Anda di halaman 1dari 9

PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

KETIDAKPASTIAN
HEISENBERG
FISIKA KUANTUM
1.
2.
3.
4.

KELOMPOK 1
BERKAT PANJAITAN
FAJRUL WAHDI GINTING
RAMEYANTI TAMPUBOLON
ROULI NATALINA PAKPAHAN

ASAS KETIDAKPASTIAN HEISENBERG


A. Ketidakpastian Heisenberg
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg merupakan salah satu konsep dasar dari Quantum Fisika,
dan merupakan dasar untuk realisasi awal ketidakpastian mendasar dalam kemampuan suatu
percobaan untuk mengukur lebih dari satu variabel kuantum pada suatu waktu. Mencoba untuk
mengukur posisi suatu partikel dasar untuk tingkat akurasi tertinggi, misalnya,

mengarah ke

meningkatnya ketidakpastian untuk dapat mengukur momentum partikel ke tingkat yang


samaakurasi yang tinggi.

Prinsip Heisenberg biasanya ditulis secara matematis dalam salah satu

dari dua bentuk:


E t h / 4

x p h / 4

Pada intinya ketidakpastian energi (E) kali ketidakpastian dalam waktu (t) Atau alternatif,
ketidakpastian dalam posisi (x) kali ketidakpastian dalam momentum (p) lebih besar atau sama
dengan suatu konstanta (h / 4). Konstanta h disebut Planck konstan (tempat h / 4 = 0,527 x 10 -34
Joule detik).
B. Rumusan Umum Ketidakpastian Heisenberg
Kenyataan bahwa sebuah partikel bergerak harus dipandang sebagai group gelombang de
Broglie dalam keadaan tertentu alih-alih sebagai suatu kuantitas yang terlokalisasi menimbulakan
batas dasar pada ketetapan pengukuran sifat partikel yang dapat diukur misalnya kedudukan
momentum.
Untuk menjelaskan faktor apa yang terlibat, marilah kita meninjau group gelombang dalam
gambar berikut

Gambar. Group Gelombang


Partikel yang bersesuaian dengan grup gelombang ini dapat diperoleh dalam selang grup tersebut
pada waktu tertentu. Tentu saja kerapatan peluang

maksimum pada tengah-tengah grup,

sehingga partikel tersebut mempunyai peluang terbesar untuk didapatkan di daerah tersebut.
Namun, kita tetap mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan partikel pada suatu tempat jika

tidak nol. Lebih sempit grup gelombang itu, lebih teliti kedudukan partikel itu dapat

ditentukan (Gambar a).

(a)

(b)
Gambar. (a) Group gelombang de Broglie terbatas. Posisi partikel dapat ditentukan secara tepat
tetapi panjang gelombangnya (karena momentum partikel) tidak dapat ditentukan. (b) Lebar group
gelombang. Kini panjang dapat ditentukan secara tepat tetapi bukan posisi partikel) tidak dapat
ditetapkan.
Namun, panjang gelombang pada paket yang sempit tidak terdefinisikan dengan baik; tidak cukup
banyak gelombang untuk menetapkan dengan tepat. Ini berarti bahwa karena

h
maka
mv

momentum mv bukan merupakan kuantitas yang dapat diukur secara tepat. Jika melakukan
sederetan pengukuran momentum, akan diperoleh momentum dengan kisaran yang cukup lebar.
Sebaliknya, grup gelombang yang lebar seperti pada gambar b memiliki panjang gelombang yang
terdefinisikan dengan baik. Momentum yang bersesuaian dengan panjang gelombang ini menjadi
kuantitas yang dapat ditentukan dengan teliti, dan sederetan pengukuran momentum akan
menghasilkan kisaran yang sempit. Akan tetapi di manakah kedudukan partikel tersebut? Lebar
grup gelombang tersebut menjadi terlalu besar untuk menentukan kedudukan pada suatu waktu.
Jadi kita sampai pada prinsip ketidakpastian : Tidak mungkin kita mengetahui keduanya yaitu
kedudukan dan momentum suatu benda secara seksama pada saat yang bersamaan. Prinsip ini
dikemukakan oleh Werner Heisenberg pada tahun 1927, dan merupakan salah satu hukum fisis yang
memegang peranan penting. Persoalan berikutnya adalah mencari suatu besaran yang mampu
menampung dan mempresentasikan sifat-sifat partikel sekaligus sifat-sifat gelombang. Dengan
demikian kuantitas tersebut harus bersifat sebagai gelombang tetapi tidak menyebar melainkan
terkurung di dalam ruang. Hal ini dipenuhi oleh paket gelombang yang merupakan kumpulan

gelombang dan terkurung dalam ruang tertentu. Analisis yang formal mendukung kesimpulan
tersebut dan membuat kita mampu untuk menyatakannya secara kuantitatif. Contoh yang paling
sederhana dari pembentukan grup gelombang, perhatikan kombinasi dari dua gelombang bidang
berikut :

1 x, t A cos 1 t k1 x
2 x, t A cos 2 t k 2 x
Prinsip super posisi memberikan :
x, t =

x, t 1 x, t 2 x, t
2
k k2
AR cos 1
t 1
x
2
2

Dengan amplitude AR
2
AR 2 A cos 1
2

k1 k 2
x
2

Dalam bentuk grafik

Gambar. Superposisi dua gelombang tunggal

Bila gelombang tunggalnya diperbanyak

Gambar. Superposisi dari n gelombang

Tampak dari gambar di atas bahwa paket gelombang terlokalisasi di daerah yang sebesar x dan
lokalisasi ini yang diharapkan sebagai posisi partikel klasik.

Gambar. Kemungkinan posisi partikel di daerah x


Setelah mendapatkan objek yang dapat menyatakan partikel sekaligus gelombang berikutnya harus
dicari perumusan matematisnya. Formalis mematematis untuk paket gelombang yang terlokalisasi
tersebut tidak lain adalah transformasi Fourier.
f ( x)

g ( k ) e ikx dk

Sebagai contoh, jika distribusi gelombang dengan vektor gelombang k, g(k), diberikan seperti
gambar.

Gambar. Distribusi g(k)

Maka distribusi gelombang di dalam ruang koordinat f(x),

ikx
g (k ) e dk

f (x) =

1
e ikx
iax

1 eiax / 2 e iax / 2
a x
i

2 sin a x / 2
ax

a / 2

a / 2

1 ikx
e dk
a

a/2
a / 2

Grafiknya :

Gambar. Transformasi Fourier dari g(k)


Dari uraian contoh dan gambar transformasi Fourier di atas, diperoleh hubungan antara x
dan k (atau p). Hubungan antara x dan k bergantung pada bentuk paket gelombang dan
bergantung pada k, x didefinisikan. Perkalian (x) (k) akan minimum jika paket gelombang
berbentuk fungsi Gaussian, dalam hal ini ternyata transformasi Fouriernya juga merupakan fungsi
Gaussian juga. Jika x dan k diambil deviasi standar dari fungsi (x) dan g(k), maka harga
minimum x k = . Karena pada umumnya paket gelombang tidak memiliki bentuk Gaussian
(bentuk lonceng), maka lebih realistis jika hubungan antara x dan k dinyatakan sebagai berikut :
X k

1
2

Panjang gelombang de Broglie untuk sebuah partikel bermomentum p adalah :

h
p

Bilangan gelombang yang bersesuaian dengannya adalah :


p

h k
2

Oleh karena itu, suatu ketidakpastian k dalam jumlah gelombang pada gelombang de Broglie
berhubungan dengan hasil-hasil partikel dalam suatu ketidakpastian p dalam momentum partikel
menurut Persamaan :
p

h k
2

Karena
x k

1
1
, k 2 x
2

x p

h
4

Dan
(prinsip ketidakpastian)

Persamaan ini menyatakan bahwa hasil kali ketidakpastian kedudukan benda x pada suatu
saat dan ketidakpastian komponen momentum dalam arah x yaitu p pada saat yang sama lebih
besar atau sama dengan h / 4. Kita tidak mungkin menentukan secara serentak kedudukan dan
momentum suatu benda. Jika diatur supaya x kecil yang bersesuaian dengan paket gelombang
yang sempit, maka p akan menjadi besar. Sebaliknya, p direduksi dengan suatu cara tertentu,
maka paket gelombangnya akan melebar dan x menjadi besar.
Ketidakpastian ini bukan ditimbulkan oleh alat yang kurang baik tetapi ditimbulkan oleh sifat
ketidakpastian alamiah dari kuantitas yang terkait. Setiap ketidakpastian instrumental atau statistik
hanya akan menambah besar hasil kali x p. Karena kita tidak mengetahui secara tepat apa
partikel itu atau bagaimana momentumnya, kita tidak dapat menyatakan apapun dengan pasti
bagaimana kedudukan partikel itu kelak dan seberapa cepat partikel tadi bergerak. Jadi, kita tidak
dapat mengetahui masa depan karena kita tidak mengetahui masa kini.
Kuantitas h/2 sering muncul dalam fisika modern, karena ternyata kuantitas itu merupakan
satuan dasar dari momentum sudut. Kuantitas ini sering disingkat dengan (baca ; h bar) :

h
1,05 x 10 34 J .s
2

Selanjutnya, dalam buku ini kita akan memakai sebagai pengganti h/2. Dinyatakan dalam ,
prinsip ketidakpastian menjadi :
x p

C. Perhitungan x p Untuk Berbagai Keadaan

Tetapan Planck berharga sangat kecil hanya 6,63 x 10-34 Js, sehingga pembatasan yang
ditimbulkan oleh prinsip ketidakpastian hanya penting dalam dunia atomik. Dalam skala ini, prinsip
ini sangat menolong untuk mengerti banyak gejala. Perlu diingat bahwa batas bawah /2 untuk
x p sangat jarang dicapai : biasanya x p ~ .
Bentuk lain dari prinsip ketidakpastian kadang-kadang berguna. Mungkin kita ingin
mengukur energi E yang dipancarkan pada suatu waktu selama selang waktu t dalam suatu proses
atomik. Jika energi berbentuk gelombang elektromagnetik, batas waktu yang tersedia membatasi
ketepatan kita menentukan frekuensi dari gelombang itu. Marilah kita anggap paket gelombang
itu sebagai satu gelombang. Karena frekuensi gelombang yang sedang dipelajari sama dengan
bilangan yang kita hitung dibagi dengan selang waktu, ketidakpastian frekuensi

dalam

pengukuran kita adalah :


1
t

Ketidakpastian energi yang bersesuaian ialah :


E h

Sehingga :
E

h
t

atau

E t h

Perhitungan yang lebih teliti berdasarkan sifat paket gelombang mengubah hasil tersebut menjadi :
E t

Contoh :
1.

Atom hidrogen berjari-jari 5,3 x 10-11 m. Gunakan prinsip ketidakpastian untuk memperkirakan
energi elektron yang dapat dimilikinya dalam atom itu.
Penyelesaian :
Di sini kita dapatkan untuk x = 5,3 x 10-11 m,
p

2 x

9,9 x 10-25 kg.m/s

Elektron yang momentumnya sebesar itu berperilaku sebagai partikel klasik, dan energi
kinetiknya adalah :
K

p2
2m

9,9 x 10 kg.m / s
2 x 9,1 x 10
kg

5,4 x 10-19 J

25

31

Yang sama dengan 3,4 eV, sebenarnya energi kinetik elektron pada tingkat energi terendah
dalam atom hidrogen adalah 13,6 eV.

2.

Sebuah elektron yang tereksitasi mengeluarkan kelebihan energinya dengan memancarkan


sebuah foton yang memiliki frekuensi karakteristik tertentu. Periode rata-rata yang berlangsung
antara eksitasi elektron dan saat memancarkannya adalah 10-8 s. Cari ketidakpastian energi dan
frekuensi foton itu.
Penyelesaian :
Energi foton tertentu dengan besar :

h
2 t

1,054 x 10 34 J .s
2 x 10 8 s

5,3 x 10-27 J

Ketidakpastian frekuensi cahaya diberikan dalam bentuk :

E
h

8 x 10 6 Hz