Anda di halaman 1dari 12

Bendungan Saguling

Saguling, Cirata dan Jatiluhur di Jawa Barat Perlu Perhatian Serius


DAS Citarum mempunyai peranan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi di Propinsi
JawaBarat dan DKI Jakarta. Selain menjadi sumber pemenuhan kebutuhan air untuk sektor
irigasi, industri dan air bersih, DAS Citarum juga memberikan kontribusi yang cukup besar
dalam menghasilkan energi listrik.
Sungai Citarum dengan tiga bendungan (DAM) telah menjadi tulang punggung produksi
energi listrik untuk memenuhi kebutuhan penduduk Jawa dan Bali. Peranan dan potensi
pemanfaataan yang cukup besar dari DAS Citarum tersebut belum didukung oleh upaya-
upaya yang optimal untuk menjaga keberlanjutan pasokan air di masa yang akan datang.
Terjadinya kerusakan lingkungan, terutama di daerah hulu sungai Citarum, telah
menyebabkan terjadinya penurunan kuantitas pasokan air. Padahal DAS Citarum merupakan
satu wilayah sungai yang paling tereksploitasi di Propinsi Jawa Barat.
Beban berat yang harus ditanggung oleh DAS Citarum ini disebabkan oleh tingginya
pertumbuhan ekonomi dan pesatnya perkembangan penduduk di wilayah yang dilaluinya.
Kedua faktor ini menyebabkan beban permintaan air Citarum oleh sektor-sektor pengguna
mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ketahun.
Besarnya tingkat penggunaan air Citarum tersebut telah diikuti oleh ekternalitas negatif
berupa pencemaran, sehingga kualitas pasokan air menjadi menurun. Beberapa temuan
penting dari penelitian ini antara lain :
Trend total permintaan air Citarum mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut
sektoral, permintaan air oleh sektor irigasi (pertanian) cenderung stabil akibat tidak adanya
penambahan lahan pertanian peningkatan yang cukup signifikan dari tahun
ketahun. Permintaan air oleh sektor irigasi (pertanian) cenderung stabil akibat tidak adanya
penambahan lahan pertanian yang harus diairi.
Sedangkan trend permintaan air bersih oleh PDAM dan sektor industri mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Permintaan air bersih (PAM) ini mengalami peningkatan
tajam di Bekasi dan DKI Jakarta. Kedepan, pulihnya kondisi ekonomi dan semakin
berkembangnya penduduk di sekitar DAS Citarum akan mendorong peningkatan permintaan
air.
DAS Citarum mengalami permasalahan yang cukup serius dari sudut pandang kuantitas dan
kualitas. Kuantitas pasokan DAS Citarum cenderung mengalami penurunan dan terlebih lagi
pada musim-musim kering. Hal ini disebabkan oleh rusaknya hutan dan lingkungan di daerah
hulu yang menjadi pendukung sumber air Sungai Citarum.
Kualitas air DAS Citarum juga mengalami penurunan akibat limbah-limbah domestik (rumah
tangga) dan limbah industri yang dibuang ke sungai. Kesadaran pengguna untuk menjaga
menggunakan air Citarum secara efisien masih sangat rendah, terutama di kalangan petani.
Hal ini tercermin dari kurangnya disiplin petani dalam mengikuti rencana pola tanam yang
ditetapkan oleh Komisi Irigasi.

Ketidakdisiplinan ini menimbulkan terjadinya pemborosan penggunaan air. Kesadaran
pengguna untuk menjaga kualitas air Citarum juga masih kurang. Buktinya pencemaran DAS
Citarum mengalami peningkatan akibat pembuangan limbah ke sungai.
Konflik-konflik pemanfaatan banyak terjadi dalam aktivitas distribusi air DAS Citarum. Hal
ini disebabkan oleh wewenang distribusi oleh PJT II ini banyak berbenturan dengan
kepentingan masing-masing wilayah dalam pemanfaatan DAS Citarum.
Perkembangan otonomi daerah memberikan pengaruh pada menguatnya pandangan masing-
masing daerah terhadap kepemilikan DAS Citarum. Konflik yang terjadi antara PJT H dan
pihak-pihak PDAM kabupaten-kebupaten yang dilintasi Sungai Citarum merupakan salah
satu contoh yang dapat diangkat. Konflik ini terjadi akibat pemda yang dilalui Citarum
memiliki pemahaman bahwa PJT II tidak berwewenang dalam menentukan tarif air untuk
PDAM.
Bentuk konflik yang lain adalah perselisihan antar sektor pengguna. Konflik ini banyak
terjadi antara sektor industri dan sektor irigasi. Permasalahaannya timbul akibat menurunnya
pasokan air DAS Citarum pada musim-musim kering dan penggunaan saluran distribusi yang
sama oleh kedua sektor.
Dari permasalahan-permasalahan yang timbul, kelihatan bahwa sumber utamanya adalah
menurunnya kuantitas dan kualitas air DAS Citarum. Sumber permasalahan lainnya adalah
sistem pengelolaan oleh satu pihak, dalam hai ini PJT II, telah menimbulkan konflik dalam
pemanfaatan DAS Citarum. Oleh karena itu perlu dicarikan sistem pengelolaan yang lebih
baik dan komprehensif. (Laporan Penelitian Perhitungan Ekonomi Daerah Aliran Sungai
(DAS) Citarum).
Jawa Barat yang memiliki 3 (tiga) Bendungan besar di DAS Citarum (Saguling, Cirata dan
Jatiluhur) perlu memperhitungkan serta memberikan pengamanan ekstra ketat terhadap umur
ketiga bendungan tersebut. Hal tersebut harus dilakukan mengingat kondisi ketiga bendungan
tersebut pada saat sekarang ini masuk dalam kondisi memprihatinkan.
Sebagai contohnya di bendungan Saguling yang masuk ke Wilayah Kabupaten Bandung
Barat, adalah merupakan sebuah bendungan yang menjadi filter awal Daerah Aliran Sungai
Citarum bagi kedua bendungan yang lainnya (Cirata dan Jatiluhur).
Waduk Saguling
Sebagai filter pertama, Bendungan Saguling seyogyanya harus memiliki ketahanan maksimal
dalam mengantisipasi permasa lahan yang dapat menimbulkan bencana. Menyangkut
memiliki katahanan maksimal disini da lam artian bahwa, dapatkah usia bendungan tersebut
bertahan sesuai dengan perhitungan yang telah direncanakan? Mengingat begitu banyaknya
persoalan yang menyangkut pencemaran air di DAS Citarum pada saat sekarang ini.
Dengan hadirnya UU RI Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Pasal 13, kiranya Pemerintah bersama pihak terkait perlu memberikan
perhatian yang sangat serius dalam menyelesaikan persoalan menyangkut penyelamatan tiga
bendungan di DAS Citarum ini.
Kemungkinan rendahnya komitmen pelaksanaan pengelolaan lingkungan oleh industri yang
mengeluarkan limbah ataupun masyarakat yang membuang limbah domestik ke Citarum
yang memberi kontribusi besar pada penurunan kualitas air dan pendangkalan (sedimentasi)
sungai tersebut, menyebabkan tercemarnya Sungai Citarum oleh limbah industri dan limbah
rumah tangga merupakan pemantik terjadinya penurunan mutu air. Bagi Saguling, kondisi
tersebut berdampak pada berkurangnya usia PLTA.
Sedimentasi Sungai Citarum akibat lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu
mencapai empat juta ton/ tahun. Selain menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di Kab.
Bandung, tingginya sedimentasi pada aliran Sungai Citarum juga mengancam tiga waduk
utama di Jawa Barat, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur. Laju
degradasi kawasan hutan di DAS Citarum Hulu telah melebihi upaya rehabilitasi yang
dilakukan sejumlah pihak.
Upaya penghijauan tidak sepadan dengan luasnya lahan kritis yang menyebabkan sedimentasi
di Sungai Citarum, ada baiknya apabila ungkapan yang disampaikan oleh Kepala Dinas
Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Bandung pada rapat penanganan DAS Citarum
Hulu bulan Juni kemarin bahwa luas lahan kritis di Kab. Bandung saat ini tercatat 22.076,68
hektare.
Lahan kritis tersebut tersebar di Kec. Rancabali, Nagreg, Cikancung, Paseh, Kertasari,
Pangalengan, Cimenyan, Cilengkrang, Cicalengka, Margahayu, Baleendah, Arjasari, Ciparay,
Pasirjambu, Ciwidey, Banjaran, dan Soreang. Penanganan lahan kritis disesuaikan dengan
anggaran yang sering terbatas jumlahnya. Belum lagi dengan integrasi antar instansi ataupun
dengan masyarakat sehingga hasilnya belum begitu memuaskan.
Menurut Tisna, DAS Citarum Hulu menyimpan banyak kepentingan, seperti penyelamatan
usia pakai Waduk Saguling dengan kapasitas 982 juta meter kubik, Waduk Cirata (2.165 juta
meter kubik), dan Waduk Jatiluhur (3.000 juta meter kubik). Jika aliran Sungai Citarum
lenyap akibat di kawasan hulunya hancur, daya listrik 5.000 giga watt/jam atau setara BBM
16 juta ton per tahun senilai Rp 20 triliun per tahun, akan hilang. Kerugian yang sama akan
diderita para petani karena hasil panen padi sawah seluas 300.000 hektare atau senilai Rp
5,25 triliun per tahun bisa lenyap.
Saat ini, sedimentasi Sungai Citarum sudah parah, mencapai empat juta ton per tahun
sehingga mengancam usia pakai ketiga waduk tersebut. Pemkab Bandung tidak bisa sendirian
menangani DAS Citarum Hulu meski sebagian besar berada di Kab. Bandung. Kerusakan
Waduk Saguling yang luasnya men capai 4.869 hektare itu secara garis besar disebabkan
semakin parahnya sedimentasi dan kualitas air.
Transportasi sedimentasi yang terjadi saat ini sudah melebihi dari perencanaan, di dalam
perencanaan, transportasi sedimentasi seharusnya maksimal empat juta meter kubik per
tahun. Namun, saat ini sudah mencapai 4,2 juta meter kubik per tahun. Hal tersebut
menyebabkan sedimentasi di Saguling saat ini sudah memakan 38,6 persen atau 64.740.206
meter kubik (dari 167.700.000 meter kubik) volume dead storage.
Kondisi tersebut menyebabkan ketinggian (elevasi) muka air Saguling semakin tahun
semakin tinggi. Selain sedimentasi yang semakin parah, kualitas air di Saguling pun kini
hanya bisa digunakan untuk industri. Sementara untuk air minum, bahan baku air minum, dan
perikanan sudah dalam kategori buruk yang selanjutnya dapat menyebabkan menurunnya
jumlah keramba jaring apung (KJA) dan produksi ikan per tahun. Secara signifikan.
Manajer Sipil Lingkungan PT Indonesia Power UBP Saguling Pitoyo Punu mengatakan
bahwa persoalan di Saguling tersebut, belum bisa diselesaikan secara kuratif. Untuk
mengeruk sedimen per tahun sebesar 4,2 meter kubik misalnya, dibutuhkan dua ratus hektare
lahan. "Sulit untuk menemukan lahan yang tidak bermasalah, apalagi sedimennya sudah
mengandung polutan."
Secara garis besar, terganggunya potensi air dan waduk Saguling terjadi dikarenakan tata
guna lahan yang tidak konsisten, pengelolaan lahan yang salah, dan pola hidup masyarakat
yang merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, ditambah dengan
tingginya angka pemukiman di Cekungan Bandung yang pada 2010 yang jumlahnya
diperkirakan mencapai kurang lebih 7.867.006 jiwa (idealnya 3-4 juta), merambat kepada
persoalan berkembangnya permukiman tanpa perencanaan yang baik dan selanjutnya akan
mengarah pada permasalahan alih fungsi lahan konservasi menjadi pertanian, permukiman,
dan industri.
Berdasarkan data dari UBP Saguling, lahan hutan di hulu DAS Citarum yang pada tahun
2000 mencapai 71,750 hektare, pada 2009 tersisa 9,899 hektare. Sementara untuk
permukiman meningkat pesat dari 81,685 hektare (2000) menjadi 176,441.5 (2009). Melihat
kondisi seperti itu, tidak heran apabila air yang turun ke bumi akan langsung dialirkan ke
sungai tanpa penyerapan (infiltrasi). Kini kondisi lingkungan di waduk saguling cukup
memprihatinkan sehingga pemerintah tidak lagi merekomendasikan kegiatan perikanan
disana. Beberapa jaring ikan tidak beroperasi lagi.
Di samping itu fungsi waduk Saguling sebagai PLTA pun makin berkurang. Diperkirakan,
bila laju sedimentasi yang ada sekarang (yaitu 4,2 juta meter kubik per tahun) tidak bisa
dikurangi maka umur pembangkit listrik tinggal 24 tahun lagi. Karena itu pihak Indonesia
Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling melakukan kegiatan penghijauan daerah aliran
sungai dan pengerukan dengan 70 alat berat, namun hal ini cukup sulit dilakukan dan
memakan biaya besar. Oleh karena itu, sebaiknya ada cara atau langkah efektif yang harus
ditempuh dengan mengantisipasi penyebab kerusakan bendungan di daerah tangkapan air
(catchment area) Saguling di hulu DAS Citarum.
Salah satunya dengan penanaman tanaman keras. Catchment area tersebut mencapai sepertiga
dari luas DAS Citarum atau 2.283 meter persegi dari Gunung Wayang, Majalaya, Soreang,
Bandung, dan Padalarang.
Catatan :
Terkait dengan hal tersebut, wacana tersebut menjelaskan mengenai kerusakan yang
sedang di alami oleh waduk Saguling dikarenakan menumpuknya sedimentasi pada
DAS citarum yang berimbas pada fungsi dan guna waduk Saguling.

Dirilis oleh admin pada Senin, 21 Nov 2011
Sumber: http://www.tataruangindonesia.com/fullpost/pariwisata/1321843815/umur-3-
bendungan.html







Bendungan Cirata
Rupa bumi ereal PLTA Cirata tidak terlepas dari terjadinya peristiwa kompressi dan delatasi
akibat gempatektonik tersebut sehingga tercapai keseimbangan (relatif) Keadaan setimbang
sewaktu-waktu dapat berubah bila di daerah tersebut terjadi lagi pelepasan energi mapun
penimbunan energi akibat aktifitas manusia sehingga Instalasi PLN (al. PLTA Cirata) yang
berada pada zona yang memiliki resiko terhadap keamanan konstruksi, perlu diberikan
perhatian khusus.
Timbulnya kelongsoran tanah di sekitar Switchyard, kelainan pada Parapet Wall
Dam/bendungan PLTA Cirata pada bulan Agustus 1990 membuktikan adanya indikasi
pelepasan energi tersebut. Pelepasan energi dalam bentuk gempa (mikro maupun makro)
dapat terjadi saat pelaksanaan pekerjaan galian dalam volume yang besar (contoh pekerjaan
galian trowongan) sedangkan penimbunan energi yang besar saat pengisian waduk
(impounding) maupun saat bendungan dibangun.
Penelitian bertujuan memastikan bahwa permasalahan stabilitas tanah di Cirata bersifat
regional atau lokal dan kemungkinan dampaknya terhadap integritas konstruksi. Salah satu
langkahnya adalah menentukan karakteristik & besaran secara kuantitatif nilai deformasi di
permukaan berdasarkan geodetik. Pada saat penelitian peralatan pamantau gempa
(Seismograph) sudah beberapa tahun tidak beroperasi lagi sehingga data gempa di PLTA
Cirata tidak terpantau lagi.
Karena terdapat korelasi antara gempa dan deformasi di kulit bumi, meskipun data
kegempaan tidak tercatat namun hasil pengukuran arah tiga dimensi jaringan survey topografi
PLTA Citara mengindikasikan bahwa telah terjadinya pelepasan energi berupa gempa yang
ditunjukkan dengan adanya perubahan (deformasi) di titik titik pengamatan.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : - telah terjadinya perubahan (displacement) arah
sumbu X, Y dan Z yang melengkapi hasil peneliti terdahulu bahwa deformasi geotektonik di
daerah sekitas PLTA Cirata ini telah berlangsung sejak kala Oligosen atau 38 juta tahun yang
lalu dan diduga terus berlangsung sampai saat ini untuk mencapai kesetimbangan (relatif).
- Hasil monitoring menjadi bukti terjadinya jejak energi gerak mikro pada daerah penelitian
(areal PLTA Cirata).
- Permasalahan stabilitas tanah di PLTA Cirata bersifat kombinasi yaitu bersifat regional atau
lokal
- Dampaknya terhadap integritas konstruksi masih dalam taraf yang belum membahayakan
karena bendungan Cirata Rockfill Dam yang bersifat elastik dengan deformasi yang ralatif
kecil
Untuk membuktikan adanya pelepasan energi baik mikro maupun dari jejak yang terlacak di
lokasi penelitian disarankan untuk memasang accelerograph sebagai pembuktian adanya
percepatan dengan arah tiga dimensi pada tempat yang teridentifikasi dari hasil penelitian
sekarang. Selain itu disarankan pula perlu penelitian lanjuan untuk mengetahui batas
elastisitas bendungan untuk mengetahui sejauh mana batas roleransi bendungan terhadap
deformasi yang akan terjadi. ( Ir. Zulfarida Faluzy, Ir. Moch. Choliq, MT, Ir. Tonny Sarief,
MT, Sutantiyo, ST)
Berada di tengah-tengah sistem kaskade Sungai Citarum menjadikan Waduk Cirata berfungsi
sebagai filter kedua dari daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Jika semua "kotoran" dari hulu
Citarum telah tersaring terlebih dahulu di Waduk Saguling, seharusnya kondisi Waduk Cirata
jauh lebih baik daripada Saguling, namun pada kenyataannya tidak demikian, kerusakan yang
hampir sama pun terjadi di Cirata. Soalnya, aktivitas di catchment area (daerah tangkapan air)
Waduk Cirata tak kalah mengkhawatirkan.
Catchment area Waduk Cirata meliputi tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Purwakarta,
Cianjur, dan Bandung Barat. Ada lima anak Sungai Citarum yang bermuara pada waduk
Cirata, yaitu Cimeta, Citarum, Cisokan, Cikundul, dan Cibaladung. Kondisi area itu tidak
jauh dari hutan gundul dan alih fungsi lahan menjadi permukiman dan pertanian. Di Puncak
misalnya, sebagai hulu dari Sungai Cibaladung lebih kaya akan palawija sehingga tidak ada
penahan erosi. Alhasil, Sungai Cibaladung menyumbang sedimentasi besar kepada Cirata.
Kepala PT Pembangkit Jawa Bali Badan Pengelola Waduk Cirata (PJB BPWC) Suhata E.
Putra menuturkan, faktor penyebab sedimentasi lainnya di Cirata adalah endapan pakan ikan
tak termakan yang mencapai ketinggian hingga tiga meter sejak sekitar 1990. Masih relatif
baiknya kualitas air di Cirata memang menyebabkan jumlah keramba jaring apung (KJA) di
sana melebihi normal.
Menurut Suhata, seharusnya jumlah KJA adalah 1 persen dari luas Cirata atau hanya
mencapai 12.000 petak jaring apung. Namun, saat ini terdapat hingga 50.000 petak jaring
apung. Banyaknya pakan ikan yang menjadi sampah diperparah dengan dibuangnya perkakas
tak terpakai dari jaring apung, seperti styrofoam, drum, dan bambu ke dalam waduk.
Kondisi demikian menyebabkan volume sedimen Waduk Cirata hingga 2007 mencapai 146
juta meter kubik dengan rata-rata laju sedimen 3,9 milimeter/tahun. Rata-rata laju tersebut
tiga kali lebih cepat daripada rata-rata laju perencanaan yang hanya mencapai 1,2
milimeter/tahun.
Dengan memperhatikan laju sedimen di waduk berusia 22 tahun itu, Suhata mengatakan
bahwa Cirata harus kehilangan dua puluh tahun masa hidupnya. Desain Cirata seharusnya
memungkinkannya hidup selama seratus tahun. "Seharusnya, umur Cirata delapan puluh
tahun lagi. Akan tetapi, dengan kondisi sekarang, usianya tinggal enam puluh tahun," kata
Suhata.
Selain usianya termakan oleh sedimentasi, Cirata juga saat ini "sakit" akibat menurunnya
kualitas air. Di hulu waduk tersebut, tepatnya dekat Sungai Cimeta, terdapat Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebagai pusat sampah dari segala penjuru Bandung raya.
Menurut Suhata, lindi dari TPA Sarimukti merupakan sumber pencemar air paling besar di
Cirata. Berdasarkan hasil penelitian, di muara Sungai Cimeta terkandung 2,4 juta sel bakteri
merugikan E-Coli per seratus mililiter yang mengalir ke Cirata. Normalnya, dalam seratus
mililiter terdapat dua ratus sel.
Memasuki musim kemarau nanti (sekitar Mei-September), bisa dipastikan bau khas amonia
dari lindi akan menusuk hidung pengunjung Cirata.
Namun baunya relatif tidak tercium karena lindi yang tergenang telah terbawa oleh arus air
yang melimpas. Dengan banyaknya polutan air, ikan yang dihasilkan tak lagi sepenuhnya
sehat karena mengandung logam berat. Menurut Suhata, sejauh ini ikan Cirata dipasarkan ke
Bandung dan Jakarta. "Diharapkan, masyarakat mengatur pola konsumsi ikan dari waduk
ini," ujarnya.
Suhata menuturkan, kualitas air yang buruk pun menyebabkan terjadinya korosi dan
pelapukan. Kandungan polutan air yang tinggi, seperti amonia, menurut dia, menyebabkan
terjadinya korosi dalam sistem pembangkit terutama di radiator dan pipa-pipa pendingin.
"Tentunya itu akan sangat merugikan dari sisi biaya pemeliharaan. Terlebih jika dari radiator
sudah menyerang mesin," kata Suhata. Sementara dari struktur beton bendungan, kata dia,
telah terjadi pelapukan 1 hingga 3 sentimeter.
Pakar Lingkungan dari Universitas Padjadjaran Bandung Chay Asdak menuturkan, sejauh ini
belum ada teknologi canggih di Indonesia yang mampu menormalkan kembali kualitas air.
"Sebenarnya eceng gondok bisa mengurangi logam berat. Akan tetapi, nantinya justru akan
menambah populasi eceng gondok dan ujungnya juga merusak kualitas air," katanya.
Kalaupun ada teknologinya, menurut dia, belum tentu secara anggaran bisa terbayar. Seperti
halnya pengelola Waduk Saguling, Suhata pun mengatakan memilih langkah-langkah
preventif. Sejak tahun 2000, BPWC telah menanam 230.000 tanaman keras di sepanjang
"sabuk hijau" (greenbelt) Cirata. "Selain itu, ada juga kerja sama dengan instansi lain dalam
penanaman pohon," katanya.
Langkah preventif dinilai lebih realistis dibandingkan dengan, misalnya, mengeruk
sedimentasi yang terkendala dari lahan dan biaya. "Untuk saat ini, jalan satu-satunya adalah
membuang ke Jatiluhur. Akan tetapi, apakah Jatiluhur mau?" tuturnya.
Untuk itu, Suhata pun mengharapkan rencana pembangunan 22 danau oleh pemerintah segera
terealisasi untuk menahan laju sedimentasi. "Kalau seperti ini terus keadaannya, ya tinggal
menunggu waktu," ujarnya.
Sumber: http://www.tataruangindonesia.com/fullpost/pariwisata/1321843815/umur-3-
bendungan.html


Bendungan Jatiluhur
Hujan yang terus mengguyur mengaki batkan tinggi muka air waduk Jatiluhur di Purwakarta,
Jawa Barat, terus me ningkat. ketinggian air saat ini sudah di ambang batas normal, yakni
melebihi 108 meter dari yang se harusnya 107 meter.
Terus melubernya waduk Jatiluhur ditam bah meluapnya Sungai Citarum mengaki batkan
ratusan rumah dari 540 kepala keluarga di De sa Cikao bandung, Purwakarta, terendam.
Banjir yang mencapai 1,5 meter membuat warga mulai di evakuasi. Masyarakat berharap
Perum Jasa Tirta II sebagai pengelola waduk Jatiluhur segera merelokasi lantaran hampir
setiap tahun mereka menjadi langganan banjir.
Waduk Jatiluhur kritis. Rawan jebol. Ketinggian air di waduk kini sudah mencapai 108,41
meter di atas permukaan laut (dpl) sehingga mengancam bendungan. Kondisi ini jelas meng
khawatirkan. Lantaran itu pula Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera menyiapkan langkah
antisipasi agar waduk tak jebol. "Salah satunya membuka salah satu pintu air untuk
menurunkan beban waduk," ujar Wakil Gubernur Jabar Yusuf Effendi.
Opsi lain yang sedang dipertimbangkan adalah meledakkan tanggul Ubrug supaya air
melimpas ke Sungai Cikao. Tapi langkah ini bukan tanpa risiko. Menurut Yusuf, bila air
waduk dikurangi desa-desa di kawasan Sungai Cikao akan kebanjiran. Tapi itu lebih baik
ketimbang tanggul tiba-tiba jebol.
Lebih lanjut Yusuf menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan pihaknya harus
mengambil opsi membuka pintu air atau mele dakkan tanggul Ubrug. Pertama, ketinggian air
mendekati 110 meter dpl. Kedua, berdasarkan kajian Badan Geologi, bendungan tidak
mampu menahan beban.
Personel badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, aparat Polda Jabar, Kodam
III/Siliwangi telah disiagakan untuk menghadapi banjir dari Waduk Jatiluhur. Setiap jam
pengelola Waduk Jatiluhur diinstruksikan untuk melaporkan ketinggian air dan kondisi
tanggul kepada instansi terkait Pemprov Jabar maupun Kementerian PU.
Sementara itu, Dirut Perusahaan Jasa Tirta II selaku pengelola Waduk Jatiluhur Djendam
Rajasinga mengaku khawatir dengan kondisii waduk. Sebab dalam tiga hari terakhir,
ketinggian waduk terus berada dikisaran 108 meter dpl.
"Dengan kondisi saat ini saja wilayah Karawang sudah mengalami masalah berat. Apalagi
kalau bendungan sampai jebol," kata Djendam. Waduk Jatiluhur dirancang untuk
menampung air sampai dengan ketinggian 110 meter dpl.
Jika melebihi batas maksimal, Waduk Jatiluhur berpotensi jebol. Air sebanyak 3,5 miliar
meter kubik bisa menghantam wilayah Karawang sampai Jakarta. Bencana berupa banjir
bandang lebih parah lima kali lipat jika dibandingkan dengan bencana luapan Sungai
Citarum.
Selain menimbulkan bencana dahsyat, jebolnya Waduk Jatiluhur bakal merusak ribuan hektar
sawah di wilayah pantai utara (pantura) Jabar serta menganggu pasokan listrik Jawa-Bali.
Dirilis oleh admin pada Senin, 21 Nov 2011
Sumber: http://www.tataruangindonesia.com/fullpost/pariwisata/1321843815/umur-3-
bendungan.html