Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

Bantuan dokter kepada kalangan hukum yang paling sering dan sangat
diperlukan adalah pemeriksaan korban untuk pembuatan Visum et Repertum
(VeR) atau lebih sering disingkat visum saja. Melalui jalur inilah umumnya
terjalin hubungan antara pihak yang membuat dan memberi bantuan dengan pihak
yang meminta dan menggunakan bantuan. Visum adalah jamak dari visa, yang
berarti dilihat dan repertum adalah jamak dari repere yang berarti ditemukan atau
didapati, sehingga terjemahan langsung dari VeR adalah yang dilihat dan
ditemukan.
Walaupun istilah ini berasal dari bahasa latin namun sudah dipakai sejak
jaman belanda dan sudah demikian menyatu dalam bahasa indonesia dalam
kehiduapn sehari-hari. Jangankan kalangan hukum dan kesehatan, masyarakat
sendiripun akan segera menyadari bahwa visum pasti berkaitan dengan surat yang
dikeluarkan dokter untuk kepentingan polisi dan pengadilan. Di Belanda sendiri
istilah ini tidak dipakai.


Ada usaha untk mengganti istilah VeR ini ke bahasa indonesia seperti yang
terlihat dalam KUHAP, dimana digunakan istilah keterangan dan keterangan
ahli untuk pengganti visum. Namun usaha demikian tidak banyak berguna karena
sampai saat ini ternyata istilah visum tetap saja dipakai oleh semua kalangan.


Baik didalam Kitab Hukum Acara Pidana yang lama, yaitu RIB (Reglemen
Indonesia yang diper-Baharui) maupun Kitab Undang-undah Hukum Acara
Pidana (KUHAP) tidak ada satu pasalpun yang memuat perkataan VeR. Hanya
didalam lembaran negara tahun 1937 no.350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan
bahwa Visum et Repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh
dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang
diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana.

Dari rumah sakit pemerintah maupun swasta sampai ke puskesmas, setiap
bulan ada ratusan pemeriksaan yang harus dilakukan dokter untuk membuat
visum yang diminta oleh penyidik. Yang paling banyak adalah visum untuk luka
2

karena perkelahian, penganiayaan, dan kecelakaan lalu lintas, selanjutnya visum
untuk pelanggaran kesusilaan atau perkosaa, kemudian diikuti visum jenazah.
Visum yang lain seperti visum psikiatri, visum untuk korban keracunan, atau
penentuan keraguan siapa bapak seorang anak (disputed parenity), biarpun tidak
banyak namun merupakan pelayanan yang dapat dilakukan doter juga.


























3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Didalam pengertian secara hukum Visum et Repertum (VR), adalah:
1. Suatu surat keterangan seorang dokter yang memuat kesimpulan suatu
pemeriksaan yang telah dilakukannya, misalnya atas mayat seorang
untuk menentukan sebab kematian dan lain sebagainya, keterangan
mana diperlukan oleh Hakim dalam suatu perkara (Prof. Subekti SH.;
Tjitrosudibio, dalam kamus hukum tahun 1972).
2. Laporan dari ahli untuk pengadilan, khususnya dari pemeriksaan oleh
dokter, dan di dalam perkara pidana (Fockeman-Andrea dalam
Rechtsgeleerd Handwoordenboek, tahun 1977)
3. Surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah/janji
(jabatan/khusus), tentang apa yang dilihat pada benda yang
diperiksanya (Kesimpulan NY. Karlinah P.A. Soebroto SH. Dari S.
1973 No. 350 pasal 1 dan pasal 2).
4. Suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa
yang dilihat pada benda yang diperiksanya serta memuat pula
kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan.
5. Keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik
hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh
manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk
kepentingan peradilan. (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

B. Dasar Hukum Visum et Repertum
Baik di dalam kitab Hukum Acara Pidana yang lama, yaitu RIB maupun
acara Pidana (KUHAP) tidak ada satu pasalpun yang memuat perkataan VR.
Hanya di dalam lembaran Negara tahun 1973 No. 350 pasal 1 dan pasal 2 yang
menyatakan bahwa Visum et Repertum adalah suatu keterangan tertulis yang
4

dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda
yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana.
Di dalam KUHAP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan kewajiban
dokter, untuk membantu peradilan yaitu dalam bentuk keterangan ahli, pendapat
orang ahli, ahli kedokteran kehakiman, dokter, dan surat keterangan dari seorang
ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau
sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya (KUHAP Pasal 187 butir
c).
Bila kita lihat perihal apa yang dimaksudkan dengan alat bukti yang sah
menurut KUHAP pasal 184 ayat 1, yaitu ;
1. Keterangan Saksi
2. Keterangan Ahli
3. Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan terdakwa
Maka VR dapat diartikan sebagai keterangan ahli maupun sebagai surat.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan
dibuat dengan mengingat sumpah diwaktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

C. Fungsi dan Peran Visum et Repertum
Visum et Repertum dapat berperan dalam proses pembuktian suatu perkara
pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Sebagaimana yang tertulis dalam
Pasal 184 KUHAP, Visum et Repertum merupakan alat bukti yang sah dalam
proses peradilan, yang berupa keterangan ahli, surat, dan petunjuk. Dalam
penjelasan Pasal 133 KUHAP, dikatakan bahwa keterangan ahli yang diberikan
oleh dokter spesialis forensik merupakan keterangan ahli, sedangkan yang dibuat
oleh dokter selain spesialis forensik disebut keterangan. Hal ini diperjelas pada
Pedoman Pelaksanaan KUHAP dalam Keputusan Menteri Kehakiman RI
5

No.M.01.PW.07.03 Tahun 1982 yang menjelaskan bahwa keterangan yang dibuat
oleh dokter bukan ahli merupakan alat bukti petunjuk. Dengan demikian, semua
hasil Visum et Repertumyang dikeluarkan oleh dokter spesialis forensik maupun
dokter bukan spesialis forensik merupakan alat bukti yang sah sesuai dengan
Pasal 184 KUHAP.
Di dalam Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah tersebut berturut-turut
adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan
terdakwa. Beban pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut
berbedansesuai dengan urutannya. Sebagai contoh, keterangan saksi harus lebih
dipercaya oleh hakim bila dibandingkan dengan keterangan terdakwa.
Demikian halnya dengan keterangan ahli yang diberikan oleh seorang dokter
spesialis forensik tentunya akan mempunyai beban pembuktian yang lebih besar
bila dibandingkan dengan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan spesialis
forensik. Sehingga, kedudukan Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter
spesialis forensik masih lebih tinggi dibandingkan dengan Visum et Repertum
yang dibuat oleh dokter bukan spesialis forensik.
Visum et Repertum juga dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti
karena segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis telah diuraikan di dalam
bagian Pemberitaan. Karena barang bukti yang diperiksa tentu saja akan
mengalami perubahan alamiah, seperti misalnya luka yang telah sembuh, jenazah
yang mengalami pembusukan atau jenazah yang telah dikuburkan yang tidak
mungkin dibawa ke persidangan, maka Visum et Repertummerupakan pengganti
barang bukti tersebut yang telah diperiksa secara ilmiah oleh dokter ahli.


Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan suatu duduk
persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau
diajukannya bahan baru. Sesuai dengan Pasal 180 KUHAP, hakim tersebut dapat
meminta kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan atau penelitian ulang atas
barang bukti jika memang timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau
penasihat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan.


6

D. Manfaat Visum et Repertum
Manfaat dari visum et repertum ini adalah untuk menjernihkan suatu
perkara pidana, bagi proses penyidikan dapat bermanfaat untuk pengungkapan
kasus kejahatan yang terhambat dan belum mungkin diselesaikan secara tuntas
Visum et repertum juga berguna untuk membantu pihak tersangka atau terdakwa
berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi ahli dan atau seseorang yang
memiliki keahlian khusus untuk memberikan keterangn yang meringankan atau
menguatkan bagi dirinya yaitu saksi ahli.
Visum et repertum ini juga dapat bermanfaat sebagai petunjuk, dimana
petunjuk itu adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaianya,
baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri,
menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.

E. Struktur Visum et Repertum
Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai
berikut:
1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
2. Bernomor dan bertanggal
3. Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
5. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan
temuan pemeriksaan
6. Tidak menggunakan istilah asing
7. Ditandatangani dan diberi nama jelas
8. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
9. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
10. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila
ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan
penyidik POM, dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi
tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli
7

11. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya,
dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun
Visum et Repertum terdiri dari 5 kerangka dasar yang terdiri dari :
1. Pro justitia
Menyadari bahwa semua surat baru sah dipengadilan bila dibuat diatas
kertas materai dan hal ini akan menyulitkan bagi dokter bila setiap visum
yang dibuatnya harus memakai kertas bermaterai. Berpedoman kepada
peraturan pos, maka bila dokter menulis pro-justitia dibagian atas visum,
maka itu sudah dianggap sama dengan kertas materai.
2. Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa, siapa yang
diperiksa, saat pemeriksaan (tanggal, hari, dan jam), dimana diperiksa,
mengapa diperiksa, dan atas permintaan siapa visum itu dibuat. Data diri
korban diisi sesuai degnan yang tercantum dalam permintaan visum.
3. Pemeriksaan
Bagian terpenting dari visum sebetulnya terletak pada bagian ini,
karena apa yang dilihat dan ditemukan dokter sebagai terjemahan dari
Visum et Repertum itu terdapat pada bagian ini. Pada bagian ini dokter
melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif. Biasanya pada bagian ini
dokter menuliskan luka, cedera, dan kelainan pada tubuh korban seperti apa
adanya. Misalnya didapati suatu luka dokter menuliskan dalam visum suatu
luka mulai dari panjang, lebar, dalam, tepi luka, dan jarak luka.
4. Kesimpulan
Untuk pemakai visum, ini adalah bagian yang terpenting, karena
diharpkan dokter dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban
menurut keahliannya. Pada korban luka perlu penjelasan tentang jenis
kekerasan, hubungan sebab-akibat
dari kelainan, tentang derajat kualifikasi luka, berapa lama korban
dirawat dan bagaimana harapan kesembuhan.
8

Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu
penjelasan tentang tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan,
kesadaran korban serta bila perlu umur korban.
5. Penutup
Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan
tersebut dibuat dengan sejujur-jujurnya dan mengingat sumpah.
Selain dari 5 bagian diatas, Visum et Repertum dapat juga disertakan
lampiran foto. Lampiran foto terutama perlu untuk memudahkan pemakai
visum memahami laporan yang disampaikan dalam visum. Pada luka yang
sulit disampaikan dengan kata-kata, dengan lampiran foto akan
memudahkan pemakai visum memahami apa yang ingin disampaikan
dokter.

F. Jenis Visum et Repertum
Ada 3 jenis visum et repertum, yaitu:
a. VeR hidup, dibagi lagi menjadi 3, yaitu:
1) VeR definitif, yaitu VeR yang dibuat seketika, dimana korban tidak
memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak
menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka yang ditulis pada
bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka golongan C.
2) VeR sementara, yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu,
karena korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan
sehingga menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka tidak
ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan. Ada 5 manfaat
dibuatnya VeR sementara, yaitu:
a) Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak
b) Mengarahkan penyelidikan
c) Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan
sementara terhadap terdakwa
d) Menentukan tuntutan jaksa
9

e) Medical record
3) VeR lanjutan, yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah
dinyatakan sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau
pulang paksa. Bila korban meninggal, maka dokter membuat VeR
jenazah. Dokter menulis kualifikasi luka pada bagian kesimpulan
VeR.

b. VeR jenazah, yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal.
Tujuan pembuatan VeR ini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan
mekanisme kematian.
c. Ekspertise, yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau
bagian tubuh korban, misalnya darah, mani, liur, jaringan tubuh, tulang,
rambut, dan lain-lain. Ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa
ekspertise bukan merupakan VeR.

1. Visum et Repertum pada Kasus Perlukaan

Terhadap setiap pasien yang diduga korban tindak pidana meskipun
belum ada surat permintaan visum et repertum dari polisi, dokter harus
membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya secara
lengkap dan jelas sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et
repertum. Umumnya, korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah
melapor ke penyidik, sehingga membawa surat permintaan visum et
repertum. Sedangkan korban dengan luka sedang/berat akan datang ke
dokter sebelum melapor ke penyidik, sehingga surat permintaan datang
terlambat. Keterlambatan dapat diperkecil dengan komunikasi dan
kerjasama antara institusi kesehatan dengan penyidik.
Di dalam bagian pemberitaa biasanya disebutkan keadaan umum
korban sewaktu datang, luka-luka atau cedera atau penyakit yang
diketemukan pada pemeriksaan fisik berikut uraian tentang letak, jenis dan
sifat luka serta ukurannya, pemeriksaan khusus/penunjang, tindakan medis
10

yang dilakukan, riwayat perjalanan penyakit selama perawatan, dan keadaan
akhir saat perawatan selesai. Gejala yang dapat dibuktikan secara obyektif
dapat dimasukkan, sedangkan yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan
tidak dimasukkan ke dalam visum et repertum.

2. Visum et Repertum Korban Kejahatan Susila

Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et
repertumnya pada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang
diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan, perkosaan,
persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan
wanita yang belum cukup umur, serta perbuatan cabul).
Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk
membuktikan adanya persetubuhan atau perbuatan cabul, adanya kekerasan
(termasuk keracunan), serta usia korban. Selain itu juga diharapkan
memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan
psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut. Dokter tidak
dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan
adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan.
Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia
korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin,
menyebutkan kapan perkiraan terjadinya, dan ada atau tidaknya tanda
kekerasan.
Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda
perlawanan berupa darah pada kuku korban, dokter berkewajiban mencari
identitas tersangka melalui pemeriksaan golongan darah serta DNA dari
benda-benda bukti tersebut.
3. Visum et Repertum Psikiatrik
Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44
(1) KUHP yang berbunyi Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak
dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat
11

dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana. Jadi
selain orang yang menderita penyakit jiwa, orang yang retardasi mental juga
terkena pasal ini.
Visum ini diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak
pidana, bukan bagi korban sebagaimana yang lainnya. Selain itu visum ini
juga menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga
manusia. Karena menyangkut masalah dapat dipidana atau tidaknya
seseorang atas tindak pidana yang dilakukannya, maka adalah lebih baik
bila pembuat visum ini hanya dokter spesialis psikiatri yang bekerja di
rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum.
Dalam Keadaan tertentu di mana kesaksian seseorang amat diperlukan
sedangkan ia diragukan kondisi kejiwaannya jika ia bersaksi di depan
pengadilan maka kadangkala hakim juga meminta evaluasi kejiwaan saksi
tersebut dalam bentuk visum et repertum psikiatrik.

G. Tata Cara Permintaan Visum Et Repertum
Pihak-pihak yang berwenang meminta bantuan ahli kedokteran
kehakiman dalam kaitannya dengan persoalan hukum yang hanya dapat
dipecahkan dengan bantuan ilmu kedokteran kehakiman. Baik itu dalam
perkara pidana maupun perkara perdata. Namun dalam pembahasan berikut,
tidak hendak mempersoalkan kesemuanya itu. Melainkan hendak membahas
bagaimana prosedur permohonan visum et repertum dalam kaitannya dengan
kasus-kasus pidana.
Sebelum sampai kepada pembahasan bagaimana prosedur permohonan
visum et repertum, terlebih dahulu untuk mengetahui peranan ilmu
kedokteran kehakiman dalam pembuatan visum. Ilmu kedokteran kehakiman
berperan dalam hal menentukan hubungan kausalitas antara sesuatu perbuatan
dengan akibat yang akan ditimbulkannya dari perbuatannya tersebut, baik
yang menimbulkan akibat luka pada tubuh, atau yang menimbulkan gangguan
kesehatan, atau yang menimbulkan matinya seseorang, dimana terdapat
akibat-akibat tersebut patut diduga telah terjadi tindak pidana.
12

Secara garis besar, permohonan visum et repertum harus
memeperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Permohonan harus dilakukan secara tertulis oleh pihak-pihak yang
diperkenankan untuk itu, dan tidak diperkenankan dilakukan dengan lisan,
walaupun dengan pesawat telepon.
2. Permohonan visum et repertum harus diserahkan oleh penyidik bersamaan
dengan korban, tersangka, dan juga barang bukti kepada dokter ahli
kedokteran kehakiman. Pertimbangan dari keduanya adalah:
a. Mengenai permohonan visum et repertum yang harus dilakukan secara
tertulis, oleh karena permohonan tersebut berdimensi hukum. Artinya,
tanpa permohonan secara tertulis, dokter tidak boleh dengan serta
merta melakukan pemeriksaan terhadap seseorang yang luka,
seseorang yang terganggu kesehatannya ataupu seseorang yang mati
akibat tindak pidana atau setidak-tidaknya patut disangka sebagai
korban tindak pidana. Pun demikian, apabila dokter menolak
permohonan yang dilakukan secara tertulis, maka iapun akan
dikenakan sanksi hukum.
Permohonan visum et repertum oleh aparat hukum kepada
dokter ahli kedokteran kehakiman merupakan peristiwa dalam lalu
lintas hukum. Oleh karena permintaan dan juga pemenuhan dalam
kaitannya dengan visum et repertum tidak dapat dilakukan oleh
sembarang orang. Kegiatan pemeriksaan dokter atas seseorang,
merupakan kegiatan yang diharuskan menurut hukum. Dan bukan
kegiatan asal-asalan.

b. Mengenai penyerahan korban, tersangka, dan alat bukti yang lain,
didasarkan bahwa untuk dapat meyimpulkan hasil pemeriksaannya,
dokter tidak dapat melepaskan diri dari dengan alat bukti yang lain.
Artinya, untuk sampai pada penentuan hubungan sebab akibat, maka
peranan alat bukti lain, selain korban mutlak diperlukan. Barang bukti
yang dimintakan Visum et Repertum dapat merupakan:
13

1) Korban Mati.
Dalam hal korban mati jenis Visum et Repertum yang diminta
merupakan Visum et Repertum Jenazah. Untuk keperluan ini
penyidik harus memperlakukan mayat dengan penuh
penghormatan, menaruh label yang memuat identitas mayat, di lak
dengan diberi cap jabatan , diletakkan pada ibu jari atau bagian lain
badan mayat. Mayat selanjutnya dikirim ke Rumah Sakit (Kamar
Jenazah) bersama surat permintaan Visum et Repertum yang
dibawa oleh petugas Penyidik yang melakukan pemeriksaan TKP.
Petugas penyidik selanjutnya memberi informasi yang diperlukan
Dokter dan mengikuti pemeriksaan badan mayat untuk
memperoleh barang-barang bukti lain yang ada pada korban serta
keterangan segera tentang sebab dan cara kematiannya.

2) Korban Hidup.
Dalam hal korban luka, keracunan, luka akibat kejahatan
kesusilaan menjadi sakit, memerlukan perawatan/berobat jalan,
penyidik perlu memintakan Visum et Repertum sementara tentang
keadaan korban.
Penilaian keadaan korban ini dapat digunakan untuk
mempertimbangkan perlu atau tidaknya tersangka ditahan. Bila
korban memerlukan/meminta pindah perawatan ke Rumah Sakit
lain, permintaan Visum et Repertum lanjutan perlu dimintakan lagi.
Dalam perawatan ini dapat terjadi dua kemungkinan, korban
menjadi sembuh atau meninggal dunia.
Bila korban sembuh Visum et Repertum definitif perlu
diminta lagi karena Visum et Repertum ini akan memberikan
kesimpulan tentang hasil akhir keadaan korban. Khusus bagi
korban kecelakaan lalu lintas, Visum et Repertum ini akan berguna
bagi santunan kecelakaan.
14

Kemungkinan yang lain adalah korban meninggal dunia,
untuk itu permintaan Visum et Repertum Jenazah diperlukan guna
mengetahui secara pasti apakah luka paksa yang terjadi pada
korban merupakan penyebab kematian langsung atau adakah
penyebab kematian lainnya.

H. Keterangan dari Rekam Medik
Fungsi rekam medis di bidang hukum dapat dipergunakan sebagai bahan
pembuktian dalam perkara hukum. Di bidang perdata, rekam medis dapat
dipergunakan sebagai dasar pembuktian apabila terjadi gugatan ganti kerugian
terhadap tenaga kesehatan atas dugaan malpraktek medis. Tindak pidana tidak
seluruhnya dilaporkan pada polisi untuk selanjutnya dilakukan tindakan
pengusutan. Di samping itu, tidak setiap korban tindak pidana dapat melaporkan
peristiwa pidana yang dialami. Apabila korban tindak pidana tidak melaporkan
terjadinya peristiwa pidana, maka akibatnya tidak ada permintaan dari pihak
penyidik kepada dokter untuk membuat Visum et Repertum. Rekam medis yang
diberikan pada korban tindak pidana (sebagai pasien) dapat berfungsi sebagai alat
bukti, baik dalam perkara pidana maupun dalam perkara perdata. Hal ini
ditentukan dalam Permenkes Rekam Medis Pasal 13 huruf b, yang menyatakan
bahwa Rekam Medis dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian dalam
perkara hukum.
Khusus dalam perkara pidana, pembuktian tentang terjadinya tindak pidana,
dapat diberikan pada proses pemeriksaan penyidikan sampai di tingkat
persidangan. Pemaparan isi rekam medis untuk pembuktian perkara hukum, dapat
dilakukan oleh dokter yang merawat pasien, baik dengan ijin tertulis, maupun
tanpa ijin dari pasien. Tindakan tersebut berdasarkan Permenkes Rekam Medis
Pasal 11 ayat (2) yang menyatakan pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat
menjelaskan isi rekam medis secara tertulis atau langsung kepada pemohon tanpa
izin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan. Penyidik dapat meminta
kopi rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan yang menyimpannya, untuk
15

melengkapi alat bukti yang diperlukan dalam perkara hukum (pidana). Kopi
rekam medis tidak dapat menggantikan kedudukan Visum et Repertum sebagai
alat bukti sah dalam perkara pidana, karena prosedur dan syarat pembuatan Visum
et Repertum berbeda dengan rekam medis. Namun demikian, dalam rangka
pembutian perkara pidana, kopi rekam medis dapat berfungsi sebagai alat bukti
surat atau keterangan ahli. Kopi rekam medis yang digunakan sebagai alat bukti
(tanpa meminta keterangan dokter pembuat rekam medis di depan persidangan)
dapat dikategorikan sebagai alat bukti surat, karena rekam medis dibuat sesuai
dengan ketentuan kriteria Pasal 187 huruf a KUHAP, yaitu berita acara dan surat
lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau
yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau
keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan
alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu.
Rekam medis sebagai alat bukti surat mempunyai kekuatan pembuktian
selain berdasarkan PP No.26/1969 tentang Lafal Sumpah Dokter, juga memenuhi
unsur-unsur yang disyaratkan oleh pasal 187 KUHAP, yaitu apa yang ditulis oleh
dokter sebagai isi rekam medis berdasarkan apa yang ia alami, dengar dan lihat.
Dokter pembuat rekam medis yang diminta untuk memberikan keterangan di
persidangan oleh hakim, berdasarkan Pasal 186 KUHAP dikategorikan sebagai
alat bukti keterangan ahli. Dengan demikian, KUHAP membedakan keterangan
yang diberikan secara langsung di persidangan oleh seorang ahli dikategorikan
sebagai alat bukti keterangan ahli, sedangkan keterangan ahli yang diberikan di
luar persidangan secara tidak langsung (dalam bentuk terulis) dikategorikan
sebagai alat bukti surat.
Visum et Repertum sebagai alat bukti dalam perkara pidana dapat
dikategorikan sebagai keterangan ahli, surat dan juga petunjuk. Rekam medis
dapat dikategorikan pula sebagai alat bukti petunjuk, sepanjang dalam
pemeriksaan isi rekam medis menunjukkan adanya persesuaian dengan alat bukti
sah lain (keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa). Menurut Bahder Johan
Nasution, Visum dokter oleh hukum diterima sebagai alat bukti di pengadilan
(2005 : 62). Perbedaan antara Visum et Repertum dengan rekam medis, adalah
16

pada prosedur pembuatannya dan peruntukannya. Visum et Repertum
pembuatannya haruslah memenuhi syarat formil, yaitu berdasarkan atas
permintaan tertulis dari penyidik dan peruntukannya adalah sebagai pengganti
barang bukti dalam perkara hukum (pidana). Rekam medis merupakan hasil
pemeriksaan kesehatan oleh dokter atau sarana kesehatan yang dilakukan terhadap
pasien untuk kepentingan pasien itu sendiri. Namun demikian, sebagai alat bukti
yang sah dalam perkara pidana kedudukan Visum et Repertum lebih kuat daripada
rekam medis.























17

DAFTAR PUSTAKA


Afandi. Visum et Repertum pada Korban Hidup. FK UNRI: Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 2010.

Amir, Prof. Dr. Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Medan: Edisi Kedua.
Percetakan Ramadhan. 2005.

Budiyanto A, Widiatmaka W, sudiono S, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik.
Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia: Jakarta.

Idries, Dr. Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi
Pertama. Binapura Aksara: Jakarta Barat.

Mun im A.,Legowo A,. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto. 2011

Permenkes RI No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis / Medical
Record.

Syamsuddin, R., Peranan Visum Et Repertum Di Pengadilan. [Online]. 2011.
[Cited on 22-9-2014]. Available from:URL:
http://adulgopar.files.wordpress.com