Anda di halaman 1dari 27

KEBUTUHAN SEKSUALITAS I

ABORTUS INSIPIENS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebutuhan Seksualitas I
Koordinator : Sari Sudarmiati, M.Kep.Ns.Sp.Kep.Mat





Disusun oleh :
Fitri Haryati (22020111120001)
Devi Merry Evendi (22020111120002)
Mutiara Rachmawati (22020111120005)
Prima Khairunisa (22020111130065)
Rena Widyasari (22020111130083)
Rossi Anita Sari (22020111130089)





JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013
KASUS 3 :
Seorang ibu G
5
P
0
A
4
berusia 35 tahun datang ke RS Banyu Biru dengan keluhan
mengalami perdarahan perganinam. Dari hasil pemeriksaan : Ostium Uteri
terbuka.
1. Abortus Kompletus (keguguran lengkap) merupakan abortus yang seluruh ua
kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap, ostiumnya tertutup dan uterus
lebih kecil dari umur kehamilan yang seharusnya. Pada keadaan ini kuretasi
tidak perlu dilakukan.
Pada setiap abortus penting untuk selalu memeriksa jaringan yang dilahirkan
apakah komplet atau tdak dan untuk membedakan dengan kelahiran trofloblas
(molahidatidosa).
Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim
dikeluarkan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama
sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah
selesai serviks juga akan segera menutup kembali. Kalau sepuluh ahri setelah
abortus masih terjadi pendarahan, maka termasuk abortus inkomplitus atau
resiko endometris pascaabortus.
2. Abortus tertunda (missed abortion) merupakan keadaan dimana janin l
telah mati sebelum minggu ke-20, tetapi bertahan di dalam rahim selama
beberapa minggu setelah janin mati. Pada hasil pemeriksaan USG tam[ak
janin tidak utuh dan membentuk gambaran komplek, diagnosis USG tidak
selalu tertahan > 8 minggu. Ketika ada kematian janin kadang-kadang ada
perdarahan pervaginam sedikit, sehingga memberikan giagnosa gambaran
abortus iminens. Selanjutnya, rahim rahim tidak membesar bahkan mengecil
karena absorbsi air kketuban dan maserasi janin. Buah dada mengecil
kembali, amenore berlangsung terus-menerus. Jika janin mati pada kehamilan
yang ebrusia muda, janin akan lebih cepat dikeluarkan. Sebaliknya, kematian
janin yang terjadi pada kehamilan lebih lanjut, retensi janin akan lebih lama.
Manifestasi Klinis:
- Data subjektive-perdarahan bisa ada atau tidak.
- Pemeriksaan obstetri menujukkan fundus uteri lebih kecil dari umur
kehamilan dan DJJ tidak terdengar.
- Pemeriksaan penunjang yang bisa memperkuat diagnosa medis seperti
USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu perdarahan, waktu
pembekuan, dan waktu protrombin)
3. Abortus Habitualis (keguguran berulang) merupakan abortus yang telah
berlang dab verturut-turut terjadi; sekurang-kurangnya 3 kali berturut-turut.
Kejadiannya jauh lebih sedikir dari abortus spontan (kurang dari 1%), lebih
sering terjadi pada primi tua. Etiologi abortus ini adalah kelainan genetik
(kromosomal), kelianan hormonal (imunologik), serta kelainan anatomis.
Pengelolaan abortus habitualis bergnatung pada etiologinya. Pada kelainan
anatomi, mungkin dapat dilakukan operasi Shirodkar atau McDonald.



















A. ABORTUS IMMINENS
1. Abortus imminens iadalah terjadinya perdarahan dari uterus pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam
uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks ( Hidayati, 2009).
2. Data subjektif
Terjadinya abortus ommines dapat ditandai dengan adanya hal-hal
berikut ini
a. Terdapat keterlambatan datang bulan ( Hidayati, 2009).:
b. Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif ( Hidayati, 2009).:
c. Terdapat perdarahan, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali (
Hidayati, 2009).:
d. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan usia
kehamilan ( Hidayati, 2009).:
e. Hasil pemeriksaan terdapat perdarahan bercak hingga sedang dari
kanalis servikalis, serviks kanalis masih tertutup dana danya
kontraksi otot ( Hidayati, 2009).:
f. Perdarahan pervagina adalah gejala paling khas dan dapat bervariasi
dari secret vagina berdarah sampai sedikit bercak atau minimum.
Biasanya perdarahan kurang dari haid normal. Tidak ada jaringan
plasenta yang dikeluarkan.
g. Nyeri abdomen
3. Data objektif
a. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan umum normal
2) Pemeriksaan abdomen normal (lunak, tidak nyeri tekan)
3) Pemeriksaan pelvis : pada pemeriksaan speculum biasanya
hanya ada sedikit darah atau secret kecoklatan di dalam vagina.
Ostium uteri tertutup. Pada pemeriksaan bimanual, uterus
membesar, lunak dan tidak nyeri tekan. Besar uterus sesuai
riwayat haid. Serviks tertutup, tidak mendatar dan mempunyai
konsistensi hamnil normal.
4. Tes laboratorium
Urinalisis : pada kasus abortus imiens, urinalisis normal. Jika eritrosit
atau leukosist ditemukan, maka kemungkinan masalah traktus urinarius
harus dicurigai, karena sistitis atau obstruksi ureter menimbulkan gejala
yang serupa dengan abortus iminens.
5. Penanganan abortus immines di antaranya adalah sebagai berikut
(Hidayati, 2009) :
a. Tirah baring total, tidak diperlukan pengobatan medis kusus
b. Anjurkan untuk tidak melakukan aktivitas fisik secara berlebihan
atau melakukan hubungan seksual
c. Memantau jumlah hemoglobin dan hematokrit
d. Memeriksa tekanan darah, temperature, denyut nadi dan pernapasan.
e. Bila perdarahan berhenti , lakukan asuhan antenatal terjadwal dan
penilaian ulang bila terjadi perdarahn lagi.
f. Konsultasikan pada dokter ahli bila tidak didapatkan perbaikan,
misalnya dilakukan pemeriksaan ultrasonografi.
g. Terapi hormone dengan estrogen atau progesterone tidak diajurkan
B. ABORTUS INSIPIENS
1. Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahn uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat,
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus ( Hidayati, 2009)..
2. Terjadinya abortus insipieens ditandai dengan hal-hal berikut ini
(Hidayati, 2009).
a. Perdarahan lebih banyak
b. Rasa mules sering dan kuat
c. Pada pemeriksaan dalam didapatkan perdarahan yang lebih banayak
dari kanalis servikalis, kanalis servikalis terbuka, dan ajringan/hasil
konsepsi dapat diraba.

3. Penanganan abortus insipiens danatranya dengan cara berikut ini (
Hidayati, 2009).
a. Bila usia kehamilan kurang dari 16 minggu dapat segera dilakukan
evakuasi dengan peraltan aspirasi vakum manual (AVM)
b. Bila usia kehamilan lebih dari 16minggu, evakuasi dilakukan dengan
prosedur dilatasi dan kuretase.
4. Data subjektif
Gejala saat ini
a. Nyeri abdomen : kram suprapubik intermiten, progresif diakibatkan
oleh kontraksiuterus yang menimbulkan pendataran dan dilatasi
serviks.
b. Perdarahan per vagina: jumlah perdarahan cenderung sangat
bervariasi beberapa pasien berdarah hebat, sementara lainnya
mungkin menunjukkan gejala minimum
c. Riwayat haid : meskipun sebagian besar abortus timbul sebelum 12
minggu setelah siklus haid terakhir, anmun abortus yang lambat
dapat terjadi selama trimester kedua.
d. Kebocoran cairan amnion: abortus bersifat insipiens, bila selaput
amnion pecah (jarang, cairan yang telah terkumpul di antara amnion
dan korion lolos dan kehamilan berlanjut tanpa akibat serius)
5. Riwayat penyakit dahulu
Pasien yang telah mengalami abortus sebelumnya, sering mengenal
gejala terdiri abortus berulang



6. Data objektif
Pemeriksaan fisik :
a. Pemeriksaan umum : suhu, nadi, tekanan darah dan pernapsan
biasanya normal.
b. Pemeriksaan abdomen: abdomen lunak dan tidak nyeri tekan. Uterus
dapat teraba per abdomen, tergantung pada umur kehamilan.
c. Pemeriksaan pelvis: pada pemeriksaan speculum, sering serviks
mendatar dan berdilatasi . selaput amnion dapat terlihat menonjol
melalui serviks atau dapat robek, dengan cairan amnion ada didalam
vagina.pemneriksaan bimanual menunjukkan uterus membesar dan
lunak , besarnya kurang lebih sama dengan lamanya amnenore.
Adneksa normal.
7. Tes laboratorium
Hitung sel darah lengkap dan asupan darah : hemoglobin dan hematokrit
menunjukkan anemia dan perdarahan sebelumnya. Hitung leukosit dan
hitung jenis dapat mengidentifikasi suatu infeksi sistemik.
8. Rencana
Penatalksanaan dan pendidikan pasien
Pasien harus dirawat dirumah sakit. karena tidak ada kemungkinan
kelangsungan hidup bagi janin pada abortus insipiens, maka oksitosin
diberikan intravena (20 unit dalam 100 ml larutan ringer laktat) untuk
memajukan kelahiran janin. Analgesic mnungkin dibutuhkan untuk
menghilangkan nyeri dan ketakutan.
Setelah janin lahir kuretase mungkin diperlukan bila ada kemungkinan
jaringan plasenta tertinggal.
C. ABORTUS KOMPLETUS
1. Pengertian
Abortus kompletus adalah abortus yang keluarnya seluruh hasil konsepsi
sebelum umur kehamilan lengkap 20 minggu.


2. Tanda-tanda:
a. Abortus kompletus terjadi kalau semua produk pembuatan-janin,
selaput ketuban dan plasenta sudah keluar.
b. Perdarahamn dan rasa nyeri kemudian akan berhenti.
c. Serviks menutup dan uterus mengalami ovulasi.
D. ABORTUS INKOMPLETUS
1. Pengertian
Abortus inkompetus adalah keluarnya sebagian tetapi tidak seluruh hasil
konsepsi sebelum umur kehamilan 20 minggu.
2. Tanda dan gejala
a. Nyeri abdomen
b. Perdarahan pervagina



















ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. P

A. PENGKAJIAN
Tanggal masuk : : 16 September 2013 Jam masuk : 20:00

.....................
...................
Ruang/kelas : : Mawar Kamar no. : 9
Pengkajian
tanggal :
: 19 September 2013 Jam pengkajian : 16:10

I. Identitas
Nama pasien : Ny. P Nama suami : Tn. A
Umur : 35 tahun Umur : 40 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : Karyawati Pabrik Pekerjaan : Karyawan Pabrik
Alamat : Jalan Diponegoro 6 Alamat : Jalan Diponegoro 6

II. Keluhan Utama/Alasan Kunjungan
Perdarahan pervaginam, klien merasakan nyeri pada perutnya.
III. Riwayat Obstetri Ginekologia
1. Riwayat Perkawinan
Status perkawinan : kawin : () ya ( ) tidak
Jika kawin : berapa kali : 1x lamanya : 10 tahun
usia : 25 tahun
2. Riwayat Haid
Menarche umur : 13 tahun
Haid : teratur : () ya ( ) tidak
siklus : 28 hari
Dismenore : () ya ( ) tidak
Warna : ( ) merah tua ()merah segar
( ) merah kehitaman ( )coklat
Bentuk : () cair/encer ( ) bergumpal
( ) flek
Bau : () anyir ( ) busuk
3. Riwayat Kehamilan, Nifas dan Anak yang Lalu
G
5
P
0
A
4
: Klien pernah mengalami kehamilan sebanyak 5 kali, tapi
mengalami abortus sebanyak 4 kali. Sehingga sampai saat ini klien belum
pernah melahirkan seorang bayi pun.
IV. Riwayat Kehamilan Sekarang
1. HPHT (hamil berapa minggu) : 19 minggu
2. Gerakan janin : belum ada
3. Tanda-tanda bahaya/penyulit : nyeri abdomen, pusing, lemah
4. Keluhan umum : mengalami perdarahan pervaginam
5. Obat/jamu yang dikonsumsi : -
V. Riwayat Kesehatan Keluarga
1. Keturunan kembar : ( )ya ()tidak
2. Penyakit menular/keturunan : ( )diabetes mellitus ( )hepatitis
( ) PJK ( ) tifoid
() hipertensi ( )TB
( ) lain-lain,
Ayah klien memiliki riwayat hipertensi, sedangkan ibu klien pernah
mengalami abortus pada kehamilan ke-2.
3. Genogram




4.







35 th
40 th
Keterangan :








VI. Riwayat Kesehatan yang Lalu
Penyakit menular/keturunan : ( ) diabetes mellitus ( ) hepatitis
( ) PJK ( ) tifoid
() hipertensi ( ) TB
( ) lain-lain,
VII. Riwayat Psikososial Spiritual
1. Komunikasi
a. Non verbal : () lancar ( ) gugup ( ) afasia
b. Verbal : ( ) bahasa Indonesia () daerah
( ) lain-lain
2. Keadaan emosional
( ) kooperatif () depresi ( ) agresif
( ) hipoaktif () bingung ( ) menarik diri
() cemas () marah ( ) hiperaktif
() gelisah
3. Hubungan dengan Keluarga
() akrab ( ) biasa ( ) terganggu
4. Hubungan dengan orang lain
() akrab ( ) biasa ( ) terganggu
5. Proses berpikir
() terarah ( ) bingung ( ) ilusi ( ) halusinasi
6. Ibadah/spiritual
: Perempuan
: Laki-laki
: Menikah
: Klien (Ny. P)
: Tinggal serumah
() patuh ( ) tidak patuh
7. Respons ibu dan keluarga terhadap kehamilan
Klien dan keluarga merasa bahagia ketika mendapatkan kehamilan
yang ke-5. Namun, respon keluarga dan klien sangat kecewa ketika
klien mengalami abortus yang ke-5.
8. Dukungan keluarga
Keluarga selalu mensupport klien agar tidak larut dalam kesedihan
dan kekecewaannya.
9. Pengambilan keputusan dalam keluarga
Keputusan diserahkan sepenuhnya kepada klien dan keluarganya.
10. Beban kerja dan kegiatan sehari-hari
Aktivitas klien padat, klien bekerja dari jam 07.00-16.00 WIB. Klien
juga sering mengambil lembur hingga malam hari.
VIII. Kebutuhan Dasar Manusia
1. Kebutuhan oksigenasi
a. Airway : jalan napas tidak terganggung, tidak ada sekret,
tidak ada obstruksi jalan napas.
b. Breathing : RR 26x/menit, napas cepat dan dangkal.
c. Circulation : terjadi perdarahan per vaginam, capilary refill < 2
detik, akral dingin pada ekstremitas.
2. Kebutuhan nutrisi dan cairan
a. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Kebutuhan nutrisi
Kondisi Sebelum Setelah sakit
Selera makan Normal Nafsu makan
berkurang
Menu makan

Nasi, 1 mangkok sayur, 1
potong lauk, Buah , Susu
Klien makan nasi 5
sendok, sayur
mangkok
Frekuensi makan Klien makan 3x sehari .Klien makan 2x
sehari
Makanan pantangan

Tidak ada pantangan untuk
makanan yang dimakan
Tidak ada pantangan
Cara makan Klien bisa makan sendiri
tanpa bantuan orang lain

Klien makan dibantu
oleh orang lain
Ritual saat makan Berdoa sebelum dan
sesudah makan
Berdoa sebelum dan
sesudah makan


Cairan
Kondisi Sebelum sakit Saat sakit
Jenis minuman Air putih, Susu Air putih
Frekuensi minum 7x sehari/gelas (200
cc/gelas)
7x sehari/gelas
(200cc/gelas)
Intake cairan/hari 1400 ml/24 jam 1400 ml/24 jam

3. Kebutuhan aktivitas
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
Kegiatansehari-hari Bekerja, melayani suami,
nyuci
Tirah baring

4. Kebutuhan istirahat dan tidur.
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
Jam tidur


Pola tidur
Malam (6-8 jam)


Nyenyak, tidak pernah
terbangun tengah malam
Malam efektif 5
jam, siang tidak
tidur
Sering terbangun
dan mengigau,
gelisah

5. Kebutuhan eliminasi
BAB
Sebelum Sesudah
Frekuensi 1 hari sekali 1 hari sekali
Warna Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan
Bau Khas feses Menyengat
Bentuk Lunak Runcing, keras


BAK
Sebelum Sesudah
Frekuensi 6 kali/hari, 600 cc/hari 3kali/hari, 300
cc/hari
Warna Kuning Kuning pekat

6. Kebutuhan Personal Hygiene
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
Mandi




Cuci rambut


Gosok gigi

Klien mandi sendiri 2x
sehari tanpa bantuan orang
lain.


3 hari sekali, bersamaan
dengan mandi

2x sehari, gosok gigi
sendiri
Mandi hanya 2x
sehari dengan cara
dibasuh ke seluruh
tubuh menggunakan
waslap.
Selama sakit 1x
selama 1 minggu
cuci rambut.
2x sehari, gosok gigi
dibantu orang lain.

7. Kebutuhan aman dan nyaman
Saat sakit klien merasa tidak nyaman
8. Kebutuhan dicintai dan mencintai
Klien mendapatkan kasih sayang dari suami, keluarga dan orang-
orang terdekat klien.
9. Kebutuhan aktualisasi diri
Aktualisasi diri klien terganggu akibat sakit.
10. Stres dan koping
Sumber stressor : Abortus hingga 4 kali, Nyeri abdomen
Koping maladaptif : Sedih, menangis


11. Kebutuhan informasi dan komunikasi
Klien dan keluarga belum mengetahui faktor yang menyebabkan
abortus hingga 4 kali
12. Kebutuhan rekreasi
Sebelum Sakit Saat Sakit
Klien sering berlibur dengan
suaminya
Klien susah diajak untuk berekreasi

13. Riwayat Spiritual
a. Agama klien : Islam
b. Persepsi terhadap abortus : Abortus adalah cobaan dari Allah
SWT, berobat merupakan salah satu usaha yang dapat
dilakukan. Suami selalu mendukung klien.
c. Ritual yang dilaksanakan : Sholat 5 waktu, berdoa, mengaji.
IX. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
() lemah ( ) baik ( ) cukup
2. Tanda vital
a. Suhu :37,5 C () aksila ( ) oral ( ) rektal
b. Nadi :100 x/menit () teratur ( ) Tidak teratur
c. Pernapasan :26 x/menit
( ) teratur ( ) Tidak teratur
( ) dalam () dangkal
d. Tekanan darah :110/70 mmHg
() berbaring ( ) duduk ( ) berdiri
e. Berat badan :45 kg
f. Tinggi badan :155 cm

3. Kepala
a. Wajah : () pucat ( ) sianosis
b. Rambut : bersih kebersihan : tidak ada ketombe
c. Mata : konjungtiva pucat
d. Hidung : simetris
e. Bibir : pecah-pecah, kering
4. Dada
a. Bentuk : () simetris ( ) asimetris
b. Auskultasi paru : () vesikuler ( ) wheezing ( ) ronkhi
c. Auskultasi jantung : () s1s2 tunggal ( ) murmur ( ) gallop
d. Mamae : ( ) radang ( ) Ada benjolan () Tidak ada benjolan
e. Puting susu : () menonjol ( ) datar ( ) masuk
( ) bersih ( ) kotor
( ) hiperpigmentasi
f. Kolostrum : ( ) keluar () belum
g. Pembesaran mamae : () simetris ( ) asimetris

5. Abdomen
a. Inspeksi
Linea
Striae

: ()
: ( )

nigra ( )
albicans ( )

alba lividae
Bekas luka operasi : ( ) ada () Tidak ada
b. Pembesaran : () memanjang ( ) melintang
c.
d.
Terlihat gerak anak
Palpasi
TFU :
: ( )

2 jari di
bawah
pusat
ya () tidak

Massa lain :
Tidak ada
e.
f.
Perkusi
Auskultasi
DJJ

Bising usus
: ( )

: ()
( )
: ( )
( )
Sonor ( )

negatif
teratur
negatif
menurun
Redup

( )
( )
( )
( )
() timpani

Positif
tidak teratur
positif
meningkat
6. Genitourinaria
( ) inkontinensia ( ) retensiourine ( ) disuria
() oliguria ( ) hematuria
( ) Terpasang kateter ( ) kandung kemih penuh

7. Vulva/vagina
a. Kebersihan vulva : () bersih ( ) kotor
( ) varises ( ) hematoma ( ) fluxus
( ) fluoralbus ( ) bau ( ) luka
b. Portio : ( ) tertutup ( ) terbuka ( ) licin
( ) berdungkul ( ) Nyeri goyang () perdarahan
c. Uteri : () normal ( ) anteflexi
( ) retaflexi ( ) pembesaran




8. Ekstremitas atas dan bawah
Kekuatan otot mengalami kelemahan
3333 3333
3333 3333

9. Pemeriksaan penunjang
Hasil USG terjadi peluruhan zigot pada endometrium.

B. ANALISA DATA
No Data
Masalah
Keperawatan
Etiologi Diagnosa Keperawatan
1. Do:
a. TD klien terjadi penurunan, yaitu
110/70 mmHg
b. Bibir klien terlihat kering dan pecah-
pecah
c. Konjungtiva pucat
d. Suhu tubuh klien meningkat, 37,5
o
C
e. Berat badan klien menurun, yaitu 45
kg
f. Klien terlihat lemah

Ds:
a. Klien mengatakan bahwa tubuhnya
lemah.
b. Klien mengatakan bahwa terjadi
perubahan pola eliminasi pada
dirinya. Biasanya klien BAK 6x
Kekurangan
volume cairan
Perdarahan Kekurangan volume cairan b.d.
perdarahan (00027)
sehari, saat sakit klien mengatakan
BAK hanya 3x sehari.
c. Klien mengatakan bahwa kepalanya
pusing.
2. Do :
a. RR 26x/menit
b. Nadi 100 x/menit
c. TD 110/70 mmHg
d. Perdarahan per vaginam
e. Kekurangan volume cairan
f. Klien gelisah
Ds :
a. Klien mengatakan bahwa tubuhnya
lemah
Risiko syok Perdarahan Risiko syok b.d. perdarahan
(00205)
3. Do:
a. TD klien menurun, menjadi 110/70
mmHg
b. Nadi 100x/menit
c. Klien terlihat melindungi area nyeri
dengan memegang perutnya
Nyeri akut Agens cedera fisik Nyeri akut b.d agens cedera fisik
(00132)
d. Wajah klien meringis kesakitan
e. Klien terlihat gelisah
f. Terjadi dilatasi pupil

Hasil pengkajian nyeri
a. P : Keluhan nyeri akan bertambah
bila klien menggerakkan badannya
atau melakukan aktivitas.
b. Q : Nyeri seperti disayat/diiris benda
tajam.
c. R : Rasa nyeri menyebar pada daerah
abdomen secara keseluruhan
terutama kiri dan kanan bawah
abdomen.
d. S : Skala nyeri yang dirasakan
bernilai 3 (sedang) dari 5 skala yang
diberikan perawatan, skala tersebut
cukup mengganggu aktivitas klien
tapi tidak membuat klien kehilangan
kesadaran.
e. T : Nyeri yang dirasakan lamanya
bisa sampai 5-15 menit.

Ds:
a. Klien mengatakan bahwa dirinya
tidak napsu makan.
b. Klien mengatakan bahwa bagian
abdomennya terasa nyeri.
c. Klien mengatakan bahwa dirinya
tidak dapat tidur nyenyak dan sering
terbangun pada tengah malam.
4. Do:
a. Klien terlihat sedih, murung dan suka
menyendiri.
b. Klien terlihat panik dan selalu
menyalahkan diri sendiri.
c. Klien mengalami distres psikologis.
d. Klien sering marah-marah.
e. Klien terlihat sangat putus asa
dengan keadaannya.
Duka cita abortus Duka cita b.d. abortus (00136)

Ds:
a. Klien mengatakan bahwa pikirannya
kacau, karena sering mengalami
abortus.
b. Klien mengatakan bahwa dirinya
sulit tidur. Ketika bisa tidur, klien
merasa tidak dapat tidur nyenyak dan
sering terbangun tengah malam.

C. INTERVENSI
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Kekurangan
volume cairan
b.d.
perdarahan
(00027)
Setelah diberikan tindakan keperawatan
selama 4 x 24 jam, volume cairan tubuh
seimbang dengan kriteria hasil :
1. Tekanan darah 120/80 mmHg (4)
2. Intake dan output cairan selama
24 jam seimbang (4)
3. Turgor kulit lembab (5)

1. Fluid Monitoring (4130)
- Menentukan riwayat jumlah dan tipe
kebiasaan intake dan haluaran
- Monitor berat badan
- Monitor intake dan output
- Monitot tekanan darah, HR, dan status
respiratori
- Monitor membran mukosa, turgor kulit
- Atur cairan, jiak diperlukan
2. Fluid Management (4120)
- Monitor penambahan berat badan harian
- Pertahankan intake dan output yang akurat
- Monitor status hidrasi (membran mukosa,
tekanan darah) jika diperlukan
- Monitor status hemodinamik termasuk
CVP, MAP, PAP, PCWP
- Monitor tanda vital
- Atur terapi IV
- Monitor status nutrisi
- Berikan cairan yang adekuat
- Konsultasikan dengan tenaga medis lain
jika ada tanda dan gejala pada perubahan
volume dan cairan (kolaborasi).
3. Shock Management (4250)
- Monitor tanda vital, tekanan darah, status
mental dan pengeluaran urin
- Berikan terapi oksigen jika perlu
- Monitor tanda dan gejala kegagalan nafas
( seperti PaO2, SaO2, level hemoglobin,
CO)
- Berikan akses IV lline
- Monitoring status cairan
2. Risiko syok
b.d.
perdarahan
(00205)
Setelah diberikan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam, klien dapat
menghilangkan rasa syok, dengan kriteria
hasil :
1. Nadi dalam batas 70- 100 (4)
2. Irama jantung teratur (4)
3. RR dalam rentang 18-24 (5)
4. Volume cairan tubuh seimbang
(4)

1. Shock Management (4250)
- Monitor tanda vital, tekanan darah, status
mental dan pengeluaran urin
- Berikan terapi oksigen jika perlu
- Monitor tanda dan gejala kegagalan nafas
( seperti PaO2, SaO2, level hemoglobin,
CO)
- Berikan akses IV lline
- Monitoring status cairan
2. Shock Prevention (4260)
- Monitoring kompensasi syok sedini
mungkin. Seperti tekanan darah,
abnormalitas capilarry refill, takipnea, dsb.
- Monitor kemungkinan kehilangan cairan
- Monitor tekanan oksimetri
- Monitor temperatur dan status respirasi
- Monitor EKG
- Monitor berat badan harian, intake dan
output
- Atur pemberian terapi IV
- Menginstruksikan klien dan keluarga
untuk mengidentifikasi faktor syok
3. Nyeri akut b.d
agens cedera
fisik (00132)
Setelah diberikan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam, klien dapat merasakan
kenyamanan tanpa nyeri dengan kriteria
hasil :
1. Klien dapat melaporkan nyeri
yang dirasakan (4)
2. Klien dapat mengontrol gejala
nyeri yang dirasakan (4)
3. Klien dapat mengidentifikasi
faktor yang menyebabkan nyeri
(4)
4. Klien dapat melakukan kontrol
nyeri dengan relaksasi (5)
1. Pain Management (1400)
- Melakukan pengkajian komprehensif nyeri
termasuk lokasi nyeri, karakteristik nyeri,
durasi, frekuensi, kualitas nyeri, intensitas,
faktor penyebab.
- Mengeksplor pengetahuan pasien tentang
nyeri
- Tentukan dampak dari nyeri ( seperti
dampak pada tidur, aktivitas, konsentrasi,
mood, hubungan dan penampilan.
- Berikan informasi tentang nyeri, seperti
penyebab nyeri, lama nyeri, antisipasi
ketidaknyamanan
- Mengajarkan manajemen nyeri
- Mengajarkan cara mengurangi nyeri
dengan nonfarmakologi seperti relaksasi,
guided imagery, terapi musik, terapi
bermain, akupresure)
- Pantau perubahan nyeri pasien
- Monitor tingkat kepuasan klien pada
tindakan pengurangan nyeri yang
diberikan
2. Relaxation Therapy (6040)
- Beritahukan kepada klien tindakan
rasional relaksasi, keuntungan, tipe
relaksasi. Seperti relaksasi musik, ritme
pernapasan, relaksasi rahang, relaksasi
musik progresif.
- Tanyakan pada klien apakah sudah pernah
melakukan terapi relaksasi dan seberapa
efektif terapi relaksasi.
- Identifikasi jenis intervensi relaksasi yang
diminati klien dengan cara meminta saran
dari klien
- Mengajak pasien untuk relaks dan
merasakan sensasi
- Mengajarkan pasien teknik relaksasi dan
meminta klien mengikutinya
- Melakukan evaluasi terhadap respon klien
4. Duka cita b.d.
abortus
(00136)
Setelah diberikan tindakan keperawatan
selama 7 x 24 jam, klien dapat
menghilangkan rasa duka cita, dengan
kriteria hasil :
1. Melaporkan koping yang efektif
(3)
2. Penyelesaian duka cita
3. Penyesuaian psikososial

1. Dying Care (5260)
- Monitor ansietas klien
- Monitor perubahan mood
- Mendukung pasien untuk mendiskusikan
perasaanya tentang kematian dan duka
- Mendukung pasien untuk tetap kuat
- Meminimalisasi ketidaknyamanan klien
- Menawarkan makanan dan minuman
- Menghargai privasi klien
- Memfasilitasi dukungan spiritual bagi
klien dan keluarga
2. Grief Work Facilitation : Perinatal Death
(5294)
- Mengidentifikasi bagaimana diagnosa
janin atau anak yang meninggal
- Mendiskusikan rencana yang sudah dibuat
(misalkan nama anak)
- Mendiskusikan cara agar tetap bisa
memotivasi hidup klien

Anda mungkin juga menyukai