Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PENDAHULUAN

KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL : ISOLASI SOSIAL






Dosen Pembimbing : Amar Akbar S.kep
Kelas 2C
Di susun Oleh :
Diaz Pramudyawan (03201213117)






AKADEMI KEPERAWATAN BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
TAHUN PELAJARAN 2014-2015



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman adalah hal yang tidak dapat terelakan dalam kehidupan.
Perkembangan zaman kian hari kian pesat. Mempunyai dampak secara menyeluruh dalam
kehidupan. Banyak orang berfikir perkembangan yang sangat pesat ini membawa banyak
hal positif kepada umat manusia. Tetapi tidak menutup kemungkinan hal yang positive
ini berjajar dengan hal yang negative juga. Fenomena ini bisa kita tilik dengan sudut
pandang dunia kesehatan.
Dengan smakin berkembangnya kehidupan dan modernisasi disemua bidang
kehidupan menimbulkan gejolak social yang cukup terasa dalam kehidupan manusia.
Terjadinya perang , konflik lilitan ekonomi berkepanjangan, minder, kurang percaya diri
menjadi salah satu pemicu munculnya stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan
jiwa , salah satu contohnya yaitu Isolasi diri.
Isolasi sosial merupakan proses pertahanan diri seseorang terhadap orang lain maupun
lingkungan yang menyebabkan kecemasan pada diri sendiri dengan cara menarik diri
secara fisik maupun psikis. Suatu sikap di mana individu menghindari diri dari interaksi
dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan , pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia
mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang
dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri,tidak ada penelitian ,dan tidak sanggup
membagi pengamatan dengan orang lain (Balitbang, 2007 ).
Menurut Stuart and Sundden (1998) . salah satu gangguan berhubungan sosial
diantaranya perilaku menarik diri atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak
berharga, yang bisa dialami klien dengan latar belakang yang penuh dengan
permasalahan, ketegangan, kekecewaan dan kecemasan.
Perasaan tidak berharga menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan
hubungan dengan orang lain. Akibatnya klien menjadi regresi atau mundur, mengalami
penurunan dalam aktifitas dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan
diri. Klien semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta tingkah
laku primitif antara lain pembicaraa yang autistic dan tingkah laku yang tidak sesuai
dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi.

1.2 Rumusan masalah
1. Apakah isolasi social?
2. Bagaimana SPTK pada kx dengan isolasi social ?
3. Bagaiman TAK yang sesuai dengan isolasi social?







1.3 Tujuan

a. Tujuan Umum
Menjelaskan konsep isolasi social serta pendekatan asuhan keperawatan.
b. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui tentang isos
2. Untuk mengetahui deskripsi tentang SPTK pada klien dengan isos.
3. Untuk mengetahui TAK yang sesuai pada klien dengan isos.

1.4 Ruang lingkup
Dalam penyusunan kasus laporan ini, penulis melakukan dan membatasin serta memilih
satu asuhan keperawatan yaitu : kerusakan interaksi social.
































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Masalah utama : kerusakan interaksi social ( isolasi social ).
2.1 Definisi
Suatu sikap di mana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang
lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan , pikiran, prestasi, atau
kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan
orang lain, yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri,tidak ada
penelitian ,dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain
(Balitbang, 2007 ).
Merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan maupun komunikasi dengan orang lain (Rawlins,
1993)
Kerusakan interaksi social merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal
yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
social (Depkes RI,2000).
Suatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain menyatakan
sikap yang negative dan mengancam (Townsend,1998).
Isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidakmampuan untuk
mengadakan hubungan dengan oranf lain dan dengan lingkungan sekitarnya
secara wajar dalam khayalaknya sendiri yang tidak realistis.
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain mengatakan sikap negatif atau mengancam.
Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau
merasakan kebutuhan, keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
orang lain tetapi tidak mampu membuat kontrak.
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi
akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan prilaku
maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan.


Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial
adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu
terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi
dengan orang lain dan lingkungan.

2.2 Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial berkembang sesuai
dengan proses tumbuh kembang mulai dari usia bayi sampai dewasa lanjut untuk dapat
mengembangkan hubungan sosial yang positif, diharapkan setiap tahapan
perkembangan dapat dilalui dengan sukses. Sistem keluarga yang terganggu dapat
menunjang perkembangan respon sosial maladaptive.

b. Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif.

c. Faktor sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan berhubungan. Hal ini
diakibatkan oleh norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, tidak
mampunyai anggota masyarakat yang kurang prodiktif seperti lanjut usia, orang cacat
dan penderita penyakit kronis. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku,
dan sistem nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas.

d. Faktor dalam keluarga
Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam gangguan
berhubungan, bila keluarga hanya menginformasikan hal-hal yang negatif akan
mendorong anak mengembangkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang
bertentangan disampaikan pada saat yang bersamaan, mengakibatkan anak menjadi
enggah berkomunikasi dengan orang lain.

2.3 Faktor Presipitasi
a. Stress sosiokultural
Strees dapat ditimbulkan oleh karena menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah
dari orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit.

b. Stressor psikologis
Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan
kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau
kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan
ansietas tingkat tinggi.


2.4 Proses terjadinya masalah

Pattern of parenting
(pola asuh keluarga)
Inefective coping
(Koping Individu
tidak Efektif)
Lack of Development
task
(Gangguan tugas
perkembangan)
Stressor internal
and external (stress
internal dan
eksternal)
Misal: Pada anak
yang
kelahirannya
tidak
dikehendaki
(unwanted child)
akibat kegagalan
KB, hamil di luar
nikah,jenis
kelamin yang
tidak diinginkan,
bentukfisik
kurang menawan
menyebabkan
keluarga
mengeluarkan
Misal: Saat individu
menghadapi
kegagalan
menyalahkan orang
lain,
ketidakberdayaan,
menyangkal tidak
mampu
mengahadapi
kenyataan dan
menarik diri dan
lingkungan,terlalu
tingginya self ideal
dan tidak mampu
menerima realitas
dengan rasa syukur.
Misal: Kegagalan
menjalin
hubungan intim
dengan sesama
jenis atau lawan
jenis, tidak mampu
mandiri dan
menyelesaikan
tugas, bekerja,
bergaul, sekolah,
menyebabkan
ketergantungan
pada orang tua,
rendahnya
ketahanan
terhadap berbagai
Misal: Stress terjadi
Akibat ansietas
yang
berkepanjangan
dan terjadi
bersamaan dengan
keterbatasan
kemampuan
individu untuk
mengatasinya.
Ansietas terjadi
akibatberpisah
dengan orang
terdekat, hilangnya
pekerjaan atau
orang yang


komentar-
komentar
negatif,
merendahkan,
meyalahkan anak
kegagalan. dicintai.









Menurut Stuart Sundeen rentang respons klien ditinjau dan interaksinya dengan
lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respons adaptif dengan
maladaptip sebagai berikut :
Respon Adaptif Respon Maladaptif





Menyendiri
Otonomi
Bekerjasama
Interdependen
Merasa sendiri
Depedensi
Curiga
Interdependen
Menarik diri
Ketergantungan
Manipulasi
curiga
Interdependen
Harga Diri
Rendah Kronis

Isolasi Sosial


1. Respons Adaptif:
Respons yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara
umum serta masih dalam batas normal dalam menyelesaikan masalah
a. Menyendiri : respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
terjadi di lingkungan sosialnya.
b. Otonomi: kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,
perasaan dalam hubungan sosial.
c. Bekerjasama: kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain.
d. Interdependen: saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal.
2. Respons Maladaptif
Respons yang diberikan individu yang menyimpang dan norma sosial. Yang termasuk
respons maladaptif adalah:
a. Menarik diri : seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan
secara terbuka dengan orang lain.
b. Ketergantungan : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga
tergantung dengan orang lain.
c. Manipulasi : seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu
sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
d. Curiga : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
3. Mekanisme koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang
merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme koping yang sering
digunakan pada menarik diri adalah proyeksi dan represi.
Proyeksi adalah keinginan yang tidak dapat ditoleransi ,mencurahkan emosi kepada
oranglain. Karena kesalahan yang dilakukan sendiri.
Regresi adalah menghindari setres,kecemasan dengan menampilkan prilaku kembali
seperti pada perkembangan anak.
Represi adalah menekan perasaan atau pengalaman yang menyakitkan atau komflik
atau ingatan dari kesadaran yang cendrung memperkuat mekanisme ego lainya




2.5 Tanda dan Gejala
1. Gejala Subjektif:
a. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b. Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c. Respons verbal kurang dan sangat singkat.
d. Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
e. Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
f. Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
g. Klien merasa tidak berguna.
h. Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
i. Klien merasa ditolak.
2. Gejala Objektif
a. Klien banyak diam dan tidak mau bicara.
b. Tidak mengikuti kegiatan.
c. Banyak berdiam diri di kamar.
d. Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat.
e. Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal.
f. Kontak mata kurang.
g. Kurang spontan.
h. Apatis (acuh terhadap Iingkungan).
i. Ekspresi wajah kurang berseri.
j. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
k. Mengisolasi diri
l. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
m. Masukan makanan dan minuman terganggu
n. Retensi urin dan feses.
o. Aktivitas menurun
p. Kurang energi (tenaga)
q. Rendah diri
r. Postur tubuh berubah, misatnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur)
Menurut Townsend & Carpenito
1
, isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya
tanda dan gejala sebagai berikut:




1. Data subjektif :
a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan
b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki
2. Data objektif :
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Tampak sedih, afek datar
e. Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu
f. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan
usianya
g. Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya
h. Kurang aktivitas fisik dan verbal
i. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
j. Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

A. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial
2. Harga diri rendah kronis
3. Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
4. Koping keluarga tidak efektif
5. Koping individu tidak efektif
6. Intoleran aktivitas
7. Defisit perawatan diri
8. Risiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan

B. Tindakan Keperawatan
1. Membina Hubungan Saling Percaya
Untuk membina hubungan saling percaya pada pasien isolasi sosial kadang - kadang
perlu waktu yang tidak singkat. Perawat harus konsisten bersikap terapeutik kepada
pasien. Selalu penuhi janji adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan. Pendekatan




yang konsisten akan membuahkan hasil. Bila klien sudah percaya maka apapun yang
akan diprogramkan, klien akan mengikutinya. Tindakan yang harus dilakukan dalam
membina hubungan saling percaya, adalah:
a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
b. Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama dan nama panggilan yang saudara
sukai serta tanyakan nama dan nama panggilan klien.
c. Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.
d. Buat kontrak asuhan : apa yang akan dilakukan bersama klien, berapa lama akan
dikerjakan, dan tempatnya di mana.
e. Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk
kepentingan terapi.
f. Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap klien.
g. Penuhi kebutuhan dasar kilen saat berinteraksi.
2. Membantu Klien Menyadari Perilaku Isolasi Sosial
Mungkin perilaku isolasi sosial yang dialami klien dianggap sebagal perilaku yang
normal. Agar klien menyadari bahwa perilaku tersebut perlu diatasi maka hal yang
pertama dilakukan adalah menyadarkan klien bahwa isolasi sosial merupakan masalah
dan perlu diatasi. Hal tersebut dapat digali dengan menanyakan:
a. Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b. Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang
lain.
c. Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyakteman dan bergaul akrab dengan
mereka.
d. Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan
orang lain.
e. Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik klien.
3. Melatih Klien cara-cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
a. Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain.
b. Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain.
c. Beri kesempatan klien mempraktikkan cara berinteraksi dengan orang lain yang
dilakukan di hadapan perawat.
d. Mulailah bantu klien beninteraksi dengan satu orang teman/anggota keluarga.
e. Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua,
tiga, empat orang, dan seterusnya.


f. Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien.
g. Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain.
Mungkin klien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Beri
dorongan terus menerus agar klien tetap semangat meningkatkan interaksinya.
4. Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.
5. Inventanisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun
kepercayaan diri klien dalam pergaulan.
6. Ajarkan kepada klien koping mekanisme yang konstruktif.



































STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIAL
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 1
Hari/tgl : 15 maret 2014
Jam : 08.00 WIB
Perawat : Faisol
Pasien : mey.
PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien lebih suka menyendiri dan berdiam diri, klien mengatakan malu, tidak mau
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya dan merasa tidak percaya diri.
2.) Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SIP 1 :
a. Bina Hubungan saling Percaya
b. Identifikasi penyebab menarik diri.
c. Keuntungan dan kerugian berinteraksi
d. Latih perkenalan
e. Masukkan jadwal kegiatan pasien.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik
sapa klien dengan ramah
perkenalkan diri
dengan sopan
tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien


jelaskan tujuan pertemuan
jujur dan tepati janji
tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adnya
beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan klien.
b. Identifikasi penyebab menarik diri.
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2.2 Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul
2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik dir, tanda dan gejala.
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
c. Keuntungan dan kerugian berinteraksi
3.1 kaji pengetahuan klien tentang keuntungan dan manfaat bergaul dengan
orang lain.
3.2 Beri kesemapatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
3.3 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang
lain.
3.4 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan
orang lain.
3.5 Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan kerugian apabila tidak
berhubungan dengan orang lain.
3.6 Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain.
Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
d. Latih perkenalan
4.1 kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
4.2 Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui:
Klien-perawat
Klien-perawat-perawat lain
Klien-perawat-perawat lain-klien lain
Klien-kelompok kecil
Klien-keluarga/ kelompok/ masyarakat.


4.3 beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai di rumah
nanti.
4.4 Bantu klien mngevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam
mengisi waktu.
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi.
Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
e. Masukkan jadwal kegiatan pasien.

B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum ibu, Selamat pagi !, Ibu perkenalkan nama saya faisol, Ibu
bisa panggil saya suster atau mas faisol. Saya mahasiswa dari STIKES Bina
Sehat PPNI Mojokerto. Saya praktik di ruang Anggrek ini untuk merawat ibu
selama 1 minggu ke depan..
Ibu namanya siapa? Dan senang dipanggil siapa??
b. Evaluasi / Validasi
Ibu bagaimanakah perasaan ibu pagi ini?? Apakah saya boleh duduk di
samping ibu?Apa yang menyebabkan ibu sampai di rawat disini? Apakah ibu
ingat? Apa ibu mau menceritakannya kepada saya?
c. Kontrak
Topik : bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol tentang perasaan yang
dialami ibu selama ini?
Tempat: ibu mau ngobrol-ngobrol dengan saya dimana? Bagaimana
didepan saja sambil duduk-duduk?
Waktu : Ibu mau ngobrol dengan saya berapa lama ? bagaimana kalau 15
menit ?
2. Fase Kerja
permisi ibu... bagaimanakah perasaan ibu pagi ini?
Ibu kok kelihatannya suka berada didalam kamar sendiri, kira-kira kenapa ibu
lebih suka menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain? Apakah ibu
memiliki masalah? Misal dengan keluarga anda mungkin ? sehingga ibu enggan
berinteraksi dengan orang lain. Apakah ibu mau menceritakannya kepada saya?


Apakah ibu mengetahui kerugian bila ibu tidak mau berinteraksi atau berhubungan
dengan orang lain? Dan apakah ibu tahu apa saja keuntungan bila ibu berinteraksi
atau berhubungan dengan orang lain? Misalnya bisa punya banyak teman, tidak
akan sendirian, bisa saling berdiskusi. Sedangkan bila ibu tidak suka berinteraksi
dengan orang lain akan sebaliknya seperti tidak punya teman, merasa kesepian, dll.
Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain? Saya akan
ajarkan bagaimana caranya. Begini ibu, untuk berkenalan dengan orang lain kita
sebutkan dulu nama kita, dan nama panggilan yang kita suka, alamat kita dan Hobi.
Contohnya: Nama saya Ika wulandari, bisa dipanggil ika, alamat saya sidoarjo,
hobinya membaca.
Selanjutnya ibu menanyakan orang yang di ajak berkenalan seperti nama anda
siapa? Senang dipanggil apa? Alamatnya mana? Dan hobinya apa?
Ayo ibu dicoba!Misalnya saya belum kenal dengan ibu. Coba berkenalan dengan
saya Bu..!tidak usah takut yaa bu.
Baiklah ibu saya akan membuatkan jadwal untuk kegiatan yang ibu lakukan besok?
Apakah ibu mau?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaan ibu sekarang, setelah ibu menceritakan masalah ibu
kepada saya, dan berbincang-bincang dengan saya ?
Dan bagaimana perasaan ibu setelah mengetahui keuntungan dan kerugian
bila ibu berinteraksi?
Evaluasi Obyektif :
setelah kita ngobrol-ngobrol apakah ibu masih ingat apa saja yang
membuat ibu tidak mau berinteraksi dengan orang lain ?
sekarang coba sebutkan keuntungan bila ibu mau berinteraksi dengan
orang lain dan apa kerugiannya bila tidak melakukannya.
b. Rencana tindak lanjut
Ibu besok kita akan ngobrol-ngobrol lagi ? nanti kita bahas hal yang lainnya
dan kita akan latihan berhubungan dengan orang lain,?
c. Kontrak
Topik :


ibu besok kita akan ngobrol-ngobrol lagi dan latihan berhubungan dengan
orang lain.

Waktu :
besok kita ketemu lagi jam 09.00 WIB setelah selesai sarapan pagi,
bagaimana?
Tempat :
ibu besok ingin ngobrol-ngobrol dengan saya dimana ? gimana kalau di taman
saja?
Baiklah kalau begitu perbincangan kita hari, kita sudahi dulu ya?, terima
kasih dan sampai jumpa dengan teman saya besok ya bu..!
wassalamualaikum....!!!




STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIAL
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 2
Hari/tgl : 16 maret 2014
Jam : 08.00 WIB
Perawat : Diaz
Pasien : Mey

PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien lebih suka menyendiri, tidak mau berinteraksi dengan orang lain di
sekitarnya dan merasa tidak percaya diri.
2.) Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SIP 2 :
a. Evaluasi SP1
b. Latihan berhubungan social secara bertahap (pasien dan keluarga)
c. Masukkan jadwal kegiatan pasien.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi SP 1
b. Latihan berhubungan social secara bertahap (pasien dan keluarga)
4.1 kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
4.2 Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui:
Klien-perawat
Klien-perawat-perawat lain
Klien-perawat-perawat lain-klien lain
Klien-kelompok kecil
Klien-keluarga/ kelompok/ masyarakat.


4.3 beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai di rumah
nanti.
4.4 Bantu klien mngevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam
mengisi waktu.
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi.
Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
c. Masukkan jadwal kegiatan pasien.

5 Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum ibu, Selamat pagi !, Ibu perkenalkan nama saya Diaz, Ibu
bisa panggil saya suster atau mas diaz. Saya mahasiswa dari STIKES Bina
Sehat PPNI Mojokerto. Saya praktik di ruang Anggrek ini untuk merawat ibu
selama 1 minggu.
Ibu namanya siapa? Dan senang dipanggil siapa??
b. Evaluasi / Validasi
Ibu bagaimanakah perasaan ibu pagi ini? Semalam ibu bisa tidur nyenyak? Apa
yang sedang ibu pikirkan sekarang?

c. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol tentang keuntungan dan
kerugian berinteraksi dengan orang lain?
Tempat: ibu mau ngobrol-ngobrol dengan saya dimana? Bagaimana kalau
di taman saja?
Waktu : Ibu mau ngobrol dengan saya berapa lama? apakah 15 menit cukup
?
2. Fase Kerja
Bagaimanakah perasaan ibu hari ini? Apakah ibu merasa lebih baik hari ini di
bandingkan dengan kemarin? kemarin kan saya sudah mengajarkan kepada ibu
cara berkenalan dengan orang lain. Apakah ibu sekarang masih ingat caranya
berkenalan? Sekarang coba ulangi lagi sambil bersalaman.


Bagus sekali, ternyata ibu masih ingat !. Setelah ibu saling berkenalan dengan
orang lain tersebut, ibu bisa melanjutkan pembicaraan tentang hal-hal lain misalnya
tentang hobi, pekerjaan, keluarga orang lain tersebut.
Ayoo ibu sekarang kita coba, ibu berkenalan dengan perawat yang ada di teras ini
seperti yang sudah saya ajarkan kemarin.
(bersama-sama mendekati perawat D)
Selamat pagi perawat D, ada yang ingin berkenalan dengan anda, ini pasien saya
yang ingin berkenalan. Silahkan ibu......!!!!
( pasien memperkenalkan diri)
Ibu apa tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, kalau tidak ada kita sudahi
perkenalan ini ya bu.?Sekarang kita kembali ke ruangan ya?
Baiklah ibu sekarang ibu akan menambahkan kegiatan jadwal untuk besok?
Apakah ibu mau?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Ibuuu.... Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan perawat tadi
?
Evaluasi Obyektif :
Ibu tadi saat berkenalan sudah lumayan bagus, terus belajar lagi ya bu..?
jangan lupa selain berkenalan coba tanyakan topik lain supaya perkenalan
berjalan lebih lancar, misalnya menanyakan hobi,pekerjaan, dan keluarga, dll
Rencana tindak lanjut
Ibu besok kita bisa ngobrol-ngobrol lagi ? nanti kita bahas yang lainnya
mengenai latihan berhubungan sosial secara bertahap ya Bu,?
b. Kontrak
Topik :
ibu besok kita akan ngobrol-ngobrol lagi mengenai mengenai latihan
berhubungan sosial secara bertahap ya Bu,?
Waktu :
Besok kita ketemu lagi jam 09.00 WIB setelah selesai sarapan pagi, seperti
hari ini, bagaimana?




Tempat :
ibu besok ingin ngobrol-ngobrol dengan saya dimana ? apakah tetap disini
atau bagaimana kalau di teras depan kamar ibu saja ?
Baiklah kalau begitu perbincangan kita hari, kita sudahi dulu ya?, terima
kasih dan sampai jumpa dengan teman saya besok ya bu..!
wassalamualaikum....!!!





























STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA Ny. S dengan ISOLASI SOSIAL
Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan
Masalah : Isolasi sosial
Pertemuan : 3
Hari/tgl : 17 maret 2014
Jam : 08.00 WIB
Perawat : Zaki
Pasien : Mey

Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien merasa tidak percaya diri, dan sudah mulai mau berinteraksi dengan orang
lain.
2.) Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 3 :
a. Evaluasi kegiatan SP 1,2
b. Latih ADL (kegiatan sehari-hari), cara bicara
c. Masukkan jadwal kegiatan pasien
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi SP 1 &2
b. Latih ADL (kegiatan seharihari), cara bicara
4.1 kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
4.2 Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui:
Klien-perawat
Klien-perawat-perawat lain
Klien-perawat-perawat lain-klien lain
Klien-kelompok kecil
Klien-keluarga/ kelompok/ masyarakat.


4.3 beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai di rumah
nanti.
4.4 Bantu klien mngevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam
mengisi waktu.
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi.
Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
c. Masukkan jadwal kegiatan pasien
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi !! Ibu perkenalkan nama saya zaki, ibu bisa
panggil saya Mas zaki. saya mahasiswa dari Stikes bina sehat PPNI Mojokerto.
Saya praktik di ruang anggrek ini selama satu minggu, Kalau ibu namanya siapa
? senang dipanggil apa??
b. Validasi data
Bagaimana perasaan ibu pagi ini? Ibu apakah ibu masih ingat dengan
keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain, serta cara berkenalan
dengan orang lain?
c. Kontrak
Topik : ibu nanti saya akan mengajarkan ibu bagaimana cara berhubungan
dengan orang lain, misalnya berkenalan dengan perawat lain ?
Tempat : mau dimana bu ingin bercakap-cakap dengan saya ? bagaimana
kalau di teras depan kamar ibu saja ?
Waktu : mau berapa lama bu ?? apakah 20 menit cukup ?

2. Fase kerja
ibu.... apakah ibu kemarin sudah mulai berinteraksi dengan orang lain, misalnya
dengan perawat-perawat disini??
( jika jawaban pasien YA.. )
Coba ibu ceritakan kepada saya bagaimana perasaan ibu setelah mengobrol dengan
perawat lain tersebut ?
Apakah ibu takut atau malah senang??


Bagus sekali ibu, ibu sudah bisa berinteraksi dengan perawat-perawat disini atau
pasien lain yang ada di rumah sakit ini, dengan begitu ibu akan lebih banyak teman
lagi.. ibu tidak usah takut atau malu lagi.

Sekarang waktunya untuk ibu memasukkan atau menambahkan kegiatan ke jadwal
untuk kegiatan ibu besok, apa saja yang ingin ibu lakukan besok, ibu bisa
menjadwalkannya sendiri dengan bantuan saya.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
bagaimana perasaan ibu sekarang, setelah ibu dapat berhubungan
dengan orang lain ?
Evaluasi Objektif
ibu sudah mulai mampu melakukan hubungan sosial dengan baik
b. Rencana Tindak lanjut klien
Ibu besok kita bisa bercakap-cakap lagi ? nanti kita bahas yang lainnya
mengenai bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dan berhubungan dengan
orang lain.
c. Kontrak
Topik : ibu bagaimana kalau besok kita membahas mengenai bagaimana
perasaan ibu setelah berkenalan dan berhubungan dengan orang lain
Waktu : besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB.
Tempat : ibu besok ingin bercakap-cakap dengan saya dimana ? apakah tetap
disini atau bagaimana ?
Baiklah kalau begitu kita sudahi perbincangan kita saat ini, terima kasih sampai
jumpa dengan teman saya besok ya bu !! wassalamualaikum....!!!








STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA NY. S dengan ISOLASI SOSIAL
Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan
Masalah : Isolasi sosial
Pertemuan : 4
Hari/tgl : 18 maret 2014
Jam : 9.00 WIB
Perawat : Putri
Pasien : Mey

Proses keperawatan
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien mulai bisa berinteraksi dengan orang lain.
2.) Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial
3.) Tujuan keperawatan
Tujuan umum : klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 4:
a. Evaluasi SP 1,2,3
b. Latihan ADL (kegiatan sehari-hari) Cara bicara
c. Masukkan jadwal kegiatan pasien.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evalusi SP 1.2.3
b. Latihan ADL (kegiatan sehari-hari) cara bicara
4.1 kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
4.2 Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui:
Klien-perawat
Klien-perawat-perawat lain
Klien-perawat-perawat lain-klien lain
Klien-kelompok kecil
Klien-keluarga/ kelompok/ masyarakat.


4.3 beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai di rumah
nanti.
4.4 Bantu klien mngevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam
mengisi waktu.
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi.
4.7 Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
dengan orang lain.
5.2 Diskusikan dengan klien manfaat berhubungan dengan orang lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klein mengungkapkan
perasaan berhubungan dengan orang lain
c. Membuat jadwal untuk pasien
B. Strategi komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi !! Ibu perkenalkan nama saya Putri, biasa dipanggil mbak putri.
saya mahasiswa dari Stikes bina sehat PPNI Mojokerto.
b. Validasi data
Bagaimana perasaan ibu pagi ini? Apakah ibu merasa senang dapat berkenalan
dengan perawat D kemarin?

c. Kontrak
Topik : bisakah ibu mau menceritakan perasaan ibu setelah berinteraksi
dan berhubungan dengan orang lain?
Tempat : mau dimana ibu ingin berbincang-bincang dengan saya ?
bagaimana kalau di taman ?
Waktu : mau berapa lama bu ?? bagaimana kalau 15 menit ?




2. Fase kerja
ibu apakah ibu sudah mengerti tentang apa saja penyebab dari masalah ibu
tersebut?
sekarang ibu mengetahui kerugian bila ibu tidak mau berinteraksi atau
berhubungan dengan orang lain? Dan ibu juga tahu apa saja keuntungan bila ibu
berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain? Misalnya bisa punya banyak
teman, tidak akan sendirian, bisa saling berdiskusi. Sedangkan bila ibu tidak suka
berinteraksi dengan orang lain akan sebaliknya seperti tidak punya teman, merasa
kesepian, dll.
ibu.... apakah ibu kemarin sudah mulai berinteraksi dengan orang lain, misalnya
dengan teman-teman yang ada disini??
Coba ibu ceritakan kepada saya bagaimana perasaan ibu setelah mengobrol dengan
teman-teman lain tersebut ?
Apakah ibu takut atau malah senang??
Bagus sekali ibu, ibu sudah bisa berinteraksi dengan perawat atau pasien lain yang
ada di rumah sakit ini, dengan begitu ibu akan lebih banyak teman lagi.. ibu tidak
usah takut atau malu lagi.
Baiklah ibu sekarang waktunya ibu menambahkan kegiatan ke jadwal untuk
kegiatan ibu besok, apa yang ingin ibu lakukan besok?

3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif
bagaimana perasaan ibu sekarang, setelah ibu mengetahui penyebab
masalah ibu, dan ibu juga mengetahui keuntungan dan kerugian berinteraksi
dengan orang lain bahkan ibu juga dapat berhubungan dengan orang lain ?
Evaluasi Obyektif
ibu sudah mulai mampu melakukan hubungan sosial dengan baik,
mengetahui keuntungan dan kerugian dari berinteraksi dengan baik
b. Rencana tindak lanjut
Nah, ibu sudah mulai bisa berhubungan dengan orang lain, ibu nanti bisa
melakukan sendiri kegiatan seperti perkenalan yang sudah kita pelajari
bersama seperti kemarin ibu lakukan dengan perawat sini. Kita masukkan
jadwal kegiatan harian ya bu,, untuk pertemuan hari ini?


c. Kontrak
Topik : untuk pertemuan selanjutnya teman saya akan menjelaskan pada
keluarga ibu bagaimana cara merawat ibu secara langsung.
Tempat :Tempatnya mau dimana? Bagaimana kalau di tempat biasanya?
Waktu : Bagaimana kalau besok jam 09.00 bertemu lagi dengan teman saya,
selamat pagi ibuu,,, assalamualaikum..









STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIAL PADA KELUARGA
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 5
Hari/tgl : 19 maret 2014
Jam : 09.00 WIB
Perawat : Maya
Pasien : Mey
Keluarga : Faisol

PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien mulai bisa berinteraksi dengan orang lain.
2.) Diagnosa Keperawatan
Kerusakan interaksi social : Isolasi sosial
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 1 :
a. Bina Hubungan saling Percaya
b. Identifikasi masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
c. Penjelasan isos
d. Cara merawat isos
e. Latihan (simulasi)
f. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. BHSP
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
- Salam, perkenalkan diri.
- Sampaikan tujuan.
- Membuat kontrak.
- Explorasi perasaan keluarga.


b. Identifikasi masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
c. Penjelasan isos
d. Cara merawat isos
e. Latihan (simulasi)
6.2 diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
- perilaku menarik diri.
- Penyebab perilaku menarik diri.
- Cara keluarga mengahadapi klien yang sednag menarik diri.
6.3 dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin dan bergantian mengunjungi
klien minimal 1x seminggu.
6.5 Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
f. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien

B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi bapak/Ibu. Apa benar bapak/ibu orang tua
dari M..? Perkenalkan nama saya maya, atau bisa dipanggil suster maya. Saya
mahasiswa dari STIKES Bina Sehat PPNI Mojokerto, yang sedang praktik di
rumah sakit ini. Dan saya yang merawat anak bapak M.
Bapak namanya siapa? Senang dipanggil siapa?

b. Evaluasi / Validasi
Bagaimanakah perasaan bapak/ibu hari ini? Bagaimana kondisi S hari ini?
c. Kontrak
Topik : bapak/ibu bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol tentang masalah
anak bapak/ibu, isolasi sosial, serta cara merawat M?
Tempat: Bapak/ibu mau ngobrol-ngobrol dengan saya dimana? Bagaimana
disini saja sambil duduk-duduk?
Waktu : Bapak/Ibu mau ngobrol dengan saya berapa lama ? bagaimana
kalau 20 menit ?



2. Fase Kerja
Bapak/Ibu apakah ibu tahu masalah yang sedang dialami oleh anak bapak/ibu?
Apakah saja masalah yang bapak/ibu hadapi dalam merawat M? apa saja yang
sudah dilakukan?.
Masalah yang dihadapi oleh M disebut Isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala
penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain.
Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri,
kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk
Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan
saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau
berpisah dengan orang terdekat.
Menurut yang diceritakan oleh M, ia lebih suka menyendiri dan tidak mau
bergaul/berinteraksi dengan orang lain karena ia merasa malu,karena ia merasa
hanya dia yang tidak bisa melanjutkan kuliah sedangkan semua temannya
berkuliah. Sehingga pasien merasa minder dan lebih suka menyendiri.
Untuk itu disini keluarga sangat berperan penting dalam mengatasi masalah anak
bapak/ibu. Keluarga harus bersabar dalam menghadapapi M. untuk mengatasi
masalahnya pertama, keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan M,
caranya bersikap peduli dan jangan ingkar janji. Kedua mengajak M untuk
berinteraksi dengan cara berjalan-jalan, selanjutnya keluarga perlu memberikan
semangat dan dorongan kepada M untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama
dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi pasien.
Apakah bapak/ibu bisa mengerti dan melakukan hal yang sudah saya ajarkan tadi?
Ayo coba peragakan hal yang saya ajarkan tadi, sekarang..!
Baiklak bapak/ibu saya akan membuatkan jadwal untuk merawat pasien, apakah
bapak/ibu bersedia?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaanbapak/ibu setelah kita ngobrol-ngobrol? apakah sudah
mengerti dengan apa yang sudah saya jelaskan tadi?
Evaluasi Obyektif :
Apakah bapak/ibu bisa melakukan hal yang sudah saya ajarkan tadi?



b. Rencana tindak lanjut
Bapak/Ibu bisa melakukan kegiatan yang kita pelajari hari ini pada M,
bapak/ibu juga bisa mengajari anggota keluarga yang lain untuk menerapkan
hal ini saat dirumah agar lebih mudah menyelesaikan masalah ini
c. Kontrak
Topik :
Bapak/ibu selanjutnya kita akan bertemu untuk latihan/menerapkan apa
yang sudah bapak/ibu pelajari kepada M langsung. Bapak/Ibu maunya kapan?
Bagaimana kalau besok?
Waktu :
besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB, bagaimana?
Tempat :
Bapak/ibu besok ingin bertemu dimana ? gimana kalau di taman saja? Besok
teman saya yang akan menemani bapak/ibu untuk latihan langsung apa yang
sudah kita pelajari pada M.
Baiklah kalau begitu perbincangan kita hari, kita sudahi dulu ya?, terima
kasih dan sampai jumpa dengan teman saya besok ya Pak/bu..!
wassalamualaikum....!!!















STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIALPADA KELUARGA
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 6
Hari/tgl : 20 maret 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Mey
Pasien : Maya
Keluarga : Diaz

PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien mulai bisa berinteraksi dengan orang lain.
2.) Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 2 :
a. Evaluasi SP 1 (Keluarga)
b. Latih (langsung ke pasien).
c. Rencana tindak lanjut keluarga.
4.) Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi SP 1 (Keluarga)
b. Latih (langsung ke pasien).
1.2 diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
- perilaku menarik diri.
- Penyebab perilaku menarik diri.
- Cara keluarga mengahadapi klien yang sednag menarik diri.
6.3 dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
berkomunikasi dengan orang lain.


6.4 Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin dan bergantian
mengunjungi klien minimal 1x seminggu.
6.5 Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
c. Rencana tindak lanjut keluarga.

B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi bapak/Ibu. Perkenalkan nama saya Mey, atau
bisa dipanggil suster Mey. Saya mahasiswa dari STIKES Bina Sehat PPNI
Mojokerto. Saya juga yang merawat M disini

b. Evaluasi / Validasi
Bagaimanakah perasaan bapak/ibu hari ini? Apakah bapak/ibu masih ingat
latihan merawat M, yang saya ajarkan kemarin?
c. Kontrak
Topik : bapak/ibu disini saya mengevaluasi apa yang sudah kita bicarakan
kemarin? Bagaimana kalau kita praktekkan langsung ke M
Tempat: Bapak/ibu mau dimana? Bagaimana kalau di Ruangan M?
Waktu : Bapak/Ibu mau berapa lama ? bagaimana kalau kita coba 30 menit
?
2. Fase Kerja
Assalamualaikum Ibu/bapak...? apakah bapak/ibu sudah mengerti bagaimana
cara merawat pasien? Seperti apa yang saya ajarkan kemarin, kalau sudah mengerti
Bapak/Ibu sekarang coba sekarang praktikkan apa yang kita bicarakan kemarin
kepada pasien secara langsung seperti mengajak pasien berjalan-jalan dan
berkenalan dengan orang lain. Saya akan memperhatikan apa yang bapak/ibu
lakukan.
baiklah bapak/ibu sudah cukup baik dalam mempraktikkanya, maka besok akan
kita coba lagi agar Ny.M terbiasa.
bapak/mbak.. sudah kita lihat banyak perubahan yang ada pada Ny.M. Dimana
Ny.M sudah cukup mampu saat kita ajak berinteraksi, dan sudah lebih bisa
berhubungan dengan orang lain, tidak seperti sebelumnya bukan.
Sekarang waktunya bapak/ibu menambahkan kegiatan ke jadwal untuk kegiatan
merawat pasien besok



3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah latihan langsung pada M tadi?
Apakah bapak/ibu sudah bisa mengawasi M dengan baik??
Evaluasi Obyektif :
Apakah bapak/ibu bisa melakukan hal yang sudah saya ajarkan tadi?
d. Rencana tindak lanjut
Bapak/Ibu bisa melakukan kegiatan yang kita pelajari hari ini pada Ny.M,
bapak/ibu juga bisa mengajari anggota keluarga yang lain untuk menerapkan
hal ini saat dirumah agar lebih mudah menyelesaikan masalah ini
e. Kontrak
Topik :
Bapak/ibu selanjutnya kita akan bertemu untuk latihan/menerapkan apa
yang sudah bapak/ibu pelajari kepada M langsung. Bapak/Ibu maunya kapan?
Bagaimana kalau besok?
Waktu :
besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB, bagaimana?
Tempat :
Bapak/ibu besok ingin bertemu dimana ? gimana kalau di taman saja? Besok
teman saya yang akan menemani bapak/ibu untuk latihan langsung apa yang
sudah kita pelajari pada M.
Baiklah kalau begitu perbincangan kita hari, kita sudahi dulu ya?, terima
kasih dan sampai jumpa dengan teman saya besok ya Pak/bu..!
wassalamualaikum....!!!







STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIALPADA KELUARGA
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 7
Hari/tgl : 21 maret 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Muslik
Pasien : Mey
Keluarga : Putri

PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1.) Kondisi klien
Klien mulai bisa berinteraksi dengan orang lain.
2.) Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3.) Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 3 :
a. Evaluasi SP 1 dan 2
b. Latihan (langsung ke pasien)
c. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien
4.) Rencana Tindakan Keperawatan (SP 2 keluarga)
a. Evaluasi SP 1 dan 2
6.1 diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
perilaku menarik diri.
Penyebab perilaku menarik diri.
Cara keluarga mengahadapi klien yang sednag menarik diri.
6.2 dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
berkomunikasi dengan orang lain.
6.1 Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin dan bergantian mengunjungi
klien minimal 1x seminggu.


6.2 Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
b. Latihan (langsung ke pasien)
c. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien

B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi bapak/Ibu. Perkenalkan nama saya Muslik,
atau bisa dipanggil perawat muslik. Saya mahasiswa dari STIKES Bina Sehat
PPNI Mojokerto. Saya juga yang merawat M disini

b. Evaluasi / Validasi
Bagaimanakah perasaan bapak/ibu hari ini? Apakah bapak/ibu masih ingat
latihan merawat M, yang saya ajarkan kemarin?
c. Kontrak
Topik : bapak/ibu disini saya mengevaluasi apa yang sudah kita bicarakan
kemarin? Bagaimana kalau kita praktekkan langsung ke M
Tempat: Bapak/ibu mau dimana? Bagaimana kalau di Ruangan M?
Waktu : Bapak/Ibu mau berapa lama ? bagaimana kalau kita coba 30 menit
?
2. Fase Kerja
Assalamualaikum Ibu/bapak...?. kemarin apa yang sudah bapak/ibu lakukan
kepada Ny.M sudah cukup baik.
Baiklah bapak/Ibu sekarang coba sekarang praktikkan kemarin kepada Ny.M.
Mungkin sekarang bapak/ibu ajak Ny.M berinteraksi dan berbincang-bincang atau
berjalan-jalan lagi seperti kemarin. Dan saya akan mengawasi tindakan bapak/ibu
kepada Ny.M
bapak/mbak melakukannya dengan baik sekarang dan sudah kita lihat banyak
perubahan yang ada pada Ny.M. Dimana Ny.M sudah cukup mampu saat kita ajak
berinteraksi, dan sudah lebih bisa berhubungan dengan orang lain, tidak seperti
sebelumnya bukan.
Sekarang waktunya bapak/ibu menambahkan kegiatan ke jadwal untuk merawat
pasien besok, saya akan membantu juga



3. Fase terminasi
d. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah latihan langsung pada M tadi?
Apakah bapak/ibu sudah bisa mengawasi M dengan baik??
Evaluasi Obyektif :
Apakah bapak/ibu bisa melakukan hal yang sudah saya ajarkan tadi?
e. Rencana tindak lanjut
Bapak/Ibu bisa melakukan kegiatan yang kita pelajari hari ini pada M,
bapak/ibu juga bisa mengajari anggota keluarga yang lain untuk menerapkan
hal ini saat dirumah agar lebih mudah menyelesaikan masalah ini
f. Kontrak
Topik :
Bapak/ibu selanjutnya kita akan bertemu untuk latihan/menerapkan apa
yang sudah bapak/ibu pelajari kepada M langsung. Bapak/Ibu maunya kapan?
Bagaimana kalau besok?
Waktu :
besok kita ketemu lagi jam 10.00 WIB, bagaimana?
Tempat :
Bapak/ibu besok ingin bertemu dimana ? gimana kalau di taman saja? Besok
teman saya yang akan menemani bapak/ibu untuk latihan langsung apa yang
sudah kita pelajari pada M.
Baiklah kalau begitu perbincangan kita hari, kita sudahi dulu ya?, terima
kasih dan sampai jumpa dengan teman saya besok ya Pak/bu..!
wassalamualaikum....!!!









STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIALPADA KELUARGA
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Masalah : Isolasi Sosial
Pertemuan : 8
Hari/tgl : 22 maret 2014
Jam : 10.00 WIB
Perawat : Faisol
Pasien : Maya
Keluarga : Mey

PROSES KEPERAWATAN
A. Pra Interaksi
1. Kondisi klien
Klien mulai bisa berinteraksi dengan orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
SP 4 :
a. Evaluasi kemampuan keluarga
b. Evaluasi kemampuan pasien
c. Rencana tindak lanjut keluarga:
Follow up
Rujukan
b. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Evaluasi kemampuan keluarga
b. Evaluasi kemampuan pasien
6.2 diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
perilaku menarik diri.
Penyebab perilaku menarik diri.
Cara keluarga mengahadapi klien yang sednag menarik diri.


6.3 dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin dan bergantian mengunjungi
klien minimal 1x seminggu.
6.5 Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
c. Rencana tindak lanjut keluarga:
Follow up
Rujukan
B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi bapak/Ibu. Perkenalkan nama saya faisol, atau
bisa dipanggil perawat faisol. Saya mahasiswa dari STIKES Bina Sehat PPNI
Mojokerto. Saya juga yang merawat M disini

b. Evaluasi / Validasi
Bagaimanakah perasaan bapak/ibu hari ini? Apakah bapak/ibu masih ingat
latihan merawat M, yang saya ajarkan kemarin?
c. Kontrak
Topik : bapak/ibu disini saya mengevaluasi apa yang sudah kita bicarakan
kemarin? Bagaimana kalau kita praktekkan langsung ke M
Tempat: Bapak/ibu mau dimana? Bagaimana kalau di Ruangan M?
Waktu : Bapak/Ibu mau berapa lama ? bagaimana kalau kita coba 30 menit
?
2. Fase Kerja
Assalamualaikum Ibu/bapak...? Bapak/Ibu sekarang sudah baik dalam
mempraktikkan bagaimana cara untuk membuat Ny.M berani berinteraksi lagi
dengan orang lain.
bapak/mbak sekarang sudah kita lihat banyak perubahan yang ada pada M.
Dimana M sudah cukup mampu saat kita ajak berinteraksi, dan sudah lebih bisa
berhubungan dengan orang lain, tidak seperti sebelumnya.
Bapak/Ibu juga bisa mengajari anggota keluarga yang lain untuk melakukan hal
seperti yang Bapak/Ibu lakukan tadi, sehingga nanti bisa mempermudah dan dapat


membantu klien untuk berhubungan sosial, baik dalam keluarga maupun dalam
lingkungan sekitar.
jika obat Ny.M sudah habis bapak/ibu bisa meminta resep lagi kepada dokter,
kalau Ny.M tidak menunjukkan sikap isolasi social lagi maka dimohon untuk
menghentikan peminuman obat. Jika hal ini terjadi segera hubungi saya di
Puskesmas Permata Indah, puskesmas terdekat dari rumah Bapak, ini nomor
telepon puskesmasnya (0321) 456789.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
Evaluasi Subjektif :
Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah latihan langsung pada M tadi?
Apakah bapak/ibu sudah bisa mengawasi M dengan baik??
Evaluasi Obyektif :
Apakah bapak/ibu bisa melakukan hal tadi saat merawat M di rumah?
b. Rencana tindak lanjut
Bapak/Ibu juga bisa mengajari anggota keluarga yang lain untuk melakukan
hal seperti yang Bapak/Ibu lakukan tadi, sehingga nanti bisa mempermudah
dan dapat membantu klien untuk berhubungan sosial, baik dalam keluarga
maupun dalam lingkungan sekitar. Jangan lupa selalu lakukan hal ini ya
Pak/Bu? khususnya untuk keluarga klien, agar tidak terjadi hal seperti
kemarin lagi. Ini pertemuan kita yang terakhir, semoga tindakan apa saja yang
kita lakukan dan kita jelaskan dapat bermanfaat bagi kesembuhan M,
Terimakasih atas waktunya Pak/Bu.wassalam

Anda mungkin juga menyukai