Anda di halaman 1dari 8

1

Gangguan Pendengaran
Kelainan telinga dapat menyebabkan tuli konduktif atau tuli sensorineural.
Tuli konduktif disebabkan oleh kelainan yang terdapat di telinga luar atau telinga
tengah. Telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif ialah atresia liang telinga,
sumbatan oleh serumen, otitis eksterna, osteoma liang telinga.
Kelainan di telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif ialah sumbatan
tuba eustachius, otitis media, osteosklerosis, timpanosklerosis, hemotimpanum dan
dislokasi tulang pendengaran.
Tuli sensorineural dibagi dalam tuli sensorineural koklea dan retrokoklea. Tuli
sensorineural koklea disebabkan oleh aplasia, labirinitis, intioksikasi obat
streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal atau alkohol. Selain itu
juga dapat disebabkan oleh tuli mendadak, trauma kapitis, trauma akustik dan pajanan
bising.
Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut
pons serebelum, mieloma multipel, cedera otak, dan kelainan otak lainnya.
NIHL
Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) ialah
gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras
dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising
lingkungan kerja.
Sifat ketuliannya adalah tuli sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada
kedua telinga. Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara
audiologik bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi.
Bising yang intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan
pada reseptor pendengaran Corti di telinga dalam. Yang sering mengalam kerusakan
adalah alat Corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000 Hertz (Hz) sampai
dengan 6000 Hz dan yang terberat kerusakan alat Corti untuk reseptor bunyi yang
berfrekuensi 4000 Hz.
2

Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising
antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar
bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga (ototoksik) seperti
streptomycin, kanamisin, kina dan lain lain.
Klasifikasi
Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb:
a. Temporary Threshold Shift (TTS) = Noise-induced Temporary Threshold Shift =
auditory fatigue
non-patologis
bersifat sementara
waktu pemulihan bervariasi
reversible/ bisa kembali normal
Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat, daya dengarnya akan pulih
sempurna. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas
paparan atau istirahat 3-7 hari. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja
kembali terpapar bising semula, dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka
ketulian sementara akan bertambah setiap hari-kemudian menjadi ketulian
menetap. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu
sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. Sebelumnya tenaga kerja
dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam.
b. Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap
patologis
menetap
PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Ketulian ini disebut
tuli perseptif atau tuli sensorineural. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan
bertahap sebagai berikut :
Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga kerja mengeluh
telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.
3

Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten, sedangkan keluhan
subjektif lainnya menghilang. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan
sampai bertahun-tahun.
Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran
seperti tidak mendengar detak jam, tidak mendengar percakapan terutama
bila ada suara lain.
Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit
berkomunikasi. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan
tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang
cukup.
Epidemiologi dan Insidensi
Bising lingkungan kerja merupakan masalah utama pada kesehatan kerja di
berbagai negara. Sedikitnya 7 juta orang (35 % dari total populasi industri di Amerika
dan Eropa) terpajan bising 85 dB atau lebih. Ketulian yang terjadi dalam industri
menempati urutan pertama dalam daftar penyakit akibat kerja di Amerika dan Eropa.
Di Indonesia, survei yang dilakukan oleh Hendarmin dalam tahun yang sama
pada Manufacturing Plant Pertamina dan dua pabrik es di Jakarta mendapatkan hasil
terdapat gangguan pendengaran pada 50% jumlah karyawan disertai peningkatan
ambang dengar sementara sebesar 5-10 dB pada karyawan yang telah bekerja terus-
menerus selama 5-10 tahun.
Patogenesis dan Patofisiologi
Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel
rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan
adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan.
Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon
terhadap stimulasi.
4


Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih
banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena
adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan
oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam
dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel
rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus
pendengaran pada batang otak.

Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekwensi
bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa:
1. Adaptasi
5

Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh
kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena
suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.
2. Peningkatan ambang dengar sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan-lahan akan
kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa
jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang
pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz, tetapi bila
pemaparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara
akan menyebar pada frekwensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu
pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap
individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masing-masing
individu.
3. Peningkatan ambang dengar menetap
Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi
pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat
permanen, tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap
dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan
baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak
menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah
dilakukan pemeriksaan audiogram.
Gambaran Klinis
Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (speech
discrimination) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat
menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi
dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak
didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinnitus merupakan gejala
yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan
konsentrasi.
6

Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising (noise induced
hearing loss) adalah:
a. Bersifat sensorineural
b. Hampir selalu bilateral
c. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ). Derajat
ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB
d. Apabila paparan bising dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran
yang signifikan
e. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000
Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz
f. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan
6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun. Selain
pengaruh terhadap pendengaran, bising yang berlebihan juga mempunyai
pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara, gangguan
konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran
yang terjadi.

7

Di Indonesia, intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB
untuk waktu kerja 8 jam perhari, seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri
Tenaga Kerja no SE.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk
kebisingan di tempat kerja.
Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya
dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat
pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga (ear plugs), tutup telinga (ear muffs)
dan pelindung kepala (helmet).
Oleh karena itu tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat
menetap (irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan
berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu
dengar (ABD). Apabila pendengarannya telah sedimikian buruk, sehingga dengan
memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi adekuat, perlu dilakukan psikoterapi
supaya pasien dapat menerima keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training)
juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD
secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimic dan gerakan
anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Bila terjadi tuli total
bilateral dapat dipertimbangkan untuk pemasangan implan koklea (cochlea implant).
Pencegahan
Tujuan utama pencegahan untuk mencegah terjadinya NIHL yang disebabkan oleh
kebisingan di lingkungan kerja. Program ini terdiri dari 3 bagian:
1. Pengukuran pendengaran
Test pendengaran yang harus dilakukan dilakukan ada 2 macam, yaitu:
- Pengukuran pendengaran sebelum diterima berkerja
- Pengukuran pendengaran secara periodic
2. Pengendalian suara bising
Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
8

- Melindungi telinga para perkerja secara langsung dengan menggunakan alat
pelindung diri (APD) seperti memakai tutup telinga (ear muff), sumbat
telinga (ear plugs), dan pelindung kepala (helmet)
- Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan dengan cara:
o Memasang peredam suara
o Menempatkan suara bising (terutama dari mesin) didalam suatu
ruangan yang terpisah dari pekerja
3. Analisa bising
Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising, frekuensi
bising, lama dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. Alat
utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter.
Prognosis
Tuli akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya
menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan. Penggunaan alat
bantu dengar hanya sedikit manfaatnya bagi pasien, bahkan alat tersebut hanya
memberikan rangsangan fibrotaktil dan bukan perbaikan diskriminasi bicara pada
pasien tersebut. Untuk sebagian pasien dianjurkan pemakaian implant koklea.
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanationam : dubia
Quo ada functionam : dubia