Anda di halaman 1dari 4

Anggi Novita E

1102010022
1.3 Patofisiologi Penyakit Autoimun
Patofisiologi dan Etiologi dari penyakit ini tidak sepenuhnya jelas, berikut beberapa yang
diduga dapat menyebabkan penyakit autoimun :
1. Antibodi yang tumpang tindih
Cenderung terjadi lebih dari satu jenis penyakit autoimun pada satu individu. Penderita
tiroiditis autoimun (Hashimoto/miksedem primer) berinsiden tinggi untuk menderita
anemia pernisiosa dan begitu juga sebaliknya.
2. Peran genetik pada autoimunitas
Individu dengan alel HLA-II DR3 + DR4 kemungkinan mengalami DM tipe I sebesar
500 kali daripada dengan alel DR2 + DR2.
3. Faktor imun
a. Sequestered antigen
Merupakan antigen sendiri yang karena letak anatominya,terlindungi dan tidak
ditemukan untuk dikenal sistem imun, sehingga tidak terpajan dengan sel B atau sel
T. Perubahan anatomi jaringan (akibat inflamasi) dapat memajankan sequestered
antigen dengan sistem imun. Contohnya protein lensa intraokular, sperma, dan
myelin basic protein (menimbulkan ensefalomielitis pasca infeksi).

b. Ganggauan presentasi
Saat terjadi infeksi yang meningkatkan respon MHC, kadar TGF- rendah, gangguan
respon IL-2. Bila terjadi kegagalan sel Ts/Tr maka sel Th menjadi lebih reaktif dapat
menyebabkan autoimunitas, karena tidak adanya penekanan pada sel Th.

c. Ekspresi MHC-II yang tidak benar
Sel pankreas pada penderita IDDM mengekspresikan MHC-I dan MHC-II dalam
kadar tinggi, pada sel pankreas sehat hanya mengekspresikan MHC-I. Ekspresi
MHC-II yang tidak pada tempatnya maka APC dapat mensensitasi sel Th terhadap
peptida dari sel pankreas sehingga terjadi penyakit autoimun.

d. Aktivitas sel B poliklonal
Aktivasi sel B poliklonal oleh virus (EBV/epstein barr virus), LPS
(Lipopolisakarida), dan parasit malaria dapat merangsang sel B secara langsung
yang menimbulkan autoimunitas.

e. Peran CD
4
dan reseptor MHC
Gangguan imun ini sulit diindentifikasi. Penelitian menunjukkan CD
4
merupakan
efektor utama penyakit autoimun. Penyakit juga dapat dicegah oleh antibodi anti
CD
4
.

f. Keseimbangan Th1-Th2
Th1 menunjukkan peran pada autoimunitas, Th2 hanya melindungi terhadap induksi
dan progres penyakit. Pada experimental allergic encephalitis sitokin Th1 (IL-2,
TNF-, dan IFN-) ditemukan dalam SSP dengan kadar tertinggi.



g. Sitokin pada autoimunitas
Gangguan mekanisme dapat meningkatkan regulasi/produksi sitokin yang berlebihan
sehingga terjadi efek patofisiologik.

4. Faktor lingkungan
a. Mimikri molekul
i. Virus
Virus adeno, Coxsackie A9, B2, B4, B6 beruhubungan dengan poliartritis,
pleurits, mialgia, ruam kulit, faringitis, miokarditis, dan leukositosis.

ii. Bakteri
1. Karditis reumatik (demam reuma akut) pasca infeksi streptokokus
Disebabkan oleh antibodi streptokokus mengikat otot jantung sehingga
menyebabkan miokarditis. Homologi juga ditemukan antara antigen protein
jantung dengan antigen klamidia/trypanosoma cruzi. Dengan gejala faringitis
dengan manifesrasi 2-4 minggu pasca infeksi. Terdapat tiga gejala utama
yaitu artritis, karditis, dan korea (gerakan tidak terkontrol dari otot muka,
lengan, dan tungkai).

2. Sindrom reiter dan artritis reaktif
Infeksi saluran cerna oleh salmonela, sigela, dan kampilobakter, atau saluran
kemih oleh klamidia trakomatis.

3. Eritema nodosum
Terjadi pada usia 18-33 tahun. Berupa nodul pada ekstermitas bawah
dipermukaan ekstensor, lesi pada kaki dan lengan bawah.

4. Bakteri lain
Dua protein envelope yersinia enterokolitis memiliki epitop yang sama
dengan domen ekstraselular reseptor TSH. Pada sindrom Guillian-Barre,
antibodi terhadap gangliosid bereaksi silang dengan endotoksin C. Jejuni.
Pada kolitis ulseratif, antibodi kolon bereaksi silang dengan E.coli. Antigen
dalam T.cruzi bereaksi silang dengan antigen otot jantung dan Ssperifer dan
memacu lesi imunopatologik seperti pada penyakit Chagas.

5. Hormon
Wanita lebih cenderung menderita penyakit autoimun dibandingkan pria, karena wanita
umumnya lebih banyak memproduksi antibodi yang biasanya merupakan respon
proinflamasi Th1. Kehamilan sering disertai dengan memburuknya penyakit artritis
reumatik dan relaps sering terjadi setelah melahirkan. Kadar prolaktin yang timbul tiba-
tiba setelah kehamilan cenderung menyebabkan terjadinya penyakit autoimun seperti
artritis reumatik.


6. Obat
Berhubungan dengan efek samping berupa idiosinkrasi. Melibatkan 2 komponen yaitu
respon imun tubuh berupa respon autoagresif dan antigen. Antibodi akan hilang bila
obat dihentikan.

Tabel 2. Autoimun akibat obat
Gejala Obat
Hepatitis kronis aktif Halotan (anastesi umum)
Anemia hemolitik Metildopa (antihipertensi)
Anti membran basal glomerular D-penisilamin (AR)
Miastenia gravis D-penisilamin
Pemfigus D-penisilamin
LES
Hidralazin (antihipertensi)
Prokainamid (antiaritmia)
D-penisilamin
Minosiklin (antibiotik pada jerawat)
Glomerulonefritis D-penisilamin
Sindrom menyerupai skleroderma Triptofan (antidepresan)


7. Radiasi UV
Merupakan pemicu inflamasi kulit dan LES. Radiasi menimbulkan modifikasi struktur
radikal bebas self antigen yang meningkatkan imunogenitas.

8. Oksigen radikal bebas
Dapat mengubah imunogenitas self antigen dan menimbulkan inflamasi. Pemicu lainnya
stres psikologi dan faktor makanan.

9. Logam
Zn, Cu, Cr, Pb, Cd, Pt, perak dan silikon (metaloid) dapat menimbulkan efek terhadap
sistem imun baik in vitro maupun in vivo. Contoh silikon dapat menyebabkan silikolis
dan menunjukkan kadar antibodi kolagen tipe I dan III. Pada hewan, litium
menimbulkan tiroid autoimun, merkuri menimbulkan penyakit ginjal autoimun, artritis,
dan vaskulitis.

Anda mungkin juga menyukai