Anda di halaman 1dari 123

KATA SAMBUTAN

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas Rahmat dan Karunia-
Nya, sehingga Buku Penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB) yang telah
disusun sejak tahun 2007 oleh Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
(PSEKP) UGM atas inisiatif APKASI dan didukung oleh GTZ ASSD ini, dapat
tersusun dan diterbitkan.
Perlu kami sampaikan, bahwa penerbitan buku ini pada prinsipnya hanya untuk
membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) anggotaAPKASI, untuk dapat lebih
memahami dan menerapkan ASB sebagai salah satu instrumen pokok
penganggaran berbasis kinerja seperti yang disyaratkan oleh berbagai aturan
perundangan tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (PKD), seperti
PP No. 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan
Daerah, PP No. 58 Tahun 2005, Permendagri No 13 Tahun 2006 yang
disempurnakan menjadi Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang PKD.
Dalam kesempatan ini, perlu kami tegaskan bahwa APKASI tidak bermaksud
menjadikan buku ini sebagai satu-satunya Panduan Teknis bagi Pemkab. Buku
ini diterbitkan sebagai upaya untuk memberi gagasan awal, hingga terbitnya
aturan yang dapat mewujudkan bentuk ASB secara riil. Buku ini menyajikan
tools dasar bagi Pemkab untuk melakukan Pengangggaran dengan
menggunakan komponen ASB yang riil berdasarkan contoh praktek terbaik
yang telah dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah.
Akhirnya, kami berharap buku ASB ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah
Kabupaten dalam menyusun anggaran yang sesuai dengan tuntutan peraturan
perundang-undangan, sehingga diharapkan tidak terjadi lagi Pengelolaan
Keuangan Daerah yang kurang efektif dan efisien.
Asosiasi Pemerintah Kabupaten
Seluruh Indonesia
Direktur Eksekutif
H. Syarifuddin Lubis, S.H
SEKAPUR SIRIH
Teriring Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami menyambut baik
atas terbitnya buku yang berjudul Penyusunan Analisis Standar Belanja:
Pengalaman Praktis di Pemerintah Daerah yang merupakan hasil kerja
bersama antara APKASI, GTZ ASSD dan PSEKP UGM.
Sebagaimana yang dijelaskan di dalam buku ini, ada sekitar sebelas aturan
perundangan yang mengamanatkan kepada Pemerintah Daerah untuk
menggunakan instrumen Analisa Standar Belanja (ASB) dalam menyusun
anggaran. Disebutkan, bahwa tujuan penggunaan ASB ini adalah untuk
tersusunnya anggaran berdasarkan kinerja yang akan dicapai dan dapat dinilai
kewajarannya secara ekonomi, efisien dan efektif. Bukan anggaran yang hanya
berdasarkan perkiraan pengeluaran atau intuisi semata.
Perintah aturan perundang-undangan tersebut, tentunya sangat baik dalam
rangka menciptakan pengelolaan keuangan di daerah yang ideal. Namun
masalahnya, tak satu pun aturan tersebut diikuti oleh sebuah petunjuk
pelaksanaan ataupun petunjuk teknis yang secara rinci dapat menjelaskan
bentuk riil dari ASB tersebut.
Oleh karena itu, berangkat dari masalah tersebut di atas, sekali lagi kami
menyambut baik kehadiran buku ini, dengan harapan kehadiran buku ini dapat
membantu Pemerintah Daerah dalam penyusunanAPBD yang lebih transparan,
adil dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan perundang-
udangan.
Demikian kami sampaikan, semoga Buku ini benar-benar bermanfaat bagi
Pemerintah Daerah.
Asosiasi Pemerintah Kabupaten
Seluruh Indonesia
Ketua Umum
DR. MP. Tumanggor
KATAPENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmatNya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku ini.
Seperti kita ketahui, Analisis Standar Belanja atau ASB sebagai salah satu
instrumen anggaran berbasis kinerja ini telah diamanatkan sejak tahun 2000
dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Dalam PP tersebut istilah yang
digunakan adalah Standar Analisis Belanja (SAB). ASB atau Analisis Standar
Belanja adalah salah satu instrumen anggaran kinerja untuk menilai kewajaran
besaran anggaran suatu kegiatan dengan beban kerjanya. Sampai dengan saat
buku ini disusun, sebagian besar pemerintah daerah di Indonesia belum
menerapkan ASB dalam penyusunan anggarannya.
Berangkat dari kondisi di atas maka buku ini dibuat. Buku ini berisi pengalaman-
pengalaman pemerintah daerah di Indonesia yang telah menerapkanASB dalam
penyusunan anggarannya. Langkah-langkah yang ditempuh oleh pemda-pemda
tersebut dalam menyusun dan menerapkanASB dijelaskan secara detil dalam
buku ini. Pengalaman-pengalaman tersebut tentunya perlu dibagi dan diketahui
oleh pemerintah daerah lainnya agar terjadi proses pembelajaran di antara
pemerintah daerah di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan akan terciptalah
sebuah praktek terbaik dalam proses penganggaran di pemerintah daerah.
Tak ada gading yang tak retak. Buku ini mungkin masih terdapat banyak
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kepada berbagai pihak diharapkan
sumbang sarannya demi penyempurnaan buku ini. Kepada berbagai pihak
terutama APKASI dan GTZ melalui proyek Advisory Services Support for
Decentralization (ASSD) yang telah membantu selama proses penyusunan buku
ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Semoga buku ini bermanfaat bagi terciptanya pengelolaan keuangan yang
baik di Indonesia.
Yogyakarta, 5 Januari 2009
Ketua
Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
Universitas Gadjah Mada (PSEKP UGM)
Wihana Kirana Jaya, Ph.D, M.Soc.Sc

v

DAFTAR ISI


Kata Sambutan i
Sekapur Sirih ii
Kata Pengantar iii
DAFTAR ISI v
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang 1
2. Permasalahan 2
3. Tujuan 4
BAB 2 LANDASAN HUKUM DAN LANDASAN TEORI ASB 5
1. Anggaran Berbasis Kinerja 5
2. Definisi ASB 7
3. Dasar Hukum 7
4. Manfaat 10
5. Posisi ASB dalam Pengelolaan Keuangan Daerah 10
6. Perilaku Belanja 11
7. Pola Perilaku dan Fungsi Belanja 14
BAB 3 FORMAT DAN CARA PENGGUNAAN ASB 21
1. Format ASB 21
2. Cara Penggunaan ASB 25
BAB 4 METODE PENGEMBANGAN ASB 29
1. Asumsi Dasar Penyusunan ASB 29
2. Tahapan Penyusunan ASB 29

vi
BAB 5 STUDI KASUS PENYUSUNAN ASB 49
1. Pemerintah Kabupaten Sleman 49
2. Pemerintah Kabupaten Samosir 52
3. Pemerintah Kota Salatiga 57
4. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara 61
BAB 6 KASUS KHUSUS PENGOLAHAN DATA 69
1. Ketika Data Cukup Tetapi Hasil Regresi Tidak Signifikan 69
2. Ketika Data Yang Di Miliki Terbatas 74
BAB 7 PENYESUAIAN ASB PADA TAHUN BERIKUTNYA 79
1. Penyesuaian Inflasi/Deflasi 79
2. Kebijakan Pimpinan Daerah 87
3. Penyesuaian Gabungan Antara Inflasi/Deflasi dan Kebijakan
Pimpinan Daerah
91
BAB 8 CONTOH-CONTOH ASB DARI BEBERAPA PEMDA 96
1. Pemerintah Kabupaten Bogor 96
2. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan 98
3. Pemerintah Kabupaten Pati 99
4. Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul 101
5. Pemerintah Kota Salatiga 103
6. Pemerintah Provinsi Gorontalo 106
BAB 9 PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL (PSM) 108
LAMPIRAN




B A B 1
PENDAHULUAN


1. LATAR BELAKANG

nalisis Standar Belanja (ASB) sudah diperkenalkan kepada Pemerintah
Daerah dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Istilah yang
digunakan dalam PP No. 105 tersebut adalah Standar Analisa Belanja atau SAB
yang mempunyai makna penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya
terhadap suatu kegiatan. Berdasarkan PP No. 105/2000 tersebut Departemen
Dalam Negeri Republik Indonesia menerbitkan pedoman operasional dalam
bentuk Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan,
Pertanggungjawaban Dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara
Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha
Keuangan Daerah Dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Daerah . Namun, Kepmendagri tersebut belum menunjukkan
wujud/bentuk Standar Analisa Belanja.
A

Pada Tahun 2004 keluarlah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah yang merupakan pengganti dari Undang-Undang No. 22
Tahun 1999. Dalam UU No. 32 tersebut dikenalkan istilah baru yaitu Analisis
Standar Belanja (ASB) yang mempunyai maksud dan istilah yang sama dengan
Standar Analisa Belanja (SAB) yaitu penilaian kewajaran atas beban kerja dan
biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Selanjutnya,
terbitlah PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. PP No.
58 tahun 2005 ini kemudian dijabarkan lagi dalam Permendagri No. 13 tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2007
terbitlah Permendagri No. 59 tahun 2007 sebagai penyempurnaan atas
Permendagri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah. Dalam regulasi-regulasi tersebut selalu disebutkan bahwa ASB
- 1 -
Bab 1 Pendahuluan

merupakan salah satu instrumen pokok dalam penganggaran berbasis kinerja.
Walaupun regulasi-regulasi tersebut mengamanatkan ASB, tetapi ternyata
regulasi-regulasi tersebut belum menunjukkan secara riil dan operasional
tentang ASB. Akibatnya, ASB menjadi sesuatu yang abstrak bagi Pemerintah
Daerah di Indonesia.

2. PERMASALAHAN
Dasar hukum telah mensyaratkan perlunya ASB oleh Pemerintah Daerah dalam
menyusun APBD. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan bentuk perwujudan ASB
secara riil yang diperkenalkan oleh peraturan-peraturan tersebut kepada
Pemerintah Daerah.

Akibat dari tidak adanya wujud ASB secara riil tersebut maka timbullah
berbagai macam masalah dalam penyusunan APBD. Berikut ini akan
disampaikan masalah-masalah klasik dalam penyusunan APBD.
a. Penentuan anggaran secara incremental;
Anggaran bersifat incremental : yaitu anggaran yang hanya
menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran
yang telah ada sebelumnya dengan menggunakan data dua tahun
sebelumnya sebagai dasar dan tidak ada kajian yang mendalam
terhadap data tersebut.
Contoh: Tahun 2006 Badan Kepegawaian Daerah melaksanakan
Kegiatan Pengadaan CPNSD sebesar Rp. 150 juta rupiah dan di tahun
2007 melaksanakan Kegiatan Pengadaan CPNSD juga. Diperkirakan
pada tahun 2007 diprediksikan terjadi kenaikan hanya sebesar 8 %,
maka besarnya anggaran kegiatan tersebut pada tahun 2007 adalah
sebesar 150 juta x 108% = 162 juta, sedangkan rincian belanjanya
adalah sama seperti tahun lalu.
b. Penentuan anggaran dipengaruhi oleh NAMA Kegiatan;
Seringkali besarnya anggaran dipengaruhi oleh nama. Ketika sebuah
kegiatan menggunakan istilah kebarat-baratan maka biasanya akan
mendapatkan alokasi anggaran yang lebih besar dibandingkan
kegiatan yang sejenis dengan menggunakan nama lokal.
Penyusunan ASB 2

Bab 1 Pendahuluan

Contoh : Dinas Pariwisata mengadakan kegiatan Pameran dengan
jumlah stan sebanyak 100, sementara itu Dinas Perdagangan dan
Koperasi juga mengadakan kegiatan yang sejenis dengan nama Expo
dengan jumlah 100 stan pula. Ketika kegiatan tersebut diberi nama
Pameran maka oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah dianggarkan
sebesar Rp. 150 juta dan ketika kegiatan tersebut diberi nama Expo
maka akan mendapatkan anggaran sebesar Rp. 500 juta.
c. Penentuan anggaran dipengaruhi oleh SIAPA yang mengajukan
anggaran;
Penentuan besar-kecilnya anggaran acap kali dipengaruhi oleh
SIAPA yang mengajukan anggaran tersebut. Jika yang mengajukan
tersebut adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
powerfull maka SKPD tersebut akan mendapatkan alokasi anggaran
yang lebih tinggi dibandingkan SKPD kecil meskipun jenis dan
beban kerja kegiatan adalah sama.
Contoh : Kegiatan Bimbingan Teknis dengan jumlah 30 peserta dan
dilaksanakan selama 2 hari. Ketika SKPD Bappeda yang melaksanakan
maka, misalnya akan dianggarkan sebesar Rp. 150 juta, sedangkan
jika yang mengusulkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
dianggarkan Rp. 50 juta. Hal ini dapat terjadi karena, Bappeda
sebagai anggota Tim Anggaran Pemerintah Daerah lebih powerfull
dibandingkan dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang
bukan anggota Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Berdasarkan masalah klasik tersebut, maka masalah-masalah yang muncul
ketika ASB tidak digunakan dalam penganggaran keuangan daerah adalah :
Plafon anggaran kegiatan pada PPAS ditetapkan menggunakan
intuisi.
Sulit menilai kewajaran beban kerja dan biaya suatu kegiatan
Penyusunan dan penentuan anggaran menjadi subjektif
Dua atau lebih kegiatan yang sama mendapat alokasi yang
berbeda
Tidak memiliki argumen yang kuat jika dituduh melakukan
pemborosan.
Penyusunan ASB 3

Bab 1 Pendahuluan

Penyusunan anggaran MOLOR
3. TUJUAN
Anggaran daerah dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki posisi
yang sangat penting. Namun saat ini kualitas perencanaan Anggaran Daerah
yang digunakan masih relatif lemah. Proses perencanaan Anggaran Daerah
dengan paradigma lama cenderung lebih dominan. Lemahnya perencanaan
anggaran juga diikuti dengan ketidakmampuan Pemerintah Daerah dalam
meningkatkan penerimaan Daerah secara berkesinambungan, sementara di
pihak lain pengeluaran terus meningkat secara dinamis, tetapi tidak disertai
dengan penentuan skala prioritas dan besarnya plafon anggaran. Keadaan
tersebut pada akhirnya memunculkan kemungkinan underfinancing atau
overfinancing, yang semuanya mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektivitas
Unit-unit Kerja Pemerintah Daerah.

Untuk menghindari permasalahan yang timbul di atas dan agar pengeluaran
Anggaran Daerah berdasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif,
maka Anggaran Daerah harus disusun berdasarkan kinerja yang akan dicapai
oleh Daerah. Dengan menggunakan Anggaran Kinerja tersebut, maka Anggaran
Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah
satu instrumen yang diperlukan untuk menyusun Anggaran Daerah dengan
pendekatan kinerja adalah ASB.

Tujuan penyusunan pedoman teknis penyusunan ASB adalah untuk
menjembatani kesenjangan antara praktek yang berlangsung dengan kondisi
ideal yang diamanatkan oleh regulasi. Diharapkan pedoman teknis ini dapat
membumikan ASB sehingga dapat diwujudkan dan dilaksanakan secara riil
oleh Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia.


Penyusunan ASB 4

B A B 2

LANDASAN HUKUM DAN LANDASAN TEORI
ANALISIS STANDAR BELANJA


1. ANGGARAN BERBASIS KINERJA

erdasarkan kamus besar bahasa indonesia, kinerja memiliki beberapa
arti, seperti prestasi, tingkat capaian, realisasi dan pemenuhan.
Kebanyakan terminologi mengacu pada dampak tujuan tindakan publik,
tetapi beberapa berhubungan secara subyektif dengan tingkat kepuasan
yang dirasakan sebagai suatu hasil dari suatu tindakan. Perlu dipahami bahwa
konsep kinerja harus dianggap sebagai sebuah alat/instrumen untuk mencapai
tujuan dan bersifat relatif atau dapat diperbandingkan baik terhadap waktu,
terhadap daerah atau SKPD lain.
B

Anggaran dengan pendekatan prestasi kerja merupakan suatu sistem anggaran
yang mengutamakan hasil kerja dan output dari setiap program dan kegiatan
yang direncanakan. Setiap dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah
untuk melaksanakan program dan kegiatan harus didasarkan atas hasil dan
output yang jelas dan terukur. Ini merupakan pembeda utama antara anggaran
kinerja dengan anggaran tradisional yang pernah diterapkan sebelumnya yang
lebih mempertanggungjawabkan input yang direncanakan dengan input yang
dialokasikan.

Mengacu pada definisi di atas, penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja
pada dasarnya sudah dilakukan sejak pemerintah daerah mengajukan Kebijakan
Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) harus
ditentukan secara tegas mengenai besaran hasil dan outputnya. Namun,
penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja akan terlihat secara
operasional pada saat setiap SKPD mengajukan RKA-SKPD (Rencana Kerja dan
Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah). Dalam Pasal 39 ayat (1) sampai (3)
- 5 -
Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

Permendagri No. 13 tahun 2006 secara jelas menyatakan bahwa Penyusunan
RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan
keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari
kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil
tersebut. Untuk mengimplementasikan anggaran berdasarkan prestasi kerja ,
pemerintah daerah perlu melengkapi diri dengan instrumen lain seperti capaian
kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan
standar pelayanan minimal.

Terdapat beberapa indikator yang secara umum dijadikan ukuran pencapaian
kinerja dalam pengelolaan anggaran daerah. Dalam Kepmendagri No. 29 Tahun
2002, indikator kinerja diukur berdasarkan input, output, hasil, manfaat dan
dampak. Namun berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006, indikator kinerja
dibatasi menjadi masukan (input), keluaran (output) dan hasil (outcome). Input
adalah seluruh sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan output.
Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang
dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan
kebijakan. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan
berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program.

Indikator-indikator kinerja di atas, pada dasarnya tidak bisa memberikan
penjelasan yang berarti tentang kinerja melainkan semata menjelaskan
keterkaitan proses yang logis antara input, output dan outcome atau yang biasa
disebut kerangka kerja logis. Indikator yang digunakan tidak mampu
menjelaskan apakah kinerja kita sudah semakin baik ataukah semakin buruk?
Indikator yang digunakan bahkan tidak akan mampu menjawab apakah
program dan kegiatan tersebut menyentuh kepentingan publik/masyarakat
atau tujuan jangka menengah dan jangka panjang lainnya. Indikator tersebut
hanya mampu menjelaskan bahwa untuk setiap input yang digunakan adalah
sejumlah output yang dihasilkan dan sejumlah outcome pada level program.
Mengingat kinerja bersifat relatif, maka harus ada data pembanding
(benchmark). Dengan adanya data pembanding, memungkinkan untuk menilai
apakah program dan kegiatan yang direncanakan lebih efisien dan lebih efektif
Penyusunan ASB 6

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

dibandingkan dengan data pembanding tersebut atau program dan kegiatan
yang sama di tahun sebelumnya. Suatu program atau kegiatan dikatakan
semakin efisien jika untuk mencapai output tertentu diperlukan biaya yang
lebih rendah dibandingkan dengan data dasar (benchmark) atau dengan biaya
tertentu akan diperoleh output yang lebih besar dibandingkan data dasar dan
sebaliknya. Efektivitas dapat dilihat dengan membandingkan rencana output
terhadap rencana hasil, jika dengan rencana output tertentu akan mampu
dicapai hasil yang lebih besar atau dengan target hasil tertentu akan dicapai
dengan output yang lebih kecil dibandingkan dengan data dasar, maka program
dan kegiatan tersebut dikatakan semakin efektif.

2. DEFINISI ANALISIS STANDAR BELANJA
Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang harus
dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan
APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang digunakan untuk
menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program atau kegiatan
yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun anggaran.

Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara lain: (1) Dapat
menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai
dengan tupoksinya; (2) Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas
yang menyebabkan inefisiensi anggaran; (3) Meningkatkan efisiensi dan
efektifitas dalam pengelolaan Keuangan Daerah; (4) Penentuan anggaran
berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas; dan (5) Unit kerja mendapat
keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan anggarannya sendiri.

3. DASAR HUKUM
A. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal
167 ayat 3 Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur
kinerja; dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Penyusunan ASB 7

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

B. Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah, Pasal 167 ayat 3:
- Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan
untuk melaksanakan suatu kegiatan.
C. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 Untuk
mengukur kinerja keuangan Pemerintah Daerah, dikembangkan standar
analisa belanja, tolok ukur kinerja dan standar biaya.
D. Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat
2:
- Yang dimaksud dengan standar analisa belanja adalah penilaian
kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.
D. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 39 ayat 2, Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi
kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan
capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar
satuan harga, dan standar pelayanan minimal.
E. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 41 ayat 3, Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah
daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menelaah
kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD, prioritas
dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju yang telah disetujui
tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta
capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar
satuan harga, dan standar pelayanan minimal.
F. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : Rancangan surat edaran
kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup :
Penyusunan ASB 8

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

- dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode rekening APBD,
format RKA-SKPD, analisis standar belanja dan standar satuan
harga.
G. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 :
(1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikator
kinerja, capaian atau target kinerja, analisis standar belanja,
standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal.
(2) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
H. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 Pembahasan oleh TAPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah
kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA (Prioritas dan Plafon
Anggaran), prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja,
indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja,
standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi
program dan kegiatan antar SKPD.
I. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : Rancangan
surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup :
- dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis
standar belanja dan standar satuan harga.
J. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 : Pembahasan
oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk
menelaah:
Penyusunan ASB 9

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

- kesesuaian rencana anggaran dengan standar analisis belanja,
standar satuan harga;
K. Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Tahun Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan
APBD No. 4 : Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang
Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD dan Rencana
Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan daerah (RKA-PPKD)
kepada Satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD)lebih
disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah
dan program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran
sementara untuk setiap program/kegiatan SKPD, batas waktu
penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD dan dokumen sebagai
lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA, PPAS, Analisis
Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

4. MANFAAT
Manfaat yang dapat diperoleh dari Pemerintah Daerah ketika menggunakan
Analisis Standar Belanja adalah sebagai berikut :
a. Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS) menjadi obyektif tidak lagi berdasarkan intuisi
b. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu kegiatan.
c. Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang
menyebabkan inefisiensi anggaran.
d. Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas.
e. Penentuan besaran alokasi setiap kegiatan menjadi objektif.
f. Memiliki argumen yang kuat jika dituduh melakukan pemborosan.
g. Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu.

5. POSISI ASB DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
ASB memiliki peran yang penting dalam pengelolaan keuangan daerah, yaitu :
Penyusunan ASB 10

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB



a. Tahap Perencanaan
ASB dapat digunakan pada saat perencanaan keuangan daerah. ASB dapat
dipergunakan pada saat musrenbang, rencana jangka panjang (renja), dan pada
saat penentuan prioritas. Pada tahap-tahap tersebut ASB digunakan untuk
menentukan pagu indikatif dari kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh
masyarakat.

b. Tahap Penganggaran
ASB digunakan pada saat proses perencanaan anggaran. ASB merupakan
pendekatan yang digunakan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah untuk
mengevaluasi usulan program, kegiatan, dan anggaran setiap satuan kerja
dengan cara menganalisis beban kerja dan biaya dari usulan program atau
kegiatan yang bersangkutan.

ASB digunakan pada saat mengkuantitatifkan program dan kegiatan setiap SKPD
menjadi RKA-SKPD. RKA-SKPD berisi rencana program dan kegiatan yang akan
dilaksanakan beserta usulan anggaran yang akan digunakan. Untuk mengetahui
beban kerja dan beban biaya yang optimal dari setiap usulan program atau
kegiatan yang diusulkan, langkah yang dilakukan adalah dengan menggunakan
formula perhitungan ASB yang terdapat pada masing-masing jenis ASB.

c. Tahap Pengawasan/Pemeriksaan
Pada tahap pengawasan/pemeriksaan, pengawas/pemeriksa dapat
menggunakan ASB untuk menentukan batasan mengenai pemborosan / kerugian
negara. Apabila penganggaran belanja melebihi ASB maka disebut pemborosan.

6. PERILAKU BELANJA
Sebagian besar keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah memerlukan
informasi belanja yang didasarkan pada perilakunya. Oleh sebab itu perlu
diketahui penggolongan belanja atas dasar perilakunya. Yang dimaksud dengan
perilaku belanja adalah pola perubahan belanja dalam kaitannya dengan
Penyusunan ASB 11

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

perubahan target kinerja atau aktivitas pemerintah daerah ( misalnya, jumlah
peserta dan jumlah hari dalam kegiatan bimbingan teknis). Besar-kecilnya
belanja dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja kegiatan/aktivitas
pemerintah daerah. Belanja dapat digolongkan atas belanja variabel, belanja
tetap dan belanja semi variabel dan atau belanja semi tetap. Berikut ini
penjelasan masing-masing jenis belanja tersebut.

a. Belanj a Variabel
Belanja variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah secara
proporsional (sebanding) dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah
daerah. Besar-kecilnya total belanja variabel dipengaruhi oleh besar-kecilnya
target kinerja. Contoh jenis belanja ini antara lain belanja sewa stand per
meter persegi, belanja sewa gedung per hari, dan lain sebagainya.

Contoh
Untuk melatih peserta pelatihan teknis diperlukan belanja sebesar Rp 500,00
per orang/hari. Berdasarkan data tersebut belanja total untuk beberapa jumlah
peserta adalah sebagai berikut:

Jumlah Peserta Belanja Per Peserta Belanja Total
10 Rp 500,00 Rp 5.000,00
20 Rp 500,00 Rp 10.000,00
30 Rp 500,00 Rp 15.000,00
40 Rp 500,00 Rp 20.000,00
50 Rp 500,00 Rp 25.000,00

Hubungan antara peserta belanja total dengan jumlah peserta tersebut dapat
disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :





Penyusunan ASB 12

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB




Belanja Variabel Total
Rp25.000,00

Rp20,000,00

Rp15.000,00

Rp10.000,00

Rp5.000,00
Jumlah Peserta 0 10 20 30 40 50

Pada grafik tersebut nampak hubungan antara belanja total dengan jumlah
peserta. Pada saat jumlah peserta sama dengan nol, maka belanja total sama
dengan nol. Jika jumlah peserta 10 orang, maka belanja total adalah Rp
5.000,00. Jika jumlah peserta bertambah menjadi 20 orang, maka belanja total
menjadi Rp10.000,00. Demikian seterusnya belanja total akan selalu berubah
secara sebanding dengan perubahan jumlah peserta (yaitu setiap perubahan
satu orang jumlah peserta akan berpengaruh terhadap belanja sebesar
Rp500,00).

Dari contoh tersebut di atas belanja total selalu berubah sebanding dengan
jumlah peserta, akan tetapi belanja total setiap peserta jumlahnya tetap (tidak
berubah) pada setiap tingkat target kinerja. Dengan perkataan lain, belanja
variabel total mempunyai perilaku selalu berubah sesuai dengan perubahan
target kenrja, sedangkan belanja veriabel per unit mempunyai perilaku tetap,
meskipun target kinerja berubah.

b. Belanj a Tetap
Penyusunan ASB 13

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

Belanja tetap adalah belanja-belanja yang di dalam jarak kapasitas (range of
capacity) tertentu totalnya tetap, meskipun target kinerja pemerintah daerah
berubah-ubah. Sejauh tidak melampaui kapasitas, belanja tetap total tidak
dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja pemerintah daerah. Contoh
belanja tetap adalah belanja gaji pegawai pemerintah daerah. Besar kecilnya
belanja pegawai tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kegiatan yang
dilaksanakan oleh pemerintah daerah

Jarak kapasitas adalah serangkaian tingkat target kinerja pemerintah daerah
yang dapat dicapai tanpa menambah kapasitas. Misalnya, berdasarkan contoh di
atas jarak kapasitas atau sering pula disebut jarak relevan adalah beban kerja
melatih dengan jumlah peserta antara nol peserta sampai 50 peserta. Jika
pemerintah daerah mengadakan bimbingan teknis dengan peserta sampai
dengan 50 orang, maka belanja honor panitia adalah X rupiah. Berapapun
jumlah peserta, selama berada pada rentang kapasitas antara 1 sampai 50
orang maka belanja honor panitia adalah X rupiah. Namun, jika peserta peserta
melebihi rentang kapasitas, misalnya 60 orang, maka belanja honor panitia
akan lebih dari X rupiah karena pemerintah daerah harus menambah jumlah
panitia.

c. Belanj a Semi Variabel
Belanja Semi Variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah
tetapi tidak proporsional dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah
daerah. Berubahnya belanja ini tidak dalam tingkat perubahan yang konstan.
Belanja ini dapat dikelompokkan pada yang tingkat perubahannya semakin
tinggi dan tingkat perubahannya semakin rendah. Dalam belanja semi variabel
ini terkandung unsur belanja tetap dan unsur belanja variabel.

6. POLA PERILAKU DAN FUNGSI BELANJA
Perubahan belanja total sebagai akibat dari perubahan target kinerja
pemerintah daerah ada 3 macam pola yaitu :
a. Jumlah tetap, meskipun target kinerja kegiatan berubah (belanja tetap).
Penyusunan ASB 14

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

b. Jumlah berubah secara proporsional dengan perubahan target kinerja
kegiatan (belanja variabel).
c. Jumlah berubah tidak sebanding dengan perubahan target kinerja kegiatan
(belanja semi variabel).
Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian belanja, pemerintah daerah
harus mengetahui pola perilaku masing-masing belanja. Penentuan pola
perilaku belanja berkaitan dengan pemisahan belanja ke dalam unsur belanja
tetap dan belanja variabel. Dengan kata lain belanja yang dipisahkan tersebut
merupakan belanja yang semi variabel dan atau belanja semi tetap.

Untuk menggambarkan hubungan antara belanja total dengan target kinerja
kegiatan pemerintah daerah, pada umumnya dinyatakan dengan fungsi belanja
sebagai berikut:

Belanja Total = Belanja Tetap Total + Belanja Variabel Total

Belanja variabel total jumlahnya dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja
kegiatan. Dengan perkataan lain belanja variabel total merupakan hasil
perkalian antara belanja variabel per unit dengan target kinerja kegiatan.
Dengan demikian fungsi belanja tersebut di atas dapat pula dinyatakan sebagai
berikut :
Belanja Tetap Total Belanja Variabel per Unit x target kinerja kegiatan
= +
Belanja Total

Jika,

Belanja Total Dinyatakan dengan simbol Y
Target kinerja Kegiatan Dinyatakan dengan simbol X
Belanja Tetap Total Dinyatakan dengan simbol a
Belanja Variabel Per unit Dinyatakan dengan simbol b

Maka fungsi belanja tersebut dapat diformulasikan sebagai Y = a + b.X

Penyusunan ASB 15

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

7. METODE PENENTUAN POLA PERILAKU BELANJA
Untuk menentukan pola perilaku belanja sebagaimana dinyatakan dalam bentuk
fungsi tersebut di atas ada berbagai metode/pendekatan. Dari metode yang
sederhana sampai pada metode yang kompleks atau sulit. Dari perhitungan
yang paling sederhana sampai penggunaan statistik matematika yang rumit dan
bahkan dengan menggunakan komputer.

Secara umum ada tiga pendekatan dalam menentukan pola perilaku belanja.
Ketiga pendekatan itu adalah pendekatan intuisi, pendekatan analisis
enjinering, dan pendekatan analisis data belanja masa.

Pendekatan intuisi merupakan pendekatan yang didasarkan intuisis pembuat
keputusan. Intuisi tersebut bisa didasari atas surat-surat keputusan, kontrak-
kontrak kerja dengan pihak lain dan sebagainya.

Pendekatan Analisis Enj inering merupakan pendekatan yang didasarkan pada
hubungan fisik yang jelas antara masukan (input) dengan keluaran (output).
Misalnya, jika pemerintah daerah melakukan kegiatan bimbingan teknis maka
diketahui bahwa akan memerlukan sebuah lima orang panitia, dua buah
komputer, 10 rim kertas, dan lain sebagainya. Pendekatan ini memang teliti
namun seringkali memerlukan waktu dan belanja yang relatif tinggi.

Pendekatan Analisis Data Belanj a Masa Lalu merupakan pendekatan yang
didasarkan pada data belanja masa lalu. Pendekatan ini berasumsi bahwa
belanja di masa akan datang sama perilakunya dengan belanja di masa yang
lalu. Data belanja masa lalu dianalisis untuk mengetahui perilaku masing-
masing belanja.

Ada beberapa metode untuk menentukan pola perilaku belanja dangan analisis
perilaku belanja masa lalu, antara lain :

a. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (high-low method)
b. Metode Kuadrat Terkecil (least square method)
Penyusunan ASB 16

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB


Berikut akan dikemukakan masing-masing metode tersebut.

a. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (High and Low Point
Method)
Cara menentukan pola perilaku belanja dengan metode ini adalah menganalisis
belanja masa lalu pada target kinerja kegiatan yang tertinggi dan target kinerja
kegiatan yang terendah.

Contoh:
Belanja reparasi dan pemeliharaan kendaraan roda dua adalah sebagai berikut :

Nama SKPD
Jumlah Kendaraan
(unit)
Belanja Reparasi & Pemeliharaan
(000)
SKPD A 150 Rp 175.000,00
SKPD B 200 Rp 200.000,00
SKPD C 250 Rp 225.000,00
SKPD D 300 Rp 250.000,00
SKPD E 275 Rp 237.000,00
SKPD F 225 Rp 212.500,00
SKPD G 175 Rp 187.500,00
SKPD H 125 Rp 162.500,00
SKPD I 100 Rp 150.000,00
SKPD J 120 Rp 160.000,00
SKPD K 160 Rp 180.000,00
SKPD L 220 Rp 210.000,00

Berdasarkan data tersebut di atas, beban kinerja tertinggi adalah SKPD D yaitu
300 unit dengan belanja Rp250.000.000 sedangkan beban kinerja terendah
adalah SKPD I yakni 100 unit dengan belanja Rp150.000.000.
Selanjutnya beban kinerja dan belanja pada kedua titik tertinggi dan terendah
dianalisis dengan cara menghitung selisih di antara keduanya. Perhitungannya
adalah sebagai berikut:
Bulan Beban Kerja
Belanja Reparasi &
Pemeliharaan
Keterangan
SKPD D 300 unit Rp250.000.000 Tertinggi
SKPD I 100 unit Rp 150.000.000 Terendah
Penyusunan ASB 17

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB

200 unit Rp 100.000.000 Selisih

Selisih tersebut merupakan unsur variabel dari belanja yang bersangkutan.
Selisih per unit yakni dengan membagi selisih belanja dengan selisih beban
kerja merupakan belanja variabel per unit atau dalam fungsi belanja tersebut
di atas dinyatakan dengan simbol b. Dengan demikian:

b = Rp100.000.000 = Rp500.000
200
Untuk a (belanja tetap total) dihitung dengan cara menghitung selisih antara
total belanja dengan belanja variabel. Sebagai contoh untuk belanja SKPD D
maka akan dihitung sebagai berikut:

Total Belanja (Y) = Rp250.000.000
Total Belanja Variabel = Rp 500.000x 300 = Rp150.000.000
Total Belanja Tetap (a) = Rp100.000,00

Dengan demikian fungsi belanja reparasi dan pemeliharaan dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Y = 100.000 + 500.000 . x

Dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa dalam metode titik tertinggi
dan titik terendah yang pertama kali ditentukan adalah belanja variabel.
Setelah belanja variabel per unit dapat ditentukan baru ditentukan belanja
tetapnya.

b. Metode Kuadrat Terkecil (Least-Square Method)
Penentuan pola perilaku belanja menurut metode ini adalah dengan
menentukan total belanja tetap dan belanja variabel per unit dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:



Penyusunan ASB 18

Bab 2 Landasan Hukum dan Landasan Teori ASB



n xy - x y
b =
n x
2
(x)
2

y b x
a =
n

Dalam analisis yang lebih mendalam, sebelum sesuatu belanja ditentukan
sebagai suatu fungsi dari hal tertentu, terlebih dulu dilakukan analisis regresi -
korelasi. Bahkan dalam analisis regresi ada kemungkinan menggunakan regresi
berganda.




Penyusunan ASB 19

B A B 3
FORMAT DAN CARA PENGGUNAAAN
ANALISIS STANDAR BELANJA


1. FORMAT ANALISIS STANDAR BELANJA

erdasarkan definisi ASB yang terdapat dalam PP No. 58 tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 39 ayat 2
menyebutkan bahwa Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja,
indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal, maka format ASB yang dikembangkan adalah sebagai
berikut ini :
B

























- 21 -
Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB


ASB011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS
Deskripsi:
Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan kegiatan untuk
memberikan pelatihan kepada para pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat
daerah dan kepada masyarakat untuk memperoleh keahlian tertentu.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 1.162.850,00 per Kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 355.600,00 per Jumlah peserta
Rumus Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 1.162.850,00 + (Rp. 355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari)
Alokasi Obyek Belanja ASB 001 :

No. Keterangan Batas Bawah Rata- rata Batas Atas
1. Belanja Honorarium PNS
0.00% 18.33% 41.51%
2. Belanja Honorarium Non PNS
0.00% 9.71% 27.03%
3. Belanja bahan material
0.00% 5.74% 27.93%
4. Belanja bahan habis pakai
0.00% 9.87% 41.31%
5. Belanja Jasa kantor
0.00% 22.51% 70.77%
6. Belanja cetak & penggandaan
0.00% 12.13% 64.27%
7. Belanja sewa
0.00% 0.69% 2.54%
8. Belanja Makan & minum
0.00% 12.32% 26.59%
9. Belanja.Perjalanan dinas
0.00% 8.70% 22.68%


Penjelasan atas masing-masing komponen ASB adalah sebagai berikut :
a. Kode dan Nama J enis ASB ;
Kode dan Nama Jenis ASB adalah kode urutan dan nama jenis per
ASB yang digunakan agar memudahkan dalam mencari jenis ASB
yang sesuai dengan kegiatan yang akan disusun anggarannya. Kode
urutan serta nama jenis ASB dapat disusun berdasarkan urutan
abjad agar memudahkan dalam penggunaannya.
Contoh :
ASB011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS



Penyusunan ASB 22

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

b. Deskripsi ;
Deskripsi adalah penjelasan detil operasional peruntukan dari ASB.
Deskirpsi digunakan agar memudahkan dalam mengelompokkan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan juga memberikan
kemudahan ketika menggunakan ASB dalam penyusunan anggaran.
Deskripsi ASB merupakan penjelasan detil operasional dari nama
ASB. Dengan memahami deskripsi maka pengguna ASB akan
mendapatkan keyakinan memadai mengenai ketepatan
penggunaan ASB atas kegiatannya.
Contoh :
Deskripsi:
Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan
kegiatan untuk memberikan pelatihan kepada para pegawai di
lingkungan satuan kerja perangkat daerah dan kepada masyarakat
untuk memperoleh keahlian tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah
untuk memberikan keahlian untuk masalah-masalah yang sifatnya
operasional yang menjadi kebutuhan utama satuan kerja perangkat
daerah serta masyarakat luas.

c. Pengendali Belanj a (Cost Driver);
Pengendali Belanja adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar
kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya
merupakan beban kerja riil dari kegiatan yang dimaksud.
Contoh :
Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.

d. Satuan Pengendali Belanj a Tetap (fixed cost):
Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya
tetap untuk melaksanakan satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak
dipengaruhi oleh adanya perubahan volume/target kinerja suatu
kegiatan. Besarnya nilai satuan pengendali belanja tetap
merupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan dimana penyusun
anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut, namun diperbolehkan
apabila menentukan belanja tetap dibawah nilai yang ditetapkan.

Penyusunan ASB 23

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

Contoh :
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 1.162.850,00 per Kegiatan

e. Satuan Pengendali Belanj a Variabel (variable cost):
Menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk masing-
masing kegiatan yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan
volume kegiatan.
Contoh :
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 355.600,00 per Jumlah peserta

f. Rumus Perhitungan Belanj a Total:
Merupakan rumus dalam menghitung besarnya belanja total dari
suatu kegiatan. Formula ini merupakan penjumlahan antara fixed
cost dan variable cost.
Contoh :
Rumus Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 1.162.850,00 + (Rp. 355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah
hari)

g. Alokasi Obj ek Belanj a ;
Berisikan macam-macam objek belanja, proporsi batas bawah,
proporsi rata-rata dan proporsi batas atas dari total belanja. Objek
belanja disini adalah objek belanja yang hanya diperbolehkan
dipergunakan dalam ASB yang bersangkutan. Batas bawah adalah
proporsi terendah dari objek belanja yang bersangkutan. Rata-rata
adalah proporsi rata-rata dari objek belanja tersebut untuk seluruh
SKPD di Pemerintah Daerah tersebut. Batas atas adalah proporsi
tertinggi yang dapat dipergunakan dalam objek belanja.

Maksud akan adanya batas atas dan batas bawah adalah untuk
memberikan keleluasaan kepada pengguna anggaran untuk
menentukan besaran dari masing-masing objek belanja. Hal ini
Penyusunan ASB 24

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

untuk mengakomodasi sistem pengelolaan keuangan daerah yang
telah didesentralisasikan ke SKPD. Dengan demikian ASB tersebut
akan mampu mengendalikan belanja sekaligus memberikan
keleluasaan kepada penggunanya.

Berdasarkan format tersebut, maka format ASB tersebut di desain
agar dapat mengendalikan belanja sekaligus memberikan
keleluasaan/fleksibilitas kepada penggunanya. Pengendalian
belanja terlihat pada formula total belanja dan jumlah macam
belanja yang diperkenankan, sedangkan keleluasaan tampak pada
adanya batas atas dan batas bawah dalam penentuan besaran
objek belanja.

2. CARA PENGGUNAAN ANALISIS STANDAR BELANJA
Berikut disampaikan cara penggunaan ASB di dalam penyusunan anggaran.
Misalnya ASB yang akan dipakai sebagai contoh adalah ASB yang tercantum di
depan. Langkah-langkah penggunaannya adalah sebagai berikut :

1. Pastikan bahwa kegiatan tersebut telah tercantum dalam Kebijakan
Umum APBD atau Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara.
2. Temukan ASB yang sesuai dengan rencana kegiatan yang akan di
susun. Kesesuaian ASB dengan rencana kegiatan dapat dikatakan dari
mempelajari deskripsi ASB. Misal, anda akan melakukan kegiatan
pelatihan teknis untuk guru-guru ekonomi dengan jumlah peserta
sebanyak 30 orang selama 4 hari. Dari daftar ASB dapat diketahui
bahwa kegiatan tersebut masuk dalam kelompok ASB-005 BIMBINGAN
ATAU PELATIHAN TEKNIS.
3. Dari ASB yang anda temukan tersebut, maka anda dapat menentukan
maksimum total biaya untuk kegiatan tersebut berdasarkan rumus
yang ada. Misal, rumus total biaya = Rp. 1.162.850,00 + (Rp.
355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari). Dari rumus tersebut
dihitung total biaya sebagai beikut: Total Biaya = Rp. 1.162.850,00 +
(Rp. 355.600,00 x 30 peserta x 4 hari) = Rp. 43.834.850,00.
Penyusunan ASB 25

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

4. Alokasikan Total Belanja tersebut ke komponen-komponen
belanjanya sesuai dengan prosentase yang telah ditentukan.
Misalnya:
No. Keterangan Prosentase Jumlah (Rp)
1. Belanja Honorarium PNS 18.33% Rp 8.034.928
2. Belanja Honorarium Non PNS 9.71% Rp 4.256.364
3. Belanja bahan material 5.74% Rp 2.516.120
4. Belanja bahan pakai habis 9.87% Rp 4.326.500
5. Belanja Jasa kantor 22.51% Rp 9.867.225
6. Belanja cetak & penggandaan 12.13% Rp 5.317.167
7. Belanja sewa 0.69% Rp 302.460
8. Belanja Makan & minum 12.32% Rp 5.400.454
9. Belanja Perjalanan dinas 8.70% Rp 3.813.632
Jumlah 100% Rp. 43.834.850

5. Pindahkan hasil no 3 di atas ke formulir S 3.B.1.1:
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN Formulir
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH RKA - SKPD
Pemerintah Daerah
Tahun Anggaran 2007
2.2.1
UrusanPemerintahan: 1.01. Urusan Wajib Pendidikan
Organisasi : 1.01.01 Dinas Pendidikan
Program : x. xx xx. xx.
Kegiatan : x. xx. xx. xx. xx. Pelatihan guru-guru ekonomi
Lokasi kegiatan Dinas Pendidikan
Jumlah Tahun
2006
tidak dianggarkan
Jumlah Tahun
2007
Rp 43.834.850,00 (empat puluh tiga juta delapan ratus tiga puluh empat
ribu delapan ratus lima puluh rupiah)
Jumlah Tahun
2008
tidak dianggarkan
Indikator & Tolok Ukur Kinerja Belanja Langsung
Indikator Tolok Ukur Kinerja Target Kinerja
Capaian Program Pelajaran ekonomi mudah dipahami siswa 120 orang
Masukan Dana yang tersedia Rp43,834,850
Keluaran Jumlah guru yang dilatih, lama hari pelatihan 30 orang, 4 hari
Hasil tercapainya kompetensi mengajar pelajaran ekonomi 25%

Kelompok Sasaran Kegiatan : Guru-Guru ekonomi
Penyusunan ASB 26

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

Rincian Anggaran Belanja Langsung
menurut Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
Rincian Penghitungan
Kode
Rekening
Uraian
Volume Satuan
Harga
satuan
Jumlah
(Rp)
1 2 3 4 5 6=(3x5)
5 2 BELANJA LANGSUNG 43,834,850

5 2 1 BELANJA PEGAWAI 12,260,000
5 2 1 01 Honorarium PNS 8,010,000
5 2 1 01 01
Honorarium panitia
pelaksana kegiatan
8,010,000

- Ketua ( 1 orang, 3
bulan)
3 OB 750,000 2,250,000

- Sekretaris (1 orang, 3
bulan)
3 OB 600,000 1,800,000

- Anggota (4 orang, 3
bulan)
12 OB 330,000 3,960,000
5 2 1 02 Honorarium Non PNS 4,250,000
5 2 1 02 01
Honorarium tenaga
ahli/instruktur/narasumber
5 org 850,000 4,250,000

5 2 2
BELANJA BARANG DAN
JASA
31,574,850

5 2 2 01 Belanja bahan habis pakai 6,149,850
5 2 2 01 01 Belanja Alat tulis Kantor
- Kertas A4 10 rim 30,000 300,000
- Kertas F4 10 rim 32,000 320,000
- Pena 35 bh 12,500 437,500
- Pensil 35 bh 9,700 339,500
- Tinta Printer 3 bh 900,000 2,700,000
- Tas Peserta 35 bh 50,000 1,750,000
- Setip 1 bh 350 350
- Tip Ex 4 bh 10,000 40,000
- Buku Tulis 35 bh 7,500 262,500
5 2 2 02 Belanja Bahan dan Material 2,475,000
5 2 2 02 01 Belanja bahan 30 bh 82,500 2,475,000
5 2 2 03 Belanja Jasa Kantor 3,400,000
5 2 2 03 01 Belanja telepon 6 Unit 400,000 2,400,000
5 2 2 03 07 Belanja paket/pengiriman 5 Kali 200,000 1,000,000
5 2 2 06
Belanja Cetak dan
Penggandaan
10,006,000
5 2 2 06 02 Belanja Penggandaan 50,030 lbr 200 10,006,000
5 2 2 10
Belanja Sewa Perlengkapan
dan Peralatan Kantor
300,000
5 2 2 10 03 Belanja Sewa proyektor 4 hr 75,000 300,000
5 2 2 11
Belanja Makanan dan
Minuman
5,344,000
Penyusunan ASB 27

Bab 3 Format dan Cara Penggunaan ASB

Rincian Penghitungan
Kode
Rekening
Uraian
Volume Satuan
Harga
satuan
Jumlah
(Rp)
5 2 2 11 02
Belanja Makanan dan
Minuman rapat
668,000

- 5 org x 1 makan siang x
4 rapat
20 bh 15,000 300,000

- 5 org x 2 snack x 4
rapat
40 bh 9,200 368,000
5 2 2 11 02
Belanja Makanan dan
Minuman kegiatan
4,676,000

- 35 org x 1 makan siang
x 4 hari
140 bh 15,000 2,100,000

- 35 org x 2 snack x 4
hari
280 bh 9,200 2,576,000
5 2 2 15 Belanja Perjalanan Dinas 3,900,000
5 2 2 15 01
Belanja Perjalanan Dinas
dalam daerah
3,900,000
Transport : 3 hr x 2 org 6 OK 650,000 3,900,000
Jumlah 43,834,850
Tanggal 5 Agustus 2006
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Keterangan :
Tanggal Pembahasan :
Catatan Hasil Pembahasan :
1.
Dst
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
No Nama Nip Jabatan Tandatangan
1
2
dst

Penyusunan ASB 28

B A B 4
METODE PENGEMBANGAN ANALISIS
STANDAR BELANJA


1. ASUMSI DASAR PENYUSUNAN ASB

sumsi dasar yang harus disepakati dalam penyusunan ASB adalah sebagai
berikut :
a. Besar kecilnya anggaran dipengaruhi oleh beban kerja. Asumsi ini
menandaskan bahwa penyusunan Analisis Standar Belanja harus
berprinsip pada anggaran berbasis kinerja, yaitu semakin besar
kinerja yang dihasilkan maka semakin besar pula anggarannya.
A
b. Standar adalah instrumen yang diciptakan agar terdapat
keseragaman praktek di masa yang akan datang.
c. Pendekatan penyusunan ASB adalah dengan pendekatan demokrasi
(bukan otoriter). Yang dimaksud dengan demokrasi adalah, semua
aspirasi SKPD didengar dan dipertimbangkan dalam kapasitas
yang sama.
d. Data DPA SKPD dianggap benar dan valid, karena (Dokumen
Pengguna Anggaran) DPA merupakan kesepakatan antara eksekutif
dan legislatif. Lebih jauh lagi DPA memiliki dasar hukum yang kuat
yaitu berupa perda dan telah dimasukkan ke dalam lembar daerah.

2. TAHAPAN PENYUSUNAN ASB
Penyusunan ASB mencakup beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Tahap Pengumpulan Data
Pada Tahap ini , kegiatan dari semua satuan kerja perangkat daerah
dikumpulkan untuk memperoleh gambaran awal atas berbagai jenis
kegiatan yang terjadi di Pemerintah Daerah. Dalam tahap pengumpulan
data ini, semua data (populasi) SKPD harus dilibatkan semuanya
- 29 -
Bab 4 Metode Pengembangan ASB

sehingga dapat memenuhi asumsi dasar penyusunan ASB yaitu
demokrasi. Sangat disarankan agar tidak menggunakan sampling karena
sampling tidak memenuhi asumsi demokrasi. Jika disebuah pemda
terdapat 1.000 kegiatan, maka data-base nya pun akan berisi 1.000
kegiatan.

Tahap pengumpulan data ini dapat digambarkan sebagai berikut :
SKPD A
SKPD B
SKPD C
SKPD N
DATA BASE
SEMUA
KEGIATAN







Gambar 4.1 : Proses Entry Data

Contoh hasil data-base semua kegiatan ditunjukkan pada tabel di bawah
ini :
No. SKPD Kegiatan Keluaran Total Anggaran
1
Dinas
Perhubungan
(DISHUB)
Kegiatan Pemilihan Dan
Penghargaan Sopir / Juru
Mudi Awak Kendaraan
Umum Teladan
Pemilihan AKUT 10,000,000
2
Badan
Kepegawaian
Daerah (BKD)
Pemberian Penghargaan
Bagi PNS Yang Berprestasi
Pemberian
Penghargaan kepada
PNS berprestasi 100
orang 100 org
100,000,000
3
Dinas
Pariwisata
Seni Budaya
dan Olah
Raga
Pemberian Penghargaan
Bagi Insan Olah Raga Yang
Berdedikasi Dan
Berprestasi
50,000,000
4
Sekretariat
Daerah
(SEKDA)
Penerimaan Kunjungan
Kerja Pejabat
Negara/Departemen/Lem
baga Pemerintahan Non
Departemen/Luar Negeri
12 bulan 300,000,000
Penyusunan ASB 30

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

No. SKPD Kegiatan Keluaran Total Anggaran
5
Dinas
pertanian
Pendampingan Pada
Kelompok Tani
Pembudidaya Ikan (DAK)
1 kecamatan 1,734,550,000
6
Dinas Tenaga
Kerja,
Transmigrasi
dan
Pemberdayaa
n Masyarakat
Pendampingan Pemugaran
Rumah

7
Sekretariat
Daerah
(SEKDA)
Pemberdayaan Lembaga
Dan Organisasi
Masyarakat Pedesaan
100% 116,168,000
8
Kantor
PDE,Perpusta
kaan dan
arsip daerah
Pelatihan SDM Di Bidang
Komunikasi Dan Informasi
Terlatihnya SDM
Kantor dalam bidang
komunikasi sebanyak
25 orang hari
25,000,000
9
Badan
Pengawas
daerah(BAWA
SDA)
Pelatihan Pengembangan
Tenaga Pemeriksa Dan
Aparatur Pengawasan
Pengembangan
tenaga pemeriksa
sebanyak 20 orang
hari
50,000,000
10
Kecamatan
Sidorejo
Pelatihan Aparatur
Pemerintahan Desa Dalam
Bidang Manajemen
Pemerintahan Desa
Aparatur pemerintah
desa yang meningkat
sebanyak 45 orang
hari
39,991,500
11
Dinas
pertanian
Pelatihan Petani Dan
Pelaku Agribisnis
12,000,000
12
Dinas Tenaga
Kerja,
Transmigrasi
dan
Pemberdayaa
n Masyarakat
Pendidikan Dan Pelatihan
Peningkatan Peran Serta
Dalam Kesetaraan Gender
(Peningkatan Ketrampilan
Pengetahuan Perempuan)
20,000,000
13
Dinas Tenaga
Kerja,
Transmigrasi
dan
Pemberdayaa
n Masyarakat
Pelatihan Perempuan
Dalam Bidang Usaha
Ekonomi Produktif
20,000,000
14
Dinas
Pendidikan
Pengembangan
Pendidikan
Keaksaraan(Pemberantasa
n Buta Aksara)
Pengembangan
pendidikan
keaksaraan bagi
penatar sebanyak 58
orang hari
49,447,500
15
Dinas
Pendidikan
Pengembangan Mutu Dan
Kualitas Program
Pendidikan Dan Pelatihan
Bagi Pendidik Dan Tenaga
Kependidikan
Peningkatan mutu
dan kualitas program
bagi pendidik 32
orang hari
33,645,300
16
Kantor
Kependuduka
n dan
catatan Sipil
Peningkatan Kapasitas
Kelembagaan Dan
Kependudukan
(Pengadaan Blangko
Terlatihnya kapasitas
kelembagaan dan
kependudukan
sebanyak 200 orang
156,000,000
Penyusunan ASB 31

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

No. SKPD Kegiatan Keluaran Total Anggaran
Dokumen Kependudukan) hari
17
Badan
Kepegawaian
Daerah (BKD)
Peningkatan Ketrampilan
Dan Profesionalisme
Peningkatan
ketrampilan dan
profesionalisme PNS
sebanyak 18 orang
hari
20,000,000
18
Dinas
Perindustrian
dan
Perdagangan
Pembinaan IKM Dan
Memperkuat Jaringan
Kluster
Monitoring IKM yg
telah mempunyai ijin
50 IKM, Monitoring
kpd penerima
pinjaman dana
bergulir 100 orang
20,000,000
19
Dinas
Kesejahteraa
an Sosial dan
Keluarga
Berencana
Peningkatan Kemampuan
(Capacity Building)
Petugas Dan Pendamping
Sosial Pemberdayaan
Fakir Miskin, KAT Dan
PMKS Lainnya.
Peningkatan
kemampuan petugas
dan pendamping
sosial sebanyak 176
orang hari
104,280,000
20
Dinas
Kesejahteraa
an Sosial dan
Keluarga
Berencana
Peningkatan Peran Aktif
Masyarakat Dan Dunia
Usaha
69,340,000


21
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dinas Tenaga
Kerja,
Transmigrasi
dan
Pemberdayaa
n Masyarakat
Peningkatan Kapasitas
Dan Jaringan
Kelembagaan
Pemberdayaan
Perempuan Dan
Anak(Program
Pemberdayaan
Masyarakat Berbasis
Agender(P2M-BG)
Terlaksananya
Sosialisasi
kelembagaan
Pemberdayaan
Perempuan dan
Anak, Meningkatkan
kapasitas dan
jaringan
kelembagaan
Pemberdayaan
Perempuan dan anak
10,000,000
.
N
Dinas
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup(DPLH)
Peningkatan Edukasi Dan
Komunikasi Masyarakat Di
Bidang Lingkungan
Terlaksanaya
bangunan Praja
lingkungan melalui :
1. Sosialisasi dan
sarasehan
kebersihan, 2, Lomba
kebersihan, 3. Lomba
Lukis, 4 Pengadaan
alat telekomunikasi,
5. Sosialisasi
kebersihan,
terwujudnya
Bangunan Praja
60,000,000
Tabel 4.1 : Contoh Data-Base Semua Kegiatan



Penyusunan ASB 32

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

b. Tahap Penyetaraan Kegiatan
Penyetaraan kegiatan dilakukan untuk menggolongkan daftar berbagai
kegiatan yang diperoleh dari tahap pengumpulan data ke dalam jenis
atau kategori kegiatan yang memiliki kemiripan pola kegiatan dan bobot
kerja yang sepadan. Artinya, kegiatan yang bobot pekerjaannya sama
maka akan dikelompokkan pada golongan/kelompok yang sama.
Contohnya adalah kegiatan bimbingan teknis, pelatihan teknis, TOT
(Training Of Trainer) adalah kelompok kegiatan yang mirip dan bobot
pekerjaannya sama yaitu Pelatihan/Bimbingan Teknis. Contoh lain
adalah pameran, expo, ekshibisi adalah kegiatan yang setara pula yaitu
Pameran.

Tahapan ini dilakukan untuk memenuhi asumsi dasar yang pertama,
yaitu penyusunan ASB harus berdasarkan prinsip anggaran berbasis
kinerja.

Tahapan penyetaraan kegiatan ini dapat digambarkan sebagai berikut :







Gambar 4.2 : Proses Penyetaraan Kegiatan
Data Base
Semua
Kegiatan
Jenis Kegiatan A
Jenis Kegiatan B
Jenis Kegiatan C
Jenis Kegiatan N

Berdasarkan contoh data-base pada langkah 1, maka kita dapat
menyetarakan menjadi beberapa jenis kegiatan. Salah satunya adalah
jenis kegiatan Pelatihan/Bimbingan Teknis. Hasil penyetaraannya adalah
sebagai berikut :

Penyusunan ASB 33

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

J enis Kegiatan : Pelatihan/Bimbingan Teknis
No. SKPD Kegiatan Keluaran
Total
Anggaran
1
Kantor
PDE,Perpustakaan
dan arsip daerah
Pelatihan SDM Di Bidang
Komunikasi Dan Informasi
Terlatihnya SDM
Kantor dalam
bidang komunikasi
sebanyak 25 orang
hari
25,000,000
2
Badan Pengawas
daerah(BAWASDA)
Pelatihan Pengembangan
Tenaga Pemeriksa Dan
Aparatur Pengawasan
Pengembangan
tenaga pemeriksa
sebanyak 20 orang
hari
24,500,000
3
Kecamatan
Sidorejo
Pelatihan Aparatur
Pemerintahan Desa Dalam
Bidang Manajemen
Pemerintahan Desa
Aparatur
pemerintah desa
yang meningkat
sebanyak 45 orang
hari
39,991,500
4 Dinas Pendidikan
Pengembangan
Pendidikan
Keaksaraan(Pemberantasa
n Buta Aksara)
Pengembangan
pendidikan
keaksaraan bagi
penatar sebanyak
58 orang hari
49,447,500
5 Dinas Pendidikan
Pengembangan Mutu Dan
Kualitas Program
Pendidikan Dan Pelatihan
Bagi Pendidik Dan Tenaga
Kependidikan
Peningkatan mutu
dan kualitas
program bagi
pendidik 32 orang
hari
33,645,300
6
Kantor
Kependudukan
dan catatan Sipil
Peningkatan Kapasitas
Kelembagaan Dan
Kependudukan
Terlatihnya
kapasitas
kelembagaan dan
kependudukan
sebanyak 200 orang
hari
156,000,000
7
Badan
Kepegawaian
Daerah (BKD)
Peningkatan Ketrampilan
Dan Profesionalisme
Peningkatan
ketrampilan dan
profesionalisme
PNS sebanyak 18
orang hari
20,000,000
8
Dinas
Kesejahteraaan
Sosial dan
Keluarga
Berencana
Peningkatan Kemampuan
(Capacity Building)
Petugas Dan Pendamping
Sosial Pemberdayaan
Fakir Miskin, KAT Dan
PMKS Lainnya.
Peningkatan
kemampuan
petugas dan
pendamping sosial
sebanyak 176 orang
hari
104,280,000
Tabel 4.2 : Data Penyetaraan Kegiatan

c. Tahap Pembentukan Model
Model dibentuk untuk memperoleh gambaran nilai belanja dan
alokasinya yang terjadi di Pemerintah Daerah. Tahap ini mencakup tiga
langkah utama yaitu:

Penyusunan ASB 34

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

1. Pencarian Pengendali Belanj a (cost driver) dari tiap-tiap j enis
kegiatan.
Pengendali Belanja (Cost Driver) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar
kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Cost Driver ada 2 macam yaitu : cost
driver nyata (riil) dan cost driver semu (pseudo).

Cost Driver semu adalah cost driver yang seolah-olah mempengaruhi besar
kecilnya belanja, namun sesungguhnya tidak mempengaruhi karena hanya
digunakan sebagai dasar pembenar untuk memperbesar anggaran.
Contoh Cost Driver Semu pada Jenis Kegiatan Pelatihan atau Bimbingan Teknis
adalah tempat pelaksanaan, seringkali tempat pelaksanaan misalnya hotel
bintang lima dijadikan alasan pembenar oleh pengusul anggaran.

Contoh Cost Driver Riil pada Jenis Kegiatan Pelatihan atau Bimbingan Teknis,
adalah jumlah peserta dan jumlah hari pelaksanaan. Tentunya cost driver
riil inilah yang akan dipilih dalam pembentukan model. Cost driver semu tetap
akan diakomodasi dalam bentuk rentang batas atas dan batas bawah pada saat
mendistribusikan belanja total.

2. Pencarian Nilai Belanj a Tetap (fixed cost) dan Belanj a Variabel
(variable cost) untuk setiap j enis kegiatan.
Nilai total belanja dari tiap jenis kegiatan dipisahkan dalam nilai belanja tetap
dan nilai belanja variabel. Dengan demikian, setiap penambahan kuantitas
target kinerja akan dapat dianalisis peningkatan belanja variabelnya.

Teknik menentukan belanja tetap dan belanja variabel terdiri dari :

(1) Metode Scatterplot
Metode Scatterplot adalah suatu metode penentuan persamaan garis dengan
memplot data dalam suatu grafik. Langkah pertama dalam menerapkan metode
scatterplot adalah memplot titik-titik data sehingga hubungan antara belanja
dan tingkat aktivitas kinerja dapat dilihat. Salah satu tujuan dari grafik scatter
adalah untuk melihat apakah asumsi hubungan linier wajar atau tidak. Selain
Penyusunan ASB 35

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

itu, dengan mengamati grafik scatter mungkin terungkap beberapa titik yang
tampak tidak cocok dalam pola umum perilaku belanja. Berdasarkan
pemeriksaan ini, mungkin terungkap bahwa titik-titik ini (outliers) terjadi
sebagai akibat kejadian yang tidak biasa. Pengetahuan ini dapat memberikan
justifikasi untuk mengeliminasi dan mungkin menuntun pada perkiraan yang
lebih baik mengenai fungsi belanja yang mendasarinya.

Grafik Scatter dapat membantu memberikan pengetahuan tentang hubungan
antara belanja dan penggunaan aktivitas (kinerja). Bahkan, grafik scatter
memungkinkan seseorang untuk secara visual menyesuaikan suatu garis dengan
titik-titik dalam grafik scatter. Dalam melakukan hal ini, garis yang dipilih
seharusnya adalah garis yang paling sesuai dengan titik-titik tersebut.

Keunggulan signifikan metode scatterplot adalah memungkinkan kita untuk
melihat data secara visual. Kelemahan metode scatterplot adalah tidak adanya
kinerja objektif untuk memilih garis terbaik. Kualitas rumus biaya bergantung
pada kualitas penilaian subjektif analis.

Berdasarkan hasil penyetaraan pada tahap sebelumnya (tabel 4.2) , maka kita
dapat membuat tabel dari scatter plot sebagai berikut :

Pelatihan/Bintek
0
20000000
40000000
60000000
80000000
100000000
120000000
140000000
160000000
180000000
0 50 100 150 200 250
Cost Driver
T
o
t
a
l

A
n
g
g
a
r
a
n
Series1

Gambar 4.3 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Pelatihan/Bintek



Penyusunan ASB 36

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

(2) Metode High-Low
Metode High-Low adalah suatu metode untuk menentukan persamaan suatu
garis lurus dengan terlebih dahulu memilih dua titik (titik tertinggi dan
terendah) yang akan digunakan untuk menghitung parameter pemintas dan
kemiringan. Titik tertinggi didefinisikan sebagai titik dengan tingkat output
atau aktivitas tertinggi. Titik terendah didefinisikan sebagai titik dengan
tingkat output atau aktivitas terendah.

Metode High-Low memiliki keunggulan obyektivitas. Dua orang yang
menggunakan metode tinggi rendah pada suatu data tertentu akan
menghasilkan jawaban yang sama.
Metode High-Low biasanya tidak sebagus metode yang lain. Mengapa? Pertama,
titik tinggi dan rendah mungkin merupakan outliers. Outliers menggambarkan
hubungan belanja-aktivitas yang belum tentu benar. Jika hal itu terjadi, rumus
belanja yang dihitung dengan menggunakan dua titik ini tidak akan
mencerminkan apa yang biasa terjadi. Kedua, meskipun titik-titik tersebut
bukan merupakan outliers, pasangan titik lainnya mungkin lebih dapat
mewakili.

Berdasarkan hasil penyetaraan pada tahap sebelumnya (tabel 2), maka kita
dapat menentukan persamaan garis berdasarkan metode High-Low sebagai
berikut :
No. SKPD
Jumlah Peserta Per Hari
(OH)
Jumlah
Anggaran
Pelatihan/Bintek
1
Kantor PDE,Perpustakaan dan
arsip daerah
25 25,000,000
2
Badan Pengawas
daerah(BAWASDA)
20 24,500,000
3 Kecamatan Sidorejo 45 39,991,500
4 Dinas Pendidikan 58 49,447,500
5 Dinas Pendidikan 32 33,645,300
6
Kantor Kependudukan dan
catatan Sipil
200 156,000,000
Penyusunan ASB 37

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Jumlah
Anggaran
Pelatihan/Bintek
No. SKPD
Jumlah Peserta Per Hari
(OH)
7
Badan Kepegawaian Daerah
(BKD)
18 Rp 20,000,000
8
Dinas Kesejahteraaan Sosial
dan Keluarga Berencana
176 Rp 104,280,000

Berdasar data di atas, beban kinerja tertinggi adalah No.6 yaitu 200 OH dengan
belanja Rp156.000.000 sedangkan beban kinerja terendah adalah No.7 yakni 18
OH dengan belanja Rp 20.000.000.
Selanjutnya beban kinerja dan belanja pada kedua titik tertinggi dan terendah
dianalisis dengan cara menghitung selisih di antara keduanya. Perhitungannya
adalah sebagai berikut:

SKPD
Jumlah Peserta Per Hari
(OH)
Jumlah
Anggaran
Keterangan
Kantor Kependudukan
dan catatan Sipil
200 OH Rp 156,000,000 Tertinggi
Badan Kepegawaian
Daerah (BKD)
18 OH Rp 20,000,000 Terendah
182 unit Rp 136.000.000 Selisih

Selisih tersebut merupakan unsur variabel dari belanja yang bersangkutan.
Selisih per unit yakni dengan membagi selisih belanja dengan selisih beban
kerja merupakan belanja variabel per unit atau dalam fungsi belanja tersebut
di atas dinyatakan dengan simbol b. Dengan demikian:
b = Rp 136.000.000 = Rp 747.253
182
Untuk a (belanja tetap total) dihitung dengan cara menghitung selisih antara
total belanja dengan belanja variabel. Sebagai contoh untuk belanja pada No. 6
maka akan dihitung sebagai berikut:

Total Belanja (Y) = Rp156.000.000
Total Belanja Variabel = Rp 747.253x 200 = Rp 149.451.000
Total Belanja Tetap (a) = Rp 6.549.000

Penyusunan ASB 38

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Dengan demikian fungsi belanja reparasi dan pemeliharaan dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Y = 6.549.000 + 747.253 . x

Dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa dalam metode titik tertinggi
dan titik terendah yang pertama kali ditentukan adalah belanja variabel.
Setelah belanja variabel per unit dapat ditentukan baru ditentukan belanja
tetapnya.

(3) Metode Least Square (kuadrat terendah)
Metode Least Square adalah metode yang menentukan prediksi persamaan garis
terbaik berdasarkan jarak/perbedaan vertikal terkecil antara belanja aktual
dengan belanja yang diprediksi oleh persamaan garis.

Jarak vertikal mengukur kedekatan suatu titik ke garis. Metode kuadrat terkecil
pertama-tama mengkuadratkan setiap deviasi dan kemudian menjumlahkan
deviasi yang dikuadratkan tersebut sebagai ukuran kedekatan keseluruhan.
Pengkuadratan deviasi ini menghindari masalah yang disebabkan oleh bauran
angka positif dan negatif. Karena ukuran kedekatan adalah jumlah deviasi
kuadrat titik-titik dari garis, maka semakin kecil ukurannya, semakin baik
garisnya.

Pada dasarnya, pembandingan ukuran kedekatan dapat menghasilkan suatu
pemeringkatan semua garis dari yang terbaik sampai yang terburuk. Garis yang
lebih mendekati titik dibandingkan garis lainnya disebut garis kesesuaian
terbaik (best-fitting line), yaitu garis dengan jumlah kuadrat deviasi terkecil.
Metode kuadrat terkecil mengidentifikasi garis yang paling sesuai.

Berdasarkan hasil penyetaraan pada tahap sebelumnya (tabel 2), maka kita
dapat menentukan persamaan garis berdasarkan metode least square sebagai
berikut :


Penyusunan ASB 39

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Model Regresi
Model regresi yang merupakan model untuk menghitung plafon belanjanya
ditentukan dengan langkah-langkah:
1. Menentukan cost driver.
Dari data di atas dapat diketahui cost driver (variabel independen)
dari ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis adalah jumlah orang per hari.
2. Mengumpulkan data total belanja (variabel dependen) dari masing-
masing kegiatan Pelatihan/Bimbingan Teknis.
3. Jalankan sofware statistik (misal SPSS) untuk mengolah regresi
dengan cara sebagai berikut:
a. Buka lembar kerja SPSS kemudian masukkan data total belanja
dan data cost driver ke dalam lembar kerja SPSS.

Tabel 4.3 : Tampilan SPSS setelah data dimasukkan











Penyusunan ASB 40

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

b. Pilih menu Anayze Regression Linear

Tabel 4.4 : Tampilan Olah Data SPSS
c. Masukkan data total belanja sebagai variabel dependen dan
data cost driver sebagai variabel independen seperti dalam
tabel berikut ini:

Tabel 4.5 : Tampilan SPSS setelah data dimasukkan










Penyusunan ASB 41

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

d. Klik OK maka akan tampak output SPSS sebagai berikut :


































Tabel 4.6 : Tampilan Output SPSS

4. Dari hasil output SPSS dapat disusun model regresi (lihat output
tabel Coeficents) untuk ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis sebagai
berikut (angka dibulatkan ke atas):
Y = a + b X
dimana :
Y : Total Anggaran
a : Belanja Tetap (Fixed Cost)
b : Belanja Variabel (Variable Cost)


Penyusunan ASB 42

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Penyusunan ASB 43

Maka didapat rumusan ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis sebagai
berikut :
Y = Rp. 10.219.500 + Rp. 646.550 X atau
Keterangan:
Y: Total Belanja
X: Jumlah Orang per Hari

3. Penentuan Nilai Rata-rata (Mean), Batas Atas dan Batas Bawah
untuk Masing-Masing Sebaran Belanj a.
Nilai mean, batas atas dan batas bawah dicari untuk memperoleh gambaran
awal atas rata-rata dari pengalokasian belanja setiap jenis kegiatan dan
pengendali belanjanya. Cara menentukan nilai rata-rata, batas atas dan batas
bawah adalah bermula sebagai berikut.

Nilai Rata-rata : Total Nilai/Jumlah Data
Nilai Batas Bawah : (Nilai Rata-rata Standar Deviasi)/Total Nilai
Rata-rata
Nilai Batas Atas : (Nilai Rata-rata + Standar Deviasi)/Total Nilai
Rata-rata

Penghitungan nilai rata-rata, batas bawah dan batas atas menggunakan objek
belanja yang tersebar di data-base. Pada tabel 2 di atas, jika diuraikan setiap
objek belanjanya akan terlihat sebagai berikut :

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Penyusunan ASB 44

Kegiatan
Cost
Driver
Check Total
B.
Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
Pakai hbs
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.Mkn&mnm
B.Prjlan
dns
Pelatihan SDM di Bidang
Komunikasi dan Informasi
25 25,000,000 5,000,000 - 1,722,400 100,000 4,718,600 1,544,000 11,915,000
Pelatihan pengembangan
tenaga pemeriksa dan
aparatur pengawasan
20 24,500,000 1,266,000 16,260,000 826,900 150,000 927,100 4,340,000 730,000
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa dalam
Bidang Manajemen
Pemerintahan Desa
45 39,991,500 6,120,000 5,380,000 1,896,500 80,000 700,000 7,680,000 18,135,000
Pengembangan pendidikan
Keaksaraan(pemberantasan
buta aksara)
58 49,447,500 9,480,000 33,575,000 6,392,500 - - - -
Pengembangan Mutu dan
Kualitas program pendidikan
dan pelatihan bagi Pendidik
dan tenaga kependidikan
32 33,645,300 16,599,000 1,276,000 3,742,300 520,000 - 11,508,000 -
Peningkatan Kapasitas
kelembagaan dan
kependudukan (Pengadaan
Blangko Dokumen
Kependudukan)
200 156,000,000 1,565,000 - 205,000 900,000 153,182,000 148,000 -
Peningkatan ketrampilan
dan profesionalisme
18 20,000,000 4,315,000 - 1,781,000
8,000,0
00
214,000 800,000 4,890,000
Peningkatan Kemampuan
(capacity Building) petugas
dan pendamping sosial
pemberdayaan fakir miskin,
KAT dan PMKS lainnya.
176 104,280,000 6,935,000 2,000,000 93,065,000 - - 2,280,000 -
Tabel 4.7 : Data Sebaran Objek Belanja untuk Jenis Kegiatan Pelatihan/Bintek
Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Alokasi Objek Belanja
Kemudian alokasi objek belanja dapat disusun dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Buka lembar kerja SPSS kemudian masukkan alokasi rincian objek
belanja. Beri label setiap jenis alokasi belanja sesuai dengan
datanya. Cara: klik variables view yang terletak di kiri lembar
kerja kemudian pada kolom label ketik masing-masing nama objek
belanjanya:
Var00001: Belanja Honorarium PNS
Var00002: Belanja Honorarium Non PNS
Var00003: Belanja Bahan Pakai Habis
Var00004: Belanja Jasa Kantor
Var00005: Belanja Cetak dan Penggandaan
Var00006: Belanja Makan dan Minum
Var00007: Belanja Perjalanan Dinas

Tabel 4.8 : Lembar Kerja SPSS






Penyusunan ASB 45

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

2. Olah data dengan statistik deskriptif dengan cara klik Analyze
Desriptive Statistics Descriptives.

Tabel 4.9 : Tampilan Olah Data SPSS

3. Masukkan semua rincian alokasi belanja ke dalam kotak Variable(s)
seperti terlihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.10 : Tampilan Olah Data SPSS



Penyusunan ASB 46

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

4. Kemudian klik OK maka akan tampak output sebagai berikut:

Tabel 4.11 : Tampilan Output SPSS

5. Dari hasil output ubahlah setiap objek belanja dalam bentuk prosentase
dengan cara membagi setiap angka yang ada dengan jumlah mean-nya.
Contoh : Nilai Rata-rata (mean) dijumlah akan didapat Rp 56.608.038,
kemudian mencari nilai rata-rata pada variabel 0001 (objek belanja
honorarium PNS) dengan membagi mean pada variabel 0001 dengan
jumlah nilai mean, akan didapat nilai : 11,32%. Nilai Batas Bawah
dengan rumus (Mean-Standar Deviasi)/Jumlah Mean, akan didapat 2,62%
dan Niali Batas Atas dengan rumus (mean+Standar Deviasi)/Jumlah mean
: 20,03 %.

Berdasar hitungan diatas, jika seluruh variabel dihitung akan didapat
data sebagai berikut:
No. Objek Belanja
Batas
Bawah
Rata-Rata Batas Atas
1. Belanja Honorarium PNS 2.62% 11.32% 20.03%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0.00% 12.92% 34.02%
3. Belanja bahan pakai habis 0.00% 24.21% 80.96%
4. Belanja Jasa kantor 0.00% 2.15% 7.02%
5. Belanja cetak & penggandaan 0.00% 35.27% 100.00%
6. Belanja Makan & minum 0.00% 6.25% 13.51%
7. Belanja Perjalanan dinas 0.00% 7.88% 20.12%
Tabel 4.12 : Alokasi Objek Belanja

Penyusunan ASB 47

Bab 4 Metode Pengembangan ASB

Keterangan :
Mean : rata-rata
Minimum : Batas Bawah
Maksimum : Batas Atas
6. Tahap Pendokumentasian/Perumusan ASB
Tahap ini menerangkan semua tahap-tahap sebelumnya. Dari tahap-
tahap sebelumnya maka dapat dirumuskan ASB Pelatihan/Bimbingan
Teknis sebagai berikut:


ASB011 PENYELENGGARAAN PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS
Deskripsi:
Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan
kegiatan untuk memberikan pelatihan kepada para pegawai di
lingkungan satuan kerja perangkat daerah untuk memperoleh
keahlian tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan
keahlian untuk masalah-masalah yang sifatnya operasional yang
menjadi kebutuhan utama satuan kerja perangkat daerah.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 10.219.500,00 per Kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 646.550,00 per Jumlah peserta
Rumus Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 10.219.500,00 + (Rp. 646.550,00 x Jumlah peserta x jumlah hari)
Alokasi Obyek Belanja ASB 001 :

No. Objek Belanja
Batas
Bawah
Rata-
Rata
Batas
Atas
1. Belanja Honorarium PNS 2.62% 11.32% 20.03%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0.00% 12.92% 34.02%
3. Belanja bahan pakai habis 0.00% 24.21% 80.96%
4. Belanja Jasa kantor 0.00% 2.15% 7.02%
5.
Belanja cetak &
penggandaan
0.00% 35.27% 100.00%
6. Belanja Makan & minum 0.00% 6.25% 13.51%
7. Belanja Perjalanan dinas 0.00% 7.88% 20.12%


Penyusunan ASB 48

B A B 5
STUDI KASUS PENYUSUNAN ANALISIS
STANDAR BELANJA


alam bab ini akan disajikan kasus-kasus riil yang terjadi pada pemda-
pemda yang telah berhasil mengembangkan ASB. Pemda-pemda
tersebut antara lain adalah Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah
Kabupaten Wonogiri, Pemerintah Kabupaten Pati, Pemerintah Kabupaten
Samosir, Pemerintah Provinsi DIY, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah
Kota Magelang, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Pemerintah Provinsi
Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Pemerintah
Kabupaten Pontianak, dll.
D

1. PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

ASB PAMERAN
Deskripsi:
Pameran merupakan kegiatan satu satuan kerj a perangkat daerah
untuk menunj ukkan kepada masyarakat luas tentang hasil karya
seni, tulisan, teknologi, dan berbagai karya lain yang dapat
diperlihatkan wuj ud fisiknya yang bertempat di suatu lokasi tetap
sementara waktu sampai kegiatan tersebut berakhir. Kegiatan ini
dimulai sej ak persiapan kegiatan hingga selesainya pameran secara
tuntas dan diterbitkan laporan hasil kegiatan.


ASB ini tidak termasuk belanja sewa stan. Belanja sewa stan ditentukan
berdasarkan standar harga barang yang berlaku. Berdasar uraian
deskripsi maka cost driver untuk ASB Pameran adalah jumlah hari
pameran dan jumlah personil tim, karena faktor yang berpengaruh
terhadap besar kecilnya belanja untuk jenis kegiatan ini adalah hari
pelaksanaan pameran dan jumlah personil yang dilibatkan dalam
pengurusan pameran.


- 49 -

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Pengembangan Model
Berdasarkan deskripsi di atas, maka model ASB Pameran adalah :
Y = a + b X + Belanja sewa stan
Dimana:
a : Belanja Tetap (Fixed Cost)
b : Belanja Variabel (Variable Cost)
X : Jumlah Hari dan Jumlah Personil

Data
Data yang digunakan untuk membuat ASB ini adalah :
No SKPD Kegiatan
Total
Belanja
Cost Driver (Hari
dan Personil)
1 P2KPM
Gelar Potensi Produk
IKM - inacraft
28046000 40 Hari/Personil
2 P2KPM
Gelar Potensi Produk
IKM - PPI
25375000 40 Hari/Personil
3 P2KPM Pameran produk ekspor 27325000 45 Hari/Personil
4 P2KPM Pameran JIVEST 2007 23500000 36 Hari/Personil
5 P2KPM Pameran PRJ jakarta 38500000 270 Hari/Personil
Tabel 5.1 : Data Jenis Kegiatan Pameran

Berdasar data di atas, maka didapat scatter plot dan hasil olahan regresi
sebagai berikut :

-
10,000,000
20,000,000
30,000,000
40,000,000
50,000,000
60,000,000
0 2000 4000
Series2

Tabel 5.2 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Pameran







Penyusunan ASB 50

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB





































Tabel 5.3 : Output Statistik Jenis Kegiatan Pameran

Dari output yang dihasilkan didapatkan rumusan ASB Pameran sebagai berikut :

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp 23.853.114,60 per kegiatan

Satuan pengendali belanja (Variabel cost):
= Rp 54.478,95 per hari pameran per personil tim

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp 23.853.114,60 + (Rp 54.478,95 x Jumlah Hari Pameran x
Personil Tim)


Penyusunan ASB 51

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB


Data sebaran belanja untuk jenis kegiatan Pameran tersebut adalah :

Kegiatan
Total
Belanja
Belanja
Honorariu
m PNS
Belanja
Bahan
Pakai
Habis
Belanja Cetak
dan
Penggandaan
Belanja
Makan
dan
Minum
Belanja
Perjalana
n Dinas
Gelar
Potensi
Produk IKM -
inacraft
28046000 1450000 0 3061000 300000 23235000
Gelar
Potensi
Produk IKM -
PPI
25375000 1450000 0 3270000 240000 20415000
Pameran
produk
ekspor
27325000 2600000 353200 3411800 100000 20860000
Pameran
JIVEST 2007
23500000 7650000 450000 500000 780000 14120000
Pameran
PRJ jakarta
38500000 15750000 180000 100000 100000 22370000
Tabel 5.4 : Data Sebaran Belanja Jenis Kegiatan Pameran

Berdasar data pada sebaran belanja di atas, maka penentuan nilai batas bawah,
rata-rata dan nilai batas atas adalah sebagai berikut :

No Keterangan
Batas
Bawah
Rata-Rata
Batas
Atas
1 Honorarium PNS 0.00% 20.25% 41.73%
2 Bahan Habis Pakai 0.00% 0.69% 1.40%
3 Cetak Penggandaan 1.55% 7.25% 12.94%
4 Makan minum 0.08% 1.06% 2.05%
5 Perjalanan Dinas 58.20% 70.76% 83.31%


2. PEMERINTAH KABUPATEN SAMOSIR

ASB PENGADAAN BAHAN MATERIAL
Diskripsi
Pengadaan bahan material merupakan kegiatan untuk memperoleh
bahan material yang digunakan untuk kegiatan utama SKPD ataupun
kegiatan pendukung lainnya. Pengadaan material merupakan
kegiatan yang diadakan khusus untuk menghadirkan material karena
adanya kebutuhan tertentu untuk mendukung aktivitas satuan kerj a
perangkat daerah secara berkelanj utan dan bukan hanya untuk
mendukung kegiatan sekali waktu.

Penyusunan ASB 52

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Dari uraian diskripsi tersebut di atas maka cost driver (pengendali
belanja) untuk ASB ini adalah Nilai Bahan Material yang diadakan,
karena besarnya anggaran belanja pengadaan bahan material
dipengaruhi oleh nilai belanja bahan material. Nilai Belanja Material
merupakan hasil perkalian antara Volume x Standar Harga Barang dan
Jasa (SHBJ). ASB ini ditujukan untuk mengendalikan besaran belanja
untuk administrasi panitia pelaksana kegiatan pengadaan bahan
material.

Pengembangan Model
Berdasarkan deskripsi di atas, maka model ASB Pengadaan Bahan
Material adalah :
Y = a + b X
dimana:
a : Belanja Tetap (Fixed Cost)
b : Belanja Variabel (Variable Cost)
X : Nilai Belanja Bahan Material
Nilai b harus lebih besar dari pada 1

Data
Data yang digunakan untuk membuat ASB ini adalah:
No SKPD Kegiatan
Total
Belanja
Cost Driver
(Nilai Belanja
Bahan Material)
1
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pembelian dan
pendistribusian vaksin
dan pakan ternak
134,850,000 Rp 120,825,000
2
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pembibitan dan
perawatan ternak
52,236,000 Rp 32,186,000
3 Dinas Kesehatan
Pengadaan alat
fogging dan bahan-
bahan fogging
28,062,500 Rp 12,600,000
4
Kantor Keluarga
Berencana
Pengadaan Alat
Kontrasepsi
54,450,000 Rp 48,855,500
5
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pengadaan Bibit
Ternak Babi di
Lokalitas Agropolitan
198,950,000 Rp 183,880,000
6
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pengadaan Bibit
Unggul Bawang Merah
200,000,000 Rp 156,400,000
Penyusunan ASB 53

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

No SKPD Kegiatan
Total
Belanja
Cost Driver
(Nilai Belanja
Bahan Material)
7 Dinas Kesehatan
Pengadaan Obat dan
Perbekalan Kesehatan
402,740,000 Rp 350,000,000
8
Rumah Sakit Umum
Daerah
Pengadaan Obat-obat
rumah sakit
400,000,000 Rp 300,000,000
9 Dinas Kesehatan
Pengadaan vaksin
penyakit menular
13,500,000 Rp 13,500,000
10 Dinas Kesehatan Peningkatan Imunisasi 71,571,600 Rp 46,760,000
Tabel 5.5 : Data Jenis Kegiatan Pengadaan Bahan Material



0
50000000
100000000
150000000
200000000
250000000
300000000
350000000
400000000
0 5E+07 1E+08 2E+08 2E+08 3E+08 3E+08 4E+08 4E+08 5E+08
Series1

Tabel 5.6 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Pengadaan Bahan Material




















Penyusunan ASB 54

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Penyusunan ASB
Dari output yang dihasilkan mendapatkan rumusan ASB Pengadaan Bahan
Material sebagai berikut :

55































Tabel 5.7 : Output Statistik Jenis Kegiatan Pengadaan Bahan Material
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
=Rp. 4.893.700 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
=(0,192 x Nilai Belanja Materialnya)
Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 4.893.700 + 1,192 x Nilai Belanja Materialnya
= Rp. 4.893.700 + (0,192 x Nilai Belanja Materialnya) + Nilai Belanja
Materialnya.

Keterangan :
Penghitungan belanja total ASB tersebut diatas sudah termasuk nilai belanja
materialnya. Sehingga dalam mendistribusikan ke dalam alokasi obyek belanja
adalah jumlah belanja total dikurangi nilai belanja materialnya.


- 56 -

Data sebaran belanja untuk jenis kegiatan pengadaan bahan material adalah :

Kegiatan
Total
Belanja
Belanja
Honorarium
PNS
Belanja
Honorarium
Non PNS
Belanja bahan
pakai habis
Belanja
Jasa
kantor
Belanja
cetak
&pengganda
an
Belanja
sewa
Belanja
Perjalana
n dinas
Pembelian dan pendistribusian
vaksin dan pakan ternak
134850000 1275000 0 0 0 2250000 1500000 9000000
Pembibitan dan perawatan ternak 52236000 0 10800000 0 0 0 0 9250000
Pengadaan alat fogging dan bahan-
bahan fogging
28062500 0 0 12685000 0 0 0 0
Pengadaan Alat Kontrasepsi 54450000 2250000 0 844500 0 0 2500000 0
Pengadaan Bibit Ternak Babi di
Lokalitas Agropolitan
198950000 3575000 0 0 0 395000 0 11100000
Pengadaan Bibit Unggul Bawang
Merah
200000000 5088000 0 1729500 0 857500 0 35925000
Pengadaan Obat dan Perbekalan
Kesehatan
402740000 3300000 0 0 3000000 440000 0 0
Pengadaan Obat-obat rumah sakit 400000000 0 0 100000000 0 0 0 0
Pengadaan vaksin penyakit
menular
13500000 0 0 0 0 0 0 0
Peningkatan Imunisasi 71571600 0 13500000 9580000 0 1731600 0 0
Tabel 5.8 : Data Sebaran Objek Belanja Jenis Kegiatan Pengadaan Bahan Material
Berdasar data pada sebaran belanja di atas, maka penentuan nilai batas bawah,
rata-rata dan nilai batas atas adalah sebagai berikut :

No. Keterangan
Batas
Bawah
Rata-
rata
Batas
Atas
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 6,38% 14,19%
2. Belanja Honorarium NON PNS 0,00% 10,02% 31,30%
3. Belanja Bahan Pakai Habis 0,00% 51,46% 100,00%
4. Belanja Jasa Kantor 0,00% 1,24% 5,15%
5. Belanja Cetak dan Penggandaan 0,00% 2,34% 5,68%
6. Belanja Sewa 0,00% 1,65% 5,26%
7. Belanja Perjalanan Dinas 0,00% 26,91% 73,60%


3. PEMERINTAH KOTA SALATIGA

ASB MONITORING/PENGAWASAN/PENGAMATAN
Diskripsi
Monitoring/pengawasan/pengamatan adalah kegiatan untuk
mengawasi obyek atau titik amatan atau obyek amatan sesuai
dengan tuj uan yang digariskan dalam kegiatan tersebut. Obyek
bisa berupa kegiatan dengan fokus pada suatu lokasi, bersifat
abstrak, ataupun berwuj ud fisik.

Cost driver untuk ASB ini adalah jumlah obyek yang diawasi/diperiksa,
titik pemeriksaan /pengawasan / pemeriksaan, jumlah pengamatan.

Pengembangan Model
Berdasarkan deskripsi di atas, maka model ASB Monitoring/
Pengawasan/Pengamatan adalah :
Y = a + b X
dimana:
a : Belanja Tetap (Fixed Cost)
b : Belanja Variabel (Variable Cost)
X : Jumlah objek yang diawasi



- 57 -

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Data
Data yang digunakan untuk membuat ASB ini adalah:
No. SKPD Kegiatan
Total
Anggaran
Cost Driver
(Jumlah
Objek
Amatan)
1
Sekretariat Daerah
(SEKDA)
Revaluasi/appraisal
aset/barang daerah
15,000,000 43 Objek
2
Sekretariat Daerah
(SEKDA)
Monitoring, Evaluasi dan
Pelaporan
8,411,000 64 Objek
3
Sekretariat Daerah
(SEKDA)
Monitoring, Evaluasi dan
Pelaporan
44,658,000 500 Objek
4
Dinas Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah
Monitoring, Evaluasi dan
Pelaporan
5,000,000 120 Objek
5 Kantor Kesbang Linmas
Monitoring, evaluasi dan
pelaporan
5,000,000 8 Objek
6 Kantor Kesbang Linmas
Monitoring, evaluasi dan
pelaporan
10,000,000 8 Objek
7
Dinas Perindustrian dan
Perdagangan
Monitoring, evaluasi, dan
pelaporan Monitoring
Pinjaman Modal bergulir
5,000,000 20 Objek
8
DISNAKER TRANS dan
PERMAS
Monitoring Evaluasi dan
pelaporan Survey KHL
11,275,000 9 Objek
Tabel 5.9 : Data Jenis Kegiatan Monitoring/Pengawasan/Pengamatan


0
5000000
10000000
15000000
20000000
25000000
30000000
35000000
40000000
45000000
50000000
0 100 200 300 400 500 600
Series1

Tabel 5.10 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Monitoring/Pengawasan/Pengamatan










Penyusunan ASB 58

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Penyusunan ASB

59


Dari output yang dihasilkan mendapatkan rumusan ASB Monitoring/Pengawasan
/Pengamatan sebagai berikut :

































Tabel 5.11 : Output Statistik Jenis Kegiatan Monitoring/Pengawasan/Pengamatan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp.5.064.250,00 per kegiatan



Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp.74.780,00 per obyek yang dimonitor/diawasi/diperiksa

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp.5.064.250,00 + (Rp. 74.780,00 x obyek yang dimonitor/
diawasi/diperiksa)
- 60 -

Data sebaran belanja untuk jenis kegiatan monitoring/pengawasan/pengamatan adalah :

Kegiatan
Total
Anggaran
Belanja
Honorarium
PNS
Belanja
Bahan
Habis Pakai
Belanja Cetak
&Penggandaan
Belanja
Makan&Minum
Belanja
Perjalanan
Dinas
Revaluasi/appraisal aset/barang daerah 8,900,000 6,045,000 146,700 2,276,300 432,000 -
Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 8,411,000 4,664,000 263,900 503,100 2,240,000 740,000
Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 44,658,000 16,655,000 2,921,000 3,554,000 8,088,000 13,440,000
Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 5,000,000 1,320,000 68,000 612,000 2,000,000 1,000,000
Monitoring, evaluasi dan pelaporan 5,000,000 3,980,000 67,000 173,000 480,000 300,000
Monitoring, evaluasi dan pelaporan 10,000,000 5,720,000 1,034,500 160,500 1,440,000 1,645,000
Monitoring, evaluasi, dan pelaporan
Monitoring Pinjaman Modal bergulir
5,000,000 3,330,000 420,000 250,000 1,000,000 -
Monitoring Evaluasi dan pelaporan Survey
KHL
11,275,000 3,875,000 3,205,000 220,000 2,400,000 1,575,000
Tabel 5.12 : Data Sebaran Objek Belanja Jenis Kegiatan Monitoring/Pengawasan/Pengamatan
Berdasar data pada sebaran belanja di atas, maka penentuan nilai batas bawah,
rata-rata dan nilai batas atas adalah sebagai berikut :

No. Keterangan Batas Bawah Rata-rata Batas Atas
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 31,97% 72,77%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0,00% 4,72% 20,59%
3. Belanja bahan pakai habis 0,00% 11,74% 32,20%
4. Belanja Jasa kantor 0,00% 4,00% 20,71%
5. Belanja cetak & penggandaan 0,00% 4,89% 11,33%
6. Belanja Makan & minum 0,65% 8,58% 16,51%
7. Belanja Perjalanan dinas 0,00% 34,09% 91,06%


4. PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

ASB PENDIRIAN PRASARANA
Diskripsi
Pendirian prasarana merupakan kegiatan untuk menghadirkan
prasarana yang dibutuhkan oleh satuan kerj a perangkat daerah
ataupun masyarakat umum yang mencakup bangunan dan j alan dan
komponen lain yang berhubungan langsung dengannya agar
prasarana tersebut dapat berfungsi termasuk instalasi listriknya.

Dari uraian diskripsi tersebut diatas maka cost driver (pengendali
belanja) untuk ASB ini adalah Nilai Fisik atau Konstruksi yang diadakan,
karena besarnya anggaran belanja pendirian prasarana dipengaruhi oleh
nilai belanja modal untuk pengadaan prasarana tersebut. Nilai Belanja
Modal konstruksi merupakan hasil perkalian antara standar satuan harga
dengan volume. ASB ini lebih ditujukan untuk mengendalikan besaran
belanja administrasi panitia pelaksana kegiatan pendirian prasarana.

Pengembangan Model
Berdasarkan deskripsi diatas, maka model ASB Pendirian Prasarana
adalah :
Y = a + b X
Dimana:
- 61 -

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

a : Belanja Tetap (Fixed Cost)
b : Belanja Variabel (Variable Cost)
X : Nilai Belanja Modal Konstruksi
Nilai b harus lebih besar dari pada 1

Data
Data yang digunakan untuk membuat ASB ini adalah:
No SKPD Kegiatan
Total
Belanja
Cost Driver
1
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Jabal Nur Desa Tanjung
Limau,Muara Badak
538864000 494595250
2
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Jami (Pasundan) Loa
Kulu
350000000 283252500
3
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Besar Al-Mizan Loa Kulu
727735000 631000000
4
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Nurul Huda Desa
Teratak
1480000000 1307545100
5
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Baitul Rahman Loa
Tebu
979000000 907300500
6
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Pagar
Masjid Al-Banhaq Desa
Sidomulyo,Tabang
100000000 73634200
7
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Masjid
Al-Ansor, Tenggarong
985000000 848300000
8
Dinas Pekerjaan
Umum
Penambahan Ruang
Sekretariat masjid
Muhammad Sayyid
259000000 198316250
9
Dinas Pekerjaan
Umum
Penurapan
Pembangunan Kantor
Kepala Desa dan BPU
Desa Jembayan Dalam
398840000 321880000
10
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Balai
Desa Lamin Bioq
95909250 85409250
11
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan SD Filial
Desa Badak Mekar
308033112 253533112
12
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Madrasah
Diniyah Samboja
85000000 72000000
13
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan SDN 009
Tenggarong
871500000 786500000
14
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan Gedung
SDN 018 Tenggarong
347055900 299555900
15
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan SMP 3
Samboja
88365000 88365000
Penyusunan ASB 62

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

No SKPD Kegiatan
Total
Belanja
Cost Driver
16
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan SMPN I
Tenggarong
1021800000 904545452
17
Dinas Pekerjaan
Umum
Pembangunan SD
Muhammadiyah
Tenggarong
722606900 646106900

Tabel 5.13 : Data Jenis Kegiatan Pendirian Prasarana


0
200000000
400000000
600000000
800000000
1000000000
1200000000
1400000000
1600000000
0 2E+08 4E+08 6E+08 8E+08 1E+09 1.2E+09 1.4E+09
Series1

Tabel 5.14 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Pendirian Prasarana


























Penyusunan ASB 63

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB





































Tabel 5.15 : Output Statistik Jenis Kegiatan Pendirian Prasarana


Dari output yang dihasilkan didapatkan rumusan ASB Pendirian Prasarana
sebagai berikut :
Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 15,049,068 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
=(1,11 x Nilai Belanja Modal)
Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 15,049,068 + 1,11 x Nilai Belanja Modal
= Rp. 15,049,068 + (0,11 x Nilai Belanja Modal) + Nilai Belanja Modal


Penyusunan ASB 64

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Penyusunan ASB 65

Keterangan :
Penghitungan belanja total ASB tersebut diatas sudah termasuk nilai
belanja modalnya. Sehingga dalam mendistribusikan ke dalam alokasi
obyek belanja adalah jumlah belanja total dikurangi nilai belanja
modal.


Data sebaran belanja untuk jenis kegiatan pendirian prasarana adalah :

Kegiatan
Total
Belanja
Honorariu
m PNS
Honorari
um non
PNS
Belanja
bahan
pakai
habis
Belanja
Jasa
kantor
Belanja
cetak
&penggand
aan
Belanja
Makan dan
Minum
Belanja
Perjalanan
dinas
Pembangunan Masjid Jabal
Nur Desa Tanjung
Limau,Muara Badak
538864000 21165000 10640000 763750 7800000 2900000 1000000 0
Pembangunan Masjid Jami
(Pasundan) Loa Kulu
350000000 15995000 6400000 632500 38750000 180000 750000 4040000
Pembangunan Masjid Besar
Al-Mizan Loa Kulu
727735000 22935000 7200000 2260000 60500000 535000 505000 2800000
Pembangunan Masjid Nurul
Huda Desa Teratak
1480000000 18660000 7200000 1133700 128500000 361200 1000000 15600000
Pembangunan Masjid Baitul
Rahman Loa Tebu
979000000 24510000 5400000 755700 33700000 283800 750000 6300000
Pembangunan Pagar Masjid
Al-Banhaq Desa
Sidomulyo,Tabang
100000000 6930000 1800000 195800 17080000 360000 0 0
Pembangunan Masjid Al-
Ansor, Tenggarong
985000000 19275000 15750000 1110000 93700000 290000 3375000 3200000
Penambahan Ruang
Sekretariat masjid
Muhammad Sayyid
259000000 14875000 7000000 408750 36650000 1250000 500000 0
Penurapan Pembangunan
Kantor Kepala Desa dan BPU
Desa Jembayan Dalam
398840000 16065000 6000000 4325000 40660000 2830000 480000 6600000
Pembangunan Balai Desa
Lamin Bioq
95909250 0 0 0 10500000 0 0 0
Pembangunan SD Filial Desa
Badak Mekar
308033112 10062500 0 2227500 34500000 360000 0 7350000
- 66 -

Bab 5 Studi Kasus Penyusunan ASB

Penyusunan ASB 67

Kegiatan
Total
Belanja
Honorariu
m PNS
Honorari
um non
PNS
Belanja
bahan
pakai
habis
Belanja
Jasa
kantor
Belanja
cetak
&penggand
aan
Belanja
Makan dan
Minum
Belanja
Perjalanan
dinas
Pembangunan Madrasah
Diniyah Samboja
85000000 0 0 0 13000000 0 0 0
Pembangunan SDN 009
Tenggarong
871500000 24760000 7200000 10040000 42000000 1000000 0 0
Pembangunan Gedung SDN
018 Tenggarong
347055900 0 0 0 47500000 0 0 0
Pembangunan SMP 3 Samboja 88365000 0 0 0 0 0 0
Pembangunan SMPN I
Tenggarong
1021800000 0 0 0 117254548 0 0 0
Pembangunan SD
Muhammadiyah Tenggarong
722606900 0 0 0 76500000 0 0 0
Tabel 5.14 : Data Sebaran Objek Belanja Jenis Kegiatan Pendirian Prasarana
Berdasar data pada sebaran belanja di atas, maka penentuan nilai batas bawah,
rata-rata dan nilai batas atas adalah sebagai berikut :
No. Keterangan Batas Bawah
Rata-
rata
Batas
Atas
1. Belanja Honorarium PNS
2.41% 16.83% 31.26%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0.00% 6.43% 13.27%
3. Belanja Bahan Pakai Habis 0.00% 2.06% 5.73%
4. Belanja Jasa Kantor 13.87% 68.86% 100.00%
5. Belanja Cetak dan Penggandaan 0.00% 0.89% 2.24%
6. Belanja Makan dan Minum 0.00% 0.72% 1.94%
7. Belanja Perjalanan Dinas
0.00% 4.20% 10.58%



- 68 -

B A B 6
KASUS KHUSUS DALAM
PENGOLAHAN DATA


ab ini akan membahas bagaimana mengolah data ekstrim serta data
yang terbatas sehingga mendapatkan hasil yang optimal serta dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan maupun secara praktis di
Pemerintah Daerah.
B
1. KETIKA DATA CUKUP TETAPI HASIL REGRESI TIDAK SIGNIFIKAN
Seringkali kita akan menjumpai data yang tidak lengkap dan sangat terbatas
jumlahnya. Tentunya ini akan menjadi permasalahan tersendiri dalam
pengolahan data. Contoh : ASB Sosialisasi/Penyuluhan

Deskripsi:
Sosialisasi/Penyuluhan bertuj uan agar masyarakat dapat secara langsung
berkomunikasi tentang program atau misi yang sedang dibawakan oleh
SKPD. Kegiatan ini dipersyaratkan menghadiri secara fisik dan
berkomunikasi secara interaktif dengan masyarakat yang ingin
disosialisasi.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari

Data :

No SKPD Kegiatan
Cost
Driver
1 Sekretariat Daerah
Koordinasi kerjasama permaslahan
peraturan perundang-undangan

2
Dinas Pariwisata,
Seni dan Budaya
Partisipasi pada pesta rakyat danau toba
2008

3
Dinas Pariwisata,
Seni dan Budaya
Pelaksanaan Promosi pariwisata nusantara
di dalam dan di luar negeri

- 69 -

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Cost
Driver
No SKPD Kegiatan
4
Kantor Kesatuan
Bangsa,Politik dan
Perlindungan
Masyarakat
Pemantauan dan Penyebarluasan Informasi
Potensi Bencana Alam
500 org,
1 hari
5
Dinas Sosial , Tenaga
Kerja , Pemuda dan
Olah Raga
Pemberdayaan Dewan Pengupahan Daerah
(Depeda)

900
orang, 1
hari
6 Dinas Kesehatan
Pemberdayaan nasyarakat untuk
pencapaian keluarga sadar gizi
7
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pemberdayaan Pengolahan Pupuk Organik
30 hari, 1
org
8 Sekretriat Daerah
Pemberdayaan penyediaan dan pengguna
jasa konstruksi

9
Dinas Sosial , Tenaga
Kerja , Pemuda dan
Olah Raga
Pemberdayaan tenaga kerja padat karya
produktif

10
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Pembibitan dan perawatan ternak
11 Dinas Pendidikan
Penerapan sistem dan informasi
manajemen pendidikan
53 org, 5
hari
12 Dinas Pendidikan
Pengembangan data dan informasi
pendidikan non formal
20 org, 3
hari
13
Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil
Peningkatan pelayanan publik dalam
bidang kependudukan

14
Dinas Pariwisata,
Seni dan Budaya
Peningkatan Pemanfaatan teknologi
Informasi dalam pemasaeran pariwisata

15
Kantor Kesatuan
Bangsa,Politik dan
Perlindungan
Masyarakat
Peningkatan Toleransi dan Kerukunan
dalam Kehidupan Beragama
120 org,
1 hari
16
Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah
Penyebaran Data dan Informasi
17 Sekretriat Daerah
Penyebarkuasan informasi pembanguan
Daerah

18
Badan Ketahanan
Pangan dan
Pelaksana
Penyuluhan
Penyuluhan dan Pendampingan Petani dan
Pelaku Agribisnis

19 Sekretriat Daerah
Penyuluhan Hukum Terhadap PNS dan
Masyarakat
100 org,
2 hari
20
Kantor Kesatuan
Bangsa,Politik dan
Perlindungan
Masyarakat
Penyuluhan kepada Masyarakat
21 Dinas Kesehatan penyuluhan menciptakan lingkungan sehat
Penyusunan ASB 70

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Cost
Driver
No SKPD Kegiatan
22
Dinas
Pertanian,Perikanan,
dan Peternakan
Penyuluhan Pengelolaan Bibit Ternak yang
Didistribusikan kepada Masyarakat

23
Dinas Sosial , Tenaga
Kerja , Pemuda dan
Olah Raga
Sosialisasi berbagai peraturan pelaksanaan
tentang ketenagakerjaan

24 Sekretriat Daerah
Sosialisasi dan dimensi peraturan
perundang-undangan jasa kontruksi dan
peraturan lainnya yang terkait
200 org,
1 hari
25 Dinas Kesehatan Sosialisasi kebijakan lingkungan sehat
26
Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil
Sosialisasi kebijkan kependudukan
27
Dinas Koperasi,
Perindustrian,dan
Perdagangan
Sosialisasi Penggunaan dan Pemanfaatan
PLTS

28
Kecamatan
Nainggolan
Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan
29
Dinas Tata Ruang,
Permukiman,
Kebersihan dan
Pertamanan
Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan
tentang Rencana Tata Ruang

Tabel 6.1 : Data Jenis Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan

Berdasar data di atas dari 29 data hanya terdapat 8 data yang lengkap.
Keterangan Kegiatan Total Anggaran cost driver
(A)
Pemantauan dan Penyebarluasan
Informasi Potensi Bencana Alam
23416400 500
(B)
Pemberdayaan nasyarakat untuk
pencapaian keluarga sadar gizi
275967000 900
(C)
Pemberdayaan Pengolahan Pupuk
Organik
30000000 30
(D)
Penerapan sistem dan informasi
manajemen pendidikan
94581000 265
(E)
Pengembangan data dan informasi
pendidikan non formal
48537500 60
(F)
Peningkatan Toleransi dan
Kerukunan dalam Kehidupan
Beragama
40801029 120
(G)
Penyuluhan Hukum Terhadap PNS
dan Masyarakat
149206000 200
(H)
Sosialisasi dan dimensi peraturan
perundang-undangan jasa
kontruksi dan peraturan lainnya
yang terkait
172666000 200

Penyusunan ASB 71

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

A
B
C
D
E
F
G
H
0
50000000
100000000
150000000
200000000
250000000
300000000
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
A B C D E F G H

Tabel 6.2 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan


































Tabel 6.3 : Output Statistik Jenis Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan



Penyusunan ASB 72

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Dari hasil output nilai R Square = 45,1 %, Sig = 6,8 % ; nilai tersebut secara
statistik belum memadai karena nilai signifikansi di atas 5%. Data masih dapat
diolah sehingga mampu mendapatkan nilai R Square dan nilai Sig yang bagus.
Cara mendapatkan data yang lebih memuaskan dengan menghilangkan data
yang ekstrim (outlier).

Adapun data yang dihilangkan (merupakan data ekstrim) adalah titik A, G dan
H. Titik tersebut mempunyai kecenderungan total anggaran yang dikeluarkan
besar dan cost driver yang dihasilkan kecil atau total anggaran terlalu kecil
dibandingkan dengan cost driver yang dihasilkan. Titik G dan H adalah contoh
data yang mempunyai kecenderungan anggaran lebih besar dari cost driver,
sebaliknya dengan titik A yang anggarannya terlalu kecil. Berdasar uraian
tersebut seperti terlihat pada gambar dibawah ini : (warna gelap merupakan
data ekstrim), dan data tersebut dihilangkan.
Keterangan Total Anggaran cost driver
A 23416400 500
B 275967000 900
C 30000000 30
D 94581000 265
E 48537500 60
F 40801029 120
G 149206000 200
H 172666000 200

Dari kedua data tersebut kita akan melihat sebaran titik-titik dalam sumbu Y
(Total Belanja) dan sumbu X (Cost Driver), akan terlihat sebagai berikut
dibawah ini :
B
C
D
E
F
0
50000000
100000000
150000000
200000000
250000000
300000000
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
B C D E F


Penyusunan ASB 73

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Apabila kedua data tersebut kita analisis dengan statistik (SPSS), akan terlihat
outputnya sebagai berikut dibawah ini :























Hasil yang kedua ini dapat terlihat R square = 99,3 % dan Sig = 0 %; secara
statistik angka ini menunjukkan hasil yang sangat baik serta sangat signifikan.
Sehingga jika dipindahkan dalam rumus didapatkan Y = Rp. 20.162.500 + Rp.
283.963 X.

2. KETIKA DATA YANG DI MILIKI TERBATAS
Yang dimaksud data terbatas adalah data yang dapat diolah sangat terbatas,
sehingga dalam analisisnya menggunakan metode high-low. Contoh : ASB Kajian
bersama/diskusi/sarasehan


Penyusunan ASB 74

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Deskripsi:
Kaj ian bersama/diskusi/sarasehan merupakan kegiatan yang dilaksanakan
untuk membahas masalah atau topik untuk memperoleh masukan dengan
melibatkan orang/pihak lain yang dipandang memiliki kemampuan untuk
ikut memecahkan masalah atau meningkatkan kualitas topik yang dibahas.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah lembaga peserta, Jumlah hari

Data Yang Dimiliki:
No. SKPD Kegiatan
Cost
Driver
1
Sekretariat
Daerah (SEKDA)
Kajian peraturan perundang-undangan daerah
terhadap peraturan yang baru, lebih tinggi&
keserasian antar peraturan perundang-
undangan daerah
40
peserta,
1 hari
2
Dinas
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup(DPLH)
Fasilitasi peningkatan peran serta Masyarakat
dalam pemanfaatan ruang
40
peserta,
1 hari
100
peserta,
1 hari
3
Kantor Kesbang
Linmas
Peningkatan kesadaran masy.akan nilai-nilai
luhur budaya bangsa
4
Badan
Penanaman
Modal dan
Pengembangan
Usaha Daerah
kajian Potensi Sumber daya yang terkait
dengan Investasi (Penyusunan provil Usaha
daerah)

5
Badan
Penanaman
Modal dan
Pengembangan
Usaha Daerah
kajian Potensi Sumber daya yang terkait
dengan Investasi (Penyusunan provil Usaha
daerah)

100
peserta,
1 hari
6
Kantor Kesbang
Linmas
Peningkatan kesadaran masy.akan nilai-nilai
luhur budaya bangsa
Tabel 6.4 : Data Jenis Kegiatan Kajian Bersama/Diskusi/Sarasehan

Jika data yang memiliki cost driver disejajarkan dengan Total Anggaran akan
didapat data sebagai berikut di bawah ini :
No. Total Anggaran Cost Driver
1 53018000 40
2 32025000 40
3 15000000 100
4 15000000 100

Penyusunan ASB 75

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Dari kedua data tersebut hanya terdapat 4 kegiatan yang memiliki cost driver,
jadi hanya 4 kegiatan tersebut yang dapat dianalisis. Sebelumnya kita akan
melihat sebaran titik-titik dalam sumbu Y (Total Belanja) dan sumbu X (Cost
Driver), akan terlihat sebagai berikut dibawah ini :
A
B
CD
0
10000000
20000000
30000000
40000000
50000000
60000000
0 20 40 60 80 100 120
A B C D

Tabel 6.5 : Scatter Plot Jenis Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan

Tabel diatas menunjukkan adanya data yang garis lurus artinya bahwa dengan
kinerja yang sama mempunyai beban anggaran yang berbeda dan ada juga data
yang memiliki anggaran serta kinerja yang sama. Apabila kedua data tersebut
kita analisis dengan statistik (SPSS), akan terlihat sebagai berikut dibawah ini :















Penyusunan ASB 76

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data



























Tabel 6.6 : Output Statistik Jenis Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan

Dari hasil output nilai R Square = 77,5 %, Sig = 12,0 % ; nilai tersebut secara
statistik masih belum memadai di mana nilai Sig diatas 5%. Juga menghasilkan
nilai pada b negative, yang tidak mungkin terjadi karena berarti semakin besar
kinerja maka anggaran semakin kecil anggarannya. Setelah melihat hasil output
tersebut, dan minimnya data, maka disini akan digunakan rumusan dengan
metode High-Low yaitu hanya mencari nilai b dengan nilai tertinggi dikurangi
nilai terendah, karenanya dalam metode ini rumusannya menjadi Y=bX.
Penyusunan ASB 77

Bab 6 Kasus Khusus Dalam Pengolahan Data

Jika kita lihat data tersebut kita akan menghasilkan b sebagai berikut dibawah
ini :

No. Total Anggaran Cost Driver
1 53.018.000 40
2 32.025.000 40
3 15.000.000 100
4 15.000.000 100

b 1 = Total anggaran no.1 dibagi dengan cost driver no.1 (Rp. 53.018.000 :
40) = 1,325,450
b 2 = Total anggaran no.4 dibagi dengan cost driver no.4 (Rp. 15.000.000 :
100) = 150,000

Nilai b = b1 + b2 = 737.725
2


Penyusunan ASB 78

Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

B A B 7
PENYESUAIAN ANALISIS STANDAR
BELANJA PADA TAHUN BERIKUTNYA


ab ini akan menjelaskan cara penyesuaian ASB untuk tahun-tahun
selanjutnya. Terdapat beberapa kondisi di Pemerintah Daerah yang
menyebabkan untuk dilakukannya pemutakhiran (update) ASB yang
sudah ada. Kondisi tersebut antara lain adalah inflasi/deflasi, kebijakan
pemerintah atau kebijakan pemerintah daerah, maupun gabungan antara
keduanya.
B

1. Penyesuaian Inflasi/Deflasi
Inflasi/deflasi menyebabkan perubahan pada harga barang dan jasa yang
berlaku di pasar secara bersama-sama. Inflasi mengakibatkan harga
barang dan jasa naik secara bersama-sama, sedangkan deflasi
mengakibatkan harga barang dan jasa turun secara bersama-sama.
Tentunya dengan adanya inflasi/deflasi akan mengakibatkan ASB yang
sudah disusun sebelumnya menjadi tidak relevan lagi.

Berikut di contohkan penyesuaian ASB jika terjadi inflasi sebesar 10%.
Sebelum terjadinya kenaikan harga karena inflasi, data yang digunakan
untuk menyusun ASB Bimbingan/Pelatihan Teknis oleh Pemerintah
Daerah adalah sebagai berikut:

- 79 -

Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

Cost
Driver
No. SKPD Kegiatan
Total
Anggaran
1
Kantor PDE,Perpustakaan
dan arsip daerah
Pelatihan SDM di Bidang Komunikasi dan
Informasi
320 3,750,000
2
Badan Pengawas
daerah(BAWASDA)
Pelatihan pengembangan tenaga
pemeriksa dan aparatur pengawasan
20 24,500,000
3 Kecamatan Sidorejo
Pelatihan Aparatur pemerintahan desa
dalam Bidang Manajemen Pemerintahan
Desa
120 39,991,500
4 Dinas pertanian pelatihan petani dan pelaku agribisnis 60 12,300,000
5
Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat
Pendidikan dan pelatihan peningkatan
peran serta dalam kesetaraan gender
(Peningkatan Ketrampilan Pengetahuan
Perempuan)
160 20,000,000
6
Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat
Pelatihan perempuan dalam bidang
Usaha Ekonomi Produktif
600 20,000,000
7 Dinas Pendidikan
Pengembangan pendidikan
Keaksaraan(pemberantasan buta aksara)
330 49,447,500
8
Kantor Kependudukan dan
catatan Sipil
Peningkatan Kapasitas kelembagaan dan
kependudukan (Pengadaan Blangko
Dokumen Kependudukan)
12 156,000,000
9
Badan Kepegawaian
Daerah (BKD)
Peningkatan ketrampilan dan
profesionalisme
80 20,000,000
10
Dinas Kesejahteraan
Sosial dan Keluarga
Berencana
Peningkatan peran aktif masyarakat dan
dunia usaha
112 52,440,000
11
Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat
Peningkatan kapasitas dan jaringan
kelembagaan pemberdayaan perempuan
dan anak(Program Pemberdayaan
Masyarakat berbassis agender(P2M-BG)
60 10,000,000
12 Dinas Pendidikan
Pelatihan Kompetensi Tenaga Pendidik
(Penataran kurikulum 2006 SD, SMP)
75 25,000,000
13 Kantor SATPOL PP
Bimbingan Teknis Implementasi
Peraturan perundang-undangan
40 7,000,000
14 Kantor Kesbang Linmas
Penyiapan tenaga pengendali keamanan
dan kenyamanan lingkungan
333 118,700,000
15
Badan Kepegawaian
Daerah (BKD)
Pendidikan dan pelatihan fungsional bagi
PNS Daerah(Pengembangan Profesi
Jabatan Fungsional Guru)
100 40,000,000
16
Dinas Pengelolaan
Keuangan Daerah (DPKD)
Bimbingan Teknis Implementasi
Peraturan Perundang-undangan
150 100,000,000
17
Dinas Pengelolaan
Keuangan Daerah (DPKD)
Bimbingan Teknis Pengoperasian program
Sistem Informasi Pengeluaran Keuangan
Daerah
80 100,000,000
18
Dinas Kesejahteraan
Sosial dan Keluarga
Berencana
Pendidikan dan pelatihan ketrampilan
penghuni panti Asuhan/Panti Jompo
8 18,034,000
19 Kecamatan Sidorejo
Pelatihan Aparatur pemerintahan desa
dalam Bidang Manajemen Pemerintahan
Desa
280 45,020,000
20
Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat
Penyiapan Tenaga kerja siap Pakai
Pelatihan, Perbengkelan, High Speed
424 155,200,000
Penyusunan ASB 80

Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B.
Honorariu
m PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
1
Pelatihan SDM di Bidang
Komunikasi dan Informasi
3,750,000 5,000,000 0 0 1,722,400 100,000 4,718,600 0 1,544,000 665,000
2
Pelatihan pengembangan
tenaga pemeriksa dan
aparatur pengawasan
24,500,000 1,266,000 16,260,000 0 826,900 150,000 927,100 0 4,340,000 730,000
3
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa dalam
Bidang Manajemen
Pemerintahan Desa
39,991,500 6,120,000 5,380,000 0 1,896,500 0 700,000 80,000 7,680,000 18,135,000
4
pelatihan petani dan
pelaku agribisnis
12,300,000 3,936,000 400,000 0 846,600 150,000 410,200 3,637,200 2,460,000 460,000
5
Pendidikan dan pelatihan
peningkatan peran serta
dalam kesetaraan gender
(Peningkatan Ketrampilan
Pengetahuan Perempuan)
20,000,000 3,450,000 1,650,000 2,550,000 3,003,400 250,000 1,246,600 190,000 5,940,000 1,720,000
6
Pelatihan perempuan
dalam bidang Usaha
Ekonomi Produktif
20,000,000 2,745,000 4,500,000 6,330,000 2,689,100 225,000 775,900 0 2,735,000 0
7
Pengembangan pendidikan
Keaksaraan(pemberantasa
n buta aksara)
49,447,500 9,480,000 33,575,000 0 6,392,500 0 0 0 0 0
8
Peningkatan Kapasitas
kelembagaan dan
kependudukan (Pengadaan
Blangko Dokumen
Kependudukan)
156,000,000 1,565,000 0 0 205,000 900,000 153,182,000 0 148,000 0
9
Peningkatan ketrampilan
dan profesionalisme
20,000,000 4,315,000 0 0 1,781,000 8,000,000 214,000 0 800,000 4,890,000
10
Peningkatan peran aktif
masyarakat dan dunia
usaha
52,440,000 6,433,500 12,730,000 0 1,567,500 23,650,000 1,179,000 0 6,880,000 0
11
Peningkatan kapasitas dan
jaringan kelembagaan
pemberdayaan perempuan
dan anak(Program
Pemberdayaan Masyarakat
berbassis agender(P2M-BG)
10,000,000 3,375,000 625,000 0 1,781,200 75,000 1,118,800 0 1,960,000 1,065,000
Penyusunan ASB 81

82
No. Kegiatan
Total
Anggaran
B.
Honorariu
m PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
12
Pelatihan Kompetensi
Tenaga Pendidik
(Penataran kurikulum 2006
SD, SMP)
25,000,000 4,519,000 0 0 1,703,000 0 3,363,000 0 8,960,000 6,455,000
13
Bimbingan Teknis
Implementasi Peraturan
perundang-undangan
7,000,000 4,276,000 0 0 391,000 0 573,000 0 1,760,000 0
14
Penyiapan tenaga
pengendali keamanan dan
kenyamanan lingkungan
118,700,000 50,585,000 2,800,000 0 5,367,500 225,000 638,500 3,940,000 33,194,000 21,950,000
15
Pendidikan dan pelatihan
fungsional bagi PNS
Daerah(Pengembangan
Profesi Jabatan Fungsional
Guru)
40,000,000 29,800,000 0 0 2,577,000 0 873,000 0 3,780,000 2,970,000
16
Bimbingan Teknis
Implementasi Peraturan
Perundang-undangan
100,000,000 43,225,000 0 0 1,706,000 35,975,000 4,394,000 820,000 11,000,000 2,880,000
17
Bimbingan Teknis
Pengoperasian program
Sistem Informasi
Pengeluaran Keuangan
Daerah
100,000,000 5,475,000 0 0 1,590,000 82,500,000 1,060,000 0 9,375,000 0
18
Pendidikan dan pelatihan
ketrampilan penghuni
panti Asuhan/Panti Jompo
18,034,000 2,068,000 1,920,000 0 11,012,000 70,000 184,000 500,000 2,280,000 0
19
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa dalam
Bidang Manajemen
Pemerintahan Desa
45,020,000 5,890,000 9,540,000 0 2,101,000 300,000 1,369,000 80,000 7,680,000 18,060,000
20
Penyiapan Tenaga kerja
siap Pakai Pelatihan,
Perbengkelan, High Speed
155,200,000 25,120,000 34,740,000 63,030,300 3,412,300 335,000 1,242,400 0 27,320,000 0
Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

Penyusunan ASB 83


Data tersebut berasal dari DPA SKPD Tahun Anggaran 2007, dan pada tahun 2008 terjadi
kenaikan inflasi sebesar 10%, sehingga terjadi perubahan pada seluruh standar harga yang
berlaku. Pemerintah Daerah dalam hal ini Kepala Daerah mengeluarkan Surat Edaran
tentang Standarisasi Harga Barang dan Jasa untuk Tahun Anggaran 2008 dengan
menyesuaikan seluruh harga dengan kenaikan/penyesuaian 10%, maka akibat perubahan
tersebut adalah sebagai berikut dibawah ini:



Berdasar data tersebut ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis yang diperoleh adalah :
ASB003
PELATIHAN /BIMBINGAN TEKNIS


Deskripsi:
Pelatihan/Bimbingan Teknis adalah merupakan kegiatan yang diselenggarakan dalam
rangka untuk memberikan bimbingan/pelatihan kepada pegawai atau masyarakat
secara teknis.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah peserta per hari.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 1.162.850,00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp.355.600,00 per Jumlah peserta

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 1.162.850,00 + (Rp.355.600,00 x Jumlah peserta x jumlah hari)

Alokasi Belanja ASB 003 :
No. Keterangan
Batas
Bawah
Rata-rata Batas Atas
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 18,33% 41,51%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0,00% 9,71% 27,03%
3. Belanja bahan material 0,00% 5,74% 27,93%
4. Belanja bahan pakai habis 0,00% 9,87% 41,31%
5. Belanja Jasa kantor 0,00% 22,51% 70,77%
6. Belanja cetak & penggandaan 0,00% 12,13% 64,27%
7. Belanja sewa 0,00% 0,69% 2,54%
8. Belanja Makan & minum 0,00% 12,32% 26,59%
9. Belanja Perjalanan dinas 0,00% 8,70% 22,68%
Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

B.ctk
&pengganda
an
No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
1
Pelatihan
pengembangan tenaga
pemeriksa dan aparatur
pengawasan
26,950,000 1,392,600 17,886,000 - 909,590 165,000 1,019,810

-
4,774,000 803,000
2
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa
dalam Bidang
Manajemen
Pemerintahan Desa
43,990,650 6,732,000 5,918,000 - 2,086,150 - 770,000

88,000
8,448,000 19,948,500
3
pelatihan petani dan
pelaku agribisnis
13,530,000 4,329,600 440,000 - 931,260 165,000 451,220

4,000,920
2,706,000 506,000
4
Peningkatan
ketrampilan dan
profesionalisme
22,000,000 4,746,500 - - 1,959,100 8,800,000 235,400

-
880,000 5,379,000
5
Peningkatan peran aktif
masyarakat dan dunia
usaha
57,684,000 7,076,850 14,003,000 - 1,724,250 26,015,000 1,296,900

-
7,568,000 -
6
Peningkatan kapasitas
dan jaringan
kelembagaan
pemberdayaan
perempuan dan
anak(Program
Pemberdayaan
Masyarakat berbassis
agender(P2M-BG)
11,000,000 3,712,500 687,500 - 1,959,320 82,500 1,230,680

-
2,156,000 1,171,500
7
Pelatihan Kompetensi
Tenaga Pendidik
(Penataran kurikulum
2006 SD, SMP)
27,500,000 4,970,900 - - 1,873,300 - 3,699,300

-
9,856,000 7,100,500
8
Bimbingan Teknis
Implementasi Peraturan
perundang-undangan
7,700,000 4,703,600 - - 430,100 - 630,300

-
1,936,000 -
9
Penyiapan tenaga
pengendali keamanan
dan kenyamanan
lingkungan
130,570,000 55,643,500 3,080,000 - 5,904,250 247,500 702,350

4,334,000
36,513,400 24,145,000
Penyusunan ASB 84

Panduan Teknis Penyusunan ASB 85

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
10
Pendidikan dan
pelatihan fungsional
bagi PNS
Daerah(Pengembangan
Profesi Jabatan
Fungsional Guru)
44,000,000 32,780,000 - - 2,834,700 - 960,300

-
4,158,000 3,267,000
11
Pendidikan dan
pelatihan ketrampilan
penghuni panti
Asuhan/Panti Jompo
19,837,400 2,274,800 2,112,000 - 12,113,200 77,000 202,400

550,000
2,508,000 -
12
Penyiapan Tenaga kerja
siap Pakai Pelatihan,
Perbengkelan, High
Speed
170,720,000 27,632,000 38,214,000 69,333,330 3,753,530 368,500 1,366,640

-
30,052,000 -




Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

Data tersebut kemudian diolah seperti yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya,
dan hasil olahan statistik adalah sebagai berikut:



















Hasil dari output menghasilkan rumusan ASB sebagai berikut : Y = 1.279.115 + 391.154 X ,
dengan R Square 95,5% dan Signifikansi 0%. Dari output yang dihasilkan mendapatkan
rumusan ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis sebagai berikut :

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp 1.279.115 per kegiatan

Satuan pengendali belanja (Variabel cost):
= Rp 391.154 peserta per hari

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp 1.279.115 + (Rp 391.154 x Jumlah peserta x Jumlah hari)

Perbandingan rumusan ASB sebelum dan setelah penyesuaian adalah sebagai berikut :
Rumusan ASB Sebelum
Penyesuaian
Rumusan ASB Setelah Penyesuaian
Rp. 1.162.850,00 + (Rp.355.600,00
x Jumlah peserta x jumlah hari)
Rp 1.279.115,00 + (Rp 391.154,00 x
Jumlah peserta x Jumlah hari)


Penyusunan ASB 86

Panduan Teknis Penyusunan ASB 87

Setelah itu, maka dapat ditentukan nilai sebaran objek belanja. Perbandingan nilai
sebaran objek belanja sebelum dan setelah penyesuaian adalah sebagai berikut:

Batas Bawah Rata- Rata Batas Atas
No. Keterangan
Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah
1.
Belanja Honorarium
PNS
0,00% 0.00% 18,33% 27.11% 41,51% 62.17%
2.
Belanja Honorarium
NON PNS
0,00% 0.00% 9,71% 14.31% 27,03% 38.34%
3.
Belanja Bahan
Material
0,00% 0.00% 5,74% 12.05% 27,93% 53.78%
4.
Belanja Bahan Pakai
Habis
0,00% 0.00% 9,87% 6.34% 41,31% 13.03%
5. Belanja Jasa Kantor 0,00% 0.00% 22,51% 6.24% 70,77% 22.23%
6.
Belanja Cetak dan
Penggandaan
0,00% 0.26% 12,13% 2.18% 64,27% 4.10%
7. Belanja Sewa 0,00% 0.00% 0,69% 1.56% 2,54% 4.91%
8.
Belanja Makanan dan
Minuman
0,00% 0.00% 12,32% 19.38% 26,59% 43.64%
9.
Belanja Perjalanan
Dinas
0,00% 0.00% 8,70% 10.83% 22,68% 28.04%

2. Kebijakan Pimpinan Daerah
Seringkali Kepala Daerah dan atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
menetapkan kebijakan yang mengakibatkan terjadinya penyesuaian tarif belanja.
Misalnya kebijakan menaikkan standar honor, standar perjalanan dinas, dan lain
sebagainya. Kebijakan-kebijakan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap
ASB. ASB yang lama tentunya perlu untuk disesuaikan.Contoh lain kebijakan KDH
adalah ketika KDH meyakini bahwa telah terjadi pemborosan pada tahun-tahun
lalu. Akibatnya, ASB perlu untuk disesuaikan.

Contoh : Penyesuaian ASB karena Penyesuaian Tarif
Kepala Daerah memandang perlunya untuk memberikan tambahan penghasilan
kepada pegawai pemda yaitu memberikan tambahan honor serta menaikkan tarif
perjalanan dinas. Kepala Daerah mengeluarkan keputusan menaikkan standar
honor dan standar perjalanan dinas sebesar 15 % dari tahun sebelumnya. Berdasar
data tahun sebelumnya, Honorarium PNS, Honorarium Non PNS dan Perjalanan
Dinas disesuaikan dengan cara dikalikan dengan 115 % , sehingga akan di dapat
data sebagai berikut:



Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
1
Pelatihan
pengembangan tenaga
pemeriksa dan aparatur
pengawasan
25047680 1,303,980 16,747,800 - 826,900 150,000 927,100 - 4,340,000 751,900
2
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa
dalam Bidang
Manajemen
Pemerintahan Desa
40880550 6,303,600 5,541,400 - 1,896,500 - 700,000 80,000 7,680,000 18,679,050
3
pelatihan petani dan
pelaku agribisnis
12443880 4,054,080 412,000 - 846,600 150,000 410,200 3,637,200 2,460,000 473,800
4
Peningkatan
ketrampilan dan
profesionalisme
20276150 4,444,450 - - 1,781,000 8,000,000 214,000 - 800,000 5,036,700
5
Peningkatan peran aktif
masyarakat dan dunia
usaha
53014905 6,626,505 13,111,900 - 1,567,500 23,650,000 1,179,000 - 6,880,000 -
6
Peningkatan kapasitas
dan jaringan
kelembagaan
pemberdayaan
perempuan dan
anak(Program
Pemberdayaan
Masyarakat berbassis
agender(P2M-BG)
10151950 3,476,250 643,750 - 1,781,200 75,000 1,118,800 - 1,960,000 1,096,950
7
Pelatihan Kompetensi
Tenaga Pendidik
(Penataran kurikulum
2006 SD, SMP)
25329220 4,654,570 - 1,703,000 - 3,363,000 - 8,960,000 6,648,650
8
Bimbingan Teknis
Implementasi Peraturan
perundang-undangan
7128280 4,404,280 - - 391,000 - 573,000 - 1,760,000 -
Penyusunan ASB 88

Panduan Teknis Penyusunan ASB 89

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
9
Penyiapan tenaga
pengendali keamanan
dan kenyamanan
lingkungan
120960050 52,102,550 2,884,000 - 5,367,500 225,000 638,500 3,940,000 33,194,000 22,608,500
10
Pendidikan dan
pelatihan fungsional
bagi PNS
Daerah(Pengembangan
Profesi Jabatan
Fungsional Guru)
40983100 30,694,000 - - 2,577,000 - 873,000 - 3,780,000 3,059,100
11
Pendidikan dan
pelatihan ketrampilan
penghuni panti
Asuhan/Panti Jompo
18153640 2,130,040 1,977,600 - 11,012,000 70,000 184,000 500,000 2,280,000 -
12
Penyiapan Tenaga kerja
siap Pakai Pelatihan,
Perbengkelan, High
Speed
156995800 25,873,600 35,782,200 63,030,300 3,412,300 335,000 1,242,400 - 27,320,000 -
Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

Data-data setelah penyesuaian tersebut kemudian diolah seperti pada langkah-langkah
yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka akan didapatkan hasil olahan statistik sebagai
berikut :


















Hasil dari output tersebut menghasilkan rumusan sebagai berikut : Y = 1.608.059 +
380.494 X , dengan R Square 95,5 % dan Signifikansi sebesar 0 %. Dari output yang
dihasilkan mendapatkan rumusan ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis sebagai berikut :

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp 1.608.059, 00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja (Variabel cost):
= Rp 380.494,00 peserta per hari

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp 1.608.059,00 + (Rp 380.494,00 x Jumlah peserta x Jumlah hari)

Perbandingan ASB sebelum dan sesudah penyesuaian adalah sebagai berikut :
Rumusan ASB Sebelum
Penyesuaian
Rumusan ASB Setelah Penyesuaian
Rp. 1.162.850,00 + (Rp.355.600,00
x Jumlah peserta x jumlah hari)
Rp 1.608.059,00 + (Rp 380.494,00 x
Jumlah peserta x Jumlah hari)

Penyusunan ASB 90

Panduan Teknis Penyusunan ASB 91

Selanjutnya, dapat ditentukan nilai sebaran objek belanja, perbandingan nilai sebaran
objek belanja sebelum dan setelah penyesuaian adalah sebagai berikut:
Batas Bawah Rata- rata Batas Atas
No. Keterangan
Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah
1.
Belanja Honorarium
PNS
0.00% 0.00% 18,33% 28.91% 41,51% 66.30%
2.
Belanja Honorarium
NON PNS
0.00% 0.00% 9,71% 15.26% 27,03% 40.89%
3.
Belanja Bahan
Material
0.00% 0.00% 5,74% 11.17% 27,93% 49.87%
4.
Belanja Bahan Pakai
Habis
0.00% 0.00% 9,87% 5.88% 41,31% 12.08%
5. Belanja Jasa Kantor 0.00% 0.00% 22,51% 5.79% 70,77% 20.62%
6.
Belanja Cetak dan
Penggandaan
0.24% 0.24% 12,13% 2.02% 64,27% 3.81%
7. Belanja Sewa 0.00% 0.00% 0,69% 1.45% 2,54% 4.55%
8.
Belanja Makanan dan
Minuman
0.00% 0.00% 12,32% 17.98% 26,59% 40.47%
9.
Belanja Perjalanan
Dinas
0.00% 0.00% 8,70% 11.55% 22,68% 29.91%

3. Penyesuaian Gabungan Antara Inflasi/Deflasi dan Kebijakan Pimpinan Daerah
Penyesuaian ASB juga dapat diakibatkan karena gabungan antara kebijakan KDH
dan inflasi/deflasi . Misalnya inflasi yang terjadi adalah sebesar 15 % dan kebijakan
Kepala Daerah menaikkan standar harga honor dan standar harga perjalanan dinas
sebesar 10 %. Maka, langkah-langkah penyesuaian adalah :
a. Penyesuaian terhadap inflasi, deflasi/pemborosan terlebih dahulu,
kemudian;
b. Hasil dari tahap a disesuaikan dengan perubahan kebijakan;
Berdasarkan data pada tabel 7.1 disesuaikan seperti langkah diatas maka data
akan disesuaikan seperti langkah diatas dan akan menghasilkan data penyesuaian
sebagai berikut :










Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
1
Pelatihan
pengembangan tenaga
pemeriksa dan aparatur
pengawasan
30,274,440 1,601,490 20,568,900 - 950,935 172,500 1,066,165 - 4,991,000 923,450
2
Pelatihan Aparatur
pemerintahan desa
dalam Bidang
Manajemen
Pemerintahan Desa
49,398,250 7,741,800 6,805,700 - 2,180,975 - 805,000 92,000 8,832,000 22,940,775
3
pelatihan petani dan
pelaku agribisnis
14,696,540 4,979,040 506,000 - 973,590 172,500 471,730 4,182,780 2,829,000 581,900
4
Peningkatan
ketrampilan dan
profesionalisme
24,058,575 5,458,475 - - 2,048,150 9,200,000 246,100 - 920,000 6,185,850
5
Peningkatan peran aktif
masyarakat dan dunia
usaha
62,509,803 8,138,378 16,103,450 - 1,802,625 27,197,500 1,355,850 - 7,912,000 -
6
Peningkatan kapasitas
dan jaringan
kelembagaan
pemberdayaan
perempuan dan
anak(Program
Pemberdayaan
Masyarakat berbassis
agender(P2M-BG)
12,082,475 4,269,375 790,625 - 2,048,380 86,250 1,286,620 - 2,254,000 1,347,225
7
Pelatihan Kompetensi
Tenaga Pendidik
(Penataran kurikulum
2006 SD, SMP)
30,012,010 5,716,535 - - 1,958,450 - 3,867,450 - 10,304,000 8,165,575
8
Bimbingan Teknis
Implementasi Peraturan
perundang-undangan
8,541,740 5,409,140 - - 449,650 - 658,950 - 2,024,000 -
9
Penyiapan tenaga
pengendali keamanan
dan kenyamanan
lingkungan
145,168,525 63,990,025 3,542,000 - 6,172,625 258,750 734,275 4,531,000 38,173,100 27,766,750
Penyusunan ASB 92

Panduan Teknis Penyusunan ASB 93

No. Kegiatan
Total
Anggaran
B. Honorarium
PNS
B.
Honorarium
Non PNS
B.bhn
material
B.bhn hbs
pakai
B.Jasa
kantor
B.ctk
&pengganda
an
B.sewa
B.Mkn&mn
m
B.Prjlan
dns
10
Pendidikan dan
pelatihan fungsional
bagi PNS
Daerah(Pengembangan
Profesi Jabatan
Fungsional Guru)
49,768,550 37,697,000 - - 2,963,550 - 1,003,950 - 4,347,000 3,757,050
11
Pendidikan dan
pelatihan ketrampilan
penghuni panti
Asuhan/Panti Jompo
21,197,720 2,616,020 2,428,800 - 12,663,800 80,500 211,600 575,000 2,622,000 -
12
Penyiapan Tenaga kerja
siap Pakai Pelatihan,
Perbengkelan, High
Speed
185,363,900 31,776,800 43,946,100 72,484,845 3,924,145 385,250 1,428,760 - 31,418,000 -
Bab 7 Penyesuaian ASB Pada Tahun Berikutnya

Data-data setelah penyesuaian tersebut kemudian diolah seperti pada langkah-langkah
yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka akan didapatkan hasil olahan statistik sebagai
berikut :


















Hasil dari output tersebut menghasilkan rumusan sebagai berikut : Y = 1.678.597,00 +
428.023,00 X , dengan R Square 95,5 % dan Signifikansi sebesar 0 %. Dari output yang
dihasilkan mendapatkan rumusan ASB Pelatihan/Bimbingan Teknis sebagai berikut :

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp 1.678.597,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja (Variabel cost):
= Rp 428.023,00 peserta per hari

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp 1.678.597,00 + (Rp 428.023,00 x Jumlah peserta x Jumlah hari)

Perbandingan ASB sebelum dan sesudah penyesuaian adalah sebagai berikut :
Rumusan ASB Sebelum
Penyesuaian
Rumusan ASB Setelah Penyesuaian
Rp. 1.162.850,00 + (Rp.355.600,00
x Jumlah peserta x jumlah hari)
Rp 1.678.597,00 + (Rp 428.023,00 x
Jumlah peserta x Jumlah hari)

Penyusunan ASB 94

Selanjutnya, dapat ditentukan nilai sebaran objek belanja, perbandingan nilai sebaran
objek belanja sebelum dan setelah penyesuaian adalah sebagai berikut:
Batas Bawah Rata- rata Batas Atas
No. Keterangan
Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah
1.
Belanja
Honorarium PNS
0.00% 0.00% 18,33% 28.34% 41,51% 64.99%
2.
Belanja
Honorarium NON
PNS
0.00% 0.00% 9,71% 14.96% 27,03% 40.08%
3.
Belanja Bahan
Material
0.00% 0.00% 5,74% 11.45% 27,93% 51.11%
4.
Belanja Bahan
Pakai Habis
0.00% 0.00% 9,87% 6.02% 41,31% 12.38%
5.
Belanja Jasa
Kantor
0.00% 0.00% 22,51% 5.93% 70,77% 21.13%
6.
Belanja Cetak dan
Penggandaan
0.25% 0.25% 12,13% 2.08% 64,27% 3.90%
7. Belanja Sewa 0.00% 0.00% 0,69% 1.48% 2,54% 4.67%
8.
Belanja Makanan
dan Minuman
0.00% 0.00% 12,32% 18.42% 26,59% 41.47%
9.
Belanja Perjalanan
Dinas
0.00% 0.00% 8,70% 11.32% 22,68% 29.32%

Hasil dari ketiga penyesuaian tersebut diatas, jika kita perbandingkan akan terlihat
sebagai berikut :
Keterangan
Rumusan ASB
Sebelum
Penyesuaian
Rumusan ASB
Penyesuaian
Inflasi
Rumusan ASB
Penyesuaian
Kebijakan KDH
dan atau DPRD
Rumusan ASB
Penyesuaian
Gabungan
Belanja Tetap
(Fixed Cost)
Rp. 1.162.850,00 Rp 1.279.115,00 Rp 1.608.059,00 Rp 1.678.597,00
Belanja
Variabel Rp.355.600,00 Rp 391.154,00 Rp 380.494,00 Rp 428.023,00
(Variable Cost)




Panduan Teknis Penyusunan ASB 95

B A B 8
CONTOH-CONTOH ASB DARI
BEBERAPA PEMDA


1. PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR

A. ASB -01 AKREDITASI LEMBAGA

Deskripsi:
Akreditasi lembaga merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh lembaga/satuan
kerja perangkat daerah untuk memperoleh status akreditasi dari pihak luar.
Akreditasi merupakan pengakuan resmi dari pihak lembaga luar terhadap suatu
lembaga yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya. Setelah kegiatan ini
dilaksanakan maka lembaga yang bersangkutan harus sudah mampu memperoleh
status akreditasi sesuai dengan yang telah direncanakan. Kegiatan ini dimulai dari
direncanakannya kegiatan sampai dengan diselesaikannya kegiatan, diperolehnya
status akreditasi serta dipertanggungjawabkannya kegiatan oleh satuan kerja
perangkat daerah yang bersangkutan.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Parameter yang diakreditasi.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 2.804.800,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp 20.420.200,00 per Parameter yang diakreditasi

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 2.804.800,00 + (Rp 20.420. 200,00 x Jumlah Parameter yang
diakreditasi)

Alokasi Obyek Belanja ASB 01

No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1 Belanja Honorarium 29,68 54,48 79,28
2 Uang Lembur 0,73 8,56 16,39
3 Belanja Bahan Material 0,1 3,15 6,19
4 Belanja Jasa Kantor 4,4 20,98 37,55
5 Belanja Sewa 1,65 12,83 24,01

- 96 -

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

B. ASB 03 ASISTENSI ATAU BIMBINGAN DENGAN PENDAMPINGAN

Deskripsi:
Asistensi atau bimbingan dengan pendampingan merupakan kegiatan untuk
memberikan bimbingan atau pendampingan kepada pegawai atau subyek
pelaksana harian atas mekanisme kerja tertentu yang melibatkan pihak luar
dalam rangka memberikan panduan tersebut. Kegiatan ini melibatkan subyek
pelaksana harian sebagai pelaksana utama dan pihak luar sebagai pemandu
untuk menunjukkan cara atau mekanisme yang benar dan efisien. Setelah
kegiatan ini selesai maka pelaksana utama harus sudah mampu melaksanakan
kegiatan yang menjadi motif dilaksanakannya kegiatan ini tanpa panduan dari
pihak luar lagi.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah lembaga yang didampingi dan Durasi Pendampingan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 2.411.700,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 1.542.900,00 per Lembaga per bulan

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 2.411.700,00 + (Rp. 1.542.900,00 x Jumlah Lembaga x jumlah
bulan)

Alokasi Obyek Belanja ASB 03:
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1 Belanja Honorarium 25,49 50,48 75,48
2 Belanja Bahan Material 0,17 4,12 8,07
3 Belanja Jasa Pihak Ketiga 0,47 6,84 13,21
4 Belanja Cetak & Penggandaan 0,67 8,19 15,71
5 Belanja Sewa 0,37 6,05 11,74
6 Belanja Makanan & Minuman 5,37 23,18 40,98
7 Belanja Perjalanan Dinas 0,01 1,14 2,26








Penyusunan ASB 97

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

2. PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

A. ASB -05 KAJIAN BERSAMA/DISKUSI/SARASEHAN

Deskripsi:
Kajian bersama/diskusi/sarasehan merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk
membahas masalah atau topik memperoleh masukan dengan melibatkan
orang/pihak lain yang dipandang memiliki kemampuan untuk ikut memecahkan
masalah atau meningkatkan kualitas topik yang dibahas. Pemilihan peserta
harus mempertimbangkan relevansi (kesesuaian) dan kapabilitas (kemampuan)
peserta dengan masalah atau topik tersebut dan bukan asal menghadirkan
orang agar hasil kajian yang diperoleh memiliki kualitas yang cukup baik.
Satuan kerja perangkat daerah harus mendeskripsikan secara singkat setiap
peserta sesuai dengan relevansi dan kapabilitasnya.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah lembaga/peserta yang terlibat
Satuan Pengendali Belanja Tetap (Fixed Cost)
= Rp 5.400.000,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 700.000,00 per Jumlah Lembaga/Peserta

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Tarif Belanja Variabel x Jumlah Lembaga Peserta
= Rp. 5.400.000,00 + (700.000,00 x Jumlah Lembaga Peserta)i.

Alokasi Obyek Belanja ASB 05
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Honorarium 3,79% 12,29% 17,76%
2. Belanja Bahan Material 0,22% 1,43% 4,02%
3. Belanja Honorarium Non PNS 2,06% 69,56% 100,00%
4. Belanja Cetak dan Penggandaan 0,39% 1,59% 3,92%
5. Belanja Sewa 2,82% 2,82% 2,82%
6. Belanja Makan dan Minum 0,98% 3,10% 6,56%
7. Belanja Perjalanan Dinas 2,47% 9,20% 15,08%







Penyusunan ASB 98

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

3. PEMERINTAH KABUPATEN PATI

A. ASB 02 PENANGANAN KASUS
Deskripsi:
Penanganan kasus merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja
perangkat daerah yang berwenang untuk melaksanakan/menyelesaikan kasus-
kasus hukum/pengaduan yang terjadi.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah kasus yang ditangani.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 837.400,00 Per kegiatan.

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 2.715.200,00 per Jumlah kasus yang ditangani

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 837.400,00 + (Rp. 2.715.200,00 x kasus yang ditangani).

Alokasi Obyek Belanja ASB-02:
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Honorarium 8,82% 22,55% 42,77%
2. Belanja Bahan Pakai Habis 0,89% 2,77% 6,11%
3.
Belanja Cetak dan
Penggandaan
0,30% 1,43% 4,19%
4. Belanja Sewa 5,23% 32,53% 59,82%
5. Belanja Makan Minum 1,15% 7,16% 26,92%
6. Belanja Perjalanan Dinas 5,63% 33,55% 129,22%











Penyusunan ASB 99

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

B. ASB 03 OPERASI PENEGAKAN HUKUM/PERATURAN

Deskripsi:
Operasi penegakan peraturan daerah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
satuan kerja perangkat daerah yang berwenang untuk melaksanakan penegakan
hukum/peraturan.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah personal penegak hukum dan durasi dalam bulan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 7.043.000,00 Per kegiatan.

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 466.600,00 per Jumlah personal penegak hukum

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 7.043.000,00 + (Rp. 466.600,00 x jumlah personal penegak hokum
x durasi dalam bulan).

Alokasi Obyek Belanja ASB - 03:
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Honorarium 45,11% 53,11% 63,11%
2. Belanja Bahan Material 3,58% 3,76% 3,95%
3. Belanja Jasa Kantor 11,54% 15,29% 19,04%
4. Belanja Bahan Pakai Habis 0,00% 10,36% 20,36%
5. Belanja Cetak dan Penggandaan 0,00% 1,87% 3,67%
6. Belanja Sewa 0,00% 0,99% 2,89%
7. Belanja Makan dan Minum 0,00% 14,62% 28,62%











Penyusunan ASB 100

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

4. PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL

A. ASB10 PEMBENTUKAN BADAN ATAU ORGANISASI
Deskripsi:
Pembentukan badan atau organisasi merupakan kegiatan untuk menghadirkan
badan atau organisasi baru baik di dalam satuan kerja perangkat daerah
perangkat daerah ataupun di luar satuan kerja perangkat daerah. Organisasi
bisa berupa organisasi di dalam pemerintahan ataupun di luar pemerintahan.
Kegiatan ini akan menghasilkan badan atau organisasi baru sebagai
pertanggungjawaban satuan kerja perangkat daerah pelaksana kegiatan yang
bersangkutan. Organisasi yang dibentuk memiliki status yang sah baik secara
legal (hukum) maupun formal.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Lembaga atau Badan atau Unit Organisasi

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp3.127.900, 00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp12.490.700, 00 per Jumlah Lembaga/Badan/Organisasi

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp3.127.900, 00 + (Rp12.490.700, 00 x Jumlah Lembaga/Badan/
Organisasi)

Alokasi Obyek Belanja ASB-10:
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1 Belanja Honorarium PNS 4,82% 15,57% 36,51%
2 Belanja Honorarium Non PNS 2,11% 2,68% 3,25%
3 Belanja Bahan Material 0,30% 6,60% 11,92%
4 Belanja Bahan Pakai Habis 0,18% 1,12% 2,38%
5 Belanja Cetak dan Penggandaan 1,04% 1,11% 1,20%
6 Belanja Sewa 1,99% 6,50% 11,02%
7 Belanja Makan dan Minum 0,65% 15,33% 49,55%
8 Belanja Pakaian Kerja 36,05% 46,05% 56,05%
9 Belanja Perjalanan Dinas 0,25% 5,04% 13,70%





Penyusunan ASB 101

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

B. ASB12 PENANGANAN MASALAH KESEHATAN


Deskripsi:
Penanganan masalah kesehatan adalah kegiatan untuk menangani berbagai
masalah kesehatan baik bayi, ibu hamil, keluarga ataupun masyarakat.
Aktivitas ini bukanlah bertujuan untuk menangani atau mengobati penyakit
tertentu yang diderita oleh orang-orang namun hanya untuk memberikan
bantuan jasa/pelayanan secara kewenangan satuan kerja perangkat daerah
tersebut dan menangani masalah ringan yang bisa di atasi atau ditangani oleh
SDM yang dimiliki dengan penanganan yang sesuai dengan keahlian SDM.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah objek yang ditangani
(objek yang ditangani bisa balita, orang dewasa atau keluarga).

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp245.800, 00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp391.800, 00 per Jumlah objek yang ditangani

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp245.800, 00 + (Rp391.800, 00 x Jumlah objek yang ditangani).

Alokasi Obyek Belanja ASB 12:
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1 Belanja Honorarium PNS 11,97% 26,91% 40,74%
2 Belanja Honorarium Non PNS 0,81% 6,63% 12,46%
3 Uang Lembur 1,27% 1,91% 2,55%
4 Belanja Bahan Pakai Habis 1,31% 5,41% 11,43%
5 Belanja Jasa Kantor 0,57% 5,27% 9,98%
6 Belanja Cetak dan Penggandaan 4,31% 16,23% 38,27%
7 Belanja Sewa 1,03% 1,11% 1,19%
8 Belanja Makan dan Minum 2,50% 20,76% 44,57%
9 Belanja Pakaian Kerja 2,10% 2,10% 2,10%
10 Belanja Perjalanan Dinas 11,94% 13,67% 15,39%

Nilai di atas belum mencantumkan belanja material karena belanja tersebut
bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan atau masalah kesehatan yang dihadapi.
Nilai tersebut setelah dihitung ditambahkan ke dalam belanja di atas sebagai
keseluruhan belanja total final.


Penyusunan ASB 102

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

5. PEMERINTAH KOTA SALATIGA

A. ASB013 PENELITIAN DAN ANALISIS
Deskripsi:
Analisis merupakan kegiatan untuk menguraikan suatu permasalahan ke dalam
komponen-komponen penyusunnya agar dapat dikaji secara mendalam.
Kegiatan ini akan menggambarkan apa yang ada di dalam topik permasalahan
tersebut dan apa yang seharusnya dihadirkan dalam struktur atau format yang
akan datang serta rekomendasi perbaikannya.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah Topik Pengamatan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 0,00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 214.300,00 x Jumlah Topik Pengamatan

Rumus Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 0,00 + (Rp. 214.300,00 x Jumlah Topik Pengamatan)

Alokasi Belanja ASB-013 :
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 44,48% 100,00%
2. Belanja Honorarium Non PNS 0,00% 3,93% 12,79%
3. Belanja bahan pakai habis 0,00% 8,55% 17,59%
4. Belanja Jasa kantor 0,00% 18,23% 59,75%
5. Belanja cetak & penggandaan 2,18% 16,47% 30,75%
6. Belanja Makan & minum 0,43% 4,51% 8,60%
7. Belanja Perjalanan dinas 0,25% 3,83% 7,42%









Penyusunan ASB 103

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

B. ASB014 PENGADAAN BAHAN MATERIAL

Deskripsi:
Pengadaan bahan material merupakan kegiatan untuk memperoleh bahan
material yang digunakan untuk kegiatan utama SKPD ataupun kegiatan
pendukung lainnya. Pengadaan material merupakan kegiatan yang diadakan
khusus untuk menghadirkan material karena adanya kebutuhan tertentu dalam
mendukung aktivitas satuan kerja secara berkelanjutan dan bukan hanya untuk
mendukung kegiatan sekali waktu.

Pengendali belanja (cost driver):
Nilai Bahan Material yang diadakan.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 24.014.100,00 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= ( 1,02 x Nilai Belanja Materialnya)
Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 24.014.100,00 + (1,02 x Nilai Belanja Materialnya)
= (Rp. 24.014.100,00 +(0,02 x Nilai Belanja Material))+Nilai Belanja
Material

Nilai keseluruhan tersebut selain nilai belanja materialnya harus di
distribusikan dalam alokasi belanja sebagaimana diatur dalam tabel Alokasi
Belanja ASB 014.


Alokasi Belanja ASB-014 :
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 14,96% 34,73%
2. Belanja bahan pakai habis 0,00% 2,38% 6,25%
3. Belanja Jasa kantor 0,00% 4,51% 14,07%
4. Belanja cetak & penggandaan 0,00% 7,57% 25,65%
5. Belanja Makan & minum 0,00% 2,42% 7,43%
6. Belanja Perjalanan dinas 0,00% 68,15% 100,00%








Penyusunan ASB 104

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

C. ASB015 PENGADAAN NON KONSTRUKSI (BELANJA MODAL)

Deskripsi:
Pengadaan non konstruksi merupakan kegiatan untuk memperoleh
berbagai alat sebagai sarana fisik yang digunakan untuk kegiatan utama
SKPD ataupun kegiatan pendukung lainnya. Pengadaan non konstruksi
merupakan kegiatan yang diadakan khusus untuk menghadirkan sarana
tersebut karena adanya kebutuhan tertentu dalam mendukung aktivitas
satuan kerja secara berkelanjutan dan bukan hanya untuk mendukung
kegiatan sekali waktu.

Pengendali belanja (cost driver):
Nilai Sarana Fisik

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 13.933.600,00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= (1,003 x Nilai Sarana Fisiknya)

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 13.933.600,00 + (1,003 x Nilai Sarana Fisiknya)
= (Rp. 13.933.600,00 + (0,003 x Nilai Sarana Fisik))+Nilai Sarana Fisik

Nilai keseluruhan tersebut selain nilai sarana fisiknya harus di distribusikan
dalam alokasi belanja sebagaimana diatur dalam tabel Alokasi Belanja ASB
015.

Alokasi Objek Belanja ASB-015 :
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Honorarium PNS 0,00% 24,11% 49,59%
2. Belanja bahan pakai habis 0,00% 26,78% 100,00%
3. Belanja Jasa kantor 0,00% 43,75% 100,00%
4. Belanja cetak & penggandaan 0,00% 3,06% 8,58%
5. Belanja Makan & minum 0,00% 1,53% 3,75%
6. Belanja Perjalanan dinas 0,00% 0,76% 3,47%






Penyusunan ASB 105

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

6. PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO

A. ASB47 PERINGATAN HARI BESAR AGAMA DAN NASIONAL

Deskripsi:
Analisa Standar Belanja Peringantan Hari Besar Agama dan Nasional adalah
standar belanja yang digunakan untuk melaksanakan peringatan hari besar
keagamaan dan hari besar nasional.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah peringatan hari besar

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 8.524.700,00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp 41.641.000,00 per peringatan hari besar

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 8.524.700,00 + (Rp 41.641.000,00 per peringatan hari besar)


Alokasi Obyek Belanja ASB-047 :
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Jasa Pihak Ke-3 0,1% 1,10% 6,20%
2. Belanja cetak & penggandaan 0,00% 0,33% 5,33%
3. Belanja Sewa 38,81% 43,81% 48,81%
4. Belanja Makan & Minum 49,76% 54,76% 59,76%











Penyusunan ASB 106

Bab 8 Contoh-Contoh ASB dari Beberapa Pemda

B. ASB48 PERINGATAN EVEN NASIONAL SEDUNIA

Deskripsi:
Analisa Standar Belanja Peringantan Even Nasional Sedunia adalah standar
belanja yang digunakan untuk melaksanakan peringatan hari besar/even
nasional yang juga diperingati secara serentak di seluruh dunia.

Pengendali belanja (cost driver):
Jumlah even yang diperingatan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 1.020.000,00 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp 83.650.000,00 per peringatan

Rumus Penghitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 1.020.000,00 + (Rp 83.650.000,00 x jumlah even yang diperingati)


Alokasi Obyek Belanja ASB-048 :
No Obyek Belanja
Batas Bawah
(%)
Rata-rata
(%)
Batas Atas
(%)
1. Belanja Jasa Pihak Ke-3 27,62% 32,62% 47,62%
2. Belanja bahan pakai habis 0,34% 2,34% 7,34%
3. Belanja cetak & penggandaan 2,10% 7,10% 12,10%
4. Belanja Sewa 1,02% 6,02% 11,02%
5. Belanja Makan & Minum 0,71% 9,71% 9,71%
6. Belanja Perjalanan Dinas 25,52% 30,52% 35,52%
7. Belanja Modal 5,69% 11,69% 16,69%








Penyusunan ASB 107

B A B 9
PERTANYAAN YANG SERING
MUNCUL (PSM)


ab ini menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang sering terjadi ketika
Analisis Standar Belanja disosialisasikan kepada para pengguna.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Apakah ASB ini telah berbasis pada kinerja?
ASB ini tidak hanya berbasis kinerja namun telah lebih jauh sampai
pada berorientasi kinerja. Unsur-unsur 3 E telah dicakup di sana
sebatas kewenangan dan kemampuan ASB. Efisiensi diatur dalam ASB
dalam ketentuan rentang produktivitas, rentang optimalitas, ataupun
rentang obyek yang dipersyaratkan. Ekonomis diatur dalam ASB pada
ketentuan tentang rumus nilai belanja total yang merupakan batas
maksimal belanja untuk kegiatan dengan beban kerja tertentu.
Efektivitas proses kegiatan yang bersangkutan didekati dengan
pengaturan distribusi belanja total pada aturan alokasi proporsi obyek
belanja.

Distribusi alokasi proporsi belanja bukanlah tanpa maksud kinerja.
Distribusi proporsi dimaksudkan sebagai kontrol atau pengendali belanja
atas kegiatan yang bersangkutan agar kegiatan tersebut lebih terarah
sehingga efektivitas juga lebih bisa dikendalikan. Bayangkan jika tidak
diberikan ketentuan distribusi maka suatu kegiatan forum komunikasi
hanya akan melakukan kegiatan surat-menyurat atau bermain telepon
hanya untuk disebut forum komunikasi dan koordinasi.
Sementara itu pula bisa jadi alokasi belanja untuk obyek belanja yang
lain jadi berkurang yang juga bisa mengakibatkan inektivitas. Dengan
pendistribusian pada obyek belanja semacam perjalanan dinas maka
mau tidak mau SKPD yang bersangkutan harus melakukan perjalanan
B
- 108 -

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

dinas untuk bertemu langsung. Pertemuan langsung akan meningkatkan
efektivitas kegiatan tersebut. Begitu juga alokasi yang lainnya, dan
begitu juga dengan jenis kegiatan lainnya.

2. Apakah perbedaan antara pelatihan teknis dan pelatihan
pegawai?
Pelatihan teknis lebih menandakan adanya kebutuhan teknis bagi para
peserta pelatihannya. Kegiatan ini juga berlaku baik bagi para pegawai
ataupun masyarakat umum. Adapun kegiatan pelatihan pegawai
disamping hanya berlaku untuk pegawai juga tidak mengisyaratkan
adanya kebutuhan teknis tertentu tapi lebih pada pemahaman dan
pemenuhan atas posisi/peran tertentu. Jika suatu SKPD ingin melakukan
diklat yang bersifat teknis untuk memenuhi kompetensi teknis tertentu
maka lebih diarahkan untuk menggunakan ASB pendidikan dan pelatihan
teknis.

3. Bagaimana bila terjadi kegiatan yang bersifat pelatihan teknis
untuk pegawai?
Sebagaimana dijelaskan di atas maka kegiatan tersebut sebaiknya
digolongkan dalam pelatihan teknis.

4. Bagaimana caranya agar suatu kegiatan dapat digolongkan
dalam suatu ASB secara tepat?
Jenis ASB bukanlah suatu hal yang murni saling meniadakan (mutually
exclusive). Kenyataan dunia selalu menunjukkan bahwa suatu obyek
jika dipandang dari sisi yang lain akan tampak bisa digolongkan dalam
golongan yang lain (multiple inheritance). Sebagai contoh kegiatan
ceramah pada satu sisi dapat dipandang sebagai sarasehan namun pada
satu sisi lain dapat dipandang sebagai forum komunikasi atau pelatihan.
Begitu pula dengan asas hukum Lex Specialis Derogat Lex Generalis
yang bermakna sesuatu yang berkonotasi khusus akan lebih diutamakan
daripada sesuatu yang berkonotasi umum. SKPD selayaknya
Penyusunan ASB 109

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

mengutamakan jenis ASB yang lebih sesuai dengan kegiatan yang akan
dilakukannya. Berbagai usaha agar pemahaman tidak menimbulkan
makna ganda telah dilakukan, namun harus disadari bahwa kita juga
berhadapan dengan interpretasi berbagai fihak yang beragam. Untuk
mengatasi hal tersebut sebenarnya bukanlah suatu yang sulit. Carilah
jenis ASB yang paling mendekati kemiripan kegiatan yang akan dilakukan
dari sudut logika dan kesesuaian dengan permasalahan.

5. Apakah daftar ASB sudah mewakili semua kegiatan?
Daftar ASB sebenarnya dimaksudkan hanya sebagai rujukan bagi SKPD
yang ingin melakukan kegiatan serupa dengan kategori atau golongan
tertentu. Pencantuman ini juga sekaligus sebagai pembuktian bahwa
ASB disusun tidak dengan mengangan-angan tanpa melihat lapangan.
ASB justru disusun dengan terlebih dahulu melihat fakta lapangan yang
benar benar terjadi. Daftar tersebut merupakan rincian kegiatan yang
benar-benar dilakukan oleh SKPD di lapangan yang digunakan sebagai
landasan penyusunan ASB.

Daftar ASB tidaklah dimaksudkan untuk membatasi kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh SKPD agar sama persis dengan yang ditampilkan
dalam daftar ASB. Dalam pengembangan ASB, daftar ini sebenarnya
seluruhnya selalu dirumuskan dari kegiatan-kegiatan yang pernah
dilakukan oleh satuan-SKPD. Nama lembaga tidak dicantumkan agar
dapat diperbandingkan dan dapat digunakan oleh SKPD lainnya yang juga
merasakan kebutuhan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Titik
beratnya sebenarnya pada pemahaman dari jenis ASB itu sendiri.

SKPD perangkat daerah bebas memberi nama untuk kegiatannya untuk
kategori ASB tertentu (tentunya nama yang masih mengindikasikan
kesesuaian dengan kegiatannya itu sendiri).

Penyusunan ASB 110

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

6. Apakah persentase alokasi rata-rata obyek belanja bersifat
kaku?
Prosentase alokasi proporsi baik rata-rata, batas atas, atau batas bawah
bukanlah harga mati di angka itu. Harga matinya terletak di nilai di
antara batas bawah dan batas atasnya. SKPD bebas bergerak di angka
tersebut. Penggunaan rata-rata hanyalah kemudahan pemahaman bagi
para pengguna di tahap awal. Pada tahap selanjutnya seiring dengan
pemahaman dan kebiasaan diyakini bahwa SKPD jauh lebih mengetahui
berapa nilai yang sepantasnya untuk alokasi proporsi obyek belanja
tersebut. Tugas ASB hanyalah membatasi bahwa alokasi tersebut masih
dalam batas-batas yang wajar. ASB bergerak di tingkatan strategis
sehingga sangat tidak etis untuk ikut mengurusi segala urusan yang
menjadi wewenang SKPD yang bersangkutan.

7. Mengapa ASB ini tidak merinci belanja tetap dan belanja
variabel namun hanya memberi angka nominalnya saja?
Tugas ASB hanyalah membatasi bahwa alokasi tersebut masih dalam
batas-batas yang wajar. ASB bergerak di tingkatan strategis sehingga
sangat tidak etis untuk ikut mengurusi segala urusan yang menjadi
wewenang SKPD yang bersangkutan.

Pada tahapan rincian obyek yang bersifat operasional SKPD bebas
bergerak untuk mengalokasikan dana belanja yang diterima untuk hal-
hal yang sesuai dengan kondisi lapangan yang berbeda-beda. Bisa jadi
suatu SKPD membutuhkan belanja tetap atau variable tertentu untuk
suatu kegiatan yang sesuai dengan situasi yang dihadapi, namun kondisi
serupa tidaklah dapat diasumsikan juga muncul di SKPD lain pada situasi
yang berbeda. Pemberlakukan seperti itu dapat diibaratkan seakan-
akan menciptakan dunia tanpa warna karena segala sesuatunya
ditentukan dari atas dengan unsur yang sama dan seragam. Anekdot
lebih jauh malah mungkin bisa muncul kenapa merek obyek belanjanya
tidak diseragamkan saja sekalian. Siapapun dia yang paling dekat
dengan masalahnya akan lebih tahu tentang detilnya. ASB dirancang
Penyusunan ASB 111

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

untuk memberikan keleluasaan untuk pengalokasian belanja sesuai
dengan pemahaman lapangan SKPD penyelenggara sebatas
kewenangannya.

8. Apakah ASB di dinas Kimpraswil atau beberapa dinas yang lain
merupakan ASB khusus?
Sebagian memang benar, namun sebagian tidak. Pada intinya ASB
khusus adalah ASB yang hanya terjadi sekali waktu atau terjadi pada
suatu dinas tertentu. Pembuatan ASB selalu diarahkan agar ASB apapun
bentuknya bisa bersifat umum. SKPD yang lain juga berhak untuk
menggunakannya jika memang mampu dan kegiatannya sesuai dengan
tujuan pokok dan fungsi dari SKPD tersebut. Dengan demikian
pemahaman khusus atau umum hanyalah berlaku pada tingkatan
konsepsional.

Pada tingkatan praktis tidak perlu mempermasalahkan apakah suatu ASB
masuk kategori khusus atau umum karena hal tersebut justru malah
akan menimbulkan perdebatan karena interpretasi/penerjemahan yang
berbeda-beda tanpa memberikan manfaat ekonomis ataupun kinerja
yang lebih baik. Contoh perdebatan yang bisa muncul (yang sebenarnya
tidak perlu dipermasalahkan) adalah ASB Operasi Penegakan Perda. ASB
ini bisa digolongkan khusus jika dipandang bahwa tidak setiap SKPD
mampu menjalankannya karena hanya bisa dijalankan oleh SKPD yang
memiliki perda.

Bagi yang menganggapnya sebagai ASB umum maka ASB jenis tersebut
bisa digolongkan dalam kategori umum karena bisa dijalankan oleh
beberapa SKPD. Perdebatan tersebut sama sekali tidak memberikan
kemanfaatan ekonomis karena memang tidak ada keuntungannya dari
sisi belanja yang dikeluarkan. Pada saat ini suatu ASB mungkin hanya
bisa digunakan oleh suatu SKPD tertentu, namun demikian, tidak
menutup kemungkinan bahwa ASB tersebut akan dapat digunakan oleh
SKPD yang lain di masa yang akan datang. Disain ASB sendiri memang
Penyusunan ASB 112

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

disusun dengan cukup luwes (fleksibel) agar ASB tersebut bisa berlaku
umum sebagaimana semangat keadilan dan kriteria strategis dari ASB itu
sendiri.

9. Bagaimana aturan yang jelas untuk ASB yang bersifat khusus?
Jika suatu kegiatan merupakan kegiatan yang tidak ada kemiripannya
dengan kegiatan lain maka dia bisa dikategorikan dalam ASB khusus.
Namun demikian, jika dikemudian hari kegiatan tersebut telah terjadi
kembali dan atau mampu dilakukan atau dibutuhkan oleh SKPD yang lain
maka statusnya secara langsung akan berubah menjadi ASB umum.

Disain ASB selalu diarahkan untuk menghadirkan ASB yang bisa berlaku
umum. Dengan demikian, tidak ada keuntungan suatu SKPD berharap
atau berinisiatif agar kegiatannya bisa masuk dalam kategori khusus
hanya agar belanjanya menjadi besar, karena jika suatu saat SKPD yang
lain mampu melakukannya akan dapat diketahui baik buruk kinerjanya.
Suatu usaha yang hanya akan merugikan dirinya sendiri. Format
penyajian ASB secara formal tidak membedakan antara ASB umum atau
khusus karena berbagai tujuan yang telah disebutkan di atas.

10. Bagaimana bila SKPD ingin mengadakan kegiatan yang
merupakan gabungan atau rangkaian kegiatan yang terdiri dari
kegiatan-kegiatan dengan jenis ASB-ASB yang berbeda?

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa beberapa jenis kegiatan memang
dapat digabungkan. Penggabungan seharusnya mengungkapkan
penghematan belanja. Belanja total dapat dihemat dengan cara
menambahkan belanja total kedua kegiatan tersebut dan menghilangkan
belanja tetap yang terkecil. Jika tiga jenis kegiatan digabungkan dalam
satu kegiatan, maka belanja total merupakan belanja total ketiga jenis
kegiatan tersebut dikurangi dengan dua belanja tetap yang terkecil.
Jumlah kegiatan yang lebih besar bisa diteruskan dengan logika yang
Penyusunan ASB 113

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

sama. SKPD yang mampu melakukan kegiatan tersebut memang
selayaknya dinilai memiliki kinerja yang lebih baik, paling tidak dari sisi
kinerja ekonomisnya.

11. Apakah hubungan antara ASB dengan Standar Harga Barang dan
Jasa (SHBJ)?
ASB mengatur tentang kebijakan anggaran di tingkat atas (strategis) dan
yang diatur adalah anggaran dalam bentuk nilai keseluruhan sesuai
dengan kinerja dan bobot kerja agar berorientasi pada kinerja
sedangkan SHBJ mengatur kebijakan harga dari masing-masing
komponen atau rincian obyek belanja. Sebagai contoh ASB tidak
mengatur berapa harga untuk satu rim kertas atau berapa harga/honor
untuk satu jam mengajar namun mengatur di tingkat yang lebih atas
semacam berapa harga untuk kegiatan pencetakan buku atau harga
suatu kegiatan pelatihan. Setelah harga dari suatu kegiatan ditentukan
dan ketetapan lain dalam ASB dipenuhi maka nilai tersebut dirinci dalam
rincian obyek belanja. Harga dari masing-masing obyek belanja diatur
dalam SHBJ.

12. Apakah alokasi proporsi belanja dalam ASB tersebut cukup
akurat?
Pertanyaan ini memang menjurus ke metode perumusan ASB itu sendiri.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perumusan ASB dilakukan dengan
terlebih dahulu mengumpulkan data lapangan untuk dilihat perilakunya.
Setelah data awal keseluruhannya dikumpulkan, data tersebut
digunakan untuk merumuskan model ASB yang diperlukan. Model ini
kemudian disesuaikan dengan penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan
dalam SHBJ (termasuk penyesuaian kenaikan harga) untuk memperoleh
ASB yang dapat diterapkan pada tahun yang bersangkutan karena telah
disesuaikan harganya.

Penyusunan ASB 114

Bab 9 Pertanyaan-Pertanyaan Yang Sering Muncul (PSM)

Penyesuaian harga dilakukan dengan sampel yang cukup mewakili,
lagipula penggunaan rentang distribusi alokasi obyek belanja memang
didisain salah satunya untuk memberikan keleluasaan bergerak bagi
SKPD dalam pengalokasian belanjanya agar tetap sesuai dengan harga
yang ditetapkan dalam SHBJ. Tujuan yang lain alokasi adalah
mengarahkan pada kinerja efektivitas dengan pemberlakuan ketentuan
distribusi obyek belanja agar belanja tidak didistribusikan pada alokasi-
alokasi yang tidak sesuai atau melenceng jauh.

13. Apakah persentase untuk obyek belanja ASB merupakan hal
yang mutlak untuk dipenuhi?
Ya, prosentase tersebut harus dipenuhi. Namun penyusun anggaran
bisa menggunakan area di antara batas atas dan batas bawah sehingga
bisa disesuaikan. Namun hal ini mempunyai konsekuensi jika salah satu
obyek belanja dinaikkan melebihi rata-rata berarti item obyek belanja
lainnya harus ada yang dibawah rata-rata.

14. Apakah obyek belanja di ASB harus dianggarkan semua? Apakah
diperbolehkan menghilangkan obyek belanja jika tidak
diperlukan?
Tidak, karena kegiatan tersebut akan berjalan dengan baik jika obyek
belanja di asb dianggarkan semua.

15. Bagaimanakan jika ada kegiatan yang belum ada ASB-nya?
Silakan untuk dibuat anggaran tanpa menggunakan ASB, untuk tahun
berikutnya direkomendasikan untuk segera dibuatkan ASBnnya

Penyusunan ASB 115

Lampiran

LAMPIRAN : KONDISI IDEAL KEBERTERAPAN BUKU INI


I. Kondisi ideal agar tujuan Buku Penyusunan ASB ini dapat tercapai adalah:
a. Tersedianya perangkat komputer yang memadai. Spesifikasi perangkat komputer yang
dibutuhkan minimal adalah:
1. Processor pentium 4
2. RAM 132 Mb
b. Tersedianya software excel dan SPSS atau software statistik yang setara.
c. Tersedianya sumber daya manusia yang memahami proses perencanaan dan penganggaran
keuangan daerah.
d. Tersedianya sumber daya manusia yang memahami kemampuan dasar statistik.
e. Tersedianya sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan software excel dan SPSS atau
software statistik

II. Apabila di dalam buku ini akan digunakan untuk pelatihan teknis penyusunan analisis standar
belanja, maka rencana sesi yang disarankan adalah sebagai berikut:


Hari Pertama Materi
Referensi
08.00 - 09.00 Latar Belakang, Dasar Hukum, dan Tujuan ASB Bab 1
09.00 - 10.00 Anggaran Berbasis Kinerja dan Definisi ASB Bab 2
10.00 - 10.30 ISTIRAHAT (Coffee Break)
10.30 - 11.30 Manfaat ASB dan Posisi ASB dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Bab 2
11.30 - 12.30 Perilaku Belanja, Pola Perilaku, dan Fungsi Belanja Bab 2
12.30 - 13.30 ISTIRAHAT, SHOLAT DAN MAKAN SIANG
13.30 14.30 Metode Penentuan Pola Perilaku Belanja Bab 2
14.30 15.30 Format ASB dan Cara Penggunaan ASB Bab 3
15.30 16.00 ISTIRAHAT(Coffee Break)


Hari Kedua Materi
Referensi
08.00 - 09.00 Asumsi Dasar Penyusunan ASB dan Tahapan Penyusunan ASB Bab 4
09.00 - 10.00 Asumsi Dasar Penyusunan ASB dan Tahapan Penyusunan ASB Bab 4
10.00 - 10.30 ISTIRAHAT (Coffe Break)
10.30 - 11.30 Studi Kasus Penyusunan ASB Bab 5
11.30 - 12.30 Studi Kasus Penyusunan ASB Bab 5
12.30 - 13.30 ISTIRAHAT, SHOLAT DAN MAKAN SIANG
13.30 14.30 Kasus Khusus Pengolahan Data ASB Bab 6
14.30 15.30 Penyesuaian ASB untuk Tahun Berikutnya Bab 7
15.30 16.00 ISTIRAHAT(Coffee Break)