Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

Lumpuh Layu Akut atau Acute Flaccid Paralysis (AFP)


Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Proesi Dokter !tase "lmu Penyakit Anak
Fakultas #edokteran $ni%ersitas Muhammadiyah !urakarta
Pem&im&ing '
dr. A. Septiarko, Sp. A
dr. Hj. Elief Rohana, Sp.A, M.Kes
Diajukan (leh '
Aulia Luthfi Kusuma, S.Ked
J5000005!
FA#$LTA! #ED(#TERA)
$)"*ER!"TA! M$+AMMAD",A+ !$RA#ARTA
-./0

"A" #
$E%&AH'L'A%
A1 Latar 2elakang
'pa(a mem)e)askan indonesia dari pen(akit polio, pemerintah telah
melaksanakan pro*ram eradikasi polio (an* terdiri dari pem)erian imunisasi rutin
pada )alita, dan sur+eilans accute flaccid paralysis ,A-$.. Sur+eilans A-$
merupakan pen*amatan terhadap kelumpuhan (an* terjadi mendadak, dan )ersifat
fla//id ,la(u..
Lumpuh la(u akut atau acute flaccid paralysis ,A-$., didefinisikan se)a*ai
kelumpuhan (an* )ersifat lemas pada anak usia di )a0ah 5 tahun, terjadi mendadak
dalam 0aktu 1 hari, )ukan karena rudapaksa atau trauma.
$enderita kelumpuhan A-$ diperkirakan 2 diantara anak usia 3 5 tahun. 4ar*et
minimal penemuan penderita A-$ pada tahun 202 se)an(ak 52 penderita. &i ja0a
ten*ah menururut data pada tahun 202 menemukan !6 penderita A-$, data ini
mem)uktikan )ah0a terjadi penurunan penderita di)andin*an pada tahun 20 ,25
oran*.. Menurut hasil pemeriksaan la)oratorium, dari !6 kasus (an* diperiksa
semua menunjukan ne*atif polio ,)erarti tidak ditemukan +irus polio..
2
7am)ar. ,An*ka $enemuan Kasus A-$ $ro+insi Ja0a 4en*ah 20089202.
21 Tujuan
4ulisan ini akan mem)ahas definisi, epidemiolo*i, etiolo*i, pato*enesis,
manifestasi klinis serta penatalaksanaan lumpuh la(u akut atau a/ute fla//id paral(sis
,A-$..
31 Manaat
4ulisan ini diharapkam dapat menjadi salah satu sum)er informasi )aik )a*i
:
tena*a kesehatan ataupun mas(arakat men*enai lumpuh la(u akut atau A-$ ( acute
flaccid paralysis).
2A2 ""
T")4A$A) P$!TA#A
A1 Deinisi
Lumpuh la(u akut atau acute flaccid paralysis ,A-$. didefinisikan se)a*ai
kelumpuhan (an* terjadi se/ara akut )ersifat lemas ,flaccid.. #stilah fla//id
1
menunjukan kelumpuhan Lower Motor Neuron ,LM%., men*enai pada final
common path, motor end plate dan otot (aitu pada otot, s(araf, neuromuscular
junction, medulla spinalis dan kornu anterior. Kelumpuhan ini tidak menunjukan
adan(a tanda *an**uan spastisitas seperti pada *an**uan susunan s(araf pusat (an*
lain misaln(a hiperreflek, klonus, atau respon ekstensor pada plantar. $ada *ejala
klinis menunjukan kelumpuhan (an* tim)ul den*an /epat termasuk kelemahan otot9
otot pernafasan dan otot menelan. "erkem)an* le)ih /epat dalam )e)erapa hari
sampai min**u.
Acute flaccid paralysis ,A-$. kelumpuhan (an* terjadi fokal, )iasan(a
men*enai usia di)a0ah 5 tahun, terjadi mendadak dalam 0aktu 91 hari,)ukan
dise)a)kan karena rudapaksa atau trauma.
21 Epidemiologi
$enderita kelumpuhan A-$ diperkirakan 2 diantara anak usia 3 5 tahun. 4ar*et
minimal penemuan penderita A-$ pada tahun 202 se)an(ak 52 penderita. &i ja0a
ten*ah menururut data pada tahu) 202 menemukan !6 penderita A-$, data ini
mem)uktikan )ah0a terjadi penurunan penderita di)andin*an pada tahun 20 ,25
oran*.. Menurut hasil pemeriksaan la)oratorium, dari !6 kasus (an* diperiksa
semua menunjukan ne*atif polio ,)erarti tidak ditemukan +irus polio..
31 Etiologi
$en(e)a) utama lumpuh la(u akut adalah +irus. $en(e)a) terserin* adalah +irus
polio dan 7"S ,7uillane "are S(ndrom.. $en(e)a) lain terjadin(a lumpuh la(u akut
atau A-$ adalah mumps +irus ,*ondon*an., epstein9"arr +irus, Humam
#mmunodefi/ien/( +irus ,H#;., dan <est %eile+irus.
D1 Patogenesis
Susunan saraf manusia ter)a*i menjadi dua, (aitu susunan s(araf pusat atau
upper motor neuron='M% , dari )atan* otak hin**a sumsum tulan*
)elakan*=medula spinalis (an* dise)ut den*an jaras kortikospinal., dan susunan
s(araf tepi atau lower motor neuron= LM% ,dari kornu anterior sampai
5
otot..Kelumpuhan tipe LM% mempun(ai /iri9/iri fla/id, atoni, atrofi, fasikulasi,
reflek fisiolo*is menurun tapi tidak ditemukan reflek patolo*is.
Lo5er Motor )euron (LM)) $pper Motor )euron ($M))
fla//id Spasti/it(,kaku.
Reflek fisiolo*is menurun=hilan* Reflek fisiolo*is menin*kat
Reflek patolo*is ne*atif Reflek patolo*is positif
$en*e/ilan otot 4idak ada pen*e/ilan otot ke/uali sudah
lama
E1 Maniestasi #linis
7ejala klinis pada A-$ atau lumpuh la(u akut adalah mun/uln(a kelumpuhan
(an* mendadak, *an**uan *a(a )erjalana, kelemahan atau *an**uan koordinasi dari
satu atau )e)erapa an**ota *erak tu)uh, lesi (an* tim)ul )erkaitan den*n LM%
,Lo0er Motor %euron.. Lesi pada LM% dapat men*enai kornu anterior
,$oliomeilitis, atrofi otot., radiks, akson, mielin ,Sindrom 7uillain "are.,
neuromus/ular jun/tion atau pada otot dan s(araf ,Miastenia 7ra+is., ataupun
men*enai otot itu sendiri ,7am)ar.. Lesi terse)ut merusak motor neuron, akson,
motor end plate, dan otot skeletal sehin**a tidak terdapat *erakan atau ran*san*an
motorik (an* disampaikan ke motor neuron. Kelumpuhan terse)ut sesuai den*an
*ejala lo0er motor neuron (aitu >
. Hilan*n(a *erakan +oluntar dan reflektorik, sehin**a reflek tendon
hilan* dan reflek patolo*ik tidak mun/ul.
2. 4onus otot hilan*.
:. Musnahn(a motor neuron )eserta akson sehin**a satuan motorik hilan*
dan terjadi atrofi otot.
6
7am)ar.
4anda9tanda A-$ atau lumpuh la(u akut harus die+aluasi klinis se/ara len*kap
den*an pemeriksaan neurolo*is, pemeriksaan kekuatan motorik, reflek tendon,
fun*si s(araf /ranial, dan fun*si sensoris. $emeriksaan la)oratorium perlu dilakukan
untuk melihat laju sedimen sel darah merah dan pemeriksaan elektrofisiolo*i
diperlukan untuk kepentin*an dia*nosis dan pro*nosis dari pen(akit motor neuron.
F1 Pemeriksaan Penunjang
$ada pemeriksaan kelumpuhan, harus ditentukan derajat (grading) kelumpuhan.
Kekuatan motorik dinilai den*an skala 095>
Skala 5> kekuatan motorik normal, dapat )erjalan, )erlari, dan
5
se)a*ain(a, serta dapat menahan tahanan maksimal (an* di)erikan
pemeriksa.
Skala 1> dapat mela0an tahanan namun tidak maksimal, anak dapat
)erjalan dan )erlari namun tidak /epat dan mudah jatuh.
Skala :> anak dapat men*an*kat tun*kai namun tidak dapat mela0an
tahanan.
Skala 2> ekstremitas tidak dapat dian*kat namun masih dapat di*eser.
Skala > han(a terdapat kontraksi otot namun ektremitas tidak dapat
di*erakan.
Skala 0> tidak dapat di*erakan sama sekali dan tidak terdapat kontraksi
otot.
$ada )a(i atau )alita, derajat kekuatan motorik le)ih sulit ditentukan karena
)elum kooperatif. ?)ser+asi dan pemeriksaan perlu dilakukan le)ih teliti den*an
men*an*kat ektremitas, mela0an *ra+itasi, menilai tonus, melihat simetrisitas
*erakan. 'ntuk menilai kelemahan otot, anak dapat diminta duduk dilantai dan
kemudian )erdiri. Anak (an* tidak mampu lan*sun* )erdiri, atau )erdiri sam)il
meram)at pada kakin(a umumn(a menandakan kelemahan otot. #ni merupakan
*o0er si*n merupakan tanda distrofi muskular ,*am)ar 2..
8
7am)ar.2
@ara anak )erjalan atau )erdiri harus diperhatikan. Anak dapat diminta untuk
)erjalan jinjit atau jalan )ertumpu pada tumit. Anak (an* men*alami lesi LM% atau
masalah neuromuskular umumn(a tidak dapat jalan jinjit atau jalan den*an tumit.
&alam posisi terlentan* ditempat tidur, posisi seoran* )a(u (an* men*alami
lumpuh la(u akut terlihat seperti katak (frog leg posisition), den*an sedikit *erakan,
lutut men(entuh tempat tidur, hipotoni, dan tidak dapat mela0an *ra+itasi ,7am)ar
:..
7am)ar. :
!
61 Diagnosis 2anding
/1 Poliomielitis (#ornu Anterior)
&efinisi > $en(akit menular akut (an* dise)a)kan oleh infeksi +irus den*an
predileksi pada sel anterior medula spinalis den*an aki)at kelumpuhan dan atrofi
otot.
Etiolo*i> +irus poliomelitis merupakan *olon*an entero+irus. ;irus polio
memiliki masa inku)asi 59:5 hari.
$ato*enesis> +irus masuk melalui orofarin* masuk tra/tus di*esti+us, kelenjar
*etah )enin*, dan sistem retikuloendotel +irus )erkem)an*, tu)uh mem)entuk
anti)odi spesifik. "ila respon tu)uh /epat *ejala klinis (an* mun/ul rin*an.
Manifestasi klinis> lumpuh la(u asimetris ,monoparesis.. $ada fase a)ortif
pasien men*eluh demam, lemas, anoreksia, sakit kepala. $ada fase non9paralitik,
terdapat kekakuan leher dan penurunan reflek. -ase paralitik, kelumpuhan asimetris,
dapat men*enai s(araf otak, dan reflek men*hilan*.
4atalaksana> istirahat /ukup. -ase a)ortif , istirahat 5 hari, )ila tidak terdapat
*ejala dapat )erakti+itas., fase paralitik=non paralitik , istirahat mutlak 2 min**u,
perlu pen*a0asan (an* teliti karena tiap saat dapat terjadi paralisis pernafasan.
4erapi kasual tidak ada..
$ro*nosis> ter*antun* pada )eratn(a pen(akit. $ada )entuk paralitik )er*antun*
pada )a*ian (an* terkena. ?tot9otok (an* lumpuh tidak dapat pulih kem)ali dan
menunjukan flaccid.
-1 !indrom 6uillain 2are (Akar syara tepi)
&efinisi> sindrom akut (an* ditunjukkan oleh a0itan akut dari *ejala9*ejala
(an* men*enai s(araf perifer dan /ranial.
Etiolo*i> pen(e)a)n(a masih )elum diketahui den*an pasti dan masih menjadi
)ahan perde)atan. 4eori sekaran* ini ialah kelainan imuno)iolo*ik, )aik se/ara
primar( immune responsee maupun immune mediated pro/ess. "e)erpa kelainan
mun*kin infeksi +irus atau )akteri, +aksinasi, pem)edahan=anastesi, pen(akit
sistemik.
$ato*enesis> didu*a karena kelainan imun mele0ati mekaisme limfosit mediated
0
dela(ed h(persensit( atau le0at anti)od( mediated. "an(ak ahli men(impulkan
karena kerusakan s(araf (an* terjadi karena mekanisme imunolo*i ,respon tu)uh
terhadap +irus atau )akteri..
Manifestasi klinis> demam, *an**uan motorik dan sensorik, kelumpuhan (an*
)ersifat simetris dan asendin*, mulai dari ekstremitas )a0ah naik keatas, sampai
tidak jaran* men(e)a)kan kelumpuhan otot pernafasan dan memerlukan pemasan*an
alat )antu nafas. Serin* ju*a terjadi *an**uan miksi, defekasi, dan *an**uan otonomi
lain seperti hipertensi.
4atalaksana> pen*o)atan )ersifat simtomatik. $en*o)atan pada 7"S (an* parah
dapat di)erikan #muno*lo)ulin #; atau *ama*lo)ulin dapat memper/epat
pen(em)uhan. &osis pada de0asa dapat di)erikan 0,1k*=k*=hari selama 5 hari,
sepanjan* perjalanan pen(akit, )ila pasien )ertahan, kelumpuhan tetap )ersifat la(u
karena lesi men*eni akson dan mielin.
$ro*nosis> 60980A penderita dapat sem)uh sempurna dalam 0aktu 6 )ulan.
Se)a*ian ke/il 5922A sem)uh dalam 0aktu 2 )ulan.
71 Miastenia gra%is ()euromuscular junction)
&efinisi> suatu kelainan autoimun (an* ditandai suatu kelemahan a)normal dan
pro*resif pada otot ran*ka (an* diper*unakan se/ara terus9menerus disertai den*an
kelelahan saat )eraktifitas. 7an**uan ini terjadi dari s(napti/ transmission atau pada
neuromuscular juction.
$ato*enesis> mekanisme imuno*enik meme*an* peranada reseptor (an* pentin*.
?)ser+asi klinis (an* mendukun* men/akup tim)uln(a kelainan autoimun misaln(a
autoimun tiroiditis, lupus eritematosus, arthritis rheumatoid. Anti)od( pada reseptor
nikotinik aseilkolin mereupakan pen(e)a) utama kelemahan otot pada pasien
miastenia *ra+is. Miastenia *ra+is dapat dikatakan se)a*ai B pen(akit (an* )erkaitan
den*an sel "B. &imana anti)od( merupakan produk sel " justru mela0an asetilkolin.
Manifestasi Klinis> mistenia *ra+is dikarakteristik melalui adan(a kelemahan
(an* )erfluktuatif pada otot ran*ka dan kelemahan otot akan menin*kat apa)ila
sedan* )eraktifitas. Kelemahan pada otot ekstraokular atau ptosis, kelumpuhan
ner+us okulomotorius (an* serin* menjadi keluhan utama miastenia *ra+is.,

kelemahan otot semakin lama semakin menin*kat , kelemahan otot akan men(e)ar
dari otot a/ular, otot 0ajah, otot leher, hin**a otot ekstremitas..
$ene*akan dia*nosis> penderita di minta untuk )erhitun* keras9keras lama
kelamaan akan terden*ar )ah0a suaran(a )ertam)ah lemah dan menjadi afonia,
penderita ditu*askan untuk men*edipkan mata se/ara terus9menerus lama kelamaan
akan ptosis.
Klasifikasi m(sthenia *ra+is>
Kelas #> adan(a kelemahan otot9otot okular, kelemahan pada saat menutup
mata, dan kekuatan otot lain normal.
Kelas ##> kelemahan otot okular (an* semakin parah, dan kelemahan pada
otot9otot lain.
Kelas ##a> mempen*aruhi otot aksial, an**ota tu)uh, atau keduan(a. &an
kelemahan otot orofarin*eal.
Kelas ##)> mempe*aruhi otot orofarin*eal, otot pernafasan, atau keduan(a.
Kelas ###> kelemahan )erat pada otot okular. Sedan*kan otot9otot lain
kelemahan sedan*.
Kelas ###a> mempen*aruhi otot9otot an**ota tu)uh, otot aksial, atau
keduan(a se/ara predominan.
Kelas ###)> mempe*aruhi otot orofarin*eal, otot pernafasan, atau keduan(a
se/ara predominan.
Kelas ;#> selain otot okuler optot9otot lain ju*a men*alami kelemahan
derajat )erat.
Kelas ;#a> otot orofarin*eal men*alami kelemahan derajat rin*an.
Kelas ;#)> men*alami kelemahan derajat rin*an dari semua otot9otot tu)uh.
Kelas ;> penderita terintu)asi, den*an atau tanpa +entilasi mekanik.
$emeriksaan penunjan*> 'ji tensilo, uji prosti*min, uji kinin.
$enatalaksanaan > Mempen*aruhi transmisi neuromuskular ,#stirahat, mem)lokir
peme/ahan A/h., mempen*aruhi proses imunolo*ik ,$lasma eC/han*e, inter+enosus
immuno*lo)ulin, kortikosteroid, imunosupresif, th(me/tom(.

01 Meilitis Trans%ersa (!umsum ulang &elakang)
2
&efinisi> suatu proses inflamasi akut (an* men*enai suatu area fokal di medula
spinalis den*an karakteristik klinis adan(a perkem)an*an )aik akut atau su) akut
dari tanda dan *ejala disfun*si neurolo*is pada saraf motorik, sensorik dan otonom
dan traktus saraf di medula spinalis.
Etiolo*i> tidak dapat menentukan se/ara pasti pen(e)a) mielitis trans+ersa.
#nflamasi (an* men(e)a)kan kerusakan (an* luas pada sera)ut saraf dari medula
spinalis dapat dise)a)kan oleh infeksi +iral, reaksi autoimun (an* a)normal atau
menurunn(a aliran darah melalui pem)uluh darah (an* terletak pada medulla
spinalis.
$ato*enesis> terjadi karena infeksi +irus seperti +ari/ella Doster, harpes simpleC.
;irus ini men(eran* se/ara autoimun.
Manifestasi klinis> men(eran* pada medula spinali se/ara mendadak, *ejala a0al
pasien men*eluh demam, )atuh9pilek, kelumpuhan simetri akut, terkadan*
men*alami *an**uan miksi dan defekasi.
$emeriksaan penunjan*> pemeriksaan a0al menunjukan reflek fisiolo*is atau
reflek patolo*is (an* menurun atau ne*atif, tetapi pada pemeriksaan lanjut dapat
ditemukan penin*katan reflek. $un*si lum)al dapat dilakukan pada mielitis
trans+ersa )iasan(a tidak didapati )lokade aliran likuor, pleoitosis moderat , antara
20 E 200 sel=mm: . terutama jenis limposit, protein sedikit menin**i , 50 E 20 m* =
00ml. dan kadar *lukosa norma. "er)eda den*an sindroma *ullain )arre dimana
dijumpai penin*katan kadar protein tanpa diertai pleositosis.
$enatalaksanaan> 4ujuan pen*o)atan pertama ditujukan untuk meredakan
respon immun (an* dise)a)kan oleh trauma medulla spinalis pem)erian
kartikosteroid selama 92 min**u atau den*an imuno*lo)ulin intra+ena. $em)erian
*lukokortikoid atau A@4H , )iasan(a di)erikan pada penderita (an* datan* den*an
*ejala a0itann(a sedan* )erlan*sun* dalam 0aktu 0 hari pertama atau )ila terjadi
pro*resi+itas defisit neurolo*ik. 7lukokortikoid dapat di)erikan dalam )entuk
prednisolon oral m* = k* )erat )adan = hari se)a*ai dosis tun**al selama 2 min**u
lalu se/ara )ertahap dan dihentikan setelah 5 hari.
$ro*nosis> $er)aikan dari mielitis tans+ersa )iasan(a dimulai antara 2 sampai 2
min**u dari onset *ejala dan mun*kin )erlan*sun* sampai 2 tahun. "a*aimanapun
:
)ila tidak ada per)aikan dalam : E 6 )ulan pertama, maka tidak dijumpai
pen(em)uhan (an* si*nifikan. Sekitar seperti*a dari oran* E oran* (an* terinfeksi
mielitis trans+ersa akan men*alami pen(em)uhan (an* sempurna dari *ejala
klinisn(a, mereka kem)ali dapat )erjalan normal dan *ejala (an* minimal pada
kandun* kemih,)uan* air )esar dan parastesia.
81 Miositis(otot)
&efinisi> peradan*an pada otot (an* dapat dise)a)kan oleh infeksi, /edera, o)at9
o)atan tertentu, olahra*a, dan pen(akit kronis. $ada miositis inflamasi men(eran*
sera)ut9sera)ut otot.
Etiolo*i> inlamasi ,karena autoimun, dimana tu)uh men(eran* jarin*an(a
sendiri., ineksi ,+irus adalah infeksi (an* palin* umum men(e)a)kan m(ositis,
)akteri, jamur. ;irus atau )akteri dapat men(eran* jarin*an otot se/ara lan*sun*,
atau men*eluarkan Dat (an* merusak otot., o&at9o&atan ,statins, /ol/hi/ine,
plaFuenil h(droC(/hloroFuine., cedera ,olahra*a terlalu )erat dapat men(e)a)kan
n(eri otot, pem)en*kakan, dan kelemahan selama )erjam9jam atau )erhari9hari..
Manifestasi klinis> kelemahan otot merupakan manifestasi pertama. Kelemahan
mun*kin di dapatkan den*an pemeriksaan. %(eri otot ,M(al*ia.)isa ada atau tidak.,
dermatomiositis ju*a tim)ul pada )a(i. Kelemahan dari miositis dapat men(e)a)kan
jatuh dan sulit untuk )an*un dari kursi atau setelah jalan. 7ejala lain den*an kondisi
inflamasi>
Ruam ,rush.
Kelelahan ,fatiFue.
$ene)alan kulit pada tan*an.
Kesulitan menelan ,disfa*ia.
Kesulitan )ernafas ,dispneu.
$emeriksaan penunjan*> pemeriksaan elektromio*rafi ,EM7. umumn(a
mem)erikan hasil miopati, sedan*kan hasil )iopsi otot menunjukan *am)aran
inflamasi otot.
$enatalaksanaan> pem)erian kortikosteroid, dan akan sem)uh sempurna.
1
:1 Er&;s palsy (Tangan)
&efinisi> kelumpuhan otot9otot di len*an )a(i (an* di se)a)kan oleh luka saraf
di)ahu 0aktu lahir, )iasan(a terjadi pada )a(i )aru lahir den*an )erat lahir G 1000
*ram. Kelumpuhan terjadi karena partus lama dan trauma persalinan )erupa proses
tarikan pada daerah pleksus )rakhialis.
Etiolo*i> terjadi karen kerusakan s(araf (an* men*ontrol *erakan len*an
dikarekan adan(a injuri pada proses kelahiran. #njuri )iasan(a terjadi karena adan(a
kerusakan s(araf antara spne den*an len*an atau tn*an. &apat ju*a terjadi karena
tarikan (an* )erle)ihan pada leher )a(i ketika proses persalinan.
$ato*enesis> adan(a traksi dalam proses persalinan kemun*kinan )isa
men(e)a)kan injur(, atau trauma pleksus )ra/hialis pada ner+i @5 dan @6 reseptor
sensori )erupa paralisis, atrofi, anastesia. 4ipe kerusakan s(araf ,eCta/tion, rupture,
neuroma, praCis..
Manifestasi klinis> paralisis dan atrofi pada mus/ulus deltoid, )i/eps, )ra/hialis,
)ra/hioradialis, disertai den*an men*hilan*n(a *erakan a)duksi dan eksternal rotasi
shoulder serta melemahn(a *erakan fleksi dan supinasi forearm.
4atalaksana> )a(i (an* men*alami kondisi ini perlu menjalani reha)ilitasi dan
fisioterapi.
$ro*nosis> 55A9!0A )a(i den*an Er)Hs pals( dapat sem)uh sempurna setelah
)e)erapa )ulan.
+1 Pencegahan
$ro*ram pen*em)an*an imunisasi ,$$#. di dunia dimulai sejak !51. $ada tahun
!88diputuskan untuk melalukan eradikasi polio *lo)al (an* selesai pada tahu 2000.
&alam pro*ram eradikasi polio setiap ne*ara harus melaksanakan 1 ,empat. lan*kah
strate*i pem)asmian polio>
Men/apai dan memelihara tar*et imunisasi rutin polio untuk anak 3 tahun
se)an(ak :91 dosis ,tar*et minimal !0A dari sasaran..
Melaksanakan imunisasi tam)ahan termasuk didalamn(a pekan imunisasi
nasional ,$#%.. $#% dian**ap )erhasil )ila )isa men/apai tar*et /akupan
G!0A dari tar*et populasi.
5
Melakukan sur+eilans A-$ atau deteksi lumpuh la(u akut. 4ujuan(a
medeteksi anak den*an lumpuh la(u (an* mun*kin terinfeksi +irus polio.
$ro*ram ini merupakan usaha untuk men/ari dan mem)uktikan )ah0a
setiap anak (an* menderita lumph la(u )erumur 35 tahun )ukan
dise)a)kan karena polio liar den*an memeriksa tinja pasien A-$.
Mopping up (aitu melaksanakan imunisasi polio tam)ahan )a*i )alita dari
rumah ke rumah di daerah (an* di /uri*ai masih ada transmisi +irus polio
liar atau (an* men*alami KL" polio liar.
2A2 """
PE)$T$P
A1 #E!"MP$LA)
Lumpuh la(u akut atau a//ute fla//id paral(sis ,A-$. adalah kelumpuhan (an*
terjadi mendadak, dise)a)kan karena +irus. 4erjadi pada anak den*an usia 35 tahun,
terjadi )ukan karena trauma. Kelumpuhan terjadi pada sistem s(araf Lo0er motor
neuron , susunan s(araf tepi., kelumpuhan )ersifat flaccid, reflek fisiolo*is menurun
atau hilan*, reflek patolo*is ne*atif, dan terjadi pen*e/ilan otot.
21 !ARA)
. Memper)aiki h(*iene (an* jelek dan memper)aiki sanitasi air.
2. Melakukan imunisasi polio untuk pen/e*ahan.
6
DAFTAR P$!T#A
. "ehman RE, Klie*man RM, Jensen H", %elson 4eCt )ook of pediatri/s, 5
th

edition. $hiladelphia> <" Sauders /ompan(. 2001, pa*e 8::910
2. &inas kesehatan pro+insi Ja0a 4en*ah. 202. Semaran*, pa*e :91.
:. &SS Harsono. 2005. Kapita Selekta %eurolo*i. Jakarta> 7ajah Mada 'ni+ersit(
$ressI 2005.p. !926I :591:
1. Handr(astuti S, Menuju 4um)uh Kem)an* Anak Jan* ?ptimal. #&A#. 20:
5. Soetomen**olo 4aslim S. #smael Sof(an. Buku Ajar %eurolo*i Anak. @etakan
ke92. Jakarta, !!!>!0921
5