Anda di halaman 1dari 3

Besar

Rangsangan
(dalam
Volt)

Reaksi
Gerakan
0,1 0,3 0,5 1 5 10 50 150
A TA A TA A TA A TA A TA A TA A TA A TA
Mukosa
satu sisi
- - - - - - - - - - - - - - - -
Mukosa
dua sisi
- - - - - - - - - - - - - + - +
Mukosa
dan bibir
satu sisi
- - - - - - - - - - - - - - - -
Mukosa
dan bibir
dua sisi
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot fasial
ipsilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot fasial
bilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot tangan
dan
punggung
ipsilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot tangan
dan
punggung
bilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot kaki
ipsilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Otot kaki
bilateral
- - - - - - - - - - - - - + - +
Menjerit - - - - - - - - - - - - - - - -

Keterangan : A = Sisi yang teranastesi TA = Sisi yang tidak teranastesi
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emsional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan
jaringan yang aktual atau potensial (Brunner & Suddarth, 2001). Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit
dan sub kutan, sehingga nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan
didefinisikan (Tamsuri, 2007). rangsangan diterima oleh reseptor nyeri, di ubah dalam bentuk impuls
yang di hantarkan ke pusat nyeri di korteks otak. Setelah di proses dipusat nyeri, impuls di kembalikan ke
perifer dalam bentuk persepsi nyeri.
Pada praktikum rasa nyeri kali ini, kami menggunakan tikus putih sebagai bahan percobaan dan
stimulator listrik. Tikus putih awalnya diberi injeksi anastesi lokal pehacain yang mengandung lidokain
dan vasokonstriktor. Pemberian anastesi lokal ini berfungsi untuk mengetahui hambatan rasa nyeri secara
lokal. Pada pemberian stimulasi 0,1 hingga 10 volt, tikus tidak memberi respon terhadap rangsangan yang
diberi.Perlu diketahui bahwai impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui dua sistem
Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut A bermielin halus bergaris tengah 2-5 m, dengan kecepatan
hantaran 6-30 m/detik. Sistem kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 m,
dengan kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik. (Guyton, 2007)
Serabut A berperan dalam menghantarkan "Nyeri cepat" dan menghasilkan persepsi nyeri yang
jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan serabut C menghantarkan "nyeri Lambat" dan menghasilkan
persepsi samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak. (Guyton, 2007)
Sehingga pada dua rangsangan terakhir kami memberi stimulan sebesar 50 dan 150 volt.
Hasilnya, pada rangsangan 50 volt, tikus memberi respon pada area ridak teranastesi meliputi, mukosa
dua sisi, mukosa dan bibir dua sisi, otot fasial ipsilateral, otot fasial bilateral, otot tangan dan punggung
ipsilateral, otot tangan dan punggung bilateral, otot kaki ipsilateral dan otot kaki bilateral, begitu pula
pada rangsangan 150 volt.
Pehacain sebagai derivat amida dari xilidide mempunyai onset of action, duration of action,
potensi, dan toksisitasnya mirip dengan lidokain. Pehacain bila dalam darah sudah mencapat tingkatan
tertentu, akan terjadi eksitasi yang dapat berakhir berupa konvulsi dan depresi respirasi. Hal ini dapat
terlihat dari reaksi gerakan pada mukosa bibir dan otot fasial pada tikus putih ketika diberi rangsangan 50
dan 150 volt.
Adapun banyak saraf dari alat viseral, rasa somatik dan saraf sensorik lainnya yang masuk pada
level yang sama pada lateral spinothalamic tract sehingga membentuk sinaps konvergen. Karena
penghantaran impuls dari perifer ke pusat melalui sinaps konvergen ini terjadi kesalahan interpretasi dari
pusat saraf tentang asal impuls tersebut. Nyeri yang timbul biasanya pada beberapa tempat yang kadang
jauh dari lokasi asal nyeri (Tamsuri, 2007) Sehingga muculnya respon pada otot tangan dan kaki baik
ispilateral dan bilateral tikus putih sesuai dengan teori yang ada.