Anda di halaman 1dari 29

1

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN SEMI PADAT DAN CAIR

I. Tugas
Membuat formula suspensi rekonstitusi granul dan non-granul dengan zat aktif
amoksisilin sebanyak 400 mL.

II. Tujuan
A. Mengetahui cara pembuatan dan formula sediaan suspensi kering.
B. Mengamati pengaruh metode pembuatan granul atau serbuk kering dan
konsentrasi bahan pembasah/pensuspensi terhadap karakteristik fisik suspensi.

III. Teori Dasar
Pada umumnya, sediaan suspensi kering dibuat karena stabilitas zat aktif
didalam pelarut air terbatas, baik stabilitas kimia atau stabilitas fisika. Umumnya
antibiotik mempunyai stabilitas yang terbatas di dalam pelarut air.
Keuntungan pada sediaan suspensi rekonstitusi, untuk zat aktif yang tidak
stabil dalam pembawa air, kestabilan zat aktif dapat dipertahankan karena kontak zat
pada medium pendispersi dapat dipersingkat dengan mendispersikan zat padat dalam
medium pendispesi pada saat akan digunakan.
A. Definisi Suspensi Rekonstitusi
1. Farmakope Indonesia Edisi IV Tahun 2010 hal. 17
Suspensi yang siap digunakan atau yang dikonstitusikan dengan
sejumlah air untuk injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum
digunakan, suspensi tidak boleh diinjeksikan secara intravena dan
intratekal.
2. Pharm Dosage Forms: Dispers System Tahun 1989 Vol. 2 hal. 318,
326
Campuran sirup dalam keadaan kering yang akan didispersikan
dengan air pada saat akan digunakan dan dalam USP tertera sebagai
for oral suspension bentuk suspensi ini digunakan terutama untuk
obat yang mempunyai stabilitas terbatas didalam pelarut air, seperti
golongan antibiotika.
2

B. Persyaratan Sediaan Suspensi Rekonstitusi
Pustaka : Pharm Dosage Forms: Disperse System Tahun 1969 Vol. 2 hal.
318
1. Campuran serbuk/granul haruslah mempunyai campuran yang
homogen sehingga konsentrasi /dosis tetap untuk setiap pemberin
obat.
2. Selama rekonstitusi campuran serbuk harus terdispersi secara cepat
dan sempurna dalam medium pembawa.
3. Suspensi yang sudah direkonstitusi harus dengan mudah didispersikan
kembali dan dituang oleh pasien untuk memperoleh dosisyang tepat
dan serba sama.
4. Produk akhir haruslah menunjukan penampilan, rasa, dan aroma yang
menarik
C. Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pengolahan Campuran
Kering
Pustaka : Pharm Dosage Forms: Disperse System Tahun 1989 Vol. 2 hal.
318, 325
1. Gunakan pengaduk yang efisien evaluasi prosesing skala batch pada
alat skala pilot, jadi bukan menggunakan peralatan laboratorium.
2. Tentukan waktu pengaduk yang sesuai.
3. Hindari pengumpulan panas dan kelembapan selama pengadukan.
4. Batas variasi suhu dan kelembapan, umumnya adalah 70C dengan
RH>40%.
5. Batch yang sudah selesai diolah harus disimpan terlindung dari
kelembapan. Simpan dalam wadah tertutup rapat yang dilengkapi
dengan kantong pengering silica gel.
6. Ambil contoh untuk menguji keseragaman batch, lakukan pengujian
pada bagian atas, tengah, dan bawah dari campuran kering.

Ada masalah potensial akibat terjadinya perubahan sifat aliran dari
campuran kering, yaitu dapat menyebabkan demixing, pemisahan dan
penyerapan kelembapan selama pengolahan atau pada serbuk yang sudah
kering sempurna.
3

Aliran yang acak baik atau caking sering terjadi apabila individu
bergabung, penyebabnya antara lain :
Tidak stabil terhadap suhu tinggi
Muatan permukaan
Variasi kelembapan
Kristalisasi
Pemampatan karena berat serbuk
Contoh yang tidak baik :
Anti foam mengambang pada permukaan, tidak membentuk
lapisan tipis.
Masa kental Na CMC lengket pada leher botol.
Zat warna tidak homogen, tidak terlihat sebagai warna peka.
D. Jenis-Jenis Sediaan Suspensi Rekonstitusi
Pustaka : Pharm Dosage Forms: Disperse System Tahun 1989 Vol. 2 hal.
318, 323-325
1. Suspensi Rekonstitusi yang berupa Campuran Serbuk
Formulasi berupa campuran serbuk merupakan carayang paling
mudah dan sederhana. Proses pencampuran dilakukan secara bertahap
apabila ada bahan berkhasiat dalam komponen yang berada dalam
jumlah kecil. Penting untuk diperhatikan, alat pencampur untuk
mendapatkan campuran yang homogen.
Keuntungan formulasi bentuk campuran serbuk:
a. Alat yang dibutuhkan sederhana, hemat energi, dan dan tidak
banyak.
b. Jarang menimbulkan masalah stbilitas dan kimia karena tidak
digunakan pelarut dan pemanasan saat pembuatan.
c. Dapat dicapai keadaan kelembaban yang sangat rendah.
Kerugian formulasi bentuk campuran serbuk:
a. Homogenitas kurang baik, sulit untuk untuk menjamin distribusi
obat yang homogeny kedalam campuran.
b. Kemungkinan adanya ketidakseragaman ukuran partikel.
c. Aliran serbuk kurang baik
4

Variasi ukuran partikel yang terlalu banyak berbeda dapat
menyebabkan pemisahan dalam bentuk lapisan dengan ukuran
berbeda, aliran yang tidak baik dapat menimbulkan pemisahan.
2. Suspensi Rekonstitusi yang Digranulasi
Pembuatan dengan cara digranulasi terutama ditujukan untuk
memeperbaiki sifat aliran serbuk dan pengisian dan mengurangi
volume sediaan yang voluminous dalam wadah.
Dengan cara granulasi ini, zat aktif dan bahan-bahan lain dalam
keadaaan kering dicampur sebelum diinkorporasi atau disuspensikan
dalam cairan penggranulasi. Granulasi dilakukan dengan
menggunakan air atau larutan pengikat dalam air dapat juga
digunakan pelarut non air untuk bahan berkhasiat yang terurai dengan
adanya air.
Keuntungan cara granulasi:
a. Memiliki penampilan yang lebih baik daripada campuran serbuk.
b. Memiliki sifat aliran yang lebih baik.
c. Tidak terjadi pemisahan.
d. Tidak terlalu banyak menimbulkan debu selama pengisian.
Kerugian cara granulasi:
a. Melibatkan proses yang lebih panjang serta dibutuhkan peralatan
yang lebih banyak dan butuh energi listrik.
b. Adanya panas dan kontak dengan pelarut dapat menyebabkan
terjadinya resiko instabilitas zat aktif.
c. Sulit sekali menghilangkan spora cairan dari penggranul dari
bagian dalam granul dimana dengan adanya sisa cairan penggraul
kemungkinan dapat menurunkan stabilitas cairan.
d. Eksipien yang ditambahkan harus stabil terhadap proses
granulasi.
e. Ukuran granul diusahakan sama karena bagian yang halus akan
memisah sebagai fines.

5

3. Suspensi Rekonstitusi yang merupakan Campuran antara Granul dan
Serbuk
Pada cara ini komponen yang peka terhadap panas seperti zat aktif
yang tidak stabil terhadap panas atau flavor dapat ditambahkan
sesudah pengeringan granul untuk mencegah pengaruh panas. Pada
tahap awal dibuat granul dari bebrapa komponen, kemudian dicampur
dengan serbuk (fines).
Kerugian dari cara ini:
a. Meningkatkan resiko tidak homogeny.
b. Untuk menjaga keseragaman, ukuran partikel harus dikendalikan.
Perbandingan Ketiga Jenis Suspensi Rekonstitusi (Pharm Dosage Forms:
Disperse System Tahun 1989 Vol. 2 hal. 318, 326 )
Jenis Suspensi Keuntungan Kerugian
Campuran
serbuk
Lebih ekonomis, resiko
ketidakstabilan lebih
rendah
Terjadi mixing dan segresi,
kehilangan selama proses
Campuran
granul
Penampilan lebih baik,
karakteristik aliran lebih
baik , segregasi, dan debu
dapat ditekan
Harga lebih mahal, efek
panas dan cairan
penggranulasi paada obat
dan eksipien
Kombinasi
antara serbuk
dan granul
Harga lebih murah, dapat
menggunakan senyawa
yang tidak tahan panas
Dapat terjadi segresi
campuran yang granul dan
non-granul

IV. Data Preformulasi
A. Zat Aktif
1. Amoksisilin/Amoxicillinum (Farmakope Indonesia IV tahun 1995 hal. 95-96,
Drug Information 2010 hal. 323-326)
Rumus Molekul : C
16
H
19
N
3
O
5
S.3H
2
O
Bobot Molekul : 419,45 (trihidrat); 365,40 (anhidrat)
Pemerian : Serbuk hablur, putih; praktis tidak berbau.
6

Kelarutan : Sukar larut dalam air dan metanol; tidak larut dalam
benzena, dalam karbon tetraklorida dan dalam
kloroform.
Khasiat : Infeksi gram negatif dan gram positif, pengobatan
infeksi saluran napas bagian atas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat; pada suhu kamar
terkendali.
Dosis : 125 mg/5 mL (dewasa); 40 mg/kg per hari (tiap 8
jam); anak-anak : 45 mg/kg per hari (tiap 12 jam).
Stabilitas : Stabil pada suhu 2-8
o
C selama 14 hari
pH : 3,5-6,0

B. Zat Tambahan (Eksipien)
1. Tragakan (Farmakope Indonesia IV tahun 1995 hal. 799, Handbook of
Pharmaceutical Excipient VI tahun 2009 hal. 744)
Pemerian : Tidak berbau, mempunyai rasa tawar, seperti lendir,
berwarna putih sampai kuning.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dalam etanol 95% dan
pelarut organik lain.
Kegunaan : Zat pensuspensi (suspending agent)
pH : 4,0-8,0
Konsentrasi : < 15%
OTT : Mineral kuat dan asam organik dapat menurunkan
viskositas dispersi tragakan. Pada pemanasan dispersi
tragakan, viskositas akan menurun dengan
penambahan alkali atau NaCl.
Stabilitas : Stabil pada pH 5. Serbuk tragakan stabil, gel tragakan
dapat dikontaminasi mikroorganisme. Oleh sebab itu,
larutan stock tragakan harus terdapat antimikroba
yang cocok.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


7

2. Sorbitolum/Sorbitol (Farmakope Indonesia IV tahun 1995 hal. 756, Handbook
of Pharmaceutical Excipients VI tahun 2009 hal. 679-680)
Rumus Molekul : C
6
H
14
O
6

Bobot Molekul : 182,17
Pemerian : Serbuk, granul atau lempengan, higroskopis, warna
putih, rasa manis.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam
etanol, dalam metanol dan dalam asetat.
Kegunaan : Stabilizing agent, wetting agent
Konsentrasi : Pembasah : 3-15% ; suspensi oral : 70%
Bobot Jenis : 1,507 gram/cm
3

pH : 4,5-7,0
Stabilitas : Secara relatif inert dan stabil dengan semua eksipien,
stabil di udara, cair dalam suasana asam dan alkali.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
OTT : Akan membentuk kelat dengan banyak ion logam
bivalen dan trivalen dengan kuat dalam suasana asam
dan alkali.

3. PVP/Povidone/Polyvinylpyrrolidone (Handbook of Pharmaceutical Excipient
VI tahun 2009 hal. 581-582)
Rumus Molekul : (C
6
H
9
NO)
n

Bobot Molekul : 2.500-3.000.000
Pemerian : Serbuk putih/putih kekuningan, berasa atau hampir
tidak berasa, higroskopis.
Kelarutan : Mudah larut dalam asam, kloroform, etanol, keton,
metanol, dan air. Praktis tidak larut dalam eter
hidrokarbon dan minyak mineral.
pH : 6,0
Kegunaan : Zat pengikat
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat dan simpan di tempat sejuk dan
kering.
Konsentrasi : 0,5-5%
8

OTT : Tidak bercampur dalam larutan garam organik, pada
konsentrasi yang luas, resin alam, dan sintesis.
Stabilitas : Stabil pada pemanasan 110-130
o
C.

4. Natrium Benzoat (Handbook of Pharmaceutical Excipient hal. 146,
Farmakope Indonesia IV hal. 584)
Rumus Molekul : C
6
H
5
COONa
Bobot Molekul : 144,11
Pemerian : Granul atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau
praktis tidak berbau dan stabil di udara
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol,
dan lebih mudah larut dalam etanol 90%
pH : 8 pada suhu 25
o
C
Khasiat dan kegunaan : Pengawet antimikroba, lubrikan tablet dan kapsul
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, kering dan sejuk, serta
terlindung dari cahaya
Konsentrasi : 0,02-0,5% (oral)
OTT : Senyawa kuartener, gelatin, garam feri, garam
kalsium. Aktivitas pengawet biasanya berkurang
karena interaksi dengan kaulin atau surfaktan non-
ionik
Stabilitas : Larutan aqua disterilkan dengan autoclaving/filtrasi

5. Colloidal Silicon Dioxide/Aerosil (Handbook of Pharmaceutical Excipient VI
tahun 2009 hal. 185-187)
Rumus Molekul : SiO
2

Bobot Molekul : 60,08
Pemerian : Silika submikroskopik dengan ukuran partikel sekitar
15 nm. Berwarna putih kebiruan, tidak berbau, tidak
berasa, serbuk amorf.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air dan
asam, kecuali asam hidrofluoric. Larut dalam larutan
panas alkali hidroxide. Bentuk kolodial jika
9

didispersikan dengan air, kelarutan dalam air 150
mg/L pada suhu 25
o
C pH 7.
Kegunaan : Glidant (memperbaiki sifat alir)
Konsentrasi : 0,1-1,0%
OTT : Dengan dietilstilbestrol
Bobot Jenis : 0,02 gram-0,042 gram/cm
3
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan tempat yang sejuk
dan kering.

6. Etanol (Handbook of Pharmaceutical Excipient VI tahun 2009 hal. 17)
Rumus Molekul : C
2
H
6
O
Bobot Molekul : 46,07 gram/mol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah menguap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.
Kegunaan : Pelarut (untuk PVP)
Konsentrasi : variable (untuk pelarut suspensi oral)
OTT : Tidak bercampur dengan larutan asam kuat dan
larutan asam yang mengandung logam seperti
alumunium, merkuri, dan zink
Stabilitas : Simpan di tempat kering dan sejuk, jauhkan dari api.

7. Orange Essence (Martindale 36
th
tahun 2009 hal. 2357)
Pemerian : Cairan
Kelarutan : Mudah larut dalam alkohol 90%.
Kegunaan : corrigens odoris
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan tempat sejuk dan
kering, terhindar dari cahaya matahari.

8. Sunset Yellow (Handbook of Pharmaceutical Exicipients VI tahun 2009 hal.
194)
Rumus Molekul : C
16
H
10
N
2
Na
2
O
7
S
2

Bobot Molekul : 452,4 gram/mol
Pemerian : Serbuk kuning, kemerahan, di dalam larutan memberi
warna orange terang.
10

Kelarutan : Mudah larut dalam gliserin (1:5) dan air, agak sukar
larut dalam PPG. Dalam air suhu 25
o
C = 1:5,3.
Dalam air suhu 60
o
C = 1:5
OTT : Sulit campur asam sitrat, larutan sakarosa, sodium
bikarbonat tersaturasi. Tidak campur asam askorbat,
glukosa.
Kegunaan : coloring agent

9. Aquadest atau Aqua Destilata (Farmakope Indonesia IV hal. 112, Handbook
of Pharmaceutical Excipient hal. 54)
Rumus Molekul : H
2
O
Bobot Molekul : 18,02
pH : 5,0-7,0
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : Dapat bercampur dengan kebanyakan pelarut polar
Kegunaan : Pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Stabilitas : Stabil secara kimia dalam segala suasana
OTT : Bereaksi dengan zat tambahan

V. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Pengayak no. 12 dan 14
2. Mortir dan stamper
3. Gelas ukur
4. Batang pengaduk
5. Cawan penguap
6. Beaker glass
7. Botol coklat
8. Timbangan analitik
9. Sendok tanduk
10. Sudip
11. Kertas perkamen
11

12. Tabung sedimentasi
13. Pipet tetes
14. Spatula
15. Kertas coklat
16. Botol vial
17. Stopwatch

B. Bahan
1. Amoksisilin Trihidrat
2. Tragakan
3. Sorbitol
4. PVP
5. Na-Benzoat
6. Orange Essence
7. Etanol
8. Sunset Yellow
9. Aquadest
10. Aerosil

VI. Formula
Komposisi Formula Granulasi Formula Non-Granulasi
Amoksisilin Trihidrat 125 mg/5 mL 125 mg/5 mL
Tragakan 3% 3%
Sorbitol 10% 10%
PVP 1% -
Na-Benzoat 0,1% 0,1%
Orange Essence 0,05% 0,05%
Sunset Yellow 0,2% 0,2%
Etanol q.s -
Aquadest ad 400 mL ad 400 mL



12

VII. Perhitungan dan Penimbangan
A. Perhitungan
1. Formula Granulasi
Amoksisilin Trihidrat =






=





= 11479,2 mg
= 11,4792 gram 11,5 gram
Tragakan =
= 12 gram
Sorbitol =
= 40 gram
PVP =
= 4 gram
Na-Benzoat =
= 0,4 gram
Orange Essence =
= 0,2 gram
Sunset Yellow =
= 0,8 gram
Bobot Teoritis = (12 + 40 + 4 + 0,4 + 0,2 + 0,8 + 11,5) gram
= 68,9 gram
Bobot yang didapat = 63,87 gram
Faktor Koreksi Air =



=



= 370,7983
Bobot yang diserahkan =



=


= 10,3350
Bobot untuk Rekonstitusi =



=


= 53,5350
13

Air untuk Rekonstitusi = Faktor Koreksi Air 60 mL
= 370,7983 60 mL
= 310,7983 mL

2. Formula Non-Granulasi
Amoksisilin Trihidrat =






=





= 11479,2 mg
= 11,4792 gram 11,5 gram
Tragakan =
= 12 gram
Sorbitol =
= 40 gram
Na-Benzoat =
= 0,4 gram
Orange Essence =
= 0,2 gram
Sunset Yellow =
= 0,8 gram
Bobot Teoritis = (12 + 40 + 0,4 + 0,2 + 0,8 + 11,5) gram
= 64,9 gram
Bobot yang didapat = 64,7 gram
Faktor Koreksi Air =



=



= 398,7673
Bobot yang diserahkan =



=


= 9,7350
Bobot untuk Rekonstitusi =



=


= 54,9650
14

Air untuk Rekonstitusi = Faktor Koreksi Air 60 mL
= 398,7673 60 mL
= 338,7673 mL

B. Penimbangan
Komposisi Formula Granulasi Formula Non-Granulasi
Amoksisilin Trihidrat 125 mg/5 mL 125 mg/5 mL
Tragakan 3% 3%
Sorbitol 10% 10%
PVP 1% -
Na-Benzoat 0,1% 0,1%
Orange Essence 0,05% 0,05%
Sunset Yellow 0,2% 0,2%
Etanol q.s -
Aquadest ad 400 mL ad 400 mL

VIII. Pembuatan
A. Formula Granulasi
1. Siapkan alat dan timbang bahan.
2. Timbang bahan-bahan yang diperlukan.
3. Kalibrasi botol sebanyak 60 mL.
4. Amoksisilin Trihidrat digerus di dalam lumpang, gerus ad halus.
5. Tambahkan tragakan, sorbitol, PVP, orange essence, Na-Benzoat, dan Sunset
Yellow ke dalam amoksisilin, diaduk ad homogen atau tercampur.
6. Tambahkan etanol setetes demi tetes sambil dikepal hingga membentuk massa
yang kompak pada campuran tersebut.
7. Massa tersebut diayak dengan pengayak nomor 12, lalu dikeringkan di
oven/udara terbuka. Kemudian diayak lagi dengan pengayak nomor 14.
8. Serbuk yang didapat, ditimbang, dan dipisahkan serbuk untuk dikemas.
9. Serbuk yang untuk dikemas, dimasukkan ke dalam botol coklat 60 mL yang
sudah dikalibrasi.
10. Sisa serbuk digunakan untuk evaluasi.
15

11. Setelah direkonstitusi, lakukan evaluasi uji sedimentasi, waktu rekonstitusi,
dan viskositas.

B. Formula Non-Granulasi
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Timbang bahan-bahan yang diperlukan.
3. Kalibrasi botol sebanyak 60 mL.
4. Amoksisilin Trihidrat digerus di dalam lumpang, gerus ad homogen.
5. Tambahkan tragakan, sorbitol, Na-Benzoat ke dalam lumpang tersebut.
6. Sunset Yellow diteteskan ke dalam campuran tersebut, kemudian ditambahkan
Orange Essence, campuran dicampur ad tercampur/homogen.
7. Timbang serbuk untuk diserahkan, lalu dimasukkan ke dalam botol, dan
kemas.
8. Sisa serbuk digunakan untuk uji evaluasi sifat alir, uji sedimentasi, waktu
rekonstitusi

IX. Evaluasi
A. Sifat Alir
1. Cara Langsung
a. Ditimbang 25 gram, lalu ditempatkan pada corong dalam keadaan
tertutup.
b. Lalu buka tutup, biarkan granul mengalir, lalu hitung waktu yang
dibutuhkan untuk mengalir dengan stopwatch (g/det).
Syarat : Pustaka : Aulton 2
nd
hal. 207
Kec. Mengalir (g/s) Aliran
> 10 Free Flowing
4-10 Easy Flowing
1,6-4 Cohesive
<1,6 Very Cohesive



16

2. Cara Tidak Langsung
Sama seperti cara langsung hanya granul yang telah keluar dari corong
ditampung di atas kertas millimeter block, lalu hitung luas diameter dan
tinggi granul. Hitung sudut istirahat dengan persamaan :



Keterangan : r : jari-jari bidang datar kerucut
h : tinggi kerucut
: sudut baring
Syarat : Pustaka : Aulton 2
nd
hal. 134
Sudut diam Keterangan
< 25
o
Sangat baik
25
o
-30
o
Baik
30
o
-40
o
Cukup
>40
o
Buruk

Formula Granulasi
Bobot
(gram)
Waktu
(detik)
Tinggi
(cm)
Jari-jari
(cm)
Kecepatan Alir
(g/detik)
25 3,15 1,5 4,05 20,32 7,94
25 3,16 1,55 4,05 20,94 7,91
25 3,09 1,6 4,05 22,17 8,09

Kecepatan alir rata-rata =


= 7,98 g/detik
Kesimpulan : Sifat alirnya free flowing






17

Formula Non-Granulasi
Bobot
(gram)
Waktu
(detik)
Tinggi
(cm)
Jari-jari
(cm)
Kecepatan Alir
(g/detik)
25 3,32 1,75 4,15 22,86 7,53
25 5,50 1,75 4,05 23,37 4,55
25 2,75 1,60 4,20 20,85 9,09

Kecepatan alir rata-rata =


= 7,06 g/detik
Kesimpulan : Sifat alirnya free flowing

rata-rata :
Granulasi =


= 21,14
Tanpa Granulasi =


= 22,36
Kesimpulan : sifat alir serbuk dengan granulasi secara tidak langsung adalah
sangat baik, dan sifat alir serbuk non-granulasi secara tidak
langsung adalah sangat baik.









18

B. Ukuran Partikel (Metode Ayakan)
Pustaka : Ansel, Howard D (1989 ; 203)
Cara : Serbuk/granul dimasukkan ke dalam ayakan selama 10 menit,
kemudian bobot yang tertinggal di tiap nomor mesh ditimbang.

Formula Granulasi
Nomor Mash Bobot Granul (gram)
20 4,2
20/40 15,1
40/80 18,3
80/100 4,0
100/120 2,3
120 5,8



No.
Mash
Diameter
rata-rata
(m)
Bobot
(gram)
% Bobot :
(



% Bobot x
diameter
20 > 850 4,2
(


) =
8,45%
8,45 x 850 =
7182,5
20/40


15,1
(


) =
30,38%
30,38 x 637,5 =
19367,25
40/80



18,3
(


) =
36,82%
36,82 x 302,5 =
11138,05
80/100



4,0
(


) =
8,05%
8,05 x 165 =
1328,25
100/12
0



2,3
(


) =
4,63%
4,63 x 137,5 =
636,625
19

-5
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
0 200 400 600 800 1000
%
B
o
b
o
t

Diameter rata-rata
Formula Granulasi
120 < 125 5,8
(


) =
11,67%
11,67 x 125 =
1458,75
Total 49,7 100% 41111,425
Diameter rata-rata partikel (dengan granulasi) :
d
av
=

= 411,1143 m










Formula Non-Granulasi









No.
Mash
Diameter
rata-rata
(m)
Bobot
(gram)
% Bobot :
(



% Bobot x
diameter
20 > 850 0,1
(


) =
0,23%
0,23 x 850 = 195,5
Nomor Mash Bobot Granul (gram)
20 0,1
20/40 0,9
40/80 16,3
80/100 5,2
100/120 3,7
120 18,0
20

-5
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
0 200 400 600 800 1000
%
B
o
b
o
t

Diameter rata-rata
Formula Non-Granulasi
20/40


0,9
(


) =
2,04%
2,04 x 637,5 =
1300,5
40/80



16,3
(


) =
36,88%
36,88 x 302,5 =
11156,2
80/100



5,2
(


) =
11,76%
11,76 x 165 =
1940,4
100/12
0



3,7
(


) =
8,37%
8,37 x 137,5 =
1150,875
120 < 125 18,0
(


) =
40,72%
40,72 x 125 = 5090
Total 44,2 100% 20833,475

Diameter rata-rata partikel (non granulasi) :
d
av
=

= 208,3348 m















21

C. Waktu Rekonstitusi
Cara : 25 gram suspensi rekonstitusi (kering), disuspensikan dan catat waktu
rekonstritusinya
Formula Granulasi Formula Non Granulasi
381,16 detik 124,09 detik

D. Viskositas dan Sifat Alir
Alat : Viskometer Brookfield tipe LV
KV Viskometer Brookfield tipe LV = 673,7 dyne.cm
RPM :

putaran
t (waktu) = detik
viskositas = (cps) = kv
(


= skala x faktor



Cara :
1. Suspensi yang sudah direkonstitusi dimasukkan ke dalam gelas tinggi untuk
uji viskositas.
2. Tentukan ukuran spindel dan dipasang.
3. Spindel dicelupkan sampai batas.
4. Tentukan RPM, uji viskositasnya.
5. Catat skala dan hitung viskositasnya.

Formula Granulasi
No.
Spindel
RPM Skala Faktor
Viskositas () =
Skala x Faktor
(cPs)
Gaya (F) =
Skala x KV
(dyne /cm)
2 1,5 20 200 4000 13474
2 3 28 100 2800 18863,6
2 6 40 50 2000 26948
2 3 25 100 2500 16842,5
2 1,5 18 200 3600 12126,6
22

Perhitungan :
1. = skala x faktor
= 20 x 200
= 4000 cPs
F = skala x KV
= 20 x 673,7 dyne/cm
= 13474 dyne/cm
2. = skala x faktor
= 28 x 100
= 2800 cPs
F = skala x KV
= 28 x 673,7 dyne/cm
= 18863,6 dyne/cm
3. = skala x faktor
= 40 x 50
= 2000 cPs
F = skala x KV
= 40 x 673,7 dyne/cm
= 26948 dyne/cm
4. = skala x faktor
= 25 x 100
= 2500 cPs
F = skala x KV
= 25 x 673,7 dyne/cm
= 16842,5 dyne/cm
5. = skala x faktor
= 18 x 200
= 3600 cPs
F = skala x KV
= 18 x 673,7 dyne/cm
= 12126,6 dyne/cm
23

0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000
R
P
M

Gaya (F) (dyne/cm)
Formula Granulasi










Formula Non-Granulasi
No.
Spindel
RPM Skala Faktor
Viskositas () =
Skala x Faktor
(cPs)
Gaya (F) =
Skala x KV
(dyne /cm)
2 0,6 29 500 14500 19537,3
2 1,5 44 200 8800 29642,8
2 3 53 100 5300 35706,1
2 1,5 43,5 200 8700 29305,95
2 0,6 27,5 500 13750 18526,75

Perhitungan :
1. = skala x faktor
= 29 x 500
= 14500 cPs
F = skala x KV
= 29 x 673,7 dyne/cm
= 19537,3 dyne/cm
2. = skala x faktor
= 44 x 200
= 8800 cPs
F = skala x KV
= 44 x 673,7 dyne/cm
24

0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000
R
P
M

Gaya (F) (dyne/cm)
Formula Non-Granulasi
= 29642,8 dyne/cm
3. = skala x faktor
= 53 x 100
= 5300 cPs
F = skala x KV
= 53 x 673,7 dyne/cm
= 35706,1 dyne/cm
4. = skala x faktor
= 43,5 x 200
= 8700 cPs
F = skala x KV
= 43,5 x 673,7 dyne/cm
= 29305,95 dyne/cm
5. = skala x faktor
= 27,5 x 500
= 13750 cPs
F = skala x KV
= 27,5 x 673,7 dyne/cm
= 18526,75 dyne/cm















25

E. Uji Sedimentasi
Pustaka : Lachman (1994 ; 492)
Cara :
1. Masukkan sediaan suspensi ke dalam tabung sedimentasi.
2. amati volume sedimentasi pada hari ke-0 sampai hari ke-4.
3. hitung derajat sedimentasi (F).
F


Keterangan :
Vu = Volume sedimentasi (ml)
Vo = Volume awal (ml)

Pengamatan Formula Granulasi Formula Non-Granulasi
30 menit Vo 50 50
Vu 50 50
F 1 1
60 menit Vo 50 50
Vu 50 50
F 1 1
90 menit Vo 50 50
Vu 50 50
F 1 1
Hari ke-2 Vo 50 50
Vu 50 50
F 1 1
Hari ke-3 Vo 49 49
Vu 48 48
F 0,98 0,98
Hari ke-4 Vo 49 49
Vu 48 47
F 0,98 0,96
26

Hari ke-5 Vo 49 48
Vu 48 46
F 0,98 0,96

X. Pembahasan
A. Pada percobaan ini, Amoksisilin Trihidrat dibuat sediaan suspensi rekonstitusi
karena merupakan antibiotika yang tidak stabil dalam air jika disimpan dalam
periode yang cukup lama, sehingga dibuat sediaan kering agar tidak terurai oleh
air menjadi lebih stabil.
B. Suspending agent yang digunakan adalah Tragakan. Suspending agent digunakan
untuk membantu terdispersinya partikel padat dalam cairan dan meningkatkan
kestabilan dari suspensi.
C. Sorbitol digunakan sebagai pembasah untuk membasahi zat aktif yang bersifat
hidrofob sehingga dapat mudah terdispersi dengan penambahan suspending
agent, selain itu sorbitol dapat juga bersifat sebagai pemanis.
D. PVP digunakan untuk mengikat serbuk menjadi masa granul yang kompak, tetapi
penggunaan PVP yang terlalu banyak akan menyebabkan granul susah
direkonstitusi karena partikel terikat amat kuat.
E. Pada pembuatan suspensi rekonstitusi ini dengan menggunakan metode granulasi
dan non granulasi. Dengan menggunakan metode ini agar sediaan memiliki
penampilan yang baik, memiliki sifat aliran yang lebih baik, dan tidak terjadi
pemisahan.
F. Pada Formula Granulasi didapat sudut diam sangat baik dan kecepatan alir yang
free flowing. Pada Formula Non-Granulasi didapat sudut diam sangat baik dan
kecepatan alir yang free flowing. Pada kedua formula tersebut didapat kecepatan
alir yang free flowing.
G. Pada uji evaluasi waktu rekonstitusi formula yang granulasi lebih cepat
direkonstitusi, sedangkan formula yang tidak digranulasi membutuhkan waktu
rekonstitusi yang lebih lama. Seharusnya waktu rekontitusi formula yang tidak
digranulasi lebih cepat dibandingkan dengan formula yang digranulasi, karena
luas permukaan formula yang digranulasi lebih sempit dengan adanya PVP
sebagai pengikat.
27

H. Evaluasi ukuran partikel tujuannya untuk menguji keseragaman bobot serta dosis
dalam sediaan. Pada kedua formula yang diuji didapat hasil yang tidak seragam
ukuran partikelnya. Hal tersebut dapat menyebabkan ketidakseragaman dosis
ketika dikonsumsi.
I. Formula Granulasi dan Formula Non-Granulasi adalah sediaan suspensi yang
cukup kental, sehingga pada uji evaluasi digunakan Viskometer Brookfield tipe
LV dengan KV sebesar 673,7 dyne/cm.
F. Dari hasil rheogram untuk Formula Granulasi dan Formula Non-Granulasi
diperoleh kurva yang menunjukkan sifat alir thiksotropik pseudoplastis. Dimana
hal tersebut sesuai dengan karakteristik bahan serta bentuk sediaan suspensi yang
direkonstitusi. Suspending agent yang digunakan adalah tragakan yang memiliki
sifat alir pseudoplastis, sehingga sediaan suspensi yang sudah direkonstitusi
memiliki sifat alir pseudoplastis juga yang ditandai dengan menurunnya
kekentalan jika diberi peningkatan gaya. Selain itu juga menunjukkan sifat alir
thiksotropik dimana sediaan memiliki konsistensi tinggi dalam wadah, namun
dapat dituang dan disebar dengan mudah. Dalam hal ini, suspensi thiksotropik
tidak akan mengendap dengan cepat dalam wadahnya, menjadi lebih cair bila
dikocok, dan akan tersuspensi cukup lama selama ia akan digunakan. Akhirnya
suspensi tersebut memperoleh kembali konsistensinya (kembali mengental)
dengan cepat oleh pendiaman waktu sehingga partikel tetap berada dalam keadaan
tersuspensi.
G. Pada Formula Granulasi lebih stabil dibanding Formula Non-Granulasi karena
memiliki derajat sedimentasi yang mendekati 1 dan lebih besar bila dibandingkan
dengan formula suspensi rekonstitusi non-granulasi.

XI. Rancangan Kemasan
Rancangan kemasan terlampir pada halaman 30-31.

XII. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
1. Sifat alir
a. Formula Granulasi
Kecepatan alir = Free Flowing
Sudut baring = Sangat Baik
28

b. Formula Non-Granulasi
Kecepatan alir = Free Flowing
Sudut baring = Sangat baik
2. Waktu Rekonstitusi
Untuk Formula Granulasi = 381,16 detik
Untuk Formula Non-Granulasi = 124,09 detik
3. Ukuran Partikel
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, kedua formula yang diuji menunjukkan
ukuran partikel yang tidak seragam.
4. Volume Sedimentasi
a. Formula Granulasi : tidak stabil (F = 0,98)
b. Formula Non-Granulasi : tidak stabil (F = 0,96)
c. Formula Granulasi lebih stabil dari Formula Non-Granulasi

B. Saran
1. Sebaiknya sediaan digerus dengan lebih baik agar ukuran partikel yang
didapat lebih seragam dan baik, sehingga lebih cepat saat direkonstitusi.
2. Untuk formula granulasi, sebaiknya dibentuk massa kompak dengan ukuran
partikel yang seragam.
3. Suspending agent yang digunakan (tragakan 3%) sebaiknya diturunkan
konsentrasinya agar sediaan tidak terlalu kental sehingga mudah untuk
dituang.
4. Zat pengawet yang digunakan sebaiknya menggunakan kadar yang sesuai
sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu dan tidak cepat rusak.

XIII. Daftar Pustaka
Howard, Ansel. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. edisi IV. Jakarta : UI-
Press
C. Sweetman, Sean. 2009. Martindale 36th The Complete Drug Reference. London :
Pharmaceutical Press
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. edisi III.
Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. edisi IV.
Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
29

Evory, Gerald K, 2010. American Hospital Formulary Service. Drug Information.
USA: America Society of Hospital Pharmacist
Lachman, L, Liberman, H.A. dan Kang, J.L 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri
edisi ketiga, Alih Bahasa: Suyatmi. Jakarta: UI-Press
Lieberman, H.A. 1989. Pharmaceutical Dossage Disperse System. New York :
Marcell Dekker. Inc.
M., Aulton. 1990. Pharmaceutical Dosage Form tablet 2
nd

Reynolds, J. E. F. 1982. Martindale: The Extra Pharmacopia. 28th ed. London : The
Pharmaceutical Press
Wade, Ainley dan Paul J. Weller. 1982. Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th
Edition. London : The Pharmaceutical Press