Anda di halaman 1dari 4

POLIP KOLON

PENDAHULUAN
Polip kolon merupakan lesi yang berasal dari permukaan mukosa yang meluas kearah luar. Tarikan pada massa polip dapat
menghasilkan polip bertangkai, atau pedunculated polyp. Polip dapat juga meluas tanpa tangkai yang mencuat,atau sessile polyp. Polip
terbentuk sebagai hasil dari proses inflamasi, pematangan perkembangan, atau arsitektur mukosa yang abnormal. Neoplasma kolon
dapat bersifat jinak atau ganas, dan polip jenis ini sama sekali tidak mempunyai potensi menjadi keganasan. Neoplasma jinak sejati
(lipoma, tumor karsinoid, dan leiomioma) jarang terdapat pada kolon. Akan tetapi polip kolon, sangat sering ditemukan dan merupakan
peralihan antara neoplasma jinak dan ganas. Terdapat tiga bentuk polip kolon : adenoma pedunkulasi, adenoma vilosa, dan poliposis
familial. Namun ada juga yang membagi empat, yaitu : adenomatosa, hiperplastik,harmartomatosa, dan inflamatorik. Namun secara
histologik polip diklasifikasikan sebagai neoplastik atau non-neoplastik. Polip hamartomatosa yang disebut sebagai polip non-neoplastik
tidak mempunyai potensi keganasan yang termasuk didalamnya adalah polip hiperplastik, hamartomatosa, agregat limfoid, dan polip
inflamatorik. Sedangkan polip neoplastik atau adenoma atau neoplasia epitel usus. adalah tipe yang mempunyai potensi keganasan
yang menurut klasifikasi WHO terdiri atas bentuk tubuler, tubulovilus,atau adenoma vilus bergantung daripada penampakan dan
volume dari jaringan vilus. (1,2,3,4,17)
Polip tipe adenomatosa mempunyai kaitan yang erat terhadap kanker kolorektal, karena mempunyai penyebaran yang sama dalam
kolon seperti kanker. Kebanayakan kanker kolorektal, tidak peduli apa etiologinya, berasal dari polip adomatous. Secara klinis,
kemungkinan polip adenomatous untuk menjadi kanker tergantung dari penampakan polip, gambaran histologist, dan ukurannya. Polip
adenomatous mungkin berbentuk besar dan bertangkai atau sessile (permukaannya rata). Hanya sekitar 1 % polip adenomatous yang
berukuran < 1 cm yang bersifat maligna, sedangkan polip yang ukurannya > 2 cm yang bersifat maligna persentasinya naik hingga 40
%. Perjalanan karsinoma-adenoma ini memunculkan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, karena kanker kolorektal adalah
penyebab paling banyak kedua dari angka kematian akibat spesifik kanker di amerika serikat. Oleh karenanya penanganan yang tepat
dari polip kolon mungkin bisa mengurangi resiko dari kematian akibat kanker kolorektal, resiko keganasan meningkat terkait dengan
ukuran dan juga derajat komponen dari vilus.(1,2,14,18)
INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan penelitian dari autopsi didapatkan bahwa polip terdapat pada lebih dari 30% orang berusia diatas 60 tahun. Sekitar 70-
80% dari polip yang direseksi adalah tipe adenomatosa. Dari data lain didapatkan bahwa dari otopsi dan pemeriksaan sigmoidoskopi
menunjukkan bahwa 7-10% populasi diatas 45 tahun terserang. Polip jenis adenoma pedunkulasi menyerang kedua jenis kelamin dan
semua umur, walaupun frekuensi bertambah seiring bertambahnya usia. Bentuk polip pedunkulasi lain yang sering terjadi pada anak-
anak dibawah umur 10 tahun adalah polip juvenilis, yang kadang juga bisa terjadi pada orang dewasa. Sedangkan poliposis familial
merupakan gangguan yang jarang terjadi. Diturunkan secara genetik dominan dan ditandai oleh adanya ratusan polip adenoma baik
yang pedunkulasi maupun yag sesil diseluruh usus besar. Kedua kelamin terserang sama banyak. Polip tidak terdapat pada waktu
lahir, tapi biasanya muncul saat pubertas.(1,2)
ANATOMI
Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki(sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai
kanalis ani. Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Sedangkan kolon sendiri dibagi lagi menjadi kolon ascendens,
transversum, descendens, dan sigmoid. Ada taenia colli (merupakan 3 pita yang mewakili lapisan otot longitudinal padat dari usus
besar) yang berjalan dari pangkal appendix hingga ke rekto-sigmoid junction. Gambaran khas dari kolon sendiri adalah adanya sakulasi
yang dikarenakan ukuran panjang taenia yang lebih pendek daripada usus tempatnya melekat, maka kolon mengambil bentuk seperti
kantung-kantung yang berjajar. Sakulasi ini tidak hanya tampak pada operasi saja, tetapi pada gambaran radiologi juga. Tempat
dimana kolon membentuk kelokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura hepatica dan
fleksura liebalis. Lapisan otot longitudinal kolon membentuk tiga buah pita yang disebut taenia. Batas antara kolon dan rektum tampak
jelas karena pada rektum ketiga taenia tidak tampak lagi. Batas ini terletak dibawah ketinggian promontorium, kira-kira 15cm dari
anus.(1,5,16)
Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan dengan suplai darah yang diterima. Arteria mesenterika superior
memperdarahi belahan bagian kanan(sekum, kolon ascendens, dan duapertiga proksimal kolon transversum), dan arteria mesenterika
inferior memperdarahi belahan kiri(sepertiga distal kolon transversum, kolon descendens, dan sigmoid dan bagian proksimal rektum.
Suplai darah tambahan untuk rektum adalah melalui arteria sakralis media dan arteria hemoroidalis inferior dan media.(1,3)
Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya. Aliran darah vena disalurkan melalui vena mesenterika superioruntuk kolon
ascendens dan kolon transversum, dan melalui vena mesenterika inferior untuk kolon desendens, sigmoid, dan. Rektum. Keduanya
bermuara kedalam v.porta, tetapi v.mesenterika inferior melalui v.lienalis. aliran vena dari kanalis analis menuju ke v.kava inferior.
Karena itu anak sebar yang berasal dari keganasan rektum dan anus dapat ditemukan di paru, sedangkan yang dari kolon ditemukan di
hati.(1,3)
Kolon dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang
berasal dari n.vagus.karena distribusi persarafan usus tengah dan usus belakang, nyeri alih pada kedua bagian kolon kiri dan kanan
berbeda.lesi pada kolon bagian kanan yang berasal dari usus tengah terasa mula-mula pada epigastrium atau diatas pusat. Nyeri pada
apendisitis akut mula-mula terasa pada epigastrium kemudian berpindah ke perut kanan bawah. Nyeri dari lesi pada kolon desendens
atau sigmoid yang berasal dari usus belakang terasa mula-mula di hipogastrium atau dibawah pusat.(1)
FISIOLOGI
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting
adalah mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir
yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Sedikitnya pencernaan yang terjadi di usus besar
terutama diakibatkan oleh bakteri dan bukan karena kerja enzim. Usus besar juga mengekskresikan mukus alkali yang tidak
mengandung enzim untuk melumasi dan melindungi mukosa.(1,3)
Kolon mempunyai 1012 bakteri dalam setiap gram produknya, yang merupakan komensal normal kolon. Ada sekitar 500 spesies
bakteri berbeda, termasuk lactobacilli, bifidobacteriae, bacteroides dan enterobacteriaceae. Umumnya bakteri yang terdapat di kolon
adalah anaerob. Beberapa spesies bakteri kolon bahkan ada yang bersifat pathogen, seperti spesies kolostridial dan Escheria colli
yang mampu mengambil faktoer virulensi dari plasmid dan bakteriofage. Keseimbangan spesies-spesies komensal usus ini mempunyai
peran yang penting untuk menjaga kesehatan kolon dan individu dan sebaliknya, berubahnya keseimbangan komensal kolon dapat
menggangu kesehatan.(20)
Pada umumnya pergerakan usus adalah lambat. Pergerakan usus besar yang khas adalah gerakan mengaduk haustra. Kantong-
kantong atau haustra teregang dan dari waktu ke waktu otot sirkular akan berkontraksi untuk mengosongkannya. Pergerakannya tidak
progresif namun menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik dan meremas-remas sehingga memberi cukup waktu untuk absorbsi.
Terdapat dua jenis peristaltik propulsif : (1). Kontraksi lamban dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak kedepan,
menyumbat beberapa haustra, dan (2) peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon. Gerakan peristaltik ini
menggerakka massa feses kedepan, akhirnya merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali seharidan dirangsang oleh
reflex gastrokolik setelah makan, khususnya setelah makanan pertama masuk pada hari itu. Propulsi feses ke rektum mengakibatkan
distensi dinding rektum dan merangsang refleks defekasi.(1)
PATOLOGI ANATOMI
Polip Neoplastik :
Adenoma tubular : secara mikroskopik terlihat pola asinar yang Nampak jelas dengan vaskularitas yang berubah-ubah.
Adenoma vilous : dari palpasi teraba massa lembut dan licin ketika masih sepennuhnya jinak, apabila dari perabaan terasa tipis/rapuh
maka Wajib dicurigai sebuah keganasan.
Adenoma tubule-vilous : sering tumor berukuran besar dan sessil dengan konfigurasi permukaan campuran dimana sebagian terdapat
tubular dan sebagian lainnya vilous.
Polip non-neoplastik :
o Polip juvenile : secara mikroskopik mengandung tubulus epithelial yang dilapisi sel penghasil mukus yang menempel pada jaringan
ikat longgar.
o Sindrom peutz-jeghers : secara mikroskopik, malformasi mirip pohon dari mukosa muskularis Nampak tertutupi oleh mukosa
normal.(4)
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Adenoma kolorektal adalah turunan monoclonal dari stem sel epielial yang bermutasi. Adenoma lanjut didefinisikan oleh studi polip
nasional dengan ukuran diameter > 1cm, atu mengandung jaringan vilus yang cukup besar atau dysplasia tingkat lanjut, hasil dari
akumulasi berjenjang non-linier dari sejumlah mutasi genetik dan delesi kromosomal selama beberapa tahun. Kebanyakan polip
dengan pengecualian pseudopolip inflamatorik merupakan akibat dari beberapa bentuk dari mutasi genetic (DNA) pada suatu lapisan
sel kolon. Untungnya, beberapa, mungkin setidaknya lima mutasi dibutuhkan pada sel yang sama sebelum muncul kanker dan
kebanyakan polip benigna mungkin hanya memiliki sebuah gen mutasi. Kerusakan DNA secara mengejutkan sering terjadi.(5,6)
Bahkan pada kolon orang dewasa yang normal, sekitar 10% lapisan sel, secara merata mengandung kelainan utama dari kromosom.
Untungnya, hampir semua sel-sel ini nampaknya mengalami sebuah bentuk kematian yang diprogram yang disebut apoptosis, yang
kemudian meluruh secara aman ke dalam lumen usus. Polip adenomatosa, walaupun berasal dari individu yang tidak mempunyai
poliposis familial, biasanya mengandung mutasi yang menghentikan gen bekerja pada kedua pengkopian dari gen adenomatous
polyposis coli (APC), yakni gen yang bermutasi pada familial polyposis coli.(6)
Polip kolon atau adenoma adalah neoplasma epitel benigna yang muncul dari sel epitel yang melapisi kolon. Faktor karsinogenik
lingkungan nampaknya terkait dengan perubahan genetik yang diturunkan dan/atau yang didapat yang pada akhirnya menghasilkan
sebuah fenotip maligna. Bentukan asal molekuler ini membantu menjelaskan pengamatan klinis bahwa adenoma tubular kecil yang
sederhana tetap tidak berubah atau mungkin bahkan berkurang seiring waktu, sedangkan sedikit yang tumbuh dan berkembang
perubahan vilus, dysplasia tingkat tinggi, dan karsinoma invasif. Kebanyakan adenoma tubular kecil mengandung perubahan genetik
yang terjadi sebelumnya, dan hanya sedikit yang mengembangkan perubahan genetik tambahan yang diperlukan untuk merangsang
kecepatan pertumbuhan dan pembelahan seluler, yang berarti bahwa faktor karsinogenik lingkungan sangatlah diperlukan untuk
memunculkan terjadinya keganasan. Dua tipe polip jinak adalah polip hamartomatosa yang mengandung campuran jaringan normal,
dan polip inflamatorik yang mengandung reaksi epithelial inflamatorik dan secara khusus ditemukan pada colitis. (3,7)
GAMBARAN KLINIS
Kebanyakan polip, terutama adenoma bersifat asimtomatik dan biasanya ditemukan secara kebetulan pada sigmoidoskopi, barium
enema, atau autopsi. Tapi semakin besar lesi, semakin cenderung menyebabkan gejala, terutama perdarahan per-rectal yang khas
tidak nampak, sering terjadi. Jika ukuran diameter polip sudah cukup besar ( >2cm) maka akan bisa menstimulus feses sehingga kolon
mengalami gerakan(peristaltik) otot yang giat dalam usaha yang gagal untuk memaksa keluar polip tersebut. Hal dapat menyebabkan
terjadinya nyeri kolik akut. Kadang-kadang, polip besar dapat menimbulkan intususepsi dan obstruksi usus, dan apabila dengan
karakteristik penampakan vilous akan menyebabkan diare berair yang hebat, yang mengakibatkan defisiensi potassium akut sehingga
terjadi kelemahan otot. Diare dan peningkatan frekuensi defekasi merupakan gejala awal, kemuadian diikitu perdarahan per-rektum,
nyeri abdomen, tenesmus, dan anemia. Bisa juga terdapat nyeri rectal dan prolaps anus. Pada tipe vilous biasanya cirri khasnya
berupa terjadi diare yang mengandung mukus yang banyak yang terkadang bisa bercampur dengan darah. Pada keadaan ini pasien
bisa kehilangan cukup banyak potassium. Pada pasien yang simtomatik biasanya muncul sebagai perdarahan saluran cerna bagian
bawah. Yang bervariasi mulai dari perdarahan yang tidak Nampak, yang muncul sebagai anemia defisiensi besi, hingga perdarahan
bebas per-rektum, meskipun jarang polip bisa mengakibatkan perdarahan massif saluran cerna bawah. Polip daerah rectal bagian
bawah dapat menyebabkan keluarnya mukus dari rektum. Pada polip juvenil yang banyak terdapat pada anak-anak, walaupun
terkadang juga terdapat pada orang dewasa. Polip jenis ini mudah untuk prolaps melalui rektum atau menyebabkan penarikan keluar
atau untuk menjatuhkan batang mereka sehingga muncul perdarahan. Pada peutz-jaghers syndrome yang paling khas adalah poliposis
gastrointestinal, dan pigmentasi mukokutaneus. (1,4,6,8,9,10)
DIAGNOSIS
Terdapat beberapa metode yang tersedia untuk mendeteksi polip kolon, diantaranya : tes perdarahan tersembunyi fekal,
sigmoidoskopi, kolonoskopi, dan kombinasi dari barium enema dengan sigmoidoskopi. Barium enema dengan kontras udara akan
menampakkan banyak (multiple) filling defects melibatkan area yang luas pada kolon. Tes perdarahan tersembunyi adalah tes
sederhana dan non-invasif yang paling banyak digunakan oleh dokter-dokter pada perawatan primer. Polip juga bisa dilihat secara
langsung melalui kolonoskopi. Kolonoskopi sekarang diterima sebagai alat diagnostic yang paling akurat dalam mendeteksi polip kolon.
Kolonoskopi juga memungkinkan pengangkatan secara simultan pada kebanyakan jaringan. Bagaimanapun juga, kolonoskopi adalah
tindakan yang paling invasif dan paling mahal dari semua alat skrining. Namun, kolonoskopi dengan cepat pula menjadi metode paling
umum untuk mendeteksi adanya polip kolon dan kanker. Oleh karena kebanyakan kasus polip kolon terdapat pada bagian distal
fleksura splenika, sehingga sigmoidoskopi fleksibel bisa menjadi alternative dari kolonoskopi. Selain itu, untuk keakuratan jenis polip
dan pengobatan yang nantinya akan diberikan maka biopsy hendaknya dilakukan. Karena biasanya polip kolon multiple dan kadang
bersamaan dengan kanker, maka kolonoskopi komplit hingga ke saekum wajib dilakukan walaupun telah ditemukan lesi pada bagian
distal menggunakan sigmoidoskopi fleksibel. Pada anak-anak yang mempunyai riwayat keluarga dengan polip maka seharusnya
dilakukan skrining. Pada anak-anak dengan faktor resiko familial tersebut selain dilakukan kolonoskopi, juga dilakukan tes
genetik.(2,6,8)
Pada gambar pertama menunjukkan polip yang besar dan bertangkai di saekum. Secara histology polip tersebut termasuk jenis
hamartomatosa. Sedangkan pada gambar kedua, dengan enema dobel kontras pada seorang pria 58 tahun menunjukkan sebuah polip
soliter dengan perubahan maligna. Dari gambar ketiga, pada posisi lateral dekubitus sebagai bagian dari studi menggunakan barium
enema menunjukkan polip multiple pada kolon transversal dan descendens.
DIAGNOSIS BANDING
Neoplasma ganas
Artefak yang terlihat pada barium enema (mis: feses, gelembung udara, apeploicae apendiks, limfenodus), yang mungkin dikira
sebagai polip
Divertikel. (9)
KOMPLIKASI
Polip kolon yang tidak terobati dengan baik akan dapat menimbulkan rekurensi bahkan keganasan dalam beberapa tahun. Resiko
semakin meningkat dengan semakin bertambahnya usia, ukuran dan jenis dari polip. Selain kanker polip bisa menyebabkan beberapa
komplikasi seperti perdarahan, diare, obstruksi usus. Apabila perdarahan tidak terkompensasi maka bisa timbul anemia defisiensi
besi.(6,7,9)
PENGOBATAN
Kebanyakan polip dapat diangkat pada saat kolonoskopi dengan teknik elektrokauter. Supaya mengurangi resiko keganasan dimasa
mendatang maka polip harus diangkat semua/total. Apabila ukuran polip besar (>4cm) maka lebih aman dilakukan laparotomi, namun
apabila polip letak distal maka cukup dengan sigmoidoskopi saja. Indikasi laparotomi yang lain adalah apabila dengan kolonoskopi
gagal, ataupun polip multiple. untuk polip yang soliter apabila masih bisa dijangkau dengan sigmoidoskopi maka dilakukan ligasi dan
eksisi. Namun apabila dengan sigmoidoskopi tidak bisa menjangkau, maka termasuk dari indikasi untuk laparotomi. Untuk poliposis
familial, karena dikaitkan erat dengan munculnya keganasan dari usus besar, maka satu-satunya penanganan logis adalah dengan
prokto-kolektomi total dengan ileostomi permanen. Polip mempunyai angka rekurensi yang tinggi sehingga diperlukan follow-up untuk
memastikan. Pasien dengan polip sessile yang besar yang ditangani dengan membuang polip sedikit demi sdikit dengan koloskopi
harus menjalani kolonoskopi follow up dalam 2-6 bulan untuk memastikan semua polip sudah terangkat..Apabila dari kolonoskopi
follow-up tidak ditemukan polip residu, maka kolonoskopi harus diulang dalam tiga tahun, dan setelahnya tiap lima tahun pasien yang
menjalani pangangkatan komplit adenoma tubular yang <1cm harus mendapatkan kolonoskopi ulang setelah lima tahun post
polipektomi. Komplikasi setelah polipektomi kolonoskopi termasuk perforasi pada 0,2 % kasus dan perdarahan klinis yang signifikan
pada 0,3-1 % kasus. (1,2,4,6,9,15)
PENCEGAHAN
Untuk pencegahan awal maupun rekurensi adenoma kolorektal, diet rendah lemak dan tinggi buah-buahan, sayuran, dan serat
direkomendasikan. Berat badan ideal harus dipertahankan, dan merokok dan minum alcohol harus dihindari. Mengonsumsi suplemen 3
gr kalsium karbonat dapat mengurangi rekurensi adenoma. Pemasukan kalori yang berlebihan bisa menyebabkan obesitas yang
dihubungkan dengan perkembangan neoplasia kolorektal. Pemasukan kalori total seharusnya tidak melebihi energy yang dibutuhkan,
sehingga berat badan ideal bisa tetap terjaga. Olahraga yang rutin dapat membantu mempertahankan berat badan ideal yang punya
beberapa keuntungan bagi kesehatan, termasuk pengurangan resiko tumbuhnya neoplasia kolorektal. Konsumsi rokok dan alcohol
yang berlebih juga dihubungkan dengan peningkatan resiko neoplasia kolorektal. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa
pola diet belum terbukti efektifitasnya untuk pencegahan polip tapi konsumsi yang regular dari obat bernama inhibitor cyclo-
oxygenase(COX), semacam obat anti-inflamasi seperti sulindac(clinoril) dapat mereduksi tumbuhnya polip. Bagaimanapun, secara
umum ini hanya akan mengurangi jumlah polip yang rekuren, tapi tidak mencegah rekurensi sepenuhnya, dan kurang efektif sebagai
pengganti atas perlunya kolonoskopi.(3,6)
PROGNOSIS
Prognosis bergantung daripada jenis polip yang ditemukan:
Polip metaplastik
Tidak mempunyai potensi yang signifikan untuk menjadi sebuah keganasan, dan nampaknya tidak akan membawa suatu masalah yang
besar meskipun tidak dilakukan pengangkatan. Pengecualian pada kasus yang sangat jarang yang mungkin bisa menjadi keganasan.
Polip adenomatosa
Semua bentukan adenoma dapat berpotensi menjadi kanker namun angka pastinya sangatlah rendah meskipun tidak dilakukan
pengangkatan. Selama keseluruhan polip telah diangkat tidak ada resiko rekurensi ataupun perubahan menjadi kanker dari polip
tersebut meskipun telah ditemukan sel kanker menginvasi pada batang polip. Namun beberapa polip mempunyai kenaikan resiko
rekurensi apabila polip awalnya berdiameter >1cm, polip yang multiple (empat atau lebih) ataupun polip yang menunjukkan gambaran
pre-kanker pada mikroskop. Pada kasus-kasus ini pengawasan kolonoskopik direkomendasikan setiap lima atau enam tahun.
Poliposia adenomatosa familial
Mempunyai resiko yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi kanker apabila tidak diobati, biasanya melalui colectomy
(pengangkatan secara bedah dari keseluruhan kolon).
Polip juvenile
Juvenile polip adalah polip jinak yang biasanya ditemukan sekitar 10 cm dari anus. Biasanya bermanifestasi sebagai perdarahan rectal
yang tidak disertai nyeri atau sebagai prolapsus. Prolapsus massa yang halus bundar ini adalah ahamrtoma dan tidak mempunyai
potensi untuk menjadi ganas. Pada pasien yang asimtomatik, cukup ditangani dengan observasi saja, namun pada polip yang besar
(>1 cm) atau yang simtomatik disingkirkan dengan endoskopik.13
Bila polip multiple maka mungkin itu adalah tanda adanya poliposis familial yang mempunyai potensi besar menjadi keganasan.
Poliposis peutz-jegehrs
Digambarkan sebagai polip hamartoma di sepanjang usus, dengan densitas terbanyak pada jejunum. Diasosiasikan dengan
peningkatan resiko terjadinya keganasan pada kolon dan usus kecil. Namun hal ini biasanya terjadi pada pasien tanpa pengawasan
yang ketat. Dengan majunya teknologi yang ada dengan teknik endoskopi dan kolonoskopi diharapkan resiko kanker bisa dicegah.19
Prognosis bertambah jelek dengan semakin besarnya ukuran polip., karena bisa berubah menjadi keganasan. Morbiditas yang terjadi
berhubungan dengan komplikasi yang dapat terjadi. (6,7,9)
DAFTAR PUSTAKA
1. Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. Fisiologi (proses-proses penyakit), Edisi empat. Jakarta.EGC 2005
2. Anonymus, Management of Colonic Polyps And Adenomas. Available at : www.ssat.org 2010
3. Bond, john H. polyp guideline : diagnosis, treatment, and surveillance, for patients with colorectal polyps. Minneapolis. The American
Journal of Gastroenterologi. 2000
4. Dudley, H.A.F An Aid to Clinical Surgery. Edisi tiga. Melbourne. Churchill livingstone. 1984
5. Sjamsuhidajat, R. de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta. EGC. 2007
6. Rhodea, Jonathan. Polips In the Colon(Large Bowel). Available at : www.netdoctor.co.uk 2005
7. Enders, Gregory H. Colonic Polyps. Available at : www.emedicine.com 2009
8. Anonymous. Polyps of the Colon and Rectum. Available at : www.merckmanuals.com 2007
9. Doherty, Gerrard M. Current Essentials of Surgery. Polyps colorectal. Michigan. McGraw Hill. 2005
10. Weleh, Kenneth J. et al. Pediatric Surgery. Buku kedua, Edisi empat. 2001
11. Pearlman, Justin D. Imaging in Colon Polyps. Available at : www.emedicine.com 2007
12. Pearlman, Justin D. Imaging in Colon Polyps. Available at : www.emedicine.com 2008
13. Arensman, Robert M. Bambini, Daniel A. Almond, P. Stephen. Pediatric Surgery. Georgetown. Landes Bioscience. 2000
14. Fauci, Anthony. S. Harrisons Principles of internal medicine. Edisi tujuh belas. USA. McGraw Hill. 2008
15. McPhee, Stephen J. et. Al. Current medical diagnosis and treatment. USA. McGraw Hill. 2008
16. Faiz, Omar. Moffat, David. Anatomy at a Glance. USA. Blackwell Science. 2002
17. Kumar. et. al. Robbins Basic Phatology. Edisi delapan. USA. Elsevier. 2007
18. Kantarjian, Hargop M. wolff, Robert A. Koller, Charles A. Md Anderson, Manual of Medical Oncology. Michigan. McGraw Hill. 2007
19. Chandrasoma, Parakrama. Taylor, Clive R. Concise Phatology. Connecticut. Simon & Shuster. 1998
20. Keshav, Satish. The Gastrointestinal System At a Glance. UK. Blackwell Science. 2004