Anda di halaman 1dari 5

Pernikahan yang Dilarang Islam

1. Nikah Mut'ah
Yaitu suatu pernikahan yang dilaksanakan untuk jangka waktu tertentu, jika
waktu yang ditentukan sudah habis maka si wanita atau istri dinyatakan terlepas
dari ikatan pernikahannya dan dia berhak menerima mut'ah dari suaminya.
Padahal kita mengetahui pernikahan adalah suci, untuk mendapatkan
keturunan, membina rumah tangga yang baik dan berlangsung dalam waktu
yang tidak terbatas.

Pernah pada zaman nabi pernikahan ini diperbolehkan hal ini dikarenakan
kebiasaan orang pada zaman jahiliyyah untuk bersetubuh setiap hari. Dan pada
awal Islam pembolehan mut'ah dilakukan untuk memecahkan problematika
kedua golongan yakni: golongan yang lemah imannya dan kuat imannya. Dan
adapun pengharaman ini dilakukan secara bertahap yakni seperti pada
pengharaman khomar dan riba. Para sahabat mutlak mengharamkan nikah jenis
ini dan perbedaan ada pada diri sahabat Ibnu Abbas yang membolehkan
pernikahan ini dengan alasan dalam kondisi darurat. Akan tetapi Ibnu Abbas
kemudian mencabut fatwanya karena telah digampangkan oleh orang-orang
yang mengikuti fatwanya.

Telah diriwayatkan dari Sabrah al-Juhani radhiyal-laahu ‘anhu, ia berkata.

“Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami


untuk melakukan nikah mut’ah pada saat Fathul Makkah ketika memasuki kota
Makkah. Kemudian sebelum kami mening-galkan Makkah, beliau pun telah
melarang kami darinya (melakukan nikah mut’ah)”

Sebagaimana sabda nabi:

Artinya: "wahai sekalian manusia dulu pernah kuizinkan kepada kamu sekalian
perkawinan mut'ah tetapi ketahuilah sesungguhnya Allah telah
mengharamkannya sampai hari kiamat"

Beberapa golongan syah membenarkan tentang adanya perkawinan mut'ah ini.


Golongan syi'ah imamiyah membolehkan kawin mut'ah dengan syarat-syarat;
kalimat yang digunakan untuk perkawinan itu adalah zawwajtuka. ( Prof Dr.
Zakiah Darajat, Ilmu Fiqh jilid II,Dana Bhakti Waqaf, Yogyakarta,1995 )

2. Nikah Syighor
Yaitu suatu pernikahan yang dilakukan dengan cara tukar menukar anak
perempuannya untuk dijadikan istrinya masing-masing tanpa mas kawin, seperti
seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lain : "Nikahkanlah aku dengan
anakmu dan nanti aku nikahkan kamu dengan anakku" atau Atau berkata,
“Nikahkanlah aku dengan saudara perempuanmu, maka aku akan nikahkan
saudara perempuanku dengan dirimu”

Perkawinan tersebut dilarang sebagaimana sabda Rasul SAW:

Artinya:"sesungguhnya Rasulullah melarang perkawinan syighor".


Ada beberapa pendapat tentang sebab dilarangnya perkawinan jenis ini yakni:
a. sifat perkawinan ini menggantung.
b. kemaluan dijadikan milik bersama dan perempuan juga tidak
mendapat mas kawin .

3. Nikah Muhallil
Yaitu suatu perkawinan antara laki-laki dan wanita yang telah ditalak tiga oleh
suaminya dengan tujuan untuk menghalalkan kembali pernikahan antara wanita
dengan bekas suaminya setelah dia ditalak oleh suaminya yang kedua.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Kemudian jika ia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka


perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan suami yang
lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa
bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika
keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah
ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang
berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]

Dikatakan sebagai muhallil karena lelaki dianggap menghalalkan lagi bekas


suami yang dahulu agar bisa mengawini bekas istrinya yang sudah ditalak bain.
Sedang suami terdahulu yang kemudian melakukan perkawinan kepada bekas
istrinya yang telah ditalak tiga itu dinamamkan al muhallal lahu ( orang yang
yang dihalalkan untuknya) Sedang seorang lelaki yang pekerjaanya sebagai
muhallil sehingga ia terkenal karena itu, pekerjaannya itu haram. Demikian pula
orang yang menjadi muhallil dengan menerima upah, walau sekali saja menjadi
muhallil haram juga, bahkan juga dikutuk oleh Allah SWT dan rasulnya,
sebagaimana diriwayatkan Ibnu maas'ud :

Artinya: Rasulullah melaknati muhallil dan muhlallallah.

Menurut imam Syafi'I perkawinan muhalli ini sama saja dengan mut'ah, sebab
perkawinan muhallil disyaratkan sebagaimana perkawinan mut'ah disyaratkan.
Seolah wali si perempuan itu berkata kepada calon suami itu: kukawinkan dan
kunikahkan engkau dengan si……dengan syarat setelah engkau melakukan
hubungan seksual dengan prempuan itu engkau mencerainya, atau tidak ada
lagi perkawinan antara kamu dengan perempuan itu. Berarti terdapat
pembatasan waktu dalam perkawinan karena perkawinan itu tidak sah.

Sedangkan menurut imam hanafi: seorang lelaki yang mengawini seorang


perempuan yang sudah cerai tiga kali, dengan maksud agar perempuan tersebut
dapat dikawini oleh bekas suaminya, ia akan mendapat pahala apabila
tujuannya adalah mendamaikan bekas suami istri tersebut, tetapi perkawinan
tersebut akan menjadi makruh kalau tujuannya hanyalah untuk memenuhi nafsu
syahwat saja. Tetapi hukum perkawinan itu sah.

Menurt madazhab maliki perkawinan muhalli yang dimaksud menghalalkan


perempuan yang sudah ditalak tiga kali itu bisa dikawin oleh bekas suaminya
yang menceraikan tiga kali itu hukumnya fasid, batal dan wajib menceraikan
antara keduannya. Demikian pula apabila perkawinan itu disyaratkan untuk
menghalalkan perempuan bekas suaminya, baik syarat itu dikemukakan
sebelum akad atau ketika dalam akad perkawinan tersebut batal.

Sedangkan menurut imam hambali: perkawinan muhallil adalah batal dan


haram hukumnya yaitu ketika seorang wali mengawinkan perempuan kepada
seorang laki-laki dengan mengatakan: aku kawinkan anakku ….. sampai engkau
lakukan hubungan seksual dengannya atau dengan syarat bila anakku itu telah
engkau halalkan, tidak ada lagi ikatan perkawinan antara kamu dengan anakku
itu atau engkau harus menceraikannya apabila terjadi hubungan seksual antara
kamu dengan dia.

4. Nikah Badal
Suatu pernikahan dengan tukar menukar istri misalnya seorang yang telah
beristri menukarkan istrinya dengan istri orang lain dengan menambah sesuatu
sesuai dengan kesepakatan dengan kedua belah pihak.

5. Nikah Istibdlo'
Yakni suatu pernikahan dengan sifat sementara yang dilakukan oleh seorang
wanita yang sudah bersuami dan laki-laki lain dengan tujuan untuk
mendapatkan benih keturunan dari laki-laki tersebut, setelah diketahui jelas
kehamilannya dari laki-laki lain tersebut maka diambil oleh suami yang pertama
lagi.

6. Nikah Righoth
Yaitu suatu pernikahan yang dilakukan beberapa laki secara bergantian
menyetubuhi seorang wanita, setelah wanita tersebut hamil dan melahirkan
maka wanita tersebut menunjuk satu diantara laki-laki yang turut
menyetubuhinya untuk berlaku sebagai bapak dari anak yang dilahirkan
kemudian antara keduannya berlaku kehidupan pernikahan sebagai suami istri.

7. Nikah Baghoya.
Artinya pernikahan yang ditandai dengan adanya hubungan seksual antara
beberapa wanita tuna susila dengan beberapa laki-laki tuna susila, setelah
terjadi kehamilan diantara wanita tersebut maka dipanggilah seorang dokter
untuk menentukan satu diantara laki-laki tersebut sebagai bapaknya
berdasarkan tingkat kemiripan antara anak dengan laki-laki yang menghamili
ibu dari anak yang lahir tersebut.

8. Nikah dalam masa ‘iddah


Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa “
’iddahnya” [Al-Baqarah : 235]

9. Nikah dengan wanita kafir selain Yahudi dan Nasrani. Berdasarkan


firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Dan janganlah kaum nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka


beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada
perempuan musyrik meskipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan
orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka
beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada
laki-laki musyrik meskipun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka,
sedangkan Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah)
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil
pelajaran.” [Al-Baqarah : 221]

10.Nikah dengan wanita-wanita yang diharamkan karena senasab atau


hubungan kekeluargaan karena pernikahan
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak


perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan
ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari
saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu
yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu,
ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang
dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu
belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu
(jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu
(menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua
perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa' : 23]

11.Nikah dengan wanita yang haram dinikahi disebabkan sepersusuan,


berdasarkan ayat di atas.

12.Nikah yang menghimpun wanita dengan bibinya, baik dari pihak


ayahnya maupun dari pihak ibunya.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan bibinya (dari pihak
ayah), tidak juga antara wanita dengan bibinya (dari pihak ibu)”

13. Nikah pada saat melaksanakan ibadah ihram


Orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram tidak boleh menikah,
berdasarkan sabda Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau melamar”

14. Nikah dengan wanita yang masih bersuami


Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Artinya : dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami,
kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu)
sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang
demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan
untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara
mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai
suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu
telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [An-Nisaa' : 24]

15. Nikah dengan wanita pezina/pelacur