Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
HUKUM-HUKUM GAS
Hukum gas berkenaan dengan hubungan antara volume terhadap tekanan,
temperatur, molar dan tetapan yang dipengaruhi oleh faktor tekanan dan
temperatur.
V ~ P, T, n, K (P, T)
dimana :
V = volume gas
P = tekan gas
T = Temperatur gas
n = molar
K(P,T) = tetapan
Sifat-sifat fisik gas sangat dipengaruhi oleh faktor :
1. Tekanan
2. Gaya tarik menarik antara molekul
3. Sifat antara molekul yang cenderung untuk saling membatasi
4. Gaya tolak-menolak yang merupakan medan listrik dari masi ng-masing
molekul.
5. Energi kinetis (tergantung pada temperatur).
Beberapa hukum gas yang telah dibuat berdasarkan hasil -hasil eksperimen
yaitu : hukum Boyle, hukum Charles, hukum Dalton dan hukum Amagat.
2
1. Hukum Boyle menyatakan bahwa nilai volume gas pada k ondisi suhu
yang tetap adalah berbanding terbalik dengan tekanan.
P
tetapan
V =
atau :
PV = tetapan
2. Hukum Charles yang menyatakan bahwa nilai volume gas pada kondisi
tekanan yang tetap adalah berbanding lurus dengan suhu.
V = tetapan x T
atau :
=
T
V
tetapan
3. Hukum Dalton yang menyatakan bahwa tekanan gas pada keadaan dimana
volumenya berupa campuran beberapa kompon, nilainya adalah total dari
tekanan masing-masing komponen gas campuran tersebut.
P =

=1 i
Pi
n
dimana :
Pi = tekanan komponen msing-masing gas
4. Hukum Amagat yang menyatakan bahwa volume total gas pada keadaan
gas campuran dengan P dan T campuran adalah sebesar jumlah dari
volume masing-masing gas campuran tersebut.
V =

=1 i
Vi
n
3
dimana :
Vi = volume masing-masing komponen gas
4
BAB II
GAS IDEAL
Pengertian dasar kelakuan gas melalui perubahan tekanan dan temperatur
adalah dibuat dengan mempertimbangkannya pada kondisi standar, yaitu sebesar
14,7 psia dan 60
0
F. Pada kondisi ini gas dinyatakan menuju sifat ideal. Gas ideal
didefinisikan sebagai :
1. Volume yang dimiliki molekul adalah kecil dibandingkan dengan total volume
gas.
2. Semua sifat molekul bertubrukan secara elastis.
3. Tidak ada gaya tolak-menolak atau gaya tarik menarik di antara molekul.
Hukum gas ideal adalah mengikuti hubungan :
PV = RT
dimana :
R = tetapan gas =
absolut) temperatur (satuan mole) (satuan
volume) (satuan tekanan) (satuan
R = 10,73
R x mole - Ib
cuft x psia

R = 82,1
K x grl
cm x atm
3

R = 154,4
R) ( mole) - (lb
(cuft) ) (lb/ft
3

Untuk n mole gas ideal berlaku hubungan :


5
PV = nRT
Hukum gas ideal dapat diturunkan melalui penggabungan hukum Boyle
dan hukum Charles sebagai berikut ini :
V =f (P,T)
v c = T
T
v
p
P
v
P T
c |

'

c
c
+ c |

'

c
c
Hukum Boyle : V =
P
K
1
2
1
P
K
P
V
T
= |

'

c
c
Hukum Charles : V = K
2
T
2
K
T
V
P
= |

'

c
c
Sehingga akan didapatkan :
T K P
P
K
V c + c = c
2
2
1
T
T
V
P
P
V
V c + c = c
T
T
P
P
V
V c
+
c
=
c
} } }
c
+
c
=
c
T
T
P
P
V
V
ln V = -ln P + ln R
ln V + ln P = ln R + ln T
ln PV = ln RT
PV = RT
6
PV = nRT
dimana :
n = jumlah mol =
M
W
W = berat gas
M = berat molekul gas
PV = RT
M
W
Berdasarkan persamaan gas ideal di atas dapat diketahui volume gas untuk
n = 1 lb-mole pada kondisi tekanan gas dan temperatur standar (P = 14,7 psia,
T = 60
0
F) yaitu:
P
nRT
V =
7 , 14
) 460 60 )( 73 , 10 )( 1 ( +
= V
6 , 379 = V cuft
Dengan cara yang sama tentunya untuk 10.000 cuft gas metana (CH
4
) pada
kondisi tekanan dan temperatur standar, maka berat gas CH
4
adalah :
PV = RT
M
W
) 460 60 )( 73 , 10 (
) 000 . 10 )( 7 , 14 )( 04 , 16 (
+
= =
RT
MPV
W
6 , 422 = W lb
Permasalahan adalah apabila gas tersebut pada kondisi -kondisi lain (di luar
P = 14,7 psia dan T = 60
0
F), karena volumenya tidak dikonversikan terhadap
7
volume pada kondisi standar. Untuk menyelesaikan masalah ini, Boyle dan
Charles berdasarkan hasil eksperimen membuat hubungan bahwa :
2
2 2
1
1 1
T
V P
T
V P
=
dimana :
P
1
, V
1
, T
1
= tekanan, volume, dan temperatur pada kondisi pertama
P
2
, V
2
, T
2
= tekanan, volume, dan temperatur pada kondisi kedua
Contoh soal :
Berapakah berat gas etana (C
2
H
6
) pada keadaan standar di dalam tanki
dengan volume 500 cuft, tekanan 20 psig dan temperatur 90
0
F ?
2
2 2
1
1 1
T
V P
T
V P
=
dimana :
P
1
= 14,7 psia
V
1
= ?
T
1
= 60
0
F = 60 + 460 = 520
0
R
P
2
= 20 psig = 20 + 14,7 = 34,7 psia
V
2
= 500 cuft
T
2
= 90
0
F = 90 + 460 = 550
0
R
sehingga :
2
2
1
1
2
1
V
T
T
P
P
V =
500
550
520
7 , 14
7 , 34
1
|

'

'

= V
8
1116
1
= V cuft
) 520 )( 73 , 10 (
) 1116 )( 7 , 14 )( 07 , 30 (
.
. .
1
1 1
= =
T R
V P M
W
4 , 88 = W lb
Specific gravity gas adalah perbandingan antara massa jenis gas dengan
massa jenis udara pada keadaan tekanan dan temperatur standar (P = 14,7 psia dan
T = 60
0
F = 520
0
R).
ud
g
SG

=
dimana :
SG = specific gravity gas
=
g
massa jenis gas
ud
= massa jenis udara
RT
P
M
V
W
g g
= =
RT
P
M
ud ud
. =
dimana :
=
g
M berat molekul gas
=
ud
M berat molekul udara = 28,97
sehingga akan didapatkan :
97 , 28
M
SG =
9
BAB III
GAS NYATA
Gas alam (natural gas) adalah campuran gas hidrokarbon dengan pengotor
yang berupa nitrogen (N
2
), hidrogen sulfida (H
2
S) dan karbon dioksida (CO
2
).
Sebelum gas alam ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar harus dikel uarkan dahulu
zat pengotor tersebut.
Umumnya gas hidrokarbon terdiri dari metana (CH
4
), etana (C
2
H
6
),
propana (C
3
H
8
), butana (C
4
H
10
), pentana (C
5
H
12
), dan sejumlah kecil heksana
(C
6
H
14
), heptana (C
7
H
16
) serta gas hidrokarbon berat lainnya. Dalam gas yang
digunakan sebagai bahan bakar ( fuel), CH
4
merupakan komponen yang terbesar
yaitu 95-98%. Rumus umum untuk gas hidrokarbon jenis parafin adalah C
n
H
2n+2
,
dimana n adalah banyaknya ikatan atom karbon (C).
Pada hakekatnya gas alam tidak bersifat gas ideal, t etapi bersifat gas nyata
(real gas). Hal ini disebabkan oleh adanya faktor penyimpangan gas atau faktor
kompresibilitas gas.
PV = z n R T
dimana :
z = faktor kompresibilitas
ideal gas Volume
a sebenarny gas Volume
z =
Pengukuran sifat gas dapat dilakukan melalui test PVT ( pressure-volume-
temperature), dimana test ini menyangkut hubungan V terhadap P dan T. Pada
10
test PVT tentunya harga jumlah mole gas diketahui, yaitu : melalui pengukuran
pada kondisi P dan T standar (P = 14,7 psia dan T = 60
0
F). Misalnya volume
pada kondisi P, T standar adalah 45.000 cm
3
atau setara dengan 1,59 cuft.
) 460 60 )( 73 , 10 (
) 59 , 1 )( 7 , 14 (
+
= =
RT
PV
n
19 , 4 = n x 10
-3
lb-mole
Tabel 1 di bawah ini merupakan contoh hasil eksperimen yang
memberikan hubungan PV untuk berbagai variasi untuk harga T = 160
0
F = 620
0
F. Dalam eksperimen ini diambil jumlah mole gas adalah sebesar 4,19 x 10
-3
lb-
mole, yaitu disesuaikan terhadap 45.000 cm
3
gas pada kondisi P, T standar.
Tabel 1
Contoh Hasil Eksperimen
Pengukuran Volume Gas
Data Percobaan V
ideal
(cuft) Z P (psia) V (cuft)
300 8,93 x 10
-2
9,29 x 10
-2
0,9612
750 3,40 x 10
-2
3,72 x 10
-2
0,9140
1500 1,60 x 10
-2
1,86 x 10
-2
0,8602
2500 0,936 x 10
-2
1,11 x 10
-2
0,8432
4000 0,0636 x 10
-2
0,697 x 10
-2
0,9125
5000 0,0553 x 10
-2
0,557 x 10
-2
0,9928
6000 0,0502 x 10
-2
0,464 x 10
-2
1,0819
Catatan : V
ideal
dihitung berdasarkan persamaan Boyle dan Charles.
11
2
2 2
1
1 1
T
V P
T
V P
=
Faktor kompresibilitas gas merupakan fungsi dari pseudo reduced
pressure, P
r
dan pseudo reduced temperature, T
r
.
) , (
r r
T P f z =
Untuk gas-gas murni yang mempunyai berat molekul (M) yang hampir
bersamaan dan mempunyai sifat fisik yang hampir bersamaan pula, maka berlaku
hukum Law of Corresponding State, yang berbunyi : Perbandingan antara setiap
intensive properties terhadap harga tersebut pada titik kritis adalah fungsi dari :
T
r
=
c
T
T
dan P
r
=
c
P
P
dimana :
T
c
= temperatur kritis
P
c
= tekanan kritis
Hubungan z terhadap P
r
dan T
c
dapat dilihat pada grafik korelasi gambar 1.
Sedangkan tabel 2 adalah data fisik komponen-komponen gas.
Tabel 2
Komponen Gas dan Data Fisik
Gas Rumus M P
c
(psia) T
c
(
0
R)
Metana CH
4
16,04 673,1 343,2
Etana C
2
H
6
30,07 708,3 549,9
Propana C
3
H
8
44,09 617,4 666,0
Iso butana C
4
H
10
58,12 529,1 734,6
12
n-butana C
4
H
10
58,12 550,1 765,7
Iso-pentana C
5
H
12
72,15 483,5 829,6
n-pentana C
5
H
12
72,15 489,8 846,2
n-heksena C
6
H
14
86,17 440,1 914,2
n-heptena C
7
H
16
100,2 395,9 972,4
n-oktana C
8
H
18
114,2 362,2 1024,9
n-nonana C
9
H
20
128,3 334 1073
n-decana C
10
H
22
142,3 312 1115
Karbon
dioksida
CO
2
44,01 1070,2 547,5
Hidrogen
Sulfida
H
2
S 34,08 1306,5 672,4
Nitrogen N
2
28,02 402,2 227,0
Hidrogen H
2
2,016 189,0 59,8
Oksigen O
2
32,00 736,9 278,6
Sumber : Craft & Hawkins Applied Petroleum Reservoir
Contoh soal :
Data lapangan gas B-1 adalah sebagai berikut :
P = 3250 psi dan T = 213
0
F
Komponen Gas Fraksi mole (n)
CH
4
0,8612
C
2
H
6
0,0591
13
C
3
H
8
0,0358
C
4
H
10
0,0172
C
5
H
12
0,0050
CO
2
0,0010
N
2
0,0207
Total 1,0000
Hitunglah : SG dan z
Solusi :
Komponen
Gas N
Tabel 2 Hasil hitungan
M P
c
T
c
nM nP
c
nT
c
C
1
C
2
C
3
C
4
C
5
CO
2
N
2
0,8612
0,0591
0,0558
0,0172
0,0050
0,0010
0,0207
16,04
30,07
44,09
58,12
72,15
44,01
28,02
673,1
708,3
617,4
550,1
489,8
1070,2
402,2
342,2
549,9
666,0
768,7
846,2
547,5
227,0
13,81
1,78
1,58
1,00
0,36
0,04
0,58
579,59
41,84
22,08
9,46
2,45
1,07
10,18
295,34
32,51
23,84
13,18
4,23
6,55
4,70

19,15 666,67 374,45


661 , 0
97 , 28
15 , 19
= = =

ud
M
nM
SG
87 , 4
67 , 666
3250
= = =
c
r
nP
P
P
14
80 , 1
45 , 374
) 460 213 (
=
+
= =
c
r
nT
T
T
Untuk P
r
= 4,87 dan T
r
= 1,80 melalui Gambar 1 akan didapatkan :
z = 0,91.
15
BAB IV
PERSAMAAN ANALITIS
Bertitik tolak dari bentuk persamaan gas ideal PV = nRT yang belum
dapat memenuhi kondisi dari sifat gas yang nyata, maka beberapa peneliti
menyusun bentuk persamaan pendekatan yang diharapkan akan dapat memenuhi
sifat-sifat gas nyata.
Persamaan pendekatan ini dikenal sebagai persamaan analitis, yang antara
lain adalah persamaan Van der Waals, Berthelot dan Dieterici.
Persamaan Van der Waals
RT b V
V
a
P = |

'

+ ) (
2
, (n = 1 mole)
Persamaan Berthelot
2
TV
a
b V
RT
P

=
Persamaan Dieterici
RTV
a
e
b V
RT
P

=
dimana :
a = konstanta koreksi atas tekanan
b = konstanta koreksi atas volume
Nilai-nilai dari konstanta a dan konstanta b, dapat dite ntukan berdasarkan
pada saat mencapai titik kritis, dimana berlaku hubungan : T = Tc ; P = Pc ;
16
V = Vc. Penurunan tekanan terhadap volume pada kondisi kritis ini dinyatakan
oleh :
0 = |

'

=Tc T
dV
dP
dan 0
2
2
=
|
|

'

=Tc T
dV
P d
4.1. Menentukan Nilai a dan b Persamaan Van der Waals
Persamaan Van der Waals diubah menjadi :
2
V
a
b V
RT
P

=
3 2
2
) ( V
a
b V
RT
dV
dP
T
+

= |

'

4 3 2
2
6
) (
2
V
a
b V
RT
dV
P d
T

=
|
|

'

Pada saat mencapai kondisi titik kritis, maka :


2
) (
C C
C
V
a
b V
RT
P

= ........... (1)
0
2
) (
3 2
= +

C C
C
V
a
b V
RT
........ (2)
0
6
) (
2
4 3
=

C
C
V
a
b V
RT
........... (3)
Dari hubungan ketiga persamaan diatas akan didapatkan nilai -nilai
konstanta a dan b, yaitu :
C
C
C C
P
RT
V P a
2
2
) (
64
27
. 3 = = ....... (4)
C
C
C
P
RT
V b
8
1
3
1
= = . ............ (5)
17
Apabila data pada Tabel 2 dimasukkan ke dalam persamaan (4) dan (5),
maka akan dapat diketahui nilai a dan nilai b untuk setiap komponen gas seperti
yang tertera pada Tabel 3.
Gas
Pc
(psia)
Tc
(
o
R)
a
2
2
) (
) (
mole lb
cuft psia

b
mole lb
cuft

CH
4
C
2
H
6
CO
2
H
2
N
2
O
2
673,1
708,3
1070,2
189,0
402,2
739,9
343,2
549,9
547,5
59,8
227,0
278,6
8499,594
20736,403
13604,624
919,018
6222,901
5095,331
0,6839
1,0413
0,6862
0,4244
0,7570
0,5050
Catatan
R molex lb
Psiaxcuft
R
o

= 73 , 10
4.2. Nilai a dan b Persamaan Berthelot
2
TV
a
b V
RT
P

=
3 2
2
) ( TV
a
b V
RT
dV
dP
T
+

= |

'

4 3 2
2
6
) (
2
TV
a
b V
RT
dV
P d
T

=
|
|

'

Persamaan saat mencapai kondisi kritis, maka :


18
2
C C C
C
V T
a
b V
RT
P

= ........... (1)
0
2
) (
3 2
= +

C C C
C
V T
a
b V
RT
........ (2)
0
6
) (
2
4 3
=

C C
C
V T
a
b V
RT
.......... (3)
Dari ketiga hubungan persamaan (1), (2) dan (3), maka akan didapatkan
nilai a dan nilai b, yaitu :
C
C
P
T R
a
64
27
2 2
=
C
C
P
RT
b
8
=
Apabila data pada Tabel 2 dimasukkan ke dalam persamaan diatas, maka
akan dapat ditentukan nilai a dan nilai b untuk persamaan Berthelot (Tabel 4).
Gas
Pc
(psia)
Tc
(
o
R)
a
2
2
) (
) (
mole lb
cuft psia

b
mole lb
cuft

CH
4
C
2
H
6
CO
2
H
2
N
2
O
2
673,1
708,3
1070,2
189,0
402,2
739,9
343,2
549,9
547,5
59,8
227,0
278,6
2,9171 x 10
6
11,4029 x 10
6
7,4485 x 10
6
54957,25
1,4126 x 10
6
1,4195 x 10
6
0,6839
1,0413
0,6862
0,4244
0,7570
0,5050
19
4.3. Nilai a dan b Persamaan Dieterici
RTV
a
e
b V
RT
P

=
RTV
a
T
e
RTV
a
b V b V
RT
dV
dP

|

'

+

= |

'

2
1
RTV
a
T
e
b V
RT
b V RTV
a
RTV
a
V
P

'

=
|
|

'

c
c
2 3 2
2
) (
2
2
Pada saat mencapai kondisi titik kritis, maka :
RTcVc
a
C
C
C
e
b V
RT
P

= . (1)
0
1
2
=

C C C
V RT
a
b V
............................ (2)
0
) (
2
2
2 3
=

|
|

'

b V V RT
a
V RT
a
C C C C C
.. (3)
Dari ketiga hubungan persamaan diatas akan didapatkan :
C
C
C C
P
RT
V RT a
2
) (
2282 , 0
3
2
= =
C
C
C
P
RT
V b 1711 , 0
2
1
= =
20
BAB V
ANALISA KESEIMBANGAN FASA
4.1. Pemisahan Gas
Produksi dari suatu sumur umumnya adalah berupa cairan yang terdiri atas
fasa cair dan fasa gas. Gas yang terlarut dalam cairan ini dipisahkan melalui alat
separator yang berupa tabung dengan tekanan dan temperatur t ertentu.
Proses pemisahannya dapat dilakukan dengan cara flash liberation dan
differential liberation. Flash liberation adalah proses kondensasi atau penguapan,
dimana fasa gas dan fasa cair dipisahkan secara kontinyu yang berhubungan
dengan perubahan tekanan dan temperatur didalam separator. Diferrential
liberation berupa proses pemisahan kedua fasa tersebut terjadi karena perubahan
tekanan dan temperatur dengan segera dipisahkan.
Apabila temperatur dalam separator dibuat konstan dengan tekanan yang
semakin tinggi, maka jumlah cairan yang masuk ke dalam fasa gas akan semakin
kecil kecuali separator bekerja pada storage pressure (tekanan penimbunan).
4.2. Konsep Equilibrium Constant
Pada waktu dilakukan pemisahan didalam separator kelarutannya adalah
bersifat tidak ideal (non ideal solution). Untuk mengatasi permasalahan fasa gas
dan fasa cair ini dapat diketauhi melalui angka keseimbangan (equilibrium
constant), dimana kondisi larutan non ideal dinyatakan sebagai :
21
Xi
Yi
Ki = ......... (1)
dimana :
Ki = konstanta keseimbangan komponen i
Yi = mole fraksi komponen i dalam larutan gas
Xi = mole fraksi komponen i dalam larutan cair
Nilai Ki tergantung atas tekanan dan temperatur yang bekerja didalam
separator pada waktu dilakukan proses pemis ahan. Nilai Ki akan naik sejalan
dengan naiknya temperatur dan akan turun dengan naiknya tekanan. Nilai Ki ini
juga tergantung dari convergence pressure, yaitu tekanan dimana kurva Ki
terhadap tekanan untuk bermacam-macam zat hidrokarbon pada suatu tempera tur
tertentu bertemu pada satu titik. Dari hasil -hasil percobaan para peneliti,
menunjukkan bahwa umumnya minyak mentah (crude oil) dan gas kondensat
memenuhi equilibrium constant dengan convergence pressure sebesar 5000 psia.
Lampiran A adalah equilibrium constant untuk convergence pressure = 5000 psia.
4.3. Formulasi Persamaan
apabila dalam suatu sistem terdapat dengan jumlah total mole adalah n
yang terdiri atas fraksi mole zat ke -i dalam fasa gas dan fasa cair adalah Zi, maka
akan berlaku hubungan :
Zi n = Xi n
2
+ Yi n
v
........ (2)
n = n
2
+ n
v
......................(3)
dimana :
Zi = fraksi mole zat ke-i dalam fasa cair dan fasa gas
22
n
2
= total mole dalam fasa cair
n
v
= total mole dalam fasa gas
n = total mole dalam kelarutan sistem
Dari hubungan ketiga persamaan (1), (2) dan (3) untuk n = 1 akan didapatkan :
v L
n Ki n
Zi
Xi
. +
= ............ (4)
Yi = Ki . Xi ................ (5)
n
L
+ n
v
= 1 ............. (6)
dimana :
Xi = 1 dan Yi = 1
Persamaan (4), (5) dan (6) adalah untuk menentukan nilai -nilai Xi, Yi, n
L
dan n
v
.
4.4. Metoda Solusi
Untuk menentukan nilai -nilai Xi, Yi, n
L
dan n
v
dengan persamaan (4), (5)
dan (6) diatas, secara resmi belum ada metoda solusi nya dan hanya dilakukan
melalui proses trial & error.
Guna mengatasi masalah ini, penulis melakukan proses solusinya dengan
tahapan sebagai berikut :
1. Tentukan nilai Ki untuk setiap komponen ke -i dari lampiran A
berdasarkan data P,T yang digunakan oleh sep arator dalam proses
pemisahan.
23
2. Ambil asumsi harga n
L
= n
L1
(misalnya : n
L1
= 0,4)
3. Hitung n
v
= 1 - n
L1
(jika n
L1
= 0,4 maka n
v1
= 0,6)
4. Hitung nilai Xi dan Yi dengan persamaan (4) dan (5)
5. Hitung Xi dan Yi
6. Apabila Xi dan Yi telah mendekati satu artinya asumsi n
L
= n
L1
adalah benar dan proses solusi selesai.
7. Apabila Xi dan Yi belum mendekati satu, berarti asumsi n
L
= n
L1
tidak tepat dan harus diasumsikan lagi dengan mengambil n
L
= n
L2
. Nilai
n
L2
ini dapat ditentukan dengan persamaan :
n
L2
= n
L1
Xi . (7)
8. Ulangi kembali langkah ke-3 hingga ke-5 untuk nilai n
L
= n
L2
.
9. Proses iterasi selesai apabila Xi = 1 dan Yi = 1, dimana n
L
= n
L
asumsi.
Contoh Soal # 1
Suatu campuran hidrokarbon hasil pemisahan dalam separator pada 80
0
F
dan 150 psia, terdiri dari CH
4
= 10 mole %, C
2
H
6
= 20 mole %,
C
3
H
8
= 30 mole %, n- C
4
H
10
= 5 mole %. Berapakah fraksi cairan dan gas dan
bagaimanakah komposisinya ?
Jawab :
24
1. Asumsi n
L1
= 0,4
Komponen Zi
Ki
(150 psia, 80
0
F)
n
L
= 0,4 : n
v
= 0,6
Xi Yi
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,10
0,20
0,30
0,20
0,15
0,05
17
3,1
1
0,32
0,44
0,096
0,0094
0,0885
0,3000
0,3378
0,2259
0,1093
0,1604
0,2743
0,3000
0,1081
0,0994
0,0105
1,00 1,0709 0,9527
Hasil asusmsi n
L
= n
L1
= 0,4 ternyata didapatkan nilai -nilai Xi dan Yi
belum mendekati satu.
2. Asumsi n
L2
= n
L1
Xi = 0,4 x 1,0709 = 0,4284
Komponen Zi
Ki
(150 psia, 80
0
F)
n
L
= 0,42 : n
v
= 0,5761
Xi Yi
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,10
0,20
0,30
0,20
0,15
0,05
17
3,1
1
0,32
0,44
0,096
0,0099
0,0909
0,3000
0,3272
0,2206
0,1035
0,1676
0,2818
0,3000
0,1047
0,0971
0,0099
25
1,00 1,0521 0,9611
3. Asumsi n
L3
= n
L2
Xi = 0,4284 x 1,0521 = 0,4507
Komponen Zi
Ki
(150 psia, 80
0
F)
n
L
= 0,4507 : n
v
= 0,5493
Xi Yi
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,10
0,20
0,30
0,20
0,15
0,05
17
3,1
1
0,32
0,44
0,096
0,0102
0,0929
0,3000
0,3192
0,2166
0,0993
0,1737
0,2879
0,3000
0,1022
0,0993
0,0095
1,00 1,0382 0,9686
4. Asumsi n
L4
= n
L3
Xi = 0,4507 x 1,0382 = 0,4679
Komponen Zi
Ki
(150 psia, 80
0
F)
n
L
= 0,4679 : n
v
= 0,5321
Xi Yi
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,10
0,20
0,30
0,20
0,15
0,05
17
3,1
1
0,32
0,44
0,096
0,0105
0,0945
0,3000
0,3134
0,2137
0,0963
0,1787
0,2928
0,3000
0,1003
0,0940
0,0092
1,00 1,0284 0,9750
26
5. Asumsi n
L5
= n
L4
Xi = 0,4679 x 1,0284 = 0,4812
Komponen Zi
Ki
(150 psia, 80
0
F)
n
L
= 0,4812 : n
v
= 0,5188
Xi Yi
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,10
0,20
0,30
0,20
0,15
0,05
17
3,1
1
0,32
0,44
0,096
0,0108
0,0957
0,3000
0,3090
0,2114
0,0942
0,1828
0,2967
0,3000
0,0989
0,0930
0,0090
1,00 1,0211 0,9804
Xi
n
L
= 0,4914 n
L
= 0,4991 n
L
= 0,5050 n
L
= 0,5094 n
L
= 0,5127 n
L
= 0,5153
0,0109
0,0967
0,3000
0,3057
0,2097
0,0926
0,0111
0,0975
0,3000
0,3033
0,2085
0,0914
0,0112
0,0981
0,3000
0,3015
0,2075
0,0905
0,0113
0,0985
0,3000
0,3001
0,2068
0,0898
0,0114
0,0988
0,3000
0,2991
0,2063
0,0894
0,0114
0,0991
0,3000
0,2983
0,2059
0,0890
1,0156 1,0118 1,0088 1,0065 1,0050 1,0037
27
Xi
n
L
= 0,5172 n
L
= 0,5187 n
L
= 0,5198 n
L
= 0,5207 n
L
= 0,5213 n
L
= 0,5217
0,0115
0,0993
0,3000
0,2978
0,2056
0,0887
0,0115
0,0995
0,3000
0,2973
0,2053
0,0885
0,0115
0,0996
0,3000
0,2970
0,2052
0,0884
0,0115
0,0997
0,3000
0,2967
0,2050
0,0882
0,0115
0,0997
0,3000
0,2965
0,2049
0,0881
0,0116
0,0998
0,3000
0,2964
0,2048
0,0881
1,0029 1,0021 1,0017 1,0011 1,0007 1,0007
n
L
= 0,5221 ; n
v
= 0,4789
Xi Yi Yi (adjust)
0,0115
0,0997
0,3000
0,2961
0,2047
0,0880
0,1962
0,3090
0,3000
0,0948
0,0895
0,0084
0,1964
0,3092
0,3000
0,0951
0,0898
0,0086
1,0000 0,9979 1,0000
Contoh Soal # 2
Dari contoh soal # 1 juga dapat dianalisa :
1. Faktor Kompresibilitas gas (Z)
28
2. SG-gas
3. SG-cairan atau
0
API
4. GOR
(A). Analisa Z
Komponen Yi n = Yi. n
Tabel 2
nPc nTc
Pc Tc
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
i-C
4
H
10
n-C
5
H
12
0,1963
0,3092
0,3000
0,0931
0,0898
0,0086
0,0940
0,1481
0,1437
0,0455
0,0430
0,0041
673,1
708,3
617,4
550,1
529,1
489,8
342,2
549,9
666,0
765,7
734,6
846,2
63,2714
104,8992
88,7204
52,3145
47,5132
2,0082
32,1668
81,4402
95,7042
34,8393
31,5878
3,4694
1,0000 0,4789 358,7269 279,2077
- 42 , 0
7269 , 358
150
= = =
C
r
nP
P
P
- 93 , 1
2077 , 279
) 460 80 (
=
+
= =
C
r
nT
T
T
Berdasarkan Gambar 1, akan didapatkan bahwa :
Z = 0,98
29
bbl bbl Vc 519 , 3
615 , 5
76 , 19
= =
(B). Analisa SG dan GOR
Komponen M
Fasa Gas Fasa Cair
Yi n
1
=
Yi . n
v
n
1
. M
Xi n
2
=
Xi . n
L
n
2
. M
CH
4
C
2
H
6
C
3
H
8
n-C
4
H
10
l-C
4
H
10
n-C
5
H
12
16,04
30,07
44,09
58,12
58,12
72,15
0,1963
0,3092
0,3000
0,0951
0,0898
0,0086
0,0940
0,1481
0,1437
0,0455
0,0430
0,0041
1,5078
4,4534
6,3357
2,6445
2,4992
0,2985
0,0115
0,0997
0,3000
0,2961
0,2047
0,0880
0,0060
0,0521
0,1566
0,1546
0,1069
0,0459
0,0962
1,5666
6,9045
8,9854
6,2130
3,3116
1,0000 0,4789 17,7364 1,0000 0,5221 27,0773
6122 , 0
97 , 28
7364 , 17 .
1
= = =
Ud
M
M n
gas SG
9347 , 0
97 , 28
0773 , 27 .
2
= = =
Ud
M
M n
cairan SG
API cairan API
O O
9 , 19 5 , 131
9347 , 0
5 , 141
= =
Persamaan gas nyata : PV = Z n R T
V =
P
ZnRT
Gas : cuft V
g
12 , 18
150
) 460 80 )( 73 , 10 )( 4789 , 0 )( 98 , 0 (
=
+
=
Cairan : cuft V
C
76 , 19
150
) 460 80 )( 73 , 10 )( 5221 , 0 )( 98 , 0 (
=
+
=
30
bbl cuft
Vc
Vg
GOR / 15 , 5
52 , 3
12 , 18
= = =
31
BAB VI
CADANGAN GAS
6.1. Metoda Volumetric
Metode volumetric ini digunakan untuk menentukan jumlah gas m ula-
mula di tempat (gas in place). Bentuk persamaannya yaitu :
g
W
B
S x Axhx
G
) 1 (
43560

=

....... (1)
dimana :
G = gas in place, SCF
A = luas reservoir, acre
h = ketebalan lapisan gas produktif, ft
porositas batuan, fraksi
S
W
= saturasi air, fraksi
B
g
= faktor volume formasi gas, ft
3
/SCF
P
ZT
B
g
02829 , 0 = (ft
3
/SCF) ....... (2)
T = temperatur,
o
F
Z = tekanan, psia
P = faktor kompresibilitas gas
6.2. Metoda Material Balance
Apabila tersedia data sejarah penurunan tekanan dan produksi, maka gas
32
in place dapat dievaluasi tanpa mengetahui A, h, dan Sw. Metoda ini dibentuk
melalui keseimbangan mole.
Total mole = mole mula-mula mole sisa
(n
P
) (n
i
) (n)
Persamaan hukum gas nyata : PV = ZnRT atau dapat diubah menjadi
persamaan :
ZRT
PV
n =
Persamaan kesetimbangan mole dapat dibentuk menjadi :
Z T
Vi P
Zi T
Vi Pi
Z T
G P
F F SC SC
P SC
.
.
.
.
.
.
= ......... (3)
dimana :
P
SC
= tekanan standard = 14,7 psia
T
SC
= temperatur standard = 60
o
F
Z
SC
= faktor kompresibilitas gas standard = 1
T
F
= temperatur formasi
Vi = volume gas mula-mula
Pi = tekanan reservoir mula-mula
P = tekanan reservoir setelah produksi
G
P
= kumulatif produksi gas = G
Vi = G . Bgi ....... (4)
dimana :
Bgi = faktor volume formasi gas mula -mula
33
Apabila dilakukan substitusi persamaan (4) ke dalam persamaan (3), maka akan
didapatkan :
P
SC
SC F
xG
G Bgi T
P T
Zi
Pi
Z
P
. .
.
= ......... (5)
Plot
Z
P
terhadap Gp, maka akan didapatkan garis lurus seperti yang diperlihatkan
pada gambar 2.
Gambar 2
Plot
Z
P
terhadap Gp
Contoh Soal
Data
Z
Z
P
P (psia) Gp (BCF)
1885
1620
1205
888
0,873
14,002
23,687
31,009
0,767
0,787
0,828
0,866
2458
2058
1455
1025
Zi
Pi
Z
P
G = Gp
0
Gp
34
645 36,207 0,900 717
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
10 20 30 40 50
Gp
P
/
Z
6.3. Metoda Decline Curve
Produksi gas atau minyak pada suatu periode yang tertentu akan
cenderung terjadi penurunan secara hampir teratur yang berupa garis lu rus.
Penurunan produksi terhadap waktu dinyatakan oleh J.J. Arp, yaitu :
q
a bt
dt
dq
= (6)
dimana :
b = loss ratio, 0 < b < 1
a = konstanta
q = laju produksi
t = waktu produksi
}
=
t
P
qdt G
0
.......... (7)
G = 47,5 BCF
35
Menurut J.J. Arp, kurva penurunan produksi terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Eksponensial, Harmonik dan Hiperbolik. Pembagian ke-3 jenis kurva ini adalah
berdasarkan nilai loss-ratio (b), yaitu :
Exponential decline : b = 0
Harmonic decline : b = 1
Hyperbolic decline : 0 b < 1
Melalui penerapan nilai b untuk ketiga jenis penurunan kurva terhadap
persamaan (6) dan persamaan (7) akan didapatkan persamaan -persamaan sebagai
berikut ini :
Exponential Decline
q
g
= q
i
e
-t/a
. (8)
G
P
= a (q
g
- q
i
) . (9)
Harmonic Decline
1
) 1 (

+ =
a
t
q q
i g
. (10)
|
|

'

=
g
i
i P
q
q
q a G ln . .. (11)
Hyperbolic Decline
b
i g
t
a
b
q q
1
1

'

+ = .. (12)

|
|

'

'

=

1
1
1 b
i
g
i P
q
q
q
b
a
G (13)
36
Bentuk persamaan dari masing-masing jenis decline curve tersebut dapat
digunakan untuk menentukan :
1. Jumlah cadangan gas (G
P
) suatu reservoir atau juga sumur.
2. Umur produksi gas (t).
3. Estimasi produksi gas masa yod ( q
g
).
4. Sisa cadangan gas ( G
P

Berdasarkan jenis decline dan bentuk-bentuk persamaan yang diketahui,


maka penerapan metoda ini sebagai langkah awal adalah menentukan jenis
declinenya secara trial & error. Proses trial & error dilakukan melalui plot
persamaan untuk setiap jenis decline curve.
6.3.1. Exponential Decline
Apabila ditinjau dari bentuk persamaan (8) dan persamaan (9), maka jenis
exponential adalah plot : ln q
g
vs t dan plot : G
P
vs q
g
berupa garis lurus.
Persamaan (8) dan persamaan (9) dapat diubah menjadi :
ln q
g
= a
1
t + b
1
(14)
G
P
= a
2
q
g
+ b
2
(15)
dimana :
a
1
, b
1
, a
2
dan b
2
= konstanta regresi
6.3.2. Harmonic Decline
Jenis harmonic decline adalah apabila hasil plot ln q
g
vs t dan plot :
G
P
vs ln q
g
adalah berupa garis lurus. Persamaan (10) dan persamaan (11) dapat
dinyatakan menjadi :
37
ln q
g
= a
3
ln t + b
3
(16)
Gp = a
4
ln q
g
+ b
4
. (17)
6.3.3. Hyperbolic Decline
jenis hyperbolic decline adalah apabila hasil plot ln q
g
vs ln t dan plot :
ln G
P
vs ln q
g
berupa garis lurus. Persamaan (12) dan persamaan (13) dapat
ditulis menjadi :
ln q
g
= a
5
ln t + b
5
(18)
ln G
P
= a
6
ln q
g
+ b
6
. (19)