Anda di halaman 1dari 41

Pengertian Besaran

Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur atau dihitung, dinyatakan dengan angka dan
mempunyai satuan.
Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa sesuatu itu dapat dikatakan sebagai besaran harus
mempunyai 3 syarat yaitu
1. dapat diukur atau dihitung
2. dapat dinyatakan dengan angka-angka atau mempunyai nilai
3. mempunyai satuan
Bila ada satu saja dari syarat tersebut diatas tidak dipenuhi maka sesuatu itu tidak dapat dikatakan
sebagai besaran.
Besaran berdasarkan cara memperolehnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu :
1. Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari
pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa merupakan
besaran fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.
2. Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak
diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non fisika
adalah Jumlah.
Besaran Fisika sendiri dibagi menjadi 2
1. Besaran Pokok adalah besaran yang ditentukan lebih dulu berdasarkan kesepatan para ahli
fisika. Besaran pokok yang paling umum ada 7 macam yaitu Panjang (m), Massa (kg), Waktu
(s), Suhu (K), Kuat Arus Listrik (A), Intensitas Cahaya (cd), dan Jumlah Zat (mol). Besaran
pokok mempunyai ciri khusus antara lain diperoleh dari pengukuran langsung, mempunyai
satu satuan (tidak satuan ganda), dan ditetapkan terlebih dahulu.
2. Besaran Turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Besaran ini ada banyak
macamnya sebagai contoh gaya (N) diturunkan dari besaran pokok massa, panjang dan
waktu. Volume (meter kubik) diturunkan dari besaran pokok panjang, dan lain-lain. Besaran
turunan mempunyai ciri khusus antara lain : diperoleh dari pengukuran langsung dan tidak
langsung, mempunyai satuan lebih dari satu dan diturunkan dari besaran pokok.
Saat membahas bab Besaran dan Satuan maka kita tidak akan lepas dari satu kegiatan yaitu
pengukuran. Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran sejenis
yang ditetapkan sebagai satuan.
Pengertian Satuan
Satuan didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran besaran. Setiap besaran mempunyai
satuan masing-masing, tidak mungkin dalam 2 besaran yang berbeda mempunyai satuan yang sama.
Apa bila ada dua besaran berbeda kemudian mempunyai satuan sama maka besaran itu pada
hakekatnya adalah sama. Sebagai contoh Gaya (F) mempunyai satuan Newton dan Berat (w)
mempunyai satuan Newton. Besaran ini kelihatannya berbeda tetapi sesungguhnya besaran ini sama
yaitu besaran turunan gaya. Untuk melihat berbagai rumus dalam bab besaran dan satuan silakan
klik http://alljabbar.files.wordpress.com/2008/03/01-besaran-dan-satuan.pdf
Besaran berdasarkan arah dapat dibedakan menjadi 2 macam
1. Besaran vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah sebagai contoh besaran
kecepatan, percepatan dan lain-lain.
2. Besaran sekalar adalah besaranyang mempunyai nilai saja sebagai contoh kelajuan, perlajuan
dan lain-lain.

2. MAKSUD

Sifat-sifat dari suatu benda atau kejadian yang kita ukur, misalnya panjang benda, massa
benda, lamanya waktu lari mengelilingi sebuah lapangan disebut besaran, besaran apa saja yang
bisa kita ukur dari sebuah buku ?. Pada sebuah buku, kita bisa mengukur massa, panjang, lebar,
dan tebal buku. Bagaimanakah kita menyatakan hasil pengukuran panjang buku?

Misalnya panjang buku sama dengan 25 sentimeter. sentimeter disebut satuan dari besaran
panjang. Massa buku sama dengan 1 kilogram; kilogram disebut satuan dari besaran massa. Jadi
satuan selalu mengikuti besaran, tidak pernah mendahuluinya.

Dimasyarakat kita kadang-kadang terdapat satuan-satuan yang tidak standar atau tidak baku,
misalnya satuan panjang dipilih depa atau jengkal. Satuan tersebut tidak baku karena tidak
mempunyai ukuran yang sama untuk orang yang berbeda. Satu jengkal orang dewasa lain dengan
satu jengkal anak-anak. Itulah sebabnya jengkal dan depan tidak dijadikan satuan yang standar
dalam pengukuran fisika.

Oleh karena alasan-alasan itulah para ilmuan mengadakan penelitian besar-besaran yaitu
General Conference on Weights and Measures of the International Academy of Science pada tahun
1960. Dalam sistem satuan ini, terdapat tujuh besaran yang disebut sebagai besaran pokok.

Pengertian besaran :
Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur atau dihitung, dinyatakan dengan
angka dan mempunyai satuan.
Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa sesuatu itu dapat dikatakan sebagai besaran
harus mempunyai 3 syarat yaitu :
1. dapat diukur atau dihitung
2. dapat dinyatakan dengan angka-angka atau mempunyai nilai
3. mempunyai satuan

Bila ada satu saja dari syarat tersebut diatas tidak dipenuhi maka sesuatu itu
tidak dapat dikatakan sebagai besaran.
Besaran berdasarkan cara memperolehnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam
yaitu :
1. Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari
pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa
merupakan besaran fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.
2. Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak
diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non
fisika adalah Jumlah.

Sistem satuan internasional
Sistem satuan internasional telah disepakati pada tahun 1960 oleh Konferensi Umum Kesebelas
mengenai berat dan ukuran, dengan nama Sistem international (SI).
Sistem satuan internasional menggunakan satuan dasar meter, kilogram, dan sekon, atau biasa
disebut sistem MKS dan satuan yang lain yang biasa dipakai dalam fisika adalah centimeter, gram
sekon atau sistem CGS.


Pengertian satuan

Satuan didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran besaran. Setiap besaran
mempunyai satuan masing-masing, tidak mungkin dalam 2 besaran yang berbeda mempunyai satuan
yang sama. Apa bila ada dua besaran berbeda kemudian mempunyai satuan sama maka besaran itu
pada hakekatnya adalah sama. Sebagai contoh Gaya (F) mempunyai satuan Newton dan Berat (w)
mempunyai satuan Newton. Besaran ini kelihatannya berbeda tetapi sesungguhnya besaran ini sama
yaitu besaran turunan gaya.

Apakah syarat yang harus dimiliki suatu satuan agar bisa menjadi satuan standar ? Beberapa
syarat utama adalah sebagi berikut :

1. Nilai satuan harus tetap, baik dalam cuaca panas atau dingin, bagi orang dewasa maupun bagi anak-
anak, dan terhadap perubahan-perubahan lingkungan lainnya. Sebagai contoh, jengkal tidak bisa
dijadikan satuan
baku karena berbeda-beda untuk masing-masing orang, sementara meter berlaku sama baik untuk
orang dewasa mapun anak-anak. Oleh karena itu, meter bisa digunakan sebagai satuan standar.
2. Mudah diperoleh kembali (mudah ditiru), sehingga orang lain yang ingin menggunakan satuan
tersebut dalam pengukurannya bisa memperolehnya tanpa banyak kesulitan. Satuan massa yaitu
kilogram,
mudah diperoleh kembali dengan membandingkannya. Dengan demikian, kilogram dapat digunakan
sebagai satuan standar. Dapat kita bayangkan, betapa repotnya jika suatu satuan sulit dibuat
tiruannya sehingga di dunia hanya ada satu-satunya satuan standar tersebut. Orang lain yang
ingin mengukur besaran yang bersangkutan harus menggunakan satu-satunya satuan standar
tersebut untuk memperoleh hasil yang akurat.
3. Satuan harus diterima secara internasional. Ini berkaitan dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dengan deterimanya suatu satuan sebagai satuan internasional maka ilmuwan dari satu
negara
dapat dengan mudah memahami hasil pengukuran dari ilmuwan negara lain.
Sistem satuan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, yang berlaku secara
interasional adalah sistem satuan SI, kependekan dari bahasa Prancis Systeme International
dUnites.
Sistem ini diusulkan pada General Conference on Weights and Measures of the International
Academy of Science pada tahun 1960. Dalam sistem satuan ini, terdapat tujuh besaran yang
disebut sebagai besaran pokok. Panjang,Massa,Waktu,Suhu,Kuat arus,Intensitas cahaya dan
Jumlah Zat.

Besaran fisika dibagi menjadi dua macam yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

Besaran pokok

Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak
diturunkan dari besaran lain. Dalam Sistem Internasional (SI) ada 7 besaran pokok yang mempunyai
satuan dan 2 besaran pokok yang tidak mempunyai satuan

1. Panjang
Satuan Panjang = Meter (M)
Meter pertama kali didefinisikan pada 1973 dengan membagi jarak dari kutub utara sampai ke
katulstiwa menjadi 10 juta bagian yang sama. Hasilnya diproduksi menjadi 3 batang platina dan
beberapa batang besi. Karena selanjutnya diketahui bahwa pengukuran jarak dari kutub ke katulstiwa
tidak akurat, maka pada 1960 standar ini ditinggalkan. Saat ini 1 meter didefinisikan sebagai jarak
yang ditempuh cahaya pada ruang hampa selama 1/299792458 detik

2. Waktu
Satuan Waktu = Detik/Sekon (S)
Satuan waktu awalnya didefinisikan sebagai 1/86400 dari waktu satu hari, namun karena rotasi
bumi tidak konstan, maka definisi ini diganti menjadi 1/31556925.9747 dari tahun 1900. pada 1967,
definisi ini kembali diganti.detik adalah selang waktu dari 9.192.631.770 periode radiasi yang
disebabkan karena transisi 2 atom cesium 133 pada ground state.
3. Massa
Satuan Massa = Kilogram (kg)
pada 1799, kilogram didefinisikan sebagai massa
air pada 4 derajat celcius yang menempati 1 desimeter kubik. Namun kemudian ditemukan bahwa
volume air yang diukur ternyata 1,000028 desimeter kubik, sehingga standar ini ditinggalkan pada
1889.
Kilogram didefinisikan oleh sebuah benda silinder yang terbuat dari lempeng platina dan 10% indium
pada ruang hampa di dekat paris Kilogram merupakan satu-satunya satuan standar yang tidak bisa
dipindahkan. Tiruan-tiruan telah dibuat dengan ketelitian mencapai 1/10
8
part, namun metalurgi abad
19 belum baik, sehingga ketidakmurnian pada logam menyebabkan kesalahan sekitar 0.5 part per
billion setiap tahunnya.

4. Arus listrik
Satuan Arus Listrik = Ampere (A)
Saat arus listrik mengalir lewat suatu kabel, maka bidang magnet akan berada di sekeliling kabel.
Ampere didefinisikan pada 1948 dari kekuatan tarik-menarik dua kabel yang berarus listrik.
1 ampere adalah arus listrik konstan dimana jika terdapat dua kabel dengan panjang tak terhingga
dengan circular cross section?? yang dapat diabaikan, ditempatkan dengan jarak 1 meter pada ruang
hampa, akan menghasilkan gaya 2 x 10
7
newton per meter.

5. Suhu atau Temperature
Satuan Suhu atau temperature Termodinamis = Kelvin (K)
Definisi dari temperature didasarkan pada diagram fase air, yaitu posisi titik tripel air (suhu
dimana 3 fase air berada bersamaan) yang didefinisikan sebagai 273,16 kelvin, kemudian nol mutlak
didefinisikan pada 0 kelvin, sehingga 1 kelvin didefiniskan sebagai 1/273.16 dari temperature titik
tripel air.
6. Jumlah Zat
satuan Jumlah Zat = Mol (Mol)
mol adalah istilah yang digunakan sejak 1902, dan merupakan kependekan dari gram-
molecule.1 Mol adalah jumlah zat yang mengandung zat elementer sebanyak atom yang terdapat
pada 0.012 kg karbon 12. saat istilah mol digunakan, zat elementernya harus dispesifikasikan,
mungkin atom, molekul, electron, atau partikel lain.
Kita dapat membayangkan satu mol sebagai jumlah atom dalam 12 gram karbon 12. bilangan ini
disebut bilangan Avogadro, yaitu 6.0221367 x 10
23

7. Intensitas Cahaya
satuan Intensitas Cahaya = Candela (C)
Satuan intensitas cahaya diperlukan untuk menentukan brightness (keterangan) dari suatu
cahaya. Sebelumnya, lilin dan bola lampu pijar digunakan sebagai standar. Standar yang digunakan
saat ini adalah sumber cahaya monokromatik(satu warna), biasanya dihasilkan oleh laser, dan suatu
alat bernama radiometer digunakan untuk mengukur panas yang ditimbulkan saat cahaya tersebut
diserap.1 candela adalah intensitas cahaya pada arah yang ditentukan, dari suatu sumber yang
memancarkan radiasi monokromatik dengan frekuensi 540 x 10
12
per detik, dan memiliki intensitas
radian pada arah tersebut sebesar (1/683) watt per steradian.
Berikut ini 2 macam besaran pokokn tak berdimensi :
1. Sudut Datar
Satuannya Radian
2. Sudut Ruang
Satuannya Steradian



Besaran Turunan
Besaran turuan adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Besaran
ini ada banyak macamnya sebagai contoh gaya (N) diturunkan dari besaran pokok
massa, panjang dan waktu. Volume (meter kubik) diturunkan dari besaran pokok
panjang, dan lain-lain. Besaran turunan mempunyai ciri khusus antara lain : diperoleh
dari pengukuran langsung dan tidak langsung, mempunyai satuan lebih dari satu dan
diturunkan dari besaran pokok.
suatu besaran turunan merupakan perkalian besaran pokok , satuan besaran
turunan itu juga merupakan perkalian satuan besaran pokok, begitu juga berlaku
didalam satuan besaran turunan yang merupakan pembagian besaran pokok..
Misalnya adalah luas yang merupakan hasil turunan satuan panjang dengan satuan meter
persegi atau m pangkat 2 (m^2). Luas didapat dari mengalikan panjang dengan panjang Berikut ini
adalah berbagai contoh besaran turunan sesuai dengan sistem internasional / SI yang diturunkan dari
system MKS (meter kilogram-sekon/second)

Besaran berdasarkan arah dapat dibedakan menjadi 2 macam
1. Besaran vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah sebagai contoh besaran kecepatan,
percepatan dan lain-lain.
2. Besaran sekalar adalah besaran yang mempunyai nilai saja sebagai contoh kelajuan, perlajuan dan
lain-lain.

Kesalahan (error)
adalah penyimpangan nilai yang diukur dari nilai benar x
0
. Kesalahan dapat digolongkan menjadi tiga
golongan :

1. Keteledoran
Umumnya disebabkan oleh keterbatasan pada pengamat, diantaranya kurang terampil menggunakan
instrumen, terutama untuk instrumen canggih yang melibatkan banyak komponen yang harus diatur
atau kekeliruan dalam melakukan pembacaan skala yang kecil.


2. Kesalahan sistmatik
Adalah kesalahan yang dapat dituangkan dalam bentuk bilangan (kuantitatif), contoh : kesalahan
pengukuran panjang dengan mistas 1 mm, jangka sorong, 0,1 mm dan mikrometer skrup 0,01 mm
3. Kesalahan acak
Merupakan kesalahan yang dapat dituangkan dalam bentuk bialangan (kualitatif),
Contoh :
- kesalahan pengamat dalam membaca hasil pengukuran panjang
- pengabaian pengaruh gesekan udara pada percobaan ayunan sederhana
- pengabaian massa tali dan gesekan antar tali dengan katrol pada percobaan hukum II Newton.
4. Ketidakpastian pada Pengukuran
Ketika mengukur suatu besaran fisis dengan menggunakan instrumen, tidaklah mungkin akan
mendapatkan nilai benar X
0,
melainkan selalu terdapat ketidakpastian. Ketidakpastian ini disebabkan
oleh beberapa hal misalnya batas ketelitian dari masing-masing alat dan kemampuan dalam
membawa hasil yang ditunjukkan alat ukur.
Beberapa istilah dalam pengukuran:
o Ketelitian (accuracy)
adalah suatu ukuran yang menyatakan tingkat pendekatan dari nilai yang diukur terhadap nilai benar
X
0

o Kepekaan
adalah ukuran minimal yang masih dapat dideteksi (dikenal) oleh instrumen, misal galvanometer
memiliki kepekaan yang lebih besar daripada Amperemeter / Voltmeter
o Ketepatan (precision)
adalah suatu ukuran kemampuan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang sama.
o Presisi
berkaitan dengan perlakuan dalam proses pengukuran, penyimpangan hasil ukuran dan jumlah
angka desimal yang dicantumkan dalam hasil pengukuran.
o Akurasi
yaitu seberapa dekat hasil suatu pengukuran dengan nilai yang sesungguhnya.


BAB III PENUTUP

1. KESIMPULAN

Dahulu sebelum ditemukannya satuan-satuan yang standar, orang-orang sangat kesulitan dalam
menentukan ukuran.begitu banyak standar yang ditetapkan. Contohnya banyak orang yang
menentukan ukuran panjang dengan DEPA atau JEGKAL sedangkan setiap orang mempunyai
ukuran jengkal yang berbeda-beda. Lalu dengan setiap Negara yang mempunyai standarnya masing-
masing, segala sesuatunya akan sangat membingungkan.
begitu banyak Mengukur adalah membandingkan suatu hal akan sangat menbingungkan apabila
tidak mempunyai satuan yang standar di DUNIA
Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Pengukuran adalah
membandingkan suatu dengan satuan yang dijadikan sebagai patokan. Dalam fisika pengukuran
besaran merupakan sesuatu yang sangat vital. Suatu pengamatan terhadap besaran fisis harus
melalui pengukuran. Pengukuran-pengukuran yang sangat teliti diperlukan dalam fisika, agar gejala-
gejala peristiwa yang akan terjadi dapat diprediksi dengan kuat. sesuatu yang dapat di ukur atau di
hitung, dan dinyatakan dengan angka dan satuan.
Satuan didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran besaran. Setiap besaran
mempunyai satuan masing-masing, tidak mungkin dalam 2 besaran yang berbeda mempunyai satuan
yang sama. Apa bila ada dua besaran berbeda kemudian mempunyai satuan sama maka besaran itu
pada hakekatnya adalah sama.
Jika membahas tentang besaran dan satuan maka ada kaitanya dengan cara pengukuran,alat yang
digunakan untuk mengukur sesuatu berbeda-beda tergantung dengan apa yag diukur, ketelitian
sangat dibutuhkan dalam pengukuran tersebut.
Dari makalah yang telah dibuat ini telah diketaui begitu banyak besaran dan sauannya serta cara
pegukurannya yang lazim.dan dengan standar yang telah ditetapkan manusia tidak menjadi
kebingungan untuk menetapkan satuan dalam suatu pengukuran.



2. SARAN

o Besaran dan satuan sangatlah penting untuk dipeajari karena sangat erat kaitanya dengan kehidupan
manusia.
o Saat melakukan pengukuran sangatlah membutuhkan ketelitian yang tinggi agar dapat menekan
kesalahan dalam pengukuran.
o Saat pembahasan materi diharapkan dosen banyak membahas tentang system pengukuran.


DAFTAR PUSTAKA


- http://antoniuszs.wordpress.com/2009/08/04/definisi-besaran-pokok-si/
- http://harisok.blogspot.com/2010/04/pengertian-besaran-dan-satuan.html
- http://alljabbar.wordpress.com/2008/03/05/besaran-dan-satuan/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Besaran#Panjang

Besaran dan Pengukuran
1. Pengertian Besaran dan satuan
a. Besaran
Besaran adalah sesuatu yang dapat di ukur dan dinyatakan dalam angka atau nilai. Besaran
dalam fisika meliputi besaran pokok dan turunan.
b. Satuan
Satuan adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembanding dalam pengukuran suatu
besaran.Satuan dari suatu besaran merupakan sesuatu yang menyatakan hasil pengukuran.
Satuan tidak baku
Satuan tidak baku adalah satuan yang apabila digunakan untuk melakukan pengukuran
memperoleh hasil nilai yang berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Ini
dikarenakan alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran ukurannya berbeda-beda.
Contoh: tempurung kelapa, kaleng, hasta, depa, jengkal, langkah, botol, patok dan
sebagainya.
Satuan baku
Satuan baku adalah satuan pengukuran yang nilainya tetap dan disepakati secara internasional
untuk digunakan sebagai pembanding.
Contoh : gram, kilogram, meter, sentimeter, kelvin dan sebagainya.
Sistem Internasional
Sistem satuan pada prinsipnya bersifat standar atau baku yang disebut sistem internasional
atau disingkat SI. Untuk menyeragamkan hasil pengukuran maka ditetapkanlah satuan
standar besaran sesuai SI. Meter ditetapkan sebagai satuan panjang, kilogram sebagai satuan
massa, dan sekon sebagai satuan waktu.
Alat ukur yang baku harus memenuhi 3 syarat yaitu bersifat tetap artinya tidak mengalami
perubahan dalam keadaan apapun, dapat digunakan secara Internasional, dan mudah ditiru
untuk diperbanyak.
Konversi Satuan
Untuk mengonversi atau mengubah dari suatu satuan ke satuan yang lainnya diperlukan
tangga konversi. Satuan dari setiap besaran turunan diperoleh dari penjabaran satuan besaran-
besaran pokok yang menyertai penurunan definisi dari besaran turunan yang bersangkutan.



km dikali
hm
dam
m
dm
dibagi cm
mm

Keterangan :
Setiap kali turun satu anak tangga, dikalikan 10
Setiap kali naik satu anak tangga, dibagi 10.

2. Macam besaran
a. Besaran Pokok
Besaran Pokok adalah besaran yang satuannya sudah ditetapkan terlebih dahulu oleh para
penemunya pada zaman dahulu. Besaran Pokok bisa juga dikatakan sebagai besaran dasar,
karenamerupakan dasar dari besaran-besaran selanjutnya. Berikut adalah macam besaran
pokok, beserta satuannya
NO BESARAN SATUAN SIMBOL
1 Panjang Meter m
2 Massa Kilogram Kg
3 Waktu Sekon s
4 Suhu Kelvin K
5 Kuat arus Ampere A
6 Intensitas Cahaya Candela Cd
7 Jumlah Zat Mole Mol

Macam-macam besaran pokok yang dipelajari di Sekolah Dasar :
1. Besaran Panjang
Panjang merupakan jarak antara dua titik. Satuan panjang yang digunakan adalah meter
sesuai dengan SI. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang benda haruslah
sesuai dengan ukuran benda. Sebagai contoh, untuk mengukur lebar buku kita
gunakan pengaris, sedangkan untuk mengukur lebar meja lebih
mudah menggunakan penggaris kayu. Alat untuk mengukur panjang ada bermacam-macam
tergantung kebutuhan kita, alat-alat diantaranya adalah penggaris, mistar, jangka
sorong, micrometer skrup dan meteran
2. Besaran Massa
Massa suatu zat adalah banyaknya materi yang terkandung dalam suatu zat. Satuan dasar
massa yang digunakan adalah kilogram sesuai dengan SI. Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur massa yaitu neraca lengan, neraca ohaus, dan timbangan.
3. Besaran Waktu
Satuan standar yang digunakan untuk waktu adalah detik atau sekon sesuai dengan SI. Alat
ukur yang dapat digunakan untuk mengukur besaran waktu yaitu arloji, stop watch, dan jam
digital.
4. Besaran Suhu
Suhu adalah suatu besaran untuk menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu
benda.Satuan standar yang digunakan untuk besaran suhu adalah kelvin sesuai dengan
SI. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer.

b. Besaran Turunan
Besaran turunan merupakan besaran yang diturunkan dari satu atau lebih besaran pokok.

NO BESARAN SATUAN RUMUS
1 Luas m
2
panjang x lebar
2 Volume m
3
Panjang x lebar x tinggi
3 Massa jenis Kg/m
3
Massa : volume
4 Kecepatan m/s Jarak : waktu


Macam-macam besaran turunan yang dipelajari Sekolah Dasar :
1. Besaran Luas
Luas suatu benda adalah bentangan seluruh permukaan benda. Besaran yang dapat diperoleh
dari menurunkan besaran pokok panjang. Satuan panjang (m) dikali satuan panjang (m),
sehingga diperoleh satuan luas m
2
. Besaran luas dapat diukur sesuai dengan bentuk
bidangnya. Contohnya segitiga, persegi, persegi panjang.

2. Besaran Volume
Volume suatu benda adalah besar ruangan yang dipenuhi benda itu. Besaran yang dapat
diperoleh dari menurunkan besaran panjang. Hasil satuan volume dapat diperoleh dengan
cara satuan panjang (m) dikali satuan panjang (m) dikali satuan panjang (m), sehingga
diperoleh satuan m
3
.
3. Besaran massa jenis
Massa jenis adalah besaran yang diturunkan dari besaran massa dan panjang. Hasil satuan
massa jenis dapat diperoleh dengan cara satuan massa (kg) dibagi {satuan panjang (m) x (m)
x (m)}, sehingga diperoleh satuan kg/m
3
.
4. Besaran kecepatan
Kecepatan adalah besaran yang diturunkan dari besaran panjang dan waktu. Hasil
satuan kecepatan dapat diperoleh dengan cara satuan panjang (m) dibagi satuan waktu (s),
sehingga diperoleh satuan m/s.

3. Pengukuran
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan
besaran sejenis dengan satuan berdasarkan sistem dan cara tertentu.
Contoh sederhana, ketika kita mengukur sebuah papan tulis dengan cara menjengkalnya, dan
hasilnya adalah 18 jengkal. Itu artinya cara mengukur papan tulis adalah dengan
membandingkannya dengan jengkal tangan kita. Dan hasilnya, panjang papan tulis itu
sebanding dengan 18 jengkal tangan kita.

Hubungan Besaran dengan pengukuran di Pendidikan IPA
Pengukuran sangat erat kaitannya dalam pembelajaran IPA di sekolah. Dalam melakukan pengukuran
orang selalu berhadapan dengan benda atau objek yang diukur, alat ukur, dan satuan yang digunakan.
1. Mengukur besaran panjang dan besaran turunannya
Untuk mengukur besaran panjang dapat digunakan berbagai alat ukur meteran ( mistar,
meteran kain), jangka sorong, mikrometer sekrup, dan lainnya.
Untuk mengukur besaran luas harus disusuaikan dengan bidang benda yang akan di ukur.
Rumus pada umumnya, L=panjang x lebar
Sedangkan untuk mengukur volume suatu benda juga digunakan rumus yang umum. V=
panjang x lebar x tinggi
Akan tetapi untuk mengukur benda yang tidak beraturan dapat digunakan gelas ukur yang di
isi air. Benda yang akan diukur dimasukkan kedalam gelas ukur. Sehingga dapat diperoleh
volume benda yang di ukur adalah volume air setelah ditambahkan dikurangi volume air
awal.
V= v
2
v
1


2. Mengukur besaran massa dan besaran turunannya
Mengukur massa benda sebenarnya adalah kegiatan membandingkan benda tersebut dengan
massa standar ( timbangan ). Dalam kehidupan sehari-hari massa serng disebut dengan berat.
Padahal massa dan berat adalah sesuatu yang sangat berbeda. Karena berat adalah besarnya
gaya tarik ( gravitasi ) bumi terhadap suatu benda.
Menentukan massa jenis adalah = ... kg/m
3


3. Mengukur besaran waktu dan besaran turunannya
Menurut Sistem Internasional (SI) satuan waktu adalah detik ( sekon ). Pengukuran waktu
dalam pembelajaran IPA merupakan pengkonverensian satuan waktu yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, yaitu: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun.
Berikut hubungan antar satuan waktu:

1 tahun = 365 hari
1 hari = 24 jam
1 menit = 60 detik
1 jam = 3600 detik
1 jam = 60 menit



4. Mengukur besaran suhu
Alat yang digunakan untuk mrngukur suhu adalah termometer. Dalam pendidikan Ipa,
kegiatan pengukuran dapat dilaksankan dalam bentuk kegiatan observasi. Misalnya kita
menggunakan termometer untuk mengukur suhu badan, suhu ruangan, suhu air, dan lainnya.
Ada 4 macam satuan yang lazim digunakan dalam pengukuran suhu, yaitu Celcius (
0
C ),
Reamur (
0
R), Fahrenheit (
0
F ) dan Kelvin ( K ).
Perbandingan skala suhu ketiga termometer adalah sebagai berikut.
t
C
: t
R
: ( t
F
32 ) = 5 : 4 : 9
atau t
C
: t
R
= 5 : 4 .......................... rumus 1

http://www.docstoc.com/docs/82167486/makalah-besaran-dan-satuan

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari hari tentu kita selalu bersinggungan dengan kegiatan
mengukur baik panjang, massa, maupun waktu. Banyak sekali kegiatan sehari hari yang
menggunakan besaran dan satuan misalnya pada saat mengukur panjang tali atau jarak suatu
benda ke benda lain, menimbang berat beras atau gandum, menghitung waktu tempuh dari
rumah ke kampus, dan lain sebagainya.
Panjang, massa, dan waktu yang sering kita gunakan disebut besaran, sedangkan
ukuran untuk menyatakan besaran disebut dengan satuan. Seperti meter untuk panjang,
kilogram untuk massa dan detik untuk waktu.
Besaran adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian ukuran dan memiliki
satuan atau hal hal yang akan diketahui ukurannya. Menurut ada tidaknya arah, Besaran
dibagi menjadi dua, yaitu Besaran Vektor dan Besaran Skalar. Besaran Vektor merupakan
besaran yang mempunyai nilai dan arah, misalnya kecepatan dan berat benda. Besaran
Skalar merupakan Besaran yang hanya mempunyai nilai saja, misalnya massa benda. Satuan
adalah sesuatu yang digunakan untuk membandingkan ukuran suatu besaran.
Melihat dari induknya, Besaran dibagi menjadi dua yaitu besaran pokok dan besaran
turunan. Besaran pokok adalah besaran yang sudah tetapkan terlebih dahulu. Didalam fisika
dikenal tujuh besaran pokok yaitu panjang, massa, waktu, suhu, kuat arus, intensitas cahaya,
dan jumlah zat. Sedangkan besaran turunan merupakan besaran yang diturunkan dari satu
atau lebih besaran pokok. Karena besaran turunan merupakan kombinasi dari besaran
pokok, maka satuan besaran turunan juga merupakan kombinasi satuan besaran pokok.
Aturan untuk menentukan besaran turunan adalah sebagai berikut:
1. Jika satuan besaran turunan merupakan perkalian besaran pokok, satuan besaran turunan itu
juga merupakan perkalian satuan besaran pokok.
2. Jika suatu besaran turunan itu juga merupakan pembagian besaran pokok, maka satuan
besaran turunan itu juga merupakan pembagian besaran satuan besaran pokok.
Dimensi suatu besaran adalah cara besaran itu tersusun oleh besaran-besaran pokok.
Analisis dimensional dapat kita gunakan untuk menetahui besaran-besaran turunan yang
memiliki besaran yang sama, serta untuk menganalisis besaran atau titik suatu persamaan
atau rumus.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah:
Untuk mengubah satuan-satuan dan fungsi persamaan dalam massa, panjang, gaya, dan lain-
lain.
Untuk menjumlahkan, mengurangi, membagikan dan mengalikan satuan.













II. TINJAUAN PUSTAKA
Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan yang ada ke satuan SI atau
sebaliknya. Konversi satuan perlu dilakukan karena disetiap negara biasanya memiliki sistem
satuan sendiri-sendiri. Untuk mencari kesesuaiannya diperlukan konversi satuaan. (Ari
Damari, 2009)
Pengubahan satuan sering kita hadapidalam persoalan fisika. Pengubahan satuan pada
dasar nya adalah mengubah nilai besaran darib satuan yg satu ke satuan yang lain. Kadang
kadang besaran yang di berikan menggunakan sistem satuan yang berbeda dengan system
satuan yang kita inginkan. Sebelum melakukan perhitungan kita harus menyesuaikan sistem
satuan ke dalam sistem satuan yang kita kehendaki. Untuk memudahkan dalam mengubah
dari awalan yang satu ke awalan yang lain, kita menggunakan tangga konversi satuan.
Penggunaan satuan yang beraneka ragam dapat menimbulkan beberapa kesulitan.
Kesulitan pertama yaitu, kesulitan dalam menentukan faktor konversi apabila ingin beralih
dari suatu satuan ke satuan lain. Kesulitan kedua adalah memerlukan banyak alat ukur yang
sesuai dengan satuan yang digunakan. Oleh karena itu, pada tahun 1960 suatu perjanjian
internasional menerapkan sistem metrik sebagai system satuan internasional (SI). Sistem
metrik menggunakan meter untuk satuan panjang, kilogram untuk satuan massa, dan sekon
untuk satuan waktu. (Anonim,2011)
Sistem satuan metrik memiliki keunggulan karena konversi satuan-satuannya sangat
mudah yaitu berupa bilangan berpangkat n atau 10
n
misalnya10
5
. (Kamajaya, 2007)



III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum berjudul Konversi Satuan, dalam praktikum Satuan Operasi dilakukan pada
hari Selasa 15 Maret 2011 dan 29 Maret 2011 pukul 13.00 15.00 yang dilakukan di
Laboratorim Kimia Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian Unuversitas Sriwijaya.

B. Pembahasan
Pada Praktikum yang ketiga yaitu Konversi Satuan, yang bertujuan untuk
mengubah satuan-satuan dan fungsi persamaan dalam massa, panjang, gaya, dan lain-lain,
dan Untuk menjumlahkan, mengurangi, membagikan dan mengalikan satuan. Sebelum
melakukan praktikum ini, terlebih dahulukita harus mengetahui beberapa istilah yang
berkaitan dengan Konversi satuan. Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan
yang ada kedalam satuan SI atau sebaliknya. Besaran adalah suatu pernyataan yang
mengandung pengertian ukuran dan memiliki satuan atau hal-hal yang akan diketahui
ukurannya Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menyatakan suatu ukuran besar.
Satuan atau satuan ukur atau unit digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau
sebagai nilai standar bagi pembanding alat ukur, takar, timbang dan perlengapannya untuk
melindungi kepentingan umum. Digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk
mendefinisikan berbagai pengukuran, rumus dan data .
Dimensi adalah suatu yang dinyatakan secara umum dalam besaran primer. Dalam
penggunaan umum, dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk
mendefinisikan sifat-sifat suatu objek yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk.
Dalam matematika dan fisika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk
menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. Dalam konteks khusus,
satuan ukur dapat pula disebut dimensi meter atau inchi.
Dimensi mempunyai beberapa kegunaan antara lain :
1. Untuk menentukan kesetaraan dua buah besaran. Kesetaraan dua besaran dapat dilihat dari
dimensi masing-masing, jika dimensinya sama maka dinyatakan kedua besaran itu setara
2. Untuk menentukan ketepatan suatu persamaan. Benar tidaknya sebuah persamaan dapat
dilihat secara cepat dengan melihat dimensinya. Jika dimensi dikedua ruas sama maka
persamaan tersebut benar
3. Untuk menentukan satuan besaran turunan dalam besaran dasar.
4. Untuk mengonversi satuan dari sistem cgs ke MKS atau sebaliknya.
Faktor konversi adalah angka tidak berdimensi yang merupakan ekivalensi satuan
yang bersambutan. Pada operasi, penambahan dan pengurangan dimensi dari bilangan yang
dioperasikan harus sama, sedangkan dalam perkalian atau pembagian tidak ada syarat dalam
pengoperasiannya.
Dalam kehidupan kita terdapat 4 sistem satuan yaitu :
1. Absolute Dynamic System (cgs)
2. English Absolute System (fps)
3. Sisitem Internasional (mks)
4. Gravitational system
British : ft, Sec, slug
American : ft, sec, lbm, lbf
Sistem Internasional Sistem Satuan Internasional ( dalam bahasa perancis : Systme
Internasional dUnits arau SI ) adalah sistem satuan atau besaran yang paling umum
digunakan. Pada awalnya sistem ini merupakan sistem MKS, yaitu panjang (meter), massa
(kiligram), dan waktu (detik/sekon). Sistem SI ini secara resmi digunakan disemua negara di
dunia kecuali Amerika Serikat (yang menggunakan Sistem Imperial), Liberia, dan Myanmar.
Dalam sistem SI terdapat 7 satuan dasar/pokok SI dan 2 satuan tanpa dimensi. Selain
itu, dalam sistem SI terdapat standar awalan awalan (prefix) yang dapat digunakan untuk
penggandaan atau menurunkan satuan satuan lainnya.
Dalam Praktikum ini, kita akan diberikan nilai konversi dari beberapa satuan.
Misalnya 1 lb/m
2
= 0,07033 kg/cm
2
= 0,068 atm. Kemudian Asisten akan memberikan kita
soal yang harus dijawab dengan berpedoman pada nilai konversi yang telah diberikan.









V. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan yang ada ke satuan
SI atau sebaliknya.
2. Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menyatakan ukuran besar.
3. Besaran adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian ukuran dan
memiliki satuan atau hal hal yang akan diketahui ukurannya. Besaran dibagi
menjadi dua yaitu besaran pokok dan besaran turunan.
4. Dimensi adalah satuan yang dinyatakan secara umum dalam besaran primer.
5. Faktor konversi adalah angka tak berdimensi yang merupakan ekivalensi
satuan yang bersambutan.
6. Terdapat empat sistem satuan yang diakui, yaitu absolute Dynamic system,
English absolute system , Sistem Internasional, dan gravitational system.

2. BAB I PENDAHULUANDalam fisika, pengukuran merupakan salah
satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitasmengukur menjadi
sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam
mempelajariberbagai fenomena yang sedang dipelajari. Mengapa
demikian?Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi
pengukuran atau mengukur itu sendiri.Mengukur adalah
membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah
disepakati.Misalnya untuk mengukur panjang suatu kabel maka kita
bisa menggunakan meteran. Dalam halini besaran yang dibandingkan
adalah panjang dari kabel tersebut. Sedangkan
besaranpembandingnya adalah meteran. Meteran merupakan alat ukur
besaran panjang yang satuannyatelah disepakati. Dengan demikian
jika nilai hasil perbandingan kedua besaran tersebutmenunjukkan
bahwa panjang kabel itu ternyata 1,5 kali lebih panjang dari ukuran
satu meterandapat dikatakan bahwa panjang kabel yang terukur
adalah 1,5 meter.Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan.
Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untukmendefinisikan
karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika dikaitkan
denganproses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis
maka pengukuran menjadi jalan untukmencari data-data yang
mendukungnya.Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-
data numerik yang menunjukkan pola-pola tertentu sebagai bentuk
karakteristik dari fenomena atau permasalahan tersebut.
Dengandemikian, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang
bersifat kualitatif berdasarkan pola-polayang dihasilkan oleh data-data
kuantitatif tersebut.Dengan salah satu argumentasi di atas, sudah
dapat kita ketahui betapa penting dandibutuhkannya aktivitas
pengukuran dalam fisika. Maka tidak ada alasan bagi para
fisikawanbahkan mahasiswa untuk mengabaikannya dalam setiap
riset-riset mereka.1.1 TUJUAN PERCOBAANDengan dilakukannya
percobaan pada praktikum ini diharapkan bahwa mahasiswa dapat
denganmudah mempergunakan beberapa alat ukur. Dengan tidak
hanya mengetahui namanya sajanamun juga mempergunakan dan
merepresentasikan data-data yang terukur dalam sebuah
formatlaporan yang sesuai.Sebagai ssatu hasil keluaran yang dapat
dipresentasikan dengan baik merupakan tujuanberikutnya dimana
mahasiswa dapat menentukan volume dan massa jenis beberapa zat
padat.Hingga akhirnya presentasi format percobaan dapat
diperbandingkan dengan teori-teori yangterkait dengan percobaan
apakah percobaan yang dilakukan dapat dipastikan sesuai atau
bahkanjauh melenceng dari teori yang ada.
3. 1.2 DASAR TEORIBesaran dan SatuanBesaran dalam fisika
diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai
besaran(besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang
dapat digunakan sebagai pembandingdalam pengukuran. Satuan
Internasional (SI) merupakan satuan hasil konferensi para ilmuwan
diParis, yang membahas tentang berat dan ukuran. Berdasarkan
satuannya besaran dibedakanmenjadi dua, yaitu besaran pokok dan
besaran turunan.1. Besaran PokokBesaran pokok adalah besaran
yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan besaran yanglain.
Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah ditetapkan
terlebih dahuluberdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok
bersifat bebas, artinya tidak bergantungpada besaran pokok yang
lain.Dimensi suatu besaran adalah cara besaran tersebut tersusun atas
besaran-besaran pokoknya.Pada sistem Satuan Internasional (SI), ada
tujuh besaran pokok yang berdimensi, sedangkan duabesaran pokok
tambahan tidak berdimensi. Cara penulisan dimensi dari suatu besaran
dinyatakandengan lambang huruf tertentu dan diberi tanda kurung
persegi.Berdasarkan table bahwa dapat diketahui dimensi tertentu dari
suatu benda, misalkan untukmengetahui Volume zat padat jika
bentuknya beraturan, maka akan memiliki panjang, lebar,tinggi,
diameter dan sebagainya.PENGUKURAN CARA STATISUntuk
mengukur volume zat padat yang teratur bentuknya (kontinu) dapat
pula dilakukan secaratidak langsung dengan mengukur perubah
(variabel) yang membangunnya.Volume balok dapat juga dilakukan
dengan cara mengukur panjang lebar dan tinggi dari balokitu sehingga
:
4. Vbalok = p x l x tDengan;p = panjang balokl = lebar balokt = tinggi
balokSedangkan volume silinder pejal dapat juga dilakukan dengan
mengukur diameter dan panjangsilinder itu sehingga: Vsilinder =
d2 .pDengan;d = diameter silinderp = panjang silinderDalam
menentukan massa jenis suatu benda pada percobaan ini, akan
menerapkan HukumArchimmides :setiap benda yang tercelup
sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan mendapat gaya keatas
sebesar beratfluida yang dipindahkan oleh benda itu.Melalui
pemahaman ini kita akan membandingkan harga massa jenis yang
dihitung secarakonfensional (hitung massa dan volume) dan dengan
menerapkan hukum Archimides.PENGUKURAN CARA DINAMISUntuk
mengukur benda dengan cara dinamis, maka benda harus dicari
dahulu masa di udara danmasa di air dengan menggunakan neraca
teknis.Massa jenis (rapat massa) suatu zat adalah massa tiap satuan
volume atau dapat dirumuskan: V = Mu MaDengan ;Mu = Massa
udaraMa = Massa air = Dengan ; = massa jenis (g/cm3)M = massa
zat (g)V = volume zat (cm3)Jika massa dan volume dapat diketahui
dengan cara menimbang zat itu dengan timbangan atauneraca teknis
sehingga besaran massa dapat diukur langsung dengan alat ukurnya.
Untukmengukur langsung volume zat padat dapat dilakukan dengan
memasukkan zat padat itu ke
5. dalam gelas ukur yang berisi zat cair. Apabila zat itu tenggelam
seluruhnya maka perubahanpenunjukan volume itu dari zat padat
tersebut.Tetapi untuk mengukur volume zat padat besarannya tidak
selalu dapat diukur langsung sepertiitu karena terdapat zat padat yang
massa jenisnya lebih kecil dari zat cair sehingga kalau zatpadat
tersebut dimasukkan ke dalam zat cair akan mengapung atau
melayang ( tidak tenggelamseluruhnya).
6. BAB II ALAT DAN BAHANSejak jaman dahulu orang telah
melakukan pengukuran, seperti mengukur luas tanah, mengukurmassa
badannya, dan mengukur selang waktu antara matahari terbit sampai
tenggelam.Mengukur merupakan yaitu proses membandingkan suatu
besaran yang diukur dengan besarantertentu yang telah diketahui atau
ditetapkan sebagai acuan. Pada pengukuran yang berbeda
kitamungkin membutuhkan alat/instrumen yang berbeda pula.Misalnya,
saat mengukur panjang jalan Anda menggunakan meteran, tetapi saat
menimbangberat badan Anda menggunakan neraca. Berikut akan
Anda pelajari instrumen pengukurpanjang, massa, dan waktu.Alat
Pengukuran yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah a. Jangka
SorongJangka sorong terdiri atas dua bagian, yaitu rahang tetap dan
rahang geser. Skala panjang yangterdapat pada rahang tetap
merupakan skala utama, sedangkan skala pendek yang terdapat
padarahang geser merupakan skala nonius atau vernier. Nama vernier
diambilkan dari nama penemujangka sorong, yaitu Pierre Vernier,
seorang ahli teknik berkebangsaan Prancis.Skala utama pada jangka
sorong memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala
noniuspada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan di bagi dalam
10 skala, sehingga beda satuskala nonius dengan satu skala pada
skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.Jadi, skala terkecil pada
jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong
tepatdigunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam,
kedalaman tabung, dan panjangbenda sampai nilai 10 cm. b.
Mikrometer SekrupMikrometer sekrup sering digunakan untuk
mengukur tebal bendabenda tipis dan mengukurdiameter benda-benda
bulat yang kecil seperti tebal kertas dan diameter kawat.
Mikrometersekrup terdiri atas dua bagian, yaitu poros tetap dan poros
ulir. Skala panjang yang terdapat padaporos tetap merupakan skala
utama, sedangkan skala panjang yang terdapat pada poros
ulirmerupakan skala nonius.Skala utama mikrometer sekrup
mempunyai skala dalam mm, sedangkan skala noniusnyaterbagi
dalam 50 bagian. Satu bagian pada skala nonius mempunyai nilai 1/50
0,5 mm atau0,01 mm.
7. Jadi, mikrometer sekrup mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi
dari kedua alat yang telahdisebutkan sebelumnya, yaitu 0,01 mm. c.
Neraca TeknisMassa benda menyatakan banyaknya zat yang terdapat
dalam suatu benda. Massa tiap bendaselalu sama dimana pun benda
tersebut berada. Satuan SI untuk massa adalah kilogram (kg).Alat
untuk mengukur massa disebut neraca. Ada beberapa jenis neraca,
antara lain, neracaohauss, neraca lengan, neraca langkan, neraca
pasar, neraca tekan, neraca badan, dan neracaelektronik. Setiap
neraca memiliki spesifikasi penggunaan yang berbeda-beda. Jenis
neraca yangumum ada adalah neraca tiga lengan dan empat
lengan.Pada neraca tiga lengan, lengan paling depan memuat angka
satuan dan sepersepuluhan, lengantengah memuat angka puluhan,
dan lengan paling belakang memuat angka ratusan.Selain beberapa
alat ukur diatas pada praktikum kali ini juga dipergunakan bejana gelas
untukmengukur volume dengan teorema Archimedes, Thermometer
untuk mengukur suhu ruangandan Barometer digunakan untuk
mengetahuui tekanan dalam ruangan.Dan benda yang diukur berupa
satu buah balok tembaga, satu buah besi silinder dan sebuahkunci.
8. BAB III METODE PERCOBAANPercobaan I (Mencari Volume dan
Massa Balok)Kubus yang diukur adalah balok kuningan. Teknik yang
digunakan adalah dengan mengukurrusuk-rusuk kubus tersebut
menggunakan jangka sorong dan milimeter sekrup. Masing-
masingpengukuran rusuk tiap kubus diulang 3 kali. Sedangkan untuk
pengukuran massa, percobaanyang dilakukan hanya 1 kali.Percobaan
II (Mencari Volume dan Massa Besi Silinder)Silinder yang diukur
adalah silinder besi. Teknik yang digunakan adalah dengan
mengukurtinggi menggunakan jangka sorong dan diameter
menggunakan micrometer skrup. Masing-masing pengukuran tinggi
dan diameter dilakukan 3 kali. Sedangkan pengukuran
massa,dilakukan percobaan sebanyak satu kali saja.Percobaan III
(Mencari Volume dan Massa sebuah kunci)Kunci yang digunakan
adalah sebuah kunci pintu, dapat diprediksikan sebelumnya bahwa
kunciterbuat dari bahan campuran tembaga dan timah. Pengukuran
volume dilakukan denganmenggunakan bejana gelas dan cairan. Dan
untuk mengetahui massa dilakukan denganmenggunakan neraca.
DinamisTable Pengamatan Kunci dan Tabung No. Benda Mu (g) Ma
(g) V (cm3) (g/cm3) 1. Kunci 11,900 10,100 1,8 6,61 2. Tabung 62,200
54,250 7,95 7,82 StatisTable Pengamatan Balok Kuningan , m = 66,5
gram No P(cm) L (cm) T (cm) V (cm3) (g/cm3) 1 4,1 1,91 0,972 7,60
8,75 2 4,1 1,91 0,973 7,61 8,73 3 4,1 1,92 0,971 7,64 8,70 4,1 1,91
0,972 7,65 8,72Table Pengamatan Tabung Besi , m=62,1 gram No
D(cm) T (cm) V (cm3) (g/cm3) 1 1,581 4,2 8,24 7,53 2 1,580 4,2 8,23
7,54 3 1,581 4,2 8,24 7,53 1,580 4,2 8,23 7,53 9. BAB IV HASIL
PENGAMATANBerdasarkan pengamatan dan percobaan yang telah
dilakukan pada hari Senin29 Oktober 2012,maka didapatkan
dilaporkan hasilnya sebagai berikut : Keadaan ruangan P (cm) Hg
Temperature (0C) C (%) Sebelum percobaan 75,55 260 74% Sesudah
percobaan 75,50 270 71%
10. BAB V PEMBAHASANBerdasarkan Percobaan pertama yang
dilakukan pada balok kuningan didapatkan data ukuranPanjang, lebar
dan tinggi, serta massa benda.Sehingga dapat diperhitungkan sebagai
berikut :Diketahui, Tabel Perhitungan dan massa benda = 66,5
gramVolume = pxlxt Massa Jenis = massa / volumePercobaan 1 = 4,1
x 1,91x 0,972 = 66,5 / 7,60 = 7,60 cm3 = 8,75 gr/cm3Percobaan 2 =
4,1 x 1,91 x 0,973 = 66,5 / 7,61 = 7,61 cm3 = 8,73Percobaan 3 = 4,1 x
1,91 x 0,972 = 66,5 / 7,64 = 7,64 cm3 = 8,70Dari hasil perhitungan
didapatkan rata-rata data sebesar 8,72 gr/cm3Sehingga nilai ketelitian
dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
ketelitian = x 100% = x 100 % = 0,01 x 100 % = 0,99 x 100 % =
99 %Percobaan dan perhitungan mendekati kepada data standar
massa jenis kuningan yaitu sebesar99%
11. Berdasarkan Percobaan kedua yang dilakukan pada besi silinder
didapatkan data ukuranPanjang, diameter, serta massa
benda.Sehingga dapat diperhitungkan sebagai berikut :Diketahui,
Tabel Perhitungan dan massa benda adalah 62,1 gramVolume =
d2 .p Massa Jenis = massa/volumePercobaan 1 = x 3,14 x (1,581)2
x 4,2 = 62,1 / 8,24 = 8,24 cm3 = 7,53Percobaan 2 = x 3,14 x
(1,580)2 x 4,2 = 62,1 / 8,23 = 8,23 cm3 = 7,54Percobaan 3 = x 3,14
x (1,581)2 x 4,2 = 62,1 / 8,24 = 8,24 cm3 = 7,53Dari hasil perhitungan
didapatkan rata-rata data sebesar 7,53 g/cm3Sehingga nilai ketelitian
dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
ketelitian = x 100% = x 100 % = 0,03 x 100 % = 0,97x 100 % = 97
%Percobaan dan perhitungan mendekati kepada data standar massa
jenis besi yaitu sebesar 97%.
12. Berdasarkan Percobaan ketiga yang dilakukan pada bendakunci
dan tabungdidapatkan dataukuran volume, massa udara dan massa
air.Sehingga dapat diperhitungkan sebagai berikut : Vkunci = Mu Ma
= 11,9 10,1 = 1,8 gram kunci = = = 3 = Vtabung = Mu Ma =62,2
54,25 = 7,95 gram tabung = = = 3 =Massa Jenis Kunci Tidak
Sebanding dengan Massa Jenis benda seperti Besi Kuningan 8,6
danBesi 7.8Hal ini disebabkan karena kunci terbuat dari bahan
campuran.
13. BAB VI KESIMPULANMengukur itu sangat penting untuk
dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha
untukmendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara
kuantitatif. Dan jika dikaitkan denganproses penelitian atau sekedar
pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan
untukmencari data-data yang mendukungnya.Pengukuran harus
dilakukan dengan kecermatan yang tinggi dan dilakukan dengan alat
yangsesuai agar hasil pengukuran meminimalisirkan kesalahan.Hasil
Pengukuran harus dituangkan dalam bentuk tabel dengan baik agar
tidak perlu dilakukanpengukuran ulang yang mengaibatkan lamanya
proses perhitungan data kembali.Percobaan pada balok kuningan
menghasilkan ketelitian hampir mencapai 100 % atau sebesar99% dan
besi silinder sebesar 97%. Namun pada pengukuran secara langsung
pada kuncididapatkan data sebesar 6,61 gram/cm3dimana masa jenis
kunci lebih kecil dari massa jenisstandar untuk kuningan dan besi.
Dapat diperkirakan bahwa kunci terbuat dari bahan campuranlogam
yang memiliki massa jenis lebih rendah dari besi dan kuningan.
14. DAFTAR PUSTAKABuku Penuntun Praktikum Fisika Dasar,
Laboratorium Fisika Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam
Universitas
Pakuanhttp://muhammadnuruddin071644036.blogspot.com/2010/10/m
assa-jenis-zat-padat-bentuk-

I.1 Tujuan Percobaan
a. Mempelajari dan menggunakan alat-alat ukur
b. Menentukan volume dan massa jenis zat padat
c. Menggunakan teori ketidakpastian

I.2 Teori Dasar
Besaran dan Satuan
Besaran dalam fisika diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai
besaran (besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan
sebagai pembanding dalam pengukuran. Satuan Internasional (SI) merupakan satuan
hasil konferensi para ilmuwan di Paris, yang membahas tentang berat dan ukuran.
Berdasarkan satuannya besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan
besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran yang digunakan sebagai dasar untuk
menetapkan besaran yang lain. Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah
ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok
bersifat bebas, artinya tidak bergantung pada besaran pokok yang lain. Dimensi suatu
besaran adalah cara besaran tersebut tersusun atas besaran-besaran pokoknya. Pada
sistem Satuan Internasional (SI), ada tujuh besaran pokok yang berdimensi,
sedangkan dua besaran pokok tambahan tidak berdimensi. Cara penulisan dimensi
dari suatu besaran dinyatakan dengan lambang huruf tertentu dan diberi tanda kurung
persegi.

1. Pengukuran Cara Statis

Pengukuran cara statis digunakan untuk mengukur volume zat padat yang teratur
bentuknya (kontinu) dapat pula dilakukan secara tidak langsung dengan mengukur
perubah (variabel) yang membangunnya. Pengukuran cara statis pada zat padat
contohnya pada balok dan silinder.

a. Balok
Volume balok dapat juga dilakukan dengan cara mengukur panjang lebar dan tinggi
dari balok itu sehingga :
V
balok
= p x l x t


Dengan;
P = panjang balok
L = lebar balok
T = tinggi balok

Untuk menghitung massa jenis balok dilakukan dengan cara mengukur
massa benda tersebut dibagi dengan volume benda itu sehingga :

Dengan :
v = volume benda

b. Silinder
volume silinder dapat juga dilakukan dengan mengukur jari-jari dan panjang silinder
itu sehingga:
V
silinder
= r
2
.t



Dengan;
d = diameter silinder
t = tinggi silinder
r = jari-jari silinder

Untuk menghitung massa jenis silinder dilakukan dengan cara mengukur massa benda
tersebut dibagi dengan volume benda itu sehingga

=

Dengan :
silinder
silinder
v = volume silinder

Untuk mengukur tingkat ketelitian benda, dapat dihitung dengan menggunakan cara :



2. Pengukuran secara dinamis

Dalam pengukuran secara dinamis untuk menentukan massa jenis suatu benda pada
suatu percobaan, diterapkan Hukum Archimmides :
setiap benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan mendapat
gaya ke atas sebesar beratfluida yang dipindahkan oleh benda itu.
Melalui pemahaman ini kita akan membandingkan harga massa jenis yang dihitung
secara konfensional (hitung massa dan volume) dan dengan menerapkan hukum
Archimides. Contoh pengukuran secara dinamis salah satunya terdapat pada kunci.

Menghitung volume pada benda padat secara dinamis ( contohnya mengukur volume
kunci) dapat dilakukan dengan cara mengurangi massa udara dengan massa air
sehingga :
V = Mu Ma

Dengan ;
Mu = Massa udara
Ma = Massa air

Massa jenis (rapat massa) suatu zat adalah massa tiap satuan volume atau dapat
dirumuskan:
= m/v

Dengan ;
= massa jenis (Kg/m3)
M = massa zat (Kg)
V = volume zat (m3)

Jika massa dan volume dapat diketahui dengan cara menimbang zat itu dengan
timbangan atau neraca teknis sehingga besaran massa dapat diukur langsung dengan
alat ukurnya. Untuk mengukur langsung volume zat padat dapat dilakukan dengan
memasukkan zat padat itu ke dalam gelas ukur yang berisi zat cair. Apabila zat itu
tenggelam seluruhnya maka perubahan penunjukan volume itu dari zat padat tersebut.

Tetapi untuk mengukur volume zat padat besarannya tidak selalu dapat diukur
langsung seperti itu karena terdapat zat padat yang massa jenisnya lebih kecil dari zat
cair sehingga kalau zat padat tersebut dimasukkan ke dalam zat cair akan mengapung
atau melayang ( tidak tenggelam seluruhnya).


BAB II
ALAT DAN BAHAN

II.1 Alat
a. Jangka Sorong
Jangka sorong terdiri atas dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang geser. Skala
panjang yang terdapat pada rahang tetap merupakan skala utama, sedangkan skala
pendek yang terdapat pada rahang geser merupakan skala nonius atau vernier. Nama
vernier diambilkan dari nama penemu jangka sorong, yaitu Pierre Vernier, seorang
ahli teknik berkebangsaan Prancis. Skala utama pada jangka sorong memiliki skala
dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius pada jangka sorong memiliki panjang 9
mm dan di bagi dalam 10 skala, sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala
pada skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jadi, skala terkecil pada jangka sorong
adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong tepat digunakan untuk mengukur
diameter luar, diameter dalam, kedalaman tabung, dan panjang benda sampai nilai 10
cm.

b. Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup sering digunakan untuk mengukur tebal bendabenda tipis dan
mengukur diameter benda-benda bulat yang kecil seperti tebal kertas dan diameter
kawat. Mikrometer sekrup terdiri atas dua bagian, yaitu poros tetap dan poros ulir.
Skala panjang yang terdapat pada poros tetap merupakan skala utama, sedangkan
skala panjang yang terdapat pada poros ulir merupakan skala nonius. Skala utama
mikrometer sekrup mempunyai skala dalam mm, sedangkan skala noniusnya terbagi
dalam 50 bagian. Satu bagian pada skala nonius mempunyai nilai 1/50 0,5 mm atau
0,01 mm. Jadi, mikrometer sekrup mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi dari
kedua alat yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu 0,01 mm.

c. Neraca Teknis
Massa benda menyatakan banyaknya zat yang terdapat dalam suatu benda. Massa tiap
benda selalu sama dimana pun benda tersebut berada. Satuan SI untuk massa adalah
kilogram (kg). Alat untuk mengukur massa disebut neraca. Ada beberapa jenis neraca,
antara lain, neraca ohauss, neraca lengan, neraca langkan, neraca pasar, neraca tekan,
neraca badan, dan neraca elektronik. Setiap neraca memiliki spesifikasi penggunaan
yang berbeda-beda. Jenis neraca yang umum ada adalah neraca tiga lengan dan empat
lengan. Pada neraca tiga lengan, lengan paling depan memuat angka satuan dan
sepersepuluhan, lengan tengah memuat angka puluhan, dan lengan paling belakang
memuat angka ratusan.

d. Bejana Gelas
Bejana gelas digunakan untuk mengukur volume dengan teorema Archimedes

e. Thermometer
Adalah alat untuk mengukur suhu ruangan

f. Barometer
Adalah alat yang digunakan untuk mengetahuui tekanan dalam ruangan.

g. Kalkulator
Digunakan sebagai alat bantu hitung


KESIMPULAN

Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai
usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika
dikaitkan dengan proses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran
menjadi jalan untuk mencari data-data yang mendukungnya.

Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numerik yang
menunjukkan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari fenomena atau
permasalahan tersebut. Dengan demikian, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang
bersifat kualitatif berdasarkan pola-pola yang dihasilkan oleh data-data kuantitatif tersebut.
Pengukuran harus dilakukan dengan kecermatan yang tinggi dan dilakukan dengan alat yang
sesuai agar hasil pengukuran meminimalisirkan kesalahan.

Hasil Pengukuran harus dituangkan dalam bentuk tabel dengan baik agar tidak perlu
dilakukan pengukuran ulang yang mengaibatkan lamanya proses perhitungan data kembali.
Percobaan pada balok tembaga menghasilkan ketelitian hampir mencapai 100 % atau sebesar
99,1% dan bahkan besi silinder sebesar 93,7%. Namun pada pengukuran secara langsung
pada kunci didapatkan data sebesar 10,048 gram/cm
3
.
Dari percobaan yang telah dilakukan dapt diambil kesimpulan, sebagai berikut :
Untuk pengukuran volume suatu benda dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara statis dan
cara dinamis sesuai dengan bentuk dan sifat benda (elastis atau tidak elastis).
Pengukuran dengan cara statis tingkat ketelitiannya lebih besar daripada cara dinamis karena
cara statis hanya dilakukan untuk pengukuran benda berbentuk beraturan, sedangkan cara
dinamis dilakukan untuk pengukuran benda yang berbentuk tidak beraturan.



A. Latar Belakang
Dalam penelitian ilmiah, pengolahan nilai dan data lebih diutamakan dari pada
pernyataan, bahkan dalam pekrjaan bukan ilmiah sekalipun. Sejak dahulu orang-orang telah
menemukan perlunya pengukuran yang dinyatakan dalam angka-angka dan satuan yang
jelas. Di dalam pengukuran harus ada yang namanya ketepatan pengukuran.
Dari tahun ketahun ketepatan pengukuran banyak mengalami perubahan karena
pemikiran manusia yang terus berkembang. Dan di tetapkanlah sebuah keputusan
internasional yang menetapkan satuan internasional menjadi acuan dari setiap kegiatan ilmiah
maupun non-ilmiah.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui seajuh manakah satuan internasional telah diterapkan dan diaplikasikan.
2. Memahami dan dapat meangaplikasikan setiap alat ukur yang akan dipraktikan.














II. TINJAUAN PUSTAKA
Mengukur adalah membandingkan satu besaran dengan besaran lain yang sejenis yang
telah diterapkan sebagai satuan. Pengukuran pada umumnya memerlukan alat ukur, baik itu
berupa mistar, hasta, depa, dan sebangainya. Pada zama dahulu, manusia menggunakan
bagian tubuh untuk mengukur panjang suatu benda. Akibatnya dikenal dengan istilah hasta,
depa dan jengkal sebagai satuan panjang. Di Inggris, satuan depa adalah fathom yang sampai
saat ini masih digunakan untuk mengukur kedalaman laut (Arisworo, 2006).
Sebelum melakukan pengukuran diperlukan pemahaman tentang alat ukur yang akan
digunakan. Pemahaman ini terkait dengan nama alat ukur serta fungsinya. Kemampuan
tersebut merupakan prasyarat sebelum melakukan pengukuran. Kemapuan prasyaraat ini juga
dapat juga dinilai kemampuan melakukan pengukuran. Seandainya disatuan pendidikan
(sekolah) siswa belum mengenal jangka sorong, dan dalam kehidupan sehari-hari
dilingkungannya hanya menggunakan mistar, maka alat ukur yang ditanyakan berkaitan
dengan mistar (Tim pengembangan ilmu prndidikan, 2007).
Pada ilmu kimia sangat bergantung pada pengukuran. Sebagai contoh, kimiawan
menggunakan pengukuran untuk membandingkan sifat dari berbagai zat dan untuk
mempelajari perubahan yang terjadi dalam sebuah percobaan. Suatu besaran hasil
pengukuran biasanya ditulis sebagai sebuah bilangan yang disertai dengan satuan untuk
bilangan itu (Chang, 2000).


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu fisika, pengukuran dan besaran merupakan hal yang bersifat dasar,
dan pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas
mengukur menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam
mempelajari berbagai fenomena yang sedang dipelajari.
Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur
itu sendiri. Mengukur adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran
lain yang telah disepakati. Misalnya menghitung volume balok, maka harus mengukur
untuk dapat mengetahui panjang, lebar dan tinggi balok, setelah itu baru menghitung
volume.
Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu
fenomena atau permasalahan secara kualintatik. Dan jika dikaitkan dengan proses
penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan
untuk mencari data-data yang mendukung. Dengan pengukuran ini kemudian akan
diperoleh data-data numeric yang menunjukan pola-pola tertentu sebagai bentuk
karakteristik dari permasalahan tersebut.
Pentingnya besaran dalam pengukuran, maka dilakukan praktikum ini yang dapat
membantu untuk memahami materi dasar-dasar pengukuran. Dalam mengamati suatu
gejala tidak lengkap apabila tidak dilengkapi dengan data yang didapat dari hasi
pengukuran yang kemudian besaran-besaran yang didapat dari hasil pengukuran
kemudian ditetapkan sebagai satuan.
Dengan salah satu argument di atas, setelah dapat kita ketahui betapa penting dan
dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika, untuk memperoleh hasil / data dari
suatu pengukuran yang akurat dan dapat dipercaya.

1.2 Tujuan Percobaan
1. Mampu menggunakan alat-alat ukur dasar
2. Menentukan ketidakpastian dalam pengukuran serta menuliskan hasil pengukuran
secara benar
3. Memahami dan menggunakan metode kuadrat terkecil dalam pengolahan data


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengukuran
Untuk mencapai suatu tujuan tertentu, di dalam fisika,kita biasanya melakukan
pengamatan yang diikuti dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum
tidaklah lengkap bila tidak dilengkapi dengan data kuantitatif yang didapat dari hasil
pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur apa
yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita
menghetahui apa yang sedang kita bicarakan itu. Sedangkan arti dari pengukuran itu
sendiri adalah membandingkan sesuatu yang sedang diukur dengan besaran sejenis
yang ditetapkan sebagai satuan, misalnya bila kita mendapat data pengukuran panjang
sebesar 5 meter, artinya benda tersebut panjangnya 5 kali panjang mistar yang
memiliki panjang 1 meter.
Dalam hal ini, angka 5 menunjukkan nilai dari besaran panjang, sedangkan meter
menyatakan besaran dari satuan panjang. Dan pada umumnya, sesuatu yang dapat
diukur memiliki satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka kita
sebut besaran. Panjang, massa dan waktu termasuk pada besaran karena dapat kita
ukur dan dapat kita nyatakan dengan angka-angka. Akan tetapi kebaikan dan
kejujuran misalnya. Tidak dapat kita ukur dan tidak dapat kita nyatakan dengan
angka-angka. Tapi walaupun demikian, tidak semua besaran fisika selalu mempunyai
satuan. Beberapa besaran fisika ada yang tidak memiliki satuan. Antara lain adalah
indek bias, koefisien gesekan, dan massa jenis relative.

2.2 Pengukuran Panjang Benda
a. Dengan Menggunakan Mistar
Untuk mengukur panjang suatu benda, dalam kehidupan sehari-hari kita
lumrah menggunakan mistar atau penggaris. Terdapat beberapa jenis mistar sesuai
dengan skalanya. Ada mistar yang skala terkecilnya mm (mistar milimeter) dan ada
mistar yang skala terkecilnya cm (mistar centimeter). Mistar yang sering kita gunakan
biasanya adalah mistar milimeter. Dengan kata lain, mistar itu mempunyai skala
terkecil 1 milimeter dan mempunyai ketelitian 1 milimeter atau 0,1 cm..Ketika
mengukur dengan menggunakan mistar, posisi mata hendaknya diperhatikan dan
berada di tempat yang tepat, yaitu terletak pada garis yang tegak lurus mistar. Garis
ini ditarik dari titik yang diukur. Jika sampai mata berada diluar garis tersebut,
panjang benda yang terbaca bisa menjadi salah. Bisa saja benda akan terbaca lebih
besar atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya. Akibat dari hal ini adalah terjadinya
kesalahan dalam pengukuran yang biasa disebut kesalahan paralaks
b. Dengan Menggunakan Jangka Sorong
Untuk melakukan pengukuran yang mempunyai ketelitian 0,1 mm diperlukan
jangka sorong. Jangka sorong mempunyai fungsi-fungsi pengukuran, yaitu:
Pengukuran panjang bagian luar benda. Pengukuran panjang rongga bagian dalam
benda. Pengukuran kedalaman lubang dalam benda. Jangka sorong sendiri mempunyai
bagian-bagian sebagai berikut: Rahang yang tetap (biasa disebut rahang tetap),
memiliki skala panjang yang disebut skala utama.Rahang yang dapat digeser-geser
(disebut rahang geser), yang memiliki skala pendek yang disebut nonius atau vernier.
Rahang tetap terdapat skala-skala utama dalam satuan cm dan mm. Sedangkan pada
rahang geser terdapat skala pendek yang terbagi menjadi 10 bagian yang sama besar.
Skala inilah yang disebut sebagai nonius atau vernier. Panjang 10 skala nonius itu
adalah 9 mm, sehingga panjang 1 skala nonius adalah 0,9 mm. Jadi selisih antara skala
nonius dan skala utama adalah 0,1 mm.atau 0,01 cm. Sehingga dapat ketelitian jangka
sorong adalah 0,1 mm. Contoh pengukuran dari jangka sorong adalah sebagai berikut.
Bila diukur sebuah benda didapat hasil bahwa skala pada jangka sorong terletak
antara skala 5,2 cm dan 5,3 cm. Sedangkan skala nonius yang keempat berimpit dengan
salah satu skala utama. Mulai dari skala keempat ini ini kekiri, selisih antara skala
utama dan skala nonius bertambah 0,1 mm atau 0,01 cm setiap melewati satu skala.
Karena terdapat 4 skala, maka selisih antara skala utama dan skala nonius adalah 0,4
mm atau 0,04 cm. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan kalau panjang benda
yang diukur tersebut adalah 5,2 cm+0,04 cm=5,24 cm.


c. Dengan Menggunakan Mikrometer Sekrup
Untuk megukur benda-benda yang sangat kecil sampai ketelitian 0,01 mm atau
0,001 cm digunakan alat bernama mikrometer sekrup. Bagian utama dari mikrometer
sekrup adalah sebuah poros berulir yang dipasang pada silinder pemutar yang disebut
bidal. Pada ujung silinder pemutar ini terdapat garis-garis skala yang membagi 50
bagian yang sama. Jika bidal digerakan satu putaran penuh, maka poros akan maju
(atau mundur) sejauh 0,5 mm. Karena silinder pemutar mempunyai 50 skala
disekelilingnya, maka kalau silinder pemutar bergerak satu skala, poros akan bergeser
sebesar 0,5 mm/50 = 0,01 mm atau 0,001 cm. Sangat perlu diketahui, pada saat
mengukur panjang benda dengan mikrometer sekrup, bidal diputar sehingga benda
dapat diletakan diantara landasan dan poros. Ketika poros hampir menyentuh benda,
pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan
benda. Dengan memutar roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros
menyentuh benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi
tidak teliti.

2.3 Sistem Internasional
Satuan untuk suatu besaran sebenarnya bisa dipilih secara sembarang. Untuk
satuan panjang saja kita bebas untuk menggunakan centimeter, meter, kaki, mil dan
sebagainya. Bahkan ada orang yang menggunakan satuan hasta sebagai satuan
panjang. Penggunaan berbagai macam satuan ini ternyata bisa membuat beberapa
kesulitan. Misalnya kita akan memerlukan berbagai macam alat ukur yang berbeda
untuk satuan yang berbeda pula. Kesulitan selanjutnya dalah saat kita akan melakukan
komunikasi ilmiah. Kita mungkin akan kesulitan untuk melakukan konversi dari
sebuah satuan menjadi satuan yang lain.
Dikarenakan hal itulah, maka para ilmuwan dunia sepakat membuat sebuah satuian
internasional untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, dan lahirlah system SI.
Dalam satuan SI, panjang memiliki satuan meter, satuan massa adlah kilogram, dan
satuan waktu adalah sekon yang dikenal juga dengan sbutan sistem MKS. Selain itu
dikenal pula istilah CGS, dengan centimeter sebagai satuan panjang, gram sebagai
satuan massa, dan sekon sebagai satuan waktu. Setelah ditetapkan secara internasional,
sekarang stiap satuan memiliki standar masing-masing dalam pengukurannya, yaitu:
Satuan standar waktu Satu sekon adalah waktu yang dibutuhkan oleh atom cesium 133
untuk melakukan 9.192.631.770 periode radiasi ketika melewati tingkat energi yang
paling rendah. Satuan standar panjang Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya
dalam ruang hampa udara selama selang waktu 1/299.792.458 s.
Satuan standar massa
Satu kilogram adalah massa silinder campuran platinum-iridium.
Satuan standar kuat listrik
Satu Ampere adalah kuat arus tetap yang jika dipertahankan mengalir dalam masing-
masing dari dua penghantar lurus sejajar dengan panjang tak hingga dan penampang
lintang lingkaran yang dapat diabaikan, dengan jarak pemisah 1 meter, dalam ruang
hampa akan menghasilkan gaya interaksi antara kedua penghantar sebesar 2x10
newton setiap meter penghantar.
Satuan suhu
Satu Kelvin adalah 1/273,16 kali suhu termodinamika titik tripel air.
Satuan intensitas cahaya
Satu kandela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan
radiasi monokromatik pada frekuensi 540x10 hertz dengan intensitas sebesar 1/683
watt per steradian dalam arah tersebut.
Satuan jumlah zat
Satu mol adalah jumlah zat yang mengandung unsur elementer zat tersebut dalam
jumlah sebanyak atom karbon dalam 0.,012 kg karbon-12.
Setelah ditetap secara internasional, setiap satuan memiliki standar masing-masing
dalam pengukurannya, yaitu :
Satuan Standar Waktu
Satuan standar waktu adalah 1 sekon. 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan oleh
atom cesium 133 untuk melakukan 9.192.631.770 periode radiasi ketika melewati
tingkat energy yang paling rendah.
Satuan Standar Panjang
Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa udara selama
selang waktu .
Satuan Standar Massa
Satu kilogram adalah standar massa silinder campuran platinum-iridium.
Satuan Standar Kuat Listrik
Satu ampere adalah kuat arus tetap yang jika dipertahankan mengalir dalam masing-
masing dari penghantar lurus sejajar dengan panjang tak hingga dan penampang
lintang lingkaran yang dapat diabaikan, dengan jarak pemisah 1 meter, dalam ruang
hampa akan mengalami gaya interaksi antara kedua penghantar sebesar 2x10 newton
setiap meter penghantar.
Satuan Suhu
Satu Kelvin adalah , 1 kali suatu termodinamika titik tripel air.
Satuan Intensitas Cahaya
Satu candela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi
monokromatik pada frekuensi 540x10 hertz dengan intensitas sebesar watt/sterodion
dalam arah tersebut.
Satuan Jumlah Zat
Satu mol adalah jumlah zat yang mengandung unsur elementer zat tersebut dalam
jumlah sebanyak atom karbon dalam 0,012 kg karbon-12.

2.4 Ketidakpastian Pengukuran
Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai
fenomena yang terjadi di alam. Ilmu ini didasarkan pada pengamatan dan percobaan.
Pengamatan merupakan pengkajian suatu gejala yang terjadi di alam. Hanya saja,
sayangnya suatu gejala alam yang muncul secara alamiah belum tentu terjadi dalam
waktu tertentu, sehingga menyulitkan pengamatan. Untuk mensiasati ini, maka
dilakukan percobaan yang menyerupai gejala alamiah itu di bawah kendali dan
pengawasan khusus. Tanpa percobaan ini, ilmu fisika tak mungkin berkembang seperti
saat sekarang ini.
Dan selanjutnya, dalam suatu percobaan kita hrus berusaha menelaah dan
mempelajarinya. Caranya, kita harus mempunyai data kuantitatif atas percobaan yang
kita lakukan. Sanada dengan pendapat Lord Kelvin yang mengungkapkan kalau kita
belum belajar sesuatu bila kita tak bisa mendapatkan sebuah data kuantitatif. Untuk
itulah dalam fisika dibutuhkan sebuah pengukuran yang akurat. Akan tetapi, ternyata
tak ada pengukuran yang mutlak tepat. Setiap pengukuran pasti memunculkan sebuah
ketidakpastian pengukuran, yaitu perbedaan antara dua hasil pengukuran.
Ketidakpastian juga disebut kesalahan, sebab menunjukkan perbedaan antara nilai
yang diukur dan nilai sebenarnya. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor
itu dibagi dalam 2 garis besar, yaitu: ketidakpastian bersistem dan ketidakpastian acak.

a. Ketidakpastian Bersistem
Kesalahan kalibrasi
- Kesalahan dalam memberi skala pada waktu alat ukur sedang dibuat sehingga tiap
kali alat itu digunakan, ketidakpastian selalu muncul dalam tiap pengukuran.
- Kesalahan titik nol skala alat ukur tidak berimpit dengan titik nol jarum penunjuk alat
ukur.
- Kesalahan Komponen Alat Sering terjadi pada pegas. Biasanya terjadi bila pegas sudah
sering dipakai Gesekan
- Kesalahan yang timbul akibat gesekan pada bagian-bagian alat yang bergerak.
- Kesalahan posisi dalam membaca skala alat ukur.
b. Ketidakpastian Acak
- Gerak Brown molekul udara menyebabkan jarum penunjuk skala alat ukur
terpengaruh.
- Frekuensi Tegangan listrik, perubahan pada tegangan PLN, baterai, atau aki Landasan
yang Bergetar
- Adanya Nilai Skala Terkecil dari Alat Ukur.
- Keterbatasan dari Pengamat Sendiri.

c. Angka Penting
Angka penting adalah angka yang diperhitungkan di dalam pengukuran dan
pengamatan. Aturan angka penting: Semua angka bukan nol adalah angka penting.
Angka nol yang terletak diantara angka bukan nol termasuk angka penting. Untuk
bilangan desimal yang lebih kecil dari satu, angka nol yang terletak disebelah kiri
maupun di sebelah kanan tanda koma, tidak termasuk angka penting. Deretan angka
nol yang terletak di sebelah kanan angka bukan nol adalah angka penting, kecuali ada
penjelasan lain.

2.5 Akurasi dan Presisi
Pengukuran yang akurat merupakan bagian penting dari fisika, walaupun demikian
tidak ada pengukuran yang benar-benar tepat. Ada ketidakpastian yang berhubungan
dengan setiap pengukuran. Ketidakpastian muncul dari sumber yang berbeda. Di
antara yang paling penting, selain kesalahan, adalah keterbatasan ketepatan setiap alat
pengukur dan ketidakmampuan membaca sebuah alat ukur di luar batas bagian
terkecil yang ditunjukkan. Misalnya anda memakai sebuah penggaris centimeter untuk
mengukur lebar sebuah papan, hasilnya dapat dipastikan akurat sampai 0,1 cm, yaitu
bagian terkecil pada penggaris tersebut. Alasannya, adalah sulit untuk memastikan
suatu nilai di antara garis pembagi terkecil tersebut, dan penggaris itu sendiri mungkin
tidak dibuat atau dikalibrasi sampai ketepatan yang lebih. Akurasi pengukuran atau
pembacaan adalah istilah yang sangat relatif. sebaik dari ini. Akurasi didefinisikan
sebagai beda atau kedekatan (closeness) antara nilai yang terbaca dari alat ukur
dengan nilai sebenarnya.
Dalam eksperiman, nilai sebenarnya yang tidak pernah diketahui diganti dengan
suatu nilai standar yang diakui secara konvensional. Secara umum akurasi sebuah alat
ukur ditentukan dengan cara kalibrasi pada kondisi operasi tertentu dandapat
diekspresikan dalam bentuk plus-minus atau presentasi dalam skala tertentu atau pada
titik pengukuran yang spesifik. Semua alat ukur dapat diklasifikasikan dalam tingkat
atau kelas yang berbeda-beda, tergantung pada akurasinya. Sedang akurasi dari
sebuah sistem tergantung pada akurasi Individual elemen pengindra primer, elemen
skunder dan alat manipulasi yang lain.
Ketika menyatakan hasil pengukuran, penting juga untuk menyatakan ketepatan
atau perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut. Sebagai contoh, hasil
pengukuran lebar papan tulis : 5,2 plus minus 0,1 cm. Hasil Plus minus 0,1 cm (kurang
lebih 0,1 cm) menyatakan perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut
sehingga lebar sebenarnya paling mungkin berada diantara 5,1 dan 5,3. Persentase
ketidakpastian merupakan perbandingan antara ketidakpastia dan nilai yang diukur,
dikalikan dengan 100 %. Misalnya jika hasil pengukuran adalah 5,2 cm dan
ketidakpastiannya 0,1 cm maka presentase ketidakpastiannya adalah : (0,1/5,2) x 100%
= 2%

Seringkali, ketidakpastian pada suatu nilai terukur tidak dinyatakan secara eksplisit.
Pada kasus seperti ini, ketidakpastian biasanya dianggap sebesar satu atau dua satuan
(atau bahkan tiga) dari angka terakhir yang diberikan. Sebagai contoh, jika panjang
sebuah benda dinyatakan sebagai 5,2 cm, ketidakpastian dianggap sebesar 0,1 cm (atau
mungkin 0,2 cm). Dalam hal ini, penting untuk tidak menulis 5,20 cm, karena hal itu
menyatakan ketidakpastian sebesar 0,01 cm; dianggap bahwa panjang benda tersebut
mungkin antara 5,19 dan 5,21 cm, sementara sebenarnya anda menyangka nilainya
antara 5,1 dan 5,3.
Setiap unit mempunyai kontribusi terisah dengan batas tertentu. Jika a1, = a2
dan a3 adalah batas akurasi individual, maka akurasi total dari sistem dapat
diekspresikan dalam bentuk bawah akurasi seperti berikut :
A = ( a1+ a2 + a3 ) (2.1)
Dalam hal tertentu nilai batas bawah akurasi total diatas mempunyai kelemahan,
maka dalam praktek orang lebih sering menggunakan nilai akar kuadrat rata-rata
untuk mendefinisikan nilai akurasi dari sebuah sistem, yaitu :
A = ( a1 + a2 + a3 ) (2.2)
Presisi adalah istilah untuk menggambarkan tingkat kebebasan alat ukur dari
kesalahan acak. Jika pengukuran individual Dilakukan berulang-ulang, maka sebran
hasil pembacaan akan berubah-ubah disekitar nilai rata-ratanya. Bila Xn adalah nilai
pengukuran ke n dan adalah nilai rata-ratanya n pengukuran maka secara metematis,
presisi dapat dinyatakan
Presisi = (2.3)
Presisi tinggi dari alat ukur tidak mempunyai implikasi terhadap akurasi
pengukuran. Alat ukur yang mempunyai presisi tinggi belum tentu alat ukur tersebut
mempunyai akurasi tinggi. Akurasi rendah dari alat ukur yang mempunyai presisi
tinggi pada umum nya disebabkan oleh bias dari pengukuran, yang bisa dihilangkan
dengan kalibrasi.
Dua istilah yang mempunyai arti mirip dengan presisi adalahrepeatability dan
reproducibility. Repeability digunakan untuk menggambarkan
kedekatan (closeness) keluaran pembacaan bila dimasukkan yang sama digunakan
secara berulang-ulang pada periode waktu yang singkat pada kondisi dan lokasi
pengukuran yang sama, dan dengan alat ukur yang sama. Reproducibility digunakan
untuk menggambar kedekatan ( closeness) keluaran pembacaan bila masukan yang
sama digunakan secara berulang-ulang.

Macam macam alat ukur
a) Jangka sorong

Ketelitian Jangka Sorong: Paling tidak ada 2 jenis jangka sorong, yakni jangka sorong
yang memiliki ketelitian 0,05 mm dan yang memiliki ketelitian 0,1 mm.

b) Mikrometer sekrup

Ketelitian mikrometer sekrup:
Micrometer sekrup hanya ada satu macam, yakni yang berketelitian 0.01 mm.
c) Spherometer
Spherometer merupakan alat untuk mengukur jejari kelengkungan suatu
permukaan. Biasanya digunakan untuk mengukur kelengkungan lensa. Spherometer
memiliki 4 kaki, dengan 3 kaki yang permanen dan satu kaki tengah yang dapat
diubah-ubah ketinggiannya. Ketelitian spherometer bisa mencapai 0,01 mm.
d) Neraca Torsi
Neraca torsi digunakan untuk mengukur massa suatu zat. Ketelitian yang dimiliki
neraca ini bermacam-macam antara lain sebesar 0,1 g atau 0,05 g atau 0,01 g.
e) Densitometer
Specific gravity adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan (massa
jenis) suatu zat cair. Bedanya dengan densitometer adalah bahwa nilai yang
ditunjukkan oleh specific gravity merupakan nilai relatif terhadap kerapatan air (1
g/ml).
f) Stopwatch
Stopwatch merupakan alat pengukur waktu. Stopwatch yang sering dipakai
biasanya berketelitian 0,1 s atau 0,2 s. Telepon genggam (HP) biasanya juga disertai
fasilitas stopwatch. Ketelitian stopwatch pada telepon genggam biasanya 0,01 s.

g) Termomoter
Termometer adalah alat pengukur suhu. Termometer yang biasa digunakan dalam
Lab. Fisika Dasar adalah termometer Celcius dengan ketelitian 0,50C atau 10C.
h) Multimeter
Multimeter adalah alat pengukur besaran listrik, seperti hambatan, kuat arus,
tegangan, dsb. Ketelitan alat ini sangat beragam dan bergantung pada besar nilai
maksimum yang mampu diukur. Berhati-hatilah dalam menggunakan alat ini.
Perhatikan posisi saklar sesuai dengan fungsinya dan besar nilai maksimum yang
mampu diukur. Jika digunakan untuk mengukur tegangan maka alat ini harus
dirangkai paralel, colok (+) dihubungkan dengan (+) rangkaian, sedangkan colok (-)
dengan bagian (-)nya. Sedangkan jika digunakan untuk mengukur kuat arus yang
melalui suatu cabang rangkaian maka alat ini harus dirangkai secara seri melalui
cabang tersebut.
i) Neraca Ohauss
neraca ohaus adalah alat ukur massa benda dengan ketelitian 0.01 gram.,neraca ini ada
dua macam :
1. nilai skalanya dari yang besar sampai ketelitian 0.01 g yang di geser. di pisah antara
skala ratusan(0-200), puluhan(0-100),satuan (0-10) dan skala 1/100 (0-1) yang di bagi2
juga skala kecilnya sampai ketelitian 0.01 g.
Kalo yang ini cara makenya gampang. Kamu tinggal taruh saja bendanya (ingat neraca
harus sudah terkalibrasi), lalu digeser skalanya dimulai dari yang skala besar baru
gunakan skala yang kecil.
2. nilai skala ratusan dan puluhan di geser, tapi skala satuan dan 1/100 nya di putar. Cara
memakainya hampir sama dengan yang no.1 tadi. Cuma bedanya, waktu membaca
yang dengan nilai 0-10. Misalkan sudah terbaca antara skala ratusan dan puluhannya
(100+20). Lalu kamu putar skala satuannya (dalam 1 skala satuannya, dibagi lagi 10
skala), lihat skala yang terlewatkan dari angka nol (misal 5.6 g).