Anda di halaman 1dari 40

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
ANION

OLEH :
KELOMPOK 3
JENI RUSTAN N11112009
IKA RESKIA NURUL HAMKA N11112105
NURUL FAJARYANTI N11112341
AYU ISTIQOMAH N11112296
KRISMAWATI SIMON N11112268
ARMALA SAHID N11112902
SUHARPIAMI N11110
EDWIND RINALDI N11112266

GOLONGAN RABU PAGI
ASISTEN : NANA ZELDA ZAINAL

MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Ilmu kimia analitik adalah ilmu yang mendasari analisa bahan, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. Dalam metode analitik modern, kedua hal ini penting
karena perlu untuk mensintesis zat yang bersangkutan. Analisis kualitatif merupakan
salah satu metode analitik untuk mencari dan mengidentifikasi unsur radikal, ion
maupun senyawa dalam suatu zat atau campuran zat yang tidak diketahui.
Dalam bidang analisis farmasi, identifikasi bahan baku yang digunakan sebagai
bahan obat atau bahan bantu tidak begitu banyak dilakukan. Namun yang banyak
dilakukan adalah identifikasi anion atau ion yang merupakan bagian bahan obat,
bahan baku, bahan bantu, dan sediaan obat atau analisis anion ini jika berada
sebagai pencemar.
Anion merupakan ion sisa asam, atau ion yang bermuatan negatif, berbeda
dengan kation. Suatu senyawa kimia pasti merupakan gabungan antara kation
dengan anion. Oleh karena itu sifat-sifat suatu senyawa pasti dipengaruhi oleh
kation maupun anion.
Identifikasi sampel untuk anion, penting untuk dilakukan. Misalnya untuk
mendeteksi logam berat yang mungkin membahayakan tubuh. Adapun reaksi
identifikasi adalah cara untuk mengenal (menunjukkan) ion-ion, baik kation maupun
anion dalam larutan dengan menggunakan pereaksi-pereaksi terbatas.




I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
I. 2. 1 Maksud Percobaan
Mengetahui berbagai cara untuk menentukan golongan, mengidentifikasikan
anion dari beberapa sampel.
I. 3. 1 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami penentuan golongan anion berdasarkan
reaksi dengan AgNO
3
dan Ba(NO
3
)
2
, serta pengidentifikasiannya berdasarkan
perekasi spesifiknya masing-masing.

I.3. Prinsip Percobaan
1. Anion golongan I
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan putih atau kuning dan tidak
larut dalam HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer tidak
terjadi reaksi, maka ion-ion golongan ini adalah klorida, bromida, iodida, dan
tiosianat.
2. Anion golongan II
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan hitam dan tidak larut dalam
HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer tidak terjadi reaksi,
maka ion golongan ini adalah sulfur.
3. Anion golongan III
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan putih dan larut dalam
HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer tidak terjadi reaksi,
maka ion-ion golongan ini adalah nitrit dan asetat.
4. Anion golongan IV
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan putih dan larut dalam
HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer terbentuk endapan
putih dan larut dalam HNO
3
encer, maka ion-ion golongan ini adalah sulfit, karbonat,
bikarbonat, dan oksalat.
5. Anion golongan V
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan putih-hitam dan tidak larut
dalam HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer terbentuk
endapan putih dan larut dalam HNO
3
encer, maka ion golongan ini adalah tiosulfat.
6. Anion golongan VI
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer terbentuk endapan berwarna dan larut dalam
HNO
3
encer, serta pada penambahan Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer terbentuk endapan
putih-berwarna dan larut dalam HNO
3
encer, maka ion-ion golongan ini adalah
kromat, posfat, dan arsenat.
7. Anion golongan VII
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer tidak terjadi reaksi, serta pada penambahan
Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer terbentuk endapan putih dan tidak larut dalam HNO
3

encer, maka ion golongan ini adalah sulfat.
8. Anion golongan VII
Mengidentifikasi dengan uji pendahuluan yaitu uji organoleptis berupa warna,
bentuk, bau, rasa, dan kelarutan. Setelah itu larutan ditambahkan AgNO
3
dan
endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Diambil lagi suatu larutan yang sama dan
ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan endapannya ditambahkan HNO
3
encer. Jika pada
penambahan AgNO
3
dan HNO
3
encer tidak terjadi reaksi, serta pada penambahan
Ba(NO
3
)
2
dan HNO
3
encer juga tidak terjadi reaksi, maka ion-ion golongan ini
adalah nitrat dan permanganat.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Metode yang tersedia untuk mendeteksi anion tidak sistematik seperti
metode yang dalam mendeteksi kation. Sampai kini, belum pernah dikemukakan
suatu skema yang benar-benar memuaskan, yang memungkinkan pemisahan
anion-anion yang umum ke dalam golongan-golongan utama, dan pemisahan yang
berikutnya yang tanpa dapat diragu-ragukan lagi dari masing-masing golongan
menjadi anggota-anggota golongan tersebut yang berdiri sendiri. Namun kita harus
sebutkan disini, bahwa kita memang bisa memisahkan anion-anion ke dalam
golongan utama, bergantung pada kelarutan garam peraknya, garam kalsium, atau
bariumnya, dan garam zinknya. Namun, ini hanya boleh dianggap berguna untuk
memberi indikasi dari keterbatasan-keterbatasan metode ini dan untuk memastikan
hasil-hasil yang diperoleh dengan prosedur-prosedur yang lebih sederhana.(3)
Skema klasifikasi, ternyata telah berjalan dengan baik dalam praktek.
Skema ini bukanlah skema yang kaku karena beberapa anion termasuk dalam
lebih dari satu sub-golongan,lagi pula tak mempunyai dasar teoritis. Pada
hakekatnya, proses-proses yang dipakai dapat dibagi ke dalam (A) proses yang
melibatkan identifikasi produk-produk yang mudah menguap, yang diperoleh pada
pengolahan dengan asam-asam, dan (B) proses yang tergantung pada reaksi-
reaksi dalam larutan. Kelas A dibagi lagi ke dalam sub-klas (i) gas-gas dilepaskan
dengan asam-asam klorida encer atau asam sulfat encer, dan (ii) gas atau uap
dilepaskan dengan asam sulfat pekat. Kelas B dibagi lagi ke dalam sub-klas (i)
reaksi pengendapan, dan (ii) oksidasi dan reduksi dalam larutan. Pada dasarnya
proses-proses yang dipakai dapat dibagi menjadi:
1. Proses yang melibatkan identifikasi produk-produk yang mudah menguap
yang diperoleh pada pengolahan dengan asam-asam, dibagi dalam sub
kelas:
(i). Gas-gas yang dilepaskan dengan asam klorida atau asam sulfat encer.
(ii). Gas atau uap yang dilepaskan dengan asam sulfat panas.
2. Proses yang bergantung pada reaksi-reaksi dalam larutan dibagi dalam:
(i). Reaksi pengendapan.
(ii). Oksidasi reduksi dalam larutan.
Bila bahan padat untuk analisa kation harus dilarutkan (dalam air atau HCl)
maka untuk penentuan anionnya, bahan tidak perlu dilarutkan dahulu. Penentuan
anion berlaku untuk dua bagian. Untuk penentuan ini CO
3
-
dan HCO
3
-
, dan untuk
penentuan anion-anion yang lain.(2)
Untuk penentuan CO
3
-
dan HCO
3
-
, bahan dalam keadaan aslinya ditambahkan
HCl encer kalau perlu disertai pemanasan. Akan terbentuk H
2
CO
3
yang terurai
karena pemanasan, menghasilkan gas CO
2
. Selanjutnya mudah menguji untuk CO
2

itu. Keseluruhan pengujian ini spesifik untuk ion CO
3
-
dan HCO
3
-
, tetapi tidak dapat
menetapkan apa yang benar terjadi dan yang ada.(2)
Untuk penentuan anion-anion yang lain, bahan diberi larutan Na
2
CO
3
lalu
dimasak. Bila terjadi endapan, campuran ini digunakan; bila terbentuk endapan,
disaring dan dicuci filtrat yang digunakan. Untuk setiap anion daiambil sebagian dari
cairan tersebut dan dilakukan reaksi-reaksi yang membedakan anion yang sedang
dicuci dari anion yang lain (2).



Istilah-istilah kelarutan (4) :
Istilah Kelarutan
Jumlah bagian pelarut untuk
melarutkan 1 bagian zat terlarut
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1-10
Larut 10-30
Agak sukar larut 30-100
Sukar larut 100-1000
Sangat sukar larut 1000-10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000

II.2 Uraian Bahan
1. KHCO
3

Nama resmi/Nama lain : Kalium Hidrogen Karbonat
RM/BM : KHCO
3

Pemerian : Prisma monoklin tidak berwarna;
transparan atau serbuk berbutir putih
Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air
2. Na
2
CO
3
( 1 : 400)
Nama resmi/Nama lain : Natrii Carbonas / Natrium Karbonat
RM/BM : Na
2
CO
3
. H
2
O / 124,00
Pemerian : Hablur tidak berwarna
Kelarutan : Mudah larut dalam air; lebih mudah
larut dalam air mendidih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Penggunaan : Zat tambahan
3. CaCO
3
( 1 : 120)
Nama resmi/Nama lain : Calcii Carbonas / Kalsium Karbonat
RM/BM : CaCO
3
/ 68,09
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau,tidak
berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Penggunaan : Antisidum
4. Natrium Sulfit ( 1 : 716)
Nama resmi/Nama lain : Natrium Sulfit
RM/BM : Na
2
SO
3
. H
2
O
Pemerian : Hablur; putih atau tidak berwarna
Kelarutan : larut dalam 2 bagian air
5. Magnesium Karbonat Ringan ( 1 : 351)
Nama resmi : Magnesii Carbonas Levis
Nama lain : Magnesium Karbonat Ringan
RM/BM : MgCO
2
Pemerian : Serbuk, putih; tidak berbau
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
6. Kalum heksasianoferat (II)
Nama resmi/Nama lain : Kalium heksasianoferat (II)
RM/BM : K
4
Fe(CN)
6
. 3H
2
O
Pemerian : Serbuk hablur, kuning
Kelarutan : Larut dalam air
7. Kalium Nitrit ( 1 : 691)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Nitrit
RM/BM : KNO
2
/ 85,10
Pemerian : Butiran atau batang; putih atau kuning
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
8. Kalium Sianida ( 1 : 691)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Sianida
RM/BM : KCN
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau,
Kelarutan : Mudah larut dalam air
9. Natrium Tiosulfat ( 1 : 428)
Nama resmi/Nama lain : Natrii Thiosulfas / Natrium Thiosulfat
RM/BM : Na
2
S
2
O
3
. 5 H
2
O / 248,7
Pemerian : Hablur besar, tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam 0,5 bagian air, praktis
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
10. Asam Klorida Encer ( 1 : 53)
Nama resmi : Acidun Hydrochloridum Dilutum
Nama lain : Asam Klorida Encer
RM/BM : HCl / 36,5
Pemerian : Tidak berwarna, tidak berbau
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
11. Raksa (II) Klorida ( 1 : 287)
Nama resmi : Raksa (II) Klorida
Nama lain : Hydragiri Bichloridum
RM/BM : HgCl
2
/ 271,52
Pemerian : Hablur tidak berwarna; atau serbuk
Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
12. Magnesium Sulfat ( 1 : 354)
Nama resmi/Nama lain : Magnesii Sulfas / Magnesium Sulfat
RM/BM : MgSO
4
. 7H
2
O / 246,47
Pemerian : Hablur tidak berwarna; tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
13. Perak Nitrat ( 1 : 97)
Nama resmi/Nama lain : Argentii Nitras / Perak Nitrat
RM/BM : AgNO
3
/ 169,87
Pemerian : Hablur transparan
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat/baik
14. Barium Klorida ( 1 : 656)
Nama resmi/Nama lain : Barium Klorida
RM/BM : BaCl
2

Pemerian : Hablur tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
15. Besi (II) Sulfat ( 1 : 254)
Nama resmi/Nama lain : Ferrosi Sulfas / Besi (II) Sulfat
RM/BM : FeSO
4
/ 151,90
Pemerian : Serbuk; putih keabuan rasa logam
Kelarutan : Perlahan-lahan larut hampir sempurna
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
16. Kalium Iodida ( 1 : 330)
Nama resmi/Nama lain : Kalii Iodidum / Kalium Iodida
RM/BM : KI / 166,00
Pemerian : Hablur heksahedral; transparan
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
17. Timbal (II) Asetat ( 1 : 733)
Nama resmi/Nama lain : Plumbii Acetas / Timbal (II) Asetat
RM/BM : Pb(CH
3
COO)
2
. 3 H
2
O
Pemerian : Prisma monoklinik, kecil
18. Ammonium Klorida
Nama resmi/Nama lain : Amonii Chloridum / Amonium Klorida
RM/BM : NH
4
Cl / 53,49
Pemerian : Serbuk; putih keabuan rasa logam
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan gliserol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
18. Natrium Klorida (1 : 403)
Nama resmi/Nama lain : Natrii Chloridum / Natrium Klorida
RM/BM : NaCl
Pemerian : Hablur heksahedral, tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Penggunaan : Sebagai sampel
19. Natrium Hipoklorit
Nama resmi/Nama lain : Natrium Hipoklorit
Pemerian : Cairan jernih; kuning kehijauan pucat
20. Amonium Molibdat ( 1 : 644)
Nama resmi/Nama lain : Amonium Molibdat
RM/BM : (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
. 4 H
2
O
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur; putih
Kelarutan : Larut dalam air
21. Timbel (II) Nitrat ( 1 : 733)
Nama resmi/Nama lain : Timbel (II) Nitrat
RM/BM : PbNO
3

Pemerian : Hablur tidak berwarna
22. Raksa (II) Klorida ( 1 : 287)
Nama resmi : Hydragiri Subchloridum
Nama lain : Raksa (II) Klorida
RM/BM : HgCL
2
/ 472,14
Pemerian : Serbuk halus; berat; putih
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
23. Tembaga (II) Sulfat ( 1 : 731)
Nama resmi/Nama lain : Tembaga (II) Sulfat
RM/BM : CuSO
4
. 5 H
2
O
Pemerian : Plasma triklinik atau serbuk hablur
Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air
24. Mangan (IV) Oksida ( 1 : 704)
Nama resmi/Nama lain : Mangan (IV) Oksida
RM/BM : MnO
2

Pemerian : Hitam atau hitam kecoklatan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
25. Natrium Fluorida ( 1 : 711)
Nama resmi/Nama lain : Natrium Fluorida
RM/BM : NaF / 41,99
Pemerian : Serbuk; warna putih; tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam 25 bagian air
26. Kalium Nitrat ( 1 : 691)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Nitrat
RM/BM : KNO
3

Pemerian : Hablur tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam 3,3 bagian air
27. Amonium Nitrat ( 1 : 644)
Nama resmi/Nama lain : Amonium Nitrat
RM/BM : NH
4
NO
3

Pemerian : Tidak berwarna
Kelarutan : Mudah larut dalam air
28. Kalium Klorat ( 1 : 690)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Klorat
RM/BM : KClO
3

Pemerian : Serbuk putih atau hablur
Kelarutan : Larut dalam 16 bagian air
29. Kalium Iodat ( 1 : 689)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Iodat
RM/BM : KIO
3

Pemerian : Serbuk hablur; putih
Kelarutan : Larut dalam air
30. Kalium Bromat ( 1 : 687)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Bromat
RM/BM : KbrO
3

Pemerian : Serbuk hablur; putih
Kelarutan : Bercampur dengan air
31. Asam perklorat ( 1 : 651)
Nama resmi/Nama lain : Asam perklorat
RM/BM : HClO
4

Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna
Kelarutan : Bercampur dengan air
32. Asam Borat ( 1 : 49)
Nama resmi/Nama lain : Acidum Boricum / Asam Borat
RM/BM : H
3
BO
3
/ 61,83
Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih
Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
33. Asam Sulfat ( 1 : 58)
Nama resmi/Nama lain : Acidum Sulfuricum / Asam Sulfat
RM/BM : H
2
SO
4
/ 98,07
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Penggunaan : Sebagai sampel
34. Barium Sulfat ( 1 : 105)
Nama resmi/Nama lain : Barii Sulfas / Barium Sulfat
RM/BM : BaSO
4
/ 124,00
Pemerian : Serbuk halus, bebas butiran,
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
35. Natrium Sulfat ( 1 : 715)
Nama resmi/Nama lain : Natrium Sulfat
RM/BM : Na
2
SO
4

Pemerian : Hablur tidak berwarna; tidak berbau. Kelarutan
: Larut dalam 2,5 bagian air
36. Kalsium Sulfat
Nama resmi/Nama lain : Calcii Sulfas / Kalsium Sulfat
RM/BM : CaSO
4
/ 136,14
Pemerian : Serbuk halus; putih sampai agak putih
Kelarutan : Larut dalam asam klorida encer P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Penggunaan : Sebagai sampel
37. Kalium Sulfat ( 1 : 692)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Sulfat
RM/BM : K
2
SO
4

Pemerian : Hablur, putih atau tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam air
38. Kalium Permanganat ( 1 : 330)
Nama resmi : Kalii Permanganas
Nama lain : Kalium Permanganat
RM/BM : KmnO
4
/ 158,03
Pemerian : Hablur mengkilap; ungu tua
Kelarutan : Larut dalam 16 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
39. Asam Metafosfat
Nama resmi/Nama lain : Asam Metafosfat
RM/BM : HPO
3

Pemerian : Gumpalan transparan atau batang
Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air
40. Natrium Fosfat ( 1 : 227)
Nama resmi : Dinatrii Hydro Genphosphas
Nama lain : Dinatrium Hidrogen Fosfat
RM/BM : Na
2
HPO
4
/ 358,14
Pemerian : Hablur tidak berwarna; tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Penggunaan : Sebagai sampel
41. Kalium Fosfat ( 1 : 688)
Nama resmi/Nama lain : Kalium Fosfat
RM/BM : K
2
HPO
4

Pemerian : Serbuk hablur; putih
Kelarutan : Larut dalam air
42. Natrium Hidroksida ( 1 : 412)
Nama resmi : Natrii Hydroxydum
Nama lain : Natrium Hidroksida
RM/BM : NaOH / 40,0
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
43. Hidrogen Peroksida ( 1 : 296)
Nama resmi : Hydrogen Peroxydum
Nama lain : Hydrogen Peroxydum
RM/BM : H
2
O
2
/ 34,02
Pemerian : Cairan; tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam botol bersumbat kaca
44. Hidrogen Sulfida ( 1 : 653)
Nama resmi/Nama lain : Hidrrogen Sulfida
RM/BM : H
2
S
Pemerian : Gas tidak berwarna, beracun, bau khas
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
45. Natrium Asetat Anhidrat ( 1 : 709)
Nama resmi/Nama lain : Natrium Asetat Anhidrat
RM/BM : CH
3
CO
2
Na
Pemerian : Massa hablur; putih, kelabu pucat
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air

46. Asam Format ( 1 : 648)
Nama resmi/Nama lain : Asam Format
RM/BM : HCO
2
H
Pemerian : Cairan; tidak berwarna; bau tajam
47. Asam Oksalat ( 1 : 68)
Nama resmi/Nama lain : Asam oksalat
RM/BM : (CO
2
H
2
). 2 H
2
O
Pemerian : Hablur; tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam air
48. Amonium Oksalat ( 1 : 644)
Nama resmi/Nama lain : Amonium Oksalat
RM/BM : (CO
2
NH
4
)
2
. H
2
O
Pemerian : Tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam air
49. Asam Tartrat (FI III : 654)
Nama resmi/Nama lain : Asam Tartrat
RM/BM : C
4
H
6
O
6

Pemerian : Hablur tidak berwarna
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air

II. 3. Prosedur kerja
1. Pembuatan larutan ektrak soda.
Panaskan diatas penagas air campuran kira-kira 1 gram zat dengan 25 ml
larutan jenuh Na
2
CO
3
murni (dibuat dari 4 gram Na2CO3 anhidrat dalam 25 ml
air suling) sampai reaksi sempurna kira-kira 10 menit, kemudian saring panas-
panas melalui kertas saring dan bilas beberapa kali dengan air hangat. Filtrat
ditampung dalam wadah yang bersih dan filtrat ini dinamakan larutan ekstrak
soda yang digunakan untuk analisa anion.
2. Karbonat (CO
3
=
)
Diperiksa melalui pemeriksaan pendahuluan
3. Bikarbonat (HCO
3
-
)
Diperiksa melalui pemeriksaan pendahuluan.
4. Membedakan ion CO
3
=
dan HCO
3
-

Apabila masing-masing ditambahkan dengan MgSO
4
, maka dalam keadaan
dingin CO
3
=
membentuk endapan dan nanti setelah dipanaskan barulah HCO
3
-

membentuk endapan putih.
5. Memisahkan campuran CO
3
=
dan HCO
3
-

Campuran zat ditambahkan dengan CaCl
2
berlebih, terjadi endapan putih dari
karbonat endapan disaring melalui kertas saring. Filtrat mengandung HCO
3
-
.
6. Sulfat (SO
4
=
)
Diperiksa seperti penggolongan anion berdasarkan reaksi pengendapan.
Diperiksa dengan larutan ekstrak soda diasamkan dengan asam asetat lalu
ditambahkan dengan larutan Pb asetat, terbentuk endapan putih.
7. Sulfit (SO
3
=
)
Larutan ekstrak soda diasamkan dengan HCl 2 N, kemudian tambahkan larutan
BaCl
2
(Pb asetat) terbentuk endapan putih.
8. Thiosulfat (S
2
O
3
=
)
Larutan ekstrak soda diasamkan dengan HCl 2 N, lalu ditambahkan dengan
larutan BaCl2 terbentuk endapan putih Ba-thiosulfat.
Larutan ekstrak soda ditambahkan larutan amonium molibdat, di dalam
tabung reaksi, kemudian dinding tabung ditambahkan/ dialirkan pelan-pelan
H
2
SO
4
pekat, akan terbentuk cincin berwarna biru di permukaan larutan.
Larutan ekstrak soda ditambahkan larutan Pb-asetat terbentuk endapan
putih.
9. Fosfat (PO
4
3-
)
Larutan ekstrak soda diasamkan dengan HNO
3
2 N berlebih, kemudian
tambahkan larutan amonium molibdat, lalu dipanaskan sedikit, terbentuk
endapan kuning.
Larutan ekstrak soda ditambahkan Mg-mixture, terbentuk endapan putih.
10. Klorida (Cl
-
)
Seperti pada reaksi penggolongan, dengan reaksi pengendapan, endapan
putih yang terbentuk, larut dalam ammonium karbonat dan bila diasamkan
kembali dengan HNO
3
2 Nterjadi kembali endapan putih.
Larutan ektrak soda ditambahkan dengan KMnO
4
dan H
2
SO
4
pekat, terdapat
gas Cl
2
yang dapat membeirukan kertas kanji KI.
11. Bromida (Br
-
)
Seperti pada reaksi penggolongan dan reaksi pengendapan, endapan
kuning yang terbentuk tidak larut dalam amonium karbonat.
Larutan ekstrak soda diuapkan sampai kering, kemudian ditambahkan
serbuk difenilanina dan 2-3 tetes H
2
SO
4
pekat, segera terbentuk warna biru.
12. Thiosianat (SCN
-
)
Larutan ekstrak soda diasamkan dengan HCl 2 N, kemudian dtambahkan
larutan Co(NO
3
)
2
akan terbentuk warna biru.
Larutan ekstrak soda diasamkan dengan HCl 2 N, kemudian ditambahkan
larutan FeCl
3
terbentuk warna merah daging.
13. Ferosianida [Fe(CN)
6
4-
]
Setetes larutan ekstrak soda ditambahkan setetes FeCl
3
(garam feri), terjadi
endapan biru berlin.
Setetes larutan akstrak soda ditambahkan dengan larutan FeSO
4
(garam
fero), terjadi endapan putih.
14. Ferisianida [Fe(CN)
6
3-
]
Setetes larutan akstrak soda ditambahkan dengan larutan FeSO
4
(garam
fero), terjadi endapan biru trumbel.
Setetes larutan ekstrak soda ditambahkan setetes FeCl
3
(garam feri), terjadi
endapan coklat.
15. Reaksi Spesifik
a. Larutan besi (II) sulfat dan asam sulfat pekat (uji cicncin coklat). Uji ini
dilakukan dengan salah satu dari kedua cara ini: (a) Tambahkan 3 ml larutan
besi (II) sulfat yang baru saja dibuat kepada 2 ml larutan nitrat, dan tuangkan
3-5 ml asam sulfat pekat dengan perlahan-lahan sepanjang sisi tabung-uji
sehingga asam ini membentuk suatu lapisan di sebelah bawah campuran
tersebut. Sebuah cincin coklat akan terbentuk pada tempat dimana kedua
cairan bertemu. (b) tambahkan 4 ml asam sulfat pekat dengan perlahan-
lahan kepada 2 ml larutan nitrat ,campurkan cairan-cairan itu dengan
seksama, dan dinginkan campuran di bawah aliran air dingin dari kran.
Tuangkan larutan jenuh besi (II) sulfat dengan perlahan lahan sepanjang sisi
tabung sehingga membentuk suatu lapisan di atas cairan tadi. Sebuah
cincin coklat akan terbentuk pada zona persentuhan dari kedua cairan itu.
b. Uji Cincin Biru. Bila suatu larutan tiosulfat yang dicampur dengan larutan
ammonium molibdat, dituangkan dengan perlahan-lahan sepanjang dinding
dalam tabung ujiyang mengandung asam sulfat pekat, terbentuklah sebuah
cincin biru yang hanya sementara pada zona sentuhan. Dari apa warna ini
berasal, sampai kini belum dapat dijelaskan.
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat yang dibutuhkan
Baskom, batang pengaduk, botol kecil, botol semprot, gegep kayu, kain putih,
pipet panjang, pipet pendek, pot sampel, rak tabung, sendok tabung, sikat tabung,
tabung reaksi, dan tissue roll.
III.1.2 Bahan yang dibutuhkan
AgNO
3
, aquadest, amonium molibdat, Ba(NO
3
)
2
, HNO
3
, kertas timbang.

III.2. Cara kerja
A. Uji Organoleptis
1. Disiapkan sampel yang akan diuji
2. Diamati warna dan bau sampel
3. Diuji kelarutan sampel dengan melarutkannya dalam aquadest
4. Diamati bentuk sampel
5. Diuji sifat higroskopis sampel dengan meletakkannya sedikit dalam
wadah yang terbuka.

B. Uji Golongan
1. Dibuat larutan stock sampel dalam sebuah tabung reaksi.
2. Dari larutan stock, diambil sekitar 1 mL untuk ditambahkan AgNO
3
dan
diamati apa yang terjadi. Setelah itu, larutan ditambahkan lagi dengan
HNO
3
encer dan diamati apa yang terjadi.
3. Dari larutan stock diambil lagi sekitar 1 mL untuk ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan diamati apa yang terjadi. Setelah itu, larutan ditambahkan lagi
dengan HNO
3
encer dan diamati apa yang terjadi.
4. Berdasarkan hasil pengamatan maka ditentukan sampel termasuk dalam
golongan berapa.

C. Uji spesifik
1. Bahan sampel yang telah diketahui golongannya dilanjutkan dengan uji
pereaksi spesifik berdasarkan tabulasi.
2. Diamati reaksi yang terjadi setelah menambah pereaksi spesifik untuk
menentukan jenis anionnya.




BAB IV
HASIL PENGAMATAN

III.1 Data Pengamatan
1. Uji organoleptis
No Sampel Warna Bau Bentuk Higroskopik Kelarutan
1 C10 Transparan Khas Serbuk Higroskopik Larut
2 Ky
3 P Putih
Tidak
berbau
Serbuk Higroskopik Larut
4 U Putih
Tidak
berbau
Kristal Higroskopik Larut
5 C15 Putih
Tidak
berbau
Kristal Higroskopik Larut
6 C Putih Khas Kristal Higroskopik Larut
7 - - - - - -


2. Uji golongan atau spesifik
No Sampel AgNO
3
Ba(NO
3
)
2
Golongan Anion
1 C10 putih II


2 Ky putih I


3 P putih I Cl
-

4
U
kristal
putih
III


5
B15
kristal
putih III


6
C
kristal
putih III


7 - - - - -


III. 2. Reaksi
Reaksi berdasarkan pengamatan :
1. Sampel C10
+ AgNO
3

+ Ba(NO
3
)
2


2. Sampel U
+ AgNO
3
Kristal putih + HNO
3
tidak larut
+ Ba(NO
3
)
2

+FeSO
4
+ H
2
SO
4
tidak terjadi cincin coklat ( terjadi kesalahan )

3. Sampel B15
+ AgNO
3

+ Ba(NO
3
)
2

+FeSO
4
+ HCl cincin coklat

4. Sampel C
+ AgNO
3
Kristal putih + HNO
3
tidak larut
+ Ba(NO
3
)
2

+FeSO
4
+ H
2
SO
4
terjadi cincin coklat

5. Sampel ky
+ AgNO
3
putih susu-kemerahan + HNO
3
putih
+ Ba(NO
3
)
2


6. Sampel P
+ AgNO
3
putih + HNO
3

+ Ba(NO
3
)
2



BAB V
PEMBAHASAN
Analisa kualitatif adalah suatu analisa yang bertujuan untuk mengetahui
keberadaan zat tertentu dalam suatu sampel.
Pada percobaan ini dilakukan analisa keberadaan anion pada masing-masing
sampel.
Berikutnya adalah sampel-sampel anion yang diamati :
Kode sampel C10, memiliki ciri-ciri berwarna transparan, higroskopik, bentuk
serbuk, larut dalam aquades dan memiliki bau yang khas. Saat larutannya
ditambahkan AgNO
3
, terbentuk abu-abu, dan saat ditambahkan lagi HNO
3
encer,
endapannya sedikit larut. Diambil lagi larutan stock baru, dimana ditambahkan
Ba(NO
3
)
2
dan tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Dari penambahan AgNO
3
dan
Ba(NO
3
)
2
pada masing-masing tabung, dari hasilnya bisa diperkirakan bahwa
sampel adalah golongan II anion. Kemudian, diambil lagi larutan stock baru,
ditambahkan H
2
SO
4
encer dan terbentuk sedikit endapan kuning. Diambil lagi
larutan stock baru, ditambahkan Pb(CH
3
COOH)
2
, dan terbentuk endapan abu-abu.
Diambil lagi larutan srock baru, ditambahkan HgCl
2
dan terbentuk endapan abu-abu.
Terakhir, diambil larutan stock baru, ditambahkan CuSO
4
dan terbentuk banyak
endapan kuning. Dari beberapa penambahan reagen, diperkirakan sampel adalah
S
2
O
4
2-
. Kode sampel C10 seharusnya adalah NO
3
-
, golongan VIII. Kesalahan
terjadi kemungkinan disebabkan oleh keadaan tabung reaksi yang kurang bersih,
sehingga pada penambahan AgNO
3
, yang seharusnya tidak terjadi endapan, justru
terjadi sedikit endapan.
Kode sampel U memiliki ciri-ciri berwarna putih, tidak berbau, higroskopik,
larut dalam aquades dan berbentuk Kristal. Ketika ditambahkan AgNO
3
terbentuk
endapan Kristal putih. Diambil lagi larutan stock baru, ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan
tidak terbentuk endapan (Kemungkinan golongan III). Lalu, diambil lagi larutan stock
baru, dan ditambahkan FeSO
4
dan H
2
SO
4
, namun tidak terbentuk cincin coklat. Hal
ini mungkin dikarenakan jumlah FeSO
4
dan H
2
SO
4
yang ditambahkan berlebih.
Sampel ini adalah NO
2
-
.
Kode sampel C memiliki ciri-ciri berwarna putih, tidak berbau, higroskopik,
larut dalam aquades, dan berbentuk Kristal. Ketika ditambahkan AgNO
3
terbentuk
endapan Kristal putih dan ketika ditambahkan Ba(NO
3
)
2
pada larutan stock baru,
tidak terbentuk endapan (kemungkinan golongan III). Lalu, diambil lagi larutan stock
baru, dan ditambahkan FeSO
4
dan H
2
SO
4
dan terbentuk cincin coklat (sampel
merupakan NO
2
-
).
Kode sampel BI5 memiliki ciri-ciri berwarna putih, tidak berbau, higroskopik,
larut dalam aquades dan berbentuk Kristal. Ketika ditambahkan AgNO
3
, tidak
terbentuk endapan. Lalu, diambil lagi larutan stock baru, dan ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan tidak terbentuk endapan (kemungkinan golongan VIII). Diambil lagi larutan stock
baru, dan ditambahkan FeSO
4
dan HCl dan terbentuk cincin coklat. Dapat dipastikan
sampel adalah NO
3
-
.
Kode sampel P memiliki ciri-ciri berwarna putih, tidak berbau, higroskopik ,
dan sangat larut dalam aquades. Ketika ditambahkan AgNO
3
berubah terbentuk
endapan putih, dan diambil lagi larutan stock baru, lalu ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan
tidak terbentuk endapan (kemungkinan golongan I). Diambil lagi larutan stock baru,
lalu ditambahkan AgNO
3
berubah terbentuk endapan putih, lalu ditambah lagi
NH
4
OH berubah warna menjadi bening/larut. Dapat dipastikan sampel adalah Cl
-
.
Kode sampel ky memilliki ciri-ciri berwarna putih, tidak berbau, higroskopik,
dan sangat larut dalam aquades. Ketika ditambahkan AgNO
3
berubah warna
menjadi putih kemerahan dan ketika ditambahkan lagi HNO
3
endapan putih tidak
larut. Diambil larutan stock baru, ditambahkan Ba(NO
3
)
2
dan tidak terbentuk
endapan (kemungkinan golongan I).


BAB VI
PENUTUP
VI. 1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diatrik dari percobaan ini adalah sebagai
berikut.
Kode sampel kation yang terdapat didalamnya
C10


Ky


P Cl
-

U


B15


- -

VI.2 Saran
1. Sebaiknya disediakan alat dan bahan yang lebih memadai untuk praktikum ini,
agar praktikum dapat berjalan lebih lancar.
2. Sebaiknya asisten pembimbing yang mengawas di dalam laboratorium
jumlahnya mencukupi, sehingga tidak menyulitkan praktikan yang ingin bertanya
mengenai praktikum.


LAMPIRAN
Anion golongan I
Pereaksi Cl
-
Br
-
I
-
SCN
-

AgNo
3

+NH
4
OH
Endapan
putih
Larut
Kuning
pucat

Kuning

Putih
Larut
PbSO
4

+dipanaskan
Putih
Larut
Putih
Larut
Kuning
Larut

H
2
SO
4
Pekat Lakmus biru
merah
dengan
asap putih
Larutan
coklat
merah
Ungu +CCl
4
CHCl
2

Lapisan
Larutan
kuning
Air khlor (Cl
2
)
+CCl
4
/CHCl
3

Merah
jingga
Coklat
merah
dibawah air
Kuning
Coklat
Lembayung
dibawah air
tak berwarna

CuSO
4

HgCl
2

Kanji
Coklat
Merah
Biru tua
Coklat
merah
biru tua
Hijau hitam
Putih

FeCl
3
SCN
-
Merah
darah
HNO
3
encer
CO(NO
3
)
2

Merah
Biru
Anion Golongan II
AgNO
3

+HNO
3

endapan hitam
tidak larut
Ba(NO
3
)
2

+HNO
3

tetap
tetap

Anion Golongan III
Pereaksi NO
2-

Ag NO
3
Endapan putih

HCl encer Biru pucat

KI+H
2
So
4
Biru

KMnO
4
+HCl Warna larutan
hilang

Pereaksi CH
3
COO
-

H
2
SO
4
Bau cuka
BaCl
2

KCl
HgCl

FeCl Larutan merah

Anion Golongan IV
Pereaksi SO
3
=
CO
3
=
HCO
3
-
C2O
4
=

H
2
SO
4
/HCL
BaCl
2

HCl
As Asetat
Larutan hijau
Endapan putih
Larut
Larut
Keruh
Putih
Larut
Larut


Endapan putih

Putih

Larut
KMnO
4
+H
2
SO
4
Warna laru
t
an
hilang

K
2
CrO
7
Larutan hijau
Pb(NO
3
)
2
/Pb
Asetat
+HNO
3
(p)
Endapan putih

Larut



Endapan Putih


Putih

MgCl
2
Endapan
coklat merah

HgCl
2

CaCl
2

+HNO
3

+HCl
Endapan putih
Larut
Larut




Anion golongan V
Pereaksi untuk uji
Cincin coklat
NO
3
-
NO
2
-

FeSO
4
segar
+ H
2
SO
4
(P)
Terbentuk
cincin coklat
tipis
Terbentuk cincin
coklat yang
tebal.

Pereaksi MnO
4

H
2
O
2
, FeSO
4
Warna larut
H
2
C
2
O
4
, NaNO
2
Hilang
H
2
S Warna hilang putih
KI Larutan merah

Anion golongan VI
Pereaksi SO
3
2-
CO
3
2-
C
2
O
4
2-

HCl (P) Larutan hijau Larutan keruh
CaCl
2
+HCl
+CH
3
COOH
putih
larut
larut
larut
+H
2
SO
4
(P) Warna larutan
hilang

O
7
+ H
2
SO
4
(P) Larutan hijau
Pb(NO
3
)
2
/ Pb
Asetat
putih
Larut

HNO
3
(P)
MgCl
2

HgCl
+ HNO
3
(P)
+ HCl (P)
putih
coklat merah


putih
Larut

Anion golongan VII
Pereaksi PO
4
3-
AsO
4
3-
CrO
4

M.G Mixtura
+ CH
3
COOH
+ AgNO
3

putih
kuning
putih
merah

AMM. Molibdat
+HNO
3
+NH
4
OH / NaOH
kuning

Larut
Belum bereaksi
kuning

FeCl
3
as. Encer
( as. Asetat)
putih kuning
Larut

Pb(NO
3
)
2
/ PbAC
2
+ HNO
3
encer
+NH
4
OH
+NaOH
putih putih kuning
Larut
Larut
Larut
Larutan H
2
O
2
+
asam
Larutan biru tua


Anion golongan VIII
Pereaksi SO
4
2-

BaCl
2
putih
+ HCl encer Larut
Pb asetat putih
+ H
2
SO
4
pekat panas Larut
AgNO
3
kristalin putih
Hg(NO
3
)
2
kuning
Benzidina hidroklorida putih
KMnO
4
BaSO
4
merah jambu (lembayung)




DAFTAR PUSTAKA
1. Dirjen POM. 1979. Farmaskope Indonesia edisi III. Depkes RI : Jakarta.
2. Dirjen POM., (1995), Farmaskope Indonesia , Edisi IV, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.
3. G, Shevla.1985. Vogel buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif makro dan
semikikro. PT. Kalaman Media Pusaka