Anda di halaman 1dari 4

Nama : Anik Yuliarti

NPM : 07311006
Bidang Skripsi : Farmasetik Kosmetik
1. Rencana Judul : Formulasi Sediaan Perona Pipi Menggunakan Ekstrak Daun
Bayam Merah (Amarathus tricolor L.) Sebagai Pewarna Alami.
2. Masalah Pokok : Bagaimana tingkat kestabilan warna yang dihasilkan oleh
ekstrak daun bayam merah (Amarathus tricolor L.) dalam
berbagai konsentrasi?
3. Tujuan : Untuk mengetahui kestabilan warna yang dihasilkan daun
bayam merah (Amarathus tricolor L.) sebagai pewarna alami
dalam sediaan perona pipi.
4. Hipotesis : Ekstrak bayam merah (Amarathus tricolor L.) dapat
memberikan efek warna dalam sediaan perona pipi.
5. Alasan pemilihan judul :
1. Alasan memilih sediaan perona pipi.
Perona pipi adalah sediaan kosmetik yang bertujuan
memerahkan pipi, sehingga penggunanya tampak lebih cantik
dan lebih segar. Perona pipi dapat digunakan langsung
dengan meratakan pada kulit pipi, tetapi dalam banyak hal
lebih baik digunakan setelah tata rias, baik sebelum maupun
sesudah menggunakan bedak ( DEPKES RI, 1985 ). Bahan
utama sediaan perona pipi yaitu zat pembawa sebagai basis
sediaan, pewarna, parfum dan pengawet. Zat pewarna yang
digunakan adalah bahan pewarna yang diizinkan khusus pada
sediaan kosmetika yang bertujuan penggunaannya kontak
dengan kulit dalam waktu singkat ( BPOM, 2011 ).

2. Alasan memilih daun bayam merah (Amarathus tricolor L.).
Pemilihan ekstak daun bayam merah (Amarathus tricolor L.)
sebagai pewarna alami dalam sediaan perona pipi mengacu
pada penelitian sebelumnya bahwa ekstrak daun bayam
merah (Amarathus tricolor L.) mengandung betasianin
sehingga dapat digunakan sebagai pewarna alami dalam
sediaan minuman yang dilakukan oleh Fitri Yoni Yuliza (2012).

6. Tahap pembuatan ekstrak kental.
Pada penelitian ini, dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi dengan
menggunakan pelarut akuades yang diasamkan dengan asam klorida (99:1)
yang bertujuan agar memperoleh total betasianin yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pelarut akuades ( Fitri Yoni Yuliza, 2012 ). Pembuatan
ekstrak daun bayam merah dilakukan dengan cara sebanyak 100 gram daun
bayam merah yang telah dipotong kecil kecil, dimasukkan ke dalam wadah
dan dimaserasi dengan menggunakan pelarut akuades yang diasamkan
dengan asam klorida sebanyak 500ml. Proses maserasi dilakukan selama 24
jam dalam keadaan gelap. Hasil yang diperoleh kemudian disaring dan
diuapkan pelarutnya dengan menggunakan rotary evaporator sehingga
diperoleh ekstrak kental.

7. Tahap pembuatan sediaan perona pipi.
Perona pipi memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah tipe bubuk kompak.
Bubuk kompak adalah sediaan dasar berupa padatan, lembut, homogen
mudah disapukan merata pada kulit dengan spon, tidak menimbulkan iritasi,
biasanya berbentuk kik, digunakan sebagai pembawa ( Depkes RI, 1985 ).
a.Formula tipe bubuk kompak ( Depkes RI, 1985 ).
No Nama Zat Jumlah
1 Kaolin ringan 50
2 Kalsium karbonat endap 50
3 Magnesium karbonat 50
4 Seng stearat 50
5 Talk 750
6 Pigmen 50
7 Parfum 2
8
Zat pengikat :
Isopropil miristat
Dasar salep lanolin
Sama banyak
secukupnya

b.Formula perona pipi yang digunakan ( Izza Fella Fahraint, 2013 ).
No Bahan Kegunaan
Jumlah
Konsentrasi
Bahan Baku
(%)
Berat Bahan Baku (gr) (b/b)
Kontrol
negatif
(0%)
Formula
A (5%)
Formula
B (10%)
Formula
C (15%)
Formula
D (20%)
1 Kaolin Penyerap 9 0.45 0.45 0.45 0.45 0.45
2 Zinc
Stearat
Zat
Pengikat
5 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25
3 Nipagin Zat
pengawet
qs qs qs qs qs qs
4 Ekstrak
daun
bayam
merah
Zat
Pewarna
x 0 0,25 0,5 0,75 1
5 Isopropyl
Miristat
Zat
pengikat
1,5 0,075 0,075 0,075 0,075 0,075
6 Parfum Zat Aroma qs qs qs qs qs qs
7 Lanolin Zat
Pengikat
1,5 0,075 0,075 0,075 0,075 0,075
8 Talkum Zat
Pembawa
ad 5gr 4,15 3,9 3,65 3,4 3,15





8. Cara Pembuatan (Depkes RI, 1985)
1. Timbang semua bahan yang diperlukan.
2. Bahan serbuk seperti kaolin dan zinc stearat dihaluskan terlebih dahulu di
dalam lumpang (1).
3. Panaskan isopropyl miristat dan lanolin hingga mencair (2).
4. Ekstrak daun bayam merah digerus di dalam lumpang lain dan
tambahkan talkum sedikit demi sedikit gerus hingga homogen (3).
5. Campurkan bahan 1 dan 2 gerus hingga homogen kemudian campurkan
dengan bahan 3.
6. Tambahkan nipagin dan parfum, gerus hingga homogen.
7. Kempakan ke dalam wadah yang sesuai, keringkan dengan aliran udara
hangat.

9. Tahap pemeriksaan mutu fisik.
a. Uji Dispersi Warna (homogenitas)
Dispersi warna diuji dengan menyebarkan serbuk pada permukaan kertas
berwarna putih dan tidak boleh ada warna yang tercoreng atau tidak
merata (Butler, 2000).

b. Uji Poles
Uji poles dilakukan terhadap sediaan masing-masing formula dengan
cara dipoleskan lima kali pada punggung telapak tangan dan diamati
warnanya (Keithler, 1956).

c. Uji Tekanan / Kekerasan
Sediaan yang dibuat, diuji kekerasannya dengan cara mengukur dengan
alat coopley. Sediaan diletakkan diantara anvil dan punch, tekan knob
sampai sediaan menjadi retak atau pecah, kemudian dibaca bilangan
yang menunjukkan kekerasan pada layar (Soekemi, dkk, 1987).

d. Uji Keretakkan
Perona pipi dijatuhkan pada permukaan kayu beberapa kali pada
ketinggian 8-10 inchi. Jika cake yang dihasilkan tidak rusak,
mengindikasikan bahwa kekompakkannya lulus uji dan dapat disimpan
tanpa menghasilkan hal-hal yang tidak memuaskan (Butler, 2000).

e. Uji iritasi
Uji iritasi dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit
normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat
menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Teknik yang digunakan pada uji
iritasi ini adalah uji tempel terbuka (Open Test) pada lengan bawah
bagian dalam terhadap 2 orang panelis yang bersedia dan mengisi surat
pernyataan. Uji tempel terbuka dilakukan dengan cara mengoleskan
sediaan yang dibuatpada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5),
dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak
3 kali sehari selama dua hari berturut-turut (Tranggono dan Latifah,
2007). Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema dan edema.

Indeks iritasi menurut ( Ditjen POM, 1985):
1. Tidak ada reaksi 0
2. Eritema +
3. Eritema dan papula ++
4. Eritema, papula dan vesikula +++
5. Eritema dan vesikula ++++
Kriteria panelis uji iritasi ( Ditjen POM, 1985):
a. Pria atau wanita
b. Usia antara 20-30 tahun
c. Berbadan sehat jasmani dan rohani
d. Tidak memiliki riwayat penyakit alergi
e. Menyatakan kesediaannya dijadikan panelis uji iritasi
f. Uji Stabilitas
Pengamatan yang dilakukan meliputi adanya perubahan bentuk,
warna dan bau dari sediaan perona pipi yang dilakukan terhadap
masing-masing sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar.
Waktu penyimpanan umumnya sekitar sembilan puluh hari ( National
Health Agency, 2005 ).
g. Uji Kesukaan
Uji ini dilakukan dengan cara meminta panelis mengisi form yang
disediakan.
Form uji kesukaan
No Formula
Kriteria Uji Kesukaan
Panelis 1 Panelis 2
1 Kontrol negatif (0%)
2 A (5%)
3 B (10%)
4 C (15%)
5 D (20%)

Indeks Kriteria Uji Kesukaan:
Tidak ada komentar 0
Tidak suka +
Suka ++
Sangat Suka +++