Anda di halaman 1dari 86

BAB II

KONSEP TEORI
KERAGAMAN BUDAYA DAN PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM
KEPERAWATAN

I. Perspektif Transkultural dalam Keperawatan
A. Keperawatan Transkultural dan globalisasi dalam pelayanan kesehatan
Peran perawat transkultural menjembatani antara sistem perawat yang
dilakukan oleh masyarakat awam dengan perawatan profesional melalui asuhan
keperawatan. Keperawatan lintas budaya merupakan bidang studi dan praktik formal
yang berfokus pada analisis komparatif budaya dan sub budaya di dunia dalam
kaitanya dengan keperawatan kultural, kepercayaan tentang kesehatan dan penyakit,
nilai-nilai dan praktik yang bertujuan untuk menggunakan pengetahuan ini dalam
memberikan perawatan sesuai budaya tertentu atau sesuai budaya universal kepada
semua orang (Leininger,1978). Keperawatan lintas budaya memberikan kerangka
budaya kerja untuk memenuhi kebutuhan keperawatan kesehatan dari kelompok
dengan latar budaya beraneka ragam.
Dalam melakukan pencapaian keperawatan ada 6 fenomena kultural yang
dipertimbangkan, yaitu :
1. Komunikasi : verbal, non verbal bahasa utama
2. Ruang pribadi : tindakan lebih menonjol dari kata-kata
3. Organisasi sosial : Prilaku didapat, ciri khas budaya, nilai-nilai berorientasi
internal, kepercayaan keagamaan, pembuatan keputusan dalam keluarga.
4. Waktu : cara mengkaji waktu, konsep waktu
5. Lingkungan : mengevaluasi sistem kesehatan, lokus kontrol
6. Variasi biologis : struktur tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik psikologis
Mendorong potensi perawat untuk memberikan secara cermat arti diversivitas
bukan realitas masa depan tetapi tantangan masa kini dan kesempatan untuk
berkembang (Hagivary,1192). Ada 3 pendekatan profesi keperawatan untuk
menyiapkan praktisi untuk masa depan (Andrews,1992)
1. Lingkungan Praktis klinis
Diperlukan program pendidikan yang berkelanjutan guna menyadarkan
perawat akan nilai, kepercayaan dan praktek yang berlandaskan kepada
budaya mereka sendiri, meningkatkan dasar pengetahuan tentang kesehatan
berkaitan dengan budaya tertentu serta praktek orang lain yang akan di jumpai.
2. Lingkungan Akademis
Program sarjana muda dan sarjana mengalami kemajuan menandakan konsep
budaya dalam kurikulum keperawatan, pengajaran harus difokuskan pada
pengkajian kulturologi, variasi biokultural dalam kesehatan dan penyakit,
perbedaan kultural dalam komunikasi, kepercayaan beragama, nutrisi, aspek
perawatan dan sebagainya, memadukan konsep budaya dalam kurikulum
mencakup permainan simulasi, latihan klarifikasi nilai, kelompok pertemuan
untuk membangkitkan kesadaran dan pengalaman.
3. Bidang Penelitian
Dibutuhkan studi lintas budaya di bidang penelitian dasar dan penelitian
terapan, lembaga penyandang dana dan yayasan harus di dorong untuk
mendukung studi lingkungan budaya yang menekankan metode penelitian
kualitatif penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif menghasilkan data
yang bermanfaat untuk mencapai hasil optimal.

B. Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural
Konsep dalam Transcultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan
atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan.
3. Perbedaan budaya, dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki
oleh orang lain.
5. Etnis, berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim
6. .Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling
memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian
untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan
kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan
yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.
10. Cultural Care. berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung
atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Culturtal imposition, berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan
untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada
kelompok lain.
Paradigma Transcultural Nursing

Konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan
latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu: (Andrew and
Boyle, 1995).
1. Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun
dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
2. Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi
dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang
adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3. Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di
daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari
sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai
dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural

1. Culture care preservation / maintenance : Yaitu prinsip membantu,
memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu
menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan.
2. Culture care accomodation / negotiation : Yaitu prinsip membantu,
memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya, merefleksikan cara-cara
untuk beradaptasi, bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan
dan gaya hidup individu dan klien.
3. Culture care reparterning / restructuring : Yaitu prinsip merekontruksi atau
mengubah desain untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien
kearah yang lebih baik.
Hasil yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan transkultural pada
asuhan keperawatan adalah tercapainya culture congruent nursing care health and well
being yaitu asuhan keperawatan yang kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan
kesehatan yang sensitif, kreatif, serta cara- cara yang bermakna guna mencapai
tingkat kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

C. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya
Perawat harus memulai pengkajian dengan melihat latar budaya cultural yang
di miliki klien dan latar belakang social juga ketrampilan bahasa yang dimilikinya. Ini
diperlukan dalam mengumpulkan data mengenai penyebab penyakit dan masalah
klien. Proses pendekatan ini diperlukan untuk mengetahui atau mengidentifikasi
apakah klien mempunyai latar belakang budaya tradisional yang lebih dominan di
bandingkan dengan budayanya yang modern.
Sebelum memulai pengkajian perawat harusnya :
1. Membina hubungan saling percaya terlebih dahulu dengan klien
2. Mengidentifikasi bahasa yang digunakan
3. Mempelajari pola komunikasi kien dengan mengobservasi kemampuan verbal
dan nonverbalnya, contoh prilaku nonverbal dengan sentuhan, kontak mata
4. Mempelajari prilaku bermakna yang dimiliki klien perawat dalam
berinteraksi

D. Beberapa I nstrumen Pengkajian Budaya
Pengkajian budaya merupakan pengkajian yang sistematik dan komprehensif
dari nilai nilai pelayanan budaya, kepercayaan, dan praktik individual, keluarga dan
komunitas. Tujuan pengkajian budaya adalah untuk mendapatkan informasi yang
signifikan dari klien sehingga perawat dapat menerapkan kesamaan pelayanan
budaya.
Salah satu masalah dalam pengkajian budaya adalah kurangnya kemampuan
untuk mengkaji pihak dalam atau perspektif etnik klien dan interpretasi informasi
selama penilaian. Hal ini dapat tertolong dengan mengunakan pertanyaan terbuka,
terfokus, dan kontras. Tujuannya adalah mendorong klien agar dapat menggambarkan
nilai nilai, kepercayaan, dan praktik yang berarti untuk pelayanan mereka yang tidak
disadari oleh penyelenggara pelayanan kesehatan. Pertanyaan berorientasi budaya
pada dasarnya bersifat luas dan membutuhkan lebih banyak penjelasan.
Sebaliknya pengkajian budaya bersifat mencampuri dan menghabiskan waktu
serta membutuhkan hubungan saling percaya antara sesama partisipan. Komunikasi
yang kurang biasanya terjadi pada hubungan interkultural. Hal ini disebabkan
perbedaan bahasa dan komunikasi di antara partisipan. Keterampilan manajemen
impresi penting bagi perawat. Hal ini didasarkan pada kemampuan perawat dalam
memahami sikap klien sesuai dengan konteks berpikirnya sehingga perawat dapat
bereaksi dalam konteks budaya yang sama. Manajemen impresi membutuhkan
keahlian berbahasa, interpretasi yang sama secara budaya terhadap sikap klien,
mendengarkan, dan keterampilan melakukan pengamatan. Pada saat pengkajian, nilai
dan dengarkan bahasa yang klien gunakan saat berbicara dan menulis serta putuskan
jika klien memerlukan seorang ahli bahasa. Perawat mempelajari berbagai
keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pengkajian budaya yang akurat dan
komprehensif sepanjang waktu.

Gbr. Transkultural Assessment Model ( Giger & Davidhizars )











Struktur tubuh









__Keunikan Budaya Individu__
mengIndentifikasi Ras & Budaya
Klien
tempat lahir
waktu di Negara

___Komunikasi__
Bahasa lisan
Kualitas
suara
Pengucapan
Penggunaan
keheningan
nonverbal
___Pengkajian Keperawatan___
Mendapatkan Kesimpulan Data
____Ruang____ _________
Observasi tingkat
kenyamanan (dlm
berkomunikasi)
Kedekatan dgn yg lain
Gerakan tubuh
Persepsi ruang

_______Orientasi Sosial_____
Kultur
Ras
Etnik
Fungsi peran
keluarga
Pekerjaan
Waktu luang
Gereja
teman
Waktu
Pengunaannya
Penghitungan
Definisi
Waktu bersosial
Waktu bekerja
orientasi waktu
(kemarin, sekarang, akan datang)
Kontrol Lingkungan
Praktik kesehatan Cutural
yang berhasil, netral,
disfungsional, tdk jelas
Nilai
Definisi dari sehat & Sakit
Variasi biologis Warna kulit
Warna rambut
Dimensi fisik lain
Keadaan genetic & enzim pd populasi
penyakit khusus
Kerentanan terhadap sakit & penyakit
Kekurangan nutrisi
Karakteristik psikologi,koping dan social
support
Contoh Instrumen Pengkajian Warisan Budaya
1. Dimana ibu Anda lahir ? ______
2. Dimana ayah Anda lahir ? ______
3. Dimana kakek nenek Anda lahir ? ______
a. Ibu dari Ibu Anda ? ______
b. Ayah dari Ibu Anda ? ______
c. Ibu dari Ayah Anda ? ______
d. Ayah dari Ayah Anda ? ______
4. Berapa saudara laki laki ______ dan perempuan ______
5. Dimana Anda dibesarkan ? Desa _____ Kota ______ Pinggir Kota ______
6. Dimana orang tua Anda dibesarkan ?
Ayah ______ Ibu ______
7. Berapa usia Anda ketika datang ke Indonesia ? ______
8. Berapa usia orang tua Anda ketika datang ke Indonesia ? ______
9. Ketika Anda dibesarkan, siapa yang tinggal dengan Anda ? ______
Keluarga Inti ______ atau Keluarga Besar ______
10. Apakah Anda mempertahankan kontak dengan :
a. Bibi, Paman, Sepupu ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
b. Saudara Laki Laki dan Perempuan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
c. Orang Tua ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
d. Anak Anda Sendiri ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
11. Apakah kebanyakan dari bibi, paman, sepupu Anda tinggal dekat rumah
Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
12. Kira kira seberapa sering Anda mengunjungi anggota keluarga Anda yang
tinggal di luar rumah Anda ?
( 1 ) Setiap Hari _____( 2 ) Setiap Minggu ______ ( 3 ) Setiap Bulan ______
( 4 ) Hanya Liburan Khusus ______ ( 5 ) Tidak Pernah ______
13. Apakah nama asli keluarga Anda di ganti ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
14. Apakah kepercayaan Anda ?
( 1 ) Katolik ______ ( 2 ) Islam ______
( 3 ) Protestan ______ Denominasi ______ ( 4 ) Lain Lain ______
( 5 ) Tidak Ada ______
15. Apakah pasangan Anda mempunyai kepercayaan yang sama dengan Anda ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
16. Apakah pasangan Anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan Anda ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
17. Anda sekolah dimana ?
( 1 ) Pemerintah ______ ( 2 ) Swasta _____( 3 ) Seminari / Pesantren ______
18. Sebagai seorang dewasa, apakah Anda tinggal di daerah dimana tetangga
mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan Anda ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
19. Apakah Anda memiliki institusi keagamaan ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
20. Dapatkah Anda mengambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota yang aktif?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi keagamaan Anda ?
( 1 ) Lebih dari satu minggu ______ ( 2 ) Setiap minggu ______
( 3 ) Setiap bulan ______ ( 4 ) Sekali setahun atau kurang ______
( 5 ) Tidak pernah ______
22. Apakah Anda mempraktikkan keagamaan Anda di rumah?
( 1 ) Ya ______ (2) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______
( 3 ) Berdoa ______ ( 4 ) Membaca Kitab Suci ______ (5 ) Diet ______
( 6 ) Merayakan hari besar keagamaan ______
23. Apakah Anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
24. Apakah Anda berpartisipasi dalam aktivitas etnik ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______
( 3 ) Bernyanyi _____ ( 4 ) Perayaan Hari Besar _____
( 5 ) Berdansa ______( 6 ) Festival ______ ( 7 ) Adat Istiadat ______
( 8 ) Lain Lain ______
25. Apakah teman Anda dari latar belakang kepercayaan yang sama dengan Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
26. Apakah teman Anda dari latar belakang etnik yang sama dengan Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
27. Apakah bahasa asli Anda ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
28. Apakah Anda berbicara dengan bahasa tersebut ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
29. Apakah Anda membaca dalam bahasa asli Anda ?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
Makin besar jumlah jawaban Ya, makin kuat klien memiliki keturunan tradisional.
Contoh Lain Instrumen Pengkajian Keperawatan Terbuka
1. Menurut Anda apa yang menyebabkan penyakit Anda ?
2. Seperti apa kami dapat memecahkan masalah Anda ?
Terfokus
1. Apakah Anda pernah mengalami masalah ini sebelumnya ?
2. Apakah ada seseorang yang Anda ingin agar kami bicara dengannya mengenai
perawatan Anda?
Kontras
1. Bagaimana perbedaan masalah ini dengan masalah sebelumnya ?
2. Apa perbedaan antara apa yang perawat kerjakan dengan apa yang Anda
pikirkan bagaimana perawat lakukan untuk Anda ?
Riwayat Etnik
1. Berapa lama Anda / orang tua Anda tinggal di negara ini ?
2. Apa latar belakang etnik atau asal leluhur Anda ?
3. Seberapa kuat budaya mempengaruhi Anda ?
4. Ceritakan alasan Anda meninggalkan tanah air Anda ?
Organisasi Sosial
1. Siapa yang tinggal dengan Anda ?
2. Siapa yang Anda anggap sebagai anggota keluarga Anda ?
3. Dimana anggota keluarga Anda yang lain tinggal ?
4. Siapa yang membuat keputusan untuk Anda atau keluarga Anda ?
5. Siapa yang Anda cari saat memerlukan bantuan untuk keluarga Anda ?
6. Apa harapan Anda terhadap anggota keluarga yang pria, wanita, tua, atau
muda ?
Status Sosioekonomi
1. Apa yang Anda lakukan untuk kehidupan ?
2. Bagaimana perbedaan kehidupan Anda di sini dibandingkan tempat asal?
Ekologi Biokultural dan Risiko Kesehatan
1. Apa penyebab masalah Anda ?
2. Bagaimana masalah mempengaruhi Anda atau bagaimana masalah itu
mempengaruhi kehidupan Anda dan keluarga Anda ?
3. Bagaimana Anda mengatasi masalah tersebut di rumah ?
4. Apa masalah lain yang Anda hadapi ?
Bahasa dan Komunikasi
1. Apa bahasa yang Anda gunakan di rumah ?
2. Apa bahasa yang Anda gunakan untuk membaca dan menulis ?
3. Bagaimana perawat harus berbicara atau memanggil Anda ?
4. Apa jenis komunikasi yang menggangu Anda ?
Kepercayaan dan Praktik Pelayanan
1. Apa yang Anda lakukan untuk menjaga kesehatan Anda ?
2. Apa yang Anda lakukan untk menunjukkan kepedulian Anda ?
3. Bagaimana Anda merawat anggota keluarga yang sakit?
4. Pemberi layanan mana yang Anda cari saat Anda sedang sakit ?
5. Bagaimana perbedaan yang perawat lakukan dengan yang dilakukan keluarga
Anda saat Anda sedang sakit ?

II. Komunikasi Transkultural
A. Nilai dan Norma Budaya dalam Berkomunikasi
Ketika dua atau lebih orang berbeda budaya berkomunikasi, seringkali
ditemukan kesalahan interpretasi pesan yang disampaikan. Dalam hal mengurangi
dan menghindari hal tersebut pantaslah kita mempelajari nilai dan norma budaya
dalam berkomunikasi. Sebelum itu kita harus memahami dulu apa itu budaya :
Menurut clifford Geertz merujuk kepada Klukhohn (seorang antropologi) berasumsi
bahwa kebudayaan itu sebagai cermin bagi manusia (mirror of man) sehingga dia
mengajukan interpretasi terhadap makna budaya, bahwa kebudayaan itu merupakan :
1. Keseluruhan pandangan hidup dari manusia
2. Sebuah warisan sosial yang dimiliki oleh individu dari kelompoknya
3. Cara berfikir, perasaan dan mempercayai
4. Abstraksi dan perilaku
5. Bagian penting dari te tentang teori para antropolog tentang cara-cara di mana
sebuah kelompok orang menyatakan kelakuannya
6. Sebuah gudang pusat pembelajaran
7. Sebuah unit standarisasi orientasi untuk mengatasi pelbagai masalah yang
berulang-ulang
8. Perilaku yang dipelajari
9. Sebuah mekanisme bagi pengaturan regulatif atas perilaku
10. Kesimpulan teknik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan lain dan orang
lain
11. Lapisan atau endapan dari sejarah manusia
12. Peta perilaku, matriks perilaku dan saringan perilaku
Budaya adalah Metakomunikasi sistem dimana tidak hanya kata yang diucapkan
yang memberi makna, tetapi segala sesuatu yang lain juga (Matsumoto &
Matsumoto,1989)
Budaya adalah pikiran, komunikasi, tindakan, keyakinan, nilai, dan lembaga-lembaga
ras dan etnik, agama atau kelompok sosial (OMH,2001)
Budaya adalah : Segala sesuatu yang dihasilkan dari kehidupan individu dan
kelompoknya.
Wujud kebudayaan

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan dsb. Merupakan wujud ideal dari kebudayaan,
sifatnya abstrak, tak dapat di raba atau di lihat. Letaknya ada didalam fikiran
warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Dikenal
dengan adat istiadat atau sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil
karya para penulis warga masyarakat bersangkutan.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola
dari manusia dalam masyarakat, disebut juga sistem social. Sistem social ini
terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, bergaul
yang berdasarkan adat social tata kelakuan. Sistem social ini bersifat konkrit,
serta terjadi dikeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, di lihat dan
didokumentasikan.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia, disebut
kebudayaan fisik, dan tak banyak memerlukan penjelasan. Merupakan seluruh
total dari hasil fisik dan aktifitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam
masyarakat. Sifatnya paling konkret, atau berupa benda-benda atau hal-hal
yang dapat di raba, dilihat, dan difoto. Hasil karya manusia seperti candi,
computer, pabrik baja, kapal, batik sampai kancing baju.

Nilai :
Nilai merupakan unsur penting dalam kebudayaan, nilai membimbing manusia
untuk menentukan sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak, nilai bersifat abstrak dan
nilai membentuk sikap kita tentang sesuatu apakah itu bermoral dan tidak bermoral,
baik atau buruk, benar atau salah, dan indah atau buruk.

Norma :
Nilai dapat dibedakan dari norma, nilai hanya meliputi penilaian tentang baik
buruknya objek, peristiwa, tindakan atau kondisi, sedangkan norma lebih merupakan
standart prilaku. Norma merupakan nilai-nilai budaya yang merupakan standar
kelompok, dasar dari kehidupan sebuah kelompok, jika nilai memperkenalkan kita
bagaimana berprilaku sepantasnya maka norma secara khusus menggariskan kontrol
terhadap perilaku. Sebuah norma adalah aturan yang mengatur tentang hukuman atau
ganjaran dalam berbagai bentuk sesuai dengan variasi posisi sosial orang dalam relasi
antar manusia. Semua tindakan manusia memiliki akibat tertentu dan norma secara
khusus memberi akibat sosial bagi seseorang yang melangar aturan tersebut, Bentuk-
bentuk norma antara lain :



1. Cara
Merujuk pada suatu bentuk perbuatan, norma ini memeiliki kekuatan yang
lemah, merupakan perbuatan yang diulang-ulang. Contohnya : Menghirup
kopi panas dengan bunyi, jika dilakukan tidak ada saksi apa-apa.
2. Kebiasaan
Menurut Sumnner kebiasaan sebagai aturan adat istadat yang dapat dilihat
dalam belbagai situasi, namun tidak cukup kuat mengatur kelompok. Misalnya
: Bercakap-cakap sebelum rapat, hal ini juga tidak melangar apa-apa
3. Tata Kelakuan
Tata kelakuan berisi perintah dan larangan sehingga anggota masyarakat
menyesuaikan perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut. Contohnya :
Perihal antara hubungan pria dan wanita
4. Adat Istiadat
Anggota masyarakat yang melangar adat istiadat akan menerima saksi yang
keras . Contohnya : Perkawinan antar strata di Sumba dan Bali, akan mendapat
sanksi yang keras misalnya dikeluarkan daro strata tersebut.
Nilai dan norma diperlukan sebagai kontrol prilaku kehidupan manusia sehari-hari.

B. Prinsip-prinsip dalam Komunikasi
Komunikasi berasal dari kata kerja communicre, dalam bahasa Latin yang
berarti menjadikan lazim/umum, membagi, berpartisipasi (mengikutsertakan) atau
menanamkan. (Guralnik, 1989). Akan tetapi komunikasi melampaui definisi tersebut,
dimana komunikasi mencakup keseluruhan bidang interaksi dan tingkah laku
manusia. Semua tingkah laku, baik verbal mapun nonverbal yang ditampilkan oleh
individu disebut sebagai komunikasi. (Potter & Perry, 2005; Watzlawick, Beavin, &
Jackson, 1967). Komunikasi merupakan keterampilan dasar dalam semua interaksi
keperawatan. Dalam komunikasi terkandung sistem tingkah laku yang terpola dan
teratur yang memungkinkan terjadinya seluruh interaksi antara perawat dan klien. Di
dalamnya terdapat pertukaran pesan yang memiliki arti.
Komunikasi dan budaya sangat erat berhubungan. Komunikasi merupakan
alat/cara bagaimana budaya ditransmisikan dan dipelihara/dipertahankan. (Delgado,
1983). Budaya mempengaruhi bagaimana perasaan diekspresikan serta ekspresi verbal
dan nonverbal apa yang tepat untuk digunakan. Contohnya, orang Amerika lebih suka
menutupi perasaannya dan secara umum jarang menggunakan bahasa sentuhan,
sebaliknya budaya ketimuran lebih terbuka dalam mengekspresikan perkabungan /
duka, kemarahan, atau kegembiraan serta lebih banyak menggunakan sentuhan.
(Davidhizar & Giger, 2002; Hall,1966; Thayer,1988).
Variabel variabel budaya lainnya, seperti persepsi terhadap waktu, kontak
fisik dan hak hak wilayah juga mempengaruhi komunikasi. Komunikasi membentuk
rasa kebersamaan dengan orang lain dan memungkinkan pertukaran/sharing
informasi, isyarat atau pesan pesan dalam bentuk ide ide dan perasaan. Melalui
komunikasi seseorang dapat mempengaruhi orang lain melalui tulisan atau bahasa,
gerak isyarat (gesture), ekspresi wajah, bahasa tubuh, space (jarak) atau simbol
simbol lainnya. Dalam komunikasi yang efektif terdapat saling pengertian terhadap
arti yang terkandung dalam pesan yang disampaikan. Komunikasi yang efektif
mengenai informasi pelayanan kesehatan memotivasi klien untuk bekerjasama dengan
perawat dalam mengelola kesehatannya. (Giorgianni, 2000).
Untuk meningkatkan komunikasi transkultural yang efektif, perawat harus
menghindari penggunaan istilah istilah teknis yang khusus, logat/ucapan yang
populer, ucapan sehari hari, singkatan, dan istilah istilah medis yang berlebihan.
Lipson dan Steigner (1996) menyarankan strategi dalam tiga domain, yaitu afektif,
kognitif, dan behaviour untuk komunikasi transkultural yang efektif. Dalam domain
afektif meliputi rasa hormat, penghargaan dan perasaan nyaman terhadap perbedaan
budaya, rasa senang untuk mempelajari budaya yang berbeda, kemampuan untuk
mengobservasi tingkah laku tanpa menghakimi, kesadaran akan nilai nilai budaya
dan kepercayaan. Dalam domain kognitif ditekankan adanya pengetahuan tentang
perbedaan budaya, kemampuan untuk mengenali adanya penjelasan budaya terhadap
permasalahan interpersonal, pemahaman tentang adanya perbedaan makna satu
terhadap yang lain, dan pemahaman akan sistem sosial politik untuk menghargai
pengobatan terhadap kaum minoritas. Dalam domain behaviour (keterampilan
berkomunikasi), adanya fleksibilitas dalam gaya komunikasi baik verbal maupun
nonverbal, kemampuan untuk berbicara dengan perlahan, dan jelas tanpa istilah
istilah yang berlebihan, kemampuan untuk memberi dorongan pada klien untuk
mengekspresikan dirinya, kemampuan untuk berkomunikasi secara menarik dan
empati, sabar, serta mengenali apabila ada kesalahpahaman yang terjadi.

Pedoman Dalam Berhubungan Dengan Klien dengan Budaya yang Berbeda :

1. Kaji nilai nilai kepercayaan pribadi anda terhadap budaya yang berbeda.
Review kembali pengalaman pribadi
Singkirkan nilai nilai, bias, ide ide dan tingkah laku yang berpengaruh
negatif terhadap perawatan.
2. Kaji variabel variabel komunikasi dari perspektif budaya
Tentukan identits etnis pasien
Gunakan pasien sebagai sumbernya (apabila memungkinkan).
Kaji faktor faktor kultural yang dapat mempengaruhi hubungan perawat dan
klien kemudian beresponlah dengan tepat.
3. Rencanakan perawatan sesuai dengan kebutuhan komunikasi dan latar
belakang budaya.
Pelajari sebanyak mungkin tentang budaya dan kepercayaan klien.
Dorong pasien untuk menyatakan persepsinya terhadap kesehatan, sakit dan
pelayanan kesehatan.
Rasa sensitif terhadap keunikan pasien.
Komunikasi pada tingkatan fungsi pasien.
Evaluasi efektifitas tindakan keperawatn dan modifikasi apabila diperlukan.
4. Modifikasi pendekatan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan budaya.
Perhatikan tanda tanda rasa takut, kecemasan dan kebingungan klien
Beri respon yang menenangkan hati dengan mempertahankan budaya klien.
5. Pahami bahwa penghargaan terhadap klien merupakan hubungan yang
terapeutik.
Berkomunikasi dengan hormat menggunakan pendekatan pendekatan yang
baik dan menenangkan hati.
Gunakan teknik mendengar yang sesuai.
6. Berkomunikasi tanpa cara cara yang kelihatan mengancam.
Lakukan wawancara tanpa terburu buru
Ramah tamah
Tanyakan pertanyaan yang umum selama mengumpulkan informasi.
Bersikap sabar apabila respon klien tidak sesuai dengan persoalan kesehatan
klien.
Ciptakan hubungan saling percaya dengan mendengar secara teliti, dan berikan
waktu serta perhatian penuh pada klien.
7. Gunakan teknik validasi dalam komunikasi.
Sadar akan fedback / respon klien yang tidak mengerti.
Jangan membuat asumsi pengertian tanpa distorsi.
8. Pahami adanya keengganan untuk membicarakan masalah yang berhubungan
dengan seksualitas.
Sadari bahwa dalam beberapa budaya permasalahan seksual tidak dapat
dibicarakan secara leluasa dengan perawat / orang dengan jenis kelamin yang
berbeda.
9. Adopsi pendekatan khusus, apabila pasien berbicara dengan bahasa yang
berbeda.
Gunakan intonasi suara dan ekspresi wajah yang perhatian untuk membantu
mengurangi ketakutan klien.
Bicara dengan perlahan dan jelas, namun tidak keras.
Gunakan bahasa isyarat, gambar, dan bermain peran untuk membantu
pemahaman klien.
Ulangi pesan dengan cara yang berbeda jika diperlukan.
Perhatikan kata kata yang dipahami klien dan gunakan itu sesering mungkin.
Pertahankan pesan yang sederhana dan ulangi terus menerus
Hindari penggunaan istilah medis dan singkatan yang tidak dipahami klien.
Gunakan kamus bahasa yang tepat.
10. Gunakan interpreter (penerjemah) untuk meningkatkan komunikasi.
Minta interpreter untuk menerjemahkan pesan, tidak hanya kata kata pribadi.
Dapatkan fedback untuk mengkonfirmasi pemahaman.
Gunakan interpreter yang sensitif terhadap budaya.

C. Bentuk Komunikasi Transkultural

Tujuan dari keperawatan transkultural adalah untuk mengidentifikasi,
menguji, mengerti dan menggunakan pemahaman keperawatan transkultural untuk
meningkatkan kebudayaan yang spesifik dalam pemberian asuhan keperawatan.
Transkultural nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang focus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercaayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk
memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada
manusia.
Komunikasi antara perawat dan klien merupakan, komunikasi lintas budaya.
Komunikasi lintas budaya dapat dimulai melalaui proses diskusi dan bila perlu dapat
dilakukan identifikasi melalui bagaimana cara masyarakat dari berbagai budaya
diindonesia berkomunikasi ,misalnya di suku jawa, betawi, sunda, padang, Bengkulu,
osing, tengger, dan sebagainya.
Komunikasi lintas budaya dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar atau menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa
ibu. Bila tidak memahami bahasa klien, perawat dapat menggunakan penerjemah.
Dalam komunikasi lintas budaya, perawat dapat menjumpai suatu hal yang pada
budaya tertentu bermakna positif tetapi di budaya lain bermakna negative. Hal ini
harus di pahami oleh perawat sehingga tidak menyebabkan terputusnya komunikasi.
D. Media Komunikasi Transkultural
Komunikasi dan budaya saling berkaitan erat. Melalui komunikasi, budaya
ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan pengetahuan tentang
budaya ditransmisikan dalam kelompok dan untuk orang-orang diluar kelompok.
Berkomunikasi dengan klien dari latar belakang etnis dan budaya sangat pentung
untuk memberikan perawatan yang kompeten secra budaya. Ada variasi budaya
dalam komunikasi baik verbal maupun nonverbal.
1. Komunikasi verbal
Perbedaan budaya yang paling jelas adalah dalam komunikasi verbal : kosa
kata, struktur tata bahasa, kualitas suara, intonasi, ritme, kecepatan,
pronaunsiasi dan keheningan. Komunikasi verbal menjadi sulit ketika
melibatkan interaksi orang-orang yang berbeda bahasa. Klien memungkinkan
untuk berkomunikasi verbal dengan yang lain. Untuk klien dengan bahasanya
tidak sama dengan pelaku kesehatan, perantara mungkin diperlukan. Seorang
translator mengubah bahan tertulis (seperti pamphlet pendidikan pasien) dari
satu bahasa ke bahasa yang lain. Seorang penerjemah adalah seorang individu
yang menengahi komunikasi antara orang-orang yang beda bahasa tanpa
menambah dan mengurangi arti atau pemaknaan.
2. Komunikasi nonverbal
Untuk berkomunikasi secara efektif dengan klien yang berbeda budaya.
Perawat perlu menyadari 2 aspek dari perilaku nonverbal komunikasi: 1). Apa
perilaku nonverbal yang berarti kepada klien. 2). Perilaku nonverbal dalam
kebudayaan klien.
Nonverbal komunikasi dapat mencakup penggunaan keheningan, gerakan
mata, ekspresi wajah, postur tubuh. Beberapa kebudayaan memerlukan
keheningan dalam komunikasi. Memberikan kesempatan untuk berbicara, atau
memberikan privasi kepada orang lain. Beberapa kebudayaan mengambarkan
keheningan itu sebagai tanda hormat dan setuju.
Ekspresi wajah bisa berbeda-beda diantara kebudayaan. Giger and Davidhizar
(1999) mengatakan Italia, Yahudi, Afrika, Amerika, dan Spanyol lebih cepat
tersenyum dan menggunakan ekspresi wajah. Lebih tertutup dalam
mengkomunikasikan perasaannya khususnya kepada orang lain.
Komunikasi nonverbal acapkali menjadi lebih bermakana dibanding
komunikasi nonverbal meliputi mimic wajah, sorot mata, bentuk bibir, jarak, gerakan
anggota tubuh dan posisi tubuh, tekanan suara, objek yang selalu di perhatikan , serta
sentuhan. Mimic wajah dapat menunjukkan sikap bersahabat atau marah. Untuk
dapat memahami bahasa nonverbal, perawat harus berlatih secara optimal. (Ferry
Efend, Makhfudli)


E. Hambatan hambatan dalam Proses Komunikasi
1. Hambatan Fisik
Dapat berupa hambatan jarak komunikasi yang sering kali mengganggu proses
komunikasi, ataupun ketidakadaan fasilitas yang mampu meminimalisir
hambatan jarak tersebut.
2. Hambatan Teknis
Yang bersifat teknis seperti gangguan pada alat komunikasi, media, teknologi
dan sebagainya.
3. Hambatan Semantik
Hambatan yang berasal dari pengunaan bahasa karena :
Perbedaan bahasa
Perbedaan persepsi
Penggunaan istilah yang berlebihan
Ketidak mampuan memilih kata atau kalimat
4. Hambatan Psikologis
Situasi dan kondisi psikis yang terdapat / dimiliki oleh komunikan dan
komunikator. Misalnya cemas, malu, takut dan sebagainya.
5. Hambatan Status
Situasi dan kondisi psikis antara komunikator dengan khalayak sering kali
menjadi hambatan yang dapat mengurangi pencapaian tujuan
komunikasi.misalnya ketika seorang dosen muda harus memberi kuliah
didepan mahasiswa pasca sarjana yang ternyata sebagian besar adalah atasan
didepartemen tersebut.
6. Hambatan Budaya
Perbedaan budaya (nilai, norma, kebiasaan, adat istiadat) merupakan faktor
yang sering membuat tujuan komunikasi terhambat. Karena budaya yang
dianut oleh sebuah masyarakat merupakan hasil internalisasi individu terhadap
nilai, norma, kebiasaan dan adat dimana ia tinggal selama bertahun tahun,
maka kita mengenal ada yang namanya : Akulturisasi, Asimilasi.
7. Hambatan Kerangka berfikir
Komunikasi yang efektif dapat terjadi ketika terjadi himpitan kepentingan
(over lapping of interest) / kesamaan persepsi antara komunikator dengan
komunikan.kesamaan ini dapat terwujud jika ada perbedaaan yang mencolok
dalam kerangka berpikir komunikan dan komunikator.
8. Hambatan Kebutuhan dan Ketertarikan
9. Hambatan Lingkungan


BAB III
PEMBAHASAN KASUS



Kasus I (Unit Perspektif Transkultural)
Seorang pasien laki-laki korban tabrak lari, masuk ke unit perawatan sebuah
rumah sakit. Pasien mengalami fraktur dekstra dan terpasang traksi. Pasien juga
mengalami perdarahan abdomen dan telah dilakukan tindakan laparatomy eksplorasi.
Pasien dalam status NPO ( nothing per oral). Dilihat dari wajahnya, pasien adalah
seorang keturunan India. Ia berteriak-teriak meminta minum dalam bahasa Inggris.
Perawat berusaha untuk menjelaskan bahwa saat ini pasien tidak boleh minum. Pasien
tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik sementara di ruang perawatan tersebut
tidak ada perawat yang lancar berbahasa Inggris.
1. Bagaimana peran perawat bila dihadapkan pada situasi di atas ?
Menunjukan peranan Independent dari perawat dengan :
Mengenal budayanya (nilai, kepercayaan, prilaku, kebiasaan)
Mengenal etnik / suku /latar belakang dari pasien (bahasa)

2. Apa yang sebaiknya dilakukan perawat untuk membantu pasien ?
Perawat memulai pengkajian dengan melihat latar budaya cultural yang di
miliki klien dan latar belakang social juga ketrampilan bahasa yang dimilikinya.
Dengan cara :

Perawat harus bersikap terbuka dengan cara menerima pasien sesuai dengan
perbedaan budayanya
Memanggil dengan nama belakang klien / nama lengkap
Ciptakan hubungan saling percaya
Dengan menggunakan bahasa yang sederhana , verbal & non verbal (isyarat &
tulisan)
Mencari bantuan dari orang terdekat pasien yang bisa dan mengerti bahasa
Indonesia
Mencarikan penerjemah, bila pasien masih tidak dapat mengerti & bila tidak ada
keluarga. Kriteria penerjemah sebaiknya sbb :
Jenis kelamin yang sama
Umurnya lebih dewasa
Mempunyai status social yang sama dengan klien
Yang mempunyai pemahaman tentang budaya India
Mengerti tentang kesehatan
Ini diperlukan dalam mengumpulkan data mengenai penyebab penyakit dan masalah
klien. Tindakan keperawatan yang diberikan klien ada 3 :
1. Cultur care preservation : Prinsip membantu, memfasilitasi, atau memperhatikan
fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya
hidup yang diinginkan. Contohnya memberitahukan bahwa Ia tidak boleh minum
dengan bahasa verbal maupun non verbal (Gambar/tulisan dan isyarat)

2. Cultur care accomodation : Prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan
fenomena yang ada, merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi, bernegosiasi atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau klien.
Contohnya: meletakan peralatan yang dibutuhkan klien (tisu, pulpen, kertas dll)

3. Cultur care repatterning : Prinsip merekonstruksi atau mengubah desain untuk
membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah yang lebih
baik. Contohnya Klien diharuskan bedrest total dikarenakan ada traksi dan post
operasi laparatomy eksplorasi






















BAB II
TINJAUAN TEORI


I. PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATAN
A. Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan
Sebelum mengetahui lebih lanjut keperawatan transkultural, perlu kita ketahui apa arti
kebudayaan terlebih dahulu. Kebudayaan adalah suatu system gagasan, tindakan, hasil
karya manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam rangka kehidupan masyarakat.
(koentjoroningrat, 1986)
Wujud-wujud kebudayaan antara lain :
1. Kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan
2. Kompleks aktivitas atau tindakan
3. Benda-benda hasil karya manusia

Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang dapat
dikembangkan dan diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
Teori transkultural dari keperawatan berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konteks atau konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
cultural yang melekat dalam masyarakat.
Menurut Leinenger, sangat penting memperhatikan keragaman budaya dan nilai-nilai
dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh
perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami
oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan
perbedaan nilai budaya.
Keperawatan transkultural adalah ilmu dengan kiat yang humanis yang difokuskan
pada perilaku individu/kelompok serta proses untuk mempertahankan atau
meningkatkan perilaku sehat atau sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar
belakang budaya. Sedangkan menurut Leinenger (1978), keperawatan transkultural
adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisa dan studi
perbandingan tentang perbedaan budaya.

Tujuan dari transcultural nursing adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti
dan menggunakan norma pemahaman keperawatan transcultural dalam meningkatkan
kebudayaan spesifik dalam asuhan keperawatan. Asumsinya adalah berdasarkan teori
caring, caring adalah esensi dari, membedakan, mendominasi serta mempersatukan
tindakan keperawatan. Perilaku caring diberikan kepada manusia sejak lahir hingga
meninggal dunia. Human caring merupakan fenomena universal dimana,ekspresi,
struktur polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.

B. Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural
Konsep dalam transcultural nursing adalah :
1) Budaya
Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dibagi serta
memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2) Nilai budaya
Keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu tindakan yang
dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
3) Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan
Merupakan bentuk yang optimal dalam pemberian asuhan keperawatan


4) Etnosentris
Budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain adalah persepsi yang dimiliki individu
menganggap budayanya adalah yang terbaik
5) Etnis
Berkaitan dengan manusia ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut cirri-ciri dan kebiasaan yang lazim
6) Ras
Perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal
manusia. Jenis ras umum dikenal kaukasoid, negroid,mongoloid.
Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada
generasi berikutnya (taylor,1989)
7) Etnografi: Ilmu budaya
Pendekatan metodologi padapenelitian etnografi memungkinkan perawat untuk
mengembangkan kesadaran yang tinggi pada pemberdayaan budaya setiap individu.
8) Care
Fenomena yang berhubungan dengan bimbingan bantuan, dukungan perilaku pada
individu, keluarga dan kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhikebutuhan
baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan
manusia
9) Caring
Tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan
individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan
untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia
10) Culture care
Kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi digunakan
untuk membimbing, mendukung atau member kesempatan individu, keluarga atau
kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat dan berkembang bertahan hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai
11) Cultural imposition
Kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktek dan nilai
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain.

Paradigma transcultural nursing (Leininger 1985) , adalah cara pandang, keyakinan,
nilai-nilai, konsep-konsep dalam asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang
budaya, terhadap 4 konsep sentral keperawatan yaitu :
Manusia
Individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini dan berguna menetapkan pilihan dan melakukan pilihan
Konsep sehat sakit
Sehat adalah kesuksesan beradaptasi mempertahankan intergritas terhadap perubahan
lingkungan sedangkan sakit adalah suatu keadaan kegagalan dalam beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan
Lingkungan
Perubahan dinamis yang mempengaruhi individu yang meliputi lingkungan internal dan
eksternal
Keperawatan

C. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya
Peran perawat dalam transkultural nursing yaitu menjembatani antara sistem perawatan
yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan melalui asuhan
keperawatan.
Tindakan keperawatan yang diberikan harus memperhatikan 3 prinsip asuhan
keperawatan yaitu:
1. Culture care preservation / maintenance
Yaitu prinsip membantu, memfasilitasi/memerhatikan fenomena budaya guna
membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan guna hidup yang diinginkan
2. Culture care accommodation / negotiation
Yaitu prinsip membantu, memerhatikan fenomena buadaya yang ada, yang
merefleksiakan cara untuk beradaptasi, bernegosiasi / mempertimbangkan kondisi
kesehatan dan gaya hidup klien
3. Culture care repatterning / restructuring
Yaitu prinsip merekonstruksi / mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi
kesehatan dan pola hidup klien ke arah yang lebih baik
Model konseptual yang di kembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise
Model). Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh
perawat sebagai landasan berpikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien
(Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai
tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah
kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien ( Giger and Davidhizar,
1995).
Pengkajian dirancang berdasarkan tujuh komponen yang ada padaSunrise Model
yaitu:
1. Faktor teknologi (technological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran
menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji: Persepsi
sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari
bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternative dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan
kesehatan ini.
2. Faktor agama dan falsafah hidup ( religious and philosophical factors )
Agama adalah suatu symbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi
para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk mendapatkan
kebenaran diatas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang
harus dikaji oleh perawat adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang
klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
3. Faktos sosial dan keterikatan keluarga ( kinshop and Social factors )
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan,
umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan
keputusan dalam keluarga dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways )
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut
budaya yang di anggap baik atau buruk. Norma norma budaya adalah suatu kaidah
yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu di
kaji pada factor ini adalah posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga,
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, perseosi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari- hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
5. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors )
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew
and Boyle, 1995 ). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: peraturan dan kebijakan
yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh
menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.


6. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat dirumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki
untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh
perawat diantaranya: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki
oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
7. Faktor pendidikan ( educational factors )
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur
formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien
biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat
belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal
yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sedikitnya
sehingga tidak terulang kembali.
Prinsip-prinsip pengkajian budaya:
a. Jangan menggunakan asumsi.
b. Jangan membuat streotif bisa menjadi konflik misalnya: orang Padang pelit,orang
Jawa halus.
c. Menerima dan memahami metode komunikasi.
d. Menghargai perbedaan individual.
e. Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien.
f. Menyediakan privacy terkait kebutuhan pribadi.
D. Instrumen Pengkajian Budaya
Sejalan berjalnnya waktu,Transkultural in Nursing mengalami perkembangan oleh
beberapa ahli, diantaranya:


1. Sunrise model (Leininger)
Yang terdiri dari komponen:
a. Faktor teknbologi (Technological Factors)
- Persepsi sehat-sakit
- Kebiassaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan
- Alasan mencari bantuan/pertolongan medis
- Alasan memilih pengobatan alternative
- Persepsi penggunaan dan pemanfaatan teknologi dalam mengatasi masalah
kesehatan
b. Faktor agama atau falsafah hidup (Religious & Philosophical factors)
- Agama yang dianut
- Status pernikahan
- Cara pandang terhadap penyebab penyakit
- Cara pengobatan / kebiasaan agama yang positif terhadap kesehatan
c. Faktor sosial dan keterikatan kelluarga (Kinship & Social Factors)
- Nama lengkap & nama panggilan
- Umur & tempat lahir,jenis kelamin
- Status,tipe keluarga,hubungan klien dengan keluarga
- Pengambilan keputusan dalam keluarga
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (Cultural value and lifeways)
- Posisi / jabatan yang dipegang dalam keluarga dan komunitas
- Bahasa yang digunakan
- Kebiasaan yang berhubungan dengan makanan & pola makan
- Persepsi sakit dan kaitannya dengan aktifitas kebersihan diri dan aktifitas
sehari-hari
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (Political & legal Factors)
Kebijakan dan peraturan Rumah Sakit yang berlaku adalah segala sesuatu
yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas
budaya,meliputi:
- Peraturan dan kebijakan jam berkunjung
- Jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu
- Cara pembayaran
f. Faktor ekonomi (Economical Factors)
- Pekerjaan
- Tabungan yang dimiliki oleh keluarga
- Sumber biaya pengobatan
- Sumber lain ; penggantian dari kantor,asuransi dll.
- Patungan antar anggota keluarga
g. Faktor Pendidikan (Educational Factors)
- Tingkat pendidikan klien
- Jenis pendidikan
- Tingkat kemampuan untuk belajar secara aktif
- Pengetahuan tentang sehat-sakit

2. Keperawatan transkultural model Giger & Davidhizar
Dalam model ini klien/individu dipandang sebagai hasil unik dari suatu
kebudayaan,pengkajian keperawatan transkultural model ini meliputi:
a. Komunikasi (Communication)
Bahasa yang digunakan,intonasi dan kualitas suara,pengucapan
(pronounciation),penggunaan bahasa non verbal,penggunaan diam
b. Space (ruang gerak)
Tingkat rasa nyaman,hubungan kedekatan dengan orang lain,persepsi tentang
ruang gerak dan pergerakan tubuh.
c. Orientasi social (social orientastion)
Budaya,etnisitas,tempat,peran dan fungsi keluarga,pekerjaan,waktu
luang,persahabatan dan kegiatan social keagamaan.
d. Waktu (time)
Penggunaan waktu,definisi dan pengukuran waktu,waktu untuk bekerja dan
menjalin hubungan social,orientasi waktu saat ini,masa lalu dan yang akan
datang.
e. Kontrol lingkungan (environmental control)
Nilai-nilai budaya,definisi tentang sehat-sakit,budaya yang berkaitan dengan
sehat-sakit.
f. Variasi biologis (Biological variation)
Struktur tubuh,warna kulit & rambut, dimensi fisik lainnya seperti; eksistensi
enzim dan genetic,penyakit yang spesifik pada populasi terntentu,kerentanan
terhadap penyakit tertentu,kecenderungan pola makan dan
karakteristikpsikologis,koping dan dukungan social.
3. Keperawatan transkultural model Andrew & Boyle
Komponen-komponenya meliputi:
a. Identitas budaya
b. Ethnohistory
c. Nilai-nilai budaya
d. Hubungan kekeluargaan
e. Kepercayaan agama dan spiritual
f. Kode etik dan moral
g. Pendidikan
h. Politik
i. Status ekonomi dan social
j. Kebiasaan dan gaya hidup
k. Faktor/sifat-sifat bawaan
l. Kecenderungan individu
m. Profesi dan organisasi budaya

Komponen-komponen diatas perlu dikaji pada diri perawat (self assessment) dan pada
klien, Kemudian perawat mengkomunikasikan kompetensi transkulturalnya melalui
media: verbal, non verbal & teknologi, untuk tercapainya lingkungan yang kondusif
bagi kesehatan dan kesejahteraan klien.
Aplikasi konsep dan prinsip transkultural sepanjang daur kehidupan manusia (perawatan dan
pengasuhan anak).
Budaya adalah konteks pengalaman anak tentang sehat dan sakit, kesejahteraan dan
kesakitan (Talabere, 1996). Pandangan holistik tentang anak mengharuskan perawat
mengembangkan beberapa pemahaman tentang cara budaya berkontribusi pada
perkembangan hubungan sosial dan emosi dan cara budaya mempengaruhi praktik
pengasuhan anak dan sikap masyarakat terhadap kesehatan.
Budaya adalah pola asumsi, keyakinan, dan praktik yang secara tidak sadar
membentuk/ membimbing pandangn dan keputusan secara kelompok masyarakat
(Buchwald dkk, 1994).
Ras adalah suatu pembagian sifat yang dimiliki makhluk hidup yang dapat diwariskan
melalui keturunan, misal; kaukasia (putih), negro (hitam), dan Mongol (kuning).
Etnisitas yaitu afiliasi dari sekelompok individu yang mempunyai keturunan budaya,
sosial dan bahasa yang unik.
Sosialisasi yaitu proses ketika anak mendapatkan keyakinan, nilai, dan perilaku
masyarakat tertentu untuk dapat berfungsi dalam kelompok tertentu.

Budaya dan sub budaya mempengaruhi keunikan anak dalam cara yang tidak jelas
dan pada usia dini, sehingga anak tumbuh merasa bahwa keyakinan, sikap, nilai dan praktik
mereka benar atau normal, individu dari budaya lain mungkin dianggap menyimpang
atau salah. Suatu set nilai yang dipelajari pada masa kanak-kanak cenderung mencirikan
karakteristik dan perilaku anak terhadap hidup, membimbing mereka untuk berjuang
sepanjang hidup dan memantau keinginan impulsif mereka yang berentang pendek.
Karenanya setiap masyarakat terus menerus mensosialisasikan setiap generasi pada warisan
budayanya.
Budaya mengembangkan dan menguatkan perilaku yang dianggap tepat dan
diinginkan; budaya berupaya menekan atau menyingkirkan perilaku yang tidak sesuai dengan
norma budaya. Beberapa budaya mendorong perilaku agresif pada nak-anak mereka; budaya
lain lebih memilih kepatuhan dan keramahan. Beberapa budaya mendorong kecerdikan dan
kompetisi; budaya lain menekankan kerjasama dan patuh pada minat kelompok.
Budaya dapat juga berbeda dalam status kelompok yang didasarkan pada usia dalam
keterampilan. Bahkan permainan dan tipe mainan anak ditentukan secara budaya. Dalam
beberapa budaya anak bermain dalam kelompok yang terdiri atas jenis kelamin yang sama, di
budaya lain bermain dalam jenis kelamin campuran. Pada beberapa budaya, perbaikan tim
lebih menonjol, dibudaya lain kebanyakan permainan dibatasi pada permainan individual.
D. Studi Kasus
Seorang klien perempuan berusia 25 tahun sedang hamil 4 bulan. Ini merupakan
kehamilannya yang pertama. Klien tersebut berasal dari daerah Sunda sedangkan suaminya
berasal dari Tapanuli. Mereka saat ini tinggal di Jakarta. Sejak mengetahui istrinya hamil,
suami klien berusaha untuk memanjakan istrinya dan melarangnya bekerja dan meminta
orang tua (ibu) klien untuk menemani klien di rumah. Orang tua klien masih sangat ketat
mengikuti adat istiadat mereka demikian pula halnya dengan orang tua suami klien. Klien
merasa tertekan dengan kondisi kehamilannya dan perlakuan yang diterimanya dari suami,
orang tua, dan mertuanya.
Pertanyaan:
Analisa kasus tersebut berdasarkan konsep budaya dan transkultural yang telah saudara
pelajari. Bagaimana peran perawat bila dihadapkan pada situasi di atas? Apa yang sebaiknya
dilakukan perawat untuk membantu klien dan keluarganya?



Peran Perawat pada kasus tersebut:
1. Mengkaji tingkat stress klien
2. Mengkaji kebudayaan dari kedua keluarga ( Tapanuli dan Sunda ) dari pasien dan
keluarga serta mencarinya di literatur
3. Menkaji faktor-faktor budaya yang bertentangan dengan prinsip kesehatan dan tingkat
stress klien
4. Membina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga

Budaya Tapanuli

Budaya Sunda
Tidak boleh keluar rumah
sembarangan, terutama sore hari
Ibu hamil harus makan makanan adat
Batak berupa ikan batak, jenis ikan
Mahseer
Harus menggunakan ulos Tondi (kain
khusus), agar ibu dan bayinya sehat
pada waktu melahirkan kelak
Tidak boleh keluar rumah sembarangan,
terutama sore hari
Hanya memakan sayuran (dianggap
baik), sedangkan ikan, daging, dan buah-
buahan dianggap tidak baik untuk bayi
Tidak boleh melilitkan anduk/ kain di
leher ibu hamil, agar bayi tidak terlilit
tali pusat
Tidak boleh minum air terlalu banyak
karena bila melahirkan nantinya akan
terlalu banyak air atau anak kembar
Pantang makan gula merah/ tebu serta
nanas karena dapat membuat perut ibu
hamil sakit
Dianjurkan minum air kelapa muda
Dianjurkan untuk minum minyak kelapa
seiring dengan semakin besarnya usia
kehamilan, terutama usia 9 bulan
Dilarang menucapkan beberapa kata-
kata pantangan
5. Perawat bersama dengan keluarga klien mendiskusikan hal-hal yang diinginkan atau
dicapai oleh klien beserta keluarga (suami, ibu klien dan mertua)
6. Menjelaskan pada keluarga mengenai budaya yang bertentangan dengan kesehatan
7. Melibatkan keluarga untuk bekerja sama (problem solving) yang berhubungan dengan
faktor budaya

























BAB II

TINJAUAN TEORITIS


PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATAN
a) Pengertian
Transkultural adalah sub bidang keperawatan yang difokuskan pada studi
komperatif dan analisis dari berbagai kultur dan subkultural dengan
mempertimbangkan perilaku kasih sayang mereka;asuhan keperawatan,dan nilai-
nilai sehat sakit,keyakinan dan pola-pola perilaku(Leininger 1978)
b) Tujuan
Mengembangkan sains dan keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik
keperawatan pada kebudayaan (kultur-culture) yang spesifik dan
universal(Leininger 1978)
Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang
spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain,sedangkan kebudayaan yang
universal adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan
oleh hampir semua kebudayaan seperti budaya olahraga untuk memperbaiki
kesehatan.Sangat penting untuk perawat yang bekerja dengan
individu,kelompok,keluarga atau komunitas dengan keyakinan nilai dan praktik
budaya yang unik.Keperawatan transkultural mencakup pengintegritasian
pandangan,pengetahuan,dan pengalaman budaya dalam semua area proses
keperawatan ;walau demikian model ini tidak memberikan panduan untuk
mengkaji klien,individu,kelompok atau komunitas juga tidak memadu
diagnosis,perencanaan,dan intervensi keperawatan.Model itu menjadi pedoman
untuk membangkitkan teori-teori bagi praktik keperawatan dalam budaya khusus.
Negosiasi budaya atau intervensi dan implementasi keperawatan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan
kesehatannya.Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan
budaya lain yang lebih mendukung peningkatan status kesehatan,misalnya jika
klien sedang hamil mempunyai pantangan untuk makan makanan yang berbau
amis seperti ikan,maka klien tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein
nabati yang lain.
Restrukturisasi budaya perlu dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan
status kesehatan klien.Perawat berupaya melakukan strukturisasi gaya hidup klien
yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.Seluruh perencanaan dan
implementasi keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga
budaya dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
Pendekatan transkultural merupakan suatu perspektif yang unik karena bersifat
kompleks dan sistematis secara ilmiah yang secara konstektal melibatkan banyak
hal,seperti bahasa yang digunakan,tradisi,nilai historis yang teraktualisasikan,serta
ekonomi.Konsekuensinya,perawat sebagai tenaga kesehatan perlu memahami
perbedaan substansi di antara individu,keluarga,komunitas termasuk organisasi
pelayanan kesehatan.Misalnya keluarga yang tinggal di daerah pantai,pegunungan
atau pengungsian mereka memiliki konteks yang berbeda termasuk system nilai yang
diaktualisasikan.Perawat idealnya memiliki kompetensi budaya sehingga asuhan
keperawatan yang diberikan dapat efektif dan bersifat humanis
I. KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DAN GLOBALISASI DALAM PELAYANAN
KESEHATAN

Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abab ke 21
termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkwalitas akan semakin
besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar Negara
(imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adanya oergeseran terhadap tuntutan
asuhan keperawatan.Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of
knowledge yang kuat, yang dapat dilambangkan serta dapat diaplikasikan dalam
praktek keperawatan.Perkembangan teori keperawatanx terbagi menjadi 4 level
perkembangan yaitu metha theory, grand theory, middle range theory dan practice
theory.
Salah satu teori yang diungkapkan pada middle range theory adalah
Transkultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien
pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan
nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi.

II. KONSEP DAN PRINSIP DALAM ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
i. Konsep dalam asuhan keperawatan traskultural
1) Budaya
Adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari,serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil
keputusan.
Budaya adalah suatu komplek yang mengandung pengetahuan, keyakinan,
seni, moral, hokum, kebiasaan dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan
manusia sebagai aggota komunitas setempat.
Karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut:
Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak
ada dua budaya tang sama persis.
Budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis, karena budaya
tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga
mengalami perubahan.
Budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri
tanpa disadari.
2) Nilai budaya
Adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi
tindakan dan keputusan.
3) Perbedaan budaya
Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal dari pemberian asuhan keperawatan.
4) Etnosentris
Adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh
orang lain.
5) Etnis
Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya
yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6) Ras
Merupakan system pengklarifikasian manusia berdasarkankarakteristik
fisik, pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh dan bentuk
kapala. Ada 3 (tiga) jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu kaukasoid, negroid
dan mongoloid.
7) Etnografi
Adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada
penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran
yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar
observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang dan saling timbal
balik diantara keduanya.
8) Care
Adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok.
9) Caring
Adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok dan keadaan
yang nyata.
10) Cultural care
Berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok
untuk mempertahankan kesehatan, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kamatian dengan damai.
11) Cultural imposition
Berkenaan dengan kecendrungan tenaga kesehatan untuk memaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa
ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain.
ii. Prinsip dalam asuhan keperawatan transcultural
1. Culture care preservation/maintenance
Yaitu prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan fenomena
budaya, guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya
hidup yang diinginkan
2. Culture care accumodation/negotiation
Yaitu prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan fenomena
budaya, merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi, bernegosiasi, atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu dan klien.
3. Culture care reppatterning/restiueturing
Yaitu prinsip merekontruksi atau mengubah desain untuk membantu
memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah yang lebih baik.
Hasil yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan transcultural
pada asuhan keperawatan adalah tercapainya culture congruent nursing care
health and well being, yaitu asuhan keperawatan yang kompeten berdasarkan
budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitive, kreatif, serta cara-cara
yang bermakna, guna mencapai tingkat kesehatan dan kesejahteraan bagi
masyarakat.

III. PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN BUDAYA

A. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya
Asuhan keperawatan sebagai suatu proses atau rangkaian kegiatan kegiatan
pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesui dengan latar belakang
budayanya. Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalahkesehatan klien sesuai latar belakang budaya klien.
Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada sunrise
model yaitu
1. Technological factor ( faktor teknologi )
Perawat perlu mengkaji : persepsi klien tentang sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan,
alasan klien memilih pengobatan alternatife dan persepsi klien tentang
penggunaan data dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan
kesehatan saat ini. Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk
memilih dampak positif atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah
dalam pelayanan kesehatan.

2. Religious and philosophical factors ( faktor agama dan falsafah hidup)
Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah agama yang
dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit,
cara penobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap
kesehatan. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran di atas segalanya.

3. Kinship and social factors ( faktor sosial dan keterikatan keluarga )
Pada tahap ini perawat harus mengkaji faktor faktor : nama lengkap,
nama panggilan, umur, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe
keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan klien dengan
kepala keluarga.

4. Cultural value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup )
Nilai nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma norma budaya
adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut
budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan
yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan
makan, makanan yang menjadi pantangan dalam kondisi sakit, persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari hari dan kebiasaan membersihkan diri.



5. Political and Legal factors ( faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku )
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan indivudu dalam asuhan keperawatan
lintas budaya. Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan
kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga
yang boleh menunggu, dan cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

6. Economical factors ( faktor ekonomi )
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor
ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber
biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber
lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar
anggota keluarga.

7. Educational factors ( faktor pendidikan )
Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah tingkat pendidikan klien,
jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. Latar belakang
pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan
formal tertinggi saat ini.
Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung
oleh bukti bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar
beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehtannya.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melakukan pengkajian
budaya adalah :
a. Tidak menggunakan asumsi
b. Jangan membuat streotip karena bias terjadi konflik, misalnya orang
batak galak, orang padang pelit
c. Menerima dan memahami metode komunikasi
d. Menghargai perbedaan individual
e. Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu
f. Tidak boleh membeda bedakan keyakinan klien
g. Menyediakan privacy terkait kebutuhan pribadi

IV. BEBERAPA INSTRUMEN PENGKAJIAN BUDAYA
Keragaman Budaya Dan Perspektif Transkultural Dalam Keperawatan
Alat Pengkajian Warisan Budaya
1. Dimana ibu Anda lahir?
2. Dimana ayah Anda lahir?
3. Dimana kakek nenek Anda lahir?
a. Ibu dari ibu Anda?
b.Ayah dari ibu Anda?
c. Ibu dari ayah Anda?
d. Ayah dari ayah Anda?
4. Berapa saudara laki-laki . . . . . dan perempuan . . . .
5. Dimana Anda dibesarkan? Desa . . . . Kota. . . .Pinggir kota . . . .
6. Dimana orang tua Anda dibesarkan?
Ayah . . . . Ibu . . . .
7. Berapa usia Anda ketika datang ke Amerika Serikat?
8. Berapa usia orang tua Anda ketika datang ke Amerika Serikat?
Ayah . . . . Ibu . . . .
9. Ketika Anda dibesarkan ,siapa yang tinggal dengan Anda?
Keluarga inti . . . . atau . . . . Keluarga besar . . . .
10. Apakah Anda mempertahankan dengan . . . . .
a. Bibi,paman,sepupu Ya Tidak
b. Saudara laki-laki dan perempuan Ya Tidak
c. Orang tua Ya Tidak
d. Anak Anda sendiri Ya Tidak
11. Apakah kebanyakan dari bibi,paman,sepupu Anda tinggal dekat rumah Anda?
1. Ya 2. Tidak
12. Kira-kira seberapa sering Anda mengunjungi anggota keluarga Anda yang tinggal di luar
rumah Anda?
1. Setiap hari . . . .
2. Setiap minggu . . . .
3. Setiap bulan . . . . . .
4. Hanya liburan khusus . . . .
5. Tidak pernah . . . . .

13. Apakah nama asli keluarga Anda diganti?
1. Ya 2. Tidak
14. Apakah kepercayaan Anda?
1. Katolik 4.Lain-lain
2. Islam 5.Tidak ada
3. Protestan . . . . Deromilasi . . . .
15. Apakah pasangan Anda mempunyai kepercayaan yang sama dengan Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .
16. Apakah pasangan Anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .
17. Anda sekolah di mana?
1. Pemerintah . . . .
2. Swasta . . . . .
3. Seminar/pesantren . . . .
18. Sebagai seorang dewasa apakah Anda tinggal di daerah di mana tetangga mempunyai
kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .
19. Apakah Anda memiliki institusi keagamaan ?
1. Ya . . . . 2.Tidak . . . .
20. Dapatkah Anda menggambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota yang aktif?
1. Ya . . . . 2.Tidak . . . .

21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi keagamaan Anda?
1. Lebih dari satu minggu . . . . 4. Sekali setahun/kurang . . . .
2. Setiap minggu . . . . 5. Tidak pernah . . . .
3. Setiap bulan . . . . .
22. Apakah Anda mempraktekkan keagaman Anda di rumah?
1. Ya . . . .(bila ya sebutkan tempatnya) 4. Membaca kitab suci . . . .
2. Tidak . . . . 5. Diet . . . .
3. Berdoa . . . . 6. Merayakan hari besarkeagamaan . . . .
23. Apakah Anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik Anda?
1. Ya . . . . 2.Tidak . . . .

24. Apakah Anda berpartisipasi dalam aktifitas etnik?
1. Ya . . . . (bila ya,sebutkan tempatnya) 5. Berdansa . . . .
2. Tidak . . . . 6. Festival . . . . . .
3. Bernyanyi . . . . 7. Adat istiadat . . .
4. Perayaan hari besar . . . . 8. Lain-lain . . . . . . .
25. Apakah teman Anda dari latar belakang kepercayaan yang sama dengan Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .
26. Apakah teman Anda dari latar belakang yang sama dengan Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .
27. Apakah bahasa asli Anda?
28. Apakah Anda berbicara dengan bahasa tersebut?
1. Terutama . . . .
2. Kadang-kadang . . . .
3. Jarang . . . .
29. Apakah Anda membaca dalam bahasan asli Anda?
1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .

Makin besar jumlah jawaban ya,makin kuat klien memiliki keturunan tradisional (satu
jawaban tidak,Yang menunjukkan identitas keturunan adalah Apakah nama Anda
diganti?

Tahun 1920,populasi ini percampuran luas orang dari banyak negara,berbicara bahwa
yang berbeda dan memandang dengan pandangan yang sangat beragam tentang
keyakinan dan praktik kesehatan sensus tahun 1980 adalah upaya pertama yang
dilakukan untuk membagi-bagi populasi berdasarkan negara asal.Kelompok terbesar
adalah Jerman,Inggris,Irlandia dan Perancis. Ini adalah sketsa
Demografi singkat tentang populasi :
Usia rerata dari populasi ini pada tahun 1990 adalah 34,4 tahun.
74,6% dari anggota populasi yang berusia lebih dari 25 tahun telah
menyelesaikan pendidikan Sekolah tinggi.
Pendapatkan pribadi bagi individu yang bekerja purna waktu pada tahun 1989
rata-rata $ 31,419.
8,8% dari individu yang berusia lebih dari 25 tahun dalam kelompok ini berada
di bawah garis ke miskinan pada tahun 1991.

Penyebab Dan Pencegahan Penyakit
Bagi suku Eropa Amerika,keyakinan tradisional tentang penyebab penyakit
adalah banyak dan beragam. Contoh: melanggar peraturan keagamaan,pemajanan
terhadap faktor penyebab seperti hukuman dari Tuhan,kutukan,perubahan
iklim,penyalahgunaan tubuh. Metode untuk pencegahan penyakit yang ditemukan
diantara suku Eropa Amerika termasuk diet ,olah raga,ritual keagamaan dan
mengenakan jimat.

Ramuan
Ini adalah ramuan yang dilaporkan diantara suku Eropa-Amerika Malocchio
adalah semacam terompet dari Itali yang dikenakan untuk mencegah mata setan. The
Hunchbacked Man Gobo yang di pasangkan pada terompet memberikan perlindungan
ekstra,ia mengenakan sepatu tapal kuda untuk Keberuntungan pada tangan kanannya.
Menjulurkan jari telunjuk dan jari kelingking dari tangan kanannya untuk mengusir
setan. Sirup Black Draught digunakan sebagai laksatif dibeli dengan bebas.Sloans
Liniment membantu dalam peredaan semantara nyeri ringan yang diakibatkan oleh
artritis dan penyakit lainnya. Olbas dan magentropfen adalah obat yang dijual di Jerman
untuk mengobati sakit tenggorok dan kurang nafsu makan.

Alat Pengkajian Organisasi Sosial Etnokultural
Data demografik meliputi :
Ukuran populasi total dalam kota/desa
Dibagi-bagi berdasarkan wilayah konsentrasi residensi kelompok target
Dibagi-bagi berdasarkan usia
Pendidikan
Pekerjaan
Pendapatan
Keyakinan tentang kesehatan tradisional dan penyakit yang ditemukan dalam
kelompok target.
Praktek kesehatan tradisional dan terhadap penyakit dalam kelompok target.
Penggunaan dan sumber pengobatan di rumah.
Identitas penyembuh tradisional (dukun).

Faktor Kultural Dan Proses Keperawatan
Ketika perawat memberikan asuhan kepada klien dari latar belakang yang berbeda-
beda harus was Pada dan sensitif terhadap keunikan warisan budaya dan tradisi
kesehatan mereka sendiri dan kemudian terhadap latar belakang sosio-kultural klien.
Mereka harus mengkaji dan mendengarkan dengan cermat terhadap praktek dan
keyakinan tentang kesehatan dan penyakit. Proses keperawatan memberdayakan
perawat untuk memberikan asuhan yang bersifat individual dan dapat diterima untuk
memberikan asuhan yang sensitif secara kultural.

V. PERAWATAN PADA LANJUT USIA
A. Perawatan Lansia.
Masa dewasa tua (lansia ) dimulai setelh pensiun, biasanya antara 65 -75 tahun.
Petugas kesehatan lebih banyak meluangkan waktunya dengan lansia dalam perawatan
kesehatan karena itu merka harus fokus untuk mengidentifikasi dalam memenuhi
kebutuhan khususnya.
Asuhan keperawatan pada lansia adalah proses kompleks dan menantang yang harus
memperhitungkan hal hal berikut untuk menjamin pendekatan sesuai usia (
Lueckenotte 1994).

1. Pengkajian.
Keperwatan Gerontologis memberikan pendekatan kreatif unutuk
memaksimalkan potensi klien lansia. Dengan pengkajian informasi komperehensip
tentang kekuatan , sumber, dan keterbatasan klien lansia, perawat menidentifikasi
kebutuhan masalah klien serta memilih intervensi yang dapat memprtahankan
kemampuan fisik klien dan menciptakan lingkungan untuk keshatan psikososial dan
spritual. Pengkajian secara menyeluruh mengharuskan perawat untuk terikat secara
aktif dengan klien dan menadiakan waktu bagi klien untuk memberikan informasi
penting tentang kesehatannya. Perawat mengkaji perubahan pada perkembangan
fisiologis, kognitif, dan prilaku psikososial. Perawat harus tau tentang perubahan ini
untuk memberi asuhan yang tepat bagi lansia dan membatu mereka beradaptasi
terhadap perubahan. Perawat juga harus mempertimbangkan kemungkinan perubahan
sensori yang dapat mempengaruhi problem data. Perawat juga harus
mempertimbangkan masalah visual akibat katarak, atau kerusakan akibat pendengaran
karena tuli saraf saat memilih tehnik komunikasi, jika klien tidak memahami isyarat
visual atau pendengaran, pengkajian mungkin tidak akurat. Misalny a jika klien
mengalami kesulitan medengar pertanyaan perawat, respon yang tidak tepat dapat
menyebabkan perawat bahwa mereka memang bingung. Beberapa klien lansia mungkin
mengalami perubahan ini dan lansia lainnya hanya mengalami beberapa perubahan,
Perubahaan kontinu dengan usia, tetapi efek pada klien tergantung pada kesehatan,
gaya hidup stresor, dan kondisi lingkungan.

2. Diagnosa Keperawatan.
Data secara sistemik dikumpulkan selama pengkajian. Pengkajian adalah hal
yang esensial dalam keperawatan gerontologis, karena status klien sering beubah
Beberapa diagnosa keperawatan mempunyai beberapa faktor yang berhubungan
Indentifikasi faktor yang berhubungan atau penyebab yang mungkin untuk setiap
diagnosa memberikan arahan dalam mengembangkan intervensi keperawatan,.
Misalnya intervensi pada konstipasi berbeda jika kemungkinan penyebabnya adalah
lebih pada pengobatan dari pada imobilisasi. Analisa data memerlukan pertimbangan
terhadap kekuatan dan keterbatasan individu dan juga presepsi klien lansia tentang
status kesehatannya. Validasi data dari keluarga, kolega,perwat, profesi kesehatan lain
dan catatan rekam medis mungkin diperlukan. Pengkajian data yang terdiri dari
karakteristik subjek dan objektif penting untuk validasi diagnosa keperawatan.
Pengkajian yang akurat esensial karena perawatan dibuat atas dasar tersebut.

3. Perencanaan.
Rencana Keperawatan pada lansia pada kegiatan mencegah, meningkatkan,
mengurangi atau menghilangkan masalah . Prioritas ditetapkan, tujuan klien dan hasil
yang diharapkan dan intervensi yang cocok dipilh. Hal tersebut dilakukan dengan
partisipasi klien sehingga intervensi dapat dimengerti dan masalah dalam melakukan
intervensi dapat dihindari. Pertimbangan perwat tentang pengalaman hidup serta nilai
dan pola sosial kultural dikembangkan, harus bertindak sebagai dasar rencana
perawtan individu.
Tujuan penetapan perawatan pada lansia harus mencerminkan pertimbangan
faktor yang mempengaruhi pertambahan usia normal, memelihara kemandirian sebisa
munkin , dan memudahkan tingkat kenyamanan dan koping optimal. Meskipun kadang
kadang membutuhkan waktu yang lebih banyak dan sulit , melibatkan klien lansia
dalam proses perencanaan keperawatan memberi kebebasan maksimal pada aktivitas
merawat diri endiri dapat meningkatkan kesehatan fisik dan psikososial. Dalam kasus
dimana keadaan kognitif klien menghambat keikutsertaanya dalam menetapkan tujuan
hasil serta intrervensi perencanaan, keluarga harus ada didalamnya. Keluarga dan
teman adalah sumber data ketika mengembangkan rencana perawatan individu karena
merka mengetahui klien sebelum terjadi kelemahan. Mereka dapat memberikan tentang
prilaku klien dan mengusulkan metode penatalaksaanya.

4. Implementasi.
Implementasi keperawatan pada lansia dapat mencangkup peningkatan dan
pemeliharaan kesehatan, dukungan psikososial , keadaan rumah, ;pengobatan mandiri,
penyesuaian, dan penghematan. Hal tersebut penting untuk dimaksukkan
didalamkegiatan rutinitas atau ritual klien jika mungkin. Intervensi secara umum
diitunjukkan pada memfasilitasi kemandirian dan mendukung kemampuan perawatan
diri. Aktivitas perawatan membutuhkan lebih banyak waktu karena respons yang lebih
lambat, banyak masalah, dan hubungan yang dekat antara aspek fisik dan psikososial
penuaan.

5. Evaluasi
Evaluasi mengukur tngkat dimana rencana intervensi efektif dalam memenuhi
hasil yang diharapkan. Perawat menentukan apakah tujuian telah terpenuhi dan
perubahan apa yang telah terjadi pada status klien sebagai hasil intervensi. Tujuan
dapat direvisi atau dihilangkan atau membuat tujuan baru. Implementasi mungkin
terpengaruh sesuai perubahan tujuan. Klien dan keluarga termasuk dalam
pengembangan rencana keperawatan, masukan dari mereka dalam mengevaluasi hhasil
perawatan harus didapat. Frekuensi evaluasi pada lansia sangat individual. Perubahan
seringkali lambat dann tidak terlihat, sehingga evaluasi mungkin jarang atau sering
dilakukan. Tipe masalah , pembentukan tujuan dan penggunaan intervensi menentukan
frekuensi evaluasi. Misalnya, jika tujuannya adalah klien bebas dari komplikasi kulit
karena imbobilitas, evaluasi harus sering dilakukan dan teratur .Jjika intervensinya
penurunan berat badan, evaluasi klien harus dilakukan setiap minggu. Perawat
memainkan peran besar dalam mendorong lansia untuk berpartisipasi dalam
mengevaluasi rencana intrevensi dan kemajuan.

VI. PERAWATAN MENJELANG DAN SAAT KEMATIAN
Perawat sebagai pelayan kesehatan memiliki peran yang sangat penting bagi
keluaraga dan pasien yang akan menjelang ajal.Seorang perawat harus dapat berbagi
penderitaan dan mengintervensi pada saat klien menjelang ajal untuk meningkatkan
kualitas hidup.
Menjelang ajal atau kondisi terminal adalah suatu proses yang progresi menuju
kematian berjalan melalui tahapan proses penurunan fisik,psikososial,dan spiritual bagi
individu.
Secara umum pengaplikasian caring pada klien menjelang ajal berupa:

A. Peningkatan kenyamanan
Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk pengenalan dan perbedaan
distres (oncology society and the American Nurses Association,1974)
Hal hal yang harus diperhatikan dalam peningkatan kenyamanan
1. Kontrol nyeri
Seluruh pelayan kesehatan dan keluarga harus dapat membantu klien mengatasi
rasa nyeri,karena nyeri dapat mempengaruhi klien dalam memenuhi kebutuhan
istirahat tidur,nafsu makan,mobilitas dan fungsi psikologis.
2. Ketakutan
Tenaga kesehatan dan keluarga harus dapat membantu klien mengurangi rasa
ketakutan terhadap gejala yang ditimbulkan seperti nyeri umum yang selalu datang
setiap saat yang dapat membuat sagala aktifitas terganggu.
3. Pemberian terapi dan pengendalian gejala penyakit.
Pemberian terapi merupakan bagian yang dapat mengurangi rasa tidak nyaman
seperti rasa nyeri dapat teratasi setelah pemberian terapi,pemberian chemotherapi,dan
radiasi dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit.
4. Higiene personal
Pemenuhan kebersihan diri merupakan salah satu yang harus dipenuhi agar
klien merasa segar dan nyaman.

B. Pemeliharaan Kemandirian
Adalah pilihan yang diberikan kepada klien menjelang ajal untuk memilih
tempat perawatan dan memberikan kebebasan sesuai kemampuan klien,karena
sebagian besar klien menjelang ajal menginginkan sebanyak mungkin mapan diri.
Dalam pemeliharaan kemandirian dapat dilakukan bisa perawatan akut dirumah
sakit,ada juga perawatan dirumah atau perawatan hospice.
1. pemeliharaan kemandirian di rumah sakit
Klien yang memilih tempat perawatan menjelang ajal dirumah sakit diberikan
kebebasan sesuai kemampuan.
Sikap perawat dalam pemeliharaan kemandirian di rumah sakit :
o Perawat harus mengimformasikan klien tentang pilihan
o Perawat dapat memberikan dorongan dengan berpartisipasi dalam pembuatan
keputusan untuk memberikan rasa kontrol klien
o Perawat tidak boleh memaksakan bantuan
o Perawat memberikan dorongan kepada keluarga untuk memberikan kebebasan
klien membuat keputusan.

2. pemeliharaan kemandirian dirumah (perawatan hospice)
Adalah perawatan yang berpusat pada keluarga yang dirancang untuk
membantu klien sakit terminal untuk dapat dengan nyaman dan mempertahankan gaya
hidupnya senormal mungkin sepanjang proses menjelang ajal.
Menurut Pitorak (1985) mengambarkan komponen perawatan hospice sebagai
berikut :
o Perawatan dirumah yang terkoordinasi dengan pelayanan rawat jalan dibawah
administrasi rumah sakit
o Kontrol gejala (fisik,sosiologi,fisiologi, dan spiritual ).
o Pelayanan yang diarahkan dokter
o Perawtan interdisiplin ilmu
o Pelayanan medis dan keperawatan tersedia sepanjang waktu
o Klien dan keluarga sebagai unit perawatan
o Tindak lanjut kehilangan karena kematian
o Penggunaan tenaga sukarela terlatih sebagai bagian tim
o Penerimaan kedalam program berdasarkan pada kebutuhan perawatan
kesehatan ketimbang pada kemampuan untuk membayar.

C. Pencegahan Kesepian dan isolasi
Untuk mencegah kesepian dan penyimpangan sensori perawat menintervensi
kualitas lingkungan.
Hal-hal yang dilakukan untuk mencegah kesepian dan isolasi
1. Tempatkan pasien pada ruangan biasa ( bergabung dengan pasien lain) tidak perlu
ruangan tersendiri, kecuali pada keadaan kritis atau tidak sadar.
2. libatkan klien dalam program perawatan sesuai kemampuan klien, agar klien merasa
diperhatikan.
3. Berikan pencahayaan yang baik dan bisa diatur agar memberikan stimulus yang
bermakna.
4. memberikan stimulus berupa gambar, benda yang menyenangkan, atau surat dari
anggota keluarga.
5. Libatkan keluarga dan teman untuk lebih perhatian
6. Berikan waktu yang cukup kepada keluarga untuk menjenguk atau menemani klien.

D. Peningkatan ketenangan spiritual
Memberikan ketenangan spiritual mempunyai arti lebih besar dari sekedar
kunjung rohani. Perawat dapat memberikan dukungan kepada klien dalam
mengekspresikan filosofi kehidupan. Ketika kematian mendekat, klien sering mencari
ketenangan dengan menganalisa nilai dan keyakinan yang berhubungan dengan hidup
dan mati. Perawat dan keluarga dapat membantu klien dengan mendengarkan dan
mendorong klien untuk mengekspresikan tentang nilai dan keyakinan, perawat dan
keluarga dapat memberikan ketenangan spiritual dengan menggunakan keterampilan
komunikasi, mengekspresikan simpati, berdoa dengan klien.

E. Dukungan untuk keluarga yang berduka
dukungan diberikan agar keluarga dapat menerima dan tidak terbawa kedalam
situasi duka berkepanjangan.
Hal-hal yang dilakukan perawat, perhatikan
1. perawat harus mengenali nilai anggota keluarga sebagai sumber dan membantu
mereka untuk tetap berada dengan klien menjelang ajal.
2. mengembangkan hubungan suportif.
3. menghilangkan ansietas dan ketakutan keluarga
4. menetapkan apakah mereka/ kelurga ingin dilibatkan.

PERAWATAN SETELAH KEMATIAN
perawat mungkin orang yang paling tepat untuk merawat tubuh klien setelah kematian
karena hubungan terapeutik perawat-klien yang telah terbina selama fase sakit. Dengan
demikian perawat mungkin lebih sensitif dalam menangani tubuh klien dengan martabat dan
sensitivitas.
Peran perawat :
1. perawat menyiapkan tubuh klien dengan membuatnya tampak sealamiah dan
senyaman mungkin
2. perawat memberikan kesempatan pada keluarga untuk melihat tubuh klien
3. perawat memberikan pendampingan pada keluar pada saat melihat tubuh klien
4. perawat harus meluangkan wakyu sebanyak mungkin dalam membantu keluarga
yang berduka
















BAB III
TINJAUAN KASUS



KASUS PEMICU 3 : seorang pasien laki-laki berusia 67 thn mendapat serangan stroke non
hoemoragic dan dirawat diruang perawatan jenis semi intensif sebuah rumah sakit. Kesadaran
pasien baik, namun pasien mengalami kelumpuhan sisi sebelah kanan tubuhnya dan mengalami
kesulitan bicara. Pasien seringkali menolak bantuan perawat untuk pemenuhan perawatan
hariannya. Pasien meminta supaya istrinya yang merawat dan menemaninya. Kebijakan rumah
sakit melarang anggota keluarga menunggu di dalam ruangan perawtan isteri pasien hanya
boleh menemani pasien pada saat waktu kunjungan. Isteri pasien selalu menunggu di ruang
perawatan dan ingin membantu merawat suaminya.

Pertanyaan : analisa kasus tersebut berdasarkan konsep budaya dan transkultural yang
telah saudara pelajari bagaimana perawat bila dihadapi pada situasi diatas, apa yang sebaiknya
dilakukan perawat untuk membnatu pasien dan keluarga.
Jawaban kasus Tn. :
Konflik : Peraturan Rumah sakit dengan nilai yang dianut oleh pasien.
Peraturan RS ;
Tidak membolehkan keluarga menunggu didalam ruangan
Seluruh kebutuhan pasien dipenuhi oleh perawat (ADL)
Nilai yang dianut pasien :
Ingin didampingi dan dirawat oleh istrinya
Menurut kelompok,dipandang dari konsep keperawatan transcultural ; berdasarkan
teori model transkultural ( sunrise model )
1. Kinship and social factors ( faktor sosial dan keterikatan keluarga )
Dihubungkan dengan kasus didapatkan bahwa klien adalah seorang kepala
keluarga sebagai pengambil keputusan.
2. Cultural value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup )
Dilihat dari segi kebudayaan klien masih menganut kebiasaan timur dimana
seorang istri menjadi keharusan melakukan kewajiban melayani suami sebagai
kepala keluarga
3. Religious and philosophical factors ( faktor agama dan falsafah hidup)
Dipandang dari segi agama klien masih menganut kepercayaan yang kuat
terhadap norma agama.
Contoh : tidak boleh bersentuhan dengan wanita selain istri dan anaknya.
4. Cultural value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup )
Sebagai kepala keluarga klien memegang budaya yang menganggap bahwa
sudah seharusnya seorang istri mendampingi seorang suami dalam keadaan
sakit, klien beranggapan budaya ini adalah budaya yang baik.
5. Political and Legal factors ( faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku
Dalam kasus ini peraturan rumah sakit melarang keluarga untuk menunggu
klien yang sedang dirawat diruang semi intensif. Yang merupakan hasil
kebijakan rumah sakit. Kelompok mengambil suatu kesimpulan kebijakan RS
berdasarkan suatu standar perawatan untuk mencegah infeksi nosokomial.
Dalam kasus ini kelompok berpendapat dipandang dari konsep perawatan
transkultural dan perawatan usia lanjut, perawat mengambil kebijakan dengan
membolehkankan istrinya ada didalam ruangan pada saat kebutuhan ADL seperti pada saat
eliminasi bab dan bak,makan,minum obat oral,memandikan atau kebutuhan lain dimana
memang kehadiran istri sangat dibutuhka.Diluar itu istri/keluarga dpersilahkan menunggu
diluar.ruangan.
.





BAB II
ISI DAN TEORI



II.A.Perspektif transkultural dalam keperawatan.
II.A.1.Pengertian Transkultural
Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture,
Trans berarti alur perpindahan , jalan lintas atau penghubung.
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti melintang , melintas ,
menembus , melalui.Cultur berarti budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
kultur berarti : kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.sedangkan
Kepercayaan,
nilai nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok
dan diteruskan pada generasi berikutnya ,sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang
berkaitan dengan kebudayaan. Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.
dan kebudayaan berarti : Hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia
seperti
kepercayaan ,kesenian dan adat istiadat.serta keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya Jadi
,transkultural
dapat diartikan sebagai : lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu
mempengaruhi budaya yang lain
- Pertemuan kedua nilai nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial
- Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan
perbedaan maupun kesamaan nilai nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras ,
yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan
kepada
klien)Leininger ( 1991 ).
A.a. Peran dan Fungsi Transkultural
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting
bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya
kebiasaan hidup sehari hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan
social , praktik kesehatan , pendidikan anak , ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan ,
peranan masing masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub kultur .
Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya menganut pandangan
kelompok kultur yang lebih besar atau memberi makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga
saling berkaitan dengan kebiasaan cultural.
Nilai nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanan
dari dokter pria . Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-
natal dari dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental
dengan hal hal yang dianggap tabu.
Dalam tahun tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingnya pengaruh kultur terhadap
pelayanan perawatan . Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relatipe baru , ia
berfokus pada studi perbandingan nilai nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan
hubungannya dengan perawatannya .

Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk
pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) .
II.A.1.keperawatan transkultural dan globalisasi dalam pelayanan kesehatan
II.A.2 Konsep dan prinsip dalam asuhan keperawatan transkultural

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan
dibagi
serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan
keputusan.
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei
pemberian
asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang
dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu,
kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang
datang
dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya
adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut ciri- ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal
muasal
manusia
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian
Etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan
dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku
pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan
baik
aktual maupunpotensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi
kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
10.Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan
dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi
kesempatan
individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang
dan
bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide
yangdimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.

Prinsip-prinsip :
a. Jangan gunakan asumsi.
b. Jangan membuat streotip bisa terjadi konflik misalnya : orang padang pelit, orang
jawa halus.
c. Menerima dan memahami metode komunikasi.
d. Menghargai perbedaan individual.
e. Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu.
f. Tidak privasi terkait kebutuhan pribadi.
II.A.3. Pengkajian asuhan keperawatan dalam transkultural.

Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien
sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar,1995). Pengkajian
dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada SUNRISE MODEL, yaitu :
1. Faktor tehnologi (tecnological factors)
Tehnologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat, atau mengatasi masalah kesehatan,
alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan
persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan tehnologi untuk mengatasi
permasalan kesehatan saat ini.
2. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factor)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistik bagi
para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan
kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang
harus dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara
pengobatan, dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Pada tahap ini yang harus dikaji perawat adalah : nama lengkap, nama panggilan,
umur dan tanggal lahir, jenis kelamin status, tipe keluarga, pengambil keputusan
dalam keluarga,dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut
budaya yang dianggap baik dan buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah
yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Pada faktor
ini yang perlu dikaji adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga,
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan,makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktifitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
5. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew
and Boyle, 1995). Pada tahap ini yang perlu dikaji adalah : peraturan dan kebijakan
yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
6. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang
dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus
dikaji adalah: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh
keluarga, biaya dari sumber lain seperti ansuransi, penggantian biaya dari kantor atau
patungan antar anggota keluaraga.
7. Faktor pendidikan (educational factor)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur
pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien mka
keyakinannya didukung oleh bukti=bukti ilmiyah yang rasional dan individu tersebut
dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Hal yang perlu dikaji tahap ini adalah tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya
sehingga tidak terulang kembali.
II.A.3.Beberapa instrument pengkajian budaya.
A.3.1 Nurse Client Negotiations Model
Pegkajian kultural dan perencanaan keperawatan bsgi mereka yang berasal berasal dari latar
belakang budaya berlainan. Mengakui perbedaan gagasan perawat dan klien tentang kesehatan,
penyakit dan pengobatan. Menurut Kleinman 1978 :
Arena populer , konteks keluarga tentang penyakit, perawatan jaringan soaial dan
perspektif masyarakat.
Arena profesional, pengobatan ilmiah dan tradisi sehat.
Arena rakyat, peran ahli pengobatan/penyembuhan yang tidak profesional(dukun).
3.1a. Enam fenomena kultural :
a) Komunikasi
Verbal, bahasa utama dan non verbal.
b) Ruang pribadi
Tindakan lebih menonjol daripada kata-kata.
c) Organisasi sosial
Prilaku didapat, cirikhas budaya, nilai berorientasi internal, kepercayaan keagamaan,
pembuatan keputusan bersama keluarga.
d) Waktu
Bagaimana cara mengkaji waktu, konsep waktu.
e) Kendali lingkungan
Lokus kontrol, cara mengevaluasi sistem kesehatan.
f) Variasi biologis
Struktur tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik dan psikologis.
Menurut Anderson ( 1990 ) alat untuk memahami perspektif dari sudut pandang klien :
a. Menurut anda, apa yang menjadi penyebab masalah ini?
b. Menurut anda, mengapa mulai ada masalah ini?
c. Apa akibat penyakit itu bagi anda, bagaimana bisa begitu?
d. Separah apa sakit anda? Apakah anda akan sakit lama / sebentar?
e. Pengobatan apa yang anda pikir sebenarnya anda terima?
f. Hasil terpenting apa yang anda harap dapat diperoleh dari pengobatan ini?
g. Masalah besar apakah yang dibutuhkan penyakit anda?
h. Apa yang paling anda takutkan dari penyakit anda?
3.1.b.Pendekatan atau langkah langkah untuk memberikan yang peka budaya :
1) Memadukan pengajaran klien berdasarkan data dari langkah terdahulu.
2) Mengidentifikasi adaptasi yang dilakukan klien.
3) Membiasakan diri dengan budaya klien.
4) Mengkaji budaya perorangan.


A.3.2.Culturally Competent Model of Care
Menurut Campiata-Bacode ( 1995 ) ; kompetensi kultural yang terdiri atas seperangkat perilaku,
sikap dan kebijakan yang kompeten memungkinkan sistem, lembaga/proffesional bekerja secara
efektif dalam lingkungan dan lintas budaya.
Kompetensi melibatkan 4 komponen ;
Kesadaran kultural / cultural awarenes
Mengkaji etnik / latar budaya lain.
Pengetahuan kultural / cultural knowledge
Memperoleh pendidikan dan cara pandang dalam kebudayaan.
Keterampilan kultural / cultural skill
Cara melakukan pengkajian yang akurat.
Pertemuan kultural / cultural encounter
Interaksi dengan latar belakang budaya yang beraneka ragam.

A.3.3.Proses pengumpulan data.
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar
latar belakang budaya klien ( Biger and Davidhizar,1995 ). Pengkajian dirancang berdasarkan tujuh
komponen ( sunrise model ), yaitu ;
1. Faktor tehnologi / tecnological factors
Perawat mengkaji ; persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat / mengatasi masalah kesehatan, alasan
mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif, persepsi klien tentang
pemanfaatan tehnologi untuk mengatasi masalah kesehatan.
2. Faktor agama dan falsafah hidup / religous and philodophical factors
Yang dikaji perawat ; agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap
penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap
kesehatan.
3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga /kinship and social factors
Hal yang dikaji ; nama lengkap, nama panggilan, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status,
tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan klien dengan kepala
keluarga.
4. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup / cultural value and life ways
Yang perlu dikaji ; posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit dan persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku / political and legal factors
Meliputi ; pengkajian peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah
anggota keluarga yang boleh menunggu dan cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
6. Faktor ekonomi / econnomical factors
Hal yang dikaji ; pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki
keluarga,(biaya dari sumber lain ( asuransi, penggantian biaya dari kantor, patungan antar anggota
keluarga).
7. Faktor pendidikan / educational factor
Hal yang dikaji ; tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan / tingkat kemampuan untuk belajar
secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

II.B.Aplikasi transkultural pada beberapa masalah kesehatan.
II.B.1.Aplikasi transkultural pada masalah penyakit kronis.
II.B.2.Aplikasi transkultural pada gangguan nyeri.
B.2.1. Definisi nyeri
Adalah cukup beragam,sebagian karena rasa sakit kompleks dan sebagian karena banyak
pandangan yang berbeda dari rasa nyeri. Nyeri adalah sensasi rasa dengan kerusakan jaringan
yang nyata atau potensial melibatkan gangguan kimia di sepanjang jalur neurologis.
Kompetensi cultural perawat dalam merawat klien dengan nyeri.
Identifikasi sikap personal.
- Bina hubungan efektif Perawat klien.
- Bangun kompetensi perawat.
- Kaji nyeri.
- Management nyeri.
- Tanggung jawab yang jelas.
Kompetensi perawat pada perbedaan budaya dengan klien respon nyeri.
Ekspresi rasa sakit bervariasi dari budaya ke budaya dan dapat bervariasi dari orang ke
orang dalam suatu budaya.sebagai contoh:
- America Africa
Beberapa orang percaya rasa sakit dan penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan akan
bertahan.
Beberapa percaya bahwa doa menengadahkan tangan akan bebas dari penderitaan dari rasa
sakit.
Beberapa orang mungkin menolak atau menghindari berurusan dengan rasa sakit sampai ia
menjadi tak tertahankan.
- Meksiko America
Cenderung untuk melihat rasa sakit sebagai bagian dari kehidupan dan sebagai indicator dari
keseriusan penyakit.
Beberapa percaya bahwa rasa sakit yang abadi adalah tanda kekuatan.
Banyak cenderung keras dan vocal dalam ekspresi nyeri mereka. Ini adalah cara belajar
untuk mengatasi sosial dan penting untuk perawat tidak menghakimi atau menolak.
- Asia America
Nilai nilai budaya cina diam akibatnya beberapa klien tenang ketika sakit karena mereka
tidak ingin menimbulkan aib untuk diri dan keluarga mereka.
Jepang mungkin memiliki rasa lebih tabah ( minim ekspresi verbal dan non verbal 0 respon
terhadap sakit.Mereka bahkan menolak obat nyeri.
Filipina mungkin klien percaya bahwa rasa sakit adalah kehendak Tuhan, Beberapa lansia
Filipina juga menolak obat nyeri.
Native Amerika
Secara umum penduduk asli Amerika yang tenang kurang ekspresif secara lisan dan non
verbal dapat mentolelir tingkat tinggi rasa sakit. Meereka cenderung untuk tidak meminta
obat penghilang rasa nyeri dan dapat mentolelir rasa sakit mereka sampai secara fisik mereka
cacat.
- Amerika Arab
Tanggapan nyeri dianggap pribadi dan dicadangkan untuk segera pada keluarga, tidak
dengan professional kesehatan.Akibatnya hal ini dapay menyebabkan persepsi yang saling
bertentangan antara anggota keluarga dan perawat mengenai efeaktifitas nyeri klien.
B.2.2.PERSPEKTIF BUDAYA TRANSKULTURAL PADA KEPERAWATAN
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat dapat
dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam prakter keperawatan. Salah satu teori
keperawatan adalah transkultural nursing teori. Teori menjabarkan konsep keperawatan yang
didasari oleh pemahaman tentang perbedaan nilai nilai cultural yang melekat dlam
masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai nilai dalam penerapan askep pada klien.Bila hal tersebut
diabaikan oleh perawat akan mengakibatkan KULTURAL SHOCK.
Kultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu
beradaptasi dengan adanya perbedaan nila budaya dan kepercayaan. hal ini dapat
menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan,ketidskberdayaan, dan beberapa mengalami
disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami
nyeri.Pada beberapa daerah atau Negara diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa
nyeri dengan berteriak atau menangis, tapi karena perawat memiliki kebiasaan bila nyeri
hanya dengan meringis pelan , bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan.Maka
ketika mendapati klien tersebut menangis atau berteriak maka perawat meminta untuk
bersuara pelan atau berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap mengganggu pasien
lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan
kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.


II.B.3.Aplikasi transkultural pada gangguan kesehatan mental
Perbedaan perbedaan agama dan kultural mengandung implikasi terhadap perawatan
karena pasien dan perilakunya dipengaruhi oleh latar belakang agama serta kebudayaannya.
Perawat perlu mempertimbangkan latar belakang kehidupan pasien ketika mengumpulkan
data, mengidentifikasi kebutuhan perawatan, dan merencanakan pemenuhan kebutuhan
tersebut kalau ia ingin perawatan yang diselenggarakannya mencapai efektifitas maksimum.
Perawatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan praktek kehidupan pasien sering tak
dapat diterima oleh pasien. Kalaupun pasien menerimanya juga, perawatan serupa itu dapat
merugikan karena perasaan bersalah dan penyimpangan dari kelompok agama serta kultural
yang ditimbulkannya mungkin sekali mengancam ketenangannya.
Misalnya praktek diet pasien berdasarkan pertimbangan agama dan budaya dapat disesuaikan
oleh tenaga kesehatan. Bagian gizi rumah sakit mensupply pasien dengan hidangan yang
sesuai dengan praktek diet khusus. Pendidikan pasien dan keluarganya tentang diet
terapeutik dapat pula dilakukan dalam kerangka praktek agama dan budaya tertentu.
Perawat didorong memberikan penjelasan kepada pasien tentang pemeliharaannya perawat
mungkin menemukan bahwa pasien dari latar belakang budaya tertentu cenderung
memerlukan penjelasan yang lebih mendetail dibanding pasien dari kelompok lain. Perawat
juga mungkin menemukan bahwa pasien dari kultur lain lagi cenderung lebih tertarik untuk
berpartisipasi dalam perencanaan perawatan dibandingkan dengan pasien lain.
Harus diingat bahwa penjelasan dan partisipasi diartikan secara berbeda dalam beberapa
kultur yang berlainan. Perawat perlu menyesuaikan pendekatannya terhadap individu pasien.
Sering terjadi bahwa perawat harus mempertimbangkan peran kultural seseorang dalam
keluarga yang menetapkan sebagian besar keputusan. Dalam beberapa kultur, peran serupa
itu dipegang oleh suami atau ayah sementara dalam budaya lain hak itu dipegang oleh nenek
atau orang lanjut usia lainnya yang dihormati. Bila perawat mengesampingkan hal ini atau
melanjutkan pelayanan perawatan tanpa persetujuan orang tersebut dapat menimbulkan
konflik atau pasien tidak mengindahkan apa yang telah diajarkan.
Perawat harus memastikan bahwa orang yang penting peranannya tersebut terlibat dalam
perencanaan pelayanan perawatan kepada pasien. Dalam kultur-kultur di mana keluarga lebih
diutamakan daripada individu, perawat harus menyadari bahwa tindakan pelayanan kesehatan
yang berkepanjangan dan mahal biasanya mungkin tidak dapat dilakukan karena dianggap
tidak konsisten dengan kesejahteraan keluarga.
Bagi orang yang latar belakang budayanya tidak mementingkan masa depan, pelayanan
kesehatan yang berfokus pada pencegahan dan deteksi penyakit secara dini mungkin
memerlukan penekanan secara khusus. Kombinasi pengobatan tradisional dan pengobatan
professional dianggap menguntungkan bagi sejumlah orang. Beberapa tenaga kesehatan yang
merawat orang-orang yang banyak menggunakan pengobatan rakyat kini sedang
mengadaptasi tindakan pelayanan kesehatan agar tidak bertentangan dengan kepercayaan
individu pasien tetapi masih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Penyesuaian praktek kultural lain sedang dicobakan dalam beberapa lembaga pelayanan
kesehatan. Misalnya, beberapa rumah sakit sedang melakukan penyesuaian guna
memungkinkan anggota keluarga tambahan menjenguk pasien. Anggota keluarga pasien
sering dapat dilibatkan dalam pemeliharaan pasien dengan cara yang mengandung makna
bagi keluarga dan pasien. Sebagai contoh, memandikan dan memberi makan pasien.

Kesehatan mental adalah kemampuan mental atau kecakapan intelektual individu. Penyakit
mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan
yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang
ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan
panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan
keluarganya). Penyakit mental dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras,
agama, maupun status sosial ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan
pribadi.

Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental,
ada yang percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang
menuduh bahwa itu akibat guna guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya.
Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena si sakit
tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat. Sekitar 20% dari kita akan mengalami
gangguan mental pada suatu waktu dalam hidup kita. Gangguan mental yang mungkin
dialami oleh tiap orang itu berbeda-beda dalam hal jenis, keparahan, lama sakit, frekuensi
kekambuhan, dan cara pengobatannya.

Ada lebih dari 400 macam gangguan mental, tetapi yang umum dikenal masyarakat hanya
satu saja, yaitu apa yang disebut gila. Akibatnya setiap orang yang datang berkonsultasi ke
psikolog atau berobat ke psikiater dikatakan gila, sehingga mereka yang sesungguhnya
memerlukan pengobatan merasa malu untuk berobat. Padahal, gangguan mental yang berat
ini (gila) hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari sekian banyak macam
penyakit/gangguan mental. Yang penting untuk diketahui, penyakit mental dapat diobati.
Seperti halnya orang dengan diabetes (kencing manis) yang harus minum obat kencing
manis, demikian juga orang dengan gangguan mental yang serius perlu obat untuk meredakan
gejala gejalanya . Kita harus mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan mental seperti
halnya kita pergi berobat untuk penyakit lainnya. Orang dengan penyakit mental
membutuhkan dukungan atau support, penerimaan dan pengertian dari kita semua. Mereka
juga punya hak yang sama seperti orang lain, bukan malah ditakuti, dijauhi, diejek atau
didiskriminasi.

Berikut ini merupakan contoh berbagai gangguan mental yang sering dijumpai:
Depresi
Anxietas/Kecemasan
Gangguan Panik
Fobia (termasuk Sosialfobia)
Obsesi Kompulsi
Skizofrenia
Gangguan Bipolar (Manik-Depresif)
Ketergantungan Zat/Narkoba/Alkohol
Gangguan Stres Pasca Trauma
Retardasi Mental
Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif
Autisme
BAB III
Pembahasan Kasus

KASUS 4 (sesuai pokok bahasan 4)
Seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun dibawa ke sebuah rumah sakit karena pingsan pada
saat rapat di kantornya. Setelah diperiksa dilaboratorium, ditemukan kadar gula darahnya
mencapai 450mg/DL. Pasien telah dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus Tipe II.
Dalam dua tahun, pasien telah beberapa kali di rawat karena kondisi badannya sering lemah.
Pasien yang mengalami kegemukan telah dianjurkan untuk melakukan diet dan olah raga
namum pasien mengatakan kesulitan mengatur makanannya karena kebiasaan budaya
Jawanya makan makanan yang manis.

Pertanyaan:
Analisis kasus tersebut berdasarkan konsep budaya dan transkultural yang telah saudara
pelajari. Bagaimana peran perawat bila dihadapkan pada situasi diatas? Apa yang sebaiknya
dilakukan perawat untuk membantu pasien?
Analisa Kasus 4
1. Konsep Transkultural dalam Keperawatan
2. Komunikasi therapetik.
3. Pengkajian Asuhan Budaya
4. Diagnosa
5. Intervensi Transkultural

1.Konsep transkultural dalam keperawatan.
Pada tahap pengkajian asuhan keperawatan keluarga, merupakan tahap yang tidak
mudah dilakukan. Hal tersebut disebabkan oleh karena keluarga merupakan bagian
dari masyarakat yang hidup dalam suatu komunitas tertentu dengan berbagai latar
belakang baik budaya, ekonomi, social, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur,
agama dan sebagainya. Setiap latar belakang tersebut akan mempengaruhi keluarga
dalam penerimaan, kesadaran, kemampuan khususnya dalam bidang kesehatan dan
keperawatan.
Terkadang faktor-faktor tersebut di atas dapat mendukung kesehatan bahkan dapat
juga menghambat tercapainya kesehatan yang optimal, misalnya saja pengetahuan.
Apabila keluarga mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang kesehatan dan
keperawatan, maka keluarga akan dapat dengan mudah mengenali masalah kesehatan,
memutuskan tindakan, memelihara kesehatan anggota keluarga dan dapat
memanfaatkan fasilitas kesehatan sebagai rujukan apabila penanganan di rumah tidak
menunjukkan hasil. Namun apabila pengetahuan keluarga rendah maka fenomena di
atas akan terjadi sebalikya.
Pada saat pengkajian di keluarga, perawat juga dapat mengalami kesulitan BHSP
(Bina hubungan saling percaya). Apabila perawat tidak dapat melakukan pendekatan
kepada keluarga dan berhasil maka keluarga dapat terbuka dengan perawat pengkajian
dapat dilaksanakan dengan lancar, namun apabila hubungan saling percaya tidak
dibina maka pengakajian mengalami kesulitan.
Di samping itu pengkajian keperawatan keluarga terkadang tidak dapat dilaksanakan
sekaligus pada satu waktu, yang diartikan tidak dapat selesai dalam waktu satu (1)
hari. Hal tersebut dikarenakan keluarga terkadang disibukkan oleh kegiatan rumah
tangga, bekerja sehingga pada saat perawat melakukan pengkajian, hanya mempunyai
waktu beberapa saat. Sehingga pengkajian dilanjutkan pada hari berikutnya.
Pada format pengkajian, perlu pendataan tentang riwayat imunisasi anak. Terkadang
muncul fenomena bahwa orang tua sering lupa tentang riwayat imunisasi anaknya
atau KMS (Kartu Menuju Sehat) hilang maka pengkajian riwayat imunisasi tersebut
tidak lengkap. Di samping itu perlu pendataan silsilah keluarga dalam bentuk
genogram, namun terkadang mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya, misalnya
keluarga tidak dapat mengingat umur anggota keluarganya, tidak dapat mengetahui
penyakit keturunan yang diderita oleh salah satu anggota keluarganya. Sehingga
genogram tidak dapat terdokumentasi lengkap dimana minimal terdokumentasi 3
generasi.
Adapun kelebihan Teori transkultural dalam aplikasinya antara lain ::
1. Data yang didapatkan lebih lengkap dan mengena karena lebih mendekatkan pada
pengkajian transkultural atau budaya yang merupakan bagian dari latar belakang
keluarga
2. Pengkajian pada askep keluarga lebih spesifik dan lebih jelas karena diarahkan ke
spesifikasi teori tertentu
3. Adanya sumber data memperkuat dan memperlengkap pemahaman tentang asuhan
keperawatan keluarga.
4. Memfasilitasi keluarga mengenali lebih jauh kesehatan keluarga dan
penanganannya
Adapun keluarga Kekurangan Teori transkultural antara lain :
1. Perlu waktu yang lebih lama karena perlu menggali data dari beberapa sumber
2. Jika hanya berdasarkan tinjauan teoritis, data perkembangan kultur atau budaya
tidak terkaji dan tidak dapat mendapatkan dapat yang mendekati latar belakang
keluarga
3. Pada keluarga dengan kultur yang kuat dan keluarga berusaha untuk
mempertahankan budayanya dimana kultur tersebut bertentangan dengan kesehatan
maka intervensi perawat akan menemukan kesulitan untuk bernegosiasi dan
merestrukturisasi budaya.

3. Pengkajian Asuhan Budaya
a. Kaji persepsi sehat sakit
- Klien merasa sakit bila sudah merasa tidak berdaya (pingsan) dan memerlukan
bantuan untuk dibawa ke rumah sakit dan mendapat pertolongan
- Klien merasa sehat bila ia tidak pernah merasakan adanya keluhan apapun
b. Kaji kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan
Klien akan berobat apabila sudah merasa sakit, klien tidak pernah memanfaatkan
teknlogi untuk pemanfaatan kesehatan
c. Kaji alasan mencari bantuan kesehatan
Klien mencari bantuan kesehatan apabila merasa sudah tidak berdaya
d. Kaji alasan klien memilih pengobatan alternatif
Klien tidak memilih pengobata alternatif apapun. Klien lebih memilih berobat
atau di rawat di rumah sakit
e. Kaji faktor agama dan falsafah hidup
Klien mengetahui tentang penyebab penyakitnya, tetapi klien mengatakan
kesulitan untuk mengubah kebiasaannya makan makanan yang manis dan
menurunkan berat badannya (obesitas) serta kurang olah raga
f. Kaji faktor sosial dan keterikatan keluarga
Nama Lengkap : -
Umur : -
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : -
Tipe keluarga : -
Pengambilan keputusan dalam keluarga : -
Hubungan klien dengan kepala keluarga : -
g. Kaji nilai - nilai budaya dan gaya hidup
Klien mempunyai kebiasaan makan makanan yang manis, klien tidak punya
makanan yang di pantang, klien mengalami kegemukan dan tidak melakukan diet
serta jarang olah raga dengan alasan kesulitan mengatur makanan karena faktor
kebiasaan
h. Kaji faktor ekonomi klien
Pekerjaan klien : karyawan kantor
Sumber biaya pengobatan : tidak disebutkan
i. Kaji faktor pendidikan klien
Pendidikan klien : tidak disebutkan

Diagnosa:
1. Ketidakpatuhan dalam pengobatan b/d sistem nilai yang di yakini
DS :
1. klien mengatakan susah mengubah kebiasaan makan makanan yang manis.
2. klien mengatakan jarang berolahraga.
3. klien mengatakan tidak punya pantangan makanan.
DO :
1. Klien mengalami kegemukan, BB klien : tidak disebutkan
2. Kadar gula darah klien 450 mg/DL.
Perencanaan:

1.Identifikasi perbedaan konsep klien dan perawat tentang kebiasaan makan makanan
yang manis.
2.Berikan informasi kepada pasien untuk mengkonsumsi makanan manis dengan gula
pengganti sesuai dengan diet yang dianjurkan.
3.Libatkan keluarga dalam intervensi keperawatan.
4.Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya.
5.Berikan informasi tentang sistem pelayanan kesehatan yang ada.












BAB II
ISI

A. Perspektif Transkultural dalam Keperawatan
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21,
termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar.
Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antarnegara
dimungkinkan, menyebabkan adanya pergeseran terhadap tuntutan asuhan
keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat,
yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi empat level perkembangan yaitu
metha theory, grand theory, midle range theory, dan practice theory.
Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah
Transkultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
cultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan, akan mengakibatkan
terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami klien pada suatu kondisi
dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan
kepercayaan, menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan dan ketidakberdayaan.

1. Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan
Bila ditinjau dari makna kata, transkultural berasal dari kata trans dan cultur.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, trans berarti melintang, melintas,
menembus, melalui; cultur berarti kebudayaan, cara pemeliharaan, pembudidayaan.
Jadi, transkultural dapat diarikan sebagai lintas budaya yang mempunyai efek
bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain.

Pengertian
Transkultural nursing adalah suatu area / wilayah keilmuan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan; dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan, khususnya budaya / keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
Adapun tujuan dari transkultural nursing adalah untuk mengidentifikasi,
menguji, mengerti dan menggunakan pemahaman keperawatan tanskultural untuk
meningkatkan kebudayaan yang spesifik dalam pemberian asuhan keperawatan.
Asumsi dasar dari perilaku ini adalah perilaku caring. Caring adalah esensi
dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Tindakan caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam
memberi dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku caring semestinya
diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,
masa pertahanan sampai di kala manusia itu meninggal. Human caring secara
umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan
bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur, dan polanya bervariasi diantara kultur satu
tempat dengan tempat lainnya.

Heritage Consistency
Teori ini menggambarkan tingkat dimana gaya hidup mencerminkan konteks
cultural. Teori ini telah diperluas dalam upaya untuk mempelajari tingkat diman
gaya hidup mencerminkan budaya tradisional, apakah berkebangsaan Afrika, Asia,
Eropa, atau Hispanik
Model ini mempunyai empat komponen, yaitu budaya, etnis, religi, dan sosialisasi.
a. Budaya
Budaya atau kultur adalah sistem metekomunikasi yang di dalamnya tidak
hanya bahasa lisan mempunyai makna, tetapi juga segala sesuatu yang lain
(Matsumato,1988). Contoh: cara individu bereaksi terhadap percakapan
seseorang, kontak mata, memegang tangan.
b. Etnisitas
Etnisitas adalah rasa identitas diri yang berkaitan dengan kultur sosial umum
dan warisan budaya. Seseorang dapat dilahirkan dalam suatu kelompok etnik
tertentu tetapi dapat juga mengadopsi karakteristik dari kelompok etnis lain.
c. Religi
Religi adalah keyakinan dalam suatu kekuatan sifat Ketuhanan atau di luar
kekuatan manusia yang harus dipatuhi dan diibadatkan sebagi pencipta dan
pengatur alam semesta (Abramsom, 1980).
d. Sosialisasi

Parameter yang Dipilih Untuk Cultural Care Nursing
a. Kepercayaan tentang kesehatan dan praktek
Terdapat tiga cara pandang dari health belief menurut Andrews&Boyle (2002):
1) Magicoreligious health belief: sakit dan sehat dikontrol oleh kekuatan
supernatural.
2) Scientific / biomedical health belief: hidup dan prosesnya dikontrol oleh
proses fisik dan biokimia yang dapat dimanipulasi oleh manusia. Sakit bias
disebabkan oleh kuman, virus, bakteri, kerusakan organ tubuh.
3) Holistic health belief: kekuatan natural harus dipelihara keseimbangannya.
Empat aspek dalam individu (fisik, mental, emosional, spiritual) harus dijaga
keseimbangannya untuk sehat.

b. Family pattern
Bagaimana keterlibatan keluarga dalam merawat klien, patrilineal atau
matrilineal, adakah peran gender?

c. Gaya komunikasi
Berkomunikasi dengan klien dari berbagai etnis dan latar belakang yang berbeda
merupakan hal kritis dimana kompetensi perawatan secara budaya sangat
dipersiapkan.
1) Komunikasi verbal, hal-hal yang harus diperhatikan: hindari penggunaan
bahasa sehari-hari, medis, ataupun singkatan; berbicara disertai gambar /
menunjukan dengan gerak tubuh dapat meningkatkan pengertian klien;
kecepatan bicara tepat; memvalidasi apa yang sudah dibicarakan.
2) Komunikasi nonverbal, meliputi kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh,
dan diam.

d. Ruang
Ruang personal mencakup perilaku individu dan sikap yang ditujukan pada
ruang di sekitar mereka. Teritorialitas adalah suatu sikap yang ditujukan pada
suatu area seseorang yang diklaim dan dipertahankan atau bereaksi secara
emosional ketika orang lain memasuki area tersebut. Keduanya dipengaruhi oleh
kultur. Ruang personal tercakup dalam banyak aktivitas keperawatan dan
perawat harus sensitif, misalnya dalam hal menyentuh pasien, suatu tindakan
yang mempunyai makna berbeda pada kultur dan individu yang berbeda.

e. Waktu
Orientasi waktu beragam diantara kelompok kultur yang berbeda dan perawat
mungkin menemukan kesulitan untuk memahami dan merencanakan asuhan
keperawatan pada klien dengan orientasi waktu berbeda. Sebagai contoh: kultur
di AS dan Kanada berorientasi kesehatan untuk masa mendatang, kultur di
Afrika berorientasi kesehatan lebih banyak pada situasi saat ini.

f. Pola nutrisi
Setiap Negara mempunyai makanan pokok yang berbeda, missal orang Asia
makanan pokoknya nasi, Italian makanan pokoknya pasta, orang Eropa Barat
makanan pokoknya gandum. Agama mempengaruhi makanan pada setiap
budaya, misal beberapa orang Roma Katolik menghindari makan daging di hari
Rabu Abu dan Jumat Agung; penganut agama Islam tidak boleh mengkonsumsi
daging babi; penganut agama Budha, Hindu, Sikhs adalah strict vegetarian.

2. Konsep dan Prinsip dalam Asuhan keperawatan Transkultural
Konsep dalam Transkultural Nursing
a. Budaya adalah norma / aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari
dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berpikir, bertindak, dan mengambil
keputusan.
Budaya dapat didefinisikan sebagai karakteristik nonfisik, seperti nilai,
kepercayaan, sikap, dan adat istiadat yang dibagikan oleh kelompok dan
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Spector,2000).
Budaya dapat juga diartikan bagaimana kesehatan dipersepsikan, bagaimana
informasi kesehatan diterima, apa yang dipertimbangkan menjadi masalah
kesehatan, bagaimana tanda dan gejala tentang masalah kesehatan
diekspresikan, siapa yang sebaiknya menyediakan perawatan, bagaimana dan
jenis perawatan apa yang sebaiknya diberikan.
Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,
keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan
kebiasaan manusia, sebagai anggota komunitas setempat.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus
dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan hasil budi dan karyanya dan
sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat
digambarkan sebagai berikut:
1) Budaya adalah pengalaman yang universal sehingga tidak ada dua budaya
yang sama persis.
2) Budaya bersifat labil dan dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada
generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan.
3) Budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa
disadari.

b. Nilai budaya adalah keinginan individu / tindakan yang lebih diinginkan atau
sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi
tindakan dan keputusan.

c. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal
dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberi asuhan keperawatan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan, dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu
yang mungkin kembali lagi (Leininger,1985).

d. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki orang
lain.

e. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim. Etnik adalah
seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu (kelompok
etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu yang mempunyai budaya
dan sosial yang unik serta menurunkannya ke generasi berikutnya (Handerson,
1981).

f. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan
asal muasal manusia.
Ras merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik
pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh, dan bentuk kepala.
Ada tiga jenis yang umumnya dikenal, yaitu Kaukasoid, Negroid, Mongoloid.

g. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada
penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran
yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi
untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang dan saling memberikan timbal
balik diantara keduanya.

h. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian
untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan
kondisi dan kualitas kehidupan manusia.

i. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga, kelompok pada keadaan yang
nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.

j. Cultural care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan, dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing,
mendukung, atau memberi kesempatan individu, keluarga, kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

k. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktek, dan nilai di atas budaya orang lain karena
percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok
lain.

Paradigma Transkultural Nursing
Leininger (1985) mengartikan paradigm keperawatan transkultural sebagai cara
pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan sesuai latar belakang budaya.
Terdapat empat konsep sentral keperawatan menurut Andrew&Boyle (1995),yaitu:
a. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga, kelompok yang memiliki nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan
untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun ia berada.
b. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktivitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang atau sehat yang dapat diobservasi
dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat sakit yang
adaptif (Andrew dan boyle, 1995).
c. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan, dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai
suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi.
Terdapat 3 bentuk lingkungan: fisik, sosial, simbolik. Lingkungan fisik:
lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah khatulistiwa,
pegunungan, pemukiman padat dan iklim, seperti rumah di daerah Eskimo yang
hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun.
Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan
sosialisasi individu, keluarga atau kelompok kedalam masyarakat yang lebih
luas. Di dalam lingkungan sosial, individu harus mengikuti struktur dan aturan-
aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah
keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok
merasa bersatu seperti musik, seni, bahasa dan atribut yang digunakan.
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya, ditunjuk untuk memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.






3. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya
Pengkajian budaya merupakan pengkajian yang sistematik dan komprehensif
dari nilai-nilai pelayanan budaya, kepercayaan dan praktik individual, keluarga dan
komunitas.
Tujuan pengkajian budaya adalah untuk mendapatkan informasi yang
signifikan dari klien sehingga perawat dapat menerapkan kesamaan pelayanan
budaya (Leininger dan Mc Farland, 2002).
Salah satu model pengkajian budaya adalah model matahari terbit dari
Leininger (2002) yang menggambarkan keragaman budaya dalam kehidupan
sehari-hari dan membantu menjelaskan alasan mengapa pengkajian budaya harus
dilakukan secara komprehensif. Model tersebut beranggapan bahwa nilai-nilai
pelayanan budaya, kepercayaan dan praktik merupakan hal yang tidak dapat diubah
dalam budaya dan dimensi struktur sosial masyarakat, termasuk didalamnya
konteks lingkungan, bahasa, dan riwayat etnik. Riwayat etnik merupakan
peristiwa-peristiwa bersejarah dari kelompok tertentu.
Sebelum melakukan pengkajian budaya, seorang perawat harus menyiapkan
diri dengan cara :
a. Mengetahui data sensus
Perawat memulai pengkajian budaya dengan mengetahui perubahan demografik
populasi pada lingkungan komunitas. Memiliki latar belakang pengetahuan
budaya membantu perawat dalam melakukan pengakajian yang terarah.
b. Menanyakan pertanyaan
Salah satu masalah dalam pengkajian budaya adalah kurangnya kemampuan
untuk mengkaji pihak dalam atau perspektif emic klien dalam interpretasi
informasi selama penilaian. Hal ini dapat tertolong dengan menggunakan
pertanyaan terbuka, terfokus, dan kontraks. Tujuannya adalah mendorong klien
agar dapat menggambarkan nilai, kepercayaan dan praktik yang berarti untuk
pelayanan mereka yang tidak disadari oleh penyelenggara pelayanan kesehatan.
c. Membangun hubungan
Pengkajian budaya bersifat mencampuri dan menghabiskan waktu serta
membutuhkan hubungan saling percaya antara sesama peserta. Komunikasi
yang kurang biasanya terjadi pada hubungan intercultural. Hal ini disebabkan
karena perbedaan bahasa dan komunikasi diantara partisipan, seperti halnya
perbedaan dalam interpretasi tingkah laku masing-masing. Dalam beberapa hal,
perawat yang melakukan manajemen impresi membuat klien mencapai
hubungan yang diinginkannya (Pacquioo, 2000). Manajemen impresi
membutuhkan keahlian berbahasa, interpretasi yang sama secara budaya
terhadap sikap klien, mendengarkan dan keterampilan melakukan pengamatan.
Untuk itu seorang perawat harus berlaku sopan terhadap klien sehingga klien
mau menjalin hubungan.
Perawat mempelajari berbagai keterampilan yang diperlukan untuk
mendapatkan pengkajian budaya yang akurat, dan komprehensif sepanjang waktu.
Komponen pengkajian budaya berikut ini menyediakan pengertian jenis informasi
yang berguna dalam merencanakan dan menyampaikan pelayanan keperawatan :
a. Warisan etnik dan riwayat etnik
Pengetahuan tentang asal dan sejarah Negara klien serta konteks ekologi sangat
berarti untuk pelayanan kesehatan contohnya imigran Haiti memiliki bahasa dan
pola komunikasi yang berbeda dengan Jamaica walaupun mereka sama-sama
berasal dari karibia dan memiliki sejarah perbudakan. Hal ini harus diingat oleh
perawat saat memberikan pelayanan bahwa setiap klien memiliki asal dan sejara
Negara yang berbeda. Selain hal itu penting juga bagi seorang perawat
mengetahui latar belakang klien seperti status sosial eknomi, sumber daya yang
tersedia untuk pengobatan medis, risiko kesehatan dalam lingkungan dan
ketersediaan sistem dukungan.
b. Riwayat biokultural
Identifikasi risiko kesehatan klien yang berhubungan dengan riwayat sosial
budaya dan biologis pada waktu masuk.beberapa risiko kesehatan disebabkan
oleh konteks ekologi budaya. Contohnya hipertensi maligna pada orang
Amerika Afrika, penyakit tay-sach pada orang Yahudi Ashkenazi, intolerasi
laktosa pada orang Asia, Afrika, dan Hispanic ( USDHHS, Office of Minority
Health.n.d)
c. Organisasi sosial
Kelompok budaya terdiri atas unit-unit organisasi yang disatukan oleh hubungan
kekeluargaan, status dan peran yang sesuai dengan anggotanya. Contohnya pada
masyarakat yang sebagian besar terdiri atas orang Amerika, unit organisasi
sosial yang terbanyak adalah keluarga inti dimana anak yang sudah menikah dan
dewasa tinggal dikerabat jauh sebanyak tiga generasi dan hubungan fiktif atau
tanpa hubungan darah. Hubungan keluarga bisa diperluas sampai ke keluarga
pihak ayah dan pihak ibu (bilineal) atau terbatas pada pihak ayah saja
(patrilineal) atau pihak ibu saja (matrilineal).
Status klien dalam hierarki sosial biasanya berhubungan dengan kualitas seperti
usia dan gender dan status kesuksesan seperti pendidikan dan kedudukan. Tapi
seorang perawat harus mampu menentukan siapa yang berhak membuat
keputusan dalam keluarga dan bagaimana cara membicarakannya dengan
individu yang bersangkutan.
d. Agama dan kepercayaan spiritual
Agama dan kepercayaan spiritual sangat mempengaruhi pandangan klien
tentang kesehatan dan penyakitnya. Rasa nyeri dan penderitaan serta kehidupan
dan kematian. Banyak budaya tidak membedakan antara agama dan spiritual
tapi ada sebagian lain yang membedakan dengan jelas konsep spiritualitas.
e. Pola komunikasi
Kelompok budaya yang berbeda memiliki pola bahasa dan komunikasi yang
berbeda-beda pula. Pola ini menggambarkan nilai-nilai dasar budaya dari suatu
masyarakat. Mengamati tingkah laku klien dan menjelaskan pesan dari pihak
dalam yang terpercaya akan mencegah terjadinya interpretasi yang salah.
Budaya juga membentuk komunikasi non verbal. Budaya mempengaruhi jarak
antara partisipan dalam sebuah hubungan, kontak mata, sentuhan, dan seberapa
banyak informasi pribadi yang akan klien bagikan. Untuk memperkecil jarak
dalam komunikasi dengan klien, perawat perlu membangun hubungan dan
berkelakuan sesuai dengan budaya klien melalui manajemen impresi.
f. Orientasi waktu
Semua budaya mempunyai dimensi waktu lampau, sekarang dan mendatang.
Penting bagi perawat untuk memahami orientasi waktu klien. Informasi ini
bermanfaat dalam merencanakan pelayanan harian, membuat perjanjian
procedural, dan membantu klien merencanakan kegiatan perawatan diri
dirumah. Perbedaan terjadi dalam dimensi waktu yang berfokus budaya dan cara
pengungkapan waktu. Orientasi waktu mendatang memperkecil waktu sekarang
sehingga komunikasi cenderung bersifat langsung dan berfokus pada
penerimaan tugas. Komunikasi bersifat sirkular dan secara tidak langsung
menghindari risiko menyinggung dan tidak menghormati orang lain. Untuk
memperbaiki akses klien terhadap pelayanan kesehatan dibutuhkan jadwal yang
sesuai dengan pola kegiatan budayanya. Saat menjadwalkan perjanjian dan
rujukan, ketahui dan atasi yang menjadi penghalang menepati waktu dengan
klien. Supaya bantuan terorganisasi dengan baik, perawat memerlukan
partisipasi klien dan membantu klien dalam membuat perubahan.

Adapun prinsip-prinsip dalam pengkajian budaya adalah:
a. Jangan menggunakan asumsi.
b. Jangan membuat streotip, misal orang Padang pelit, orang Jawa halus.
c. Menerima dan memahami metode komunikasi.
d. Menghargai perbedaan individual.
e. Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu.
f. Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien.
g. Menyediakan privasi terkait kebutuhan pribadi.

4. Beberapa Instrumen pengkajian Budaya
Pertanyaan yang dapat muncul saat melakukan pengkajian kebudayaan
diantaranya:
a. Dimana ibu anda lahir?
b. Dimana ayah anda lahir?
c. Dimana kakek nenek anda lahir?
d. Berapa saudara laki-lakidan perempuan?
e. Dimana anda dibesarkan? (nama desa, kota)
f. Dimana orang tua anda dibesarkan?
g. Berapa usia anda ketika datang?
h. Berapa usia orang tua anda ketika datang?
i. Ketika anda dibesarkan,siapa yang tinggal dengan anda? (keluarga inti atau
keluarga besar)
j. Apakah anda mempertahankan kontak dengan bibi, paman,sepupu, saudara laki-
laki dan perempuan, orang tua, anak anda sendiri?
k. Apakah kebanyakan dari bibi, paman, sepupu anda tinggal dekat rumah?
l. Kira-kira seberapa sering anda mengunjungi anggota keluarga anda yang tinggal
di luar rumah anda? (setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, hanya liburan
khusus, tidak pernah)
m. Apakah nama asli keluarga anda diganti?
n. Apakah kepercayaan anda? (Islam, Katolik, Protestan, lain-lain, tidak ada)
o. Apakah pasangan anda mempunyai kepercayaan yang sama seperti anda?
p. Apakah pasangan anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan anda?
q. Anda sekolah dimana? (Pemerintah, swasta, seminari /pesantren)
r. Sebagai orang dewasa, apakah anda tinggal di daerah dimana tetangga
mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan anda?
s. Apakah anda mempunyai institusi keagamaan?
t. Dapatkah anda menggambarkan diri anda sendiri sebagai anggota yang aktif?
u. Seberapa sering anda menghadiri institusi keagamaan anda? (lebih dari satu
minggu, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun atau kurang, tidak pernah)
v. Apakah anda mempraktekan keagamaan ada di rumah? (Ya, di mana
tempatnya?, tidak, berdoa, membaca kitab suci, diet, merayakan hari besar
keagamaan)
w. Apakah anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik anda?
x. Apakah anda berpartisipasi dalam aktivitas etnik yang sama dengan anda? (ya,
sebutkan tempatnya; tidak; bernyanyi; perayaan hari besar; berdansa; festival;
adat istiadat; lain-lain)
y. Apakah teman anda dari latar belakang kepercayaan yang sama dengan anda?
z. Apakah teman anda dari latar belakang etnik yang sama dengan anda?
aa. Apakah bahasa asli anda?
bb. Apakah anda berbicara dengan bahasa tersebut? (terutama, kadang-kadang,
jarang)

Makin besar jumlah jawaban ya makin kuat klien memiliki keturunan
tradisional (satu jawaban tidak yang menunjukan indentitas keturunan adalah
apakah nama anda diganti?)
PENGKAJIAN TINDAKAN
Konsistensi warisan budaya
Melakukan pengkajian konsistensi warisan budaya
pada diri sendiri dan klien
Kontrol lingkungan
Tanya tentang keyakinan klien mengenai sifat dari
masalah kejahatan dan tindakan yang dilakukan di
rumah atau di komunitas untuk mengatasi atau
mencegahkannya
Variasi biologis
Tanya tentang acuan nutrisi
Amati tentang struktur tubuh, kulit, tonus dan
warna kulit
Waspada terhadap masalah kesehatan yang umum
tejadi dalam latar belakang klien.
Organisasi sosial Lakukan aktivitas komunitas
Keterampilan komunikasi
Tetapkan kebutuhan klien yang tidak dapat
berbicara dalam bahasa perawat dan berikan
penerjemah yang kompeten
Ruang
Waspada terhadap teritori, cara persetujuan
sebelum memasuki teritori klien
Waktu
Waspada terhadap pengharapan sentuhan dan
kontak mata.
Pahami perbedaan dalam orientasi waktu

B. Pengaruh Budaya terhadap Pengobatan dan Makanan / Etnofarmakologi dan Nutrisi
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak
membawa perubahan terhadap kehidupan manusia, baik dalam hal perubahan pola
hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering
dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma dan budaya
yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial
budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu
daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berpikir. Perubahan
sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan pengobatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan
dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau
kultur dapat membentuk kebiasaan dan respon terhadap kesehatan dan penyakit dalam
segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga
kesehatan untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka
mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan
keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan pengobatan.
Apakah kebudayaan itu? Mungkin semua orang mengerti apa kebudayaan itu,
tapi tidak setiap orang dapat menjelaskannya. Sebagian orang menjelaskan bahwa
kebudayaan itu adalah sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang
dipelajari secara turun temurun, tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang
resiko bagi timbulnya suatu penyakit. Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan
tertentu yang sempit, tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan
perkembangan dari masyarakat itu sendiri
Di dalam masyarakat sederhana, kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentuk
untuk mempertahankan hidup diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka.
Berbagai kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi,
yang bertujuan supaya reproduksi berhasil, ibu dan bayi selamat.
Dari sudut pandang modern, tidak semua kebiasaan itu baik. Ada beberapa
yang kenyataannya malah merugikan. Kebiasaan menyusukan bayi yang lama pada
beberapa masyarakat, merupakan contoh yang baik kebiasaan yang bertujuan
melindungi bayi. Tetapi bila air susu ibu sedikit, atau pada ibu-ibu lanjut usia, tradisi
budaya ini dapat menimbulkan masalah tersendiri. Dia berusaha menyusukan bayinya
dan gagal. Bila mereka tidak mengetahui nutrisi mana yang dibutuhkan bayi (biasanya
demikian) bayi dapat mengalami malnutrisi dan mudah terserang infeksi.
Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi penyakit-
penyakit yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti
bagaimana penyakit itu dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari sikap
mereka terhadap penyakit tersebut. Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit diisolasi
dan dibiarkan saja. Kebiasaan ini ini mungkin dapat mencegah penularan dari
penyakit-penyakit infeksi seperti cacar dan TBC.
Bentuk pengobatan yang diberikan biasanya hanya berdasarkan anggapan
mereka sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap
penyakit itu disebabkan oleh hal-hal yang supernatural atau magis, maka digunakan
pengobatan secara tradisional. Pengobatan modern dipilih bila meraka duga
penyebabnya adalah faktor ilmiah. Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga
kesehatan, bila ternyata pengobatan yang mereka pilih berlawana dengan pemikiran
secara medis.
Didalam masyarakat industri modern iatrogenic disease merupakan problema.
Budaya menuntut merawat penderita di rumah sakit, pada hal rumah sakit itulah
tempat ideal bagi penyebaran kuman-kuman yang telah resisten terhadp antibiotika.
Tentu saja kebudayaan itu tidak statis, kecuali mungkin pada masyarakat
pedalaman yang terpencil. Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan biasanya
dipelajari pada masyarakat yang terisolasi dimana cara-cara hidup mereka tidak
berubah selama beberapa generasi, walaupun mereka merupakan sumber data-data
biologis yang penting dan model antropologi yang berguna, lebih penting lagi untuk
memikirkan bagaimana mengubah kebudayaan mereka itu. Pada Negara dunia ke-3
laju perkembangan ini cukup cepat, dengan berkembangnya suatu masyarakat
perkotaan dari masyarakat pedesaan. Ide-ide tradisional yang turun temurun, sekarang
telah dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman dan ilmu pengetahuan baru. Sikap
terhadap penyakit pun banyak mengalami perubahan .Kaum muda dari pedesaan
meninggalkan lingkungan mereka menuju ke kota. Akibatnya tradisi budaya lama di
desa makin tersisih. Meskipun lingkungan dari masyarakat kota modern dapat di
kontrol dengan teknologi, setiap individu didalamnya adalah subjek daripada tuntutan
ini, tergantung dari kemampuannya untuk beradaptasi.
Bila suatu bentuk pelayanan kesehatan baru diperkenalkan ke dalam suatu
masyarakat dimana faktor-faktor budaya masih kuat, biasanya dengan segera mereka
akan menolak dan memilih cara pengobatan tradisional sendiri. Apakah mereka akan
memilih cara baru atau lama, akan memberi petunjuk kepada kita akan kepercayaan
dan harapan pokok mereka lambat laun akan sadar apakah pengobatan baru tersebut
berfaedah, sama sekali tidak berguna, atau lambat memberi pengaruh. Namun mereka
lebih menyukai pengobatan tradisional karena berhubungan erat dengan dasar hidup
mereka. Maka cara baru itu akan dipergunakan secara sangat terbatas, atau untuk
kasus-kasus tertentu saja.
Pelayanan kesehatan yang modern oleh sebab itu harus disesuaikan dengan
kebudayaan setempat, akan sia-sia jika ingin memaksakan sekaligus cara-cara modern
dan menyapu semua cara-cara tradisional. Bila tenaga kesehatan berasal dari lain suku
atau bangsa, sering mereka merasa asing dengan penduduk setempat, ini tidak akan
terjadi jika tenaga kesehatan tersebut berusaha mempelajari kebudayaan mereka dan
menjembatani jarak yang ada diantara mereka. Dengan sikap yang tidak simpatik
serta tangan besi, maka jarak tersebut akan semakin lebar. Setiap masyarakat
mempunyai cara pengobatan dan kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan
masing-masing. Sedikit usaha untuk mempelajari kebudayaan mereka, akan
mempermudah memberikan gagasan yang baru yang sebelumnya tidak mereka
terima.
Pemuka-pemuka didalam masyarakat itu harus diyakinkan sehingga mereka
dapat memberikan dukungan dan yakin bahwa cara-cara baru tersebut bukan untuk
melunturkan kekuasaan mereka tetapi sebaliknya akan memberikan manfaat yang
lebih besar. Pilihan pengobatan dapat menimbulkan kesulitan. Misalnya bila
pengobatan tradisional biasanya mengunakan cara-cara menyakitkan seperti mengiris-
iris bagian tubuh atau dengan memanasi, penderita akan tidak puas hanya dengan
memberikan pil untuk diminum. Hal tersebut diatas bisa menjadi suatu penghalang
dalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan berjalannya waktu mereka akan
berpikir dan menerima.
Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu tidaklah kaku dan bisa
untuk diubah, tantangannya adalah mampukah tenaga kesehatan memberikan
penjelasan dan informasi yang rinci tentang pelayanan kesehatan yang akan diberikan
kepada masyarakat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari perkenalan
program kerja, menghubungi tokoh-tokoh masyarakat maupun melakukan pendekatan
secara personal.
Etnofarmakologi
Etnofarmakognosi adalah bagian dari ilmu farmasi yang mempelajari
penggunaan obat dan cara pengobatan yang dilakukan oleh etnik atau suku bangsa
tertentu. Ruang lingkup etnofarmakognosi meliputi obat serta cara pengobatan
menggunakan bahan alam. Masyarakat etnik suatu daerah mempunyai kebudayaan
dan kearifan lokal yang khas sesuai dengan daerahnya masing-masing. Hal tersebut
berdampak pada pengetahuan obat dan pengobatan tradisionalnya. Berbagai etnik
atau suku bangsa di Indonesia mempunyai pengalaman empiris masing-masing dalam
mengatasi gangguan kesehatan. Pengetahuan empirik etnis berbeda pada setiap
wilayah tergantung pada sifat khas dan kearifan budaya (cultural wisdom) masing-
masing. Etnofarmakognosi merupakan bagian dari ilmu pengobatan masyarakat
tradisional yang seringkali terbukti secara empiris dan setelah melalui pembuktian-
pembuktian ilmiah dapat ditemukan atau dikembangkan senyawa obat baru.
Masyarakat etnik tradisional umumnya mempunyai budaya kehidupan yang
juga tradisional, termasuk dalam hal pemeliharaan kesehatan. Budaya tradisional yang
kuat menyebabkan pengetahuan obat dan cara pengobatan juga diperoleh secara turun
temurun, terbatas dalam pengetahuan jenis penyakit dan cara penanggulangannya.
Kehidupan yang menyatu dengan alam dan keyakinan bahwa dirinya merupakan
bagian dari alam menumbuhkan kesadaran bahwa alam adalah penyedia obat bagi
dirinya dan masyarakatnya. Mulai dari sinilah berkembang pengertian obat
tradisional.
Obat tradisional Indonesia merupakan bagian dari sosio budaya bangsa yang
menjadi salah satu aset kekayaan bangsa Indonesia. Bagian integral sosio budaya
bangsa mempunyai makna bahwa keberadaan dan eksistensi obat tradisional dalam
era modernisasi di segala bidang, khususnya dalam bidang kesehatan, menjadi
tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Kemajuan ilmu dan teknologi yang
merambah hampir semua bidang ilmu, termasuk teknologi kesehatan pada umumnya,
serta teknologi farmasi pada khususnya, menyebabkan pergeseran pola konsumsi dan
penggunaan obat-obatan. Modernisasi menyebabkan perubahan perilaku dan pola
hidup, yang berdampak pada penggunaan dan konsumsi obat.
Obat tradisional Indonesia yang pada awalnya merupakan produk obat
kebanggaan bangsa, perlahan terkikis oleh budaya teknologi yang menjadi tumpuan
pola pikir masyarakat. Perkembangan ilmu kimia organik sintetis menghasilkan
molekul kimia organik berkhasiat obat dengan jumlah yang fantastis. Industri kimia
organik sintetis memacu industri farmasi menghasilkan obat-obat yang berbahan baku
senyawa sintetis. Industri obat berbahan kimia sintetis menyebabkan tumbuh
kembang industri farmasi yang luar biasa, namun di sisi lain industri obat tradisional
yang berbahan baku herbal terancam kelangsungan hidupnya. Persaingan tidak sehat
mulai mucul. Industri obat berbahan kimia sintetis yang dipelopori oleh industri obat
negara-negara maju melontarkan isue tentang obat tradisional yang belum teruji
khasiatnya secara klinik.
Pola pikir masyarakat yang mulai beranjak modern menerima isue tersebut
sebagai sesuatu yang benar, sehingga perlahan penggunaan dan segmen pengguna
obat tradisional mulai berkurang. Obat tradisional mengalami kemunduran, obat
berbahan kimia sintetis mulai menguasai pasaran. Hukum ekonomi mulai berlaku,
permintaan yang tinggi menyebabkan harga obat berbahan kimia sintetis menjadi
tidak terjangkau masyarakat tingkat menengah ke bawah, sementara obat tradisional
telah ditinggalkan karena krisis kepercayaan. Indonesia, sebagai negara dengan mega
diversivitas flora yang konon menduduki tingkat tertinggi kedua setelah Brazilia,
seharusnya mempunyai pemikiran untuk mengembangkan kekayaan yang tidak
terhingga nilainya tersebut. Industri obat berbahan kimia sintetis boleh saja maju
pesat, tapi hal itu tidaklah harus berarti bahwa obat tradisional Indonesia hanya
tinggal sejarah atau cerita saja. Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi
kekayaan alam dan budaya sangat bervariasi, yang bila berkembang sinergis akan
menghasilkan sesuatu yang berarti bagi bangsa pada khususnya, dan bagi dunia pada
umumnya.
Obat tradisional seringkali merupakan cikal bakal penemuan obat baru.
Sejarah membuktikan bahwa Cinchonine, suatu alkaloid yang menjadi obat terpilih
untuk mengatasi malaria, merupakan metabolit sekunder yang berasal dari kulit
batang pohon kina (Cinchona succirubra L., C. calisaya L, atau C. ledgeriana L.).
Penelitian yang mengarah pada penemuan alkaloid kina sebagai obat malaria
bukanlah karena kebetulan belaka, tetapi dilandasi oleh penggunaan tradisional kulit
kina untuk mengatasi gangguan demam oleh masyarakat di berbagai daerah endemik
malaria.
Dalam pencarian dan pengembangan obat baru, pengetahuan
etnofarmakognosi banyak memberi arahan pendahuluan. Sebagai ilustrasi, untuk
mengatasi gangguan diare, hampir seluruh komunitas etnik di Indonesia, terutama di
Indonesia bagian Barat, menggunakan godogan pucuk daun jambu biji (Psidium
guajava L.). Penelitian farmakologi yang telah banyak dilakukan memberi arahan
bahwa pucuk daun jambu biji dapat digunakan untuk mengatasi gangguan diare
karena senyawa kimia golongan tanin yang dikandungnya. Pengetahuan tersebut
memberikan kemungkinan dilakukannya pencarian dan pengembangan obat baru
dengan aktivitas antidiare yang berasal dari tumbuhan. Penelitian untuk
pengembangan obat tradisional untuk mengatasi gangguan diare berdasarkan
penggunaan etnofarmakognosi tersebut kini telah banyak menghasilkan berbagai
formula obat herbal antidiare yang harganya dapat dijangkau masyarakat.
Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit,
yaitu: Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu
seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan),
kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas
dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Konsep sehat sakit yang dianut
pengobat tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yakni
suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-
kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang
normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah.
Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang
menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang
tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.
Sedangkan konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness)
disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan
manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir,
tukang tenung). Di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari
keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya
panas, batuk pilek, mencret, muntah -muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning,
kaki dan perut bengkak. Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan
kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-
sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-
tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat
bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran
atau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada tanda -tanda di badannya,tetapi bisa
diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya
sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit- sakit badan. Sudarti (1987)
menggambarkan secara deskriptif persepsi masyarakat beberapa daerah di Indonesia
mengenai sakit dan penyakit; masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan
individu mengalami serangkaian gangguan fisik yang menimbulkan rasa tidak
nyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan
tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja,
kehilangan nafsu makan, atau "kantong kering" (tidak punya uang). Selanjutnya
masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu : karena
pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia,makanan yang
diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin; supranatural (roh, guna-guna,
setan dan lain-lain). Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama
dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan
makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ketiga harus
dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya
penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit.
Beberapa contoh penyakit pada bayi dan anak sebagai berikut :
1. Sakit demam dan panas.
Penyebabnya adalah perubahan cuaca, kena hujan, salah makan, atau masuk angin.
Pengobatannya adalah dengan cara mengompres dengan es, oyong, labu putih yang
dingin atau beli obat influenza. Di Indramayu dikatakan penyakit adem meskipun
gejalanya panas tinggi, supaya panasnya turun. Penyakit tampek (campak) disebut
juga sakit adem karena gejalanya badan panas.
2. Sakit mencret (diare).
Penyebabnya adalah salah makan, makan kacang terlalu banyak, makan makanan
pedas, makan udang, ikan, anak meningkat kepandaiannya, susu ibu basi, encer,
dan lain-lain. Penanggulangannya dengan obat tradisional misalkan dengan pucuk
daun jambu dikunyah ibunya lalu diberikan kepada anaknya (Bima Nusa Tenggara
Barat) obat lainnya adalah Larutan Gula Garam (LGG), Oralit, pil Ciba dan lain -
lain. Larutan Gula Garam sudah dikenal hanya proporsi campurannya tidak tepat.
1. Sakit kejang-kejang
Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang
disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra
Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan
pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring.
Kepercayaan Kuno dan Praktik Pengobatan
Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat
sederhana. Dalam masyarakat tradisional, sistem pengobatan tradisional ini adalah
pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari
pranata sosial umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli (tradisional) adalah
rasional dilihat dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat. Beberapa
hal yang berhubungan dengan kesehatan (sehat sakit) menurut budaya budaya
yang ada di Indonesia diantaranya adalah :
Suku Bugis
Persepsi masyarakat Bugis tentang sakit tercermin dalam berbagai istilah yang
digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, antara lain seperti malasa, madoko,
maddokkong. Istilah tersebut mengacu pada konsep sakit yang berarti kondisi atau
keadaaan fisik maupun rohani seseorang yang sedang mengalami ketidakseimbangan
menurut pengetahuan budaya orang Bugis terjadinya ketida seimbangan tersebut di
sebabkan oleh dua faktor terutama yaitu faktor interen disamping faktor exteren.
Faktor interen yang menyebabkan tumbuhnya ketidakseimbangan dalam diri manusia
ialah karena adanya kondisi organ-organ tubuh manusia itu sendiri yang tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, di samping adanya pengaruh faktor keturunan.
Sebaliknya faktor eksteren terdiri atas beberapa unsur berupa wabah penyakit,
perubahan keadaan suhu udara, gangguan mahluk halus, keracunan, praktek magic,
kutukan dewata dan sebagai unsur lingkungan termasuk buatan manusia.
Sesuai dengan wujud dan faktor penyebabnya, maka masyarakat Bugis
mengenal aneka ragam jenis penyakit. Kendati pun demikian, setiap jenis penyakit
dapat dimasukkan dalam salah satu di antaranya dua kategori, yaitu penyakit dalam
dan penyakit luar. Kedua jenis penyakit tersebut biasa pula disebut lasa massobbu
(penyakit tersembunyi) dan lasa talle (penyakit nyata)
Selain dari istilah-istilah tersebut, anggota masyarakat di daerah penelitian mengenal
pula pengelompokan jenis penyakit menjadi dua kategori masing-masing : lasa ati
(penyakit hati, jiwa dan rohani) dan lasa tubuh (penyakit jasmani). Persepsi
masyarakat tentang adanya kategori lasa ati, di samping lasa watakkale itu bersumber
dari pemahaman atau pengetahuan mereka tentang diri makhluk manusia yang terdiri
atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, taga dan jiwa, lahiriah dan batiniah.
Perpaduan antara dua unsur itulah yang menjelma menjadi sosok tubuh manusia
sebagai satu kesatuan organisme, bersama dengan sejenak potensi yang di bawah
sejak lahir ke dunia. Menurut budaya orang Bugis, maka tubuh manusia yang
berbentuk ragawi merupakan hasil perpaduan dari empat zat alami yaitu: tanah, air,
angin, api sedangkan aspek rohaniah dikenal sebagai sumange (sukma). Dalam hal ini
tubuh manusia dipandang tidak lebih hanya sebagai tempat berdiam bagi sukma,
untuk suatu jangka waktu tertentu. Manakala sukma tersebut berpisah dari raganya
maka sosok tubuh manusia itupun mengalami peristiwa yang disebut mati. Peristiwa
kematian itu sendiri menyebabkan segenap unsur tubuh manusia kembali ke asalnya
yaitu ke alam fanah, sedangkan sukma akan tetap hidup dan melanjutkan proses
kehidupannya di alam gaib yang bersifat abadi. Konsep pengetahuan budaya
masyarakat Bugis tersebut terkandung dalam suatu pelajaran yang membahas tentang
dialog antara bayi yang berada dalam kandungan ibunya dan tuhan sebagai maha
pencipta.
Sebagian besar masyarakat Bugis sampai sekarang tetap mempunyai
keyakinan bahwa peristiwa yang pertalian dengan kelahiran makhluk manusia ke atas
bumi bukanlah suatu yang berlangsung secara kebetulan saja, melainkan adalah
peristiwa sakral yang hanya mungkin terjadi atas restu, kehendak dan kuasa ilahi,
sang pencipta. Organ-organ tubuh manusia sebagai mahluk induvidu terdiri atas
pepaduan antara empat jenis zat alam yaitu tanah, air, angin, api
Keempat zat alam tersebut kemudia menjelma kontruksi tubuh manusia secara serasi,
sehingga tercipta sosok tubuh dengan susunan organisme berupa perangkan anggota
bada tercipta dari api. Sebagaimana hanya alam raya, maka manusia pun merupakan
suatu kesatuan yang utuh dan bulat. Sebelum ilmu pengobatan modern dan ilmu
kedokteran ditemukan, nenek moyang kita (Bugis-Makassar) juga telah mengenalnya
dengan cara-cara pengobatan tradisional dalam bentuk ritual-ritual khusus dan
memanfaatkan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitarnya,orang yang melakukan
ritual ini disebut Sanro.

Budaya jawa
Menurut orang Jawa, sehat adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin.
Bahkan, semua itu berakar pada batin. Jika batin karep ragu nututi, artinya batin
berkehendak, raga / badan akan mengikuti. Sehat dalam konteks raga berarti waras.
Apabila seseorang tetap mampu menjalankan peranan sosialnya sehari-hari, misalnya
bekerja di ladang, sawah, selalu gairah bekerja, gairah hidup, kondisi inilah yang
dikatakan sehat. Dan ukuran sehat untuk anak-anak adalah apabila kemauannya untuk
makan tetap banyak dan selalu bergairah untuk bermain.
Untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit ada dua konsep, yaitu konsep
personalistik dan konsep naluralistik. Dalam konsep personalistik, penyakit
disebabkan oleh makhluk supernatural (makhluk gaib, dewa), makhluk yang bukan
manusia (hantu, roh leluhur, roh jahat ) dan manusia (tukang sihir, tukang tenung).
Penyakit ini disebut ora lumrah atau ora sabaene (tidak wajar / tidak biasa).
Penyembuhannya adalah berdasarkan pengetahuan secara gaib atau supernatural,
misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi personalistik jenis penyakit
ini terdiri dari kesiku, kebendhu, kewalat, kebulisan, keluban, keguna-guna, atau
digawe wong, kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya. Penyembuhan dapat
melalui seorang dukun atau wong tuo. Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa
adalah yang pandai atau ahli dalam mengobati penyakit melalui Japa Mantera,
yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Ada beberapa kategori dukun
pada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing-masing :
a. Dukun bayi: khusus menangani penyembuhan terhadap penyakit yang
berhubungan dengan kesehatan bayi , dan orang yang hendak melahirkan.
b. Dukun pijat / tulang (sangkal putung): Khusus menangani orang yang sakit terkilir,
patah tulang, jatuh atau salah urat.
c. Dukun klenik : khusus menangani orang yang terkena guna guna atau digawa
uwong.
d. Dukun mantra : khusus menangani orang yang terkena penyakit karena kemasukan
roh halus.
e. Dukun hewan : khusus mengobati hewan.
Sedangkan konsep naturalistik, penyebab penyakit bersifat natural dan
mempengaruhi kesehatan tubuh, misalnya karena cuaca, iklim, makanan racun, bisa,
kuman atau kecelakaan. Di samping itu ada unsur lain yang mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam tubuh, misalnya dingin, panas, angin atau udara lembab
.Oleh orang Jawa hal ini disebut dengan penyakit Lumrah atau biasa. Adapun
penyembuhannya dengan model keseimbangan dan keselarasan, artinya dikembalikan
pada keadaan semula sehingga orang sehat kembali. Misalnya orang sakit masuk
angin, penyembuhannya dengan cara kerokan agar angin keluar kembali. Begitu
pula penyakit badan dingin atau disebut ndrodok (menggigil, kedinginan),
penyembuhannya dengan minum jahe hangat atau melumuri tubuhnya dengan air
garam dan dihangatkan dekat api . Di samping itu juga banyak pengobatan yang
dilakukan dengan pemberian ramuan atau dijamoni. Jamu adalah ramuan dari
berbagai macam tumbuhan atau dedaunan yang dipaur, ditumbuk, setelah itu diminum
atau dioleskan pada bagian yang sakit. Di samping itu ada juga ramuan tumbuhan lain
sebagai pelengkap, misalnya kulit pohon randu yang sudah diberi mantera. Budaya
jawa beranggapan bahwa nama yang berat bisa mendatangkan sial. Pendapat yang
lain mengatakan nama yang buruk akan mempengaruhi aktivitas pribadi dan sosial
pemilik nama itu. Dan juga kebiasaan bagi orang Jawa yakni jika ada salah satu pihak
keluarga atau sanak saudara yang sakit, maka untuk menjenguknya biasanya mereka
mengumpulkan dulu semua saudaranya dan bersamasama mengunjungi saudaranya
yang sakit tersebut. Karena dalam budaya Jawa dikenal prinsip mangan ora mangan
, seng penting kumpul Adapun beberapa contoh pengobatan tradisional masyarakat
Jawa yang tidak terlepas dari tumbuhan dan buah-buahan yang bersifat alami adalah:
daun dadap sebagai penurun panas dengan cara ditempelkan di dahi; temulawak untuk
mengobati sakit kuning dengan cara di parut, diperas dan airnya diminum 2 kali
sehari satu sendok makan, dapat ditambah sedikit gula batu dan dapat juga digunakan
sebagai penambah nafsu makan; akar ilalang untuk menyembuhkan penyakit hepatitis
B; mahkota dewa untuk menurunkan tekanan darah tinggi, yakni dengan dikeringkan
terlebih dahulu lalu diseduh seperti teh dan diminum seperlunya;brotowali sebagai
obat untuk menghilangkan rasa nyeri, peredam panas, dan penambah nafsu
makan;jagung muda (yang harus merupakan hasil curian = berhubungan dengan
kepercayaan) berguna untuk menyembuhkan penyakit cacar dengan cara dioleskan
dibagian yang terkena cacar; daun sirih untuk membersihkan vagina; lidah buaya
untuk kesuburan rambut; cicak dan tokek untuk menghilangkan gatal gatal; mandi
air garam untuk menghilangkan sawan; daun simbung dan daun kaki kuda untuk
menyembuhkan influenza; jahe untuk menurunkan demam / panas , biasanya dengan
diseduh lalu diminum ataupun dengan diparut dan detempelkan di ibu jari kaki; air
kelapa hijau dengan madu lebah untuk menyembuhkan sakit kuning yaitu dengan cara
1 kelapa cukup untuk satu hari , daging kelapa muda dapat dimakan sekaligus.

Budaya Sunda
Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja, tetapi juga bersifat sosial
budaya. Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa Barat (orang Sunda)
adalah muriang untuk demam, nyerisirah untuk sakit kepala, yohgoy untuk batuk dan
salesma untuk pilek / flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan, kecuali batuk
juga karena kuman. Pencegahan sakit umumnya dengan menghindari penyebabnya.
Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang
ada di desa tersebut, sebagian kecil menggunakan obat tradisional . Pengobatan
sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke
puskesmas atau mantri.
Menurut orang Sunda, orang sehat adalah mereka yang makan terasa enak
walaupun dengan lauk seadanya, dapat tidur nyenyak dan tidak ada yang dikeluhkan,
sedangkan sakit adalah apabila badan terasa sakit, panas atau makan terasa pahit,
kalau anak kecil sakit biasanya rewel, sering menangis, dan serba salah / gelisah.
Dalam bahasa Sunda orang sehat disebut cageur, sedangkan orang sakit disebut
gering.
Ada beberapa perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat. Orang disebut
sakit ringan apabila masih dapat berjalan kaki, masih dapat bekerja, masih dapat
makan-minum dan dapat sembuh dengan minum obat atau obat tradisional yang dibeli
di warung. Orang disebut sakit berat, apabila badan terasa lemas, tidak dapat
melakukan kegiatan sehari-hari, sulit tidur, berat badan menurun, harus berobat ke
dokter / puskesmas, apabila menjalani rawat inap memerlukan biaya mahal.
Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung. Obat
yang ada di desa tertentu, sebagian kecil menggunakan obat tradisional. Masyarakat
melakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit ringan, hemat biaya dan hemat
waktu. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan pertama
sebelum berobat ke puskesmas atau Mantri. Tindakan pengobatan sendiri yang sesuai
dengan aturan masih rendah karena umumnya masyarakat membeli obat secara eceran
sehingga tidak dapat membaca keterangan yang tercantum pada setiap kemasan obat.

Budaya Batak
Arti sakit bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya berbaring, dan
penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau ada juga yang membawa orang
yang sakit tersebut kepada dukun atau orang pintar. Dalam kehidupan sehari-hari
orang Batak, segala sesuatunya termasuk mengenai pengobatan jaman dahulu, untuk
mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetap
sehat dan jauh dari mara bahaya. Bagi orang Batak, di samping penyakit alamiah, ada
juga beberapa tipe spesifik penyakit supernatural, yaitu: jika mata seseorang bengkak
,orang tersebut diyakini telah melakukan perbuatan yang tidak baik (mis : mengintip).
Cara mengatasinya agar matanya tersebut sembuh adalah dengan mengoleskan air
sirih. Nama tidak cocok dengan dirinya (keberatan nama) sehingga membuat orang
tersebut sakit. Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut dengan nama yang
lain, yang lebih cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat bersama keluarga.
Ada juga orang Batak sakit karena tarhirim misal: seorang bapak menjanjikan akan
memberi mainan buat anaknya, tetapi janji tersebut tidak ditepati. Karena janji tersebut
tidak ditepati, si anak bisa menjadi sakit. Jika ada orang Batak menderita penyakit
kusta, maka orang tersebut dianggap telah menerima kutukan dari para leluhur dan
diasingkan dalam pergaulan masyarakat.
Di samping itu, dalam budaya Batak dikenal adanya kitab pengobatan yang isinya
diantaranya adalah, Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda:
Segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi dan di dalam air sudah ada gunanya
masing-masing di dalam kehidupan sehari-hari, sebab tidak semua manusia yang dapat
menyatukan darahku dengan darahnya, maka gunakan tumbuhan ini untuk kehidupan
mu. Di dalam kehidupan Si Raja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada, mulai sejak
dalam kandungan sampai melahirkan.
1. Obat mulai dari kandungan sampai melahirkan. Perawatan dalam kandungan:
menggunakan salusu yaitu satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu di
doakan. Perawatan setelah melahirkan: menggunakan kemiri, jeruk purut dan daun
sirih. Perawatan bayi: biasanya menggunakan kemiri, biji lada putih dan iris
jorango. Perawatan dugu-dugu: sebuah makanan ciri khas Batak saat melahirkan
yang diresap dari bangun-bangun, daging ayam, kemiri dan kelapa.
2. Dappol Siburuk (obat urut dan tulang). Asal mula manusia menurut orang Batak
adalah dari ayam dan burung. Obat dappol si buruk ini dulunya berasal dari burung
siburuk yang mana langsung dipraktikkan dengan penelitian alami dan hampir
seluruh keturunan Siraja Batak menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari-hari.
3. Untuk mengobati sakit mata. Menurut orang Batak mata adalah satu panca indra
sekaligus penentu dalam kehidupan manusia, dan menurut legenda pada mata
manusia berdiam Roh Raja Simosimin. Berdasarkan pesan dari Si Raja Batak,
untuk mengeluarkan penyakit dari mata, masukkanlah biji sirintak ke dalam mata
yang sakit. Setelah itu tutuplah mata dan tunggulah beberapa saat, karena biji
sirintak akan menarik seluruh penyakit yang ada di dalam mata. Gunakan waktu 1x
19 hari, supaya mata tetap sehat. Sirintak adalah tumbuhan Batak yang dalam
bahasa Indonesia berarti mencabut (mengeluarkan), nama ramuannya dengan sama
tujuannnya.
4. Mengobati penyakit kulit yang sampai membusuk. Berdasarkan pesan Si Raja
Batak untuk mengobati orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan tawar
mulajadi (sesuatu yang berasal dari asap dapur). Rumpak 7 macam dan diseduh
dengan air hangat. Disamping itu, Si Raja Batak berpesan kepada keturunannya,
supaya manusia dapat hidup sehat, maka makanlah atau minumlah: apapaga,
airman, anggir, adolora, alinggo, abajora, ambaluang, assigning, dan arip-arip.
Dalam budaya Batak juga dikenal dengan adanya karisma, wibawa dan kesehatan
menurut orang Batak dahulu, supaya manusia dapat sukses dalam segala hal
biasanya diwajibkan membuat sesajen berupa: ayam merah, ayam putih, ayam
hitam, ketan beras (nitak), jeruk purut, sirih beserta perlengkapannya. Beberapa
contoh pengobatan tradisional lainnya yang dilakukan oleh orang Batak adalah:
jika ada orang Batak yang menderita penyakit gondok, maka cara pengobatannya
dengan menggunakan belau. Apabila ada orang Batak yang menderita penyakit
panas (demam) biasanya pengobatannya dengan cara menyelimutinya dengan
selimut / kain yang tebal.




Nutrisi
Faktor budaya sangat berperan penting dalam status gizi seseorang. Budaya
memberi peranan dan nilai yang berbeda terhadap pangan dan makanan. Misalnya tabu
makanan yang masih dijumpai di beberapa daerah. Tabu makanan yang merupakan
bagian dari budaya menganggap makanan makanan tertentu berbahaya karena alasan-
alasan yang tidak logis. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya pemahaman gizi
masyarakat dan oleh sebab itu perlu berbagai upaya untuk memperbaikinya. Pantangan
atau tabu adalah suatu larangan untuk mengonsumsi suatu jenis makanan tertentu
karena terdapat ancaman bahaya atau hukuman terhadap yang melanggarnya. Dalam
ancaman bahaya ini terdapat kesan magis yaitu adanya kekuatan supernatural yang
berbau mistik yang akan menghukum orang-orang yang melanggar pantangan atau
tabu tersebut.
Di Bogor masih ada yang percaya bahwa kepada bayi dan balita laki-laki tidak
boleh diberikan pisang ambon karena bisa menyebabkan alat kelamin / skrotumnya
bengkak. Balita perempuan tidak boleh makan pantat ayam karena nanti ketika mereka
sudah menikah bisa diduakan suami. Sementara di Indramayu, makanan gurih yang
diberikan kepada bayi dianggap membuat pertumbuhannya menjadi terhambat. Untuk
balita perempuan, mereka dilarang untuk makan nanas dan timun. Selain itu balita
perempuan dan laki-laki juga tidak boleh mengonsumsi ketan karena bisa
menyebabkan anak menjadi cadel. Mereka menganggap bahwa tekstur ketan yang
lengket menyebabkan anak tidak bisa menyebutkan aksara r dengan benar.
Jenis makanan pantangan bagi wanita dan laki-laki dewasa lebih banyak
karena alasan yang menyangkut dengan organ reproduksi / hubungan seksual suami
istri. Hal ini berlaku pada sebagian besar penduduk di Bogor dan Indramayu. Makanan
tersebut kebanyakan adalah sayur dan buah yang banyak mengandung air, misalnya
nanas, pepaya, semangka, timun, dan labu siam. Jenis makanan tersebut dianggap bisa
menyebabkan keputihan yang akhirnya dapat mengganggu keharmonisan hubungan
suami dan istri. Sementara untuk laki-laki dewasa, baik di Bogor dan Indramayu
memiliki suatu kepercayaan bahwa laki-laki dewasa dilarang makan terung, karena
membuat mereka lemas dan mudah lelah.
Selain itu unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan
penduduk yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi. Kebiasaan
makan adalah tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi
kebutuhannya akan makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan
(Khumaidi, 1989). Suhardjo (1989) menyatakan bahwa kebiasaan makan individu atau
kelompok individu adalah memilih pangan dan mengonsumsinya sebagai reaksi
terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, sosial dan budaya.
Tiga faktor terpenting yang mempengaruhi kebiasaan makan adalah
ketersediaan pangan, pola sosial budaya dan faktor-faktor pribadi (Harper et al., 1986).
Hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari kebiasaan makan adalah konsumsi
pangan (kuantitas dan kualitas), kesukaan terhadap makanan tertentu, kepercayaan,
pantangan, atau sikap terhadap makanan tertentu (Wahyuni, 1988). Khumaidi (1989)
menyatakan bahwa dari segi gizi, kebiasaan makan ada yang baik atau dapat
menunjang terpenuhinya kecukupan gizi dan ada yang buruk (dapat menghambat
terpenuhinya kecukupan gizi), seperti adanya pantangan atau tabu yang berlawanan
dengan konsep-konsep gizi. Menurut Williams (1993), masalah yang menyebabkan
malnutrisi adalah tidak cukupnya pengetahuan gizi dan kurangnya pengertian tentang
kebiasaan makan yang baik. Kebiasaan makan dalam rumahtangga penting untuk
diperhatikan, karena kebiasaan makan mempengaruhi pemilihan dan penggunaan
pangan dan selanjutnya mempengaruhi tinggi rendahnya mutu makanan rumah tangga.
Kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil dapat dipengaruhi oleh berbagai
hal antara lain perbedaan etnis, tingkat sosial ekonomi, geografi, iklim, agama dan
kepercayaan serta tingkat kemajuan teknologi (Wardiatmo, 1989). Kebiasaan makan
banyakdipengaruhi oleh variabel lingkungan. Pilihan dan kegunaan makanan yang ada
adalah merupakan komponen ekologi. Studi tentang konsumsi pangan di daerah
pedesaan menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat konsumsi masyarakat dengan
zona ekologi (Annegers, 1973 dalam den Hartog, 1995).
Menurut den Hartog (1995) kebiasaan makan dapat dibentuk oleh lingkungan
sekitar dimana seseorang hidup. Adapun beberapa variabel lingkungan yang
berpengaruh terhadap kebiasaan makan suatu masyarakat adalah lingkungan hidup
yang meliputi topografi, keadaan tanah, iklim, dan flora, lingkungan budaya (sistem
produksi pertanian) dan populasi (kelahiran, kematian, migrasi, pertambahan
penduduk, umur dan jenis kelamin).
Oleh karena itu, penyuluhan gizi penting untuk terus menerus dilakukan untuk
memperbaiki pengetahuan gizi dan kebiasaan makan masyarakat. Penyuluhan gizi
menjadi landasan terjadinya perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Kelembagaan penyuluhan gizi seperti Posyandu perlu lebih diperkuat sehingga
aktivitas penyuluhan tidak terabaikan.






























Kasus 5 :
Seorang pasien perempuan berusia 35 tahun masuk Rumah Sakit karena keluhan perdarahan
melalui vagina, kondisi pasien lema dan pasien dinyatakan mengalami anemia, kadar
haemoglobin 5 g/dl. Pasien direncanakan untuk segera mendapatkan transfusi darah. Ketika
perawat menjelaskan rencana tersebut, pasien menolak karena menurutnya hal tersebut
bertentangan dengan keyakinannya. Perawat berusaha untuk membicarakan hal ini dengan
suami pasien namun suami pasien bekerja diluar kota dan tidak dapat dihubungi. Pada saat ini
pasien hanya ditemani oleh ibunya.

Pembahasan :
Setelah menganalisa kasus tersebut diatas satu hal yang perlu dipahami adalah mengubah
suatu keyakinan atau kepercayaan seseorang itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkin
bisa merubahnya. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah yang kongkret atau
pendekatan-pendekatan personal sehingga timbul rasa saling percaya antara perawat dan
klien/pasien.
Dari kasus tersebut diperlukan peran dependen perawat, dan menurut kami dalam anggota
kelompok FG V apabila dihadapkan pada kasus seperti diatas maka, kami akan mencoba
melakukan langkah-langkah berikut :
1. Menjelaskan ke pasien dan ibunya pentingnya dilakukan tindakan transfusi darah tersbut
dan akibat apabila tindakan transfusi darah tersebut tidak dilakukan.
2. Apabila pasien tetap menolak maka kami akan menanyakan alasan pasien menolak
tindakan tersebut.
3. Setelah mengetahui alasannya yang mungkin karena pasien takut darahnya bercampur
dengan darah orang yang tidak dikenalnya.
4. Menjelaskan bahwa tindakan transfusi bisa dilakukan dengan menggunakan darah dari
keluarga terdekat misalnya ibu, apabila kondisinya memungkinkan dan golongan
darahnya sama/cocok.
5. Apabila akhirnya pasien setuju untuk menjalani transfusi, tapi menggunakan darah
ibunya, langkah selanjutnya adalah menganjurkan / menawarkan ibu klien untuk
melakukan pemeriksaan apakah kondisinya memungkinkan dan golongan darah keduanya
sama atau tidak.
6. Apabila golongan darah keduanya sama dan kondisi si ibu memungkinkan maka transfusi
segera dapat dilakukan.
7. Tapi apabila langkah tersebut tidak menemukan jalan keluar, golongan darah mereka
tidak sama atau golongan darahnya sama tapi pasien berubah pikiran dan tidak mau
menerima darah dari ibunya, maka langkah selanjutnya adalah kerjasama dengan orang
lain tenaga kesehatan lainnya misalnya perawat lain, dokter yang menangani, orang yang
disegani, pemuka agama, tokoh masyarakat untuk membantu memberikan penjelasan
tentang tindakan transfusi yang tetap harus dilakukan.
8. Apabila tetap tidak berhasil, pasien tetap menolak maka sebagai seorang perawat yang
menghargai hak orang lain dalam mengambil keputusan akan dirinya, maka langkah
selanjutnya adalah meminta pasien / klien menandatangani format persetujuan penolakan
tindakan (informat consent).