Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan bertambahnya waktu maka kemajuan teknologi juga semankin
bertambah. Bukan hanya teknologi saja yang semakin maju melainkan ilmu
pengetahuan yang semakin meningkat dan semakin meluas. Berkembangnya Ilmu
pengetahuan dan teknologi sekarang ini diiringi dengan penemuan-penemuan baru
yang berhubungan dengan kedokteran gigi.
Tujuan utama perawatan kedokteran gigi yaiu untuk mempertahankan atau
meningkatkan mutu kehidupan pasien kedokteran gigi. tujuan ini dapat dicapai dengan
mencegah penyakit, menghilangkan rasa sakit, memperbaiki efisiensi pengunyahan,
meningkatkan pengucapan dan memperbaiki estetika.
Dental Material adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bahan-bahan yang
digunakan di kedokteran gigi, baik sifat-sifatnya maupun cara memanipulasi bahan
tersebut.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis-jenis dental material
2. Untuk mengetahui sifat dental material







2

BAB II
PEMBAHASAN

Dental material merupakan suatu ilmu tentang bahan-bahan yang di pergunakan di
dalam dunia kedokteran gigi dalam hal ini terutama hal-hal yang berhubungan dengan
bentuk,sifat-sifat dan cara memanipulasi bahan-bahan tersebut.Bahan-bahan ini dapat
berupa bahan utama maupun sebagai bahan bantu dalam pembentukan dental aplian,dan
restorasi.oleh karena itu ilmu tentang bahan ini merupakan pendukung bersama dengan
cara pemakaiannya untuk mendapatkan suatu hasil klinik.
1. Bahan Yang termasuk dental material
a) Semen, perekat, bahan pengisi non logam
b) Bahan pengisi yang terbuat dari logam
c) Bahan cetak
d) Bahan untuk mahkota inlay jembatan
e) Bahan protesa gigi
f) Bahan peralatan ortho
2. Standar Dental Material
Dokter gigi hendaklah memilih bahan dental material yang telah memenuhi spesifikasi
agar mendapatkan hasil yang maksimal. ADA(American Dental Association) adalah sebuah
organisasi yang mendukung program tentang spesifikasi keamanan dan efektivitas dari
bahan dental material yang dikembangkan melalui evaluasi biologis, laboratorium, dan
klinis. Adapun sifat ideal bahan material kedokteran gigi yang telah memenuhi spesifikasi
untuk digunakan secara klinis, yaitu:
1. Biokompatibel
Biokompatibel adalah kehidupan harmonis antara bahan dan lingkungan yang
tidak mempunyai pengaruh toksik atau jejas terhadap fungsi biologi. Biokompatibel
3

di bidang kedokteran gigi berhubungan dengan uji biologis yang merupakan interaksi
antara sifat fisik atau mekanik dental material. Tujuan biokompatibel adalah untuk
mengeliminasi komponen bahan yang berpotensi merusak jaringan rongga mulut.
Adapun persyaratan untuk sifat biokompatibel bahan-bahan kedokteran gigi
mencakup hal berikut:
Bahan dental material tidak boleh membahayakan pulpa dan jaringan lunak
Bahan dental material tidak boleh mengandung substansi toksik yang larut dalam air
yang dapat dilepaskan dan diserap ke dalam sistem sirkulasi sehingga menyebabkan
respons toksik sistemik.
Bahan dental material harus bebas dari bahan yang berpotensi menimbulkan
sensitivitas yang dapat menyebabkan suatu respons alergi.
Bahan dental material harus tidak memiliki potensi karsinogen.
2. Stabil secara mekanik dan tahan lama
Bahan dental material yang dipilih hendaklah stabil secara mekanik sehingga bisa
awet dan penggunaannyatahan lama.

3. Tahan terhadap korosi dan zat kimia
Logam merupakan contoh dental material yang dapat korosi. Korosi terjadi jika ada
dua elemen yang berbeda dan ada penghantarnya(contohnya saliva)
4. Dimensi Stabil
Dental material harus memiliki dimensi stabil, yakni jika mendapat tekanan atau
diberi beban tidak mengalami perubahan bentuk. Adapun salah satu yang bisa
mengakibatkan terjadinya perubahan dimensi adalah creep. Creep adalah sifat
viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi secara bertahap yang terjadi ketika
material diberi tekanan atau beban. ADA specification no.1 menganjurkan agar creep
kurang dari 3%.
Contoh: pada amalgam, untuk tumpatan amalgam tekanan mengunyah yang
berulang dapat menyebabkan creep. Perubahan dimensional dari amalgam
tergantung pada seberapa banyak amalgam tertekan pada saat pengerasan dan kapan
pengukuran dimulai. Amalgam yang rendah tembaga lebih rentan mengalami
kerusakan di bagian tepi gigi, dibandingkan dengan amalgam yang tinggi kandungan
4

tembaga. Amalgam dengan kandungan tembaga yang tinggi mempunyai nilai creep
yang jauh lebih rendah, bahkan kurang dari 0,1%.
5. Konduktifitas panas dan listrik minimal
Bahan material kedokteran gigi yang ideal adalah bahan yang memiliki kemampuan
penghantar panas dan listrik yang sedikit(minim).
6. Estetis
Bahan material kedokteran gigi memiliki estetika dan penampilan yang baik, bahan
tersebut setidaknya dapat memberikan hasil penampilan yang sesuai dengan jaringan
gigi asli.
7. Manipulasi mudah
Dental material kedokteran gigi manipulasinya mudah, yakni waktu untuk
memproses dan membuat bahan ini mudah dan tidak menghabiskan banyak waktu.
8. Mempunyai sifat adhesi dengan jaringan
Adhesi adalah kekuatan ikatan antara 2 bahan yang berbeda. Bahan dental material
hendaklah mempunyai sifat adhesi ke jaringan, yakni bahan dental material tersebut
dapat melekat pada struktur gigi yang rusak sehingga dapat memperbaikinya. Jika
bahan tersebut tidak mempunyai sifat adhesi, maka dapat terjadi kebocoran(misalnya
pada bahan tambalan) yang dapat menyebabkan perubahan warna pada tepi
tambalan, karies sekunder, dan iritasi terhadap pulpa.
9. Tidak ada bau dan rasa
Bahan material kedokteran gigi tersebut tidak bau dan tidak ada rasa sehingga bisa
memberikan kenyamanan pada pasien.

10. Dapat dibersihkan dan diperbaiki
Dental material tersebut dapat diperbaiki dan dibersihkan(misalnya pada bahan
tambalan) sehingga tidak mengakibatkan karies sekunder.
11. Biaya efektif
Biaya bahan dental material tersebut efektif dan terjangkau bagi pasien.




5

3.Tujuan
Dental material dan teknik-teknik memanipulasinya merupakan hal yang
berhubungan satu sama lain tetapi dalam dental material bukanlah bagaimana
memanipulasikan bahan tersebut yang terpenting tetapi mengapa bahan-bahan tertentu
dan teknik tertentu yang di pergunakan untuk sesuatu pekerjaan.dental material juga
bertujuan untuk membangkitkan kriteria pemilihan bahan-bahan yang tepat sesuai
dengan kebutuhan.
Dalam pemilihan bahan-bahan yang di pergunakan hampir sama dengan asli
bangunan yang membangun suatu jembatan tersebut.mereka dapat memakai jembatan
yang sanggup menahan tekanan jembatan tersebut dengan memasukkan Safety factor
dalam perhitungannya.
Tujuan Utama Dental material
1. Mempertahankan dan Meningkatkan mutu kehidupan pasien
2. Mencegah penyakit
3. Menghilangkan rasa sakit
4. Memperbaiki efisiensi pengunyahan
5. Meningkatkan mutu pengucapan
6. Memperbaiki estetika

4. Sifat-sifat umum dari bahan
a. Sifat- Sifat Biologikal
Perubahan termal terdiri dari :
1) Di mension change(perubahan di mensi )
Adalah perubahan yang terjadi dalam hal ukuran dari suatu bahan oleh karena
pengaruh reaksi kimia atau perubahan temperatur selama proses penger/pemadatan
atau sesudahnya setelah bahan tersebut di campur.
2) Thermal di mension change ( perubahan di mensi oeh suhu)
Bahan-bahan restorasi yang ada di dalam mulut dapat mengalami perubahan oleh
karena ekspansi thermal. Keadaan restorasi yang tidak sepadan dengan struktur gigi
maka dapat terjadi perbedaan ekspansi yang dapat mengakibatkan terjadinya
kebocoran antara bahan retorasi tersebut dengan jaringan gigi.
6

3) Thermal conductivity ( penghantar panas )
Bebagai jenis bahan mempunyai perbedaan dalam penghantar panas.contoh
: bila sebagian dai di ganti jaringan gigi di gantikan oleh bahan tumpatan maka
kadang-kadang gigi akan menjadi sensitif terhadap terjadinya perubahan suhu dalam
mulut.
Persyaratan Bahan-Bahan Keperluan Kedokteran Gigi
Biologis:
1. Bikompatibilitas/bikompatible:
Dapat menahan kondisi lingkungan dalam mulut yang kurang
menguntungkan/selaras dengan kehidupan dan tidak memiliki efek toksik atau efek
yang merugikan pada fungsi biologis
2. Tidak mengiritasi rongga mulut
3. Tidak menyebabkan alergi
4. Tidak mutapen (mudah berpindah) dan karsinogen (berubah menjadi kanker)
b. Kimia
1. Tidak larut dalam saliva
2. Tidak membahayakan pulpa dan jaringan lunak
3. Tidak luntur dan berkarat
c. Mekanis
1. Tahan terhadap abrasi
2. Mempunyai daya tarik, daya tekan, kekerasan elastisitas, dan lain lain

5. Semen Gigi Untuk Restorasi Dan Perlindungan Pulpa
1. Klasifikasi semen gigi
2. Semen silikat
3. Sifat anti karies dan fluorida
4. Semen ionomer kaca
5. Sifat semen ionomer kaca
6. Prosedur kritis untuk tambalan semen ionomer kaca
7. Semen ionomer kaca dengan modifikasi logam
8. Semen ionomer kaca dgn modifikasi resin
9. Semen oksida seng eugenol (ose)
7

10. Bahan-bahan utk perlindungan pulpa
11. Varnis kavitas
12. Pelapis kavitas
13. Basis semen

Klasifikasi dan Kegunaan Semen Gigi
Semen Kegunaan utama
Kegunaan sekunder

Seng phospate Bahan perekat untuk
restorasi dan peralatan
orthodontik

Restorasi jangka
menegah,basis
penahan panas

Seng oxyde eugenol

Restorasi
sementara,menengah,bahan
perekat sementar dan
permanen untuk
restorsi,basis penahan
panas, pelapis
kavitas,penutup pulpa

Penutup luka bedah
periodontal

Polikarboksilat

Bahan perekat untuk
restorasi


Ionomer kaca /GI(Gelas
Ionomer)mis;ART,Fuji IX

Silikat

Restorasi gigi anterior,bahan
perekat untuk restorasi dan
orthodontik,pelapis kavita
Restorasi gigi Anterior

Penutup lekuk dan
fisura, basis penahan
panas
Restorasi jangka
menengah,bahan
perekat u bahan
restorasi

8

Ionomer kaca modifikasi
logam

Restorasi gigi posterior
konservatif, membangun
badan inti restorasi


Resin Bahan perekat untuk
restorasi dan bahan
orthodontik

Restorasi sementara

Kalsium hidroksida

Bahan penutup pulpa(pulp
capping),basis penahan
panas



Zinc Oxide Phosphate
Bahan
1. Powder: zinc oksida, oksida magnesium,dll
2. Cairan: asam phospate, air, alumunium phospate, seng phospate
Guna
1. Utama: bahan perekat untuk restorasi/tumpatan dan peralatan ortho
2. Sekunder:
Restorasi jangkar menengah (minggu sampai dengan bulan)
Basis (semen dasar) untuk menahan panas

Zinc Oxyde Eugenol
Powder: zinc oxyde, zinc asetat, magnesium oxyde
Cairan: eugenol, minyak olive, asam asetat(sebagai akselator)
Guna:
1. Utama: semen sementara, semen permanen dari restorasi gigi, alat-alat yang dibuat
diluar mulut, restorasi sementara, basis penahan panas, pelapis kavita
2. Sekunder: restorasi saluran akar, penutup luka bedah periodontal
Perbandingan powder dan cairan 4:1, 6:1, pencampuran dilakukan pada lempeng
kaca tipis menggunakan spatula tahan karat
9


Pletcher = Zinc Oxyde
Digunakan untuk tumpatan sementara
Terdiri dari powder, mengandung zinc oxyde,zinc asetat, magnesium oxyde
Liquid, natrium tetrabonat 1gr, seng sulfat 42gr, air suling 100gr
Kelebihan: mudah dibongkar/lebih lunak
Kelemahan: mudah larut dalam saliva, setting time cepat

Semen Silikat
Merupakan semen yg paling tua ,saat ini penggunaan semen silikat telah
berkurang,dg munculnya komposit berbasis resin u restorasi gigi
depan,berkembangnya semen ionomer kaca.
Terdiri dari; bubuk & cairan
Bubuk;silika (SiO2),Alumina (AL2O3),senyawa florida (NaF,CaF2,Na3AIF6),beberapa
garam kalsium seperti Ca(H2PO4)2*H2O dan CaO
Cairan; Asam Fospor & garam
Sifat biologis; ph diatas 3(asam)pd saat dimasukan ke kavitas,dan tetap berada di
bawah 7 bahkan setelah 1 bulan
Secara estetikalebih bagus,translusen(pemantulan warnanya lebih bagus)

Glass Ionomer Cement (GIC)
1. Bahan:
Bubuk: silica 41,9 %
Alumina 28,6 %
Aluminium Fluoride 1,6 %
Calcium Fluoride 15,7 %
Sodium Fluoride 9,3 %
Aluminium Phosphate 3,8 %
2. Cairan: Asam polyacrylic dgn konsentrasi 40 50 %
Saat ini asam banyak dalam bentuk co- polimer dengan asam itaconic, maleic
atau tricarbolic.
10


Glass Ionomer Cement (GIC)
Sifat-sifat klinis:
1. Bersenyawa dengan baik secara kimia dengan email dan dentin.
2. Setelah pengerasan akan melepaskan ion Fluor secara terus menerus sehingga
membantu mencegah karies sekitar kavitas.
3. Tak mengganggu pulpa dan gusi, ada linu selama masa Glass Ionomer Cement (GIC)
4. pengerasan, setelah 24 jam akan hilang.
5. Cepat aus dan kurang kuat, tetapi telah ada jenis baru yang semakin baik.






















11

DAFTAR PUSTAKA


Anusavice.J.K.,buku ajar ilmu bahan kedokteran gigi. Alih Bahasa Arief Budiman dan Susi,ed
10, EGC, Jakarta, 2003, page 62-70