Anda di halaman 1dari 182

PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

TERHADAP KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIK SISWA

(Studi eksperimen di kelas X SMK Negeri 11 Jakarta) Skripsi Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh
(Studi eksperimen di kelas X SMK Negeri 11 Jakarta)
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Disusun oleh:
Dwi Kurniati Zaenab
105017000416

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010 M/1431 H

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Koneksi Matematik Siswa”, disusun oleh Dwi
Skripsi berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap
Kemampuan Koneksi Matematik Siswa”, disusun oleh Dwi Kurniati Zaenab,
Nomor Induk Mahasiswa 105017000416, Jurusan Pendidikan Matematika,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya
ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang
telah ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta,
Juni 2010
Yang Mengesahkan
Pembimbing I
Pembimbing II

Dr. Kadir, M.Pd NIP. 19670812 199402 1 001

Firdausi, M.Pd NIP. 19690629 200501 1 003

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Koneksi Matematik Siswa” diajukan kepada
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap
Kemampuan Koneksi Matematik Siswa” diajukan kepada Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah
dinyatakan lulus dalam ujian munaqasah pada tanggal 14 Juni 2010 di hadapan
dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar sarjana S1 (S.Pd)
dalam bidang Pendidikan Matematika.
Jakarta,
Juni 2010
Panitia Ujian Munaqasah
Ketua Jurusan/Prodi
Tanggal
Tanda Tangan
Maifalinda Fatra, M.Pd
NIP. 19700528 199603 2 002
Sekertaris Jurusan/Prodi
Otong Suhyanto, M.Si
NIP. 19681104 199903 1 001
Penguji I
Otong Suhyanto, M. Si
NIP. 19681104 199903 1 001
Penguji II

Dra. Muhlisrarini, M.Pd NIP. 19680712 199903 2 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A. NIP. 19571005 198703 1 003

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Yang bertandatangan di bawah ini: Nama NIM Jurusan Angkatan : Dwi Kurniati Zaenab : 105017000416
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama
NIM
Jurusan
Angkatan
: Dwi Kurniati Zaenab
: 105017000416
: Pendidikan Matematika
: 2005
Alamat
: Jl. Pengukiran V no. 47 RT. 008/RW. 02, Tambora, Jakarta-Barat,
11240
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap
Kemampuan Koneksi Matematik Siswa adalah benar hasil karya sendiri di
bawah bimbingan dosen:
1. Nama
NIP
Dosen Jurusan
: Dr. Kadir, M.Pd
: 19670812 199402 1 001
: Pendidikan Matematika
2. Nama
NIP
Dosen Jurusan
: Firdausi, M.Pd
: 19690629 200501 1 003
: Pendidikan Matematika
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta,

Juni 2010

Yang Menyatakan

Dwi Kurniati Zaenab

ABSTRAK

DWI KURNIATI ZAENAB (105017000416), “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Koneksi Matematik Siswa”.
DWI KURNIATI ZAENAB (105017000416), “Pengaruh Pembelajaran
Kontekstual Terhadap Kemampuan Koneksi Matematik Siswa”. Skripsi Jurusan
Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juni 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kemampuan koneksi
matematik siswa setelah diterapkan pembelajaran kontekstual dan pengaruh
pembelajaran kontekstual terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematik.
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 11 Jakarta tahun ajaran 2009/2010.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen
dengan desain penelitian randomize subjects postest only control group desain.
Subyek penelitian ini adalah 62 siswa yang terdiri dari 32 siswa untuk kelompok
eksperimen dan 30 siswa untuk kelompok kontrol yang diperoleh dengan teknik
cluster random sampling pada siswa kelas X.
Pengumpulan data dilakukan setelah diberi perlakuan diperoleh dari nilai tes
kemampuan koneksi matematik siswa pada pokok bahasan program linear. Tes
yang diberikan terdiri dari 7 soal bentuk uraian, dengan koefisien reliabilitas
interater 0,67.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kemampuan koneksi matematik siswa
setelah diterapkan pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada kemampuan
koneksi matematik siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional, dan
pembelajaran kontekstual berpengaruh terhadap kemampuan koneksi matematik
siswa. Rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang menggunakan
pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari rata-rata kemampuan koneksi
matematik siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

i

ABSTRACT

DWI KURNIATI ZAENAB (105017000416), “The effect of Contextual Teaching and Learning to Students Mathematical
DWI KURNIATI ZAENAB (105017000416), “The effect of Contextual Teaching
and Learning to Students Mathematical Connection”. Thesis for Math Education,
Faculty of Tarbiya and Teaching Science, Syarif Hidayatullah State Islamic
University Jakarta, June 2010.
The purpose of this research is to discover the effect of Contextual Teaching and
Learning to Students Mathematical Connection. The research was conducted at
SMK Negeri 11 Jakarta for academic year 2009/2010.
The method used in this research is quasi experimental method with the
randomize subjects postest only control group desain. Subject for this research
are 62 students consist of 32 students for experimental group and 30 for control
group which selected in cluster random sampling technique from 10 th grade.
The data collection after being given obtained from the test score of students
mathematical connection at the subject of linear programming. Test consisted of 7
question in essay, with the coefficient of interater reliability is 0,67.
The result of this research reveald that the students mathematical connection who
taught with contextual teaching and learning is better than who taught with
conventional learning, and there is effect of Contextual Teaching and Learning to
Students Mathematical Connection. The students who taught with Contextual
Teaching and Learning have mean score of students mathematical connention
higher then who taught with conventional learning.

ii

KATA PENGANTAR

ﻢﻳﺤرﻟاﻦﻣﺤرﻟاﷲاﻢﺳﺑ Alhamdulillah segala puji kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat serta
ﻢﻳﺤرﻟاﻦﻣﺤرﻟاﷲاﻢﺳﺑ
Alhamdulillah segala puji kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat serta
hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini merupakan
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika pada Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak
sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun, berkat kerja keras, do’a,
perjuangan, kesungguhan hati dan bimbingan, pengarahan, serta dukungan dari
berbagai pihak sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, kepada yang
terhormat :
1.
Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan.
2.
Ibu Maifalinda Fatra, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika.
3.
Bapak Otong Suhyanto, M.Si, selaku Sekertaris Jurusan Pendidikan
Matematika.
4.
Bapak Dr. Kadir, M.Pd, selaku pembimbing I yang penuh kesabaran dan
keikhlasan dalam membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan-
masukan penulis dalam penulisan skripsi ini.
5.

Bapak Firdausi, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

6. Ibu Dra. Muhlisrarini, M.Pd, selaku penasehat akademik yang selalu memberikan bimbingan dan nasihat kepada penulis selama proses mengikuti perkuliahan.

7. Seluruh Dosen dan Staff Jurusan Pendidikan Matematika.

8. Bapak Drs. H. Badrun Sjabirin, MM selaku kepala SMK Negeri 11 Jakarta Barat yang telah banyak membantu penulis selama penelitian berlangsung.

iii

9.

Ibu Dwi Novianti, S.Pd, selaku guru pamong tempat penulis mengadakan penelitian. Teristimewa untuk kedua orang tuaku, Bapak Abul Khair dan Umi Maryam yang selalu penulis banggakan dan sayangi. Mereka tak henti-hentinya mendo’akan, melimpahkan kasih sayang dan memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Teristimewa untuk keluargaku, kakak dan adikku tersayang, Sakinah dan Muhammad Rayhan yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan, dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Siswa dan siswi SMK Negeri 11 Jakarta Barat, khususnya kelas AP 1 dan AP 2 yang telah membantu selama penulis mengadakan penelitian. Sahabat-sahabat seperjuangan Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2005, kelas A dan B yang tidak dapat disebutkan satu persatu. semoga kebersamaan kita menjadi kenangan indah untuk mencapai kesuksesan dimasa mendatang. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan, dan

10. 11. 12. 13. 14.
10.
11.
12.
13.
14.

informasi serta pendapat yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT dapat menerima sebagai amal kebaikan atas jasa baik yang diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan- kekurangan karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan umumnya.

Jakarta,

Juni 2010

Penulis

iv

Dwi Kurniati Zaenab

DAFTAR ISI

ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i ii iii
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
i
ii
iii
v
viii
ix
x
BAB I
PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang Masalah
1
B. Identifikasi Masalah
6
C. Pembatasan Maslah
7
D. Perumusan Masalah
7
E. Tujuan Penelitian
8
F. Kegunaan Penelitian
8
BAB II DESKRIPSI TEORITIK DAN HIPOTESIS PENELITIAN
10
A.
Deskripsi Teoritik
10
1.
Kemampuan Koneksi Matematik
10
a. Pengertian Matematika
10
b. Koneksi Matematik
12
 

1. Pengertian dan Tujuan Koneksi Matematik

12

2. Jenis-jenis Koneksi Matematik

15

 

c.

Kemampuan Koneksi Matematik

18

2. Pembelajaran Kontekstual

19

 

a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

19

b. Pembelajaran Kontekstual

22

3. Pembelajaran Konvensional

32

B.

Hasil Penelitian yang Relevan

35

v

vi

C. Kerangka Berpikir D. Hipotesis Penelitian

36

37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 38 A. Tempat dan Waktu Penelitian 38 B. Metode dan Desain
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
38
A. Tempat dan Waktu Penelitian
38
B. Metode dan Desain Penelitian
38
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
39
D. Teknik Pengumpulan Data
40
1. Variabel yang Diteliti
40
2. Sumber Data
40
3. Instrumen Penelitian
40
a. Definisi Konsep Kemampuan Koneksi Matematik
40
b. Definisi Operasional Kemampuan Koneksi Matematik
41
4. Uji Instrumen Penelitian
41
a. Uji Validitas
41
b. Reliabilitas Interrater
44
E. Teknik Analisis Data
44
1. Uji Persyaratan Analisis
44
a. Uji Normalitas
45
b. Uji Homogenitas
46
2. Uji Hipotesis Penelitian
47
F.
Hipotesis Statistik
48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

49

A. Deskripsi Data

49

1. Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok Eksperimen

50

2. Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok Kontrol

51

B. Hasil Analisis Data

54

1.

Hasil Pengujian Prasyarat

54

a.

Uji Normalitas

54

vii

2.

Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

55

a Pengujian Hipotesis 56 b Pembahasan 58 C. Keterbatasan Penelitian 60 BAB V KESIMPULAN DAN
a Pengujian Hipotesis
56
b Pembahasan
58
C.
Keterbatasan Penelitian
60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
61
A. Kesimpulan
61
B. Saran
62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
63
66

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran Konvensional 33 Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Tes
Tabel 1. Perbandingan Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran
Konvensional
33
Tabel 2.
Kisi-kisi Instrumen Tes
42
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok
Eksperimen
50
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok
Kontrol
52
Tabel 5.
Perbandingan Hasil Tes Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok
Eksperimen dan Kontrol
Hasil perhitungan Uji Normalitas
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Hasil Perhitungan Uji- t
54
Tabel 6.
55
Tabel 7.
56
Tabel 8.
57

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Standar Proses Koneksi Matematik 13 Gambar 2. Desain Penelitian 38 Gambar 3. Grafik
Gambar 1. Standar Proses Koneksi Matematik
13
Gambar 2.
Desain Penelitian
38
Gambar 3. Grafik Historam dan Poligon Distribusi Frekuensi Kemampuan
Koneksi Matematik Kelompok Eksperimen
Gambar 4. Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Kemampuan
Koneksi Matematik Kelompok Kontrol
Gambar 5. Kurva Uji Perbedaan Data Kelas Eksperimen dan Kontrol
51
53
57

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lampiran 2. Wawancara Guru Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas Eksperimen Lembar Kerja Siswa
Lampiran
1.
Lampiran
2.
Wawancara Guru
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas Eksperimen
Lembar Kerja Siswa (LKS)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas Kontrol
66
68
Lampiran
3.
92
Lampiran
4.
119
Lampiran
5.
Penilaian Instrumen Kemampuan Koneksi Matematik Oleh para
136
Lampiran
6.
143
Lampiran
7.
144
Lampiran
8.
146
Lampiran
9.
149
Lampiran
10.
rater
Hasil Penilaian Validitas Isi Oleh Para Rater
Reliabilitas Interrater
Instrumen Tes
Pedoman Penskoran
Nilai Kemampuan Koneksi Matematik
155
Lampiran
11.
Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi, Mean, Median, Modus,
Varians, Simpangan Baku, Kemiringan, dan Kurtosis Kelompok
Ekspermen
156
Lampiran
12.
Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi, Mean, Median, Modus,
Varians, Simpangan Baku, Kemiringan, dan Kurtosis Kelompok
159
Lampiran
13.
162
Lampiran
14.
164
Lampiran
15.
166
Lampiran
16.
167
Lampiran
17.
Kontrol
Perhitungan Uji Normalitas Kelompok Eksperimen
Perhitungan Uji Normalitas Kelompok Kontrol
Perhitungan Uji Homogenitas
Perhitungan Uji Hipotesis Statistik
Nilai Kritis Distribusi Kai Kuadrat (Chi Square)
169

x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas
sumber daya manusia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia
merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif,
efektif, dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa kalah
bersaing dalam menjalani era globlisasi tersebut. Pentingnya pendidikan dalam
kehidupan manusia tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 yaitu:

Artinya: …. niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadilah: 11) Berdasarkan ayat di atas, Allah memberikan perbedaan untuk orang yang berilmu serta meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Oleh karena itu manusia memiliki kewajiban untuk selalu belajar agar memperoleh ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan keseluruhan proses dimana seorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positf dalam masyarakat ditempat hidupnya. 1 Salah satu jalur pendidikan yang sangat akrab di lingkungan kita adalah pendidikan formal yang pelaksanaannya telah diatur oleh pemerintah. Pendidikan formal pada intinya

1 Zurinal Z dan Wahyudi Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar&Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan, (Jakarta: UIN Press, 2006), h. 2

1

2

adalah kegiatan belajar mengajar. Komponen yang terlibat dalam proses belajar

ini meliputi: guru, siswa, kurikulum dan sarana penunjang pendidikan. Siswa

merupakan komponen utama diantara komponen-komponen yang lain, sebab siswa merupakan obyek yang akan dididik dan
merupakan komponen utama diantara komponen-komponen yang lain, sebab
siswa merupakan obyek yang akan dididik dan dibimbing untuk menjadi manusia-
manusia yang berkualitas dan tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan
yang semakin maju.
Salah satu mata pelajaran yang diberikan disetiap jenjang pendidikan
adalah matematika. Pendidikan matematika yang diberikan di sekolah
memberikan sumbangan penting bagi siswa dalam pengembangan kemampuan
yang sejalan dengan tujuan pendidikan. Menurut Depdiknas (2006:388)
menyatakan bahwa mata pelajaran matematika di SD, SMP, SMA, dan SMK
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 2
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Tujuan tersebut di atas hanya bisa dicapai melalui pembelajaran yang

berakhir pada pemahaman siswa yang komprehensif tentang materi yang

disajikan. Artinya pemahaman siswa tidak sekedar memenuhi tuntutan

pembelajaran matematika secara substansif saja, akan tetapi diharapkan muncul

“efek ringan” dari pembelajaran matematika. Astuti dan Zubaidah mengatakan

bahwa efek ringan tersebut adalah (1) memahami keterkaitan antar topik

2

Fadjar

Shadiq,

Apa

dan

Mengapa

Matematika

itu

Begitu

Penting?,

dari

3

matematika, (2) memahami akan pentingnya matematika bagi bidang lain, (3) mampu berpikir logis, kritis dan sistematis, (4) kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan masalah, (5) peduli pada lingkungan sekitar. 3 Berdasarkan data hasil studi TIMSS tahun 2007 untuk siswa kelas VIII, menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke-36 dari 49 negara dengan nilai rata- rata untuk kemampuan matematika secara umum adalah 397. Nilai tersebut masih jauh dari standard minimal nilai rata-rata kemampuan matematika yang ditetapkan TIMSS yaitu 500. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia dan Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata-rata 474 dan Singapura memperoleh nilai rata-rata 593. 4 Skala matematika TIMSS-Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat bawah, Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada pada peringkat atas. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam untuk kelas VIII, lebih banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan Singapura 124 jam. 5 Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya prestasi belajar matematika. Rendahnya prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya kurangnya pemahaman terhadap konsep-konsep yang telah diajarkan karena proses pembelajaran di sekolah pada umumnya berpusat pada guru. Pelaksanaan pembelajaran matematika sebaiknya harus mengacu pada empat pilar pendidikan universal yang disarankan UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. 6 Melalui proses learning to know siswa akan memiliki pemahaman dan penalaran akan matematika dari hasil dan proses yang terkoneksikan, serta dari mana asal muasal konsep, dan ide-ide matematika terbentuk. Melalui proses mengetahui akan matematika, siswa akan memiliki potensi untuk

akan matematika, siswa akan memiliki potensi untuk 3 Dwi Astuti, dan Zubaidah, 2007, Pengembangan Model

3 Dwi Astuti, dan Zubaidah, 2007, Pengembangan Model Pembelajaran yang Berorientasi Contextual Open-Ended Problem Solving untuk Meningkatkan Koneksi Matematika Siswa dalam Pembelajaran Matematika di SMA, (Pontianak: Universitas Tanjungpura, Laporan Penelitian) hal.1 4 Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, 17.00WIB, hal. 38. 5 Ibid., hal: 195. 6 Wina Sanjaya, M.Pd. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: kencana) h.97

4

mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari atau bidang studi lainnya. Proses learning to do memberi kesempatan pada siswa untuk terampil dalam mengkoneksikan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pengetahuan baru, sehingga dalam benaknya tercipta bahwa ide-ide/konsep matematika terjalin dari suatu hubungan yang erat, dan tak dapat terpisah berdiri sendiri. Proses learning to be matematika bersamaan dengan proses learning to do, sehingga siswa akan memahami dan menghargai terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses serta terbentuknya matematika. Sedangkan melalui learning to live together siswa akan diberi kesempatan untuk belajar secara berkelompok, bekerja sama, bertukar pikiran-sharing dan saling menghargai. Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan keempat pilar UNESCO, maka pembelajaran matematika hendaknya mengutamakan pada pengembangan daya matematis (mathematical power). Istilah daya matematis tidak tercantum secara eksplisit dalam kurikulum pembelajaran matematika di Indonesia, namun tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum di Indonesia mengisyaratkan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai yaitu 7 : kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan berargumentasi (reasoning), kemampuan berkomunikasi (communication), kemampuan membuat koneksi (connection), dan kemampuan representasi (representation). Hal serupa dikemukakan Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa “belajar matematika akan berhasil jika proses pengajarannya diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur”. 8 Kemampuan mengaitkan konsep matematika yang satu dengan yang lainnya; kemampuan untuk mengaitkan matematika dengan disiplin ilmu lain; dan kemampuan untuk mengaitkan matematika dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari; merupakan kemampuan koneksi matematik.

sehari-hari; merupakan kemampuan koneksi matematik. dari:

dari:

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=7

(EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, volume 5, nomor 2, Februari 2008), hal: 2, 20

September 2009, 13.00 WIB. 8 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, Startegi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia, 2001) hal:44

7

Mumum

Syaban,

”Menumbuhkembangkan

Daya

Matematis

Siswa”

5

Kemampuan koneksi matematik penting dimiliki siswa karena kemampuan tersebut akan membuat pemikiran dan wawasan siswa semakin luas; siswa memandang bahwa matematika adalah suatu keseluruhan yang padu, bukan sebagai materi yang berdiri sendiri-sendiri; siswa dapat mengetahui manfaat matematika di sekolah maupun di luar sekolah. Namun Ruspiani (2000) dalam penelitiannya menemukan bahwa kemampuan koneksi matematik siswa masih tergolong rendah. 9 Ruspiani mengungkap bahwa rata-rata nilai kemampuan koneksi matematik siswa sekolah menengah masih rendah, nilai rata-ratanya kurang dari 60 pada skor 100, yaitu sekitar 22.2% untuk koneksi matematik dengan pokok bahasan lain, 44.9% untuk koneksi matematik dengan bidang studi lain, dan 67.3 % untuk koneksi matematik dengan kehidupan keseharian. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran matematika di kelas masih cenderung menggunakan paradigma lama dengan menyajikan pengetahuan matematika tanpa mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah aplikasi dari konsep matematika jarang diberikan dalam pembelajaran. Selain itu konsep yang diberikan dalam bentuk jadi dan pembelajaran ditekankan pada drilling untuk mengejar perolehan nilai Ujian Nasional. Hal serupa juga dikemukakan oleh Lia Kurniawati berdasarkan hasil studi pendahuluannya ditemukan bahwa pembelajaran dimulai dengan guru menjelaskan materi terlebih dahulu di depan kelas dilanjutkan memberi beberapa latihan soal, untuk soal serupa dengan contoh yang diberikan oleh guru, tampak sebagian besar siswa melihat cara-cara yang ada di papan tulis untuk menyelesaikannya, tetapi ketika soal yang diberikan sedikit berbeda dengan contoh, siswa terlihat tidak mampu dalam menyelesaikannya. 10 Untuk memperoleh kemampuan koneksi matematik yang dapat menunjang hasil belajar matematika, diperlukan suatu pembelajaran yang memberikan banyak peluang kepada siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dari masalah dunia nyata, melatih siswa untuk mencari hubungan/menghubungkan

nyata, melatih siswa untuk mencari hubungan/menghubungkan 9 Ruspiani, Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi

9 Ruspiani, Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematika, (Tesis Bandung:

UPI), td

10 Lia kurniawati dan Siti Chodijah, ”Pengaruh Pendekatan Contextual Learning pada Materi Bangun Ruang Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII”. Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika vol.2 no.2,

6

konsep-konsep yang akan dan sudah dikuasai dan menemukan hubungan antar konsep matematika dengan pelajaran lain. Menurut Hernowo pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. 11 Hal tersebut berarti bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendorong mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya. Beberapa penelitian mengenai pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika memberikan hasil bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar matematik siswa. Berdasarkan latar belakang di atas, timbullah keinginan penulis untuk mengadakan penelitian yang berkaitan dengan hal tersebut, yang diberi judul “PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIK SISWA”

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi permasalahan sebagai berikut:
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi permasalahan sebagai
berikut:

1. Masih rendahnya hasil belajar matematika siswa

2. Masih rendahnya kemampuan koneksi matematik siswa

3. Pembelajaran matematika selama ini cenderung konvensional

11 Lia kurniawati, op.cit.

7

C. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah proses penelitian maka penulis membatasi permasalahan hanya pada:

1. Pembelajaran kontekstual Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah
1.
Pembelajaran kontekstual
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and
Learning, CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan
mengambil suatu masalah, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi
mengenai masalah kontekstual yang diberikan, kemudian diangkat kedalam
konsep yang akan dipelajari dan dibahas.
Pembelajaran kontekstual disini adalah siswa lebih banyak belajar
sendiri, tidak semua materi program linear disampaikan secara final tetapi
beberapa bagian harus dicari dan diidentifikasikan oleh pelajar sendiri dari
masalah kontekstual yang diberikan oleh guru, sehingga siswa dapat
mengembangkan pengetahuan mereka. Dalam pembelajaran ini tugas utama
guru adalah memilih masalah yang perlu diberikan kepada siswa untuk
dipecahkan.
2.
Koneksi matematika
Koneksi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah koneksi
internal dan eksternal yaitu kemampuan siswa dalam mengaitkan konsep
matematika yang sedang dibahas dengan konsep matematika lain dan
koneksi matematika dengan bidang ilmu lain yang berhubungan dengan
konsep yang sedang dibahas atau berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
3.
Penelitian dibatasi pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan
sampel sebanyak dua kelas untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun
pokok bahasan yang akan dijadikan penelitian adalah program linear

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah perumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

8

2.

Apakah kemampun koneksi matematik siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kontekstual lebih baik dari siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional?

E. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. bagaimana kemampuan koneksi matematik
E.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. bagaimana kemampuan koneksi matematik setelah diterapkan pembelajaran
kontekstual.
2. apakah kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan menggunakan
pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada siswa yang diajarkan dengan
pembelajaran konvensional.
F.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk digunakan oleh
beberapa pihak, diantaranya:
1.
Bagi siswa
Penerapan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
konsep, meningkatkan kemampuan koneksi matematik siswa, mendorong
siswa untuk menyenangi matematika sehingga dapat menumbuhkan motivasi
belajar matematika dan dapat berperan aktif dalam mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya sehingga dapat melatih dan mengembangkan daya matematis
siswa
2.
Bagi guru
Guru memperoleh pengalaman dalam merancang dan melaksanakan
pembelajaran kontekstual. Diharapkan guru dapat mengembangkan model,
pendekatan atau strategi pembelajaran yang bervariasi dalam rangka
memperbaiki kualitas pembelajaran matematika bagi siswanya.

3. Bagi sekolah Memanfaatkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dengan maksud untuk meningkatkan kualitas sekolah dan peningkatan mutu pendidikan.

9

4.

Bagi peneliti Penelitian ini dapat memberikan pengalaman langsung kepada peneliti sebagai calon guru dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang inovatif serta implementasinya di sekolah/di lapangan, yaitu dengan menerapkan pembelajaran kontekstual.

yang inovatif serta implementasinya di sekolah/di lapangan, yaitu dengan menerapkan pembelajaran kontekstual.

BAB II DESKRIPSI TEORITIK DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Deskripsi Teoritik 1. Kemampuan Koneksi Matematik a. Pengertian Matematika Istilah mathematics (Inggris), mathematic
A. Deskripsi Teoritik
1. Kemampuan Koneksi Matematik
a. Pengertian Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematic (Jerman), mathematique
(Perancis), matematico (Italia), matematiceski (Rusia) atau
mathematick/wiskunde (Belanda) berasal dari perkataan latin mathematica,
yang mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike, yang berarti
“relating to learning”. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat
dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang
mengandung arti belajar atau berfikir. 1
Menurut Rusefendi matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran
manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran 2 . Sedangkan
menurut beberapa ahli seperti Kline, Lerner, Johnson dan Myklebust
berpendapat bahwa matematika adalah bahasa simbolis 3 . NRC (National
Reasearch Council) di Amerika Serikat menyatakan dengan singkat
bahwa: ”Mathematics is a science of pattern in order”. 4 Matematika
adalah ilmu yang membahas tentang pola atau keteraturan (pattern) dan
tingkatan (order).
Sedangkan menurut Paling (1982) dalam Abdurahman berpendapat

bahwa:

matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi; menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran,

1 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, Startegi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia, 2001) hal:18 2 Ibid.

3 Mulyono Abdurahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), hal: 252

4 Fadjar Shadiq, Apa dan Mengapa Matematika itu Begitu Penting?, dari www.fadjarp3g.files.wordpress.com , 30 Oktober 2009, 14.00 WIB hal: 6

10

11

menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan mnggunakan hubungan-hubungan. 5

Berdasarkan pendapat Paling tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menemukan jawaban atas setiap masalah yang
Berdasarkan pendapat Paling tersebut dapat disimpulkan bahwa
untuk menemukan jawaban atas setiap masalah yang dihadapinya, manusia
akan menggunakan (1) informasi yang berkaitan dengan masalah yang
dihadapi; (2) pengetahuan tentang bilangan, bentuk, dan ukuran; (3)
kemampuan untuk menghitung; dan (4) kemampuan untuk mengingat dan
menggunakan hubungan-hubungan.
Menurut Soejadi beberapa karakteristik yang dimiliki oleh
matematika adalah: 6 (1) memiliki obyek kajian yang abstrak, maksudnya
adalah obyek dasar yang dipelajari matematika merupakan sesuatu yang
abstrak sering juga disebut obyek mental yaitu fakta, konsep, operasi atau
relasi, dan prinsip (2) bertumpu pada kesepakatan, dalam matematika
kesepakatan yang digunakan adalah aksioma dan konsep primitif yang
sering digunakan untuk pembuktian dan pendefinisian, (3) memiliki
simbol yang kosong, yaitu bahwa matematika mempunyai banyak simbol
yang kemudian membentuk serangkaian simbol, selanjutnya membentuk
model matematika seperti persamaan dan pertidaksamaan yang kosong
sehingga akan tergantung terhadap permasalahan yang menakibatkan
model itu, (4) memperhatikan semesta pembicaraan, (5) konsisten dalam
sistemnya ini dapat dilihat jika a + b = x dan x + y = p maka a + b + x = p.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, secara umum dapat

disimpulkan bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang terdiri dari

suatu kumpulan sistem matematika yang setiap sistemnya memiliki

struktur tersendiri dan bersifat deduktif. Penalaran deduktif bekerja atas

dasar asumsi, yaitu kebenaran logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga

keterkaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat

konsisten.

5 Mulyono Abdurahman, loc.cit.

6 R. Soejadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi DepDiknas, 2000), hal: 13-19

12

b. Koneksi Matematik

Pembelajaran matematika yang dirumuskan oleh National Council of Teachers of Mathematics atau NCTM bahwa siswa
Pembelajaran matematika yang dirumuskan oleh National Council of
Teachers of Mathematics atau NCTM bahwa siswa harus mempelajari
matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru
dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Ada lima
tujuan mendasar dalam belajar matematika yang dikenal dengan istilah
standar proses daya matematis (mathematical power proses standards)
yaitu: 7
1) Kemampuan pemecahan masalah (problem solving);
2) Kemampuan berargumentasi/penalaran (reasoning);
3) Kemampuan berkomunikasi (communication);
4) Kemampuan membuat koneksi (connection);
5) Kemampuan representasi (represntation).
Salah satu standar kurikulum yang dikemukakan oleh NCTM di atas
adalah koneksi matematik atau mathematical connection yang merupakan
pengaitan matematika dengan pelajaran lain atau dengan topik lain.
Sumarmo (2003) menyatakan bahwa koneksi matematika
(mathematical connection) adalah kegiatan yang meliputi: 8 (1)
mencari hubungan antara berbagai representasi konsep dan prosedur,
(2) memahami hubungan antar topik matematik, (3) menggunakan
matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari, (4)
memahami representasi ekuivalen konsep yang sama, (5) mencari
representasi satu prosedur lain dalam representasi yang ekuivalen,
(6) menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antar topik
matematika dengan topik lain.

1.

Pengertian dan Tujuan Koneksi Matematik

Sedangkan menurut Suhenda koneksi matematik adalah ”hubungan

satu ide atau gagasan dengan ide atau gagasan lain dalam lingkup yang

sama atau bidang lain dalam lingkup yang lain”. 9 Dari uraian di atas dapat

dari:

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=7

(EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, volume 5, nomor 2, Februari 2008), hal: 2, 20 September 2009, 13.00 WIB

7

Mumum

Syaban,

”Menumbuhkembangkan

Daya

Matematis

Siswa”

8 Ibid., hal: 6

9 Suhenda, Materi Pokok Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika 1-9, (Jakarta: Univversitas Terbuka, 2007), h.7.22

13

disimpulkan bahwa koneksi matematik adalah pemahaman menggunakan

hubungan antara satu konsep matematika dengan konsep matematika lain

atau dengan disiplin ilmu lain atau dengan kehidupan sehari-hari. Menurut NCTM standar koneksi untuk kelas
atau dengan disiplin ilmu lain atau dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut NCTM standar koneksi untuk kelas IX – XII hendaknya
memuat koneksi sehingga siswa mampu: 10
1. Mengenal dan menggunakan koneksi/hubungan antara ide-ide
matematika (recognize and use connection among mathematical
ideas).
2. Memahami bagaimana ide-ide dalam matematika berhubungan dan
membangun satu sama lain untuk menghasilkan keseluruhan yang
padu (understand how mathematical ideas interconnect and build on
one another to produce a coherent whole).
3. Mengenal dan mempergunakan matematika dalam konteks diluar
matematika atau bidang lain (recognize and apply mathematics in
contexts outside of mathematics).
and apply mathematics in contexts outside of mathematics). Gambar 1. Standar Proses Koneksi Matematik . 1

Gambar 1. Standar Proses Koneksi Matematik. 11

10 Principles and Standars for School Mathematics, (va: National Council of Teacher of Mathematics, 2000), dari http://www.nctm.org/standards/default.aspx?id=58 , h.300, 24 oktober 2009, 16.25 WIB

11

Pinellas

County

Schools

Division

of

Curriculum

and

Instruction

Secondary

Power

for

All

Students

K-12,

dari

Mathematics,

http://fcit.usf.edu/fcat8m/resource/mathpowr/fullpower.pdf, 10 Desember 2009, 13:00 WIB

Mathematical

14

Berdasarkan standar proses koneksi matematik di atas, dapat

disimpulkan bahwa koneksi matematik di sekolah bertujuan untuk:

1. Membantu siswa menghubungkan konsep-konsep matematik untuk menyelesaikan suatu permasalahan matematik, sehingga siswa
1. Membantu siswa menghubungkan konsep-konsep matematik untuk
menyelesaikan suatu permasalahan matematik, sehingga siswa dapat
memandang matematika suatu keseluruhan yang padu bukan konsep
atau materi yang berdiri sendiri
2. Mengembangkan pengetahuan siswa.
3. Menunjukkan bahwa matematika dapat bermanfaat untuk
menyelesaikan kehidupan sehari-hari.
Didalam NCTM juga disebutkan “when students can see the
connection across different mathematical content areas, they develop a
view of mathematics as an integrated whole. As they build on their
previous mathematical understandings while learning new concepts,
students become increasingly aware of the connection among varios
mathematical topics. As students knowledge of mathematics, their ability
to use a wide range of mathematical representation , and their access to
sophisticated technolohy and software increase. The connection they make
with other academic diciplines, especially the science and social science,
give them greater mathematical power”. 12
Artinya ketika siswa mampu menghubungkan antar topik
matematika yang berbeda, mereka mengembangkan pandangan bahwa
matematika merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi. Sebagaimana
mereka membangun pemahaman matematika sebelumnya sambil
mempelajari konsep baru, siswa menjadi bertambah pengetahuannya
tentang hubungan antar bermacam-macam topik matematika. Dengan

pengetahuan matematika yang dimilikinya, mereka mampu menggunakan

kemampuannya untuk cakupan yang lebih luas dengan kemampuan

representasi matematik, dan mereka mampu menggunakan software dan

teknologi yang canggih. Hubungan/koneksi yang mereka buat antar

disiplin akademik, terutama dalam bidang science dan sosial memberikan

mereka kemampuan matematika yang lebih tinggi.

12 Principles and Standars for School Mathematics, opcit, h.300

15

2. Jenis-jenis Koneksi Matematik

Berdasarkan tujuan dari koneksi matematik di atas, NCTM mengklasifikasikan koneksi matematik menjadi tiga macam yaitu: 13 (1) koneksi antar topik matematika, (2) koneksi matematika dengan disiplin ilmu yang lain, dan (3) koneksi matematika dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Mikovch dan Monroe (1994: 371) menyatakan tiga koneksi matematik yaitu, koneksi dalam matematika, koneksi untuk semua kurikulum, dan dengan konteks dunia nyata. 14 Kutz (1991: 272) berpendapat hampir serupa, ia menyatakan koneksi matematika berkaitan dengan koneksi internal dan koneksi eksternal. Koneksi internal memuat koneksi antar topik matematika, sedngkan koneksi eksternal memuat koneksi matematika dengan displin ilmu dan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 15 Sedangkan Riedesel (1996: 33-34) membagi koneksi matematika sebagai berikut: (1) koneksi antar topik dalam matematika, (2) koneksi antara beberapa macam tipe pengetahuan, (3) koneksi antara beberapa macam representasi, (4) koneksi dari matematika ke daerah kurikulum lain, (5) koneksi siswa dengan matematika. 16 Koneksi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi koneksi internal dan eksternal sesuai dengan pendapat Kutz. Koneksi internal meliputi koneksi antar topik matematika, sedangkan koneksi eksternal meliputi koneksi matematika dengan pelajaran lain atau dengan kehidupan sehari-hari.

dengan pelajaran lain atau dengan kehidupan sehari-hari. 1 3 Gusni Satriawati dan Lia Kurniawati, Menggunakan

13 Gusni Satriawati dan Lia Kurniawati, Menggunakan Fungsi-Fungsi Untuk Membuat Koneksi-Koneksi Matematik, (Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika vol.3 no.1, Juni 2008), hal: 97

14 Ibid

15 Ibid

16 Ibid, hal: 98

16

a.

Koneksi Internal Koneksi internal atau koneksi antar topik matematika yaitu keterkaitan antara konsep/topik matematika yang sedang dipelajari dengan konsep/topik matematika yang lain. Bruner mengemukakan dalam dalil pengaitannya (konektivitas) bahwa ”matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat”. 17 Materi yang satu mungkin merupakan materi prasyarat untuk menjelaskan materi yang lain. Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap topik terkait dengan topik lain dalam matematika sendiri. Ruspiani (2000) mengklasifikasian koneksi antar topik matematika sebagai berikut: 18 1) Koneksi matematika yang digambarkan oleh NCTM, yaitu satu permasalahan yang diselesaikan dengan dua cara yang berbeda. Salah satu contohnya dalam materi sistem persamaan linear dua variabel, siswa dapat menyelesaikan soal atau permasalahan tersebut dengan cara geometri (grafik) atau dengan cara aljabar (eliminasi atau substitusi). 2) Koneksi bebas yakni topik-topik yang berhubungan dengan persoalan tidak ada hubungannya satu sama lain, namun topik- topik itu menyatu dalam satu soal. Salah satu contohnya adalah:

Diketahui 4 suku pertama barisan aritmatika yaitu: I. 5, 3, 2, 0, … II. 0,
Diketahui 4 suku pertama barisan aritmatika yaitu:
I. 5, 3, 2, 0, …
II. 0, 2, 4, 6, …

III. 4, 6, 8, 10, …

a. Tentukan rumus suku ke – n dari barisan I, II, dan III kemudian butlah grafik dari persamaan rumus tersebut b. Diketahui x 0; y 0; jika E merupakan daerah yang dibatasi oleh barisan I, II, dan III, tentukan daerah E dan buatlah sistem pertidaksamaannya

17 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, op.cit., hal: 48 18 Ruspiani, Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematika, (Tesis Bandung:

UPI, 2000), h.13, td

17

Pada soal di atas topik utamanya adalah program linear. Masing-masing topik lepas satu sama lain dalam arti topik yang satu tidak bergantung pada topik yang lain. 3) Koneksi terikat yakni antara topik-topik yang saling terlibat koneksi bergantung satu sama lain. Salah satu contohnya adalah:

Diketahui 4 buah matriks sebagai berikut: jika fungsi dengan syarat: ; ; Tentukan nilai maksimum
Diketahui 4 buah matriks sebagai berikut:
jika
fungsi
dengan
syarat:
;
;
Tentukan nilai maksimum di M
Topik-topik yang terlibat dari permasalahan diatas adalah
determinan matriks, dengan pertidaksamaan linear.
b. Koneksi eksternal
Koneksi eksternal terdiri dari koneksi matematik dengan
pelajaran lain dan dengan kehidupan sehari-hari. Selain dalam ilmu
pengetahuan eksak matematika juga membantu pengembangan
disiplin ilmu lain, maupun dalam memecahkan permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh dalam kehidupan sehari-hari yang
berhubungan dengan program linear adalah:

Ami menabungkan uangnya di bank Rp.20.000.000,00 dengan bunga 20% per tahun, bunga yang diberikan berbentuk bunga majemuk atau bunganya berbunga lagi pada tahun berikutnya. Pada akhir tahun ke-4 uang Ami diambil, dan digunakan untuk memperbaiki kiosnya sebesar Rp.1.472.000 sisanya dijadikan modal usaha tas. Ami menjual dua jenis tas, yaitu tas model A dan tas model B. untuk tas model A ami menjual Rp.110.000,00 dengan keuntungan Rp.10.000,00/tas sedangkan untuk tas model B ami menjual Rp.87.500,00 dengan

18

keuntungan Rp.7.500,00/tas, jika kiosnya hanya dapat menampung

450 tas. Tentukan keuntungan maksimum yang diperoleh Ami.

c. Kemampuan Koneksi Matematik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata dasar mampu
c. Kemampuan Koneksi Matematik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari
kata dasar mampu yang diberi awalan ke- dan akhiran -an. Mampu
memiliki arti kuasa (sanggup, bisa) melakukan sesuatu, dapat, sedangkan
kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita berusaha
dengan-diri sendiri. 19 Kemampuan menurut (Littrell, 1984) seperti yang
dikutip oleh Firdausi adalah ”kekuatan mental dan fisik untuk melakukan
tugas atau keterampilan yang dipelajari melalui latihan dan praktek”. 20
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan
koneksi matematik adalah kesanggupan siswa dalam menggunakan
hubungan topik/konsep matematika yang sedang dibahas dengan konsep
matematika lainnya, dengan pelajaran lain atau disiplin ilmu lain, dan
dengan kehidupan sehari-hari dalam menyelesaikan masalah matematika.
Secara umum, kemampuan koneksi matematik dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal koneksi. Menurut
Suhenda, seseorang dikatakan mampu mengaitkan antara satu hal dengan
yang lainnya bila dapat melakukan beberapa hal dibawah ini: 21

a) Menghubungkan antar topik atau pokok bahasan matematika dengan topik atau pokok bahasan matematika lainnya b) Mengaitkan berbagai topik atau pokok bahasan dalam matematika dengan bidang lain atu hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

19 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka), hal: 707

20 Firdausi, ”Studi Korelasi Pengetahuan Matematika dengan Kemampuan guru mengevaluasi Hasil Belajar Siswa pada SMU Unggulan di DKI Jakarta ”. Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika vol.1 no.002, h.182

21 Suhenda, op.cit, hal: 7.22

19

Untuk dapat megukur sejauh mana siswa mampu melakukan

koneksi matematik instrumen yang dibuat dapat memenuhi hal-hal berikut:

a) Membuat siswa menemukan keterkaitan antar proses dalam suatu konsep matematika b) Membuat siswa menemukan
a) Membuat siswa menemukan keterkaitan antar proses dalam suatu
konsep matematika
b) Membuat siswa menemukan keterkaitan antar topik matematika
yang satu dengan topik matematika yang lain
c) Membuat siswa menemukan keterkaitan matematika dengan
kehidupan nyata siswa.
2. Pembelajaran Kontekstual
a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar dapat diartikan suatu proses bagi seseorang untuk
memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap. 22 Dalam perspektif
psikologi pendidikan belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dalam
diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari sebuah
pengalaman. 23 Seperti dikutip dari Sardiman, menurut Cronbach, Harold
Spears dan Geoch mengatakan bahwa ”belajar merupakan perubahan
tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain
sebagainya”. 24 Sedangkan belajar menurut Gagne adalah perubahan
kemampuan yang diperoleh seseorang melalui aktivitas. 25
Biggs mendefinisikan belajar dalam 3 macam rumusan, ”yaitu:

rumusan kuantitatif, institusional, dan kualitatif. Dalam rumusan ini kata- kata seperti perubahan dan tingkah laku tak lagi disebut secara eksplisit

22 Zurinal Z dan Wahyudi Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar & Dasar-Dasar Pelaksanaan Pendidikan, (Jakarta: UIN Press, 2006), h. 117 23 Ibid.

24 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003) hal. 20

25 Agus Suprijono, Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:

Pustaka Belajar, 2009), hal:2

20

mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan” 26 Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa. Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses ”validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukan siswa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannya, semakin baik mutu guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor. Pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa. Menurut pandangan konstruktivisme belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya menjadi berkembang. 27 Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan seluruh tingkah laku seseorang yang besifat relatif konstan sebagai hasil pengalaman dan interaksi langsung dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama

pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama 2 6 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan

26 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta: PT.Remaja Rosdakarya, 2008), hal: 91-92

27 Sardiman, op.cit. hal. 37

21

keberhasilan pendidikan. 28 Menurut Corey (1986:195) mengatakan bahwa pembelajaran adalah suatu prosess dimana lingkungan seseorang, secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi –kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. 29 Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri maupun potensi yang ada di luar diri siswa. 30 Menurut Zurinal pembelajaran adalah suatu usaha dan proses yang yang dilakukan secara sadar dan mengacu pada tujuan (pembentukan kompetensi) yang dengan sistmatik dan terarah pada terwujudnya perubahan tingkah laku. 31 Sedangkan Pembelajaran menurut Fontana adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedangkan proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa prilaku. 32 Sedangkan mengajar menurut H. Burton adalah upaya memberikan bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. 33 Pengajaran adalah usaha menunjukkan atau membantu seseorang untuk belajar dan bagaimana melakukan sesuatu, memberi pengetahuan dan manfaat bagi seseorang. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal untuk mengarahkan peserta didik kedalam suatu proses belajar dengan

peserta didik kedalam suatu proses belajar dengan 2 8 Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk

28 Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfa Beta, 2007) hal. 61

29 Ibid

30 Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,

Wina Sanjaya,

2008) hal.26

31 Zurinal Z dan Wahyudi Sayuti, op.cit, hal: 117

32 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, op.cit., hal: 8

33 Syaiful Sagala, op.cit., hal. 61

22

memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri maupun potensi yang ada di luar diri siswa. Pembelajaran memiliki dua karakteristik yaitu: 34 (1) dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berfikir. (2) dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus- menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.

b. Pembelajaran Kontekstual
b. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. 35 Menurut Sanjaya Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. 36 Pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal untuk mengarahkan peserta didik kedalam suatu proses belajar dimana guru

34 Ibid. hal: 63

35 Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:

Prestasi Pustaka Publisher, 2007) , hal: 103 36 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: kencana, 2005), hal: 108

23

menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata siswa, artinya siswa dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan. Sehubungan dengan hal itu, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan CTL: 37 1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledge), artinya apa yang dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain. 2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru ini diperoleh dengan cara deduktif artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detainya. 3. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini. 4. Memperaktekkan pengalaman dan pengetahuan tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat di aplikasikandalam kehidupan siswa. 5. Melakukan refleksi (reflection knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

refleksi ( reflection knowledge ) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. 3 7 Wina Sanjaya, op.cit., hal:110.

37 Wina Sanjaya, op.cit., hal:110.

24

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu: 38 (1) constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk), (2) inquiry (penemuan), (3) questioning (bertanya), (4) learning comunity (masyarakat belajar), (5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assesment ( penilaian yang sebenarnya). Untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran kontekstual, guru dalam pembelajarannya mengaitkan antara materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama CTL yakni sebagai berikut:

melibatkan tujuh komponen utama CTL yakni sebagai berikut: 1. Konstruktivisme Landasan filosofi CTL adalah

1. Konstruktivisme Landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri, pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam semakin kuat apabila selalu diuji oleh pengalaman baru. Menurut pandangan konstruktivisme guru hanya berperan sebagai motivator (memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar) dan fasilitator dalam membimbing siswa selama proses pembelajaran. Seperti yang dikemukakan Cobb bahwa belajar matematika merupakan proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. 39 Dalam konstruktivisme aktivitas matematika mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah, kerja dalam kelompok kecil dan diskusi kelas dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika. Tujuan pembelajaran dalam pandangan konstruktivis adalah pemahaman. Pemahaman memberi makna apa yang dipelajari.

38 Trianto, op.cit., hal: 105

39 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, op.cit., hal: 71

25

Pembelajaran merupakan proses aktif artinya pengetahuan baru tidak terbentuk dengan diberikan kepada siswa dalam bentuk jadi tetapi pengetahuan dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan berinteraksi terhadap lingkungannya melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah pengetahuan baru dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada, sedangkan akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman baru. 40 Konstruktivisme dalam hal ini berarti membangun atau membentuk sendiri pengetahuan mereka, dalam proses ini siswa dilatih untuk menemukan sendiri informasi atau masalah yang diberikan dengan difasilitasi pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan kepada penemuan satu konsep. 2. Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) Pengetahuan dan keterampilan siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil menemukan sendiri. Siklus inkuiri meliputi: 41 (1) observasi (observation), (2) bertanya (questioning), (3) mengajukan dugaaan (hipotesis), (4) pengumpulan data, (5) penyimpulan sendiri. Beberapa tahapan yang mungkin dilakukan dalam kegiatan inkuri adalah: 42 (1) guru merangsang siswa dengan pertanyaan, masalah, permainan dan teka-teki, (2) sebagai jawaban atas rangsangan yang diterimanya, siswa menentukan prosedur, mencari dan mengumpulkan informasi atau data yang diperlukannya untuk memecahkan pertanyaan, pernyataan, atau masalah, (3) siswa menghayati pengetahuan yang diperolehnya dengan inkuri yang baru dilaksanakan, (4) siswa menganalisis metode inkuiri dan prosedur yang ditemukan untuk dijadikan metode umum yang dapat diterapkan ke situasi lain.

metode umum yang dapat diterapkan ke situasi lain. 4 0 Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis

40 Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstektual, (Jakarta:

Bumi aksara, 2007), hal: 44

41 Syaiful Sagala, op.cit., hal: 89

42 Tim MKKB Jurusan Pendidikan Matematika, op.cit., hal: 180-181

26

Berdasarkan tahapan diatas, inkuiri diawali dengan langkah pengamatan dalam rangka pemahaman suatu konsep, dengan memberi pertanyaan yang dapat mengarahkan pengamatan menuju satu konsep yang menjadi tujuan pembelajaran. Untuk itu, siswa akan mencari tahu yang tentang hal-hal belum diketahuinya. Setelah apa yang belum diketahuinya terkumpul, siswa perlu merancang dan menganalisa data-data agar dapat menarik kesimpulan dari suatu masalah. 3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui pengajuan pertanyaan (questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya dipandang sebagai upaya guru untuk mengaktifkan siswa, mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui kemampuan berpikir siswa. Sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya menunjukkan ada perhatian terhadap materi yang dipelajari dan ada upaya untuk menemukan jawaban sebagai bentuk pengetahuan. Bertanya diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang baru yang didatangkan di kelas. Realisasinya dalam pembelajaran bentuk questioning dilakukan pada semua aktivitas belajar, seperti: ketika siswa berdiakusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dan sebagainya. 4. Masyarakat Belajar (learning Community) Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerja sama dengan orang lain. Hal ini berarti hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu kepada yang tidak tahu sehinnga terjadi komunikasi dua atau multi arah. Learning community terjadi apabila masing-masing pihak di dalamnya bahwa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain. 43

pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain. 4 3 4 3 Masnur Muslich, op.cit.,

43 Masnur Muslich, op.cit., hal: 46

27

Pada proses pembelajaran, guru hendaknya mampu menciptakan lingkungan belajar yang alamiah dan dinamis sehingga terjadi interaksi yang sehat antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas.

5. Pemodelan (modeling) Maksudnya dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru. Model berupa
5. Pemodelan (modeling)
Maksudnya dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa
ditiru. Model berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola
dalam olahraga, cara menyelesaikan soal, atau guru memberi contoh cara
mengerjakan sesuatu. 44 Dalam matematika, salah satu contoh pemodelan
adalah bagaimana guru menyelesaikan soal. Guru memperagakan
bagaimana langkah-langkah yang ditempuh dalam menyelesaikan soal
dengan baik, bagaimana menemukan kata kunci dalam membuat model
matematika.
Prosedur ini perlu ditiru oleh siswa, guru memberi model tentang
bagaimana cara menyelesaikan soal dengan baik, namun demikian guru
bukan satu-satunya model, seorang siswa bisa meniru melalui temannya
atau pihak lain untuk hal-hal yang perlu ditiru.
6. Refleksi (reflection)
Reffleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau

berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu. 45 Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas yang dilakukan atau pengetahuan yang diterima. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses belajar. Pengetahuan yang diperoleh siswa diperluas melalui bimbingan guru. Guru membantu siswa membuat hubungan–hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan refleksi, merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru ia pelajari.

44 Sardiman, Interaksi&Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal: 226

45 Syaiful Sagala, opcit, hal.91

28

Wujud refleksi antara lain: 46 (1) pernyataan langsung siswa tentang apa- apa yang diperoleh siswa setelah melakukan pembelajaran; (2) catatan atau jurnal di buku siswa; (3) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran itu; (4) diskusi; (5) hasil karya.

Realisasinya dalam pembelajaran bentuk refleksi dilakukan dengan guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan
Realisasinya dalam pembelajaran bentuk refleksi dilakukan dengan
guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang
berupa pernyataan langsung tentang setelah melakukan pembelajaran.
7. Penilaian sesungguhnya (authentic assesment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. 47 Kemajuan belajar
dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes
hanya salah satunya itulah hakekat penilaian yang sebenarnya. Ciri-ciri
penilaian autentik adalah: 48 (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses
pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan formatif atau sumatif, (3)
yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, (4)
berkesinambungan, (5) terintegrasi, (6) dapat digunakan sebagai feed back.
Realisasinya dalam pembelajaran bentuk penilaian sesungguhnya
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung yaitu dilakukan ketika
diskusi kelompok dan setelah proses pembelajaran dilakukan dengan
memberikan latihan.
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pembelajaran kontekstual,
jika menerapkan komponen utama dalam pembelajarannya. Penerapan
pembelajaran kontekstual secara garis besar langkah-langkahnya adalah: 49

(1) kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna

dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi

sendiri pengetahuan barunya; (2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan

inquiry untuk semua pokok bahasan; (3) mengembangkan sikap ingin tahu

siswa dengan bertanya; (4) menciptakan masyarakat belajar; (5)

46 Sardiman, opcit, hal: 227

47 Ibid, hal:227-228

48 Ibid, hal: 228-229

49 Trianto, op.cit., hal: 106

29

menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; (6) melakukan refleksi diakhir pertemuan; (7) melakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

Berdasarkan karakteristik dan komponen pendekatan kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan
Berdasarkan karakteristik dan komponen pendekatan kontekstual,
beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan melalui
pembelajaran kontekstual antara lain sebagai berikut: 50
1.
Pembelajaran berbasis masalah
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu bentuk pengajaran
yang menggunakan masalah-masalah dunia nyata sebagai suatu konteks
bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah.
2.
Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman
belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan diberbagai
konteks lingkungan siswa antara lain disekolah, keluarga, dan
masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan
kesempatan bagi siswa untuk belajar diluar kelas.
3.
Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar kelompok dapat memperluas perspektif serta
membangun kecakpan interpersonal untuk berhubungan dengan orang
lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima, maupun
delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
4.
Membuat aktivitas belajar mandiri
Siswa mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi
dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat
melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka
memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan
menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh).

50 Masnur Muslich, Op.Cit., hal: 49-51

30

5.

Membuat aktivitas belajar bekerja sama dengan masyarakat Sekolah dapat melakukan kerjasama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus sebagai guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung, dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerja sama juga apat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja. Misalnya siswa diminta untuk magang ditempat kerja.

6. Menerapkan penilaian autentik Menurut Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa
6. Menerapkan penilaian autentik
Menurut Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan
kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka
pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun bentuk penilaian yang
dapat dilakukan oleh guru, yaitu portofolio, tugas kelompok,
demonstrasi, dan laporan tertulis.
Sedangkan Blancard (M.Nur, 2001) mengidentifikasi 6 strategi
CTL sebagai berikut: 51
1.
Menekankan pada pemecahan masalah
2.
Menyadari kebutuhan akan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi
dalam berbagai konteks seperti dirumah, masyarakat dan pekerjaan
3.
Mengarahkan siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka
sendiri sehingga mereka menjadi pembelajar yang mandiri
4.

Mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda- beda

5. Mendorong untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama

6. Menerapkan penilaian autentik.

51 Mohammad Askin, Daspros Pembelajaran Matematika I, dari http://www.unnes.ac.id, 20 Januari 2010, 10:00 WIB

31

Berdasarkan karakteristik, komponen, serta strategi dalam

pembelajaran kontekstual, maka beberapa tahapan yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran kontekstual dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Siswa dibuat kelompok kecil sekitar 4-5 orang dengan kemampuan yang heterogen. 2. Pada awal
1. Siswa dibuat kelompok kecil sekitar 4-5 orang dengan kemampuan
yang heterogen.
2. Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi, manfaat materi
yang akan dipelajarinya serta membahas beberapa soal PR yang
terpilih.
3. Kelompok siswa diberikan permasalahan kontekstual (dalam bentuk
LKS) yang menantang siswa, agar mencari solusinya.
4. Siswa mengeksplorasi pengetahuan dengan cara mengkoneksikan
pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi, baik secara berkelompok ataupun sendiri.
5. Guru menggunakan sistem tanya jawab yang interaktif antara siswa
dengan siswa ataupun siswa dengan guru, untuk menjelaskan hal yang
tidak dimengerti oleh siswa.
6. Saat siswa mengerjakan LKS per kelompok, guru berkeliling kelas
bertindak sebagai fasilitator dan moderator, dan membimbing siswa
yang mengalami kesulitan.
7. Saat siswa selesai berdiskusi secara berkelompok, perwakilan salah satu
kelompok mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Melalui
interaksi siswa diajak membahas permasalahan yang disajikan.

8. Diakhir pertemuan, diadakan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung. Siswa dapat merangkum hasil pembelajaran, selanjutnya guru memberikan beberapa soal latihan untuk dikerjakan dirumah.

32

3. Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional merupakan suatu istilah yang lazim diterapkan dalam pengajaran matematika. Konvensional adalah sebuah pendekatan secara klasikal yang biasa digunakan olek setiap pendidik dalam mendidik siswanya, yang dimaksud dengan pendekatan ini adalah pendekatan pengajaran yang menempatkan guru sebagai inti dalam keberlangsungan proses belajar mengajar. Guru memegang peranan penting dalam keberlangsungan proses belajar mengajar karena guru harus menjelaskan materi secara panjang lebar untuk menjamin materi tersebut dapat dipahami oleh semua peserta pembelajaran. Dengan demikian proses pembelajaran konvensional lebih berpusat pada guru. Menurut Depdiknas, dalam pembelajaran konvensional cenderung pada hapalan yang mentolerir respon-respon yang bersifat konvergen, menekankan informasi konsep, latihan soal dalam teks. Belajar hapalan mengacu pada penghapalan fakta-fakta, hubungan, prinsip dan konsep. 52 Menurut Nasution menjelaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran biasa adalah: 53 (1) tujuan tidak dirumuskan secara spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur, (2) bahan pelajaran disajikan kepada kelompok, kepada kelas sebagai keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individual, (3) kegiatan pembelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis, dan media lain menurut pertimbangan guru, (4) siswa umumnya pasif karena dominan mendengarkan uraian guru, (5) dalam hal kecepatan belajar, semua siswa harus belajar dengan kecepatan yang umum ditentukan oleh kecepatan guru mengajar, (6) keberhasilan belajar umumnya dinilai oleh guru secara subjektif, (7) diharapkan bahwa hanya sebagian kecil saja hanya menguasai bahan pelajaran secara tuntas, sebagian lagi akan menguasainya sebagian saja, dan ada lagi yang gagal,

akan menguasainya sebagian saja, dan ada lagi yang gagal, dari http://ipotes.wordpress/com/pembelajaran-konvensional ,

dari

http://ipotes.wordpress/com/pembelajaran-konvensional, 20 Januari 2010, 11:20 WIB

53 S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara) h.209-211

52

Doantara

Yasa,

Pembelajaran

Konvensional,

33

(8) guru terutama berfungsi sebagai penyebar atau penyalur pengetahuan

(sebagai sumber informasi/pengetahuan).

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika secara konvensional adalah suatu kegiatan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran
matematika secara konvensional adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru pada umumnya dimana guru mendominasi kelas
dengan metode ekspositori dan siswa hanya menerima saja apa yang
disampaikan oleh guru, sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran
menjadi pasif dan proses belajar siswa menjadi kurang bermakna.
Berdasarkan keterangan di atas ada beberapa pokok perbedaan
antara pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran konvensinal.
Perbedaan tersebut antara lain tertera dalam tabel dibawah ini:
Tabel 1
Perbandingan Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran
Konvensional
No
Pembelajaran Kntekstual/CTL
Pembelajaran Konvensional
1
CTL menempatkan peserta didik
Pembelajaran konvensional
sebagai subjek belajar. Peserta didik
menempatkan peserta didik
berperan aktif dalam setiap proses
sebagai objek belajar yang
pembelajaran dengan cara menggali
berperan sebagai penerima
sendiri materi pembelajaran
informasi secara pasif
2
Dalam CTL peserta didik belajar
Dalam
Pembelajaran
melalui kegiatan kelmpok,
konvensional pembelajaran
berdiskusi, saling menerima, dan
bersifat inividual dengan
memberi
menerima, mencatat, dan
menghafal materi pelajaran.
3
Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan
Dalam Pembelajaran
dengan kehidupan nyata secara real
konvensional, pembelajaran
bersifat teoritis dan abstrak.
4
Dalan CTL, kemampuan didasarkan
Dalam Pembelajaran
atas penggalian pengalaman
konvensional, kemampuan
diperoleh melalui latihan-latihan

34

5 Tujuan akhir dalam proses pembelajaran CTL dalah kepuasan diri Tujuan akhir dalam proses pembelajaran
5
Tujuan
akhir
dalam proses
pembelajaran CTL dalah kepuasan
diri
Tujuan akhir dalam proses
pembelajaran konvensional
dalah nilai atau angka.
6
Dalam CTL, perilaku dibangun atas
kesadaran diri sendiri, misalnya
individu tidak melakukan perbuatan
tertentu karena ia menyadari bahwa
perilaku itu merugikan dan tidak
bermanfaat
Dalam pembelajaran
konvensional, tindakan atau
perilaku didasarkan oleh faktor
dari luar dirinya, misalnya
individu tidak melakukan
sesuatu dikarenakan hukuman
7
Dalam CTL, pengetahuan yang
dimiliki setiap individu selalu
berkembang sesuai dengan
pengalaman yang dialaminya, oleh
sebab itu setiap peserta didik bisa
berbeda dalam memakai hakikat
pengetahuan yang dimilikinya
Dalam pembelajaran
konvensional, kebenaran yang
dimiliki individu bersifat absolut
dan final, oleh karena
pengetahuan dikonstruksi oleh
orang lain.
8
Dalam CTL, peserta didik
bertanggung jawab dalam memonitor
dan mengembangkan pembelajaran
mereka masing-masing
Dalam
pembelajaran
konvensional
guru
adalah
penentu
jalannya
proses
pembelajaran
9
Dalam CTL, pembelajaran bisa
terjadi dalam konteks
dan seting
yang berbeda sesuai dengan
kebutuhan
Dalam pembelajaran
konvensional, pembelajaran
hanya terjadi didalam kelas
10
Tujuan CTL adalah seluruh aspek
perkembangan peserta didik. Dalam
CTL, keberhasilan pembelajaran
diukur dari berbagai cara, misalnya
dengan evaluasi proses peserta didik,
observasi, wawancara, dll
Dalam pembelajaran
konvensional, keberhasilan
biasanya diukur melalui tes

35

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ruspiani (2000) diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa masih tergolong rendah. Ruspiani mengungkap bahwa rata-rata nilai kemampuan koneksi matematik siswa sekolah menengah masih rendah, nilai rata-ratanya kurang dari 60 pada skor 100, yaitu sekitar 22.2% untuk koneksi matematik dengan pokok bahasan lain, 44.9% untuk koneksi matematik dengan bidang studi lain, dan 67.3 % untuk koneksi matematik dengan kehidupan keseharian. Namun demikian, sikap siswa terhadap kemampuan koneksi matematis menunjukkan kearah yang positif. 54 Selain itu hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan Tia Setiawati (2007) menunjukkan pendekatan contextual learning dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa 8-4 SMP Jayakarta. Hal ini bisa dilihat dari data yang diperoleh nilai rata-rata tes kegiatan siklus 1 meningkat jika dibandingkan rata-rata pada tes kegiatan pendahuluan dari 22,4 menjadi 61,4. Nilai rata-rata pada siklus 2 juga mengalami peningkatan yaitu 63,98. Begitu pula nilai rata-rata pada siklus 3 mengalami peningkatan yaitu 76,5. Hal ini menyebutkan bahwa pendekatan contextual learning dapat meningkatkan pemahaman konsep geometri siswa. 55 Adapun hasil penelitian eksperimen yang dilakukan oleh I Made Sumadi (2005) menunjukkan ada pengaruh positif pendekatan kontekstual terhadap kemampuan penalaran dan komunikasi matematika siswa kelas II SLTP Negeri 6 Singaraja, serta terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang belajar dengan pendekatan kontekstual dan yang belajar dengan pendekatan konvensional, sehingga pendekatan kontekstual dapat diimplementasikan dalam pembelajaran matematika di kelas. 56

dalam pembelajaran matematika di kelas. 5 6 5 4 Ruspiani, Op.Cit , hal: i 5 5

54 Ruspiani, Op.Cit, hal: i 55 Tia Setiawati, Peningkatan Pemahaman Konsep Melalui Pendekatan Contextual Learning (Pendidikan Tindakan Kelas di SMP Jayakarta Pada Kelas VIII-4), (Skripsi, Jakarta:

Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah), hal: I, td.

56 I Made Sumadi, Pengaruh Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 6 Singaraja, (Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 38 No.1 Januari 2005), hal: 14

36

C. Kerangka Berpikir

Salah satu standar proses dalam pembelajaran matematika adalah koneksi matematik. Kemampuan koneksi matematik adalah kemampuan siswa dalam mengaitkan atau menggunakan hubungan topik/konsep matematika yang sedang dibahas dengan konsep matematika lainnya, dengan pelajaran lain, atau dengan kehidupan sehari-hari didalam menyelesaikan latihan. Untuk dapat memperoleh kemampuan koneksi matematik yang menunjang hasil belajar matematika yang baik diperlukan suatu pembelajaran yang merangsang partisipasi aktif siswa. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan untuk memahami matematika keterkaitannya baik antar konsep matematika atau matematika kehidupan sehari-hari, sedangkan guru memberikan masalah kontekstual yang dapat merangsang siswa untuk menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Pembelajaran seperti ini diperoleh dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal untuk mengarahkan peserta didik kedalam suatu proses belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran kontekstual, guru dalam pembelajarannya mengaitkan antara materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama CTL yakni (1) constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (penemuan), (4) learning comunity (masyarakat belajar), (5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assesment (penilaian yang sebenarnya).

(pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assesment (penilaian yang sebenarnya).

37

Menurut pandangan konstruktivisme belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya menjadi berkembang, sehinnga menjadi belajar bermakna seperti yang diungkapkan Ausubel dalam teorinya yaitu pada belajar bermakna proses belajar dimana pengetahuan baru yang dipelajari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Berdasarkan pendapat tersebut, maka pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajajaran matematika karena pada pembelajaran kontekstual siswa melakukan suatu penemuan dengan mengaitkan atau menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, melalui serangkaian kegitan dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru. Dari kegiatan pembelajaran tersebut, terlihat ada keterkaitan antara pembelajaran kontekstual dengan kemampuan koneksi matematik siswa. Karena itu diduga pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematik.

D. Hipotesis Penelitian
D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti memberikan hipotesis penelitiannya adalah: “rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari pada rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional”

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 11
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 11 Jakarta yang beralamat di Jl.
Pinangsia I/20 Jakarta Barat 11110.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 pada
bulan Maret sampai dengan bulan April.
B. Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen, yaitu penelitian yang mendekati percobaan sungguhan dimana tidak mungkin mengadakan kontrol atau memanipulasikan semua variabel yang relevan harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal dan ekstenal sesuai dengan batasan-batasan yang ada. Peneliti akan mengujicobakan pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan koneksi matematik siswa, kemudian membandingkan hasil tes koneksi matematik siswa yang menggunakan pembelajaran kontekstual (kelas eksperimen) dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional (kelas kontrol) dalam pembelajaran matematika. Desain penelitian yang digunakan adalah randomize subjects postest only control group desain. 1

R

E

x

O 1

K

O 2

Gambar 2. Desain Penelitian

1 Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, (Jakartta: Bumi Aksara, 2003), h. 185

38

39

Keterangan:

E

: Kelompok eksperimen (pembelajaran matematika dengan

pendekatan kontekstual) K : Kelompok kontrol (pembelajaran matematika dengan pembelajaran konvensional R : Random X
pendekatan kontekstual)
K : Kelompok kontrol (pembelajaran matematika dengan pembelajaran
konvensional
R
:
Random
X
:
Perlakuan
O 1 :
Hasil postest kelompok eksperimen
O
:
Hasil postest kelompok kontrol
2
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya 2 . Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut 3 . Keduanya
merupakan salah satu syarat yang harus ditentukan dalam penelitian. Dalam
penelitian ini peneliti mengambil populasi target adalah seluruh siswa di
SMK Negeri 11 Jakarta pada tahun ajaran 2009/2010. sedangkan populasi
terjangkau pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang terdaftar
disekolah tersebut pada semester genapl tahun ajaran 2009/2010 sebanyak 6
kelas.
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random
sampling. Setelah dilakukan sampling terhadap 6 kelas yang ada, diperoleh

sampel adalah kelas AP (Administrasi Perkantoran) 1 sebagai kelas

Eksperimen (yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran

kontekstual) dan kelas AP2 sebagai kelas kontrol (yang pembelajarannya

menggunakan pembelajaran konvensional).

2 Sugiyono, 2002, Metode Penelitian Administrasi,

57

3 Ibid.

(Bandung:Alfa Beta), cet ke-9, hal:

40

D. Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh dari hasil tes koneksi matematika dari kedua kelompok sampel dengan pemberian tes yang sama yang dilakukan pada akhir pokok

bahasan materi yang telah dipelajari. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data tersebut adalah
bahasan materi yang telah dipelajari.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Variabel yang diteliti
Variabel bebas : Pembelajaran Kontekstual
Variabel Terikat : Koneksi matematik siswa
2. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah sampel yang terdiri dari siswa
yang berada dikelas kontrol dan kelas eksperimen, guru, dan peneliti
3. Instrumen penelitian
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
berupa tes berbentuk uraian sebanyak 7 butir soal untuk mengukur
kemampuan koneksi matematik siswa pada pokok bahasan program linear.
Tes ini diberikan sesudah diberi perlakuan pada kedua kelompok
(kelompok control dan kelompok eksperimen). Tes ini mengacu pada
definisi konsep dan operasional kemampuan koneksi matematik siswa
a.

Definisi Konsep Kemampuan Koneksi Matematik Kemampuan koneksi matematik adalah kemampuan siswa dalam mengaitkan topik matematika yang sedang dibahas dengan topik matematika lainnya, dengan pelajaran lain, atau dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan mampu mengaitkan antara satu hal dengan yang lainnya bila dapat melakukan beberapa hal yaitu:

a) Menghubungkan antar topik atau pokok bahasan matematika dengan topik atau poko bahasan matematika lainnya b) Mengaitkan berbagai topik atau pokok bahasan dalam matematika dengan bidang lain atu hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

41

b. Definisi Operasional

Secara operasional yang dimaksud kemampuan koneksi matematik adalah nilai yang diperoleh siswa terhadap butir-butir instrumen yang menggambarkan koneksi matematik siswa setelah melakukan proses belajar mengajar. Kemampuan koneksi matematik siswa diukur dengan menggunakan instrumen tes beupa tes uraian sebanyak 7 butir soal yaitu 4 soal tergolong koneksi internal (koneksi antar topik matematika) dan 3 soal tergolong konkesi eksternal (koneksi diluar topik matematika). Setiap butir soal memiliki nilai yang berbeda tergantung tingkat kesulitannya. Nilai maksimum yang dapat diperoleh adalah 100 dan nilai minimum yang dapat diperoleh adalah 0.

4. Uji instrumen penelitian a.
4. Uji instrumen penelitian
a.

Uji Validitas Tes yang digunakan dalam penelitian perlu dilakukan uji validitas agar ketepatan penilaian terhadap konsep yang dinilai sesuai, sehingga betul-betul menilai apa yang harus dinilai. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan validitas tes secara rasional yang terdiri dari validitas konstruksi dan validitas isi. “Validitas konstruksi adalah uji validitas dengan meminta pendapat para ahli tentang instrumen yang telah disusun, mungkin para ahli akan memberi keputusan: instrumen dapat digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan, dan mungkin dirombak total.” 4 sedangkan validitas isi adalah uji validitas dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. 5 Secara teknis pengujian validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrumen atau matriks pengembangan instrumen. Dalam kisi-kisi terdapat variabel yang diteliti, indikator sebagai tolok ukur dan nomor butir (item) pertanyaan. 6

4 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitataif, dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2006), hal: 125

5 Ibid. hal: 129

6 Ibid.

42

Validitas isi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

menyusun tes yang bersumber dari kurikulum (standar kompetensi

pokok bahasan). Kemudian diberikan kepada para rater untuk dinilai. 7 Diawal pembuatan instrumen penulis membuat
pokok bahasan). Kemudian diberikan kepada para rater untuk dinilai. 7
Diawal pembuatan instrumen penulis membuat 7 butir soal untuk
meminta pendapat para panelis, ternyata setelah dikoreksi, semua soal
bisa digunakan sebagai instrumen tes hanya saja ada beberapa soal
yang harus diperbaiki redaksinya atau indikator soal. 8 Berikut ini
adalah keterangannya:
1. Untuk soal nomor 1 para rater sepakat mengatakan indikator tidak
sesuai dengan soal dan redaksinya masih kurang tepat, akhirnya
indikator soal dirubah agar sesuai dengan soal.
2. Untuk soal nomor 2 sudah bisa digunakan.
3. Untuk soal nomor 3 dan 7, salah satu panelis memberikan nilai 1
artinya soal kurang tepat mengukur, akhirnya dengan
pertimbangan dengan pembimbing soal dirubah redaksinya
mengikuti indikator soal.
4. Untuk soal 4, 5, dan 6 hanya perlu diperbaiki redaksinya saja.
Dari hasil uji validitas isi instrumen kemampuan koneksi
matematik siswa, maka kisi-kisi instrumen penelitian dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
Tabel 2
Kisi-kisi Instrumen Tes

Standar Kompetensi

Dimensi

Indikator

No.

Jumlah

soal

soal

Menyelesaikan

Koneksi

Siswa dapat membuat koneksi antara pertidaksamaan linear dengan barisan aritmatika, grafik, dan segitiga.

1

4

Masalah

Program

antar topik

matematika

Linear

(koneksi

internal)

7 Lampiran 5.

8 Lampiran 6

43

• Siswa dapat membuat koneksi antara determinan matriks dengan sistem pertidaksamaan linear dalam masalah program
Siswa dapat membuat
koneksi antara
determinan matriks
dengan sistem
pertidaksamaan linear
dalam masalah
program linear
2
Siswa dapat membuat
koneksi antara fungsi
dengan
pertidaksamaan linear
dalam menyelesaikan
masalah program
linear
4
Siswa dapat membuat
koneksi antara
gradien garis lurus
dengan
pertidaksamaan linear
untuk menyelesaikan
masalah optimasi dari
program linear.
5
Koneksi
3
3
diluar topik
matematika
(koneksi
eksternal)
Siswa dapat membuat
koneksi antara
matriks dengan
pertidaksamaan linear
dalam kehidupan
sehari-hari.
Siswa dapat membuat
koneksi antara bunga
majemuk dengan
pertidaksamaan
linear.
6
Siswa
mampu
membuat
koneksi
7
antara
luas
persegi
panjang
dengan
pertidaksamaan linear
dalam
kehidupan
sehari-hari
Jumlah soal
7

44

b.

Reliabilitas Interrater Koefisien reliabilitas interater atau antar penilai ditentukan berdasarkan hasil penilaian ketepatan butir mengukur indikator. Interrater atau penilai adalah pakar substansi dalam pembelajaran matematika. Untuk mengetahui korfisien reliabilitas instrumen tes koneksi matematik siswa, digunakan rumus sebagai berikut: 9

Keterangan: r = reliabilitas kesesuaian penilai i = no butir; 1, 2, 3,…., 7 j
Keterangan:
r = reliabilitas kesesuaian penilai
i = no butir; 1, 2, 3,…., 7
j = responden; A, B, C dan D
Adapun prosedur pengujiannya sebagai berikut:
1. Menentukan JK total dengan rumus:
2. Menentukan JK baris dengan rumus:
3. Menentukan JK kolom dengan rumus :
4. Menentukan JK eror dengan rumus: JK error = JK e = JK T – JK b – JK k
db b =
nb – 1
; db e =
(na -
1)(nb
-
1)

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien reliabilitas interrater adalah 0,67. 10 Dengan demikian soal tes kemampuan koneksi matematik reliabel dengan kategori cukup.

E. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif yaitu suatu teknik analisis yang penganalisisannya dilakukan dengan perhitungan, karena berhubungan

9 Djaali, dan Pudji Mulyono, Pengukuran dalan Bidang Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal:95 10 Lampiran 7

45

dengan angka, yaitu dari hasil tes kemampuan koneksi matematik yang diberikan. Penganalisisannya dilakukan dengan menbandingkan hasil tes kelas kontrol yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran kontekstual. Dari data yang telah didapat, kemudian dilakukan perhitungan statistik deskriptif dengan membuat distibusi frekuensi, hitungan mean, median, modus, dll. Kemudian dilakukan uji prasyarat analisis dengan uji chi square dan uji Fisher. Kemudian dilakukan uji statistik inferensia dengan melakukan analisis perbandingan terhadap kedua kelas tersebut untuk mengetahui kontribusi pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan koneksi matematik. Perhitungan statistik yang digunakan yaitu:

1. Uji Persyaratan Analisis a. Uji Normalitas Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah
1. Uji Persyaratan Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel
yang
diteliti
berdistribusi
normal
atau tidak. Uji kenormalan yang
digunakan yaitu uji kai kuadrat (chi square). Adapun prosedur pengujian
adalah sebagai berikut: 11
1. Menentukan hipotesis
Ho = sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
Ha = sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
2. Menentukan rata-rata
3. Menentukan Standar Deviasi

4. Membuat daftar frekuensi observasi dan frekuensi ekspektasi

a. Rumus banyak kelas interval: (aturan Struges) K = 1 + 3,3 log (n) ; dengan n = banyaknya subjel

b. Rentang (R) = skor terbesar – skor terkecil

c. Panjang kelas (P) =

= skor terbes ar – skor terkecil c. Panjang kelas (P) = 1 1 M.Subana dan

11 M.Subana dan Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), Cet.II, h. 149-150

46

5. Cari χ 2 hitung dengan rumus

46 5. Cari χ 2 h i t u n g dengan rumus 6. Cari χ
6. Cari χ 2 tabel dengan derajat kebebasan (dk) = banyak kelas (K) – 3
6. Cari χ 2 tabel dengan derajat kebebasan (dk) = banyak kelas (K) – 3 dan
taraf kepercayaan 95% dan taraf signifikansi α = 5%
7. Kriteria pengujian:
Terima Ho jika χ 2 hitung ≤χ 2 tabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak
(subyek berdistribusi normal).
Tolak Ho jika χ 2 hitung > χ 2 tabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima
(subyek tidak berdistribusi normal).
b. Uji homogenitas
Setelah uji normalitas, peneliti melakukan pengujian terhadap
kesamaan (homogenitas) beberapa bagian sampel, yakni seragam tidaknya
variansi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama. Pengujian
menggunakan uji fisher (F) langkah-langkahnya sebagai berikut: 12
1. Menentukan Hipotesis
Ho :
2
2
σ
1
2
2
Ha :
σ 1 2 ≠σ
2
2. Cari F hitung dengan menggunakan rumus :
3. Tetapkan taraf signifikan (α)
4. Hitung F tabel dengan rumus:
F tabel = F 1/2 α(n1 – 1 , n2 – 1)

5.

Tentukan kriteria pengujian Ho yaitu:

jika Fhitung Ftabel, maka Ho diterima (homogen) dan Ha ditolak jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak (tidak homogen) dan Ha diterima Adapun pasangan hipotesis yang akan diujikan adalah:

Ho : kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama Ha : kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang berbeda.

12 Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), Cet III, hal: 249

47

2. Uji hipotesis penelitian

Setelah uji normalitas dan uji homogenitas, maka selanjutnya

melakukan uji hipotesis menggunakan uji ”t”. Rumus yang digunakan yaitu: a. Untuk sampel yang homogen
melakukan uji hipotesis menggunakan uji ”t”. Rumus yang digunakan
yaitu:
a. Untuk sampel yang homogen 13
X
− X
1
2
=
t hitung
1
1
S
+
gab
n
n
dimana:
1
2
Sedangkan
keterangan:
t hitung : harga t hitung
: nilai rata-rata hitung data kelompok eksperimen
: nilai rata-rata hitung data kelompok kontrol
Sg : variansi gabungan
2
S 1
: varians data kelompok eksperimen
2
S
: varians data kelompok kontrol
2
n 1 : jumlah siswa kelompok eksperimen
n 2 : jumlah siswa kelompok kontrol
Setelah harga t hitung didapat, maka peneliti menguji kebenaran
kedua hipotesis tersebut dengan membandingkan besarnya t hitung
dengan t tabel , dengan terlebih dahulu menetapkan degrees of
freedomnya atau derajat kebebasan dengan rumus: dk = ( n 1 + n 2 -2)

Dengan diperolehnya dk maka dapat dicari harga t tabel pada taraf

signifikansi 5%. Dengan kriteria pengujiannya sebagai berikut: 14

Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima

Jika t hitung t tabel maka Ho ditolak

13 Ibid, hal: 238

14 Ibid, hal: 243

48

Dari interpretasi terhadap t hitung atau uji keberartian hipotesis diatas, dapat ditarik kesimpulan seberapa besar kontribusi pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan koneksi matematik.

b. Untuk sampel yang tak homogen (heterogen) 1. Mencari nilai t hitung dengan rumus: 15
b. Untuk sampel yang tak homogen (heterogen)
1. Mencari nilai t hitung dengan rumus: 15
2. Menentukan derajat kebebasan dengan rumus:
3. Mencari t tabel dengan taraf signifikansi (α) 5%
4. Kriteria pengujian hipotesis:
Jika t hitung ≥ t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak
Adapun hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:

Ho : Rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok eksperimen lebih rendah atau sama dengan rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok kontrol. Ha : Rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok kontrol.

F. Hipotesis Statistik

Perumusan hipotesis statistik adalah sebagai berikut:

Ho: µ 1 µ 2

Ha: µ 1 > µ 2

15 Ibid, hal: 241

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 11 Jakarta pada kelas X yang terdiri dari 2 kelas sebagai sampel yaitu kelas X AP1 sebagai kelas eksperimen yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual dan kelas X AP2 sebagai kelas kontrol yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran matematika yang diajarkan pada penelitian ini adalah program linear dengan 8 kali trearment. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan koneksi matematik siswa, yang terdiri dari 7 butir soal berbentuk uraian yang meliputi 4 soal tergolong koneksi internal (koneksi antar topik matematika) dan 3 soal tergolong koneksi eksternal (koneksi antar topik matematika). Tes kemampuan koneksi matematik ini diberikan kepada kedua kelompok sampel setelah menyelesaikan pokok bahasan mengenai program linear, dimana dalam proses pembelajarannya kedua kelompok sampel diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu kelompok eksperimen diajarkan dengan pembelajaran kontekstual sedangkan kelompok kontrol diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Setelah diberikan tes, maka diperoleh hasil kemampuan koneksi matematik dari kedua kelompok sampel tersebut, kemudian akan dilakukan pengujian persyaratan analisis (uji normalitas dan homogenitas) dan pengujian hipotesis penelitian. Adapun kemampuan koneksi matematik siswa yang diperoleh dari kedua kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

49

50

1. Kemampuan Eksperimen

Koneksi

Matematik

Siswa

Kelompok

Dari hasil tes yang diberikan kepada kelompok eksperimen dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual,
Dari hasil tes yang diberikan kepada kelompok eksperimen dalam
pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual, diperoleh nilai
terendah adalah 20 dan nilai tertinggi adalah 60. Untuk lebih jelasnya data
kemampuan koneksi matematik siswa kelompok eksperimen disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berikut:
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik
Kelompok Eksperimen
Frekuensi
No
Nilai
Absolute
Relatif (%)
1
20-26
4
12,5
2
27-33
8
25
3
34-40
12
37,5
4
41-47
3
9,38
5
48-54
3
9,38
6
55-61
2
6,25
Jumlah
32
Berdasarkan tabel distibusi frekuensi di atas dapat dilihat bahwa
banyak kelas interval adalah 6 kelas dengan panjang tiap interval kelas
adalah 7. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata sebesar

36,78, median sebesar 35,83, modus sebesar 35,65, varians sebesar

90,05, simpangan baku sebesar 9,49, koefisien kemiringan sebesar 0,12

(kurva model positif atau menceng kekanan), dan ketajaman atau kurtosis

sebesar 2,69 (distribusi distribusinya adalah distribusi platikurtis atau

bentuk kurva mendatar). 1

1 Lampiran 11

51

Distribusi frekuensi kemampuan koneksi matematik siswa

kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan dalam grafik histogram

dan poligon berikut: frekuensi 12 8 4 3 2 Nilai 19,5 26,5 33,5 40,5 47,5
dan poligon berikut:
frekuensi
12
8
4
3
2
Nilai
19,5
26,5
33,5
40,5
47,5
54,5
61,5
Gambar 3. Grafik Histogram dan Poligon
Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik
Kelompok Eksperimen
2. Kemampuan Koneksi Matematik Siswa Kelompok Kontrol
Dari hasil tes yang diberikan kepada kelompok kontrol yang dalam

pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional, diperoleh

nilai tertinggi adalah 56 sedangkan nilai terendahnya adalah 15. Untuk

lebih jelasnya, data kemampuan koneksi matematik siswa disajikan dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi berikut:

52

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok Kontrol

Frekuensi No Skor Absolute Relatif (%) 1 10 15-21 3 2 40 22-28 12 3
Frekuensi
No
Skor
Absolute
Relatif (%)
1
10
15-21
3
2
40
22-28
12
3
30
29-35
9
4
6,7
36-42
2
5
10
43-49
3
6
3,3
50-56
1
Jumlah
30
100
Berdasarkan tabel distibusi frekuensi di atas dapat dilihat bahwa
banyak kelas interval adalah 6 kelas dengan panjang tiap interval kelas
adalah 7. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata
sebesar 30,37, median sebesar 28,5, modus sebesar 26,75, varians
sebesar 76,65, simpangan baku sebesar 8,75, kemiringan sebesar 0,41
(kurva model positif atau menceng kekanan), dan ketajamam atau
kurtosis sebesar 3,03 (distribusi distribusinya adalah distribusi
leptokurtiks atau bentuk kurva lebih runcing dari distribusi normal). 2
Distribusi frekuensi kemampuan koneksi matematik siswa
kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan dalam grafik histogram

dan poligon berikut:

2 Lampiran 12

53

frekuensi

12 9 4 3 2 Nilai 14,5 21,5 28,5 35,5 42,5 49,5 56,5 Gambar 4.
12
9
4
3
2
Nilai
14,5
21,5
28,5
35,5
42,5
49,5
56,5
Gambar 4. Grafik Histogram dan Poligon
Distribusi Frekuensi Kemampuan Koneksi Matematik
Kelompok Kontrol
Berdasarkan uraian di atas mengenai skor kemampuan koneksi
matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, terlihat
adanya perbedaan. Untuk lebih memperjelas perbedaan nilai kemampuan
koneksi matematik siswa antara kelompok eksperimen (dalam
pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual) dengan kelompok
kontrol (dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional),

dapat dilihat pada tabel berikut:

54

Tabel 5 Perbandingan Hasil Tes Kemampuan Koneksi Matematik Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Banyak Sampel 32 30 Mean 30,37 36,78 Median 28,5 35,83
Statistik
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Banyak Sampel
32
30
Mean
30,37
36,78
Median
28,5
35,83
Modus
26,75
35,65
Varians
76,65
90,05
Simpangan Baku
8,75
9,49
Koefisien Kemiringan
0,41
0,12
Ketajaman/Kurtosis
3.03
2,69
B. Hasil Analisis Data
Berdasarkan persyaratan analisis, sebelum dilakukan pengujian
hipotesis perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap data hasil
penelitian. Uji persyaratan analisis yang harus dipenuhi adalah:
1. Hasil Pengujian Prasyarat
Dalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji kai
kuadrat (chi square). Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah
data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan
ketentuan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika

memenuhi kriteria χ 2 hitung < χ 2 tabel diukur pada taraf signifikansi dan tingkat

kepercayaan tertentu.

a. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas nilai kemampuan koneksi

matematik siswa kelompok eksperimen, diperoleh harga χ 2 hitung = 4,99,

sedangkan dari tabel kritis uji kai kuadrat (chi square) diperoleh χ 2 tabel untuk

jumlah sampel 32 pada taraf signifikansi α = 5% adalah 7,82, karena χ 2 hitung

55

kurang dari sama dengan χ 2 tabel (4,99 7,82), maka H o diterima, artinya data pada kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 3 Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas nilai kemampuan koneksi matematik siswa kelompok kontrol, diperoleh harga χ 2 hitung = 6,32, sedangkan

dari tabel kritis uji kai kuadrat (chi square) diperoleh χ 2 tabel untuk jumlah sampel
dari tabel kritis uji kai kuadrat (chi square) diperoleh χ 2 tabel untuk jumlah
sampel 30 pada taraf signifikansi α = 5% adalah 7,82, karena χ 2 hitung kurang
dari sama dengan χ 2 tabel (6,32 ≤ 7,82), maka H 0 diterima, artinya data pada
kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 4
Untuk lebih jelasnya, hail perhitungan uji normalitas antara kelompok
eksperimen dengan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 6. Hasil Perhitungan Uji Normalitas
Kelompok
n
χ
χ
Kesimpulan data
2 hitung
2 tabel
(α = 0,05)
Eksperimen
32
4,99
7,82
Berdistribusi normal
Kontrol
30
6,32
7,82
Berdistribusi normal
b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas atau uji kesamaan dua varians digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama (homogen) atau tidak. Dalam penelitian ini, uji homogenitas yang digunakan adalah uji fisher, dengan kriteria pengujian yang digunakan adalah kedua kelompok sampel dikatakan homogen jika F hitung F tabel diukur dengan taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu. Dari hasil perhitungan, diperoleh harga F hitung = 1,17, sedangkan F tabel = 2,08 pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan derajat kebebasan pembilang 31 dan derajat kebebasan penyebut 29. 5

3 Lampiran 13

4 Lampiran 14

5 Lampiran 15

56

Untuk lebih jelasnya, hasil uji homogenitas dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 7. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Kelompok N F F Kesimpulan data hitung tabel Eksperimen
Tabel 7. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
Kelompok
N
F
F
Kesimpulan data
hitung
tabel
Eksperimen
32
1,17
2,08
Kedua varians sama
Kontrol
30
Karena F hitung ≤ F tabel maka H 0 diterima, artinya kedua kelompol memiliki
varians yang sama atau homogen.
2. Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan
a. Pengujian hipotesis

Berdasarkan hasil uji persyaratan analisis, yaitu pengujian analisis untuk kenormalan distribusi ternyata sampel berdistribusi normal kemudian dilakukan uji homogenitas dan hasilnya kehomogenan varians populasi ternyata terpenuhi. Pengujian selanjutnya yaitu pengujian hipotesis. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok eksperimen yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok kontrol yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional. Pengujian hipotesis yang digunakan adalah uji t, dengan kriteria pengujian yaitu, jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, pada taraf kepercayaan 95% dan taraf signifikansi α = 5%. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh t hitung sebesar 2,76 dan t tabel sebesar 1,67. 6 Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa t hitung t tabel (2,76 1,67). Untuk lebih jelasnya, hasil perhitungan uji t tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

6 Lampiran 16

57

Tabel 8. Hasil Perhitungan Uji – t

t t Kesimpulan hitung tabel 2,76 1,67 Tolak Ho Dari tabel 8. di atas diperoleh
t
t
Kesimpulan
hitung
tabel
2,76
1,67
Tolak Ho
Dari tabel 8. di atas diperoleh perhitungan bahwa t hitung > t tabel . Menurut
kriteria pengujian hipotesis, H o diterima jika t hitung lebih kecil atau sama
dengan t tabel dengan taraf signifikansi 5%. Ternyata didapat t hitung sebesar 2,76
berarti lebih besar dari t tabel yaitu 1,67 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak dan Ha diterima, dengan kata lain rata-rata kemampuan koneksi
matematik siswa pada kelompok eksperimen yang dalam pembelajarannya
menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari rata-rata
kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok kontrol yang dalam
pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional. Berikut sketsa
kurvanya:
α = 0,05
1,67
Gambar 5: Kurva Uji Perbedaan Data Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Berdasarkan gambar di atas, dapat terlihat bahwa nilai t hitung yaitu 2,76 lebih besar dari t tabel yaitu 1,67 artinya jelas bahwa t hitung jatuh pada daerah penolakan Ho (daerah kritis). Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan koneksi matematik siswa yang menggunakan pembelajaran kontekstual dengan siswa yang diberi pembelajaran konvensional.

58

b. Pembahasan

Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan uji t dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok eksperimen yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa pada kelompok kontrol yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilakukan di sekolah yang tidak ada pengklasifikasian kelas (perbedaan kelas antara siswa pintar dan siswa kurang pintar), maka hanya siswa yang memiliki kemampuan lebih yang dapat langsung mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, sehinggga pada pertemuan pertama aktivitas belajar belum bisa dikondisikan dan belum tercapai. Siswa yang pintar lebih senang mengerjakan sendiri dan tidak mau bekerja sama dengan anggota kelompoknya. Pada saat anggota perwakilan kelompok diminta untuk mempresentsikan hasil diskusinya, siswa terlihat malu-malu dan sulit dalam menyampaikan hasil diskusinya. Pada pertemuan berikutnya, sedikit demi sedikit megalami perubahan yang lebih baik, siswa sudah dapat mengerjakan LKS dengan adanya diskusi antar anggota kelompok dan lebih aktif bertanya jika mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah atau kurang memahami materi. Siswa lebih berani untuk mempresentasikan hasil diskusinya, dan siswa yang lain mengungkapkan pendapatnya. Berbeda dengan siswa kelas eksperimen, pada kelas kontrol dilaksanakan pembelajaran secara konvensional, seperti yang biasa diterapkan sebelumnya, yaitu kegiatan pembelajaran cenderung berpusat pada guru, yaitu guru memberikan materi dengan metode ceramah kemudian siswa memindahkan kebuku catatan dilanjutkan dengan pemberian tugas kepada siswa, akibatnya pembelajaran menjadi kurang efektif. Berdasarkan hasil tes kemampuan koneksi matematik dapat diketahui bahwa siswa yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual memiliki rata-rata kemampuan koneksi matematik 36,78.

yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual memiliki rata-rata kemampuan koneksi matematik 36,78.

59

Sedangkan siswa yang dalam pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional memiliki rata-rata kemampuan koneksi matematik 30,37. Kemampuan koneksi matematik yang berkembang dikelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran kontekstual adalah koneksi antar topik matematika dan koneksi diluar topik matematika yang meliputi koneksi matematika dengan pelajaran lain dan koneksi matematika dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Pada siswa eksperimen yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual, pada umumnya lebih mengutamakan proses penyelesaian dengan cara mengaitkan pengetahuan yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah (siswa memahami hubungan antara representasi yang sama dalam topik matematika sehingga dapat mengkoneksikannya), dan tidak mengutamakan hasil akhir. Misalnya ketika menentukan titik potong untuk mencari nilai optimum ada sebagian siswa yang mengerjakan secara geometri (grafik) dan ada siswa yang mengerjakan secara aljabar (eliminasi atau substitusi). Sedangkan siswa yang pembelajarannya menggunakan pmbelajaran konvensional lebih cenderung mengerjakan secara grafik dan mengutamakan hasil akhir. Hal ini dikarenakan setting pembelajaran kontekstual membuat siswa lebih aktif dan merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran, karena dalam pembelajaran kontekstual siswa dilatih untuk berpikir dan menggunakan pengetahuan-pengetahuan matematika sebelumnya untuk menyelesaikan masalah kontekstual yang diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, masalah yang diberikan merupakan masalah yang dekat dengan kehidupan mereka dan proses pengaktifan pengetahuan mereka yang sudah ada sehingga melatih kemampuan koneksi matematik siswa. Temuan diatas serupa dengan hasil penelitian Tia Setiawati (2007) dan yang mengungkapkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep dan hasil penelitian I Made Sumadi (2005) yang melaporkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan penalaran dan komunikasi matematika siswa. Berdasarkan

bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan penalaran dan komunikasi matematika siswa. Berdasarkan

60

temuan dan hasil penelitian diatas, maka dapat diungkapkan bahwa pembelajaran kontekstual memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan koneksi matematik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari pada rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional.

C. Keterbatasan Penelitian Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Berbagai upaya telah dilakukan dalam
C. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Berbagai upaya
telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini agar diperoleh hasil optimal.
Namun demikian, masih ada faktor yang sulit dikendalikan, sehingga
membuat penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya:

1. Kondisi siswa yang merasa kaku pada awal proses pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual, karena siswa belum terbiasa. 2. Kemampuan materi prasyarat seperti sistem persamaan dan pertidaksamaan linear, serta menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel masih kurang sehinngga menghambat proses pembelajaran. 3. Terbatasnya instrumen penelitian hanya pada hasil post test sedangkan dalam proses pembelajaran tidak diikut sertakan. 4. Kemampuan peneliti yang masih terbatas sehingga belum mampu meninjau kemampuan koneksi matematik secara individu. 5. Alokasi waktu yang kurang sehingga diperlukan persiapan dan pengaturan kelas yang baik. 6. Kontrol terhadap kemampuan subjek penelitian hanya meliputi variabel pembelajaran kontekstual dan kemampuan koneksi matematik saja. Variabel lain seperti minat, motivasi, inteligensi, dan lingkungan belajar tidak dikontrol. Karena hasil penelitian dapat saja dipengaruhi oleh variabel diluar variabel yang ditetapkan dalam penelitian ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
A. Kesimpulan

1. Kemampuan koneksi matematik yang berkembang pada kelas eksperimen yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual adalah koneksi internal (koneksi antar topik matematika) dan koneksi eksternal (koneksi diluar topik matematika). Pada siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kontekstual, pada umumnya lebih mengutamakan proses penyelesaian dengan cara mengaitkan pengetahuan yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah (siswa memahami hubungan antara representasi yang sama dalam topik matematika sehingga dapat mengkoneksikannya), dan tidak mengutamakan hasil akhir. Hal ini dikarenakan setting pembelajaran kontekstual membuat siswa lebih aktif dan merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran, karena dalam pembelajaran kontekstual siswa dilatih untuk berpikir dan menggunakan pengetahuan-pengetahuan matematika sebelumnya dalam menyelesaikan masalah kontekstual yang diberikan, sehingga siswa dapat menggunakan hubungan (koneksi) antara satu konsep matematika dengan konsep matematika lain atau dengan disiplin ilmu lain atau dengan kehidupan sehari-hari, sehingga dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematik. 2. Rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran kontekstual adalah 36,78 sedangkan rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional adalah 30,37. Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa “rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari rata-rata kemampuan koneksi matematik siswa kelas kontrol” perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan perlakuan selama proses pembelajaran. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan koneksi matematik siswa yang

61

62

menggunakan pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada kemampuan koneksi matematik siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga pembelajaran kontekstual dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran matematika yang dapat diterapkan dikelas.

B. Saran Terdapat beberapa saran peneliti yang terkait dengan hasil penelitian pada skripsi ini, diantaranya
B. Saran
Terdapat beberapa saran peneliti yang terkait dengan hasil penelitian
pada skripsi ini, diantaranya adalah :
1. Guru sebaiknya memberikan soal-soal koneksi matematik yang menarik
agar dapat merangsang siswa untuk berpikir dan lebih mudah dalam
memahami soal pada proses pembelajaran.
2. Siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual
lebih beragam (kreatif) dalam menyelesaikan soal.
3. Karena beberapa keterbatasan dalam melaksanakan penelitian ini, maka
disarankan ada penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran
kontekstual pada pokok bahasan lain atau dengan aspek lain seperti
kemampuan berpikir kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2003 Askin, Mohammad.
Abdurahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT
Rineka Cipta. 2003
Askin,
Mohammad.
Daspros
Pembelajaran
Matematika
I.
dari
http://www.unnes.ac.id. 20 Januari 2010. 10:00 WIB
Astuti, Dwi., dan Zubaidah. Pengembangan Model Pembelajaran yang
Berorientasi Contextual Open-Ended Problem Solving untuk
Meningkatkan Koneksi Matematika Siswa dalam Pembelajaran
Matematika di SMA. Pontianak: Universitas Tanjungpura, Laporan
Penelitian. 2007
Djaali., dan Mulyono, Pudji. Pengukuran dalan Bidang Pendidikan. Jakarta:
Grasindo. 2008
Firdausi. Studi Korelasi Pengetahuan Matematika dengan Kemampuan guru
mengevaluasi Hasil Belajar Siswa pada SMU Unggulan di DKI Jakarta.
Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika vol.1 no.02.
Desember 2006
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Kurniawati, Lia., dan Chodijah, Siti. ”Pengaruh Pendekatan Contextual Learning
pada Materi Bangun Ruang Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII”.
Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika vol.2 no.2.
Made, I Sumadi. Pengaruh Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan
Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 6
Singaraja. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 38 No.1 Januari
2005

Mullis, Ina V.S., dkk. TIMSS 2007 International Mathematics Report. dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html. 6 September 2009.

17.00WIB

Muslich, Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta : Bumi Aksara. 2007

Nasution, S. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Cet: XI. Jakarta: Bumi Aksara. 2008

63

64

Pinellas County Schools Division of Curriculum and Instruction Secondary Mathematics. Mathematical Power for All Students K-12. dari http://fcit.usf.edu/fcat8m/resource/mathpowr/fullpower.pdf. 10 Desember 2009, 13:00 WIB

Principles and Standars for School Mathematics. (va: National Council of Teacher of Mathematics, 2000). dari
Principles and Standars for School
Mathematics. (va: National Council of
Teacher
of
Mathematics,
2000).
dari
http://www.nctm.org/standards/default.aspx?id=58.
24
oktober
2009.
16.25WIB
Ruspiani.
Kemampuan
Siswa
dalam
Melakukan
Koneksi
Matematika.
Tesis
Universitas Pendidikan Indonesi, t.d. Bandung: PPS UPI. 2000
Sagala,
Syaiful.
Konsep
dan
Makna
Pembelajaran
Untuk
Membantu
Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfa Beta. 2007
Sanjaya,
Wina.
Pembelajaran
dalam
Implementasi
Kurikulum
Berbasis
Kompetensi. Jakarta: kencana. 2005
. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana. 2008
Sardiman. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. cet:10. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2003
.
Interaksi & Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. 2008
Satriawati, Gusni., dan Kurniawati, Lia. Menggunakan Fungsi-Fungsi Untuk
Membuat Koneksi-Koneksi Matematik. Algoritma Jurnal Matematika dan
Pendidikan Matematika vol.3 no.01 Juni. 2008
Setiawati, Tia. Peningkatan Pemahaman Konsep Melalui Pendekatan Contextual
Learning (Pendidikan Tindakan Kelas di SMP Jayakarta Pada Kelas VIII-
4). Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, td. Jakarta:

Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah.

Shadiq,

Fadjar.

Apa

dan

Mengapa

Matematika

itu

Begitu

Penting?.

dari

www.fadjarp3g.files.wordpress.com. 30 Oktober 2009. 14.30 WIB

Soejadi, R. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi DepDiknas. 2000

Subana, M,.

dan Sudrajat.

Pustaka Setia. 2005

Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Cet:II. Bandung:

Sudjana. Metoda Statistika. Cet III. Bandung: Tarsito. 2005

65

Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Cet: IX. Bandung: Alfa Beta. 2002

. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Cet. V. Bandung: Alfabeta. 2008 Suhenda. Materi Pokok
. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Cet. V. Bandung:
Alfabeta. 2008
Suhenda.
Materi
Pokok
Pengembangan
Kurikulum
dan
Pembelajaran
Matematika 1-9. Jakarta: Univversitas Terbuka. 2007
Sukardi. Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:
Bumi Aksara. 2003
Suprijono, Agus. Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:
Pustaka Belajar. 2009
Syaban,
Mumum.
Menumbuhkembangkan
Daya
Matematis
Siswa
dari:
http://educare.e-
fkipunla.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=
7 EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Februari 2008, volume
5. nomor 2. 20 September 2009. 13.00 WIB
Syah,
Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Jakarta:
PT.Remaja Rosdakarya. 2008
Tim MKKB Jurusan Pendidikan Mtaematika. Startegi Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia. 2001
Tim Penyusun Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullanh. 2007
Trianto.
Model-Model
Pembelajaran
Inovatif
Berorientasi
Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. 2007
Yasa,
Doantara.
Pembelajaran
Konvensional, dari
http://ipotes.wordpress/com/pembelajaran-konvensional. 20 Januari 2010.

11:20 WIB

Z, Zurinal., dan Sayuti. Wahyudi. Ilmu Pendidikan Pengantar&Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan. Jakarta: UIN Press. 2006

66

LAMPIRAN 1

HASIL WAWANCARA GURU

1. Bagaimana kondisi siswa pada saat pembelajaran matematika di kelas? Siswa mengikuti pembelajaran dengan baik,
1.
Bagaimana kondisi siswa pada saat pembelajaran matematika di kelas?
Siswa mengikuti pembelajaran dengan baik, namun motivasi belajar siswa
masih rendah, siswa lebih banyak diam.
2.
Apakah siswa aktif bertanya ketika mereka mengalami kesulitan?
Ya siswa aktif bertanya jika mengalami kesulitan saja dalam mengerjakan
latihan soal
3.
Apakah ketika ada siswa yang bertanya siswa yang lain menjelaskan?
Kadang-kadang siswa yang sudah paham ikut menjelaskan
4.
Apa saja kesulitan yang ibu alami saat pembelajaran matematika didalam
kelas?
• Siswa sebagian besar lupa dengan konsep-konsep dasar yang sudah
diperoleh sebelumnya sehingga jika konsep tersebut akan digunakan untuk
mempelajari materi selanjutnya, maka harus dijelaskan kembali
• Kurangnya jam pelajaran matematika, hanya 4 jam pelajaran dalam
seminggu
5.
Metode apa yang biasa ibu gunakan dalam pembelajaran matematika?
Metode yang sering digunakan antara lain: ceramah, tanya jawab dan
pemberian tugas
6.

Bagaimana hasil belajar matematika siswa? Seperti yang terlihat pada ulangan sebelumnya, ada siswa yang memiliki hasil belajar matematikanya cukup tinggi dan ada juga yang memiliki hasil belajar rendah

7. Bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematika siswa? Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa rata-rata cukup baik untuk sebagian siswa yang pandai.

8. Bagaimana kemampuan koneksi matematika siswa? Kemampuan koneksi matematik siswa rata-rata masih rendah, siswa masih sering lupa materi prasyarat untuk memulai materi baru. Jadi harus lebih dahulu diarahkan.

67

9. Buku pedoman apa yang ibu gunakan untuk mengajarkan matematika?

Edi Susanto dan Ali Kusnanto, 2009, Matematika I untuk SMK/MAK kelas X untuk Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi, Jakarta: Yudhistira

• Referensi lain yang relevan 10. Apa yang biasa Ibu lakukan untuk menumbuhkan kemampuan koneksi
• Referensi lain yang relevan
10. Apa yang biasa Ibu lakukan untuk menumbuhkan kemampuan koneksi
matematika siswa di kelas?
• Mengingatkan konsep-konsep atau teori yang pernah diperoleh.
• Memberikan soal-soal berbentuk verbal (soal cerita) yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah benar telah diajukan kepada guru
bidang studi matematika kelas X Administrasi Perkantoran SMK Negeri 11
Jakarta pada hari Kamis, 25 Februari 2010 dan telah dijawab oleh guru yang
bersangkutan sebagaimana tertulis diatas.
Guru Bidang Studi Matematika

Dwi Novianti, S.Pd

68

Lampiran 2 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELOMPOK EKSPERIMEN

Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Ajaran Alokasi waktu : SMK Negeri 11 Jakarta : Matematika
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Tahun Ajaran
Alokasi waktu
: SMK Negeri 11 Jakarta
: Matematika
: X/ 1I (dua)
: 2009/2010
: (2 x 45) x 8
A. Standar Kompetensi
Menyelesaikan masalah program linear
B. Kompetensi Dasar
• Membuat grafik himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linear
• Menentukan model matematika dari soal cerita (kalimat verbal)
• Menentukan nilai optimum dari sistem pertidaksamaan linear
• Menerapkan garis selidik
C. Indikator
• Menggambarkan grafik pertidaksamaan linear.
• Menentukan daerah penyelesaian sistem pertidaksamaan linear.
• Menentukan pertidaksamaan linear jika diketahui daerah
penyelesaiannya.
• Membuat model matematika dari soal cerita.

Mengenal masalah yang merupakan program linear.

Menentukan fungsi obyektif dan kendala dari program linear.

Menggambar daerah penyelesaian dari program linear.

Menentukan nilai optimum dari fungsi obyektif menggunakan uji titik sudut serta menafsirkannya.

Menggambar garis selidik dari fungsi obyektif.

Menentukan nilai optimum dengan menggunakan garis selidik serta menafsirkannya.

69

Hari pertama

Alokasi waktu

: 2 x 45menit

A. Tujuan Pembelajaran : • siswa dapat menggambar grafik pertidaksamaan linear • siswa dapat menentukan
A. Tujuan Pembelajaran
:
• siswa dapat menggambar grafik pertidaksamaan linear
• siswa dapat menentukan daerah penyelesaian dari suatu pertidaksamaan
linear dengan cara grafik
B. Materi Ajar
:
Grafik himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linear dua variabel
C. Metode Pembelajaran
:
Dengan pendekatan kontekstual menggunakan metode ekspositori, diskusi,
inquiri, penugasan, dan tanya jawab.
D. Skenario Pembelajaran :
1. Pendahuluan (20 menit)
• Apersepsi :
o
Guru memberikan penjelasan mengenai pembelajaran yang akan
dilakukan.
o
Guru mengingatkan siswa tentang persamaan dan pertidaksamaan
linear dengan memberikan lembar kegiatan
o
Guru menginformasikan kepada siswa tentang materi dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai
• Motivasi :

Apabila materi ini ini dikuasai dengan baik, maka akan membantu siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang ada dalam kehidupan sehari- hari mengenai program linear.

2. Kegiatan inti (50 menit)

Guru memberikan gambaran secara umum tentang program linear (5 menit)

Siswa dibuat kelompok kecil sekitar 4-5 orang dengan kemampuan yang heterogen.

Kelompok siswa diberikan permasalahan kontekstual (dalam bentuk LKS 1), agar mencari solusinya (30 menit)

70

Siswa mengeksplorasi pengetahuan dengan cara mengkoneksikan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, baik secara berkelompok ataupun sendiri.

• Guru menggunakan sistem tanya jawab yang interaktif antara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan
• Guru menggunakan sistem tanya jawab yang interaktif antara siswa
dengan siswa ataupun siswa dengan guru, untuk menjelaskan hal yang
tidak dimengerti oleh siswa.
• Saat siswa mengerjakan LKS per kelompok, guru berkeliling kelas
bertindak sebagai fasilitator dan moderator, memantau dan
membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
• Saat siswa selesai berdiskusi secara berkelompok, perwakilan salah
satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas.
Melalui interaksi siswa diajak membahas permasalahan yang disajikan.
(15 menit)
• Guru mengoreksi pendapat siswa yang tidak sesuai dan menegaskan
kembali pendapat siswa yang sudah tepat
3. Penutup (20 menit)
• Guru memberikan soal latihan (10 menit)
• Diakhir pertemuan, diadakan refleksi terhadap pembelajaran yang
sudah berlangsung. Guru membimbing siswa merangkum hasil
pembelajaran, selanjutnya guru memberikan beberapa soal latihan
untuk dikerjakan dirumah. (10 menit)
• Guru memerintahkan siswa untuk membaca materi pada pertemuan
berikutnya.

E. Alat dan Sumber Belajar

Alat

:Worksheet/ LKS

Sumber

:

Edi Susanto dan Ali Kusnanto, 2009, Matematika I untuk SMK/MAK kelas X untuk Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi, Jakarta: Yudhistira Dwi E. Larasati, 2008, Matematika Untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelas X, Jakarta: Ganeca Exact

71

F.

Penilaian

Teknik Instrumen

: Tertulis

• Bentuk Instrumen : Uraian • LKS • Instrumen/soal 1. Gambarlah daerah penyelesaian dari sistem
• Bentuk Instrumen
: Uraian
• LKS
• Instrumen/soal
1. Gambarlah daerah penyelesaian dari sistem pertidaksamaan berikut:
a. x ≤ 6
b. x + y ≤ 5
c. 3x + 4y < 12
2. Gambarlah grafik himpunan penyelesaian dari sistem pertidaksamaan
berikut dengan x dan y ∈ R.
a. 3x + 2y ≤ 6 ; x ≥ 0 ; y ≥ 0
b. 2x + y ≤ 6 ; x + 3y ≤ 9 ; x ≥ 0 ; y ≥ 0
c. x + y ≤ 3 ; x + 2y ≥ 4 ; x ≥ 0; y ≥ 0
3. Diketahui 4 suku pertama barisan aritmatika yaitu:
I. 5, 3, 2, 0, …
Ingat rumus barisan Aritmatika
II. 0, 2, 4, 6, …
Un = a + (n-1)b
; dimana
a = suku awal ;
b = beda
III.4, 6, 8, 10, …
a. Tentukan rumus suku ke – n dari barisan I, II, dan III kemudian
butlah grafik dari persamaan rumus tersebut dengan memisalkan
Un = y dan n = x
persamaan rumus tersebut dengan memisalkan Un = y dan n = x b. Diketahui y ≥

b. Diketahui y 0 ; x 0 ; Jika E merupakan daerah yang dibatasi oleh grafik I, II, dan III, tentukan daerah E

72

Hari Kedua

Alokasi waktu

: 2 x 45menit

A. Tujuan Pembelajaran : • Siswa mampu membuat pertidaksamaan linear jika diketahui daerah penyelesaian dari
A. Tujuan Pembelajaran
:
• Siswa mampu membuat pertidaksamaan linear jika diketahui daerah
penyelesaian dari sistem pertidaksamaan linear.
B. Materi Ajar
:
Grafik himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linear dua variabel.
C. Metode Pembelajaran
:
Dengan pendekatan kontekstual menggunakan metode ekspositori, diskusi,
inquiri, penugasan, dan tanya jawab.
D. Skenario Pembelajaran :
1. Pendahuluan (15 menit)
• Apersepsi :
o
Dengan tanya jawab, guru mengingatkan siswa tentang masalah
yang berkaitan menggambar grafik pertidaksamaan linear dan
membahas PR yang dianggap sulit.
o
Guru menginformasikan kepada siswa tentang materi dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai
• Motivasi :
Apabila materi ini ini dikuasai dengan baik, maka akan membantu
siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang ada dalam kehidupan sehari-
hari mengenai program linear.
2. kegiatan inti (55 menit)

Siswa berkumpul pada kelomok yang telah ditentukan.

Kelompok siswa diberikan permasalahan kontekstual (dalam bentuk LKS 2) yang menantang siswa, agar mencari solusinya. (35 menit)

Siswa mengeksplorasi pengetahuan dengan cara mengkoneksikan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, secara berkelompok.

73

Guru menggunakan sistem tanya jawab yang interaktif antara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru, untuk menjelaskan hal yang tidak dimengerti oleh siswa.

• Saat siswa mengerjakan LKS per kelompok, guru berkeliling kelas bertindak sebagai fasilitator dan moderator,
• Saat siswa mengerjakan LKS per kelompok, guru berkeliling kelas
bertindak sebagai fasilitator dan moderator, memantau dan
membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
• Saat siswa selesai berdiskusi secara berkelompok, perwakilan salah
satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas.
Melalui interaksi siswa diajak membahas permasalahan yang
disajikan.(20 menit)
• Guru mengoreksi pendapat siswa yang tidak sesuai dan menegaskan
kembali pendapat siswa yang sudah tepat.
3. Penutup (20 menit)
• Guru memberikan soal latihan (10 menit)
• Diakhir pertemuan, diadakan refleksi terhadap pembelajaran yang
sudah berlangsung. Siswa dapat merangkum hasil pembelajaran,
selanjutnya guru memberikan beberapa soal latihan di LKS untuk
dikerjakan dirumah. (10 menit)
• Guru memerintahkan siswa untuk membaca materi pada pertemuan
berikutnya
E. Alat dan Sumber Belajar
• Alat
:Worksheet/ LKS
• Sumber
:

Edi Susanto dan Ali Kusnanto, 2009, Matematika I untuk SMK/MAK kelas X untuk Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi, Jakarta: Yudhistira. Dwi E. Larasati, 2008, Matematika Untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelas X,