Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

Bunuh diri adalah salah satu dari tiga penyebab utama kematian di antara mereka
yang berusia 15-44 tahun di beberapa negara, dan penyebab utama kedua kematian pada
kelompok usia 10-24 tahun, angka-angka ini tidak termasuk usaha bunuh diri yang bisa
berkali-kali lebih sering dari bunuh diri.
1
Bunuh Diri di seluruh dunia diperkirakan mewakili 1,4% dari total kematian dan 15%
dari kematian cedera. Angka bunuh diri bagi dunia secara keseluruhan diperkirakan mencapai
11,6 per 100.000 penduduk. Setiap tahun, lebih dari 800 000 orang meninggal akibat bunuh
diri, kira-kira satu kematian terjadi setiap 40 detik.
1

Rasio tingkat pria-wanita bunuh diri diperkirakan tertinggi di wilayah Eropa (4,0) dan
terendah di wilayah Mediterania Timur (1,1). Di antara laki-laki dengan tingkat bunuh diri
tertinggi di kelompok 15-29 tahun usia berada di kawasan Asia Tenggara, pada kelompok 45-
59 usia pada pria Eropa dan untuk usia di atas 60 di wilayah Pasifik Barat. Wanita dari Asia
Tenggara memiliki tingkat bunuh diri yang sangat tinggi di antara 15-29 tahun dan dari usia
45 tahun di wilayah Pasifik Barat.
1,2
Hampir 95 % dari semua pasien yang melakukan bunuh diri mengalami gangguan
mental (terutama depresi dan gangguan penggunaan alkohol) merupakan faktor risiko utama
untuk bunuh diri.
2
gangguan depresi berjumlah 80 % , skizofrenia berjumlah 10 %, demensia
dan delirium untuk 5% nya. Di antara orang-orang dengan gangguan mental 25 % juga
mengalami ketergantungan alkohol dan memiliki diagnosis ganda.
3
Peningkatan ini akan bertambah 1% tiap tahunnya, hal ini tentu sangat di waspadai
mengingat bunuh diri adalah sutu kegawatdaruratan psikiatri. Banyak faktor yang
mempengaruhi seseorang untuk mengakhiri hidupnya faktor dari psikologis, sosial, biologis
budaya dan lingkungan ikut terlibat dalamnya. Di harapkan dengan menyusun makalah ini
kita sebagai tenaga medis dapat mengerti tentang bunuh diri dan faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan seseorang untuk bunuh diri sehingga pada akhirnya kita dapat mencegah agar
bunuh diri ini tidak terjadi.





2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bunuh Diri (Suicide Attempt)
Secara umum, bunuh diri berasal dari bahasa Latin suicidium, dengan sui yang
berarti sendiri dan cidium yang berarti pembunuhan. Schneidman mendefinisikan bunuh
diri sebagai sebuah perilaku pemusnahan secara sadar yang ditujukan pada diri sendiri oleh
seorang individu yang memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik dari sebuah isu. Dia
mendeskripsikan bahwa keadaan mental individu yang cenderung melakukan bunuh diri telah
mengalami rasa sakit psikologis dan perasaan frustasi yang bertahan lama sehingga individu
melihat bunuh diri sebagai satu-satunya penyelesaian untuk masalah yang dihadapi yang bisa
menghentikan rasa sakit yang dirasakan.
4,5
.


Menurut Maris, Berman, Silverman dan Bongar,bunuh diri memiliki 4 pengertian antara lain:
Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
Bunuh diri dilakukan dengan intensi
Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif),
misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau
secara sengaja berada di rel kereta api.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat dikatakan bahwa bunuh diri secara umum adalah
perilaku membunuh diri sendiri dengan intensi mati sebagai penyelesaian atas suatu masalah.
Pikiran bunuh diri adalah pikiran untuk membunuh diri sendiri tanpa melakukan
bunuh diri secara eksplisit. Sedangkan suicide ideators adalah orang yang memikirkan atau
membentuk intensi untuk bunuh diri yang bervariasi derajat keseriusannya tetapi tidak
melakukan percobaan bunuh diri secara eksplisit atau bunuh diri. Pikiran bunuh diri
bervariasi mulai dari yang non-spesifik (Hidup ini tidak berarti), yang spesifik (Saya
berharap saya mati), pikiran dengan intensi (Saya akan membunuh diri saya), sampai
pikiran yang berisi rencana (Saya akan membunuh diri saya sendiri dengan pistol).
Pikiran bunuh diri paling sering diasosiasikan dengan gangguan. De Catanzaro
menemukan bahwa antara 67% hingga 84% pikiran bunuh diri bisa dijelaskan dengan
masalah hubungan sosial dan hubungan dengan lawan jenis, terutama yang berkaitan dengan
3

loneliness dan perasaan membebani keluarga. Adapun dua motivasi yang paling sering
muncul dalam pikiran bunuh diri adalah untuk melarikan diri dari masalah dalam kehidupan
dan untuk membalas dendam pada orang lain.
Intensi merupakan komponen yang penting dalam pikiran bunuh diri sekaligus
merupakan konsep dalam bunuh diri yang paling susah diukur . Jobes, Berman , dan
Josselman telah mendaftar beberapa kriteria agar intensi bunuh diri dapat diukur. Beberapa
kriteria tersebut adalah pernyataan verbal yang eksplisit, percobaan bunuh diri yang pernah
dilakukan, persiapan untuk mati, hopelessness, dan lain sebagainya.

2.2 Etiologi Bunuh Diri
Penjelasan-penjelasan dari perspektif yang berbeda berikut hendaknya dipandang
sebagai satu kesatuan dalam memahami perilaku bunuh diri yang kompleks.

2.2.1 Faktor Psikologis

Leenars mengidentifikasi tiga bentuk penjelasan psikologis mengenai bunuh diri.
Penjelasan yang pertama didasarkan pada Freud yang menyatakan bahwa suicide is murder
turned around 180 degrees, dimana dia mengaitkan antara bunuh diri dengan kehilangan
seseorang atau objek yang diinginkan. Secara psikologis, individu yang beresiko melakukan
bunuh diri mengidentifikasi dirinya dengan orang yang hilang tersebut. Dia merasa marah
terhadap objek kasih sayang ini dan berharap untuk menghukum atau bahkan membunuh
orang yang hilang tersebut. Meskipun individu mengidentifikasi dirinya dengan objek kasih
sayang, perasaan marah dan harapan untuk menghukum juga ditujukan pada diri. Oleh karena
itu, perilaku destruktif diri terjadi.
3
Penjelasan kedua memandang masalah bunuh diri pada dasarnya adalah masalah
kognitif. Pada pandangan ini, depresi merupakan faktor kontribusi yang sangat besar, yang
khususnya diasosiasikan dengan hopelessness. Fokus pandangan ini terletak pada penilaian
negatif yang dilakukan oleh suicidal person terhadap diri, situasi sekarang, dunia, dan masa
depan. Sejalan dengan penilaian ini, pikiran yang rusak muncul. Pikiran ini seringkali
otomatis, tidak disadari, dan dicirikan oleh sejumlah kesalahan yang mungkin. Beberapa
diantaranya begitu menyeluruh sehingga membentuk distorsi-distorsi kognitif.
3
Beck memperkenalkan model kognitif depresi yang menekankan bahwa seseorang
yang depresi secara sistematis salah menilai pengalaman sekarang dan masa lalunya. Model
ini terdiri dari 3 pandangan negatif mengenai diri, dunia, dan masa depan. Dia memandang
dirinya tidak berharga dan tidak berguna, memandang dunia menuntut terlalu banyak darinya,
4

dan memandang masa depan itu suram. Ketika skema kognitif yang disfungsional (automatic
thoughts) ini diaktifkan oleh kejadian hidup yang menekan, individu beresiko melakukan
bunuh diri.
Penjelasan ketiga menyatakan bahwa perilaku bunuh diri itu dipelajari. Teori ini
berpendapat bahwa sebagai seorang anak, individu suicidal belajar untuk tidak
mengekspresikan agresi yang mengarah keluar dan sebaliknya membalikkan agresi tersebut
menuju pada dirinya sendiri. Di samping itu, sebagai akibat dari reinforcement negatif,
individu tersebut menjadi depresi. Depresi dan kaitannya dengan perilaku bunuh diri atau
mengancam hidup lainnya bisa dilihat sebagai reinforcer positif, karena menurut pandangan
ini individu dipandang tidak dapat bersosialisasi dengan baik dan belum mempelajari penilai
budaya terhadap hidup dan mati.
3
Sebagai tambahan, Jamison mengemukakan bahwa psikopatologi adalah elemen
paling umum pada perilaku bunuh diri. Dia percaya bahwa sakit mental memainkan suatu
peranan penting pada perilaku bunuh diri. Beberapa kondisi psikopatologis yang
difokuskannya adalah gangguan mood, schizofrenia, borderline dan antisocial personality
disorder, alkoholik, dan penyalahgunaan obat-obatan.
3,5

2.2.2 Penjelasan Fisiologis
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan penjelasan biologis yang tepat
untuk perilaku bunuh diri. Beberapa peneliti percaya bahwa ada gangguan pada level
serotonin di otak, dimana serotonin diasosiasikan dengan perilaku agresif dan kecemasan.
Penelitian lain mengatakan bahwa perilaku bunuh diri merupakan bawaan lahir, dimana
orang yang suicidal mempunyai keluarga yang juga menunjukkan kecenderungan yang sama.
Walaupun demikian, hingga saat ini belum ada faktor biologis yang ditemukan berhubungan
secara langsung dengan perilaku bunuh diri.

2.2.3 Penjelasan Sosiologis
Penjelasan yang terbaik datang dari sosiolog Durkheim yang memandang perilaku
bunuh diri sebagai hasil dari hubungan individu dengan masyarakatnya, yang menekankan
apakah individu terintegrasi dan teratur atau tidak dengan masyarakatnya. Berdasarkan
hubungan tersebut, Durkheim (dalam Corr, Nabe, & Corr, 2003) membagi bunuh diri
menjadi 4 tipe yaitu:


5

1. Egoistic Suicide
Individu yang bunuh diri di sini adalah individu yang terisolasi dengan
masyarakatnya, dimana individu mengalami underinvolvement dan underintegration.
Individu menemukan bahwa sumber daya yang dimilikinya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan, dia lebih beresiko melakukan perilaku bunuh diri.
2. Altruistic Suicide
Individu di sini mengalami overinvolvement dan overintegration. Pada situasi
demikian, hubungan yang menciptakan kesatuan antara individu dengan masyarakatnya
begitu kuat sehingga mengakibatkan bunuh diri yang dilakukan demi kelompok. Identitas
personal didapatkan dari identifikasi dengan kesejahteraan kelompok, dan individu
menemukan makna hidupnya dari luar dirinya. Pada masyarakat yang sangat terintegrasi,
bunuh diri demi kelompok dapat dipandang sebagai suatu tugas.
4
3. Anomic Suicide
Bunuh diri ini didasarkan pada bagaimana masyarakat mengatur anggotanya.
Masyarakat membantu individu mengatur hasratnya (misalnya hasrat terhadap materi,
aktivitas seksual, dll.). Ketika masyarakat gagal membantu mengatur individu karena
perubahan yang radikal, kondisi anomie (tanpa hukum atau norma) akan terbentuk. Individu
yang tiba-tiba masuk dalam situasi ini dan mempersepsikannya sebagai kekacauan dan tidak
dapat ditolerir cenderung akan melakukan bunuh diri. Misalnya remaja yang tidak
mengharapkan akan ditolak oleh kelompok teman sebayanya.
4. Fatalistic Suicide
Tipe bunuh diri ini merupakan kebalikan dari anomic suicide, dimana individu mendapat
pengaturan yang berlebihan dari masayarakat. Misalnya ketika seseorang dipenjara atau
menjadi budak.

2.3 Faktor Yang Terkait
Ada beberapa faktor yang terkait dengan peningkatan risiko bunuh diri.
Di antara mereka adalah jenis kelamin, usia, agama, status perkawinan, dan pekerjaan
atau sifat profesi.

2.3.1 Demografi
1. Jenis Kelamin
Laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan wanita, suatu angka yang
6

stabil pada keseluruhan usia. Tetapi wanita empat kali lebih mungkin berusaha bunuh diri
dibandingkan dengan laki-laki.
2.Umur
Resiko bunuh diri pada usia resiko pada pria mencapai puncak pada umur 45 tahun,
sedangkan wanita . bunuh diri dikalangan usia muda biasanya terjadi pada umur 15-24 tahun.
Bunuh diri pada laki-laki usia 25-34 meningkat sebanyak 30% selama satu decade 9 tahun
yang lalu (2000).
Di Amerika Serikat kasus bunuh diri adalah penyebab utama kematian pada usia 15-24 tahun
, di ikuti oleh kecelakaan bermotor dan pembunuhan. Di afrika selatan angka kejadian
sebanyak 1.3 % dari kematian orang pada usia 15-25 tahun.
2

3. Status pernikahan
Pernikahan bertindak sebagai faktor protektif terhadap bunuh diri. Dilaporkan
bunuh diri di antara berbagai kategori mengungkapkan bahwa di antara menikah
tingkat bunuh diri adalah 11/100 000. 1,4 Pernikahan tampaknya
diperkuat dengan memiliki anak-anak dan pernikahan harus stabil. tarif
bunuh diri yang tertinggi di antara pria bercerai (69/100 000) dan mereka
yang janda (40/100 000).
2,4
4.Agama
Secara historis, Katolik Roma telah memiliki lebih sedikit bunuh diri dibandingkan dengan
Protestan dan gelar Jews.1 seseorang ortodoksi dan integrasi sosial dapat menjadi ukuran
yang lebih akurat risiko dalam category.1 ini ini tampaknya sesuai dengan teori Durkheim.
2,4

5.Pekerjaan
Status sosial predisposisi untuk risiko yang lebih besar untuk bunuh diri. Pekerjaan yang
menguntungkan umumnya melindungi terhadap bunuh diri. Bunuh diri adalah lebih tinggi di
antara para penganggur. Tingkat bunuh diri meningkat selama resesi ekonomi dan waktu
pengangguran yang tinggi, dan penurunan selama masa kerja yang tinggi.
Dokter secara tradisional pada risiko lebih besar untuk bunuh diri daripada non-dokter dan
population.1 umum Dokter yang melakukan bunuh diri yang dikatakan memiliki sejarah
penyakit mental, selain profesional, kesulitan pribadi dan keluarga mereka.
Spesialisasi yang dengan risiko bunuh diri tinggi adalah musisi, dokter gigi, perawat, pekerja
sosial, seniman, matematikawan, ilmuwan dan petugas polisi. Sumber lain menyebutkan
bahwa psikiater, dokter mata dan dokter anestesi juga memiliki risiko tinggi bunuh diri.


7

2.3.2 Kesehatan Fisik
Hubungan antara kesehatan fisik dan bunuh diri adalah bermakna. Penyakit fisik
diperkiran sebagai faktor penyumbang yang penting pada 11-50% dari semua bunuh diri.
Dalam setiap keadaan presentasi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
4
Tujuh penyakit sisitem saraf pusat meningkatkan risiko bunuh diri yaitu : epilepsy,
multiple sclerosis, cedera kepala, penyakit kardiovaskuler, penyakit Huntington , demensia ,
sindrom imunodefisiensi didapat (AIDS).
Beberapa kondisi endokrin antara lain : penyakit chushing, sindrom klineferlter,
porfiria.
Gangguan gastrointestinal berupa ulkus peptikum dan sirosis yang berhubungan
dengan ketergantungan alcohol.
Masalah urogenital antara lain : hipertrofi prostat dan penyakit ginjal yang diobati
dengan hemodialisa.
Faktor yang berhubungan dengan penyakit dan terlibat di dalam bunuh diri dan usaha
bunuh diri adalah hilangnya mobilitas fisiknya yang memiliki kepentingan pekerjaan atau
rekreasional, kecacatan, terutama pada wanita dan rasa sakit yang kronis yang tidak dapat di
obati.

2.4 Bunuh Diri Pada Pasien Psikiatri
Faktor psikiatrik yang sangat penting dalam bunuh diri adalah penyalahgunaan zat,
gangguan dpresif, skizofrenia dan gangguan mental lainnya.
3

Hampir 95 % dari semua pasien yang melakukan bunuh diri atau berusaha bunuh diri
memiliki suatu gangguan mental yang terdiagnosis.
3
Bunuh Diri sering terjadi bersamaan dengan depresi sebagai karakteristik "negara
berkembang". Individu lain mengalami keputusasaan dalam basis utama dan lebih kekal.
Pasien yang cemas mungkin cenderung untuk bertindak pada dorongan bunuh diri. Studi
bunuh diri pada pasien dengan gangguan afektif telah menunjukkan bahwa mereka yang
meninggal karena bunuh diri lebih mungkin untuk memiliki psikis kecemasan atau panik
serangan yang parah. Sekitar seperempat dari orang-orang yang bunuh diri telah berhubungan
dengan layanan kesehatan mental di tahun sebelum kematian. Angka untuk Inggris dan
Wales adalah lebih dari 1000 seperti kasus annually. Risiko bunuh diri sering meningkat
ketika orang yang depresi menunjukkan tanda-tanda pemulihan.


8

2.4.1 Gangguan Depresi
Gangguan mood adalah diagnosis yang paling sering berhubungan dengan bunuh diri. Karena
risiko bunuh diri pada pasien depresi akan meningkat tertutama jika pasien terdepresif.
banyak pasien gangguan depresif yang melakukan bunuh diri pada awal perjalanan
penyakitnya dibandingkan setelahnya. Penelitian menunjukan bahwa sepertiga kasus atau
lebih akan meninggal setelah enam bulan setelah keluar dari rumah sakit. Kemungkinan
menderita relaps. Lebih banyak pasien laki-laki yang melakukan bunuh diri dibandingkan
pasien wanita. Kemungkinan bunuh diri meningkat apabila mereka tidak menikah,
dipisahkan, diceraikan, janda atau baru saja menghadapi kehilangan. Pasien gangguan depresi
di dalam masyaraat yang melakukan bunuh diri cenderung berusia pertengahan atau lanjut
usia.
3
2.4.2 Gangguan Skizofrenia
Resiko bunuh pada pasien skizofrenia cukup tinggi yaitu 10 % yang meninggal akibat bunuh
diri. Usia onset biasanya pada masa remaja atau dewasa awal, dan sebagian besar pasien
skizofrenik melakukan bunuh diri selama tahun pertama penyakitnya. Dengan demikian
pasien skizofrenik yang melakukan bunuh diri cenderung relative lebih muda.
Kira-kira 75 % dari semua korban adalah laki-laki. 50 % pernah melakukan usaha bunuh diri
sebelumnya. Gejala depresif berhubungan erat dengan bunuh diri di bandingkan dengan
halusinasi. Hampir 50% bunuh diri di antara pasien skizofrenik cenderung terjadi selama
minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah pemulangan dari rumah sakit, hanya
sebagian kecil yang melakukan bunuh diri dalam rumah sakit. Faktor resiko bunuh diri
diantaranya adalah pasien skizofrenik usia muda, jenis kelamin laki-laki , status tidak
menikah , usaha bunuh diri sebelumnya, kerentanan terhadap gejala depresif dan baru
dipulangkan dari rumah sakit. Mengalami tiga atau empat kali perawatan rumah sakit saat
usia 20 tahunan kemingkinan mengurangi penyesuaian social, pekerjaan dan seksual. Dengan
demikian korban bunuh diri yang potensial kemungkinan adalah laki-laki, tidak menikah ,
penganguran, terisolasi secara social dan hidup sendiri.
Setelah pemulangan dari perawatan terakhir di rumah sakit , mungkin,mereka mengalami
kesulitan. Sebagai akibatnya mereka menjadi sedih mengalami perasaan putus asa dan tidak
berdaya dan berkembang menjadi mood terdepresi, dan pada keadaan tersebut, memiliki ide
bunuh diri yang akhirnya dilakukan.
3,6



9

2.4.3. Ketergantungan Alkohol
Hamper 15 % dari semua orang yang tergantung alcohol melakukan bunuh diri. Angka
bunuh diri diperkirakan kira-kira 270 per 100.000 setahun korban cederung laki-laki, berkulit
putih, usia pertengahan, tidak menikah , tidak memiliki teman, terisolasi secra social dan baru
saja minum. Hamper 40 % melakukan percobaan bunuh diri selama satu tahun perawatan
terakhir. Penelitian menunjukan bahwa pasien tergantungan alcohol yang akhirnya nelakukan
bunuh diri dinyatakan terdepresi selama perawatan dirumah sakit. Dua per tiga dinyatakan
menderita gangguan mood selama periode mereka melakukan bunuh diri. Kelompok terbesar
pasien laki-laki adalah mereka dengan gangguan kepribadian antisosial yang menyertai.
Penelitian menunjukan bahwa pasien tersebut kemungkinan berusaha bunuh diri,
menyalahgunakan zat lain , menunjukan perilaku impulsive dan criminal.
3, 7

2.4.4. Ketergantungan Zat Lain
Penelitian menyebutkan bahwa terjadi peningkatan resiko bunuh diri apabila seseorang
terjadi penyalahgunaan. Angka bunuh diri pada pasien yang mengkomsumsi heroin kira-kira
20 kali lebih besar dibandingkan angka untuk populasi umum. Tersediannya zat dalam
jumlah letal, pemakaian intravena, gangguan kepribadian anti social, gaya hidup yang kacau,
impulsivitas adalah beberapa faktor yang mepreposisikan untuk terjadinya bunuh diri.
3

2.4.5. Gangguan Kepribadian
Menderita suatu gangguan kepribadian mungkin merupakan suatu determinan perilaku bunuh
diri dalam beberapa cara dengan mempredisposisikan kepada gangguan mental berat seperti
gangguan depresif atau ketegantungan alcohol, dengan menyebakan kesulitan dalam
hubungan dan penyesuaian social, dengan mencetuskan peristiwa kehidupan yang tidak di
inginkan.
3









10

2.5 Faktor Resiko
Tidak ada faktor tunggal pada kasus bunuh diri, setiap faktor yang ada saling
berinteraksi. Namun demikian, tidak berarti bahwa seorang individu yang melakukan bunuh
diri memiliki semua karakteristik di bawah ini. Berikut beberapa faktor penyebab bunuh diri
yang didasarkan pada kasus bunuh diri yang berbeda-beda tetapi memiliki efek interaksi di
antaranya :
2,3,5
1. Major-depressive illness, affective disorder
2. Penyalahgunaan obat-obatan (sebanyak 50% korban percobaan bunuh memiliki
level alkohol dalam darah yang positif)
3. Memiliki pikiran bunuh diri, berbicara dan mempersiapkan bunuh diri
4. Sejarah percobaan bunuh diri
5. Sejarah bunuh diri dalam keluarga
6. Isolasi, hidup sendiri, kehilangan dukungan, penolakan
7. Hopelessness dan cognitive rigidity
8. Stresor atau kejadian hidup yang negatif (masalah pekerjaan, pernikahan, seksual,
patologi keluarga, konflik interpersonal, kehilangan, berhubungan dengan kelompok
teman yang suicidal)
9. Kemarahan, agresi, dan impulsivitas
10. Rendahnya tingkat 5-HIAA
11. Key symptoms (anhedonia, impulsivitas, kecemasan / panik, insomnia global,
halusinasi perintah)
12. Suicidality (frekuensi, intensitas, durasi, rencana dan perilaku persiapan bunuh
diri)
13. Akses pada media untuk melukai diri sendiri
14. Penyakit fisik dan komplikasinya
15. Repetisi dan komorbid antara faktor-faktor di atas

2.6 Tanda dan Gejala Risiko Bunuh diri

Riwayat , tanda adanya gejala risiko bunuh diri adalah
3
Upaya atau khayalan bunuh diri sebelumnya
Kecemasan , depresi , kelelahan
Tersedianya alat-alat untuk bunuh diri
11

Kepedualian efek bunuh diri dari anggota keluarga
Gagasan bunuh diri yang diunkapkan
Membuat surat wasiat , ditanda tangani kembali setelah depresi teragitasi
Krisis hidup , seprti duka cita atau akan mengalami pembedahan
Riwayat bunuh diri dalam keluarga
Pesimisme atau keputusan pervasive

2.7 Metode Bunuh diri
Richman menyatakan ada dua fungsi dari metode bunuh diri. Fungsi pertama adalah sebagai
sebuah cara untuk melaksanakan intensi mati. Sedangkan pada fungsi yang kedua, Richman
percaya bahwa metode memiliki makna khusus atau simbolisasi dari individu.
Secara umum, metode bunuh diri terdiri dari 6 kategori utama yaitu:
8
obat (memakan padatan, cairan, gas, atau uap)
menggantung diri (mencekik dan menyesakkan nafas)
senjata api dan peledak
menenggelamkan diri
melompat
memotong (menyayat dan menusuk)

2.8 Langkah Penilaian Resiko Bunuh Diri
Ada empat langkah utama dalam penilaian risiko bunuh diri:
2
Langkah I: Penilaian bunuh diri
ini melibatkan
1. Membangun hubungan terapeutik dengan pasien, menunjukkan empati dan
menggunakan penyelidikan lembut tentang perilaku bunuh diri.
2. Mendapatkan informasi jaminan dari kerabat, teman, atau orang lain yang
signifikan, karena beberapa pasien mungkin memberikan informasi yang tidak akurat
tentang kejadian untuk mengecilkan tindakan.
3. Menilai saat bunuh diri ide bunuh, maksud dan rencana. Ini termasuk metode,
ketersediaan sarana, keyakinan pasien tentang lethality metode, kemungkinan
penyelamatan, langkah yang diambil untuk memberlakukan rencana, dan kesiapan
untuk mati.
12

4. Menilai motivasi untuk bunuh diri; seperti marah, melarikan diri dari penderitaan,
ingin menyatukan kembali dengan orang yang dicintai, putus asa, kehilangan
hubungan, dll
5. Penilaian perilaku bunuh diri terakhir, frekuensi usaha-usaha sebelumnya,
mematikan, sifat dan tingkat keparahan, niat untuk mati, konteks / memicu untuk
usaha, metode yang digunakan, konsekuensi.

Langkah II: Evaluasi faktor risiko bunuh diri
Hal ini berkaitan dengan penilaian kehadiran faktor risiko.

Langkah III: Mengidentifikasi apa yang sedang terjadi.
Carilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: mengapa, mengapa sekarang, dan apa
yang sedang terjadi. Ini akan membantu dokter untuk memahami kompleksitas faktor yang
mendasari atau pencetus perilaku bunuh diri dan juga memfasilitasi identifikasi target untuk
intervensi. Sebagian besar respons dikategorikan sebagai diagnosis psikiatri / gejala, situasi
psikososial menyedihkan dan kesulitan karakter.

Langkah IV: Mengidentifikasi target untuk intervensi
Hal ini melibatkan identifikasi dan menargetkan intervensi untuk mengurangi faktor risiko
bunuh diri dimodifikasi, misalnya :
diagnosis psikiatrik dan gejala, untuk mengobati gangguan dan mengurangi gejala.
menyedihkan situasi psikososial, dengan mengatasi pemicu dimodifikasi atau stres.
kesulitan Karakter, dengan mengatasi sifat maladaptif dan mengatasi pengembangan
keterampilan

Ada dua alat standar dikembangkan untuk membantu dalam penilaian di atas:
1 Bunuh Diri panduan penilaian risiko (SRAG). Hal ini dapat digunakan untuk
memperkirakan tingkat keparahan faktor risiko, yaitu untuk setiap faktor yang dipilih, skor
berikut:
1 signifikansi = rendah
2 = signifikansi moderat
3 signifikansi = tinggi


13

2 Alat untuk penilaian risiko bunuh diri (TASR). Hal ini terdiri dari empat bagian:
a. Profil risiko individu (misalnya usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, penyakit
jiwa)
b. Profil risiko gejala (misalnya depresi, gejala psikotik, putus asa)
c. Profil Wawancara risiko (misalnya penyalahgunaan zat, ide bunuh diri, niat,
rencana) d. Tingkat risiko bunuh diri (mis tinggi, sedang, rendah)

2.9 . Terapi Psikofarmaka
Sesorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati atau baru mengalami
suatu kejadian yang jangka waktunya tak lama, biasanya akan berfungsi kembali setelah
mendapatkan tranquilizer ringan, terutama bila tidurnya terganggu. Obat pilihannya adalah
golongan benzodiazepine , misalnya lorazepam 3x1 mg sehari, selama 2 minggu.
5
Hati-hari memberikan benzodiazepine pada pasien hostil, karena pengunaan
benzodiazepine secara teratur dapat meningkatkan iritabilitas pasien
5
Jangan memberikan obat dalam jumlah banyak sekaligus kepada pasien dan pasien
harus control dalam beberapa hari.
5
2.10 Terapi Non Farmakologik
Pada pasien yang percobaan bunuh diri terkait atau eksaserbasi oleh stress psikososisal yang
berat maka psikoterapi suportif dapat memberikan pasien untuk memulihkan strategi
kopingnya dan melihat perseptif serta berbagai pilihan selain bunuh diri. Berikan pertanyaan
yang bersifat empatik. Terapis harus menghindar pertanyaan yang sifatnya interogratif ,
memojokan, serta menganggap persoalan pasien adalah hal yang ringan.
5
Pada pasien dengan strategi koping yang maladaptive maka dapat diberikan intervensi
psikoterapi yang berfokus pada pengembangan keterampilan dalam penyelesaian masalah
seperti congnitive behavior therapy.
5




14

BAB III
KESIMPULAN
Bunuh Diri tetap menjadi penyebab serius kematian di seluruh dunia. Hampir 95 %
dari semua pasien yang melakukan bunuh diri mengalami gangguan mental terutama depresi
dan gangguan penggunaan alkohol, skizofrenia, penyalahgunaan zat lainya. Kebanyakan
pasien dengan gangguan jiwa kembali melakukan bunuh diri kembali setelah perawatan
dirumah sakit. Hal ini disebabkan karena pasien sulit beradaptasi dengan lingkungan
sehingga pasien kembali mengalami depresi. Faktor dukungan keluarga dan peran
masyarakat sangat di butuhkan untuk mencegah bunuh diri. Walaupun tidak semua kasus
bunuh diri dapat dicegah namun pendekatan metodis untuk penilaian risiko bunuh diri dapat
memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mengelola pasien yang beresiko untuk
bunuh diri. Penilaian risiko yang komprehensif membantu penyedia layanan kesehatan
mengurangi kewajiban mereka. Meskipun kesalahan penilaian tidak dapat dihindari,
kesalahan dari kelalaian dapat dicegah jika penyedia layanan kesehatan membutuhkan waktu
untuk melakukan penilaian risiko menyeluruh.












15

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization, Suicide statistics, 2005 , available in
http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/ .

2. Masango SM, Rataemane ST, Motojesi AA. Suicide and suicide risk factors: A
literature review. Department of Psychiatry, University of Limpopo, Medunsa
Campus. 2008. Available :
http://www.safpj.co.za/index.php/safpj/article/view/1302.

3. Kaplan H., Sadock B., Grebb J., eds. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis . Ed 7. Bina Rupa Aksara. Jakarta . 2010. P 369-383.

4. Maris, R.W.; Berman, A.L.; Silverman, M.M.; Bongar, B.M. 2000.
Comprehensive Textbook Of Suicidology. Belmont: Guilford Press.

5. Elvira S, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Ed 2 . Jakarta. Penerbit FKUI.
2013. P 369-372.
6. Pompili M, Amador F, Girardi P. Suicide risk in schizophrenia: learning from
the past to change the future. NCBI. 2009. Available :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1845151/
7. Serafini G, Pompili M. Suicidal Behavior and Alcohol Abuse. NCBI. 2010.
Available : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2872355/ .
8. Kevin C, Chen Y. Paul SF. Suicide Methods in Asia: Implications in Suicide
Prevention. NCBI. 2012. Available :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3366604/.

Anda mungkin juga menyukai