Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008, kanker
merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Terhitung
ditemukan 7.6 juta kasus kanker terjadi pada tahun 2004 di seluruh dunia dan
13% dari segala jenis kematian global disebabkan oleh keganasan. Data statistik
menunjukkan bahwa kanker payudara menempati urutan pertama dengan jumlah
kasus terbanyak dari seluruh jenis kasus kanker di seluruh dunia.
Sebanyak 69% kejadian kanker payudara di seluruh dunia terjadi di negara-
negara berkembang, walaupun di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia,
kanker payudara menempati urutan kedua kejadian tertinggi setelah kanker leher
rahim. WHO mengestimasikan bahwa 84 juta orang meninggal akibat kanker
dalam rentang waktu 2005-2015. Survei yang dilakukan WHO menyatakan 8-9
persen wanita mengalami kanker payudara.
Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan payudara
abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltratif dan
destruktif, serta dapat bermetastase.
Penelitian di Jakarta Breast Cancer pada April 2001 sampai April 2003
menunjukan bahwa dari 2.834 orang memeriksakan benjolan di payudaranya,
2.229 diantaranya (78%) merupakan tumor jinak, 368 orang (13%) terdiagnosis
kanker payudara dan sisanya merupakan infeksi dan kelainan bawaan payudara
(Djoerban, 2003).
Menurut data statistik WHO, di Indonesia menunjukkan penderita tumor ganas
payudara meningkat setiap tahunnya. Terdapat 5.207 kasus pada tahun 2004,
meningkat menjadi 7.850 kasus pada tahun 2005. Selanjutnya pada tahun 2006
penderita tumor ganas payudara terus meningkat hingga 8.328 kasus dan
mencapai 8.377 kasus pada tahun 2007.
Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa, faktor risiko terjadinya kanker
payudara meliputi banyak hal. Dan tumor payudara, baik tumor jinak ataupun
tumor ganas, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena
mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi.
2

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan kanker payudara?
2. Apa saja faktor risiko kanker payudara?
3. Bagaimana prevalensi kanker payudara?
4. Bagaimana gejala dan ciri-ciri kanker payudara?
5. Bagaimanakah cara mendeteksi kanker payudara?
6. Bagaimana cara pencegahan kanker payudara?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, adapun yang menjadi tujuan dalam
penyusunan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kanker payudara
2. Mengetahui apa saja faktor risiko kanker payudara
3. Mengetahui prevalensi kanker payudara
4. Mengetahui bagaimana gejala dan ciri-ciri kanker payudara
5. Mengetahui bagaimana cara mendeteksi kanker payudara
6. Mempelajari bagaimana cara pencegahan kanker payudara

3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kanker
2.1.1 Definisi Kanker
Kata tumor secara literatur mempunyai arti pembengkakan yang abnormal.
Tumor atau neoplasma merupakan suatu lesi sebagai hasil dari pertumbuhan
abnormal dari sel yang otonom atau relatif otonom, yang menetap, walau
rangsang penyebabnya telah dihilangkan. Sel yang mengalami transformasi
tersebut disebut sel neoplastik. Sel menjadi neoplastik terjadi akibat
hilangnya responsivitas terhadap faktor pengendali pertumbuhan yang
normal (Underwood, 1996).
Berdasarkan sifatnya, tumor dibagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas
atau maligna (kanker). Tumor jinak tidak mempunyai kemampuan untuk
menginfiltrasi jaringan sekitar, tidak bermetastasis ke organ lain, serta
sebagian besar diantaranya tumbuh perlahan, walaupun sebagian tumor jinak
mampu tumbuh lebih cepat dibanding sel kanker. Sel tumor dikatakan
maligna ketika sel tersebut cenderung tumbuh lebih cepat dan tumbuh
dengan cara infiltrasi, invasi, destruksi hingga metastasis ke jaringan lain
(Kumar, 2007). Kanker sendiri merupakan kata yang lebih sering digunakan
dalam lingkungan masyarakat dibanding dalam lingkungan kedokteran; yang
mempunyai konotasi emosional dan secara umum mempunyai arahan
kepada tumor ganas atau maligna (Underwood, 1996).
2.1.2 Kanker Payudara
Tumor payudara adalah sekelompok sel yang tidak normal pada payudara
yang terus tumbuh berlipat ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. Pada umumnya, tumor payudara bisa berasal dari
jaringan ikat atau struktur epitel. Tumor payudara juga dapat tumbuh di dalam
kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada
payudara (Kumar, 2007).
Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan
payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh
infiltratif dan destruktif, serta dapat bermetastase. Tumor ini tumbuh
progresif, dan relatif cepat membesar. Pada stadium awal tidak terdapat
4

keluhan sama sekali, hanya berupa fibroadenoma atau fibrokistik yang kecil
saja, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, permukaan tidak rata, dan
konsistensi padat dan keras (Ramli,1994).

2.2 Payudara
Untuk dapat mengenal perjalanan penyakit kanker payudara dengan baik dan
memahami dasar-dasar tindakan pengobatan pada kanker payudara maka sangat
penting mengetahui anatomi payudara itu sendiri. Menurut Ramli (1994),
payudara terletak pada hemitoraks kanan dan kiri dengan batas-batas sebagai
berikut:
1. Batas-batas payudara yang tampak dari luar:
a. superior: iga II atau III
b. inferior: iga VI atau VII
c. medial: pinggir sternum
d. lateral: garis aksilaris anterior
2. Batas-batas payudara yang sesungguhnya:
a. superior: hampir sampai ke klavikula
b. medial: garis tengah
c. lateral: muskulus latissimus dorsi

2.2.1 Struktur Payudara
Payudara terdiri dari berbagai struktur:
1. parenkhim epitelial
2. lemak, pembuluh darah, saraf, dan saluran getah bening
3. otot dan fascia
Parenkim epitelial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus yang masing-
masing mempunyai saluran tersendiri untuk mengalirkan produknya, dan
muara putting susu. Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari
kelenjar payudara (Ramli,1994).
2.2.2 Vaskularisasi Payudara
Menurut Ramli (1994), vaskularisasi payudara terdiri dari:
1. Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
5

a. Cabang-cabang ferforantes arteri mammaria interna. Cabang-
cabang I,II,III, dan IV dari arteri mammaria interna menembus
dinding dada dekat pinggir sternum pada interkostal yang sesuai,
menembus muskulus pektoralis mayor dan memberi perdarahan
tepi medial glandula mamma.
b. Rami pektoralis arteri thorako-akromialis. Arteri ini berjalan turun
di antara muskulus pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan
pembuluh utama muskulus pektoralis mayor. Setelah menembus
muskulus pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula
mamma bagian dalam (deep surface).
c. Arteri thorakalis lateralis (arteri mammaria eksterna). Pembuluh
darah ini jalan turun menyusuri tepi lateral muskulus pektoralis
mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara.
d. Arteri thorako-dorsalis. Pembulus darah ini merupakan cabang
dari arteri subskapularis. Arteri ini mendarahi muskulus latissimus
dorsi dan muskulus serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak
memberikan pendarahan pada glandula mamma, tetapi sangat
penting artinya. Karena pada tindakan radikal matektomi,
perdarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit di control,
sehingga daerah ini di namakan the bloody angle.
2. Vena
Pada daerah payudara terdapat 3 vena, yaitu:
a. Cabang-cabang perforantes vena mammaria interna. Vena ini
merupakan vena terbesar yang mengalirkan darah dari payudara.
Vena ini bermuara pada vena mammaria interna yang kemudian
bermuara pada vena innominata.
b. Cabang-cabang vena aksilaris yang terdiri dari vena thorako-
akromialis, vena thorako-lateralis dan vena thorako-dorsalis.
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada vena interkostalis. Vena
interkostalis bermuara pada vena vertebralis, kemudian bermuara
pada vena azygos (melalui vena-vena ini metastase dapat terjadi di
paru).

6

2.3 Epidemiologi Kanker Payudara
Berdasarkan data World Health Organization, tumor ganas merupakan salah satu
penyebab kematian yang cukup tinggi. Terhitung ditemukan 7.6 juta kasus tumor
ganas terjadi pada tahun 2004 di seluruh dunia dan 13% dari segala jenis
kematian global disebabkan oleh keganasan (WHO, 2008). Diantara seluruh
jenis keganasan, tumor ganas payudara adalah tumor ganas yang paling sering
ditemukan, khususnya pada wanita. Prevalensi tumor ganas payudara mencapai
23% dari seluruh kejadian keganasan dengan 14% diantaranya menyebabkan
kematian (CA Cancer, 2011). Sementara itu, 238.130 wanita di Amerika Serikat
didiagnosa menderita tumor ganas payudara dengan 39.520 orang meninggal
(American Cancer Society, 2011). Data statistik menunjukkan bahwa tumor
ganas payudara menempati urutan pertama dengan jumlah kasus terbanyak dari
seluruh jenis kasus keganasan di seluruh dunia (WHO, 2008).
Menurut WHO (2008), 69% kejadian tumor payudara diseluruh dunia terjadi di
negara-negara berkembang, walaupun di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk
Indonesia, tumor ganas payudara menempati urutan kedua kejadian tertinggi
setelah kanker leher rahim.
Statistik di Indonesia menunjukkan penderita tumor ganas payudara meningkat
setiap tahunnya. Terdapat 5.207 kasus pada tahun 2004, meningkat menjadi
7.850 kasus pada tahun 2005. Selanjutnya pada tahun 2006 penderita tumor
ganas payudara terus meningkat hingga 8.328 kasus dan mencapai 8.377 kasus
pada tahun 2007.

2.4 Faktor Risiko Kanker Payudara
Faktor etiologinya sampai saat ini belum di ketahui pasti, namun dapat dicatat
pula bahwa penyebab itu sangat mungkin multifaktorial yang saling
mempengaruhi satu sama lain. Faktor risiko terjadinya kanker payudara yaitu:
1. Jenis Kelamin
Berjenis kelamin perempuan adalah faktor resiko utama menderita tumor atau
kanker payudara. Laki-laki bisa saja menderita tumor payudara, tetapi
penyakit ini berkembang 100 kali lebih sering pada perempuan daripada laki-
laki. Ini dikarenakan kaum perempuan memproduksi lebih banyak hormon
estrogen dan progesteron yang diduga mampu mempercepat pertumbuhan sel
kanker (American Cancer Society, 2013).
7

2. Usia
Tumor dan kanker payudara jarang terjadi pada kaum perempuan dengan usia
dibawah 30 tahun, namun setelah itu resiko meningkat secara tetap sepanjang
usia (Kumar, 2007). Menurut Cotton dalam Zebua (2011) juga dikatakan,
kanker payudara jarang terjadi padausia sebelum 25 tahun, kecuali pada
beberapa kasus yang berhubungan dengan faktor familial. Secara keseluruhan
dapat terjadi pada semua usia, 77 % terjadi pada wanita diatas 50 tahun dan
rata-rata diagnosis ditegakkan pada wanita usia 64 tahun.
3. Ras dan Etnis
Secara keseluruhan, wanita kulit putih lebih mudah menderita tumor payudara
daripada wanita Afrika ataupun wanita Amerika. Tetapi statistik
menunjukkan bahwa kematian akibat kanker payudara lebih banyak
ditemukan pada wanita Afrika-Amerika. Penduduk Asia dan negara-negara
lain memiliki resiko lebih rendah untuk menderita suatu tumor payudara
(American Cancer Society, 2013).
4. Riwayat Keluarga Menderita Tumor Payudara
Tumor dan kanker payudara beresiko lebih tinggi pada wanita yang
mempunyai hubungan darah dengan seseorang yang mengidap penyakit ini
juga. Memiliki hubungan sedarah langsung dengan orang yang menderita
tumor ataupun kanker payudara (misalnya ibu, adik, kakak atau anak
perempuan) meningkatkan resiko hingga 2 kali lipat. Wanita dengan ayah
ataupun adik laki-laki yang memiliki riwayat tumor payudara juga mengalami
peningkatan resiko meskipun resiko pastinya masih belum diketahui
(American Cancer Society, 2013).
5. Riwayat Personal Menderita Tumor Payudara
Wanita dengan tumor payudara pada salah satu payudaranya memiliki resiko
hingga 34 kali lipat mendapat tumor payudara yang baru pada payudara
yang lainnya maupun pada bagian lain di payudara yang sama (American
Cancer Society, 2013)
6. Periode Menstruasi
Wanita yang mulai mengalami menarche terlalu cepat (sebelum usia 12
tahun) dan/atau menopause terlalu lama (setelah usia 55 tahun) mempunyai
resiko yang sangat tinggi. Wanita nullipara juga memiliki resiko lebih tinggi
dibanding mereka yang tidak. Peningkatan resiko ini terkait dengan
8

terpaparnya wanita tersebut dengan hormon estrogen dan progesteron dalam
jangka waktu yang relatif lebih lama dibanding wanita pada umumnya
(American Cancer Society, 2013).
7. Obesitas
Obesitas meningkatkan resiko seseorang menderita tumor payudara baik jinak
ataupun ganas, terutama tumor payudara pascamenopause. Hal ini
dikarenakan sirkulasi estrogen pada wanita yang telah memasuki masa-masa
menopause diatur oleh jaringan lemak. Semakin banyak jaringan lemak
dimiliki oleh individu, semakin tinggi resiko orang tersebut menderita tumor
atau kanker payudara. Dibuktikan dengan sebuah penelitian yang dilakukan
80.000 suster di rumah-rumah sakit, didapatkan wanitayang telah memasuki
usia 18 tahun cenderung mengalami peningkatan berat badan hingga 55 pons
dan 50% diantaranya memiliki resiko terkena kanker payudara (American
Cancer Society, 2011)
8. Paparan Estrogen Eksogen
Penggunaan kontrasepsi oral; Penelitian-penelitian epidemiologi pada
kontrasepsi oral selama ini selalu berfokus pada efek samping dari
penggunaan kontrasepsi oral, di antaranya tromboembolisme (khususnya pada
penggunaan dosis tinggi), miokard infark (khususnya pada wanita berusia
diatas 40 tahun ditambah riwayat merokok), dan hipertensi. Kontroversi
muncul terkait penggunaan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks
ataupun kanker payudara. Hasil dari sebagian besar penelitian observasional
menunjukkan bahwa wanita yang sedang mengonsumsi kontrasepsi oral
ataupun yang sudah berhenti mengonsumsi selama 10 tahun belakangan,
mempunyai peningkatan resiko kanker payudara yang kecil namun signifikan.
Wanita yang mengonsumsi kontrasepsi oral pada usia yang lebih muda juga
mengalami peningkatan resiko dibanding mereka menggunakannya saat usia
tua.
9. Mengonsumsi Alkohol dan Merokok
Peningkatan resiko terjadi sejalan dengan jumlah pengonsumsian alkohol.
Dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol, wanita yang
mengonsumsi alkohol segelas perhari mengalami peningkatan resiko
walaupun kecil. Mereka yang minum 2 5 kali perhari mempunyai resiko
hingga 1.5 kali lipat lebih tinggi. The International Agency for Research on
9

Cancer (2009) menyimpulkan terdapat bukti yang menunjukkan bahwa
merokok dan menjadi perokok pasif dapat menyebabkan kanker payudara.
Percobaan pemberian paparan zat-zat yang terkandung dalam rokok pada
konsentrasi tinggi menyebabkan kanker payudara pada mencit. Zat-zat
tersebut mencapai jaringan payudara dan ditemukan pada air susu (American
Cancer Society, 2013)

2.5 Gejala Klinis Kanker Payudara
Gejala kanker payudara bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi
kanker payudara sangat jarang pada pria dibandingkan dengan wanita. Lebih dari
1 dari 10 perempuan cenderung menderita gejala kanker payudara. Gejala utama
dari kejadian tumor payudara adalah massa dan benjolan. Benjolan yang tidak
sakit, keras, mempunyai batas yang ireguler. Sedangkan kanker payudara bisa
saja lunak, lembut, atau bulat rapi, dan bisa terasa nyeri (American Cancer
Society, 2013).
Tanda dan gejala lain menunjukkan tumor payudara adalah adanya benjolan pada
payudara yang dapat diraba dengan tangan. Tumor biasanya tunggal dengan
garis tengah kurang dari 1 cm, berbatas tegas dan bisa digerakkan.
Sedangkan pada keganasan, tumor biasanya dengan batas tidak jelas, konsistensi
lunak dan tidak bisa digerakkan (Kumar, 2007). Perubahan kulit pada payudara
seperti kulit tertarik (skin dimpling), benjolan yang terlihat (visible lump),
gambaran kulit jeruk, eritema ulkus dan kelainan pada puting, retraksi puting
(nipple retraction), sekret puting (nipple discharge), eksema merupakan tanda
keganasan lainnya pada payudara (Ndhluni, 2009)

2.6 Diagnosis Kanker Payudara
Menurut Carey (2009), keluhan pada pasien biasanya bermula dari tumor dengan
keadaan jinak, tidak teratasi, kemudian menjadi semakin parah. Keluhan-keluhan
tersebut antara lain adanya massa pada payudara, keluarnya sekret dari puting,
nyeri pada payudara. Untuk segera menegakkan diagnosis segera dapat langkah-
langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Anamnesis
Anamnesis berperan besar dalam pengelolaan pasien kanker payudara.
Dokter dapat memperoleh informasi tentang kondisi medis yang relevan.
10

Hal-hal bersifat simtomatis, riwayat menstruasi, riwayat keluarga dan riwayat
pengobatan, obstetri, dan informasi tentang latar belakang pasien sangat
berguna untuk mendiagnosa. Selain itu, mendapatkan rincian situasi sosial
pasien bisa memberikan informasi tentang meningkatnya risiko akibat
menderita gangguan emosi dan psikososial (National Breast Cancer Centre,
2001).
2. Pemeriksaan Fisik
Sampai kini pemeriksaan fisik payudara belum mempunyai standar.
Walaupun demikian, pemeriksaan yang baik mempunyai nilai prediktif
positif sampai 73% dan nilai prediktif negatif sampai 87%. Massa harus bisa
teraba secara 3 dimensi, batasnya jelas, konsistensinya berbeda dengan
sekitar, dan tidak dipengaruhi oleh siklus haid. Dicurigai ganas apabila
konsistensi kenyal-keras, batas tidak tegas, terfiksasi ke jaringan sekitarnya,
terdapat retraksi kulit dan atau putih susu, ditemukan luka, atau cairan dari
puting susu. Janganpernah lupa untuk membandingkannya dengan payudara
sisi lainnya (Fadjari, 2012).
3. Pemeriksaan Pencitraan
Mammografi; Diagnostic mammography, harus dibedakan dengan screening
mammography, dilakukan setelah abnormalitas pada payudara telah
terdeteksi melalui pemeriksaan fisik. Diagnostic mammography bertujuan
untuk mengevaluasi payudara sebelum dilakukan biopsi. Mammografi
termasuk bagian dari triple-test sebelum menyingkirkan kemungkinan
perlakuan biopsi (Longo, 2010).
Ultrasonografi Payudara; Ultrasonografi payudara adalah pemeriksaan
tambahan setelah dilakukan mammografi. USG payudara biasanya dilakukan
pada wanita berusia dibawah 35 tahun, pada pasien yang telah dilakukan
mammografi tetapi massa tidak teraba, pasien yang menolak tindakan
aspirasi, dan pasien yang tidak bisa diaspirasi. Kegunaan utama dilakukannya
pencitraan dengan ultrasonografi adalah untuk menginvestigasi lesi target
yang ditemukan oleh mammografi (Carey, 2009)
4. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Fine Needle Aspiration (FNA); FNA memiliki peranan penting sebagai
bagian dari triple-test bersama pemeriksaan fisik, mamografi untuk
menegakkan kejadian tumor atau kanker payudara. Fineneedle aspiration
11

dapat memberikan informasi yang cepat apakah masa yang teraba adalah
massa padat ataupun cair (kista). FNA payudara dilakukan dengan
menggunakan syringe10cc dan jarum 23-gauge, kemudian dapat dilakukan
drainase pada masa kistik (Hall, 2005). Biopsi Payudara; dilakukan setelah
mammogram, tes pencitraan lain ataupun pemeriksaan fisik dilakukan.
Biopsi payudara terdiri atas beberapa tipe, antara lain Core Needle Biopsy,
Surgical (open) Biopsy, Lymph node dissection dan sentinel lymph node
biopsy.

2.7 Cara Pengobatan Kanker Payudara
Tatalaksana yang dilakukan untuk pengobatan tumor ataupun kanker payudara
biasanya selalu berhubungan dengan pembedahan. Tujuan utama pengobatan
kanker payudara pada tahap awal adalah untuk mengangkat tumor dan
membersihkan jaringan sekitar tumor. Tumor primer biasanya dihilangkan
dengan pembedahan, yaitu lumpectomy di mana tumor tersebut diangkat, atau
dengan pembedahan mastectomy, di mana sebagian payudara yang mengandung
sel kanker diangkat, atau seluruh payudara diangkat. Selain terapi pembedahan
ada radioterapi adjuvan, dimana terapi ini berfungsi untuk mengurangi resiko
rekurensi tumor lokal setelah operasi dengan membunuh sel-sel kanker yang
tersisa. Selain pembedahan, terapi sistemik yang berhubungan secara hormonal,
kemoterapi, dan mengobati sel-sel target juga dipertimbangkan dalam
manajemen terapi tumor dan kanker payudara (Rubin, 2012).

2.8 Deteksi Dini Kanker Payudara
Skrining tumor dan kanker payudara penting dilakukan sebagai primary care
untuk mencegah terjadinya tumor payudara. Skrining tumor payudara dapat
dilakukan dengan cara berikut, antara lain:
1. Pemeriksaan Payudara Sendiri
Menurut American Cancer Society, wanita berusia 20-an haruslah diberikan
pendidikan mengenai manfaat dan keterbatasan melakukan pemeriksaan
payudara sendiri. Wanita haruslah mengetahui bagaimana keadaan payudara
normal dengan melihat dan merasakan, dengan itu setiap perubahan pada
perubahan dapat dideteksi dini dan diberikan perhatian profesional. Payudara
12

diperiksa sendiri setiap bulan 5-7 hari sesudah haidberhenti. Tahap-tahap
melakukan pemeriksaan payudara sendiri:
a. Memperhatikan di depan kaca dengan kedua tangan diletakkan di
pinggang. Meliputi bentuk dan ukuran, warna kulit kemerahan, tekstur
kulit tampak menebal dengan pori-pori melebar atau mulus, adakah
puting lurus ke depan atau tertarik ke dalam, puting atau kulit ada yang
lecet, pembengkakan (payudara yang normal adalah payudara dengan
bentuk sempurna tanpa perubahan warna, tekstur dan pembengkakan).
b. Mengangkat kedua tangan, tetap perhatikan di depan cermin.
c. Memperhatikan dan memijat di depan cermin, apakah ada cairan keluar
dari puting (bisa seperti susu, cairan berwrna kuning atau putih atau
darah)
d. Dalam keadaan berbaring, melakukan perabaan dengan kedua tangan
pada payudara. Dilakukan dengan gerakan memutar mulai dari tepi
payudara hingga ke puting, masing-masing gerakan memutar dilakukan
dengan kekuatan tekanan berbeda-beda. Pastikan bahwa seluruh regio
payudara telah teraba.
e. Meraba payudara dalam keadaan berdiri atau duduk, biasanya dilakukan
saat sehabis mandi (Breast Cancer Organization, 2012)
2. Skrining Mammografi
Mammografi adalah pemberian sinar-x dalam dosis yang ringan pada
jaringan payudara. Mammografi dilakukan pada wanita yang berumur sekitar
40 tahun (Nelson, 2009). Penelitian-penelitian meta-analysis menunjukkan
bahwa metode mammografi mengurangi kemungkinan kematian akibat
kanker payudara sebesar 25-30% melalui skrining. Statistik juga
menunjukkan untuk wanita berusia diantara 40-50 tahun memperlihatkan
hasil hampir selalu positif. Penggunaan mammografi sebagai salah satu cara
skrining meningkatkan penemuan kejadian tumor payudara sebelum terlihat
gejala klinis pada pasien. Namun ada kalanya beberapa dari kejadian tumor
payudara tidak ditemukan dengan mammogrfi, bukan karena tesnya tidak
selesai dilakukan, bahkan dalam beberapa kondisi yang normal, mammografi
tidak berhasil menemukan seluruh kejadian tumor payudara (Longo, 2005).

13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebanyak 69% kejadian kanker payudara di seluruh dunia terjadi di negara-
negara berkembang. WHO mengestimasikan bahwa 84 juta orang meninggal
akibat kanker dalam rentang waktu 2005-2015 dan survei yang dilakukan WHO
menyatakan 8-9 persen wanita mengalami kanker payudara. Kanker payudara
adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang
tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltratif dan destruktif, serta
dapat bermetastase.
Faktor risiko terjadinya kanker payudara yaitu Jenis Kelamin; Usia; Ras dan
Etnis; Riwayat Keluarga Menderita Tumor Payudara; Riwayat Personal
Menderita Tumor Payudara; Periode Menstruasi; Paparan Estrogen Eksogen;
Mengonsumsi Alkohol dan Merokok.
Gejala utama dari kejadian tumor payudara adalah massa dan benjolan.
Benjolan yang tidak sakit, keras, mempunyai batas yang ireguler. Sedangkan
kanker payudara bisa saja lunak, lembut, atau bulat rapi, dan bisa terasa nyeri.
Diagnosis untuk mengetahui kanker payudara yaitu Anamnesis, Pemeriksaan
Fisik, Pemeriksaan Pencitraan, dan Pemeriksaan Patologi Anatomi. Salah satu
pencegahan utama untuk mencegah kanker payudara antara lain dengan
melakukan periksaan payudara sendiri. Dan untuk pengobatan yaitu melalui
pembedahan.


14

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society (ACS), 2012. Breast Cancer. Atlanta: American Cancer
Society, Inc. Available from: http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents
/webcontent/003090-pdf. pdf
American Cancer Society (ACS), 2012. Breast Cancer: Early Detection The
importance of finding breast cancer earl. Atlanta: American Cancer Society,
Inc. Available from : http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents
/webcontent/003165-pdf. pdf
American Cancer Society (ACS), 2012. Breast Cancer Facts and Figures 2011-2012.
Available from:
http://www.cancer.org/acs/groups/content/@epidemiologysurveilance/documen
ts/ document/acspc-030975.pdf
Breast Cancer Organization. 2012. Available from:
http://www.breastcancer.org/symptoms/testing/types/self_exam/bse_steps?gcli
d=CNbTg_muyrcCFUlV4godM2UAMw
Breast Cancer Organization. 2010. Your Guide to the Breast Cancer Pathology
Report. Available from:http://www.breastcancer.org/Images/Pathology
_Report_Bro_V14_FINAL_tcm8-333315.pdf
CA Cancer J Clin. 2011. Global Cancer Statistic. 61(2):134. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21296855
Depkes R.I., 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta
Djoerban, Z. 2003. Kanker Payudara:Yang Penting dan Perlu Diketahui. Medicinal:
Jurnal Kedokteran, 4 (2)
Fadjari, H., 2012. Pendekatan Diagnosis Benjolan di Payudara. CDK-192 39 (4):
308-310. Available from: Htttp://www.kalbemed.com/Portals/6/40_192Praktis_
Pendekatan%20Diagnosis%20Benjolan%20di%20Payudara.pdf
Hall, J.A., Knaus, J.V., 2005. An Atlas of BREAST DISEASE. New York: The
Parthenon Publishing Group, 34-39.
Kumar, V., Cotran R. S., Robbins S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Vol. 1. Ed. 7.
Jakarta: EGC
Kumar, V., Cotran R. S., Robbins S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Vol. 2. Ed. 7.
Jakarta: EGC, 788-802
15

Ndhluni, A., 2009. The ABC of Benign Breast Disease. CME (27) 10: 453 - 455
Available from: www.ajol.info/index.php/cme/article/download/50327/39014
Ramli, M., et al. 1994. Ilmu Bedah. Jakarta: Bagia Bedah Staf Pengajar Fakultas
Kedokteran Indonesia
Rasjidi, I., 2009. Deteksi Dini Pencegahan Kanker Pada Wanita. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Pelita Harapan.
Underwood, J.C.E., 1996. Patologi Umum dan Sistematik. Jakarta: EGC, 258-263
World Health Organization. 2008. WHO Global Burden of Disease 2004 Update.
Geneva: WHO, 12-13
Zebua, J.I., 2011. Gambaran Histopatologi Tumor Payudara di Instalasi Patologi
Anatomi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik-Medan Tahun 2009-
2010. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.