Anda di halaman 1dari 141

LAMPIRAN II

SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH TERPUSAT


PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN
AIR LIMBAH TERPUSAT


BUKU 3
OPERASI, PEMELIHARAAN DAN REHABILITASI

Pengelolaan adalah kegiatan menjalankan fungsi-fungsi SPALT yang telah dibangun
agar sesuai dengan kriteria perencanaan, serta dilaksanakan apabila prasarana dan
sarana SPALT yang telah terbangun siap untuk dioperasikan. Kegiatan pengelolaan
yang dimaksudkan dalam peraturan ini meliputi kegiatan pengoperasian,
pemeliharaan dan rehabilitasi.

Dalam proses pengelolaan ini, penyelenggara harus menjamin air limbah yang
diolah memenuhi syarat kesehatan dengan melaksanakan pemeriksaan secara
berkala terhadap kualitas effluent air limbah yang diolah. Penyelenggara SPAL
dapat melibatkan peranserta masyarakat dalam pengelolaan SPAL berupa
pemeliharaan, penertiban sambungan liar, dan sosialisasi dalam penyelenggaraan
SPALT. Pelibatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan SPALT dapat
difasilitasi oleh penyelenggara, antara lain melalui pembentukan forum pelanggan,
pembentukan unit khusus yang mudah dihubungi untuk menampung keluhan dan
laporan masyarakat mengenai pengelolaan SPALT, dan lain-lain.

Dalam rangka efisiensi dan efektivitas pengelolaan SPALT, maka dapat dilakukan
kerjasama antar pemerintah daerah. Kerjasama antar pemerintah daerah berupa
kerjasama operasional atau kerjasama manajemen penyelenggaraan SPALT. Selain
itu kerjasama dapat berupa regionalisasi penyelenggaraan SPALT. Regionalisasi
dapat dilakukan pada daerah-daerah dengan daerah pelayanan yang
bersinggungan, berdekatan atau pada daerah perbatasan, pada daerah pemekaran
dengan daerah induknya. Regionalisasi dapat pula berbentuk kerjasama antar
beberapa pemerintah daerah yang dilakukan di bawah koordinasi Pemerintah atau
pemerintah provinsi sesuai kewenangannya. Dengan adanya regionalisasi
diharapkan akan memperkuat kinerja pelayanan kepada masyarakat dan kinerja
keuangan dalam penyelenggaraan SPALT.
Dalam kondisi suatu wilayah belum terjangkau oleh pelayanan BUMN/BUMD
sebagai penyelenggara pengembangan SPALT, maka dapat dibentuk Badan
Layanan Umum (BLU)-Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau dilakukan kerjasama
dengan penyelenggara lainnya. Badan Layanan Umum (BLU) beroperasi sebagai
unit kerja kementerian negara, lembaga/pemerintah daerah untuk tujuan
pemberian layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang
didelegasikan oleh instansi induk yang bersangkutan. BLU menyusun rencana
strategis bisnis lima tahunan dan rencana bisnis dan anggaran (RBA) tahunan; dapat
memiliki utang sehubungan kegiatan operasional; dan tidak dapat melakukan
investasi jangka panjang, kecuali atas persetujuan Menteri
Keuangan/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.
Kerjasama dengan penyelenggara lainnya dalam bentuk kemitraan antara lain
badan usaha swasta, koperasi dan BUMD di kabupaten/kota terdekat. Kerjasama
pemerintah dengan badan usaha swasta dilakukan melalui pelelangan umum
dengan perjanjian kerjasama yang memuat ketentuan mengenai lingkup pekerjaan,
jangka waktu, jaminan pelaksanaan, tarif dan mekanisme penyesuaiannya, hak dan
kewajiban termasuk alokasi resiko, standar kinerja pelayanan, larangan pengalihan
perjanjian kerjasama, sanksi, pemutusan atau pengakhiran perjanjian, laporan
keuangan badan usaha, mekanisme penyelesaian sengketa, mekanisme pengawasan
kinerja badan usaha, pengembalian infrastruktur kepada kepala daerah, keadaan
memaksa, status kepemilikan asset selama jangka waktu perjanjian dan hukum yang
berlaku. Kerjasama pemerintah dengan badan usaha swasta mengikuti peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Operasional SPAL harus berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance
yaitu adil, terbuka, transparan, bersaing, bertanggung gugat, saling
menguntungkan, saling membutuhkan dan saling mendukung.

A. PENGOPERASIAN
Kegiatan pengoperasian dilaksanakan untuk sekurang-kurangnya memenuhi
agar sistem pelayanan kepada masyarakat berlangsung sesuai dengan
perencanaannya. Pengoperasian sarana sistem pengelolaan air limbah
terpusat bertujuan untuk menjalankan, mengamati dan menghentikan unit-
unit agar berjalan secara berkesinambungan pada sebagian dan/atau
keseluruhan unit, termasuk pedoman pengelolaan oleh masyarakat. Adapun
lingkup pengoperasian terdiri atas:
1. Unit Pelayanan
2. Unit Pengumpulan
3. Unit Pengolahan
4. Unit Pembuangan Akhir
Langkah awal sebelum pengoperasian dimulai, adalah dengan melakukan
persiapan-persiapan yang dibutuhkan selama operasi. Persiapan Operasi
selalu dimulai dengan:
1. Pengukuran, yaitu debit air limbah dan kualitas air limbah terutama
konsentrasi BOD/COD, nutrient, dan konsentrasi TSSnya. Ketinggian
muka air di setiap unit pengolahan air limbah sangat penting untuk
dimonitor sebelum operasi dijalankan.
2. Pemeriksaan semua alat peralatan, mekanikal, elektrikal.
3. Pemeriksaan bahan-bahan kimia (jika menggunakan bahan kimia dalam
proses pengolahannya): larutan-larutan yang harus dibuat dan cadangan
bahan kimia yang ada.
Persiapan operasi suatu unit pengolahan air limbah jika menggunakan bahan
kimia dalam proses pengolahannya, meliputi kegiatan-kegiatan:
1. Pembuatan larutan bahan kimia.
2. Pengaturan kapasitas alat pembubuh1an, seperti :
- Pengaturan kapasitas pompa pembubuhan larutan bahan kimia untuk
sistem pembubuhan dengan pompa.
- Pengaturan katup pembubuhan larutan dengan sistem gravitasi.
3. Penentuan Dosis Bahan Kimia.
Ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap
kualitas air limbah yang akan diolah.

A.1. UNIT PELAYANAN
Pengoperasian unit pelayanan memperhatikan karakteristik influen yang
masuk ke dalam unit pelayanan sesuai kriteria desain yang digunakan. Unit
pelayanan meliputi bagian yang secara operasional menjadi tanggungjawab
masyarakat pengguna dan sebagian lagi menjadi tangungjawab
penyelenggara SPAL. Agar sistem dapat beroperasi dengan baik, masyarakat
pengguna diwajibkan untuk memelihara fasilitas sistem yang ada dalam
wilayah persilnya, yang meliputi Bak Kontrol, Penangkap Lemak, House
Inlet. Sedangkan penyelengara SPAL harus menjamin pengoperasian
Inspection Chamber.

A.1.1. Bak Penangkap Lemak
1. Sebaiknya bak penangkap lemak (grease trap) dipasang atau berada pada
setiap rumah, sehingga resiko penyumbatan pada jaringan perpipaan jadi
minim/kecil, akibatnya pemeliharaan jaringan perpipaan secara
keseluruhan akan menjadi ringan. Pemeliharaan bak penangkap lemak
menjadi tanggung jawab masing masing rumah tangga.

2. Jika bak penangkap lemak dibuat secara komunal atau sentral, ada 2 jenis
bak penangkap lemak, yaitu; pertama adalah bak penangkap lemak
dengan konstruksi sederhana, berupa kolam yang diberi sekat-sekat. Tidak
ada pengoperasian secara khusus, hanya perawatan dan pemeliharaan saja.
Lemak dan kotoran mengambang pada kolam, diambil dan dibersihkan
setiap hari dan dibuang ketempat pembuangan sampah atau bisa dibakar
dalam tunku pembakar (incinerator). Sedangkan bak penangkap lemak
kedua yang lebih canggih menggunakan aerasi udara, atau disebut juga
dengan bak Tipe Flotasi/DAF (pengapungan). Operasional bak penangkap
lemak jenis ini adalah sebagai berikut :
a. Hidupkan pompa udara/kompressor untuk flotasi, tombol ada pada
panel listrik di ruang utama.
b. Hidupkan skimmer/pengeruk dan pengumpul scum (gumpalan padatan
yang mengambang).
c. Scum yang terkumpul pada kolam pengumpul diserok dan dibuang
setidaknya 1 - 2 kali dalam sehari.

Tipe penangkap lemak lainnya adalah tipe pelat pemisah parallel yang
juga mempunyai prinsip pemisahan yang sama dengan sistem penangkap
lemak sederhana, namun lebih efektif karena mempunyai luas bidang
permukaan pemisahan yang lebih besar.

Gambar II-3.1. Bak Penangkap Lemak Konstruksi Sederhana

A.1.2. Bak Kontrol
Bak kontrol berfungsi untuk tujuan pengecekan, pemeliharaan dan
pembersihan. Pada saat pengoperasian dipastikan bahwa aliran air
mengalir normal dan tidak ada genangan di daerah invert serta kekasaran
invert tidak menyebabkan terhambatnya aliran air limbah. Tidak boleh
dengan sengaja membuka tutup bak control untuk membuang sampah
atau memasukkan air hujan pada saat terjadi genangan/banjir pada areal
kepemilikan di musim hujan

A.1.3. House Inlet/HI
HI/House inlet berfungsi untuk tujuan pengecekan, pemeliharaan dan
pembersihan. Pemasangan saringan pada HI sangat perlu untuk menghindari
sampah masuk kejaringan pipa lateral menuju pipa service dan atau pipa
induk dan dipastikan pada saat pengoperasian aliran air limbah berjalan
normal tanpa ada hambatan akibat pemasangan saringan. Tidak dengan
sengaja membuka tutup HI/House inlet untuk membuang sampah atau
memasukan air hujan pada saat terjadi genangan/ banjir diareal kepemilikan
di musim hujan

A.1.4. Inspection Chamber/IC
IC/Inspection chamber umumnya berada pada jalan sempit/gang kurang dari
2 meter, berfungsi untuk melakukan pengecekan, pemeliharaan dan
pembersihan. Dipastikan pada saat pengoperasian aliran air limbah berjalan
normal tanpa ada hambatan serta dengan sengaja membuka tutup
IC/Inspection chamber untuk membuang sampah atau memasukan air hujan
pada saat terjadi genangan/ banjir di musim hujan.

A.2. UNIT PENGUMPULAN
Pengoperasian unit pengumpulan harus memperhatikan system pengaliran
air limbah melalui jaringan perpipaan yang dilakukan secara gravitasi
dan/atau pemompaan. Unit Pengumpulan terdiri dari sistem jaringan pipa
pengumpul yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air limbah
rumah tangga ke unit pengolahan.

A.2.1. Jaringan Perpipaan
Pengoperasional sistem jaringan perpipaan harus memperhatikan faktor-
faktor penting di bawah ini untuk menjamin pengaliran air limbah
berlangsung baik, yaitu:

1. Pengaliran Air Limbah
Karena ketersediaan air penggelontor sangat kecil, transportasi tinja
dalam pipa tidak selalu dapat langsung baik, melainkan sebagian
mengendap, tertinggal dan melekat pada dasar saluran. Hal ini dapat
memperbesar nilai kekasaran pipa sehingga memperkecil diameter
efektif pipa. Selain itu dapat menyebabkan emisi gas H2S yang akan
melekat di bagian atas pipa sehingga dapat merusak dinding pipa. Hal
yang harus diperhatikan dalam mengoperasikan pengaliran dalam pipa
ini adalah:
a. Sistem penggelontor di setiap WC distandarisasi, minimal 10 liter.
b. Menjaga agar kotoran pada dari luar tidak masuk ke dalam pipa
dengan membuat saringan pada setiap inlet pemasukan pipa,
misalnya inlet pengenceran air hujan dan pada bak kontrol pada
tanah persil.
c. Pembersihan saluran diintensifkan, terutama pembilasan air dari
terminal clean out sering dilakukan, serta sistem penggelontor yang
ada lebih diefektifkan.
d. Elevasi setiap bak kontrol dibuat lebih tinggi dari elevasi permukaan
tanah di sekitarnya, agar tidak tergenang oleh limpasan air hujan
yang mungkin dapat masuk dan membawa kotoran yang terhanyut.
e. Sistem drainase jalan yang dilalui jalur perpipaan diperbaiki, agar air
infiltrasi yang masuk celah-celah lubang tutup manhole tidak
membawa hanyutan benda-benda padat kasar yang berpotensi
menyebabkan penyumbatan pada pipa.
f. Perlu disusun program kerja pemeliharaan yang rutin terjadwal,
pengawasan dan pembersihan saluran. Dimulai dengan pemeriksaan
pendahuluan sehingga diperoleh metoda dan jenis pemeliharaan
yang sesuai, termasuk dapat diketahui peralatan apa saja yang
diperlukan. Selain itu perlu dilakukan upaya penggelontoran yang
cukup, sehingga terpenuhinya kedalaman berenang (swimming depth)
yang cukup untuk menghanyutkan benda-benda keras dalam pipa.

2. Pembersihan Endapan
Sistem drainase yang buruk dapat menyebabkan infiltrasi air hujan yang
membawa hanyutan zat padat tersuspensi diskrit (terutama pasir) dan
sampah ke dalam jaringan pipa. Hal ini berpotensi untuk membuat
sumbatan-sumbatan aliran sehingga menghasilkan gas H2S, CO2 dan
CH4 dari proses dekomposisi zat organik tersuspensi yang mengendap.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian adalah bahwa
pembersihan endapan tidak dapat dilakukan karena adanya gas CO2
yang bisa meracuni operator. Agar dihindari, perlu dilakukan pengujian
dengan nyala lampu lilin atau lantera sebelumnya. Hal ini karena dapat
menimbulkan ledakan bila konsentrasi gas methan tinggi. Disarankan
untuk perbaikan di dalam pipa menggunakan tabung udara atau
perlindungan alat pernafasan yang memadai.
a. Alternatif penanganan:
1) Sistem drainase sepanjang jalur air limbah domestik harus
diperbaiki.
2) Kebersihan jalan masuk dan jalan akses dijaga.
3) Tutup manhole air limbah harus jauh dari bahaya limpasan air
hujan, yakni harus dijaga jangan sampai terbuka.
4) Perlu membangun kesadaran masyarakat melalui penyuluhan
dan penetapan peraturan agar tidak membuang sampah ke
dalam manhole.
5) Perlu program inspeksi yang terjadwal terhadap setiap manhole
jaringan penyaluran air limbah yang ada untuk dapat mengatasi
masalah yang timbul sedini mungkin.
6) Untuk sistem setempat, perlu dilakukan penggelontoran secara
periodik dan pembuatan bak kontrol untuk mengawasi timbul
endapan yang berlebihan.

b. Metoda Pembersihan Endapan
1) Pembersihan manual menggunakan pipa bambu dengan sikat
kawat
2) Alat angkat endapan dengan gulungan tangan harus digunakan
dalam satu set yang terdiri dari 2 unit. Alat gulung mempunyai
tali kawat yang dimasukkan ke dalam saluran pipa yang akan
dibersihkan melalui manhole. Sebelum dimasukkan, pasang ember
pada ujung kawat. Dengan alat angkat ini, tanah dan pasir dapat
diangkat dari dasar aliran air limbah dalam pipa.

Gambar II-3.2. Metoda Pembersihan Endapan Dalam Pipa

3) Mesin pengangkat dengan ember penjepit (bucket machine), yaitu
mesin yang dilengkapi dengan alat angkat dengan gulungan
mesin dilengkapi dengan suatu rangka dengan alat penarik
dipasang pada kendaraan atau traktor.
4) Mesin pembersih khusus, yang terdiri dari 2 tipe yaitu tipe
manual dan tipe tenaga penggerak. Pembersih dipasang pada
tongkat (rod) yang dapat diputar dengan pegangan yang dapat
bergerak maju mundur untuk membuang tanah, pasir dan
sampah
5) Kendaraan pembersih berkecepatan tinggi dilengkapi dengan
pompa dan tangki air. Dengan mengoperasikan pompa
bertekanan tinggi, mesin menekan air dalam tangki air sehingga
terbentuk pancaran air (water jet) sebesar 70-100 kg/cm
2
yang
keluar dari nozzle khusus yang dipasang pada kepala/ujung pipa
dan mendorong pasir dan tanah yang berada dalam pipa saluran
keluar melalui manhole
6) Mesin pembersih berkecepatan tinggi ukuran kecil, yaitu sebuah
mesin yang dilengkapi dengan pompa dan tangki air. Pipa
mensuplai air dari tangki dan pompa bertekanan tinggi
memompa air tersebut dan disemprotkan melalui nozzle khusus
yang dipasang pada kepala pipa, semprotan air dapat
membersihkan tanah dan pasir
7) Mobil penghisap (vaccum vehicle/vaccum truck), yang dapat
diklasifikasikan dalam 2 tipe yaitu tipe mobil penghisap dengan
tenaga reguler dan mobil penghisap dengan tenaga tinggi.

3. Hilangnya tutup manhole
Untuk menjamin pengoperasian akibat adanya penyumbatan oleh
sampah yang masuk ke jaringan pipa, maka tutup manhole harus dijaga
agar tidak hilang, yang diterapkan sebagai berikut:
a. Konstruksi tutup manhole harus diberi lubang udara (vent) dan
dikunci.
b. Jalur pipa air limbah domestik, khususnya yang memiliki banyak
manhole, dihindarkan dari jalur jalan lalu lintas padat.
Selain itu, perlu secara rutin dilakukan upaya peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap urgensi pemeliharaan sistem penyaluran air
limbah domestik melalui program penyuluhan.

4. Akar pohon
Akar pepohonan di sekitar jalur perpipaan berpotensi mengganggu
pengoperasian pengumpulan air limbah dalam pipa karena:
a. Dapat merubah dudukan peletakan pipa, yang dapat mengangkat,
menurunkan, menggeser, dan mungkin mengakibatkan sambungan
pipa lepas atau patah.
b. Dapat mengakibatkan kebocoran dan mengganggu jalannya aliran,
akibat akar serabut halus yang masuk melalui celah-celah sambungan
pipa sehingga dapat menyebabkan penyumbatan.
c. Karena itu dalam pengoerasian perlu diperhatikan untuk:
1) Melarang menanam pohon terlalu dekat dengan jalur perpipaan,
terutama jenis pohon berakar panjang dan serabut.
2) Melakukan pemeriksaan rutin dan pembersihan dengan alat
pemotong rumput/akar.

A.2.2. Bangunan/ Sistem Pelengkap
A.2.2.1. Manhole
Manhole diletakkan di beberapa lokasi, yaitu :
1. Pada jalur saluran yang lurus, dengan jarak tertentu tergantung
diameter saluran, seperti pada Tabel 3.1, tapi perlu disesuaikan juga
terhadap panjang peralatan pembersih yang akan dipakai.
Tabel II-3.1. Jarak Antar Manhole pada Jalur Lurus
Diameter
(mm)
Jarak antar MH
(m)
20 - 50 50 - 75
50 - 75 75 - 125
100 - 150 125 - 150
150 - 200 150 - 200
1000 100 -150
2. Pada setiap perubahan kemiringan saluran, perubahan diameter, dan
perubahan arah aliran, baik vertikal maupun horizontal.
3. Pada lokasi sambungan, persilangan atau percabangan (intersection)
dengan pipa atau bangunan lain.
4. Untuk pipa dimensi besar (D > 1,20 m), manhole diletakkan secara
eksentrik agar memudahkan operator turun ke dasar saluran.
5. Untuk pipa dimensi kecil (0,20 < D < 1,20 m), manhole diletakkan
secara sentrik, langsung di atas pipa.

A.2.2.2. Drop Manhole
Drop manhole digunakan untuk penyambungan dua atau lebih pipa
yang mempunyai elevasi berbeda. Fungsinya sama dengan manhole,
yaitu untuk tujuan pengecekan, pemeliharaan dan pembersihan terhadap
jaringan perpipaan. Pada saat pengoperasian dipastikan tidak ada
kebocoran di area manhole karena berada pada kedalaman tertentu
dengan muka air tinggi, aliran air berjalan normal tanpa hambatan serta
memperhatikan kekasaran dari invert. Khusus untuk drop manhole yang
perlu diperhatikan adalah air dengan mudah mengalir ke pipa terjunan,
karena perbedaan level ketinggian pipa air limbah yang berbeda.

A.2.2.3. Siphon
Bangunan yang digunakan untuk membawa air limbah apabila pipa
sewer terhalang oleh bangunan/struktur, jalan tol/perlintasan kereta api
yang melintang atau menyeberang sungai. Selain itu, siphon akan
menghindari pemasangan pipa yang terlalu dalam. Yang perlu
diperhatikan pada saat operasioanal adanya aliran air limbah secara
continue untuk menghindari adanya endapan pada siphon, melakukan
evaluasi terhadap ketebalan endapan pada sand trap bangunan siphon
sehingga tidak mengganggu aliran air limbah serta dipastikan tidak
adanya sampah/lemak yang menyebabkan tersumbatnya aliran air
limbah.

A.2.2.4. Terminal Clean Out
Clean out merupakan bangunan yang digunakan untuk melakukan
pembersihan/penggelontoran pada saat ada masalah terhadap jaringan
pipa akibat endapan, lemak dll setelah dilakukan pembersihan, sehingga
yang perlu diperhatikan clean out bebas dari sampah, tertutup dan mudah
dibuka pada saat digunakan.

A.2.2.5. Pompa Angkat/Lift Pump

Pada suatu bangunan IPAL biasanya selalu terdapat 3 unit pompa
angkat, 2 unit pompa untuk dioperasikan (bergantian) dan 1 unit pompa
untuk standby.

Standby bisa berarti pompa bisa dioperasikan sewaktu waktu, misal
dalam kondisi air di pump station tinggi/banjir, atau bila salah satu
pompa mengalami kerusakan atau macet, dan lain sebagainya.

Jenis pompa angkat (positip) bermacam-macam, tergantung dari besarnya
volume air yang mau dipindah serta berapa tinggi perbedaan elevasinya
(head).

Untuk IPAL komunal biasanya dipakai pompa jenis submersible sump-
pump (pompa yang dipasang terendam dalam sumuran).

Gambar II-3.3. Sewerage/Sump Pump
1. Persiapan operasi
a. Periksa apakah operation panel (kontrol panel pompa) sudah
menyala. Panel operasi ada di ruang mesin.
b. Periksa lampu yang berwarna hijau.
c. Jika power indicator lamp (lampu indikator power) tidak menyala,
hidupkan NFB untuk power supply.
d. Periksa listrik yang disalurkan ke pompa. Listrik tersambung jika
lampu indikator yang warna hijau menyala.
e. Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB untuk pompa
yang diinginkan di dalam panel listrik.
f. Tergantung dari jenis pompa yang dipakai pada bangunan IPAL
yang ada, lift pump dengan tipe ulir biasanya dilengkapi dengan
sistem pompa lemak/grease pump. Periksa secara rutin
tangki/wadah lemak yang sudah diisi untuk dibersihkan secara
teratur.
g. Periksa listrik yang disalurkan ke grease pump. Listrik sudah
tersalur jika lampu indikator yang warna hijau menyala. Jika
lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB yang ada di dalam
panel.
h. Lemak akan dipompakan pada bearing dan bagian-bagian bergerak
lainnya secara otomatis.

2. Pengoperasian
Lift pump selalu punya 2 mode operasi, yaitu pengoperasian otomatis
atau manual.
a. Pengoperasian Otomatis
Ada dua jenis pengoperasian, tergantung ketinggian permukaan
air di stasiun pompa. Detail dari pengoperasian adalah sebagai
berikut:
Pengoperasian Otomatis 1
1) Jika tinggi permukaan air di stasiun pompa mencapai level
tinggi tertentu, misalnya X, pompa otomatis menyala, dan
jika air mencapai level Y, pompa otomatis mati.
2) Jika memilih mode auto-1, pompa otomatis menyala dan mati
ketika air di pump station mencapai level X dan Y.

Pengoperasian Otomatis 2
1) Jika tinggi permukaan air di stasiun pompa mencapai level X,
pompa otomatis menyala, dan jika air mencapai level Y,
pompa otomatis akan mati.
2) Jika disetel pada mode auto-2, pompa otomatis akan nyala
dan mati ketika air di pump station diantara level air X dan Y.
3) Timer otomatis pada POMPA 1 diset/dipasang pada
00.00 off/mati
06.00 on/nyala
12.00 off/mati
18.00 on/nyala
4) Timer otomatis pada POMPA 2 diset/dipasang pada
00.00 on/nyala
06.00 off/mati
12.00 on/nyala
18.00 off/mati
5) Jika aliran limbah sesuai dengan kondisi desain, dua pompa
akan beroperasi secara bergantian setiap 6 jam, sementara
pompa ketiga dalam kondisi stand by.
6) Karena itu, satu pompa harus disetel dalam mode auto-1 dan
satu pompa lainnya disetel dalam mode auto-2.
7) Tombol pengoperasian untuk masing-masing pompa
biasanya selalu punya pilihan :
auto-1, auto-2, manual dan stop.
8) Pompa yang sudah dipilih akan beroperasi secara otomatis
dengan level air dan waktu yang sudah ditentukan di pump
station.
9) Periksa apakah pompa mengangkat limbah sesuai dengan
Mode Pengoperasian yang sudah dipilih.

b. Operasi Manual
1) Tombol Pengoperasian pompa yang ingin dioperasikan oleh
operator, harus diposisikan pada tulisan manual, baru
pompa tersebut bisa berkerja secara manual.
2) Jika tombol pengoperasian diposisikan ke stop, maka
pompa akan mati.
3) Waktu kerja (berapa jam nyalanya) pompa juga akan bekerja
secara manual.
4) Biasanya operasi pompa ini dihubungkan dengan sistem
alarm baik pada pengoperasian secara otomatis maupun
manual, sehingga jika pompa tidak berjalan sebagaimana
mestinya, maka alarm akan memberikan sinyal supaya
operator bisa bertindak sebagaimana mestinya.

A.2.2.6. Rumah Pompa
Pada suatu kawasan yang elevasinya lebih rendah dari elevasi jaringan
pipa tetapi masuk ke dalam areal layanan IPAL maka untuk dapat
dilayani, air limbah di areal tersebut harus ditampung pada suatu lokasi
dan diangkat menuju jaringan pipa dengan menggunakan pompa, dan
yang harus diperhatikan :
1. Operasional wet well/rumah pompa
a. Pada wet well terdapat float switch/sensor yang berfungsi untuk
mengatur jalannya pompa sehingga dipastikan float switch tidak
terganggu baik akibat sampah maupun tersangkut.
b. Ruang pompa dipastikan selalu kering dan sumpit dapat berfungsi
dengan normal
c. Umumnya ruang pompa dilengkapi dengan sirkulasi
udara/blower dan dipastikan berfungsi dengan baik
d. Pencahayaan yang cukup untuk melakukan operasianal dan
dipastikan berjalan dengan normal
e. Pada saat operasional pompa diruang pompa akan terganggu oleh
suara pompa sehinga diperlukan safety/pelindung telinga untuk
mengurangi kebisingan
2. Operasional Pompa
a. Pastikan listrik (dari PLN atau Genset) sudah mengalir menuju ke
kontrol panel yang ditunjukkan dengan lampu indicator sudah
menyala. Pada panel, voltase akan menunjukkan berapa voltase
listrik yang masuk sesuai dengan phase-nya. Apabila phase-nya
dibawah dari normal (misalnya 3 phase 380~420) pompa tidak
akan beroperasi (terdapat phase protection failure) karena akan
menyebabkan motor terbakar.
b. Pastikan gauge suction menunjukkan volume air sudah cukup
untuk dipompa. Sebaiknya di cek juga secara visual apakah air
yang ada di wet well sudah mencukupi.
c. Pastikan semua gate valve sudah terbuka.
d. Apabila pompa baru pertama kali dihidupkan atau beberapa lama
tidak dihidupkan, bukalah release air valve untuk mengeluarkan
udara yang terjebak di pompa dan tutup kembali air release valve
apabila air sudah keluar dari air release valve tersebut.
e. Pastikan air pendingin untuk mechanical seal flushing sudah
mengalir dan dapat dicek dari valve pembuang. Ditandai dengan
air yang mengalir dari valve pembuang.
f. Pompa sudah siap dioperasikan secara manual atau otomatis.
g. Pada saat pompa dihidupkan check valve akan terbuka perlahan
sampai penuh (yang memakai dashpot).
h. Cek gauge discharge pompa apakah sudah sesuai dengan
spesifikasinya.
i. Cek ampere meter apakah sudah sesuai dengan spesifikasinya.
j. Setelah air habis (low level) pompa akan mati, check valve akan
menutup dengan sendirinya.
k. Indikator Trip, akan menyala jika Pompa ada kendala seperti
overload, tegangan/voltase terlalu tinggi, kehilangan fasa.
l. Dalam sistem yang ada jika semua pompa di set dalam kondisi
auto, maka semua pompa akan start dalam selang waktu
tergantung dari setting yang ada di timer, dan semua pompa akan
operasi semua. Sebagai default (setting awal) di set dalam selang
waktu 3 detik.
m. Pada saat kondisi air didalam tangki di level Low maka semua
pompa akan shut off /tidak bisa dioperasikan.
n. Setting auto mode, untuk pengoperasian pompa seperlunya saja.
Jangan semua pompa di set di auto mode. Jika lampu alarm menyala
baru hidupkan tambahan pompa. Hal ini untuk langkah
penghematan

A.2.2.7. Wet pit
Wet pit merupakan suatu bangunan seperti manhole yang berfungsi
menampung air limbah dari lokasi layanan yang rendah dan
memindahkannya ke pipa jaringan yang elevasinya lebih tinggi dengan
bantuan pompa. Pada saat pengoperasian yang perlu diperhatikan tidak
adanya sampah, bocor pada dinding dan dasar wet pit serta kebocoran
pada unit mekanikal/pompa dengan langkah sebagai berikut :
1. Pastikan listrik (dari PLN atau Genset) sudah mengalir menuju ke
control panel yang ditunjukkan dengan lampu indicator sudah
menyala. Pada panel, voltase akan menunjukkan berapa listrik yang
masuk sesuai dengan phase-nya. Apabila phase-nya dibawah dari
normal (misalnya 3 phase 380~420) pompa tidak akan beroperasi
(terdapat phase protection failure) karena akan menyebabkan motor
terbakar.
2. Pastikan volume air sudah cukup untuk dipompa. Sebaiknya di cek
juga secara visual apakah air yang ada dalam wet well sudah
mencukupi.
3. Pastikan semua gate valve sudah terbuka.
4. Pompa sudah siap dioperasikan secara manual atau otomatis.
5. Pada saat pompa dihidupkan check valve akan terbuka perlahan
sampai penuh (yang memakai dashpot).
6. Cek gauge discharge pompa apakah sudah sesuai dengan
spesifikasinya.
7. Cek ampere meter apakah sudah sesuai dengan spesifikasinya.
8. Setelah air habis (low level) pompa akan mati, check valve akan
menutup dengan sendirinya.
9. Indikator Trip, akan menyala jika Pompa ada kendala seperti
overload, tegangan/voltase terlalu tinggi, kehilangan fasa.
10. Dalam sistem yang ada jika semua pompa di set dalam kondisi auto,
maka semua pompa akan start dalam selang waktu tergantung dari
setting yang ada di timer, dan semua pompa akan operasi semua.
Sebagai default (setting awal) di set dalam selang waktu 3 detik.
11. Pada saat kondisi air didalam tangki di level low maka semua pompa
akan shut off/tidak bisa dioperasikan.
12. Setting auto mode, untuk pengoperasian pompa seperlunya saja.
Jangan semua pompa di set di auto mode. Jika lampu alarm menyala
baru hidupkan tambahan pompa. Hal ini untuk langkah
penghematan.
A.2.2.8. Sistem Pelistrikan
Pasokan listrik diperlukan dalam pengoperasian sistem pengaliran air
limbah apabila sudah mecapai kedalaman penanaman pipa maksimum
sehingga perlu diangkat kembali pada level yang diijinkan
menggunakan liftpump dalam wetpit. Selain itu juga sistem pelistrikan
digunakan dalam instalasi pengolahan, khususnya proses biologis.
Biasanya pasokan listrik diperoleh dari jaringan PLN, tetapi jika
diperlukan bisa juga di backup dengan unit genset tersendiri. Jika
dengan dua sumber, maka panel listrik untuk power supply juga
dipasang (Gambar 3.4).
Handle pada posisi 0 : Netral, semua listrik baik dari jaringan PLN
maupun Genset tidak tersambung kejaringan,
sehingga semua peralatan tidak bisa
berjalan/berfungsi.
Handle pada posisi I : Sumber listrik berasal dari PLN.
Handle pada posisi II : Sumber listrik berasal dari Genset.





Gambar II-3.4. Panel Listrik
Dari panel power supply ini, listrik akan masuk ke panel listrik utama.
Panel listrik dan perlengkapannya adalah dimaksudkan untuk
memudahkan komunikasi dan interaksi antara operator dengan mesin
yang dikelolanya. Semua peralatan mesin pada suatu prasarana IPAL
dikontrol dan dimonitor melalui panel listrik yang sudah diatur dan
disetel sedemikian rupa, baik susunan peralatan listrik dan masing
masing kapasitasnya serta kabel dan sambungannya.
Beragam bentuk dan dimensi dari panel listrik adalah bergantung pada
banyaknya peralatan dan mesin yang dikontrol, dan juga sampai
seberapa jauh/detil akan memonitor dan mengamati unjuk kerja dari
setiap peralatan atau mesin yang terpasang. Bila ada peralatan/mesin
yang bisa bekerja secara otomatis, maka pasti ada peralatan sensor yang
mengatur sistem otomatisasi tersebut. Secara umum peralatan listrik
standar yang selalu ada pada box panel adalah sebagai berikut:
1. NFB (No Fuse Breaker) :
a. Untuk pembatas daya/beban listrik yang digunakan oleh
sesuatu mesin.
b. Sebagai pengaman jaringan jika terjadi hubungan arus pendek.
c. Sebagai penghubung atau pemutus jaringan/tegangan listrik
yang mempunyai kapasitas amper tinggi.

2. MCB (Magnetic Circuit Breaker):
MCB berfungsi sama dengan NFB namun MCB digunakan untuk
kekuatan arus dengan amper yang kecil

Gambar II-3.5. Panel listrik IPAL
3. Contactor :
a. Saklar yang bekerja berdasarkan magnit listrik
b. Untuk mengaktifkan/bekerjanya magnit, kontaktor
memerlukan tegangan listrik.
c. Untuk mengaktifkan magnitnya hanya membutuhkan tegangan
listrik + 3 watt, bisa difungsikan sebagai otomatisasi untuk
mengkontrol alat/jaringan yang mempunyai tegangan sampai
ribuan watt.





Gambar II-3.6. No Fuse Breaker (NFB) dan Magnetic Circuit Breaker
(MCB)
4. Overload thermis :
Fungsinya untuk mengamankan beban listrik, terutama motor listrik
agar tidak rusak/terbakar jika kelebihan beban/tidak kuat memutar
alat yang digerakkan. Overload thermis bekerja berdasarkan sensor
panas.
5. Tombol tekan on/off (Push Button) :
a. Warna hijau : untuk mengaktifkan kontaktor, menghubungkan
kontaktor dengan tegangan listrik agar aktif/bekerja.
Auto Manual
Kontaktor
Overload
b. Warna merah : untuk memutuskan kontaktor dari aliran/jaringan
tegangan listrik supaya mati /off








Gambar II-3.7. Contactor, Overload dan Tombol On/Off
6. Lampu indikator :
a. Sebagai alat bantu visual yang dihubungkan ke push button,
sehingga mudah dilihat apakah posisi pada on (lampu warna
hijau) atau posisi pada off (lampu warna merah)
b. Pada indikator power supply dengan jaringan 3 phasa, lampu
indikatornya ada 3 warna, yaitu merah, kuning dan hijau.
Sehingga jika power supply dihidupkan maka ketiga lampu
tersebut akan menyala. Jika ada yang mati salah satu, artinya
salah satu pasokan listrik dari aliran 3 phasa tersebut ada yang
mati. Jangan mengaktifkan semua peralatan/mesin jika salah
satu phasa mati.

7. Saklar geser :
Untuk memindahkan fungsi kerja, dari / ke automatis dan manual.




Gambar II-3.8. Lampu Indikator dan Saklar Geser
8. Penghubung Kabel/Terminal
Penghubung kabel/terminal berfungsi untuk menghubungkan
kabel- kabel.

Gambar II-3.9. Terminal

9. Aksesoris Pelengkap Lainnya :
Alat bantu untuk memudahkan penyambungan /pengerjaan
elektrikal.

A.3. UNIT PENGOLAHAN
Sebelum mengoperasikan instalasi pengolahan limbah, Kepala Bagian
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bertanggung jawab penuh
atas instalasi, harus mengorganisir dan menginstruksikan tindakan-
tindakan yang tepat kepada personel-personel yang bertanggung jawab atas
pengoperasian instalasi tersebut.
Kepala IPAL harus menentukan kondisi pengoperasian aktual dari waktu ke
waktu dengan mempertimbangkan flow rate, kualitas influent dan effluent,
sudut pandang ekonomis, usia masing-masing peralatan, dan lain-lain.
Kepala IPAL harus mengkonfirmasikan kegiatan harian dalam sistem
pengoperasian IPAL. Kepala IPAL harus menerangkan hal penting
berkaitan dengan sistem operasional berikut ini kepada operator:
1. Detail pengoperasian.
2. Pencatatan Data Pengoperasian.
3. Memelihara Kebersihan Lokasi.
4. Langkah Pengamanan.

Pengoperasian IPAL dapat berupa rangkaian unit pengolahan fisik
(Pengolahan Tahap I), pengolahan biologis (Pengolahan Tahap II) dan
pengolahan lumpur. Kegiatan pengoperasiannya meliputi; kegiatan
persiapan sebelum pengoperasian, pelaksanaan operasi serta pemantauan
proses pengolahan.
Persiapan operasi meliputi kegiatan :
1. Menyiapkan bahan kimia (asam atau basa) dalam bentuk larutan atau
serbuk yang akan digunakan bila dianggap perlu untuk penyesuaian pH
dalam proses pengolahan biologis.
2. Menyiapkan bangunan dan perlengkapan, peralatan pengolahan,
sehingga siap dioperasikan.
3. Menyiapkan sumber daya manusia dan perlengkapannya untuk
mengoperasikan peralatan.

Pelaksanaan operasi meliputi pengoperasian bangunan pengolahan dan
perlengkapan peralatan pengolahan, sehingga proses pengolahan
berlangsung dengan baik, Sedangkan pemantauan pengolahan meliputi
kegiatan pemeriksaan dan pencatatan proses pengolahan yang berlangsung.
Semua hasil pemantauan harus dicatat dalam buku harian (log book).

A.3.1. Pengolahan Fisik
A.3.1.1.Sumur Pengumpul
Dalam merencanakan sumur pengumpul, tiga hal utama yang harus
diperhatikan, yaitu :
1. Pemilihan Letak
Pemilihan letak sumur pengumpul ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain :
a. Cuaca
b. Aman dari bahaya banjir
c. Lokasi jauh dari pemukiman penduduk, sehingga masalah bau
dapat diminimisasi.
d. Tersedia sumber tenaga cadangan.
2. Pemilihan Jenis Sumur Pengumpul
a. Pada sumur kering dan basah, air dengan gas harus dipisah dengan
member jalan masuk yang berbeda/ terpisah untuk masing-masing
sumur.
b. Harus tersedia ventilasi untuk semua sumur kering yang berada di
bawah muka tanah dan pada sumur basah yang ditempatkan dalam
suatu bangunan.
c. Dasar sumur basah harus mempunyai kemiringan minimum 1 : 1
terhadap pompa intake.
d. Pada dasar sumur tersebut tidak boleh ada tonjolan yang
memungkinkan terjadinya akumulasi solid.
e. Penyekatan antivortex dapat digunakan untuk pump suction pada
sumur pengumpul yang besar.
f. Sumur basah pada umumnya mahal, karena membutuhkan galian
dan struktur beton yang banyak. Oleh karena itu, volume yang
disimpan harus ditetapkan berdasarkan jenis dan operasi pompa
(kecepatan tetap dan kecepatan variasi).
g. Pertimbangan juga harus diberikan pada inlet suction pompa
submersible untuk mencegah vortex aliran transisi yang tidak
nampak.
h. Sumur basah harus direncanakan denggan dilengkapi dua
kompartemen, dimana setiap kompartemen harus dipisah untuk
proses pemeliharaan tanpa menghentikan operasi sumur
pengumpul.
i. Pipa suction pada sumur pengumpul harus berukuran lebih untuk
perluasan fasilitas pada masa yang akan datang.
3. Pemilihan Pompa dan Kontrol
Kebutuhan pipa dapat ditentukan dari pengetahuan tentang head dan
aliran. Pemilihan unit spesifik membutuhkan pengujian pada kurva
standard pabrik dan perbandingan antara kurva standar pabrik
dengan kurva kapasitas head sistem.

A.3.1.2 Saringan Sampah (Screen)
Pengoperasian sistem IPAL memerlukan penyaringan sampah yang
berfungsi untuk mencegah masuknya sampah atau beda yang berukuran
besar masuk ke dalam unit pengolah sehingga dapat menyebabkan
gangguan, terutama pada unit pompa. Saringan (screen) yang digunakan
mempunyai sistem operasional sebagai berikut :

Gambar II-3.10. Bar Screen
1. Sampah seperti plastik dan kotoran-kotoran mengambang lainnya
dalam influent disaring dengan saringan kasar/bar screen.
2. Kotoran-kotoran yang menempel pada saringan diambil secara manual
dengan alumunium rake. Pengambilan kotoran 1-2 kali sehari.
3. Jika menggunakan/dipasang mechanical screen, maka dengan belt
conveyor sampah yang terangkat dipisahkan dan dimasukkan dalam
pengumpul/container sampah.
4. Kotoran diambil dan dibuang paling tidak satu kali sehari jika
menggunakan bar screen dan sistem manual, demikian juga jika
memakai mechanical screen.

A.3.1.3. Bak Penangkap Pasir (Grit Chamber)
Apabila unit Bak Penangkap Pasir yang digunakan adalah sistem kanal,
dan pasir yang berhasil diendapkan diambil dengan pompa pasir jenis
submersible, maka pompa pasir jenis ini biasanya digantungkan pada
derek listrik/chain hoist. Maka sistem operasinya adalah sebagai berikut :


Gambar II-3.11. Bak Penangkap Pasir Sistem Kanal, 2 Kanal Paralel


Gambar II-3.12.Pompa/Sekop Pasir Tergantung pada Derek

Untuk pengoperasian bak penangkap pasir, perlu dilakukan beberapa
tahapan sebagai berikut:
1. Persiapan operasi
a. Nyalakan pompa pasir dan derek.
b. Pompa pasir dioperasikan melalui kontrol panel listrik yang
dipasang diruang utama/ruang mesin pengendali IPAL.
c. Listrik disalurkan ke derek melalui kontrol panel yang sama dengan
pompa pasir, dan derek dioperasikan dengan operation push
button/tekan tombol pada derek.
d. Derek punya tiga jenis pengoperasian jalan maju, jalan mundur,
dan mengerek (naik atau turun).

2. Memulai Pengoperasian
a. Pompa pasir tergantung di atas bak penangkap pasir yang akan
dikuras (jika ada beberapa bak penangkap pasir)
b. Biasanya terdapat beberapa derek dan setiap pasang derek
dioperasikan secara independen.
c. Hidupkan pompa pasir dengan tombol pengoperasian yang terdapat
di kontrol panel
d. Setelah memeriksa jalannya pompa, tekan tombol travelling
forward/jalan maju pada derek supaya derek mulai berjalan. Jika
derek telah mencapai sisi inlet bak penangkap pasir, mulailah
dengan memompa dari sisi ke sisi pada bagian inflow tersebut,
hentikan derek listrik, dan tekan tombol travelling backward/jalan
mundur untuk memundurkan derek tersebut. Ulangi operasi seperti
tadi yaitu memompa dari sisi ke sisinya, prosedur tersebut diulang
bolak-balik sebanyak tiga sampai lima kali.
e. Jalankan pompa pasir untuk memompa pasir yang mengendap,
dengan dereknya sekali atau dua kali sehari.

3. Menghentikan Pengoperasian
a. Setelah menyelesaikan pengurasan pasir seperti yang dijelaskan di
atas, hentikan pompa pasir dengan memencet tombol Stop Operation
di kontrol panel
b. Matikan NFB derek listrik (di dalam kontrol panel).



4. Catatan Tambahan
a. Biasanya dua kanal bak penangkap pasir dioperasikan secara
pararel.
b. Pindahkan pasir dan kotoran-kotoran lain yang tersedimentasi dan
terkumpul dalam bak penangkap pasir menggunakan pompa pasir
dan derek listrik yang dioperasikan manual. Walau demikian,
hindari pengoperasian secara bersamaan.
c. Hentikan derek tepat di dalam tutup tahan air.
d. Pasir akan dipompa masuk ke wadah pengumpul dengan Cyclone
Separator atau Screw Separator.

Gambar II-3.13. Circular rake/Detritus Tank/Square HorizontalFlow

Apabila sistem bak penangkap pasir adalah kolam persegi empat atau
lingkaran (horizontal square-flow/circular rake). Maka sistem operasinya
adalah:

1. Persiapan operasi/item yang harus diperiksa;
a. Nyalakan sekop putar, nyalakan mekanik pencuci pasir, juga
nyalakan pompa untuk mengembalikan bahan organik.
b. Sekop putar dioperasikan melalui kontrol panel yang dipasang di
ruang mesin untuk lift pump.
c. Juga pencuci pasir dan pompa pengembalian organik, semua
dioperasikan melalui kontrol panel yang berada di ruang mesin
untuk lift pump.
2. Memulai Pengoperasian
a. Mekanik sekop berada di dasar setiap bak penangkap pasir yang
akan dikuras (jika ada beberapa bak penangkap pasir)
b. Mekanisme pencuci pasir yang bergerak maju mundur, terletak di
sebelah dari bak kotak, dan berhubungan dengan sekop putar pada
bak penangkap pasir. Mekanisme ini dijalankan secara independent,
juga mekanis/pompa untuk mengembalikan kandungan organik.
c. Hidupkan sekop putar dengan tombol pengoperasian yang terdapat
di kontrol panel
d. Setelah memeriksa jalannya sekop putar, hidupkan rak pencuci
pasir (rake grit washer). Setelah mengamati dan memeriksa jalannya
mekanisme rak dan sekop, hidupkan juga pompa atau mekanik
untuk mengembalikan kandungan organik dari hasil pencucian
pasir, kembali ke bak/kolam pengendap pasir.
e. Pasir yang telah bersih dan kering akan keluar melalui ujung rak,
dikumpulkan dan masukkan pada gerobak/kereta dan buang ke
tempat pembuangan pasir. Pasir ini dapat dimanfaatkan kembali
untuk keperluan bahan bangunan, namun setelah melalui proses
pengayakan untuk memisahkan kotoran yang terkandung
didalamnya.
f. Jalankan seluruh mekanisme sekop, rak pencuci pasir dan
pengembalian organik pada bak penangkap pasir, sekali atau dua
kali sehari.
3. Menghentikan Pengoperasian
a. Setelah menyelesaikan pengurasan dan pencucian pasir seperti
yang dijelaskan di atas, hentikan sekop putar, rak pencuci pasir
dengan memencet tombol Stop Operation pada kontrol panel
b. Matikan NFB di dalam kontrol panel, jika tombol on/off berada di
luar ruang kontrol.

Sistem pemisah yang digunakan dalam bak penangkap pasir terdapat
beberapa macam, yaitu :
1. Pemisah Tipe Pusaran/Cyclone separator
Pemisah tipe Pusaran adalah rangkaian peralatan dari sistem
pemisahan pasir dari bak penangkap pasir sistem kanal.
a. Pemisah tipe pusaran dihubungkan langsung dengan pipa keluar
dari pompa pasir. Tanah dan pasir dan butiran kasar lainnya yang
terkumpul di dasar bak penangkap pasir disedot bersama-sama
dengan limbah cair oleh pompa pasir tersebut dan dipisahkan
menjadi bahan padat dan cair di dalam pemisah tipe pusaran ini.
Tanah dan pasir yang sudah dipisahkan, terkumpul dan tersimpan
dalam ruang di dasar pemisah tipe pusaran ini.


Gambar II-3.14. Pemisah Tipe Pusaran (Cyclone Separator)

b. Setelah selesai mengoperasikan pompa pasir, buka kran yang
terpasang di bagian bawah ruang pada bagian bawah pemisah tipe
pusaran lalu buangan padatannya disalurkan ke dalam parit.
c. Tanah dan pasir akan tetap berada di dalam parit, dan limbah secara
alami mengalir kembali ke grit chamber.
d. Tanah dan pasir yang terkumpul di parit diciduk 1-2 kali seminggu
dan pindahkan ke Bak Pengering Lumpur (Sludge drying bed).
Kadang perlu dicuci supaya tidak bau.

2. Pemisah Tipe Ulir/Screw Separator
Pemisah Tipe Ulir adalah rangkaian peralatan dari sistem pemisahan
pasir dari bak penangkap pasir sistem kanal.

Gambar II-3.15. Screw Separator

a. Pemisah tipe ulir mempunyai konstruksi seperti ulir yang miring
dan bertumpu pada dasar bak, dimana bak tersebut adalah sebagai
dasar dari bak penangkap pasir. Dasar dari bak penangkap pasir
dibuat konus dan miring kearah ujung pemisah tipe ulir ini.
b. Hidupkan pemisah tipe ulir, dan ulir akan berputar dan mengangkat
air beserta pasir yang terkumpul di dasarnya naik ke atas.
c. Dinding pemisah tipe ulir terbuat dari plat berlubang-lubang,
sehingga air akan keluar melalui lubang tersebut, sedangkan pasir
akan terangkat naik.
d. Efek dari putaran serta dorongan dari ulir akan membersihkan pasir
dari bahan organik lainnya, sehingga pasir yang keluar dari sistem
ini sudah tercuci bersih dan tidak berbau.
e. Pasir akan keluar melalui ujung dari ulir, dan akan ditampung
dalam wadah/bin, dan setiap hari dibuang.

A.3.1.4. Bak Pengendap I (Primary Sedimentation)
1. Pengoperasian dengan Peralatan Mekanik
Jika memakai tangki pengendapan dengan peralatan mekanik. Cara
mengoperasikannya adalah sebagai berikut:

Gambar II-3.16. Bak Pengendap I dengan Sistem Mekanik (Berbentuk
Lingkaran)
a. Hidupkan listrik pada Bak Pengendap I pada kontrol panel.
b. Cek apakah penyapu mekanis (mechanic scrapper) dan penyerok
(scoop) pada tangki clarifier sudah berjalan normal.
c. Hidupkan pompa lumpur sekali atau dua kali setiap harinya.
d. Cek apakah lumpur tersalurkan dengan baik ke kolam pengering
lumpur.
e. Bersihkan bak dari kotoran/ sampah yang mungkin terbawa.
f. Lakukan pembuangan lumpur dari bak sedimentasi I sesuai
dengan periode waktu yang telah ditentukan dalam perencanaan
atau tergantung pada kondisi air baku.
g. Amati ketinggian muka air dalam bak sesuai yang direncanakan.
h. Perhatikan aliran dalam bak, apakah merata, atau ada bagian yang
terlalu lambat/cepat. Bilamana ada aliran tidak merata, maka hal
ini merupakan indikasi adanya pembebanan yang tidak merata
pada seluruh bidang bak sedimentasi I.

2. Pengoperasian dengan Pemisah Padatan
Jika memakai kolam pengendapan pemisah padatan (khusus untuk IPAL
yang menerima lumpur tinja, karena tidak memiliki IPLT), maka
operasionalnya memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Lumpur tinja yang telah terpisahkan dari airnya, kemudian diambil
secara periodik sesuai dengan criteria perencanaan yang digunakan.
Jika bak pemisah padatan biasanya sekitar 10 15 hari sekali,
sedangkan jika berupa Imhoff Tank sekitar 1 2 bulan sekali lumpur
disedot dan dibuang ke kolam pengering lumpur.
b. Ambil dan buang juga buih yang terkumpul pada bagian atas air.
c. Masukkan lumpur dan buih tersebut ke dalam bak pengering
lumpur.
d. Ambil lumpur yang telah kering dari bak pengering tersebut secara
periodik, buang ke pembuangan lumpur, atau gunakan sebagai
pupuk. Lumpur kering harus disimpan dalam lokasi yang
terlindungi dari hujan.

A.3.1.5. Bak Pengendap II (Clarifier)
Berfungsi mengendapkan padatan tersuspensi atau partikel dan
mikroorganisme dari proses aerobik di bagian hulunya. Konstruksi bak
pengendapan akhir bisa lebih kecil dibandingkan pengendapan awal,
karena disini lumpur diendapkan hanya bertujuan untuk memisahkan
padatan dari air limbah yang sudah terolah dan akan dibuang sebagai air
hasil olahan IPAL.

Endapan/lumpur pada kolam ini dipompa setiap hari dan
diresirkulasikan ke bak pengendapan awal dan sebagian dibuang dengan
jumlah lumpur buanganyang sesuai dengan produksi lumpur yang
direncanakan sesuai dengan umur lumpurnya (sludge age). Pompa bisa
menggunakan pompa lumpur, atau jenis lift pump lainnya.


A.3.2. Pengolahan Biologis
Prinsip proses pengolahan biologis adalah memanfaatkan jasa
mikroorganisma untuk menguraikan pencemar organik terlarut yang
terkandung dalam air limbah domestik. Penguraian bahan organik terlarut
ini akan mengembalikan senyawa pencemar menjadi unsure-unsur
dasarnya yang berfungsi sebagai mineral dan nutrient bagi lingkungan.
Selain itu, proses pengolahan biologis ini juga akan menghasilkan produk
sampingan berupa mikroorganisma baru, dalam bentuk lumpur, sehingga
perlu dilakukan pengolahan lumpur secara khusus agar aman apabila akan
dimanfaatkan atau akan dibuang ke lingkungan.
1. Klasifikasi Proses Pengolahan Biologis
Proses pengolahan biologis, terdiri dari berbagai macam jenis, yang
dapat diklasifikasikan berdasarkan
a. Jenis mikroorganisma pengurai:
1) Pengolahan Aerobik
2) Pengolahan Anaerobik
3) Pengoalahan Fakultatif
b. Jenis reaktor atau bak/kolam yang digunakan:
1) Sistem Tersuspensi (Suspended Growth Sistem)
2) Sistem Terlekat (Attached Growth Sistem)
c. Jenis Tahapan Proses:
1) Tahap Tunggal
2) Tahap Kombinasi

2. Tahap Pengkondisian Biologis
Karena menggunakan mikroorganisma atau bakteri sebagai
pengurainya, maka agar proses ini perlu berjalan dengan baik,
diperlukan beberapa tahap awal sebelum dilakukan proses pengolahan
biologis yang utama. Langkah persiapan atau pengkondisian biologis
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Analisis Air Limbah
Manfaat analisis di sini sebagai informasi untuk estimasi: start-
uploading, kebutuhan kimia, level pH dan sebagainya. Informasi
yang diperlukan adalah analisis konsentrasi BOD5, COD, TSS, pH,
NH3-N, Ortho-Phosphat dan analisis khusus.
b. Pembibitan (Seeding)
Pilih sampel dari sistem pengolahan dari jenis limbah yang sama.
Jika tidak tersedia tetap diperlukan periode aklimatisasi biologi
sehingga mulai berproduksi secara tepat. Urutan prioritas sumber-
sumber air limbah yang harus diambil terdiri dari:
1) Sludge underflow dari final settling Bak Pengendap II
2) Mixed Liquor pada tangki aerasi
3) Mixed Liquor pada digester aerobik
4) Lakukan pengujian mikroskopik terhadap bahan-bahan dasar
secepat mungkin agar kualitasnya dapat segera diketahui.
Kualitas mikro organisme yang baik adalah dalam bentuk
kehidupan mikroskopik yang lebih tinggi dan dalam jumlah
moderat dan tinggi.
5) Lakukan tes DO up-take pada masing-masing sampel agar
lebih terjamin kualitas yang lebih baik.
6) Perlunya pengamanan transportasi dengan baik.

A.3.2.1. Pengolahan Aerobik
1. Kolam Aerasi (Aerated Lagoon)
Dalam mengoperasikan kolam aerasi, tidak banyak yang harus
dilakukan dalam pengoperasiannya. Hal terpenting dalam kolam
aerasi adalah menjaga agar aerator permukaan yang terdapat dalam
kolam selalu dalam keadaan bekerja. Beberapa kolam aerasi berfungsi
sekaligus sebagai tempat pembuangan lumpur dan tempat proses
aerasi, sedangkan untuk kolam aerasi yang lain mempunyai tambahan
unit clarifier dalam hal pemisahan lumpurnya. Dalam kasus seperti itu,
pengaturan pembuangan lumpur harus diperhatikan karena lumpur
yang dibuang harus terus dilakukan secara teratur.
Dalam kasus pembuangan lumpur dengan menggunakan unit clarifier,
fasilitas mekanik pengolahan lumpur seperti pengeringan dengan
menggunakan Bak Pengering Lumpur (Sludge Drying Bed, dewatering
process) tidak disarankan. Hal ini dikarenakan konsentrasi lumpur
dalam kolam (MLSS) akan jauh lebih rendah daripada di lumpur
dalam Sistem Lumpur Aktif (ASP) konventional. Bak pengering
lumpur dengan tutupan beberapa tumbuhan di sekitarnya menjadi
salah satu alternatif yang disarankan apabila bak atau kolam aerasinya
menggunakan tambahan unit clarifier (ganda).
Konsentrasi DO dalam kolam aerasi menjadi salah satu indikator
terbaik untuk menentukan efektivitas kolam telah berjalan maksimal
atau belum. Kriteria desain untuk DO yang seharusnya dalam kolam
aerasi yaitu sebesar 1 2 mg/L DO. Konsentrasi DO operasional paling
rendah sebesar 1 mg/l harus tetap dipertahankan walaupun kondisi
kolam sedang mengolah beban pencemar yang besar. Seringkali
kebutuhan oksigen yang paling ekstrim terjadi pada malam hari yaitu
ketika ganggang berespirasi. Rentang pH dalam kolam aerasi harus
berkisar 7-8. Nilai pH dapat melebihi 9 ketika terjadinya alga blooming,
khususnya dalam kondisi alkalinitas rendah dalam air limbah. Apabila
dalam kolam aerasi menggunakan aerator permukaan, perlu
diperhatikan bahwa aerator tersebut harus menghasilkan turbulensi
yang baik dan jumlah buih yang cukup banyak.
Secara umum, pengoperasian kolam aerasi adalah sebagai berikut:
a. Isi reaktor aerasi dengan air secara perlahan
b. Hidupkan aerator bila air di reaktor aerasi sudah penuh
c. Tes semua pipa pembuang, katup, pintu air dan pompa
d. Reaktor aerasi diisi dengan air limbah, sehingga aerator dapat
menstransfer udara ke air limbah.

2. Kolam Aerasi Fakultatif
Pengoperasiaannya hampir sama seperti pada kolam aerasi, akan
tetapi perbedaannya di dalam kolam ini tidak sepenuhnya berlangsung
proses aerasi, akan tetapi ada sebagian kondisi dalam kolam yang
anaerobik sehingga kedalaman kolam menjadi sangat menentukan.

Uji coba kolam fakultatif dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Metode kultur
1) Isikan air tawar biasa ke dalam kolam sesuai ketinggian yang
ditetapkan
2) Tambahkan kultur algae sebagai bibit
3) Jaga ketinggian permukaan air setiap hari dengan menambah air
limbah baku secukupnya ke dalam kolam.
4) Setelah pertumbuhan alga cukup banyak (beberapa hari
kemudian), sejumlah air limbah baku perlu ditambahkan ke
dalam kolam hingga kedalaman operasi yang direncanakan.
5) Biarkan selama 2 3 hari tanpa adanya pengaliran efluen.
6) Kolam siap dioperasikan secara kontinue dengan mengalirkan air
limbah baku secara terus menerus dan membuka outlet.
b. Metode Alami
1) Isikan air limbah baku ke dalam kolam hingga mencapai
kedalaman operasi penuh
2) Biarkan selama 15 hari agar terjadi pembibitan secara alamiah
3) Biarkan selama 15 hari lagi, atau hingga jumlah alga yang
terdapat di dalam kolam sesuai dengan ketentuan.
4) Kolam siap dioperasikan secara kontinu.

3. Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)
Metode lumpur aktif memanfaatkan mikroorganisme (+ 95% bakteri
dan sisanya protozoa, rotifer, dan jamur) sebagai katalis untuk
menguraikan material yang terkandung dalam air limbah. Proses
lumpur aktif merupakan salah satu modifikasi dari proses aerasi. Pada
proses ini, mikroba tumbuh dalam lumpur yang terdispersi sehingga
terjadi proses degradasi. Proses ini berlangsung dalam reaktor yang
dilengkapi dengan resirkulasi lumpur dan cairannya. Tahapan-tahapan
pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif secara garis besar
adalah sebagai berikut :
a. Tahap I atau tahap aerasi
Tahap ini hampir sama dengan kolam aerasi. Pada tahap ini aerasi
okigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah dicampur
lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang biak
mikroorganisme dalam lumpur. Dengan pengadukan yang baik,
mikroorganisme dapat melakukan kontak dengan air limbah yang
masuk kemudian akan diuraikan menjadi senyawa yang mudah
menguap seperti CO2, H2S, NH3, dan senyawa-senyawa lain
sehingga mengurangi bau air limbah.

b. Tahap II atau tahap sedimentasi
Air limbah yang telah diuraikan secara biologis oleh
mikroorganisme selanjutnya akan dipisahkan dari air limbah yang
terolah dengan proses pengendapan pada tahap sedimentasi.
Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki
aerasi, sisanya dibuang. Kapasitas lumpur yang diresirkulasi ke
tangki aerasi harus sesuai dengan padatan biologis yang berada
dalam sistem reaktor. Namun, laju aliran pengembalian lumpur
yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan, perlu dijaga agar tidak
meningkatkan pembebanan lumpur (solid loadings) pada clarifier.
Rasio pengembalian lumpur pada tanki aerasi (aeration tank) rata-
rata dapat diatur atas dasar besaran Sludge Volume Index (SVI).
Sedangkan SVI didefinisikan sebagai volume dalam ml per satu
gram lumpur padatan (MLSS), berat kering, setelah pengendapan
selama 30 menit dalam 1000 mL corong ukur. Prosedur pengukuran
SVI pengukuran adalah sebagai berikut :
1) Ambilah sampel MLSS atau lumpur yang akan diresirkulasikan
dari clarifier.
2) Aduk sampel MLSS secara merata dengan hati-hati dan
tuangkan dalam 1.000 mL corong ukur. Apabila terlalu kuat
dalam mencampur, akan mengakibatkan flok-flok yang ada
akan pecah dan proses pemisahannya akan berjalan lambat.
3) Catat besarnya presentase volume padatan yang berhasil
mengendap secara berkala.

Gambar untuk pengukuran SVI terdapat pada Gambar II-3.17.


Gambar II-3.17. Analisa Sludge Volume Index (SVI)
Pada Tabel II-3.2 menjelaskan mengenai nilai SVI dan kemungkinan
indikasi pengendapan pada sifat lumpur aktif.



Tabel II-3.2. Hubungan antara SVI dan Karakteristik
Pengendapan Lumpur









Kuantitas debit lumpur yang diresirkulasi disesuaikan dengan
volume lumpur yang mengendap. Ratio resirkulasi debit lumpur
terhadap volume lumpur yang mengendap harus sama dengan
aliran masuk clarifier untuk volume pada clarifier seperti dijelaskan
pada Gambar II-3.18.


Gambar II-3.18. Rasio Debit Resirkulasi Lumpur

Salah satu lumpur aktif yang paling banyak digunakan adalah
sistem lumpur aktif konvensional yang biasanya terdiri dari reaktor
biologis dan clarifier. Limbah dan lumpur aktif yang diresirkulasi
(Return Activated Sludge = RAS) masuk bersama-sama pada salah
satu ujung reaktor dan campurannya terpisah di ujung yang lain.
Effluent lumpur pada clarifier proses dialirkan kembali, baik itu
sebagai resirkulasi lumpur aktif atau langsung dibuang keluar dari
sistem agar jumlah lumpur dalam sistem selalu tetap. Gambar dari
Lumpur Aktif Konventional terdapat pada Gambar II-3.19.

SVI (ml/g) Indikasi
< 50 Potensial flok (lumpur terlalu padat)
50 100 Kisaran pengendapan lumpur yang baik
100 150 Indikasi pertumbuhan lumpur berfilament
150 200 Bulking lumpur pada debit yang tinggi
200 300 Bulking (lumpur sulit mengendap)
> 300 Bulking parah

Gambar II-3.19. Proses Activated Sludge Konvensional

Proses oksidasi aerobik material organik dilakukan dalam tangki
aerasi atau reaktor biologis ini. Efluent pertama masuk dan
tercampur bersama dengan lumpur aktif yang diresirkulasi (RAS)
membentuk lumpur campuran (mixed liqour), yang mengandung
padatan tersuspensi sekitar 2.500 - 3.500 mg/l. Aerasi dilakukan
secara mekanik. Karakteristik dari proses lumpur aktif adalah
adanya daur ulang dari biomassa. Keadaan ini membuat waktu
tinggal rata-rata sel (biomassa) menjadi lebih lama dibanding waktu
tinggal hidrauliknya. Keadaan tersebut membuat sejumlah besar
mikroorganisme mengoksidasi senyawa organik dalam waktu yang
singkat. Waktu tinggal dalam tangki aerasi berkisar 4 - 8 jam.

Selanjutkan, setelah proses pengolahan berlangsung dalam tanki
aerasi, dilakukan pemisahan flok mikroba (lumpur) yang dihasilkan
selama fase oksidasi ini dalam clarifier atau Bak Pengendap II.
Sebagian dari lumpur dalam clarifier ini akan didaur ulang kembali
(RAS) agar dapat mempertahankan jumlah mikroorganisma dalam
tangki aerasi, sedangkan sebagian lumpurnya dibuang untuk
menjaga rasio yang tepat antara makanan dan mikroorganisme
(F/M Ratio).

4. Extended Aeration
Proses yang dilakukan dalam mengoperasikan Extended Aeration
adalah sama dengan ASP. Sebab Extended Aeration pada prinsipnya
memang adalah ASP yang telah dimodifikasi. Perbedaannya adalah
tidak diperlukannya Bak Pengendap I dalam sistem Extended
Aeration akibat proses aerasi yang berlangsung lebih lama dalam
tanki aerasi, sekitar 16 24 jam sehingga mampu mengoksidasi
limbah dengan baik termasuk menghasilkan nutrient dalam
reaktornya. Sehingga pengoperasian yang dilakukan tidak berbeda
dengan ASP di atas.

5. Parit Oksidasi (Oxidation Ditch, OD)
Berbeda dengan ASP yang dilakukan dalam reaktor aerasi yang
berbentuk persegi panjang, maka reaktor OD berbentuk parit
sehingga pengoperasiannya harus memperhatikan kondisi supaya
lumpur yang ada dalam reactor tidak mengendap agar tetap aktif
berada dalam suspense. Karena itu, fungsi dari aerator yang
digunakan adalah selain mensupply oksigen, juga dimaksdukan
untuk mendorong suspense air dalam parit agar terus berjalan.
Sistem ini mempunyai keunggulan karena mampu mengolah air
limbah domestic yang mengandung nutrient tinggi, karena dapat
melangsungkan proses aerobic dan anoksik secara bergantian.
Untuk pengoperasiannya, dilakukan beberapa tahap sebagai
berikut:
a. Uji Coba/Tahap Awal (Start-Up)
1) Start up dalam kondisi kering (Dry Check-Up). Kegiatannya
meliputi:
a) Arah aliran pada masing-masing pipa ditandai dengan
cat berbeda, misal untuk influen, efluen, lumpur dan
sebagainya.
b) Pemberian pelumas, dan tes setiap perlengkapan.
c) Tangki-tangki dan perpipaan dibersihkan dari debu dan
kotoran
d) Light meter, indikator dan recorder harus dalam keadaan
siap dioperasikan
e) Dokumen berupa instruksi pabrik dan manual
pemeliharaan harus sudah dibaca dan disiapkan di
tempat khusus sebagai referensi
f) Kelengkapan daily operating log untk mencatat data-data
harian
2) Start up dalam kondisi basah (Wet Check-Up). Kegiatannya
meliputi:
a) Isi tangki aerasi dengan air secara perlahan
b) Untuk diffused air sistem, suplai udara segera diberikan
begitu aerator mulai terendam dan debit udara
ditingkatkan secara bertahap hingga tangki aerasi terisi
penuh
c) Untuk surface aerator akan dihidupkan bila air di tangki
aerasi sudah penuh
d) Isi final settling tank hingga penuh, periksa limpahan air
pada pelimpah dan apabila elevasinya tidak merata maka
perlu penyesuaian ketinggian pelimpah
e) Tes semua drain, valve, gate dan pompa return sludge.
f) Tangki aerasi diisi dengan air limbah dan secara estafet
air yang ada akan diganti oleh air limbah sehingga
aerator dapat mentransfer udara ke air limbah
b. Pembentukan Lumpur Aktif
1) Lakukan seeding, dapat menggunakan lumpur dari unit IPAL
yang sejenis ataupun seeds/bibit mikroba dari sumber biakan
yang khusus. Dalam beberapa hal, dapat pula dilakukan
dengan tanpa menggunakan seeds.
2) Gunakan rasio resirkulasi tinggi dari final settling tank,
bahkan bila perlu ditambah dengan bypassing sludge dari
primary settling tank (untuk membentuk padatan)
Waktu pembentukan lumpur aktif sekitar 1,5-3 bulan dan pada
masa tersebut kemungkinan diperlukan desinfeksi efluen guna
mencegah pencemaran badan air mengingat efisiensi sistem
belum optimal.

c. Pengendalian
Untuk mencapai efisiensi yang diinginkan, ada tiga metode
pengendalian zat padat, yaitu dengan cara pembuangan lumpur
(waste sludge) untuk menjaga MLVSS selalu konstan, menjaga
rasio F/M selalu konstan atau menjaga umur lumpur selalu
konstan.

A.3.2.2. Pengolahan Anaerobik
Proses pengolahan anaerobic mengandalkan mikroorganisma yang
anaerobic, artinya yang tidak memerlukan oksigen dalam proses
penguraian air limbah yang diolahnya. Oksigen menjadi racun, sehingga
harus dijaga agar selama proses berlangsung, tidak ada oksigen yang
masuk ke dalam proses. Karena itu, proses anaerobik akan menghasilkan
energy dalam bentuk biogas, atau gas methan. Proses ini dapat dilakukan
dengan atau tanpa menggunakan media di dalam reaktornya. Dalam
aplikasi di Indonesia, sistem pengolahan anaerobik yang menggunakan
media (attached growth sistem) adalah Filter Anaerobik (Anaerobic Filter),
sedangkan yang menggunakan organisme tersuspensi (suspended growth
sistem) adalah:
1. UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
2. Kolam Anaerobik (Anaerobic Pond)
3. ABR (Anaerobic Baffled Reactor)
Pengoperasian masing-masing proses adalah sebagai berikut:
1. Filter Anaerobik (Anaerobic Filter)
Anaerobic filter adalah reaktor biologis fixed-bed. Air limbah dalam
reaktor ini mengalir melalui filter, sehingga partikel terjebak dan bahan
organic didegradasi oleh biomassa yang melekat pada media.
Teknologi ini terdiri dari tangki sedimentasi yang dilanjutkan dengan
1-3 kompartemen filter. Bahan filter yang umum digunakan adalah
kerikil, batu hancur, abu, atau potongan plastik yang dibentuk khusus.
Ukuran diameter media filter yang digunakan berkisar 12 sampai 55
mm. Idealnya, bahan ini akan memberikan antara 90 sampai 300 m
2

luas permukaan per 1 m
3
volume reaktor. Dengan menyediakan area
permukaan besar untuk massa bakteri, terjadi peningkatan kontak
antara bahan organik dan biomassa aktif yang efektif mendegradasi
itu.

Anaerobic filter dapat dioperasikan secara upflow atau downflow.
Metode upflow dianjurkan karena ada sedikit risiko bahwa biomassa
tetap akan dicuci. Tingkat air harus mencakup media filter setidaknya
0.3 m untuk menjamin terjadinya aliran pada media filter.

Pre-treatment sangat penting untuk menghilangkan padatan settleable
dan sampah yang dapat menyumbat filter. Penelitian menunjukkan
bahwa HRT adalah parameter desain yang paling penting yang
mempengaruhi kinerja filter. Nilai HRT untuk anaerobic filter yang
direkomendasikan berkisar dari 0,5 sampai 1,5 hari. Surface loading
maksimum sebesar 2.8 m/hari telah terbukti cocok. Removal TSS dan
BOD dapat setinggi 85% sampai 90%, tetapi biasanya antara 50% dan
80%. Penghapusan nitrogen terbatas dan biasanya tidak melebihi 15%
dalam hal total nitrogen (TN). Berikut ini contoh gambar kompartemen
pada anaerobic filter.


Gambar II-3.20. Kompartemen Pada Filter Anaerobik

2. UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
UASB terdiri dari lapisan lumpur kental yang terflokulasi dalam
bentuk granuler yang berada dalam suatu reaktor, dimana air limbah
baku dialirkan ke melaluinya dengan pola up-flow sehingga terjadi
kontak antara mikroorganisma dengan bahan organic air limbah yang
akan diolahnya. Butiran lumpur berdiameter 1-2 mm tertahan di
dalam suspensi dengan ketebalan tertentu sebagai pertumbuhan
biologi aktif (sludge blanket).

Di dalam reaktor akan terbentuk tiga zona lapisan cair yang berbeda,
yaitu:
a. Bed lumpur (lapisan bawah) dengan konsentrasi 40-100 k VSS/m
3
.
b. Selimut lumpur (lapisan aktif) dengan konsentrasi 15-30 kg VSS/m
3
.
c. Cairan bening (lapisan atas)

Pengoperasian UASB juga harus melalui proses start up seperti
umumnya proses biologis untuk memberi kesempatan pada
mikroorganisme beraklimatisasi sekaligus memperbanyak jumlah
populasinya sehingga siap untuk digunakan dalam proses pengolahan
pencemar.

Pengaktifan proses reactor UASB mempunyai 3 sasaran:
a. Akumulasi lumpur
b. Perbaikan kualitas lumpur
c. Formulasi blanket (selimut lumpur)

Lumpur yang digunakan sebagai bibit diperkirakan konsentrasinya
sebesar 10.000 15.000 g VSS/m
3
atau < 40.000 g TSS/m
3
volume reaktor
yang diperoleh dari UASB tempat lain yang telah beroperasi dengan
baik atau dengan boleh menggunakan kotoran sapi, sebagai alternatif.

Beban organik awal, sebagai F/M ratio, yang digunakan adalah 0,05
0,1 g COD/g VSS.hari dengan cara mengatur debit yang masuk. Perlu
diperhatikan, jangan tingkatkan beban tersebut bila volatile fatty acid
(VFA, COD degradable) yang terdegradasi masih < 80%.

Lakukan wash-out terhadap lumpur yang mempunyai sifat
pengendapan buruk. Sebaiknya tahan bagian lumpur yang berat agar
tetap berada dalam reactor dengan menjaga kondisi lingkungan di
reaktor (pH > 6,2, mencukupi nutriennya, dan mencegah masuknya
senyawa toksik).
Pelaksanaan start up dapat juga dilakukan meskipun tanpa
pembibitan, hanya waktunya lebih lama hingga 10 minggu.
3. Kolam Anaerobic (Anaerobic Pond)
Cara mengoperasikan kolam anaerobik hampir sama dengan kolam
aerobik Akan tetapi, dalam kolam anaerobik tidak dibutuhkan adanya
aerator, karena memang harus menghindarkan oksigen secara
langsung. Pengoperasian kolam anaerobic jauh lebih mudah daripada
pengoperasian kolam aerobic. Hal terpenting dalam mengoperasikan
kolam anaerobik adalah mengechek kedalaman kolam sesuai dengan
kriteria desain yang telah ditetapkan untuk kolam anaerobik dan
lamanya waktu detensi dalam kolam. Hal hal yang perlu diperhatikan
dalam pengoperasian kolam anaerobik adalah :
a. Kolam ini beroperasi tanpa adanya oksiden terlarut DO (dissolved
oxygen).
b. Pembersihan terhadap screen harus dilakukan secara regular agar
tidak mengganggu pengisian kolam.
c. Apabila pengoperasian bar screen secara otomatis maka perlu
diberikan oli/pelumas pada alat-alat mekanik.
d. Tanaman disekitar tanggul kolam diusahakan pendek (tanaman
perdu) dan jangan sampai meluas ke dalam kolam.
e. Buih (scum) dan alga dari kolam anaerobik dikurangi dan
dibersihkan.

4. ABR (Anaerobic Baffled Reactor)
Proses pengolahan biologis dengan menggunakan teknologi ABR
(Reaktor Anaerobik Bersekat Jamak) hampir sama dengan proses
pengolahan menggunakan septic tank. Akan tetapi, teknologi ABR lebih
kompleks daripada sistem septic tank.

Proses yang berlangsung dalam ABR adalah proses sedimentasi,
dimana adanya pemisahan lumpur menjadi bagian padat dan bagian
cair yang terjadi dalam ruang sedimentasi yang didalamnya telah
diberi baffle. Bagian padat membentuk endapan lumpur di dasar tangki
dan sedangkan bagian cair di lapisan atasnya disebut supernatan.
Supernatan akan mengalir keluar melalui penyekat (baffle) dari pipa
outlet. Endapan secara periodik dikeluarkan melaui pipa pembuang
lumpur dan mengalir menuju bak pengering lumpur. Upayakan aliran
lumpur didistribusikan secara merata dan hindari turbulensi dalam
tangki. Aliran yang terjadi dalam ABR merupakan aliran upflow dan
downflow. Populasi mikroba berkembang dalam lapisan lumpur yang
terdapat pada dasar komparteman. Desain asli dari ABR terdapat pada
Gambar II-3.21 berikut ini.

Gambar II-3.21. Desain Anaerobic Baffle Reactor

Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan kinerja reaktor, sehingga
banyak penelitian yang telah dibuat dengan memodifikasi ABR.
Alasan lain melakukan modifikasi pada ABR adalah dikarenakan
kandungan padatan atau beban organik yang tinggi, atau untuk
mengurangi biaya modal. Gambar II-3.22 menunjukkan beberapa
modifikasi besar dibuat untuk ABR sejak 1980-an, yang meliputi
(Barber dan Stuckey, 1999):
- Baffle vertikal dimasukkan untuk meningkatkan retensi padatan
dan memungkinkan untuk meningkat waktu kontak dengan tempat
tidur lumpur dan populasi metanogen.
- Kompartemen downflow dirancang untuk menjadi sempit untuk
mendorong retensi sel dalam kompartemen upflow.
- Baffle yang dimodifikasi dengan tepi miring untuk mengarahkan
aliran menuju pusat kompartemen untuk mendorong pencampuran.
- ABR telah ulang sebagai ruang menetap dengan baffle sesuai
ditempatkan untuk meningkatkan retensi padatan.
- Dalam beberapa ABRs, pengepakan telah diposisikan di atas
masing-masing bagian untuk mencegah washout padatan.
- ABR telah dirancang dengan kamar gas terpisah untuk kontrol
pengukuran gas. Ini juga meningkatkan stabilitas reaktor.
- Ruang pertama telah diperbesar dalam beberapa kasus yang
meningkatkan treatability yang air limbah yang mengandung
limbah padatan tinggi.


Gambar II-3.22. Macam- Macam Modifikasi Anaerobic Baffle Reactor

Pemilihan desain reaktor tergantung pada karakteristik air limbah
yang akan diolah. Model ABR yang ditunjukkan pada Gambar 3.22,
memiliki standar desain dengan tepi miring di ujung bawah dari baffle
menggantung, yang rute alirannya menuju pusat kompartemen upflow
untuk meningkatkan pencampuran.

Berbagai profil populasi mikroorganisme anaerob berkembang pada
tiap kompartemen ABR tergantung pada jenis limbah, jumlah substrat
yang terdapat dalam air limbah, pH dan suhu (Barber dan Stuckey,
1999).
Kompartemen depan ABR merupakan zona pengasaman, di mana
pertumbuhan berlangsung cepat, asam memproduksi mikro-
organisme yang lebih memilih tingkat substrat tinggi dan pH rendah
akan mendominasi (Barber dan Stuckey, 1999).

Sepanjang reaktor, berbagai jenis mikroorganisme methanogen juga
berkembang, tapi ini tergantung pada konsentrasi asetat yang
diproduksi dalam fase tengah pencernaan anaerobik.
Salah satu keuntungan yang paling signifikan dari ABR adalah
kemampuan untuk memisahkan mikroorganisme acidogenesis dan
metanogenesis horizontal melalui reaktor. Hal ini memungkinkan ABR
untuk berperilaku sebagai sistem dua fase tanpa masalah kontrol
terkait dan biaya tinggi (Weiland dan Rozzi, 1991).

Barber dan Stuckey (1999) menjelaskan bahwa tujuan dari periode
startup adalah untuk mengembangkan populasi mikroba yang paling
tepat untuk aliran limbah. Disarankan bahwa tingkat loading awal
harus rendah sehingga pertumbuhan mikro-organisme tidak
outcompeted, dan kecepatan upflow cair air limbah rendah. Hal ini
menyebabkan adanya dorongan pertumbuhan flocculent dan granular.
Setelah biomassa telah ditetapkan, operasi reaktor cukup stabil. Untuk
mencegah overloading dan untuk merangsang startup, reaktor dapat
diunggulkan dengan lumpur aktif yang mengandung kultur mikroba
yang sesuai.

Stabilitas reaktor dan kinerja yang lebih besar dapat dicapai bila ABR
berlangsung dengan waktu retensi lebih lama, kemudian dapat
dikurangi secara bertahap ketika konsentrasi substrat tetap konstan
dan karena itu tidak ada beban variabilitas (Barber dan Stuckey, 1997).
Hal ini disebabkan akumulasi padatan dan pertumbuhan populasi
mikroorganisme metanogen yang pesat.

A.3.2.3. Pengolahan Kombinasi
1. Kolam Stabilisasi
Sistem ini pada umumnya tidak dilengkapi peralatan mekanis, maka
pengoperasian dan pemeliharaan sistem ini relatif mudah , sederhana
dan murah. Mengoperasikan kolam stabilisasi membutuhkan tenaga
orang-orang yang terlatih. Pengoperasian dan perawatan mencakup
memulai pengoperasian kolam, mengelola kondisi permukaan kolam,
menjaga tanggul dan lokasi site kolam, dan juga menguras kolam serta
membuang lumpur.

Untuk mengelola permukaan kolam, yang dibutuhkan: perahu kecil
dan garu bergagang panjang, selang air atau pompa portabel dan
sumber air. Untuk memelihara tanggul dan lokasi kolam, yang
dibutuhkan: sekop, kapak, parang, alat potong rumput dan ilalang,
gerobak sorong, persediaan batu, tiang kayu, pagar kawat, palu, paku,
pipa cadangan, semen. Peralatan lain yang dibutuhkan antara lain tool
shed, rambu peringatan, bahan pembuat pagar, dan sarung tangan dan
sepatu bot dari karet. Jangan lupa memakai sepatu bot dan sarung
tangan jika berkerja di sekitar kolam stabilisasi.

Kolam stabilisasi yang beroperasi dengan baik dan dipelihara
sebagaimana mestinya biasanya tidak berbau. Bagi anak-anak maupun
orang dewasa, tempat ini tampak seperti tempat untuk berenang atau
bermain. Tindakan-tindakan ini harus dilarang. Harus dilakukan
tindakan pencegahan untuk mencegah orang-orang yang tak
berwenang masuk ke dalam lokasi. Pasang rambu peringatan, atau
pasang pagar atau barikade.
Jika rancangan waktu retensi suatu kolam tidak lebih dari 10 hari, atau
jika hanya sebagian dari seluruh hunian tersambung ke sistem jaringan
pipa pengumpul air limbah, mungkin lebih menguntungkan untuk
membagi kolam dalam beberapa bagian. Pembagian akan membuat
dasar kolam lebih cepat kedap air dan mencegah tumbuhnya rumput
dan tanaman liar. Buatlah satu atau dua tanggul selebar kolam.
Tanggul tersebut membagi kolam menjadi dua atau tiga bagian.
Tanggul ini dibuat dari tanah dan tingginya tidak lebih dari 5 m.

Padatan dari air limbah domestik akan mengendap pelan-pelan dan
menutupi dasar kolam pertama. Setelah beberapa hari, kolam pertama
akan penuh dan air limbah yang akan diolah (sewage) akan meluap dan
melewati tanggul sementara dan mulai menutupi dasar kolam kedua.
Setelah satu atau dua minggu, tergantung ukuran kolam dan volume
aliran per hari, kolam akan terisi dengan efflent hingga kedalaman
yang direncanakan.

Pengolahan dengan sistem kolam stabilisasi umumnya terdiri dari
minimal dua sistem pengolahan paralel, karena hal tersebut
memungkinkan pengelolaan yang maksimal dan terutama jika terjadi
problem pada salah salah satu pengolah, atau bisa juga berfungsi pada
saat pasokan limbah sangat sedikit atau kurang dari 50%.

Pada bak pembagi, terdapat 2 pintu air (jika ada 2 jalur pengolahan
paralel), setiap pintu air berfungsi untuk menyalurkan air limbah ke
salah satu jalur kolam stabilisasi. Pengoperasian pintu air bisa secara
manual atau secara otomatis.

a. Ketentuan Pengoperasian Kolam Stabilisasi
Berikut ini terdapat beberapa ketentuan yang harus dijalankan
pada kolam stabilisasi :
1) Jika inflow limbah 100% dari inflow perencanaan, maka 2 pintu
air dibuka normal, kedua pintu air tersebut akan
mendistribusikan effluent ke kolam stabilisasi No. 1 dan No. 2.
Dua jalur lagoon dipasang pararel di dalam sistem ini. Biasanya
setiap jalur terdiri dari 2 atau 3 kolam Anaerobik (paralel) + 2
kolam Fakultatif (parallel) + 2 kolam Maturasi (seri). Air limbah
tersalurkan ke semua kolam secara normal.
2) Jika inflow air limbah kurang dari 50% dari inflow dalam
perencanaan, mengoperasikan satu jalur kolam boleh dilakukan.
Dalam hal ini, salah satu pintu air pembagi harus ditutup
sehingga salah satu jalur kolam diistirahatkan.
3) Jika perencanaan waktu tinggal suatu kolam tidak lebih dari 10
hari, atau jika hanya sebagian daerah terlayani yang tersambung
ke sistem sewer, maka akan menguntungkan untuk membagi
kolam dalam beberapa bagian. Pembagian akan membuat dasar
kolam lebih cepat kedap air dan mencegah tumbuhnya rumput
dan tanaman liar.
4) Pembagian kolam dapat dilakukan dengan membuat satu atau
dua tanggul selebar kolam. Tanggul tersebut membagi kolam
menjadi dua atau tiga bagian. Tanggul ini dibuat dari tanah dan
tingginya tidak lebih dari 0.5 m.

b. Ketentuan Pengoperasian jika Lebih dari Satu Kolam Stabilisasi
Jika terdapat dua atau lebih kolam:
1) Tutup inlet kolam pertama dan alihkan air limbah ke kolam ke
dua, isi bagian per bagian.
2) Biarkan effluen di kolam yang sudah terisi hingga mencapai
matang selama 10 20 hari. Effluen perlahan-lahan berubah
warna menjadi kehijau-hijauan.
3) Alihkan aliran effluen kembali ke kolam pertama sehingga air
limbah yang sudah diolah mengalir keluar lewat outlet. Jika
kolam terhubung secara seri, air limbah yang sudah diolah akan
mengalir dari kolam pertama menuju ke kolam kedua dan
disalurkan keluar dari outlet kolam kedua.

c. Ketentuan Pengoperasian jika Kolam Berhubungan Paralel
Jika kolam-kolam berhubungan secara pararel :
1) Biarkan kolam yang sudah diisi bersamaan, matang selama 10
20 hari, sampai berwarna kehijau-hijauan
2) Biarkan air limbah memasuki kedua kolam tersebut dan
mengalir keluar dari kedua kolam sebagai air limbah olahan.

d. Urutan Proses Sistem Kolam Stabilisasi
Seperti telah dipaparkan di atas, sistem kolam stabilisasi ini terdiri
dari 3 urutan proses, yaitu proses pada kolam anaerobik, kolam
fakultatif dan kolam maturasi.

Gambar II-3.23. Pengisian Kolam Stabilisasi

1) Pengoperasian Kolam Stabilisasi Anaerobik
Periksa kedalaman kolam anaerobik, apakah sudah sesuai
dengan perencanaan, periksa juga saluran inlet dan outlet dari
sistem, apakah letaknya sudah sesuai dengan desain. Bersihkan
seluruh tanaman yang tumbuh dalam kolam anaerobik yang
masih kosong.

Isi kolam dengan air limbah yang akan diolah, pengisian
dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu tertentu.
Pengisian pertama bisa dengan 25% dari kapasitas kolam. Jika
memungkinkan, inokulasikan biomass aktif pada awal operasi
ini. Biomasss aktif bisa diambil dari kolam anaerobik lain atau
dari reaktor lain yang masih aktif (UASB, ABR, tangki septik,
dan sebagainya). Kolam anaerobik diisi secara bertahap hingga
mencapai daya tampung yang direncanakan selama kurun
waktu 3 (tiga) minggu hingga 6 (enam) minggu.

Waktu pengisian kolam tersebut sangat tergantung dari kondisi
pertumbuhan microorganisme, ada tidaknya penambahan
microorganisme aktif dalam kolam tersebut (sehingga dapat
mempercepat). Selama masa start-up ini kondisikan dan
pertahankan pH pada 7-7,5 supaya memungkinkan populasi
archareal methanogenic tumbuh.

Jika pH bersifat asam (< 7), periksalah dengan menambahkan
kapur kedalam kolam. Sangat penting menjaga kondisi pH pada
awal start up ini. Lakukan sampling dan analisa setiap minggu,
chek kandungan organik dari influen dan efluen sehingga tahu
bahwa kolam anaerobik telah berfungsi sesuai desain kriteria,
dan dapat dioperasikan secara normal.

Setelah beroperasi secara normal, lakukan operasi standar
sebagai berikut.
a) Periksa saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk
memastikan tidak tersumbat oleh benda atau kotoran besar
yang akan mengganggu aliran limbah.
b) Lokalisir buih yang terjadi pada permukaan kolam, dengan
kotak pemisah buih (scum box).
c) Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh di tepi kolam atau
dari dalam kolam.
d) Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar,
setiap bulan.
e) Lakukan analisa kualitas limbah baik influen dan efluen
setiap minggu.
f) Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan
baik oleh binatang (kelinci, yuyu, tikus) maupun oleh air
dan kondisi tanahnya sendiri, maka bisa segera dilakukan
perbaikan.
g) Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan
kerusakan pada tanggul, dan lakukan perbaikan permanen
secepatnya.


Gambar II-3.24. Kolam Stabilisasi


2) Pengoperasian Kolam Stabilisasi Fakultatif
Kolam Fakultatif dioperasikan terlebih dahulu sebelum
mengoperasikan kolam Anaerobik. Maksudnya supaya bau
tidak timbul jika effluent dari kolam Anaerobik disalurkan ke
kolam fakultatif.
a) Cek kedalaman kolam Fakultatif, apakah sudah sesuai
dengan perencanaan, cek juga bagian inlet dan otlet dari
sistem, apakah letaknya sudah sesuai dengan desain.
b) Isi kolam dengan air bersih, bukan air limbah. Air bersih
bisa didapat dari air permukaan/air sungai, atau air
tanah/air dari sumur. Isi penuh sesuai kapasitas desain.
c) Diamkan selama 3 sampai 4 minggu, tidak ada penambahan
air baru. Penambahan bisa dilakukan jika muka air
menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.
d) Selama periode tersebut akan tumbuh populasi bakteri
heterotropik dan alga yang diperlukan bagi pengolahan
limbah.
e) Jika tidak tersedia air bersih, boleh diisi dengan air limbah
yang akan diolah. Isi penuh sesuai kapasitas.
f) Diamkan dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, tidak ada
penambahan air baru. Penambahan bisa dilakukan jika
muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.
g) Saat tumbuh populasi mikroorganisme pada masa start up
tersebut, jika memakai air limbah asli, kemungkinan akan
timbul bau pada periode tersebut.
h) Lakukan sampling dan analisa setiap minggu, cek
kandungan organik dari influen dan effluen sehingga tahu
bahwa kondisi kolam Fakultatif telah berfungsi sesuai
kriteria perencanaan, dan dapat dioperasikan secara normal.

Setelah beroperasi secara normal, lakukan standard operasi
sebagai berikut :
a) Cek saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk
memastikan tidak tersumbat oleh benda atau kotoran yang
akan mengganggu aliran air limbah.
b) Buang lapisan buih yang timbul, karena buih pada kolam
Fakultatif akan menghambat proses photosintesa dari algae.
c) Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh di tepi kolam atau
dari dalam kolam.
d) Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar,
setiap bulan.
e) Lakukan analisa kualitas limbah baik influent dan effluent
setiap minggu.
f) Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan
baik yang disebabkan oleh binatang (kelinci, yuyu, tikus,
dan lain sebagainya) maupun oleh air dan kondisi tanahnya
sendiri, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan.
g) Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan
kerusakan pada tanggul, dan lakukan perbaikan permanen
secepatnya.

3) Pengoperasian Kolam Maturasi/Pematangan
Kolam maturasi dioperasikan bersamaan dengan pengoperasian
kolam Fakultatif, sebelum mengoperasikan kolam Anaerobik.
Maksudnya supaya bau tidak timbul jika effluen dari kolam
Anaerobik disalurkan ke kolam Fakultatif dan Maturasi.
a) Cek kedalaman kolam Maturasi, apakah sudah sesuai
dengan perencanaan, cek juga saluran inlet dan outlet dari
sistem, apakah letaknya sudah sesuai dengan desain.
b) Isi kolam dengan air bersih, bukan air limbah. Air bersih
bisa didapat dari air permukaan/air sungai, atau air
tanah/air dari sumur. Isi penuh sesuai kapasitas desain
c) Diamkan selama 3 sampai 4 minggu, tidak ada penambahan
air baru. Penambahan bisa dilakukan jika muka air
menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.
d) Selama periode tersebut akan tumbuh populasi bakteri
heterotropik dan alga yang diperlukan bagi pengolahan
limbah.
e) Jika tidak tersedia air bersih, boleh diisi dengan air limbah
mentah. Isi penuh sesuai kapasitas.
f) Diamkan dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, tidak ada
penambahan air baru. Penambahan bisa dilakukan jika
muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.
g) Akan tumbuh populasi mikroorganisma pada masa start up
tersebut, jika memakai air limbah asli, kemungkinan akan
timbul bau pada periode tersebut.
h) Lakukan sampling dan analisa setiap minggu, cek
kandungan organik dari influen dan effluen sehingga tahu
bahwa kolam telah berfungsi sesuai kriteria desain, dan
dapat dioperasikan secara normal.

Setelah beroperasi secara normal, lakukan standard operasi
sebagai berikut:
a) Cek saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk
memastikan tidak tersumbat oleh benda atau kotoran yang
akan mengganggu aliran limbah.
b) Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh di tepi kolam atau
dari dalam kolam.
c) Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar,
setiap bulan.
d) Lakukan analisa kualitas limbah baik influent dan effluent
setiap minggu.
e) Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan
yang disebabkan oleh binatang (kelinci, yuyu, tikus)
maupun oleh air dan kondisi tanahnya sendiri, sehingga
bisa segera dilakukan perbaikan.
f) Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan
kerusakan pada tanggul, dan lakukan perbaikan permanen
secepatnya

2. Rotating Biological Contactor (RBC)
Unit RBC bisa diletakkan selevel dengan unit Anaerobik, di bawah
tanah, dan bisa juga diletakkan di atas tanah ataupun di atas
bangunan. Peletakan unit RBC tergantung pada kondisi lokasi yang
ada.
Secara umum teknologi RBC mengkonsumsi energy listrik sangat kecil,
sehingga hal inilah yang menjadikan RBC berkembang pesat.
Perbandingan kasar antara teknologi RBC dan ASP (sama sama
pengolahan dengan sistem aerobik) adalah 1 : 10, sehingga biaya
operasional dengan sistem RBC sangat rendah. Contohnya RBC
dengan teknologi lattice 3 dimensi dengan motor penggerak hanya 2
HP (1,5 KW) sanggup menghilangkan kandungan BOD sampai 20 Kg
BOD per harinya. Teknologi lumpur aktif dengan kapasitas sama akan
membutuhkan energi sampai 20 HP (15 KW).


Gambar II-3.25. RBC dalam bak bawah tanah dan ruang tertutup

a. Persiapan operasi
1) Periksa apakah panel pengendalian operasi sudah menyala.
Panel operasi ada di ruang mesin.
2) Periksa lampu yang berwarna hijau.
3) Jika lampu indikator daya tidak menyala, hidupkan NFB untuk
power supply.
4) Periksa listrik yang disalurkan ke RBC. Listrik tersambung jika
lampu indikator yang warna hijau menyala.
5) Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB untuk RBC
di dalam panel listrik.

b. Pengoperasian
1) RBC hanya punya sistem pengoperasian secara manual.
2) Pada panel listrik RBC terdapat tombol on dan off.
3) Pijit tombol on maka RBC akan berputar, dan pijit tombol off,
maka RBC akan berhenti.
4) Pada panel listrik tersebut juga terdapat satu tombol besar
berwarna merah (tombol emergency). Jika terjadi kondisi
darurat tertentu, tekan tombol merah tersebut dan seluruh unit
mesin yang bergerak akan segera berhenti.
5) RBC dioperasikan non-stop tanpa berhenti, RBC dihentikan
hanya untuk pemeliharaan rutin dan atau dalam keadaan
darurat.

c. Cara menumbuhkan mikroba pada awal operasi RBC
Secara natural mikroba akan tumbuh sendiri pada media RBC
setelah beberapa minggu RBC beroperasi. Ada beberapa cara untuk
mempercepat pertumbuhan mikroba, yaitu :
1) Pasokan limbah yang masuk diperbesar debitnya, contoh: bila
desain parameter untuk pasokan limbah masuk sebesar 1
m
3
/menit, maka jadikan menjadi 2 m
3
/menit, setelah microba
terlihat tumbuh (sekitar 2 minggu), maka pasokan
dikembalikan lagi ke normal.
2) Bisa menambahkan nutrisi ke dalam bak RBC, misalnya
dengan susu atau pupuk urea. Jika diberi nutrisi maka pasokan
limbah yang masuk hendaknya dihentikan atau diperkecil
menjadi 25% nya, sampai terlihat mikroorganismanya tumbuh
pada media, dan secara berangsur pasokan limbah ditambah
sampai normal.
3) Secara umum mikroba pada media RBC akan tumbuh antara 2
sampai 6 minggu, dalam kondisi pH netral dan tidak terdapat
kandungan yang bersifat toxic bagi mikroba.
4) Secara natural mikroba akan tumbuh lebih lebat pada bagian
hulu dari RBC, dan semakin ke hilir akan semakin tipis.

Sementara itu, kondisi mikroorganisme pada RBC yaitu sebagai
berikut:
1) Pada umumnya putaran RBC telah dirancang sesuai dengan
beban limbah yang akan diolah, sehingga pertumbuhan
mikroba tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu kecil yang
terlihat dari tebal atau tipisnya lapisan lendir pada cakram
RBC.
2) Jika mikroba pada RBC terlalu tipis, bisa berarti bahwa
kandungan organik pada limbah telah diuraikan pada
pengolahan pada hulunya, misal dengan pengolahan
anaerobik, sehingga dapat dikatakan mikroba pada RBC telah
kehabisan makanan sehingga tidak bisa tumbuh dengan baik.
3) Tetapi jika dari analisis efluen, ternyata kandungan organiknya
masih tinggi, berarti ada sesuatu hal yang menjadikan mikroba
tidak mau tumbuh pada media RBC. Beberapa hal bisa
menjadikan kondisi seperti ini, antara lain putaran RBC terlalu
cepat sehingga mikroba sulit menempel dan berkembang
karena banyak yang berjatuhan, pH mungkin terlalu asam atau
terlalu basa atau terdapat kandungan yang bersifat toksik
terhadap mikroba (disinfektan, kandungan kimia, dan
sebagainya).
a) Jika mikroba terlalu tebal, hal ini juga akan merugikan
kinerja RBC karena luas permukaan RBC menjadi lebih
kecil sehingga mikroba yang aktif jadi berkurang juga.
Akibatnya efisiensi RBC akan menurun.
b) Mikroba terlalu tebal bisa diakibatkan karena beban
organik yang masuk terlalu besar, dengan kata lain
makanan terlalu banyak sehingga mikroba akan tumbuh
terlalu gemuk
c) Atau putaran RBC terlalu lambat, sehingga mikroba tua
yang berada pada permukaan tidak mau rontok, padahal
mikroba tua kinerjanya juga sudah berkurang, dan harus
dibuang supaya mikroba yang muda dan aktif bisa lebih
berperan.
d) Kadang warna mikroba pada RBC berbeda-beda, hal ini
dikarenakan variasi mikroba pada RBC memang banyak,
sehingga koloni jenis mikroba tertentu akan berwarna
tertentu pula. Jika terjadi hal ini menandakan RBC berjalan
dan berfungsi sangat baik.

3. Pengolahan Anoxic
Pengolahan anoxic adalah pengolahan biologis yang menggunakan
oksigen terikat, dalam hal ini umumnya dalam bentuk NO2 atau NO3.
Dalam operasionalnya system ini biasanya dilakukan dalam reactor
yang sama dengan Sistem Pengolahan Lumpur Aktif (ASP) atau secara
terpisah secara seri setelah reaktor ASP. Karena itu cara
mengoperasikannya sama dengan mengoperasikan system ASP,
namun aerasi tidak dilakukan lagi seperti pada reactor ASP
sebelumnya karena memang dimaksudkan untuk memanfaatkan
oksigen yang telah berikatan dengan nitrogen sebelumnya.
Penambahan sumber karbon, seperti methanol, gula atau sumber
organik lainnya kadang-kadang diperlukan apabila akan digunakan
untuk menurunkan kelebihan nutrient dalam air limbah yang diolah.

4. Biofilter
Biofilter menggunakan bakteri tertentu untuk mengkonversi amonia
menjadi nitrat, yang relatif tidak beracun untuk ikan. Nitrifikasi yang
optimal dapat terjadi ketika populasi bakteri harus benar-benar hidup
pada biofilter. Kolonisasi lengkap dapat mengambil antara satu dan
tiga bulan tergantung pada kondisi lingkungan, lebih tinggi suhu,
misalnya, akan meningkatkan aktivitas mikroba. Proses ini dapat
dipercepat dengan penyemaian biofilter dengan bakteri dari sistem
yang ada. Setelah koloni tumbuh, pedoman operasi berikut yang dapat
diikuti, adalah mengatur pompa influen agar tetap konstan sesuai
dengan beban organic yang direncanakan. Sistem akan berjalan dengan
baik selama kondisi operasional, terutama pH dan alkalinitas tetap
terjaga. Apabila terjadi shut-down untuk waktu singkat, tidak perlu
khawatir apakah biofilter akan anoksik atau anaerobik dan apapun.
Saat sistem dalam kondisi kritis, setidaknya terdapat 1 hari untuk
menyelesaikan permasalahan. Jika tidak segera diatasi, maka banyak
organisme akan mati dan akan memerah keluar dari biofilter ketika
unit ini mulai dioperasikan kembali. Untuk menghindari kontaminasi
kultur mikroba dalam biofilter, bisa digunakan sistem bypass.

5. Bioreaktor Membran (Membrane Bioreactor, MBR)
Semua sistem MBR membutuhkan beberapa derajat memompa untuk
memaksa air mengalir melalui membrane. Salah satu jenis sistem
membrane menggunakan sistem bertekanan untuk mendorong air
melalui membrane. Sistem-sistem utama yang digunakan dalam MBR
menarik vakum melalui selaput sehingga air di luar pada tekanan
ambient. Keuntungan dari kondisi vakum adalah membuat lembut
pada membrane, sedangkan keuntungan dari tekanan adalah
trhroughtput yang dapat dikontrol.
Kedua sistem ini mencakup teknis untuk terus membersihkan sistem,
untuk membuat kualitas membran lebih lama, dan untuk menjaga
sistem operasional selama mungkin. Semua sistem utama membran
yang digunakan dalam MBR menggunakan udara Penstabilan teknik
untuk mengurangi penumpukan bahan membran. Ini dilakukan
dengan meniupkan udara di sekitar membran dari manifold. Lapisan
permeabel dari MBR memiliki tingkat rendah padatan tersuspensi,
yaitu, tingkat bakteri, nitrogen dan fosfor juga rendah.
Padatan yang menempel pada membran dapat dididaur ulang untuk
proses biologi dalam sistem. Seperti dalam sistem activated sludge
conventional, lumpur dibuang secara periodik untuk kontrol SRT dalam
sistem MBR. Limbah lumpur hasil pengolahan MBR kemudian akan
diolah menggunakan pengolahan lumpur, baik pengolahan lumpur
lengkap atau pengolahan lumpur sederhana yaitu dengan
menggunakan sludge drying bed saja.

6. Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR)
Proses yang dilakukan dalam mengoperasikan MBBR hampir sama
dengan ASP, sebab MBBR pada prinsipnya memang adalah ASP yang
telah dimodifikasi. Perbedaannya adalah tidak perlu melakukan
pengembalian lumpur dan tidak perlu mengatur F/M ratio yang
terdapat pada reaktor. Selain itu, terdapat beribu biofilm di dalam
reaktor yang diaerasi secara kontinu untuk tempat pertumbuhan
mikroorganisme yang terdapat dalam reaktor. Pengoperasian MBBR
agar dapat berjalan dengan baik harus mengikuti prosedur yang telah
dibuat dari pabrik pembuatnya.

A.3.3. Pengolahan Lumpur
Lumpur yang dihasilkan dalam proses pengolahan dalam IPAL harus
dikelola dengan baik agar aman bagi lingkungan. Lumpur yang berasal
dari proses fisik maupun proses biologis, harus diolah dalam beberapa
tahap, dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain.
Jika lumpur berasal dari proses biologis yang menggunakan sistem Kolam
Stabilisasi, maka sesuai dengan kriteria desain, berapa lumpur yang akan
terkumpul setiap tahun dalam kolam Anaerobik, lumpur tersebut harus
dikuras jika sudah mencapai sepertiga dari kapasitas lumpur maksimal.
Lumpur dapat diambil dari kolam anaerobik sekali setiap tahun dengan
menggunakan alat penyedot lumpur seperti unit penyedot kontinu,
kompresor udara. Jika terdapat kolam yang parallel, maka dapat dilakukan
dengan cara mengoperasikan salahsatu kolam dan menguras lumpur
kolam lainnya. Dalam hal ini, pengurasan dapat dilakukan secara alami,
yaitu membiarkan kolam yang tidak dialiri influen lagi menjadi kering
akibat penguapan, lalu setelah kering dilakukan pengurasan dengan
menggunakan alat berat ataupun secara manual jika memungkinkan.

Sedangkan untuk limpur yang berasal dari proses biologis aerobik,
terutama ASP dan modifikasinya, maka perlu beberapa tahapan untuk
mengolahnya, yaitu melalui tahap pengentalan (thickening), pengolahan
(digestion), pengeringan (dewatering) kamudian barulah dilakukan
pembuangan (disposal) atau pemanfaatan (reuse).

1. Pengentalan Lumpur (Thickening)
Pengolahan ini berfungsi untuk mengentalkan lumpur yang dihasilkan
oleh fasilitas IPAl, sehingga siap untuk diolah dalam lumpur digester
secara lebih efektif. Lumpur berasal tangki pengendapan pertama
(lumpur fisik) dan kelebihan lumpur yang dihasilkan dalam tangki
pengendapan kedua (lumpur biologis). Pengentalan lumpur dapat
dibedakan menjadi empat jenis metode, yaitu: pengentalan secara
gravitasi (gravity thickening), pengentalan secara sentrifugal (centrifugal
thickening), secara pengapungan (floatation thickening) atau secara
penekanan menggunakan sabuk (filter beltpress thickening). Ketika
pengentalan lumpur tidak memadai, tidak hanya akan efisiensi
pengolahan lumpur selanjutnya yang akan terkurangi, tetapi juga akan
dihasilkan sejumlah besar residu padatan tersuspensi yang akan
kembali ke fasilitas IPAL sehingga dapat menurunkan efisiensi
pengolahan air limbah..

a. Gravity Thickening
Gravity thickening adalah sistem yang paling umum untuk
pengentalan lumpur (Gambar 3.26). Gravity thickening mengolah
konsentrat lumpur hasil sedimentasi. Percepatan gravitasi menjadi
sebab pemisahan, prinsip yang sama dengan sistem pengendapan
pada Bak Pengendap I. Gravity thickening untuk gabungan lumpur
fisik dan aktif, tidak akan efektif bila lumpur aktif melebihi 40%
dari total berat lumpur, maka diperlukan metode lain untuk
pengentalan lumpur aktif. Tanki Gravity Thickening dioperasikan
dengan aliran kontinu, berbentuk lingkaran dengan influen dari
pusat lingkaran tanki. Efisiensi akan lebih baik bila digunakan
pengaduk lambat, terutama untuk lumpur yang mengandung gas.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian:
1) Mengatur jumlah air yang dibutuhkan untuk pengenceran.
2) Lumpur yang dikentalkan dalam proses kontinu harus terus
menerus dipompakan semntara menjaga aliran influen tetap
masuk.
3) Harus dilakukan perlindungan terhadap torsi yang berlebihan.
4) Monitoring harus terus dilakukan terhadap terbentuknya
blanket/gumpalan lumpur.

Gambar II-3.26. Contoh Gravity Thickening

b. Centrifugal Thickening
Cara mengoperasikan Centrifugal Thickening adalah:
1) Start-up
Sentrifugal yang paling modern memiliki satu tombol start,
sedangkan sistem manual memakan waktu beberapa menit,
tapi tidak berat. Ketika centrifuge sampai pada kecepatan
tertentu, kontrol membuka pompa inlet dan polimer, dan
operator mulai mengoperasikan sistemnya. Urutan start-up
adalah sebagai berikut:
a) Masukkan influen lumpur dan polimer untuk sekitar
sepertiga dari tingkat normal.
b) Kurangi putaran diferensial per menit pada kondisi
minimum.
c) Bila ketebalan cake (padatan hasil pengentalan) mencapai
nilai normal, mulai tingkatkan putaran dan laju
penambahan polimer. Beberapa unit dapat mencapai
kondisi operasi normal dengan cepat, sementara unit lain
lebih lambat.

2) Penutupan (penyetopan, penghentian)
Urutan Shutdown adalah sebagai berikut:
a) Matikan influen lumpur dan polimer.
b) Ketika keluar air jernih dari kedua ujung centrifuge, tekan
tombol centrifuge berhenti.
c) Pada titik tertentu, seperti kondisi ketika centrifuge
melambat, akan dilakukan penyiraman air di unit
centrifuge. Perhatikan berapa lama waktu antara
melibatkan tombol stop dan air memancar keluar.
d) Dengan off air flush, centrifuge biasanya dapat berhenti
tanpa intervensi operator.

3) Sampling dan Pengujian
Sampling dan pengujian harus mencakup TSS dan/atau total
padatan untuk influen lumpur, total padatan untuk ketebalan
lumpur, dan TSS, amonia, dan/atau fosfor (pada beberapa
kondisi) untuk air hasil centrifuge (centrate).

2. Pengolahan Lumpur (Sludge Digestion)
Pengolahan lumpur dimaksudkan untuk menstabilkan lumpur atau
menguraikan bahan organic yang masih terkandung dalam lumpur
menjadi bahan anorganik, sehingga lebih stabil dan aman untuk
lingkungan.

a. Jadwal memasukkan lumpur yang akan diolah (feeding)
Keseragaman dan konsistensi adalah kunci untuk operasi digester.
Perubahan mendadak dalam volume padatan influen lumpur atau
konsentrasi, temperatur, komposisi, atau frekuensi pengambilan
akan menghambat kinerja digester dan dapat menyebabkan
timbulnya busa. Prosedur feeding yang ideal adalah terus
menerus, 24 jam per hari untuk campuran dari berbagai jenis
lumpur padatan (lumpur fisik dan aktif). Jika tidak dapat kontinu,
feeding dengan siklus, 5 - 10 menit/jam dapat digunakan. Pada
IPAL kecil, operasi dilakukan dalam interval 8 jam feeding, yaitu:
di awal, tengah, dan akhir shift.
Faktor yang dapat menyebabkan kelebihan beban:
- Memulai digester terlalu cepat,
- Padatan volatil berlebihan akibat feeding yang tidak menentu
atau perubahan komposisi padatan lumpur yang masuk,
- Beban padatan volatil melebihi batas beban yaitu lebih dari
10% setiap hari
- Kehilangan volume digester efektif karena akumulasi pasir,
dan karena pencampuran yang tidak memadai.

b. Jadwal pengambilan lumpur
Padatan harus diambil/dikeluarkan dari digester primer sebelum
proses pengolahan lumpur. Padatan harus dikeluarkan setidaknya
setiap hari untuk menghindari penurunan populasi
mikroorganisme aktif tiba-tiba. Digester primer dapat diatur untuk
hanya mengalir ke digester sekunder atau ke tangki penyimpanan
lumpur. Padatan dapat dikeluarkan dari lokasi berikut:
- Bagian bawah digester,
- Bagian sistem melimpah, dan
- Setiap titik dalam digester tercampur.
Pengambilan padatan dari bagian bawah digester lebih
menguntungkan karena juga dapat mengurangi pasir yang
terakumulasi di bagian bawah digester. Jika memungkinkan,
pengambilan padatan harus dilakukan secara berkala, agar proses
pengolahan lumpur dapat berjalan dengan baik.

c. Pengendalian buih (scum)
Akumulasi buih dalam pengolahan lumpur sering terjadi. Buih
adalah kombinasi dari lemak tercerna, minyak dan sering
mengandung bahan yang mengapung, seperti plastik. Buih
mengapung pada permukaan cairan digester dan dapat
terakumulasi, membentuk lapisan padat. Jika digester beroperasi
tanpa pencampuran selama lebih dari 8 jam, sampah bisa naik dan
mengapung di permukaan cairan. Setelah diaduk kembali, sampah
tersebut kembali tercampur dalam cairan. Metode utama
mengontrol sampah adalah untuk menjaga sistem pencampuran
digester terpelihara selama operasi.

d. Penanganan padatan hasil olahan
Proses digester dapat menghasilkan endapan kristal yang
mempengaruhi sistem digester dan penanganan proses padatan di
hilir proses. Endapan dapat menumpuk pada pipa dan peralatan
dewatering, menyebabkan kerusakan dan penyumbatan sehingga
membutuhkan perawatan yang mahal dan memakan waktu.
Umum endapan termasuk struvite, vivianite, dan kalsium karbonat.
Konstituen yang membentuk presipitat ini muncul dalam lumpur
tercerna dan dikonversi menjadi bentuk larut yang dapat bereaksi
dan mengkristal. Pembentukan mereka bervariasi bergantung pada
lokasi, kimia lumpur dicerna dan proses pengolahannya. Karena
endapan istimewa terbentuk pada permukaan kasar atau tidak
teratur, pipa lumpur berlapis kaca dan siku panjang radius
membantu meminimalkan akumulasi mereka. Contoh gambar
sistem sludge digester adalah sebagai berikut :


Gambar II-3.27. Sistem Sludge Digester

3. Pengeringan Lumpur (Sludge Dewatering)
Pengeringan lumpur dapat dilakukan secara mekanik atau secara
alami. Jika proses mekanik yang dilakukan, maka terdapat beberapa
alternatif pengering lumpur, yaitu Saringan Tekan (Filter Press) dan
Saringan Sabuk Tekan (Filter Belt Press). Sedangkan secara alami,
teknologi yang digunakan adalah Bak Pengering Lumpur (Sludge
Drying Bed). Untuk mengoperasikan masing-masing proses, diperlukan
beberapa tahapan.

a. Saringan Tekan (Filter Press)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian filter press
adalah sebagai berikut:
1) Proses Pencampuran Bahan Kimia
Polimer memiliki kisaran sempit sebagai dosis efektif. Dosis
yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghasilkan
endapan padatan yang basah. Kapur dan besi klorida memiliki
kisaran yang lebih luas sebagai dosis yang efektif. Agar
mampu mengurangi penggunaan bahan kimia untuk
mengurangi biaya, Polimer PAC membutuhkan jauh lebih
sedikit kimia per satuan massa padatan kering.

Jika kain filter robek maka akan menghasilkan aliran filtrat
yang sangat kotor dengan padatan.
Influen lumpur dimasukkan melalui permukaan pelat untuk
mengisi volume dari pelat tekan. Jika terlalu sedikit, maka
akan membutuhkan waktu lebih lama dan filtrasi
menghasilkan endapan (cake) basah. Influen lumpur yang
sedikit biasanya akan menghasilkan endapan kering dengan
waktu filtrasi yang jauh lebih singkat. Untuk filter press
konvensional, operator dapat mengontrol variabel mesin
berikut:
a) Waktu filtrasi total, termasuk variabel waktu di setiap
tingkat tekanan dalam beberapa operasi tingkat
tekanan.
b) Penggunaan dan jumlah polimer tidak perlu ketika
bahan kimia anorganik, seperti kapur dan besi klorida,
diterapkan. Polimer diperlukan jika ukuran partikel
sangat kecil, filterability bervariasi, sehingga meloloskan
padatan halus melalui media filter diantisipasi.
c) Bahan kimia, jenis, dosis, lokasi, dan efisiensi
pencampuran menentukan efisiensi proses. Polimer
biasanya fungsinya tidak dipertukarkan dengan kapur
dan besi klorida, karena setiap kimia membutuhkan
energi pengadukan, flokulasi khusus dan waktu reaksi.
Polimer hanya perlu campuran cepat sebelum injeksi ke
pelat tekan. Modifikasi pada sistem perpipaan dan
pencampuran biasanya diperlukan jika perubahan
dalam jenis bahan kimia untuk pengkondisian yang
diinginkan.
d) Efisiensi flokulasi dan energi bervariasi tergantung jenis
bahan kimia yang digunakan. Flok polimer mudah
terbentuk dan tetap stabil tetapi hanya beberapa menit.
Flok kapur lebih tahan lama dan tetap stabil selama
beberapa jam.
e) Filter media. Media kain saring bervariasi dengan
komposisi yang berbeda tergantung pada filamen dan
pola menenunnya.

Beberapa pertimbangan operasional yang perlu diperhatikan
adalah :
a) Pengoperasian filter tekan ini biasanya berlangsung
dengan bising karena itu alat pelindung pendengaran
diperlukan.
b) Jangan pernah memasukkan benda antara pelat tekan
karena dapat merusak bahan filternya.
c) Hasil penggunaan kapur biasanya mengandung gas
amonia. Pastikan ventilasi udara yang cukup untuk
mengeluarkan gas ini jauh dari operator, sebaiknya
menggunakan sistem blower. Jika sistem ventilasi yang
memadai tidak operasional, paparan singkat mungkin
diperbolehkan, atau respirator yang disetujui dikenakan
oleh semua operator.
d) Uap asam volatile yang dihasilkan tidak boleh dihirup atau
terkena jaringan tubuh, seperti mata dan paru-paru. Sistem
ventilasi berkapasitas yang baik sangat penting. Respirator
perlu digunakan operator untuk menghindari hal yang
tidak dikehendaki. Demikian juga untuk perlindungan
terhadap penggunaan kapur bubuk yang bersifat basa.


b. Saringan Sabuk (Belt Filter)
1) Prinsip Prinsip Filtrasi
Peralatan saringan sabuk (Belt Filter) didasarkan pada prinsip-
prinsip filtrasi dan terdiri dari zona berikut (Gambar II-3.29):
a) Zona drainase gravitasi,
b) Zona tekanan
c) Zona gesekan (shear)




Gambar II-3.28. Belt Filter Press

2) Pengoperasian Belt Filter Press
Variabel proses yang mempengaruhi kinerja sistem dewatering
adalah kemampuan daya tangkap padatan 95% atau lebih baik,
kekeringan padatan (cake), dan dosis polimer. Untuk cake
kering, operator dapat mengurangi beban lumpur dan/atau
meningkatkan dosis polimer.

Kemampuan untuk mendapatkan cake yang lebih kering,
dipengaruhi oleh fungsi dan kapasitas desain penekanan.
Menekan dengan perioda waktu yang lebih lama pada zona
gravitasi dapat menghasilkan padatan yang kering.

Beberapa jenis polimer mampu mendapatkan cake kering
daripada yang lain, selain dosisnya. Beberapa polimer menjadi
kurang efektif pada dosis yang lebih tinggi. Ini akan menjadi
jelas apabila dilakukan jartest.

Sabuk filter mempunyai kapasitas terbatas dalam melewatkan
volume air tersaring. Akibatnya, jika lumpur terlalu encer akan
menghasilkan jumlah padatan yang terlalu sedikit. Demikian
juga apabila waktu tinggal dalam filter tekan kurang akan
menghasilkan lumpur yang masih basah.

Efisiensi pemadatan (sludge capture) biasanya sudah ditetapkan
oleh produsennya sehingga bukan merupakan variabel
operasi. Demikian juga komposisi sabuk filter dan kondisi,
kecepatan, dan ketegangan. Ukuran dan jumlah rol, debit air
cucian, tekanan, dan konsentrasi padatan tersuspensi.

3) Urutan Operasi
Urutan operasi untuk Fiter Sabuk biasanya adalah sebagai
berikut:
a) Buka katup air cuci.
b) Mulai mencuci pompa air.
c) Mulai pneumatik/hidrolik sistem ketegangan sabuk.
d) Mulai memutarkan pengendali sabuk dan air conveyor.
e) Mulai polimer larutan umpan pompa.
f) Mulai pompa feed lumpur.
Alat mekanis modern biasanya memiliki sistem start satu
tombol, sehingga operator hanya dapat memulai feeding dan
pompa polimer secara manual. Dalam hal ini, perlu mengisi
log operasi karena dapat digunakan untuk memahami kondisi
operasi dengan lebih baik, seperti kondisi pada minggu dan
bulan sebelumnya.

c. Bak Pengering Lumpur (Sludge Drying Bed)
1) Bak Pengering Lumpur dibagi jadi 3 (tiga), yaitu bagian jalur
operasi, artinya secara bergantian Bak Pengering Lumpur akan
dioperasikan, pengeringan, kuras dan rawat.
2) Lumpur yang terkumpul di kolam anaerobik disalurkan ke
Bak Pengering Lumpur lewat unit penyalur lumpur atau
secara manual setahun sekali.
3) Pengisian Bak Pengering Lumpur harus dilakukan dari satu
bak ke bak lain. Jika konsentrasi lumpur sebesar 20%, dan
kapasitas serta lama operasi unit pompa diketahui, maka dapat
dihitung pengisian kolam akan penuh dalam berapa hari .
4) Lumpur yang sudah berada dalam Bak Pengering Lumpur
akan terpisah menjadi lapisan atas yang bening dan lapisan
bawahnya yang kental. Atur pintu air/stop log supaya lapisan
bening bagian atas dapat dibuang keluar dan masuk ke kolam
pengolahan lagi. Atur pintu tersebut berulang ulang sehingga
konsentrasi lumpur semakin kental.
5) Setelah itu lumpur dikeringkan dengan sinar matahari selama
2 (dua) atau 3 (tiga) minggu sampai bisa diambil dengan
sekop. Lumpur yang sudah kering bisa diangkut dengan truk
dan dibuang ke tempat pembuangan sludge atau dibuat pupuk.

A.4. UNIT PEMBUANGAN AKHIR
Pengoperasian unit pembuangan akhir harus memperhatikan beberapa hal
berikut :
1. Hasil pengolahan air limbah yang dibuang berupa cairan dan padatan
2. Tempat pembuangan hasil pengolahan air limbah

B. PEMELIHARAAN
Pemeliharaan adalah kegiatan perawatan dan perbaikan unsur-unsur sarana
secara rutin dan berkala yang bertujuan untuk menjaga agar prasarana dan
sarana air minum dapat diandalkan kelangsungannya. Pemeliharaan terdiri dari
pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan rutin adalah
pemeliharaan yang dilakukan secara rutin guna menjaga usia pakai unit SPALT
tanpa penggantian peralatan/suku cadang. Pemeliharaan berkala adalah
pemeliharaan yang dilakukan secara berkala (dalam periode lebih lama dari
pemeliharaan rutin) guna memperpanjang usia pakai unit SPALT yang biasanya
diikuti dengan penggantian peralatan/suku cadang.
Tujuan utama program pemeliharaan adalah untuk memanfaatkan modal
investasi yang telah ditanam dalam pembangunan sistem pengolahan air limbah
domestik, agar dapat dioperasikan dengan efisien dan kinerja yang optimum.
Jenis-jenis program pemeliharaan diantaranya yang penting adalah sebagai
berikut:
1. Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance): jadwal operasi
pemeliharaan harus direncanakan dengan sistematis dan ketat, agar dapat
memperkecil gangguan (misal: pelapis/coating tidak cepat keropos akibat
korosi) dan memperbaiki kemacetan (misal: pelumasan peralatan) serta
memperlancar operasi setempat (misal: pengetesan alat-alat seperti ada mur
baut yang akan lepas) sehingga umur efektifnya panjang.
2. Pemeliharaan Perbaikan (Corrective Maintenance): Pemeliharaan perbaikan
meliputi normalisasi jaringan pipa, perbaikan atau mengganti peralatan atau
perlengkapan yang telah rusak. Kerusakan pada saluran diklasifikasikan ke
dalam 2 tipe yaitu kerusakan struktur dan kerusakan fungsi.
3. Pemeliharaan Urusan Rumah Tangga (House Keeping Maintenance): menjaga
kebersihan dan keindahan semua unit fasilitas yang ada.
4. Pendataan dan Pelaporan (Records and Report): Pendataan dan pelaporan ada
dua kelompok, yaitu data intern dan ekstern. Data internal yaitu data sistem
organisasi dan sumber daya manusia, desain dan pelaksanaan
pembangunan, investasi pelaksanaan dan pembiayaan operasi dan
pemeliharaan. Sedangkan data eksternal adalah dampaknya terhadap
lingkungan sekitar.
Pemeliharaan SPALT menjadi tanggung jawab Penyelenggara SPALT.
Pemeliharaan SPALT bertujuan untuk menjamin pelayanan pengolahan air
limbah yang berkesinambungan. Pemeliharaan SPALT dilaksanakan setelah
prasarana dan sarana air limbah siap beroperasi. Pemeliharaan SPALT yang
menjadi tanggung jawab penyelenggara SPALT meliputi pemeliharaan terhadap
unit pengumpulan, unit pengolahan, dan unit pembuangan akhir, sedangkan
untuk pemeliharaan unit pelayanan menjadi tanggung jawab setiap rumah.

B.1. UNIT PELAYANAN
Pemeliharaan unit bangunan berbeda-beda sesuai dengan sistem yang
digunakan pada IPAL.

B.1.1. Bak Penangkap Lemak
Kandungan lemak dan minyak yang terkandung dalam limbah bersumber
dari instalasi yang mengolah bahan baku mengandung minyak. Lemak
dan minyak merupakan bahan organik bersifat tetap dan sukar diuraikan
bakteri. Limbah ini membuat lapisan pada permukaan air sehingga
membentuk selaput. Cara memelihara bak penangkap lemak cukup
dengan membersihkan bak penangkap lemak secara rutin. Apabila telah
banyak minyak dan lemak yang tersaring dalam bak, segera bersihkan bak
agar minyak dan lemak yang tersaring tidak meluap ke luar.

B.1.2. Bak Kontrol
Pemeliharaan yang dapat dilakukan untuk bak kontrol adalah tidak boleh
dengan sengaja membuka tutup bak kontrol untuk membuang sampah
atau memasukkan air hujan pada saat terjadi genangan/banjir pada areal
kepemilikan di musim hujan. Bak kontrol harus bebas dari sampah agar
tidak terjadi penyumbatan di dalamnya. Jika diperlukan dapat
ditambahkan saringan untuk menghindari sampah yang masuk ke dalam
bak dan lakukan pembersihan bak kontrol secara berkala dari endapan dan
sampah yang lolos saringan.

B.1.3. House Inlet (HI)
Pemeliharaan HI hampir sama dengan bak kontrol yaitu tidak boleh
memasukkan sampah secara sengaja ke dalamnya. Jika diperlukan, maka
dapat ditambahkan saringan pada HI untuk menghindari masuknya
sampah ke dalam jaringan perpipaan. Lakukan permbersihan secara
berkala.

B.1.4. Inspection Chamber (IC)
IC yang berfungsi untuk melakukan pengecekan, pemeliharaan dan
pembersihan saluran air limbah, perlu dipastikan aliran air limbah berjalan
dengan lancar tanpa ada hambatan, baik karena endapan atau adanya
sampah yang dibuang dengan sengaja ke dalam IC. IC perlu dibersihkan
secara rutin dari endapan dan sampah padat yang tidak sengaja masuk ke
dalamnya.

B.2. UNIT PENGUMPULAN
B.2.1. Jaringan Perpipaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan perpipaan antara
lain:
1. Persiapan Awal
a. Up dating gambar sistem jaringan pipa yang menunjukkan arah
aliran, lokasi dan tata-letak manhole, sambungan rumah dan fasilitas
lainnya, serta kemiringan pipa.
b. Inventarisasi bagian-bagian jalur pipa yang sering mengalami
gangguan.
c. Analisis dan pengecekan tingkat keberhasilan perbaikan-perbaikan
yang telah dilaksanakan.
d. Pemutahiran data melalui as built drawing yang ada dan survey
identifikasi kemungkinan titik-titik yang sering menimbulkan
permasalahan, semuanya diplot dalam peta dan diprogramkan dalam
suatu jadwal pemeliharaan rutin.
2. Program Pemeliharaan
a. Tujuan Utama
Tujuan utama program pemeliharaan adalah untuk proteksi
investasi terhadap gangguan-gangguan dan kerusakan-kerusakan.
b. Pemeliharaan Pencegahan ( Preventive Maintenance )
1) Perencanaan dan penjadwalan perencanaan operasi untuk
memperkecil gangguan-gangguan, dan koreksi hal-hal yang
kurang efesien.
2) Penempatan tenaga cakap dan terampil, agar sistem pipa
dipelihara dengan baik sebelum terjadi masalah serius atau
bahkan kerusakan berat.
c. Peralatan untuk Pemeliharaan
1) Peralatan Utama
a) Truk, kapasitas 2,50 ton
b) Derek dengan tenaga penggerak
c) Derek dengan manual
d) Kabel baja fleksibel, 300 m
e) Pemotong akar
f) Penyemprot air bertekanan,
g) Sikat pipa
h) Ember pasir, sekop, dan penyeretnya
i) Tangki penggelontor
j) Tele-eye (monitoring dengan TV)
k) Kaca pembias
l) Rotan manila, atau tongkat pipa dari kayu, yang dapat saling
mengunci, 150 m
m) Alat pemecah lumpur
n) Alat pengeruk
o) Alat penggulung kawat baja
p) Alat pengangkut kotoran
2) Alat keamanan/keselamatan
a) Detektor gas H2S
b) Detektor gas CO
c) Detektor gas combustible
d) Pengaman lalu lintas

3. Penggelontoran Pipa
a. Cara Penggelontoran
1. Dipilih pada waktu keadaan debit aliran minimum, pada saat
kedalaman renang air limbah tidak cukup untuk membersihkan
tinja/endapan padat.
2) Kebutuhan unit bak penggelontor dengan besarnya volume
air, sesuai dengan perhitungan perencanaan.
3) Melalui pipa lateral air penggelontor dari truk tangki air/
pemadam kebakaran dapat dimasukkan ke dalam terminal
pembersihan (terminal cleanout), dengan debit 15 liter/detik,
selama (5 15) menit.
4) Penggelontoran secara kontinu dapat dipakai air sungai
terdekat, dengan memasukkan debit penggelontoran ke
dalam perhitungan dimensi pipa.
5) Penggelontoran dengan tangki gelontor dapat dioperasikan
secara otomatis, di mana tangki ini dihubungkan ke sistem
penyediaan air bersih untuk diisi sekali tiap hari dengan
kapasitas tangki + 1 m
3
dan/atau 10 % dari kapasitas pipa,
atau tergantung pada kemiringan dan diameter pipa.
6) Penggelontoran dengan melalui pintu-pintu penyadap yang
dipasang pada inlet dan outlet pipa di setiap bukaan di dalam
manhole. Pintu segera dibuka begitu terjadi akumulasi
endapan di dalam suatu seksi pipa. Perlu dipasang
perlengkapan penyadap seperti bar screen, bangunan ukur,
bangunan pelimpah (by pass) dan pintu sadap.
7) Cara-cara lama dengan membendung salah satu seksi pipa
untuk beberapa saat, sangat tidak dianjurkan.
b. Periode penggelontoran
1) Dengan Periode Waktu Tetap
a) Dipilih pada waktu keadaan debit aliran minimum tiap
harinya, di mana pada saat itu kedalaman renang air
limbah tidak cukup untuk membersihkan endapan -
endapan.
b) Cara ini dapat memakai air sungai terdekat, dipilih
airnya yang cukup bersih, debit penggelontorannya
dimasukkan ke dalam perhitungan dimensi pipa.
c) Bila menggunakan tangki gelontor dioperasikan secara
otomatis. Pelaksanaan cara ini pada tengah malam, di
mana bangunan penggelontor dengan peralatan syphon
diatur pada kran pengatur, tepat penuh mengisi bak
penggelontor sesuai jadwal waktu periodik
penggelontoran tiap harinya. Kapasitas tangki minimal
1 m
3
dan/atau 10 % dari kapasitas pipa yang disuplai
sesuai dengan kebutuhan, seperti tabel berikut.

Tabel 3.3. Alternatif Kapasitas Air Penggelontor
Kemiringan
Kebutuhan Air (liter)
Diameter
20 cm
Diameter
25 cm
Diameter
30 cm
1 : 200 2.240 2.520 2.800
1 : 133 1.540 1.820 2.240
1 : 100 1.260 1.540 960
1 : 50 560 840 930
1 : 33 420 560 672

2) Periode Waktu Insidentil
a) Dipilih cara ini jika ujung atas (awal) pipa lateral tidak
dilengkapi dengan bangunan penggelontor, biasanya
dari kran kebakaran terdekat dapat diambil airnya
dengan selang karet, dimasukkan ke dalam bangunan
perlengkapan pipa terminal pembersihan, dengan debit
15 liter/detik, selama (5 - 15) menit. Bila tidak ada kran
kebakaran dapat digunakan tangki air bersih.
b) Alternatif lain adalah dengan pintu-pintu pada pipa air
limbah. Dapat dioperasikan secara otomatis. Pintu-pintu
dipasang pada inlet dan outlet saluran di setiap bukaan
di dalam manhole.
Pintu segera dibuka begitu terjadi akumulasi air limbah
di dalam suatu bagian saluran, dan gelombang aliran
akan menghanyutkan endapan kotoran.
Disediakan bangunan sadap dengan perlengkapan bar
screen (saringan tralis), bangunan ukur, bangunan
pelimpah, pintu air, bangunan peninggi
c) Jika ada saluran pipa tersumbat dan tidak bisa diatasi
dengan penggelontoran maka dapat digunakan alat
sederhana yang dapat dibuat seperti gambar dibawah.


Gambar 3.29. Cara Mengatasi Penyumbatan

Secara umum, diagram pengoperasian dan pemeliharaan
jaringan perpipaan air limbah terdapat pada Gambar 3.30.

Gambar Alat Pemeliharaan Pipa -2
Pipa pelayanan dia 150 mm sampai 200 mm
Manhole
Manhole
100 m
Mempunyai baling-baling seperti bor
di gerakan dengan listrik
Tali baja
katrol

Gambar 3.30. Diagram Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan
Jaringan Pipa

B.2.2. Bangunan/ Sistem Pelengkap
B.2.2.1. Manhole
Manholes harus terbuat dari beton pra-cetak atau jenis beton yang lain
dan harus tahan air. Inlet dan outlet pipa harus disambung ke lubang
saluran dengan koneksi yang fleksibel dan kedap air.
Penutup manhole yang kedap air harus digunakan dimanapun ketika
kondisi atas manhole rawan terjadi banjir. Spesifikasi tutup manhole
yang kedap menjadi salah satu persyaratan untuk pemeriksaan manhole
untuk kategori kekedapan sebelum menggunakan manhole tersebut.

B.2.2.2. Drop Manhole
Drop manhole harus terbuat dari beton pra-cetak atau jenis beton yang
lain dan harus tahan air. Tutup manhole juga harus kedap air. Tidak
boleh dengan sengaja membuang sampah pada drop manhole karena
dapat menyebabkan penyumbatan dalam saluran. Harus diperhatikan
aliran air limbah yang mengalir melewati drop manhole agar berjalan
Operasi dan Pemeliharaan
Jaringan Pipa
Pembersihan, Perbaikan, Renovasi
Pencatatan Kegiatan
Operasi dan Pemeliharaan
Inspeksi dan Laporan
Inspeksi Sistem Perpipaan
Evaluasi Prioritas
Penanganan
Gangguan dan
Kerusakan Sistem
Pengaduan dan
Laporan Kerusakan
Investigasi Lengkap
(Infiltrasi, Exfiltrasi, Kerusakan dll)
Investigasi Awal
Pengukuran
Identifikasi
Permasalahan
Analisis dan Evaluasi
normal tanpa adanya hambatan, sehingga perlu dilakukan pembersihan
secara berkala.

B.2.2.3. Pompa
1. Jadwal Pemeliharaan Pompa
Pemeliharaan pompa perlu dilakukan setiap hari, berkala (bulanan
atau jangka waktu yang ditetapkan), dan juga perlu dilakukan
pemeriksaan mendadak apabila terjadi situasi yang tidak normal. Tata
cara pemeriksaan kondisi pompa dapat dilihat pada Gambar 3.31
Gambar 3.34 berikut ini.




















Gambar 3.31. Pemeliharaan Harian Kondisi Pompa







Pemeriksaan
Harian
Tekanan
Arus
Listrik
Tegangan
Listrik
Temperatur
Kebocoran
Air
Getaran
Kebisingan
Baca Pengukur tekanan
pipa masuk dan keluar
Baca Meter Arus pada
panel pompa
Baca Meter Tegangan
pada panel pompa
Periksa Temperatur
bantalan, sekat dan motor
Periksa air yang bocor
keluar dari sekat
Amati dan sentuh getaran
pompa
Dengarkan
halus/kerasnya suara
mesin
Periksa lebih teliti kalau jarum
tekanan banyak bergoyang
Periksa dan pastikan arus listrik
sesuai spesifikasi
Periksa bahwa tegangan dalam
batas deviasi 10% dari
spesifikasi
Bekerja normal jika:
- Bantalan : < 40 C
- Sekat: < 60 C
- Motor: < 75 C
Bekerja normal jika kebocoran
airnya masih menetes










Gambar 3.32. Pemeliharaan Bulanan Kondisi Pompa

















Gambar 3.33. Pemeliharaan Atas Bagian-Bagian yang Aus



Pemeriksaaan
Bulanan

eriksaan
Bulanan
Temperatur
Poros Kopling
Isolasi
Ukur Temperatur bantalan,
sekat dan motor
Ukur simpangan poros kopling dan
kelonggaraannya
Ukur Tahanan Isolasi Motor
Pemeriksaan
bagian-bagian
yang aus
Sekat (sekali
setahun)
Dikencangkan atau diganti kalau
tampak aus pada selubung poros
Sekat mekanik
(sekali setahun)
Perlu diganti kalau kebocoran air
lebih deras dari tetesan. Umur kira-
kira 4000 jam
Karet Kopling
(sekali setahun
Bila menimbulkan suara bising dan
menimbulkan getaran, karet kopling
perlu diganti
Bantalan
Peluru (2-3 thn
sekali)
Perlu diganti kalau terdengar bising,
bergetar, atau gemuk sudah bocor.
Umur kira-kira 15.000 jam
Minyak
pelumas (sekali
setahun)
Perlu diganti kalau minyak pelumas
sudah menjadi hitam atau encer
sekali
Gasket
Perlu diganti tiap kali mesin
dibongkar








Gambar 3.34. Pemeliharaan Kondisi Tahunan Pompa

2. Pemeliharaan Kondisi Operasi Pompa
Pemeliharaan kondisi operasi pompa dilakukan berdasarkan bagian
yang dipelihara seperti pada Gambar 3.35, antara lain:
a. Tekanan Pompa
Tekanan isap dan tekanan keluar dari pompa perlu diperiksa setiap
hari untuk mengetahui apakah pompa bekerja normal. Perubahan
tekanan isap atau tekanan keluar, merupakan indikasi adanya
kelainan dalam instalasi. Ini dapat disebabkan oleh tersumbatnya
pipa atau masuknya udara dalam pipa masuk pompa.
b. Arus Listrik
Untuk pompa yang digerakkan oleh motor listrik, arus listrik yang
digunakan dapat digunakan sebagai salah satu indikasi adanya
kelainan dalam operasi. Kalau pada panel listrik pengatur motor
listrik tersebut dipasang meter pengukur arus (ampere meter), cara
yang praktis adalah dengan memberi tanda pada kaca penutup
meter tersebut nilai arus yang dalam keadaan normal digunakan
oleh motor tersebut.
c. Tegangan Listrik
Tegangan listrik yang tersedia harus sesuai dengan yang dituntut
oleh motor listrik penggerak pompa, walaupun biasanya boleh lebih
atau kurang sampai sekitar 5 sampai 10%. Pemeriksaan tegangan
listrik secara teratur untuk mencegah motor terbakar akibat
tegangan melewati batas-batas yang diperbolehkan untuk motornya.
Bongkar dan
Periksa
Karat
Poros dan
bantalan
Periksa kawat pada rumah
pompa, rotor dan poros utama
Rotor
Periksa ukuran kelonggaran antara
rotor dan cincin luar
Periksa ukuran kelonggaran antara
poros dan bantalan
Lubang
ventilasi
Periksa lubang ventilasi, pelumas,
tutup pemeriksaan
d. Tingkat Kebisingan dan Getaran
Pengamatan dan pemeriksaan perlu dilakukan pada waktu pompa
bekerja, apakah timbul suara bising atau getaran yang tidak wajar.
Dengan bertambah ausnya bagian-bagian pompa maupun motor
listrik, maka tekanan keluar pompa dan arus listrik masuk ke motor
akan berubah pula.







Gambar 3.35. Bagian Pompa yang perlu diperiksa setiap hari

3. Pemeliharaan Sekat dan Kopling
a. Temperatur Bantalan
Pemeriksaan temperatur bantalan dapat dilakukan dengan cara
disentuh atau dipegang dengan tangan. Jika terasa tidak panas
sehingga tangan kita bisa tahan memegang bantalan tersebut terus
menerus, artinya temperatur bantalan masih dalam batas aman.
b. Kebocoran Sekat
Sekat (gland seal) mekanis tidak boleh ada kebocoran sama sekali.
Tetapi sekat dengan bahan penyekat (packing) yang ditekan dengan
klem, justru harus dapat "membocorkan" air sedikit demi sedikit
(menetes keluar dari sela-sela packing). Kalau packing ditekan
terlalu kuat, akibat gesekan dengan poros pompa, akan menjadi
hangus. Gambar menunjukkan contoh cara mengganti bahan
penyekat yang sudah terlalu banyak membocorkan air.













Gambar 3.36. Posisi Sambungan Bagian-Bagian Packing Harus Berbeda
90 Antar Sambungan

c. Kopling
Perbedaan dalam arah aksial dari poros pompa diperiksa pada
empat tempat sekeliling penampangnya. Kalau ada perbedaan
ukuran lebih dari 0,05 mm, perlu diperbaiki. Kelonggaran
permukaan kopling perlu diperiksa pada dua titik pada diagonal
yang sama, dan tidak boleh ada perbedaan ukuran lebih dari 0,1
mm. Kelonggaran permukaan ini biasanya sekitar 2 sampai 4 mm.
Karet kopling yang sudah aus akan menimbulkan getaran dan
kebisingan.







Gambar 3.37. Penyetelan Posisi Poros untuk Kopling
Elastis

(b) Sambungan Setiap Lapis Paking


(a) Cara Memotong Paking
untuk Sekat


d. Poros dan Bantalan
Kelonggaran antara poros dengan bantalan biasanya seperti yang
dimuat dalam Tabel 3.4. Kalau telah aus dan kelonggaran ini
bertambah, menimbulkan getaran dan kinerja pompa akan
berkurang. Apabila dicapai kelonggaran sampai tiga kali lipat
angka-angka yang dimuat dalam Tabel 3.4 ini, maka sebaiknya
bantalannya diganti dengan baru; dan jika porosnya juga telah aus
maka diperlukan penggantian.

Tabel 3.4. Kelonggaran antara Poros dan Metal Bantalan
Diameter >10 >18 >30 >50 >80
poros <18 <30 <50 <80 <120
Kelonggaran
diametral 0,03-0,07 0,04-0,08 0,05-0,10 0,06-0,12 0,07-0,15
(mm)

e. Isolasi
Tahanan isolasi kumparan motor sebaiknya diperiksa sekurang-
kurangnya sekali sebulan. Pengukuran ini sangat perlu pada motor
yang terbenam (submersible). Kalau pengukuran menunjukkan nilai 1
mega ohm atau kurang, isolasi perlu segera diperbaiki.
f. Motor
Bagian luar dan lubang-lubang ventilasi perlu diperiksa apakah
terdapat kotoran atau endapan debu yang akan menghalangi aliran
udara. Setelah tutup lubang pemeriksaan dibuka, perlu diamati
adanya kontaminasi, kotoran, atau serbuk bekas-bekas bagian yang
bergesek (komutator, cincin kontak, dan sebagainya). Pelumas
bantalan motor perlu juga diperiksa.

4. Pemeriksaan Kebocoran dan Karat
a. Rumah pompa
Kondisi karat dalam rumah pompa apabila mungkin diperiksa, dan
langkah-langkah pencegahan perlu diambil secepatnya kalau ada
gejala perkembangan karat yang membahayakan.
b. Impeler atau sudut pompa
Tingkat keausan impeler perlu diperiksa. Impeler yang sudah aus
umumnya dimensinya menjadi lebih kecil dari dimensi pada saat
awal pemasangannya (kondisi baru). Dan biasanya permukaannya
tidak rata. Akibat ausnya impeler dan/atau cincin penutupnya (liner
ring), maka kinerja pompa akan menurun, terutama daya
dorongnya.

5. Pemeliharaan Panel
Panel yang digunakan di luar maupun di dalam ruangan harus dari
tipe outdoor. Dimana tipe ini merupakan yang relative bebas
pemeliharaan (free maintenance). Namun untuk mencegah terjadinya
hal-hal yang dapat menurunkan kinerja panel, maka perlu dilakukan
pemeriksaan fisik minimal setiap 3 (tiga) bulan sekali.
Jika ditemukan adanya kerusakan kecil seperti pengelupasan cat harus
segera diperbaiki. Pemeliharaan reguler berupa pengecatan ulang
harus dilakukan setiap 1 (satu) tahun sekali.
Pengecekan atau pemeriksaan terhadap semua kompenen fisik panel
dilakukan minimal setiap 3 (tiga) bulan sekali. Pengecekan atau
pemeriksaan terhadap fungsi komponen panel dilakukan minimal
setiap bulan atau jika diperlukan (Misalnya jika lokasi terkena banjir).

B.3. UNIT PENGOLAHAN
B.3.1. Pengolahan Fisik
B.3.1.1. Sumur Pengumpul
Pemeliharaan yang dapat dilakukan untuk sumur pengumpul adalah :
1. Kebocoran
Selalu dipantau tinggi permukaan air melalui alat penduga water
level. Selain itu memantau tingkat kebocoran, dengan mengetahui
tinggi muka air dalam sumur pengumpul bisa melakukan
pengecekan debit limbah telah sesuai dengan perencanaan atau
belum.
2. Inlet dan outlet pipa
Periksa inlet dan outlet pipa untuk memastikan air limbah mengalir
secara kontinu. Secara berkala, bersihkan endapan-endapan lumpur
yang terdapat di dalam sumur pengumpul.
3. Perlu dilakukan pemantauan terhadap kualitas air limbah.

B.3.1.2. Saringan Sampah (Screen)
1. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan ini dilakukan untuk memeriksa dan memperbaiki
(dilakukan seminggu sekali).
a. Periksa apakah platform berdiri memenuhi lebar minimal yaitu
2 m dengan yang pertama 1 m seperti yang berlubang. Contoh
dari platform terdapat pada Gambar 3.38, di mana tidak ada
ruang bagi operator untuk berdiri. Selain itu, screen setidaknya
memiliki kemiringan sudut 60
o
atau lebih terhadap arah
horizontal, hal ini ditujukan untuk menghindari arus yang
terlalu kuat dalam saluran air limbah dan juga untuk
memudahkan operator ketika membersihkan screen. Sisi
belakang platform juga harus memiliki pegangan tangan.
b. Periksa kondisi tangga dan cat pada screen secara berkala.
c. Periksa bahwa tidak ada bagian logam yang rusak atau yang
menonjol ke luar.
d. Sebulan sekali memeriksa kekakuan pegangan tangan.
e. Periksa platform untuk menguji kekuatannya. Cara pemeriksaan
dapat dilakukan dengan menginjakkan kaki di atas platform
secara perlahan.
f. Periksa bahwa platform operator dan slotted platform memiliki
ketinggian 3 m, sehingga operator tidak basah terkena air dan
bisa mengangkat, menyapu, dan membersihkan secara bebas.







Gambar 3.38. Contoh Platform pada Saringan

2. Pemeliharaan dan Perbaikan Rutin (dilakukan setiap hari)
a. Periksa bahwa tralis saringan tidak patah dan tidak longgar.
b. Periksa bahwa pembersihan dilakukan secara baik setelah
saringan digunakan.
c. Pastikan sepatu karet yang digunakan untuk membersihkan
saringan disimpan di dalam loker dan ditutupi dengan jaring.
d. Pastikan bahwa sarung tangan sekali pakai sudah tersedia untuk
semua shift (misalkan ada 3 shift) dan mencukupi persediaan
untuk satu bulan.
e. Pastikan terdapat helm atau peralatan keamanan lain.

B.3.1.3. Bak Penangkap Pasir (Grit Chamber)
1. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan preventif harus dilakukan hanya oleh produsen atau
kontraktor yang telah memasang peralatan ini, dan bukan oleh
operator.
2. Pemeliharaan Rutin (setiap hari)
Operator seharusnya tidak masuk ke dalam ruang bak pasir
(chamber) kecuali terdapat aliran limbah yang tersumbat. Ketika
operator akan masuk ke dalam ruang bak pasir ini, kecuali sudah
kering dan operator yang akan masuk ke dalamnya harus
mengenakan masker oksigen.
Ketika akan menguras lumpur pada bak penangkap pasir, jangan
lupa untuk membuka katup terlebih dahulu dan aliran air limbah di
alirkan secara bypass ke reaktor berikutnya. Setelah itu, ruang bak
pasir harus dikeringkan setidaknya selama dua jam dengan
menggunakan semprotan air bertekanan tinggi dengan siklus
pengeringan dilakukan setidaknya tiga kali. Selanjutnya, laboran
dapat mengambil sampel pasir untuk pemeriksaan dan harus
mengenakan kacamata, sarung tangan, sepatu boot dan masker.

B.3.1.4. Bak Pengendap I (Primary Sedimentation)
1. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan preventif peralatan harus dilakukan oleh produsen
atau pemasok peralatan sesuai manual yang ada.
2. Pemeliharaan Rutin (setiap hari)
Pemeliharaan rutin yang paling penting adalah pembersihan luapan
pelimpah (weir) setiap hari dan hasil penyapuan (scrappings) setiap
mingguan dan membersihkan dinding. Secara berkala perlu
dilakukan pemeriksaan peralatan yang sudah terkorosi. Ketika
pembersihan, operator tidak boleh bersandar atau menekan badan
pada pegangan tangan. Berikut ini beberapa langkah pemeliharaan
rutin yang dapat dilakukan di Bak Pengendap I, yaitu :
a. Periksa dan bersihkan lingkungan dari kotoran-kotoran.
b. Periksa dan bersihkan permukaan air dibak dari kotoran-
kotoran yang mungkin terbawa melalui saringan.
c. Periksa dan bersihkan inlet dan outlet dari kotoran yang
mungkin menyumbat.
d. Periksa dan bersihkan lingkungan dari tanaman liar.
e. Periksa konstruksi bangunan dari kerusakan yang mungkin
terjadi.
f. Periksa dan bersihkan bak dari pertumbuhan lumut dan
tanaman air lainnya.
g. Lakukan pembuangan endapan lumpur (hopper) secara berkala.
h. Periksa dan bersihkan katup pembuangan lumpur serta
peralatan lainnya. Bila perlu ulir katup diberi gemuk.



3. Komponen Bak Pengendap I
Bak Sedimentasi I pada umumnya terdiri dari:
a. Saluran Inlet/Outlet:
1) Saluran terbuka harus selalu dibersihkan dari endapan
lumpur, sampah-sampah, agar aliran lancar, tidak
terganggu.
2) Alat ukur pada saluran, dijaga kebersihannya agar aliran air
lancar.
3) Hubungan antara saluran dan bak, selalu diamati terutama
soal kebocoran.
b. Bak Pembagi:
1) Dinding-dinding tidak boleh ada lumut-lumut yang
tumbuh.
2) Endapan lumpur harus selalu terbuang.
3) Endapan lumpur mengakibatkan pembebanan permukaan
tidak dapat merata pada bak sedimentasi.
c. Pipa-pipa/Saluran Pembuang Lumpur:
1) Lumpur yang sudah terkumpul di Hopper atau
semacamnya, secara berkala dibuang.
2) Katup-katup pembuang diperiksa supaya tidak bocor.
3) Pembuangan dapat secara otomatis atau manual.
d. Bak Lumpur:
1) Bak lumpur direncanakan untuk menampung volume
lumpur dalam jumlah tertentu.
2) Pemeliharaan bak lumpur penting, agar lumpur yang sudah
mengendap tidak mempengaruhi proses hadrauks
selanjutnya.
e. Alat-alat Mekanik dan Elektrik:
Alat kontrol kadar lumpur, penggerak valve automatis, alat
duga tinggi air harus selalu terjaga kebersihannya dan biasanya
terlindung dari cuaca.

B.3.1.5. Bak Pengendap II (Clarifier)
Pemeliharaan Bak Pengendap II sama halnya dengan pemeliharaan
pada Bak Pengendap I. Pemeliharaannya meliputi :
1. Periksa dan bersihkan plat pengendap dengan menyemprotkan air.
2. Periksa bocoran dan fungsi dari pipa dan katup penguras lumpur.
3. Periksa dan bersihkan kotoran serta busa yang mengapung diatas
permukaan air.
4. Periksa pertumbuhan lumut dan bersihkan.
5. Periksa katup-katup pembuangan lumpur dan bila perlu lakukan
perbaikan.
6. Amati pertumbuhan lumut pada dinding bak.
7. Untuk bak sedimentasi yang dilengkapi alat penggerak mekanis,
selalu diberi pelumas, pasokan listrik selalu diperiksa, motor-motor
terjaga dari kotoran, debu.

B.3.2. Pengolahan Biologis
B.3.2.1. Pengolahan Aerobik
1. Kolam Aerasi (Aerated Lagoon)
Kolam aerasi membutuhkan lahan yang cukup luas, di lingkungan
terbuka, dan dilengkapi dengan aerator mekanik. Aerator mekanik
menyediakan oksigen dan menjaga organisme aerobik agar tetap
hidup dan bercampur dengan air limbah untuk mendegradasi
organik dan mengurangi kelebihan nutrisi dalam kolam.
Peningkatan pencampuran dan aerasi dari unit mesin berarti bahwa
kolam bisa lebih mentolerir beban organik lebih tinggi. Peningkatan
aerasi mengakibatkan proses degradasi bahan organik juga
meningkat dan meningkatkan penyisihan mikroorganisme patogen.
Sebelum air limbah masuk ke kolam aerasi, dilakukan pengolahan
pendahuluan untuk menghilangkan sampah dan partikel kasar yang
dapat mengganggu kinerja aerator.
Kolam harus dibangun dengan kedalaman 2 sampai 5 m dan harus
memiliki waktu detensi dari 3 sampai 20 hari. Untuk mencegah
penggerusan, kolam harus memiliki pelapis dasar (liner). Pelapis
dasar dapat berupa tanah liat, aspal, tanah dipadatkan, atau bahan
tahan lainnya. Tanggul pelindung harus dibangun di sekitar kolam
untuk melindungi kolam dari limpasan dan erosi.
Pemeliharaan kolam membutuhkan seorang staf ahli tetap untuk
memperbaiki dan memelihara mesin aerator. Kolam harus dikuras
lumpur endapannya setiap 2 sampai 5 tahun.

Gambar 3.39. Contoh Kolam Aerasi yang dilengkapi dengan Aerator
Pemukaan (Surface Aerator)

2. Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)
Proses lumpur aktif (ASP) adalah unit reaktor yang terdiri dari
tangki aerasi dan bak pengendap (clarifier) yang menggunakan
mikroorganisme aerobik untuk menghilangkan bahan organik
dalam air limbah dan menghasilkan air limbah olahan yang
berkualitas tinggi. Untuk mempertahankan kondisi aerobik dan
menjaga biomassa aktif, diperlukan pasokan oksigen yang konstan
dan tepat waktu.
Konfigurasi yang berbeda dari ASP dapat digunakan untuk
memastikan bahwa air limbah dicampur dan diberi udara (udara
atau oksigen murni) dalam tangki aerasi. Mikroorganisme
mengoksidasi karbon organik dalam air limbah untuk menghasilkan
sel-sel baru, karbondioksida dan air. Meskipun bakteri aerobik
adalah organisme yang paling umum dalam tangki aerasi,
mikroorganisme anoksik, anaerobik, dan/atau bakteri nitrifikasi
bersama dengan organisme yang lebih tinggi dapat hadir dalam
tangki. Komposisi yang tepat tergantung pada desain reaktor,
lingkungan, dan karakteristik air limbah.
Selama aerasi dan pencampuran, bakteri membentuk flok atau
gumpalan. Setelah keluar dari tangki aerasi dan masuk ke bak
pengendap II, gumpalan yang berhasil diendapkan akan dialirkan
kembali sebagian (resirkulasi) ke tangki aerasi, sedangkan sebagian
endapan tersebut dikeluarkan untuk pengolahan lebih lanjut.
Sistem ASP ini cocok untuk digunakan pada pengolahan terpusat
yang dilengkapi dengan staf terlatih, penyediaan pasokan listrik
konstan dan sistem manajemen terpusatnya yang sudah maju. Hal
ini dilakukan agar dapat dipastikan bahwa semua fasilitas
dioperasikan dan dipelihara dengan benar. Teknologi ini efektif
untuk pengolahan air limbah skala besar. Staf terlatih sangat
diperlukan untuk pemeliharaan dan mengatasi permasalahan yang
timbul ketika teknologi ini beroperasi. Desain ASP harus didasarkan
pada estimasi komposisi air limbah dan besarnya debit air limbah.
Peralatan mekanik seperti pengaduk, aerator, dan pompa harus
dipelihara dengan baik karena dioperasikan secara terus-menerus.
Selain itu, kualitas influen dan efluen harus dipantau terus-menerus
untuk memastikan bahwa tidak ada kandungan berbahaya yang
bisa membunuh biomassa aktif dan untuk memastikan bahwa
organisme merugikan tidak berkembang. Hal ini dikarenakan
apabila adanya mikroorganisme merugikan dapat mengganggu
proses pengolahan air limbah, mikroorganisme yang merugikan
contohnya adalah bakteri berfilamen atau berserat.

3. Extended Aeration
Pemeliharaan peralatan extended aeration harus memperhatikan
prosedur atau petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pompa, katup,
pintu air, pelimpah dan aerator adalah peralatan mekanis yang
perlu dirawat dengan baik sesuai prosedur dari pabrik. Bersihkan
dinding reaktor secara berkala agar proses aerasi di dalam extended
aeration berlangsung dengan baik dan tidak ada lumut yang
menempel di dinding kolam.


4. Parit Oksidasi (Oxidation Ditch, OD)
Pemeliharaan peralatan OD perlu dijadwalkan secara rutin dan
harus dilakukan sesuai dengan instruksi manual pabrik. Operator
harus memeriksa setiap peralatan sehari-hari untuk melihat bahwa
itu berfungsi dengan baik. Hal ini dikarenakan semua peralatan
mekanis dalam OD berperan sangat penting dalam proses
pengolahan limbah.
Rotor dan pompa harus diperiksa untuk memastikan bahwa mereka
beroperasi dengan benar. Jika pompa yang tersumbat, maka perlu
segera diperbaiki. Apabila dalam operasionalnya terdengar suara
yang tidak biasa, periksa baut karena dikhawatirkan longgar.
Mengetahui masalah mekanis dalam tahap awal bisa mencegah
biaya perbaikan yang mahal atau penggantian di kemudian hari.
Pelumasan juga harus dilakukan dengan jadwal operasi tetap dan
dicatat dengan benar. Ikuti petunjuk pelumasan dan pemeliharaan
untuk masing-masing peralatan. Pastikan bahwa pelumas yang
digunakan sesuai. Selama pelumasan jangan menggunakannya
secara berlebihan karena dapat menyebabkan kenaikan suhu yang
tinggi (overheating) bantalan atau gigi.
Beberapa konsep dasar dalam pemeliharaan OD yaitu :
a. Indikator Kualitas
Membandingkan indikator kualitas yang terjadi dan yang
diharapkan.
1) Warna (lumpur yang baik dan aerobik biasanya berwarna
merah tua kecoklatan dan lumpur yang berwarna hitam
gelap tidak aerobik).
2) Buih (apabila banyak berarti kondisi pengoperasian yang
kurang baik).
3) Pertumbuhan alga (apabila banyak berarti nutrien yang
tinggi pada influen instalasi).
4) Pola penyebaran aerator.
5) Tingkat kebeningan efluen.
6) Gelembung udara (apabila ada, maka kemungkinan lumpur
yang tertahan dalam tangki sudah terlalu lama sehingga
lumpur resirkulasi perlu dinaikkan atau lumpur terbuang
harus dikurangi).
7) Bahan-bahan yang mengapung (disebabkan tingginya
konsentrasi minyak dan lemak dapat mengganggu proses
pengendapan lumpur yang pada ujungnya mengurangi
efisiensi reduksi BOD5).

b. Rencana Kerja
Membuat rencana kerja, antara lain:
1) Kapan saat menghidupkan dan mematikan pompa.
2) Kapan saat menutup dan membuka katup-katup.
3) Kapan dan berapa debit lumpur resirkulasi dan lumpur
buangan (waste sludge) harus dilakukan.

B.3.2.2. Pengolahan Anaerobik
1. Filter Anaerobik (Anaerobic Filter)
Seiring berjalannya proses pengolahan, padatan akan menyumbat
rongga dari media filter. Selain itu, massa bakteri yang tumbuh akan
menjadi terlalu tebal dan akan pecah sehingga akan menyumbat
rongga media filter. Sebuah tangki sedimentasi sebelum filter
diperlukan untuk mencegah adanya mayoritas padatan yang dapat
diendapkan memasuki unit. Ketika efisiensi filter berkurang, maka
media filter dan filter harus dibersihkan. Cara membersihkan filter
yaitu dengan menjalankan sistem dalam mode aliran terbalik
(backwash) untuk menghilangkan akumulasi biomassa dan partikel
yang melekat pada filter. Selain itu, membersihkan media filter
dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan media dari filter
kemudian mencuci media secara manual.

2. UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
a. Pemeliharaan Tahunan
Reaktor harus dikosongkan setelah tahun pertama beroperasi
untuk memeriksa kelengkapan peralatan dan sistem penyedotan
lumpur, terutama katup dan pipa internal.
1) Pertama, harus dilakukan pengecekan semua sistem secara
lengkap (termasuk katup dan manhole) setelah satu tahun
beroperasi, atau sebelumnya jika diperlukan. Pemeriksaan
rutin dapat dibentuk atas dasar pengamatan pemeriksaan
pertama.
2) Saluran talang efluen (effluent gutter) harus diperiksa untuk
meratakan dan keselarasan setahun sekali. Setiap talang
harus pada level horisontal dan semua harus pada level yang
sama.
3) Kabel listrik harus diperiksa setiap tahun
4) Korosi pada sambungan listrik harus diganti setiap tahun.
5) Struktur semen harus diperiksa setiap tahun dan diperbaiki
bila diperlukan.
6) Pompa air untuk lumpur tersaring harus dipelihara.

b. Pemeliharaan Lima Tahunan
Setiap lima tahun, pemeliharaan berikut harus dilakukan.
1) Setiap reaktor harus dioperasikan bergantian.
2) Bersihkan bagian dalam permukaan beton.
3) Terapkan lapisan baru dari bahan lapisan pelindung (epoxy)
ke permukaan beton.
4) Periksa kualitas pipa inlet dan mengganti bila diperlukan.
5) Periksa kondisi bagian pipa inlet, baik pada distribusi kotak
dan di bagian bawah.
6) Ganti bahan yang mudah terkorosi bila diperlukan.
7) Periksa penetapan-bahan PVC dan menggantinya bila
diperlukan.
8) Periksa kualitas kolektor gas dan melakukan perbaikan bila
diperlukan.

3. Kolam Anaerobik (Anaerobic Pond)
Pemeliharaan rutin yang dapat dilakukan pada kolam anaerobik
adalah :
a. Sedot lumpur dari kolam anaerobik setiap tahun atau sesuai
dengan kondisi kolam.
b. Penyedotan bisa memakai pompa lumpur atau pompa vakum.
c. Masukan lumpur ke Bak Pengering Lumpur dan keringkan.
d. Ambil/sekop lumpur yang telah kering dari bak pengering
lumpur, buang lumpur tersebut ke tempat pembuangan atau
gunakan untuk keperluan lain.

4. ABR (Anaerobic Baffled Reactor)
a. Langkah Langkah Pemeliharaan
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk pemeliharaan
ABR adalah :
1) ABR tidak boleh dipasang di daerah dengan muka air tanah
tinggi, karena perembesan (infiltration) akan mempengaruhi
efisiensi pengolahan dan akanmencemari air tanah.
2) 1 kali per minggu periksa bak kontrol, jika terdapat kotoran
padat/sampah keluarkan kotoran tersebut, kemudian buang
ke tempat sampah.
3) 1 kali per 6 bulan buang kotoran padat dan kotoran yang
mengapung tepat di bawah manhole. Mulai dari inlet,
kompartemen 1 dilanjutkan ke kompartemen berikutnya.
4) Ambil kotoran tepat di bawah manhole dan gunakan
pengeruk manual untuk mengumpulkan kotoran tepat di
bawah manhole.
5) Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada
yang tersisa.
6) Mintalah tukang untuk memperbaiki semua kebocoran
secepat mungkin dan lihat penyebabnya sehingga masalah
bisa segera diatasi.
7) 1 kali per 6 bulan lakukan tes kualitas air limbah, dengan
prosedur sebagai berikut :
a) Ambil 2 sampel air limbah dari inlet dan outlet, masing-
masing 2 liter dalam botol terpisah.
b) Bawa 2 botol sampel ke laboratorium yang ditunjuk.
Lakukanlah pemeriksaan untuk pH, BOD, COD, TSS,
dan lemak.

b. Pengurasan Lumpur secara Manual
Cara pengurasan lumpur di dalam reaktor ABR secara manual
adalah :
1) Hubungi perusahaan jasa pengurasan lumpur atau
sejenisnya.
2) Buka semua tutup manhole.
3) Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah.
4) Masukkan pipa sedot lumpur sampai ke dasar reaktor, sedot
mulai dari kompartemen I dan dilanjutkan kompartemen
berikutnya.
5) Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam.
6) Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat.

B.3.2.3. Pengolahan Kombinasi
1. Kolam Stabilisasi
a. Mengelola Kondisi Permukaan Kolam
Perubahan dalam cuaca, volume flow harian, temperatur air,
dan arah angin bisa menimbulkan kondisi-kondisi yang tidak
diinginkan di permukaan kolam, khususnya perkembang-
biakan algae, timbulnya lapisan scum dan lembaran-lembaran
sludge yang mengambang. Algae bisa berkembang-biak dan
membentuk lembaran-lembaran yang mengambang di
permukaan dan menghalangi sinar matahari dan merusak
efisiensi kolam. Lembaran-lembaran algae yang mati bisa
membusuk dan menimbulkan bau tak sedap. Lembaran-
lembaran tersebut harus dipecah dan dibuyarkan dengan
semprotan air dari selang atau dengan kait. Kalau perlu,
gunakan perahu untuk menjangkau lembaran-lembaran
tersebut. Lihat Gambar 3.40.






Gambar 3.40. Pemeliharaan Permukaan Kolam Stabilisasi
Lapisan buih sering sekali terbentuk di permukaan anaerobic
ponds. Buih akan menimbulkan bau tak sedap dan merangsang
serangga berkembangbiak disana. Buyarkan buih dengan
semprotan air atau kait bergagang panjang.
Masalah di permukaan lainnya adalah kotoran-kotoran yang
terbawa angin, misalnya daun-daunan. Benda-benda seperti ini
bisa menganggu outlet kolam. Benda ini harus dibuang dari
kolam dan dikumpulkan di luar kolam. Pakailah selalu baju
pelampung jika bekerja di kolam.
Kondisi permukaan lain yang harus diperiksa secara berkala
adalah warna kolam. Setiap jenis kolam punya ciri warna, dan
perubahan warna biasanya menandakan masalah yang harus
diperiksa secepatnya. Warna kolam yang berjalan pada kondisi
normal/berimbang adalah sebagai berikut.
Tabel 3.5. Kondisi Permukaan Kolam Stabilisasi
Kondisi
Masalah yang
Ditimbulkan
Solusi
Pertumbuhan
Algae
Bau, Kinerja Kolam
Menurun
Buyarkan Lembaran
Algae
Lapisan Buih
Bau, Serangga
berkembang biak
Buyarkan Lapisan
Buih
Lumpur yang naik
ke permukaan
Bau
Buyarkan lapisan
lumpur
Sampah
Mengambang
Mengganggu outlet
Buang sampah yang
mengambang.



Tabel 3.6. Warna Kolam Stabilisasi
Kolam Ciri Warna
Anaerobik Hitam kehijau-hijauan
Fakultatif Hijau atau hijau kecoklat-coklatan
Maturasi Hijau


Perubahan warna biasanya menandakan perubahan dalam
sewage yang masuk ke dalam kolam. Ini bisa terjadi oleh
kenaikan konsentrasi tinja, air hujan atau air di bawah
permukaan masuk ke dalam sistem sewer. Atau karena bahan
seperti minyak, bahan kimia, darah binatang masuk bersama
dengan air limbah. Apapun penyebabnya, itu harus ditemukan
dan dihentikan secepat mungkin. Jika ada laboratorium, sampel
air kolam di permukaan dan di bawah permukaan diteliti untuk
mengetahui penyebab perubahan pada kolam.
b. Pemeliharaan Tanggul dan Lokasi Sekitar Kolam
Lakukan pemeriksaan tanggul dan lokasi kolam setiap satu atau
dua minggu. Selain kondisi permukaan kolam seperti yang
sudah dibahas sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu
diperiksa. Jika ada masalah, perbaiki segera. Lihat Gambar 3.41
sampai Gambar 3.43 berikut.






Gambar 3.41. Pemeliharaan Tanggul









Gambar 3.42. Tanggul dengan Tepian Dilindungi Pasangan Batu
Tanah
Tanggul luar
Tanggul dalam
Kolam
Memotong
rumput
Menyiangi
Mengisi lubang2
dengan tanah












Gambar 3.43. Tanggul dengan Tepian Dilindungi Cor Beton


Tabel 3.7. Permasalahan dan Perawatan Kolam Stabilisasi
Area yang diperiksa
Kondisi/
Masalah
Solusi
Area disekeliling lokasi
kolam
Pohon atau
semak yang
baru tumbuh
Potong dan buang
Area di sekeliling lokasi
kolam
Limpahan air
permukaan
Alihkan atau hindari supaya
tidak masuk kolam dengan
dam kecil atau parit
Lereng Tanggul bagian
luar dan puncak tanggul
Erosi air atau
angin
Isi dengan bahan padat; tanam
rumput
Lereng Tanggul bagian
luar dan puncak tanggul
Rumput atau
ilalang
Potong rumput atau ilalang;
buang rumputnya
Lereng tanggul bagian
dalam
Erosi karena
cuaca atau
gelombang air
kolam
Ganti batu yang dipasang
untuk melindungi tanggul
kolam
Tepian kolam Rumput
Potong dan buang hasil
potongan
Outlet kolam
Sampah di
sekitar outlet
Buang sampah yang
menghalangi outlet
Permukaan kolam Nyamuk
Penyemprotan minyak bahan
bakar berukuran halus atau
pelihara ikan yang memakan
jentik-jentik nyamuk

c. Pengelolaan Lumpur
Pada tahun pertama pengoperasian kolam, lumpur akan
terkumpul di dasar kolam. Setelah itu, proses biologi akan mulai
menguraikan lumpur pada kecepatan yang sama dengan
kecepatan terkumpulnya lumpur di dasar kolam, umumnya
membuat akumulasi lumpur bisa diabaikan.
Walau demikian, ketebalan lumpur harus diperiksa setiap
tahun. Jika lebih dari sepertiga dari kedalaman kolam yang
direncanakan, hal ini bisa mengganggu proses alamiah dari
kolam tersebut dan bisa menyumbat pipa inlet. Jika demikian,
kolam harus dikuras dan lumpur harus dibuang. Seberapa
sering hal ini harus dilakukan tergantung pada kondisi daerah
setempat dan jenis kolam.
Tabel 3.8. Frekuensi Pembuangan Lumpur
Jenis Kolam Frekuensi
Anaerobik 2-12 tahun
Facultatif 8-20 tahun
Maturasi Mungkin tidak pernah

Pengelolaan lumpur dilakukan dengan cara:
1) Memeriksa Ketebalan Lumpur
Memeriksa ketebalan lumpur sekali setahun.Ukur ketebalan
lumpur didekat inlet kolam. Gunakan perahu dan tongkat
panjang dengan ujung yang dililiti kain berwarna terang
sepanjang satu meter (Gambar 3.44).








Gambar 3.44. Memeriksa Kedalaman Lumpur
Celupkan tongkat ke dasar kolam dan setelah satu menit,
angkat pelan-pelan. Partikel-partikel endapan lumpur akan
menempel pada kain dan ketebalan endapan tersebut dapat
diukur. Jika ketebalan kurang dari sepertiga dari kedalaman
kolam yang direncanakan, tidak perlu mengambil tindakan
apapun. Jika ketebalan lumpur sama dengan atau lebih
besar dari sepertiga dari kedalaman kolam yang
direncanakan, kolam harus dikuras dan lumpur harus
dibuang. Lakukan pengurasan pada musim kemarau.
2) Menguras kolam
Jika kolam-kolam berhubungan secara seri, alihkan aliran ke
kolam berikutnya. Jika kolam-kolam berhubungan secara
pararel, alihkan seluruh aliran air limbah ke kolam yang
tidak sedang dikuras.
Untuk menguras kolam, lepaskan sambungan/sock pipa
dari outlet vertikal satu persatu. Ini akan menurunkan
permukaan kolam karena air kolam melimpah keluar pipa
outlet secara bertahap hingga permukaan lumpur terlihat.
3) Memindahkan lumpur
Biarkan lumpur kering karena sinar matahari. Ini akan
butuh beberapa minggu tergantung pada kondisi daerah
setempat. Jika lumpur benar-benar kering, lumpur bisa
diambil dengan excavator atau sekop. Angkut lumpur
dengan truk atau gerobak.








Gambar 3.45. Menguras dan Membuang Lumpur
Lumpur tersisa dalam jumlah kecil bisa dibiarkan dalam
kolam untuk membantu memulai proses biologis ketika
kolam kembali beroperasi.
4) Membuang lumpur
Buang lumpur kering di tempat penimbunan atau gunakan
sebagai pupuk, lebih tepatnya untuk tanaman yang tidak
ditujukan untuk manusia. Jangan gunakan lumpur untuk
tanaman yang akan dimakan mentah, misalnya tomat atau
selada.
5) Mengisi Kolam
Ketika kolam kosong, periksa pipa inlet dan outlet, dan
saringan. Jika ada kerusakan, perbaiki secepatnya.
Jika kolam-kolam dihubungkan secara seri, alihkan kembali
aliran effluent ke inlet kolam yang kosong. Jika kolam
dihubungkan secara pararel, kolam kedua mungkin perlu
dikosongkan dan dibersihkan. Alihkan aliran effluent ke
kolam kosong dan kolam kedua dikeringkan dan lumpur
dipindahkan, alihkan effluent sehingga aliran effluent
mengalir sama besar ke kedua kolam.
d. Pengelolaan Peralatan
Alat untuk mengoperasikan dan memelihara sebuah kolam
stabilisasi harus disimpan di gudang di dekat lokasi kolam.
Bersihkan semua alat dan simpan dalam kondisi yang baik.
Buatlah catatan yang menunjukkan semua kegiatan
pemeliharaan seperti Tabel 3.9 berikut.

Tabel 3.9. Daftar Kegiatan Pemeliharaan Kolam Stabilisasi
Minggu Tugas
Minggu Ke-1
Memotong rumput dan ilalang di
Tanggul. Mencabuti rumput yang
tumbuh di tepian kolam; membuang
rumput yang sudah dicabut.
Minggu Ke-3
Dengan perahu mengambil sampah
yang menutupi saringan pelindung
outlet
Minggu Ke-5
Memotong dan membuang rumput dan
ilalang di tanggul.
Minggu Ke-7
Memotong dan membuang rumput dan
ilalang di tanggul.
Minggu Ke-9
Dengan perahu, membuyarkan
lembaran algae yang muncul
dipermukaan kolam.
Minggu Ke-11
Dengan perahu, mengukur ketebalan
lumpur 1.5 meter.
Minggu Tugas
Minggu Ke-13
Memotong rumput dan ilalang di
tanggul. Mencabuti rumput yang
tumbuh di tepian kolam; membuang
rumput yang sudah dicabut.

e. Pemeliharaan Rutin
Begitu kolam mulai berfungsi dalam kondisi yang normal,
pemeliharaan rutin yang diperlukan adalah pemeliharaan
minimal, walau demikian sangat diperlukan supaya beroperasi
dengan baik. Kegiatan perawatan rutin yang utama adalah:
1) Membuang pasir atau bahan yang tersaring dari unit
pengolahan awal.
2) Memotong rumput di tanggul kolam.
3) Membuang buih dan tanaman liar yang mengambang dari
permukaan kolam fakultatif dan kolam maturasi.
4) Jika lalat berkembang biak dalam jumlah besar pada buih di
kolam anaerobic, maka buihnya harus dipecah dan
ditenggelamkan dengan semprotan air.
5) Membuang setiap material yang menghalangi inlet dan
outlet.
6) Memperbaiki setiap kerusakan pada kolam yang disebabkan
oleh hewan pengerat atau hewan penggali lainnya.
7) Memperbaiki setiap kerusakan di pagar dan gerbang.

f. Pengurasan Lumpur
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengurasan lumpur
adalah:
1) Sesuai dengan nilai desain, berapa lumpur yang akan
terkumpul setiap tahun dalam kolam anaerobik. Lumpur
harus dikuras/dikurangi jika sudah mencapai sepertiga dari
kapasitas lumpur maksimal.
2) Lumpur yang terkumpul sebaiknya diambil dan dibuang
dari kolam anaerobik sekali setiap tahun.
3) Alat penyedot lumpur hendaknya cukup memadai, seperti
unit penyedot kontinyu, kompresor udara dan perahu
penyedot.

g. Pembuangan lumpur
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuangan lumpur
adalah:
1) Bak Pengering Lumpur dibagi jadi 3 (tiga), yaitu bagian jalur
operasi, artinya secara bergantian Bak Pengering Lumpur
akan dioperasikan, pengeringan, kuras dan rawat.
2) Lumpur yang terkumpul di kolam anaerobik disalurkan ke
Bak Pengering Lumpur lewat unit penyalur lumpur atau
secara manual setahun sekali.
3) Pengisian Bak Pengering Lumpur harus dilakukan dari satu
bak ke bak lain. Jika konsentrasi lumpur sebesar 20%, dan
kapasitas serta lama operasi unit pompa diketahui, maka
dapat dihitung pengisian kolam akan penuh dalam berapa
hari .
4) Lumpur yang sudah berada dalam Bak Pengering Lumpur
akan terpisah menjadi lapisan atas yang bening dan lapisan
bawahnya yang kental. Atur pintu air/stop log supaya
lapisan bening bagian atas dapat dibuang keluar dan masuk
ke kolam pengolahan lagi. Atur pintu tersebut berulang
ulang sehingga konsentrasi lumpur semakin kental.
5) Setelah itu lumpur dikeringkan dengan sinar matahari
selama 2 (dua) atau 3 (tiga) minggu sampai bisa diambil
dengan sekop. Lumpur yang sudah kering bisa diangkut
dengan truk dan dibuang ke tempat pembuangan sludge
atau dibuat pupuk.

h. Kebersihan Lingkungan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan
lingkungan adalah:
1) Instalasi pengolahan air limbah dapat saja menjadi kotor
karena operasi-operasi yang dilakukan, seperti halnya
memindahkan pasir dari grit chamber, memindahkan
sludge yang terkumpul dari kolam anaerobik,
memindahkan lumpur kering dari bak pengering lumpur,
dan lain sebagainya. Gunakan pompa air servis untuk
memelihara kebersihan instalasi pengolahan limbah.
2) Sediakan beberapa titik strategis tempat kran air dengan
tekanan pompa servis ini.
3) Sediakanlah beberapa stasiun penyimpan selang (hose
station) pada beberapa lokasi yang strategis, yaitu sebuah
kotak yang berisi peralatan seperti selang, sikat, sprayer.
4) Sebelum mengoperasikan pompa air, siapkan selang untuk
area yang akan dibersihkan, baru kemudian operasikan
pompa. Pompa air bisa dioperasikan dengan memencet
tombol on/off pompa.

i. Pemeliharaan Peralatan
Pemeliharaan peralatan adalah penting untuk menjalankan
tugas-tugas pemeliharaan yang layak supaya tercapai fungsi
dan kinerja instalasi pengolahan limbah yang baik.
Personil yang terlibat harus detail dalam memahami dan
memelihara agar instalasi ini senantiasa dalam kondisi yang
baik. Pemeliharaan harus dilakukan secara periodik sesuai
dengan suatu standar yang spesifik:
1) Inspeksi Harian
Pemeriksaan harian ditetapkan pada jam yang sama setiap
hari untuk melihat apakah ada kelainan/anomali pada
mesin atau peralatan yang sedang berkerja.Hasil
pemeriksaan harus dicatat.
2) Inspeksi Periodik
Inspeksi periodik dilakukan menurut standar inspeksi yang
sudah ditetapkan sebelumnya. Ini dimaksudkan untuk
memahami kondisi abrasi/keausan dan kelapukan pada
mesin dan peralatan yang ada, sehingga dapat dilakukan
perbaikan dan penggantiannya secara sistematis. Jika
ditemukan cacat atau kerusakan, langkah-langkah
perbaikan harus dilakukan saat itu juga. Hasil pemeriksaan
harus dicatat.
3) Standar Inspeksi/Pemeliharaan
Dengan inspeksi tahunan, 6 bulanan, 4 bulanan, bulanan
atau harian, item dan hasil inspeksi tiap-tiap mesin dan
peralatan harus dicatat.

Tabel 3.10. Contoh Catatan Pemeriksaan Harian
Tanggal : ____________
No Nama Servis Item Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan
Keterangan
1 Pompa angkat
1
2
Suara, getaran, dan panas
Pengukuran arus listrik
Temperatur bantalan (diukur
dengan tangan)

2 Pintu air
1 Minyak pada bagian berulir
dari poros batang penggerak

3 Pompa Pasir
1 Penurunan debit aliran akibat
penyumbatan

4
Pemisah
Siklon/Ulir
1 Catat pasir yang dipindahkan
dari pot penampungan pasir

5
Aerator (jika
ada)
1
2
Pengukuran arus listrik
Temperatur bantalan (diukur
dengan tangan)

6
Pompa Air
Servis
1
2
Suara, getaran, dan panas
Temperatur bantalan (diukur
dengan tangan)

7
Derek saringan/
Rake screen
1
2

3
Suara
Disimpan dan diberi tutup jika
tidak sedang digunakan
Pemeriksa aspek keamanan
saat pengoperasian

8
Saringan kasar
(Coarse Screen)
1 Bersihkan sludge dari saringan
dan memeriksa catatannya.

9
Unit
Pembuangan
Lumpur
1
2
Kebocoran
Pengoperasian Pompa /
pengoperasian kapal keruk

10 Mesin generator
1

2
3
Jumlah minyak pelumas, air
pendingin dan minyak bahan
bakar
Pembersih udara
Kekencangan pada sabuk,
kabel, dan lain-lain.

Keterangan: Dalam kondisi baik, X Tidak baik/rusak





Tabel 3.11. Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan
Tanggal : ____________

No Nama Servis Item Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan
Keterangan
1 Lift pump
1
2
Memeriksa tinggi
permukaan minyak pada
grease tank dan
pengisian kembali
minyak pelumas

2 Aerator (jika ada)
1
2
Minyak pelumas
Kekencangan belt

3
Service water
pump
1 Minyak pelumas
4
Derek /
Rake screen
1 Minyak pelumas
5
Unit Pembuangan
Lumpur
1
2
3
Inlet pompa/float switch
(tersumbat oleh lumpur)
sambungan pipa yang
longgar
sambungan kabel/selang
yang longgar

Keterangan: Dalam kondisi baik, X Tidak baik/rusak


Tabel 3.12. Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan
Tanggal : ____________
No Nama Servis Item Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan
Keterangan
1 Lift pump
1 Mengencangkan baut yang
longgar (termasuk baut
pondasi)

2
Aerator
(jika ada)
1 Kekencangan sabuk
penggerak (drive belt)

3
Unit
Pembuang
Lumpur
1 Mengencangkan baut yang
longgar

4
Derek /
Rake screen
1 Pengoperasian tanpa beban
karena tidak dioperasikan
dalam waktu yang lama.
Generator yang tidak
beroperasi secara konstan,
perubahan air pendingin,
perubahan oli , atau
perubahan minyak bahan
bakar

5 Generator
1 Pengoperasian tanpa beban
karena tidak dioperasikan
dalam waktu yang lama.
Generator yang tidak
beroperasi secara konstan,
perubahan air pendingin,
perubahan oli , atau
perubahan minyak bahan
bakar

Keterangan: Dalam kondisi baik, X Tidak baik/rusak


Tabel 3.13. Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan
Tanggal : ____________
No Nama Servis Item Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan
Keterangan
1
Pompa angkat
(lift pump)
1 Penggantian minyak
pelumas

2 Gate / pintu air
1 Pemberian grease baru
pada ulir poros

3 Pompa pasir
1 pemeriksaan dan mengisi
kembali minyak pelumas

4 Aerator (jika ada)
1 Mengganti minyak
pelumas

Keterangan: Dalam kondisi baik, X Tidak baik/rusak

Tabel 3.14. Contoh Catatan Pemeriksaan Enam Bulanan
Tanggal : ____________
No Nama Servis Item Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan
Keterangan
1
Pompa Air
Servis
1 Penggantian minyak
pelumas

2 Mesin Generator
1 Penggantian minyak
pelumas

Keterangan: Dalam kondisi baik, X Tidak baik/rusak

2. Rotating Biological Contactor (RBC)
a. Perawatan Rutin
1) Motor
Apabila motor dilengkapi dengan pengatur gemuk (grease
fittings) dan relief plugs, maka sebaiknya diberikan
pelumasan ulang setiap setahun sekali dengan minyak
untuk motor secukupnya.
2) Reducer / Gear Box
Reducer/Gear Box pada unit RBC diisi dengan oli sederajat
SAE 40, atau isi sesuai dengan spesifikasi pada brosur.
Diperlukan pengecekan visual secara berkala. Periksa level
oli dan tambahkan dengan oli yang sama sehingga level
yang diperlukan. Setiap tahun sekali oli gear box diganti
dengan oli yang baru dengan jenis dan tipe yang sama.
3) Bantalan (Bearings)
Bearings dilumasi dengan grease/gemuk. Pelumas lama-
kelamaan akan habis dan laju pengurangannya merupakan
fungsi dari kondisi operasi. Setiap minggu sekali
pompa/masukan gemuk ke bantalan lewat pentil gemuk-
nya dengan alat penembak gemuk (grease-gun).
4) Gigi jentera (Sprocket) dan Rantai
Penggerak rantai sebaiknya diperiksa setiap 3 bulan untuk
hal-hal berikut ini :
a) Jika rantai ditutupi pasir atau kotoran, harus dibersihkan
dengan minyak tanah dan kemudian diberi pelumas
kembali.
b) Periksa oli dan pengotor seperti potongan kayu, debu
atau pasir.
c) Ganti oli jika perlu (disarankan menggunakan oli dengan
viskositas SAE 30 pada suhu ruangan
5 30
o
C).
d) Periksa tegangan rantai dan kencangkan jika diperlukan.

b. Perawatan Sistem Proses
Hal-hal berikut harus diperhatikan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kondisi RBC yang optimum :
1) Hindari masuknya deterjen dalam jumlah banyak ke dalam
RBC, gunakan deterjen yang ramah lingkungtan. Sistem ini
sendiri dapat menguraikan deterjen dalam jumlah yang
normal. Harus diperhatikan untuk penggunaan mesin cuci
agar digunakan jumlah deterjen yang sesuai petunjuk
pemakaian. Jumlah deterjen yang berlebihan dapat
menimbulkan bau pada sistem pengolahan.
2) Hindari masukan minyak dalam jumlah banyak ke dalam
RBC. Sistem dapat mengolah minyak dan lemak dalam
jumlah tertentu. Jika minyak dan lemak terlalu banyak
hingga menutupi saluran permukaan air limbah di bak
pengendap I yang mengakibatkan terhalangnya air limbah
dengan udara.
3) Jangan membuang minyak dalam jumlah yang banyak di
pipa inlet.
4) Lumpur dan padatan yang terapung harus dibuang
minimum tiga bulan sekali untuk mempertahankan operasi
optimal dalam sistem.
5) Jangan masukan bahan-bahan yang tidak dapat diolah
secara biologis seperti plastik, karet, popok bayi, pembalut
wanita, rokok dan lain-lain.
6) Jangan masukkan bahan-bahan kimia ke dalam sistem
karena dapat mematikan bakteri yang digunakan untuk
pengolahan. Contohnya pembersih lantai, desinfektan,
bahan kimia yang bersifat asam atau basa, bensin, oli, dan
lain-lain.
7) Jangan hubungkan aliran listrik lain ke panel kontrol karena
akan merusak sistem kontrol.

c. Perawatan Mekanikal RBC
Mengingat RBC sangat mudah dioperasikan dan beberapa
pekerjaan dapat dilaksanakan secara otomatis, terdapat
kecenderungan untuk mengabaikan perawatan. Perlu diingat
bahwa kecermatan pengamatan akan sangat mendukung
program pemeliharaan dan perawatan sehingga dapat diperoleh
umur pakai dan kinerja terbaik. Untuk mencapai hal tersebut
langkah yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan bagian
bergerak, meliputi :
1) Pemeriksaan motor penggerak
a) Amati tingkat kepanasan motor (dapat dipegang dengan
tangan selama 5 menit).
b) Teliti dan cermati apakah ada bunyi gesekan yang tidak
wajar.
c) Perhatikan apakah ada gerakan/ayunan yang tidak
wajar.
2) Pemeriksaan Reducer/Gear Motor
a) Amati tingkat kepanasan pada reducer.
b) Amati ketinggian minyak pelumas dalam reducer.
c) Amati apakah ada gerakan/ayunan yang berulang.
3) Pemeriksaan Bantalan (Bearings)
a) Periksa pelumas pada bantalan, baik jumlahnya maupun
sifat pelumasannya. Bila gemuk sudah mengalami
penurunan dalam tingkat pelumasannya, ganti dengan
gemuk yang baru.
b) Amati apakah ada gerakan/hentakan/bunyi gesekan
yang tidak normal.
4) Indikasi Adanya Gangguan
Dengan pengamatan tersebut diatas indikasi adanya
gangguan pada:
a) Bantalan (Bearings) : menunjukkan kemungkinan
gangguan pada shaft.
b) Reducer : menunjukkan ketidak seimbangan beban
atau kedudukan motor dan reducer tidak kokoh.
c) Rantai
(1) Periksa keluasan rantai pada waktu berputar
(2) Periksa ketegangan rantai pada bagian sisi penarik
(tight strand) maupun bagian pengulur (slack strand).
Ketidak selarasan dan ketidakseimbangan pada rantai
menunjukkan perlu pengaturan ulang kedudukan
reducer.
d) Gigi jentera (Sprocket)
(1) Amati keausan pada gigi jentera.
(2) Amati keselarasan antara sprocket besar dan sprocket
kecil.
e) Bak Pelumas Rantai (Oil Bath)
(1) Periksa ketinggian oli yang ada, tambahkan bila
kurang
(2) Ganti Oli tersebut bila terkontaminasi (kotoran padat,
bercampur air, dan sebagainya)
5) Pengamatan terhadap Keteraturan Putaran RBC
Selain pengamatan terhadap bagian bergerak tersebut
diatas, perlu dilaksanakan pengamatan terhadap
keteraturan putaran RBC. Putaran dinilai normal apabila :
a) Putaran teratur dan tidak tersendat-sendat.
b) Apabila bagian RBC yang mengalami kelambatan, maka
pengamatan terhadap putaran RBC dibagi dalam
lingkaran. Apabila selisih waktu putaran antara
lingkaran kurang dari tiga detik, putaran RBC masih
dianggap normal.

3. Pengolahan Anoxic
Kegiatan pemeliharaan reactor anoxic umumnya sama dengan
peruses pengolahan dalam ASP sehingga, praktis metodanya
mengikuti ASP.

4. Biofilter
Kegiatan pemeliharaan yang diakukan pada reaktor biofilter adalah
membuang akumulasi sedimen, sampah dan puing-puing dari
manhole, media filter, dan permukaan bed. Perlu dilakukan
pengecekan media filter untuk mengetahui kemampuan media
dalam memfilter air limbah (membutuhkan regenerasi atau tidak).
Regenerasi kapasitas hidrolik biofilter juga mungkin memerlukan
pembersihan dan penggantian lapisan atas mulsa dan/atau tanah.
Jika sistem memiliki bypass, maka ketika sistem akan dikuras, aliran
air limbah dilampahkan ke dalam filter bed bervegetasi.


5. Bioreaktor Membran (Membran Bio Reactor, MBR)
Kunci untuk efektivitas biaya sistem MBR adalah merawat
membran. Jika membran tidak dirawat dengan baik maka masa
pakai membran dapat segera habis sehingga diperlukan
penggantian membran terus-menerus dan mengakibatkan biaya
operasional akan meningkat secara signifikan. Masa pakai membran
dapat ditingkatkan dengan cara berikut:
a. Penyaringan padatan yang berukuran lebih besar daripada pori
membran sebelum masuk ke dalam membran untuk melindungi
membran dari kerusakan fisik.
b. Daya dorong yang sesuai tidak berlebihan, yaitu yang tidak
mendorong sistem melebihi batas desain. Laju aliran kecil
mengurangi jumlah bahan yang dipaksa masuk ke membran,
sehingga mengurangi jumlah yang harus dikeluarkan oleh
pembersih atau yang dapat menyebabkan kerusakan membran.
c. Pembersih ringan harus secara teratur digunakan. Larutan
pembersih yang paling sering digunakan adalah termasuk
pemutih biasa (sodium) dan asam sitrat. Pembersihan harus
sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuatan membran.

6. Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR)
Pemeliharaan peralatan MBBR harus memperhatikan prosedur atau
petunjuk dari pabrik pembuatnya. Pompa, katup, media (biofilm)
dan aerator adalah peralatan mekanis yang perlu dirawat dengan
baik sesuai prosedur dari pabrik. Bersihkan dinding reaktor secara
berkala agar proses aerasi di dalam MBBR berlangsung dengan baik
dan tidak ada lumut yang menempel di dinding kolam. Selain itu,
perlu dilakukan penggantian biofilm secara berkala sesuai manual
dari pabrik atau ketika kondisi biofil telah jenuh, agar proses
pengolahannya tidak terganggu dan efisiensinya tetap tinggi.

B.4. UNIT PEMBUANGAN AKHIR
1. Pengentalan Lumpur (Thickening)
a. Periksa semua saluran air kondensat dan menghilangkan
akumulasi kelembaban.
b. Secara visual, lakukan pemeriksaan terhadap skimmer untuk
memastikan bahwa alat tersebut bekerja dengan baik.
c. Periksa wiper skimmer untuk dipakai.
d. Pasang pelat penghalang atau sejenis screen pada jembatan
gravity thickening untuk mencegah jatuhnya benda-benda ke
dalam tangki.
e. Apabila terdapat sampah atau barang barang yang tidak
seharusnya masuk ke dalam pipa pembuangan underflow maka
dengan cepat akan menghentikan operasi thickening.
f. Jika ada benda jatuh ke dalam tangki, segera hentikan operasi
gravity thickening untuk mencegah terjadinya overload pada
torsi.
g. Selama reaktor beroperasi, lakukan pengamatan dan mencatat
indikator torsi drive secara teratur, yang merupakan indikator
terbaik dari masalah mekanis.
h. Secara teratur memeriksa kapasitas pompa underflow karena
pompa digunakan secara cepat dan terus-menerus dalam
membuang lumpur hasil pengolahan proses gravity thickening.
i. Ikuti jadwal pelumasan yang direkomendasikan produsen dan
menggunakan jenis pelumas yang direkomendasikan sesuai
dengan kriterai dari pabrik. Minyak biasanya harus berubah
setelah pertama 250 jam operasi dan setiap 6 bulan setelahnya.
Contoh gambar gravity thickening terdapat pada Gambar
berikut.

Gambar 3.46. Teknologi Pengolah Lumpur Gravity Thickening
2. Pengolahan Lumpur (Sludge Digestion)
Overload hidrolik dan organik terjadi ketika desain hidrolik atau
organik melampuai batas atau lebih dari 10% per hari. Kondisi
kelebihan beban dapat dikontrol dengan mengelola makanan
mikroba pada digester, serta memastikan bahwa volume digester
yang efektif tidak berkurang oleh akumulasi grit. Strategi
pengendalian yang efektif meliputi langkah-langkah berikut:
- Menentukan penyebab ketidakseimbangan.
- Memastikan penyebab ketidakseimbangan.
- Memberikan kontrol pH hingga proses kembali normal.
Jika hanya satu tangki digester yang dipengaruhi, pemuatan di unit
yang tersisa dapat dengan hati-hati ditingkatkan untuk
memungkinkan unit kembali pulih.
a. Suhu
Perubahan suhu yang ekstrim dapat disebabkan oleh
perubahan suhu digester lebih dari 1 atau 2 C dalam waktu
kurang dari 10 hari. Hal ini dapat mengurangi aktivitas
biologis mikroorganisme pembentuk metana. Jika pembentuk
metana tidak cepat dihidupkan kembali, pembentuk asam,
yang tidak terpengaruh oleh perubahan suhu, terus
menghasilkan asam volatil, yang pada akhirnya akan
mengkonsumsi alkalinitas yang tersedia dan menyebabkan pH
menurun.
b. Pengendalian Keracunan
Proses anaerob sensitif terhadap senyawa tertentu, seperti
sulfida, asam volatil, logam berat, kalsium, natrium, kalium,
oksigen terlarut, amonia, dan senyawa organik terklorinasi.
Senyawa tersebut dapat berbahaya atau tidak tergantung pada
banyaknya variabel, termasuk pH, beban organik, suhu, beban
hidrolik, kehadiran bahan lainnya, dan rasio konsentrasi zat
beracun dengan konsentrasi biomassa.
c. pH Kontrol
Kunci untuk mengendalikan pH digester adalah
menambahkan alkalinitas bikarbonat yang direaksikan dengan
asam dan buffer agar pH dalam sistem berkisar 7,0. Bikarbonat
dapat ditambahkan secara langsung atau tidak langsung.
Bahan kimia yang dapat digunakan untuk penyesuaian pH
yaitu kapur, natrium bikarbonat, natrium karbonat, natrium
hidroksida, amonium hidroksida, dan amonia gas. Kapur
selain bisa menaikkan pH juga menghasilkan endapan kapur
dalam bentuk CaCO3. Meskipun senyawa amonia dapat
digunakan untuk pengaturan pH, akan tetapi senyawa tersebut
dapat menyebabkan keracunan amonia dan meningkatkan
beban amonia pada proses pengolahan. Akibatnya,
penggunaannya tidak dianjurkan.

3. Pengeringan Lumpur (Sludge Dewatering)
Sebuah metering pumps akan kehilangan kapasitas dan menjadi tidak
menentu ketika suction atau discharge valve menjadi aus atau saat
kondisi hidrolik sangat kritis. Kondisi ini akan ditunjukkan dengan
uji silinder. Selain itu, puing-puing di bahan kimia juga dapat
menghambat atau memblokir check valve, sehingga menghambat
operasi dan menurunkan kinerja pompa. Apabila terjadi kondisi
tersebut, hal yang dapat dilakukan adalah :
a. Pemeriksaan secara Umum
1) Secara berkala membersihkan dan mengkalibrasi tingkat
pengukuran dan indikasi instrumentasi dalam tangki
penyimpanan cairan dan kering.
2) Periksa level dan kondisi minyak dalam gear reducer.
3) Periksa kondisi semua permukaan yang dicat.
4) Bersihkan kotoran, debu, atau minyak dari permukaan
peralatan.
5) Periksa semua sambungan listrik.
6) Berhenti dan mulai peralatan, memeriksa tegangan, amp draw,
dan setiap gerakan karena bearing yang bermasalah,
pelumasan yang tidak benar, atau penyebab lainnya.
7) Periksa motor penggerak untuk setiap panas yang tidak biasa,
kebisingan, atau getaran.
b. Pemeriksaan secara Khusus
Secara khusus, pemeliharaan dewatering pada tiap unit yaitu :
1) Filter Press
Ikuti rekomendasi semua produsen peralatan. Beberapa hal
yang perlu mendapat perhatian khusus adalah sebagai
berikut:
a) Penanganan Plate dan frame rails memerlukan grease
untuk mencegah keausan.
b) Lempeng rantai shifter atau perangkat pergeseran
lempeng lainnya memerlukan pelumasan yang cukup
sering.
c) Bahkan jika shredder yang digunakan sebelum tahap
pengkondisian, kain akan cepat menumpuk pada semua
pisau mixer mekanik. Ini harus sering dibuang untuk
mencegah kerusakan gigi mixer dan bantalan poros dari
operasi yang tidak seimbang.
d) Ferri klorida, asam klorida, kapur, dan amonia
menyebabkan korosi yang cukup pada permukaan
logam, seperti rantai shifter, dan bahkan pelat baja di
bawah penutup karet keras. Pembersihan dan pelumasan
yang sering diperlukan untuk mengurangi korosi. Hal
yang dapat dilakukan untuk menangani korosi pada
permukaan logam adalah dengan melapisi baja dengan
bubuk, pelat polypropylene, dan frame rails polytetrafluoro
berlapis. Selain itu, menambahkan inhibitor untuk asam
klorida akan mengurangi sifat korosi pada logam.
e) Dari waktu ke waktu, kain dan gasket harus dibuang,
plate harus dibersihkan, serta kain baru dan gasket perlu
dipotong dan diinstal.
2) Belt Filter
a) Rol dan bantalan memerlukan pelumasan yang cukup
sering. Ikuti operasional dari produsen dan manual
pemeliharaan untuk jadwal pelumasan. Hal ini dapat
mengakibatkan bantalan rol dan sabuk penggerak motor
lebih tahan lama.
b) Cuci bawah belt filter setiap hari setelah menyelesaikan
pergeseran dewatering. Hal ini untuk mencegah
pengeringan cake dan terakumulasi di bagian yang
berbeda dari belt filter tersebut.
c) Konfirmasikan bahwa semua rol berputar dengan bebas.
d) Periksa per minggu untuk bantalan yang rusak.
e) Periksa penggiling yang mencegah partikel besar dari
memasuki pers dua kali per tahun.
f) Bersihkan nozel air cuci sesering yang diperlukan (ini
tergantung pada kualitas air pencucian). Hal ini
memastikan pembersihan yang tepat dari belt.
g) Bersihkan chicanes (bajak) di bagian gravitasi setelah
mematikan pers.
h) Untuk setiap pemeliharaan bagian mekanis kompleks belt
filter, hubungi pabriknya untuk meminta saran.

3) Sludge Drying Bed
Pemeliharaan Sludge Drying Bed cukup mudah. Cukup
membersihkan tempat pengering lumpur setelah lumpurnya
kering dan merawat agar dinding Sludge Drying Bed tidak
korosi atau retak-retak. Selain itu, pastikan bahwa drain yang
ada di bagian bawah berfungsi dengan baik serta lakukan
pengecekan media yang digunakan dalam Sludge Drying Bed.
Apabila media telah menipis maka perlu dilakukan
pergantian media.


C. REHABILITASI
Rehabilitasi SPALT adalah perbaikan atau penggantian sebagian/seluruh unit
SPALT yang perlu dilakukan agar dapat berfungsi secara normal kembali.
Rehabilitasi SPALT adalah tanggung jawab Penyelenggara SPALT dan
bertujuan untuk menjamin kualitas air limbah yang diolah sesuai dengan baku
mutu yang telah ditentukan pada daerah masing-masing. Rehabilitasi
dilaksanakan apabila unit-unit dan komponen SPALT sudah tidak dapat
beroperasi secara optimal. Rehabilitasi dapat memperoleh bantuan teknis dari
Pemerintah dan Pemerintah Daerah apabila diperlukan.
Rehabilitasi SPALT meliputi rehabilitasi sebagian dan rehabilitasi keseluruhan.
Rehabilitasi sebagian pada unit pelayanan (sambungan rumah), unit
pengumpulan, unit pengolahan, dan unit pengolahan lumpur atau
pembuangan akhir yang bersifat memperbaiki kinerja dan tidak meningkatkan
kapasitas dapat dilaksanakan oleh penyelenggara SPALT dengan tetap
berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun
demikian bila rehabilitasi dilaksanakan sendiri oleh penyelenggara, maka
penyelenggara harus memiliki tenaga kerja konstruksi yang bersertifikat.
Rehabilitasi keseluruhan lebih bersifat peningkatan kapasitas dan dilaksanakan
oleh penyedia jasa sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rehabilitasi dilaksanakan oleh penyedia jasa melalui proses pengadaan jasa
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyedia jasa tersebut
harus memiliki ijin usaha konstruksi dan memiliki tenaga kerja konstruksi
yang bersertifikat.

C.1. UNIT PELAYANAN

C.1.1. Bak Penangkap Lemak
Permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul pada bak penangkap
lemak dan solusinya dijabarkan sebagai berikut :
1. Minyak dan lemak mengapung di permukaan sebelum penyekat
hilir dan tidak dapat di skim. Hal ini disebabkan :
a. Fasilitas pipa celah diputar pada permukaan minyak belum
tersedia. Jika hal ini terjadi sebaiknya jangan mencoba untuk
skim dengan cara lain. Akan lebih baik apabila mengatur
penyemprotan insektisida ringan sekali sehari pada scum.
b. Tidak disediakannya platform operasi dengan pegangan tangan.
Hal yang dapat dilakukan adalah penyediaan platform.
c. Pipa celah yang tidak berputar. Hal yang dapat dilakukan
adalah mencoba untuk melonggarkannya dengan meniup udara
panas di sekitar perumahan di ujungnya. Hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan rambut kering. Berdiri di luar
pada tangga dan bukan pada jebakan minyak. Jika tidak
berhasil, hubungi pemasok peralatan.
2. Pada musim panas asap terlihat di atas unit. Hal ini disebabkan
minyak dari scum menjadi panas dan mulai memancarkan asap.
Solusi untuk permasalahan ini adalah segera menempatkan atap
yang ringan tidak mudah terbakar pada unit dan pasang atap yang
ringan tidak mudah terbakar dengan 4,5 m headroom.

C.1.2. Bak Kontrol
Bak kontrol harus bebas dari sampah agar tidak terjadi penyumbatan di
dalamnya. Jika diperlukan dapat ditambahkan saringan untuk
menghindari sampah yang masuk ke dalam bak dan lakukan
pembersihan bak kontrol secara berkala dari endapan dan sampah yang
lolos saringan. Jika terdapat bagian dinding bak yang rusak, segera
perbaiki. Jika terjadi penyumbatan, kemungkinan terdapat sampah yang
masuk atau endapan di dasar bak, segera bersihkan secara manual
dengan menggunakan pengeruk.


C.1.3. House Inlet (HI)
Rehabilitasi HI hampir sama dengan bak kontrol yaitu jika terdapat
bagian dinding bak yang rusak, segera perbaiki. Jika terjadi penyumbatan
dalam HI, kemungkinan terdapat sampah yang masuk atau endapan di
dasar bak, segera bersihkan secara manual dengan menggunakan
pengeruk.

C.1.4. Inspection Chamber (IC)
IC berfungsi untuk melakukan pengecekan, pemeliharaan dan
pembersihan saluran air limbah. Jika terdapat penyumbatan pada IC
perlu dibersihkan segera agar aliran air limbah tidak terganggu. Hal ini
dapat terjadi kemungkinan karena adanya endapan dan sampah padat
yang tidak sengaja masuk ke dalamnya.




C.2. UNIT PENGUMPULAN
C.2.1. Jaringan Perpipaan
1. Jenis Perbaikan
a. Pipa dangkal : pipa yang sering pecah akibat beban bergerak.
b. Pipa dalam : mesin pompa dan drop manhole

2. Perbaikan Sambungan Rumah
Adapun hal-hal yang menyangkut perbaikan sambungan rumah
adalah sebagai berikut.
a. Biarpun pemeliharaan pipa persil adalah tanggung jawab
Pemilik/peng-usaha/rumah/persil, namun badan pengelola pipa
bisa juga memberikan pelayanan jasa pemeliharaan.
b. Jika sambungan rumah buntu, maka pemilik/pengusaha melapor
kepada badan pengelola pipa, agar dilakukan pemeriksaan.
c. Petugas akan memperbaiki. Setelah diperbaiki, testing perbaikan
dilakukan, sampai berjalan normal. Adapun segala biaya
perbaikan tergantung pada peraturan yang ada.

C.2.2. Bangunan/ Sistem Pelengkap
C.2.2.1. Manhole
Degradasi fungsi akibat kerusakan harus dikonfirmasi dan perlu
perbaikan dan rehabilitasi manhole harus dilakukan. Metode perbaikan
manhole dapat diklasifikasikan ke dalam metode konstruksi kedap air,
metode lapisan, metode perbaikan parsial (metode open-cut), dan metode
penggantian penutup manhole. Sebelum perbaikan, tujuan dari perbaikan
harus diklarifikasi, kondisi kerja dipelajari, dan barang-barang di bawah
ini harus diperhatikan, dan kemudian perbaikan harus dilakukan.
1. Jika penutup sudah aus atau rusak, maka harus segera diganti.
2. Jika material berkarat dan perlu diganti, maka harus diganti dengan
peralatan tahan korosi.
3. Jika bagian internal dari manhole dan gorong-gorong bawah yang
rusak atau usang, mereka harus segera diganti.

C.2.2.2. Pompa
Rehabilitasi pompa didefinisikan sebagai pembersihan, penghapusan,
perbaikan dan/atau penggantian dan/atau semua komponen
termasuk namun tidak terbatas pada pipa, pompa, motor, dan valve.
Permasalahan permasalahan yang mungkin muncul pada
pengoperasian pompa untuk air limbah adalah :
1. Pengoperasian pompa dihentikan dan dilaporkan pada petugas
yang berkompeten apabila terjadi kavitasi yang mengubah
keseimbangan impeller atau terjadi tekanan balik pada pompa.
Gejala ini dapat diketahui dari :
a. Kavitasi telah mengubah keseimbangan dinamis impeller, gejala
ini dapat diketahui dengan memeriksa suara menggelegak yang
tidak biasa dari volute pompa.
b. Pompa utama mengalami masalah dan terjadi tekanan balik
pada pompa. Hal ini dapat diketahui dengan memastikan
bahwa ujung outlet dari pompa utama bebas dari gangguan
atau tidak ada yang menyumbatnya. Jika pipa tersumbat, tutup
valve yang menuju pompa dan memotong pipa yang
bermasalah.
2. Motor pompa air limbah memanas melampaui batas yang diijinkan.
Jika hal ini terjadi, verifikasi dengan manual pompa. Jika terus
terjadi pemanasan yang berlebihan, hentikan pemakaian pompa dan
melaporkannya kepada petugas yang berkompeten.
3. Pompa air limbah mengeluarkan suara berisik. Hal ini dapat terjadi
apabila bantalan pada pompa telah aus atau kavitasi telah
melonggarkan pada bagian impeller. Hal yang harus dilakukan
adalah :
a. Ukur besarnya suara yang dikeluarkan oleh pompa
menggunakan alat desibel level meter dan memverifikasi dari
jarak 1 m.
b. Jika tingkat kebisingan melebihi 80 dB, menghentikan pompa
dan melaporkannya kepada petugas yang berkompeten.
4. Pompa air limbah terasa bergetar. Hal in dapat terjadi karena
pondasi baut atau kavitasi telah terjadi di dalam pompa. Solusi
untuk permasalahan ini adalah memasang pondasi baru di luar
pondasi lama. Selain itu, membuat kerangka adaptor dan remount
pada pelat dasar.
5. Pompa tampaknya beroperasi akan tetapi flow meter tidak mencatat
aliran apapun. Check Valve mungkin telah macet dan aliran
bertekanan tidak bisa membuka tutup dari chek valve tersebut. Hal
yang sama dapat terjadi dengan gate valve. Solusinya adalah :
a. Ini harus diverifikasi dari kurva pompa dan aliran bertekanan
gauge. Coba lepaskan pengukur tekanan, kemudian coba
dikalibrasi pengukur tekanan dan memastikan bahwa pompa
berada pada kisaran penutup.
b. Segera matikan pompa, diatur ulang, dan memeriksa check valve,
dan lakukan perbaikan.
6. Pompa membuat suara berisik ketika dioperasikan tetapi tidak
mengeluarkan air limbah yang dipompanya.
a. Pompa mungkin tidak menerima tegangan, sehingga dilakukan
pemeriksaaan pembacaan voltmeter, Jika lebih rendah sebesar
5%, menghentikan pompa dan melaporkan kepada petugas
yang berkompeten atau beralih ke genset jika waktunya aliran
puncak.
b. Jalur aliran pompa mungkin dalam keadaan ditutup, sehingga
perlu diperiksa posisi air valve dan melepaskan udara yang
terjebak dengan membuka air valve. Jika air valve yang rusak,
mengganti bola di yang ada di dalamnya.
c. Jika pompa submersible, casing bawah mungkin telah retak dan
air limbah tidak dapat dipompa dengan benar. Dalam hal ini
pompa harus dimatikan dan fisik pompa dinaikkan di atas
permukaan air dan diperiksa. Jika retak yang terdeteksi,
mengambil memompa keluar dari layanan dan
mengirimkannya ke produsen pompa.
7. Aliran pompa putus ketika pompa diaktifkan. Hal ini dapat terjadi
karena motor pompa korsleting. Kejadian ini harus diverifikasi oleh
operator yang memenuhi syarat. Jika benar, keluarkan pompa dari
layanan dan tidak menginstalnya lagi, kecuali telah diperbaiki
sepenuhnya.







Gambar 3.47. Contoh Pompa untuk Air Limbah


C.3. UNIT PENGOLAHAN
C.3.1. Pengolahan Fisik
C.3.1.1. Sumur Pengumpul
Bangunan sumur pengumpul umumnya dari konstruksi beton bertulang
dan rapat air. Kerusakan dapat terjadi karena ada gempa, tanah longsor,
banjir, ataupun bocor karena umur pakai. Akar pohon beringin dapat
merusakkan struktur sumur pengumpul. Rehabilitasi sebagian dengan
injeksi beton atau rehabilitasi keseluruhan untuk kerusakan-kerusakan
menyeluruh

C.3.1.2. Saringan Sampah (Screen)
1. Manual Bar Screen
a. Batang screen tersumbat plastik, kain, pembalut wanita, dan lain-
lain. Solusinya adalah tempatkan pengaturan deflektor di aliran
air dan membersihkan screen secara manual dengan
menggunakan pengeruk.
b. Operator merasa tidak aman untuk berdiri dan melakukan
pengerukkan. Hal ini disebabkan lebar platform terlalu kecil dan
tidak ada pegangan di belakangnya. Hal yang perlu dilakukan
adalah menambahkan lebar ekstra platform dengan pegangan di
ujung hulu.
c. Peningkatan kuantitas limbah atau aliran limbah puncak yang
lebih tinggi atau limbah industri dapat terjadi, sehingga hal
yang perlu dilakukan adalah :
- Jika gravitasi tidak mengizinkan dan arus sangat tinggi,
menuntut ruang screen tambahan.

2. Mekanik Bar Screen
a. Pemutaran turun kembali ke saluran limbah. Hal ini dapat
disebabkan flap pada plate di atas dan membutuhkan setting
ulang. Sebaiknya hal ini tidak diselesaikan oleh operator. Lebih
baik menghubungi pemasok peralatan.
b. Raker bergerak naik turun dengan suara keras. Hal ini dapat
disebabkan karena pengaturan mekanis rusak.
c. Motor berjalan namun raker tidak bergerak. Hal ini dapat
disebabkan pin geser mungkin rusak, atau tali katrol mungkin
longgar, atau rak dan pinion tidak dalam jaring. Sebaiknya
menghubungi pemasok peralatan.
d. Screen mulai bergerak dan tiba-tiba mati. Torsi motor listrik
tidak memadai. Sebaiknya tidak dilakukan oleh operator dan
menghubungi pemasok peralatan.
e. Pemutaran biasa atau berlebihan
Peningkatan kuantitas limbah atau aliran limbah puncak yang
lebih tinggi. Hal yang dapat dilakukan :
- Pastikan arus dan memotong arus puncak kembali ke ruang
inlet selama jam puncak jika kondisi memungkinkan.
- Jika kondisi tidak memungkinkan dan arus sangat tinggi,
perlu adanya tambahan screen.

C.3.1.3. Bak Penangkap Pasir (Grit Chamber)
1. Grit tidak dapat mengendap. Hal ini dapat disebabkan kecepatan
yang bervariasi antara aliran rata-rata dan kondisi aliran puncak,
sehingga perlu ditinjau ulang desain bangunannya.
2. Bahan organik yang berlebihan di dalam grit. Hal ini dapat terjadi
ketika aliran kecil dan kecepatan melalui detritors kurang dari
kecepatan desain. Solusi yang dapat diberikan:
- Mengurangi jumlah saluran grit paralel yang digunakan.
- Hidupkan pompa sementara untuk mengatur ulang aliran
outlet.
- Masukkan papan atau tembok sepanjang panjang grit untuk
mengurangi lebar aliran dan meningkatkan kecepatan.
3. Akumulasi grit. Hal ini dapat terjadi karena kecepatan terlalu tinggi
dan waktu detensinya terlalu pendek. Penyelesaian atas
permasalahan ini dapat berupa :
- Meningkatkan frekuensi removal grit
- Tambah lebih banyak saluran atau memperkenalkan
pemerataan cekungan untuk raw sewage.

C.3.1.4. Bak Pengendap I (Primary Sedimentation)
1. Scum mengalir di weirs. Hal ini dapat terjadi karena scum baffled
tidak disediakan. Solusi untuk permasalahan ini adalah :
a. Gunakan alat pengeruk manual untuk membersihkan scum
apabila terdapat jembatan (untuk jalan akses) diatas reaktor. Jika
tidak ada jembatan, langkah pertama yang dilakukan adalah
memasang platform melingkar dengan dilengkapi tempat
pegangan tangan.
b. Pemasangan instalasi scum baffled di sekeliling reaktor dengan
dilengkapi scraper.
2. Sludge solid mulai mengapung di atas reaktor disebabkan
tersendatnya pipa penyalur lumpur. Solusinya adalah :
a. Jika pembuangan lumpur dilakukan secara gravitasi, bukalah
valve pada pipa penyalur lumpur. Jika tidak ada lumpur yang
keluar, kemudian pompakan udara bertekanan ke dalam pipa
jika terdapat sambungan "Tee" flange. Jika tidak ada "Tee", maka
gunakan mesin sewer jet rodding pada tekanan rendah kurang
lebih selama satu menit dan diulangi setelah 1 jam.
b. Jika lumpur masih tidak keluar setelah dipompakan udara
bertekanan, ambil alih limbah dari primary sedimentation, dan
ambil lumpur yang terdapat pada reaktor secara manual dengan
menggunakan pompa diesel yang telah disambung dengan
selang.
3. Lengan scraper untuk membersihkan lumpur tidak memutar. Hal
ini dapat disebabkan karena jamming motor, unit gearbox atau terjadi
kerusakan mekanisme transmisi. Apabila terjadi seperti
permasalahan ini, langkah yang harus dilakukan adalah :
a. Periksa ketersediaan pasokan listrik di terminal motor.
b. Jika koneksi dan saklar tidak dalam masalah, segera
menghubungi produsen peralatan untuk memperbaikinya.
4. Pertumbuhan berlebih dari biomassa pada V-notches di weir. Hal iini
dapat dibersihkan dengan menggunakan alat pengeruk manual
untuk membersihkan kelebihan biomassa di weir apabila terdapat
jembatan (untuk jalan akses) diatas reaktor. Jika tidak ada jembatan,
langkah pertama yang dilakukan adalah memasang instalasi scum
baffled di sekeliling reaktor dengan dilengkapi scraper.
5. Pompa lumpur beroperasi selama beberapa menit dan berhenti tiba-
tiba. Hal ini dapat terjadi disebabkan :
a. Jika horizontal foot dipasang pompa sentrifugal, gland packing
mungkin terlalu ketat. Solusinya adalah verifikasi sambungan
listrik, dan matikan motor. Lepaskan gland packing dan setting
ulang dengan benar. Bahkan setelah langkah-langkah ini, jika
pompa tidak bekerja, segera hubungi pemasok pompa.
b. Jika itu adalah perpindahan positif stator-rotor pompa, stator dan
rotor mungkin macet, sebaiknya menghubungi pemasok pompa.
6. Sludge tidak mengalir secara gravitasi dalam tangki pengendapan
lumpur. Penyebabnya adalah grit telah memasuki tangki dan telah
membuat pipa pembuangan dari tangki hopper macet. Langkah yang
harus dilakukan adalah menginstal pompa angkat udara pada
bagian atas tangki dan mengevakuasi grit secara berkala, kemudian
mencoba untuk meningkatkan efisiensi removal peralatan grit.

C.3.1.5. Bak Pengendap II (Clarifier)
Permasalahan dalam clarifier tentang masalah lumpur sama dengan
permasalahan yang terjadi pada primary sedimentation, sehingga
rehabilitasi yang dilakukan juga hampir sama.


C.3.2. Pengolahan Biologis
C.3.2.1. Pengolahan Aerobik
1. Kolam Aerasi (Aerated Lagoon)
a. Gulma tumbuh di dalam kolam
Minimum kedalaman kolam 1 m agar gulma tidak dapat
tumbuh. Solusi:
- Periksa dan memperbaiki kedalaman limbah dengan
menambahkan siku atau menekuk ke pipa outlet untuk
mendapatkan kedalaman minimal 1 m di kolam. Pipa inlet
mungkin tetap terendam.
- Memverifikasi mengenai ketinggian freeboard minimum
adalah 0,5 m. Jika tidak, bund harus ditingkatkan sepanjang
kolam.
b. Terlalu banyak ganggang di kolam air limbah
Hal ini biasa terjadi pada kolam aerobik dan tidak dapat
dihindari. Selama air limbah dalam kolam mengalir dan
mendapatkan pencahayaan yang cukup, ganggang tidak
menjadi masalah dan sistem ekologi tidak perlu terganggu.
c. Bau menyengat dari ganggang mati di kolam terutama terjadi di
musim kemarau. Salah satu alasan yang mungkin adalah aliran
yang sangat kecil dibandingkan dengan aliran desain, dengan
demikian waktu detensi air limbah di kolam menjadi sangat
lama. Solusi:
- Cek kriteria desain kolam aerasi telah sesuai dengan
standar atau belum.
- Bersihkan ganggang yang mati di kolam secara manual.

2. Proses Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)
a. Mikroorganisme tidak tumbuh
Hal ini dapat terjadi karena bahan organik, nitrogen dan fosfor
yang ada kuantitasnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan
oleh mikroorganisme. Hal yang dapat dilakukan adalah
mengecek besarnya F/M ratio yang ada pada air limbah. Jika
tidak sesuai maka diperlukan penambahan nutrisi seminggu
sekali atau sesuai kebutuhan.
b. Kemungkinan adanya bahan beracun dalam air limbah yang
dapat menyebabkan mikroorganisme mati. Solusinya adalah :
- Lakukan pengecekan kualitas air limbah sebelum
dilakukan pengolahan. Jika terdapat kandungan limbah B3
maka diberi pre-treatment terlebih dahulu sebelum
dilakukan pengolahan secara biologis.
- Pre-treatment dapat dilakukan dengan menambahkan
bahan kimia sesuai dengan jenis B3 yang ada pada air
limbah.
c. Tangki aerasi berbusa dan berwarna putih
Hal ini merupakan hal yang wajar karena lumpur masih muda
dan tidak tua. Busa dapat dibersihkan tanpa ada kekhawatiran.
Solusinya adalah mencoba untuk menyemprotkan air limbah
menggunakan pompa sementara, setiap dua kali dalam sehari.
d. Tangki aerasi berminyak sangat gelap dan berbusa
Hal ini dapat terjadi karena adanya kemungkinan tumbuhnya
organisme berfilamen seperti mikroorganisme Nocardia. Solusi
atas permasalahan ini adalah :
- Dilakukan pemeriksaan kualitas air limbah pada tangki
aerasi dan mengidentifikasi mikroorganisme yang terdapat
dalam air limbah.
- Meningkatkan pembuangan lumpur sebesar 10% sampai
tingkat MLSS yang diinginkan atau tingkat yang ingin
dicapai.
e. MLSS berwarna hitam dan busa yang muncul berwarna gelap.
Hal ini dapat terjadi karena kurangnya oksigen dalam tangki,
sehingga terjadi kondisi anaerobik. Hal yang dapat dilakukan
adalah :
- Memeriksa besarnya DO dalam tangki aerasi.
- Jika memungkinkan, tingkatkan kadar aerasi atau
ditambahkan aerator dalam tangki. Apabila tidak tersedia
laporkan kepada bagian yang menangani air limbah untuk
menyediakan tambahan aerator.
f. Konsentrasi MLSS bervariasi antara tangki aerasi yang
diparalelkan. Hal ini dapat disebabkan karena distribusi aliran
yang tidak sama atau resirkulasi lumpur yang tidak sama ke
tangki aerasi. Solusi atas permasalahan ini adalah memeriksa
laju aliran dan besarnya debit resirkulasi lumpur ke tangki
aerasi.
g. Konsentrasi resirkulasi lumpur terlalu rendah (berkisar < 8.000
mg/L). Kondisi ini dapat terjadi karena resirkulasi lumpur
terlalu tinggi, adanya pertumbuhan mikroorganisme berfilamen,
dan kecepatan mekanis kolektor tidak memadai. Solusi atas
permasalah ini adalah :
- Periksa mikroorganisme atau mikro biota dan kadar besi
terlarut.
- Periksa konsentrasi resirkulasi lumpur dan mass balance
pada reaktor dan lakukan uji settleability
- Periksa mikro biota, DO, pH dan konsentrasi nitrogen,
meningkatkan DO dan pH, menambahkan suplemen
nitrogen dan menambahkan klorin.
- Sesuaikan kecepatan mekanisme kolektor.


3. Extended Aeration
Rehabilitasi peralatan mekanis pada reaktor ini perlu
memperhatikan prosedur atau manual dari pabrik pembuatnya.
Sedangkan jika dinding reaktor terdapat banyak lumut, segera
bersihkan dengan menggunakan pengeruk manual.


4. Parit Oksidasi (Oxidation Ditch)
Permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dalam proses
oxidation ditch dan solusi atas permasalahan tersebut secara ringkas
dibahas pada Tabel berikut.
Tabel 3.15. Permasalahan Pada Oxidation Ditch
Masalah Penyebab Solusi
Bulking Sludge, dimana
lumpur dari reaktor
mempunyai karakteristik
pengendapan jelek atau
kompaktibilitas kurang
bagus.
Berkembangnya organisme
filamentous, terutama
sphaerotilas yang tidak dapat
mengendapkan dibawah
kondisi kurang/tidak sesuai
atau
- DO dan pH rendah
- Rasio F/M tinggi
- Nutrien kurang
- Lonjakan beban organik
Dapat dikurangi atau
dihilangkan dengan cara
- Tingkatkan DO di TA
hingga 2 mg/liter
- Tambahkan kapur hingga
pH > 8
- Klorinasi berat hingga
membasmi organisme
penyebab bulking
Lumpur mengambang di
klarifier
Tebal selimut lumpur terlalu
tinggi
Sediakan clear zone diatas
selimut sludge 0,5 m dengan
menambah waste sludge secara
bertahap
Deflokulasi di klarifier - pH rendah/rendah
- Nutrien kurang
- Mengandung bahan toksik
-Tambahkan kapur
-Tambahkan nutrien
-Pengendalian influen
Flok berjurai (straggler floc)
di klarifier
- Lumpur terlalu muda
- MCRT rendah
- Lonjakan beban organik
-Tambahkan kapur
-Tambahkan nutrien
-Pengendalian influen
Floc seperti peniti (pin floc) di
klarifier terutama pada sistem
extended aeration
- Aerasi berlebihan
- Lumpur terlalu tua
- MCRT tinggi
-Pola operasi aerator
-Naikkan lumpur terbuang
secara bertahap hingga
MCRT minimum
Buih putih bergelembung - Lumpur terlalu muda
- MCRT rendah
- DO rendah
- Lonjakan beban organik
- Mengandung bahan toksik
-Kurangi lumpur terbuang
secara bertahap
-Pola operasi atau modifikasi
aerator
-Pengendalian influen
Buih coklat tua dan
tebal/kental
- Lumpur terlalu tua
- MCRT tinggi
Naikkan lumpur terbuang
secara bertahap hingga
MCRT minimal


C.3.2.2. Pengolahan Anaerobik
1. Filter Anaerobik (Anaerobik Filter)
Anaerobic Filter tidak akan beroperasi pada kapasitas penuh selama
enam sampai sembilan bulan setelah instalasi karena start upnya
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menstabilkan
biomassa. Oleh karena itu, teknologi anaerobic filter tidak dapat
digunakan untuk kebutuhan pengolahan limbah yang membutuh
waktu cepat.
Anaerobic Filter harus kedap air dan tidak boleh ada kebocoran.
Reaktor ini dapat dibangun di atas atau di bawah tanah. Selain itu,
reaktor ini juga dapat dirancang pada setiap jenis iklim, meskipun
efisiensi akan terpengaruh.
Untuk mencegah pelepasan gas yang berpotensi membahayakan,
reaktor ini juga harus dilengkapi dengan pipa vent untuk
menyalurkan gas yang dihasilkan dari proses biologis anaerobik di
dalam reaktor.

2. UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanked)
Upflow Anaerobic Sludge Blanket Reactor (UASB) adalah proses tangki
tunggal. Air limbah memasuki reaktor dari bawah, dan mengalir ke
atas. Media yang digunakan dalam reaktor berasal dari butiran
mikroba, yaitu aglomerasi kecil (dengan diameter (0,5-2) mm).
Mikroorganisme ini berperan untuk mendegradasi senyawa
organik. Selain air limbah yang telah diolah, output dari reaktor ini
juga menghasilkan gas (metana dan karbon dioksida).
Setelah beberapa minggu penggunaan, butiran lebih besar dari
bentuk lumpur yang pada gilirannya bertindak sebagai filter untuk
partikel yang lebih kecil dengan meningkatnya limbah melalui bed
lumpur. Gas yang naik ke atas dikumpulkan dalam suatu reaktor
dan dapat digunakan sebagai energi (biogas).
Kecepatan upflow dari (0,6-0.9) m/jam harus dipertahankan untuk
menjaga agar lapisan lumpur dalam kondisi tersuspensi. UASB
adalah salah satu teknologi pengolahan terpusat yang harus
dioperasikan, dirawat, dan direhabilitasi oleh staf terlatih atau
profesional. Seperti pada pengolahan air limbah yang lain, operator
harus dalam keadaan sehat dan memperhatikan aspek keselamatan
atau K3. Frekuensi pengurasan lumpur dapat dilakukan setiap (2-3)
tahun sekali. Operator tetap dibutuhkan untuk mengontrol dan
memantau penggunaan pompanya.

3. Kolam Anaerobik
Permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul dan solusi yang
diberikan terhadap permasalahan pada kolam anaerobik dijabarkan
sebagai berikut :
a. Bau dari Hidrogen Sulfida. Reaksi ini terjadi ketika terjadi
proses pemecahan hydrogen sulfide menjadi sulfat dalam kondisi
anaerobik. Solusi untuk mengurangi bau yang dihasilkan dari
proses ini adalah dengan menggunakan pohon aromatik seperti
Eucalyptus sebagai barrier disekitar kolam, minimal 3 m dari
ujung bund.
b. Scum yang dengan tampilan mengkilap yang di permukaan
kolam. Ini juga merupakan akibat dari mekanisme penguraian
komponen biologis dalam kondisi anaerobik. Solusi:
- Merancang tangki baffle sederhana yang mengalir secara
gravitasi pada inlet untuk memisahkan air limbah dari
minyak.
- Bersihkan permukaan kolam secara manual dengan
menggunakan pengeruk.
c. Munculnya gelembung dari kolam dan tersebar di permukaan
kolam, yang mengeluarkan lumpur berwarna hitam. Kejadian
ini menandakan bahwa sistem anaerob berlangsung dengan
baik. Produk akhir dari sulfida dan gas metana mengangkat
kolom lumpur sama dengan diameter dan ketika gelembung
muncul ke udara, lumpur menyebar kembali ke kolam. Ini
adalah bagian dari sistem kolam anaerobik dan tidak ada
tindakan yang perlu diambil untuk mengendalikannya. Namun,
jika lumpur di kolam telah terakumulasi hingga kurang lebih
hanya menyisakan sekitar 30 cm untuk kedalaman limbah cair,
lakukan penyedotan lumpur dari dalam kolam.


4. ABR (Anaerobic Baffled Reactor)
Lumpur yang terakumulasi dalam reaktor perlu dilakukan
penyedotan setiap 2 sampai 3 tahun atau jika volume lumpur sudah
hampir penuh. ABR cocok untuk diterapkan di lingkungan kecil.
Bisa dirancang secara efisien untuk aliran masuk (inflow) harian
hingga setara dengan volume air limbah dari 1000 orang (200.000
liter/hari). ABR tidak akan beroperasi ketika kapasitasnya penuh
untuk beberapa bulan setelah instalasi karena startup membutuhkan
waktu lama untuk pengolahan lumpur. Oleh karena itu, teknologi
ABR tidak dapat digunakan ketika diperlukan proses pengolahan
yang cepat.
ABR perlu dikosongkan secara teratur agar dapat bekerja secara
optimal, sehingga sebuah truk vakum untuk mengangkut lumpur
harus dapat mengakses lokasi. ABR dapat diinstal di setiap jenis
iklim, akan tetapi efisiensi pengolahan ABR akan terpengaruh di
daerah beriklim dingin.
Limbah dan lumpur dari proses pengolahan ABR harus ditangani
dengan hati-hati karena mengandung kadar organisme patogen
yang tinggi. Untuk mencegah pelepasan gas yang berpotensi
membahayakan, tangki harus dilengkapi dengan pipa vent yang
nantinya gas tersebut akan diolah lebih lanjut menjadi biogas.
Reaktor ABR harus diperiksa untuk memastikan bahwa reaktor
tersebut kedap air. Kadar sampah dan lumpur harus dimonitor
untuk memastikan bahwa tangki berfungsi dengan baik.
Mikroorganisme yang terdapat dalam reaktor ABR adalah
mikroorganisme anaerobik dan tidak tahan terhadap penambahan
bahan kimia, sehingga ketika perawatan harus dipastikan untuk
tidak melepaskan bahan kimia ke ABR. Lumpur harus dibuang
setiap tahun menggunakan truk vakum atau pipa penyedot lumpur
agar ABR dapat berfungsi secara optimal.

C.3.2.3. Pengolahan Kombinasi
1. Kolam Stabilisasi
Hal-hal yang menyangkut rehabilitasi kolam stabilisasi adalah sebagai
berikut.
a. Begitu terjadi kondisi atau masalah yang abnormal, personil
yang mengetahui harus melapor ke kepala IPAL.Dalam hal ini,
standby unit yang sudah siap harus segera menggantikan
b. Suku cadang dan onderdil yang rusak harus diganti sesuai
dengan petunjuk perawatan dari penjual mesin atau peralatan
tersebut.
c. Jika standby unit dan onderdil yang rusak tidak tersedia di
tempat, kepala IPAL harus memberitahu Kepala Dinas yang
membawahi IPAL secara mendetail, supaya bisa menghubungi
vendor.
d. Pada kasus gawat darurat yang luar biasa, kepala IPAL harus
menginstruksikan langkah- langkah optimum kepada operator-
operator tiap instalasi. Pada kasus terburuk, instalasi harus
dihentikan sementara dan limbah dialirkan lewat by-pass tanpa
pengolahan. Walau demikian, penghentian harus diminimalisir.
e. Untuk peralatan yang terpisah, periksa petunjuk perawatan
masing-masing peralatan tersebut.

2. Rotating Biological Contactor (RBC)
Hal-hal yang menyangkut rehabilitasi unit Rotating Biological Contactor
(RBC) adalah sebagai berikut.
Tabel 3.16. Rehabilitasi Rotating Biological Contactor
(RBC)
No Indikasi Penyebab Perbaikan
1 Bearing Berisik Rollers atau bearing rusak Ganti bearing cartridge
2 Grease Bearing
berubah warna
atau tercampur air
Grease didalam Bearing kurang Bersihkan bearing dan beri grease
baru serta tingkatkan frekuensi
pelumasan
3 Bearing menjadi
panas
1. Pelumasan tidak benar
2. Roller atau bearing race rusak


1. bersihkan bearing dan beri
grease serta tingkatkan
frekuensi pelumasan
2. Ganti bearing cartridge

4 Suhu reducer naik
hingga 90
0
C
Level oli terlalu tinggi atau
terlalu rendah
Jaga agar level oli tetap pada
garis batas.
5 Adanya tumpahan 1. Oli seal perlu diganti 1. Ganti oli seal
No Indikasi Penyebab Perbaikan
oli dari reducer 2. Ventilator tersumbat
sehingga tekanan didalam
reducer naik
3. Level oli terlalu tinggi
2. Bersihkan ventilator
3. Turunkan level oli
6 Reducer Berisik 1. Bearing pada reducer rusak
2. Worm gears didalam
reducer naik
3. Coupling antara motor &
reducer usang dan tidak
rata
1. Periksa bearing dan ganti
jika perlu
2. Ratakan shaft worm gears
3. Ratakan as coupling secara
vertikal
7 Motor berisik Bearing pada motor rusak Ganti Bearing
8 Motor terlalu
panas
1. Reducer terlalu panas
2. Fan / kipas pendingin
pada motor tersumbat
3. beban terlalu tinggi
4. motor mengesek stator

1. Periksa reducer
2. Bersihkan kipas/Fan
pendingin
3. Periksa apakah ada gesekan
berlebihan atau tidak
seimbang
4. Ganti bearing

10 Motor tidak mau
hidup
1. Masalah pada sumber
listrik
2. Listrik mati satu fasa pada
sumber
3. Fuse terbakar
1. Periksa sumber listrik
2. Hentikan penyalaan motor
3. Ganti fuse
11 Kualitas effluent
menurun
1. Blocking
2. Overload
1. Semprot media RBC,
rontokan mikroba yang
berlebihan.
2. Cek beban BOD yang
masuk, tambah media RBC
12 Limbah berbau 1. Overload
2. Mikroba pada RBC mati

1. Cek beban BOD yang
masuk, tambah media RBC
2. Cek toxinitas dari influent
13 Microb tidak
tumbuh
1. Kandungan organic pada
limbah sudah habis.
2. Influent mengandung
racun bagi microb
1. tidak perlu perbaikan
Apapun
2. Cek toxinitas dari influent
14 Effluent tidak bisa
mencapai standard
baku mutu limbah
Salah design Redesign



3. Pengolahan Anoxic
Rehabilitasi dalam system ini biasanya hanya terbatas pada aspek
fisik, atau berkaitan dengan konstruksi. Sementara dalam hal proses,
permasalahannya sama dengan ASP.
4. Biofilter
Berikut ini akan dipaparkan beberapa langkah rehabilitasi dan
pemeliharaan yang dapat dilakukan pada biofilter :
a. Ozon dapat ditambahkan ke sistem untuk mengoksidasi
kelebihan nitrit menjadi nitrat. Dengan memberikan nitrifiers
yang stabil, baik rekayasa habitat, dan pemeliharaan
lingkungan dapat dipertahankan secara konsisten.
b. Setelah biofilter beroperasi selama beberapa hari, lakukan
pengukuran statis dan memperluas tingkat pasir. Ini akan
memudahkan untuk membersihkan ekspansi pasir. Dengan
menggunakan meter air, mencatat laju aliran yang
menyebabkan terjadinya ekspansi. Kemudian, mengukur
kedalaman bed pada tingkat aliran lebih dari 25% dan kurang
dari 25%, serta mengidentifikasi bagaimana fluktuasi aliran
mempengaruhi ekspansi bed.
c. Konsentrasi Amoniak akan melonjak tajam dalam beberapa
minggu pertama hingga minggu ke enam, sedangkan nitrit
akan melonjak hingga + pada minggu kelima sampai sepuluh.
Penambahan garam dapat mengurangi efek racun dari nitrit
(ini juga membantu melawan amonia).
d. Jika menggunakan ozon (O3), itu akan mengubah beberapa
nitrit (NO2) menjadi nitrat (NO3). Sedangkan jika tidak
ditambahkan ozon, maka lonjakan nitrit akan lebih tinggi. Jika
menggunakan ozon sebagai metode buffering lonjakan nitrit,
perlu waspada agar tidak membuat ozon terlepas ke udara
lingkungan selama fase ini.
e. Jika tidak memiliki ozon, aliran balik (resirkulasi) dapat
ditingkatkan untuk mencegah akumulasi nitrit yang
berlebihan. pH dan suhu sangat tergantung pada proses yang
terjadi dalam biofilter, sehingga pengujian kualitas air sangat
penting untuk mengetahui kondisi dalam sistem.
f. Bed biofilter tumbuh tercepat selama tiga bulan pertama
berikut start-up ketika biofilm berada dalam fase pertumbuhan
logaritma.
g. Penyesuaian alkalinitas rutin diperlukan karena bakteri
nitrifikasi terus mengkonsumsi alkalinitas pada tingkat sekitar
7-mg (Dinyatakan sebagai CaCO3) per miligram total nitrogen
amonia (TAN) teroksidasi menjadi nitrat. Natrium bikarbonat
(NaHCO3) dianggap buffer paling aman dan termudah untuk
ditambahkan dalam sistem (NaHCO3 larut dengan cepat).

5. Bioreaktor Membran (Membran Bio Reactor, MBR)
Pembersih ringan atau larutan pembersih yang paling sering
digunakan dalam MBR dengan BRMt adalah pemutih biasa
(natrium) dan asam sitrat, secara teratur digunakan. Pembersihan
harus sesuai dengan manual pemeliharaan dan rehabilitasi yang
direkomendasikan produsen.

6. Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR)
Rehabilitasi peralatan mekanis pada reaktor ini perlu
memperhatikan prosedur atau manual dari pabrik pembuatnya.
Sedangkan jika dinding reaktor terdapat banyak lumut, segera
bersihkan dengan menggunakan pengeruk manual.



C.4. UNIT PEMBUANGAN AKHIR
1. Pengentalan Lumpur (Sludge thickening)
Permasalahan yang dapat terjadi dan solusinya dijabarkan sebagai
berikut :
a. Kekentalan lumpur tidak sesuai dengan desain
Biasanya waktu detensi minimal dibutuhkan untuk sludge solid
untuk membebaskan air terikat dalam lumpur. Jika ini tidak
terjadi, kekentalan lumpur menjadi tidak sesuai dengan desain.
Solusi untuk permasalahan tersebut:
1) Periksa volume lumpur dan air masuk ke tangki dari flow
meter yang terpasang. Mengatur aliran sehingga tidak
melebihi kriteria desain. Periksa juga flokulatornya.
2) Apabila setelah ini permasalah masih belum dapat di atasi,
alasannya terletak pada jenis lumpur bukan masalah
kekentalannya.Kemudian lanjutkan ke pengolahan lumpur
berikutnya.
b. Pertumbuhan biologis pada permukaan weir menjadi sangat
padat. Hal ini terkait dengan kecepatan aliran pada permukaan
weir dan kondisi temperatur. Jangan mengubah proses yang
berlangsung jika telah memenuhi kriteria desain. Solusi:
1) Alternatif sederhana untuk menyelesaikan masalah ini
adalah dengan melakukan pembersihan secara manual
menggunakan pengeruk atau scrubber pada permukaan
weir.
2) jika masalah terus berlanjut, pindahkan posisi V-notch dan
mengubah level air limbah pada weir.
c. Sludge solid yang meluap pada outlet weir
Selama laju aliran inflow dan outflow tidak melebihi kriteria
desain, masalah ini tidak ada hubungannya dengan thickener.
Jangan mengubah proses yang terjadi. Langkah yang
sebaiknya dilakukan adalah :
1) Lanjutkan proses ke clarifiers.
2) Tambahkan polyelectrolyte sebagai pelumas sementara
pada thickener.
d. Terlalu banyak lumpur atau benda asing di bagian bawah
thickener yang dapat menghambat gerakan bebas dari
flokulator. Solusinya adalah:
1) Cobalah meningkatkan frekuensi penarikan lumpur
sementara selama satu hari. Kemungkinan besar ini akan
mengatasi permasalahan.
2) Periksa gearbox visual untuk setiap gear yang patah dan
menghubungi pemasok peralatan.


2. Pengolahan Lumpur (Sludge Digestion)
Kegiatan ini mengidentifikasikan pengoperasian yang beresiko
tinggi bagi orang yang mencoba untuk melihat ke dalam unit ini.
Kadang-kadang lampu strobo yang diinstal di dalam digester
(untuk menerangi bagian dalam sehingga dapat dilihat dari luar)
tidak diperkenankan karena dapat menimbulkan percikan
sederhana pada terminal kabel sehingga digester dapat mudah
meledak karena di dalamnya terdapat gas metana. Semua
identifikasi kinerja digester harus dilakukan secara tidak langsung
dengan mengamati parameter kinerja dan tidak pernah dilakukan
secara langsung dengan memasukkan sesuatu ke dalam digester.
Orang merokok di dekat digester atau sambil berdiri di dekat
penampung gas cenderung menyebabkan kecelakaan parah.
Dalam praktek yang sebenarnya, tidak banyak operator yang dapat
memperbaiki mekanisme digester jika tidak berfungsi karena
bekerja pada peralatan tersebut adalah tugas yang sangat khusus
yang membutuhkan keterampilan tinggi dalam zona ledakan.
Operator hanya dibutuhkan untuk mengoperasikan pompa dan
motor eksternal. Semua jenis peralatan lainnya dilarang diperbaiki
oleh operator dan harus dilakukan oleh orang yang mempunyai
keahlian khusus. Oleh karena itu tips dari digester akan terbatas
hanya untuk proses kontrol.
Salah satu permasalahan yang biasa terdapat pada digester yaitu
produksi gas kurang dari desain. Hal ini dapat disebabkan oleh
alasan alasan berikut ini :
a. Produksi gas merupakan fungsi dari VSS, waktu detensi, dan
efisiensi pencampuran dalam digester. Mengukur VSS dalam
lumpur di laboratorium dan memverifikasi besarnya loading rate
dari aliran umpan kemudian dibandingkan dengan nilai-nilai
pad kriteria desain.
1) Jika VSS terlalu rendah, maka produksi gas pasti akan
sangat kecil.
2) Jika VSS terlalu tinggi, maka produksi gas juga akan tinggi.
Pertama, cek nilai VSS.
3) Jika kondisi per desain, itu adalah kasus yang jelas dari
kegagalan sistem pencampuran. Hubungi pemasok
peralatan.
4) Jangan memperbaikinya kecuali dalam kasus eksternal
resirkulasi pompa lumpur.
b. Kadang-kadang, pH digester mungkin kurang karena terlalu
banyak pengasaman. Hal ini dapat diperiksa di laboratorium
dan dibandingkan dengan catatan pada pengoperasin
sebelumnya.
1) Diperlukan peningkatkan pH sampai 6,8-7,2. Meskipun
larutan kapur adalah pilihan yang lebih mudah didapat dan
murah, akan tetapi penggunaan natrium hidroksida lebih
disukai karena tidak menghasilkan endapan lumpur yang
terlalu besar di dalam digester.
2) Apabila pH belum juga meningkat, berarti permasalahannya
bukan terletak pada proses tetapi pada peralatan di dalam
digester atau kualitas lumpur yang keluar dari clarifiers.
Pertama, cek pada kualitas lumpur per bagian. Jika
permasalahannya pada kualitas, segera hubungi pemasok
peralatan untuk memeriksa peralatan pencampuran dan
memperbaikinya hingga mencapai efisiensi maksimum.
c. Kadang-kadang ada masalah auto toksisitas ketika air dengan
kandungan TDS tinggi digunakan oleh habitat. Sulfat dalam air
masuk ke limbah. Ini masuk ke digester cair. Sulfat tereduksi
menjadi sulfida. Hal ini sebagian dikonversi menjadi gas
hidrogen sulfida. Yang bereaksi sulfida adalah racun bagi
digester dalam kisaran 50 mg/l dan tersebar pada lumpur dan
250 mg/l dalam lumpur granular. Dalam digester, biasanya
tersebar lumpur. Solusi:
1) Periksa kadar sulfat dalam digester dan pada bagian outlet.
Perkirakan sulfida diproduksi sebagai sepertiga dari sulfat.
Perkiraan 40% dari nilai ini bereaksi sebagai sulfida. Selain
itu, diperkirakan sulfida dalam cairan direaksikan dengan
cara titrasi di laboratorium. Kemudian, berkonsultasi
dengan spesialis untuk proses lebih lanjut agar dapat
membuktikan toksisitas sulfida sebagai alasannya.
2) Cara untuk mengurangi toksisitas ini adalah mencegah
sulfat dan mengurangi proses yang menghasilkan sulfat
pada tahap pertama. Tapi ini tidak mungkin di dalam
digester. Sebuah tingkat yang lebih tinggi pencampuran
biasanya mengusir gas hidrogen sulfida lebih cepat dan
dengan demikian mendorong pembentukan lebih dalam
cairan digester. Hal ini mengurangi sulfida bereaksi tersisa
dalam digester.

3. Pengeringan Lumpur (Sludge Dewatering)
Mechanical sludge dewatering devices
a. Kebisingan logam di bagian-bagian yang bergerak. Hal ini dapat
terjadi karena bearings aus atau tidak adanya pelumasan.
Solusinya adalah dengan melumasi bagian yang bergerak dan
memperbaikinya pada pemasok peralatan.
b. Kebakaran terjadi pada pengeringan bed
Hal ini disebabkan gas metana di bulan-bulan musim panas
yang tinggi dipicu oleh percikan dari saluran listrik atau karena
seseorang merokok di dekatnya. Solusi:
- Matikan pasokan listrik ke zona pengeringan. Jika ada orang
di dekatnya meminta mereka untuk mematikan ponsel
mereka dan menjauh.
- Mendirikan sebuah papan peringatan bahwa ponsel harus
dimatikan untuk jarak sekitar 10 m dari tepi tempat tidur
pengeringan.
c. Genangan lumpur basah dalam waktu yang lama dan tidak
dapat menyaring. Tempat pengeringan mungkin terhalang
lumpur yang tanpa melalui proses pengolahan. Solusi:
- Potong aliran lumpur ke bed, sehingga memungkinkan
untuk menyaring secara perlahan.
- Jika F / M ratio lebih tinggi dari 0,2 di aerasi biologi,
disediakan untuk digester. Jika F / M kurang dan
penggarapan tidak membantu, scrap keluar dan restack.

d. Tempat Pengeringan bed penuh air hujan
Tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal ini. Jika sering terjadi
hujan, maka pengeringan dilakukan dengan proses dewatering
mekanik.

D. PEMANFAATAN
D.1. Umum
Pemanfaatn hasil pengolahan air limbah dapat berbentuk cairan, padatan,
atau gas. Pemanfaatan gas tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

D.2. Pemanfaatan Air Limbah Hasil Pengolahan Berupa Cairan
Air limbah hasil olahan dapat dibuang ke badan air penerima yang
peruntukannya sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan Pemerintah
Daerah setempat. Sedangkan buangan padat dapat dibuang ke SPALT.
Air limbah yang telah diolah juga dapat dimanfaatkan kembali dengan
terlebih dahulu dilakukan pengolahan lanjutan. Secara umum, air limbah
yang telah diolah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan faslitas kota,
fasilitas gedung, dan air bersih. Secara khusus, pemanfaatan kembali air
limbah domestik diantaranya untuk :
1. Pertanian dan Irigasi Lansekap
Volume terbesar dalam pemanfaatan kembali air limbah adalah untuk
irigasi, baik pertanian maupun irigasi lansekap. Masing-masing
penerapan dalam irigasi mempunyai standar kualitas yang berbeda-
beda.

Pemanfaatan untuk irigasi lansekap dapat dibedakan menjadi dua
kategori menurut kemungkinan kunjungan manusia yaitu kawasan
terbatas dan kawasan bebas.

Termasuk dalam penerapan kawasan bebas adalah taman,
danau/kolam buatan, halaman sekolah, sabuk hijau, atauperumahan.
Kawasan terbatas meliputi lapangan golf, pemakaman,media jalan
bebas hambatan. Standar kualitas kesehatan yang palingketat adalah
untuk irigasi lansekap kawasan bebas.

Teknik pengamanan dan pemantauan yang banyak diterapkan untuk
pemanfaatan air timbah dalam irigasi adalah :
a. Memisahkannya dengan sistem penyimpan dan distribusi air
minum
b. Pengkodean dengan warna pada sistem perpipaan.
c. Peralatan untuk mencegah cross connection dan backflow.
d. Menggunakan tracer untuk mendeteksi kcmungkinan kontaminasi
pada sistem air minum.
e. Irigasi pertanian dilakukan di luar jam kerja untuk mengurangi
kemungkinan kontak pada manusia.

2. Pemanfaatan Kembali Air Limbah Dalam Industri
Pemanfaatan kembali air limbah di sektor ini adalah untuk
penggunaan air yang lebih efisien di pabrik. Dalam industri
penggunaan air yangcukup besar adalah untuk air pendingin dan air
umpan boiler.


3. Ground Water Recharge
Program ground water recharge harus mulai dipertimbangkan apabila
pengambilan air tanah di suatu kawasan terus -menerus meningkat
sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu neraca air di akuifer
kawasan. Apabila pengambilan air tanah tidak diimbangi dengan
masukan ke akuifer dalam jumlah yang seimbang (misalnya air hujan
dan air sungai) maka kesinambungan penyediaan air tanah akan
terancam.

Beberapa hal yang penting dipertimbangkan dalam pelaksanaan
groundwater recharge, yaitu penerapan sistem pengolahan limbah cair
yang tepat, kedalaman air tanah, waktu tinggal dalam akuifer, jumlah
maksimum air yang direcharge, jarak horisontal antar titik recharge
dan prosedur pemantauan.

D.3. Pemanfaatan Air Limbah Hasil Pengolahan Berupa Padatan
Air limbah yang telah melalui unit pengolahan IPAL akan menghasilkan
lumpur atau buangan padat yang sudah stabil dari hasil pengolahan lumpur
sebelumnya. Lumpur padat ini harus memenuhi peraturan baku mutu yang
berlaku.
Lumpur kering yang dihasilkan dari proses pengeringan lumpur dapat
digunakan untuk tanah penggembur atau pupuk, kebun atau tanaman non
pangan, penutup lahan SPALT. Buang lumpur kering di tempat
penimbunan atau gunakan sebagai pupuk, lebih tepatnya untuk tanaman
yang tidak ditujukan untuk manusia. Jangan gunakan lumpur untuk
tanaman yang akan dimakan mentah, misalnya tomat atau selada.

D.4. Pemanfaatan Air Limbah Hasil Pengolahan Berupa Gas Metan
Dalam hal menggunakan proses anarobik, sangat disarankan untuk
memanfaatkan biogas yang dihasilkan karena disamping dapat menjadi
sumber energi alternatif, juga berperan dalam mengurangi emisi gas
rumah kaca yang dapat menyebabkan perubahan iklim global. Apabila
tidak dimanfaatkan sebagai sumber energy, maka biogas atau gas methan
yang dihasilkan harus dibakar sehingga terkonversi menjadi karbon
dioksida yang mempunyai dampak terhadap perubahan iklim yang lebih
rendah.