syamsuni, 2006).
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama
dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul
makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari
makromolekul sintetik (misalny karbomer) atau dari gom alam (misalnya
tragakan). Sediaan tragakan disebut juga mucilago, walaupun gel-gel ini
umumnya mengandung air, etanol dan minyak dapat digunakan sebagai fase
pembawa. Sebagai contoh, minyak mineral dapat dikombinasi dengan resin
polietilena untuk membentuk dasar salep berminyak (Anonim, 1995).
Menurut Ansel (2005), gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat
yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang
kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan. Gel dalam nama
makro molekulnya disebarkan ke seluruh caiarn sampai tidak terlihat ada batas di
antaranya, cairan ini disebut gel satu fase.Dalam hal di mana massa gel terdiri dari
kelompok-kelompok partikel kecil yang berbeda, maka gel ini dikelompokkan
sebagai sistem dua fase dan sering pula disebut magma atau susu. Gel dan magma
dianggap sebagai dispersi koloid oleh karena masing-masing mengandung
partikel-partikel dengan ukuran koloid.
1.2 Prinsip Percobaan
Membuat gel dengan bahan dasar HPMC, Metil Paraben, dan propilen glikol
serta mengevaluasi gel (uji homogenitas dan uji viskositas)

1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan Umum
Mengetahui bentuk sediaan gel
Tujuan Khusus
Mengetahui basis gel serta sifat-sifatnya
Mengetahui pembuatan gel berdasarkan basis gel
Mengetahui persyaratan gel
Mengetahui cara evaluasi gel

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Gel
Kata gel diturunkan dari kata gelatin, dan bila dilacak dari bahasa Latin,
yaitu gelu yang berarti beku dan gelare, yang berarti pembekuan atau pengentalan.
Dari asal kata ini mengindikasikan suatu keadaan berbentuk cairan seperti padatan
yang tidak mengalir, namun elastis dan memiliki beberapa sifat seperti cairan
(Sulaiman, 2008).
Menurut Ansel (1989) gel adalah sistem padat atau setengah padat dari
paling sedikit dua konstituen yang terdiri dari massa seperti pagar yang rapat dan
diselusupi oleh cairan. Gel umumnya merupakan suatu sediaan semi padat yang
jernih dan tembus cahaya yang mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid
dan mempunyai kekakuan yang disebabkan oleh jaringan yang saling menganyam
dari fase terdispersi yang mengurung dan memegang medium pendispersi.
Gel, kadang-kadang disebut jeli, merupakan sistem semipadat yang terdiri
dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik
yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (FI,1995). Gel secara umum dapat
didefinisikan sebagai suatu sediaan semipadat yang jernih dan tembus cahaya
yang mengandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut (Lachman dkk, 1994). Gel
memiliki sistem semi padat dimana fase cairnya dibentuk dalam suatu matriks
polimer tiga dimensi (terdiri dari gom alam dan atau gom sintesis) yang tingkat
silang fisiknya tinggi (Lachman dkk, 1993). Polimer yang biasa digunakan untuk
membuat gel-gel farmasetik meliputi : gom alam seperti tragakan, pektin,
karagen, agar dan asam alginat, serta bahan sintesis dan semi sintesis meliputi
metilselulose, hidroksietilselulose, karboksimetilselulose dan karboksipolimetilen
(carbopol).
Sediaan dalam bentuk gel lebih banyak digunakan karena rasa dingin di
kulit, mudah mengering membentuk lapisan film sehingga mudah dicuci
(Lachman, dkk 1994)
Gel mempunyai kekakuan yang disebabkan oleh jaringan yang saling
menganyam dari fase terdispers yang mengurung dan memegang medium
pendispers. Perubahan dalam temperatur dapat menyebabkan gel tertentu
mendapatkan kembali bentuk cairnya. Gel mempunyai sifat tiksotropi dimana gel
menjadi encer setelah pengocokan dan segera menjadi setengah padat atau padat
kembali setelah dibiarkan tidak terganggu untuk beberapa waktu tertentu (Ansel,
1989).Tiksotropi adalah suatu sifat yang diinginkan dalam suatu sistem farmasetis
cair yang idealnya harus mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah, namun
dapat dituang dan tersebar dengan mudah. Salah satu derivat sintesis dari
substansi alam yang digunakan untuk membuat gel yaitu Hidroksipropil
Metilselulosa (HPMC). HPMC merupakan suatu polimer glukosa yang
tersubstitusi dengan hidroksipropil dan metil pada gugus hidroksinya. Nama lain
dari Hidroksipropil Metilselulose adalah Cellulose, HPMC, Metocel,
Methylcellulose propylene glycol ether, Metolose, Pharmacoat. Rumus bangun
HPMC adalah sebagai berikut:
Sedangkan menurut Anief, M (1993) jelly (gel), adalah suatu salep yang
lebih halus, umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin, dipergunakan
terutama pada membran mukosa, sebagai pelicin atau dasar salep terdiri campuran
sederhana dari minyak dan lemak dengan titik lebur rendah. Washable Jelly
mengandung mucilagines seperti Gom, Tragacanth, Amylum, Pektin dan Alginat.
Sebagai contoh: Starch Jellies (10% Amylum dengan air mendidih).
Kandungan air yang tinggi dalam basis gel dapat menyebabkan terjadinya
hidrasi pada stratum korneum sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui
kulit. Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk
menghasilkan efek terapetik pada tempat- tempat spesifik di jaringan epidermis.
Gel mempunyai sifat yang menyejukkan, melembabkan, mudah penggunaannya,
mudah berpenetrasi pada kulit sehingga memberikan efek penyembuhan. Secara
ideal, basis dan pembawa harus mudah diaplikasikan pada kulit, tidak mengiritasi
dan nyaman digunakan pada kulit. Basis gel yang digunakan dalam sediaan gel
adalah hidroksipropil metil selulosa (HPMC) yang merupakan derivat sintetis
selulosa dan termasuk dalam basis hidrofilik (Lachman dkk., 1996).




2.2 Formula Gel
a. Zat aktif
Zat aktif merupakan bahan atau zat yang mempunyai efek tertentu dan
merupakan komponen utama dalam suatu formula. Pada penelitian ini zat aktif
yang digunakan adalah air rebusan daun kersen (Muntingia calabura) dengan
kadar 10 %. Kadar 10 % mengacu pada kadar yang digunakan pada penelitian
sebelumnya dan kadar dari farmakope IV yang menyatakan bahwa kadar kecuali
dinyatakan lain untuk salep yang mengandung obat dan narkotik kadar obat yang
digunakan adalah 10 %.
b. Basis Gel.
1) Tragakan
Merupakan ekstrak kering dari tanaman semak astragalus. Umumnya tidak
larut dalam air dan baik untuk membuat kekentalan yang sedang (King, 1984)
penggunaannya harus bersama-sama dengan alkohol, gliserol atau suatu minyak
yang mudah menguap untuk mencegah penggumpalan. Penggunaan pada
konsentrasi 2%- 5% akan membentuk gel dengan visikositas yang tinggi (Collect
dan Aulton, 1990).
2) Natrium Alginat
Berasal dari rumput laut, mengandung bagian asam dan bagian garam.
Bagian asam dan garam kalsiumnya tidak larut dalam air, sebaliknya garam
natrium, garam kalium dan garam ammonium alginat larut air. Penggunaan pada
konsentrasi 3% - 6% akan membentuk gel seperti salep (Voight, 1995).
3) Pektin
Penggunaan pektin sebagai basis gel digunakan daam bentuk kombinasi
dengan bahan gel lainnya seperti sodium karboksimetilselulosa dan gelatin
(Colecct dan Aulton, 1990).

4)Starch
Digunakan dalam bentuk kombinasi bersama karboksimetilselulosa sebanyak
2,5% dalam air akan menghasilkan produk kental (Collect dan Aulton, 1990).

5) Gelatin
Gelatin membentuk gel pada konsentrasi 2-15% atau lebih. Gelatin jarang
digunakan sendiri sebagai basis gel, tetapi dikombinasikan dengan bahan lain
seperti pektin dan karboksimetilselulosa (Collect dan Aulton, 1990).
6) Carbopol
Carbopol terdiri dari beberapa type yaitu carbopol 910, 934, 940, 941, 971
dan 974. Carbopol akan mengembang jika didespresikan dalam air dengan adanya
zat-zat alkali seperti trietanolamin atau diisopropanolamin untuk membentuk
sediaan semipadat seperti gel. Sebagai basis gel carbopol biasa digunakan pada
konsentrasi 0,5%-2% (Lachman dkk, 1994; Rowe dkk, 2006).
7) Polivinil alkohol
Polivinil alkohol digunakan untuk membuat gel yang dapat mengering
dengan cepat, memberi kontak yang baik antara kulit dan obat (Collect dan
Aulton, 1990) Konsentrasi yang umumnya digunakan adalah 2,5% atau
tergantung viskositas yang diinginkan (Rowe dkk, 2006).
8) Natriumkarboksimetilselulosa
Larut dalam air dingin dan panas menghasilkan larutan jernih. Stabil pada pH
5-10 (Voigt, 1995). Sebagai basis gel digunakan pada konsentrasi 2% - 6% (Rowe
dkk, 2006).
Pembuatan muchilago dengan menaburkan Natrimkarboksimetilselulosa
diatas air panas. Biarkan sampai mengembang kemudian gerus sampai homogen
(Duin, 1947).

9) Tanah
Menurut Collect dan Aulton (1990), ada dua jenis tanah (clays) yang
digunakan sebagai basis gel yaitu :
a). Bentonit, penggunaan pada konsentrasi 7% - 20%
b). Magnesium aluminium stearat, penggunaan pada konsentrasi sekitar 10%.
10) Hydroxypropyl Metil Cellulose (HPMC)
Berbentuk serbuk halus/granul yang berwarna putih agak kekuningan sampai
putih, tidak berasa dan berbau. HPMC termasuk bahan yang stabil meskipun
bersifat higroskopis setelah dikeringkan. Bahan ini larut dalam air dingin dan
membentuk larutan koloid yang kental. HPMC praktis tidak larut dalam etanol
(95%), tetapi larut dalam campuran air-alkohol, dimana komposisi alkohol tidak
boleh lebih dari 50%b/b. Nilai pH untuk larutan 1%b/v HPMC dipakai secara luas
dalam industri farmasi untuk pembuatan sediaan oral dan topikal. Larutan HPMC
stabil pada pH 3-11. Peningkatan temperatur akan menyebabkan penurunan
viskositas. HPMC membentuk tranformasi sol-gel yang reversible melalui
pemanasan. Larutan HPMC dalam air yang disimpan dalam jangka waktu lama
sebaiknya diberi pengawet. Bahan ini tidak tercampur dengan beberapa oksidator
(Rowe dkk, 2006).
c. Bahan Tambahan Gel.
1). Bahan pelembab
Bahan pelembab (humectans) yang digunakan juga berfungsi sebagai
pelembut. Bahan yang digunakan harus mampu meningkatkan kelembutan dan
daya serap sediaan serta dapat mencegah gel menjadi kering dan memperbaiki
konsistensi serta mutu terhapusnya gel pada kulit (Lachman dkk, 1994). Contoh
bahan pelembab yang biasa digunakan dalam gel antara lain gliserin,
propilenglikol, sorbitol, dan etilenglikol dengan konsentrasi 10% - 20% (Voigt,
1995).

2). Bahan pengawet.
Bahan pengawet yang ditambahkan harus dapat mencegah kontaminasi
kemunduran, dan kerusakan oleh bakteri. Bahan pengawet harus memenuhi
kriteria umum seperti toksisitas rendah, stabil pada pemanasan dan penyimpanan,
dapat bercampur secara kimia, mempunyai aktivitas terhadap mikroorganisme
seperti fungi, ragi, dan bakteri yang merupakan kontaminasi umum (Collect dan
Aulton, 1990).
3). Bahan Antioksidan
Antioksidan ditambahkan pada sediaan semipadat untuk mencegah terjadinya
kerusakan akibat oksidasi. Antioksidan biasa digunakan pada konsentrasi 0,001%
- 0,1% (Lachman dkk, 1994). Antioksidan yang banyak digunakan dalam preparat
air diantaranya natrium sulfit, asam hipofostorus dan asam askorbat. Dalam
preparat minyak diantaranya alfatoker (vitamin E), BHA (Butil hidroksitoluen)
dan askorbil palmitat (Ansel, 1989).
4). Penambah Bau
Tujuan penambah bau adalah untuk dapat menutupi bau yang tidak enak yang
ditimbulkan oleh zat aktif atau obat (Ansel, 1989). Dapat digunakan penambah
bau berupa essence dari buah-buahan yang disesuaikan dengan rasa dan warna
sediaan.
d. Pembuatan Gel
Secara umum pembuatan gel dengan basis larut air dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
1). Pembuatan gel dengan air dingin
Basis dikembangkan dalam air dingin sambil diaduk sampai terbentuk
campuran yang homogen, kemudian zat aktif dan bahan lainnya ditambahkan
ke dalamnya sambil diaduk sampai terbentuk gel yang jernih.
2). Pembuatan gel dengan air panas
Basis dikembangkan dalam air panas, kemudian diaduk sampai terbentuk
campuran yang homogen, kemudian kedalamnya ditambahkan zat aktif dan
bahan lainnya sambil diaduk sampai terbentuk gel yang jernih.
f. Stabilitas fisik gel
Pengujian stabilitas fisik gel meliputi hal-hal sebagai berikut:
1). Warna
Warna pada gel diamati dan tidak boleh mengalami perubahan warna selama
penyimpanan.
2). Bau
Gel mempunyai bau yang enak, bau pada gel tidak boleh berubah menjadi
tengik selama penyimpanan.
3). Kejernihan
Gel harus jernih, tidak boleh menjadi keruh dan tidak boleh terdapat partikel
selama masa penyimpanan.
4). pH
pH gel berkisar antara 5,5-10 sesuai dengan pH yang dapat diterima oleh kulit.
Pengujian pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter Hanna.
5). Kekentalan (viskositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi kecepatan dari cairan tersebut, makin
kental, kecepatan alirnya makin turun. Kekentalan gel tidak boleh mengalami
perubahan selama penyimpanan. Pengujian viskositas dilakukan dengan
menggunakan alat viskosimeter Brookfield.



g. Pengemasan dan Penyimpanan Gel
Sediaan yang mengandung air seperti halnya gel baik dikemas di dalam tube
(Voigt, 1995). Ada beberapa macam tube antara lain tube plastik, tube timah, dan
tube aluminium. Tube plastik baik digunakan untuk mengurangi resiko
kontaminasi pada saat penggunaannya, tube timah sering digunakan karena
sifatnya bisa berinteraksi dengan bahan penyusun formula atau gel tersebut (
Collect dan Aulton, 1990).




















BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Formula
R/ HPMC 2,5%
Propilen Glikol 15
Metil Paraben 0,1 %
Minyak Sereh 1%
Akuades ad 100
m.f.jelli
s.u.e

3.2 Alat dan Bahan
a. Alat
Beaker glass
Cawan porselin
Lumpang dan stamper
Spatula
Sudip
Batang pengaduk
Timbangan gram
Timbangan miligram
Kertas perkamen
Waterbath

b. Bahan
HPMC
Propilen Glikol
Metil Paraben
Minyak Sereh
Akuades

3.3 Perhitungan Bahan
HPMC =


Air panas = 20 x 2,5 g = 50 g 50 mL
Propilen Glikol = 15 g
Metil Paraben =

= 100 mg
Minyak Sereh


Akuades ad = 100 (2,5 + 50 + 15 + 0,1 +1)
= 100 68,6
= 31,4 mL

3.4 Penimbangan Bahan
HPMC = 2,5 g
Air panas = 50 mL
Propilen Glikol = 15 g
Metil Paraben = 100 mg
Minyak Sereh = 1 mL
Akuades = 31,4 mL



3.5 Prosedur
Timbang seluruh bahan sesuai dengan jumlah yang ditentukan
Larutkan metil paraben dengan air panas (massa 1).
Taburkan HPMC di atas air panas tunggu 10 menit.
Gerus sampai homogen.
Tambahan propilen glikol sedikit demi sedikit sambil terus digerus hingga
homogen.
Tambahkan sisa akuades sedikit demi sedikit.
Masukkan ke dalam pot beri etiket.

3.6 Evaluasi
Evaluasi gel pada percobaan ini dilakukan dengan cara :
Uji Homogenitas (F. Ind. Ed III, 1997)
Alat : Objek glass / kertas perkamen
Cara : Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lainnya
yang cocok harus menunjukkan susunan yang homogen.
Uji Viskositas
Alat : Viskometer Brookfield type RVF 100
Cara : Sebanyak 100 mL gel HPMC dimasukkan ke dalam beaker glass,
panaskan + 37
0
C sampai garis tanda. Celupkan spindel 63 ke dalam
gel bersuhu 37
0
C samapai garis tanda. Hidupkan alat dengan
menekan saklar ke arah ON. Atur putaran spindel dengan 2 rpm, 2,5
rpm, 3 rpm, 4 rpm, dan 5 rpm. Biarkan piringan skala penunjuk
berputar sampir stabil, tekan pemutar handle pemutar pringan skala
agar kedudukan penunjuk skala dapat dibaca dengan jelas, lalu tekan
skala ke arah off.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari hasil percobaan diperoleh salep/gel antinyamuk yang cukup baik.
Adapun hasil yang mendukung adalah bahwa salep/gel memenuhi persyaratan
dari uji evaluasi antara lain:
- Uji homogenitas
Massa gel yang telah dibuat di uji homegenitasnya dengan menggunakan
bantuan objek glass dan hasilnya salep/gel tersebut homogen dan
memenuhi syarat.
- Uji Viskositas
Massa gel diuji viskositasnya dengan menggunakan viskometer, dan gel
tersebut memiliki sebagi berikut:
2 Rpm = 11,42 %
Cp = 6840
2,5 Rpm = 14, 1%
Cp = 6770
3,0 Rpm = 15%
Cp = 6000
4,0 Rpm = 19,8%
Cp = 5940
5,0 Rpm = 24,3%
Cp = 5830

4.2 Pembahasan
Pada percobaan gel ini dilakukan uji homogenitas dan uji viskositas gel,
uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan sediaan yang
dibuat. Homogenitas sediaan dapat dilihat dari ketercampuran bahan-bahan yang
digunakan pada basis semisolida. Uji ini dilakukan dengan cara tiap sediaan
diletakkan pada objek glass lalu dilekatkan objek glass lainnya dan dilihat
homogenitas sediaan. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, isi dari kedua
sediaan salep mempunyai homogenitas yang baik dimana tidak terdapat serbuk
yang tidak halus di objek glass.
Uji viskositas gel dilakukan dengan cara sebanyak 100 ml gel dimasukkan
ke dalam beaker glass. Celupkan spindel no. 5 kedalam gel. Hidupkan alat dengan
menekan saklar kearah on, Atur putaran spindel dengan 2 rpm. Biarkan piringan
skala penunjuk berputar sampai stabil. Tekan pemutar handle pemutar piringan
skala agar kedudukan penunjuk skala dapat dibaca dengan jelas, lalu tekan saklar
ke arah off. Hasil viskositas gel yang diperoleh yaitu pada 2 rpm adalah 2660 Cp;.
Kekentalan gel akan berpengaruh pada kecepatan alir gel tersebut sesuai
dengan teori Ansel (1989) yang menyatakan bahwa makin kental kecepatan
alirannya makin turun kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mernpengaruhi
pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya dengan rnenambah
viskositas cairan. Gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan
diperlambat.















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Bentuk sediaan gel berupa sediaan semisolid
2. Basis dari gel yang Berbentuk serbuk halus/granul yang berwarna putih agak
kekuningan sampai putih, tidak berasa dan berbau. HPMC termasuk bahan
yang stabil meskipun bersifat higroskopis setelah dikeringkan. HPMC
membentuk tranformasi sol-gel yang reversible melalui pemanasan. Larutan
HPMC dalam air yang disimpan dalam jangka waktu lama sebaiknya diberi
pengawet. Bahan ini tidak tercampur dengan beberapa oksidator.
3. Basis dikembangkan dalam air panas, kemudian diaduk sampai terbentuk
campuran yang homogen, kemudian kedalamnya bahan lainnya sambil
diaduk sampai terbentuk gel yang jernih.
4. Gel secara umum merupakan suatu sediaan semipadat yang jernih dan
tembus cahaya yang mengandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut.
5. proses evaluasi gel pada percobaan ini yaitu uji homogenitas menggunakan
objek glass dan uji viskositas menggunakan Viskometer Brookfield Type
RVF 100.
B. Saran
1. Sebaiknya antar partner dibedakan bahan aktif ataupun bahan dasar yang
akan digunakan dalam membuat gel. Agar hasilnya lebih bervariatif.
2. Melakukan uji evaluasi sediaan gel yang lain seperti uji pH, warna, bau,
kejernihan dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA
Ansel, C. H. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Terjemahan oleh :
F. Ibrahim. Jakarta: UI press . Halaman : 157-161 dan 392 397
Collect, D.M dan M. E. Aulton. 1990. Pharmaceutical Pratice. Churchill
London, Melborne and New York: Lipingstone. Halaman : 125 -133
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi IV. Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta, Halaman : 7 dan 82-83
Duin, C. F. Van.1947. Ilmu Resep Dalam Praktek dan Teori. Jakarta: Soeroengan.
Indonesia.Halaman: 45
Lachman, L., H. A. Lieberman., dan J. L. Kaning. 1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri. Terjemahan oleh : S. Suyatmi. Jakarta: UI Press.
Halaman: 167 - 170
Rowe, R. C., P. J. Sheskey, dan S. C. owen. 2006. Hanbook of Pharmaceutical
Excipients adisi V. American Pharmaceutical Press: Washington.
Sulaiman, T. N. S., dan Kuswahyuning, R., 2008, Teknologi dan Formulasi
Sediaan Semipadat, Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas
Farmasi, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Halaman: 33, 54-57,
81, 97-101, 110-112, 137-143
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Terjemahan Oleh : S. N.
Soewandhi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Halaman 353-359 dan
565-586