Anda di halaman 1dari 66

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan


yang
Maha Esa atas segala berkat dan karunia-
Nya sehingga penelitian
ini dapat terselesaikan walaupun masih dijumpai kekurangan-
kekurangan. Penelitian ini membahas tentang bagaimana
fungsi pengendalian
persediaan
bahan baku dilakukan pada
pr.
Karya Mumi
perkasa
Medan.
peneliti
menyadari bahwa masih banyak kelemahan
dalam penelitian
ini, oleh karena itu sangat
diharapkan kritik dan saran yang
membangun
dari pihak pembaca
untuk perbaikan
di
masa yang
akan datang.
Pada kesempatan ini, peneriti
mengucapkan
banyak terima kasih kepada pihak-
pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian
penelitian
ini, yaitu
.
1. Rektor Universitas HKBp Nommensen
Medan
2. Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas HKBp Nommensen Medan
3. Ketua Lembaga Penelitian
Universitas HKBp Nbmmensen Medan
4. Ketua Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi universitas
HKBp Nommensen
Medan
5. Pihak Manajemen
perusahaan pT.
Karya Mumi
perkasa
Medan.
6. Rekan-rekan
dosen di Fakultas
Ekonomi
Universitas HKBp Nommensen
Medan.
MedarL
Peneliti,
Ba Tampubolon,
SE, h.GA.
DAF'TAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel dan Gambar.......
Ringkasan
I. PENDAHULUAN
...........
I
ii
iv
I
1.1. LatarBe1akang.....................
I
L2. Identifikasi
Masalah
2
1,3. Hipotesis
2
1.4. Tuj uan Penelirian
..,.................,........
3
1.5. Kontribusi Penelitian
3
II. TTNJAUAN PUSTAKA
4
2,l. Manajcmen Produksi, Persediaan dan Manfaat
persediaan
,................,.
4
2.2. Fungsi
dan Tujuan Pengendalian
persediaan
6
2.3. Jenis-jenis Persediaan
I l
2.4. Biaya-biaya Persediaan
16
2.5. Metode Pengendalian
persediaan
Bahan Baku.................
19
rrl, METODOLOGI PENELTTIAN..................
24
3.1. Lokasi Penelitian .................
24
3.2. Metode Pengumpulan Data........
. .. ...
24
3.3. Luas dan Cakupan Penelitian.........._.........
24
3.4. Metode Ana|sis ...................
25
IV. HASIL DAN PEMBAIIASAN
27
4. 1. Hasil
27
4.1.1. Jenis Persediaan Bahan Baku dan
pemakaian
Bahan Baku ...... 27
4.1.2. Metode
dan Teknik
pengendalian
Bahan Baku ....,........,........._.
. 3l
4.1.3. Proses Produksi
pada perusahaan
...............
32
4.2. Pembahasan ............,..........
4.2.1. Perbandingan Pemakaian Bahan Baku Dengan
produksi
Hasil Jadi Hotmix .............
4.2.2. Perhitungan Dengan Regresi Linier Sederhana
4.2.3. Penggunaan Rumus EOQ
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
JI
39
5l
59
59
59
DAFTARTABEL DANGAMBAR
Daftar Tabel
f'f
Tabel
1-
)
4.
6.
5.
Teks
I lalaman
Data Pemakaian Bahan Baku tahun 2001 -
2003 ... 29
Data Pembelian Bahan Baku tahun 200i
-
2003
30
Data Produksi Hasil Jadi Hotmix tahun 2001
-2003
36
Perbandingan Total Pemakaian
Bahan Baku Dengan
Total Hasil Produksi Pada PT. Karya Murni
perkasa
Medan
tahun 2001
*
2003 .............
........ . .... . ,..... 37
Perbandingan
Pemakaian Bahan Baku Dengan Hasil
produksi
Pada PT. Karya Murni
perkasa
Medan
tahun 2001 - 2003 .........,....
.............................
38
Analisis Pemakaian
Bahan-Baku
pada pT.
Karya Mumi
PerkasaMedan
tahun 2001 - 2003 ............,................................
+O
Analisis Produksi Hasil Jadi Hotmix
pada pT.
Karva Mumi
Perkasa Medan tahun 2001 - 2003 ..,..............
......,................ ... +Z
Analisis Pemakaian Bahan Baku tahun 2001
-
2003 ............... . 49
7.
L
Daftsr Gambar
Gambar 1. Grafik Regresi Pemakaian Bahan Baku dan
Barang Jadi Hotmix............,
........................
44
lv
RINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : l) bagaimanakah pelaksanaan
pengendalianpersediaan
bahan baku pada perusahaan
pT.
Karya Mumi
perkasa
Medan,
2) faktor-fakor apakah yang menyebabkan tidak tepatnya penggunaan persediaan
bahan
baku pada PT. Karya Mumi Perkasa Medan selama tahun 2001 sampai dengan tahun
2003. Masalah yang dikemukakan adalah penggunaan
bahan baku selalu lJbih besar
daripada output (
hotmix
)
yang dihasilkan tahun 2001 sampai dengan tahun 2003.
Sedangkan hipotesis yang
diajukan adalah belum diterapkarurya metode pengendalian
persediaan yang
tepat yang
dapat menekan biaya dalam
jumlah
pemesanan yang
ekonomis.
Data dianalisis dengan menggunakan metode regresi linier sederhana dan
analisis EoQ. Hasil analisis r5renunjukkan : l).
pr.
Karya Mumi
perkasa
belum
menyelenggarakan
suatu sistem pengendalian persediaan yang tepat yang dapat menekan
biaya dalam
jumlah
pemesanan yang ekonomis, 2) dalam menetapkin liebuiuhan bahan,
PT. Karya Mumi Perkasa Medan belum mempunyai
dasar perhitungan
tertentu sehingga
sering terjadi selisih yang
cukup besar antara pemakaian
bahan baku dengan hiiil
produksr,
3) sistem pengawasan persediaan
merupakan
serangkaian kebrlaksarian yang
perludilaksanakan
oleh perusahan
untuk mengendalikan tingkat persediaan
yang harui
dijaga bila persediaan
akan diisi kembali, 4)
pr.
Karya Mumi
perkasa
beluri oapat
menekan biaya persediaan
mengingat frekuensi pemesanan yang
cukup tinggi uniuk
pengada"n persediaan
tersebut.
._
Sebagai dasar pertimbangan
untuk mengatasi masalah yang
dihadapi, maka
diberikan saran sebagai berikut : l) dalam rangka pengendalian
kebuiuhan
bairan baku
sebaiknya perusalnan
melakutan berdasarkan
;umlah
-pesan
yang
ekonomis, sehingga
dapat mengantisipasi flukruasi kebutuhan
bahar baku untut piosei produksi yang lel-in
1ry'!
2) perusahaan
dianjurkan untuk menerapkan formula
economic order qLntity
(EoQ)
ager biaya-biaya yang
dikeluarkan lebih ekonomis, 3) perusahaan
henoatnya
dapat menerapkan
sistem perencanaan
dan pengendalian
bahan baku yang
baik sebelum
dilakukannya proses produksi,
4) perusahaan
sebaiknya mengurangi
frekuensi
pemesanan,
misalnya dari 11- 12 kali menjadi 8-9 kali dalam setahun. Hal ini
dimaksudkan agar perusahaan
dapat menghemat
biaya yang
dikeluarkan untuk
pengadaan
bahan baku tersebut.
L PI,NDAEULUAN
1. 1. Latar Belakang
Setiap perusahaan, baik perusahaan
dagang maupun perusahaan
industri,
dapat mengadakan persediaan. Tanpa adanya persediaan
maka
perusahaan
dapat
menghadapi resiko bahwa perusahaan tersebut pada suatu saat tidak dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan pasar.
Demikian
juga
dengan perusahaan PT. Karya Murni Perkasa Medan, saat ini
berusaha untuk menyediakan bahan baku yang
diperlukan perusahaan
agar
perusahaan
dapat menghasilkan produk
sesuai dengan permintaan pasar yang
semakin meningkat. Manajernen produksi perusahaan
dihadapkan pada
usaha untuk
mengendalikan persediaan,
sebab pengendalian
sangat penting
artinya untuk
menjamin kelancaran produksi.
Oleh karena itu, maka perlu
diusahakan pemakaian
dana untuk penyediaan
bahan baku yatrg tepat sehingga dapat tercapai efisiensi dan
efektifitas sesuai dengan tujuan perusahaan,
Apabila persediaan
bahan baku kurang, maka perusahaan
tidak dapat beke{a
dengan luas produksi yang optimal, sehingga terdapat penganggwan
mesin-mesin
dan tenaga kerja langsung. Hal ini dapat mengakibatkan tingginya biaya produksi
yang pada
akhirnya akan menekan keuntungan yang akan diperoleh perusahaan
dalam suatu periode tertentu.
Pada sisi lain,
jika perusahaan
mengadakan persediaan
bahan baku yang
terlalu besar dibandingkaa dengan kebutuhannya,
maka hal ini akan mengakibatkan
besarnya biaya
penyimpanan di gudang, terjadi kerugian karena kerusakan, turunnya
kualitas barang serta hilangnya
penggunaan
dana kepada hal-hal lain karena dana
terlalu lama terikat dalam persediaan bahan baku. Hal ini dapat mengakibatkan
menurunnya keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.
Berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas, dapat dilihat betapa
pentingrya pengendalian persediaan bahan baku dalam usaha untuk melancarkan
proses produksi. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengadakan penelitian
lebih lanjut guna
memperoleh gambaran tentang pengendalian persediaan bahan baku
pada perusahaan PT. Karya Mumi Perkasa Medan".
1. 2. ldentifikssi Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang dikemukakan adalah penggunaan bahan
baku selalu lebih besar daripada output (
hotmix
)
yang
dihasilkan tahun 200 t sampai
dengan tahun 2003.
1. 3. Hipotesis
Sedangkan hipotesis yang
diajukan adalah belum diterapkannya metode
pengendalian persediaan yang
tepat yang
dapat menekan biaya dalam
jumlah
pomesanan yang
ekonomis.
1,4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui :
1. Bagaimanakah pelaksanaan pengendalian persediaan
bahan baku pada
perusahaan PT. Karya Murni Perkasa Medan.
2. Fakfor-tbktor
apakah yang
menyebabkan tidak tepatnya pengguluan
persediaan
bahan baku pada PT. Karya Murni
perkasa
Medan selama tahun
2001 sampai dengan tahun 2003.
1.5. Kontribusi Penelitian
Kontribusi penelitian
ini adalah :
1. Sebagai bahan informasi untuk perusahaan-pe
rusahaan industri untuk lebih
memahami pentingnya pengendalian persediaan
bahan baku dalam proses
produksi.
2. Sebagai bahan masukan
bagi peneliti
lain yang
berminat pada
bidang
pengendalian persediaan
bahan baku.
IL TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Manajemen Produksi, Persediaan,
dan Manfaat
persediaan
Assauri (1993)
memberikan pengertian
manajemen produksi
dan operasi
sebagai suatu aktiva yang
meliputi barang-barang milik penxahaan
dengan malsud
untuk dijual dalam suatu periode
usaha yang
normal, atau persediaan
barang.barang yang
masih dalam pengerjaan
/ proses prodursi,
ataupun persediaanbarang
baku yang
menunggu penggunaannya
dalam suatu proses produksi.
pada
dasamya persediaan
diadakan rurtuk mempermudah
kerancaran jalannya
proses produksi
daram suatu
perusahaan,
Menurut Flandoko (1999)
ist ah persediaan ( inventory
)
adar.ah suatu
istilah umum yang
menunjukkan
segala sesuatu atau sumber
daya_sumber
daya
organisasi yang
disimpan
dalam antisipasinya
terhadap pemenuhan pennintaan.
Sumber daya organisasi
dapat meliputi
bahan mentah, barang dalam proses,
barang
jadi
atau produk
akhir, bahan pembantu
atau pelengkap
dan komponen*
ko'rponen lain yang
menjadi bagian dari keluaran produk
perusahaan.
Jenis
perusahaan
ini sering disebut dengan istilah "keluaran pkok" ( product
output
),
dimana hampir semua orang mengidentifikasikan
secara cepat persediaan.
Akan
Telapi pengertian persediaan
tidak terbatas hanya di situ saja, banyak organisasi
menyimpan persediaan
lain, seperti uang, ruangan (bangunan
pabrik),
peralatan
tenaga kerja untuk memenuhi permintaan
akan produk
datr
jasa.
Menurut Pardede (2003),
sediaan ( inventory) adalah sejumlah bahan atau
barang yang tersedia untuk digunakan sewaklu-wak:tu di masa yang
akan datang.
Pendapat lain yang juga
merlelaskan tentang arti dari persediaan yaitu
kekayaan
lancar yang terdapat dalam perusahaan
dalam bentuk persediaan
bahan mentah
(bahan
baku I raw material
),
barang setengah
jadi
(work in process),
dan barang
jadi
(finished goods) (Priwirosentono,
2001).
Jadi persediaan
merupakan sejumlah bahan-bahan yang
disediakan dan bahan-
bahan dalarn proses yarg terdapat dalam perusahaan
urtuk proses produksi,
serta
barang-barang
jadi
/ produk yang disediakan
untuk memenuhi permintaan
konsumen
atau langganan setiap wattu.
Menurut Assauri (1993),
ada beberapa manfaat yang diperoleh perusahaan
dengan adanya sistem pengadaan persediaan
mulai dari bahan baku sampai barang
jadi,
yaitu
:
l. Menghilangkan
resiko keterlambatan
datangnya barang atau bahan-bahan
yang
dibutuhkan perusahaan
2 Menghilangkan resiko dari materiar yang
dipesan tidak baik sehingga harus
dikernbalikan.
3. untuk menumpukan
bahan-bahan yang
dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
Mempertahankan
stabilitas operasi perusahaan
atau menjamin ke lancaran
arus
produksi.
Memprcepat penggunaan
mesin yang
optimal.
4.
5.
Memberikan pelayanan ( semice
)
kepada pelanggan
dengan sebaikibaiknya
di mana keinginan pelanggan pada
suatu waktu dapat dipenuhi atau
memberikan
jaminan
tetap tersedianya barang
jadi
tersebut.
Membuat pengadaan
atau
produksi
barang tidak
perlu
sesuai dengan
penggunaan
atau penj
ualannya.
2. 2. Fungsi dan Tujuan Pengendrlian Perseiliaan
Pengendalian persediaan
merupalan fungsi manajerial yang
sangat penting,
karena persediaan
fisik perusahaan
melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos
akliva lancar. Bila perusahaan
menanamkan
terlalu banyak dananya dalam
persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan
yang berlebihan, dan mungkin
mernpunyai persediaan
opportunity cost. Dengan demikian pula
bila perusahaan
tidak
mempunyai persediaan yang
mencukupi, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari
te{adinya kekurangan
bahan.
Dalam suatu perusahaan pabrik,
kelancaran proses pengolahan
bertahap dari
produk yang dike{akan harus didukung oleh beberapa kegiatan yang penting, yang
sangat mempengaruhi
kelancaran seluruh kegiatan operasi perusahaan.
pengawasan
persediaan merupakan
salah satu kegiatan dari kegiatan-kegiatan yang
bertautan erat
satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan
tersebut sesuai dengan apa
yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu,
jumlalr,
kualitas maupun
biayanya.
Oleh karena itu penting
bagi semua
jenis
perusahaan
untuk mengadakan pengawasan
atas persediaan,
karena kegiatan itu penting
bagi semua
jenis
perusahaan
untuk
6,
7.
mengadakan pengawasan
atas persediaan, karena kegiatan ini dapat membantu agar
tercapai suatu tingkat efisiensi penggunaan persediaan. Pengawasan persediaan
dapat
membantu mengurangi tet'adinya resiko yang timbul akibat adanya persediaan
menjadi sekecil mungkin.
Assauri (1993) mengemukakan fi.mgsi utama pengendalian persediaan yang
efektif adalah :
1. Memperoleh ( procure
)
bahaniaharL yaitu menetapkan prosedur
unhrk
memperoleh suatu suplai yang cukup dari bahan bahan yang
dibutuhkan baik
kuantitas maupun kualitas.
2. Menyimpan dan memelihara ( maintain
)
bahan-bahan dalam persediaan,
yaitu
mengadakan suatu sistem penyimpanan
untuk memelihara dan
melinduungi bahan-bahan yang telah dimasukkan dalam persediaan.
3. Pengeluaran bahan-bahan, yaitu
menetapkan suatu pengaturan
atas
pengeluararr
dan penyampaian
bahan-bahan dengan tepat pada
saat serta
tempat di mana dibutul*an.
4. Meminimalisasi investasi dalam bentuk bahan atau baang (mempertahankan
persediaan
dalam
jumlah
yang optimum setiap waktu).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa kelancaran proses produksi
dari suatu perusahaan
antara lain ditentukan oleh be{alan tidaknya fungsi
pengendalian persediaan
tersebut.
Tujuan pengendalian
persediaan
adalah
untuk menyeimbangkan
manfi*
memiliki persediaan
dengan
kerugian yang
ditimbulkan
persediaan,
sehingp
kebutuhan produksi
dan pelanggan
dapat dipenuhi
dengan
memadai,
tetapi
dengan
resiko
dan biaya minimum
bagi perusahaan.
weber (lgg9)
mengemukakan
bahwa
pesan
dari pengendalian
persediaan
adalah
untuk
meminimisasi
biaya persediaen
total.
I)aIatn pertgad.a.an perse<liaan l>ahaa t>eku uatak kepcacin5an
pl6,tt.s<ttraan
proses produksi
suatu perusahaan,
terdapat beberapa faklor yang akan mempengaruhi
persediaan
bahan baku tersebut. Secara bersamaan faktor-fakior
tersebut akan
mempengaruhi jumlah
persediaan
bahan baku yang
ada dalam
perusahaan
tersebut.
Menurut Riyanto (1996),
faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan
bahan
baku adalah sebagai berikut :
1. Volume yang
dibutuhkan untuk melindungi
jalannya
perusahaan
terhadap
gangguan
kehabisan persediaan
yang
akan dapat menghambat
atau
mengganggu jalannya
proses produksi.
2. Volume poduksi
yang direncanakan,
dimana volume produksi ytrng
direncanakan itu sendiri sangat tergaotung
kepada volume sales yang
direncanakan.
Besamya pembelian
bahan mentah setiap kali pembelian
untuk mendapetkan
biaya pembelian yang
minimal.
Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang
bersangkutan
diwaktu-
waktu yang
akan datang.
3.
4.
5. Peraturan-peraturan pemerintah yang menyangkut persediaan
material
6. F{arga pembelian
bahan mentah.
7. Biaya penyipanan
dan risiko penyimpanan
digudang.
8. Tingkat kecepatan material menjadinya rusak atau turun kualitasnya.
Sedangkan menurut Usry dan lawrence (1995) mengemukakan agar
pengawasan persediaan
dapat berjalan dengan baik, sistem dan teknik pengendalian
persediaan
harus didasarkan pada prinsipprinsip
sebagai berikut :
l. Persediaan diciptakan dari pembelian (a)
bahan dan suku cadang dan
(b)
tambahan biaya pekerja dan overhead untuk mengolah bahan menjadi barang
jadi.
5,
Persediaan berkurang melalui penjualan dan kerusakan.
Prakiraan yang
tepat atas skedul penjualan
dan produksi
merupakan hal yang
esensial bagi pembelian, penanganan,
dan investasi bahan yang
ehsien.
Kebijakan manajemen, yang
berupaya menciptakan keseimbangan
antara
keragaman dan kuantitas persediaan
bagi operasi yang
efisien dengan biaya
pemilikan persediaan
tersebut merupakan faktor yang paling
utama dalam
nenentukan investasi persediaan.
Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap prakiraan, penluguruln
rencana pengendalian produksi.
Pencatatan pe$ediaan
saja tidak akan mencapai pengendalian
atas persediaan.
Pengendalian
bersifat komperatif dan relatif, tidak mutlak. Ini dilaksanakan
oleh manusia dengan berbagai pengalaman
dan pertimbangan.
z.
J.
4.
6.
7.
Selanjutnya, Sumayang (2003) mengatakan bahwa ada lima tata cara
penetapan pengendalian
dengan menggunakan system, yang
meliputi:
1. Pencataian semua transaksi.
Ini merupakan pencatatan yang
akan mendukung perhitungan
tentang posisi
inventori.
2. Keputusan pengelolaan
inventori yaitu keputusan tentang kapan pemesanan
dilakukan dan berapa banyak pesanan.
Keputusan dengan bantuan komputer
lebih, lebih cepat dan letiih murah.
3. Laporan tentarg kasus atau hal-hal penyimpangan
lainnya seperti antara lain:
- Peramalan yang
tidak akurat
-
Pembelian yang terlalu banyak
- Kehabisan persediaan
4. Semua keputusan pada pengelolaan
inventori
di dasarkan pada peramalan
pe rmintaan
Sering digunakan metde peramalan
time series (exponential
smoothing),
jangan
birkan keputusan
berdasarkan fungsi pemasaran
atau
fungsi keuangan.
5. Saluran laporan ke manajemen puncak.
Sistem pengendalian
harus mempunyai saluran laporan ke manajemen
puncak,
laporan ini meliputi kinerja inventori
secara keseluruhan yang
meliputi antara lain:
-
Service level
- Biaya pengelolaan
dan investasi.
10
2, 3. Jenivjenis Persedia*n
Istilah persediaan ( inventory
)
adalah suatu istilah umum yang
menunjukkan
segala sesuatu sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan dalam atisipasinya
terhadap pemenuhan permintaan.
Permintaan akan sumberdaya meliputi persediaan
bahan mentah, barang dalam proses,
barang
jadi
atau produk
akhir, bahan-bahan
pembantu
atau
pelengkap,
dan komponen-komponen
lain yang
menjadi bagian
keluaran produk perusahaan.
Jenis persediaan
ini sering disebut dengan istilah
persediaan
keluaran produl!
tetapi banyak organisasi menyimpan jenis
persediaan
lain seperti wmg, ruangan (bangunan pabrik), peralatan
dan tenaga kerja, untuk
memenuhi permintaan
akan produk
dan
jasa.
Pengendalian persediaan
adarah bagian dari kegiatan pengawasan produksi
di
dalam suatu perusahaan.
Dari sekian banyak persediaan yang
digunakan dalam suatu
perusahaan,
dapat digolongkan atas beberapa
jenis,
tergantung
dari
jenis
perusahaan
tersebut. Misalnya kulit dapat dikatakan dengan barang
jadi perusahaan
dagang yang
bergerak dalam
jual
beli kulit, tetapi bagi perusahaan
industri penghasil
tas, sepatu
dan lain-lainnya, kulit merupakan bahan baku.
Menurut
jenis
operasi perusahaan, persediaan
dapat dibedakan atas :
a. Persediaan pada perusahaan
dagang
@iyanto,
1993) :
Dalam perusa}aan
dagang, persediaan
biaya disebut dengan istilah m erchandise
inyentory. Persediaan ini dalam perusahaan
dagang tidak mengalami perubahan
yang prinsipil,
baik dalam bentuk maupun manfaatnya.
perusahaan
dagang
hanya melakukan pembelian
dari produsen
lain kemudian
menjualnya
atau
11
memasarkannya kepada konsumen. Merchandise inventoryadalah persediaan
barang yang
selalu dalarn perputaren, yang
selalu dibeli dan dijual, yang
tidak
mengalami proses lebih lanjut didalam perusahaan
tersebut yang
mengakibatkan
perobahan bentuk dari barang yang
bersangkutan.
b. Penediaan pada perusahaan
industri (Handoko, 1999) :
Perusahaan industri yang
mempunyai kegiatan proses yang
mengubah bentuk
suatu barang lain yang lebih tinggi tingkat kegunaannya
dan lebih bermutu,
mempunyai persediaan yang
dapat dibedakan atas :
L Persediaan bahan mentah (raw materials)
2. Fersediaan komponen-kompon
en rakitan
Qrurchased
parts / component)
3. Persediaan bahan pembantu
at6u penolong
(supplies)
4. Persediaan
barang dalam proses (work
in process\
5. Persediaan
baran gjadi (finishei goods).
1) Persediaan
bahan mentah (rcrw
materials), yaifu persediaan
barang-barang
berwujud seperti
baja, kayu, dan komponen-komponen
lainnya yang
digunakan dalam proses produksi.
Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-
sumber alam atuu dibli dari para
supplier dan/atau dibuat sendiri oleh
perusahaan
untuk digunakan dalam proses produksi
selaajuhrya.
Persediaan komponen-komponen
rakitan
Qturchased
parts/components),
yaitu
persedian
barang-barang yang
terdiri dari komponen-komponen
yang
2)
t2
diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi
suatu produk.
3) Persediaan
bahan pembantu
atau penolong (supplies),
yaitu persediaan
barang-barang yang
diperlukan dalam proses,
tetapi tidak merupakan
bagian
atau komponen barang
jadi.
4) Persediaan barang dalam proses (wor&
in process), yaitu persediaan
barang-
barang yang
merupakan keruaran dari tiaptiap bagian daram proses produksi
atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu
diproses rebih
lanjut menjadi barang
jadi.
5) Persediaan barang jadi
(/inished goods). yaitu persediaan
barang-barang yang
telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik
dan siap untuk dijual atau
dikirim kepada langganan.
Kelima
jenis
persediaan
ini saring berhubungan
satu dengan lainnya daram
siklus proses produksi
normal. Bahan mentah
merupakan sarah satu faktor yang
utama yang
sangat penting
dalam proses produksi,
karena tanpa tersedianya
bahan
mentah dalam
jumlah
tertentu sesuai dengan kebutuhan produksi
akan berakibat
terganggunya proses
produksi.
Assauri (1993)
mengemukakan
ada dua alasan mengapa persediaaan
diperlukan oloh perusahaan
industri,
karena:
1" Dibutuhkannya
waktu
untuk menyelesaikan
operasi produksi
.untuk
memindahkan produk
dari suatu tingkat ke tingkat proses yang
lain, yang
disebut persediaan
dalam proses
dan pemindahan.
2. Alasan organisasi, untuk memungkinkan satu unit atau bagian membuat
skedul operasinya secara bebas, tidak tergantung dari yang lainnya.
Berdasarkan fungsinya, Assauri (1993)
menggolongkan persediaan
dalam
3 bentuk, yaitu :
a. Batch stock atzu lot size inventory adalah persediaan yang
diadakan karena
kita membeli atau membuat bahan-bahan/barang-barang
dalam
jumlah
yang
lebih besar daripada
jumlah
yang dibutuhkan pada
saat itu. Jadi dalam hal ini
pembelian
atau pembuatan yang
dilakukan untuk
jumlah
besar, sedang
penggunaan
atau pengeluaran
dalam
jumlah
kecil. Terjadinya persediaan
karena pengadaan
bahan/barang yang
dilakukan lebih banyak daripada yang
dibutuhkan. Persediaan ini timbul dimana bahan/barang yang
dibeli,
dikerjakail dibuat alau diangkut dalam
jumlah
besar (
brlft
),
sehingga
barang-barang diperoleh lebih banyak dan cepat dari pada penggunaan
atau
pengeluarannya,
dan untuk sementan tercipta persediaan.
perlu
kita ketahui
bahwa adalah relatif lebih menguntungkan
apabila kita melakukan pembelian
dalam
jumlah
besar, karerra kemungkian untuk mendapatkan potongan
harga
pembelian,
biya pengangkutan yang lebih murah per
mitnya dan
penghematan
dalam biaya-biaya lainnya yang mungkin diperoleh.
Untuk ini kita perlu
membandingkan
antara penghematan-
penghematan
karena mengadakan pembelian
secara besar-besarafi
dengan
biaya-biaya yang
timbul karena besamya persediaan
tersebut, seperti biaya
l4
b.
sewa gudang,
biaya investasi, resiko penyimpanan
dan sebagainya. Jadi
keuntungan yang akan diperoleh dari adanya batch stock ini antara lain :
1. Memperoleh potongan
harga pada
harga pembelian.
2. Memperoleh efisiensi produksi (manafacturing
economies) karena
adanya proses pro&tksi
atau prMuction
run yanglebihlama.
3. Adanya penghematan
dalam biaya pengangkulan.
Fluctuation stok
adalah
persediaan yang
diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan
konsumen yahg tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini
perusahaan
mengadakan persediaan
untuk dapat memenuhi permintaan
konsumen,
apabila tingkat permintaan
menunjukkan keadaan yang
tidak beratwan atau
tidak tetap dan fluktuasi permintaan
tidak dapat diramalkan lebih dahulu. Jadi
apabila terdapat fluktuasi pemintaan yang
sa gat besar, maka persediaan
ini
(luctuation
stoclc) dibutuhkan sangat besar untuk menjaga kemungkinan naik
turunnya permintaan
trsebut.
Anticipation stoc& adalah persediaan
yang diadakan untuk menghadapi
flukuasi permintaffi yang
dapat diramalkan, berdasarkan pola
musiman yang
terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan
atau penjualan
perminlaan yang meningkat. Disarrping itu anticipation srocft dimaksudkan
pula untuk menjaga kemungkinan sukamya diperoleh bahan-bahan
sehingga
tidak mengganggu
j
alannya produk
atau menghindari
kemacetan produltsi.
c.
15
2, 4. Biaya-biaya Penediaan
Dari pembahasan
sebelumnya dapat dipahami bahwa salah satu tujuan dari
pengendalian persediaan
adalah berusaha untuk menghindari adanya pembentukan
persediaan yang
terlalu besar yang dapat menimbulkan tingginya biaya-biaya yang
harus dikeluarkan perusahaan
dan sebaliknya menghindari persediaan yang terlalu
kecil yang
dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan
akibat kekwangan yang
dapat mmyebabkan macetnya proses produksi.
Sehubungan dengan tujuan di atas,
maka perlu
diketahui
jenis-jenis
biaya yang timbul dengan adanya persediaan.
Weston dan Brigham (1999)
mengemukakan bahwa biaya-biaya yang
berkaitan dengan persediaan
adalah :
a. Biaya yang berkaitan dengan peyimpanan persediaan.
b. Biaya yang
terkait dengan
pemesanan
dan penerimaan
barang yang
dipesan.
c. Biaya yang
timbul sebagai akibat kekurangan persediaan.
Sedangkan Assauri (1993) mengemukakan,
biaya-biaya yang
timbul dail
adanya persediaan yaitu
:
l. Biaya pemesan
an (ordering cost).
2. Biaya yang terjadi dari adanya persediaan (invsntlry
aayOing cost).
3 . Biaya kekurangan persediaan ( out of stock
cost) .
4. Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (capacity
associated cosr)".
1) Biaya pemesanan (ordering
cost)
l6
Yang dimaksud dengan biaya pemesanan
adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
berkenaan dengan pemesanan
barang-barang atau bahan-bahan dari penjual,
sejak dari pesanan
dibuat, dikirim ke penjual,
sampai barang-barang tersebut
dikirimka:r serta diserahkan di gudang
atau daerah pengolahan.
Biaya ini
sifatnya konstan, di antaranya : biaya administrasi pembelian,
biaya telepon,
biaya pemeriksaan.
Secara normal biaya pemesanan (d.i
luar biaya bahan dan
potongan
kuantitas) tidak naik bila kuantitas pesanan
bertambah, tetapi semakin
hanyak komponen-komponen yang
dipesan setiap kali pesanan per periode
turun, maka biaya pesanan
total akan turun.
2) Biaya yang
terjadi adanya persedi
aan (inventory
carrying cost)
Yang dimaksud dengan inventury carrying cosl adalah biaya yang
diperlukan
berkenaan dengan persediaan yang meliputi seluruh pengeruaran
sebagai akiba!
akibat adanya sejumlah persediaan.
Biaya yang
berhubungan
dengan persediaan
disebut
juga
dengan biaya pengadaan persediaan (stock
holding cosr).Besamya
biaya ini bervariasi terganhmg besar kecilnya persediaan
yang
ada, Biaya
penyimpanan per periode
akan semakin besar apabila kuantitas barang yang
semakin tinggi. Yang dimaksud cu rrying cost adalah :
'
Biaya pergudangan
atav storage cosr,
biaya ini tidak ada apabila tidak ada
persediaan.
Biaya ini terdiri dari biaya sewa gudang
upah dan gaji
tenaga
pngawas'
biaya peralatan
material handring di gudang
dan biaya fdsilitas
penlmpanan (termasuk
penerangan, pemanas,
dan pendingin
ruangan)
- Asuransi
atas persediaan yang
dimiliki
t7
- Bunga atas modal diinvestasikan
Biasanya inventory cdrrying cosl ditentukan sebagai suatu persentase
dan
nilai uang persediaan
tersebut per
unitnya dalam setahun
3) Biaya kekurangan persediaan (out ofstock cost)
Yang dimaksud dengan biaya kekurangan persediaan
adalah biaya yang
timbur
akibat terjadinya persediaan yang
lebih kecil dari
jumlah
yang
diperlukan dalarn
sUatu proses produksi,
seperti :
- Biaya tambahan yang
diperlukan karena
seorang langganan
meminta
atau
memesan suatu barang atau bahan sedangkan
barpng tersebut
tidak tersedia.
-
Terganggunya proses produksi
- Kehilangan
langganan
Biaya ini paling
surit diperkirakan dalam praktek,
terutama karena kenyataan
bahwa biaya ini merupakan
opportunity
cost yang
surit diperkirakan
secara
objektif.
4) Biaya yang
berhubungan
dengankapasitas (capacity
associared cost)
Yang dimaksud denga'. cqpacity associated
cosr adalah biaya yang
terdiri biaya
kerja lembur, biaya latihan, biaya pemberhentian
kerja dan biaya pengangguran.
Biaya ini terjadi karena
adanya penambahan
atau pongurangan
kapasitas,
bira
terlalu banyak atau sedikit kapasitas yang
digunakan pada
suatu waktu tertentu.
l8
2. 5. Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Persediaan bahan baku merupakan faktor utama dalam kegiatan produksi.
Kegiatan produksi perlu
direncanakan sedemikian rupa sehingga dengan demikian
dapat mencerminkan keadaan dan kemampuan perusahaan.
Rencana produksi
dibuat
berdasarkan
jumlah produksi yang
dijual pada periode-periode
yang lalu, sehingga
dengan demikian dapat ditentukan
jumlah
bahan baku yang
dibutuhkan pada proses
produksi.
.Perkembangan-perkembangan
yang
menyangkut
efisiensi dengan adanya
persediaan yang perlu
diperhatikan di dalarn penentuan jumlah
persediaan
bahan
baku. Pertimbangan ini merupakan suatu kebijaksanaan
dalam pengawasan
maup'n
mengenai penentuan
tingkat persediaan yang
optimum. Mengenai pemasaran
bahan
baku perlu
ditentukan bagaimana
cara pemesananny4
berapa
j
umlah dipesan dan
kapan pemesanan
itu dilakukan. Sedangkan mengenai persediaan perlu
ditentukan
besamya
jumlah
persediaan penyelamal yang
merupakan persediaan
minimum,
besarnya
jumlah
persediaan pada suatu titik tertentu untuk kemudian
mengadakan
pemesanan kembali, dan besamya persediaan
maksimum.
Berdasarkan
uraian di atas penulis
dapat mengetahui
betapa menentukannya
pengendalian persediaan
bahan baku. untuk menentukan keputusan
mengenai
pengendalian persediaan
bahan baku diperlukan
alat analisa / metode yang
digunakan, untuk kemudian hasilnya merupakan suatu keputusan.
Metode analisis yang
dipergunakan antara lain adalah :
19
a. Metode perhifungan regresi linear sederhana
b. Economic order
quantiry
OQ)
a). Metode perhilungan regresi linear sederhanq
Pemakaian dan pembelian
bahan baku dalam hubungannya dengan
perencanaan produksi
dapat diperkirakan dengan rnelihat pada waltu sebelumnya dan
pada
saat sekarang ini dimana kebutuhan
jumlah
bahan baku masa mendatang dapat
diperkirakan
jumlahnya.
Menurut Handoko (1999),
bentuk dari persamaan
regresi linear sederhana dari
kebutuhan bahan baku yang ditetapkan oleh tingkat produksi
adalah sebagai berikut :
Y: a
+
b.X.......
dimana :
Y
:
kebutuhan bahan baku
a = konstanta
b
:
koefisien regesi
X = wakru (bulan)
Sedangkan nilai a dan b dapat dicari dengan menggunakaa rumus berikut :
IY
n
Syv
" Tr.,2
L'\
20
b. Economic Order
Quantity
(EOQ
Pemakaian persediaan yang
dilakukan secara terus menerus untuk diproduksi,
maka bahan yang
akan dipakai harus dipesan kembali untuk dapat rnenjaga
kelangsungan produksi dalam usaha mencapai target hasil produksi.
pemesanan
petsediaan
diharapkan
mencapai
jumlah
yang
ekonomis.
Persediaan ekonomis dapat dicapai dengan menggunak an Economic
order
Quanrity
(EoQ) yang
merupakan penentuan jumlah
pesanan persediaan
kembari oleh
perusahaan
dengan maksud mencapai pesanan yang ekonomi. Sedangkan pengertian
economic order quantity
itu menurut Riyanto ( 1996) adalah
jumlah
kwantitas
barang yang
dapat diperoleh dengan biaya yang minimal,
atau sering dikatakan
sebagai
jumlah
pembelian
yang
optimal.
Cara
penentuan jumlah
pemesanan
yang
ekonomis dengan menurunkan
di
dalam rumus'rumus
matematika dapat dilakukan dengan memperhatikan
bahwa
jumlah
persediaan
yang minimum
terdapat Ordering Cos, sama dengan Carrying
Cost.
Rumus-rumus
matematika yang akan digunakan
adalah dengan menggunakan
simbol-simbol atau notasi sebagai berikut :
A
:
Jumlah kebutuhan
bahan dalam satuan (unit) per
tahun
R
:
Harga bahan per
unit
P
:
Biaya pemesanan (order
cost) per ortler
C = Biaya penyimpanan/penahanan
(Order
Costs) yang
dinyatakan
sebagai suatu persentasi
dari persediaan
rata_rata
2l
N = Jumlah pemesanan yang
ekonomis
TOC
:
Total biaya pemesanan
TIC
:
Total biaya penyimpanan
Dengan simbol atrau notasi-notasi di atas, dapatlah ditetapkan bahvta ordering cost
per tahun adalah : A/N x P., dwr carrying cosl adalah (Assauri,
1993) :
AR
j-x0,5xO=0,5RCN
.
/N
Rumus-rumus yang
dapat dipergunakan
adalah untuk memecahkan j
umlah
optimum unit per
order,
jumlah
optimum order per tahun dan
jumlah
optimum
han
supply per
order.
a). Jumlah optimum unit per order.
Dalam hal ini N menyatakan jumlah
optimum unit per
order, yang
dapat
ditentukan
bila total ordefing cosr per tahun sama dengan carryingcost
per tahua.
Dengan demikian maka dapat ditentukan :
A.rNxP
=0,5RCN
zAP
=N2Rc
nt
*
2AP
RC
6 tp
N
= -/-'^'
YRC
22
Cara
perhitungan
lain adalah dengan memperkirakan biaya pemilikan per unit
secara langsung dengan merinci setiap komponen biaya pernilikan sebagai
biaya per unit dari persediaan, dan bukan sebagai persentase
rata-rata investasi
persediaan. Dengan demikian, penyebut
dalam rumus EOQ menjadi hiaya
pemilikan per unit yang disajikan secara langsung, bukan dalam bentuk biaya
bahan per
unit dikali persentase
biaya
pemilikan (Usry
dan Lau,rence, 1995).
b) .lunlah oplimum order per tahun
Dalam hal ini N menunjukkan
jumlah
optimum order per tahun, yang dapat
ditentukan bila total ordering cott
Wr
tahun sama dengan carrying corl per
tahun.
Dengan demikian dapat ditentukan (Usry dan Lawrence, 1993):
NxP=4x0.5xC
P
NP
-AC
2N
2N2P
=
Ac
N2
=AC
2P
AC
JD
23
Itr. Mf,TODOLOGI PtrNELITIAN
3. 1. Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi pene
litian ditetapkan secaru purposive (sengaja) yaitu P'l'. Karya Murni
Perkasa Medan yang
berpusat di Jalan Jalan Sei Musi No. 12 Medan dan lokasi Base Camp
berada di KM. t 8 Tanjung Morawa. Psrusahaan ini bergerak di bidang usaha
jasa
konstnrksi
jembatan,
irigasi dan
jalan
raya. Adapun aktivitas-aktivitas yang dike{akan
perusahaan
meliputi pembangunan gedung sekolah,
jalan
raya, saluran parit dan lainlain.
Yang menjadi objek penelitian
adalah unit pengendalian persediaan
bahan baku pada
departemen produksi.
3. 2. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer yang langsung diperoleh dari objek
penelitian
dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara dengan pimpinan
departemen-departemen dan unit-unit dalam perusahaan.
Data-data yang
dikumpulkan
adalah data yang
berhubungan dengan :jenis persediaan
bahan baku, penggunaan
bahan
baku, proses produksi
dan sistim pengendalian persediaan
bahan baku.
3.3. Luas dan Cakupan Penelitian
Berhubung karena banyak dan luasnya bidang produksi perusahaan,
se(a untuk
menghindari kesimpangsiuran, maka peneliti perlu
melakukan pembatasan
terha<lap
penelitian.
Adapun cakupan dan luas penelitian yang
dilakukan hanya menyangkut
bidang
pengendalian
bahan baku saja yang digunakan unruk memproduksi aspal hotmix.
24
3. 4, Metode Analisis
Metode analisis yang
digunakan adalah :
a. Metode deskiptif dan metode deduktif.
Metode deskriptif dilakukan dengan merumuskan
dan mengumpulkan data,
menglasifikasikan data serta menginterpretasikannya
sehingga memberikan suatu
gambaran yang jelas
tentang masalah yang
diperoleh. Sedangkan metocle deduktif
dilalokan untuk menarik kesimpulan berdasarkan teori-teori yang
diterma sebagai sualu
kebenaran umum mengenai gejala yang
timbul serta membandingkannya
dengan
kenyataan
dan teori, sehingga dikbtahui penyimpangan
yang
ada untuk sampai pada
suatu pendapat yang
dipergunakan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi
Metode Analisis Regresi Linear Sederhana
Metode ini digunakan
untuk mengetahui trend besamya kebutuhan
bahan baku yang
sesuai dengan proses produksi
beberapa tahun ke depan berdasarkan
data pengamatan
tahun-tahun sebelumnya.
Bentuk dari ptsamaan
regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :
Y= a+ bX
II
n
Ixr
h
=
..-l
"
Zx'
dimana :
Y= kebutuhan bahan baku
2s
a: intersp
b= koefisien regresi
X: waktu (bulan
)
n:
jumlah
tahun pengamatan
c. Metode Analisis Economic Order
Quantity
(EOe)
Metode ini digunakan untuk mengetahui
jumlah
pemesanan yang
ekonomis yang
dapat dilakukan untuk menekan biaya sesuai dengan proses produksi.
Bentuk dari persamaan
economic oriler quantity
adalah sebagai berikut :
N:
-E- a,,u N:
linc'
dimana :
4=
jumlah
kebutuhan bahan baku
P= biaya pemesanan per pesanan
R: harga bahan baku per ton
C= biaya penyimpanan
di gudang
rv. HASIL DAN PEMBAHASAN
4, 1. HASIL
4. 1.. 1. Jenis Persediaan Bahan Baku dan Penggunaan Bahan Baku
PT. Karya Murni Perkasa Medan memproduksi aspal hohnix yang
menggunakan bahan baku seperti :
I . Bahan Baku Utama
a. Aspal Cair
Aspal cair (cutbdck
asphalt) adalah camputan aspal semen dengan
bahan pencair
dari minyak bumi, misalnya bensin, minyak tanah dan minyak
solar. Jenis aspal cair ditentukan oleh
jenis
bahan pencair yang dipakai.
Cepatnya
penguapan
dan
perubahan kekentalannya akibat perubahan
temperatur.
Aspal cair dibagi atas 3
jenis,
tergantung dari cepat lambatnya bahan
pencair ini menguap, yaitu :
1) Rapid curing cutback atau RC, dengan bahan pencair yang sangat encer
seprli minyak bensin.
Medium curing cutback atau MC, dengan bahan pencair yang lebih kental
seperti minyak tanah.
Slow curing cutback atau SC, dengan bahan pencair yang paling kental
sepeni minyak solar.
2)
3)
L
rl
I
1l
27
Untuk keperluan lapis resep pengikat (prime
cost), pnggunaan
aspal cair
sangat dibutuhkan, yang
mana tidak ada bahan lain yang
dapat beke{a sebaik
aspal cair.
b. Abu Batu
Merupakan bahan-bahan halus hasil pemecahan
batu atau kombinasi
dari bahan
-
bahan tersebut dalam keadaan kering. Abu batu memenuhi
persyaratan
sebagai berikut :
1) Nilai sand equvalen (AAS
HTO.T-76),
dari abu batu minimum 50%
2) Berat
jenis
semu Apparent(
pB
0203-76), minimum
2,5%
3) Dari pemeriksaan
Atterberg (pB 0109-i6), abu batu bersifat non prastis.
4) Peresapan abu batu terhadap air (pB 0202-76), minimum
3%.
c- Pasir
Pasir yang
dibutuhkan harus berbidang kasar, bersudut
tajam dan
bersih dari kotoran
*
kotoraa atau bahan
-
bahan lain yang
tidak dikehendaki.
Dan keadaan pasir
harus dalam keadaan kering.
Bahan Baku Penolong
a. Splect
Digunakan sebagai pencampur
dalam pmbuatan
abu batu
b. Minyak Lampu
28
Digunakan sebagai bahan pencampur
dalam pembuatan
Medium Caring
Cutback atau MC
c. Batu Kerikil
Digunakan
sebagai bahan pencampur
abu batu.
Data pembelian
bahan baku selama tahun 2001 s/d tahun 2003 disajikan pada
Tabel 1 berikut :
Tabel 1 Data Pembelian Bahan Baku Tahun 2001
_
Tahun 2003
Biaya pemesanan
dan biaya penyimpanan
yang
dilakukan
oleh
pT.
Karya
Mumi Perkasa Medan terhadap bahan baku seperti aspal cair, abu bahr, pasir,
minyak
lampu, batu kerikil dan splect selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 adalah
sebagai berikut:
Biaya Pemesanan :
Tahun2001
: Rp, 76.094.598,-
Tahun 2002 : Rp. 78.023.222,_
Tahun 2003 : Rp. 76.649.960,-
183.516
Rp. 311.666,7
Rp. 57.195.826.12Q
Rp 322592
Rp. 59.176.276.480
Rp. 326.337
"9
Rp. 59.754.101.180
Sumber : PT. Karya Murni Perkasa
Medan
29
Biaya Penyimpanan
:
Tahun 2001 : Ftp.49.866,672
/ton
Tahun 2002 : Rp. 58.066,56 / ton
Tahun 2003 : Rp. 65.267,58 / ton
sedangkan data pemakaian
bahan baku selama tahun 2001 s/d tahun 2003
disajikan pada
Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Data Pemakaian Bahan Baku Tahun 2001
*
Tahun 2003
Jaauari
15.399 15.399.000
15.249 15.249.000
15.09t
l
-1.091.000
Pebrurei
15.270 15.255.000
t5.342 15.242.000
14.950
14.950.000
Maret
15.306 15.306 000
15.242 t5.242.000
15.000
1i.000 000
Apnl
15.302
15.302.000
15.209 15.3209.000
l4-q9{5
t 4.996.000
Mei
15.271 15.271.000
t5.24t 15.241.000
14.966 I4.966 000
Juri
15.266 15.266.A00
15.235
15.235.000
i4.961 14.96L000
Juli
t 5.271 15.292.000
t5.265 15.265 00r)
14.986
14.986 000
Agutus
15.306 15.306.000
15.2't3 15.273.000
15.000 15.000.000
September
15.289 15.293 m0
15.305 t5.305.000
14.983 14.993.000
ia.tio.ooo
Oktober
t5.2'16
15.276.000
l5 38r
l5.fEt 000 14 97(t
Nopernber
15.271 15.261 000
15.329
15.329.000
14.966 14.956.000
DessDrbcr
15.283 15.283.000
15.369
15.469.000
14.977
t4.977.000
Total
I83.516 183.516.000
183.440
183.440.000
t79.846
179.846.000
Pcrtasa Medan
30
4. 1. 2. Metode dan Teknik Pengendalian Bahan Baku
Pengendalian
adalah suatu tindakan untuk menjamin bahwa suatu tujuan
dapat tercapai dalam periode tertntu. Dalam hal ini
pengendalian persediaan
bahan
baku dilakukan agar tercapai suatu tingkat persediaan
bahan baku yang
dapat
menjamin kontinuitas proses produksi,
artinya terdapat persediaan
bahan baku yang
cukup untuk melakukan proses produksi
normal untuk
periode
tertentu.
PT. Karya Mumi Perkasa dalarn memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku
berupa abu batu, pasir batu kerikil, minyak lampu dan splect dengan cara membeli
dari leveransir yang
datang keperusahaan yang berasal dari Tanjung Morawa, Binjai
dan daerah pantai/aliran
sungai sibiru-biru, kecuali aspal cair, perusahaan
memperolehnya langsung dari dealer Pertamjna.
Bahan baku yang
dipesan dari leveransir
tidak langsung diproses, tetapi
ditenma di Tanjung Morawa dengan terlebih dahulu ditimbang di timbangan
jembatan.
Setelah ditimbang kemudian di timbun di Tanjung Morawa yang
merupakan tempat penyimpanan
seluruhbahanbaku
pT.
Karya Murni
perkasa
yang
benh*nya seprti panglong yang
dikenal dengan sebutan base camp. Apabila
pT.
Karya Murni Perkasa mengerjakan suatu proyek
maka bahan baku tersebut diangkut
dan diproses di PT. Karya Murni Perkasa yang
terletak di Jalan sei Musi. setelah
diproses kemudian diangktt menuju tempat proyek yang sedang dikerjakan.
Metode dan teknik pengendalian
bahan baku yang standar yang digirnakan
oleh PT. Karya Mumi Perkasa Medan belum ada, tetapi pemesanan
bahan baku yang
digunakan cenderung kepada
fixed
order intemal.
perusahaan
memesan bahan baku
31
semata
-
mata berdasarkan kepada
jumlah
kebutuhan bahan baku pada
suatu periode
tertentu, misalnya untuk kebutuhan satu bulan tanpa memperhitungkan kemungkinan
-
kemungkinan lain yang
mengganggu kelancaran pengadaan
bahan baku,
kemungkinan adanya stock oar / kehabisan
balan baku di tempat penyimpanan
karena keterlambatan datangnya bahan bakq dan kemungkinan penggunaan
bahan
-
baku yang lebih banyak dari
perkiraan
rencana semula.
4. 1. 3. Proses Produksi Pada Pi:rusahaan
Secara garis
besar proses produksi pada
pT.
Karya Murni
perkasa
medan
adalah sebagai berikut :
t. Penentuan perbandingan
bahan baku
Sebelum dilakukan pencampuren
bahan baku, terlebih dahulu diukw
perbandingan
bahan baku yang
akan digunakan. Dalam hal ini dinvatakan dalam
persen (%) sebagai berikut :
Abu batu sebanyak 25%
Pasir sebanyak 13%
Aspal cair sebanyak 7%
Minyak lampu sebanyak 25%
Batu kerikil sebanyak 20%
Splect sebanyak 107o
a.
b.
c.
d.
e.
f.
32
2. Pencampuran bahan baku
Mencampw dan menyediakan bahan aspal dibuat pada
salah satu pusat
instalasi. Setelah djbuat
job
mix formula untuk adukan yang direncanakan, maka
bahan
*
bahan boleh diolah dalam satu alat pencarrlpur
bahan yaitu mesin AMp
(Asphalt
Mixing plants).
Dalam AMP (Asphalt Mixing Plants), keenam bahan baku
yang
telah disebutkan diatas dicampur dan dimasak.
Agregat kasar dan halus, terlebih dahulu dikeringkan pada
suatu alat
pengering.
Yang dimaksud derigan agregat adalah pasir bersih. Lalu agregat ini
disaring menurut ukuran butimya dan dimasukkan kedalam bims pemanas
untuk di
panaskan
dan dari bims ini diteruskan ketempat pencsmpuran
asal, sehingga akhimya
akan diperoleh suatu adukan aspal beton. Temperatur pada
saat pencampuran
adalah
(250-325)oF
atau ( I 2 l-163)oc.
Agar dapat menempatkan/menghamparkan
dan memadatkan bahan, harus
mempunyai suhu yang benar
-benar
tepat. Kerusakan
akibat suhu yang tidak tepat
dapat te{adi, sehingga dapat menimbulkan :
i) Campuran yang
terlampau panas,
akan mengakibatkan kerusakan pada
saat
dilakukannya pengerasan.
2) Campwan yang
terlalu dingin, akan menlulitkan pemadatan
sehingga kepadatan
yang diharapkan tidak tercapai.
Langkah kerja yang
dilakulon adalah :
a. Penghamparan
33
Pekeijaan penghamparan
dapat dimulai setelah finisher distel / diatur sedemikian
rupa,
dengan tujuan agar didapatkan
tebal aspal seperti yang
dikehendaki,
Tebalnya penghamparan
sebelum dipadatkan
biasanya diampar
.r
25% dari tebal
yang
diperlukan. Aspal
beton dapat langsung
dihampar di lapangan, jika
kondisi
lapangair dalam keadaan utuh / tidak basah. Jadi dump
truck pengangkat
diusahakan
ditututpi
agar bira datang hujan tidaklah basah.
campuran harus
diampar pada
temperatur
minimum I 150C.
b, Pemadatan
Pemadatan
adalah tahapan pekerjaan
akhir, yang
dirangkaikan
dengan kegiatan
pembuatan
rapisan konstruksi jaran,
yang
mana didaram
tahapan
ini harus
dilakukan pengawasan
yang
teliti. Ketika penghamparan
dilakukan,
mungkin
terjadi permukaan
yang
tidak rata pada
tempat
-
tempat tertentu.
Untuk mengatasi
hal ini, penghamparan
dapat dilakukan
dengan tenaga manusia
saja. setetlah
bagian
*
bagian yang
tidak sempurna
ditiadakan,
maka proses pemadatan
dapat
dilatukan.
Urutan pekeqjaan
pemadatan
yang
dilakukan
adalah :
1. Pemadatan
awal (break
down rolling),
dilakukan pada
temperatur
1100C
dengan menggwrakan
tandem roller pada
kecepatan (2
_
4) km /jam.
2. Sesudah pmadatan
prtama
selesai,
dilakukan pemadatan
antara (inter
mediate rolling)
dengan menggunakan
mesin gilas
roda
karet (pneumatic
34
tyred roller) yang
beratnya berkisar antara (10,12)
ton dengan kecepatan (15_
l0) km/jam.
3' Pemadatan akhir (finishing
rolring) dilakukan dengan randem roller (8-r0)
ton. Sesudah pemadatan
antara selesai dilakukan sampai alur
_
alur roda
pemadat
hilang (rata),
dilakukan pemadatan
akhir dengan kecepatan (j-g)
km/jam, dengan temperatur minimum 600C.
Cara
-
cara pemadatan
yang
dilakukan antara lain :
l. Pada
jalan
yang lurus, pemadatan
dilakukan
dengan memulai
dari tepi
perkerasan
yang
sejajar dengan arah menuju
kebahagian tengah jalan.
2. Pada daerah tikungan, pemadatan
mulai dilakukan
dari bagian yang
rendah
dan sejajar dengan arah menuju kebagian yang tinggi.
3. Untuk menoegah perekatan
campuran pa.da
masing
_
masing gilas,
maka roda
mesin gilas perlu
dibasahi
dengan air.
c. Sambungan
-
Sambungan
sambmgan
-
sambungan
diusahakan
tidak terlalu banyak. Bila sambmgan
harus
diadakan, perlu
diupayakan
agar dapat dicapai pelekatan yang
sempuma pada
seluruh bagian tebalnya.
Dalam menempatkan
adukan yang
baru dengan
terdpatnya
lapiran yang
telah dig'as, maka hendaknya
diusahakan
agar bidang
kontaknya
vertikal (dengan
cara lapisan yang
lama
dipotong tegak lurus).
dan
perlu
disiram pada
bidang vertikal tersebut
lapis pengikat
(tack
coat) yang
berfungsi
sebagai penambah
kelekatan pada
sambungan.
35
Lapisan aspal beton dapat dibuka untuk lalu rintas dengan kecepatan rendah.
setelah selesai pemadatan
akhir pada
temperatur yang
sudah dibawah titik lembab
aspal (biasanya +
2
jam
setelah pemadatan
akhir). Setelah 4
jam
kemudian, jalan
dapat dibuka untuk pemakai jalan
atau lalu lintas.
Data produksi
hotmix selama tahun 2001 vd tahun 2003 disajikan pada
Tabel
3 berikut :
Tabel 3. Data
produksi
Hasil Jadi Hounix Tahun 2001
_
Tahun 2003
Januari
Pebruari
ts.376
t5.269
l5-248
1s.306
15.068
14.963
Maret
15.294
15.224
14.988
April
15.285
15. l6l
14.979
Mei
15.271
15.296
14.966
Jutri
r5.256
15.238
14.951
Juli
15.277
15.246
14.971
Agustus
l5_245
15.266
14.940
September
15.257
15.288
t4.9s2
Okober
15.255
15.317
14.950
Nopernber
15.266
15.256
14.961
Desember
15.283
15.27s
14.971
Toul
183.334
l83. t4r
179.667
Sumber : PT. Karya tuturni Ferkasa
VeAan
36
Data tentang perbandingan pemakaian
bahan baku dengan hasil produksi
disajikan
pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Perbandingan Total Pemakaian Bahan Baku Dengan Total Ftasil
produksi
Pada PT. Karya Mumi Perkasa Medan Tahun 2001 -. Tahun 2003
dalam Ton
2001
183.516
183.334 182
2002
183.440
I83.t4r
299
2003
t79.846
179.667
179
Sumber : PT. Karya Mumi Perkasa Medan (diolah)
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa pemakaian
bahan baku lebih banyak
dibandingkan dengan produk yang
dihasilkan,
sehingga menyebabkan terjadinya
pemborosan pemakaian
bahan baku.
4.2. PEMBAHASAN
4. 2. l. Perbandingan
Pemakaian Bahan Baku dengan
prod'ksi
Easil
Jsdi
getmix
Peneliti menggunakan perbandingan
antara pemakaian
bahan baku dengan
produksi
hasil
jadi
hotmix untuk mengetahui seberapa besar selisih pemakaian
bahan
baku dengan produksi
hasil
jadi
hotmix sesuai
dengan proses procluksi yang
terus
-
menerus digunakan. Dalam hal ini peneliti
menggunakan
data pemakaian
bahan baku
dan produksi
hasil
jadi
hotmix dari tahun 2001 sampai dengan tahun 200i yang
disajikan dalam Tabel 5, sebagai berikut:
JI
Tabel 5. Perbandingan Pemakaian Bahan Baku Dengan Hasil
produksi pada
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
15.399
15.270
l5.306
15.302
15.27 |
15.266
t5.27',1
15.306
l5.289
15.276
15.271
15.283
t5.376
15.269
15.294
15.285
ts.2't I
15.256
| 5 .277
15.245
rs .257
15.255
12.566
I
1t
17
0
10
0
6l
32
21
5
0
0,149
0,006
0,078
0,111
0
0,066
0
0,4
0,209
0,137
0,o32
0
Pebruari
Maxet
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
15.249
15.342
15.242
15,209
t5.241
15,235
15.265
t5.273
15.305
15.381
15329
15.369
ls.248
l5.306
15.224
l5.16l
15.296
15.238
ts.246
t5.266
15,288
t5.317
1s.256
t5.2'.15
I
36
18
48
55
3
l9
7
1'l
64
73
94
0,006
0,235
0,007
0,317
0,359
0,019
0,125
0,045
0,lll
0,417
Q,479
Januari
Pebruari
Marst
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septernbcr
Oktober
Nopember
15.091
14.950
15.000
14.996
t4.966
14.961
14.986
I5.000
14.983
14.910
't4.966
t4.977
15.068
14.963
14.988
14.979
14.966
14.951
14.940
14.952
14.950
14.96t
13
12
t7
0
l0
IJ
60
3l
5
0
0,153
0,087
0,080
0,113
0
0,669
0,r
0,1
0,207
0,134
0,033
0
Murni Perkasa Medan Tahun 2001 - Tahun 2003
Sumber : PT. Karya Mumi
Medar (diolah)
38
Dari Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa pemakaian bahan baku lebih banyak
dibandingkan dengan produk hasil
jadi
hotmix yang
di hasilkan, meskipun pada bulan
tertentu seperti bulan Agustus dan Desember pada tahun 2001, bulan Mei dan
Desember pada tahun 2003 selisih pemakaian bahan baku adalah nol yang berarti
pada pada bulan
-
bulan tersebut tidak tcrdapat pemborosan pemakaian
bahan baku,
namun secara keseluruhan seperti
yang
ada pada Tabel 5 bahwa pemakaian
bahan
baku iebih banyak dibandingkan dengan produk yang
di hasilkan, sehingga
menyebabkan terjadinya pembbrosan pemakaian
bahan baku yaitu sebesar 681 ton
atau 0,125 7o. Dimana hal ini akan mengakibatkan pemborosan
dana sebesar :
681 x Rp. 320.166 = Rp. 218.033.046,-
Berdasarkan perbandingan
antara pemakaian bahan baku dengan produk hasil
jadi
hotrnix ini terlilrat bahwa dalam tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 perusahaan
masih belum menggunakan pemakaian persediaan
bahan baku dengan baik. I{al im
dapat di lihat dari besamya selisih yang
terjadi. Dalam hal ini sering terjadi bahwa
kebutuhan bahan baku yang di tentukan terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga
menyulitkan pihak perusahaan
dalam mengawasi persediaan bahan baku hotrnix.
Dalam hal ini, sebaiknya perusahaan
mengambil suatu kebijakan tlalam
penefltuan kebutuhan bahan baku, sehingga selisih yang
te{iadi tidak terlalu besar.
Hal ini akan memudahkan perusahaan dalam mengendalikan persediaan
bahan
bakunya.
39
4.2.2. Perhitungan dengan Regresi Linier Sederhana
Selanjutnya untuk mengetahui trend besarnya kebutuhan bahan baku dan
produksi
hasil
jadi
hotmix untuk beberapa tahun kedepan penulis menggunakan regrsi
linier sederhana. Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
trend
besarnya kebutuhan bahan baku dan produksi
hasil
jadi
hotmix, penulis
menggunakan dua variabel yaitu
tingkat pemakaian
bahan baku / produksi
hasil
-iadi
hofinix sebagai variabel Y dan
prediksi
waktu sebagai variable X.
Pada Tabel 6 disajikan data yang digurakan untuk mengetahui nilai a dan b
dari persamaan
regresi linier sederhana. Dalam hal ini peneliti
menganalisis
berdasarkan pemakaian
bahan baku utama dalam produksi
hotmix. Berikut ini adalah
data mengenai pemakaian
bahan baku utama :
40
Tabel 6. Analisis Pemakaian Bahan-Baku Pada PT. Karya Mumi
perkasa
Medan
Tahun 2001 - Tahun 2003
2001 Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
AguBtus
September
Oktober
Nopember
Desember
15.399
l5.2 to
15.306
15.302
15.271
15.266
15.277
15.306
I5.289
15,276
15.27 t
t5 283
-35
-33
-31
-29
-11
_ts
-23
-21
-19
-17
-15
-lJ
.s38.965
-503.0i0
474.486
443.758
-412.317
-38r.650
-351.371
-321.426
-29Q.491
-259.692
-229.065
- 198.679
1.225
1.089
96t
841
729
529
441
361
289
225
169
2002
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
15.249
15,3A
t5.242
15.209
15.241
1s.235
15.265
t5.2"13
15.305
l5.3E I
15.329
15.3 69
,11
-9
-'l
-5
-1
I
3
5
7
9
1l
167 .739
138.078
106.694
-76.M5
-45.723
-ls.235
ts.265
45.819
76.525
r07.66'1
137.961
169.059
t2t
81
49
25
I
I
9
25
49
8l
t21
2003 Januui
Pebruari
Marst
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Seprernber
Oktober
Nopember
Desember
15.091
14.950
15.000
14.996
14.966
t4.961
14.986
l5.000
14.983
M.974
14.966
t4 917
t3
l5
17
'19
2I
25
27
29
3l
33
35
196.183
224.250
255.000
284.924
314.286
344.103
374.650
405.000
434.507
464.070
493.548
524.195
169
225
2E9
361
441
529
625
729
E4l
961
L089
|.275
Junlah(I
)
546.802
0 -88.3 r2
1 5.540
4t
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat hal-hal sebagai bedkut :
fr
= 546.802
l.rz
:
-as.:rz
lx':ts.s+2
Berdasarkan data yang diperoleh diatas dapat dihitung nilalnilai variabel a
dan variabel b serta besamya pemakaian
bahan baku untuk beberapa tahun yang
akan
datang.
Maka:
^-
*'rii!uo'
:
rs.188,e
= 15.189 ( pembulatan
)
r=
-.8-8=112:-s,z
15.540
Persamasn regresi linier
sederhana bagi pemakaian
bahan baku untuk tahun
2001 sampai dengantahun 2003 adalah
y
= 15.189 -5,7.X.
Kemudian pada
Tabel 7 disajikan data yang
digunakan untuk mengetahui
nilai a dan b dari persamaan
regresi linier sederhana. Dalam hal ini penulis
menganalisis berdasarkan produksi
hasil
jadi
hotmix. Berikut ini adalah data
mengenai produksi
hasil
jadi
hotrnix :
42
Tabel 7. Analisis Produksi
Hasil Jadi Hotmix
pada pr.
Karya Murni
perkasa
Medan
Tahun 2001 - Tahun 2003
.*
|
,'
.i"'.:.,..,'.
,
,:P1e.iffii,: :
'
1 .
(Y),
:
I
2001
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Jdi
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
15.3 76
t5.265
t5.294
l5.285
15 .27 |
15.256
15.277
't5.245
15.757
15.255
t5.266
15.283
-35
.33
-31
-29
-25
-23
-21
'19
,t"t
-15
-13
-538.160
-s03.877
-474.t
t4
443.265
412.317
-381.400
-351.371
-320.145
-289.883
-259.335
-228.990
-198.679
1 )1<
t.089
961
841
729
625
529
M1
361
289
??(
169
2002 Jonuari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Austus
September
Oktober
Nopember
Desember
t5.248
15.306
ts.224
15. t 61
t 5.296
15.23E
t5.246
15.266
r5.288
15.317
15.256
15 .27 S
-ll
-9
-7
-5
-3
-l
I
3
5
7
9
ll
-167.728
-137.754
- 106.568
-75.805
-4s.888
,15.238
t5.246
45.'t98
76.440
101 .219
t37.3M
r6E.025
12r
81
49
25
9
I
I
9
25
49
8l
t21
2003 Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Okober
Nopember
Desember
15.068
14.963
r 4.988
14.979
14. s66
i4.951
14.971
l4.94A
t4.9s2
14.950
14.961
14.9'17
l3
l5
t'1
21
23
25
27
29
31
.tJ
35
195 884
224.445
254.796
284.601
314.286
343.873
374.27 5
403.380
433.608
.+o1.450
493.713
524.t95
169
225
289
36t
441
529
625
'729
841
961
L0E9
1.225
Jurtah(I
)
546.121
0
-89,979 r 5.540
: PT. Kafya Perkasa
43
Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat hal-hal sebagai berikut :
lr
=s+o.rzt
.
lxr:
-8e.eze
!x,
- rs.s+o
Dari data yang
di peroleh
maka dapat di hitung nilai-nilai variabel
a dan
variabel
b serta besamya produksi
hasi
jadi
hornix untuk beberapa tahun yang
akan
datang.
Maka:
546.t21
36
.
-89.979
b=
'- '=-5,8
1s.540
Persamaan regresi linier sederhala bagi produksi
hasil jadi
hotmix untuk
tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 adalah
y :
15.170
_
5,g.X.
Dari analisis pemakaian
bahan baku dan anarisis produksi
hasil
jadi
hotonix
dapat di gambarkan graflk
sebagai berikut :
44
Gambar 1. Grafik Regresi
pemakaian
Bahan Baku dan Barang
Jadi Hotmix
15.190
15.189
15. I 80
15.170
15.000
ll
24
36
rr'altu ( bulan
)
Dari grafik
diatas dapat diambil
suatu kesimpulan yaitu
: pemakaian
bahan
baku lebih besar dari produksi
hasil
jadi
hotmix. Hasir perhitungan
dapat dijadikan
perusahaan
menjadi pedoman
untuk memprediksi pemakaian
bahan baku dan
produksi
hasil
jadi
hotmix untuk beberapa tahun kedepan
36
irallu ( bulan
)
45
Berdasarkan
Tabel 6 dan Tabel 7 di atas, maka hubungan pemakaian
bahan
baku dan tingkat produksi
hotmix pada
pr.
Karya Murni
perkasa
Medan
selama
tahun
2001 sampai
dengan tahun 2003 adalah sebagai
berikut :
Y
:
s46.802
x
:
546.121
Yt
:
8.306.170.292
X2
= 8.286.421.M1
x.Y
:
8.295.760
009
Berdasarkan
data yang
<liperoleh
diatas
maka dapat dihitung
nilai-nilai
variabel
a dan variabel
b serta besarnya pemakaian
bahan baku yang
seharusnya.
selisih
antara pemakaian
bahan baku seharusnya
dengan
bahan baku dipakai
adarah
merupakan penghematan
atau pemborosan.
Maka:
a
_
(546.802)
(8.236.42
L34l) - (8.295.760.009)
(546.
l2l
)
36 (8.286.421.841) _
453 1032036000000
- 453048875?000000
2983 I I I 86300 -
298248146600
_
543.284.000.000
63.039.700
=
8.618,12 (pembulatan)
=
8.618
46
r
-
36
(8
295.760 009) - (546.
l2 I
)
(546.502\
36(8.286.42r.841)_
(546.r2D2
298647 360300 -
298620055000
2983 I r I 86300 - 2982481 46600
_
27.305.300
63.039.700
=
0.43314451
Persamaan
regresi
linier sederhana bagi pemakaian
bahan baku untuk tahun
2001 sampai dengan
tahun 2003 adalah
y : g.618
+
0.43314451
. Berdasarkan
persamaan
diatas dapat
dihitung
jumlah
pemakaian
bahan baku yang
seharusnya /
ekonomis
sebagai berikut :
Tahun2001
Januari
8618+0.433f4451(15.376)
=15.Z78ton
Ppbruari
8618 +
0.43314451 (15.269)
= 15.231,7
ton
Meet
8618 +
0.43314451 (15.294)
= 15.242,5 ton
April
8618 +
0.43314451 (15.285)
= t5.238,6
ton
Mei
86lB +
0.4331445 1 (t5.2:t)
= 15.232,5
ton
Juni
8618 +
0.43314451 (15.256)
= 15.226
ion
Juli
8618 +
0.4331445
1 (15.277)
= 15.235
ron
Agustus
8618 +
0.43314451
(15.245)
= 15.221 ron
september
86t8 +
0.4331445 1
{t5.257) = 15.226,5
ton
oktober 86r8 +
0.43314451 (t5.255)
=
15.225,6
ton
Nopember
8618 +
0.43314451 (15.266)
= 15.230,4
ton
Desember
8618 +
0.43314451
(15.233)
= 15.237.7
to\
47
Tahun 2002 Januari
Pebruari
Maret
April
Msi
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desernber
Tahun 2003 Januari
Pebruari
Mara
Apnl
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopernber
Desember
8618 + 0.43314451 (15.248)
= 15.222,6
ton
86r8 +
0.433144s1 (15.306)
8618 +
0.4331445t (15.224)
8618 + 0.433144s 1 (15.161)
8618 +
0.43314451 (15.296)
8618 +
0.43314451 (1J.238)
8618 +
0.4331445 t (15.246)
8618 +
0.43314451 (15.266)
8618 +
0.433144s1 ( 15.288)
8618 +
0.43314451 (15.317)
8618 +
0.43314451 (15.256)
8618 +
0.43314451 (15.275)
8618 + 0.43314451 ( I J.06S)
86r8 +
0.43314451 (r5.963)
8618 + 0.43314451 (15.98S)
8618 +
0.4331,+451 (15.979)
8618 +
0.433 1,t451 (15.966)
8618
+
0.43314451 (15.95t)
8618 +
0.433144s
t (15.971)
8618 + 0.43314451 (15.940)
8618 +
0.43314451 (15.952)
8618 + 0.43314451 (15.950)
8618
+
6.43314451 (15.961)
86r8 +
0.433t445 | (15.977)
= 15.247,7 ton
= 15.212,2 ton
= 15.184,5 ton
= 15.243,4 ton
= 15.218,3 ton
= 15 .221,7 ton
=
15.230,4 ton
= l5-239,9
ton
:
15.252,5 ton
= L5.226 ton
= 15.234,3 ton
:
15.144,6
ton
=
15.099,1
ton
= 15.109,9 ton
= 15.106,1 ton
= 15.100,4
ton
= 15.093,9
ton
= 15.102,6 ton
= 15.089,2
ton
= 15.094,4
ton
:
| 5.093,5 ton
=
l5.098,3
ton
= 15.105,2 ton
Tabel 8 berikut akan menggambarkan
analisis pemakaian
bahan baku untuk
produksi, penghematan
dan pemborosan
serama
tahun 200r sampai dengan
tahun
2003:
48
Tabel 8Jnalis;is Pemakaian
Bahan Baku Tahun 2001
-
Tahun 2003
ton)
dalam
Tahu{ '
'i
ilB$lat I '
':.:::
)otossn
2001 Januari
Pebnrari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Noponber
Desember
s.278
15.231,7
15.242,5
15.238,6
t5.232,5
15.226
15.735
15.221
t5.226,5
ts.225,6
15.230,4
ls.237,7
r s.399
1s.255
15.306
t5.302
15.27 t
15.266
15.292
15.306
15.299
t5.276
15.26t
1s.283
-1)
t
-233
-63,5
-63,4
-38,5
-40
-)l
-85
-1'
\
-50,4
-30,6
-45,3
2002 Jamrari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Spternber
Oktober
Nopember
Desembor
15.222,6
15.247,7
t5.212,2
r5.184,5
15.243,4
I5.218,3
15.221,7
15.230,4
lst?qo
15.252,s
15.226
15.234,3
1s.249
ts.242
15.z4Z
15.209
l5.z4t
15.235
15.265
15.273
15.305
15.381
15.329
15.469
-26,4
-29,8
-24,5
2,5
-16,7
-43,3
42,6
-65.1
-128,5
-103
-234,7
2003 Januari
Pebruari
Maet
15.144,6
15.099,1
15.109,9
1s.091
14.950
15.000
s3,6
149,1
109.1
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septomber
Oktober
Nopember
Deserhber
r5.106,1
15.100,4
15.093,9
15.102,6
15.089,2
15.094,4
l5.093,5
r 5.098,3
15.105,2
14.996
14.966
14.961
14.986
14.000
14.993
14.970
14.956
14.977
-889,9
134,4
t32,9
116,6
89,2
r 01,4
123,5
142,3
128,2
Sumber:
Jumlah
545.795,4
346,802 .1006,6
PT. Karya Mumi
pe*a;Ma;,
(dfi;t
Secara keselunrhan
dari tahun 2001
sampai
dengan tahun
2003
pT.
Karya
Mumi perkasa
Medan pemborosan
delam pmakaian
bahan
baku yaitu
sekitar 1006,6
ton. Dimana
hal ini akan mengakibatkan
pemborosan
dana sebesar
1006,6
x
Rp.320.
166
:
Rp. 322.279.096,_
Berdasarkan
anarisis regresi linier
sederhana
ini terlihat
bahwa dalam
tahun
2001
sampai dengan
tahun 2003 perusahaan
masih
belum menggunakan
pemakaian
persediaan
bahan
baku dengan
baik. Hal ini dapat dilihat
dari penyimpangan
yang
terjadi
Dalam
hal ini serting te{a<li
bahwa
kebutuhan
bahan baku yang
ditsntukan
terlalu
besar ataupun terlaru
kecil
sehingga
menlrlitkan
pihak perusahaan
dalam
mengawasi
persediaan
bahan baku hotmix_
Dalam
hal ini menwut penulis
sebaiknya perusahaan
mengambil
suatu
kebijakan
dalam penentuan
kebutuhan
bahan
baku,
sehingga
penyrmpangan
yahg
teg'adi
tidak
terlalu
besar.
Hal ini akan
memudahkan
perusahaan
dalam
50
mengendalikan persediaan
bahan bakunya.
perusahaan
perlu
menempkan persediaan
pengaman
yaifu
sebesar a = 8618 ton
4. 2. 3. Penggunaan
Rumus Economic Order
euantity
(trOe)
Pengendalian persediaan
bahan baku yang
dilaksanakan
pT.
Karya Mumi
Perkasa Medan masih terlihat kurang tepat, sehingga dapat mengganggu
kelancaran
proses produksi.
Berdasarkan
hal tersebut maka penulis penggunakan
rumus EoQ
untuk membahas cara pemesanan
yang
ekonomis dalam jumlahnya. penggunaan
EoQ pada
analisis ini dimaksudkan
untuk menentukan jumlah
pesanan
bahan
baku
yang
ekonomis agar target produksi
dapat tercapai secara efektif dan efisien.
1. EOQunruktahun200l:
Berdasarkan persamaan
EOe dapat dirumuskan:
N=
dimana:
;
atau
A =
jumlah
kebutuhan
bahan baku
P = biaya pemesanan per pesarurn
R = harga bahan per
unit
C = biaya penyimpanan
digudang
Dari penelitian yang
dilakukan pada
pT.
Karya Murni
perkasa
diketahui data-data pembelian
bahan baku adalah sebagai
berikut:
*:-@
\ C /ton
Medan
2AP
RC
51
-
Jumlah kebutuhan bahan baku (A) pada tahun 200r adalah sebesar 1g3.516 ton.
-
Biaya pemesanan (P)
adalah sebesar Rp.76.094.598,-
-
Biaya penyimpanan
digudang (C) adalah Rp. 49.966,672,-
Dengan demikian EOQ
dapat dihitung:
Tahun200l
:N:
=
1G6oi?6sr7j
:
23.665,9ton
- 23.666
ton (pembulatan)
Frekuensi pemesanan yang
ekonomis sebanyak
_
183.516
23.666
:7,75kati
:
I kali (pembulatan)
Total biaya dari pemesanan
sebanyak (23.666)
TC
:
TOC+TIC
roc
:4!
N
20 83.5 16X4p.76,0e4.
598)
27 .929.1s2.490.000
23.666
52
:
Rp.590.072.330,-
TIC
_
NCff
2
-
(3 t 1.666,7\0
J9I23.666)
:
Rp.590.072.329,8,-
= Rp.590.072.330,_
(pembulatan)
TC
=Toc+TIC
= Rp.590.072.330 *
Rp.590.072.330
:
Rp.1.180.144.660,-
Berdasarkan
hasil perhitungan
di atas memperrihatkan
bahwa
cara pemberian
yang paling
ekonomis
ialah pembelian
bahan
baku sebanyak
23.666
tonsetiap
kari
pesan'
ini
berarti
bahwa
kebutuhan
bahan baku
sebanyak
lg3.516
ton selama
satu
tahun
akan
dipenuhi
dengan
g
kali pesan
sebanyak
23.666
tonsekali pesan,
sebab
pada jumrah
pesanan
in'ah
tercapai
biaya pemberian
yang
minimar yaitu
sebesar
Rp.1. 180.144.660,-
2, EOQ untuktahun2002
-
Jumlah
kebutuhan
bahan baku (A) pada
tahun
2002
adalah
sebesar
I
g3.440
ton.
-. Biaya pemesanan
(p)
adalah
sebesar
Rp.7g.023.222,-
-
Biaya penyimpanan
digudang
(C)
adalah Rp.58.066,56,-
Dengan
demikian
EOe
dapat
dihitung
:
53
Tahun2oo2 *-- @1214
I 4p.58.066.56
28.625. 159.690 000
58.066,56
:,t4er.ntsw
:
22.202,9
:
22.203 ton (pembulatan).
Frekuensi pemesanan
yang
ekonomis sebanyak
183 440
22.2A3
= 8,26 kali
= 8 kali (pembulatan)
Total biaya dari pemesanan
sebanyak (22.203
ton)
TC=TOC+TIC
AP
:
Rp.644.625,915,6,-
= Rp.644.625.91
6,- (pembulatan)
22.203
TIC
)
(322 5 e2)(0,t 6)(22.203)
2
= Rp.644.625.915,8,-
:
Rp.644.625.916,- (pembulatan)
TC =TOC+TIC
= Rp.644.625.916 +
Rp.644.625.916
-
Rp.1.289.251.832,-
cara pembelian
yang
ekonomis berdasarkan
hasil di atas iarah pembelian
bahan baku sebanyak 22.20i ton setiap kari pesan,
dimana dari data tersebut
menuljukkan bahwa kebutuhan
bahan baku sebanyak rg3.440 ton selama satu tahun
akan dipenuhi dengan 8 kari pesonan
sebanyak 22.203 ron setiap kali pesan,
sebab
pada jumlah
tersebut akan tercapai
biaya pembelian
yang
minimal yaitu
sebesar
Rp. 1.289.251.832,-
3. EOQuntuktahun2003
-
Jumlah kebutuhan
bahan baku (A) pada
tahun 2003 adalah sebesar 129.g46
ton
-
Biaya pemesanan
(P)
adalah sebesar Rp.26.649.g60,_
-
Biaya penyimpanan
digudang (C)
adalah Rp.65.262,58,-
Dengan dernikian EOe
dapat dihitung:
55
Tahun2003
":
/@
\
Rp.6s.267,58
= ,,1422.42a.$7,8
:20.552,8
ron
= 20.553 ton (pembelian)
Frekuensi pemesanan yang
ekonomis
sebanyak
179.846
20.553
:8,75
kali
= 9 kali (pembulatan)
Total biaya dari pemesanan
sebanyak (20.553
ton)
TC
= TOC+TIC
l{
*
(t7 e.846NRp.7
6.649.860)
20.553
=Fip.670.722.286,4,-
-
RCt/
2
27 570.341.440.000
6s 267,58
56
:
Rp.670.722,285,9,-
= Rp. 67 0.'1 22.286,- (pembularan)
TC
:TOC+TIC
:
Rp.670.722286 +
Rp.670.122.286
:
Rp.1.341.444.572,-
Dari perhitungan
di atas diperoleh bahwa cara pembeiian yang paling
ekonomis ialah pembelian
bahan sebanyak 20.553 ton setiap kali pesan, ini berarti
bahwa kebutuhan bahan baku sebanyak 179.846 selama satu tahun akan dipenuhi
dengan 9 kali pesanan
sebanyak 20.553 ton sekali pesan,
sebab pada jumrah
pesanan
ini masih memiliki
biaya yang paling minimal
bila dibanding
dengan cara pemesanan
yang
dilakukan oleh perusahaan
yaitu l l-12 kali pesanan
selama satu tahun.
Perlu diketahui bahwa perusahaan
melakukan pemesanan
sebanyak 12 kali
untuk tahun 2001 dengan total biaya sebesar Rp.2.430.240.000,-
sedangkan untuk
tahun 2002 pemesanan
dilakukan sebanyak 12 kali dengan totar biaya
Rp.2 502.340.000,' dan 11 kali untuk tahun 2003 dengan biaya Rp.2.349.840.000,-
dimana pemesanan
dilakukan
setiap 33 hari. sedangkan
menurut rumusan Eoe,
perusahaan
seharusnya melakukan pemesanan
sebanyak
g
kali dengan total biaya
RP.1'180.144.660,-
dimana pemesanan
dilakukan setiap 45 hari untuk taahun 2001,
sedangkan pada
tahun 2002 pemesanan juga
dirakukan
sebanyak
g
kaii dengan total
biaya Rp. 1.289.251.832,'
dimana pemesanan
dirakukan setiap 45 hari, dan pada
tahun
2003 pemesanan
dilakukan sebanyak 9 kali dengan totar biaya ]Rp.r .34r .444.572,-
dimana pemesanan
dilakukan setiap 40 hari.
57
Dari hasil analisis yang dilakukan, yaitu pada tahun 2001 sampai dengan 2003
perusahaan
menghadapi permasalahan
dimana penggunaan
bahan baku cenderung
selalu lebih besar dari output (hotmix) yang dihasilkan. Dimana hal ini menyebabkan
perusahaan
akan mengalami pemborosan
dalam hal pemakaian
bahan baku yang
berarti
juga
pemborosan
dalam hal pengeluaraan
biaya. Hal ini dapat dilihat, dimana
pada
tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 selisih penggunaan
bahan baku
cenderung selalu lebih besar dari output (hotmix) yang
dihasiikan yang disebabkan
karena belum diterapkannya metode pengendalian persediaan
yang tepat yang
dapat
menekan biaya dalam
jumlah
pemesanan yang
ekonomis. Hal ini dapat ditihat dari
EoQ yang
seharusnya 8
-
9 kali pernesanan,
sementara perusahaan
melakukan r 1-12
kali pemesanan.
Perbedaan jumlah
pemesanan
inilah yang menyebabkan penggunaan
bahan baku cenderung selalu lebih besar dari output (hotmix)
yang dihasirkan.
58
V. IGSIMPULAN DAN SARAN
5. l. Kesimpulan
Berdasarkan hal
gngajian
lxrytesk
fW
dilakukan terhadap permasalafran
pengendalian persediaan
bahan baku pada PT. Karya Mumi
perkasa
Medan dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. PT. Karya Mumi Perkasa belum menyelenggarakan
suatu sistem pengendalian
persediaan yang
tepat yang dapat menekan
biaya dalam
jumlah
pemesanan
yang
ekonomis.
2. Dalam menetapkan kebutuhan bahan baku,
pr.
Karya Mumi
perkasa
Medan
belum mempunyai
dasar perhitungan
teftentu
sehingga sering terjadi selisih yang
cukup besar antara pemakaian
bahan baku dengan hasil produksi.
3. Sistem pengawasan
persediaan
merupakan
serangkaian
kebdaksanaan yang perlu
dilaksanakan oleh perusahaan
untuk mengendalikan
tingkat persediaan
yang
harus dijaga bila persediaan
akan diisi kembali.
4. PT. Karya Murni perkasa
belum dapat menekan biaya persediaan
mengingat
frekuensi pemesanan yang
cukup tinggi untuk pengadaan persediaan
tersebut.
5.2. Saran
setelah memperhatikan
kesimpulan yang
dibua! maka dikemukakan
beberapa
saran
-. saran sebagai berikut :
59
L Dalam rangka pengendalian
kebuhrhan
bahan baku sebaiknya perusahaan
melakrkan
berdasarkan jumlah
pesanan
yang
ekonomis,
sehingga
dapat
mengantisipasi
fluktuasi
kebutuhan
bahan
baku untuk proses produksi
yang
rebih
aman.
Perusahaan
dianjurkan
untuk menerapkan
formula
economic
order quantity
(EOQ)
agar biaya- biaya yang
dikeluarkan
lebih
ekonomis.
Perusahaan
hendaknya
dapat menerapkan
sistem perencanaan
dan pengendalian
bahan baku yang
baik sebelum
dilakukannya proses
produksi.
Perusahan
sebaiknya
mengurangi
frekuensi pemesanan,
misalnya
dari ll_12
kali
ftenjadi
8-9
kali daram se'uhun.
Hal ini di maksudkan
agar perusahaan
dapat
menghemat
biaya yang
dikeruarkan
untuk pengadaan
bahan
baku tersebut.
4.
DAFTARPUSTAKA
Assauri, So{an, 1993, Manajemen Produksi dau Operasi, Edisi Keempat,
lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Handoko, T. Hani, 1999, Dasar
-
Dasar Manajamen Produksi dan Operasi, Edisi
Pertama, Cetakan Keduabelas, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Pardede, Pontas, 2003, Manajemen Produksi dan Operasi Teorl, Model dnn
Kasus, Edisi Keenam, Cetakan Kedelapan, Penerbit Fakultas tskonomi
Universitas HKBP Nomensen, Medan.
Prawirosentono, Sujadi, 2001, Manajemen Produksi, Edisi Ketiga, Cetakan
Pertama, Bumi Aksara, Jakarta.
Riyanto, Bambang, 1996, Dasar
-
Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi
Keempat, Cetakan Kedua, Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Sumayang, Lalu, 2003, Dasar
-
Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi
Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Usry, Milton F. and Hammer, Lawrence H, 1995, Akuntansi Biaya Perencanaan
dan Pengendalian, terjemahan Herman Wibowo, Edisi Kesepuluh,
Cetakan Kedua, Jilid Satu, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Weber, Jean E, 1999, Analisa Matematiks Penernpan Bisnis dan Ekonomi, Edisi
Keempat, Jilid Satu, Cetakan Kedelapan, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Weston, J. Fre4 and Brigham, F. Eugene, 1999, Dasar
-
Dasar Manajemen
Keuangan, Alih Bahasa Altbnsus, Edisi Kesembilan, Jilid Satu, Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai