Anda di halaman 1dari 10

Nama : Stissa Sanisa Putri

NIM : 2010 050 233


Mata Kuliah : Hukum Pajak


Resume BAB III
Pembagian Hukum Pajak dan Pembedaannya


Hukum Pajak Material

Hukum Pajak Materiil
Hukum pajak materiil adalah norma-norma yang menjelaskan keadaan, perbuatan,
dan peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak, siapa yang harus dikenakan pajak,
dan berapa besar pajaknya. Dengan kata lain hukum pajak materiil mengatur tentang
timbulnya, besarnya, terhapusnya utang pajak beserta hubungan hukum antara
pemerintah dengan Wajib Pajak. Contoh dari hukum pajak materiil adalah peraturan
yang memuat tentang kenaikan denda, sanksi atau hukuman, dan cara-cara
pembebasan dan pengembalian pajak, serta ketentuan yang memberi hak tagihan
utama kepada fiskus. Apabila dalam undang-undang pajak khusus memuat hal-hal
yang bertentangan dengan hukum formal, maka hal ini harus diatur kembali dalam
undang-undang pajak yang bersangkutan. Undang-undang yang memuat hukum pajak
material dan formal yaitu;

a. Undang-undang No.12 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan
Undang-undang No.12 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
b. Undang-undang No.18 Tahun 1997 sebagaimana yang telah diubah dengan
Undang-undang No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah (PDRD).
c. Undang-undang No.21 Tahun1997 sebagaimana yang telah diubah dengan
Undang-undang No.20 Tahun 2000 tentang Bea perolehan atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB).

Pengaturan hukum pajak material dan formal ini mengalami perubahan semenjak
adanya Pembaharuan Perpajakan Nasional (tax reform), dimana sebelumnya
pengaturan antara Hukum Pajak Material dan Formal dijadikan satu. Hal itu dapat
dilihat dalam Ordonansi Pajak Pendapatan (PPd.) 1944, Ordonansi Pajak Perseroan
(PPs.) 1925. Setelah adanya Pembaharuan Perpajakan Nasional tahun 1983, maka
hanya ada satu Hukum Pajak Fornal yang digunakan untuk serangkaian Hukum
Pajak Material. Pengaturan dengan cara lama mempunayai kelebihan lebih
memungkinkan bagi ketentuan Hukum Pajak Formal untuk menyesuaikan dengan
karakteristik dari Hukum Pajak Materialnya, dikarenakan yang dilayani oleh
Hukum Pajak Formal Hanya satu. Adapun kelemahannya terutama bagi wajib
pajak karena akan mempersulit dalam mempelajari dan memahami ketentuan pajak
yang bgitu banyak dan beragam. Sedangkan pengaturan seperti yang ada sekarang
ini mempunyai kelebihan yakni lebih sederhana dan memudahkan untuk dipelajari
dan dipahami, tetapi kelemahannya sulit untuk menyesuaikan dengan ketentuan
Hkum Pajak Material yang banyak dan memiliki karakteristik yang beragam,
sehingga ketentuan Hukum Pajak Formal itu bersifat ketentuan umum dimana
dalam undang-undang pajak material juga disisipkan ketentuan Hukum Pajak
Formal tertentu yang merupakan ketentuan khusus. Misal undang-undang tentang
Pajak Bumi dan Bangunan dan undang-undang tentang Bea Materai.

Hukum Pajak Formal

Hukum pajak formal memuat ketentuan-ketentuan yang mendukung ketentuan
hukum pajak material, yang diperlukan untuk melaksanakan/ merealisasikan
ketentuan hukum material. Hukum pajak formil dimaksudkan untuk memberi
perlindungan pada fiskus dan Wajib Pajak, serta memberi jaminan bahwa hukum
pajak materiilnya dapat dilaksanakan sesegera mungkin. Hal-hal yang digolongkan
dalam ketentuan hukum formal yang diatur Undang-undang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan antara lain mengatur mengenai:
1 Surat pemberitahuan (baik masa maupun tahunan),
2 Surat Setoran Pajak,
3 Surat ketetapan pajak (Surat Ketetapan Pajak KurangBayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Lebih
Bayar, dan Surat Ketetapan Pajak Nihil )
4 Surat Tagihan,
5 Pembukuan dan pemeriksaan,
6 Penyidikan,
7 Surat Paksa,
8 Keberatan dan Banding,
9 Sanksi administratif, sanksi pidana, dll.
Hal-hal yang digolongkan dalam ketentuan hukum formal yang diatur dalam
Undang-undang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak yang telah diubah dengan
Badan Peradilan Pajak antara lain mengatur mengenai:
1 Sengketa Pajak
2 Banding dan Gugatan
3 Susunan Badan Peradilan Pajak
4 Hukum Acara
5 Pembuktian
6 Pelaksanaan putusan, dll.

Peraturan-Peraturan yang Ditujukan Untuk Meneliti Apakah
Ada Kewajiban Membayar Pajak

Fiskus dapat bergerak bila ia punya alat keterangan, misalnya dimana seorang
bertempat tinggal, apakah ia punya penghasilan yang memenuhi syarat dalam
ordonasi bersangkutan, besarnya tanggung keluarga. Untuk mengumpulkan
keterangan ini, yang langsung mapupun tidak langsung yang besar sekali gunanya
bagi pemungutan suatu pajak, oleh Fiskus ditempuh berbagai jalan.

Kerja Sama Dengan Wajib Pajak

Peraturan-peraturannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Penyelenggaraan pajak semata-mata diserahkan kepada wajib pajak, maka
peraturan ini hanya ditujukan kepada kontrol-kemudian. Cara ini terdapat pada
Aturan Bea Materai 1921, Ordonasi Pajak Upah 1935, dan Pajak Penjualan dan
Pajak Pembangunan 1.
2. Suatu pajak ditetapkan ex-officio, maka peraturan di dalamnya ditujukan
kepada kesempatan yang diberikan kepada para wajib pajak untuk mengadakan
kontrol-kemudian. Penetapan pajak yang objeknya dapat terlihat dari luar,
didasarkan atas penaksiran harga tanah oleh suatu panitia khusus yang bekerja
sama dengan Fiskus, umunya dilakukan sekali saja dan berlaku untuk seterusnya
sampai orang yang wajib membayar pajak dating menemui Fiskus untuk
menyatakan keberatan.
3. Sangat dibutuhkan kerja sama antara Fiskus dan wajib pajak, maka
peraturannya ditujukan kepada kewajiban para wajib pajak untuk memasukkan
surat-pemberitahuan (SPT).
Jika kewajiban memasukkan SPT tidak dipenuhi, maka akan merugikan wajib
pajak, yaitu:
1. Wajib pajak dapat dikenakan pajak ex-officio dengan jalan taksiran dengan
tidak memperhatikan keadaan-keadaan wajib pajak yang mungkin dapat
mengakibatkan keringanan beban pajaknya.
2. Jika wajib pajak mengajukan keberatan atas ketetapan ex-officio maka ia
harus membuktikan ketetapan itu salah (PPd 1944 pasal 14 ayat 3).
3. Diadakan kenaikan 25% dari pajak yang harus dibayar, dalam Pajak Perseroan
kenaikan sebesar 100% (pasal 23 ayat 1).

Kerja Sama Dengan Pihak Ketiga

Agar Fiskus dapat memperoleh keterangan-keterangan yang diperlukannya,
mengenai keadaan, perbuatan, atau peristiwa hukum yang dapat dikenakan pajak,
maka Negara pada umumnya memberi keterangan dengan nyata yang dibagikan
tiga golongan, yaitu:
1. Pihak tertentu
2. Pihak yang tidak ditentukan
3. Pihak yang turut campur dalam menghitung jumlah pajak




Sejarah Perkembangan Rahasia Bank di Indonesia

Pada zaman colonial, peraturannya berlaku di Nederlands Indie atas dasar
concordantie-beginsel. Hal ini tidak mengalami perubahan juga dengan
diproklamasikan kemerdakannya Negara RI dalam tahun 1957-1958. Kantor Besar
Jawatan Pajak mengeluarkan ketentuan keharusan setiap bank kepada kantor
inspeksi keuangan. Kewajiban itu menggoyahkan perbankan karena
mengakibatkan banyaknya penarikan dana dari bank oleh nasabah. Nasabah
ketakutan bahwa simpanannya akan diketahui semua oleh Fiskus. Maka dari itu
dikeluarkan PP Pengganti UU No. 23 Tahun 1960.

Tentang Hukum Pajak, Arti, Tugas, dan Gunanya

Hukum pajak adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi
wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya
kembali kepada masyarakat dengan melalui ka negara , sehingga ia merupakan
bagian dari hukum publik, yang mengatur hubungan-hubungan hukummantar
negara dan orang-orang atau badan-badan (hukum) yang berkewajiban membayar
pajak (wajib pajak).

Fungsi Hukum Pajak
Fungsi hukum pajak adalah mengatur bagaimana pemindahan harta dari
masyarakat sebagai individu (yang disebut wajib pajak) kepada publik melalui kas
negara agar dapat berjalan dengan baik, teratur, tertib dan adil serta tidak
menimbulkan kesewenang-wenganan dari pelaksana hukum sehingga fungsi
budgetair dari pemungutan pajak dapat terlaksana dengan baik dan adil.

Tujuan Hukum Pajak
Tujuan hukum pajak pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tujuan hukum
pada umumnya yang sangat luas dan dapat berbeda pendapat antara seorang ahli
dengan seorang ahli yang lain. Pada umumnya tujuan hukum adalah meliputi
timbulnya ketertiban dan kedamaian dalam masyarakat, kefaedahan atau manfaat
dari adanya hukum, kepastian di dalam pelaksanaannya, keadilan umum dan
kepastian hukum.

Sifat Hukum Pajak
Hukum pajak menganut faham imperatif, yakni pelaksanaannya tidak dapat
ditunda. Misalnya dalam hal pengajuan keberatan, sebelum ada keputusan dari
Ditjen Pajak bahwa keberatan tersebut diterima, maka wajib pajak yang
mengajukan bekebaratn tersebut masih wajib membayar pajak sesuai dengan yang
telah ditetapkan.

Ketetapan Sementara

Ketetapan pajak sementara ini dianggap sebagai ketetapan dalam arti undang-
undang, dengan beberapa pengecualian, antara lain terhadapnya tidak dapat
dimajukan keberatan. Pasal 25 dari Ordonansi Pajak Perseroan 1925 memuat
peraturan dengan perbedaan bahwa ketetapan sementara itu tidak boleh
menyimpang dari surat pemberitahuan yang telah dimasukkan wajib pajak.
Kewajiban mengadakan pembukuan sampai tahun 1951 tidak ada dalam UU PPd
1944, sehingga tidak pula terdapat didalamnya:
1. Sistem SPT Sementara
2. Larangan bagi Fiskus untuk menyimpang bagi SPT
3. Pengenaan bunga sebesar satu persen untuk selisih antara pengenaan rampung
dan sementara
Kini semenjak beberapa waktu juga di Indonesia telah ditemukan way-out-nya
yaitu dengan cara MPS (menghitung pajak sendiri) dan MPO (menghitung pajak
orang lain).

Teknik Pemungutan Pajak

Pajak adalah Negara dimana wajib pajak tinggal tanpa memandang
kewarganegaraanya .Asas-asas Pemungutan Pajak :

1. Asas nasionaliteit
Suatu asas pemungutan pajak dimana yang menjadi dasar pemungutan pajak dari
suatu Negara adalah dasar kebangsaan.
2. Asas sumber
Suatu asas pemungutan pajak, dimana yang menjadi dasar pemungutan pajak
adalah dimana Negara sumber penghasil pajak didapat.
3. Asas domisili
Suatu asas pemungutan pajak, dimana yang menjadi dasar pemungutan

Dasar Hukum Pemungutan Pajak.
1. Pasal 23 Undang Undang Dasar RI 1945
2. Undang Undang No. 16 Tahun 2000. Tentang ketentuan umum dan tata cara
perpajakan.
3. Undang Undang No. 17 Tahun 2000. Tentang pajak penghasilan
4. Undang Undang No. 18 Tahun 2000.tentang pajak pertambahan nilai barang
dan jasa dan pajak dan pajak penjualan atas barang mewah
5. Undang Undang No. 19 Tahun 2000. tentang Penagihan Pajak dengan surat
paksa
6. Undang Undang No. 28 Tahun 2007. Tentang ketentuan umum dan tata cara
perpajakan
7. Undang Undang No. 36 Tahun 2008. Tentang pajak penghasilan.

MPS dan MPO

Sistem ini diintrodusir melalui UU No. 8 Tahun 1967, juncto PP No. 11 Thn 1967.
MPS-MPO merupakan tatacara (sistem) dari pelaksanaan pemenuhan Pajak
Pendapatan, Pajak Perseroan, termasuk juga Pajak Kekayaan, dan bukan jenis
pajak baru. Dengan sistem ini WP diberi kepercayaan untuk Menghitung,
Menyetor, serta Melaporkan kewajiban pajaknya sendiri, selama tahun berjalan,
walaupun pada akhir tahun besarnya pajak terutang kembali ditetapkan oleh Fiskus
secara jabatan melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak Rampung, sehingga dapat
disebut sistem semi self-assessment.


Di lain pihak system MPO, adalah Menghitung, Memungut, Menyetor, dan
Melaporkan Pajak Orang lain, apabila berhubungan dengan pihak yang ditunjuk
oleh Kantor Pajak sebagai pemungut. Kepada yang kena pungut oleh pemungut
diberikan bukti pungutan yang dapat digunakan oleh yang bersangkutan sebagai
pengurang pajak terutang pada akhir tahun. Sistem MPS-MPO berjalan secara
paralel selama tahun berjalan, dan sistem inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya
sistem Self-Assessment pada saat sekarang.

Kedua tatacara pembayaran dan pemotongan akan menjadi kredit pajak
(pembayaran dimuka) pada akhir tahun pajak. Ekses yang terjadi dari pelaksanaan
sistem MPS-MPO dalam praktek, menjelmanya MPO menjadi jenis pajak
tersendiri, ini terlihat dari laporan penerimaan pajak yang dipublikasikan
Direktorat Jenderal Pajak di era tersebut, dengan mencantumkan besarnya
penerimaan MPO setiap tahun, di samping penerimaan Pajak Pendapatan, PPs, dan
Pajak Kekayaan, suatu hal menyimpang dari tujuan MPO sebagai salah satu sistem
mengangsur pajak terutang selama tahun berjalan.

Pelaksanaan Teknik Pemungutan MPS dan MPO

Pada tanggal 26 Agustus 1967 disahkan UU no. 8 Tahun 1967 tentang Perubahan
dalam Penyempurnaan Tata Cara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak
Kekayaan 1932, Pajak Perseroan 1925, dengan Tata Cara MPS dan MPO.
Penjelasan dari UU tersebut mengungkapkan dengan diundangkannya tata cara
MPO telah diciptakan suatu pelengkap tata cara MPS. Cara yang ditempuh adalah
setiap wajib pajak MPS berhadapan dengan orang/badan yang ditunjuk sebagai
wajib pungut akan dipungut lewat MPO. Dengan cara terserbut dibuka
kemungkinan lebih banyak untuk mengenakan pajak pendapatan dan lain
sebagainya. Pemungutan pajak dengan cara MPO pada prinsipnya akan
diperhitungkan dengan pajak pendapatan/pajak perseorangan yang terutang, jadi
merupakan pembayaran di muka.




Peraturan yang Melindungi Kepentingan Wajib Pajak dalam Peradilan

Dalam batas tertentu wajib pajak berhak untuk memajukan keberatan dan
permohonan banding terhadap suatu ketetapan pajak-rampung. Mengenai
peraturan itu dapat kita bedakan, antara lain:
1) Hal-hal yang pembetulannya diminta oleh wajib pajak yang bersangkutan
2) Hal-hal yang pembetulannya dilakukan ex-officio oleh Fiskus

Prof. Rochmat Soemitro menggunakan ketentuan sebagai contoh dari ketetapan
administrasi murni yang berati perbuatan hukum sepihak, yang dilakukan dalam
lapangan bestuur oleh suatu badan penguasa bedasarkan wewenangnya yang
khusus. Ketetapan pajak yang tidak benar dapat dibatalkan/dikurangi dengan dua
cara, yaitu:
1) Karena jabatan
Tanpa ada permintaan dapat diberi pengurangan /pembebasan atas pajak yang
salah
2) Atas permintaan wajib pajak

Fungsi dan Sifat Surat Ketetapan Pajak

Surat Ketetapan Pajak (SKP) merupakan suatu keputusan dari administrasi di mana
ditetapkan hubungan hukum antara pihak administrasi dan wajib pajak. Hubungan
ini menimbulkan hak dan kewajiban. Bila salah satu pihak menyatakan ketetapan
itu salah, maka timbul suatu perselisihan yang terjadi karena:
a. Sebab yang sudah nyata dan jelas:
i) Kesalahan tulis/hitung, baik yang merugikan maupun yang
menguntungkan wajib pajak
ii) Kekhilafan dalam peristiwa
iii) Terjadinya perubahan mengenai subjek/objek pajaknya
Hal ini menimbulkan ketetapan administrasi yang murni
b. Sebab yang belum jelas:
a) Karena Fiskus menyimpang dari surat pemberitahuan
b) Karena wajib pajak menyembunyikan objeknya yang mengakibatkan
tagihan susulan
Hal ini perlu dihadapkan di depan Hakim Doleansi.

Keragu-Raguan Pembedaan Hukum Pajak Material dan Formal

Diantara peraturan-peraturan yang terdapat dalam hukum pajak, ada sebagian yang
disangsikan, apakah ketentuan-ketentuan termasuk ke dalam material atau formal,
yaitu peraturan mengenai hal pembuktian.

Arti Pembedaan Hukum Pajak Material dan Formal

peraturan dari hukum formal adalah tidak akan pernah menimbulkan suatu utang
pajak, ini semata-mata ditentukan oleh hukum material. Sebaliknya, karena adanya
peraturan-peraturan formal tertentu, suatu pajak yang telah ditentukan oleh
peraturan material, pemungutannya tidak mungkin diselenggarakan.