Anda di halaman 1dari 51

PENGANTAR REHABILITASI MEDIK

Pendahuluan
Sebagaimana kita ketahui, bahwa upaya di bidang kesehatan pada
dasarnya meliputi atas upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif),
penyembuhan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya peningkatan,
pencegahan, dan penyembuhan telah mencapai kemajuan dan bahkan telah
mencapai hasil-hasil yang sangat menggembirakan, sedangkan upaya pemulihan
atau rehabilitatif masih perlu dikembangkan. Untuk itu pemerintah telah berusaha
meningkatkan upaya dalam bidang rehabilitasi medik di Rumah Sakit tipe A, B,
dan C yang pada mulanya membentuk Preventive Rehabilitation Unit (sekarang
disebut Unit Rehabilitasi Medik).
Upaya rehabilitasi medik di Indonesia mulai dirintis oleh Alm. Prof. dr. R.
Soeharso pada tahun 1955 dalam rangka menolong pada penderita cacat akibat
perang kemerdekaan (dikenal sebagai Rehabilitasi Centrum). Karena daya
tampung yang sangat terbatas menyebabkan panca harus antri sehingga cacat
ringan menjadi berat. Meskipun didirikan lagi 3 RC di Jakarta, Palembang, dan
Ujung Pandang, kebutuhan tetap melebihi kemampuan pelayanan yang tersedia.
Oleh karenanya WHO bekerja sama dengan DepKes merangsang usaha dengan
mengadakan proyek pemanduan Preventive Rehabilitation Unit di RS
dr.Kariadi pertama untuk kawasan Asia Tenggara dengan maksud
menanggulangi kecacatan di RS sedini mungkin, terutama cacat yang sementara.
Akhir-akhir ini WHO bahkan muali melancarkan usaha Community based
Rehabilitation (Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat), yakni usaha
pencegahan kecacatan di luar RS pada tingkat masyarakat.








Pengertian Rehabilitasi
Menurut WHO, rehabilitasi adalah semua tindakan yang ditujukan untuk
mengurangi dampak disabilitas/handicap, agar memungkinkan penyandang cacat
berintegrasi dengan masyarakat.
Dikenal :
1. Rehabilitasi medik yakni suatu proses pelayanan kesehatan yang bertujuan
untuk mengembangkan kemampuan fungsional dan psikis individu dan
kalau perlu mekanisme kompensasinya agar individu dapat berdikari.
2. Rehabilitasi sosial merupakan bagian dari proses rehabilitasi yang
bertujuan agar penyandang cacat dapat berintegrasi ke dalam masyarakat
dengan membantunya menyesuaikan diri pada keluarga, masyarakat dan
pekerjaannya dan juga dengan mengurangi beban sosial ekonomi yang
dapat menghambat proses rehabilitasinya.
3. Rehabilitasi kekaryaan (Vocational Rehabilitation) ialah pemberian
pelayanan kekaryaan berupa bimbingan kekaryaan, latihan kerja dan
penempatan selektif yang didesain untuk penyandang cacat.
Meskipun fokus kita selanjutnya terutama pada Rehabilitasi Medik, namun jangan
lupa, bahwa dalam praktek Rehabilitasi Medik selalu berkaitan dengan rehabilitasi
lainnya, dan kegagalan sering terjadi oleh karena memandang rehabilitasi dari satu
segi saja, tidak secara keseluruhan.

Tujuan Rehabilitasi Medik
Dalam upaya rahabilitasi medik mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Pemulihan penderita yang mengalami cacat kepada kondisi semula atau
setidaknya kembali mendekati keadaan sebelum sakit
2. Menghindarkan semaksimal mungkin timbulnya cacat sekunder
3. Masa/waktu perawatan dapat dipersingkat
4. Mengusahakan sedapat mungkin penderita dapat kembali ke pekerjaan
semula atau pekerjaan baru
5. Psikologik lebih baik oleh karena penderita tidak terlalu menderita tekanan
jiwa berat dan lama



Ruang Lingkup Rehabilitasi Medik
Dalam rehabilitasi medik sebagaimana ilmu kedokteran lainnya, meliputi :
1. Pemeriksaan fisik ; disini difokuskan kepada mencari tingkat kemampuan
fisik dari yang sakit atau fungsi secara keseluruhannya. Misalnya pasien
yang mengalami patah tulang kita evaluasi ototnya, pergerakan sendinya
dan fungsi tangannya, pemeriksaan ini diperlukan untuk menjadi dasar-
dasar pengobatan dan tindakan selanjutnya.
2. Diagnosis dan pengobatan : diagnosis dan pengobatan didasarkan pada
pemeriksaan yang meliputi aspek medis dan rehabilitasi termasuk disini
apakah terdapat atrofi otot, kontraktur sendi, kelumpuhan kemampuan
mobilisasi, aktifitas sehari-hari, komunikasi masalah sosial, pendidikan,
psikologi, dan pekerjaannya. Dalam pengobatan disini dapat diartikan
koreksi kondisi cacat yang ada.
3. Pencegahan : pencegahan terutama dilakukan untuk menghindari
timbulnya kecacatan sekunder yang menyertai kecacatan primer sebagai
akibat komplikasi istirahat lama selama perawatan atau pengobatan.
Berdasarkan hal tersebut maka upaya rehabilitasi harus diberikan sedini
mungkin.

Pelaksana Program Rehabilitasi Medik
Dalam penanganan penderita diperlukan adanya satu tim yang terdiri dari
berbagai disiplin keahlian, agar tercapai hasil yang sebaik-baiknya.
Tim terdiri dari :
1. Dokter
2. Fisioterapis
3. Terapi okupasi
4. Ortotis prostetis
5. Pekerja sosial medik
6. Psikolog
7. Ahli bina wicara
8. Perawat rehabilitasi
Dokter disini terdiri dari para spesialis rehabilitasi medik yang
melakukan pemeriksaan, menegakkan diagnosis dan menentkan
program rehabilitasi.
Fisioterapis mempunyai keahlian dalam bidang terapi fisik untuk
pengobatan sesuai program yang ditentukan.
Ortotis prostetis mempunyai keahlian sebagai teknisi dalam mengukur,
membuat dan mengepas komponen tubuh palsu dan atau alat
penunjang anggota tubuh yang sakit.
Terapi okupasi mempunyai keahlian dalam mengadakan evaluasi
fungsi tangan serta memberikan latihan pengembaliannya.
Pekerja sosial medik mempunyai keahlian dalam
menyelesaikan/memecahkan masalah sosial yang berkaitan dengan
penyakit/kecacatannya. Masalah dapat berasal dari keluarga,
lingkungan serta material. Penanganannya mulai dari saat penderita
dirawat sampai penderita dipulangkan dan kembali ke lingkungan
semula/khusus bekerja sama dengan Dinas Sosial/Organisasi khusus.
Psikolog mengadakan evaluasi dan mengobati gangguan mental akibat
cacat untuk meningkatkan motivasi barusaha mengatasi kecacatan
serta akibatnya.
Ahli bina wicara mempunyai keahlian dalam mengadakan evaluasi
serta melatih gangguan komunikasi.
Perawat rehabilitasi mempunyai tugas dan keahlian dalam perawatan
khusus selain perawatan umum, terutama dalam mencegah komplikasi
istirahat/tirah baring lama.
Meskipun ahli-ahli tersebut sudah ada, belum menjamin berhasilnya usaha
rehabilitasi, bila tidak mengikuti konsep rehabilitasi medik sedini mungkin. Untuk
lebih memberikan gambaran yang jelas, marilah kita mengambil satu contoh
kasus :
Seorang laki-laki berusia 35 tahun, dalam menjalankan tugasnya sebagai
pesuruh kantor, mendapat cedera pada tulang punggungnya dengan akibat
kelumpuhan pada kedua tungkainya.
1. Dokter memutuskan untuk merawat penderita secara konservatif,
perhatian utama untuk mengobati/mencegah infeksi saluran kencingnya.
2. Penderita terpaksa tiduran terus menerus sambil menunggu pertumbuhan
tulang yang patah yang memakan waktu berminggu-minggu (sampai 12
minggu).
3. Setelah dokter membuat X-foto ulang dan menetapkan bahwa mobilisasi
aktif sudah dapat dilaksanakan, penderita lalu dikirim ke fisioterapis untuk
latihan berjalan.
4. Latihan ternyata belum dapat dilakukan oleh karena adanya kekakuan
sendi dan atrofi otot-otot akibat terlalu lama tiduran. Fisioterapis dan
terapis okupasi terpaksa menanggulangi komplikasi-komplikasi tersebut
lebih dahulu, baru kemudian dapat melatih berjalan dan melakukan
aktifitas kehidupan sehari-hari.
5. Ternyata penderita kurang berminat untuk latihan, bermurung terus dan
gairahnya berkurang.
6. Dokter kemudian merujuknya ke Psikolog.
7. Penderita kemudian meneruskan latihannya.
8. Ternyata penderita membutuhkan alat bantu untuk berjalan, dokter lalu
memanggil Ortotis untuk membuat alat tersebut.
9. Penderita akhirnya pulang dan kehilangan pekerjaannya.
10. Seorang pekerja sosial medik terlupa diminta bantuannya untuk
menghubungi tempat pekerjaan penderita.
Sekarang marilah kita coba memakai konsep rehabilitasi sedini mungkin
(rehabilitasi preventif). Begitu penderita masuk rumah sakit, dokter segera
membicarakan dengan fisioterapis, terapis okupasi, psikolog, pekerja sosial medik,
dan ortotis. Fisioterapis dan terapi olupasi segera membuat program latihan
menegah kekakuan sendi dan atrofi otot meskipun penderita masih tiduran.
Pekerja sosial medik segera mencari informasi mengenai pekerjaan, keluarga,
tempat tinggal penderita, mengadakan kunjungan rumah, kunjungan ke tempat
pekerjaannya, membicarakan keadaan penderita dengan majikannya. Psikolog
berusaha mengurangi depresi dan menimbulkan kembali gairah penderita, juga
keluarga diberitahu mengenai keadaan penderita dan bagaimana cara membantu
penderita dalam proses rehabilitasinya. Ortotis mulai mengukur dan membuat alat
bantu yang akan dibutuhkan, sehingga pada saat akan digunakan, sudah tersedia
dan penderita lebih cepat keluar dari RS untuk kembali ke lingkungannya semula.




FISIOTERAPI

Fisioterapi, physical treatment, physical therapy, atau physiotherapy
diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1956, terutama di lingkungan Rehabilitasi
Centrum yang terkenal sekarang dengan nama Rehabilitasi Centrum
Prof.dr.Soeharso di Surakarta.

ARTI DAN SARANA
Arti dan sarana yang digunakan oleh fisioterapis dalam menjalankan
tugas-tugasnya tercantum dalam definisi WCPT (World Confederation for
Physical Therapy) sebagai berikut : qualified physiotherapists are those who
have been trained in the theory and practice of physical therapy, defined by
WCPT is the art and science of physical treatment by meant of therapeutic
exercise, heat, cold, light, water, massage, and electrotherapy .
Dengan kata lain bahwa fisioterapis yang terampil dan diakui adalah
mereka yang memperoleh pendidikan teori dan praktek fisioterapi. Sedangkan
definisi fisioterapi menurut WCPT adalah merupakan seni dan ilmu
pengetahuan pengobatan fisik (alam) dengan sarana : latihan-latihan (terapi
latihan), panas, dingin, sinar, air, pmijatan, dan pengobatan listrik .

TUJUAN FISIOTERAPI
Secara garis besar tujuan fisioterapi meliputi :
1. Menghilangkan rasa sakit dan nyeri
2. Mencapai gerak sendi yang normal
3. Memperbaiki koordinasi dan keseimbangan dalam bergerak
4. Penguatan otot
5. Pencegahan komplikasi
6. Mencegah pemendekan otot (kontraktur)
7. Penyembuhan dekubitus
8. Melemaskan otot yang spastik/spasme
9. Meningkatkan daya tahan tubuh
10. Meningkatkan pigmentasi
11. Meningkatkan kemampuan/ketrampilan hidup sehari-hari (ADL
Activity of Daily Living)
12. Melemaskan ketegangan otot
13. Mempermudah persalinan/partus
14. Membunuh bakteri
15. Memperlancar peredaran darah, peredaran limfe, dan memperbaiki nutrisi
16. Memperbaiki metabolisme

A. TERAPI PANAS
Efek fisiologis pemberian terapi panas pada tubuh manusia dapat diringkaskan
seperti skema di bawah ini :
Naiknya temperatur


Efek analgetik Metabolisme Efek
sedasi


Dilatasi arteriol

Fagositosis Refleks
Vasodilatasi

Aliran darah kapiler Tekanan
hidrostatik kapiler


Oedema/sembab
Pembersihan zat-zat hasil Penyaluran
metabolisme - O
2

- Bahan makanan
- Antibodi
- Sel-sel darah putih
Dari skema di atas dapat disimpulkan adanya 2 efek terapi panas :
Efek lokal :
1. Vasodilatasi : terjadi lewat refleks akson dalam usaha untuk mengurangi
panas yang terjadi.
2. Meingkatnya metabolisme : setiap kenaikan temperatur 10
0
C metabolisme
naik 2 kali.
3. Efek analgesik lokal : mekanismenya dikatakan dengan meningkatkan
nilai ambang rasa nyeri pada reseptor rasa nyeri.
4. Udema lokal : akibat vasodilatasi dan transudasi cairan ke jaringan
interstisial
Efek sistemik :
Adanya vasodilatasi lokal menyebabkan penyebaran panas ke seluruh
sirkulasi sistemik dan mengakibatkan naiknya temperatur darah dan temperatur
tubuh (core temperature). Hal ini selanjutnya akan merangsang susunan saraf
pusat dan mengakibatkan timbulnya refleks pendinginan berupa :
Pengeluaran keringat
Peningkatan respirasi
Peningkatan cardiac output
Efek sistemik lain berupa sedasi (penenangan) di mana sejarah pernah dipakai
untuk menenangkan penderita yang gelisah.

Indikasi terapi panas :
1. Mengurangi nyeri
2. Merangsang relaksasi otot
3. Anti inflamasi setelah fase akut
4. Meningkatkan suhu jaringan sehingga terjadi vasodilatasi dan
meningkatkan vaskularisasi
5. Terapi fisik sebelum latihan dan peregangan
6. Mengurangi kekakuan sendi

Kontraindikasi panas :
1. Umur yang sangat muda atau yang sangat tua.
Anak-anak 0 3 tahun : jaringan saraf tepi belum matang
Orang tua : jaringan saraf tepi sudah mundur fungsinya, dan
kemampuan cadangan jantung dan paru juga sudah sangat
menurun.
2. Penderita yang tidak dapat kooperasi dengan baik, misalnya :
Tidak sadar atau tidur
Gangguan bahasa : afasia
Gangguan jiwa
3. Gangguan sensibilitas kulit
4. Iskemia jaringan, misal : pada gangguan/penyakit pembuluh darah tepi
seperti arteriosklerosis dan penyakit Buerger
5. Adanya metal dalam tubuh. Hal-hal ini banyak pada kasus bedah ortopedi
6. Proses keradangan akut. Dengan pemberian panas justru akan menambah
udema atau nyerinya. Dalam hal ini lebih baik diberikan terapi dingin
7. Perdarahan akut. Dalam waktu 8 jam pertama sebaiknya diberikan terapi
dingin
8. Adanya proses keganasan
9. Penderita memakai alat pacu jantung
10. Kehamilan kontraindikasi relatif dengan pemberian diatermi

Beberapa cara penghantaran panas
1. Konduksi
Cara penghantaran panas melalui kontak langsung antara dua benda yang
berbeda suhunya : hotpack, whirpool, paraffin bath
2. Konfeksi
Cara penghantaran panas melalui pergerakan massa udara atau air :
whirpool
3. Radiasi
Cara penghantaran melalui udara dimana udara tersebut tidak mengalami
perubahan temperatur : sinar infra merah, diatermi microwave
4. Konversi
Cara penghantaran panas dengan cara mengubah energi non termal
menjadi termal : SWD, MWD, USD


Menurut penetrasinya dibedakan 2 jenis terapi panas :
1. Terapi panas superfisial
Disini panas hanya mengenai kutis atau jaringan sub kutis saja : hot pack,
infra merah, kompres air hangat, paraffin bath
I nfra red/IR :
Daya tembus superficial sekitar 1 mm, dosis 10 20 menit. Dapat
mengurangi nyeri, relaksasi spasme otot superficial, meningkatkan aliran
darah superfisial
Kontra indikasi : hilangnya sensasi termal kulit di daerah yang luas,
penyakit kulit, perdarahan.
2. Terapi panas dalam
Disini panas dapat menembus sampai ke jaringan yang lebih dalam (otot,
tulang, sendi). Ada 3 jenis diatermi :
o Diatermi gelombang mikro (MWD) : penetrasi 0 1 cm
o Diatermi gelombang pendek (SWD) : penetrasi 1 3 cm
o Diatermi gelombang suara ultra (USD) : penetrasi 3 5 cm
MWD (Micro Wave Diathermy)
Merupakan gelombang mikro dengan spectrum elektromagnetik.
Daya tembus tergantung frekuensi. Di absorbsi secara selektif pada
jaringan dengan kadar yang tinggi yaitu otot.
SWD (Short Wave Diathermy)
Merupakan diatermi gelombang pendek dengan frekuensi ultra
tinggi. Kontra indikasi MWD dan SWD : radang atau inflamasi akut,
trauma akut, hilangnya sensasi kulit di daerah yang luas, keganasan,
insufisiensi arterial, implantasi metalik, pace maker jantung, TBC, edema
berat, kehamilan, distesis hemoragik.
USD (Ultra Sound Diathermy)
Diatermi berdasarkan konversi energi suara frekuensi tinggi. Dosis
dapat ditetapkan dan tidak ada kontra indikasi terhadap metal. Selain efek
termal juga mempunyai efek non termal yaitu mikro masase dan dapat
dikombinasikan untuk memasukkan bahan kimia melalui kulit disebut
phonophoresis. Kontra indikasi : daerah mata, otak, gonad, medulla
spinalis, post laminectomy, kehamilan, pace maker jantung, daerah epifise
yang sedang tumbuh, pergantian sendi dengan bahan methyl methacrylate,
neoplasma, TBC.
Dosis dan lama pemberian terapi :
Pada umumnya dosis sangat tergantung pada toleransi penderita.
Pada setiap pemberian terapi panas secara rutin penderita diminta
kooperasinya apabila dia merasakan terlalu panas atau kurang
panas
Khusus untuk USD dosis terapinya adalah 0.5 4 watt/cm
2
, lama
terapi : 3 10 menit

Komplikasi terapi panas :
1. Luka bakar
2. Katarak mata (untuk MWD)
3. Nekrosis jaringan pada pemakaian USD akibat terbentuknya gelembung-
gelembung udara di dalam jaringan

B. TERAPI DINGIN
Paling sering digunakan pada cedera musculoskeletal akut.

Indikasi :
Mengurangi perdarahan atau udema sesudah suatu trauma
Mengurangi nyeri
Mengurangi spastisitas otot
Mempertahankan kehidupan bagian tubuh apabila ada gangguan sirkulasi
darah sementara
Menunda terjadinya nekrosis jaringan pada keadaan iskemia

Kontra indikasi :
Raynaud phenomenon
Iskemi lokal
Tidak tahan terhadap dingin, dengan tanda gatal-gatal di kulit, kemerahan-
merahan di muka pada kecenderungan untuk pingsan (sincope)
Teknik terapi dingin :
1. Masase es dengan menggosokkan es secara langsung pada daerah
yang di terapi 5 7 menit
2. Kompres es selama 20 menit
3. Kompres dingin (vapocoolant spray) misalnya dengan chlorethyl
spray, terutama untuk spasme otot dan MTPS
4. Cryokinetics : yaitu terapi pendinginan lokal diikuti dengan latihan
aktif bagian tubuh yang bersangkutan

C. TRAKSI
Traksi adalah suatu teknik penerapan kekuatan tarikan pada salah satu
bagian tubuh, untuk meregangkan jaringan lunak dna melebarkan ruang sendi.
Kekuatan tarikan dapat ditimbulkan secara manual, dengan beban dan system
katrol, maupun secara elektromekanis. Tujuan traksi servikal dan lumbal :
1. Menghilangkan nyeri
2. Menghilangkan spasme otot-otot
3. Memberi jarak antara vertebrae menjadi lebih longgar sehingga didapat
efek pembebasan tekanan terhadap saraf-saraf spinal
4. Mengembalikan fungsi dan gerak sendi
5. Menurunkan lordosis
Efek mekanis traksi pada susunan tulang belakang :
1. Penguluran otot-otot paravertebra, ligamentum, dan kapsula artikularis
2. Peregangan diskus intervertebralis, memperlebar jarak antara korpus
vertebra satu dengan lainnya yang menyebabkan turunnya tekanan intra
diskus
3. Traksi menyebabkan lordosis menjadi lurus dan pelebaran jarak foramen
intervertebralis
4. Peregangan dan penambahan gerak terhadap sendi apofisial pada prosesus
artikularis
Metode traksi servikal :
1. Intermittent traction : beban diberikan secara bertahap sampai beban
maksimal sesuai toleransi penderita. Tarikan dipertahankan selama 10
30 detik, kemudian diulang kembali secara ritmik, tujuannya untuk
menghilangkan rasa nyeri dan spasme otot
2. Continuous traction : tarikan dipertahankan secara terus menerus sampai
selesai waktu traksi, tujuannya untuk imobilisasi dan koreksi
Pada traksi servikal, posisi penderita dapat duduk atau berbaring terlentang
dengan kepala fleksi ke depan 10
0
20
0
. Beban menggunakan persentasi berat
badan total, mulai dari 10 20 %, selanjutnya dinaikkan pelan-pelan sesuai
toleransi setiap kali kedatangan. Lama waktu traksi 10 20 menit, frekuensi 5 kali
seminggu.
Pemberian terapi panas, masase, dan anti inflamasi sebelum dilakukan
traksi dapat memperbesar efektifitas traksi serta menambah toleransi penderita.
Kontra indikasi : infeksi spinal (TBC, osteomielitis), keganasan daerah
servikal, osteoporosis, fraktur tidak stabil, hipertensi, herniasi diskus
intervertebralis tipe median, penyakit arteri karotis atau arteri vertebralis,
rheumatoid arthritis, kehamilan.

D. MASASE
Merupakan prosedur terapi fisik tertua dan termurah. Pada indikasi dan
teknik yang tepat, hasil terapeutik sangat nyata. Digunakan untuk menghilangkan
nyeri otot dan tendon, spasme otot, adhesi jaringan kutan dan subkutan, serta
relaksasi.
Teknik pemberian masase :
Effleurage atau stroking (usapan) : bermanfaat untuk menenangkan,
relaksasi, dan mengurangi nyeri
Petrissage atau kompresi (friction and kneading) : merupakan bentuk
masase dengan efek mekanik dan membantu memperlancar aliran darah
dan limfe
Perkusi dan vibrasi

E. TERAPI LATIHAN / EXERCI SE THERAPY
Terapi latihan mengandung arti terapi dengan memakai teknik latihan.
Sebagai program terapi fisik, terapi latihan dapat berdiri sendiri, tetapi umumnya
bersamaan dengan terapi fisik lainnya ataupun dengan medikamentosa.
Untuk sindroma neuromuscular maka terapi yang digunakan adalah :
Latihan mobilitas sendi (ROM exercise)
Latihan penguatan (strengthening exercise)
Latihan daya tahan (endurance exercise)
Latihan koordinasi (ditujukan kepada mereka yang mendapat gangguan
koordinasi)
Latihan dengan tujuan khusus : re-edukasi otot, latihan kegiatan hidup
sehari-hari (ADL)
Exercise therapy adalah metode penyembuhan, pengobatan, atau
perawatan dengan menggunakan latihan dan pergerakan.
Gerak dasar yang dipergunakan adalah :
1. Gerak pasif (passive movement) : ialah suatu gerak yang terjadi oleh
adanya force atau tenaga dari luar (external force)
2. Gerak aktif (active movement) : ialah suatu gerak yang terjadi oleh karena
kerja atau tenaga dari benda itu sendiri (internal force)
Gerak pasif terbagi atas :
1. Relaxed passive movement ialah gerakan yang diberikan di mana penderita
dalam keadaan posisi rileks (istirahat)sehingga penderita dapat istirahat
penuh (dalam posisi relaksasi)
2. Forced passive movement ialah gerakan yang diberikan merupakan
paksaan, biasanya untuk menambah jarak pergerakan sendi (range of
motion) dengan pembiusan
3. Passive stretching ialah gerakan yang dipaksakan untuk mengulur jaringan
yang memendek, mencegah kecenderungan otot untuk memendek
(kontraktur) ataupun lengket (adhesion)
Dengan gerakan pasif yang ritmik, halus, dan teratur akan mempengaruhi
ekstensibilitas otot menjadi menurun. Dengan irama yang tetap akan membantu
pemompaan darah ke jantung, menambah nutrisi pada sendi dan otot sehingga
atrofi otot dapat dicegah.
Gerak aktif terbagi atas :
Active voluntary ialah gerak aktif yang berada di bawah kehendak kita,
termasuk free, assisted, resisted, dan static
Active involuntary ialah gerak aktif yang terjadi di luar kehendak kita,
termasuk associated atau gerak gabungan dari organ-organ, refleks,
peristaltik, pergerakan otot jantung
Voluntary free/gerakan bebas ialah gerakan yang dibuat tanpa adanya bantuan
Assisted : gerakan terjadi karena adanya bantuan dari luar. Hal ini perlu bilamana
penderita tidak mempu mengerjakan free active .
Resisted : gerakan aktif dengan menambah tekanan dari luar, dipakai sebagai
latihan peningkatan dari free active dan assisted
Static : otot bekerja menetap sehingga pergerakan sendi tidak terjadi.

F. STIMULASI LISTRIK
Yang banyak digunakan adalah TENS (Transcutaneus Electrical Nerve
Stimulation) untuk menghilangkan nyeri dan spasme otot. TENS paling sering
digunakan untuk nyeri akut dan dapat juga untuk nyeri kronis. Penggunaan terapi
listrik ini berdasarkan teori gate control dari Melzack dan Wall, dimana serabut
saraf kulit yang berdiameter besar distimulasi oleh TENS dan mekanisme
stimulasi ini menghambat transmisi rangsang nyeri ke medulla spinalis. Teori lain
mengatakan bahwa TENS bekerja dengan merangsang pengeluaran endorfin dan
opiat endogen.
Kontra indikasi : sinus karotis, uterus wanita hamil, mata, dinding depan
dada penderita penyakit jantung/pace maker.

G. TERAPI AIR (HYDROTHERAPY)
Hidroterapi adalah terapi fisik dengan memanfaatkan sifat-sifat fisik air.
Dengan menggunakan terapi air membantu penyembuhan seseorang. Manfaat air
di dalam terapi latihan terlihat dari efek buoyancy air yang akan mengurangi efek
gravitasi pada bagian manapun dari tubuh sehingga terdapat penurunana aktivitas
tubuh dan latihan tidak disertai rasa nyeri. Air hangat akan mengurangi spasme
otot sehingga terjadi relaksasi menyeluruh dan menyebabkan peningkatan aliran
darah sehingga menyebabkan penurunan tingkat nyeri, selain itu efek masase,
pembersihan dan memungkinkan latihan aktif/aktif dibantu. Efek tidak langsung
menimbulkan efek psikologis yang memberikan relaksasi.





OKUPASI TERAPI

SEJARAH
Penggunaan occupation yang berarti kesibukan atau pekerjaan di dalam
treatment sudah dimulai pada masa silam sebelum ada rekaman data-data di masa
bangsa Yunani kuno. Telah diketahui pada masa itu yaitu period of magic
(sebelum tahun 600 M). Aesculapius dapat sembuh dari penyakit jiwanya dengan
nyanyian, pantun, dan musik. Hephaistos yang lumpuh dan sudah tidak diakui
ibunya, dapat diselamatkan nasibnya oleh Thetis dan Euronyme dengan
memberikan alat-alat untuk bekerja yang akhirnya menjadi suatu gagasan dan
percobaan.
Sesudah periode di atas, timbul suatu gagasan dan percobaan beberapa ahli
pengetahuan, di antaranya Phytagoras dan Thales yang mempergunakan musik
seperti di atas untuk penyembuhan (remedy). Hyppocrates menyimpulkan
bahwa : Badan dan jiwa selalu berhubungan di dalam segala treatment, ia
menyarankan untuk menggunakan gulat, menunggang kuda, latihan-latihan yang
berat misalnya bekerja sebagai buruh kasar.
Masih dalam masa itu pembedahan mayat menjadi suatu dasar
pengetahuan mengenai ilmu anatomi, dan sebab-sebab dari suatu penyakit mulai
diketahui, dan masih banyak lagi pada saat masa-masa lampau sampai
perkembangan-perkembangan adanya universitas-universitas yang selanjutnya
membahas kegunaan occupational tadi dalam hubungan antar jasmani dan
rohani untuk selanjutnya diterapkan dalam pemberian treatment.
Pada saat perang dunia I dan II, okupasi terapi digunakan untuk
merehabilitir para korban perang (dimulai di Amerika dan Inggris), dan setelah itu
timbul World Federation of Occupational Therapy tahun 1951.
Di Indonesia mulai dirasakan perlu dan diterima kegunaan okupasi terapi
dalam rehabilitasi. Pada tahun 1953 berdirilah Rehabilitation Center di kota Solo,
dan mulailah pelaksanaan okupasi terapi serta mulai mengirim tenaga-tenaga ke
luar negeri. Akhirnya timbul Occupation Therapy Department di RC Solo,
selanjutnya sesuai perkembangan modern serta mengikuti derap kemajuan dunia,
RC Solo mengirimkan seorang tenaganya ke Australia mengikuti pendidikan
penuh sebagai Expert (1971-1976).
Mengingat kurangnya tenaga ahli untuk bidang okupasi terapi,
pendatangan tenaga ahli dari luar negeri serta pengiriman-pengiriman ke luar
negeri masih terus berjalan sampai saat ini, juga penataran-penataran atau kursus-
kursus mulai diadakan, yang berarti bahwa okupasi terapi makin dimengerti dan
diperlukan dalam rehabilitasi medis untuk bersama-sama tenaga-tenaga
rehabilitasi lain menjadi suatu tim rehabilitasi.

DEFINISI
Okupasi terapi adalah suatu seni dan ilmu pengetahuan yang mengarahkan
respon penderita kepada suatu aktivitas yang sudah dipilih, bertujuan untuk
meningkatkan dan memelihara kesehatan, mencegah kecacatan, mengevaluasi
tingkah laku, memberikan terapi dan melatih penderita yang mengalami disfungsi
fisik maupun disfungsi psikososial (The American Occupational Therapy
Association, 1968).
Sesuai dengan istilah dari Okupasi Terapi, occupational disini mempunyai
arti pekerjaan, aktivitas, ataupun kesibukan. Walaupun arti occupatiion disini
sangat luas, aktivitas yang dipergunakan untuk terapi adalah aktivitas yang
mempunyai hubungan erat dan sesuai dengan tujuan kebutuhan (need) dari setiap
penderita.
Pengertian tentang occupation akan selalu menyangkut aspek penggunaan
dari : waktu, energI, interest (minat), dan atensi (perhatian) dari setiap individu
(pendertita).
Kerja fundamental dari Okupasi Terapi (OT) adalah : dengan treatment
program yang disusun berdasarkan pengutamaan masalah yang berhubungan
dengan perkembangan dan pemeliharaan kapasitas yang dimiliki penderita untuk
mencapai kehidupan produktif serta untuk mengatasi masalah-masalah yang ada
dalam kehidupan serta lingkungan mereka masing-masing (setiap keberhasilan,
tidak penting apakah keberhasilan itu besar atau kecil akan memberikan rasa
kepuasan, kepuasan terhadap diri sendiri maupun orang lain memeganng
peranan yang sangat penting untuk seseorang di dalam mencapai kehidupan yang
produktif).
Selama fokus kerja OT adalah pengembangan kecakapan/ketrampilan
penderita, terapis yang bersangkutan akan selalu dihadapkan pada tantangan yang
berupa faktor-faktor yang menjadi tembok perintang bagi penderita yang selalu
menghalangi mereka untuk berfungsi dalam hidupnya, walaupun sering kali
kesanggupan/kemampuan itu telah dimiliki penderita.
Kemampuan/kesanggupan untuk mengatasi dan melaksanakan
kewajibandalam kehidupan dapat terancam atau tidak menjadi sempurna
disebabkan oleh beberapa kausa misalnya : proses perkembangan/pertumbuhan
fisik/mental yang tidak baik, proses umur, kemiskinan, termasuk perbedaan-
perbedaan kelas dalam struktur masyarakat, cacat karena penyakit dan luka, cacat
mental maupun sosial, dan lain-lain
Fungsi Okupasi Terapi
OT adalah suatu treatment medis yang menggerakkan aktivitas konstruktif yang
direncanakan dan disesuaikan, ditujukan pada penderita dengan kondisi fisik
maupun mental, yang bertujuan untuk membantu restorasi fungsional penderita.
Pelayanan OT yang cepat diberikan (macam dan prosedur) banyak tergantung
dari :
Kebutuhan penderita secara individual serta kondisinya
Bagaimana order dokter dan system referalnya
Ruang gerak dan fasilitas yang ada
Bagaimana terapisnya (OT)
Dengan order/resep dokter, seorang penderita dikirim ke OT untuk menerima
treatment yang berupa :
a. Treatment yang khusus/spesifik untuk penderita penyakit jiwa dengan
tujuan memberikan/mengatur kesempatan penderita dalam membentuk
hubungan dengan orang lain (sosialisasi) yang lebih baik/wajar.
Membantu penderita dalam pengemudian emosi mereka dengan cara
penghalusan (sublimasi). Membantu bahan/alat dalam menemukan
diagnosis penderita.
b. Pelajaran dan latihan bermacam-macam aktivitas untuk pertolongan diri
(self help activities) misalnya makan, minum, memakai pakaian, menulis,
menggunakan alat penolong, alat yang sudah disesuaikan, pengguanan
protesa, dll.
c. Berupa treatment yang khusus untuk tujuan restorasi fungsi-fungsi fisik
antara lain menambah dan meningkatkan gerak sendi (ROM), kekuatan
otot (musle strengthening), dan koordinasi.
d. Membantu menolong penderita yang oleh karena situasi dan kondisi
mereka harus mengerjakan pekerjaan domestic (rumah tangga) sendiri
apabila penderita pulang dari RS, dengan jalan membantu penyesuaian-
penyesuaian pekerjaan yang bersangkutan dengan nasihat serta instruksi
dan pelajaran latihan menggunakan alat-alat dan cara pemudahan kerja
(work simplification).
e. Membantu timbulnya toleransi kerja dan memelihara ketrampilan yang
dimiliki penderita yang akan dibutuhkan dalam pekerjaan penderita
nantinya.
f. Merupakan prevocational exploration yang menentukan/mencari potensi
atau kemampuan mental dan fisik penderita, penyesuaian sosial, interest,
kebiasaan kerja (work habit), skill dan potensi-potensi lain yang
berhubungan dengan prospek vocational penderita.
g. Merupakan bantuan moril (supportive therapy) yaitu membantu penderita
menerima dan mengerti keadaan kenyataan akan jangka waktu perawatan
dan convalescence.
h. Menolong dan menunjukkan kembali serta mengarahkan aktivitas
penderita yang bersifat rekreasi dan aktivitas-aktivitas lain yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan pekerjaaan penderita (avocational
interest).
Macam dan tujuan terapi seperti tersebut di atas, dapat dan sering kali
merupakan suatu kombinasi dari satu dan yang lain tergantung akan need dari
penderita secara individual.
Program-program OT adalah bagian dari pelaanan-pelayanan medis yang
dapat diterapkan di dalam RS Umum, RS Khusus, Rehabilitation Centre,
program-program yang berhubungan dengan home care, sekolah khusus, klinik
dan tempat-tempat lain yang menyediakan pelayanan rehabilitasi.
OT membantu dalam rehabilitasi total dari penderita dengan kerjasama
dengan dokter, perawat, fisioterapis, speech therapist, sosial worker, psikolog,
vocational counselor, dll.
Mengusahakan restorasi fungsi dan kemampuan penderita secara optimal
untuk dapat merdikari dalam hidup merkea di lingkungan serta masyarakatnya.


KESIMPULAN
Pengaktivan dengan suatu kesibukan terutama bagi penderita yang sudah
lama inaktif
Pemeliharaan sikap mental penderita (moral)
Meningkatkan keaktifan dengan pemberian aktivitas yang bagi penderita
cukup menarik untuk mengisi waktu-waktu terluang, dengan begitu
penderita pasti dapat merasakan masa hospitalisasi mereka cepat berlalu.
Dengan mengerjakan suatu aktivitas mereka dapat berekreasi, dengan
berhasilnya penderita membuat/mengerjakan sesuatu mereka akan merasakan
bahwa dirinya berguna, dimana ini sangat besar pengaruhnya dalam
membangun/mengembalikan kepercayaan diri yang akan mempercepat proses
penyembuhan mereka serta untuk bekal utama nantinya setelah kembali kepada
masyarakat serta lingkungan mereka.
Dengan pemberian OT yang bersifat fungsionil, misalnya pada restorasi
dari fungsi-fungsi fisik dengan aktivitas tertentu serta rangsangan-rangsangan
untuk mempertinggi motivasi, mereka dapat merasakan bahwa mereka masih
mampu memenuhi tuntutan-tuntutan mereka yang bersifat jasmaniah maupun
rohani.
Kekuatan otot-otot, koordinasi serta fungsi-fungsi fisik mereka sangat
mempengaruhi dalam fungsi mereka di dalam masyarakat.
Masa hospitalisasi adalah masa yang pahit bagi mereka terutama bagi yang
belum pernah sama sekali tinggal di RS. Penyesuaian diri dengan lingkungan RS
yang sudah barang tentu lain dari lingkungan yang biasa dihadapi, mungkin
dengan adanya mereka di RS banyak maslah-masalah yang harus mereka pikirkan
yang kadang membawa pada keadaan stressfull, tapi dengan mengerjakan suatu
aktivitas, perasaan demikian akan berkurang atau malah dapat teralihkan kepada
pikiran-pikiran yang positif.
Untuk pemberian aktivitas-aktivitas serta paham bahwa tanpa aktivitas
adalah bukan OT, makan seorang OT harus menguasai banyak macam pekerjaan
tangan serta kreativitas, personalities yang sesuai. Tentu saja pengaruh fasilitas-
fasilitas yang kita terima untuk pemberian OT adalah besar sekali, serta hal-hal
lain pula. Tetapi kita harus tetap berjalan terus dengan fasilitas yang ada.


REHABILITASI SPINAL CORD INJURY

Definisi
Spinal Cord Injury (SCI) merupakan trauma pada medulla spinalis yang dapat
menyebabkan kemunduran fungsi motorik, sensorik dan otonomik.

Penyebab utama SCI bervariasi tergantung geografi, pada umumnya yang
tersering terjadi diakibatkan oleh kecelakaan bermotor (44,5%), jatuh (18,1%),
cedera olah raga (12,7%) dan akibat tindakan kekerasan (16,6%).

Insiden diperkirakan 7000-10.000 kasus baru setiap tahun yang membutuhkan
perawatan dan rehabilitasi dimana kurang lebih 50% berbentuk paraplegi dan 50%
Quadriplegi. Lebih banyak laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan
8 : 1. Efek psikologis, sosial dan ekonomi yang berdampak akibat disfungsi
medulla spinalis sering merugikan penderita maupun keluarga.

Mekanisme Cedera :
Ada 3 dasar mekanisme dari injury yaitu fleksi-rotasi dengan dislokasi atau
fraktur, fraktur kompresi dan hiperekstensi. Yang paling sering adalah flexi
dengan rotasi tempat yang paling sering C5 C6 pada vertebra cervical dan T12-
L1 pada vertebra thoracolumbar.

Patofisiologi :
1. Pada gegar dari medulla spinalis ditandai oleh mati rasa atau paralise yang
menghilang dalam 72-76 jam tanpa gangguan fungsi dan neurological.
2. Contuse yang menghasilkan edema, hemoragi dan iskemia. Ini terdapat
pada sebagian besar pasien dengan gambaran klinik komplit atau
inkomplit.
3. Laserasi adalah terputusnya medulla spinalis dengan hilangnya fungsi
motorik dan sensorik komplit dibawah level dari lesi. Relative jarang
biasanya terjadi oleh karena luka tembak atau luka bacok.

Assesment Fungsional
Klasifikasi : dibagi atas komplit dan inkomplit.
1. Pada lesi transversal Total (komplit)
Seluruh penampang melintang medulla spinalis terkena lesi. Apapun
penyebabnya lesi semacam ini akan memberikan 3 gejala pokok yaitu :
a. Gangguan motorik
b. Gangguan sensibilitas.
c. Gangguan fungsi autonom.
Gambar : penampang melintang medulla spinalis
A. Normal
B. lesi transversal total
1.1 gangguan motorik
pada tingkat lesi, karena motorneuronnya rusak, maka otot yang mendapat
persarafan dari segmen tersebut akan mengalami kelumpuhan yang sifatnya
LMN. Pada otot-otot tsb akan terjadi atrofi dan menunjukkan adanya
fasikulasi. Untuk segmen disebelah distalnya, lesi tsb diatas berarti telah
memutuskan jaras kortikospinalis lateralis yang membawah impuls dari
korteks motoris di otak. Sebagai akibat dari pemutusan jaras tsb adalah : otot-
otot yang mendapat persarafan dari segmen ini dan juga yang mendapat
persarafan dari segmen-segmen disebelah distalnya, akan mengalami
kelumpuhan yang sifatnya UMN. Lesi transversal total ini dapat secara
mendadak, misalnya oleh karena trauma, dapat pula secara perlahan-lahan
misalnya oleh karena tumor. Bila terjadi lesi secara mendadak, maka akan
timbul suatu keadaan yang disebut syok spinal atau diaschisis, dimana pada
fase ini semua refleks menghilang. Jadi dalam fase ini kelumpuhan yang
terjadi yang seharusnya bersifat UMN, pada waktu diperiksa justru bersifat
LMN. Fase sok spinal ini berlangsung antara 3-4 minggu.

1.2 gangguan sensibilitas
pada lesi transversal total ini, semua fungsi sensible (rasa raba, posisi, vibrasi,
getar, suhu dan nyeri) dibawah lesi menghilang. Nyeri radikuler atau
paresthesi segmental dapat timbul pada segmen yang terkena. Gangguan
sensibilitas ini dapat kita manfaatkan dalam upaya menentukan segmen mana
dari medulla spinalis yang terkena lesi. Sebagai patokan untuk menentukan
tingginya lesi adalah sebagai berikut:
- gangguan sensibilitas setinggi papilla mamae T4.
- gangguan sensibilitas setinggi umbilikus T10
- gangguan sensibilitas setinggi lipat paha L1

1.3 gangguan fungsi autonom
gangguan miksi dan defekasi
pada syok spinal, refleks untuk miksi dan defekasi juga menghilang. Dengan
adanya atonia otot detrussor dan terputusnya jaras ascendens spinothalamikus,
maka hilang pula perasaan akan kencing, sehingga timbul keadaan yang
disebut retensio urinae yang kemudian disusul dengan keadaan overflow
incontinence (inkontinensia melimpah keluar). Bila fase syok spinal sudah
terlewati, refleks miksi akan pulih kembali dan timbul keadaan yang disebut
kandung kemih automatik. Gangguan defekasi yang timbul, sama prosesnya
dengan gangguan miksi, yaitu mula-mula terjadi retensio alvi. Kemudian
menjadi inkontinensia alvi.

Beberapa contoh lesi transversal total dengan kelainan motoriknya adalah
sebagai berikut :
1. lesi transversal total di segmen servikal-4. kelainan motorik : kelumpuhan
keempat anggota gerak (tetraplegi) yang sifatnya UMN.
2. lesi transversal total di segmen servikal -5. kelainan motorik :
kelumpuhan keempat anggota gerak (tetraplegi) tetapi untuk lengan
sifatnya LMN sedangkan untuk tungkai sifatnya UMN.
3. lesi transversal total di segmen thorakal. Kelainan motorik : kelumpuhan
kedua tungkai (paraplegi) yang bersifat UMN.
4. lesi transversal total di konus medularis. Disini kelainan motoriknya tidak
nyata, karena konus medularis mensarafi otot-otot panggul yang bukan
merupakan alat gerak. Yang khas untuk lesi di konus ini adalah :
a. adanya saddle anestesia yang simetris.
b. Gangguan miksi dan defekasi : retensio urinae dan retensio alvi.
c. Gangguan fungsi seksual : gangguan ereksi dan ejakulasi.




2. lesi transversal parsial
Dengan istilah parsial ini dimaksudkan bahwa dilihat dari penampang
melintangnya, hanya sebagian saja yang terkena lesi. Beberapa jenis lesi tsb
adalah sebagai berikut :
2.1 hemi-lesi (sindrom Brown-Sequard)
Gambar :
a. Klinis.
b. Hemilesi (sisi kanan)

Gejala dan tanda-tanda
1. kelumpuhan otot tipe LMN, pada tingkat lesi. Ipsilateral, karena
motoneuronnya rusak.
2. kelumpuhan otot tipe UMN, dibawah lesi. Ipsilateral, karena terlibatnya
jaras kortikospinalis.
3. kehilangan kemampuan untuk mengenal rangsangan nyeri dan suhu
(analgesia dan thermo-anaesthesia) dibawah lesi, kontralateral, karena
terlibatnya jaras spinothalamikus yang menyilang.
4. gangguan propioseptif dibawah lesi, ipsilateral karena terlibatnya kolumna
posterior.
5. anestesia pada tingkat lesi, ipsilateral, oleh karena radiksnya terkena.
Hemilesi ini dapat terjadi antara lain oleh karena :
- trauma langsung (luka tembak, luka iris)
- tumor medula spinalis terutama yang ekstrameduler.

2.2. lesi pada kornu anterior
1. penyakit yang mengenai kornu anterior ini yang sudah kita kenal adalah
poliomielitis anterior akut. Pada umumnya penyakit ini merusak kelompok
motoneuron disegmen-segmen intumesensia servikalis atau lumbalis, sehingga
berakibat terjadinya kelumpuhan otot-otot ekstremitas tipe LMN.
2. juvenil spinal muscular atrophy (Kugelberg-Welander). Penyakit ini termasuk
penyakit degeneratif, timbul pada usia 5-15 tahun. Yang mula-mula terkena
adalah otot-otot proksimal sehingga penderita mengalami kesulitan waktu berjalan.
Secara klinis penyakit ini mirip dengan penyakit distrofia muskulorum progresifa.
3. infantile spinal muscular atrophy (Werdnig-Hoffmann). Pada penyakit ini
terdapat atrofi dan degenerasi khromatolitik dari sel ganglion di kornu anterior.
Penyebab penyakit ini belum diketahui. Sebagian penderita terdapat dalam
keadaan baik sewaktu dilahirkan tetapi beberapa bulan kemudian menunjukkan
kelemahan pada otot-otot punggung, panggul, bahu dan tungkai. Ada pula yang
sudah menunjukkan kelainan sewaktu dilahirkan, sehingga diduga prosesnya
sudah berlangsung sewaktu masih dalam kandungan.

Pada penyakit-penyakit tersebut diatas, tidak dijumpai adanya gangguan
sensibilitas sama sekali.
Gambar : lesi pada kornu anterior, bilateral.






2.3 lesi pada motoneuron dan jaras kortikospinal
Gambaran klinis lesi semacam ini terdapat pada penyakit yang disebut
amyotrophic lateral sclerosis (progressive muscular atrophy).
Gambar : amyotrophic Lateral Sclerosis






Sesuai gambar penampangnya, penyakit ini ditandai dengan adanya kelumpuhan
otot-otot yang bersifat LMN dan UMN secara berbauran. Terutama pada tahap
dini kombinasi tersebut tampak jelas. Atropi dan fasikulasi dapat dilihat pada otot-
otot tenar, hipotenar dan interosea, berkombinasi dengan hiperefleksi dan adanya
refleks patologis. Tidak didapatkan gangguan sensibilitas penderita ini. Jadi
manifestasi klinis penyakit ALS hanya berupa gangguan motorik saja. Bila tidak
mengenai saraf kranial, maka sebelum diagnosis ALS ditegakkan, harus dapat
disingkirkan kemungkinan adanya proses lain di daerah servikal, misalnya adanya
tumor. Untuk itu fungsi lumbal dan mielografi perlu dilakukan.

2.4 sindroma arteria spinalis anterior
Arteria spinalis anterior merupakan arteria tunggal yang mendarahi bagian ventral
kedua belahan medula spinalis. Penyumbatan arteri tersebut akan mengakibatkan
lesi vaskuler (infark) pada satu sampai beberapa segmen. Bila arteria ini tersumbat
atau mengalami kompresi (ini yang paling sering) di daerah servikal misalnya,
maka akan terjadi infark pada kolumna anterior dan lateralis dari medula spinalis
segmen servikal -4 sampai segmen thorakal -3. Seringkali penderita mengeluh
adanya rasa nyeri di leher dan punggung.
Gambar : sumbatan pada arteri spinalis anterior




Pada pemeriksaan neurologis dijumpai adanya :
1. kelumpuhan tipe LMN, bilateral pada otot-otot yang disarafi oleh
motoneuron-motoneuron yang terkena lesi.
2. kelumpuhan otot-otot tipe UMN dibawah tingkat lesi.
3. kehilangan kemampuan mengenai rangsang nyeri, suhu dan raba pada
bagian tubuh secara bilateral, dari tingkat lesi ke bawah. Untuk rangsang
gerak, getar, sikap dan posisi tetap utuh, tidak terganggu sama sekali.
Gangguan perasaan seperti tersebut diatas dinamakan desosiasi sensibilitas,
oleh karena perasaan protopatik terganggu sedang perasaan propioseptik
samasekali tidak terganggu (perdarahan dari arteria spinalis posterior).
4. gangguan miksi dan defekasi. Mula-mula terjadi retensio urine yang
kemudian disusul dengan kandung kemih otomatik.

2.5. lesi pada kolumna posterior
Lesi di daerah ini tidak akan menimbulkan kelumpuhan otot-otot akan tetapi
hanya ada gangguan propioseptik saja. Meskipun kekuatan otot tidak terganggu,
akan tetapi karena ada gangguan propioseptik maka penderita ini akan mengalami
kesukaran pada waktu berjalan. Penyakit yang mengenai daerah ini adalah tabes
dorsalis.
Gambar : lesi pada kolumna posterior





2.6. lesi pada kolumna posteriolateralis
Kolumna posterior dan lateralis dapat mengalami lesi oleh penyakit : subacute
combined degeneration (yaitu penyakit oleh karena defisiensi vit. B12), multiple
sclerosis.
Gambar : multiple sclerosis






Pada pemeriksaan neurologik didapatkan :
1. gangguan propioseptik, terutama pada kedua tungkai. Rangsang nyeri dan
suhu tidak terganggu.
2. paraparesis inferior spastika oleh karena terkenanya jaras kortikospinalis
secara bilateral.

2.7.lesi pada bagian sentral.
Gambar : siringomieli
A. Lesi sentral
B. Gejala klinis




Lesi dibagian sentral medula spinalis ini dapat disebabkan oleh :
siringomieli, tumor intramedular. Yang khas pada lesi sentral ini adalah bahwa
jaras spinothalamikus terkena lebih dahulu, sehingga timbul gangguan untuk
rangsang suhu dan nyeri berupa termoanestesi dan analgesi secara bilateral. Untuk
rangsang raba dan propioseptik tidak mengalami gangguan.

Gambaran klinis siringomieli bervariasi, tergantung pada arah perluasannya.
Karena lokasinya sering di intumesensia servikalis, maka perluasan lubang ini
dapat mengenai kornu anterior dan kornu lateral dengan akibat terjadinya
kelumpuhan LMN dari otot-otot tenar, hipotenar dan interosea. Kulit yang
menutupi otot-otot tsb menunjukkan disosiasi sensibilitas (akibat musnahnya
neuron-neuron dikornu lateral) dan gangguan neurovegetatif (akibat hancurnya
serabut spinothalamikus di komisura alba ventralis.

EVALUASI
Pemeriksaan neurologi penting karena tidak hanya untuk menentukan level dari
injury tetapi juga untuk menentukan pengembalian fungsi walaupun pemeriksaan
motorik, sensorik dan refleks telah diperiksa, level dari fungsi otot yang masih ada
umumnya sangat membantu untuk meramalkan hasil jangka panjang dan derajat
ketergantungan dalam aktifitas sehari-hari.
Pemeriksaan neurologi untuk SCI menggunakan American Spinal Injury
Association (ASIA). Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan fungsi motorik dan
sensorik untuk menetukan level dari injury dan derajatnya.

ASIA IMPAIRMENT SCALE
A = Complete : tidak ada fungsi motorik atau sensorik yang terpelihara pada
segmen sacral S4-5.
B = incomplete : tidak ada fungsi motorik tetapi ada fungsi sensorik yang
terpelihara dibawah level neurologik termasuk segmen S4-5.
C= incomplete : fungsi motorik terpelihara dibawah level neurologik dan sebagian
besar otot kunci dibawah level neurologik mempunyai kekuatan kurang dari 3.
D = incomplete : fungsi motorik terpelihara dibawah level neurologik dan
sebagian besar otot kunci dibawah level neurologik mempunyai kekuatan lebih
besar atau sama dengan 3.
E = normal : fungsi motorik maupun sensorik normal.

PEMERIKSAAN MOTORIK
Penilaian kekuatan otot:
0= paralisis total.
1= kontraksi yang dapat dilihat.
2= gerakan aktif dengan LGS penuh, tanpa gravitasi.
3= gerakan aktif dengan LGS penuh, mampu melawan gravitasi.
4= gerakan aktif dengan LGS penuh, bisa melawan tahanan sedang.
5= gerakan aktif normal dengan LGS penuh, bisa melawan tahanan penuh.
NT= tidak dapat dinilai.

Key Muscles
10 pasang miotom :
C5 : fleksor siku (m. Biseps, brakialis).
C6 : ekstensor pergelangan tangan (m. Ekstensor karpi radialis long-brev)
C7 : ekstensor siku ( m. Triseps).
C8 : fleksor jari (m. Flexor digitorum profundus ) pada jari tengah.
T1 : abduktor jari kelingking (m. Abduktor digiti minimi )
L2 : fleksor panggul (m. Iliopsoas).
L3 : ekstensor lutut (m. Kuadriseps).
L4 : dorsofleksor pergelangan kaki (m. Tibialis anterior).
L5 : ekstensor jempol kaki (m. Ekstensor halusis longus).
S1 : plantarfleksor pergelangan kaki (m. Gastroknemius soleus).

PEMERIKSAAN SENSORIK
- Key points untuk 28 pasang dermatom.
- Pemeriksaan pinprick dan light touch.
- 0 = tidak dapat merasakan.
1= hipestesi atau hiperestesi.
2= normal.
NT = tidak dapat dinilai.

Titik-titik kunci :
C2 protuberensia oksipitalis.
C3 fossa supraklavikularis.
C4 puncak sendi akromioklavikularis.
C5 sisi lateral.
C6 ibu jari.
C7 jari tengah
C8 jari kelingking.
T 1sisi medial fossa antekubiti.
T 2puncak aksila.
T3 spatium interkostal III.
T4 spatium interkostal IV (papila mamae).
T5 spatium interkostal V ( antara T4 T6).
T6 spatium interkostal VI ( sifisternum).
T7 spatium interkostal VII ( antara T6 T8).
T8 spatium interkostal VIII ( antara T6 T10).
T9 spatium interkostal IX ( antara T8 T10).
T10 spatium interkostal X (umbilikus)
T11 spatium interkostal XI (antara T10 T12).
T12 pertengahan ligamentum inguinalis
L1 pertengahan antara T12 dan L2.
L2 pertengahan anterior paha.
L3 kondilus femoralis medialis.
L4 maleolus medialis
L5 dorsum pedis pada sendi metatarsofalangeal III.
S1 lateral tumit
S2 fossa poplitea pada garis tengah
S3 tuberositas iskii
S4-5 daerah perianal (dianggap sebagai 1 level )

Gambar :



DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1. Anamnesa.
2. Pemeriksaan fisik.
3. Pemeriksaan neurologik : level neurologis, klasifikasi ASIA.
4. Pemeriksaan penunjang : radiologi (fotoroentgen).

PENGELOLAAN
1. Penatalaksanaan pada fase akut
Lebih diutamakan penatalaksanaan medis dan bedah.

Tujuan rehabilitasi :
- Mencegah atau meminimalkan defisit neurologis.
- Mencegah komplikasi tirah baring.

Program rehabilitasi :
- Cegah kegagalan respirasi yang disebabkan oleh retensi sekresi bronkial.
- Pertahankan integritas kulit.
- Cegah komplikasi cardiovaskuler.
- Cegah distensi bladder, infeksi traktus urinarius.

2. Penatalaksanaan pada fase pemulihan.
Penatalaksanaan rehabilitasi lebih aktif setelah masa akut lewat dan
masalah medis atau bedah teratasi.

Tujuan rehabilitasi :
- Mengatasi masalah yang timbul akibat cedera.
- Memaksimalkan fungsi yang ada untuk kemandirian.
- Memberikan kualitas hidup yang lebih baik.
- Mencegah komplikasi sekunder.

Program rehabilitasi :
Untuk paraplegi lama proses rehabilitasi umumnya sekitar 3-4 bulan,
untuk tetraplegi 4 6 bulan.
a. Mobilisasi
- Spinal ortosis bila perlu, sesuai level skeletal.
- Functional resting splint untuk tetraplegi.
b. Terapi latihan persiapan untuk mobilisasi
- Jalan dengan atau tanpa orthosis, dengan atau tanpa alat bantu.
- Kursi roda.
- Jenis kursi roda diresepkan sesuai level neurologis dan level kemandirian
serta aktivitas penderita.
c. Terapi latihan persiapan untuk aktivitas sehari-hari.
- Self care
- Leisure, hobby dan olah raga.
- Prevokasional.
- Splint khusus untuk meningkatkan fungsi tangan.
d. Bowel training.
e. Bladder training
f. Cegah komplikasi (pulmoner, kardiovaskuler, gastrointestinal,
traktus urinarius, integritas kulit, heterotropic, ossificans,
spastisitas, nyeri, osteoporosis, autonomic dysreflexia).
g. Psikososial.
h. Sexual dan family planning.
3. Penatalaksanaan pada fase lanjut.
Tujuan rehabilitasi :
- Resosialisasi.
- Meningkatkan kualitas hidup.
- Mempertahankan kemampuan fungsional selama mungkin.

Program rehabilitasi :
- Persiapan resosialisasi.
- Rujukan untuk vocational training.
- Konseling keluarga.
- Home program.

PROGRAM REHABILITASI

Fisioterapi :
1. Chest fisioterapi :
- Latihan pernapasan.
- Latihan batuk efektif.
- Perkussi.
2. Latihan LGS pasif untuk anggota gerak yang paralise.
3. Latihan LGS aktif, penguatan untuk anggota gerak yang sehat.
4. Bladder & bowel training.
5. Alih baring tiap 2 jam (log rolling).
6. Mobilisasi bertahap (tilting table).

Okupasi terapi :
Terutama pada pasien tetraplegi
1. Latihan AKS, pemakaian splint untuk mempertahankan fungsional tangan,
dipakai selama periode bed rest dan dalam melaksanakan AKS.
2. Leisure activity.
3. Prevocational training.

Sosial Medik :
Home visit untuk menilai keadaan geografis di rumah yang nanti diperlukan
apabila penderita pulang terutama untuk pemakaian kursi roda.

Psikologi :
1. Support mental.
2. Konseling keluarga.

Perawatan :
1. Untuk mencegah ulkus dekubitus, mempertahankan stabilitas tulang
belakang.
2. Mencegah gangguan pada kandung kencing.






LOW BACK PAIN

Pendahuluan
Sindroma Low Back Pain adalah suatu sindroma klinik yang ditandai
dengan gejala utama rasa nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang
punggung bagian bawah dan sekitarnya. Sindroma ini begitu sering kita dengar
oleh karena memang angka kesakitan LBP di dalam masyarakat tinggi sekali. Di
dalam masyarakat tampaknya LBP ini tidak mengenal perbedaan umur, jenis
kelamin, pekerjaan, status social, tingkat pendidikan dan sebagainya, semuanya
dapat terkena LBP. Dikatakan 80% dari umat manusia ini dalam hidupnya pernah
mengalami LBP. Para antropolog mengemukakan teorinya yang sangat
mengesankan tentang kejadian LBP ini, yaitu bahwa LBP adalah suatu
konsekuensi logis dari perkembangan manusia dari keadaan quadripedal menjadi
bipedal.
Pada ketika manusia masih hidup dalam keadaan quadripedal, maka berat
badan disanggah oleh keempat ektremitas yaitu dua bagian belakang dan dua di
bagian depan. Akibatnya beban berat yang diterima oleh tulang punggung tidak
besar dan tersebar merata . Tetapi pada waktu manusia berevolusi ke arah bipedal,
maka tulang punggung akan menerima beban lebih besar sebagai konsekuensi
tugasnya untuk menjaga posisi tegak tubuh, dan beban ini akan lebih banyak
terkonsentrasi di bagian bawah dari tulang punggung tersebut.
Sehingga dengan demikian walaupun etiologi LBP dapat bervariasi dari
yang paling ringan ( misalnya kelelahan otot ) sampai yang paling berat
( misalnya tumor ganas ) tetapi sebagian besar LBP masyarakat adalah akibat
adanya faktor mekanik yang tidak menguntungkan tulang punggung bagian bawah
dalam fungsinya untuk menjaga posisi tegak tubuh ( statistika ) maupun dalam
fungsinya selama pergerakan tubuh ( dinamika ).
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Untuk dapat memahami bagaimana rasa nyeri timbul pada LBP maka
harus dipahami betul anatomi dan fisiologi tulang belakang pada umumnya dan
tulang lumbosakral pada khususnya.
A. Kolumna vertebra
Kolumna vertebra terbentuk oleh unit-unit fungsional , terdiri atas :
1. Segmen anterior
Bagian ini terutama berfungsi sebagai penyangga beban, dibentuk oleh korpus
vertebra yang dihubungkan satu dengan lainnya oleh diskus intervertebra. Struktur
ini masih diperkuat oleh ligamen longitudinal posterior dan ligamen longitudinal
anterior.Ligamen longitudinal posterior mempunyai arti penting dalam
patofisiologi penyakit justru karena bentuknya yang unik. Sejak dari oksiput,
ligamen ini menutup seluruh permukaan belakang diskus. Mulai L1 ligamen ini
menyempit, hingga pada daerah L5. S1 lebar ligamen hanya tinggal separuh
asalnya. Dengan demikian pada daerah ini terdapat daerah lemah, yakni bagian
posterolateral kanan dan kiri diskus, daerahtak terlindung oleh ligamen
longitudinal posterior. Akan nyata terlihat, bahwa tingkat L5-S1 merupakan
daerah paling rawan.
2. Segmen posterior
Bagian ini dibentuk oleh arkus, prosesus transversus dan prosesus spinosus. Satu
dengan yang lainnya dihubungkan oleh sepasang artikulasi dan diperkuat oleh
ligamen serta otot. Ditinjau dari sudut kinetika tubuh (di luar kepala dan leher),
maka akan tampak bahwa gerakan yang paling banyak dilakukan tubuh ialah
fleksi kemudian ekstensi. Dalam kenyataannya gerakan fleksi-ekstensi merupakan
tugas persendian daerah lumbal dengan pusat sendi L5-S1. Hal ini dimungkinkan
oleh bentuk dan letak bidang sendi yang sagital. Lain halnya dengan bidang sendi
daerah torakal yang terletak frontal, bidang sendi ini hanya memungkinkan
gerakan rotasi dan sedikit laterofleksi.
Diperkirakan hampir 75 % aktivitas fleksi-ekstensi tubuh ditampung sendi L5-S1,
disamping itu adanya lordosis lumbal mengakibatkan kedudukan L5 terhadap S1
tidak seperti sebuah benda terletak di atas bidang horisontal, melainkan di atas
bidang miring yang membentuk sudut tertentu dengan bidang horisontal. Sudut ini
yang besarnya kurang lebih 34
0
dalam klinik disebut sudut lumbosakral Ferguson.
Kenyataan ini membawa konsekuensi bahwa di samping menopang berat badan,
sendi L5-S1 senantiasa dibebani oleh gaya luncur ke arah depan. Makin besar
sudut Ferguson, makin besar gaya luncur, makin besar pula tekanan yang diderita
oleh sendi lumbosakral . Walaupun demikian, tidak berarti sendi sendi
lumbosakral identik dengan titik berat badan (TBB) . TBB pada hakekatnya
adalah titik semu dimana seluruh berat badan terkumpul dan merupakan pusat
gravitasi. TBB terletak pada bidang sagital, kira-kira 2,5 cm di depan S2. Titik ini
dalam statistika dan kinetika tubuh mempunyai arti penting, karena setiap
perpindahan titik akan memaksa tubuh melakukan kompensasi agar kembali ke
tempat semula.

B. Diskus Intervertebra
Struktur lain yang tak kalah penting peranannya dalam persoalan LBP adalah
diskus intervertebra. Disamping berfungsi sebagai penyangga beban, diskus
berfungsi pula sebagai peredam kejut. Diskus dibentuk oleh anulus fibrosus yang
merupakan anyaman serat-serat fibroelastik hingga membentuk struktur mirip
gentong. Tepi atas dan bawah gentong melekat pada end plate vertebra
sedemikian rupa hingga terbentuk rongga antar vertebra. Rongga ini berisi
nukleus pulposus suatu bahan mukopolisakarida kental yang banyak mengandung
air. Menjelang usia dekade kedua, mulailah terjadi perubahan-perubahan, baik
menyangkut nukleus pulposus maupun anulus fibrosus. Pada beberapa tempat
serat-serat fibroelastik terputus, sebagian rusak, sebagian diganti jaringan ikat.
Proses ini akan berlangsung secara kontinu hingga dalam anulus terbentuk
rongga-rongga. Ke dalam rongga-rongga ini materi nukleus akan melakukan
infiltrasi. Sementara itu nukleus pulposus juga mengalami perubahan berupa
penyusutan kadar air. Jadi terciptalah suatu keadaan dimana di satu pihak volume
materi nukleus berkurang, di pihak lain volume rongga antar vertebra bertambah.
Hasilnya ialah penurunan tekanan intra diskus.
Sebagai kelanjutan proses, beberapa hal dapat terjadi :
a. Penurunan tekanan intradiskus menyebabkan vertebra yang berurutan saling
mendekat.
Hal ini akan mengakibatkan lepasnya ligamentum longitudinal posterior dan
anterior dari tempat perlekatannya. Bagian ligamen yang terlepas akan berlipat-
lipat dan lipatan ini akan mengalami fibrosis, disusul kalsifikasi hingga
terbentuk osteofit. Jadi osteofit sebenarnya bukan berasal dari pertumbuhan
hipertrofik tulang, melainkan merupakan jaringan lunak ( ligamen dan anulus
fibrosis ) yang mengalami kalsifikasi.
b. Pendekatan dua buah korpus vertebra yang berurutan mengakibatkan
pendekatan selaput kapsul sendi artikulasio posterior hingga timbul iritasi
sinovial .
c. Materi nukleus pulposus yang mengisi rongga-rongga dalam anulus fibrosis
makin banyak dan makin mendekati lapisan anulus paling luar. Bila suatu
ketika tekanan intradiskus mendadak naik, tekanan ini mampu mendorong
materi nukleus menonjol keluar.
Dua keadaan pertama mendasari gambaran klinik sindroma spondilosis,
sedangkan keadaan terakhir merupakan awal kejadian suatu Hernia Nukleus
Polpusus ( HNP ).

PEMBAGIAN LOW BACK PAIN
Dalam Klinik LBP dibagi dalam 4 kelompok.
I. LBP oleh faktor mekanik.
Dimasukkan jenis-jenis LBP atas dasar kelainan sistim muskuloskeletal.
a. LBP oleh mekanik akut.
Biasanya timbul bila tubuh melakukan gerakan secara mendadak melakukan
gerakan melampaui batas kemampuan sendi dan otot (range of motion) atau
melakukan sesuatu untuk jangka waktu terlampau lama. Contohnya ialah
seorang yang mendadak bergerak untuk menangkap benda yang sedang jatuh,
memaksa diri mendorong mobil mogok, atau berdiri dalam bus antar kota yang
kebetulan penuh sesak. Pada contoh pertama dan kedua nyeri timbul akibat
terjadinya regangan serabut-serabut otot dan jaringan miofasial, mungkin
disertai pula robekan dan perdarahan ringan. Pada contoh ketiga nyeri timbul
akibat iskemi otot oleh penumpukan sisa-sisa metabolisme.
b. LBP oleh mekanik kronik ( menahun )
Paling sering disebabkan oleh sikap tubuh yang jelek. Dengan sikap tubuh jelek
dimaksudkan adalah sikap tubuh membungkuk ke depan, kepala menunduk,
perut membuncit dan dada kempes mendatar. Sikap tubuh yang demikian
tentunya akan mendorong TBB bergeser ke arah depan. Sebagai kompensasi
agar keseimbangan tubuh tetap terjaga, punggung dan bahu harus ditarik ke arah
belakang, sehingga timbul hiperlordosis lumbal. Hal ini tentunya dimungkinkan
bila otot-otot paravertebra melakukan kontraksi terus menerus. Di samping itu
hiperlordosis mengakibatkan pendekatan selaput sendi artikulasio posterior
hingga timbul iritasi dan inflamasi. Baik kontraksi otot terus menerus maupun
iritasi selaput sendi artikulasio posterior, keduanya secara potensial merupakan
sumber nyeri.
Disamping akibat sikap tubuh yang jelek, penggeseran TBB ke arah depan
terlihat juga pada wanita-wanita yang gemar memakai sepatu dengan tumit
tinggi. Wanita-wanita ini tidak jarang menjadi penderita LBP menahun.
Mekanisme yang sama mendasari timbulnya LBP pada wanita hamil trimester
kedua dan ketiga.
Juga penerapan ergonomi yang kurang tepat, misalnya :
- Tukang pangkas rambut, yang terus menerus berdir dengan tidak
memperhatikan prinsip flat back.
- Pembuatan kursi sekretarisdengan alas punggung membulat. Alas punggung
yang baik harus mendatar dengan sudut kira-kira 100-110
0
.
- Pembuatan alas tidur terlalu tebal dan empuk hingga tubuh seolah-olah
terbenam.
II. LBP oleh faktor organik.
Proses patologik primer berada di tulang vertebra, diskus intervertebra atau
dalam kanalis spinal.
a. LBP osteogenik.
1. Radang
2. Trauma
Tidak jarang LBP merupakan keluhan utama pada fraktur vertera lumbal.
Lebih-lebih fraktur spontan akibat osteoporosis pada penderita usia
lanjut. Jenis fraktur ini sering disertai spondilolisthesis L5-S1 dan L4-L5.
3. Keganasan
Dapat bersifat primer, multiple mieloma atau sekunder akibat metastasis.
4. Kongenital
b. LBP diskogenik
Dalam hal ini proses primer terletak pada diskus intervertebra. Bentuk
gangguan yang sering dijumpai ialah :
1. Spondilosis
Adalah suatu proses degenerasi progresif diskus intervertebra. Keadaan ini
menimbulkan nyeri berasal dari dua macam sumber :
- osteoartritis
- radikulitis jebakan, radiks terjebak dalam perjalanannya melewati foramen
intervertebra yang menyempit. Sebenarnya nyeri tidak bersumber pada
tekanan radiks secara langsung, melainkan dari tekanan sarung duramater
yang mengakibatkan iskemi dan inflamasi. Itulah sebabnya mangapa
provokasi peninggian tekanan intratekal dapat menambah keluhan nyeri.
Hendaknya dipahami bahwa secara radiologik banyak dijumpai gambaran
spondilosis, terutama pada penderita usia lanjut. Fakta ini saja pada dasarnya
belum cukup menyimpulkan bahwa LBP tersebut disebabkan oleh
spondilosis, justru karena gambaran radiologik spondilosis merupakan
penemuan yang biasa dan wajar di kalangan usia pertengahan ke atas.
Gambaran radiologik spondilosis tidak selalu memberikan manifestasi klinik.
2. Hernia Nukleus Pulposus
Gangguan ini dalam kepustakaan berbahasa Inggris lebih dikenal dengan
nama Hernia Diskus Intervertebra (HDI). Sebagaimana telah disunggung,
hakekatnya HNP terjadi sebagai kelanjutan proses degenerasi diskus
intervertebra. Peranan utama yang mendahului, bila ada, tidak lain hanya
sebagai pencetus belaka. Walaupun demikian, adanya penderita HNP usia
muda adalah suatu kenyataan. Diperkirakan pada usia muda ini anomali
anulus fibrosus mendasari patofisiologi HNP.
Berbeda dengan bentuk anulus fibrosus di daerah cervikal yang tak sama
tebalnya. Hal ini membawa konsekuensi teoritik, bahwa herniasi dapat
terjadi ke segala arah. Akan tetapi kenyataannya hanya dua arah herniasi
akan memberikan manifestasi klinik :
- Herniasi posterosentral, mengakibatkan LBP oleh penekanan ligamen
longitudinal posterior.Tidak ada kompresi radiks karenanya tidak ada iskias.
- Herniasi posterolateral, sangat mungkin melibatkan radiks karena ke arah
posterolateral ini tidak ada perlindungan ligamen longitudinal posterior.
Timbul LBP disertai iskias.
Seperti telah disinggung, L5-S1 merupakan daerah paling rawan. Kenyataan
menunjukkan HNP Lumbal paling sering terjadi pada diskus L5-S1. Lebih
ke atas kemungkinan HNP jarang.
Dalam klinik HNP L5-S1 dengan iritasi radiks S1 akan memberikan
gambaran sebagai berikut :
a. gejala iskias, dirasakan sebagai nyeri mulai dari pinggang menjalar ke
bokong, paha, belakang tumit dan telapak kaki. Nyeri mungkin timbul
spontan, mungkin pula timbul setelah provokasi percobaan
Laseque/Straight Leg Raising (SLR).
b. ditemukan tanda-tanda defisit neurologik berupa hipestesi tumit dan
bagian lateral kaki. Refleks tendon tumit merendah.
c. Provokasi peninggian tekanan intratekal positif dengan cara percobaan
Valsava, Naffziger.
d. Provokasi peninggian tekanan intradiskus positif. Perubahan-perubahan
tekanan intradiskus terjadi pada perubahan sikap atau posisi tubuh. Pada
waktu tirah baring keluhan subyektif berkurang.
e. Spasme otot-otot paravertebra dengan akibat hilangnya lordosis lumbal
disertai timbulnya skoliosis kompensasi.
f. EMG memberikan gambaran iritasi atau kompresi radiks.
g. Cairan serebrospinal normal atau sedikit kenaikan kadar protein.
h. Mielografi positif.
3. Spondilitis Ankilosa
Biasanya dimulai dari sendi sakroiliaka. Lalu menjalar ke atas daerah leher.
Gejala permulaan bersifat ringan, sering hanya berupa kaku. Keluhan
terutama dirasakan pada waktu pagi bangun tidur, membaik setelah
melakukan pergerakan. Khas ditemukan gambaran ruas-ruas bambu
( bamboo spine) pada pemeriksaan radiologik.
c. LBP neurogenik
- neoplasma
Neoplasma intrakanalis tidak jarang dijumpai. Walaupun sebagian besar bersifat
jinak, harus waspada karena tingkat morbiditas cukup tinggi. LBP merupakan
keluhan utama pada kira-kira 80% penderita, disusul defisit neurologis yang
berkembang cepat, termasuk gangguan otonom. Bila pada penderita HNP tirah
baring meringankan keluhan, penderita neoplasma intrakanalis spinal senantiasa
terbangun malam oleh nyeri.
- arakhnoiditis
- stenosis kanal
akibat proses degenerasi, timbul penyempitan kanal spinal.
III. Nyeri rujukan
IV. Nyeri psikogenik

DIAGNOSTIK LBP
Seperti lazimnya, pendekatan diagnostik dimulai dengan pengambilan
anamnesis, disusul oleh pemeriksaan umum dan khusus, kemudian pemeriksaan
pendukung.
Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara terarah dan terbimbing. Ditanyakan hal sebagai
berikut :
- Sejak kapan keluhan nyeri timbul. Mendadak? Adakah trauma atau aktifitas
fisik lain yang mendahului? Ataukah spontan?
- Bagaimana sifat nyeri, tajam seperti ditusuk dan berdenyut sering bersumber
dari sendi, tulang dan ligamen. Sedangkan nyeri otot terasa pegal/kemeng.
- Lokasi nyeri, apakah nyeri setempat atau disertai penjalaran nyeri ke arah
tungkai ( ada keterlibatan radiks ).
- Adakah hal atau keadaan yang dapat meringankan atau memprovokasi nyeri.
HNP keluhan akan berkurang dengan tirah baring. Sebaliknya penderita tumor
intrakanalis spinal merasa lebih ringan bila berjalan-jalan. Penderita spondilitis
ankilosa mengeluh kaku pagi hari dan berkurang dengan melakukan gerakan
tubuh. Disamping itu batuk dan bersin serta mengejan memprovokasi nyeri pada
penderita HNP.
- Adakah klaudikasio intermitten? Klaudikasio intermitten neurogenik dapat
dibedakan dengan klaudikasio intermitten vaskuler berdasarkan pulsasi
pembuluh darah perifer yang normal. Di samping itu pada klaudikasio
intermitten neurogenik nyeri akan berkembang menjadi parestesi dan
kelumpuhan.
- Adakah demam yang timbul selama beberapa waktu terakhir? Adanya demam
menyokong kemungkinan suatu proses infeksi seperti spondilitis.
- Apakah nyeri stasioner atau progresif, nyeri yang stasioner mungkin berasal dari
LBP mekanik kronik, sedangkan nyeri progresif kemungkinan suatu tumor.
Lebih-lebih disertai adanya defisit neurologis.
- Adanya keluhan nyeri di bagian tubuh lain.
- Adakah gangguan libido, kalau penderita seorang wanita ditanyakan adakah
gangguan dalam siklus haid, adakah memakai IUD (kemungkinan inflamasi).
- Apakah nyeri berpindah-pindah, nyeri psikogenik cenderung menunjukkan sifat
tidak tetap.
- Adakah riwayat penyakit yang serupa dalam keluarga. Artritis rematoid tidak
jarang menunjukkan tendensi familiar.


Observasi Umum
Perhatikan cara penderita berdiri, jalan dan duduk. Penderita HNP biasanya
tertatih-tatih, tungkai yang sakit dalam posisi fleksi lutut dan panggul untuk
mengurangi nyeri. Penderita yang mengalami sprain berjalan tegak sambil
menahan pinggangnya dengan kedua tangan. Sebaliknya penderita oleh faktor
mekanik menunjukkan postur yang jelek. Selanjutnya perhatikan bagian belakang
tubuh, apakah ada gibbus, skoliosis. Bagaimana bentuk lordosis, normal,
mendatar, atau hiperlordosis. Pendataran lordosis disebabkan oleh spasme otot
paravertebra (pada HNP), hiperlordosis pada postur jelek. Perhatikan pula apakah
ada kemiringan pelvis, biasanya disebabkan oleh panjang tungkai yang tidak sama.
Bagaimana kedua tungkai, adakah atrofi? Setelah inspeksi di atas kita melakukan
palpasi.
Pemeriksaan Neurologik.
- Pemeriksaan motorik :
Apakah ada kelumpuhan, atrofi, fasikulasi. Kalau ada kelumpuhan segmen
mana yang terganggu. Misalnya HNP L5-S1 biasanya melibatkan radiks S1
(kalau ada kelumpuhan dijumpai kelumpuhan otot gastronemius dan otot
gluteus maksimus).
- Pemeriksaan sensorik
- Pemeriksaan refleks, percobaan Laseque/SLR, percobaan Laseque menyilang ,
percobaan Naffziger, Valsava, modifikasi Kemp, Patrick/Fabere, Patrick
terbalik, Gaenslens, percobaan Thomas.
Pemeriksaan Radiologik
Foto polos tulang belakang khususnya daerah lumbosakral bermanfaat untuk
diagnostik faktor mekanik, osteogenik dan sebagian diskogenik. Perhatikan sudut
Ferguson, fraktur kompresi, osteoporosis, spondilolisthesis, keganasan, spondilitis
ankilosa (bamboo spine), spondilosis ditandai oleh adanya osteofit penyempitan
foramen intervertebra (foto oblik).

Pemeriksaan EMG
Merupakan diagnosa pasti untuk membuktikan keterlibatan radiks

Pemeriksaan cairan cerebrospinal
Pemeriksaan mielografi (untuk indikasi tertentu )
PROBLEM REHABILITASI
- adanya nyeri pada tulang belakang
- keterbatasan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
- keterbatasan dalam melakukan pekerjaan

PENATALAKSANAAN
Pada prinsipnya penanganan LBP terdiri dari :
1.Obat-obatan
2.Penanganan Rehabilitasi Medik
3.Pembedahan
Obat-obatan :
Langkah pertama adalah pemberian obat-obatan , untuk mengurangi nyeri tanpa
menghiraukan penyebab dasar LBP. Obat yang diberikan berupa golongan
analgetika, dimana golongan ini terdiri dari analgetika antipiretik dan analgetika
narkotik. Yang umum digunakan analgetik antipiretik yang bekerja menghambat
sintesa dan pelepasan endogenous pain substance sehingga mencegah sensitisasi
reseptor nyeri. Di samping itu dikenal pula obat yang mempunyai potensi anti
inflamasi di samping analgetik misalnya pirasolon dan derivat-derivat asam
organik lainnya, dikenal dengan NSAID.
- Tranquilizer minor.
Bekerja sentral menurunkan respons terhadap rangsangan nyeri. Di samping itu
untuk mengurangi kegelisahan dan untuk relaksasi otot.
PROGRAM REHABILITASI MEDIK
1. LBP oleh faktor mekanik akut.
Tirah baring total disertai pemanasan setempat seperti infra merah , kompres air
hangat, bantal panas. Biasanya kesembuhan setelah 4-5 hari.
2. LBP oleh faktor mekanik kronik.
Pada keadaan ini hiperlordosis mendasari patofisiologi nyeri. Karena itu
tatalaksana ditujukan pada latihan-latihan untuk menghilangkan hiperlordosis
tersebut.
Pemberian latihan tujuannya untuk :
- mengurangi hiperlordosis/ memperbaiki postur tubuh
- membiasakan diri untuk melakukan gerakan-gerakan yang sesuai dengan
biomekanik tulang punggung.
Latihan yang diberikan pada prinsipnya untuk :
- Latihan penguatan dinding perut, otot gluteus maksimus.
- Latihan peregangan untuk otot yang memendek, terutama otot punggung dan
hamstring.
Teknik Latihan.
a. Penderita berbaring telentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Dengan kekuatan otot perut, tekan pinggang hingga menempel dasar.
Kemudian angkat pinggul ke atas sementara posisi pinggang tetap
dipertahankan melekat pada dasar. Hal ini dimungkinkan oleh kontraksi otot
gluteus maksimus.
b. Penderita berbaring telentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Dengan kedua belah tangan di dada, angkatlah kepala dan bahu hingga dagu
menempel di dada.
c. Penderita berbaring telentang, sendi panggul dan lutut dalam keadaan fleksi.
Tarik salah satu lutut ke arah perut sambil mengangkat kepala dan bahu,
seolah-olah hendak mencium lutut. Lakukan bergantian dengan tungkai
satunya.
d. Sama seperti latihan C tetapi dua lutut sekaligus
e. Berdiri membelakangi dinding dengan jarak kurang lebih 15 cm dari dinding.
Tekan pinggang ke arah dinding hingga tidak ada celah antara pinggang dan
dinding.
3. LBP oleh karena fraktur kompresi
Dikenal 2 macam penanganan :
- konservatif : tirah baring 4-6 minggu disusul mobilisasi dengan korset untuk
4-6 minggu lagi, bila jenis fraktur stabil. Bila tidak stabil, diperlukan tirah
baring yang lebih lama (6-8 minggu). Pada umumnya penanganan
konservatif memberikan hasil yang cukup bila kedudukan fragmen fraktur
cukup baik.
- Operatif
Tindakan operatif merupakan indikasi bila kedudukan fragmen fraktur
jelek, sedangkan reposisi sulit dilakukan secara konservatif.
4. Osteoporosis
Selain mengakibatkan fraktur spontan, tak jarang mengakibatkan pula
spondilolistesis pada penderita usia lanjut.
Penanganannya : latihan-latihan, pemasangan korset, pemanasan dangkal.
5. Keganasan
Terhadap fraktur patologik yang mungkin terjadi atau instabilitas tulang
belakang dapat diberikan korset.
6. Hernia Nukleus Pulposus
Penanganan : konservatif
- Tirah baring selama 3-5 hari di atas tempat tidur dengan alas yang keras
selama fase akut, dengan posisi semu Fowler : setengah duduk dengan
sedikit fleksi pada sendi lutut dan panggul.
- Terapi fisik
Biasanya diberikan diatermi dalam (SWD), asal tidak ada kontra indikasi
berupa : tumor, gangguan sensibilitas, implantasi metal.
- Traksi pelvis
Tujuannya untuk relaksasi otot, memperbaiki lordosis dan meregangkan
diskus yang menyempit. Kontra indikasi traksi : infeksi tulang, keganasan,
fraktur, osteoporosis.
- Latihan-latihan yang pada prinsipnya untuk memperkuat otot-otot tulang
belakang.
Tindakan operatif :
- Kegagalan konservatif ( kekambuhan sering terjadi )
- Adanya gangguan neurologis yang progresif (kelemahan otot )
Nukleolisis
Merupakan metode/alternatif setelah operasi gagal
Edukasi Penderita ( Proper body mechanics ) :
- Waktu berdiri
- Jangan memakai sepatu dengan tumit terlalu tinggi
- Bila berdiri dalam waktu lama, selingilah dengan periode jongkok sebentar.
- Bila mengambil sesuatu di tanah, jangan membungkuk, tapi tekuklah pada
lutut.
- Waktu berjalan
- Berjalanlah dengan posisi tegak, rileks dan jangan tergesa-gesa.
- Waktu duduk
- Busa jangan terlalu lunak
- Punggung kursi mempunyai kostur bentuk S, seperti kostur tulang punggung.
- Kursi jangan terlalu tinggi sehingga bila duduk , lutut lebih rendah dari paha.
- Bila duduk seluruh punggung harus sebanyak mungkin kontak dengan
punggung kursi.
- Waktu tidur
- Waktu tidur punggung dalam keadaan mendatar
- Olah raga
- Pada penderita LBP dimana kondisi punggung belum cukup stabil harus
dihindari olah raga bersifat beregu. Yang dianjurkan adalah olah raga
perorangan yaitu berenang (latihan aktif hampir seluruh otot tubuh, namun
stres berat badan terhadap punggung kecil sekali akibat daya mengambang
di air. Lari, terbaik adalah jogging, jangan lari cepat.


















REHABILITASI PADA SINDROMA GUILLAIN BARRE

Sindroma Guillain Barre (SGB) adalah suatu kelainan sistim saraf akut dan difus
yang mengenai radiks spinalis dan saraf perifer, dan kadang-kadang juga saraf
kranialis, yang biasanya timbul setelah suatu infeksi. Merupakan suatu penyakit
autoimun.
Manifestasi klinis utama dari SGB adalah suatu kelumpuhan yang simetris, tipe
LMN dari penderita sembuh secara spontan. Pada sebagian besar penderita
kelumpuhan didahului oleh suatu infeksi saluran nafas atau saluran cerna 1-3
minggu sebelumnya. Sampai saat ini belum ada terapi spesifik untuk SGB.
Pengobatan secara simptomatis dan perawatan yang baik serta rehabilitasi dini
dapat memperbaiki prognose dan kwalitas hidup penderita.

ETIOLOGI DAN PATOGENESA
Akibat suatu infeksi yang mendahului SGB akan timbul autoantibodi/imunitas
seluler terhadap jaringan sistim saraf perifer. Akhirnya sistim imunitas ini
menyebabkan demilinisasi segmental, dimana mielin terkelupas dari aksonnya.

GAMBARAN KLINIS
1. Kelumpuhan ekstremitas tipe LMN. Kelumpuhan pada kedua ekstremitas
bawah bisa serentak pada keempat ekstremitas.
2. Gangguan sensibilitas. Defisit sensoris, seperti pola kaos kaki dan sarung
tangan
3. Saraf kranialis. Yang paling sering terkena N.VII. Diplopia bisa terjadi akibat
terkena N.III/N.VI. Bila N.IX dan X terkena akan menyebabkan gangguan
berupa sukar menelan, disfonia, pada kasus berat menyebabkan kegagalan
pernafasan karena paralisis N. Laringeus.
4. Gangguan fungsi otonom
5. Kegagalan pernafasan merupakan komplikasi utama yang berakibat fatal,
disebabkan paralisis diafragma dan kelumpuhan otot-otot pernafasan.
6. Papil edema, penyebabnya belum diketahui.
7. Perjalanan penyakit terdiri dari 3 fase :
a. Fase progresif : onset sampai 4 minggu
b. Fase plateau : kelumpuhan telah mencapai maksimal dan menetap,
sering selama 3 minggu
c. Fase rekonvalesen : ditandai dengan timbulnya perbaikan kelumpuhan
extremitas, yang berlangsung selama beberapa bulan.
Seluruh perjalanan penyakit SGB ini berlangsung dalam waktu kurang dari 6
Bulan.
8. Pemeriksaan laboratorium
Yang menonjol hdala peninggian kadar protein dalam cairan otak 0,5mg%,
tanpa diikuti oleh peninggian jumlah sel, hal ini disebut disosiasi sito
albuminik. Peninggian ini dimulai pada minggu 1 2 mancapai puncak
setelah 3-6 minggu.
9. Pemeriksaan EMG
Terdapat perlambatan dan blok hantaran saraf

DIAGNOSA DITEGAKKAN BERDASARKAN :
1. Anamnesis kelumpuhan simetris dimulai dari extremitas bawah menyebar
secara ascendens ke anggota gerak atas dan adanya periastesia pada ujung-
ujung extremitas.
2. Pemeriksaan dan gambaran klinis :
a. Gambaran yang diperlukan untuk diagnosa :
- Kelemahan motorik yang progresif LMN
- Arefleksia atau hiporefleksia
b. Gambaran yang mendukung diagnosis :
- Gambaran klinis :
Progresif cepat dari beberapa hari sampai 4 minggu
Relatif simetris
Keluhan dan gejala sensoris yang ringan
Terlibatnya saraf kranialis
Penyembuhan dimulai setelah 4 minggu fase progresif berakhir
Gangguan otonom
Afebril pada saat onset
- Gambaran CSF
Peninggian kadar protein
Jumlah sel mononuclear cairan otak < 10 sel / mm
3
.
- Gambaran EMG :
Terdapatnya perlambatan atau blok hantaran saraf
3. Pemeriksaan laboratorium :
Peninggian kadar protein dalam cairan otak. 50mg% tanpa diikuti oleh
peninggian jumlah sel dalam cairan otak disebut disosiasi seto-albuminik.
4. Pemeriksaan EMG :
Kecepatan hantaran saraf motorik dan sensorik yang melambat, distal motor
latense memanjang dan kecepatan hantaran gelombang F melambat,
menunjukkan perlambatan pada segmen proximal dari radix saraf.

PROBLEM REHABILITASI
Adanya kelemahan sehingga terjadi hambatan :
1. Ambulasi
2. AKS ( Aktivitas Kehidupan Sehari-hari )
3. Psikososial

PROGRAM REHABILITASI MEDIK
Stadium akut
Pada fase ini, penderita menunjukkan kelemahan otot yang komplit atau sedang
berjalan. Sasaran rehabilitasi medik : memelihara luas gerak sendi ( mencegah
kontraktur), mencegah terjadinya ulkus dekubitus, memelihara fungsi pernafasan
dan memberikan dukungan psikologis.

Latihan luas gerak sendi (ROM exercise)
a. Pasif atau aktif asistif ( tergantung kekuatan otot )
b. Tidak boleh sampai lelah
c. Latihan dikerjakan dengan hati-hati, jangan sampai terjadi peregangan yang
berlebihan karena akan mencederai otot yang dilatih
d. Resting splint dapat diprogramkan untuk tangan (untuk mempertahankan
posisi pergelangan tangan dan tangan pada posisi fungsional ) dan untuk
kaki ( mencegah kontraktur tendon Achilles )


Pencegahan ulkus dekubitus
a. Rubah posisi penderita setiap 2 jam (minimal)
b. Hindari penekanan pada daerah-daerah yang mudah iskemik, misalnya dengan
memberi ganjalan bantalan yang lembut
Dukungan Psikologis ( psychological support )
Harus segera diberikan karena penderita akan menjadi cemas dan putus asa

Stadium Antara
Pada fase ini terlihat perbaikan ( umumnya setelah 1-2 bulan dari onset )

Program Rehabilitasi Medik :
a. Latihan luas gerak sendi diteruskan. Jangan terjadi overstretching.
b. Latihan penguatan otot disesuaikan dengan kemajuan motorik, tidak boleh lelah.
c. Gaittrainning ( Latihan Jalan ) :
- Latihan berdiri hanya boleh dimulai jika kekuatan otot betis ( gastrocsoleus)
sudah fair
(3)
ke atas.
- Latihan jalan hanya boleh dimulai jika otot gluteus, hamstring dan kwadriseps
kekuatannya sudah Fair ke atas.
- Jika kekuatan otot-otot tersebut masih poor
(2)
latihan jalan dapat dilakukan di
dalam air ( kolam latihan atau Hubbard tank).
- Latihan jalan permulaan sebaiknya memakai alat bantu walker
d. Latihan ADL ( Activities of Daily Living )
- Penderita hanya boleh mulai makan sendiri jika kekuatan otot anggota gerak
atas Fair ke atas, terkadang diperlukan splint untuk pergelangan tangan dan
kaki
- Demikian pula untuk kegiatan lainnya harus dihindari terjadinya kerja yang
berlebihan dan kekuatan, karena akan membuat cedera ototnya

Stadium Kronik
Apabila penderita tidak menunjukkan perbaikan motorik yang berarti setelah lebih
6 bulan, berarti terdapat kerusakan aksonal yang luas. Pada kondisi ini program
rehabilitasi medik sangat diperlukan penderita. Sambil menunggu kesembuhan
selanjutnya, program pencegahan timbulnya komplikasi imobilisasi lama harus
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Petunjuk untuk teknik energy saving perlu
diberikan sehingga penderita dapat merasakan bahwa kualitas hidupnya tetap
maju meskipun perlahan.