Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia adalah makhluk homeotermik yaitu makhluk berdarah panas
dimana suhu tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan suhu disekitarnya.
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah
elemen-elemen dari homeostasis. Termoregulasi adalah proses yang merupakan yang
teritegrasi dan koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu
tubuh inti pada manusia untuk melawan suhu dingin ataupun hangat. Apabila
hipotalamus terganggu maka mekanisme pengaturan suhu tubuh pada manusia juga
akan terganggu dan akan mempengaruhi suhu tubuh manusia. Mnusia juga
membutuhkan keadaan normotermia untuk mempertahankan fungsi-fungsi tubuh
berjalan normal seperti biasanya, Saat tubuh tidak dapat dipertahankan normal, fungsi
metabolisme tubuh terganggu dan dapat berakibat menjadi fatal.
Panas diproduksi tubuh melalui proses metabolisme, aktivitas otot, dan sekresi
kelenjar. Produksi panas dapat meningkat atau menurun dipengaruhi oleh suatu sebab,
misalnya karena penyakit ataupun stres. Suhu tubuh terlalu ekstrim, baik panas atau
dingin yang ekstrim, dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, perawat perlu
membantu klien apabila mekanisme homeostasis tubuh, untuk mengontrol suhu
tubuhnya, tidak mampu menanggulangi perubahan suhu tubuh tersebut secara efektif.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja struktur dan fungsi tubuh yang berpengaruh pada suhu tubuh?
2. Hal-hal apa saja yang mempengaruhi suhu tubuh pada manusia dalam kehidupan
sehari-hari?
C. Tujuan
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai bagian tubuh mana saja
yang berkaitan dengan pengaturan suhu pada tubuh.
2. Membantu masyarakat untuk mengetahui hal apa saja yang mempengaruhi suhu
tubuh pada manusia dalam kehidupan sehari-hari
3. Memberikan informasi kepada para masyarakat bagaimana cara menjaga energi
dan keseimbangan suhu tubuh.

BAB II
ISI
A. Termoregulasi
1. Definisi
Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakam kegiatan integrasi
dan koordinasi yang digunakan secara Aktif untuk mempertahankan suhu tubuh
melawan perubahan suhu dingin atau hangat (Myers, 1984). Pusat pengaturan
tubuh manusia ada di hipotalamus, oleh karena itu jika hipotalamus terganggu
maka mekanisme pengaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi
thermostat tubuh manusia.
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang terletak diantara dua hemister otak.
Fungsi hipotalamus adalah seperti termostart. Suhu yang nyaman merupakan set
point untuk operasi system pemanas. Penurunan suhu lingkungan akan
mengaktifkan pemanas,sedangkan peningkatan suhu akan mematikan system
pemanas tersebut. Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh
adalah hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior. Hipotalamus anterior
(AH/POA) berperan meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi dan
menimbulkan, sedangkan Hipotalamus posterior (PH/POA) berfungsi
meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil,
menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon tiroid
dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal
metabolisme rate.
2. Faktor yang mempengaruhi produksi panas
Beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan atau penurunan
produksi panas tubuh, antara lain:
a. Basal metabolisme rate (BMR)
BMR merupakan pemanfaatan energi di dalem tubuh guna memelihara
aktivitas pokok seperti bernapas. Besarnya BMR bervariasi sesuai dengan
umur dan jenis kelamin. Banyak faktor yang menyebabkan BMR
meningkat diantaranya adalah karena cedera,demam, dan infeksi.
Meningkatnya BMR ini menunjukan tingginya metabolisme yang dialami
klien.
b. Aktivitas otot
Aktivitas otot, termasuk menggigil dapat memproduksi panas tubuh
sebanyak lima kali (Guyton 1982:554).
c. Peningkatan produksi tiroksin
Hipotalamus merespons terhadap dingin dengan melepas releasing. Faktor
ini merangsang tirotropin pada adenohipofise untuk merangsang
pengeluaran tiroksin oleh kelenjar tiroid.
d. Termogenesis kimia
Termogenesis kimia adalah perangsangan produksi panas melalui sirkulasi
norepineprin dan epineprin atau melalui perangsangan saraf simpatis.
Hormon ini segera meningkatkan nilai metabolisme sel di jaringan tubuh .
e. Demam
Demam meningkatkan metabolisme sel. Reaksi-reaksi kimia meningkat
rata-rata 120% untuk setiap peningkatan suhu 10 C. Hal tersebut berarti
setiap peningkatan 1 C suhu tubuh menyebabkan 12% reaksi kimia akan
terjadi.
B. Pengaturan suhu tubuh
Tubuh yang sehat mampu memelihara suhu tubuh secara konstan
walaupun pada kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Sistem pengatur suhu
tubuh terdiri atas tiga bagian yaitu reseptor yang terdapat pada kulit dan bagian
tubuh lainnya, integrator di dalam hipotalamus, dan efektor sistem yang mengatur
produksi panas kehilangan panas.
Reseptor sensori yang paling banyak terdapat pada kulit. Kulit
mempunyai lebih banyak reseptor untuk dingin dan hangat dibanding reseptor
yang terdapat pada organ tubuh lain seperti lidah, saluran pernapasan, maupun
organ visera lainnya. Bila kulit menjadi dingin melebihi suhu tubuh, maka ada
tiga proses yang dilakukan untuk meningkatkan suhu tubuh. Selain reseptor suhu
permukaan yang dimiliki oleh kulit, terdapat reseptor suhu lain yaitu reseptor
pada inti tubuh yang merespons terhadap suhu pada organ tubuh bagian dalam,
seperti visera abdominal, spinal cord, dan lain-lain. Termoreseptor di hipotalamus
lebih sensitif terhadap suhu inti ini.Hipotalamus integrator sebagai pusat
pengaturan suhu inti berada di preoptik area hipotalamus. Apabila sensitifitas
resptorpanas di hipotalamus dirangsang, efektor sistem mengirim mengirim sinyal
yang memprakarsai pengeluaran keringat dan vasolidasi perifer. Sinyal dari
sensitif reseptor dingin di hipotalamus memprakarsai efektor untuk
vasokonstriksi, menggigil, serta melepaskan epineprin yang meningkatkan
metabolisme sel dan produksi panas.



C. Anatomi dan Fisiologi yang terkait
1. Suhu diatur oleh sistem syaraf dan sistem endokrin
Sistem syaraf
a. Pemanasan dan pendinginan kulit menstimulasi ujung syaraf yang sensitif
terhadap suhu dengan menghasilkan respon yang tepat menggigil untuk
kedinginan, berkeringat untuk kepanasan.
b. Hipotalamus pada otak berespon terhadap suhu dari darah yang mengalir
melewati kapiler-kapiler nya. Hipotalamus mengadung 2 pusat pengaturan
suhu. Hipotalamus bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu
dengan menyebabkan vasoladitasi dan karena nya panas menguap.
Hipotalamus bagian posterior berespon terhadap penurunan suhu dengan
menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan panas lebih
lanjut. Melalui hubungan dengan otak tersebut, hipotalamus menerima
stimulus dari talamus dan dapat melewati sistem syaraf otonom
memodifikasi aktivitas humoner, sekresi keringat aktivitas kelenjar dan
otot-otot.

Sistem Endokrin
a. Medula adrenal : Dingin meningkatkan sekresi adrenalin yang
menstimulasi metabolisme dan karena nya dapat meningkatkan
pembentukan panas.
b. Kelenjar tyroid : Dingin meningkatkan sekresi tiroksin, dengan
meningkatkan metabolisme dan pembentukan panas.

D. Fungsi yang berkaitan dengan sistem pengaturan tubuh
Kulit memiliki fungsi sebagai pengatur suhu. Sistem pengaturan tubuh dilakukan
dengan melebarkan atau mengerutkan pembuluh darah. Jika kondisi udara panas atau
suhu tubuh naik, maka pembuluh darah di kulit akan melebar. Kulit akan
mengeluarkan sejumlah keringat melalui pori-pori. Sebagian panas dalam tubuh
dibawa keluar bersama keringat. Sebaliknya jika kondisi udara dingin, oembuluh
darah akan menciut atau mengecil. Pengecilan pembuluh darah ini bertujuan untuk
mengurangi kehilangan panas tubuh yang berlebihan. Dengan adanya sistem
pengaturan suhu ini, maka suhu tubuh akan selalu dalam kondisi stabil. Dan juga kulit
merupakan bagian penting dari sistem pengaturan suhu tubuh. Suhu inti tubuh diatur
oleh sebuah area di hipotalamus yang sensitif sensitif terhadap suhu, dan area ini
dipengaruhi oleh suhu darah yang mengalirinya. Respons kulit terhadap keadaan
dingin adalah dengan vasokonstriksi dan banyak mengurangi aliran darah, sehingga
akan mengurangi transfer panas ke permukaan kulit. Respons terhadap panas adalah
dengan vasodilatasi, peningkatan aliran darah, dan pelepasan panas keluar tubuh.
Perspirasi membantu mendinginkan tubuh dengan penguapan keringat. Fungsi
pengaturan suhu ini terganggu pada penyakit kulit tertentu. Pada lingkungan yang
dingin suhu inti tubuh penderita eritroderma sangat menurun, meskipun tubuhnya
berusaha menimbulkan panas metabolik dengan menggigil, dan pasien tersebut
kemungkinan bisa meninggal karena hipotermia.
Selain itu kulit juga menghasilkan sel-sel pembentuk pigmen melamin yang bertanggung
jawab dalam memberikan corak warna kulit manusia. Melamin juga mampu melindungi
jaringan kulit dari pengaruh buruk sengatan sinar matahari dan paparan ultra violet.

A. Sistem syaraf : Pemanasan dan pendinginan di kulit

Menstimulasi ujung syaraf

Respon

Menggigil untuk kedinginan dan keringat untuk panas