Anda di halaman 1dari 20

TANGKI BERPENGADUK

Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan di dalam bahan


yang diaduk. Tujuan operasi pengadukan yang utama adalah terjadinya pencampuran.
Pencampuran merupakan operasi yang bertujuan mengurangi ketidaksamaan kondisi, suhu,
atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan. Pencampuran dapat terjadi dengan cara
menimbulkan gerak di dalam bahan itu yang menyebabkan bagian-bagian bahan saling
bergerak satu terhadap yang lainnya, sehingga operasi pengadukan hanyalah salah satu cara
untuk operasi pencampuran. Pencampuran fasa cair merupakan hal yang cukup penting dalam
berbagai proses kimia. Pencampuran fasa cair dapat dibagi dalam dua kelompok. Pertama,
pencampuran antara cairan yang saling tercampur (miscible), dan kedua adalah pencampuran
antara cairan yang tidak tercampur atau tercampur sebagian (immiscible). Selain
pencampuran fasa cair dikenal pula operasi pencampuran fasa cair yang pekat seperti lelehan,
pasta, dan sebagainya; pencampuran fasa padat seperti bubuk kering, pencampuran fasa gas,
dan pencampuran antar fasa.

Pada percobaan yang akan dilakukan pada Laboratorium Teknologi Kimia I ini proses
pengadukan yang diteliti adalah pengadukan cairan dalam tangki, sehingga perlu dibahas
proses pencampuran fasa cair. Sebagai bahan petimbangan untuk mengkaji lebih jauh proses
pengadukan dan pencampuran, sebaiknya praktikan juga mempelajari dan membandingkan
sifat dan karakteristik, fluida cair terhadap fluida viscous lainnya seperti lelehan, pasta,
slurry. Sifat fisik dan viskositas ini sangat mempengaruhi karakter pencampuran seperti daya
pengadukan, waktu pencampuran, tipe pengaduk yang sesuai dan sebagainya.

Praktikum ini diarahkan pada kajian hidrodinamika tangki berpengaduk dengan draft
tube. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kajian hidrodinamika tangki berpengaduk
dengan draft tube ini adalah sebagai berikut.
1. Sifat fisik fluida meliputi densitas dan viskositas.

2. Jenis dan ukuran pengaduk.

3. Daya pengaduk.

4. Nisbah cair-padat.










Proses Pencampuran

Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan
mementum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi pada 3 skala
yang berbeda, yaitu:

1. pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang disebut
mekanisme konvektif

2. pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga mekanisme
pencampuran ini disebut eddy diffusion

3. pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme pencampuran

difusi.

Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan adalah
eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan turbulen daripada
pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat fisik fluida yang berpengaruh pada proses
pengadukan adalah densitas dan viskositas.

Densitas Fluida

Densitas fluida merupakan hubungan antara massa fluida dan volume yang
ditempatinya. Hubungan ini ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini:
=
m
(1)
V
dengan = densitas fluida m = massa
fluida V = volume fluida

Volume larutan dipengaruhi oleh komposisi dan temperatur. Sehingga densitas larutan
secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh komposisi dan temperatur. Volume larutan dapat
diprediksi dengan menggunakan persamaan berikut.
(2)

dengan V
sol
= volume larutan
V
A
= volume molar komponen A
V
B
= volume molar komponen B
n
A
= jumlah mol komponen A
n
B
= jumlah mol komponen B

Hubungan antara volume molar dengan konsentrasi untuk tiap larutan dapat
dinyatakan dalam bentuk grafik. Untuk larutan ideal, kurva yang dihasilkan berbentuk garis
lurus. Lain halnya dengan larutan tidak ideal, kurva hubungan volume molar dan konsentrasi
tidak linier.
Viskositas Fluida

Viskositas fluida merupakan indeks kelembaman cairan terhadap perubahan
kecepatan. Viskositas larutan dipengaruhi oleh konsentrasi dan temperatur.

Hubungan antar konsentrasi dengan hubungan dapat digambarkan dalam suatu grafik.
Grafik tersebut spesifik untuk masing-masing larutan. Hubungan viskositas dengan
konsentrasi larutan NaOH [Hatschek, 1928], ditunjukkan pada gambar berikut.
















Gambar 1 Hubungan viskositas dengan konsentrasi larutan NaOH pada 18
o
C

Viskositas semua cairan dan larutan akan turun seiring dengan kenaikan temperatur.
Analisis kuantitatif pertama kali mengenai hal ini dilakukan oleh Poiseuille. Dia menemukan
bahwa viskositas air pada temperatur tertentu dapat dihubungkan dengan viskositas pada 0
o
C
melalui persamaan empiris:
=

0
(3) 1 + T +T
2

dengan , = konstanta Thrope dan Roger

= viskositas cairan pada temperatur T

o
= viskositas air pada temperatur 0
o
C


Tangki Berpengaduk

Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam industri kimia.
Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi
ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas, temperatur dan lain-lain.
Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara acak dua fasa atau lebih yang mula-
mula heterogen sehingga menjadi campuran homogen.

Peralatan proses pencampuran merupakan hal yang sangat penting, tidak hanya
menentukan derajat homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga mempengaruhi perpindahan
panas yang terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak tepat dapat menyebabkan konsumsi
energi berlebihan dan merusak produk yang dihasilkan. Salah satu peralatan yang menunjang
keberhasilan pencampuran ialah pengaduk.
Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain:

1. Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian bawahnya cekung

2. Ukuran: yaitu diameter dan tinggi tangki

3. Kelengkapannya:

a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola aliran di dalam tangki

b. jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi sebagai pengendali suhu

c. letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu

d. kelengkapan lainnya seperti tutup tangki, dan sebagainya.


Skema lengkap dari sebuah tangki berpengaduk sederhana ditunjukkan pada Gambar 2.




















Gambar 2 Sketsa dan dimensi tangki pengaduk sederhana

Jenis Pengaduk

Pengaduk dalam tangki memiliki fungsi sebagai pompa yang menghasilkan laju
volumetrik tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya. Input daya dipengaruhi oleh
geometri peralatan dan fluida yang digunakan. Profil aliran dan derajat turbulensi merupakan
aspek penting yang mempengaruhi kualitas pencampuran.
Rancangan pengaduk sangat dipengaruhi oleh jenis aliran, laminar atau turbulen.
Aliran laminar biasanya membutuhkan pengaduk yang ukurannya hampir sebesar tangki itu
sendiri. Hal ini disebabkan karena aliran laminar tidak memindahkan momentum sebaik
aliran turbulen [Walas, 1988].

Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi karena adanya gerak rotasi dari
pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini memotong fluida tersebut dan dapat
menimbulkan arus eddy yang bergerak keseluruhan sistem fluida tersebut. Oleh sebab itu,
pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu operasi pencampuran fasa cair
dengan tangki pengaduk.
Pencampuran yang baik akan diperoleh bila diperhatikan bentuk dan dimensi
pengaduk yang digunakan, karena akan mempengaruhi keefektifan proses pencampuran,
serta daya yang diperlukan.

Menurut aliran yang dihasilkan, pengaduk dapat dibagi menjadi tiga golongan:

1. Pengaduk aliran aksial yang akan menimbulkan aliran yang sejajar dengan sumbu putaran

2. Pengaduk aliran radial yang akan menimbulkan aliran yang berarah tangensial dan radial
terhadap bidang rotasi pengaduk. Komponen aliran tangensial menyebabkan timbulnya
vortex dan terjadinya pusaran, dan dapat dihilangkan dengan pemasangan baffle atau
cruciform baffle

3. Pengaduk aliran campuran yang merupakan gabungan dari kedua jenis pengaduk di atas.

Menurut bentuknya, pengaduk dapat dibagi menjadi 3 golongan:

1. Propeller

Kelompok ini biasa digunakan untuk kecepatan pengadukan tinggi dengan arah
aliran aksial. Pengaduk ini dapat digunakan untuk cairan yang memiliki viskositas
rendah dan tidak bergantung pada ukuran serta bentuk tangki. Kapasitas sirkulasi yang
dihasilkan besar dan sensitif terhadap beban head.

Dalam perancangan propeller, luas sudu biasa dinyatakan dalam perbandingan
luas area yang terbentuk dengan luas daerah disk. Nilai nisbah ini berada pada rentang
0.45 sampai dengan 0.55.

Pengaduk propeler terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus aliran
meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida ke satu arah tertentu sampai
dibelokkan oleh dinding atau dasar tangki.

2. Turbine

Istilah turbine ini diberikan bagi berbagai macam jenis pengaduk tanpa
memandang rancangan, arah discharge ataupun karakteristik aliran. Turbine merupakan
pengaduk dengan sudu tegak datar dan bersudut konstan. Pengaduk jenis ini digunakan
pada viskositas fluida rendah seperti halnya pengaduk jenis propeller [Uhl & Gray,
1966]. Pengaduk turbin menimbulkan aliran arah radial dan tengensial. Di sekitar turbin
terjadi daerah turbulensi yang kuat, arus dan geseran yang kuat antar fluida.
Salah satu jenis pengaduk turbine adalah pitched blade. Pengaduk jenis ini
memiliki sudut sudu konstan. Aliran terjadi pada arah aksial, meski demikian terdapat
pule aliran pada arah radial. Aliran ini akan mendominasi jika sudu berada dekat dengan
dasar tangki.

3. Paddles

Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting pada proses pencampuran
dalam industri. Bentuk pengaduk ini memiliki minimum 2 sudu, horizontal atau vertical,
dengan nilai D/T yang tinggi. Paddle digunakan pada aliran fluida laminar, transisi atau
turbulen tanpa baffle.

Pengaduk padel menimbulkan aliran arah radial dan tangensial dan hampir
tannpa gerak vertikal sama sekali. Arus yang bergerak ke arah horisontal setelah
mencapai dinding akan dibelokkan ke atas atau ke bawah. Bila digunakan pada
kecepatan tinggi akan terjadi pusaran saja tanpa terjadi agitasi.














Gambar 3 Bentuk-bentuk pengaduk
(a) pengaduk paddle (b) pengaduk propeller (c) pengaduk turbine
Disamping itu, masih ada bentuk-bentuk pengaduk lain yang biasanya merupakan
modifikasi dari ketiga bentuk di atas.



a. Flate Blade

b. Curved Blade

c. Pitched Blade


Gambar 4 Tipe-tipe pengaduk jenis turbin





a. Standardthree baldes

b. Weedless

c. Guarded

Gambar 5 Tipe-tipe pengaduk jenis propeler


a. Basic

b. Anchor

c. Glassed




Gambar 6 Tipe-tipe pengaduk jenis padel













Gambar 7 Pola aliran pada pengaduk jenis propeler


Kecepatan Pengaduk

Kecepatan pengaduk yang umumnya digunakan pada operasi industri kimia adalah
sebagai berikut.

Kecepatan tinggi, berkisar pada kecepatan 1750 rpm.

Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan viskositas
rendah misalnya air.

Kecepatan sedang, berkisar pada kecepatan 1150 rpm.

Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan
minyak pernis.

Kecepatan rendah, berkisar pada kecepatan 400 rpm.

Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur di
mana terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa.
Untuk menjamin keamanan proses, pengaduk dengan kecepatan lebih tinggi dari 400
rpm sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 200 cP, atau
volume cairan lebih besar dari 2000 L. Pengaduk dengan kecepatan lebih besar dari 1150 rpm
sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 50 cP atau volume
cairan lebih besar dari 500 L. Kecepatan pengaduk ditentukan oleh viskositas fluida dan
ukuran geometri sistem pengadukan.

Jumlah Pengaduk

Jumlah pengaduk yang digunakan ditentukan oleh viskositas fluida, diameter
pengaduk dan kedalaman fluida yang akan diaduk. Jumlah pengaduk yang umumnya
digunakan adalah 1 atau 2 buah pengaduk. Panduan dalam menentukan jumlah pengaduk
yang akan digunakan diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Kriteria penentuan jumlah pengaduk [Weber, 1963]
Satu Pengaduk Dua Pengaduk
fluida dengan viskositas
rendah
fluida dengan viskositas sedang
dan
tinggi


dapat menyapu dasar tangki untuk tangki yang dalam
kecepatan balik aliran tinggi gaya gesek aliran lebih besar
ketinggian permukaan cairan dapat meminimalkan ukuran mounting
bervariasi
nozzl
e

Pola Aliran dalam Tangki Berpengaduk

Pada tangki berpengaduk, pola aliran yang dihasilkan bergantung pada beberapa
faktor antara lain geometri tangki, sifat fisik fluida dan jenis pengaduk itu sendiri. Pengaduk
jenis turbine akan cenderung membentuk pola aliran radial sedangkan propeller cenderung
membentuk aliran aksial. Pengaduk jenis helical screw dapat membentuk aliran aksial dari
bawah tangki menuju ke atas permukaan cairan. Pola aliran yang dihasilkan oleh tiap-tiap
pengaduk tersebut dapat dilihat pada Gambar 8.










Gambar 8 Pola aliran fluida di dalam tangki berpengaduk
(a) flat-blade turbine (b) marine propeller (c) helical screw



Pada dasarnya terdapat 3 komponen yang hadir dalam tangki berpengaduk yaitu:

a. komponen radial pada arah tegak lurus terhadap tangkai pengaduk

b. komponen aksial pada arah sejajar (paralel) terhadap tangkai pengaduk

c. komponen tangensial atau rotasional pada arah melingkar mengikuti putaran sekitar
tangkai pengaduk.
Komponen radial dan tangensial terletak pada daerah horizontal dan komponen

longitudinal pada daerah vertikal untuk kasus tangkai tegak (vertical shaft). Komponen radial
dan longitudinal sangat berguna untuk penentuan pola aliran yang diperlukan untuk aksi
pencampuran (mixing action).

Pengadukan pada kecepatan tinggi ada kalanya mengakibatkan pola aliran melingkar
di sekitar pengaduk. Gerakan melingkar tersebut dinamakan vorteks. Vorteks dapat terbentuk
di sekitar pengaduk ataupun di pusat tangki yang tidak menggunakan baffle. Fenomena ini
tidak diinginkan dalam industri karena beberapa alasan. Pertama kualitas pencampuran buruk
meski fluida berputar dalam tangki. Hal ini disebabkan oleh kecepatan sudut pengaduk dan
fluida sama. Kedua udara dapat masuk dengan mudahnya ke dalam fluida karena tinggi fluida
di pusat tangki jatuh hingga mencapai bagian atas pengaduk. Ketiga, adanya vorteks akan
mengakibatkan naiknya permukaan fluida pada tepi tangki secara signifikan sehingga fluida
tumpah. Upaya berikut ini dapat dilakukan untuk menghindari vorteks, yaitu:

1. menempatkan tangkai pengaduk lebih ke tepi (off-center)

2. menempatkan tangkai pengaduk dengan posisi miring

3. menambahkan baffle pada dinding tangki.

Draft Tube[Deddy, 2001]

Draft tube merupakan silinder ramping yang mengelilingi pengaduk dengan diameter
lebih besar dari diameter pengaduk. Alat ini digunakan untuk mengendalikan arah dan
kecepatan aliran serta sangat berguna untuk menghasilkan nilai shear pengaduk yang tinggi.
Penggunaan draft tube dengan pola aliran down-pumping menghasilkan pola aliran kuat yang
akan menyapu semua padatan dan menurunkan tingkat deposisi.

Dengan draft tube diharapkan partikel-partikel fluida mencapai path length yang
sama. Penggunaan draft tube menghasilkan peningkatan yang sangat signifikan dari
keseragaman aliran, terutama pada daerah dekat permukaan cairan. Tetapi, daya yang
dibutuhkan pada sistem pengadukan dengan draft tube lebih besar daripada sistem open
impeller. Walaupun demikian, jika sistem pengadukan dengan draft tube ternyata
menghasilkan pencampuran yang lebih baik, maka penggunaan draft tube tetap menjadi
pilihan utama.
Posisi pengaduk dalam draft tube ditentukan oleh jenis pengaduk yang digunakan.
Untuk pengaduk jenis turbine, pengaduk diletakkan di bawah draft tube. Tapi untuk
pengaduk jenis propeller, pengaduk diletakkan di dalam draft tube. Gambar 9 merupakan
sketsa sederhana tangki berpengaduk dengan draft tube.











Gambar 9 Tangki berpengaduk dengan draft tube
(a) pengaduk turbine (b) pengaduk propeller


Laju dan Waktu Pencampuran (Rate & Time for Mixing)

Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan sehingga diperoleh
keadaan yang serba sama untuk menghasilkan campuran atau produk dengan kualitas yang
telah ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate of mixing) adalah laju di mana proses
pencampuran berlangsung hingga mencapai kondisi akhir [Coulson and Richardson, 1999].

Pada operasi pencampuran dengan tangki pengaduk, waktu pencampuran ini
dipengaruhi oleh beberapa hal,

1. Yang berkaitan dengan alat, seperti:

a. ada tidalnya baffle atau cruciform baffle

b. bentuk atau jenis pengaduk (turbin, propeler, padel)

c. ukuran pengaduk (diameter, tinggi)

d. laju putaran pengaduk

e. kedudukan pengaduk pada tangki, seperti

1. jarak terhadap dasar tangki

2. pola pemasangannya:

- center, vertikal

- off center, vertikal

- miring (inciclined) dari atas
- horisontal

f. jumlah daun pengaduk

g. jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk



2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk:

a. perbandingan kerapatan/ densitas cairan yang diaduk

b. perbandingan viskositas cairan yang diaduk

c. jumlah kedua cairan yang diaduk

d. jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)

Untuk selanjutnya faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang dapat
dimanipulasi untuk mengamati pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik pengadukan,
terutama terhadap waktu pencampuran.

Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menentukan waktu dan laju
pencampuran, antara lain:

1. menambahkan pewarna dan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
keseragaman warna

2. menambahkan larutan garam dan mengukur konduktivitas elektrik saat komposisi
seragam
3. menambahkan asam atau basa serta mendeteksi perubahan warna indicator ketika
proses netralisasi sudah selesai
4. metoda distribusi waktu tinggal (residence time distribution) yang diukur dengan
memantau konsentrasi output
5. mengukur temperatur serta waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keseragaman.
Waktu pencampuran ditentukan oleh beberapa variable proses dan operasi yang

ditunjukkan oleh hubungan berikut ini.

m = f
( , , N, D, g. dimensi geometri sistem) dengan

m
= waktu pencampuran

= densitas fluida = viskositas
fluida

N = kecepatan putaran pengaduk D =
diameter pengaduk

g = percepatan gravitasi

Jika faktor dimensi geometri dan bilangan Froude (DN
2
/g) diabaikan, maka hubungan
2.5 dapat disederhanakan menjadi:

ND
2
= f (Re)

m
=


(4)



f





Kebutuhan Daya

Untuk melakukan perhitungan dalam spesifikasi tangki pengaduk telah dikembangkan
berbagai teori dan hubungan empiris. Para peneliti telah mengembangkan beberapa hubungan
empiris yang dapat memperkirakan ukuran alat dalam pemakaian nyata atas dasar percobaan
yang dilakukan pada skala laboratorium.

Perkiraan kebutuhan daya yang diperlukan untuk mengaduk cairan dalam tangki
pengaduk dapat dihitung atas dasar percobaan pada skala laboratorium. Persyaratan
penggunaan hubungan empiris tersebut adalah adanya:
1. Kesamaan geometris yang menentukan kondisi batas peralatan, artinya bentuk kedua alat
harus sama dan perbandingan ukuran-ukuran geometris berikut ini sama untuk keduanya:
D
D
T
,
D
C
,
D
J
,
D
S
,
W
D
,
H
D
(5)

Dimana: D
T
= diameter tangki

C = tinggi pengaduk dari dasar tangki

D = diameter pengaduk

H = tinggi cairan dalam tangki

J = lebar baffle

N = jumlah putaran pengaduk permenit

P = daya (power)

S = pitch dari pengaduk

W = lebar blade pengaduk

b. Kesamaan dinamik dan kesamaan kinematik, yaitu terdapat kesamaan harga
perbandingan antara gaya yang bekerja di suatu kedudukan (gaya viskos terhadap gaya
gravitasi, gaya inersia terhadap gaya viskos, dan sebagainya). Dua sistem yang sama
secara geometri dapat dikatakan sama secara dinamik jika perbandingan gaya-gaya yang
bekerja pada sistem sama. Sedangkan kesamaan kinematik terjadi jika kecepatan pada
titik bersesuaian memiliki perbandingan yang sama.

Faktor yang mempengaruhi kebutuhan daya (power) P untuk pengadukan adalah
diameter pengaduk D, kekentalan cairan, kerapatan cairan, medan gravitasi g, dan laju putar
pengaduk N.

Maka secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

P = f (D ,, , g,
N) (6)
Bila dianggap hubungan besaran-besaran tersebut seperti persamaan berikut:

P = K (D
a
,
b
,
f
, g
e
,
N
g
) (7)
dimana K adalah konstanta, dengan analisa dimensi yang menggunakan dimensi M untuk
massa, L untuk panjang, dan T untuk waktu, maka:

ML
2
a M
b
L
e
M
f
1
g

(8)
T
3
= L . .
2
.
3
.

LT T L T
dengan menyelesaikan persamaan tersebut,
diperoleh:

P
2 -b 2 -e

D .N DN

5
N
3 = K.

.
g
(9)
D

dimana dari persamaan-persamaan tersebut dikenal bilangan tak berdimensi:


Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk

Hidrodinamika fluida yang terjadi dalam tangki berpengaduk dapat diturunkan dalam
suatu korelasi empiris antara bilangan Reynolds, Fraude dan Power.
1. Bilangan Reynolds

Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang menyatakan
perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos. Untuk sistem dengan pengadukan:
Re =
D (ND)
=
D
2
N
(10)






dengan = densitas fluida = viskositas
fluida

D = diameter pengaduk
Dalam sistem pengadukan terdapat 3 jenis rejim aliran yaitu laminar, transisi
dan turbulen. Rejim aliran laminar terjadi pada bilangan Reynolds 10, sedangkan
turbulen terjadi pada bilangan Reynolds 10
4
[Broadkey, 1988].


2. Bilangan Fraude

Bilangan Fraude menunjukkan perbandingan antara gaya inersia dengan gaya
gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Fr =
v
2
=
(ND)
2

=
N
2
D
(11)
Dg Dg g



dengan Fr = bilangan Fraude

N = kecepatan putaran pengaduk D =
diameter pengaduk

g = percepatan gravitasi

Bilangan Fraude bukan merupakan variable yang signifikan. Bilangan ini
hanya diperhitungkan pada sistem pengadukan unbaffled. Pada sistem ini bentuk
permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi sehingga membentuk
vorteks. Vorteks menunjukkan keseimbangan antara gaya gravitasi dengan gaya
inersia.

3. Bilangan Power

Bilangan Power menunjukkan perbandingan antara perbedaan tekanan yang
dihasilkan aliran dengan gaya inersianya. Perubahan tekanan akibat distribusi pada
permukaan pengaduk dapat diintegrasikan menghasilkan torsi

total dan kecepatan
pengaduk.

Po =
P
(12)


N
3
D
5



dengan Po = bilangan
Power

N = kecepatan putaran
pengaduk
= densitas fluida

Korelasi antara bilangan Power dengan Reynold serta Fraude
ditunjukkan
pada persamaan-persamaan
berikut:
Untuk sistem tanpa baffle : Po = a Re
b
Pr
c
(13)
Untuk sistem dengan baffle
: Po = a
Re
b
(14)
denga
n
Po = bilangan
Power
Re = bilangan Reynold
Pr = bilangan Prandtl

a, b, c = konstanta eksperimental Persamaan pertama
dapat diubah menjadi:

ln Po = ln a + b ln Re (15)


Dari hasil peneliti sebelumnya [Deddy, RSCE], hubungan antara Power dan nisbah
cair-padat disajikan pada Gambar 10 sedangkan hubungan antara bilangan Reynold dan
bilangan Power disajikan pada Gambar 11.
















Gambar 10 Hubungan antara daya dan nisbah cair-padat



Tanpa
TKS
L/S =
10 L/S = 8
L/S =
6

100
0
(
P
o
)

100

n
u
m
b
e
r



P
o
w
e
r

10

1
5000
100
00
1500
0
2000
0
250
00
3000
0
3500
0
400
00

Reynolds
number (Re)

Gambar 11 Korelasi bilangan Reynolds dan bilangan Power pengaduk turbin

Karakteristik Pengadukan dan Pencampuran

Agar bejana proses bekerja efektif pada setiap masalah pengadukan, volume fluida
yang disirkulasikan impeller harus cukup besar agar dapat menyapu keseluruhan bejana
dalam waktu yang singkat. Demikian pula, kecepatan arus yang meninggalkan impeller harus
cukup tinggi agar dapat mencapai semua sudut tangki. Keturbulenan aliran adalah akibat arus
yang terarah baik serta gradien kecepatan yang cukup besar di dalam zat cair. Sirkulasi dan
pembangkitan keturbulenan aliran memerlukan energi, dan terdapat hubungan antara
pemasukan daya dan parameter perancangan bejana pencampur berpengaduk.

Sketsa dimensi tangki dapat dilihat pada Gambar 12.


















Gambar 12. Dimensi Tangki dan Impeller

Agitator turbin pada prinsipnya adalah pompa impeller yang beroperasi tanpa
rumahan, dengan aliran masuk dan aliran keluar yang tidak terarah. Hubungan-hubungan
penentu untuk agitator turbin identik dengan hubungan untuk pompa sentrifugal. Jika
kecepatan tangensial zat cair merupakan fraksi k tertentu dari kecepatan di ujung daun, maka

V'u
2
= k.u
2
= k..D
a
.n (16)
karena u
2
= . D
a
.n, maka laju aliran volumetrik melalui impeller adalah:
q = V
r2
.A
p
(17)
Dimana: u
2
adalah kecepatan pada ujung daun n adalah
jumlah daun impeller
V
u2
dan V
r2
adalah kecepatan tangensial dan kecepatan radial zat cair yang
meninggalkan ujung daun impeller
V
2
adalah kecepatan total cairan pada titik tersebut

Profil vektor kecepatan pada ujung daun impeller ditunjukkan pada Gambar 13.











Gambar 13 Profil Kecepatan pada Ujung Daun Impeller
A
p
diambil dari luas silinder yang terbentuk dari sapuan ujung daun impeller, atau:
A
p
= .D
a
.W (18)
Dimana: Da adalah diameter impeller
W adalah lebar daun impeller
Dari geometri terlihat bahwa:
V
r2
= (u
2
V
u2
)tan
2
(19)
Substitusi V
u2

memberikan:
V
r2

= . D
a
. n (1-k).
tan
2
(20)
Maka laju alir volumeteri adalah:
q =
2
.D
a
2
.n.W.(1-k).
tan
2
(21)
Untuk impeller bergeometri sama W sebanding dengan Da, sehingga untuk nilai k dan
2

berlaku

q n.D
a
3
(22)
Rasio antara kedua besaran tersebut disebut angka aliran (flow number) N
Q
yang
didefinisikan sebagai:

N
Q
q
3
(23)
n.D
a

Untuk impeller turbin N
Q
adalah fungsi ukuran relatif impeller dan tangki. Untuk bejana
berpengaduk dan bersekat (untuk turbun rata berdaun 6 dengan W/D
a
= 1/5), nilai N
Q
adalah
1.3. Untuk turbin berdaun rata, aliran total, diperkirakan dari waktu sirkulasi rata-rata cairan
yang terlatut adalah:
Salah satu pertimbangan yang sangat penting dalam merancang bejana pengaduk
adalah kebutuhan daya untuk memutar impeller. Bila aliran di dalam tangki adalah turbulen,
kebutuhan daya dapat diperkirakan dari hasil kali aliran q yang didapat dari impeller dan
energi kinetik Ek per satuan volume fluida. Besaran aliran q adalah:

q = n.D
a
3
.N
Q

(25
)
Sedangkan energi kinetik aliran didiefinisikan
sebagai:
E
k
=
.(V'
2
)
2


(26)

2.g
c


Kecepatan V
2
sedikit lebih kecil dari kecepatan ujung u
2
. Jika rasio V
2
/u
2
disimbolkan
dengan , maka V
2
= ..n.D
a
, dan kebutuhan daya adalah:

P = n.D a
3
.N Q . ( ..n.D a )
2
(27)
2.g
c


.n
3 5

2
.
2
P =

.D
a


N
Q


(28)


g
c


2


Dalam bentuk tanpa dimensi persamaan tersebut menjadi:
P.g
c =

2
.
2

N
Q
(29)
n
3
.D
a
2

5 .
Ruas kiri persamaan tersebut dianamakan bilangan daya (power number) N
P,
yang
didefinisikan sebagai:

N
P
=
P.g
c

(30)
n
3
.D
a
5

.
Q

Untuk menaksir daya yang diperlukan untuk memutar impeller pada kecepatan
tertentu, diperlukan korelasi empirik mengenai daya (bilangan daya). Bentuk korelasi
demikian didapatkan dari analisis dimensi, bila spesifikasi tangki, sekat, dan impeller
diketahui.Variabel-variabel yang dianalisis adalah dimensi penting tangki, sekat, dan
impeller, viskositas, densitas, dan kecepatan zat cair, serta fenomena vorteks yang terjadi di
permukaan cairan. Sebagian zat cair akan terangkat lebih tinggi dari permukaan rata-rata zat
cair, yaitu permukaan dalam keadaan tidak teraduk, dan gaya angkat ini harus diatasi oleh
gaya gravitasi. Gugus-gugus tanpa dimensi yang berkorelasi dengan bilangan daya adalah
bilangan Reynolds, bilangan Froude, dan faktor bentuk, sehingga dapat dirumuskan
persamaan:
Np = (N
RE
, N
FR
, S
1
, S
2
,.....,S
n
) (31)

Berbagai faktor bentuk dalam persamaan tersebut ditentukan oleh jenis dan

susunan alat. Ukuran-ukuran penting untuk bejana dengan pengaduk turbin yang umum
disajikan pada Gambar 14.














Gambar 14 Ukuran Bejana

Faktor-faktor bentuk yang berhubungan dengan dimensi bejana, sekat, dan impeller
tersebut adalah: S
1
= D
a
/D
t
, S
2
= E/D
a
, S
3
= L/D
a
, S
4
= W/D
a
, S
5
= J/D
t
dan S
6
= H/D
t
. Faktor-
faktor tersebutlah yang biasanya dikorelasikan dengan bilangan-bilangan tak berdimensi dan
diplot dalam grafik-grafik korelasi. Contoh grafik N
P
terhadap N
RE
untuk tangki disajikan
pada Gambar 15a dan Gambar 15b.










Gambar 15a dan 15b Korelasi bilangan Reynolds dan bilangan daya.


Kriteria keberhasilan pencampuran biasanya diamati secara visual. Kriteria lain adalah
fluktuasi konsentrasi setelah suatu pencampur diinjeksikan ke dalam aliran fluida, variasi
dalam analisis sampel yang diambil secara random dari berbagai titik dalam campuran kecil,
laju perpindahan zat terlarut dari suatu fasa cair ke dalam fasa lain, serta keseragaman
suspensi.

Pencampuran zat cair yang miscible di dalam tangki merupakan proses yang
berlangsung cepat dalam daerah aliran turbulen. Impeller akan menghasilkan arus kecepatan
tinggi, fluida dapat bercampur baik di daerah sekitar impeller karena adanya
Pencampuran zat cair yang miscible di dalam tangki merupakan proses yang berlangsung
cepat dalam daerah aliran turbulen. Impeller akan menghasilkan arus kecepatan tinggi, fluida
dapat bercampur baik di daerah sekitar impeller karena adanya keturbulenan. Pada waktu
arus melambat karena membawa serta aliran lain di sepanjang dinding, terjadi juga
pencampuran radial sedang pusaran-pusaran besar pecah menjadi kecil, tetapi tidak banyak
terjadi pencampuran pada arah aliran, Fluida akan mengalami satu lingkaran penuh dan
kembali ke pusat impeller, dan berkontak dengan massa fluida yang lain dan terjadi
pencampuran. Perhitungan yang didasarkan atas model ini menunjukkan bahwa pencampuran
yang hampir sempurna (99%) tercapai saat isi tangki disirkulasikan sebanyak 5 kali. Waktu
pencampuran dapat diperkirakan dari korelasi aliran yang dihasilkan turbin standar berdaun
6, sebagai berikut:

3 D

q = 0.92 n.D
a


t

(32)



D
a

5V D
t

2
.H 1
t
T
q = 5. 4
.
0.92.n.D
a

2
.D
t
(33)

atau

2
D
t



D
a
= konstan = 4.3 (34)
n.t
T
.

.


D
t
H
Untuk tangki dan impeller tertentu, atau untuk berbagai sistem yang serupa secara
geometri, waktu pencampuran diperkirakan akan berbanding terbalik dengan kecepatan
pengaduk. Grafik pada gambar 16 menyajikan hasil untuk berbagai sistem yang dikorelasikan
dalam n.t
T
terhadap N
RE.
Untuk turbin dengan spesifikasi D
a
/D
t
= 1/3 dan D
t
/H =1, nilai n.t
T

untuk N
RE
> 10
3
adalah 36.















Gambar 16 Korelasi Waktu Pencampuran
Waktu pencampuran akan jauh lebih besar bila N
RE
antara 10-1000 walaupun konsumsi daya
tidak banyak berbeda dengan keadaan turbulen. Waktu pencampuran dengan turbin bersekat
berubah sesuai persamaan polinomial berorde 1.5 terhadap kecepatan pengaduk dan
meningkat lagi dengan cepat jika N
RE
diturunkan. Faktor waktu pencampuran dapat disusun
kembali untuk rejim turbulen sesuai persamaan Norwood dan Metzner, sebagai berikut:

2
2/
3 1/6
1/
2



2 1/2

1/6

t
T

(nD
a


) .g .D
a



D
t


g


D
a

f
t
=

= n.t
T
.







(35)

1/
2 3/2

2

H .D
t

D
t H n
.D
a
Bilangan froude dalam persamaan tersebut menyiratkan adanya efek vorteks, yang
dapat terjadi pada bilangan reynolds yang rendah. Bilangan froude dapat diabaikan pada
tangki bersekat dengan aliran yang sangat turbulen (N
RE
sangat tinggi).

Anda mungkin juga menyukai