Anda di halaman 1dari 56

1

BISIKAN GAIB
BLOK SARAF DAN PERILAKU



KELOMPOK A-4

Ketua : Alfianca Yudha Rachmanda 1102011020
Sekretaris : Alifah Diendhia Putri 1102011021
Anggota : Akmal Nugraha 1102009018
Cita Dharma Kusuma 1102009064
Danu Ajimantra 1102009069
Amalia Fatmasari 1102011022
Amanda Ricki 1102011023
Ana Amalina 1102011024
Arib Faras Wahdan 1102011043
Arief Rachman 1102011044

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2013/2014

2

SKENARIO 4
BISIKAN GAIB
Laki-laki 25 tahun, dibawa ke IGD RSJ karena memukul ibunya dan memecahkan kaca jendela.
Alasannya ada bisikan gaib didekat telinganya yang memerintahkan melakukan tindakan
tersebut. Sudah dua pekan ini pasien mengalami insomnia dan menarik diri, kadang bicara
sendiri yang bila ditegur marah (irritable). Pasien pernah mengalami gejala seperti ini satu tahun
yang lalu, setelah dirawat di RSJ seminggu pasien dibolehkan pulang, tapi tak mau berobat jalan
dan jadi pemalas. Pada pemeriksaan psikiatrik; kesadaran sompos mentis, kontak psikis tidak
wajar, sikap kurang kooperatif; afek tumpul tidak serasi; fungsi kognitif seperti atensi,
konsentrasi, orientasi dan memori tidak terganggu; terdapat waham kejar dan halusinasi
auditorik. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan peninggian metabolit dopamine pada urine.
Dokter menduga pasien menderita gangguan Skizofrenia sebagai bentuk gangguan psikotik yang
disertai proses kemunduran (deteriorasi). Akhirnya dokter memberikan injeksi psikotik yang
akan dilanjutkan dengan program psikoterapi, sosioterapi dan rehabilitasi. Dokter menanyakan
apakah sebagai muslim pasien masih bias melaksanakan ibadah mahdhoh.















3

Kata Sulit :
1. Afek Tumpul : penurunan irama emosi;
- Afek : ekspresi emosi yang terlihat)
2. Kontak Psikis : kesanggupan seseorang untuk mengadakan hubungan emosional
3. Deteriorasi : bentuk gangguan psikotik yang disertai proses pemunduran
4. Atensi : kesadaran selektif terhadap suatu bagian aspek lingkungan
5. Skizofrenia : gangguan jiwa yang diderita seseorang yang diakibatkan karena cacat otak,
sehingga tidak bias membedakan realita dan khayalan
6. Ibadah mahdhoh : ibadah yang syarat dan kewajibannya sudah ditentukan
7. Waham Kejar : keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau
berencana membahayakan dirinya
Pertanyaan :
1. Kenapa ditemukan peninggian metabolik dopamine di urin?
2. Mengapa pasien bias mendengar bisikan gaib?
3. Apa efek samping obat psikotropika?
4. Mengapa bisa terjadi waham kejar?
5. Untuk skizofrenia, apa bentuk proses kemunduran?
6. Apa yang menyebabkan kemunduran pada skizofrenia?
7. Apa sajakan macam waham?
8. Apakah pasien masih bisa melakukan ibadah mahdhoh?
9. Apa saja jenis ibadah mahdhoh?
10. Pemeriksaan apa saja untuk pasien skizofrenia?
11. Apa saja macam afek?
12. Mengapa skizofrenia mengalami ketidakseimbangan emosi?
Jawaban :
1. Karena peningkatan produksi dopamine di otak, maka dikeluarkan lewat urin
2. Karena skizofrenia, sehingga tidak tahu mana yang realita dan khayalan
3. Efek samping : sakit kepala, somnolen, mual dan muntah
4. Karena skizofrenia atau karena bisikan gaib
5. Bentuk kemundurannya ada kemunduran mental dan interaksi social
6. Karena tidak ada kecocokan ekspresi
7. Halusinasi, somatic, kebesaran, dan penyiaran
8. Tidak, karena tidak memenuhi syarat
9. Solat fardhu, puasa ramadhan, haji dan zakat
10. Anamnesis psikiatri, MRI
11. Datar, tumpul, sempit, dan luas
12. Karena ada gangguan di system limbic
4

Hipotesa
Psikosis tidak minum obat relaps

gejala : halusinasi, irritable, ketidakseimbangan, bisikan gaib, insomnia

pemeriksaan psikiatri : afek tumpul, kontak psikik tidak wajar, kurang kooperatif, waham kejar
pemeriksaan penunjang : dopamine meningkat pada urin, MRI

SKIZOFRENIA tidak wajib ibadah mahdhoh

Injeksi psikotropika, rehabilitas, sosioterapi, psikoterapi














5

Sasaran Belajar
LO 1. Memahami dan Mempelajari Neuroanatomi dan Neurofisiologi system limbic
LO 2. Memahami dan Mempelajari Biosintesis dan Metabolisme Dopamin
LO 3. Memahami dan Mempelajari Psikopatologik pada gangguan psikotik
LO 4. Memahami dan Mempelajari Skizofrenia
LI 4.1. Definisi
LI 4.2. Etiologi
LI 4.3. Epidemiologi
LI 4.4. Klasifikasi
LI.4.5. Patofisiologi
LI 4.6. Manifestasi Klinis
LI 4.7. Diagnosis
LI 4.8. Diagnosis Banding
LI 4.9. Tatalaksana
LI 4.10. Komplikasi
LI 4.11. Prognosis
LI 4.12. Pencegahan
LO 5. Memahami dan Mempelajari Ibadah Mahdhoh







6

LI I. Memahami dan Menjelaskan Neuroanatomi dan Neurofisiologi Sistem Limbik
SISTEM LIMBIK (LIMBIC SYSTEM)
Pengertian : Yang termasuk ke dalam system limbic ialah semua bangunan berikut:



1. Lobus limbic (Broca)
2. Formatio hippocampi
3. Nucleus amygdaloideus
4. Hypothalamus
5. Nucleus anterior thalami
6. Nucleus medio dorsalis thalami
7. Area septi
Beserta penghubungnya:
1. Alveus
2. Fimbra
3. Fornix
4. Tractus mammilothalamicus
5. Stria terminalis
6. Stria medullaris
Dari bangunan-bangunan tersebut terlihat bahwa sistem limbik melibatkan:
1. Tal-encephalon
2. Di-encephalon

LOBUS LI MBI K (BROCA)
Pengertian: Lobus limbik merupakan bangunan berbentuk huruf C pada dataran medial
haemispherum yang melingkari corpus callosum dan mempunyai kesatuan fungsi yang meliputi:
1. Gyrus subcallosum s. Subiculum: Terltak di depan lamina terminalis dan rostrum corpus
collosum, jalan melingkari corppus callosum sampai splenium corporis calloni.
2. Gyrus cinguli: Terletak tepat di atas corpus callosum.
3. Gyrus parahippocampi: Terletak antara fissura hippocampi dan sulcus collateralis Ke
depan dia lanjut menjadi uncus.

FORMATI O HI PPOCAMPI
Pengertian: Merupakan bangunan yang mempunyai satu kesatuan fungsi yang meliputi:
7

1. HIPOCAMPUS (cornu ammonis)
Merupakan substansia grisea yang melengkung ke atas sepanjang dasar cornu inferior
ventriculus lateralis.
Ujumg depannya melebar membentuk : PES HIPPOCAMPI.
Pada penampang frontal, hippocampus berbentuk seperti HURUF C.
Permukaan dalam ventrikulus yang melengkung dilapisi oleh EPENDYM. Di bawahnya
terdapat selapis tipis substantia alba disebut sebagai : ALVEUS yang terdiri dari serabut saraf
yang berasal dari hippocampus yang kemudian melengkung ke medial membentuk
FIMBRIA. Fimbria sendiri meninggalkan ujung belakang hippocampus sebagai crus fornix.
Crus fornix dari setiap sisi membelok ke belakang dan atas di bawah splenium corpus callosi
dan mengelilingi dataran belakang thalamus.Kedua crus fornix tersebut kemudian menyatu
membentuk Corpus Fornix yang terletak sangat dekat dengan dataran bawah corpus
callosum.
Pada waktu kedua crura saling mendekat, dia dihubungkan dengan serabut saraf yang
jalan melintang: Commissura fornuces yang akan saling bersilangan kiri dengan yang kanan
dan akhirnya bergambung dengan hippocampus pada sisi yang sama.
Fungsi hippocampus: berperan dalam proses belajar dan ingatan sekarang

2. GYRUS DENTATUS
Pengertian : Merupakan seberkas substantia grissea yang terletak antara Fimbria
Hippocampidan Gyrus Hippocampi.
Struktur : Kebelakang Gyrus dentatus berjalan mendampingi fimbria sampai kedekat
Splenium Corporis callosi dimana dia lanjut menjadi: Induseum griseum.
Induseum griseum sendiri merupakan seberkas tipis substantia grissea yang
Menutupi dataran atas corpus callosum.
Pada dataran atas Induseum griseum terdapat dua berkas serabut saraf:
Stria longitudinalis mediale dan stria longitudinalis laterale. Kedua stria ini
Merupakan sisa ( substantia alba ): Induseum grisea vestigii
Gyrus dentatus dan hippocampus sama - sama berbentuk huruf C dan kedua
huruf
Tersebut saling mengunci satu dengan lainnya.

3. SUBICULUM s.GYRUS SUBCALLOSUM
Meruapakan bangunan yang terletak antara hypocampus dengan gyrus
parahippocampus.
Keseluruhan formatio hippocampi mempunyai panjang 5 cm mulai dari depan (
pada amygdala ) kebelakang mencapai spelenium corporis callosi.

NUCLEUS AMYGDALOI DEUS ( amigdala )
Bentuk :seperti buah almond
Merupakan massa nuclei yang terletak pada lobus temporalis di daerah transisi dengan
dataran postero inferor lobus frontalis. Menrima aferen dari:
- Lobus olfactorius anterior
- Cortex piriformis, temporalis, pre frontalis
- Hypothalamus
- Nucleus medio dorsalis thalami
8

- Tegmentum
Mengirim eferen ke:
- Area preopticum mediale
- Nucleus area septi
- Hypothalamus
- Nucleus amygdaloideus sisi lain
- Nucleus medio doralis thalami
- Cortex prefrontalis
- Tegmentum

Letak : Sebagian didepan dan sebagian lagi daatas puncak cornu inferior ventriculuslateralis.
Dia berhubungan dengan ujung ekor nucleus caudatus yang berjalan kedepan pada
atap inferior ventriculus lateralis.
Stria terminalis muncul dari daratan belakangnya.

Fungsi amigdala:
1. kalau dipacu, terjadi perubahan suasana hati ( mood )
2. kalau dirusak, terjadi sikap agresif
3. melalui hypothalamus, dia mempercepat aktifitas endokrin, sex dan reproduksi

AREA SEPTI :
- meruapakan bagian dari nuclei tel encephalon
- dibentuk oleh : - cortex area septi
- gyrus para terminalis
- gyrus ( area ) subcallosum
- Letak : antara septum pellucidum dengan comminssura anterior
- Hubungan timbale balik dengan formatio hippocampi via formix
- Hubungan timbale balik dengan hypothalamus
- berhubungan dengan habenula melalui stria medallarais thalami

HYPOTHALAMUS
Pengertian: merupakan bagian paling depan dari di-encephalon satu-satunya bagian di-
encephalon yang tidak ditutupi oleh hemisphaerum cerebri dapat dilihat lansung pada dataran
bawah otak

Letak: mulai dari chiasma optici kebelakang mencapai lamina terminale dan commissura
anterior daerah yang ditempati hypothalamus sering juga disebut sebagai: area pre-opticum

Bangunan pembentuk hypothalamus:
a) chiasma opticum
b) tuber cinereum
c) infundibulum
d) corpus mammilare
Struktur: nucleinya dibedakan: kel. Medial dan kel. Lateralpembatas: fornix dan tractus
mammilothalamicus
Berhubungan erat dgn HYPOPHYSIS AXIS HYPOTHALAMUS-HYPOPHYSIS
9


THALAMUS
Pembentuk utama di-encephalon subs.grissea
T.d beberapa kelompok nuclei:
1) Kel. Nuclei anterior thalami
2) Kel. Nuclei intermedia thalami (nuclei of midline)
3) Kel. Nuclei medialis thalami
4) Kel. Nuclei lateralis thalami
5) Kel. Nuclei posterior thalami
Masing-masing kelompok biasanya dibagi lagi atas bebera
pa sub-kelompok nuclei
Hubungan: menerima sensasi sensorik dari seluruh tubuh, kecuali : N. OLFACTORIUS
(penciuman)
Secara mandiri thalamus berfungsi:
Menerima segala sensasi sensorik kecuali penciuman
Karena hubungannya yang luas dgn cortex lobus frontalis dan hypothalamus, maka
diduga dia juga berfungsi sebagai pusat perasaan subjektif dan kepribadian seseorang

SERABUT PENGHUBUNG LOBUS LI MBI K :
1. Alveus ( sudah diterangkan )
2. Fimbria ( sudah diterangkan )
3. Fornix ( sudah diterangkan )
4. Tractus mammillothalamicus ( sudah diterangkan )
5. Stria terminalis ( sudah diterangkan )
6. Stria medullaris ( sudah diterangkan )
7. Commissura anterior ( sudah diterangkan )

FUNGSI SI STEM LI MBI K

1. berkaitan erat dengan keadaan emosi dan perilaku, terutama: reaksi takut, marah dan libido
2. khusus hippocampus mempunyai fungsi:
Pembelajaran
Ingatan sekarang ( hal hal baru )
3. Berkaitan erat dengan fungsi penciuman, walau tak cukup bukti
4. Berkaitan erat dengan respons homeostatik terhadap perubahan lingkungan
5. Berkaitan erat dengan perubahan emosi sehingga melibatkan aktivitas lokomotorik, saraf
otonom dan kelenjar endokrin
6. Berkaitan erat dengan:
- Perasaan
- Makan
- Berkelahi
- Melarikan diri
- Mencari pasangan



10

LI II. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Dopamin

Fisiologi Neurotransmiter Dopamin
Dopamin merupakan kelompok neurotransmiter katekholamin. Jumlah total neuron
dopaminergik di otak manusia, tidak termasuk di retina dan bulbus olfaktorius diperkirakan
berjumlah antara 300.000 sampai dengan 400.000.
Nukleus dopaminergik yang utama dijumpai pada substansia nigra pars compacta,
daerah tegmental sentral, dan nukleus arcuatus. Dari substansia nigra dan daerah tegmental
sentral neuron tersebut akan berproyeksi ke daerah mesolimbik, mesokortikal, dan daerah
striatum. Dopamin disintesis dari tyrosine dibagian terminal presinaps untuk kemudian
dilepaskan ke celah sinaps.
Langkah pertama sintesis dopamin adalah proses uptake asam amino L-tyrosine dari aliran
darah. Tyrosine akan dikonversi menjadi 3-4-dihidroxyphenylalanine (L-DOPA) oleh enzim
tyrosine hydroxylase, dan kemudian L-DOPA dikonversi menjadi dopamin oleh enzim dopa
decarboxylase. Dopamin disimpan dalam granula-granula di ujung presinaptik saraf, dan akan
dilepaskan apabila ada rangsangan. Dopamin yang dilepaskan ke celah sinaps dapat mengalami
satu atau lebih keadaan berikut:
1. mengalami pemecahan oleh enzim COMT/ Catechol-O-Methyl-Transferase atau enzim
MAO/ Monoamine Oxidase,
2. mengalami difusi dari celah sinaps,
3. mengaktivasi reseptor pre sinaptik
4. mengaktivasi reseptor post sinaptik, dan
5. mengalami ambilan kembali (reuptake) ke terminal pre sinaptik.
6. Reseptor dopamin memiliki 2 sub tipe utama yaitu reseptor seperti D1 (D1dan D5) dan
reseptor seperti D2 (D2, D3, dan D4) . Variasi tipe reseptor ditentukan oleh urutan asam
amino DNA. Reseptor D2 memiliki 2 bentuk isoform yaitu D2 short dan D2long.
Perangsangan reseptor D2 post sinaps akan merangsang proses interseluler. Reseptor
dopaminergik D2 dapat berperan sebagai autoreseptor. Reseptor dopaminergikD2 terletak di pre
sinaps maupun post sinaps. Dopamin yang dilepaskan dari terminal saraf dapat mengaktivasi
reseptor D2 pada terminal presinaptik yang sama, dan akan mengurangi sintesis atau pelepasan
dopamin yang terlalu berlebihan, sehingga reseptor D2 akan berperan sebagai mekanisme umpan
balik (feedback) negatif yang dapat memodulasi atau menghentikan pelepasan dopamin pada
sinaps tertentu.
Pada otak manusia terdapat 3 nukleus dopaminergik yang utama yaitu:
1. Substansia nigra pars compacta yang berproyeksi ke striatum
2. Area tegmental ventral yang berproyeksi ke nukleus accumbens dan korteks serebri
3. Nukleus arcuatus hipotalamus yang berproyeksi ke area tuberoinfundibular dan hipofisis.


11

Reseptor Agonis Antagonis Lokasi
D1 - Haloperidol Neostriatum, korteks serebri, tuberkel
olfaktorius, n. accumbens
D2 Bromocriptine Haloperidol,
Raclopride,
Sulpride
Neostriatum, tuberkel olfaktorius, n.
accumbens
D3 - Quinpirole
Raclopride
Nucleus
Accumbens
D4 Clozapine Amygdala
D5 - - Hipokampus dan Hipotalamus

No Nama Efek utama
1. Asam amino dan turunanya : Glycine Transmitter penghambat dalam SSP
2. Norepinephrin Tranmitter dalam SSP dan SS peririfir yang bersifat
penghambat dan eksitasi
3. Gamma - aminobutyric acid (GABA) Transmitter penghambat dari SSP
4. Acetylcholine Transmitter eksitasi pada hubungan neromuskuler,
transmitter eksitasi dan penghambat dalam SSP dan
susunan saraf perifir
5. Enkephalin Transmitter yang mempunyai efek seperti morfin
yaitu menghambat lintasan nyeri dalam SSP








12

Pembentukan Dopamine
Dopamin memiliki 4 jaras pathway :
A. Jalan Nigrostriata
Dari substansia nigra ke corpus striatum ganglia basalis. Jaras ini mengatur pergerakan pada
manusia. Obat antispsikotik khususnya generasi I atau atipikal yang bekerja dengan memblok
total jalan reseptor dapmin (khususnya D2) di pasca sinaps neuron. Akibat blocking berlebihan
ini akan mengakibatkan EPS (Extrappiramidal syndrome) diantaranya distonia(kedutan) akut,
trias parkinsonism, akathiasia(tidak bisa diam atau tetep bergerak akibat kekurangan dopamin)
sampai bentuk paling berat dan kronis adalah diskinesia tardif (gangguan meggerakan tubuh
berulang-ulang dengan onset lambat)
B. Jalan Mesolimbik
Dari tegmentum ventral midbrain ke corteks dan subcorteks sistem limbik (nukleus
accumbens) terkait dengn perilaku, sensasi menyenangkan, rasa euforiapada drug abuse, waham
dan halusinasi pada penderita psikosis (gejala positif) dan skizofrenia
C. Jaras Tuberinfudibuler
Dari nukleus arcuata hypothalamus ke vasa infundibulum. Jaras ini bertanggungjawab
dengan pengontrolan sekresi prolaktin.
D. Jaras mesokorteks
Bermula dari area tegmental mdbrain ventral, namun aksonnya menuju krteks limbik. Jaras
ini bertanggung jawab terhadap simptom positif dan negatif psikotik
Efek Dopamin pada Sistem Limbik dan Sistem Kortikal
Fungsi Dopamin sebagai neururotransmiter kerja cepat disekresikan oleh neuron-neuron
yang berasal dari substansia nigra, neuron-neuron ini terutama berakhir pada regio striata ganglia
basalis. Pengaruh dopamin biasanya sebagai inhibisi.(Guyton,1997: 714).
13

Dopamin bersifat inhibisi pada beberapa area tapi juga eksitasi pada beberapa area.
Sistem norepinefrin yang bersifat eksitasi menyebar ke setiap area otak, sementara serotonin dan
dopamin terutama ke regio ganglia basalis dan sistem serotonin ke struktur garis tengah
(midline).(Guyton,1997: 932)
Hubungan antara dopamin dan perilaku
Dopamin bekerja menghambat pelepasan prolaktin dari lobus interior pituitary. Sebagai
pusat reward reinforcement dan motivasi perilaku. Sel saraf dopamin otak tengah sebagai
pengkode dalam menentukan pengambilan keputusan.Tingginya kadar dopamin diasosiasikan
dengan meningkatnya perhatian, hiperaktivitas, keresahan dan perilaku goal-oriented.
Ketidakseimbangan kadar dopamin dalam otak juga diduga mempunyai korelasi dengan penyakit
skizofrenia, Parkinson, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorders (ADHD) dan autisme, dimana
keduanya memberikan gejala abnormalitas pada perilaku pasien.
Pengaruh DOPAMINE
Neurotransmitter systems

Acetylcholin
e
Nucleus basalis of Meynert Neocortex
Septal nuclei (Medial septal nucleus) Fornix Hippocampus
Striatum

BA/M
Dopaminergic
pathways
Mesocortical pathway: Ventral tegmental area Frontal cortex
Mesolimbic pathway: Ventral tegmental area Nucleus accumbens
Nigrostriatal pathway: Pars compacta Striatum
Tuberoinfundibular pathway: Hypothalamus Pituitary gland

Norepinephrine Locus coeruleus

Serotonin
pathways
Raphe nuclei Anterior raphespinal tract Lateral raphespinal tract


AA
Aspartate Climbing fibers

GABA Globus pallidus

Glycine Renshaw cells

14

Dopamine mengatur aktivitas di dalam frontal lobe, area otak yang mengatur komunikasi,
motivasi, dan kemampuan untuk merasakan kesenangan. Kekurangan zat kimia ini dikaitkan
dengan simptom psikologis seperti keresahan sosial, mengkritik diri sendiri, menunda atau sulit
mempertahankan hubungan, begitu menurut riset di Leiden University Medical Center di
Netherlands. Tapi begitu kekurangan ini dikoreksi, perempuan yang mengalaminya sering
merasa lebih berenergi, dapat bergaul dan percaya diri.
Dopamin merupakan neurotransmitter aktif dalam sistem dopaminergik dan berhubungan
dengan penyakit neuromotor (Parkinson) dan schizophrenia.Obat-obat yang meningkatkan efek
dopamin dalam sistem ini menunjukkan aktivitas farmakologis terhadap kedua penyakit tersebut.
Seperti neurotransmiter lain, target terapetik dalam sistem dopaminergik meliputi :
biosintesis, metabolisme, penyimpanan, reuptake dan reseptor (presinaps dan prasinaps)
dopaminergik.

LI III. Psikopatologi pada Gangguan Psikotik

I. Pengenalan
Sebagian besar tanda dan gejala yang terdaftar di bawah ini dapat dipahami sebagai nilai
yang bervariasi dari berbagai gambaran spektrum perilaku yang berkisar antara normal sampai
abnormal. Sangat sulit untuk menemukan suatu gejala atau tanda patognomonik ( khas ) dalam
psikiatri. Sebagai pembanding, pada pengobatan secara internal masih lebih mudah untuk
menemukan tanda yang dapat menunjukkan adanya indikasi suatu penyakit atau gangguan
tertentu, sebagai contoh, tanda cincin Kayser-Fleischer pada penyakit Wilson's atau refleks
Babinski pada penyakit gangguan jalur piramidal.
A. Tanda : Pengamatan dan penemuan penyakit / gangguan oleh seorang dokter, seperti
adanya suatu penyumbatan atau retardasi psikomotorik.
B. Gejala : pengalaman pribadi yang dirasakan dan diuraikan oleh pasien, sering dinyatakan
dalam bentuk keluhan, seperti suasana hati tertekan atau kehilangan energi.
C. Sindrom : suatu kelompok tanda dan gejala yang bersama-sama menyusun suatu kondisi
tertentu yang dapat dikenal, namun lebih samar-samar dibanding suatu gangguan / penyakit
yang spesifik.
II. Tanda dan Gejala Gangguan Psikiatri
A. Kesadaran : Status kesadaran ( istilah sensorium kadang-kadang digunakan sebagai suatu
sinonim untuk kesadaran).
1. Gangguan kesadaran
a. Disorientasi : Gangguan orientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang.
b. Kesadaran berkabut : kesadaran yang tidak sempurna dengan gangguan persepsi dan sikap.
c. Stupor : ketiadaan reaksi dan tidak mengenal lingkungan.
d. Delirium : reaksi kebingungan, disorientasi, gelisah yang berhubungan dengan ketakutan
dan halusinasi.
e. Koma : Derajat tingkat keadaan pingsan yang dalam.
f. Koma vigil / terjaga : keadaan koma di mana pasien nampak seperti tertidur tetapi siap
untuk dibangunkan (dikenal sebagai mutisme akinetik).
g. Status kesadaran senjakala : gangguan kesadaran dengan halusinasi
Glutamat
e
Thalamus Subthalamic nucleus Globus pallidus

15

h. Status seperti mimpi : sering digunakan sebagai sinonim untuk bangkitan parsial kompleks
atau epilepsi psikomotorik.
i. Somnolen : keadaan mengantuk yang abnormal.
j. Kebingungan : Gangguan kesadaran di mana reaksi ke stimuli lingkungan tidak sesuai; yang
dinyatakan dengan disorientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang.
k. Keadaan mengantuk : suatu status kesadaran lemah berhubungan dengan suatu keinginan
atau kecenderungan untuk tidur.
l. Terbenamnya matahari : sindrom pada orang lanjut usia yang umumnya terjadi pada malam
hari dan ditandai oleh keadaan mengantuk, kebingungan, kehilangan keseimbangan dan jatuh
karena dalam pengobatan sedatif, yang disebut sindrom sundowner's.
2. Gangguan perhatian : perhatian adalah sejumlah usaha yang digunakan dalam
memperhatikan dan fokus terhadap suatu hal tertentu dari suatu pengalaman; kemampuan untuk
fokus pada satu aktivitas; dan kemampuan untuk berkonsentrasi.
a. Distraktibilitas : Ketidakmampuan untuk konsentrasi dalam memberi perhatian; keadaan di
mana perhatian ditarik menuju stimuli eksternal yang tidak relevan atau tidak penting.
b. Inatensi selektif : Perhatian yang terbatas hanya pada berbagai hal yang menghasilkan
ketertarikan.
c. Hypervigilans : perhatian berlebihan yang terpusat pada semua stimuli internal dan
eksternal, terjadi sekunder pada delusi atau paranoid; berhubungan dengan hyperpragia:
aktivitas mental dan pemikiran berlebihan.
d. Trans : perhatian yang terpusat dan kesadaran berubah, umumnya dilihat pada keadaan
hipnosa, gangguan disasosiasi, dan pengalaman religius yang sangat menggembirakan.
e. Disinhibisi : Perpindahan efek inhibisi, yang mengakibatkan orang hilang kendali ketika
dalam keadaan mabuk oleh alkohol.
3. Gangguan Sugestibilitas : respon tanpa kritik dan mengalah terhadap suatu ide / pendapat
yang mempengaruhi.
a. Folie a deux ( folie a trois) : gangguan komunikasi emosional antara dua ( atau tiga) orang.
b. Hipnosa : modifikasi kesadaran yang ditandai oleh suatu peningkatan sugestibilitas.
B. Emosi: status perasaan yang kompleks termasuuk didalamnya faktor psikis, somatis, maupun
prilaku yang berhubungan atau dapat mempengaruhi suasana hati.
1. Afek : ungkapan emosi yang dapat diamati, yang mungkin dapat berbeda dengan apa yang
dikeluhkan oleh pasien.
a. Afek yang sesuai : kondisi di mana ungkapan emosi selaras dengan pikiran, ide maupun
perkataan ; dapat diuraikan lebih lanjut sebagai afek yang yang diekspresikan secara wajar.
b. Afek tidak sesuai : ketidaksesuaian antara ungkapan emosi yang dirasakan dengan pikiran,
ide maupun perkataan.
c. Afek tumpul : gangguan afek yang ditandai oleh adanya pengurangan sejumlah besar
intensitas ungkapan emosi / perasaan secara eksternal .
d. Afek terbatas : pengurangan dalam intensitas ungkapan emosi / perasaan; lebih sedikit
dibanding Afek tumpul namun tetap jelas adanya pengurangan.
e. Afek datar : Ekspresi afeksi yang bisa ada ataupun tidak ada: ditandai dengan suara yang
monoton, wajah tak bergerak ( tanpa ekspresi ).
f. Afek labil : perubahan yang kasar dan cepat dalam ungkapan emosional, tidak berhubungan
dengan stimuli eksternal.
16

2. Suasana hati ( Mood ) : suatu pengalaman subyektif yang menggambarkan dan mendukung
emosi / perasaan yang dapat disampaikan oleh pasien dan yang dapa diamati oleh orang lain;
misalnya adanya tekanan, kegembiraan, dan kemarahan.
a. Mood Disforik : suatu suasana hati tak enak.
b. Mood Eutimik : cakupan suasana hati normal, menyiratkan tidak adanya perasaan tertekan
atau persaan senang berlebihan.
c. Mood ekspansif ( leluasa ) : ungkapan seseorang yang merasakan kebebasan, biasanya
dengan suatu pengakuan akan arti penting dari diri sendiri.
d. Mood sensitif ( mudah marah ): suatu keadaan pada seseorang yang mudah merasa
terganggu dan cepat marah.
e. Mood berayun ( labil ) : perpaduan suasana hati antara bahagia dan tertekan atau cemas
berlebihan.
f. Mood terangkat ( naik ) : suasana hati yang terisi oleh kenikmatan dan kepercayaan diri;
suatu suasana hati yang lebih gembira dari biasanya.
g. Euforia : Suasana hati yang terangkat dan penuh kegembiraan.
h. Ekstasi : Suasana hati yang terlalu gembira diluar kewajaran.
i. Tekanan : Perasaan sedih yang bersifat Psikopatologik.
j. Anhedonia : hilangnya minat dan ketertarikan terhadap segala kegiatan / aktifitas
yangbiasanya menyenangkan, sering berhubungan dengan adanya tekanan.
k. Duka cita Atau Perkabungan : Kesedihan yang sesuai dengan kondisi karena meninggalnya
seseorang yang dikasihi, juga disebut kehilangan.
l. Alexithymia : ketidakmampuan seseorang untuk menguraikan atau kesulitan di dalam
menggambarkan secara sadar emosi / perasaan dan suasana hatinya.
m. Keinginan bunuh diri : Pemikiran tentang ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
n. Kegembiraan : perasaan sukacita, senang, bahagia, kemenangan, kepuasan dan optimisme.
o. Hypomania : Kelainan suasana hati ( mood ) dengan karakteristik mania yang kwalitatif,
tetapi intensitasnya lebih sedikit.
p. Mania : Status suasana hati yang ditandai oleh kegembiraan, hiperaktif, gelisah, hiperseks,
dan yang dipercepat oleh pemikiran dan perkataannya sendiri.
q. Melankolia : keadaan perasaan yang sangat tertekan; digunakan dalam istilah melankolia
involusional, yang juga berhubungan dengan intensitas tekanan.
r. Sikap acuh tak acuh : sikap yang tidak menunjukkan kepedulian / perhatian terhadap
kelemahan atau kekurangan seseorang.
3. Emosi lainnya:
a. Ansietas ( kecemasan ) : perasaan takut yang disebabkan oleh adanya bahaya yang dapat
terjadi, bisa berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar.
b. Kecemasan mengambang : ketakutan yang tidak terpusat pada satu hal tertentu.
c. Takut : Kecemasan yang disebabkan oleh kesadaran akan suatu bahaya yang nyata dan
dikenal.
d. Agitasi ( gelisah ) : kecemasan yang dalam berhubungan dengan kegelisahan motorik;
serupa dengan iritabilitas ( sifat lekas marah ) yang mudah dicetuskan oleh kemarahan atau
gangguan.
e. Ketegangan : Peningkatan aktifitas motorik yang tidak menyenangkan berhubungan dengan
faktor psikologis.
f. Panik : serangan kecemasan yang berlebihan, bersifat episodik, yang dapat berhubungan
dengan gangguan sistem saraf otonom, juga oleh karena perasaan ngeri yang hebat.
17

g. Apati : ketumpulan emosi yang berhubungan dengan sikap acuh tak acuh.
h. Ambivalen : adanya dua hal yang saling bertentangan ( berbeda ) dalam diri seseorang yang
dialami dalam waktu bersamaan.
i. Abreksi : pelepasan emosional atau membebaskan ingatan ingatan terhadap pengalaman
yang menyakitkan.
j. Malu : Perasaan gagal untuk mengerjakan sesuatu yang diharapkan.
k. Rasa bersalah : Emosi sekunder yang timbul setelah melakukan sesuatu yang dianggap
kesalahan.
l. Pengendalian diri : Kemampuan untuk menahan diri terhadap godaan, dorongan hati atau
hasutan yang diikuti suatu tindakan.
m. Inefabilitas : keadaan sangat gembira pada seseorang yang tak terlukiskan, sulit
digambarkan, dan mustahil untuk disampaikan kepada orang lain.
n. Akateksis : ketiadaan perasaan terhadap sesuatu yang menjadi beban secara emosi; pada
kateksis dapat dihubungkan dengan perasaan.
o. Dekatesis : melepaskan emosid dari pemikiran, gagasan, atau para orang.
4. Gangguan fisiologis berhubungan dengan suasana hati ( Mood ) :
Tanda-tanda gangguan somatis ( biasanya otonomik ), paling sering berhubungan dengan depresi
/ tertekan ( disebut juga tanda vegetatif ).
a. Anorexia : hilangnya atau penurunan selera makan.
b. Hiperfagia : Peningkatan nafsu makanan.
c. Insomnia : ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur.
(1) Awal : kesukaran dalam upaya untuk tidur.
(2) Pertengahan : Kesukaran untuk tidur sepanjang malam tanpa terbangun dan kesukaran
untuk dapat tidur kembali.
(3) Terminal : terbangun pagi-pagi benar.
d. Hipersomnia : tidur yang berlebihan.
e. Variasi Diurnal ( siang hari ) : secara teratur suasana hati terburuk pada pagi hari, sesaat
setelah bangun, dan mulai membaik pada jam-jam berikutnya.
f. Penurunan Libido : penurunan minat / ketertarikan seksual, tindakan dan pencapaiannya ;
(peningkatan libido sering dihubungkan dengan negara status manik).
g. Fatig ( kelelahan ) : suatu perasaan keletihan, lemah dan mengantuk, atau iritabilitas yang
menyertai suatu aktifitas tubuh maupun mental.
h. Pika : keinginan untuk mengkonsumsi benda yang bukan makanan, seperti cat dan tanah
liat.
i. Pseudosiesis : kondisi yang jarang terjadi di mana seseorang yang tidak hamil namun
mempunyai tanda dan gejala kehamilan, seperti distensi abdominal, payudara membesar,
pigmentasi, amenore ( tidak turun haid ) dan mual pagi hari.
j. Bulimia : rasa lapar yang tak terpenuhi dan keinginan berlebihan untuk makan; dapat dilihat
pada bulimia nervosa dan depresi atipik.
k. Adinamia : Kelemahan dan kelelahan ( Fatig ).
C. Perilaku Motorik : Aspek psikis yang meliputi dorongan hati, motivasi, berbagai keinginan,
rangsangan, naluri, dan hasrat, yang dinyatakan oleh aktivitas motorik atau perilaku seseorang.
1. Ekopraksia : Gangguan / penyakit pada orang yang suka meniru orang lain.
2. Katatonia dan Kelainan Postural : terlihat pada Schizofrenia katatonik dan beberapa kasus
gangguan otak, seperti encephalitis.
18

a. Katalepsi : istilah umum untuk suatu posisi diam / tak bergerak yang dilakukan secara
konstan.
b. Rangsangan katatonik : agitasi / gelisah, aktifitas motorik yang tak bertujuan dan tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal.
c. Stupor katatonik : aktivitas motorik yang lamban, sering sampai pada batas imobilitas dan
tampak acuh pada lingkungan sekitar.
d. Kekakuan / Rigiditas katatonik: asumsi volunter pada postur / posisi tubuh yang kaku,
berupaya untuk melawan semua usaha untuk dipindahkan.
e. Postur katatonik : pengambilan suatu posisi atau sikap tubuh yang tidak biasa / ganjil dalam
waktu yang lama.
f. Cereafleksibilitas ( fleksibilitas sepertii lilin): kondisi dimana seseorang yang diatur dalam
suatu posisi tertentu untuk dirawat / diperiksa; ketika si pemeriksa memindahkan atau
menggerakkan salah satu anggota tubuh pasien, maka bagian tersebut terasa seperti terbuat
dari lilin.
g. Akinesia : ketiadaan pergerakan fisik, seperti pada Schizofren Katatonik ; bisa juga terjadi
sebagai efek samping ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikosis.
3. Negativisme : Pertahanan diri untuk dipindahkan atau penolakan terhadap semua instruksi
yang diberikan.
4. Katapleksi : hilangnya kekuatan otot secara temporer dan kelemahan yang dipicu oleh
berbagai beban emosi.
5. Stereotipik: Pengulangan secara seksama suatu pola atau bentuk aksi fisik maupun perkataan
tertentu.
6. Manerisme ( Lagak ) : pergerakan involunter ( tidak disengaja ) yang sudah menjadi
kebiasaan.
7. Otomatisme : suatu tindakan atau penampilan otomatis yang biasanya mewakili aktivitas yang
tidak disadari.
8. Perintah Otomatis : kepatuhan untuk melakukan suatu perintah secara otomatis.
9. Mutisme : seseorang yang tidak dapat bicara atau mengeluarkan suara tanpa adanya kelainan
struktural.
10. Aktifitas berlebihan :
a. Agitasi Psikomotorik : aktifitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya
nonproduktif dan merupakan respon terhadap ketegangan dari dalam diri sendiri.
b. Hiperaktif ( hiperkinesis) : tidak bisa diam, agresif dan destruktif yang sering dihubungkan
dengan adanya kelainan pada otak.
c. Tik : pergerakan motorik spasmodik / tak teratur dan tanpa disengaja.
d. Somnabulisme ( berjalan saat tidur): aktivitas motorik selama tidur
e. Akathisia : perasaan subyektif berupa ketegangan otot sekunder karena obat antipsikotik
maupun obat yang lain, yang dapat menyebabkan kegelisahan, serta mengulangi posisi duduk
dan berdiri; dapat keliru dianggap sebagai gangguan jiwa agitasi.
f. Kompulsi : dorongan hati yang tak dapat dikendalikan untuk melakukan suatu tindakan
secara berulang.
( 1) Dipsomania : kompulsi untuk minum alkohol.
( 2) Kleptomania : kompulsi untuk mencuri.
( 3) Nimfomania : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks di
pada seorang perempuan.
19

( 4) Satiriasis : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks pada
seorang laki-laki.
( 5) Trikotillomania : kompulsi untuk mencabut rambut.
( 6) Ritual : aktivitas otomatis, kompulsi secara alamiah, ansietas terhadap suatu perubahan.
g. Ataksia : Kegagalan koordinasi otot; ketidakteraturan tindakan otot.
h. Polifagi : kelainan berupa makan secara berlebihan.
i. Polidipsi : kelainan berupa minum secara berlebihan.
j. Tremor : perubahan irama pergerakan, pada umumnya gemetaran lebih cepat dari satu detik;
bersifat khas atau tipikal, akan berkurang selama periode relaksasi dan tidur dan akan
meningkat dalam keadaan marah atau tegang.
k. Flosilasi : gerakan memilin tanpa tujuan, biasanya pada pakaian, sprei maupun sarung
bantal ; dapat terlihat pada Delirium.
11. Hipoaktifitas ( hipokinesis) : penurunan aktifitas motorik dan kognitif seperti pada retardasi
psikomotor ; keterlambatan dalam berpikir, berbicara dan bergerak.
12. Suka meniru: aktivitas motori pada masa kanak-kanak suka meniru gerakan sederhana.
13. Agresi: kekuatan penuh dalam berbagai tindakan yang bertujuan baik secara fisik maupun
dalam berbicara; merupakan kendali motorik yang terhadap amukan, kemarahan, atau
permusuhan.
14. Berakting ( pemeranan ): ekspresi keinginan bawah sadar atau rangsangan terhadap suatu
tindakan; prilaku yang timbul oleh karena fantasi bawah sadar.
15. Abulia: penurunan rangsangan dalam bertindak dan berpikir, berhubungan dengan sikap acuh
tak acuh; merupakan salah satu akibat dari defisit neurologis.
16. Anergia: ketiadaan energi.
17. Astasia Abasia : ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meskipun
pergerakan kaki normal dapat dilakukan pada saat duduk atau posisi berbaring. Gaya berjalan
atau melangkah terlihat ganjil namun bukan disebabkan oleh karena suatu lesi organik yang
spesifik; terlihat pada kelainan konversi.
18. Koprofagia : suka makan kotoran atau tinja.
19. Diskinesia : Kesukaran dalam melakukan pergerakan volunter, seperti pada kelainan
ekstrapiramidal
20. Kekakuan Otot : keadaan dimana otot sulit digerakkan; terlihat pada Skozofrenia.
21. Berputar-putar : suatu tanda pada anak-anak autistik yang secara terus menerus memutarkan
badan searah putaran kepala mereka.
22. Bradikinesia : kelambatan aktifitas motorik ditandai dengan suatu penurunan pergerakan
spontan yang normal.
23. Korea : pergerakan cepat, tersentak-sentak yang tak bertujuan dan dilakukan tanpa sadar.
24. Konvulsi : involunter, suatu kontraksi hebat atau spasme otot.
a. Konvulsi klonik : konvulsi dimana otot akan berkontraksi dan relaksasi secara bergantian.
b. Konvulsi tonik : Konvulsi dimana otot akan terus- menerus berkontraksi.
25. Bangkitan : suatu serangan mendadak dari gejala tertentu, seperti konvulsi, hilangnya
kesadaran, dan gangguan psikis maupun sensoris; terlihat pada epilepsi dan bisa juga karena
rangsangan lain.
a. Bangkitan tonik-klonik umum: serangan berupa gerakan tonik-lonik anggota tubuh, lidah yang
tergigit, dan inkontinensia yang berangsur-angsur akan sadar dan pulih; disebut juga bangkitan
Grand Mal dan bangkitan psikomotorik.
20

b. Bangkitan parsial sederhana : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal tanpa perubahan
dalam kesadaran.
c. Bangkitan parsial kompleks : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal yang disertai
perubahan kesadaran.
26. Distonia : kelambatan, kontraksi dari batang tubuh dan anggota gerak; terlihat pada distona
karena pengobatan tertentu.
27. Aminia : Ketidakmampuan untuk membuat bahasa tubuh / gestur sendiri atau untuk
memahami gestur yang dibuat orang lain.
D. Pemikiran: merupakan arus gagasan, lambang / simbol, dan asosiasi bertujuan yang
diaktifkan oleh suatu masalah atau tugas yang menghasilkan kesimpulan berdasarkan kenyataan;
ketika suatu peristiwa logis terjadi, maka secara normal kita akan berpikir; parapraksis (
kehilangan motivasi logika tanpa disadari, disebut juga Freudian Slip) yang dianggap sebagai
bagian dari pemikiran yang normal. Pemikiran abstrak adalah kemampuan untuk menggapai hal-
hal yang penting secara utuh, untuk memisahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dan
untuk membedakannya dari pandangan umum.
1. Gangguan umum dalam proses berpikir
a. Gangguan Mental : secara klinis perilaku yang timbul atau sindrom psikologis yang terjadi
berhubungan dengan penderitaan dan kecacatan, bukan hanya respon yang tidak diharapkan
untuk menjawab peristiwa tertentu atau membatasi hubungan antara seseorang dan
masyarakat sekitar.
b. Psikosis : Ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dan khayalan; dengan
menciptakan suatu kenyataan baru ( berbeda dengan neurosis: gangguan mental di mana
kenyataan yang sebenarnya tetap utuh; perilaku yang tidak melanggar berbagai norma sosial,
tetapi akan cenderung kumat dan berlangsung kronis bila tanpa perawatan.
c. Uji realitas : merupakan evaluasi dan penilaian yang obyektif terhadap dunia diluar diri
sendiri .
d. Gangguan Pikiran formal : lebih mengarah kepada gangguan dalam bentuk pikiran dan
bukan isi pikiran; pemikiran yang ditandai oleh hlangnya asosiasi, pembentukan kata baru /
neologisme, dan hal-hal konstruktif tapi tidak masuk akal; gangguan proses berpikir, dan
orang tersebut dikategorikan sebagai psikosis.
e. Pemikiran yang tidak masuk akal: pemikiran yang berisi kesimpulan yang salah atau
pertentangan secara internal; dapat dianggap sebagai gangguan psikis bila tanda-tandanya
jelas dan bukan disebabkan oleh defisit intelektual atau nilai-nilai budaya.
f. Dereisme : Aktivitas mental yang tidak sesuai kenyataan dan pengalaman.
g. Pemikiran Autistik : Keasyikan dengan diri sendiri, dunia pribadi; istilah yang terkadang
disama artikan dengan dereisme.
h. Pemikiran gaib : suatu bentuk pikiran dereistik; pemikiran yang serupa dengan pemikiran
pada tahap anak-anak (Jean Piaget), di mana pemikiran, kata-kata, atau tindakan yang
menunjukkan kekuasaan ( sebagai contoh, menjadi penyebab atau pencegah suatu peristiwa
hebat).
i. Proses berpikir primer : istilah umum untuk pemikiran dereistik, tidak masuk akal, dan gaib;
ditemukan secara normal dalam mimpi, secara tidak normal pada psikosis.
j. Pengertian emosional yang dalam: tingkat kesadaran atau pemahaman yang tinggi pada
seseorang yang dapat mendorong untuk melakukan hal-hal positif dalam prilaku dan
kepribadiannya.
2. Gangguan spesifik dalam bentuk pikiran
21

a. Neologisme : kata-kata baru yang diciptakan oleh pasien, sering dengan kombinasi suku
kata dari kata-kata yang lain, untuk pertimbangan psikologis idiosinkratik
b. Salad kata-kata : campuran kata-kata yang tidak logis dan tidak bertautan dengan kalimat.
c. Sirkumstantial : Kalimat yang tak langsung mencapai tujuan / maksud yang sebenarnya
tetapi berputar-putar pada kalimat yang lain; yang ditandai oleh suatu detail yang tumpang-
tindih dan keterangan sambil lalu.
d. Tangential : Ketidakmampuan untuk membentuk asosiasi pikiran yang bertujuan;
pembicara tidak mendapat tujuan yang diingankan.
e. Ketidaksesuaian : pada umumnya apa yang dipikirkan tak dapat dimengerti / dipahami;
pemikiran dan perkataan yang berjalan bersama namun tidak saling berhubungan,
menghasilkan tatabahasa yang tidak beraturan.
f. Perseverasi : mempertahankan respon terhadap stimulus yang sebelumnya setelah suatu
stimulus baru diberikan; sering berhubungan dengan gangguan kognitif.
g. Verbigerasi : pengulangan kata-kata atau ungkapan tertentu yang tidak mengandung arti.
h. Ekolalia : psikopatologis berupa pengulangan kata-kata atau kalimat dari seseorang kepada
yang lain; pengulangan yang dipertahankan; dapat disampaikan dalam bentuk ejekan maupun
dengan intonasi yang keras.
i. kondensasi : Peleburan berbagai konsep menjadi satu.
j. Jawaban tidak relevan : Jawaban yang tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan
( seseorang yang mengabaikan atau tidak mempedulikan pertanyaan yang dimaksud ).
k. Kehilangan asosiasi : arus berpikir di mana berbagai gagasan bergeser dari satu topik ke
topik yang lain dan tidak saling berkaitan; pada keadaan yang lebih berat, terjadi
ketidaksesuaian dalam perkataan.
l. Penyimpangan : terjadi deviasi mendadak dalam pikiran tanpa dapat dihentikan; terkadang
digunakan sebagai sinonim dari kehilangan asosiasi.
m. Flight of idea ( ide yang berterbangan ): perkataan yang cepat dan beruntun, ide / gagasan
yang berpindah-pindah, dengan tujuan untuk dapat dihubungkan; pada keadaan yang lebih
ringan masih dapat diikuti oleh orang yang mendengarkan.
n. Asosiasi klang : asosiasi kata-kata dengan bunyi yang sama tetapi tanpa arti; kata-kata yang
tidak mempunya koneksi logis; termasuk sajak dan permainan kata-kata.
o. Bloking ( Ganjalan ) : interupsi / hadangan keras terhadap pikiran sebelum pikiran atau ide
tersebut dapat diselesaikan; setelah jeda itu, orang tersebut tidak dapat mengingat lagi apa
yang sudah dikatakan atau yang baru akan dikatakan ( disebut juga deprivasi pikiran ).
p. Glossolalia : Ungkapan suatu pesan atau pewahyuan melalui kata-kata yang tak dapat
dipahami ( dikenal sebagai bahasa lidah); tidak berhubungan dengan suatu gangguan pikiran
jika hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan spiritual ( Gereja Pantekosta ); dikenal
juga sebagai criptolalia, suatu bahasa yang khusus.
3. Gangguan spesifik dalam isi pikiran
a. Kemiskinan isi : pikiran yang hanya memberi sedikit informasi oleh karena ketidakjelasan,
tidak ada pengulangan kata-kata, atau ungkapan yang tidak jelas.
b. Ide berlebihan : tidak masuk akal, mempertahankan kepercayan terhadap sesuatu yang
salah, lebih kuat dibandingkan suatu khayalan / delusi.
c. Delusi ( khayalan ) : kepercayaan palsu, berdasarkan pada kesimpulan salah tentang
kenyataan diluar, tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan pasien dan latar belakang budaya;
namun tidak bisa dikoreksi dengan alasan lain.
( 1) Delusi Ganjil : tidak masuk akal, sangat mustahil, kepercayaan yang aneh dan salah
22

( contohnya, penyerbu dari ruang angkasa telah menanamkan elektroda dalam otak seseorang).
( 2) Delusi yang diatur : kepercayaan palsu yang berhubungan dengan tema atau peristiwa
tertentu ( sebagai contoh, seseorang telah dianiaya oleh CIA, FBI, atau Mafia).
( 3) Delusi sesuai mood : khayalan yang dihubungkan dengan isi suasana hati seseorang
(contohnya, seorang pasien depresi percaya bahwa dia yang bertanggung jawab atas kehancuran
dunia).
( 4) Delusi tidak sesuai mood : Khayalan yang tidak memiliki hubungan dengan isi suasana hati
atau kondisi mood yang stabil ( sebagai contoh, seorang pasien depresi berkhayal sebagai
pemegang kendali pikiran atau pikiran tentang penyiaran).
( 5) Delusi nihilistik : perasaan yang salah tentang menyatakan diri sendiri, orang lain, atau dunia
ini adalah hampa atau akan segera berakhir.
( 6) Delusi kemiskinan : kepercayaan yang salah dari seseorang bahwa dia telah atau akan
kehilangan semua harta miliknya.
( 7) Delusi somatis : kepercayaan yang salah pada seseorang yang berhubungan dengan fungsi
tubuh ( sebagai contoh, ia percaya bahwa otaknya melebur atau meleleh ).
( 8) Delusi paranoid : meliputi khayalan tentang penganiayaan, pengendalian, dan kekuasaan
(dibedakan dari pikiran paranoid , yang kecurigaannya lebih sedikit daripada delusional ).
a). Delusi penyiksaan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa dia telah diganggu, ditipu, atau
dianiaya; sering ditemukan pada pasien yang mempunyai kecenderungan patologis untuk
mengambil tindakan sah secara hukum oleh karena penganiayaan dibayangkan.
b). Delusi kekuasaan / kehebatan: konsep berpikir yang berlebihan dari seseorang yang
menganggap dirinya penting, berkuasa dan terkenal.
c). Delusi acuan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa perilaku orang lain lain mengacu pada
dirinya; peristiwa tertentu, obyek, atau orang lain hanya memiliki kemampuan yang biasa atau
kemampuan yang berdampak negatif; berdasarkan ide acuan ini, pasien menganggap bahwa
orang lain sedang membicarakannya ( sebagai contoh, ia percaya bahwa orang yang bekerja di
stasiun televisi maupun radio sedang membicarakan dirinya ).
( 9) Delusi tuduhan : perasaan bersalah dan menyesali kesalahan diri sendiri.
(10) Delusi kendali : perasaan bahwa kehendak, pemikiran, bahkan perasaan seseorang
dikendalikan oleh kekuatan diluar dirinya.
a). Penarikan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang telah dipindahkan oleh orang lain atau
kekuatan tertentu.
b). Penyisipan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran tertentu telah ditanamkan dalam otak seseorang
oleh orang lain atau kekuatan tertentu.
c). Penyiaran Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang dapat didengar oleh orang lain melalui
penyiaran di udara.
d). Pengendalian Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang sedang dikendalikan oleh orang
lain atau kekuatan tertentu.
(11) Delusi ketidaksetiaan ( delusi kecemburuan): kepercayaan palsu yang diperoleh dari
kecemburuan yang patologis tentang ketidaksetiaan seseorang terhadap kekasihnya.
(12) Erotomania : Delusi Kepercayaan, terjadi lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki,
yang menganggap bahwa seseorang sangat mencintainya ( dikenal sebagai Clerembault
Kadinsky kompleks ).
(13) Pseudologia Fantasika : suatu tipe kebohongan dimana seseorang percaya bahwa kfantasi /
khayalannya adalah sesuatu yang nyata dan benar-benar mereka alami; berhubungan dengan
sindrom Munchausen, selalu berpura-pura sakit.
23

d. Kecenderungan atau Keasyikan pikiran: memusatkan isi pikiran pada suatu hal tertentu,
berhubungan dengan afek yang kuat, seperti paranoid atau kecenderungan untuk menyiksa
atau membunuh diri sendiri.
e. Egomania : kecenderungan memikirkan kepentingan sendiri yang patologis.
f. Monomania : kecenderungan untuk asyik pada suatu obyek tertentu.
g. Hipokondria : perhatian yang berlebihan terhadap kesehatannya berdasarkan kelainan /
patologi yang tidak nyata, namun membuat interpretasi tentang tanda dan gejala penyakit
yang dibuat-buat.
h. Obsesi : ketekunan pikiran yang patologis terhadap sesuatu yang dianggap menarik yang
tidak dapat dibatasi oleh akal sehat; berhubungan dengan ansietas.
i. Kompulsi : kebutuhan untuk melakukan sesuatu karena dorongan hati yang patologis dan
bila tidak terpenuhi akan mengalami ansietas / kecemasan; , tindakan yang dilakukan
berulang-ulang oleh karena obsesi yang tidak akan pernah berakhir bila tidak segera
dihentikan.
j. Koprolalia : Ucapan-ucapan kompulsif yang berisi kata-kata yang fulgar.
k. Fobia : perasaan yang tidak masuk akal tapi tetap dipertahankan, berupa ketakutan yang
berlebihan terhadap suatu hal atau situasi tertentu; sehingga berusaha untuk menghindari
sumber ketakutan tersebut.
(1) Fobia spesifik : perasaan ngeri yang terbatas pada suatu situasi atau obyek tertentu (contoh,
perasaan takut pada laba-laba atau ular).
(2) Fobia sosial : Perasaan ngeri dipermalukan didepan umum, seperti takut berbicara dan tampil
bahkan makan di tempat umum.
(3) Akrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tinggi.
(4) Agorafobia : Perasaan ngeri berada di tempat terbuka.
(5) Algofobia : Perasaan ngeri terhadap rasa sakit.
( 6) Ailurofobia : Perasaan ngeri pada kucing.
( 7) Erythrofobia : Perasaan ngeri terhadap warna merah ( seperti ketakutan menjadi merah
karena malu ).
( 8) Panfobia : Perasaan ngeri terhadap segala sesuatu.
( 9) Klaustrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tertutup.
(10) Xenofobia : Perasaan ngeri terhadap orang asing.
(11) Zoofobia : Perasaan ngeri terhadap binatang.
(12) Fobia jarum : ketakutan patologik terhadap suntikan; disebut juga fobia suntikan darah.
l. Noesis : perasaan tentang dibukanya suatu rahasia ( pewahyuan ) bahwa seseorang telah
dipilih menjadi pemimpin untuk memerintah.
m. Mistis : perasaan tentang adanya kekuatan mistik yang bersatu dengan suatu kekuatan tak
terbatas yang berhubungan dengan agama atau kebudayaan tertentu.
E. Perkataan / Pembicaraan: Gagasan, pemikiran, dan perasaan yang dinyatakan melalui
bahasa; komunikasi yang menggunakan kata-kata dan bahasa.
1. Gangguan dalam berkata-kata / berbicara
a. Tekanan dalam perkataan : perkataan yang cepat dan semakin banyak yang sulit untuk
disela.
b. Volubilitas ( Logorrhea) : perkataan yang logis, saling berhubungan dan dapat dipahami.
c. Kemiskinan perkataan : pembatasan dalam jumlah perkataan yang digunakan; memberikan
jawaban dengan suku kata yang sama.
24

d. Perkataan yang tidak spontan: tanggapan lisan yang diberi hanya ketika diminta untuk
berbicara secara langsung; tidak ada inisiatif untuk mulai berbicara terlebih dahulu.
e. Kemiskinan isi perkataan : perkataan dalam jumlah yang hanya cukup untuk
menyampaikan sedikit informasi karena ketidakjelasan, kekurangan kata-kata, atau meniru-
niru ungkapan.
f. Disprosodi : hilangnya melodi / irama kata-kata yang normal ( disebut prosodi).
g. Disarthria : Kesukaran dalam artikulasi, bukan dalam mencari kata-kata atau tata
bahasanya.
h. Suara yang terlalu lembut atau nyaring: hilangnya modulasi volume suara normal; dapat
mnenggambarkan adanya gangguan psikosis menjadi depresi kemudian menjadi tuli.
i. Bicara menggagap : perpanjangan atau pengulangan suatu bunyi atau suku kata, yang
mengakibatkan gangguan kelancaran bicara.
j. Perkataan kacau balau : Perkataan yang tak seirama dan tidak menentu, berentetan secara
cepat dan tidak teratur.
k. Akulalia : perkataan yang tidak masuk akal yang berhubungan dengangangguan kesesuaian.
l. Bradilalia : perkataan lambat yang abnormal.
m. Disfonia : kesulitan atau nyeri saat berbicara.
2. Gangguan Afasik : Gangguan dalam berbahasa.
a. Afasia Motorik : gangguan bicara yang disebabkan oleh adanya gangguan kognitif di mana
pasien dapat memahami namun sulit untuk menyampaikan dalam bentuk kata-kata; sering
berhenti, perlu banyak tenaga, dan suara yang tidak akurat ( disebut juga Broca, nonfluen, dan
afasia ekspresi )
b. Afasia snsorik : hilangnya kemampuan organik untuk memahami arti dari kata-kata;
mengalir dengan spontan namun tidak saling berhubungan dan tidak ada arti yang jelas (
disebut juga Wernicks Fluent dan afasia reseptif ).
c. Afasia nominal : kesulitan dalam mengenal nama suatu objek ( istilah lain anomia dan
afasia amnestik ).
d. Afasia sintaksis : ketidakmampuan untuk menyusun kata-kata dalam urutan yang sesuai.
e. Afasia Jargon : semua kata yang dihasilkan merupakan neologistik; kata-kata omong
kosong yang diulangi dengan intonasi dan nada suara yang berbeda.
f. Afasia global : kombinasi antara afasia nonfluent dan afasia fluent yang berat.
g. Alogia : Ketidakmampuan untuk berbicara oleh karena gangguan mental atau fase
demensia.
h. Koproprasia : penggunaan bahasa yang fulgar; terlihat pada sindrom Tourett dan beberapa
kasus skizofrenia.
F. Persepsi: Proses pemindahan rangsangan fisik ke dalam informasi psikologis; suatu proses
mental dimana rangsangan sensorik dibawa ke alam sadar.
1. Gangguan persepsi
a. Halusinasi : persepsi sensorik palsu yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dari luar;
dapat merupakan atau bukan merupakan suatu interpretasi khayalan dari pengalaman dalam
halusinasi .
(1) Halusinasi Hipnagogik : persepsi sensorik palsu yang terjadi saat tidur; biasanya dianggap
nonpatologik.
(2) Halusinasi Hipnopompik : persepsi palsu yang terjadi saat bangun tidur; biasanya
dianggap nonpatologik.
25

(3) Halusinasi Auditorius : persepsi palsu tentang bunyi, biasanya suara tertentu atau
keributan lainnya, seperti musik: halusinasi tersering dalam gangguan psikiatri.
(4) Halusinasi visual : persepsi palsu tentang penglihatan: dalam bentuk yang berwujud
(contohnya orang-orang) dan yang tak berwujud ( misalnya kilatan cahaya); paling sering
pada gangguan determinasi kesehatan.
(5) Halusinasi Olfaktorius : persepsi palsu tentang bau; paling sering pada gangguan
kesehatan.
(6) Halusinasi Gustatorius : persepsi palsu dalam pengecapan, seperti rasa yang tidak sedap,
disebabkan oleh suatu bangkitan uncinate: paling sering pada gangguan kesehatan.
(7) Halusinasi taktil : persepsi palsu tentang perabaan, seperti pada kasus amputasi anggota
tubuh; tearsa seperti ada sesuatu yang merayap di bawah kulit.
(8) Halusinasi Somatik : sensasi palsu yang dirasakan dalam tubuh, paling sering pada organ
visceral ( dikenal sebagai halusinasi Senestetik ).
(9) Halusinasi Lilliput : persepsi palsu di mana objek terlihat dalam ukuran yang lebih kecil
(disebut juga mikropsia).
(10) Halusinasi berdasarkan Mood: Halusinasi berkaitan dengan suatu perasaan tertekan atau
manik; sebagai contoh, seorang pasien depresi mendengar suara-suara yang mengatakan
bahwa dirinya adalah orang jahat; seorang pasien manik mendengar suara-suara yang
mengatakan bahwa dirinya penuh dengan pengetahuan dan kekuasaan serta harga diri yang
tinggi.
(11) Halusinasi tidak berdasar Mood: Halusinasi yang tidak berdasarkan suasana hati yang
tertekan maupun manik ( contohnya, pada keadaan depresi halusinasi tidak berhubungan
dengan beberapa hal seperti rasa bersalah, hukuman yang setimpal, atau ketidakmampuan;
pada mania, halusinasi tidak berhubungan dengan adanya kekuatan atau harga diri ).
(12) Halusinosis : berhalusinasi, paling sering pada pendengaran, yang dihubungkan dengan
penyalahgunaan alkohol tanpa gangguan sensorik, berbeda dengan delirium tremens,
halusinasi terjadi disertai gangguan sensorik.
(13) Sinesthesia : sensasi halusinasi disebabkan oleh sensasi lain ( sebagai contoh, sensasi
pendengaran yang disertai oleh tercetusnya sensasi visual; suatu bunyi; sensasi pendengaran
yang dapat dilihat atau sebaliknya sensasi penglihatan yang dapat didengar ).
(14) Fenomena jejak : kelainan persepsi yang berhubungan dengan obat-obatan
halusinogenyang menyebabkan objek terlihat sebagai suatu gambaran yang terangkai.
(15) Halusinasi Perintah : persepsi palsu yang mennyebabkan seseorang berkewajiban untuk
mematuhi perintah dan tidak boleh membantah.
b. Ilusi : persepsi atau interpretasi yang salah terhadap rangsangan sensorik yang nyata dari luar.
2. Gangguan berhubungan dengan kelainan kognitif dan kondisi kesehatan
a. Agnosia : ketidakmampuan untuk mengenali dan menginterpretasikan arti / kesan dari suatu
rangsangan sensorik.
b. Anosognosia ( Ketidaktahuan tentang penyakit ) : ketidakmampuan seseorang untuk
mengenali suatu gangguan neurologik yang terjadi pada dirinya.
c. Somatopagnosia ( Ketidaktahuan tentang tubuh ): ketidakmampuan seseorang untuk
mengenali salah satu bagian tubuhnya sendiri (disebut juga Autotopagnosia).
d. Agnosia visual : Ketidakmampuan untuk mengenali objek atau orang.
e. Astereognosis : ketidakmampuan untuk mengenali objek melalui sentuhan / perabaan.
f. Prosopagnosia : Ketidakmampuan untuk mengenali wajah.
g. Apraksia : Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas spesifik.
26

h. Simultagnosia : Ketidakmampuan untuk memahami lebih dari satu unsur visual pada waktu
yang sama atau untuk mengintegrasikan beberapa bagian menjadi satu.
i. Adiadokokinesia : Ketidakmampuan untuk melaksanakan pergerakan cepat secara berurutan.
j. Aura : Sensasi peringatan seperti otomatisme, perut yang kenyang, wajah merona, perubahan
dalam pernafasan, sensasi kognitif, dan status afeksi yang biasanya dialami sebelum terjadi
serangan; suatu sensasi awal yang mendahului suatu nyeri akibat migrain.
3. Gangguan yang berhubungan dengan fenomena disosiatif dan konversi: somatisasi dari materi
yang ditekan atau pengembangan gejala fisik dan penyimpangan otot-otot volunter atau organ
pengindraan khusus; yang tidak dikendalikan oleh volunter dan yang tak dapat dihubungkan
dengan gangguan fisik manapun.
a. Anesthesia histerikal : hilangnya unsur-unsur sensorik sebagai hasil dari konflik emosi.
b. Makropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih besar dari biasanya.
c. Mikropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih kecil dari biasanya
(makropsia dan mikropsia dapat dihubungkan dengan kondisi organik yang jelas seperti
bangkitan parsial kompleks).
d. Depersonalisasi : sensasi subyektif pada seseorang yang merasakan adanya keanehan, tidak
nyata dan perasaan asing.
e. Derealisasi : suatu sensasi subyektif yang menganggap ada keanehan pada lingkungan sekitar
dan terasa tidak nyata .
f. Fugue ( Fuga ) : menggunakan identitas yang baru karena mengalami amnesia terhadap
identitas yang lama; sering melakukan perjalanan dan pengembaraan ke tempat-tempat yang
baru.
g. Kepribadian ganda : seseorang yang muncul dalam waktu yang berbeda dengan dua atau lebih
karakter dan kepribadian yang berbeda ( disebut disosiatif identitas yang terdapat dalam edisi
revisi dari Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorders [DSM-IV-TR] ).
h. Disosiasi : mekanisme pertahanan dibawah sadar yang disertai oleh sekelompok proses mental
dan prilaku yang merupakan bagian akhir dari aktifitas fisik seseorang; yang membutuhkan
pemisahan antara suatu gagasan / ide dengan ungkapan emosinya, seperti yang terlihat pada
gangguan disosiasi dan konversi.
G. Memori
Berperan melaui informasi dan data yang tersimpan dalam otak yang selanjtnya akan
dimunculkan kembali dalam bentuk ingatan dalam keadaan sadar. Orientasi adalah kondisi /
status normal dalam diri seseorang maupun lingkungan sekitar seperti waktu, tempat dan orang.
1. Gangguan Memori
a. Amnesia : ketidakmampuan total maupun parsial untuk mengingat kembali pengalaman yang
terjadi sebelumnya; dalam bentuk peristiwa maupun perasaan yang nyata.
( 1) Anterograde : hilang ingatan sesaat setelah suatu peristiwa tertentu terjadi.
( 2) Retrograde : hilang ingatan untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum satu waktu
tertentu.
b. Paramnesia : Pemalsuan memori oleh adanya distorsi dalam ingatan.
( 1) Fausse reconnaissance : pengenalan palsu.
( 2) Pemalsuan retrospektif : Memori yang terjadi tanpa disengaja ( tidak disadari ) yang
didistorsikan melalui suatu penyaringan terhadap kondisi emosi, kognitif, dan pengalaman dari
seseorang.
27

( 3) Konfabulasi : perasaan adanya celah dalam memori yang tanpa disadari dan disebabkan oleh
bayangan akan suatu pengalaman yang tidak benar-benar terjadi namun dipercayai oleh orang
tersebut tanpa ada dasar bukti yang nyata: paling sering berhubungan dengan penyakit organik.
( 4) Dj vu : Ilusi tentang pengenalan visual di mana adanya memori terhadap suatu situasi baru
yang dianggap merupakan pengulangan dari peristiwa yang terjadi sebelumnya .
( 5) Deja Entendu : Ilusi tentang pengenalan yang berhubungan dengan pendengaran.
( 6) Deja Pense : Ilusi tentang suatu pikiran baru yang dikenali sebagai pikiran yang sudah
dirasakan sebelumnya dan sudah dinyatakan.
( 7) Jamais vu : perasaan asing dengan suatu situasi nyata yang sudah dialami oleh seseorang.
( 8) Memori palsu : kepercayaan dan ingatan seseorang terhadap suatu peristiwa yang tidak nyata
terjadi.
c. Hipermnesia : derajat daya dan tingkat ingatan yang berlebihan.
d. Gambaran Eidetik : memori visual yang hampir menjadi halusunasi yang hidup.
e. Memori Tabir : suatu memori yang disadari dapat menjadi tabir pelindung terhadap memori
lain yang menyakitkan.
f. Represi : suatu mekanisme pertahanan yang ditandai oleh ketidaksadaran untuk melupakan
rangsangan atau gagasan yang tidak dapat diterima.
g. Lethologika : ketidakmampuan temporer untuk mengingat suatu benda atau nama.
h. Blackout : Hilang ingatan tentang perilaku selama dalam keadaan mabuk pada seorang
peminum alkohol; umumnya menunjukkan telah terjadi kerusakan pada otak.
2. Tingkat memori
a. Segera : reproduksi atau daya ingat terhadap beberapa hal tertentu dalam hitungan detik
sampai menit.
b. Yang Terbaru : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lewat beberapa hari.
c. Masa lampau terbaru : daya ingat terhadap peristiwa yang telah lewat beberapa bulan.
d. Remote : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lama berlalu.
H. Kecerdasan/Inteligensia:
Kemampuan untuk memahami, mengingat, mengarahkan, dan mengintegrasikan secara
konstruktif pelajaran sebelumnya saat berada dalam situasi yang baru.
1. Retardasi Mental: ketiadaan inteligensia sampai batas tertentu yang melibatkan lembaga
khusus dalam masyarakat: ringan (IQ 50 - 55 sampai sekitar 70), sedang ( IQ 35 - 40 sampai 50 -
55), IQ yang rendah 20 - 25 sampai 35 - 40, atau IQ yang sangat rendah dibawah 20 - 25; istilah
jaman dulu disebut idiot ( kapasitas otak sesuai usia kurang dari 3 tahun), imbesil ( sesuai usia 3 -
7 tahun), dan pandir (sesuai usia kira-kira 8 tahun).
2. Demensia: kemunduran fungsi intelektual secara menyeluruh tanpa kesadaran berkabut.
a. Diskalkulia ( Akalkulia): hilangnya kemampuan untuk berhitung; bukan disebabkan oleh
ansietas atau gangguan konsentrasi.
b. Disgrafia ( Agrafia): hilangnya kemampuan untuk menulis kata-kata; hilangnya struktur kata.
c. Aleksia: hilangnya kemampuan membaca yang sebelumnya telah dikuasai; tidak dapat
dihubungkan dengan gangguan penglihatan.
3. Pseudodimensia: corak klinis mirip dimensia yang tidak disebabkan oleh suatu gangguan
organik; paling sering disebabkan oleh depresi ( sindrom dimensia karena depresi).
4. Pemikiran Konkrit: pemikiran harafiah; membatasi penggunaan kiasan tanpa memahami arti
yang tersirat; pikiran satu dimensi .
5. Pemikiran Abstrak: kemampuan untuk menangkap arti yang tersirat; pikiran multidimensi
dengan kemampuan untuk menggunakan kiasan dan hipotesis yang sewajarnya.
28

I. Pengertian yang mendalam:
Kemampuan seseorang untuk memahami maksud / arti dan penyebab yang sesungguhnya dari
suatu peristiwa ( seperti satu set gejala ).
1. Intelektual yang dalam: Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam satu situasi tertentu tanpa
kemampuan untuk menerapkan pemahaman tersebut menjadi sesuatu yang berguna dalam upaya
untuk mengasai situasi yang ada.
2. Pengertian benar yang mendalam : Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam situasi tertentu,
kemudian digabungkan dengan motivasi dan dorongan emosi untuk dapat menguasai situasi
yang ada.
3. Pengertian mendalam yang lemah: kurangnya kemapuan untuk memahami hal-hal nyata dari
satu situasi tertentu.
J. Pertimbangan:
Kemampuan untuk menilai suatu situasi dengan tepat dan mengambil tindakan yang sewajarnya
dalam situasi tersebut.
1. Pertimbangan kritis: Kemampuan untuk menilai, melihat dengan tajam, dan memilih di antara
beberapa opsi dalam satu situasi tertentu.
2. Pertimbangan otomatis: Capaian refleks dari suatu tindakan yang disesuaikan dengan situasi
saat itu.
3. Pertimbangan lemah: kurangnya kemampuan untuk memahami dengan benar dan mengambil
tindakan yang tepat dalam satu situasi tertentu.

LI IV. Memahami dan Menjelaskan Skizofrenia
1.1.Definisi
Skizofren adalah gangguan mental heterogen yang terdiri dari sebagian besar gangguan psikotik
mayor dan ditandai dengan terganggunya bentuk dan isi pikiran.

1.2.Etiologi
ORGANOBIOLOGIK
Gangguan jiwa Skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak faktor yang
berperan serta bagi munculnya gejala-gejala Skizofrenia. Hingga sekarang banyak teori yang
dikembangkan untuk mengetahui penyebab (etiologi) Skizofrenia, antara lain:
Faktor genetik (turunan/pembawa sifat)
Auto-antibody
Virus
Malnutrisi (kekurangan gizi)
Sejauh manakah peran genetik pada Skizofrenia? Dari penelitian diperoleh gambaran
sebagai berikut:
Studi terhadap keluarga menyebutkan bahwa pada orang tua 5,6%; saudara kandung 10,1%;
anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9% (Gottesman, Shields, 1982).
Studi terhadap orang kembar menyebutkan pada kembar identik (monozygote) fraternal
(dizygote) adalah 15,2% (Kendler, 1983)
29

Meskipun diakui bahwa ada peran gen pada transmisi (pemindahan) Skizofrenia namun
ternyata tidak sepenuhnya memenuhi hukum Mendel. Sebagai contoh misalnya kalau benar
bahwa Skizofrenia itu diturunkan (ditransmisikan) sepenuhnya melalui dominant gene, maka
50% dari anak-anaknya akan menderita Skizofrenia. Namun dalam kenyataannya angka ini jauh
lebih rendah. Sebaliknya jika Skizofrenia itu diturunkan sepenuhnya melalui recessive gene,
maka diharapkan 100% dari anak-anaknya akan menderita Skizofrenia, manakala orang tuanya
menderita Skizofrenia. Namun dalam kenyataannya angka ini hanya 36,6%. Dengan demikian
jelaslah bahwa transmisi gen pada Skizofrenia sangan kompleks dan dipengaruhi oleh banyak
faktor lainnya.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga
mempunyai peran dalam timbulnya Skizofrenia di kelak di kemudian hari. Ganguan
perkembangan otak ini muncul misalnya karena virus, malnutrisi, infeksi, trauma, toksin dan
kelainan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Perihal adakah hubungan antara faktor gen dengan gangguan perkembangan otak janin,
penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipun ada gen yang abnormal, Skizofrenia tidak
akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut faktor epigenetik.
Kesimpulannya adalah bahwa gejala Skozofrenia baru muncul bila terjadi interaksi antara gen
yang abnormal dengan:
Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat mengganggu perkembangan otak janin.
1. Menurunnya auto-immune yang disebabkan infeksi selama kehamilan
2. Berbagai macam komplikasi kandungan.
3. Kekurangan gizi yang cukup berat terutama pada trisemester pertama kehamilan.
Hingga sekarang masih terjadi pertanyaan dan masih dalam penelitian perihal faktor genetik
(turunan) pada Skizofrenia. Beberapa pertanyaan berikut ini masih belum dapat dijawab tuntas;
Apakah Skizofrenia ini merupakan penyakit keluarga.
Sejauh mana peran serta gen dan lingkungan sebagai faktor penyebab (etiology) Skizofrenia.
Andaikan penyakit ini diturunkan, bagaimana mekanisme transmisi penyakit ini dalam
keluarga.Bagaimana mekanisme genetik dan lingkungan pada Skizofrenia. Dimana lokasi gen
yang dimaksud.
Sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli melakukan berbagai penelitian
untuk mendapatkan jawabannya antara lain:
Studi tentang riwayat keluarga (Family history Studies).
Studi keluarga (family history).
Studi adopsi (adoption studies).
Studi kembar (twin studies).
Studi terkait (linkage studies).
Studi tentang biologi molekuler (molecular biology).
Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan di atas,
antara lain:
30

Studi keluarga (1982) perihal resiko sakit, yaitu pada orang tua 5,6%; saudara kandung
10,1%; anak-cucu 12,8%; dan pada keluarga generasi kedua 2,4% - 4,2%.
Perkawinan antar keluarga Skizofrenia meningkatkan resiko untuk penyakit: Skozofrenia,
Psikosis non afektif lainnya, gangguan Skizoafektif dan gangguan Skizotipal.
Studi pada anak adopsi (Adoption Studies) bahwa anak-anak adopsi yang dirawat oleh ibu-
ibu penderita Skizofrenia mempunyai resiko 16,6% (Heston, 1966); sedangkan pada ibu-ibu
yang normal resikonya 0%. Studi yang dilakukan oleh Kety Etal, (1968), menyebutkan pada
orang tua kandung penderita Skizofrenia resiko anak adopsi 21,1%; sedangkan pada orangtua
angkat, resiko anak adopsi 1,6%. Disimpulkan bahwa anak dari keluarga yang orang tuanya
penderita Skizofrenia, beresiko lebih besar menderita Skizofrenia daripada anak adopsi yang
tidak ada hubungan darah dengan orang tua angkatnya baik yang menderita Skizofrenia ataupun
yang normal. Anak kandung dari orangtua normal bila diadopsi oleh orangtua angkat penderita
Skizofrenia, resiko menderita Skzofrenia tidak besar.
Studi kembar manyatakan bahwa faktor gen sebagai penyebab Skizofrenia lebih besar pada
anak monozygote dibandingkan dengan dizygote. Faktor lingkungan mempunyai implikasi 50%
pada pasangan monozygote. Diperkirakan kecenderungan faktor gen 70% bagi terjadinya
Skizofrenia. Analisa matematika (hukum Mendel misalnya) tidak sepenuhnya mendukung
sebagai model tunggal bagi transmisi gen Skizofrenia. Di sini peran dominant gene dan recessive
gene tidak sepenuhnya berlaku.
Pada analisa studi keterkaitan (Linkage Alalysis) disebutkan bahwa pada waktu terjadi
pembelahan kromosom(meiosis) merupakan kesempatan bagi proses silang gen (crossing).
Sesudah terjadi silang gen tersebut kemungkinan terjadinya rekombinasi adalah 50%. Gen yang
letaknya berjauhan dalam kromosom transmisinya mandiri, merupakan gen dari kromosom yang
berbeda. Keterkaitan terjadi manakala gen-gen dimaksud berdekatan satu dengan yang lain
sedemikian rupa sehingga silang gen tidak terjadi. Dua gen yang saling terkait erat
ditransmisikan bersama diantara anggota keluarga.
Dewasa ini studi genetika terhadap berbagai penyakit yang diduga diturunkan sedang
berkembang dan ilmu yang mendalaminya adalah biologi molekuler (molecular biology) atau
genome project. Tubuh manusia terdiri dari sel, di dalam sel tersebut terdapat molekul, di dalam
molekul ada inti (nucleus), di dalam nucleus terdapat kromosom dan di dalam kromosom
terdapat gen (pembawa sifat). Dalam studi ini dipelajari mekanisme transmisi gen terhadap
keluarga yang salah satu atau lebih mengidap Skizofrenia. Dengan mengetahui modus
mekanisme transmisi gen tersebut di atas diharapkan dapat dilakukan upaya pencegahan
sehingga penyakit yang dimaksud tidak berkembang atau dengan kata lain transmisi gen
pembawa Skizofrenia dapat dicegah.
PSIKOSOSIAL
Stresor psikososial adalah setiap keadaan yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan
seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan penyesuaian diri (adaptasi) untuk
menanggulangi stresor (tekanan mental) yang timbul. Pada umunya jenis stresor psikososial
dapat digolongkan sebagai berikut:


31

Perkawinan.
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stres yang dialami oleh seseorang;
misalnya pertengkaran, perpisahan (separation), perceraian (divorce), kematian salah satu
pasangan, kesetiaan dan lain-lain. Stresor perkawinan ini dapat menyebabkan orang jatuh sakit.
Problem orang tua
Permasalahan yang dihadapi orangtua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak,
kenakalan anak, anak sakit dan hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar, besan, dan
sebagainya. Permasalahan tersebut jika tidak bisa diatasi oleh yang bersangkutan dapat
merupakan sumber stres yang pada gilirannya seseorang dapat jatuh sakit.
Hubungan interpersonal (antar pribadi)
Gangguan ini dapat berupa hubungan dengan kawan dekat yang mengalami konflik, atau
konflik dengan kekasih, konflik dengan rekan sekerja, antara atasan dan bawahan dan
sebagainya. Konflik antar pribadi ini merupakan sumber stres bagi seseorang yang bila tidak
dapat diatasi pada gilirannya akan menyebabkan jatuh sakit.
Pekerjaan
Gangguan ini misalnya karena kehilangan pekerjaan (PHK), pensiun (post power
syndrome), pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan dan sebagainya,
yang bila tidak dapat diatasi akan mengakibatkan sakitnya seseorang.
Lingkungan Hidup
Faktor ini tidak hanya diselihat dari lingkungan itu bebas polusi, sampah dan lain sejenisnya
tetapi terutama kondisi lingkungan sosial dimana seseorang itu hidup. Contohnya: masalah
perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup dalam lingkungan yang rawan dan lain
sebagainya. Rasa tidak aman dan tidak terlindung membuat jiwa seseorang tercekam sehingga
mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup yang lama-kelamaan daya tahan seseorang
turun sehingga jatuh sakit.
Keuangan
Kondisi sosial-ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh dari pengeluaran, terlilit
hutang, bangkrut, soal warisan dan sebagainya; kesemuanya itu dapat menyebabkan sumber stres
pada seseorang yang bila tidak dapat ditanggulangi yang bersangkutan akan jatuh sakit.
Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum, misalnya tuntutan hukum, pengadialan,
penjara dan lain sebagainya dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit.
Perkembangan
Yang dimaksud perkembangan di sini adalah masalah perkembangan baik fisik maupun
mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, menopouse, usia lanjut dan lain
sebagainya. Kondisi seperti itu tidak selalu dilewati dengan baik; ada sementara orang yang tidak
mampu sehingga jatuh sakit karenanya.


32

Penyakit fisik atau cidera
Sumber stres yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang antara lain penyakit
(terutama penyakit kronis), jantung, kanker, kecelakaan, operasi, aborsi dan lain sebagainya.
Faktor keluarga
Yang dimaksud adalah faktor stres yang dialami oleh anak remaja karena kondisi keluarga
(sikap orang tua) yang tidak baik, antara lain:
Hubungan kedua orangtua yang dingin atau penuh ketegangan atau acuh tak acuh.
Kedua orangtua jarang di rumah dan tidak ada waktu dengan anak-anak.
Komunikasi antara orangtua dan anak tidak baik.
Kedua orangtua berpisah atau bercerai.
Salah satu orangtua menderita gangguan jiwa/kepribadian.
Orangtua dalam mendidik anak kurang sabar, pemarah, keras dan otoriter, dan lain
sebagainya.
Lain-lain
Stresor kehidupan lainnya juga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan (stres pasca trauma)
adalah antara lain bencana alam, huru-hara, peperangan, kebakaran, perkosaan, kehamilan di luar
nikah, aborsi dan sebagainya.
1.3.Epidemiologi
Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5
persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. Berdasarkan jenis kelamin
prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit.
Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun.Prognosisnya adalah
lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita.
Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik
dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita
skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan
10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda
dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi.
Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira-kira 30% sampai 50%, kanabis
15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini
sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas
dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi
nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%).Penderita skizofrenia yang
merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan
metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan
skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak
dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia.


33

1.4.Klasifikasi
1. Skizofrenia Paranoid
Pedoman diagnostik
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain
perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity),
dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara
relatif tidak nyata / tidak menonjol.
Diagnosa Banding :
Epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
Keadaan paranoid involusional
Paranoid

2. Skizofrenia Hebefrenik (disorganized type)
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Memenuhi gejala lain sebagai berikut
1. Inkoherensi : jalan pikiran kacau dan tidak dapat dimengerti maksudnya
2. Alam perasaan (mood affect) yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi (incongrous)
atau ketololan (silly)
3. Tertawa kekanakan (giggling),senyum menunjukkan rasa puas diri atau senyum hanya
dihayati sendiri
4. Waham (delusi) tidak jelas dan tidak sistematik (terpecah-belah) tidak terorganisir
sebagai kesatuan
5. Halusinasi terpecah-pecah dan tidak terorganisir
6. Perilaku aneh contohnya menyeringai sendiri,gerakan-gerakan
aneh,berkelakar,pengucapan yang diulang-ulang dan kecendrungan menarik diri dari
hub.sosial

3. Skizofrenia Katatonik
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
1. Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan
serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
2. Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
34

3. Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan
posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
4. Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau
upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang berlawanan);
5. Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);
6. Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam
posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
7. Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap
perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik,
diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang
adanya gejala-gejala lain.
Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk
skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau
alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan
yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis
mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang
disebabkan oleh dirinya sendiri.

4. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated).
Seringkali. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam
salah satu tipe. PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria
diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
3. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

5. Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :
1. Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum
skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini
2. Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya)
3. Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk
episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode
depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah
satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai.

6. Skizofrenia Residual
Tipe ini merupakan sisa-sisa (residu) dari gejala Skizofrenia yang tidak begitu menonjol
35

Pedoman diagnostik:
Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan , persyaratan berikut harus di penuhi semua:
a) Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik,
aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketidak adaan inisiatif,
kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk,
seperti ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan
kinerja sosial yang buruk.
b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosa skizofrenia
c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia
d) Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi kronis
atau institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.

7. Skizofrenia Simpleks
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada
jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir
biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya
perlahan-lahan sekali. Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam
pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang
menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.

Pedoman diagnostik
Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan
perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari:
1) gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi
waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. Dan
2) disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi
sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu tanpa tujuan hidup, dan
penarikan diri secara sosial.
Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type skisofrenia
lainnya.

8. Skizofrenia lainnya
Selain beberapa subtipe di atas, terdapat penggolongan skizofrenia lainnya (yang tidak
berdasarkan DSM IV TR), antara lain :

Skizofreniform
Gambaran skizofreniform ini sama dengan skizofrenia, perbedaannya adalah bahwa fase-
fase perjalanan penyakitnya kurang dari 6 bulan tetapi sekurangnya 1 bulan sudah berlangsung.
Kriteria diagnosis:
1. Kriteria A,D dan E skizofrenia terpenuhi
36

2. Suatu episode gangguan (semua fase)berlangsung minimal 1 bulan tapi kurang dr 6
bulan
Tentukan jika:
- Tanpa gambaran prognosis yang baik.
- Dengan gambaran prognosis yang baik yang dibuktikandengan samaatau lebihdari 2 hal
berikut:
1. onset gejala-gejala psikotik yang menonjol dalam 4 minggu sejak diperhatikan kali
pertama adanya perubahan dari perilaku atau fungsi biasanya.
2. kebingungan atau kekacauan dalam episode psikotik.
3. fungsi sosial dan pekerjaan premorbid berlangsung bagus.
4. tidak ada afek tumpul atau datar.

Skizoafektif
Ditandai dengan adanya sindroma lengkap dari gejala skizofrenia maupun gangguan
mood (afektif)
A. Suatu periode gangguan tak terputus dimana suatu saat didalamnya terdapat episode
depresif mayor, mania atau campuran bersamaan dengan gejala-gejala yang memenuhi
kriteria A pada skizofrenia.Catatan: harus ada mood depresif pada Episode depresi
mayor.
B. Selama periode yang sama dari penyakit tanpa adanya gejala2 mood yang menonjol
terdapat waham-waham atau halusinasi2 sedikitnya selama 2 minggu.
C. Adanya gejala-gejala yang memenuhi kriteria episode gangguan mood dalam porsi yang
bermakan dari total durasi fase aktif dan residual penyakit.
D. Gangguan ini bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti
obat-obatan medikasi atau yang disalah gunakan) atau oleh suatu kondisi medis umum.
Tentukan tipenya:
- Tipe bipolar: jika gangguan ini termasuk episode mania dan depresi mayor atau
campuran.
- Tipe depresif: juka hanya terdapat episode depresif mayor.

Gangguan delusional (Gangguan Paranoid)
Gangguan psikiatrik dimana gejala yang utama adalah waham
Kriteria DIagnostik
A. Waham2 tidak janggal yang sedikitnya berlangsung selama 1 bulan (mis. tentang situasi2
yg terjadi dalam kehidupan nyata spt (merasa) sedang dikuntit,diracun,ditulari
penyakit,dicintai dari jauh,ditipu oleh pasangan atau kekasih atau menderita suatu
penyakit).
B. Kriteria A Skizofrenia tidak terpenuhi.Cat. halusinasi taktil dan penghiduan mungkin ada
sesuai dengan tema waham2.
C. Fungsi2 tidak nyata terganggu dan perilaku tidak ganjil atau janggal meskipun
terpengaruh oleh waham(-waham) atau hal-hal terkait.
D. Jika ada gangguan episode mood bersamaan dgn waham maka terjadi relatif singkat
dibanding durasi episode waham.
37

E. Gangguan ini bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti obat-
obatan medikasi atau yang disalah gunakan) atau oleh suatu kondisi medis umum.

Tentukan tipe (berdasarkan tema yng menonjol dari wahamnya):
v Tipe Erotomania: waham tentang dirinya dicintai oleh seseorang dgn status sosial lebih
tinggi.
v Tipe kebesaran: waham tentang harga diri yg meningkat,kekusasaan,berpengetahuan
v Tipe cemburu: waham bahwa pasangan seksual pasien tidak jujur
v Tipe kejar :waham bahwa pasien (atau seseorang yang dekat dengan pasien) adalah
diperlakukan secara dengki
v Tipe somatik : waham bahwa pasien memiliki suatu cacat fisik atau kondisi medis
umum
v Tipe campuran : karakteristik waham salah satu atau lebih tipe diatas tetapi tidak ada
satu tema yang menonjol
v Tipe tidak ditentukan

Skizofrenia laten.
Konsep skizofrenia laten dikembangkan selama suatu waktu saat terdapat konseptualisasi
diagnostic skizofrenia yang luas. Sekarang, pasien harus sangat sakit mental untuk mendapatkan
diagnosis skizofrenia; tetapi pada konseptualisasi diagnostik skizofrenia yang luas, pasien yang
sekarang ini tidak terlihat sakit berat dapat mendapatkan diagnosis skizofrenia. Sebagai
contohnya, skizofrenia laten sering merupakan diagnosis yang digunakan gangguan kepribadian
schizoid dan skizotipal. Pasien tersebut mungkin kadang-kadang menunjukkan perilaku aneh
atau gangguan pikiran tetapi tidak terus menerus memanifestasikan gejala psikotik. Sindroma
juga dinamakan skizofrenia ambang (borderline schizophrenia) di masa lalu.

Gangguan Psikotik Singkat
A. Adanya 1 (atau lebih) gejala-gejala berikut:
1. waham.
2. halusinasi.
3. pembicaraan yang janggal (mis. sering derailment atau incohorensia).
Cat.: jangan masukaan gejala apabila diakui sbg respons pola budaya.
B. Durasi episode gangguan sedikitnya 1 hari sampai kurangdari 1 bulan dan dapat kembali
penuh berfungsi seperti keadaan premorbid.
C. Gangguan ini tidak memenuhi kriteria gangguan mood dgn gambaran
psikotik,skizoafektif,atau skizofrenia dan tidak disebabkan ole efek fisiologis darizat
(medikasi,penyalahgunaan obat) atau kondisi medis umum.

Tentukan jika:
Dengan stresor(-stresor) nyata brief reactive psychosis: jika gejala2 terjadi tampaknya
segera setelah atau respons thd kejadian tunggal atau berganda yang akan menyebabkan
stres berat pd hampir kebanyakan orang disitu dan kebiasaan yang sama.
Tanpa stresor(-stresor) nyata: jika gejala2 psikotik tidat terjadi segera atau sbg respons thd
kejadian tunggal atau berganda yang akan menyebabkan stres berat pd hampir
kebanyakan orang disitu dan kebiasaan yang sama.
Onset postpartum: jika onsetnya dalam 4 minggu pospartum.
38

1.5.Patofisiologi

Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur
pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :
1. Fase Prodomal
- Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
- Gangguan dapat berupa Self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam
pekerjaan,gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
2. Fase Aktif
- Berlangsung kurang lebih 1 bulan
- Gangguan dapat berupa gejala psikotik; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses
berfikir,gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi
3. Fase Residual
Kien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek dan gangguan peran, serangan
biasanya berulang.

1.6.Manifestasi

Gejala Positif Skizofrenia
Gejala-gejala positif yang diperlihatkan pada penderita Skizofrenia adalah sebagai berikut:
1. Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal).
Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun
penderita tetap meyakini kebenarannya.
2. Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Misalnya
penderita mendengar suara-suara/bisikan di telinganya padahal sebenarnya tidak ada
sumbernya.
3. Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya
kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
4. Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan
gembira berlebihan.
5. Merasa dirinya Orang Besar, merasa serba bisa, serba mampu dan sejenisnya.
6. Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
7. Menyimpan rasa permusuhan.

Gejala Negatif Skizofrenia
Gejala-gejala negatif yang diperlihatkan adalah sebagai berikut:
1. Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran perasaan ini terlihat dari
wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
2. Menarik diri atau mengungsikan diri (with-drawn) tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
3. Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
4. Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
5. Sulit dalam berpikir abstrak.
6. Pola pikir stereotip.
7. Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak (avolition) dan tidak ada inisatif, tidak ada
upaya dan usaha, setra tidak ingin apa-apa dan serba malas (kehilangan nafsu)
39

Gejala-gejala negatif Skizofrenia sebagaimana diuraikan di atas seringkali tidak disadari
atau kurang diperhatikan oleh pihak keluarga, karena dianggap tidak mengganggu
sebagaimana halnya pada penderita Skizofrenia yang menunjukkan gejala-gejala positif.Oleh
karenanya pihak keluarga seringkali terlambat membawa penderita untuk berobat.
Dalam pengalaman praktek, gejala positif Skizofrenia baru muncul pada tahap
akut.Sedangkan pada stadium kronis (menahun) gejala negatif Skizofrenia lebih menonjol.Tetapi
tidak jarang baik gejala positif atau negatif muncul berbauran, tergantung pada stadium
penyakitnya.

1.7.Diagnosis
Pedoman Diagnostik berdasarkan PPDGJ III:
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih
bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a.
- Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda, atau
- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(Withdrawal) dan
- Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umumnya mengetahuinya.
b.
- Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar atau
- Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar atau
- Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
- Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik;
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu
atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas,
40

ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang
berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang
menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial
dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

* adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
* Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall
quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri
(self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial.

Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan untuk menyingkirkan Diagnosis Banding.Skizofrenia tidak terkait dengan hasil
laboratorium karakteristik. Tes darah berikut ini harus dilakukan pada semua pasien, baik pada
awal penyakit dan berkala sesudahnya:

Tes darah lengkap (CBC)
Hati, tiroid, dan tes fungsi ginjal
Elektrolit, glukosa, vitamin B12, asam methylmalonic serum, folat, dan tingkat kalsium

Tes lain yang perlu dipertimbangkan, jika memberikan riwayat untuk kecurigaan , adalah sebagai
berikut:
HIV
Rapid Plasma Reagin (RPR), jika kecurigaan kuat neurosifilis ada, tes treponemal
tertentu dapat membantu
Seruloplasmin, jika kecurigaan yang kuat dari penyakit Wilson , pertimbangkan biopsi
hati (atau biopsi lain)
Antinuclear antibodi (ANA) untuk lupus eritematosus sistemik
Urine untuk kultur dan sensitivitas atau penyalahgunaan obat
AM kortisol untuk gangguan adrenal
24 jam urin koleksi porfirin, tembaga, atau logam berat
Tes Kehamilan, jika pasien adalah wanita usia subur
Penyakit Lyme
Pencitraan otak untuk menyingkirkan hematoma subdural, vaskulitis, abses otak, dan
tumor
X-ray thorax untuk penyakit paru atau okultisme keganasan
Dexamethasone Supression tes dan hormon adrenokortikotropik (ACTH) stimulasi tes
untuk hypercortisolism dan hypocortisolism, masing-masing
41

Electroencephalography (EEG)

Tes neuropsikologis dapat dianggap, penentuan kelemahan dan kekuatan kognitif pasien dapat
membantu dalam perencanaan pengobatan. Temuan umum pada pasien dengan skizofrenia
adalah sebagai berikut:
Eksekutif fungsi yang buruk (yaitu, perencanaan yang buruk, pengorganisasian, atau
inisiasi kegiatan)
gangguan memori
Kesulitan dalam abstraksi dan mengenali isyarat-isyarat sosial
mudah kebingungan







42




43

1.8.Diagnosis Banding
Lesi Anatomi

Dalam kasus yang jarang terjadi, tumor otak mungkin sulit dibedakan dengan penyakit
psikotik.Karena tumor otak yang berpotensi mematikan, namun dapat diobati, penting untuk
mempertimbangkan studi pencitraan otak untuk setiap orang dengan onset baru penyakit psikotik
atau, barangkali, perubahan yang nyata pada gejala.

Subdural hematoma dapat bermanifestasi sebagai perubahan status mental. Perdarahan
intrakranial harus dipertimbangkan pada pasien yang melaporkan trauma kepala, untuk alasan
apa pun, tidak dapat memberikan riwayat yang jelas. Pencitraan otak mungkin tepat dalam kasus
ini.

Kalsifikasi idiopatik dari ganglia basal adalah gangguan langka yang cenderung hadir sebagai
psikosis pada pasien yang menunjukkan gejala awal masa dewasa, di kemudian hari biasanya
hadir dengan demensia dan gangguan sistem motorik. Gejala Schizophrenialike mungkin
mendahului timbulnya kerusakan intelektual dan gangguan motorik ekstrapiramidal

Penyakit Metabolik
1. Penyakit Wilson, juga dikenal sebagai degenerasi hepatolenticular, adalah gangguan
metabolisme tembaga. Ini adalah penyakit resesif autosomal, gen yang telah ditemukan pada
kromosom 13. Gejala pertama sering perubahan jelas dalam perilaku selama masa remaja,
yang diikuti dengan munculnya gerakan-gerakan aneh.
Diagnosis dapat ditunjukkan oleh temuan laboratorium kadar urin peningkatan tembaga dan
tingkat serum rendah tembaga dan seruloplasmin atau dengan deteksi Kayser-Fleischer rings
(tembaga deposit sekitar kornea) dengan atau tanpa pemeriksaan celah-lampu. Diagnosis
biasanya dikonfirmasi dengan menemukan tembaga meningkat pada biopsi hati.
2. Porfiria adalah gangguan biosintesis heme yang dapat hadir sebagai gejala kejiwaan. Pasien
mungkin memiliki riwayat keluarga psikosis. Gejala-gejala kejiwaan mungkin berhubungan
dengan perubahan elektrolit, neuropati perifer, dan nyeri perut yang parah episodik.
Abnormal tingkat tinggi porfirin dalam koleksi urin 24 jam mengkonfirmasikan diagnosis.
3. Pasien dengan gangguan hipoksemia atau elektrolit dapat hadir dengan kebingungan dan
gejala psikotik. Hipoglikemia dapat menghasilkan kebingungan dan mudah marah dan
mungkin keliru untuk psikosis.
4. Delirium karena sebab apapun (misalnya, gangguan metabolik atau endokrin) adalah kondisi
yang penting untuk dipertimbangkan, terutama pada pasien lanjut usia atau dirawat di rumah
sakit. Walaupun pasien dengan delirium mungkin memiliki berbagai kelainan neuropsikiatri,
keunggulan klinis penurunan rentang perhatian dan jenis waxing-dan kebingungan.

Gangguan endokrin
1. Hipotiroidisme parah atau hipertiroidisme dapat dikaitkan dengan gejala psikotik.
Hypothyroidism biasanya dikaitkan dengan depresi, yang jika parah dapat disertai dengan
gejala psikotik. Seseorang hipertiroid biasanya depresi, cemas, dan mudah tersinggung.
2. Kedua insufisiensi adrenokortikal (Addison penyakit) dan hypercortisolism (sindrom
Cushing) dapat mengakibatkan perubahan status mental. Namun, kedua gangguan juga
44

memproduksi tanda-tanda fisik dan gejala yang dapat menyarankan diagnosis. Selain itu,
sebagian besar pasien dengan sindrom Cushing akan memiliki sejarah jangka panjang terapi
steroid untuk penyakit medis.
Hipoparatiroidisme atau hiperparatiroidisme dapat pada kesempatan dikaitkan dengan
jelas perubahan status mental.Ini terkait dengan kelainan pada konsentrasi kalsium serum.

Penyakit Infeksi
1. Penyakit menular, seperti influenza, penyakit Lyme, hepatitis C, dan salah satu
encephalitides (terutama yang disebabkan oleh virus herpes), dapat menyebabkan perubahan
status mental seperti depresi, kecemasan, mudah tersinggung, atau psikosis. Orang tua
dengan pneumonia atau infeksi saluran kemih dapat menjadi bingung atau terus terang
psikotik.
2. Penyakit kelamin Laboratorium Penelitian VDRLRPR,tes nontreponemal yang menggunakan
antigen untuk mendeteksi antibodi terhadap Treponema pallidum. Antibodi menurun selama
penyakit, sehingga tes ini memiliki tingkat negatif palsu yang tinggi. Jika neurosifilis diduga
kuat, tes treponemal lebih spesifik, seperti tes neon-treponemal antibodi penyerapan (FTA-
ABS), dapat berguna.
3. HIV menembus penghalang darah-otak di awal perjalanan infeksi dan dengan demikian
dapat menyebabkan sejumlah perubahan status mental, terutama demensia atau gangguan
neuropsikologi lainnya. Selain itu, pasien dengan HIV berada pada risiko untuk infeksi
oportunistik, seperti neurosifilis, toksoplasmosis, meningitis kriptokokal, PML, ensefalopati
cytomegalovirus, dan meningitis TB, yang semuanya dapat menyebabkan perubahan status
mental.
Orang terinfeksi HIV juga berisiko untuk limfoma sistem saraf pusat primer dan memiliki
gejala-gejala yang samar-samar, seperti kebingungan dan kehilangan memori.Banyak obat
yang digunakan untuk mengobati HIV dapat menyebabkan perubahan status
mental.Akhirnya, orang-orang yang terinfeksi HIV beresiko untuk kekurangan gizi yang juga
berkontribusi terhadap perubahan status mental.

Cerebral Abses

Pasien dengan abses otak jarang memiliki gejala psikotik, tetapi pencitraan otak harus
dipertimbangkan untuk menyingkirkan kemungkinan ini dapat diobati. Orang imunosupresi dan
orang-orang yang tinggal di atau melakukan perjalanan di negara-negara terbelakang sangat
beresiko.

Creutzfeldt-Jakob

Prion menyebabkan CJD yang langka, salah satu encephalopathies spongiform menular.
Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang lebih tua dari 50 tahun dan ditandai dengan
penurunan yang cepat, demensia, kompleks elektroensefalografik normal, dan tersentak
myoclonic.


45

Kekurangan Vitamin

1. Kekurangan tiamin bisa terjadi pada orang yang bergantung pada alkohol untuk kalori atau
pasien dengan keganasan lanjut atau sindrom malabsorpsi. Deplesi tiamin akut dan berat
dapat menyebabkan ensefalopati Wernicke, ditandai dengan gangguan oculomotor, ataksia,
dan konfabulasi. Jika kondisi ini tidak diobati, psikosis Korsakoff dapat berkembang.
Encephalopathy Wernicke adalah penyebab umum dan terdiagnosis gangguan kognitif kronis
pada orang dengan alkoholisme [56].
2. Kekurangan vitamin B-12, folat, atau keduanya dapat menghasilkan depresi atau demensia.
Sangat jarang, kekurangan-kekurangan ini dapat menghasilkan pemikiran delusi.


1.9.Penatalaksanaan

1. Terapi Somatik (Medikamentosa)
Pemakaian antipsikotik pada skizofrenia harus mengikuti lima prinsip utama
(8)
.
1. Klinisi harus cermat menentukan gejala yang akan diobati.
2. Antipsikotik yang memberikan efek yang baik pada pasien di masa lalu harus digunakan
lagi.
3. Lama minimal percobaan antipsikotik empat sampai enam minggu dengan dosis yang
adekuat. Jika tidak berhasil, dapat diganti dengan antipsikotik jenis lain.
4. Jarang diindikasikan penggunaan lebih dari antipsikotik sekaligus.
5. Pasien harus dipertahankan dalam dosis efektif minimal.

Berdasarkan afinitas terhadap reseptor dopamin tipe 2 (D2) dan efek samping yang
ditimbulkannya, obat ini dibagi ke dalam dua kelompok yakni antipsikotik generasi pertama
(tipikal) dan antipsikotik generasi kedua ( atipikal)
(11)
.

Antipsikotik Generasi Pertama (Tipikal) Antipsikotik Generasi Kedua (Atipikal)
a. High Potency
- Haloperidol
- Flupenazin
- Pimozid
b. Low Potency
- Klorpromazin (CBZ/ Largactil)
- Proclorperazin
- Tioridazin

- Aripiprazol
- Clozapine
- Olanzapin
- Paliperidon
- Risperidon
- Ziprasidon
- Quatiapine


1. Antipsikotik Tipikal
- Berikatan kuat dengan reseptor dopamine tipe 2.
46

- Diberikan saat pasien mengalami gejala positif.
- Efek antipsikotik terlihat beberapa hari atau minggu setelah mengkonsumsi obat. Perbaikan
gejala didapat setelah obat menduduki reseptor dopamine di mesolimbik.
- Lebih sering menyebabkan gejala ekstrapiramidal.

2. Antipsikotik Atipikal
- Bekerja pada reseptor dopamine dan serotonin.
- Diberikan saat pasien mengalami gejala negatif.
- Efek samping tersering gejala ekstrapiramidal yang lebih ringan dan penambahan berat
badan.


(Sumber: Lippincotts Illustrated Reviews: Pharnacology, 4
th
Edition.
Efek Terapetik lainnya
1. Antiemetik
2. Sedasi
3. Menghilangkan cegukan
4. Pengobatan bipolar disorder (acute mania)

Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran

No. Nama Generik Sediaan Dosis
1. Klorpromazin Tablet 25 dan 100 mg,
injeksi 25 mg/ml
150 - 600 mg/hari

2. Haloperidol Tablet 0,5 mg, 1,5 mg,
5 mg
Injeksi 5 mg/ml
5 - 15 mg/hari

3. Perfenazin Tablet 2, 4, 8 mg 12 - 24 mg/hari
4. Flufenazin Tablet 2,5 mg, 5 mg 10 - 15 mg/hari
5. Flufenazin dekanoat Inj 25 mg/ml 25 mg/2-4 minggu
6. Levomeprazin Tablet 25 mg
Injeksi 25 mg/ml
25 - 50 mg/hari

7. Trifluperazin Tablet 1 mg dan 5 mg 10 - 15 mg/hari
47

8. Tioridazin Tablet 50 dan 100 mg 150 - 600 mg/hari
9. Sulpirid Tablet 200 mg
Injeksi 50 mg/ml
300 - 600 mg/hari
10. Pimozid Tablet 1 dan 4 mg 1 - 4 mg/hari
11. Risperidon Tablet 1, 2, 3 mg 2 - 6 mg/hari


Cara penggunaan
o Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klnis) yang
samapada dosis ekivalen, perbedaan terutama pada efek samping sekunder.
o Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan
dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen.
o Apabila obat anti psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis yang
sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat
psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis ekivalennya
dimana profil efek samping belum tentu sama.
o Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya jenis obat
antipsikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek
sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang
o Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:
Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)
Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping
(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu
kualitas hidup pasien

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia
episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena
tardive dyskinesia lebih rendah.
Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja.
Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para
ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada
Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk
mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat.Terkadang penderita berhenti
minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini
terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau
mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah.
Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti
obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian
obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya.Terkadang pasien dapat kambuh
walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat
48

untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal
dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti
dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat
bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah
sembuh.Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah
episode petama Skizofrenia dapat kambuh.Para ahli merekomendasikan pasien-pasien
Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan
sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari
satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan
yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab
tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Antipsikotik
1. Gejala ekstrapiramidal
Gejala ekstrapiramidal timbul akibat blokade reseptor dopamine 2 di basal ganglia (putamen,
nukleus kaudatus, substansia nigra, nukleus subthalamikus, dan globus palidus).Akibatnya,
terjadi ketidakseimbangan mekanisme dopaminergik dan kolinergik sehingga sistem
ekstrapiramidal terganggu.Paling sering disebabkan antipsikotik tipikal potensi tinggi. Gejala
ini dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:

a. Reaksi Distonia Akut (ADR)
Terjadi spasme atau kontraksi involunter akut dari satu atau lebih kelompok otot
skelet.Kelompok otot yang paling sering terlibat adalah otot wajah, leher, lidah atau otot
ekstraokuler, bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria bicara, krisis okulogirik dan sikap
badan yang tidak biasa.Reaksi distonia akut sering sekali terjadi dalam satu atau dua hari
setelah pengobatan antipsikosis dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja.Keadaan ini terjadi
pada kira-kira 10% pasien, lebih lazim pada pria muda, dan lebih sering dengan
neuroleptik dosis tinggi yang berpotensi tinggi, seperti haloperidol dan flufenazine.Reaksi
distonia akut dapat menjadi penyebab utama dari ketidakpatuhan pemakaian obat.

b. Akatisia
Akatisia merupakan gejala ekstrapiramidal yang paling sering terjadi akibat
antipsikotik.Kemungkinan terjadi pada sebagian besar pasien terutama pada populasi
pasien lebih muda. Terdiri dari perasaan dalam yang gelisah, gugup, keinginan untuk
tetap bergerak dan sulit tidur. Akatisia dapat menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik
akibat perasaan tidak nyaman yang ekstrim. Hal ini menjadi salah satu penyebab
ketidakpatuhan pengobatan.


49

c. Sindrom Parkinson
Merupakan gejala ekstrapiramidal yang dapat dimulai berjam-jam setelah dosis pertama
antipsikosi atau dimulai secara berangsur-angsur setelah pengobatan bertahun-tahun.
Manifestasinya meliputi gaya berjalan membungkuk, hilangnya ayunan lengan, akinesia,
tremor dan rigiditas. Akinesia menyebabkan penurunan spontanitas, apati dan kesukaran
untuk memulai aktifitas normal.Terkadang, gejala ini dikelirukan dengan gejala negatif
skizofrenia.

d. Tardive Diskinesia
Manifestasi gejala ini berupa gerakan dalam bentuk koreoatetoid abnormal, gerakan otot
abnormal, involunter, mioklonus, balistik, atau seperti tik.Ini merupakan efek yang tidak
dikehendaki dari obat antipsikotik.Hal ini disebabkan defisiensi kolinergik yang relatif
akibat supersensitif reseptor dopamine di puntamen kaudatus.Prevalensi tardive diskinesia
diperkirakan terjadi 20-40% pada pasien yang berobat lama.Sebagian kasus sangat ringan
dan hanya sekitar 5% pasien memperlihatkan gerakan berat nyata.Faktor predisposisi
meliputi umur lanjut, jenis kelamin wanita, dan pengobatan berdosis tinggi atau jangka
panjang.

2. Neuroleptic Malignant
Neuroleptic malignant adalah suatu sindrom yang terjadi akibat komplikasi serius dari
penggunaan obat antipsikotik. Sindrom ini merupakan reaksi idiosinkratik yang tidak
tergantung pada kadar awal obat dalam darah. Sindrom tersebut dapat terjadi pada dosis
tunggal antipsikotik (phenotiazine, thioxanthene, atau neuroleptikal atipikal).Biasanya
berkembang dalam 4 minggu pertama setelah dimulainya pengobatan.SNM sebagian besar
berkembang dalam 24-72 jam setelah pemberian antipsikotik atau perubahan dosis (biasanya
karena peningkatan).Sindroma neuroleptik maligna dapat menunjukkan gambaran klinis
yang luas dari ringan sampai dengan berat.Gejala disregulasi otonom mencakup demam,
diaphoresis,tachipnea, takikardi dan tekanan darah meningkat atau labil. Gejala ek,d
strapiramidal meliputi rigiditas, disfagia, tremor pada waktu tidur, distonia dan diskinesia.
Tremor dan aktivitas motorik berlebihan dapat mencerminkan agitasi psikomotorik.Konfusi,
koma, mutisme, inkotinensia dan delirium mencerminkan terjadinya perubahan tingkat
kesadaran.

3. Peningkatan berat badan
Paling sering karena pengobatan antipsikotik atipikal.Nafsu makan yang meningkat erat
kaitannya dengan blokade reseptor alpha1- adrenergic dan Histaminergic.

4. Peningkatan prolactin
Blokade reseptor dopamine 2 di hipotalamus menyebabkan berkurangnya pembentukan
prolactin release factor. Akibatnya, faktor inhibitor prolaktin ke hipofisis berkurang
sehingga terjadi peningkatan kadar prolaktin. Pada perempuan didapati sekresi payudara,
sedangkan pada pria didapati ginekomasti.

5. Efek blokade reseptor kolinergik
- Pandangan kabur
- Mulut kering (kecuali klozapin yang meningkatkan salvasi)
50

- Penurunan kontraksi smooth muscle sehingga terjadi konstipasi dan retensi urin.
6. Efek blokade reseptor adrenergik : hipotensi ortostatik

2. Terapi Psikososial
a. Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial
untukmeningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan
praktis, dan komunikasi interpersonal.Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian
atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan
pas jalan di rumah sakit.Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau
menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur
tubuh aneh dapat diturunkan.
51


b. Terapi berorientasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam
keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali
mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari).
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga
adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota
keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia
untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut
berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang
keparahan penyakitnya.----
Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi
terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga
adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka
relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan
5 - 10 % dengan terapi keluarga.

c. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan
hubungan dalam kehidupan nyata.Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku,
terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif.Terapi kelompok efektif
dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes
realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif,
bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.

d. Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan
skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek
terapi farmakologis.Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia
adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman.
Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional
antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh
pasien.----
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam
pengobatan pasien non-psikotik.Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien
skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan
kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati.
Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan
hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang
prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi
persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai
usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.




52

3. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik,
menstabilkanmedikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh, prilaku
yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara
pasien dan sistem pendukung masyarakat.Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada
perawatan rumahsakit harus direncanakan. Dokter harus juga mengajarkan pasien dan
pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia.----
Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka
menyusun aktivitas harian mereka.Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan
penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan.Rencana pengobatan di
rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri,
kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial.Perawatan di rumah sakit harus diarahkan
untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan
dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.-
---
Selain anti psikosis, terapi psikososial ada juga terapi lainnya yang dilakukan di rumah
sakit yaitu Elektro Konvulsif Terapi (ECT). Terapi ini diperkenalkan oleh Ugo cerleti(1887-
1963). Mekanisme penyembuhan penderita dengan terapi ini belum diketahui secara
pasti.Alat yang digunakan adalah alat yang mengeluarkan aliran listrik sinusoid sehingga
penderita menerima aliran listrik yang terputus putus.Tegangan yang digunakan 100-150 Volt
dan waktu yang digunakan 2-3 detik.

Pada pelaksanaan Terapi ini dibutuhkan persiapan sebagai berikut:
Pemeriksaan jantung, paru, dan tulang punggung.
Penderita harus puasa
Kandung kemih dan rektum perlu dikosongkan
Gigi palsu , dan benda benda metal perlu dilepaskan.
Penderita berbaring telentang lurus di atas permukaan yang datar dan agak keras.
Bagian kepala yang akan dipasang elektroda ( antara os prontal dan os temporalis)
dibersihkan.
Diantara kedua rahang di beri bahan lunak dan di suruh agar pasien menggigitnya.

Frekuensi dilakukannya terapi ini tergantung dari keadaan penderita dapat diberi:
2-4 hari berturut - turut 1-2 kali sehari
2-3 kali seminggu pada keadaan yang lebih ringan
Maintenance tiap 2-4 minggu
Dahulu sebelum jaman psikotropik dilakukan 12-20 kali tetapi sekarang tidak dianut lagi.

Indikasi pemberian terapi ini adalah pasien skizofrenia katatonik dan bagi pasien karena
alasan tertentu karena tidak dapat menggunakan antipsikotik atau tidak adanya perbaikan
setelah pemberian antipsikotik.----
Kontra indikasi Elektro konvulsiv terapi adalah Dekompensasio kordis, aneurisma aorta,
penyakit tulang dengan bahaya fraktur tetapi dengan pemberian obat pelemas otot pada pasien
dengan keadaan diatas boleh dilakukan.Kontra indikasi mutlak adalah tumor otak.
53

Sebagai komplikasi terapi ini dapat terjadi luksasio pada rahang, fraktur pada vertebra,
Robekan otot-otot, dapat juga terjadi apnue, amnesia dan terjadi degenerasi sel-sel otak.

1.10. Prognosis
Prognosis Baik Prognosis Buruk
1. Onset lambat
2. Faktor pencetus jelas
3. Onset akut
4. Riwayat seksual, sosial, dan pekerjaan
pramorbid yang baik.
5. Gejala gangguan mood (terutama
gangguan depresif
6. Menikah
7. Riwayat keluarga gangguan mood
8. Sistem pendukung yang baik
9. Gejala positif
1. Onset muda
2. Tidak ada faktor pencetus
3. Onset tidak jelas
4. Riwayat sksual, sosial dan perkerjaan
pramorbid yang buruk.
5. Perilaku menarik diri dan autistic
6. Sistem pendukung yang buruk
7. Gejala negatif
8. Tanda dan gejala neurologis
9. Riwayat trauma perinatal
10. Tidak ada remisi dalam tiga tahun
11. Sering relaps

1.11. Pencegahan

Pertama, pencegahan universal, ditujukan kepada populasi umum agar tidak terjadi faktor
risiko. Caranya adalah mencegah komplikasi kehamilan dan persalinan. Kedua, pencegahan
selektif, ditujukan kepada kelompok yang mempunyai risiko tinggi dengan cara, orang tua
menciptakan keluarga yang harmonis, hangat, dan stabil. Ketiga, pencegahan terindikasi, yaitu
mencegah mereka yang baru memperlihatkan tanda-tanda fase prodromal tidak menjadi
skizofrenia yang nyata, dengan cara memberikan obat antipsikotik dan suasana keluarga yang
kondusif.
Skizofrenia sendiri merupakan gangguan jiwa yang paling berat, menyerang bagian yang sangat
inti dari manusia yaitu persepsi, pikiran, emosi dan perilaku, sehingga gejalanya sangat
kompleks dan bercampur baur. Pada penderita skizofrenia yang terganggu adalah sirkuit saraf
otaknya, sehingga kadang-kadang disebut misconnection syndrome. Kemampuan berpikir dan
merasakan yang tidak terorganisasi, tidak berkaitan atau salah mengaitkan, terjadi karena adanya
gangguan pada sirkuit saraf pada iregion-regio otak terkait untuk mengirimkan dan menerima
pesan secara efisien dan tepat.

LI V. Ibadah Mahdhoh

Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifat
yang berbeda antara satu dengan lainnya; Ibadah Mahdhah, artinya penghambaan yang murni
hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk
ini memiliki 4 prinsip:
54

1) Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun
al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika
keberadaannya.
2) Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul
oleh Allah adalah untuk memberi contoh:
46
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin
Allah(QS. 4: 64).
7
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang
dilarang, maka tinggalkanlah( QS. 59: 7).
Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda:
. . .
Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari padaku tatacara haji
kamu
Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan
praktek Rasul saw., maka dikategorikan Muhdatsatul umur perkara meng-ada-ada,
yang populer disebut bidah: Sabda Nabi saw.:
. .

.
.
.
Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad
saw. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-
rasul mereka:

.
3) Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan
ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya
berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri. Shalat, adzan,
tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh
mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syariat, atau
tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
4) Azasnya taat, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah
kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah
kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah,
dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi:
Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
Wudhu,
Tayammum
Mandi hadats
Adzan
Iqamat
Shalat
Membaca al-Quran
55

Itikaf
Shiyam ( Puasa )
Haji
Umrah
Tajhiz al- Janazah
Hikmah Ibadah Mahdhah
Pokok dari semua ajaran Islam adalah Tawhiedul ilaah (KeEsaan Allah), dan ibadah mahdhah
itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan ke Esaan Allah itu, sehingga dalam
pelaksanaannya diwujudkan dengan:
Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus menghadap ke
arah kabah, itu bukan menyembah Kabah, dia adalah batu tidak memberi manfaat dan
tidak pula memberi madharat, tetapi syarat sah shalat menghadap ke sana untuk
menyatukan arah pandang, sebagai perwujudan Allah yang diibadati itu Esa. Di mana
pun orang shalat ke arah sanalah kiblatnya (QS. 2: 144).
Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semua orang yang shalat gerakan pokoknya
sama, terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku), sujud dan duduk. Demikian halnya ketika
thawaf dan sai, arah putaran dan gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah yang
diibadati hanya satu.
Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang disembah
(diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan ibadah kepadanya hanya
satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa ibunya apa, apakah dia mengerti atau tidak,
harus satu bahasa, demikian juga membaca al-Quran, dari sejak turunnya hingga kini al-
Quran adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya bukan membaca al-Quran.























56

Daftar pustaka

Ganong, William F.2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,edisi 20, Jakarta,EGC
Hawari, Dadang.2006.Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa.Jakarta:FKUI
Kumala, Poppy dan Nuswantari.1998.Kamus Saku Kedokteran Dorland,edisi 25, Jakarta,
EGC
Maslim, Rusdi.2003.Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ III.Jakarta:Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
http://umayonline.wordpress.com/2008/09/15/ibadah-mahdhah-ghairu-mhadhah/
http://makalahpsikologi.blogspot.com/2010/01/gangguan-psikotik-dan-skizofrenia.html
http://www.scribd.com/doc/27950601/Gangguan-Psikotik-Singkat
http://www.scribd.com/doc/28385012/Gangguan-Psikotik
http://www.scribd.com/doc/6224830/OTAK-MANUSIA-Neurotransmiter-Dan-Stress-by-dr-Liza-
Pasca-Sarjana-STAIN-CIREBON
http://zonapositive.wordpress.com/2010/03/12/hubungan-shalat-dan%C2%A0emosi/
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/pendidikan-holistik/
http://arispurnomo.com/anatomi-fisiologi-sistem-limbik
http://www.infofisioterapi.com/tag/sistem-limbik
http://punyalea.blogspot.com/2007/10/bagian-dan-fungsi-otak.html
http://www.scribd.com/doc/23118347/sistem-limbik
http://gspotcom.blogspot.com/2009/04/simtomatologi-psikiatri.html