Anda di halaman 1dari 6

Transfusi Darah pada Pembedahan

Berdasarkan sistem antigen telah dikenal lebih dari 20 golongan darah.


untuk kepentingan klinik hanya dikenal dua sistem penggolongan darah yaitu
sistem ABO dan sistem Rh. Sebagian besara pasien mempunyai sistem Rh+
(85%) dan sisanya (15%) sistem Rh-.

Tabel 1. Jenis golongan darah ABO
Jenis Antibodi Kekerapan
Golongan A
Golongan B
Golongan AB
Golongan O
Anti B
Anti A
-
Anti A, Anti B
45%
8%
4%
43%

Tabel 2. Volume darah
Usia ml/kgBB
Prematur
Cukup bulan
Anak kecil
Anak besar
Dewasa
Pria
Wanita
95
85
80
75-80

75
65


Kehilangan Darah
Pada bayi anak dengan kadar hemoglobin normal, kehilangan darah
sebanyak 10-15% volume darah, karena tidak memberatan kompensasi badan,
maka cukup diberi cairan kristaloid atau koloid, sedangkan diatas 15% perlu
transfusi darah, karena ada gangguan pengangkutan oksigen.
Sedangkan untuk orang dewasa dengan kadar Hb normal angka
patokannya adalah 20%. Kehilangan darah sampai 20% ada gangguan faktor
pembekuan. Cairan kristaloid (RL, asering) untuk mengisi ruang intravaskuler
diberikan sebanyak 3 kali lipat jumlah darah yang hilang, sedangkan koloid
diberikan dengan jumlah yang sama.

Indikasi transfusi darah
Transfusi darah umumnya >50 % diberikan pada saat perioperatif dengan
tujuan untuk menaikkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume
intravaskuler. Kalau hanya menaikkan volume intravaskuler saja cukup dengan
koloid tau kristaloid.
Indikasi :
1. Perdarahan akut sampai Hb < 8 gr% atau Ht <30%. pada orang tua,
kelainan paru, kelainan jantung Hb <10 gr/dl
2. Bedah mayor kehilangan darah >20 % volume darah

Darah simpan
Darah donor sebelum disimpan untuk diberikan pada resipien harus
dibebaskan dari berbagai macam penyakit yang mungkin dapat menulari
resipien seperti Hepatitis B atau C, sifilis, malaria, HIV-1 atau HIV-2, virus
human T-cell lymphotropic. Darah disimpan supaya awet dan tidak membeku
perlu disimpan dalam suatu tempat dengan suhu sekitar 1-6 derajat celsius
diberi pengawet. Umumnya digunakan pengawet campuran sitrat untuk
mengikat kalsium supaya tidak terjadi pembekuan, fosfat sebagai penyangga
(buffer), dekstrosa sebagai sumber energi sel darah merah, dan adenin
membantu resintesis adenosin trifosfat dan menjaga supaya 2,3 DPG tidak cepat
rusak.
Campuran ini dikenal dengan sebutan pengawet ACD (Acid citrate
dextrose), CPD (citrate phosphate dextrose) dan CPDA (citrate phosphate
dextrose adenine)

Jenis bahan transfusi
1. Darah lengkap (whole blood), segar (<48 jam), baru (<6 hari) dan biasa
(35 hari). Untuk perdarahan akut, syok hipovolemik, bedah mayor
perdarahan >1500 ml.
2. Plasma biasa dan plasma segar beku (FFP, fresh frozen plasma).
Diberikan setelah transfusi darah masif, setelah terapi warfarin dan
koagulopati pada penyakit hepar.
3. Pakced cells biasa dan cuci.
Satu unit berisi 240-340 ml dengan Ht 75-80% dan Hb 24 gr/dl. Untuk
menaikkan Hb 1 gr/dl diperlukan packed cells 4 ml/kg atau 1 unit dapat
menaikkan kadar Ht 3-5%. Packed cells digunakan pada perdarahan
lambat, anemia, atau kelainan jantung
4. Faktor pembekuan :
Trombosit mampat (thrombocyt concentrate)
Cryopricipitate-AHF
5. Komponen lain, misalnya buffycoat-granulocyt concentrate.

Transfusi darah masif
Perdarahan masif ialah perdarahan lebih dari sepertiga volume darah dalam
waktu <30 menit.
Definisi tentang transfusi darah masif :
1. Transfusi darah sebanyak >1-2 kali volume darah dalam waktu lebih dari 24
jam.
2. Transfusi darah lebih besar dari 50% volume darah dalam waktu singkat
(misal, 5 unit dalam 1 jam untuk berat 70 kg).

Komplikasi Transfusi Darah
1. Reaksi hemolitik
Kekerapan 1:6000 akibat dekstrusi eritrosit donor oleh antibodi resipien
dan sebaliknya. Jika jumlah transfusi <5% volume darah, reaksi tidak
begitu gawat. Pada pasien sadar ditandai oleh demam, menggigil, nyeri
dada-panggul dan mual. Pada pasien dalam anestesi ditandai oleh demam,
takikardi tak jelas asalnya, hipotensi, perdarahan merembes didaerah
operasi, syok, spasme bronkus dan selanjutnya Hb-uria, ikterus dan renal
shut down


2. Infeksi
Virus (Hepatitis, HIV-AIDS, CVM)
Bakteri (stafilokok, yesteria, citrobakter)
Parasit (malaria)
3. Lain-lain
demam, urtikaria, anafilaksis, edema paru non-kardial, purpura
intoksikasi sitrat, hiperkalemia, asidosis.

Penanggulangan reaksi transfusi
1. Stop transfusi
2. Naikkan tekanan darah dengan koloid, kristaloid, jika perlu tambah
vasokonstriktor, inotropik.
3. Berikan oksigen 100%
4. Diuretika manitol 50 mg atau furosemid (lasix) 10-20 mg
5. Antihistamin
6. Steroid dosis tinggi
7. Jika perlu exchange transfusion
8. Periksa analisa gas dan pH darah



DAFTAR PUSTAKA

Said A. Latief, dkk. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi Ed. Kedua. Jakarta:
Bagian anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia