Anda di halaman 1dari 32

0

UPAYA KESEHATAN WAJIB


PUSKESMAS

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas sebelum dilakukan PBL
Dosen pembimbing: dr. Siti Amaliah, M.Kes




Disusun oleh :

Nuzulia Nimatina H2A010037


PROGRAM STUDI S1 KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2010/2011

1

BAB 1
PENDAHULUAN

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinak kesehatan kabupaten/kota
yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja.
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sebagai ujung tombak upaya
kesehatan (baik upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan
perorangan) juga dilakukan reformasi. Pembahasan selama 2 tahun lebih
menghasilkan kebijakan dasar puskesmas yang telah tertuang dalam SK Menteri
kesehatan nomor: 128/MENKES/SK/II/2004 tentang kebijakan dasar pusat
kesehatan masyarakat.
Untuk tercapainya visi pembangunan kesehtan melalui puskesmas yakni
terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesia sehat, puskesmas bertanggung
jawab menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika
ditinjau dari system kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai upaya kesehatan wajib
puskesmas.
2

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya
ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan
wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah
Indonesia.
Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
a. Upaya promosi kesehatan
b. Upaya kesehatan lingkungan
c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
d. Upaya perbaikan gizi masyarakat
e. Upaya pencegahan dan pemeberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan

A. UPAYA PROMOSI KESEHATAN
a) Pengertian promosi kesehatan
Promosi kesehatan suatu proses untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka.maupun upaya yang dilakukan terhadap
masyarakat. sehingga mereka mau dan mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Ottawa Charter ,1986).
Promosi kesehatan Suatu program perubahan perilaku
masyarakat yang menyeluruh dalam konteks masyarakatnya,
Bukan hanya perubahan perilakunya saja, tetapi juga terjadi
perubahan lingkungannya. (Victorian Health Fondation
Australia,1997).
3

b) Program Promosi Kesehatan (Promkes)
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM), Sosialisasi Program
Kesehatan, Survey Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Penilaian
Strata Posyandu
c) Perencanaan PKM di wilayah kerja puskesmas
[1]

1. Menentukan Tujuan Promosi Kesehatan
Pada dasarnya tujuan utama promosi kesehatan adalah untuk
mencapai 3 hal, yaitu :
a. Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat
b. Peningkatan perilaku masyarakat
c. Peningkatan status kesehatan masyarakat
Menurut Green (1990) tujuan promosi kesehatan terdiri dari 3
tingkatan, yaitu :
a. Tujuan Program
Merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai dalam
periode waktu tertentu yang berhubungan dengan status
kesehatan.
b. Tujuan Pendidikan
Merupakan deskripsi perilaku yang akan dicapai dapat
mengatasi masalah kesehatan yang ada.
c. Tujuan Perilaku
Merupakan pendidikan atau pembelajaran yang harus tercapai
(perilaku yang diinginkan). Oleh sebab itu, tujuan perilaku
berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.
2. Menentukan Sasaran Promosi Kesehatan
4

Di dalam promosi kesehatan yang dimaksud dengan sasaran
adalah kelompok sasaran, yaitu individu, kelompok maupun
keduanya.
3. Menentukan Isi/Materi Promosi Kesehatan
Isi promosi kesehatan harus dibuat sesederhana mungkin
sehingga mudah dipahami oleh sasaran. Bila perlu buat
menggunakan gambar dan bahasa setempat sehingga sasaran
mau melaksanakan isi pesan tersebut.
4. Menentukan Metode
Pengetahuan : penyuluhan langsung, pemasangan poster, spanduk,
penyebaran leaflet, dll
Sikap : memberikan contoh konkrit yang dapat menggugah emosi,
perasaan dan sikap sasaran, misalnya dengan memperlihatkan foto,
slide atau melalui pemutaran film/video.
Keterampilan : sasaran harus diberi kesempatan untuk mencoba
keterampilan tersebut. Pertimbangkan sumber dana & sumber
daya.
5. Menetapkan Media
Teori pendidikan : belajar yang paling mudah adalah dengan
menggunakan media.
Media yang dipilih harus bergantung pada jenis sasaran, tk
pendidikan, aspek yang ingin dicapai, metode yang digunakan dan
sumber daya yang ada.
6. Menyusun Rencana Evaluasi
5

Harus dijabarkan tentang kapan evaluasi akan dilaksanakan,
dimana akan dilaksanakan, kelompok sasaran yang mana akan
dievaluasi & siapa yang akan melaksanakan evaluasi tersebut
7. Menyusun Jadwal Pelaksanaan
Merupakan penjabaran dari waktu,tempat & pelaksanaan yang
biasanya disajikan dalam bentuk gan chart.

d) Hambatan-hambatan dalam penyelenggaraan promosi kesehatan
[2]

Penelitian tentang tujuan kesehatan selama tahun 1990-an (di
Amerika) memperlihatkan semakin pentingnya promosi kesehatan.
Kurangnya program promosi kesehatan tampaknya merupakan alasan
masih banyaknya hambatan yang muncul.
Menurut taylor (1991) hambatan dalam penyelenggaraan tersebut
diuraikan berikut ini:
1. Struktur dan sikap medical establishment.
Hal ini lebih mendorong menyembuhkan daripada mencegah,
akibatnya upaya pendidikan, pencegahan, dan promosi kesehatan
diabaikan. Lebih lanjut, kadang-kadang menemukan orang yang
berisiko memerlukan waktu serta biaya dan bagi seorang dokter
lebih mudah memberikan pengobatan kepada para pasien untuk
menurunkan tekanan darah daripada meyakinkan pasien untuk
berhenti merokok.
2. Hambatan individual.
Hal ini berkaitan dengan kebiasaan dan persepsi risiko. Kebiasaan
kesehatan yang dipelajari sejak kecil terkadang sulit diubah,
demikian juga persepsi.
3. Jaring koperasi dan perencanaan yang rumit.
Hal ini mencakup pelaku riset dan praktisi dari berbagai
disiplin ilmu yang berbeda, serta policy makers (pembuat
kebijakan) pada masing-masing tingkat.sebelum program dianggap
6

efektif, diperlukan studi, perencanaaan yang cermat, pelaksanaan,
dan penilaian, kemudian direncanakan kembali.
Terdapat jurang pemisah antara pengembangan teknologi
perubahan yang efektif dan penggunaan teknologi oleh pelaksana.
Hal ini berkaitan dengan penggunaan model, metode, dan media
yang sesuai. Pemberian contoh dalam menangani kesulitan
individu melalui diskusi empat mata atau kelompok kecil dapat
efektif menangani masalh emosional, tetapi tidak dapat diharapkan
berhasil mengubah perilaku kesehatan. Oleh sebab itu, perlu
dikembangkan intervensi yang tidak hanya efektif secara pribadi,
tetapi dipolakan untuk konsumsi massa.

B. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN
a) Kegiatan pokok upaya kesehatan lingkungan
Ada 5 (lima) upaya dasar kesehatan lingkungan yang sering dan
penting dilakukan yakni :
[3]

1. Penyehatan Sumber Air Bersih (SAB)
Kegiatan upaya penyehatan air meliputi : Surveilans kualitas air,
Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih, Pemeriksaan kualitas air,
Pembinaan kelompok pemakai air.
2. Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Pemeriksaan Rumah)
Sarana sanitasi dasar yang dipantau, meliputi jamban keluarga (Jaga),
saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan
sampah (TPS)
3. Penyehatan Tempat-tempat Umum (TTU)
Penyehatan Tempat-Tempat Umum meliputi hotel dan tempat
penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain,
7

sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan
tempat hiburan lainnya. Dilakukan upaya pembinaan institusi Rumah
Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran.
4. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM)
Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan
teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan dan
minuman, kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB keracunan,
kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.
5. Pemeriksaan Jentik Nyamuk
Bersama kader juru pengamatan jentik, petugas sanitasi puskesmas,
melakukan pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin
menjadi perindukan nyamuk dan tumbuhnya jentik. Kemudian
dihitung, berapa rumah penduduk yang mengalami bebas jentik.
Sesuai dengan masalah-masalah kesehatan lingkungan tersebut
maka program pada Pelita VI dalam tahap I(pertama) PJPT II adalah
meningkatkan mutu pelayanan kwalitas higiene dan sanitasi di puskesmas
meliputi :
1. Meningkatkan mutu Penyediaan Air Bersih ( PAB )
2. Meningkatkan mutu pembuangan kotoran
3. Sanitasi Tempat-tempat umum ( STTU )
4. Tempat Pembuatan dan Penjualan Makanan/minuman (TP2M)
5. Pengawasan vektor penyakit
6. Penyuluhan
7. Penyehatan Air
1. Inspeksi sanitasi sarana air bersih
2. Peminaan kelompok masyarakat / kelompok peamakai air
8. Hysiene dan Sanitasi makanan dan minuman
8

1. Inspeksi dan Snitasi tempat pengelolaan makanan dan
minuman ( non industri RT )
2. Pembinaan tempat pengelolaan makanan ( non Industri RT )
9. Penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga
1. Inspeksi Sanitasi ( IS ) rumah
10. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum dan industri
1. Inspeksi sanitasi tempat-tempat umum
2. Pemantaun berkala sanitasi tempat-tempat umum
3. Pengawasan sanitasi industri rumah tangga ( makanan dan
minuman )
11. Pengamanan tempat pengelolaan pestisida
1. Inspeksi sanitasi sarana pestisida
2. Pembinaan tempat pengelolaan pestisida
12. Klinik sanitasi puskesmas
1. Klinik sanitasi ( konseling )
2. Kunjungan rumah
13. Pengendalian vektor
Pengawasan tempat-tempat potensial perindukan vektor di
pemukiman penduduk sekitarnya
b) Program-program sanitasi dan kesehatan lingkungan
Pengawasan Kesehatan Lingkungan : SPAL (saluran pembuangan
air limbah), SAMIJAGA (sumber air minum-jamban keluarga).
Pemeriksaan Sanitasi : TTU (tempat-tempat umum), Institusi
Perkantoran, Survey Jentik Nyamuk (SJN).
c) SAMIJAGA
[4]

Kesehatan lingkungan pemukiman ditingkatkan melalui
pengawasan : kualitas air bersih dan air minum, jamban keluarga,
tempat pembuangan sampah sementara dan akhir, tempat-tempat
umum serta penyediaan berbagai sarana sanitasi lingkungan
pemukiman sebagai stimulan. Peningkatan kualitas lingkungan
9

dilakukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman,
perumahan dan bangunan yang memenuhi syarat kesehatan sehingga
masyarakat dapat hidup sehat dan produktif serta terhindar dari
penyakit yang ditularkan melalui atau disebabkan oleh lingkungan
yang tidak sehat (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Kesehatan lingkungan di negara-negara yang sedang berkembang
berkisar pada sanitasi (jamban), penyediaan air minum, perumahan,
pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah (air kotor)
(Notoatmodjo 2000 : 147).
Di Indonesia, penduduk pedesaan yang menggunakan air bersih
baru mencapai 67,3%. Dari angka tersebut hanya separuhnya (51,4%)
yang memenuhi syarat bakteriologis. Sedangkan penduduk yang
menggunakan jamban sehat (WC) hanya 54%. Itulah sebabnya
penyakit diare sebagai salah satu penyakit yang ditularkan melalui air
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan angka
kesakitan 374 per 1000 penduduk. Selain itu diare merupakan
penyebab kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta
nomor 5 bagi semua umur (Tahun 2007)

C. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KELUARGA
BERENCANA
Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan program kesehatan ibu anak
(bayi) dan Pelayanan Medik KB meliputi beberapa fase antara lain :
Masa janin dalam kandungan, masa menyusui dan masa balita. Dari
ruang lingkup ini dapat diketahui bahwa Program Kesehatan Ibu Anak
(bayi) dan Pelayanan Medik KB untuk mendukung meningkatnya
derajat kesehatan masyrakat yang optimal.
Selama kurun waktu tahun 2009 telah dilaksanakan berbagai upaya
kegiatan untuk mendukung Visi dan Misi Program Kesehatan Ibu Anak
(bayi) dan Pelayanan Medik KB, untuk mengetahui sejauh mana dampak
10

dari kegiatan yang telah dilaksanakan, maka dapat diukur dengan
menggunakan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
a) Kegiatan pokok pelayanan KIA/KB
Pengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan
meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan
efisien. Pemantapan pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada
kegiatan pokok sebagai berikut:
1. Peningkatan pelayanan antenatal bagi seluruh ibu hamil di semua
pelayanan kesehatan dengan mutu sesuai standar serta menjangkau
seluruh sasaran
2. Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
diarahkan ke fasilitas kesehatan.
3. Peningkatan pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan anak
balita di semua pelayanan kesehatan yang bermutu dan sesuai
standar serta menjangkau seluruh sasaran.
4. Peningkatan deteksi dini risiko/komplikasi kebidanan dan bayi
baru lahir oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.
5. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
secara adekuat dan pengamatan secara terus-menerus oleh tenaga
kesehatan.
6. Peningkatan pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak
balita sesuai standar dan menjangkau seluruh sasaran.
7. Peningkatan pelayanan KB berkualitas.
8. Peningkatan deteksi dini tanda bahaya dan penanganannya sesuai
standar pada bayi baru lahir, bayi dan anak balita.
9. Peningkatan penanganan bayi baru lahir dengan komplikasi sesuai
standar
b) Program-program KIA/KB
11

Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ANC (Antenatal
Care), PNC (Post Natal Care), Pertolongan Persalinan, Rujukan
Ibu Hamil Risiko Tinggi, Pelayanan Neonatus, Kemitraan Dukun
Bersalin, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Program Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana
(KB) Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), Imunisasi
Calon Pengantin (TT Catin), Pelayanan KB Pasangan Usia Subur
(PUS), Penyuluhan KB.

c) Hambatan pelayanan KIA/KB
Dalam Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan Ibu
Anak (bayi) dan Pelayanan Medik KB ada beberapa masalah dan
hambatan yang ada adalah sebagai berikut:
1. Masih rendahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor di
tingkat kecamatan
2. Masih rendahnya partisipasi masyarakat untuk berkunjung ke
posyandu dalam rangka pemantauan pertumbuhan balita
3. Pendanaan yang sangat minim terutama APBD
4. Rendahnya Kegiatan penyuluhan kepada masyarakat / ibu hamil
5. Masih adanya Kematian bayi dan Ibu

d) administrasi kegiatan upaya KIA/KB (logistik, sasaran, cakupan, target
kegiatan)
1) Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4
[5]

Ibu hamil K-4 adalah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan
antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi
pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali
pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan.
12

Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4 adalah cakupan Ibu hamil yang
telah memperoleh pelayanan antenatal 4 kali sesuai dengan stndar di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
2) Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Bidan atau Tenaga
Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan
[5]

Pertolongan persalinan adalah persentase ibu bersalin di suatu
wilayah dalam kurun waktu tertentu yang mendapatkan pelayanan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Kompetensi
kebidanan adalah keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dalam
bidang pelayanan kebidanan (Dokter dan Bidan).
3) Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk
[5]

Risti/Komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang
secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Risti/komplikasi kebidanan meliputi: (Hb < 8 g%, Tekanan darah
tinggi (sistole > 140 mmHg, Diastole > 90 mmHg, Oedema nyata,
eklamsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, Letak lintang pada
usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi
berat/sepsis, persalinan prematur.
Bumil Risti / komplikasi yang dirujuk adalah Bumil Risti /
Komplikasi yang ditemukan untuk mendapat pertolongan pertama dan
rujukan oleh tenaga kesehatan.
4) Bumil risiko tinggi yang ditangani
[5]

Ibu Hamil Risti adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang
secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Risti meliputi Anemia (Hb<8gr%), Tekanan darah tinggi ( sistole > 140
mmHg, Diastole >90 mmHg), Oedema nyata, eklampsia, perdarahan
pervaginam, ketuban pecah dini, Letak lintang pada usia kehamilan > 32
13

minggu, Letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis,
persalinan prematur.
Ibu Hamil Risti yang tertangani adalah Ibu hamil Risti yang
mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
Bumil resiko tinggi yang tertangani adalah Ibu hamil resiko tinggi
di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai
dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas Perawatan dan
Rumah Sakit pemerintah / swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK
(Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan
Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).
5) Bumil komplikasi yang tertangani
[5]

Ibu hamil Komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal,
yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun
bayi. Komplikasi Kebidanan meliputi Anemia (Hb<8 gr %), Tekanan
darah tinggi ( sistole > 140 mmHg, Diastole >90 mmHg), Oedema nyata,
eklampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, Letak lintang pada
usia kehamilan > 32 minggu, Letak sungsang pada primigravida, infeksi
berat/sepsis, persalinan prematur.
Ibu Hamil Komplikasi yang tertangani adalah Ibu hamil Risti yang
mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
Bumil komplikasi yang tertangani adalah Ibu hamil komplikasi
disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai
dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas Perawatan dan
Rumah Sakit pemerintah / swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK
(Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan
Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).
6) Cakupan peserta KB aktif
[5]

14

Peserta KB Aktif (CU) adalah akseptor yang pada saat ini memakai
kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri
kesuburan.
Cakupan Peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah
peserta KB aktif (CU) dengan Pasangan Usia Subur (PUS).
Cakupan Peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan
kontrasepsi di antara para Pasangan Usia Subur (PUS).
7) Cakupan Kunjungan Neonatus
[5]

Cakupan Kunjungan Neonatus (KN) adalah pelayanan kesehatan
kepada bayi umur 0-28 hari di sarana pelayanan kesehatan maupun
pelayanan melalui kunjungan rumah.
Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar
(tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan
ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan
pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; Manajemen Terpadu Bayi
Muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah
menggunakan Buku KIA.
Setiap neonatus memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali yaitu 1
kali pada umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari.
Cakupan Kunjungan Neonatus adalah cakupan neonatus yang
memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh Dokter,
Bidan, Perawat yang memilki kompetensi klinis kesehatan neonatal, paling
sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
8) Cakupan Kunjungan Bayi
[5]

Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 1-
12 bulan di sarana pelayanan kesehatan maupun di rumah, posyandu,
15

tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya, melalui kunjungan
petugas.
Pelayanan kesehatan tersebut meliputi deteksi dini kelainan
tumbuh kembang bayi (DDTK), stimulasi perkembangan bayi, MTBM,
manajemen terpadu balita sakit (MTBS), dan penyuluhan perawatan
kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA yang diberikan oleh
dokter, bidan dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan
bayi.
Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali
pada umur 1-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9
bulan dan 1 kali pada umur 9-12 bulan.
Cakupan Kunjungan Bayi adalah cakupan bayi yang memperoleh
pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh Dokter, Bidan, Perawat
yang memiliki kompetensi klinis kesehatan bayi, paling sedikit 4 kali, di
satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
9) Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR yang Ditangani
[5]

Cakupan bayi berat lahir rendah adalah cakupan bayi dengan berat
lahir kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan
24 jam pertama setelah lahir.
Penanganan BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar
(tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan
ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, talipusat, kulit, dan
pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu bayi
muda (MTBM); penanganan penyulit/komplikasi/masalah pada BBLR dan
penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA.
Setiap BBLR memperoleh pelayanan kesehatan yang diberikan di
sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui kunjungan rumah
16

oleh Dokter, Bidan dan Perawat yang memiliki kompetensi klinis
kesehatan neonatal dan penanganan BBLR.
10) Neonatus risti/ komplikasi yang tertangani
[5]

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai usia 28 hari
Neonatus Risti / komplikasi adalah neonatus dengan penyimpangan
dari normal yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian. Neonatus
meliputi : Asfiksia, Tetanus Neonatorum, Sepsis, Trauma Lahir, BBLR (
Berat Badan Lahir < 2500 gram ), Sindroma gangguan pernapasan dan
kelainan congenital.
Neonatus risti / komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti /
komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih
Neonatus risti/ komplikasi yang tertangani adalah cakupan neonatus
resiko tinggi / komplikasi disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di
Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit pemerintah/swasta.
Neonatus risti/ komplikasi yang tertangani adalah cakupan neonatus
resiko tinggi / komplikasi disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di
Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit pemerintah/swasta.
e) peran PLKB dan bidan di desa dalam kegiatan KIA/KB serta
hambatan-hambatannya
Peran PLKB/PKB
PLKB/PKB merupakan Petugas KB di barisan terdepan dan sangat
dekat dengan keluarga sebagai sasaran program KB. Mereka merupakan
ujung tombak yang handal di lini lapangan baik dalam
17

merangkul/mengajak akseptor baru maupun dalam membina kelestarian
ber-KB.
Dalam pemberdayaan dan pendayagunaan PLKB/PKB demi
keberlangsungan program KB di era Otonomi Daerah BKKBN telah
melakukan berbagai upaya dalam pemberdayaan PLKB/PKB antara lain:
Melakukan advokasi ke berbagai pihak baik di Pusat maupun di daerah
tentang pentingnya peran PLKB/PKB dalam keberlangsungan program
KB di daerah; Melakukan pendekatan dengan Menpan dan BKN agar
sebagian formasi PNS untuk masa mendatang bisa dialokasikan secara
eksplisit untuk PKB; Melakukan advokasi kepada Pemerintah
Kabupaten/kota untuk menambah jumlah tenaga PLKB/PKB dari staf
instansi lain, untuk diangkat dalam jabatan Penyuluh KB; Mengupayakan
dukungan dana operasional baik dari APBN maupun APBD; Dibidang
keahlian, mengupayakan peningkatan kemampuan melalui kegiatan
orientasi/refresing bagi tenaga PLKB/PKB yang lama, LDU (Latihan
Dasar Umum) bagi calon PKB yang baru dan pengembangan program PJJ
(Pendidikan Jarak Jauh); Melakukan Pembinaan seperti penyediaan buku
pedoman PKB dan angka kreditnya, temu PLKB regional/nasional,
pemilihan PLKB/PKB terbaik dll; Mendorong segera terealisasinya
peningkatan besarnya Tunjangan Jabatan Fungsional PKB sesuai Perpres
No.57 tahun 2006; dan Penyediaan sarana kerja seperti KIE Kit,
perlengkapan PLKB/PKB dan lain-lain.
[6]

Peran Bidan Sebagai Pengelola
[7]

Mengembangkan pelayanan kebidanan untuk individu,
keluarga,kelompok khusus dan masyarakat di wilayah kerja dengan
melibatkan masyarakat / klien.
Mengelola kegiatan - kegiatan pelayanan kesehatan khususnya
KIA dan KB bersama tim kesehatan, kader dan tokoh masyarakat.
18

Mengawasi dan membimbing kader, dukun bayi dan petugas
kesehatanlain dalam pelaksanaan program KIA dan KB.
Menggerakan dan mengembangkan PSM dengan memanfaatkan
potensi yang ada di masyarakat.
Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan praktik
profesional melalui pendidikan, pelatihan, magang.
Berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan
sektor lain di wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan
dukun, kader kesehatan dan tenaga kesehatan lain yang berada di
bawah bimbingannya.
Bekerjasama dengan puskesmas dan institusi lain sebagai anggota
tim.
Membina hibungan baik dengan dukun, kader kesehatan / PLKB
dan masyarakat.
Memberikan askeb kepada klien rujukan dari dukun bayi.
Membina kegiatan - kegiatan yang ada di masyarakat.
Peran Bidan Sebagai Pendidik
[7]

Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat khususnya yang berhubungan
dengan KIA dan KB.
Melatih dan membimbing kader dan dukun bayi termasuk mahasiswa
kebidanan dan keperawatan di wilayah / tempat kerjanya.
Hambatan-hambatan
Masalah yang paling lazim terjadi ketika dilakukan penerapan
manajemen dalam pengembangan program kesehatan ibu dan anak
(KIA) adalah kemampuan dari para promotor yang terlibat untuk
menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten ke dalam
19

keseluruhan proses. Selain itu kemampuan sasaran yang rendah dalam
menangkap pesan yang dikirimkan pada proses komunikasi akan
menghambat pelaksanaan program dari tahap yang satu ke tahap
selanjutnya.
[8]

D. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
a) Kegiatan upaya perbaikan gizi masyarakat
[9]

Khusus untuk program perbaikan gizi masyarakat secara umum
ditujukan untuk meningkatkan kemampuan, kesadaran dan keinginan
masyarakat dalam mewujudkan kesehatan yang optimal khususnya
pada bidang gizi, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang
berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota.
Kegiatan pokok Departemen Kesehatan dalam
menginplementasikan Perbaikan Gizi Masyarakat meliputi,
peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein
(KEP), anemia gizi besi, Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY),
kurang Vitamin A, dan kekurangan zat gizi lebih, peningkatan
surveillance gizi, dan pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian
keluarga sadar gizi (Perpres, 2007).
Adapun sasaran pokok program Perbaikan Gizi Masyarakat yakni :
Menurunnya Prevalensi kurang gizi pada balita, terlaksananya
penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi,
Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), kurang Vitamin A, gizi
lebih, dan meningkatkan jumlah keluarga yang sadar akan gizi
(Depkes RI, 2004).
Dalam pelaksanaan kegiatan ini Departemen Kesehatan melakukan
beberapa kegiatan meliputi: Penimbangan bulanan anak balita dengan
20

menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), pendidikan gizi dan
kesehatan bagi ibu-ibu dari anak-anak balita tersebut pada saat ke
posyandu atau sebelum dan sesudah dilakukannnya posyiandu,
demonstrasi memasak makanan yang memenuhi pensyaratan gizi yang
baik atau anak balita, terutama yang menderita gizi buruk, dan
pemberian paket pertolongan gizi untuk mereka yang memerlukan,
yang terdiri dari pemberian vitamin A dosis tinggi kepada anak balita,
tablet besi, garam beryodium dan garam oralit (Depkes RI, 2004).

b) Pelaksanaan upaya pelayanan terpadu
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan
intelektual berkembang pesat. Masa ini merupakan masa keemasan atau
golden period dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan keindraan,
berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan
awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk
mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuh dan rangsangan
pengembangan otak. Dilain pihak upaya deteksi dini gangguan
pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat
penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin dan atau mencegah gangguan
ke arah yang lebih berat.
[10]

Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan
terhadap anak yang berumur 12 - 59 bulan yang sesuai dengan standar
oleh tenaga kesehatan, ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat dan
petugas sektor lain, yang meliputi:
a. Pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan yang tercatat dalam
Buku KIA/KMS, dan pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang (SDIDTK) serta mendapat Vitamin A 2 kali dalam
setahun Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak
balita setiap bulan yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat
21

badan tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau berat badan anak
balita di bawah garis merah harus dirujuk ke sarana pelayanan
kesehatan.
b. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik
kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2
kali pertahun (setiap 6 bulan). Pelayanan SDIDTK diberikan di dalam
gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung.
c. Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) diberikan pada anak
balita minimal 2 kali pertahun.
d. Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita.
[10]


Sistem kerja posyandu balita menggunakan system 5 meja:
o Meja 1 : Pendaftaran dilakukan oleh kader (Untuk balita yang
belum pernah ikut posyandu di daerah tersebut harus mendaftar
terlebih dahulu.)
o Meja 2 : Penimbangan bayi dan anak balita dilakukan oleh kader.
o Meja 3 : Pengisian KMS ( Kartu Menuju Sehat ) dilakukan oleh
kader
o Meja 4 : Penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita.
o Meja 5 : Pelayanan imunisasi, untuk vitamin warna merah
diberikan kepada balita Usia 1 tahun-5 tahun. Sedangkan kapsul
biru diberikan pada bayi usia 6 -11 Bulan. Serta diberikan
pemberian makanan tambahan untuk bayi dan balita.

E. UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR
a) Pengertian
Pemberantasan penyakit menular adaalah upaya untuk menurunkan
dan mengurangi angka keakitan dan angka kematian akibat penyakit
menular yang banyak menyerang bayi, anak-anak, ibu, dan angkatan kerja.
22

Secara epidemiologis pemberantasan penyakit menular harus
memperhatikan faktor-faktor: host, agent, environment dan time, place,
person, sehingga upaya pemberantasan harus dapat memutuskan mata
rantai penularan penyakit.

b) Tujuan
Menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah akibat
buruk lebih lanjut dari penyakit.
Mengendalikan penyakit yang telah dapat dikendalikan

c) Kegiatan Pokok
Surveilens epidemiologi, meliputi pengamatan penyakit menular,
pemantauan wilayah setempat, pengamatan vektor dan pemeriksaan
laboratorium.
Pengobatan penderita, baik yang bersifat pencegahan atau
penyembuhan dalam rangka memutuskan rantai penularan.
Pemberantasan vektor secara mekanis, kimiawi dan biologi.
Imunisasi untuk mencegah penyakit: TB paru, difteria, pertusis,
tetanus, campak, polio, dan hepatitis B.
Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) dan wabah penyakit
seperti: diare, malaria, demam berdarah, rabies, dll.

d) Pelaksanaan Kegiatan
Surveilans Epidemiologi
Pengumpulan dan anlisa data penyakit dilakukan secara terus menerus
sehingga dapat diambil tindakan. Agar dapat efektif maka data yang
dikumpulkan harus lengkap dan mutahir. Data tersebut dapat diperoleh
Puskesmas dari sumber-sumber sebagai berikut:
1. Penderita yang datang ke Puskesmas.
2. Laporan kematian dari desa dan kecamatan.
3. Laporan dari petugas lapangan atau bidan desa.
23

4. Laporan dari lurah/kepala desa, pamong desa, kader dn masyarakat bila
sekonyong-konyong ad penduduk yang menderita sakit atau meninggal
lebih banyak dari biasanya.
5. Rekapitulasi dan tabulasi dari laporan bulnan data kesakitan.
Pengobatan penderita
Pengobatan terhadap penderita penyakit menular harus dilakukan
secepatnya agar penyakit tidak sempat menular secara luas. Pengobatan
yang cepat dan tepat bukan hanya dapat menyembuhkan saja,tetapi dapat
mencegah menularnya penyakit yang berarti memutuskan mata rantai
penularan.
Pemberantasan Vektor Penyakit
Dilakukan dengan cara :
1. Mekanis : pemasangan kelambu pada rumah rumah yang berada di
daerah endemis penyakit malaria atau daerah yang sering mengalami
ledakan penyakit DHF.Pemasangan kawat kasa atau plastik strimin
(biasanya untuk membuat kritik) pada lubang angin di dinding rumah
setidaknya dapat mengurangi jumlah nyamuk yang masuk ke dalam
rumah.
2. Kimiawi : Penyemprotan rumah rumah dengan racun serangga dapat
dilakukan secara swadaya masyarakat atau menunggu bila dari dinkes
melakukan penyemprotan.
3. Biologis : Penebaran ikan kepala timah atau jenis lain yang senang
memakan jentik jentik pada kolam kolam tempat genangan air bila
tidak dimanfaatkan harus dikeringkan.

e) Penanggulangan KLB dan Wabah Penyakit
Dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut :
1. Laporan penyakit menular dan kematian dikelompokkan per daerah
(dusun dan desa). Daerah yang menunjukan kenaikan yang
mencolok harus segera diadakan pemeriksaan lapangan untuk
mengetahui kebenarannya.
24

Apabila data dalam laporan memang benar,harus ditentukan
luasnya masalah (jumlah penderita,jumlah Kematian dan jumlah
penduduk yang terancam )
2. Pengambilan sampel material untuk keperluan pemeriksaan
laboratorium sesuai dengan penyakitnya misalnya darah,rectal
swab,air,contoh makanan dan minuman,dahak dan materi lain yang
sesuai (menurut kebutuhan).
3. Melacak orang yang berkontak dengan penderita (Foreward
Contact Traccing),dengan cara memeriksa keluarga
penderita,tetangga,orang orang yang melayat untuk mengetahui
luas penularan.
4. Melacak orang orang yang berkontak dengan penderita sebelum
penderita sakit (backward contact traccing)untu mencari sumber
penularan.
5. Tindakan pertama untuk menekan penjalaran diperlukan untuk
membatasi,mencegah dan memberantas penyebar luasan penyakit
menular sesuai dengan kemampuan,sampai diterimannya intruksi
Dinkes/Kandepkes atau datangnya tim gerak cepat yang ditugasi
untuk keperluan tersebut.
6. Penyuluhan kesehatan dalam penanggulangan KLB atau wabah
dititik beratkan pada gerakan untuk menanggulangi penyakit
misalnya :
a. Gerakan Pemberantasan sarang nyamuk
b. Gerakan Kebersihan Lingkungan
c. Gerakan Imunisasi masal
d. Gerakan Penemuan penderita demam (Mass Fever Survey)

F. UPAYA PENGOBATAN
a) Program Pengobatan :
25

Pengobatan Dalam Gedung : Poli Umum, Poli Gigi (Rawat Jalan),
Apotek,, Unit Gawat Darurat (UGD), Perawatan Penyakit (Rawat
Inap), Pertolongan Persalinan (Kebidanan).
Pengobatan Luar Gedung : Rujukan Kasus, Pelayanan Puskesmas
Keliling (Puskel).
b) Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO), kriteria pemakaian obat
(pengobatan) rasional, antara lain :
1. Sesuai dengan Indikasi Penyakit Pengobatan didasarkan atas
keluhan individual dan hasil pemeriksaan fisik yang akurat
2. Diberikan dengan Dosis yang Tepat Pemberian obat
memperhitungkan umur, berat badan dan kronologis penyakit
3. Cara Pemberian dengan Interval Waktu Pemberian yang Tepat
Jarak minum obat sesuai dengan aturan pemakaian yang telah
ditentukan
4. Lama Pemberian yang Tepat Pada kasus tertentu memerlukan
pemberian obat dalam jangka waktu tertentu
5. Obat yang Diberikan Harus Efektif, dengan Mutu Terjamin
Hindari pemberian obat yang kedaluarsa dan tidak sesuai dengan jenis
keluhan penyakit
6. Tersedia Setiap Saat dengan Harga yang Terjangkau Jenis obat
mudah didapatkan dengan harganya relatif murah
7. Meminimalkan Efek Samping dan Alergi Obat Beri informasi
standar tentang kemungkinan efek samping obat dan cara
mengatasinya
c) Petugas Gudang Obat
26

Tugas pokok : mengelola obat-obat yang ada di Puskesmas.
Fungsi:
Membantu dokter atau Kepala Puskesmas dalam pengelolaan obat
di Puskesmas
Mempersiapkan pengadaan obat di Puskesmas
Mengatur penyimpanan obat
Mengatur administrasi obat dan mengatur distribusi obat
Menyediakan obat untuk Puskesling, Pustu, dan Poliklinik
Kesehatan Desa (PKD)
Melakukan pencatatan dan laporan
Mengatur dan menjaga kerapihan, kebersihan dan pencahayaan
dalam obat
d) Catatan medik (family folder)
1) Pengobatan
Sumber data Kartu Status yang telah terisi identitas pasien
27

Data yang dicatat
o Diagnosis (hasil
pemeriksaan
dokter)
o Pengobatan
o Kasus Baru
o Kasus Lama
Out put
*Register Rawat Jalan*
o Tanggal
o No Indeks
o No RM
o Nama pasien
o Alamat pasien
o Pengobatan
o Gol umur
o Diagnosis
o Pengobatan
o Tindakan
o Imunisasi
o Laboratorium
o Rujukan dari
o Rujukan ke
o Cara Pembayaran

*Rekapitulasi data kesakitan*
Nama Penyakit
Golongan umur
Kasus Baru
Kasus Lama
Jml luar wilayah
Total kunjungan
2) LB_1 = data kesakitan
[5]

Out put
o Kode Puskesmas
o Puskesmas
o Kode Pelapor
o Kecamatan
o Kab/Kota
o Provinsi
o Bulan
o Tahun
o Panggung jawab
o Pimp. Puskesmas
o Jenis Penyakit
o Kode ICD
o Gol umur
o Jumlah penyakit/umur

3) LB_2 dan LPLPO
[5]

Out put
28

o Identitas
Puskesmas
o Nama obat
o Satuan
o Kemasan
o Stok awal
o Penerimaan
o Persediaan
o Pemakaian
o Sisa stok
o Stok optimum
yang ditetapkan
GFK
o Permintaan
o Pemberian

Ketersediaan Obat sesuai Kebutuhan
[5]

RKO adalah Rencana Kebutuhan Obat.
LPLPO adalah laporan pemakaian dan lembar permintaan obat
Puskesmas/pustu;
Kebutuhan Obat Nyata adalah kebutuhan yang dihitung oleh tim
perencana obat terpadu Kab/Kota.
Obat Pelayanan Kesehatan Dasar adalah obat yang disediakan oleh
Dinas Kesehatan Kab/Kota, dengan kategori obat : Sangat Sangat
Esensial, Sangat Esensial, dan Esensial.
a) Pengadaan Obat Esensial
Obat esensial adalah obat yang paling banyak diperlukan oleh
suatu populasi dan ditetapkan oleh para ahli yang kemudian dibakukan
dalam daftar Obat Esensial Nasional.
[5]

b) Pengadaan Obat Generik
Obat Generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan
dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
[5]

c) Ketersediaan Narkotika, Psikotropika sesuai kebutuhan
pelayanan kesehatan (100%)
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis, maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan peurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
29

mengurangi smpai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan sebagaimana
terlampir dalam undang-uandang yang kemudian ditetapkan dalam
keputusan menteri kesehatan.
Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika yang berkasiat psiko aktif melalui pengaruh selektif pada
susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas
mental dan perilaku.
Ketersediaan narkotika dan psikotropika untuk pelayanan dasar
di unit pengelola obat dan perbekalan kesehatan kabupaten/kot di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
[5]

30

BAB 3
PENUTUP

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinak kesehatan kabupaten/kota
yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja.
Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya
ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan
wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah
Indonesia.
Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
a) Upaya promosi kesehatan
b) Upaya kesehatan lingkungan
c) Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
d) Upaya perbaikan gizi masyarakat
e) Upaya pencegahan dan pemeberantasan penyakit menular
f) Upaya pengobatan


31

DAFTAR PUSTAKA

1. Promosi Kesehatan. Diunduh dari:
http://www.docstoc.com/docs/22446454/PROMOSI-KESEHATAN.
2. Maulana, Heri D.J. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.
3. 5 Upaya Dasar Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas. Diuduh dari:
http://www.puskel.com/5-upaya-dasar-program-kesehatan-lingkungan-di-
puskesmas/
4. http://inggadjputra.blogspot.com/2008/09/bab-i-pendahuluan.html
5. Sistem Informasi Puskesmas (SPM Kesehatan, SK Gub No 71/2004
SP2TP Dinkes Jateng, 2000). Pembekalan dari dr. Siti Amaliah, M.Kes.
6. PLKB/PKB Motor Penggerak Program KB di Lini Lapangan. Diunduh dari:
http://www.gemari.or.id/artikel/2487.shtml
7. Peran, Fungsi dan Kompetensi Bidan. Diunduh dari:
http://akubidan.com/index.php?p=elearning&mod=yes&aksi=lihat&id=5
8. Peran Manajemen dalam Pengembangan Program Promkes. Diunduh dari:
http://muhammadidris1970.wordpress.com/2010/04/23/peran-manajemen-
dalam-pengembangan-program-promkes/
9. Evaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat dalam mencapai visi
misi indonesia sehat 2010 di kota kendari tahun 2010. Diunduh dari:
http://syair79.wordpress.com/2010/07/05/evaluasi-pelaksanaan-program-
perbaikan-gizi-masyarakat-dalam-mencapai-visi-misi-indonesia-sehat-2010-
di-kota-kendari-tahun-2010/
10. Mengelola program KIA/KB di wilayah. Diunduh dari:
http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2010/02/mengelola-program-kiakb-
di-wilayah.html