Anda di halaman 1dari 6

Hakikat Bisnis

Bisnis pada hakikatnya adalah organisasi yang bekerja ditengah tengah masyarakat atau
merupakan sebuah komunitas yang berada ditengah tengah komunitas lainnya. Bisnis mempunyai peran
penting dalam kehidupan manusia, mulai dari jaman prasejarah, abad pertengahan, era markantilisme,
fisiokrat, klasik , sampai jaman modern sekarang ini (Rindjin, 2004:59). Menurut Bartens (2000:13)
bisnis sebagai kegiatan sosial pada hakikatnya dapat dipandang dari 3 (tiga) sudut yang berbeda yaitu
sudut pandang ekonomi, moral, dan hukum.
Sudut Pandang Ekonomi
Bisnis adalah salah satu kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-
menukar, memproduksi-memasarkan,bekerja-memperkerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya
dengan maksud memperoleh untung. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi sosial yang
menguntungkan para pihak yang terlibat. Bisnis selalu bertujuan memperoleh keuntungan dan
perusahaan dapat disebut sebagai organisasi yang didirikan untuk memperoleh keuntungan.
Dengan cara cukup jelas, bisnis sering dilukiskan sebagai to provide products or services for a
profit
Sudut Pandang Moral
Dengan tetap mengakui peran sentral dari sudut pandang ekonomis dalam bisnis, perlu
ditambahkan sudut pandang lain dalam bisnis, yaitu moral. Mengejar keuntungan adalah hal yang
wajar, asalkan tidak mengorbankan/merugikan pihak lain. Kepentingan dan hak orang lain harus
diperhatikan demi kepentingan bisnis itu sendiri. Perilaku etis penting dalam bisnis untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan posisi finansial bisnis itu sendiri. Dari sudut pandang
moral, bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, melainkan juga bisnis yang baik
secara moral. Perilaku yang baik dalam bisnis merupakan perilaku yang sesuai dengan norma-
normamoral.

Sudut Pandang Hukum
Seperti halnya moral, hukum merupakan sudut pandang normative, karena menetapkan apa yang
boleh dan tidak boleh dilakukan. Peraturan hukum merupakan kristalisasi atau pengendapan dari
keyakinan moral. Dalam praktek hukum, banyak masalah timbul dari kegiatan bisnis. Jika
poerilaku bisnis itu legal, maka dari sudut moral juga dipandang baik. Bisnis harus menaati
peraturan yang berlaku. Bisnis yang baik berarti bisnis yang patuh terhadap hukum. Namun, sikap
bisnis belum terjamin etis, bila hanya dibatasi pada hukum saja.
Menurut Bartens terdapat tiga tolok ukur yang dapat digunakan untuk menentukan baik buruknya
bisnis dari sudut pandang moral, yaitu:
1. Hati Nurani
Suatu perbuatan dikatakan baik jika dilakukan sesuai dengan hati nurani. Tindakan yang
bertentangan dengan hati nurani dapat menghancurkan integritas pribadi. Hati nurani merupakan
norma moral yang penting tetapi sifatnya sangat subyektif, sehingga tidak terbuka bagi orang
lain.
2. Kaidah Emas
Cara yang lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah kaidah emas yang
secara positif berbunyi: Hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri ingin
diperlakukan. Atau dirumuskan secara negative akan menjadi : Janganlah lakukan terhadap
morang lain terhadap Anda. Misalnya, kalau tidak ingin ditipu, janganlah menipu orang lain.
3. Penilaian Masyarakat
Cara lain yang paling ampuhdigunakan untuk menilai perilaku moral adalah dengan
menyerahkannya kepada masyarakat umum untuk dinilai. Cara ini disebut juga audit sosial.
Karakteristik Profesi Bisnis
Baru belakangan ini bisnis dianggap sebagai sebuah profesi. Profesi dirumuskan sebagai
pekerjaan yang dilakukan untuk nafkah hidup dengan menggunakan keahlian dan keterampilan dengan
melibatkan komitmen pribadi dalam melakukan pekerjaan tersebut (Satyanugraha, 2003:10).
Profesionalisme akhirnya menjadi keharusan dalam bisnis. Hanya saja sikap professional dalam
bisnis terbatas pada kemampuan teknis menyangkut keahlian dan keterampilan yang terkait dengan
bisnis: manajemen,produksi, pemasaran, keuangan, personalia, dan seterusnya (Keraf,1998:46).
Menurut Keraf (dalam Ridjin,2004:63) suatu profesi yang diperlukan dan dihargai mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
1. Seseorang memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan khusus yang ia peroleh
melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang membentuk profesinya yang
membedakannya dengan orang lainnya.
2. Terdapat kaidah dan standar moral. Pada setiap profesi selalu ada peraturan yang
menentukan bagaimana profesi itu dijalankan. Peraturan yang biasa disebut kode etik ini
sekaligus menunjukan tanggungjawab professional dalam melakukan pekerjaan seperti
kode etik dokter, wartawan, pengacara, akuntan dan sebagainya.
3. Seseorang perlu memiliki izin khusus atau lisensi untuk bisa menjalankan suatu profesi.
Hal ini dimaksudkan untuk melindungi profesi tersebut dari orang-orang yang tidak
professional.
4. Memberikan pelayanan pada masyarakat. Keuntungan harus dibayar sebagai akibat logis
dari pelayanan kepada masyarakat, bahkan keikutsertaan dalam mensejahterakan
masyarakat, bahkan keikutsertaan dalam menyejahterakan masyarakatnya, adalah citra
perusahaan yang baik.
Pergeseran Paradigma dari Shareholder ke Stakeholders
Shareholder atau stockholder paradigm merupakan paradigm dimana Chief Executive Officer
(CEO)berorientasi pada kepentingan pemegang saham. Pihak manajemen sebagai pemegang mandate
(agency) berusaha memperoleh keuntungan sebesar-besarnya untuk menyenangkan dan meningkatkan
kemakmuran pemegang saham (principal).
Paradigma shareholder kemudian mengalami pergeseran, karena pada kenyataannya manajemen
dihadapkan pada banyak kepentingan yang pengaruhnya perlu diperhitungkan dengan seksama. Selain
shareholder wajib juga diperhatikan kepentingan pihak-pihak lain yang terkena dampak kegiatan bisnis.
Pihak berkepentingan (stakeholders) adalah individu atau kelompok yang dapat dipengaruhi atau
mempengaruhi tindakan, keputusan,kebijakan,praktek,dan tujuan organisasi bisnis. Pendekatan
stakeholders terutama memetakan hubungan hubungan yang terjalin dalam kegiatan bisnis pada
umumnya.
Pada umumnya stakeholders dapat dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:
1. Kelompok Primer
Kelompok primer terdiri dari pemilik modal atau saham (shareholder), kreditur,pegawai,
pemasok, konsumen,penyalur,dan pesaing,atau rekanan. Demi keberhasilan dan
kelangsungan bisnis, perusahaan tidak boleh merugikan satupun kelompok stakeholder
primer diatas. Dengan kata lain, perusahaan harus menjalin relasi bisnis yang baik dan
etis dengan kelompok tersebut.
2. Kelompok Sekunder,
Kelompok sekunder terdiri dari pemerintah setempat, pemerintah asing, kelompok
sosial, media massa,kelompok pendukung,masyarakat pada umumnya,dan masyarakat
setempat.
Dalam situasi tertentu kelompok sekunder bisa sangat penting bahkan bisa jauh lebih penting dari
kelompok primer, karena itu sangat perlu diperhitungkan dan dijaga kepentingan mereka. Jika ingin
berhasil dan bertahan dalam bisnisnya, maka perusahaan harus pandai menangani dan memperhatikan
kepentingan kedua kelompok stakeholders tersebut secara berimbang. Balance Scorecard yang
dikemukakan oleh Kaplan & Kaplan pada tahun 1970-an merupakan salah satu pendekatan yang kini
banyak digunakan dalam melakukan perencanaan strategi bisnis dan evaluasi kinerja perusahaan.
Tanggungjawab Moral Bisnis & Sosial Bisnis
Korporasi (dalam arti perusahaan dan pimpinannya) mempunyai kewajiban utama kepada pemilik
dan pemegang saham, karena mereka telah memberikan mandate ekonomi kepada koporasi. Di samping
itu, korporasi juga harus tetap peduli dan responsif terhadap tuntutan hukum, sosial, politik, dan
lingkungan pihak berkepentingan, baik yang berasal dari dalam maupun luar. Dengan demikian, korporasi
bertanggungjawab secara sosial dan moral kepada konstituennya, artinya memelihara hubungan yang
bertanggungjawab dengan pihak berkepentingan serta peduli dan responsif terhadap tuntutan-tuntutannya
berdasarkan standar etika mengenai kejujuran dan keadilan. Menurut Pratley, minimal ada tiga
tanggungjawab utama korporasi, yaitu :
1. Menghasilkan barang-barang, kepuasan konsumen, dan keamanan pemakaian;
2. Peduli terhadap lingkungan, baik dilihat dari sudut masukan maupun keluaran, pembuangan
limbah yang aman, serta mengurangi penyusutan sumber daya;
3. Memenuhi standar minimal kondisi kerja dan sistem pengupahan serta jaminan sosial.
Tanggungjawab Sosial Bisnis
Tanggungjawab sosial bisnis (Corporate Social Responsibillity) adalah memanfaatkan sumber
daya yang ada untuk mencapai laba dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan permainan dalam
persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan. CSR adalah suatu konsep yang bermaterikan
tanggungjawab sosial dan lingkungan oleh perusahaan kepada masyarakat luas, khususnya di wilayah
perusahaan tersebut beroperasi. Implementasi CSR di perusahaan pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-
faktor sebagai berikut :
1. Komitmen pimpinan
2. Ukuran dan kematangan perusahaan
3. Regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah
Argumen yang Menentang Perlunya Tanggungjawab Sosial
a) Tujuan bisnis adalah mengejar keuntungan sebesar-besarnya
b) Tujuan yang terbagi dan harapan yang membingungkan
c) Biaya keterlibatan sosial
d) Bisnis mempunyai kekuasaan yang sudah memadai
e) Kurangnya tenaga terampil
Argumen yang Mendukung Perlunya Tanggungjawab Sosial
a) Kewajiban moral
b) Terbatasnya sumber daya alam
c) Lingkungan sosial yang lebih baik
d) Bisnis mempunyai sumber-sumber daya
e) Keuntungan jangka panjang
f) Perimbangan tanggungjawab dan kekuasaan
Setidaknya ada tiga alasan penting dan manfaat yang diperoleh suatu perusahaan dalam merespon
dan menerapkan CSR yang sejalan dengan operasi usahanya :
1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dank arena itu wajar bila perusahaan juga turut
memperhatikan kepentingan masyarakat.
2. Kalangan bisnis dan masyarakat memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme (saling
mengisi dan menguntungkan).
3. Kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi berbagai potensi mobilisasi massa
(penduduk) untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Isi Tanggungjawab Sosial
Secara singkat isi tanggung jawab sosial perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Terhadap relasi primer, misalnya memenuhi kontrak yangsudah dilakukan dengan perusahaan
lain, membayar hutang, memberi pelayanan kepada konsumendan pelanggan dengan baik.
2. Terhadap relasi sekunder; bertanggung jawab atas operasi dan dampak bisnis terhadap
masyarakat pada umumnya, atas masalah-masalah sosial, pajak, dan lain sebagainya.
Berdasarkan isi tanggungjawab sosial itu, maka tanggung jawab sosial bisnis adalah keterlibatan
bisnis dalam mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Tanggungjawab sosial dapat
dirumuskan dalam dua wujud :
1. Positif : melakukan kegiatan yang bukan didasarkan pada perhitungan untung rugi, melainkan
didasarkan pada pertimbangan demi kesejahteraan sosial.
2. Negatif : tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dari segi ekonomis menguntungkan, tetapi dari
segi soasial merugikan kepentingan dan kesejahteraan sosial.
Kode Etik berbagai Profesi
Anggota dari suatu profesi umunya terorganisasi dalam suatu asosiasi atau organisasi profesi
yang memiliki kekuasaan untuk mengatur anggotanya dalam menjalankan profesinya. Kode etik berisi
tuntutan keahlian, komitmen moral, dan perilaku yang diinginkan dari orang yang melakukan profesi
tersebut. Kode etik perusahaan dibedakan dalam tiga macam :
1. Value Statement (Pernyataan Nilai)
2. Corporate Credo (kredo Perusahaan)
3. Code of Conduct/Code of Ethical Conduct (Kode Etik)
Setiap Perusahaan memiliki kode etik. Manfaat kode etik bagi perusahaan dapat disbutkan
sebagai berikut :
1. Kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan
sebagian corporate culture.
2. Kode etik dapat membantu menghilangkan kawasan abu-abu (grey area) di bidang etika.
3. Kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggungjawab sosialnya.
4. Kode etik menyediakan regulasi sendiri (self regulation) dan dalam batas tertentu tidak perlu
campur tangan pemerintah dalam persoalan bisnis.
Kritik yang disampaikan terkait kode etik perusahaan adalah :
1. Kode etik sering hanya menjadi slogan belaka. Fungsinya sebatas window dressing yang
membuat pihak laur kagum, padahal belum tentu dijalankan dengan baik.
2. Kode etik dirumuskan terlalu umum dan tetap memerlukan keputusan pimpinan dalam berbagai
persoalan etis.
3. Jarang ada penegakan kode etik dengan memberi sanksi untuk pelanggan.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, suatu kode etik hendaknya :
1. Dirumuskan berdasarkan kesepakatan semua pihak dalam organisasi.
2. Tidak memuat hal-hal yang kurang berguna dan tidak mempunyai dampak nyata.
3. Direvisi sewaktu-waktu agar sesuai dengan perkembangan jaman.
4. Ditegakkan dengan seperangkat sanksi agar setiap permasalahan terselesaikan dengan baik.