Anda di halaman 1dari 19

Metode Geolistrik

Metode Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan


dalam eksplorasi dangkal. Metode ini dilakukan dengan mengukur tahanan jenis
material yang ada di dalam permukaan bumi. Tahanan jenis atau disebut dengan
resistivitas merupakan besaran yang digunakan untuk mengukur tingkat hambatan
material terhadap kuat arus listrik. Nilai resistivitas ini berbanding terbalik dengan
konduktivitas listrik. Metode Geolistrik dilakukan dengan menginjeksikan arus listrik
ke dalam tanah kemudian mengukur besaran tegangan dan kuat arus yang digunakan
untuk menghitung resistivitasnya (workshop geofisika, 2008 : 35).
Dengan adanya aliran arus listrik tersebut akan menimbulkan tegangan listrik
di dalam tanah. Tegangan listrik yang ada di permukaan tanah diukur dengan
menggunakan multimeter yang terhubung melalui 2 buah elektroda tegangan M dan
N dimana jaraknya lebih pendek dari pada jarak elektroda AB. Ketika jarak elektroda
AB diubah menjadi lebih besar maka akan menyebabkan tegangan listrik yang terjadi
pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis batuan yang ikut
terinjeksi arus listrik pada kedalaman yang lebih dalam. Asumsinya bahwa
kedalaman lapisan batuan yang bisa ditembus oleh arus listrik ini sama dengan
separuh dari jarak AB atau lebih dikenal dengan AB/2, sehingga dapat diperkirakan
pengaruh dari injeksi aliran arus listrik ini akan berbentuk setengah bola dengan jari-
jari bola AB/2. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak
elektroda tertentu, dapat ditentukan variasi harga hambatan jenis masing-masing
lapisan di bawah titik ukur. Pendeteksian diatas permukaan meliputi pengukuran
medan potensial, arus dan elektromagnetik yang terjadi secara alamiah maupun akibat
penginjeksian arus ke dalam bumi. Dalam penelitian ini dikhususkan pada metode
geolistrik tahanan jenis (resistivitas).

Metode Geolistrik Tahanan Jenis
Metode resistivitas merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat
resistivitas dari lapisan batuan di dalam bumi. Prinsip metode resistivitas adalah
dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi melalui kontak dua elektroda arus,
kemudian diukur distribusi potensial yang dihasilkan. Resistivitas batuan bawah
permukaan dapat dihitung dengan mengetahui besar arus yang dipancarkan melalui
elektroda tersebut dan besar potensial yang dihasilkan. Untuk mengetahui struktur
bawah permukaan yang lebih dalam, maka jarak masing-masing elektroda arus dan
elektroda potensial ditambah secara bertahap. Semakin besar jarak eletroda arus maka
efek penembusan arus kebawah semakin dalam, sehingga batuan yang lebih dalam
akan dapat diketahui sifat-sifat fisisnya.
Melalui pengukuran dengan metode geolistrik resistivitas dapat diketahui
keadaan lapisan geologi bawah permukaan seperti lapisan akuifer yang didalamnya
tersusun oleh batuan dengan porisitas dan permeabilitas yang tinggidengan
menggunakan tahanan jenis batuan. Besarnya tahanan jenis diukur dengan
mengalirkan arus listrik dan memperlakukan lapisan batuan sebagai media
penghantar arus. Resistivitas yang dihasilkan bukanlah nilai sebenarnya, melainkan
resistivitas semu. Semakin besar tingkat resistivitas, maka semakin sukar untuk
menghantarkan arus listrik dan bersifat isolator, begitu pula sebaliknya. Oleh karena
itu resistivitas berbanding terbalik dengan konduktivitas atau daya hantar listrik.
Metode resistivitas ini sering digunakan untuk pendugaan lapisan bawah tanah karena
cukup sederhana dan murah, walaupun jangkauan
kedalamannya tidak terlalu dalam, tetapi itu sudah mencapai target yang diinginkan
untuk eksplorasi air bawah tanah (Sosrodarsono,1993).
Dalam pengukuran geolistrik, resistansi yang terukur tidak dapat digunakan
untuk memperkirakan jenis lapisan batuan karena hasil pengukuran tersebut masih
tergantung dari faktor geometri. Oleh karena itu, harus dilakukan pengolahan data
geolistrik untuk mengetahui nilai resistivitas tiap lapisan batuan (Robinson, 1988).

Rumus Dasar Listrik
Metode geolistrik resistivitas bekerja karena pengukuran beda potensial pada
titik-titik di permukaan bumi yang diproduksi dengan langsung mengalirkan arus ke
bawah permukaan. Hal ini bermanfaat untuk menentukan distribusi resistivitas di
bawah permukaan dan kemudian digunakan untuk interpretasi material-material yang
ada di dalam bumi. Oleh karena kita bekerja dengan hambatan, aliran arus, dan
potensial, kita perlu meninjau ulang secara singkat konsep dasar kelistrikan.

Gambar 2. Rangkaian listrik sederhana (Burger, 1992)

Gambar di atas mengilustrasikan sebuah rangkaian listrik dasar yang di dalamnya
terdapat baterai, kabel penghubung dan sebuah resistor. Baterai mengatur beda
potensial diantara dua titik (kutub positif dan kutub negatif). Baterai dengan demikian
berfungsi sebagai sebuah sumber gaya gerak listrik (GGL) di dalam perpindahan
muatan melewati rangkaian, seperti halnya ketika memompa air melewati saluran
pipa. Kaidah yang dipakai disini adalah untuk menentukan aliran arus sebagai
perpindahan muatan positif. Untuk menyempurnakan aliran ini baterai harus
memindahkan muatan positif dari sebuah potensial rendah di kutub negatif menuju
potensial tinggi di kutub positif. Gaya yang bekerja dalam perubahan potensial
membutuhkan sebuah gaya yang dinamakan gaya elektromotif atau emf
(electromotive force), yang satuannya berupa volt (V)
Perpindahan dari muatan-muatan yang melewati kabel penghubung per satuan
waktu dinamakan arus. Secara matematis,

Atau

Dimana (i) adalah arus dalam ampere, adalah muatan dalam coulomb, dan adalah
waktu dalam detik.
Konsep lain yang sangat penting di dalam survei geolistrik resistivitas adalah
rapat arus j. Rapat arus didefinisikan sebagai arus yang melewati suatu penampang
lintang per satuan luas, hal tersebut mengikuti,

Jelas bahwa kuantitas arus yang sama, dan melewati luas penampang lintang yang
berbeda akan menghasilkan rapat arus yang berbeda. Adalah fisikawan Jerman
George Simon Ohm, yang pertama kali memperkenalkan hubungan antara kuat arus,
tegangan dan hambatan listrik melalui hukumnya yang mengatakan bahwa arus (i)
adalah berbanding lurus terhadap tegangan (V) dan berbanding terbalik terhadap
hambatan (R), atau

Pada prinsipnya, karena material geologi bervariasi, maka diduga mempunyai
beragam pula hambatan untuk mengalirkan arus. Variasi hambatan dapat diketahui
melalui pengukuran secara langsung terhadap arus dan tegangan. Pendekatan lain
bahwa hambatan bukan hanya dipengaruhi oleh jenis materialnya, tetapi juga
dipengaruhi oleh dimensinya.

Gambar 2.8 Dua buah resistor dengan panjang dan area penampang lintang yang
berbeda (Burger, 1992)

Gambar di atas menunjukkan dua buah resistor dengan panjang yang berbeda
dan penampang lintang area yang berbeda pula. Jika diibaratkan bahwa dua resistor
tersebut disusun oleh material yang sama, ternyata dengan tidak sengaja mereka
mempunyai nilai hambatan yang berbeda dalam mengahantarkan arus. Mengingat
bahwa arus adalah perpindahan muatan per satuan waktu, maka aliran arus bisa
dianalogikan sebagai aliran air. Bayangkan bahwa sebuah pipa terbuka di salah satu
bagiannya diberikan kerikil. Pompa air akan memberikan tekanan yang berbeda di
dalam pipa terbuka tersebut, dan menyebabkan aliran air yang berbeda pula. Kerikil
menyebabkan sebuah hambatan pada aliran air menuju keluaran pipa. Jika kita
membuat aliran pada pipa yang sama, tetapi memperbanyak isian kerikil pada
pipanya, hambatannya akan meningkat dan ratarata aliran airnya berkurang. Jika kita
meningkatkan diameter, hambatannya akan berkurang dan air akan benyak keluar.
Sifat ini meyakinkan kita bahwa hambatan dari resistor sebagaimana yang
diilustrasikan pada gambar di atas bergantung pada panjang kolom pipa dan juga
material dasar yang menyusunnya, yang kita namakan resistivitas dan dinotasikan
dalam . Sehingga kita dapat menyebutkan bahwa

Atau

Satuan dari resistivitas adalah hambatan dikalikan panjang yang dinotasikan dalam
ohm meter. Resistivitas merpakan kebalikan dari konduktivitas, begitu juga
sebaliknya (Burger, 1992). Aliran arus listrik di dalam batuan dan mineral dapat
digolongkan menjadi tiga macam, besarnya dipengaruhi oleh porositas batuan dan
juga dipengaruhi oleh jumlah air yang terperangkap dalam pori-pori batuan, yaitu
konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolit, dan konduksi secara dielektrik
(Telford, 1982).
1. Konduksi Secara Elektronik
Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai banyak elektronvbebas
sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan atau mineral oleh
elektronelektronbbebas tersbut. Aliran listrik ini juga dipengaruhi oleh sifat
ataubkarakteristk masing-masing batuan yang dilewatinya. Salah satu sifat
ataubkarakteristik batuan tersebut adalah resistivitas (tahanan jenis).
2. Konduksi secara elektrolit
Sebagian besar batuan merupakan konduktor yang buruk dan memiliki resistivitas
yang sangat tinggi. Batuan biasanya bersifat porus dan memiliki pori-pori yang
terisi oleh fluida, terutama air. Batuan-batuan tersebut menjadi konduktor
elektrolit, dimana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik dalam air.
Konduktivitas dan resistivitas batuan porus bergantung pada volume dan susunan
pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan
bertambah banyak, dan sebaliknya resistivitas akan semakin besar jika kandungan
air dalam batuan berkurang.
3. Konduksi Secara Dielektrik
Konduksi pada batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran listrik,
artinya batuan atau mineral tersebut mempunyai elektron bebas sedikit, bahkan
tidak ada sama sekali. Tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar
maka elektron dalam bahan berpindah dan berkumpul terpisah dari inti, sehingga
terjadi polarisasi. Peristiwa ini tergantung pada konduksi dielektrik masing-
masing batuan yang bersangkutan, contoh: mika.

Aliran Listrik di Dalam Bumi
Elektroda Berarus Tunggal di dalam Bumi
Sebuah elektroda berdimensi kecil diinjeksikan dalam medium homogeny
isotropik. Lintasan arus mengalir melalui elektrode lain, biasanya terdapat pada
permukaan, tetapi dalam kasus lain pengaruh ini tidaklah sangat berarti (Telford,
1990: 633-637). Dalam sistem simetri, potensial adalah fungsi r, dimana r adalah
jarak dari elektrode pertama. Berdasarkan persamaan Laplace pada koordinat bola,
dinyatakan

Dengan mengalikan persamaan di atas dengan r
2
dan mengintegralkannya, maka
diperoleh

Dan diintegralkan lagi diperoleh

Dimana A dan B adalah konstan, jika V=0 ketika r , maka diperoleh B=0. Arus
mengalir secara radial keluar ke semua arah dari titik elektroda. Arus total yang
melintas pada permukaan bola diberikan oleh persamaan

Dari peresamaan dan

diperoleh

maka
(

atau

(2.11)
Pada bidang equipotensial, disetiap ortogonal pada garis aliran arus, akan menjadi
permukaan bola dengan r = konstan. Diilustrasikan pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.5 Titik permukaan sumber arus yang terinjeksi pada tanah homogen
(Telford, 1990: 523)

Elektrode Berarus Tunggal di Permukaan Bumi
Jika titik elektroda yang didalamnya mengalir I ampere yang diletakkan pada
permukaan medium homogen isotropik dan jika udara di atas memiliki konduktivitas
0 (nol), maka sistem tiga titik yang digunakan dalam tampilan resistivitas permukaan.
Selanjutnya elektroda arus kembali pada jarak yang besar. Kondisi batas yang agak
berbeda dari kasus terdahulu, walaupun B = 0 sama dengan sebelumnya saat V = 0
r= dalam penambahannya

= 0 pada z=0 (saat


udara
= 0) (Telford, 1990: 633-
637).
(2.12)
mengingat bahwa r
2
x
2
y
2
z
2
Pada semua arus yang mengalir melalui
permukaan setengah bola pada

medium yang lebih rendah, atau


sehingga ditulis (

atau

Potensial yang sama pada


permukaan setengah bola di dalam tanah dapat ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 2.6 Sumber titik arus pada permukaan sebuah medium homogen
(Telford, 1990: 524)

Dua Arus Elektroda di Permukaan Bumi
Saat jarak di antara dua arus elektroda terbatas, seperti pada gambar di bawah
ini, potensial yang dekat pada titik permukaan akan dipengaruhi oleh kedua arus
elektroda tersebut

Gambar 2.7 Dua elektroda arus dan dua elektroda potensial pada permukaan
tanah homogen isotropik pada resisitivitas (Telford, 1990: 524)

Sama dengan sebelumnya, potensial yang disebabkan C1 pada P1 adalah

dimana

(2.14)
Sama halnya potensial yang disebabkan C2 pada P1 adalah

dimana



(2.15)
(karena arus pada dua elektrode sama dan berlawanan arah) sehingga diperoleh
(2.16)
Setelah diketahui potensial elektrode yang kedua pada P2 sehingga dapat mengukur
perbedaan potensial antara P1 dan P2 maka akan terjadi
(2.17)
Dimana :
V = beda potensial: P1dan P2
I = kuat arus
= tahanan jenis
r
1
,r
2
, r
3
, r
4
= parameter konfigurasi seperti gambar diatas
Hubungan yang tersusun pada empat elektroda yang menyebar secara normal
digunakan dalam resisitivitas medan gaya. Pada konfigurasi ini garis aliran arus dan
bidang equipotensial yang berubah bentuk disebabkan oleh dekatnya elektroda arus
yang kedua C2. Potensial yang sama diperoleh melalui hubungan
(2.16)
Ditunjukkan pada gambar di bawah ini dengan garis arus orthogonal. Perubahan
bentuk dari equipotensial terbukti dalam wilayah diantara arus elektroda.

Gambar 2.8 Perubahan bentuk pada bidang equipotensial dan garis aliran arus
untuk dua titik sumber arus pada permukaan tanah homogen a) sisi
horizontal b) sisi vertikal c) menempatkan variasi potensial pada
permukaan sepanjang garis lurus yang melewati titik sumber (Telford,
1990: 525).

2.1 Resistivitas Batuan
Dari semua sifat fisika batuan dan mineral, resistivitas memperlihatkan nilai
yang sangat variatif. Pada mineral-mineral logam, harganya berkisar pada 10
5
m,
batuan seperti gabbro dengan harga berkisar pada 10
7
m. Begitu juga pada batuan-
batuan lain, dengan komposisi yang bermacam-macam akan menghasilkan range
resistivitas yang bervariasi pula. Sehingga range resistivitas maksimum yang
mungkin adalah dari 1,6 x 10
8
(perak asli) hingga 10
16
m (belerang murni)
(Sulistyowati, 2009: 20).
Konduktor biasanya didefinisikan sebagai bahan yang memiliki resistivitas
kurang dari 10
-5
m, sedangkan isolator memiliki resistivitas lebih dari 10
7
m. Dan
di ntara keduanya adalah bahan semikonduktor. Di dalam konduktor berisi banyak
elektron bebas dengan mobilitas yang sangat tinggi. Sedangkan pada semikonduktor,
jumlah elektron bebasnya lebih sedikit. Isolator dicirikan oleh ikatan ionik sehingga
elektron-elektron valensi tidak bebas bergerak (Telford, 1990).
Secara umum batuan dan mineral dapat dikelompokkan menjadi tiga
berdasarkan nilai hambatan jenisnya yaitu:
1. Konduktor baik, yaitu dengan nilai resistivitas antara 10
-8
< < 1 m
2. Konduktor pertengahan, yaitu dengan nilai resistivitas antara 1 < < 10
7
m
3. Isolator, yaitu dengan nilai resistivitas antara > 10
7
m (Telford, 1982: 42).

Tabel 2.5 Variasi resisitivitas batuan adan material bumi
No Bahan Resistivitas (cm)
1 Udara (di muka bumi) 2 x 10 - 5 x 10
2 Air
Destilasi 2 x 10
Permukaan 3 x 10 - 10
Tambang 4 x 10 - 6 x 104
Laut 21
3 Tembaga
Murni 1.7 x 10
-6

Bijih 0.1
4 Besi
Murni 10
-5

Meteorit 3 x 10
-4

5 Mineral
Kalsit 5.5 x 10
15

Galena 0.001 - 0.25
Magnetic 0.008 - 0.5
Pirit 0.002 9
Kwarsa 4 x 10
12

Batu garam 10
4
10
7

Belerang 10
14
10
17

6 Batuan
Granit 5 x 10
5
10
9

Gabro 10
5
10
8

Gneis 2 x 10
7
10
9

Skis 10
3
- 3 x 10
9

Batu gamping 6 x 10
3
- 3 x 10
5

Batu pasir 102 10
5

Serpih 2 x 10
3
10
5

Lempung dan tanah 1 x 10
2
10
6

(Telford 1982: 453)

Tabel 2.6 Nilai resistivitas Batuan
No Jenis Material Resistivitas (m)
1 Air Permukaan 80 200
2 Air Tanah 30 100
3 Lapisan Silt-Lempung 10 200
4 Lapisan pasir 100 600
5 Lapisan pasir dan kerikil 100 1000
6 Batu Lumpur 20 200
7 Batu Pasir 50 500
8 Konglomerat 100 500
9 Tufa 20 200
10 Kelompok Andesit 100 2000
11 Kelompok Granit 1000 10000
12 Kelompok Chart, Slate 200 2000
(Suyono, 1999)

Tabel2.7 Nilai resistivitas batuan
No Jenis Batuan Reistivitas (m)
1 Gambut dan lempung 8 50
2 Lempung pasiran dan lapisan kerikil 40 250
3 Pasir dan kerikil jenuh 40 100
4 Pasir dan kerikil kering 100 3000
5 Batu lempung, napal dan serpih 8 100
6 Batu pasir dan batu kapur 100 4000
(Verhoef, 1994)

Tabel 2.8 Resistivitas batuan beku dan batuan matamorf
No Batuan Resistivitas (m)
1 Granit 3 x 102 106
2 Granit porphyry 4.5 x 103 (basah) 1.3 x 106 (kering)
3 Feldspar porphyry 4 x 10
3
(basah)
4 Albit 3x10
2
(basah) - 3.3 x 10
3
(kering)
5 Syenite 10
2
-10
6

6 Diorit 10
4
-10
5

7 Diorite porphyry 1.9 x 10
3
(basah) 2.8 x 10
4
(kering)
8 Porphyrite 10 -5 x10
4
(basah) 3.3 x 10
3
(kering)
9 carbonatized porphyry 2.5x10
3
(basah) - 6 x 10
4
(kering)
10 Quartz porphyry 3x10
2
- 3x10
5

11 Quartz Diorite 2 x 10
4
- 2x 10
6
(basah) - 1.8x 10
5
(kering)
12 Porphyry (variasi) 60 x 10
4

13 Dacite 2 x 10
4
(basah)
14 Andesit 4.5 x 1015
4
(basah) 1.7 x 10
2
(kering16)
15 Diabase porphyry 10
3
(basah) - 171.7x 10
5
(kering)
16 Diabase (variasi) 20-5 x 10
7

17 Lava 10
2
- 5 x 10
4

18 Gabbro 10
3
-10
6

19 Bassalt 10 1.3 x 10
7

20 Olivine norite 10
3
-6x10
4
(basah)
21 Peridotite 3x10
3
(basah) - 6.5x10
3
(kering)
22 Hornsfels 8x 10
3
(basah) 6x10
7
(kering)
23 Schist 20 10
4

24 Tults 2 x 10
3
(basah) - 10
5
(kering)
25 Grafit Schists 10 10
2

26 Slate (variasi) 6 x 10
2
4 x10
7

27 Gneiss (variasi) 6.8 x 10
4
(basah) - 3 x 10
6
(kering)
28 Marmer 10
2
- 2.5 x 10
8
(kering)
29 Skarn 2.5 x 10
2
(basah) - 2.5 x 10
8
(kering)
30 kwarsit (variasi) 10 2 x 10
8

(Telford, 1990)

Tabel 2.9 Resistivitas batuan sedimen
No Batuan Resistivitas (m)
1 Serpihan gabungan (Consolidated shales) 20 2 x 103
2 Konglomerat 10 8 x 102
3 Konglomerat 2 x 103 104
4 Batu gamping 50 107
5 Dolomit 3.5 x 102 5 x 103
6 Lempung basah tidak gabungan 20
7 Marls 3 -70
8 Lempung 1 100
9 Alluvium dan pasir 10 800
10 Oil sands 4 800
(Telford, 1990)

Konfigurasi Elektrode Metode Wenner
Konfigurasi Wenner merupakan konfigurasi yang membutuhkkan tempat
yang sangat luas. Konfigurasi ini tersusun atas dua elektroda arus dan dua elektroda
potensial. Elektroda potensial ditempatkan pada bagian dalam dan elektroda arus
pada bagian luar, dengan jarak antar elektroda sebesar a. Pengukuran dilakukan
dengan memindahkan semua elektroda secara bersamaan ke arah luar dengan jarak a
selalu sama (AM = MN = AB). Konfigurasi ini digunakan dalam pengambilan data
secara lateral atau mapping. Faktor geometris K untuk konfigurasi ini sebesar 2a ,
sehingga besar resistivitas semu
(2.18)
(Tim Penyusun, 2008: 36)

Gambar 2.13 Konfigurasi Wenner
Metode Resistivitas Sounding
Metode ini dipakai jika ingin mendapatkan distribusi tahanan jenis listrik
bumi terhadap kedalaman dibawah suatu titik di permukaan bumi. Dalam metode ini
spasi elektroda dengan titik pengukuran diperbesar secara berangsur-angsur (lihat
gambar 2.13). Bila spasinya semakin besar maka efek material yang lebih dalam akan
tampak. Metode ini sering dipakai untuk menentukan ketebalan lapisan-lapisan
bawah permukaan, struktur tahanan jenis dari lapisan-lapisan sedimen dan penentuan
batuan dasar.
arah pelebaran arah pelebaran

C1 P1 P2 C2


a a a
titik pusat permukaan bumi

1 2 3 4 5 6
Gambar 3.2 Perpindahan spasi elektroda konfigurasi Wenner-sounding

Perpindahan elektroda (C
1
,C
2
,P
1
,P
2
) secara bersama-sama menjauhi titik pusat
pengukuran. Perpindahan titik pengukuran yaitu dengan memindahkan C
1
ke titik 1,
C
2
ke titik 6, P
1
ke titik 2 dan P
2
ke titik 5 dan seterusnya.

Metode Resistivitas Mapping
Metode resistivitas Mapping bertujuan untuk mengetahui variasi tahanan jenis bumi
secara horizontal. Kedalaman dibawah permukaan yang tersurvei adalah sama. Dalam
pengukuran ini jarak antar elektroda dipertahankan tetap dan bersama-sama digeser
sepanjang lintasan pengukuran (lihat gambar 2.14).
arah pelebaran

C1 P1 P2 C2


a a a
titik pusat permukaan bumi

1 2 3 4 5 6
Gambar 2.15 Perpindahan elektroda secara mapping (Robert E.Sheriff, 1986) dalam
skripsi (Abdul Aziz, 2003)

Perpindahan elektroda (C1,C2,P1,P2) secara bersama-sama sejauh a. Titik pusat
pengukuran tepat diantara elektroda potensial dan perpindahan titik pengamatan yaitu
dengan memindahkan C1 ke titik 2, P1 ke titik 3, P2 ke titik 4 dan C2 ke titik 5 dan
seterusnya.

Resistivitas Semu
Dalam eksplorasi geolistrik, untuk mengukur resistivitas di lapangan
digunakan persamaan
(2.19)
atau
(2.20)
yang diturunkan dari arus listrik pada medium homogen setengah tak berhingga.
Karena jarak elektroda jauh lebih kecil dari pada jejari bumi, maka bumi dapat
dianggap sebagai medium setengah tak berhingga. Akan tetapi karena sifat bumi yang
pada umumnya berlapis (terutama di dekat permukaan) perandaian bahwa
mediumnya adalah homogen tidak terpenuhi.
Oleh karena itu resistivitas yang diperoleh dengan menggunakan persamaan
2.19 atau 2.20 bukan merupakan resistivitas yang sebenarnya. Biasanya resistivitas
yang terukur tersebut dikenal sebagai resistivitas semu atau apparent resistivity, yang
biasa dituliskan dengan simbol

.
Resistivitas semu yang dihasilkan oleh setiap konfigurasi akan berbeda
walaupun jarak antar elektrodanya sama. Maka akan dikenal

yaitu resitivitas
semu untuk konfigurasi Wenner dan

yaitu resistivitas semu untuk konfigurasi


Schlumberger. Pada umumnya

.
Untuk medium berlapis, harga resistivitas semu ini akan merupakan fungsi
jarak bentangan (jarak antar elektroda arus). Untuk jarak antar elektroda arus kecil
akan memberikan

yang harganya mendekati batuan di dekat permukaan. Sedang


untuk jarak bentangan yang besar,

yang diperoleh akan mewakili harga batuan


yang lebih dalam (Wahyudi, 2001: 152).