Anda di halaman 1dari 10

A.

Pengertian Suppositoria
Menurut FI III, suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui
dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada
suhu tubuh. Menurut FI IV, Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai
bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina, maupun uretra, berbentuk
torpedo, dapat melunak, melarut, atau meleleh pada suhu tubuh, dan efek yang
ditimbulkan adalah efek sistemik atau lokal.
Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang
dewasa dan 2 g untuk anak kecil. Umumnya memiliki panjang 32 mm, berbentuk
silinder, dan kedua ujungnya tajam. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak
ukurannya dari ukuran dan berat untuk orang dewasa. Penyimpanan
suppositoria dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang sejuk pada suhu 5-
15C agar suppositoria tidak menjadi lembek dan tidak bisa digunakan.

B. Formulasi Suppositoria
Ukuran suppositoria berkisar 1-4 g. Komposisi zat aktif bervariasi yaitu 0,1-
40%. Komposisi umum suppositoria adalah :
Basis
Zat aktif
Zat tambahan

R/ Bismuthi subgallas 75 mg
Balsamum Peruvianum 125 mg
Acidum Boricum 360 mg
Zinci Oxydum 360 mg
Ultramarinum 3,4 mg
Cera Flava 100 mg
Oleum Cacao hingga 2,6 gr
m.f.supp.no.24
S.3d.d.1 supp.

C. Jenis-Jenis Suppositoria
1). Suppositoria Rektal / Analia
Untuk dewasa kalau tidak dinyatakan lain beratnya adalah 3 g; bentuk
lonjong pada salah satu atau kedua ujungnya, sedangkan untuk anak-anak
kalau tidak dinyatakan lain beratnya adalah 2 g.
2). Suppositoria vaginal / ovula
Berbentuk bulat atau bulat telur, umumnya memiliki berat 5-15 g, sering
disebut tablet vaginal.
3). Suppositoria urethal
Ukuran untuk pria adalah panjang 125-140 mm, diameter 3-6 mm, massa
4 g. Sedangkan untuk wanita panjangnya 50-70 mm dan massanya 2 g
(setengah ukuran laki-laki).

Jika diamati kondisi distribusi bahan obat di dalam sistem, suppositoria
dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Suppositoria Suspensi
Bentuk ini memiliki kelarutan bahan obat yang rendah di dalam basis
sehingga bahan obat berada dalam bentuk tersuspensi (suspensi beku).
b. Suppositoria Larutan
Suppositoria larutan akan terbentuk jika bahan obat benar-benar larut
dalam basis. Reabsorpsi bahan obat suppositoria larutan lebih rendah
daripada suppositoria suspensi.
c. Suppositoria Emulsi
Basis pengemulsi mempunyai berbagai keuntungan dalam teknologi
pembuatan dan biofarmasi. Sedangkan kerugiannya adalah pengerasan
akibat penguapan airnya, mudah mengering, mudah tercemari mikroba,
mempengaruhi stabilitas bahan obat dan masa lemak, serta dapat
mengurangi resorpsi bahan obat.



D. Keuntungan Dan Kerugian
Keuntungan sediaan obat dalam bentuk suppositoria:
Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung
Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
Langsung dapat masuk ke saluran pembuluh darah sehingga akan
memberikan efek yang lebih cepat dibanding obat per oral
Bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar
Menghindari biotransformasi hati / sirkulasi portal
Bila obat ditujukan untuk efek local

Kerugian sediaan obat dalam bentuk suppositoria :
Cara pakai tidak menyenangkan
Absorbsi obat seringkali tidak teratur / sukar diramalkan
Tidak dapat disimpan dalam suhu ruangan
Tidak semua obat bisa dibuat suppositoria

E. Penggunaan Suppositoria
Penggunaan suppositoria antara lain :
1). Penggunaan local
Penggunaan local contohnya untuk memudahkan defekasi serta mengobati
gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
2). Penggunaan sistemik
Penggunaan sistemik contohnya aminofilin dan teofilin untuk asma,
chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan
hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.

F. Pembuatan Suppositoria
Secara umum, pembuatan suppositoria adalah sebagai berikut :
a. Bahan obat yang akan dibuat suppositoria ditimbang sesuai jumlah yang
dibutuhkan.
b. Bahan obat yang telah ditimbang dicampur dengan sedikit bahan dasar
yang telah dilelehkan. Obat harus dapat larut dalam bahan dasar, bila perlu
dilakukan pemanasan. Jika obat sukar larut, maka obat harus dibuat
menjadi serbuk yang halus.
c. Setelah campuran bahan obat dan bahan dasar meleleh atau mencair
dituang dalam cetakan.
d. Sisa bahan dasar ditambahkan ke dalam cetakan sampai penuh setelah
dilelehkan terlebih dahulu.
e. Cetakan yang berisi campuran tersebut didinginkan. Setelah dingin
suppositoria dikeluarkan dari cetakan dan ditimbang.
f. Jumlah bahan dasar yang harus ditambahkan adalah berat suppositoria
yang akan dibuat dikurangi dengan berat bahan obatnya.

Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan,
suppositoria harus dibuat berlebih (10%), dan sebelum digunakan cetakan harus
dibasahi lebih dahulu dengan paraffin cair atau minyak lemak, atau spiritus
saponatus. Spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk suppositoria yang
mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai
pengganti digunakan oleum recini dalam etanol. Suppositoria dengan bahan dasar
PEG dan Tween, bahan pelican cetakan tidak diperlukan, karena bahan dasar
tersebut dapat mengerut sehingga mudah dilepas dari cetakan pada proses
pendinginan.

G. Teknologi Pembuatan
1). Cara Penuangan
Cara ini yang paling sering digunakan. Setelah masa melebur dan
disatukan dengan bahan obat, dituang ke dalam cetakannya. Metode ini
sering juga disebut dengan cara leburan krim dan cara leburan jernih yang
hanya digunakan dalam skala besar


2). Cara Pencetakan
Pada cara pencetakan, parutan basis suppositoria dicampurkan dengan
bahan obat yang diserbuk halus, kemudian diisikan dalam sebuah pencetak
dan dengan sebuah torak yang digerakkan ke dalam melalui sebuah kincir,
ditekan ke dalam cetakan melalui lubang kecil. Dengan bantuan alat
khusus, suppositoria kemudian didorong keluar.

Pada pembuatan suppositoria dengan cara penuangan dan cara pencetakan
terdapat perbedaan antara lain suppositoria pencetakan tidak memiliki
homogenitas yang optimal, tidak seperti hasil yang diperoleh dari suppositoria
penuangan. Kekompakan bahan obat juga lebih rendah. Untuk bahan obat yang
berbentuk cair cara pencetakan kurang cocok digunakan.

H. Basis Suppositoria
Basis / bahan dasar untuk pembuatan suppositoria harus memenuhi syarat:
Dapat meleleh / melarut dalam suhu tubuh
Dapat melepaskan obatnya
Tidak toksik, tidak menyebabkan iritasi
Stabil dalam penyimpanan
Mudah dituang dan mudah membeku kembali
Tidak melekat pada alat cetakan dan mudah diambil
Dapat bercampur dengan semua obat dan bersifat netral

1). Basis Berupa Lemak (Fatty / Oleginous Bases)
- Contoh basis yang berupa lemak adalah lemak cokelat
- Titik leburnya 31
o
C 34
o
C dan dapat meleleh pada suhu tubuh
- Keuntungan basis lemak coklat adalah:
Cepat larut dalam suhu tubuh
Onset cepat


- Kerugian basis lemak coklat adalah:
Tidak dapat disimpan dalam suhu kamar
Mempunyai sifat polimorfi, dengan adanya panas tinggi akan rusak
- Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui berat lemak coklat yang
mempunyai besar volume yang sama dengan 1 gram obat.

Bahan obat Nilai Tukar
Acidum Boricum 0,65
Aethylis Aminobenzoas 0,68
Garam alkaloid 0,7
Aminophyllinum 0,86
Bismuthi Subgallas 0,37
Bismuthi Subnitras 0,20
Ichthammolum 0,72
Sulfonamidum 0,60
Tanninum 0,68
Zinci Oxydum 0,25

Misalnya : berat suppositoria 3 g, harus membuat 15 suppositoria yang
mengandung Amminophyllinum 0,5 g
Peny : Diperlukan : 15 x 0,5 g = 7,5 g Aminophyllin
Berat suppositoria : 15 x 3 g = 45 g
Nilai tukar Aminophyllin = 7,5 x 0,86 = 6,45 g
Tambahan lemak coklat yang diperlukan = 45 g 6,45 g = 38,55 g

Suppositoria Basis Lemak Dengan Bahan Khusus :
1. Balsamum Peruvanium
Digerus dulu dengan sebagian lemak coklat sampai menjadi pasta dan
selanjutnya sisa zat digerus dan dicampurkan


2. Ekstrak kering (Opium concentratum, Pantopon)
Digerus halus dahulu dalam mortar yang dialasi dengan Saccharum Lactis
agar tidak lengket pada mortar. Setelah itu campuran serbuk yang halus
digerus dengan sedikit lemak coklat.
3. Ichtammolum
Dikerjakan seperti pada Balsamum Peruvanium. Bila mengandung
Ichtammolum lebih dari 10% maka sebagian lemak coklat diganti dengan
cera flava 5% agar suppositoria tidak menjadi lembek.

2). Basis Yang Larut Air (Water Soluble Bases)
- Inkompatibilitas dengan beberapa obat seperti fenol dan sulfonamide
- Titik lelehnya melebihi suhu tubuh dan dapat bercampur dengan cairan
tubuh
- Konstanta dilektrik basisnya rendah sehingga zat aktif tertahan pada basis
dan pelepasannya lambat
- Contoh basis yang larut air adalah :
Glisero gelatin
Glisero gelatin bersifat higroskopis, inkompatibilitas dengan asam
tannat dan pada pemanasan tinggi dapat melepaskan gas tosik volatile.
P.E.G
P.E.G Mempunyai titik lebur 35
o
C - 63
o
C. Basis ini tidak meleleh
pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh.
Keuntungan basis P.E.G adalah :
1. Tidak mengiritasi atau merangsang
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan
dengan oleum cacao
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada
suhu tubuh
Kerugian basis P.E.G adalah :
1. Lambat meleleh dan melepaskan zat aktif karena BM yang tinggi
2. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga
terjadi rasa yang menyengat
3. Inkompatibilitas dengan garam bismuth, tannin, fenol
4. Mengurangi aktivitas antimikroba

3). Suppositoria Dengan Bahan Dasar Gelatin
Suppositoria dengan bahan dasar gelatin tidak melebur pada suhu tubuh,
tetapi melarut dalam cairan sekresi tubuh. Basis ini perlu penambahan pengawet
(nipagin) karena merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Formula
sesuai dengan Pharmacope Ned V yaitu 2 bagian gelatin + 4 bagian air + 5 bagian
gliserin untuk massa suppositoria 4 g.
Keuntungan bahan dasar gelatin adalah :
1. Memberikan efek yang cukup lama
2. Lebih lambat melunak
3. Lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan
oleum cacao

Kerugian bahan dasar gelatin adalah :
1. Cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang higroskopis yang
dapat menyebabkan dehidrasi atau iritasi jaringan
2. Memerlukan tempat untuk melindungi dari udara lembab agar bentuk dan
konsistensinya terjaga
I. Pengujian Suppositoria

Pengujian suppositoria terdiri dari :
1. Pengujian Jarak Lebur (macromelting range test)
Pengujian ini adalah pengukuran waktu yang diperlukan suppositoria
untuk meleleh saat dicelupkan dalam penangas air bersuhu 37
o
C.


2. Uji penetrasi
Uji ini dilakukan untuk mengontrol kualitas suppositoria atau mengukur
stabilitas fisik terhadap waktu. Pada uji penetrasi, dilakukan pengukuran
waktu yang diperlukan oleh tungkai untuk menembus suppositoria.
3. Uji kekerasan
Uji ini dilakukan untuk mengukur kerapuhan suppositoria.
4. Uji waktu hancur
Uji ini menentukan waktu suppositoria melunak atau hancur saat
ditempatkan dalam medium cair. Kriteria penerimaan uji waktu hancur
adalah :
Terlarut sempurna
Komponen suppositoria terpisah
Suppositoria melunak dan berubah dari bentuk awalnya tanpa
terjadi pemisahan komponen secara sempurna
Tidak ada residu yang tersisa pada alat perforasi uji


TUGAS FARMASETIKA DASAR II
SUPPOSITORIA





OLEH
KELOMPOK III
FARMASI B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011