Anda di halaman 1dari 17

FORMULASI TABLET

STUDI PREFORMULASI :
Merupakan langkah awal pengembangan bentuk suatu sediaan dari suatu bahan obat secara rasional
dengan memanfaatkan data-data fisikokimia, fisikomekanik dan biofarmakokinetik dari obat sendiri
maupun kombinasinya dengan bahan pembantu, data-data ini dapat digunakan untuk mendisain
suatu sediaan yang stabil, manjur, ketersediaan hayati terpenuhi, tidak toksik dan dapat diproduksi
secara masal.
Tahap awal yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan informasi tentang sifat fisikokimia dan fisiko
mekanik obat yang akan diproduksi meliputi :

A. Struktur kimia untuk
Menentukan metoda analisis yang tepat baik obat sendirim aupun hasil urainya di dalam sediaan
farmasi (TLC, HPLC, UV Spekrskopi). Memodifikasi obat yang sudah ada atau biosintesa atau
semisintesa tujuaan : mengurangi toksisitas, efek samping, memperbesar kelarutan, untuk
memperbaiki efek dan absorsi rasa, perubahan ini dapat dilakukan dengan membentuk senyawa
komplek, senyawa garamnya, memasukkan gugus tertentu dsb.
Prednison (dosis 5 mg) dengan subsitusi gugus methyl dan F, akan mempertinggi kelarutan
dalaam lemak dan aktivitasnya menjadi Dexamethason (dosis 0,75 mg)
Biosintesa penisilin derivate, menjadi penisilin tahan asam Phenethicillin kalium. Penisillin tahan
enzyme penisllinase Methisillin Na, Oxacillin, Dicloxacillin Hetacillin (prodrug ampicillin) merupakan
hasil kondensasi Ampicillin dan acetone, dalam saluran cerna akan terhidrolisis menjadi Ampicillin
yag aktif. Larutan hetacilli lebih stabil dari pada Ampicillin Asam salisilat, digunakan sebagai obat
luar (keratolitik) dengan memasukkan gugus asetat --> Asetosal (obat dalam)

B. Kelarutan
Intrinsic solubility (Co) dan dissociation constant (pKa) adalah data yang perlu diketahui
menyangkut ketersediaan hayati dari obat.
Senyawa obat 75% bersifat basa lemah, 20% asam lemah dan 5% non-ionik yang sukar larut
dalam air, didalam lambung yang asam, akan terurai dalam bentuk ion dan tidak dapat diabsorbsi.
Kelarutan merupakan parameter yang penting dalam biofarmasi, karena itu penentuan kelarutan
sangat penting ditentukan pada berbagai pH( 1-8 ) dari segmen saluran cerna tempat terjadinya
absorbsi obat. Jika kelarutan dipertimbangkan terlalu rendah atau kecil, usaha untuk mengubah
dapat dilakukan dengan :

FORMULASI TABLET

STUDI PREFORMULASI :
Merupakan langkah awal pengembangan bentuk suatu sediaan dari suatu bahan obat secara rasional
dengan memanfaatkan data-data fisikokimia, fisikomekanik dan biofarmakokinetik dari obat sendiri
maupun kombinasinya dengan bahan pembantu, data-data ini dapat digunakan untuk mendisain
suatu sediaan yang stabil, manjur, ketersediaan hayati terpenuhi, tidak toksik dan dapat diproduksi
secara masal.
Tahap awal yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan informasi tentang sifat fisikokimia dan fisiko
mekanik obat yang akan diproduksi meliputi :

A. Struktur kimia untuk
Menentukan metoda analisis yang tepat baik obat sendirim aupun hasil urainya di dalam sediaan
farmasi (TLC, HPLC, UV Spekrskopi). Memodifikasi obat yang sudah ada atau biosintesa atau
semisintesa tujuaan : mengurangi toksisitas, efek samping, memperbesar kelarutan, untuk
memperbaiki efek dan absorsi rasa, perubahan ini dapat dilakukan dengan membentuk senyawa
komplek, senyawa garamnya, memasukkan gugus tertentu dsb.
Prednison (dosis 5 mg) dengan subsitusi gugus methyl dan F, akan mempertinggi kelarutan
dalaam lemak dan aktivitasnya menjadi Dexamethason (dosis 0,75 mg)
Biosintesa penisilin derivate, menjadi penisilin tahan asam Phenethicillin kalium. Penisillin tahan
enzyme penisllinase Methisillin Na, Oxacillin, Dicloxacillin Hetacillin (prodrug ampicillin) merupakan
hasil kondensasi Ampicillin dan acetone, dalam saluran cerna akan terhidrolisis menjadi Ampicillin
yag aktif. Larutan hetacilli lebih stabil dari pada Ampicillin Asam salisilat, digunakan sebagai obat
luar (keratolitik) dengan memasukkan gugus asetat --> Asetosal (obat dalam)

B. Kelarutan
Intrinsic solubility (Co) dan dissociation constant (pKa) adalah data yang perlu diketahui
menyangkut ketersediaan hayati dari obat.
Senyawa obat 75% bersifat basa lemah, 20% asam lemah dan 5% non-ionik yang sukar larut
dalam air, didalam lambung yang asam, akan terurai dalam bentuk ion dan tidak dapat diabsorbsi.
Kelarutan merupakan parameter yang penting dalam biofarmasi, karena itu penentuan kelarutan
sangat penting ditentukan pada berbagai pH( 1-8 ) dari segmen saluran cerna tempat terjadinya
absorbsi obat. Jika kelarutan dipertimbangkan terlalu rendah atau kecil, usaha untuk mengubah
dapat dilakukan dengan :

a. Produk (obat) kelarutannya rendah, pilih bentuk garamnya.
Luminal ---> Na Luminal
Obat dengan kelarutan yang jelek (>1 mg/ml = 1%) dalam medium asam mungkin menunjukkan
ketersediaan biologis yang jelek (laju penentu) dan tidak menentu, tergantung pada proses
absorbsi dan disolusinya.
Kelarutan yang kurang baik dalam air, mungkin saja hal yang diinginkan untuk efek
perlambatan absorbsi setelah pemberian dosis awal pada sediaan lepas diperlambat.

b. Efek ion sejenis (common ion efek), lambung mengandung ion Cl akan terjadi peningkatan
ion Cl yang tinggi,kebanyakan obat dalam bentuk garam HCl, akan terjadi pengaruh ion sejenis
dan akan mengurangi kelarutan obat, untuk menghindari hal ini :

- pilih obat dalam bentuk garam lain selain HCl.
- obat sifat polimorfisa pilih bentuk metastabil
- solubilisasi
- mepercepat kelarutan obat pilih dispersi padat
- Kompleksasi ( Vit B.2 + xanthim)

c. Esterifikasi dapat memperkecil kelarutan dan mencegah terurainya obat dalam suasana
asam lambung, perlu dibuat bentuk pro drug, dimana pada pH yang lebih besar bentuk ester
akan larut dan diserap dalam bentuk molekul seperti Erytromisin base dengan asam lemak
stearat, sucsinat atau estolat ---> Erytromisin estolat.
Menghambat atau memperpanjang kerja beberapa obat seperti esterifikasi hormon steroid,
seperti dinatriun fosfat dari prednisolon.

d. Menutupi rasa yang tidak enak seperti klorampenikol base dirobah dalam bentuk ester
palmitat yang tidak berasa pahit. Di usus halus bentuk ester ini akan dihidrolisa menjadi bentuk
base kembali, bentul ester palmitat lebih cepat dihidrolisa dibandingkan bentuk esrter stearat.

e Perubahan sifat fisik zat aktif
Obat dapat berbentuk kristal atau amorf (polimorfisa) Bentuk amorf /metastabil adalah bentuk
tak beraturan. cendrung berubah ke bentuk stabil/kristal) Kristal bentuk stabil memiliki ukuran
kisi tiga dimensi yang teratur dan berulang, dimaana energi pembentukan kisi lebih tinggi dari
bentuk tak teratur (amorf), akibatnya kelarutan lebih rendah dari bentuk amorf Didalam sediaan
mengalami proses penghalusan, proses ini dapat merobah tata susunan kristalnya (kisi patah)
menjadi bentuk amorf. Kedua bentuk ini mempunai sifat fisiknya berbeda terutama kelarutan
karena energi yang diperlukan untuk membentuk kisi lebih besar dari bentuk amorf. Pengaruh
bentuk terlihat pada Novobiosin amorf, kelarutannya 10 x lebih besar dari bentuk kristal.
Novobiosin dalam larutan suspensi digumakan bentuk amorf, secara perlahan akan berubah ke
bentuk kristal membentuk endapan (caking), untuk mengatasi permasalahan ini digunakan
Novobiosin bentuk senyawa garamnya Na Novobiosin amorf dan bersama dengan
penggunaan senyawa pembentuk makro molekul seperti metil selulosa, polivinil pirolidon atau
Na alginat. Kloramphenikol palmitat bentuk amorf yang kelarutannya terbaik.
Polimorfisa ialah keadaan dimana suatu zat padat dapat berubah menjadi bermacam bentuk,
perubahan ini dapat tejadi oleh karena perubahan tekanaan (kompresi), suhu, pelarut,
pengadukan, pendinginaan. Perubahan sifat kimia fisik polimorfisa dapat terlihat pada
perbedaan diagam sinar X, imfra merah, titik lebur dan kelarutan.
Adanya bentuk polimorf merupakan problema dalaam formulasi dan fabrikasi karena perubahan
ini berakibat kerusakan atau tidak efektifnya sediaan
Untuk keadaan tertentu campuran bentuk kristal dan amorf memang dikehendaki untuk
terjadinya kerja depot (obat dengan lepas lambat) seperti Insulin USP, terdiri dari 70% bentuk
kristak dan 30% bentuk amorf Zink-insulin.

f. Bentuk senyawa solvat dan hidrat
Pada proses kristalisasi, molekul pelarut baik air atau pelarut organik lain dapat terikat erat
dengan senyawa obat (adisi antara obat dan pelarut).
Bentuk anhydrat kelarutannya lebih besar dari bentuk hydrat (pelarutnya air). Ampicillin an-
hydrat terabsorbsi lebih baik dari bentuk hidrat, Fluorocortison asetat mempunyai kelarutan
lebih baik dai non solvate. Bentuk hydrat berpengaruh pada stabilitas.

g. Eutektik atau larutan padat,
Eutektik merupakan campuran padat berasal dari 2 senyawa yang umumnya mempunyai titik
lebur lebih rendah dari masing komponen, merupakan suatu senyawa yang sukar larut dengn
senyawa yang lain mudah larut dan tidak saling melarutkan (dispersi padat), didapatkan dengan
cara kristalisasi lelehan atau pelarutan dalam pelarut organic, campuran diaduk sampai
dingin/memadat dan selanjutnya diserbuk. Senyawa obat dispersi padat terdapat dalam ukuran
molekul. Lautan padat merupakan campuran padatan yang terdiri dari suatu matrik padat yang
sangat larut dalam air terdiri dari kristal zat aktif yang sukar larut dan pembawa yang mudah
larut (pelarut)
Bahan matrik yang biasa digunakan manitol, urea untuk (khlorampenikol,sulfathiasol),asam
suksinat (griseofulfin), PVP (griseofulfin, reserpin), As askorbat(sulfathisol), poli okso etilen
glycol (Griseofulfin)
Kelarutan dalam berbagai pelarut, menetapkan pelarut yang digunakan pada proses granulasi
untuk mencegah migrasi obat.

h. pKa proses pelarutan (bentuk molekul) pada berbagai pH untuk mengetahui apakah terjadi
peruraian (bentuk ion) pada suasana asam, untuk mentukan apakah perlu prodrug,
menentukan segmen absorbsi terbaik apakah pada suasana asam atau netral dan menentukan
perlu tidaknya tablet disalut
Koefisien partisi, untuk menghasilkan respon farmakologi, sustu molekul obat harus melewati
memban biologis yang terdiri dari protein dan lemak yang berfungsi sebagai penghalang
lipofilik.
Koefisien partisi minyak/air merupakan ratio pendistribusian obat ke dalam pelarut sistim dua
fase, yaitu pelarut organic (lipofilik) dan air (hidropilik)

(kons obat dalam oktanol)
P = --------------------------------
(kons obat dalam air)

i. Density ( app, true dan tap) menentukan kompresibilitas calon bahan obat untuk menetukan/
memilih bahan pembantu yang tepat untuk memperbaiki kekurangan bahan (obat).
j. Ukuran partikel, bagi obat yang kecepatan melarutanya (kecepatan disolusi) merupakan
factor yang menentukan untuk cepat diserap, maka usaha pengecilan partikel (reduksi) akan
memperbaiki absorbsi. Reduksi ukuran partikel akan berarti bila obat sukar larut < 0,3%,
sedang untuk obat yang mudah larut tidak berpengaruh Pengaruh ukuran partikel pada
absorbsi terbukti antara lain pada Griseovulfin dengan ukuran mikronisasi jumlah obat
terabsorsi 2 kali lebih besar dari griseovulvin yang non mikronisasi, demikian juga
dengan Khloramphenikol ester, Tolbutamid Pengecilan partikel bukan merupakan jawaban
untuk setiap obat dalam menyelesaikan kecepatan melaut, karena untuk obat-obat tertentu
yang tidak larut cara ini justru menyebabkan terjadi aggregasi atau agglomerasi.
Pada pengecilan partikel, kelarutan (solubility) tidak berubah tetapi kecepatan melarut
(dissolution rate) yang ditingkatkan.

k. Higrofisitas, apakah juga mengandung air kristal (hidrat), solvate ini bertujuan untuk
menentukan prosesing dan kondisi penyimpanan Titik leleh (kemurnian), bau, rasa dan warna.

l. Disolusi secara in vitro terhadap zat murni, untuk mengetahui kecepatan pelarutannya,
pengaruh formulasi/ eksipien, perlu tidaknya surfaktan (memperkecil sudut kontak)
dan pengaruh teknologi prosesing. Biofarmakokinetik menyangkut ADME, nasib obat dalam
tubuh, khasiat, dosis, efek samping, toksisitas dllnya.

Pemberian obat per-oral :
- Obat tidak larut dalam saluran cerna, akan memberikan efek local seperti sediaan antacida,
adsorben/norit.
- Obat terlarut dalam saluran cerna diabsorbsi, masuk sirkulasi darah memberikan efek
sistemik.

Desain formula untuk kedua jenis bahan diatas berbeda: Untuk efek local , kerja obat sangat
dipengaruhi fenomena permukaan dan merupakan titik kritis/yang menentukan suatu sediaan yang
dibuat. Bagaimana obat dapat terdispersi dalam bentuk halus dengan luas permukaan yang besar.
Pengaruh formulasi, cara granulasi, sifat permukaan material pada tablet, kemampuan regenerasi dari
material di dalam saluran cerna dengan sifat permukaan yang optimal merupakan titik kritis untuk
tablet yang mengandung obat yang bekerja local.
Obat yang terlarut, disain formula haruslah bagaimana sediaan/tablet cepat hancur dan terlarutnya
obat, apakah dilambung atau pada pH netral duodenum, tergantung tempat absorbsinya bagian atas
atau bawah usus.
Bentuk sediaan yang dirancang haruslah mengoptimalkan ketersediaan hayati, meminimalkan
toksisitas, efek samping dan memperbaiki stabilitas.

C. FARMAKOLOGI
Keberhasilan disain sediaan per-oral haruslah mengetahui ADME obat, umumnya obat yang
terlarut dalam cairan pencernaan, menyebrang mucosa/membran dinding pencernaan (koeffisien
partisi) masuk ke dalam sistin mesenteric darah, melewati hati masuk ke dalam sirkulasi jantung,
dan sampai ke target/side of action
Obat dapat dimetabolisme/terurai oleh cairan cerna, enzym yang terdapat dalam dinding usus atau
hati, obat mengalami lintas pertama, sehingga tidak sempurna ketersediaan hayatinya (perlu dosis
besar) atau hasil metabolisme merupakan bentuk aktif farmakologinya (pro drug = phenasetin
metabolitnya parasetamol) phenasetin lebih toksik.

Permasalahan : Obat dapat mengiritasi lambung/mukosa atau terurai oleh asam lambung.
Pemecahan masalah :
Buat tablet salut/lepas tunda, pada pH yang sesuai, penyalut terlarut dan obat dibebaskan.
Obat mengalami in-aktivasi/dimetabolisme di hati, maka dibuat tablet sublingual atau bucal`(tablet
oral, dikemut dibawal lidah/diselip antara gusi dengan pipi), dimana absorbsinya terjadi di mukosa
mulut (pH = 6,4), efek cepat tidak melewati hati. Sediaan dirancang terlarut dalam waktu 15 30
menit dan formula tidak mengandung bahan yang dapat mengiritasi mucosa rongga mulut untuk
mencegah pengeluarkan air ludah lebih banyak.
Bila obat terlarut dalam suasana asam/terurai, absorbsinya terbaik di pH netral/usus, perlu dicari
alternatif bentuk lain/dimodifikasi menjadi bentuk yang sukar larut/pro drug seperti Erytromisin
base dapat terurai di lambung, dimodifikasi (esterifikasi) dalam bentuk ester, dalam sediaan
digunakan bentuk ester stearat, succinat atau estolat, dalam lambung stabil. bat sebelum masuk
ke dalam pembuluh darah akan menyebrang dinding saluran cerna (lapisan lemak) secara
transpor pasif. Kelarutan obat dalam lemak (perlarut organic/oktanol) dapat merupakan laju
penentu dari absorbsi obat.

SISTEMATIKA DISAIN SEDIAAN TABLET :
Penetapan bagian optimal pelepsan/absorbsi obat di saluran cerna berdasarkan :

1. Tempat absorbsi terbaik (optimal), berdasarkan pka, lingkungan saluran cerna/pH dimana obat
paling stabil/tidak terurai, koefisien partisi (kelarutan dalam lemak)
2. Menentukan metoda fabrikasi, cara yang paling efisien (waktu, peralatan) dapat memberikan
ketersediaan hayati paling maksimal dan validasi terpenuhi.
3. Pemilihan bahan pembantu haruslah kompatibel, bahan pengisi haruslah memiliki
kompresibilitas yang baik, bahan pengikat harus memiliki daya kohesi pada pengompakan
masa cetak.
4. Menyiapkan tiga macam formula untuk dievaluasi in-vitro, tergantung pada skala percobaan
misal untuk skala laboratorium cukup jumlah tablet 10 20 tablet. Dosis obat, ukuran dan
bentuk/jenis tablet, bobot tablet (obat dan eksipien di cetak langsung dengan kempa hidrolik
menjadi disk, dan evaluasi,kemungkinan bagaimana metoda pembuatan tablet, menetapkan
bahan-bahan pembantu pengisi, penghancur dllnya.
5. Lakukan uji in-vitro, baik sifat fisik maupun kimia dan lakukan validasi
6 . Lakukan uji in-vivo, baik terhadap hewan percobaan maupun relawan
7. Lakukan perbaikan stabilitas, ketersediaan hayati validasi dan lengkapi data-data klinik pada
skala menengah dan skala produksi batch /penuh


BAHAN YANG TERDAPAT PADA TABLET
Tablet dibuat dengan mengempa/kompresi kristal halus, serbuk yang dapat mengalir bebas atau
granul di dalam tabung pipih atau sirkuler(dies) diantara 2 stempel (punch bawah/statis dan punch
atas yang bergerak).
Kebanyakan serbuk tidak dapat mengalir secara teratur dari hopper(wadah granul) ke dalam dies
(ruang cetak), tanpa perlakuan khusus, akan dihasilkan tablet dengan bobot yang bervariasi. Untuk
mengatasi hal ini serbuk tsb harus diubah menjadi granul sehinga dapat secara teratur mengalir
masuk ke dalam dies. Proses pembuatan granul/ granulasi merupakam salah tahap yang
terpenting pada perakitan tablet, untuk ini perlu dirancang suatu formula, disamping bahan obat
juga mengandung sejumlah bahan pembantu yang mempunyai fungsi khusus sehingga akan
dihasilkan tablet yang memenuhi persyaratan, stabil, aman, manjur, mempunyai identitas dan
ketersedian hayati.

KOMPOSISI UMUM DARI FORMULA TABLET.
Bahan berkhasiat/obat
Bahan pengisi
Bahan penghancur dalam
Bahan pengikat/perekat.
Bahan pembasah jika perlu)
Bahan penyerap/adsorben (jika perlu)
Bahan penghancur luar
Bahan pelincir
Korigensia (jika perlu).
Bahan-bahan pembantu ini jenis dan jumlahnya per tablet dipilih sesuai dengan sifat bahan obat.

BAHAN BERKHASIAT/OBAT.
Pada umumnya sebahagian besar obat dapat diproses menjadi tablet, baik bahan tsb berbentuk
serbuk(halus, kasar, kristal ,volumenius), cairan (encer tingtur dan kental (ekstrak)
Secara garis besar formula tablet yang digunakan untuk oral/ per-oral terdiri dari bahan :

A. Bekerja lokal, obat sukar larut (antasida, adsorben), kerjanya sangat ditentukan oleh fenomena
sifat permukaan, oleh sebab itu dalam menyusun formula, tablet yang dirancang harus dapat
pecah dan terdispersi dengan cepat menjadi partikel halus dengan luas permukaan yang besar
menutupi mukosa permukaan lambung.
B. Bekerja secara sistemik, obat harus dapat terlarut (bentuk molekul), sesuai dengan pH
bagian saluran cerna tempat terjadinya penyerapan. Tablet yang dirancang
harus memperperhatikan sifat obat (stabilitas, iritasi lambung).

C. Data lain yang diperlukan dalam penyusunan formula adalah : ukuran partikel,density, titik
leleh, stabilitas terhadap lembab dan panas, sifat alir, kompresibilitas, sifat polimorfisa dan
lainnya. Data ini sangat membantu dalam penyusunan formula dan menentukan proses
pembuatan/ perakitan yang paling efisien untuk menghasilkan tablet yang memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.

D. Kelarutan pada berbagai pH (2 8) , koef partisi lintas
pertama metabolisme dapat menentukan jenis/bentuk tablet.

BAHAN PENGISI
Tablet mengandung bahan obat berkisar antara 0,05 sampai 70 % dari bobot total tablet, atau dari
dosis beberapa microgram sampai gram, hal ini memerlukan beberapa bahan-bahan pembantu
maupun proses perakitan yang tepat untuk mendapatkan tablet yang memenuhi persyaratan.
Tablet yang mengandung bahan obat dalam jumlah kecil (microgram), disamping prosesing,
membutuhkan bahan pembantu yang menjamin homogenitas/dispersi bahan obat dan kwalitas
tablet ditentukan oleh bahan pembantu. Untuk tablet dengan dosis bahan obat besar
membutuhkan bahan pembantu dalam jumlah sedikit dan sifat tablet ditentukan oleh sifat dari
bahan obat.
Bahan pengisi harus dapat memperbaiki kekurangan/ kelemahan sifat bahan obat. disamping
memperbaiki daya kompresi dari bahan obat juga berfungsi untuk mendapatkan bobot tablet yang
ideal. Bahan pembantu yang sering digunakan adalah derivat karbohidrat dan senyawa an organic.

Derivat Karbohidrat :
AMYLUM : merupakan 2 polysaccharida yaitu amylosa dan amylopektin, masing-masing
polysaccharida terdiri dari 27% polimer linier dan 73% polimer bercabang dan monomernya
adalah glucose .
Amylum mirip selulosa, kecuali struktur konfigurasi stereokimianya dan sambungan unit glukosa.
Kedua komponen berasosiasi intermolekul dalam suatu kristal laktis, sehingga amylum tidak larut
dalam air.
Sebagai pengisi didapatkannya saluran-saluran kapiler, menyebabkan struktur tablet lebih terbuka
sehingga penetrasi cairan kedalam tubuh tablet lebih cepat. Daya kompresi dan sifat alirnya
kurang baik dan sebagai bahan pengikat kekuatan daya ikatnya sedang.

Keunggulan Kelemahannya
Inert - mengandung lembab lebih dari 10%
berfungsi sebagai lubrikan - tablet yg dihasilkan kurang keras
aktifitas sebagai penghancur - mengabsorsi lembab sehingga pd penyimpanan tablet
menjadi lembab
dapat mengadsorbsi minyak yang baik.

Penggunaan amylum lebih dari 30% dari bobot tablet, akan menyebabkan tablet rapuh

AMYLUM PRAGELATINASI:
Suspensi amylum dipanaskan sampai pada titik gelatinus (pemanasan dibawah kelembaban
tinggi), hasilnya bentuk akhir terdiri dari butir-butir amylum yang membesar dan belum pecah
yang membentuk aggregat. Amylum pragel memiliki sifat alir yang baik, daya kompresi yang tinggi
disebabkan granul beraggregasi dapat mengalami deformasi plastis, dapat digunakan pada tablet
cetak langsung sedangkan untuk granulasi basah amylum pragel dilarutkan dalam air dingin.
Amylum pragel untuk tablet cetak langsung :

Keunggulan Kelemahan
pengikat yang baik, - diperlukan tekanan yang besar untuk mendapatkan tablet yang cukup
keras
sifat alir baik - daya ikat diperkecil oleh lubrikan, cenderung menjadi lemah
memiliki kemampuan bila digunakan Mg stearat gisi yang baik untuk glidan
dilution yang baik
LAKTOSA :
struktur kimianya adalah disaccharida diperoleh dari susu,
4-O-beta-D-galactopyronosyl-D-glucopyronosa bila dihydrolisa akan dihasilkan D-glucosa dan D-
galaktosa.
Laktosa secara luas digunakan sebagai bahan pengisi tablet, Karena mudah mengalami
deformasi platis, mudah larut walaupun lambat, mudah digranulasi, merupakan bahan pengisi
utama untuk tablet yang mengandung bahan obat yang kurang larut. Laktosa ada bentuk hydrat
maupun anhydrat. Bentuk hydrat lebih banyak digunakan pada granulasi basah.
Berdasarkan pada ukuran partikel 60 80 mesh/kasar dan 80 100 mesh, ukuran partikel
berpengaruh pada kecepatan pembebasan obat dari tablet.
Laktosa hydrat/ monohydrat dan bentuk kristal , sifat alir dan daya kompresinya kurang,
sehingga tidak digunakan pada tablet cetak langsung, bentuk kristal sukar mengalami deformasi
sehingga pada pengompakan akan patah-patah/britle akibatnya kekerasan tablet tidak tercapai jika
digunakan pada tablet cetak langsung.
Laktosa hydrat
Digunakan pada granulasi basah, tidak digunakan untuk tablet cetak langsung karena sifat alirnya
jelek.
Tablet yang dihasilkan keras dan cenderung bertambah pada penyimpanan
Waktu hancur tidak dipengaruhi oleh kekerasan tablet.
Larut, dalam formulasi membutuhkan suatu penghancur.
Pembebasan bahan obat tidak dipengaruhi oleh laktosa.
Tidak reaktif kecuali terjadi perubahan warna apabila dalam formula terdapat senyawa obat
dengan gugus amin, material alkali/lubrikan alkali.
Mengandung 5% lembab, karena itu dapat sebagai penyebab ketidak stabilan obat
harga tidak mahal

Laktosa anhydrad
Sebagai bahan cetak langsung.
Tidak mempengaruhi pembebasan obat dari matrik.
Tidak memiliki sifat alir yang baik.
Tidak reaktif kecuali dengan senyawa amin dan alkali.

Laktosa spray drying
Sebagai bahan tablet cetak langsung, sifat alir baik.
Memerlukan daya kompresi yang besar untuk mendapatkan tablet yang keras
Daya kompresi dipengaruhi proses pengeringan, mengandung lembab kecil dari 3%.
Kemampuan dilution sangat tinggi
Pembebasan bahan obat dari matrik tidak dipengaruhi.
Memerlukan desintegrator,dan lubrikan yang tidak mempengaruhi ikatan
Perubahan warna dapat terjadi apabila terdapat senyawa amin. dan membentuk senyawa
5(hydroxy methyl)-2-furaldehyde

MIKROKRISTAL CELULOSA
Serbuk bewarna putih, tak berbaudan tak larut dalam air Dalam perdagangan /komersil lebih
dikenal Avicel
Merupakan hasil hydrolisa dari pemurnian alpa cellulose tanpa merusak bagian kristalnya, karena
itu mempunyai struktu yang sama dengan cellulose alam Avicel pH 101 berbentuk serbuk
merupakan hasil pertama hydrolysis. dan Avicel pH 102 bentuk granul, yang sebahagian hasil
hidrolisis, diagglomerasikan ukuran partikelnya menjadi lebih besar dan sifat alirnya lebih baik
,banyak digunakan untuk sediaan farmasi bentuk padat. Memiliki sifat pengikat, penghancur,
pengisi dan sifat alir yang baik. Walaupun avicel dapat digunakan untuk semua metoda pembuatan
tablet, ia sangat efektif digunakan untuk tablet cetak langsung. Dapat meningkatkan kekerasan
dan friabilitas tablet. Kapilaritas dari avicel, dapat meningkatkan penetrasi cairan/air kedalam
tablet, merusak ikatan kohesi antar partikel sehingga tablet cepat hancur. Peningkatan daya
kompresi pada pencetakan tablet akan merusak struktur ruang intermolekul dan merusak sifat
kapilaritas dan sehingga berpengaruh pada waktu hancur tablet. Kombinasinya dengan laktosa,
amylum dan di calsium phosphat sering digunakan untuk mengontrol kecepatan
pelarutan/pelepasan obat.
Daya dilution sangat baik, dapat digunakan untuk tablet yang mengandung bahan obat 50% dari
bobot tablet. Karena harganya mahal sering dikombinasikan dengan eksipien lain.
Tablet dapat menjadi lunak karena avicel sensitive terhadap lembab.

STARCH -1500
Hasil modifikasi secara fisik dari amylum maydis/pati jagung, memiliki sifat alir yang baik dan dapat
digunakan untuk tablet cetak langsung, berfungsi sebagai pengisi, pengikat kering dan
penghancur. Jika digunakan untuk bahan obat yang voluminous (volume besar) dapat
mempengaruhi sifat alirnya, untuk mengatasi hal ini perlu ditambah glidant. Bila dicetak tampa
dikombinasikan dengan bahan lain, memiliki sifat lubrikan dan penghancur. Untuk tablet yang
dibuat dengan cara granulasi basah, Starch 1500 dapat ditambahkan dalam keadaan kering,
kemudian campuran ini dibasahi dengan air untuk penggranulannya. Kombinasi dengan bahan lain
5 10%, memerlukan bahan glidan, kombinasi dengan MgStearat besar dari 0,5% tablet menjadi
lunak.
Sebagai penghancur sangat efektif untuk tablet yang mengandung bahan obat dan bahan pengisi
yang tidak larut, Starch-1500 mengandung 10-% lembab.

MANITOL:
Merupakan isomer dari Sorbitol, berbentuk kristal putih, kelarutan 15 g dalam 100 ml air, kurang
larut dalam alcohol, dan larut dalam alkali carbonat atau alkali hidroksida, rasa manis 40 50%
dari sukrosa.
Di dalam mulut akan memberikan rasa dingin karena pelarutannya bersifat panas negatif, tidak
bersifat kariogenik.
Tidak hygroskopis, dapat digunakan untuk bahan obat yang sensitive terhadap lembab,
kandungan lembab kecil dari 0,1%.
Kristal manitol sifat alir dan kompresinya kurang baik , pada granulasi basah memerlukan bahan
pengikat untuk mendapatkan granul yang kompresibel. Karateristik dari manitol, stabil pada suhu
tinggi 250 C tidak terurai walaupun titik lelehnya 167 C.
Manitol cair dapat melarutkan atau mendispersikan sejumlah bahan obat dan pada proses
pemadatan akan didapatkan dispersi mikrokristal atau solid-solid solution( padat dalam larutan
padat), bentuk ini dapat dicetak langsung dan memiliki homogenitas yang baik.
Tablet yang dibuat dengan cara ini memiliki seperti butir-butir pasir (grittiness, hal ini tidak akan
didapatkan bila dibuat secara konvensional, dan dimulut efek rasa dingin berkurang. Banyak
digunakan pada tablet kunyah.
Campuran manitol dengan sukrosa atau laktosa dengan cara solid-solid solution akan
menghasilkan campuran eutektik yang memiliki daya kompresi dan sifat alir yang baik dan dapat
digunakan sebagai bahan pengikat kering tablet. Pada kompresi akan didapat tablet dengan
permukaan yang licin, keras dan friabilitas yang kecil, pada proses pencetakan tidak terjadi kaping,
laminating atau stiking.

SORBITOL.
Isomer optik dari manitol,tetapi sangat berbeda karena sorbitol barsifat hygroskopis pada
kelembaban diatas 65% dan lebih larut dalam air. Pada sorbitol 6 atom C gula alkohol dan gugus
aldehydnya tereduksi. Sorbitol warna putih digunakan sebagai bahan cetak langsung, daya
kompresinya tinggi, daya larut besar(1:0,5), tidak bersifat karsinogenik, menyenangkan dimulut,
manis dan mendinginkan dan tidak grittinis dan bersifai sangat higroskopis.Sorbitol memiliki
kristal bentuk jarum, proses kristalisasi berbeda akan mehasilkan bentuk kristal yang berbeda,
ada 4 macam bentuk kristal dan 1 bentuk polimorf.
Tabet sorbitol bila disimpan dengan kelembaban 50%, suhu 50 C akan terjadim penurunan
kekerasan, waktu hancur dan disolusi melambat.
Pada penyimpanan kelembaban 90% suhu 40 C dalam waktu 3 hari sudah terlihat perobahan fisik
penampilan tablet.

SUKROSA
Dikenal juaga sebagai gula pasir atau Sacharum album berbentuk kristal tak bewarna atau berupa
serbuk bewarna putih, tak berbau dengan rasa manis, larut dalam air dengan perbandingan
2:1.Sebagai bahan pengisi dalam formula tablet jarang sekali digunakan, lebih sering digunakan
sebagai penyalut pada tablet salut gula (drage) atau sebagai pengikat. Penggunaannya dalam
tablet biasanya dalam jumlah kecil (terbatas) karena sifat dapat menyerab lembab )air) sehingga
dapat menimbulkan kesulitan pada waktu pencetakan. Warna sukcrosa cenderung berubah
menjadi kecoklatan bila kontak dengan senyawa yang bersifat asam atau basa. Tablet yang
mengandung sukrosa disarankan tidak diberikan pada pasien penderita penyakit gula. Dalam
perdagangan terdapat beberapa sukrosa dengan nama dagang seperti ;Sugartab : mengandung
90-93% sukrosa dan 7-10% gula invert .Dipac : mengandung 97 sukrosa dan 3% dektrin
yang telah dimodifikasi.
NuTab : 95% sukrosa,4% gula invert, 0,1-0,2% masing-masing terdiri dari Mg-stearat dan
amylum jagung.Jenis-jenis sukrosa ini digunakan dalam formula tablet hisap/kemut yang dibuat
secara cetak langsung.

SENYAWA AN ORGANIK
CaHPO4 = Calsium phospat dibasic
Ca3(OH)(PO4)3 = Calsium phospat tri basic
Merupakan bahan pengisi , yang bentuk granul tidak larut, dapat digunakan pada granulasi basah
maupun cetak langsung.
Umumnya digunakan pada industri makanan, sebagai sumber Ca dan PO4 pada tablet vitamin.
Sering digunakan pada formula yang mengandung bahan larut soluble-insoluble yaitu bila bahan
obat larut digunakan eksipien yang tidak larut atau sebaliknya. Keuntungan Cal phospat sifat
alirnya baik, tidak higroskopis, harga tidak mahal, tablet yang dihasilkan keras. Kelemahannya
memiliki sifat abrasif terhadap peralatan dan merupakan penyebab ketidak stabilan obat yang
sensitive terhadap alkali.
Calsium phosphat dibasic digunakan secara luas sebagai bahan pengisi an-organik untuk tablet
cetak langsung, dikenal secara komersil dengan nama Di-Tab dan Enkompres. Mengandung 2
gugus hidrat, pada penyimpanan pada kondisi normal stabil, bila sediaan disimpan pada kondisi
suhu lebih tinggi, air krital dapat bereaksi dengan bahan obat yang sensitive terhadap air.
CaHPO4 2H2O merupakan aggregat kristal dan tidak dihaluskan, memiliki daya kompresi yang
baik, tabletnya keras dengan waktu hancur yang cepat. Bentuk partikel dan jumlah serbuk
halus/fine sedikit memiliki, sifat alir yang baik, memperkecil kemungkinan terjadinya segresi di
hoper.

Sifat bahan pengisi an organic
Pengisi a b c d e f g
Calcium carbonat 2 4 0 2 b 2 1
Dicalcium PO4 2 2 0 4 b 2 0
Calcium tripP04 3 2 0 5 b 2 0
Mg carbonate 2 2 0 4 b 1 1
Sodiumchloride 5 5 5 1 a 2 2

a. availability, b. Mechanical strength, c, solubility, d.absorbency, e. acid/base, f.abrasiveneus, g.
lubricity.
Garam-garam calcium pada umumnya memperlihatkan pengaruhnya pada absorbsi dari beberapa
bahan aktif termasuk didalamnya Tetracyclin.

Emdex dan Celutab
Merupakan hasl hydrolisa amylum, terdiri dari
= Dextrosa 90 92%
= Maltosa 3 5%
= Sisanya merupakan saccharosa yang lebih tinggi dari glucose.
Sering digunakan sebagai pengganti manitol pada tablet kunyah karena rasanya yang manis dan
memberikan rasa licin dalam mulut. Memperlihatkan stabilitas yang baik dengan bahan obat tetapi
dapat bereaksi dengan bahan obat dari senyawa-senyawa amina primer, jika disimpan pada suhu
dan kelembabanyang tinggi. Tablet yang mengandung Emdex akan menjadi keras beberapa jam
setelah dicetak (2 19 kg).



BAHAN PENGIKAT.
Pemilihan bahan pengikat pada dasarnya teergantung kepada besarnya daya kohesi (ikat) yang
diinginkan untuk membentuk granul dan kompatibel dengan bahan lainnya khususnya dengan
bahan aktif.
Penggunaan bahan pengikat berfungsi untuk merekat berbagai jenis partikel berbeda membentuk
aggregate (kumpulan partikel/granul) lebih besar dan menambah daya kohesi partikel/serbuk,
dapat memberikan kekuatan ikatan pada granul dan tablet.
Pembesaran ukuran partikel dapat dicapai dengan cara granulasi basah, granulasi kering
pengompakaan serbuk / partikel dan granul menjadi tablet
Bahan pengikat sebaiknya mudah larut (dalaam keadaan dingin) sehingga pelarut yang diperlukan
minimal, tidak higroskopis, viscositas sekecil mungkindan mudah pada waktu
membasahi campuran komponen tablet.

Penambahan bahan pengikat dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantng sifat bahan aktif :
-Penambahan bahan pengikat dalaam bentuk larutan (terlarut) atau terdispersi dalam air.
Bahaan pengikat yang digunakaan dalam bentuk demikian pada umumnya sebagai bentuk sirup
atau musilago. Bahan penikat ini biasanya merupakan bahan yang mudah mengembang bila
didispersikan ke dalam airdimana konsentrasi penggunaannya disesuaikan dengan daya kohesi
yang diinginkan atau bahan pengikat tersebut larut di dalam air. Bentuk bahan pengikat seperti ini
dipergunakan untuk membuat granul dari bahan aktif/obat yang stabil terhadap pengaruh lembab
dan panas.
-Penambahan baha engikat dalam bentuk kering.
Bahan pengikat yang termasuk ke dalam kelompok ini mempunyaai sifat alir yang baik, juga dapat
berfungsi sebagai bahan pengisi, pengembang bahkan adakalanya sebagai lubrikan. Umumnya
bahan pengikat ini berbentuk granul, biasanya digunakan pada tablet cetak langsung, seperti
Laktosa SP, Avicel
-Bahan pengikat yang dapat larut dalam air atau pelarut organic.
Penambahan bahan pengikat ini dapat ditambahkan dalam bentuk larutan atau kering ke
dalam campuran komponen tablet yang kemudian diaktifkan dengan penambahan
pelarut. Seperti Polyvinyl pyrolidon (PVP).
Penambahan bahan pengikat dalam bentuk larutan akan memberikan daya ikat yang kuat
dibandingkan dengan penambahan dalam bentuk kering yang kemudian diaktifkan dengan
penambahan pelarut air atau pelarut organik.
Penambahan bahan pengikat dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan granul yang dihasilkan
terlalu keras sehingga memerlukan tekanan/kompresi yang besar untuk pengompakannya,
disampingitu pada tahap proses pengayakan granul kering akan didapatkan serbuk halus (fine)
dalam jumlah yang besar, sehingga sifat alir granul kurang baik
Perbedaan bahan pengikat yang digunakan dapat memberikan pengaruh yann jelas berbeda pada
kecepatan pengeringan , lamanya pengeringan dan kelembaban yang terkandung dalam granul.
Walaupun bahan pengikat dapat memperbaiki penampilan, kekerasan dan friabilitas dari sediaan,
biasanya tidak mempengaruhi waktu hancur atau kecepatan disolusi bahan obat, hal ini
disebabkan oleh : pengaruh metoda prosesing dan adanya bahaan pengembang.
Bahan pengikat yang biasa digunakan bersifat hidrofil seperti gula, polimer alam ataupun sintetis.
Bahan pengikat yang berasal dari alam seperti gom, gelatim amylum/amylum hydrolisat, bentuk
sintetis seperti povidon (PVP, Kolidon) dan derivat selulosa.

Distribusi bahan pengikat pada granul

1. Granulasi basah, penambahan bahan pengikat dalam bentuk larutan (terlarut) atau terdispersi
dalam air.Bahan pengikat seperti ini umumnya dikenal sebagai bentuk sirup atau musilago
dimana bahan pengikat ini merupakan bahan yang mudah mengembang bila didespersikan
dalam air atau terlarut Konsentrasi pemakaiannya disesuaikan dengan daya kohesi yang
diinginkan dan sifat bahan obat Bahan pengikat seperti ini dipergunakan untuk membuat
granul dari bahan aktif/obat yang stabil terhadap pengaruh lembab dan panas. Didalam granul
akan didapatkan jaringan spons/bunga karang dari matrik pengikat yang dikelilingi/ditancapi
oleh partikel.

2. Granulasi kering, merupakan distribusi partikel bahan pengikat diantara partikel bahan obat
dan bahan pembantu lainnya. Bahan pengikat yang termasuk ke dalam kelompok ini
mempunyai sifat alir yang baik, juga dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, penghancur
adakalanya juga sebagai lubrikan . Umumnya bahan pengikat ini berbentuk granul, biasanya
digunakan pada tablet cetak langsung seperti Laktosa SP dan Avicel.

3. Spray drying, Penambahan bahan pengikat dapat berupa larutan atau dalam bentuk kering
kedalam campuran komponen tablet yang kemudian diaktifkan dengan pelarut air atau pelarut
organic seperti PVP . Campuran/bubur dari campuran fasa dalam disemprotkan dari nozel,
kedalam bejana/ruangan yang dialiri udara panas, campuran berupa bubur akan mengering
dimana bahan pengikat merupakan lapisan koting, karena sebagian besar pengikat
pindah/migrasi ke bagian luar. Distribusi bahan pengikat akan berpengaruh pada kekuatan
tablet, kecepatan hancur, dan disolusi tablet (mempengaruhi penetrasi cairan k dalam tablet
dan pembasahan).
Penambahan bahan pengikat dalam bentuk larutan akan memberikan daya ikat yang kuat
dibandingkan penambahan dalam bentuk kering yang kemudian diaktifkan dengan pelarut air
atau pelarut organic Penambahan bahan pengikat dalam jumlah berlebih akan menghasilkan
granul yang keras sehingga membutuhkan daya kompresi yang besar untuk mendapatkan
tablet yang kompak. Disamping itu daya kompresi yang besar belum tentu akan
mengenghasilkan tablet yang keras karena pada proses pengayakan granul kering tadi akan
menghasilkan serbuk halus (fine) dalam jumlah besar sehinga banyak terdapat udara dirongga
antar partikel akibatnya tablet rapuh. Granul yang keras menyebabkan waktu hancur bertambah
lama.
Proses pengeringan berpengaruh terhadap kekuatan tablet, pada proses spray drying,
mayoritas bahan pengikat terdapat pada permukaan luar granul karena terjadi migrasi solute
selama proses spray drying, memberikan kekuatan pada ikatan intergranul karena
terkonsentrasi pengikat pada permukaan (terjadi pengerasan bahan pengikat).
Pemilihan bahan pengikat dan konsentrasinya sedikit berpengaruh pada pembentukan dan
pertumbuhan granul pada granulasi basah, tegangan permukaan dan viskositas dari larutan
pengikat dan sudut kontak dari permukaan padat mempunyai peranan penting pada granul.

GOM ARAB
Gom arabatau acacia berasl dari ala, telah digunakan sudah lama sebagai larutan untuk granulasi
basah. Larutan atau musiligonya berkisar antara 10 25%.
Larutan harus dibuat baru/segar karena kemungkinan terjadi kontaminasi dengan bakteri
Tablet yang dihasilkan cukup keras

TRAGACANT
Sama dengan gom arab, berasal dar alam dan permsalahannya juga sama. Musilago tragacant
sukar membuat dan mencampunya, oleh sebab itu ditambahkan dalam bentuk kering dan
diaktifkan dengan air

SUKROSA
Digunakan dalam bentuk sirup dengan kosentrasi 50 75%, memiliki sifat ikatan yang baik. Tablet
yang disiapkan dengan sirup ini cukup kuat, keras dan agak rapuh. Jumlah sirup yang
ditambahkan dan kecepatan penambahan haruslah dilakukan secara hati-hati, karena campuran
cepat menjadi basah dan susah mengering.

GELATIN
Merupakan bahan pengikat yang kuat biasanya pemakaian 5 10%. Larutan gelatine dengan
menghidrasi dalam air dingin selama beberapa jam dalam air dingin kemudian dipanaskan larutan
sampai mendidih (terbentuk sol)
Penambahan kedalam campuran serbuk harus dalam kedaan panas atau hangat karena bila
larutan gelatine mendingin akan berubah menjadi bentuk gel yang sulit dituang dan juga akan
menyulitkan distribusinya dalam campuran serbuk
Gelatine mempunyai kecendrungan menghasilkan granul yang keras seperti sukrosa, tablet yang
dibuat dengan gelatine pada penyimpanan akan bertambah kekerasannya
Penggunaan gelatine sebagai pengikat sering dijumpai dalam formula Lozenges dimana kelarutan
tablet yang dihasilkan lambat serta memberikan efek yang menyenangkan di dalam mulut ( kemut)
Di dalam perdagangan ada 2 jenis gelatine
- Gelatin A atau Pharmagel A
Merupakan hasil ektraksi dengan asam, bersifat kationik yang memiliki titik isoelektrik antara pH 7
9 dan pemakaiannya efektif pada pH 3,2

- Gelatin B atau Pharmagel B
Hasil ektrksi dengan basa, bersifat anionic memiliki titik isoelektrik pada pH 4,7 5 dan
pemakaiannya efektif pada pH 7 - 8

P A T I
Pati adalah amylum yang telah dibersihkan dari serat-serat digunakan dalam bentuk
pasta/musilago, tablet yang dihasilkan umumnya rapuh kurang keras. Untuk meningkatkan daya
ikatnya sering dikombiasikan dengan gelatine 1 2% dimana larutan panas gelatine ditambahkan
ke dalam suspensi pati.

Cara pembuatan pasta pati :
Pati disuspensikan dalam air dingin 1 1,5 bagian, kemudian ditamba air mendidih 2 4 kali pati,
diaduk akan didapatkan pasta yang bening (translucent) kemudian diencerkan dengan air dingin
sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan.
Pati disuspensikan dalam air dingin kemudian dipanaskan sampai mendidih sambil diauk-aduk
terus meneus sampai jernih.

SELULOSA
Selulosa seperti methylselulosa dan Na-karboksi methylselulosa menghasilkan tablet cukup keras,
dapat digunakan dalam bentuklarutan ata ditambahkan dalam bentuk kering kemdian diaktifkan
dengan air, ganul yang dihasilkan dengan cara ini kurang memuaskan.
Dalam perdagangan terdapat beberapa jenis dengan berbagai bera molekul yang berpengaruh
pada viskosita larutan

POLYVINYLPIROLIDON (PVP)
PVP dikenal juga dengan nama Povidon, Kolidon, merupakan hasil polimerisasi1-vinylpyrolid-2-on,
derajat polimerisasi yang dihasilkan bervariasi pada bobot molekulnya berkisar antara 10.000
hingga 70.000.
PVP dapat larut dalam air, alcohol, CHCl3 dan isopropanol. Granul yang dibuat dengan PVP
alcohol, pengeringannya cepat dapat dilakukan dengan pengeringan udara mengalir, pemakaian
khusus pada pembuatan tablet multivitamin yang sensitive terhadap kelembaban. Penggunaan
dapat dalam bentuk larutan atau ditambah dalam bentuk kering kemudian di aktifkan dengan
penambahan pelaut.
PVP merupakan polimer yang higroskopis

ETHYL SELULOSA.
Ethyl selulosa atau Ethocel digunakan dalam bentuk larutan dalam alcohol 0,5 2%, digunakan
untuk bahan- yang sensitive terhadap lembab dengan cara melapisinya (coating) Seperti vitamin
A dan D sensitive terhadap lembab, dapat dicoating dengan ethocel, dikeringkan dan digranulasi
dengan cara konvensional.
Ethosel mempunyai efek memperlambat waktu hancur dan disolusi tablet.

BAHAN PENGHANCUR/PENGEMBANG
Adanya bahan penghancur (pengembang, desintegrator) di dalam formulasi tablet bertujuan agar
tablet dapat pecah dengan segera biala terjadi kontak dengan cairan lambung atau air menjadi
partikel partikel halus sehingga terjadi pelarutan bahan obat.
Terdapatnya kanal kanal kapiler dalam tablet akan mempercepat terjadinya penetrasi cairan
masuk ke dalam tablet sehingga menyebabkan melarutnya bahan pengikat, adanya tekanan
hidrostatik akibat mengembangnya penghancur, bahan bahan lain akan menyebabkan tablet
pecah.
Kecepatan pecahnya tablet disamping ditentukan oleh jenis bahan pengembang yang
digunakan juga karena sifat fisika dan kimia dari bahan obat, bahan pembantu juga ditentukan
oleh porositas dan kekerasan tablet.
Bahan pengembang dikatakan baik apabila perbandingan besar volume antara sebelum dan
sesudah kontak dengan cairan adalah 1,6 sedangkan untuk pengembang yang perbandingannya
hanya 1,4 dinyatakan kurang baik. Berdasarkan percobaan untuk bahan-bahan yang dapat
menyerap air lebih dari 20% dan tidak larut, merupakan bahan pengembang yang baik
sekali seperti asam alginate, kalsium alginate,methylselulosa dan beberapa pati. Bahan
pengembang yang terlarut tentu kecepatan dan daya hancur dan kecepatannya kurang karena
tekanan hidrostatiknya kecil
Bahan pengembang dapat ditambahkan sebelum granulasi (fasa dalam atau selama lubrikasi (fasa
luar)
Di dalam memilih bahan pengembang perlu diperhatikan bahwa beberapa bahan penghancur juga
dapat berfungsi sebagai bahan pengikat.
Bahan pengembang yang digunakaan sebagai bahan pengikat dalam bentuk musilago (pasta)
telah kehilangan sifat pengembangnya karena butir selnya telah pecah (gelatinous)

Mekanisme hancurnya tablet
Pecahnya tablet dapat terjadi dengan beberapa mekanisme :
- Mengembangnya bahan pengembang.
Mekanisme ini umumnya ditunjukan oleh berbagai pati, gom arab dan alginate. Bahan
pengembang ini dengan adanya air, selnya akan menyerap air dan mengembang ,
menimbulkan tekanan cukup besar dari dalam tablet sehingga tablet pecah.
- Terbentuknya gas karbondioksida.
Pada tablet buih yang mengandung komponen asam seperti asam sitrat atau tartrat dan
komponen basa seperti karbonat ata bikarbonat. Adanya air, kedua komponen ini akan
beraksi dan akan membentuk gas karbon dioksida (CO2) yang tekanannya cukup besar
untuk memecah tablet

P A T I
Merupakan amylum yang telah dihilangkan bahagian serat-seratnya, pemakaiannya banyak
digunakan sebagai pengembang baik sebagai intragranul maupun ekstragranul. Dalam kondisi
kering dan dikempa/kompresi akan membentuk jembatan hydrogen sesamanya dan akan segera
putus jika kelembapan berlebihan.
Mekanisme pengembangannya sangat tergantung kepada kekerasan tablet, porositasdan daya
kapilaritas yang dimiliki oleh tablet. Derivat pati yang juga digunakan sebagai pengembang yaitu :

EXPLOTAB.
Explotab adalah sosdium starch glycolat, subsitusi dari carboxymethyl starch. Granul explotab
mengabsorbsi air dengan cepat dan mengembang tetapi tidak pecah , granul tetap utuh. Seperti
amylum, explotab bersifat netral, inert dan tidak reaktif. Kandungan kelembaban rendah sekali,
efektivitasnya sebagai pengembang tidak hilang terhadap waktu. Digunakan khusus untuk tablet
yang mengandung bahan obat yang tidak larut seperti antasida, barium-sulfat, dikalsium phospat
dan meprobamat.

G O M
Guar gom, berasal dari alam diperdangan dikenal dengan
Nama dagang Jaguar. Bersifat mudah mengalir, larut dengan sempurna dalam air, polimer netral
yang dibentukdari bagian gula. Tersedia dalam berbagai ukuran partikel. Walaupun merupakan
bahan penghancur yang baik tetapi mempunyai kelemahan terutama warnanya tidak selalu putih,
adakalanya terdapat variasi dari warna putih. Dalam tablet mempunyai kecenderungan berubah
menjadi gelap terutama bila tablet yang alkalis.

ASAM ALGINAT
Asam alginate merupakan polimer yang terdiri dari D-manuronik dan L-glucoronik. Mempunyai
affinitas terhadap air dan kemempuan yang tinggi untuk menyerap air, merupakan bahan
pengembang yang baik sekali. Tidak larut dalam air, sedikit bereaksi asam, dapat digunakan pada
granulasiyang bersifat asam atau netral.
Bila dignakan bersama dengan gram alkali atau garam dari asam organic, memiliki
kecenderungan bereaksi membentuk alginate yang larut atau tak larut yang memiliki sifat gel,
memperbesar viskosita sehingga memperlambat hancurnya tablet.
Asam alginate dapat digunakan untuk tablet multivitamin,asetosal, senyawa garam asam dari basa
organik
SOLKA-FLOK
Merupakan hasil pemurnian dari selulosa kayu, terdapat beberapa jenis di perdagangan yang
dinyatakan dengan BW 40. Berwarna putih, fibrous, inert, netral dapat digunakan bersama pati,
kaolin, bentonit atau veegam sebagai pengembang pada tablet asetosal , pennisilin atau obat-
obat yang sensitive pada lembab dan pH, dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mengandung
air kristal,mudah larut dalam air seperti NH4Cl, Na-salisilat, NaCl, Vitamin C dan Ferro gluconat.

Starch Disintegrants
----------------------------------------------------------------------
Material Usual range(%)
----------------------------------------------------------------------
Natural starch (jagung, kentang) 5 - 20
Primojel (Explotab) 1 8 (4% optimum)
Pregelatinized starch(National 1551) 5
-- ,, -- (Amijel) 5
Modified cornstarch (Sta Rx 1500) 3 - 8

BAHAN PELICIN ATAU PELINCIR
Bahan pelicin atau pelincir adalah bahan yang ditambahkan ke dalam masa tablet sebelum atau
seudah granulasi, untuk mengatasi masalah yang senantiasa dijumpai dalam proses pencetakan
tablet yaitu :
- Aliran granul masa cetak
- Lengketnya mas cetak pada permukaan punch dan die
- Gesekan sisi tablet dengan dinding ruang cetak tablet
Berdasrkan fngsinya bahan pelincir dapat dibagi atas :

1. LUBRIKAN
Lubrikan berfungsi untuk mengurangi/mencegah gesekan antara dua permukaan yang relative
bergerak, seperti penolakan tablet dari ruang cetakan tablet (die).
Kekurangan lubrikan akan menyebabkan sisi permukaan tablet tergores secara tak teratur arah
vertical disertai bunyi mesin tablet akan menjadi lebih keras/hangar.
Lubrikan juga membantu memperbaiki aliran granul dalam hoper.
Pengaruh lubrikan dapat terjadi dengan 2 cara :
- Fluid (hydrodynamik) lubrikasi, dua permukaan yang bergerak yang dipisahkan bidang batas
dari lubrikan cair.
Contoh lubrikan cair adalah senyawa hidrokarbon seperti mnyak mineral, walaupun merupakan
suatu lubrikan yang jelek. Penambahannya ke dalammasa granul secara atomizer (alat
pengabut) membentuk disperse partikel halus, tablet yang dihasilkan akan memperlihatkan
totolan halus minyak pada bagian permukan tablet
- Boundary lubrication, melekatnya bagian polar dari molekul karbon rantai panjang pada
permukaan metal dari dinding cetakan tablet (die), Contoh Mg-Stearat.
Lubrikan cenderung akan mendistribusikan secara merata tekanan yang diterima masa cetak
tablet dan juga memperbesar /meningkatkan density partikel sebelum dicetak. Lubrikan akan
melapisi permukaan partikel atau granul dan dapat mempengaruhi permukaan tablet.
Karena lubrikan yang baik bersifat hidrophobik dan membentuk lapisan pada permukaan maka
waktu hancur tablet akan bertambah dan mengurangi kecepatan disolusi. Kekuatan tablet
tergantung pada luas kontak antar partikel/granul, karena lubrikan terdapat juga diantara ikatan
partikel/granul dapat menyebabkan kurang kohesifnya ikatan sehingga secara mekanis tablet
kurang keras.
Lubrikan dapat ditambahkan dalam bentuk kering, larutan dalam alcohol, suspensi dan emulsa.

Lubrikan yang tidak larut dalam air
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Material % Pemakaian
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Garam Stearat (Mg, Ca, Na) 1/4 - 2
Asam Stearat 1/4 - 2
Sterotex 1/4 - 2
Talk 1 - 5
Wax 1 - 5
Srearowet 1 - 5
Lubrikan yang larut dalam air
-------------------------------------------------------------------------------------------
Material % Pemakaian
-------------------------------------------------------------------------------------------
Asam Borikum 1
Na Benzoat + Na Asetat 1 - 5
Na Klorida 1
DL-Leusin 1 - 5
Carbowax 4000 1 - 5
Carbowax 8000 1 5
Na-Oleat 5
Na Benzoat 5
Na Asetat 5
Na Lauril Sulfat 1 5
Mg Lauril Sulfat 1 - 2

2. ANTIADHERENT
Antiadherent atau antiadhesiv, berfungsi mencegah melekatnya sebahagian masa tablet pada
permukaan pencetak tablet (punch). Biasanya bebeapa bahan komponen tablet mempunyai
kecenderungan memiliki
sifat adhesiv yang kuat. Biasanya lubrikan di dalam masa tablet juga berfungsi sebagai
antiadherent, tetapi untuk hal-hal yang paling buruk dapat diatasi dengan penambahan pati
atau talk untuk mengatasi kerusakan/ cacat yang terjadi.

Antiadherent
-------------------------------------------------------------------------------------------
Material % Pemakaian
-------------------------------------------------------------------------------------------
Talk 1 - 4
Amylum jagumg 3 - 10
Cab-O-Sil 1 - 3
Syloid 0,5 - 3
DL-Leusin 3 - 10
Na Lauril Sulfat < 1
Logam Stearat < 1

3. GLIDANT.
Berfungsi memperbaiki sifat kareteristik aliran granul dengan memperkecil gesekan gesekan
sesame partikel.
Glidant terdapat diantara partikel komponen, memperkecil kecenderungan partikel/granul untuk
bergabung sesamanya membentuk partikel lebih besar.
Disamping itu glidant akan menutupi permukaan partikel yang tak beraturan.

Hyphotesa mekanisme kerja glidant.
1. Mendispersikan muatan elektrostik pada permukaan granul
2. Distribusi glidant pada granusi
3. Adsorbsi gas antara glidant dan granul
4. Memperkecil daya van der Waals dengan memisahkan granul
5. Memperkecil gesekan antara partikel-partikel dengan permukaan kasar, glidant melekat pada
permukaan granul.

Glidant
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Material % Pemakaian
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Talk 5
Amylum jagung 5 - 10
Cab-O-Sil 1 - 3
Syloid 0,5 - 3
Aerosil 1 - 3
ABSORBEN.
Adalah bahan yang mempunyai sifat dapt mengabsorbsi lembab dari bahan yang terdapat di
dalam formula sehingga memudahkan dalam proses pencetakan tablet.
Terdapatnya adsorben di dalam formula bertujuan untuk :
- Melindungi bahan obat dari pengaruh lembab
Adsorben akan menarik dan mengikat air yang berasal dari bahan pengikat maupun yang
berasal dari udara lembab, sehingga memperkecil kemungkinan kontak antara bahan
obat dengan kelembaban.
- Mendistribusikan bahan obat
Bahan obat yang terdapat dalam bentuk cair seperti tingtur, ekstrak kental, ekstrak cair, larutan
dalam minyak sebelum diproses, diencerkan terlebih dahulu dengan air atau alcohol encer
secukupnya. Hasil pengenceran ini dicampur dengan bahan absorban sampai homogen
kemudian baru dicampur dengan bahan-bahan pembantu lain yang terdapat dalam formula.
- Bahan yang bersifat higroskopis memiliki kecenderungan untuk mengikat air, adanya
absorben dapat membatasi/menghalangi kemampuan bahan tersebut untuk mengikat/menarik
air. Kombinasi bahan obat tertentu dapat menurunkan titik eutektik, dimana kombinasi tersebut
akan menjadi basah dan masa ini akan melengket pada permukaan pencetak tablet.

Adsorben seperti silicon dioksida (Aerosil, Syloid dan Cab-O-Sil) berbentuk serbuk yang sangat
halus, ringan berwarna putih, tak berbau dengan sedikit rasa sabun. Mempunyai kemampuan yang
tinggi dalam mengadsorbsi air yaitu 50% dari beratnya tanpa kehilangan daya mengalirnya.
Penggunaan aerosol dalam tablet dapat berfungsi ganda disamping sebagai adsorben juga
berfungsi sebagai glidant dan dapat mencegah terjadinya picking.
Bahan adsorban lain yang juga sering terdapat di dalam formula tablet adalah : bentonit, kaolin,
Mg silikat, tri kalsium phosphate,Mg-karbonat dan Mg-oksida.

BAHAN PEMBASAH.
Beberapa bahan 0bat mempunyai sifat hidofob yakni sukar dibasahi oleh medium cai/air. Adanya
bahan ini dalam formula tablet dapat memperpanjang waktu hancurnya.
Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan bahan pembasah (wetting agent) yang dapat
memperkecil tegangan antar muka antara permukaan padat dan cair (air) Bahan pembasah ini
dapat mempercepat penetrasi air ke dalam tablet, akibatnya tablet menjadi lebih cepat hancur,
yang umum digunakan sebagi pembasah adalah Na Lauryl Sulfat 0,25%
Disamping sebagai aktif permukaan, Na Lauryl Sulfat dapat berfungsi sebagai lubrikan,
konsentrasinya dapat ditingkatkan bila di dalam formula tablet tidak terdapat lubrikan.
Hasil percobaan pada tablet phenasetin ditambah dan tanpa ditambah Na Lauryl Sulfat
memperlihatkaan pada tablet yang tidak mengandung bahan pembasah setelah penyimpanan 8
tahun, waktu hancurnyameningkat dari 5 menit menjadi 45 menit. Padatablet yang mengandung
bahan pembasah waktu hancurnya yang semula 1 menit, menjad 1 3 menit.

BAHAN PENGHARUM.
Bahan pengharum atau flavour, ditambahkan pada proses lubrikasi, disebabkan sensitivitas
bahan-bahan ini terhadap lembab dan kecenderungan menguap padaa pemanasan (selama
proses pengeringan granul). Flavor dapat rusak disebabkan oleh oksidasi, biasanya minyak-
minyak diemulsikan di dalam akasia atau bahan-bahan lainnya kemudian diproses secara spray
dried (pengabutan)
Bahan pembau sering lebih mudah penangananya dibandingkan dalam bentuk minyak dimana
pada pemakaiannya minyak terlebih dahulu diencerkan dalam alcohol kemudian disemprotkan
pada granul. Disamping dengan cara peyemprotan, penambahan minyak dapat dilakukan dengan
menambahkannya pada eksipien kemudian ditambahkan pada proses lubriasi. Biasanya jumlah
minyak yang ditambahkan 0,75% tanpa memengaruhi ikatan dan sifat alir.





BAHAN PEMANIS.
Bahan pemanis umumnya sering digunakan adalah Manitol, Sorbitol, Sukrosa dan Laktosa untuk
tablet kunyah. Dektrosa jarang digunakan karena tidak cukup manutupi rasa dari rasa pahit obat.
Baha pemanis sintetis seperti cyklamat dan saccharin diduga bersifat karsinogenikdan sudah
jarrang digunakan.

Tujuan pemakaian pengharum dan pemanis dalam tablet:
- Menutupi bau dan rasa bahan obat yang tidak menyenangkan
- memberikan bau dan rasa yang menyenangkan pada tablet tertentu.

BAHAN PEWARNA.
Pemakaian bahan pewarna didalam tablet bertujuan :
- Meningkatkan nilai estetik tablet (penampilan)
- Membedakan suatu produk dengan produk lain.
- Memudahkan kontrol selama pembuatan.
Zat warna sebaiknya dilarutkan/ditambahkan pada pelarut bahan pengikat.