Anda di halaman 1dari 41

Ilmu stratigrafi muncul untuk pertama kalinya di Britania Raya pada abad ke-19.

Perintisnya adalah
William Smith. Ketika itu dia mengamati beberapa perlapisan batuan yang tersingkap yang memiliki
urutan perlapisan yang sama (superposisi). Dari hasil pengamatannya, kemudian ditarik kesimpulan
bahwa lapisan batuan yang terbawah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa
pengecualian. Karena banyak lapisan batuan merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang
berbeda-beda maka dapat dibuat perbandingan antara satu tempat ke tempat lainnya pada suatu
wilayah yang sangat luas. Berdasarkan hasil pengamatan ini maka kemudian Willian Smith membuat
suatu sistem yang berlaku umum untuk periode-periode geologi tertentu walaupun pada waktu itu
belum ada penamaan waktunya. Berawal dari hasil pengamatan William Smith dan kemudian
berkembang menjadi pengetahuan tentang susunan, hubungan dan genesa batuan yang kemudian
dikenal dengan stratigrafi.




Berdasarkan dari asal katanya, stratigrafi tersusun dari 2 (dua) suku kata, yaitu kata strati berasal
dari kata stratos, yang artinya perlapisan dan kata grafi yang berasal dari kata
graphic/graphos, yang artinya gambar atau lukisan. Dengan demikian stratigrafi dalam arti sempit
dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. Dalam arti yang lebih luas,
stratigrafi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan, dan
pembentukan (genesa) macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu.

- Aturan: Tatanama stratigrafi diatur dalam Sandi Stratigrafi. Sandi stratigrafi adalah aturan
penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi ataupun tidak resmi, sehingga terdapat keseragaman
dalam nama maupun pengertian nama-nama tersebut seperti misalnya: Formasi/formasi,
Zona/zona, Sistem dan sebagainya.


-Hubungan: Pengertian hubungan dalam stratigrafi adalah bahwa setiap lapis batuan dengan batuan
lainnya, baik diatas ataupun dibawah lapisan batuan tersebut. Hubungan antara satu lapis batuan
dengan lapisan lainnya adalah selaras (conformity) atau tidak selaras (unconformity).


-Pembentukan (Genesa): Mempunyai pengertian bahwa setiap lapis batuan memiliki genesa
pembentukan batuan tersendiri. Sebagai contoh, facies sedimen marin, facies sedimen fluvial, facies
sedimen delta, dsb.


-Ruang: Mempunyai pengertian tempat, yaitu setiap batuan terbentuk atau diendapkan pada
lingkungan geologi tertentu. Sebagai contoh, genesa batuan sedimen: Darat (Fluviatil, Gurun,
Glacial), Transisi (Pasang-surut/Tides, Lagoon, Delta), atau Laut (Marine: Lithoral, Neritik, Bathyal,
atau Hadal)


-Waktu: Memiliki pengertian tentang umur pembentukan batuan tersebut dan biasanya berdasarkan
Skala Umur Geologi. Contoh: Batugamping formasi Rajamandala terbentuk pada kala Miosen Awal;
Batupasir kuarsa formasi Bayah terbentuk pada kala Eosen Akhir

2. Sandi Stratigrafi

Pada hakekatnya ada hubungan tertentu antara kejadian dan aturan batuan di alam, dalam
kedudukan ruang dan waktu geologi. Stratigrafi membahas aturan, hubungan, kejadian lapisan serta
tubuh batuan di alam. Sandi stratigrafi dimaksudkan untuk memberikan pengarahan kepada para
ahli geologi yang bekerja mempunyai persepsi yang sama dalam cara penggolongan stratigrafi. Sandi
stratigrafi memberikan kemungkinan untuk tercapainya keseragaman dalam tatanama satuan-
satuan stratigrafi. Pada dasarnya, Sandi Stratigrafi mengakui adanya satuan lithostratigrafi, satuan
litodemik, satuan biostratigrafi, satuan sekuen stratigrafi, satuan kronostratigrafi dan satuan
geokronologi. Sandi ini dapat dipakai untuk semua macam batuan.
Berikut ini pengertian pengertian mengenai Sandi Stratigrafi sebagai berikut:

- Penggolongan Stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk
mempermudah pemerian, aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok
bersistem tersebut diatas dikenal sebagai satuan stratigrafi.

- Batas Satuan Stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut
sebagaimana didefinisikan. Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berimpit dengan batas
Satuan Stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain.

- Tatanama Stratigrafi ialah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi maupun tak
resmi, sehingga terdapat keseragaman dalam nama maupun pengertian nama nama tersebut seperti
misalnya: Formasi/formasi, Zona/zona, Sistem dan sebagainya.


- Tatanama Satuan Stratigrafi Resmi dan Tak Resmi. Dalam Sandi Stratigrafi diakui nama resmi dan
tak resmi. Aturan pemakaian satuan resmi dan tak resmi masing-masing satuan stratigrafi, menganut
batasan satuan yang bersangkutan. Penamaan satuan tak resmi hendaknya jangan mengacaukan
yang resmi.


- Stratotipe atau Pelapisan Jenis adalah tipe perwujudan alamiah satuan stratigrafi yang memberikan
gambaran ciri umum dan batas-batas satuan stratigrafi. Tipe ini merupakan sayatan pangkal suatu
satuan stratigrafi. Stratotipe hendaknya memberikan kemungkinan penyelidikan lebih lanjut.
1) Stratotipe Gabungan ialah satuan stratotipe yang dibentuk oleh kombinasi beberapa sayatan
komponen

2) Hipostratotipe ialah sayatan tambahan (stratotipe sekunder) untuk memperluas keterangan pada
stratotipe;

3) Lokasitipe ialah letak geografi suatu stratotipe atau tempat mula-mula ditentukannya satuan
stratigrafi.


- Korelasi adalah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan satuan
stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu.


- Horison ialah suatu bidang (dalam praktek, lapisan tipis di muka bumi atau dibawah permukaan)
yang menghubungkan titik-titik kesamaan waktu. Horison dapat berupa: horison listrik, horison
seismik, horison batuan, horison fosil dan sebagainya. Istilah istilah seperti : datum, marker, lapisan
pandu sebagai padanannya dan sering dipakai dalam keperluan korelasi.


- Facies adalah aspek fisika, kimia, atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh
batuan yang diendapkan pada waktu yang sama dikatakan berbeda facies, kalau kedua batuan
tersebut berbeda ciri fisik, kimia atau biologinya.

1. Satuan Lithostratigrafi
- Azas Tujuan:
Pembagian litostratigrafi dimaksudkan untuk menggolongkan batuan di bumi secara bersistem
menjadi satuan-satuan bernama yang bersendi pada ciri-ciri litologi. Pada satuan litostratigrafi
penentuan satuan didasarkan pada ciri-ciri batuan yang dapat di-amati di lapangan, sedangkan batas
penyebarannya tidak tergantung kepada batas waktu.

- Satuan Resmi dan Tak Resmi:
Satuan litostratigrafi resmi ialah satuan yang memenuhi persyaratan Sandi, sedangkan satuan
litostratigrafi tak resmmi ialah satuan yang tidak seluruhnya memenuhi persyaratan Sandi.

- Batas dan Penyebaran Satuan Satuan Litostratigrafi:

1. Batas satuan litostratigrafi ialah sentuhan antara dua satuan yang berlainan ciri litologi, yang
dijadikan dasar pembeda kedua satuan tersebut.

2. Batas satuan ditempatkan pada bidang yang nyata perubahan litologinya atau dalam hal
perubahan tersebut tidak nyata, batasnya merupakan bidang yang diperkirakan kedudukannya
(batas arbiter).

3. Satuan satuan yang berangsur berubah atau menjemari, peralihannya dapat dipisahkan sebagai
satuan tersendiri apabila memenuhi persyaratan Sandi.

4. Penyebaran satuan satuan litostratigrafi semata mata ditentukan oleh kelanjutan ciri ciri litologi
yang menjadi ciri penentunya.

5. Dari segi praktis, penyebarasan suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batas cekungan
pengendapan atau aspek geologi lain.

6. Batas batas daerah hukum (geografi) tidak boleh dipergunakan sebagai alasan berakhirnya
penyebaran lateral (pelamparan) suatu satuan.


- Tingkat-tingkat Satuan Litostratigrafi:

1. Urutan tingkat satuan litostratigrafi resmi dari besar sampai kecil adalah: Kelompok, Formasi dan
Anggota.

2. Formasi adalah satuan dasar dalam pembagian satuan litostratigrafi.


- Stratotipe atau Pelapisan Jenis:

1. Suatu stratotipe merupakan perwujudan alamiah satuan litostratigrafi resmi di lokasi tipe yang
dapat dijadikan pedoman umum.

2. Letak suatu stratotipe dinyatakan dengan kedudukan koordinat geografi.

3. Apabila pemerian stratotipe suatu satuan litostratigrafi di lokasi tipenya tidak memungkinkan,
maka sebagai gantinya cukup dinyatakan lokasi tipenya.


- Tatanama Satuan Litostratigrafi :
Tatanama satuan litostratigrafi resmi ialah dwinama (binomial). Untuk tingkat Kelompok, Formasi
dan Anggota dipakai istilah tingkatnya dan diikuti nama geografinya.


2. Satuan Litodemik

- Azas Tujuan:
Pembagian satuan litodemik dimaksudkan untuk menggolongkan batuan beku, metamorf dan
batuan lain yang terubah kuat menjadi satuan-satuan bernama yang bersendi kepada ciri-ciri litologi.
Batuan penyusun satuan litodemik tidak mengikuti kaidah Hukum Superposisi dan kontaknya
dengan satuan litostratigrafi dapat bersifat extrusif, intrusif, metamorfosa atau tektonik.

- Batas dan Penyebaran Satuan Litodemik:
Batas antar Satuan Litodemik berupa sentuhan antara dua satuan yang berbeda ciri litologinya,
dimana kontak tersebut dapat bersifat ekstrusif, intrusif, metamorfosa, tektonik atau kontak
berangsur.

- Tingkat Tingkat Satuan Litodemik:
1. Urutan tingkat Satuan Litodemik resmi, masing-masing dari besar ke kecil adalah: Supersuite,
Suite, dan Litodem.

2. Litodem adalah satuan dasar dalam pembagian Satuan Litodemik, satuan dibawah litodem
merupakan satuan tidak resmi.

- Tata Nama Satuan Litodemik:
Tatanama Satuan dasar Litodemik yang terdiri dari nama geografi dan ciri utama komposisi
litologinya, misalnya Diorit Cihara.


3. Satuan Biostratigrafi
- Azas Tujuan:

1. Pembagian biostratigrafi dimaksud untuk menggolongkan lapisan-lapisan batuan di bumi secara
bersistem menjadi satuan satuan bernama berdasar kandungan dan penyebaran fosil.

2. Satuan biostratigrafi ialah tubuh lapisan batuan yang dipersatukan berdasar kandungan fosil atau
ciri-ciri paleontologi sebagai sendi pembeda terhadap tubuh batuan sekitarnya.

3. Satuan Resmi dan Tak Resmi:
Satuan biostratigrafi resmi ialah satuan yang memenuhi persyaratan Sandi sedangkan satuan
biostratigrafi tak resmi adalah satuan yang tidak seluruhnya memenuhi persyaratan Sandi.

- Kelanjutan Satuan
Kelanjutan satuan biostratigrafi ditentukan oleh penyebaran kandungan fosil yang mencirikannnya.


- Tingkat dan Jenis Satuan Biostratigrafi
1. Zona ialah satuan dasar biostratigrafi

2. Zona adalah suatu lapisan atau tubuh batuan yang dicirikan oleh satu takson fosil atau lebih.

3. Urutan tingkat satuan biostratigrafi resmi, masing-masing dari besar sampai kecil ialah: Super-
Zona, Zona, Sub-Zona, dan Zenula,

4. Berdasarkan ciri paleontologi yang dijadikan sendi satuan biostratigrafi, dibedakan: Zona
Kumpulan, Zona Kisaran, Zona Puncak, dan Zona Selang

- Zona Kumpulan

1. Zona Kumpulan ialah kesatuan sejumpah lapisan yang terdiri oleh kumpulan alamiah fosil yang
hkas atau kumpulan sesuatu jenis fosil.

2. Kegunaan Zona Kumpulan, selain sebagai penunjuk lingkungan kehidupan purba dapat juga
dipakai sebagai penciri waktu.

3. Batas dan kelanjutan zona Kumpulan ditentukan oleh batas terdapat bersamaannya
(kemasyarakatan) unsur-unsur utama dalam kesinambungan yang wajar.

4. Nama Zona Kisaran harus diambil dari satu unsur fosil atau lebih yang menjadi penciri utama
kumpulannya.

- Zona Kisaran:

1. Zona kisaran ialah tubuh lapisan batuan yang mencakup kisaran stratigrafi untur terpilih dari
kumpulan seluruh fosil yang ada

2. Kegunaan Zona Kisaran terutama ialah untuk korelasi tubuh-tubuh lapisan batuan dan sebagai
dasar untuk penempatan batuan batuan dalam skala waktu geologi

3. Btasa dan Kelanjutan Zona Kisaran ditentukan oleh penyebaran tegak dan mendatar takson
(takson-takson) yang mencirikannya.

4. Nama Zona Kisaran diambil dari satu jenis atau lebih yang menjadi ciri utama Zona.

- Zona Puncak:

1. Zona Puncak ialah tubuh lapisan batuan yang menunjukkan perkembangan maksimum suatu
takson tertentu.

2. Kegunaan Zona Puncak dalam hal tertentu ialah untuk menunjukkan kedudukan kronostratigrafi
tubuh lapisan batuan dan dapat dipakai sebagai petunjuk lingkungan pengendapan purba, iklim
purba

3. Batas vertikal dan lateral Zona Puncak sedapat mungkin bersifat obyektif

4. Nama-nama Zona Puncak diambil dari nama takson yang berkembang secara maksimum dalam
Zona tersebut.

- Zona Selang:

1. Zona Selang ialah selang stratigrafi antara pemunculan awal/akhir dari dua takson penciri.

2. Kegunaan Zona Selang pada umumnya ialah untuk korelasi tubuh-tubuh lapisan batuan

3. Batas atas atau bawah suatu Zona Selang ditentukan oleh pemunculan awal atau akhir dari
takson-takson penciri.

4. Nama Zona Selang diambil dari nama-nama takson penciri yang merupakan batas atas dan bawah
zona tersebut.

- Zona Rombakan:
Zona Rombakan adalah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh banyaknya fosil rombakan, berbeda
jauh dari pada tubuh lapisan batuan di atas dan di bawahnya.

- Zona Padat
Zona Padat ialah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh melimpahnya fosil dengan kepadatan
populasi jauh lebih banyak dari pada tubuh batuan di atas dan dibawahnya.

4. Satuan Sikuenstratigrafi

- Azas Tujuan:

1. Pembagian sikuenstratigrafi ialah penggolongan lapisan batuan batuan di bumi secara bersistem
menjadi satuan-satuan bernama berdasarkan gerak relatif muka laut. Pembagian ini merupakan
kerangka untuk menyusun urutan peristiwa geologi.

2. Satuan sikuenstratigrafi ialah suatu tubuh lapisan batuan yang terbentuk dalam satuan waktu
tertentu pada satu siklus perubahan relatif muka laut.


- Batas Satuan:
Batas atas dan bawah satuan sikuenstratigrafi adalah bidang bidang ketidakselarasan atau bidang
keselarasan padanannya.


- Tingkat Tingkat Satuan Sikuenstratigrafi

1. Urutan tingkat satuan sikuenstratigrafi, masing-masing dari besar sampai kecil adalah
Megasikuen, Supersikuen dan Sikuen.

2. Sikuen ialah satuan dasar dalam pembagian satuan sikuenstratigrafi.


- Satuan Resmi dan Tak resmi:
Satuan sikuenstratigrafi resmi ialah satuan yang memenuhi persyaratan Sandi sedangkan satuan tak
resmi adalah satuan yang tidak seluruhnya memenuhi persyaratan Sandi.

- Tatanama Satuan Sikuenstratigrafi:Tatanama satuan sikuenstratigrafi resmi ialah dwinama
(binomial). Untuk tingkat sikuen atau yang lebih tinggi, dipakai istilah tingkatnya dan diikuti nama
geografi lokasitipenya (yang mudah dikenal).

5.Satuan Kronostratigrafi

- Azas Tujuan:
Pembagian kronostratigrafi ialah penggolongan lapisan-lapisan secara bersistem menjadi satuan
bernama berdasarkan interval waktu geologi. Interval waktu geologi ini dapat ditentukan berdasar
geo-kronologi atau metoda lain yang menunjukkan kesamaan waktu. Pembagian ini merupakan
kerangka untuk menyusun urutan penafsiran geologi secara lokal, regional dan global.


- Hubungan Kronostratigrafi dan Geokronologi:
Bagi setiap Satuan Kronostratigrafi terdapat satuan geokronologi bandingannya: Eonotem dengan
Kurun, Eratem dengan Masa, Sistem dengan Zaman, Seri dengan Kala dan Jenjang dengan Umur.


- Stratotipe dan Batas satuan:

1. Dalam Kronostratigrafi dikenal Stratotipe Satuan dan Stratotipe Batas

2. Stratotipe Satuan adalah sayatan selang stratigrafi yang dibatasi oleh stratotipe batas atas dan
bawah di tempat asal nama satuan.

3. Stratotipe Batas ialah tipe batas bawah dan atas satuan

4. Batas satuan kronostratigrafi ialah bidang isokron.

5. Batas satuan kronostratigrafi ditetapkan pada stratotipe, berdasarkan pertimbangan obyektif.

- Tingkat Tingakat Satuan Kronostratigrafi:

1. Urutan tingkat satuan kronostratigrafi resmi, masing-masing dari besar sampai kecil ialah:
Eonotem, Sistem, Seri, dan Jenjang. Satuan ini dapat diberi awalan Super bila tingkatnya dianggap
lebih tinggi daripada satuan tertentu, tetapi lebih rendah dari satuan lebih besar berikutnya. Dalam
hal sebaliknya awalan yang dipergunakan adalah Sub,

2. Bidang lapisan pada dasarnya adalah bidang kesamaan waktu, oleh karena itu satu lapisan yang
menerus, cirinya mudah dikenal serta mempunyai pelamparan luas, dapat merupakan penunjuk
kesamaan waktu dan dinamakan lapisan pandu. Selang antara dua lapisan pandu disebut Selang
Antara.

3. Lapisan yang ditandai oleh keseragaman polaritas geomagnit yang mempunyai kesamaan waktu
dinamakan Selang Polaritas.


- Penyebaran Satuan Kronostratigrafi:
Kelanjutan suatu satuan kronostratigrafi dari stratotipe hanya mungkin, bila terdapat bukti-bukti
akan adanya kesamaan waktu.

- Urutan Satuan kronostratigrafi:
Pembagian Kronostratigrafi dalam Sandi adalah seperti tercantum pada Skala Waktu Geologi

- Satuan Kronostratigrafi Tak Resmi:
Pemakaian istilah satuan kronostratigrafi tak resmi tidak boleh mengacaukan istilah satuan resmi.


- Pembagian Geokronologi:
Pembagian waktu geologi ialah pembagian waktu menjadi interval-interval tertentu berdasarkan
peristiwa geologi. Interval waktu geologi ini disebut sebagai satuan geokronologi. Cara
penentuannya didasarkan atas analisis radiometrik atau isotropik.


- Tingkat satuan Geokronologi:
Tingkat-tingkat satuan geokronologi dari besar ke kecil adalah: Kurun, Masa, Zaman, Kala, dan
Umur.


6. Satuan Tektonostratigrafi
- Azas Tujuan:
Pembagian tektonostratigrafi dimaksudkan untuk menggolongkan suatu kawasan di bumi, yang
tergolong pinggiran lempeng aktif, baik yang menumpu (plate convergence) ataupun memberai
(plate divergence) menjadi mintakat-mintakat (terrances). Penentuan mintakat didasarkan pada
asal-usul terbentuknya dan bukan pada keterdapatannya, dan karenanya mintakat dibedakan
menjadi 3 jenis, yaitu 1). Atockton (Autochthonous), 2). Alokton (Allochthonous) dan 3). Para-
Atokton (Para-autochthonous). Penentuan batas penyebarannya ditentukan oleh kegiatan tektonik
pada waktu tertentu.


- Tingkat Tingkat Satuan Tektonostratigrafi:

1. Urutan tingkat satuan tektonostratigrafi resmi, mulai dari yang terbesar: Lajur (Zone), Komplek
(Complex), Mintakat (Terrane), dan Jalur (Belt).

2. Mintakat adalah satuan dasar dalam pembagian satuan tektonostratigrafi.

3. Pengukuran Stratigrafi
Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan yang biasa dilakukan dalam pemetaan
geologi lapangan. Adapun pekerjaan pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh
gambaran yang terperinci dari hubungan stratigrafi antar setiap perlapisan batuan / satuan batuan,
ketebalan setiap satuan stratigrafi, sejarah sedimentasi secara vertikal dan lingkungan pengendapan
dari setiap satuan batuan.
Di lapangan, pengukuran stratigrafi biasanya dilakukan dengan menggunakan tali meteran dan
kompas pada singkapan-singkapan yang menerus dalam suatu lintasan. Pengukuran diusahakan
tegak lurus dengan jurus perlapisan batuannya, sehingga koreksi sudut antara jalur pengukuran dan
arah jurus perlapisan tidak begitu besar.


3.1 Metoda Pengukuran Stratigrafi
Pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci urut-urutan perlapisan
satuan stratigrafi, ketebalan setiap satuan stratigrafi, hubungan stratigrafi, sejarah sedimentasi
dalam arah vertikal, dan lingkungan pengendapan. Mengukur suatu penampang stratigrafi dari
singkapan mempunyai arti penting dalam penelitian geologi.
Secara umum tujuan pengukuran stratigrafi adalah:

1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu satuan stratigrafi (formasi),
kelompok, anggota dan sebagainya.

2. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.

3. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan batuan dan urut-urutan
sedimentasi dalam arah vertikal secara detil, untuk menafsirkan lingkungan pengendapan.

Pengukuran stratigrafi biasanya dilakukan terhadap singkapan singkapan yang menerus, terutama
yang meliputi satu atau lebih satuan satuan stratigrafi yang resmi. Metoda pengukuran penampang
stratigrafi banyak sekali ragamnya. Namun demikian metoda yang paling umum dan sering dilakukan
di lapangan adalah dengan menggunakan pita ukur dan kompas. Metoda ini diterapkan terhadap
singkapan yang menerus atau sejumlah singkapan-singkapan yang dapat disusun menjadi suatu
penampang stratigrafi.




Singkapan batuan pada satuan stratigrafi (kiri) dan singkapan singkapan yang menerus dari satuan
stratigrafi (kanan)



Metoda pengukuran stratigrafi dilakukan dalam tahapan sebagai berikut:
1. Menyiapkan peralatan untuk pengukuran stratigrafi, antara lain: pita ukur ( 25 meter), kompas,
tripot (optional), kaca pembesar (loupe), buku catatan lapangan, tongkat kayu sebagai alat bantu.

2. Menentukan jalur lintasan yang akan dilalui dalam pengukuran stratigrafi, jalur lintasan ditandai
dengan huruf B (Bottom) adalah mewakili bagian Bawah sedangkan huruf T (Top) mewakili bagian
atas.

3. Tentukan satuan-satuan litologi yang akan diukur. Berilah patok-patok atau tanda lainnya pada
batas-batas satuan litologinya.

4. Pengukuran stratigrafi di lapangan dapat dimulai dari bagian bawah atau atas. Unsur-unsur yang
diukur dalam pengukuran stratigrafi adalah: arah lintasan (mulai dari sta.1 ke sta.2; sta.2 ke sta.3.
dst.nya), sudut lereng (apabila pengukuran di lintasan yang berbukit), jarak antar station
pengukuran, kedudukan lapisan batuan, dan pengukuran unsur-unsur geologi lainnya.

Sketsa pengukuran penampang stratigrafi

5. Jika jurus dan kemiringan dari tiap satuan berubah rubah sepanjang penampang, sebaiknya
pengukuran jurus dan kemiringan dilakukan pada alas dan atap dari satuan ini dan dalam
perhitungan dipergunakan rata-ratanya.

6. Membuat catatan hasil pengamatan disepanjang lintasan pengkuran stratigrafi yang meliputi
semua jenis batuan yang dijumpai pada lintasan tersebut, yaitu: jenis batuan, keadaan perlapisan,
ketebalan setiap lapisan batuan, struktur sedimen (bila ada), dan unsur-unsur geologi lainnya yang
dianggap perlu. Jika ada sisipan, tentukan jaraknya dari atas satuan.










Aktivitas dari pengukuran stratigrafi terukur




7. Data hasil pengukuran stratigrafi kemudian disajikan diatas kertas setelah melalui proses
perhitungan dan koreksi-koreksi yang kemudian digambarkan dengan skala tertentu dan data
singkapan yang ada disepanjang lintasan di-plot-kan dengan memakai simbol-simbol geologi
standar.
8. Untuk penggambaran dalam bentuk kolom stratigrafi, perlu dilakukan terlebih dahulu koreksi-
koreksi antara lain koreksi sudut antara arah lintasan dengan jurus kemiringan lapisan, koreksi
kemiringan lereng (apabila pengukuran di lintasan yang berbukit), perhitungan ketebalan setiap
lapisan batuan dsb.

3.2. Perencanaan lintasan pengukuran
Perencanaan lintasan pengukuran ditetapkan berdasarkan urut-urutan singkapan yang secara
keseluruhan telah diperiksa untuk hal hal sebagai berikut:

a. Kedudukan lapisan (Jurus dan Kemiringan), apakah curam, landai, vertikal atau horizontal. Arah
lintasan yang akan diukur sedapat mungkin tegak lurus terhadap jurus.

b. Harus diperiksa apakah jurus dan kemiringan lapisan secara kontinu tetap atau berubah rubah.
Kemungkinan adanya struktur sepanjang penampang, seperti sinklin, antiklin, sesar, perlipatan dan
hal ini penting untuk menentukan urut-urutan stratigrafi yang benar.

c. Meneliti akan kemungkinan adanya lapisan penunjuk (key beds) yang dapat diikuti di seluruh
daerah serta penentuan superposisi dari lapisan yang sering terlupakan pada saat pengukuran.


3.3.Menghitung Ketebalan
Tebal lapisan adalah jarak terpendek antara bidang alas (bottom) dan bidang atas (top). Dengan
demikian perhitungan tebal lapisan yang tepat harus dilakukan dalam bidang yang tegak lurus jurus
lapisan. Bila pengukuran di lapangan tidak dilakukan dalam bidang yang tegak lurus tersebut maka
jarak terukur yang diperoleh harus dikoreksi terlebih dahulu dengan rumus:

d = dt x cosinus ( = sudut antara arah kemiringan dan arah pengukuran).

Didalam menghitung tebal lapisan, sudut lereng yang dipergunakan adalah sudut yang terukur pada
arah pengukuran yang tegak lurus jurus perlapisan. Apabila arah sudut lereng yang terukur tidak
tegak lurus dengan jurus perlapisan, maka perlu dilakukan koreksi untuk mengembalikan kebesaran
sudut lereng yang tegak lurus jurus lapisan. Biasanya koreksi dapat dilakuan dengan menggunakan
tabel koreksi dip untuk pembuatan penampang.

1. Pengukuran pada daerah datar (lereng 0o)
Pengukuran pada daerah datar, apabila jarak terukur adalah jarak tegak lurus jurus, ketebalan
langsung di dapat dengan menggunakan rumus : T = d sin (dimana d adalah jarak terukur di
lapangan dan adalah sudut kemiringan lapisan). Apabila pengukuran tidak tegak lurus jurus, maka
jarak terukur harus dikoreksi seperti pada cara diatas.


Posisi pengukuran pada daerah datar



2. Pengukuran pada Lereng
Terdapat beberapa kemungkinan posisi lapisan terhadap lereng seperti diperlihatkan pada gambar
8.5 dan gambar 8.6. { Catatan: sudut lereng (s) dan kemiringan lapisan () adalah pada keadaan yang
tegak lurus dengan jurus atau disebut true dip dan true slope }.

a. Kemiringan lapisan searah dengan lereng.
Bila kemiringan lapisan ( ) lebih besar daripada sudut lereng (s) dan arah lintasan tegak lurus jurus,
maka perhitungan ketebalan adalah :
T = d sin ( - s ). (Gambar 8.5 b)
Bila kemiringan lapisan lebih kecil daripada sudutlereng dan arah lintasan tegak lurus jurus, maka
perhitungan ketebalan adalah:
T = d sin (s - ). (Gambar 8.5 c)


Gambar 8.5 Posisi pengukuran pada lereng yang searah dengan kemiringan lapisan


b. Kemiringan lapisan berlawanan arah dengan lereng
Bila kemiringan lapisan membentuk sudut lancip terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus jurus
maka:
T = d sin ( + s ) (Gambar 8.6 b)
Apabila jumlah sudut lereng dan sudut kemiringan lapisan adalah 900 (lereng berpotongan tegak
lurus dengan lapisan) dan arah lintasan tegak lurus jurus maka :
T = d (Gambar 8.6 c)
Bila kemiringan lapisan membentuk sudut tumpul terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus
jurus, maka :
T = d sin (1800 - - s) (Gambar 8.6 d )
Bila lapisannya mendatar, maka :
T = d sin (s)



Gambar 8.6 Posisi pengukuran pada lereng yang berlawanan dengan kemiringan lapisan


Penyajian hasil pengukuran stratigrafi seperti yang terlihat pada gambar 8.7 dibawah ini. Adapun
penggambaran urutan perlapisan batuan/satuan batuan/satuan stratigrafi disesuaikan dengan umur
batuan mulai dari yang tertua (paling bawah) hingga yang termuda (paling atas)





Seringkali hasil pengukuran stratigrafi disajikan dengan disertai foto-foto singkapan seperti yang
diperlihatkan pada gambar 8.8. Adapun maksud dari penyertaan foto-foto singkapan adalah untuk
lebih memperjelas bagian bagian dari perlapisan batuan ataupun kontak antar perlapisan yang
mempunyai makna dalam proses sedimentasinya.



Penggambaran penampang stratigrafi terukur yang dilengkapi dengan foto-foto untuk menjelaskan
hubungan antar lapisan batuan ataupun kontak antar lapisan batuan


8.4 Kolom Stratigrafi

Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan susunan berbagai jenis
batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan mulai dari yang tertua hingga termuda
menurut umur geologi, ketebalan setiap satuan batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada
umumnya banyak cara untuk menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar
umum yang menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom stratigrafi.
Penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom dengan atribut-atribut sebagai
berikut: Umur, Formasi, Satuan Batuan, Ketebalan, Besar-Butir, Simbol Litologi, Deskripsi/Pemerian,
Fosil Dianostik, dan Linkungan Pengendapan.
Tabel 8.1 adalah kolom stratigrafi daerah Karawang Selatan, Jawa Barat yang tersusun dari kiri ke
kanan sebagai berikut: umur, formasi, satuan batuan, simbol litologi, deskripsi batuan, dan
lingkungan pengendapan.





8.5 Profil Lintasan Stratigrafi

Dalam penelitian geologi, pengamatan stratigrafi disepanjang lintasan yang dilalui perlu dibuat, baik
dengan cara menggambarnya dalam bentuk sketsa profil lintasan ataupun melalui pengukuran
stratigrafi. Adapun tujuan dari pembuatan profil lintasan adalah untuk mengetahui dengan cepat
hubungan antar batuan / satuan batuan secara vertikal.

Gambar 8.9 adalah salah satu conto hasil pengamatan sepanjang lintasan sungai, dimana nomor 1, 2,
3 dst merupakan lokasi pengamatan dan pengukuran singkapan batuan-batuan pada lintasan
sungai. Kedudukan batuan dan jenis batuan / satuan batuan pada setiap stasiun pengamatan
disepanjang lintasan (Gambar 3.9 atas) dan pada gambar 8.9 bagian bawah adalah sketsa dari profil
lintasan yang memperlihatkan hubungan setiap batuan / satuan batuan dari yang tertua hingga
termuda.




Gambar 8.9 Lintasan pengamatan dan pengukuran singkapan batuan (atas) dan penampang lintasan
yang memperlihatkan hubungan antar lapisan batuan atau satuan batuan.


Gambar 8.10 memperlihatkan lintasan pengamatan dan pengukuran singkapan batuan / satuan
batuan disepanjang jalan dari desa Cipanas ke Bendungan Saguling. Terdapat 4 (empat) satuan
batuan yang dapat diamati mulai dari desa Cipanas hingga ke Bendungan Saguling, yaitu: Satuan
Batuan Batugamping (Formasi Rajamandala), Satuan Batuan Batupasir selangseling Serpih (Formasi
Citarum) dan Satuan Batuan Breksi (Formasi Saguling) dan Satuan Batuan Lempung selangseling
Batupasir (Anggota Cibanteng Formasi Saguling).

Gambar 8.11 adalah sketsa penampang stratigrafi lintasan daerah Saguling yang menunjukan
hubungan antar satuan batuan (formasi) dan struktur geologi yang mengontrol hubungan antar
satuan batuan dari yang tertua hingga termuda, yaitu antara Formasi Batuasih, Formasi Rajamandala
dan Formasi Citarum serta Formasi Saguling.

8.10 Lintasan pengamatan dan pengukuran singkapan batuan Daerah Saguling (Desa Cipanas
Bendungan Saguling)


Gambar 8.11 Penampang stratigrafi lintasan Daerah Saguling (Desa Cipanas Bendungan Saguling)





8.12 Penampang stratigrafi lintasan Daerah Ampiteater Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat



Gambar 8.12 adalah sketsa hasil pengamatan stratigrafi di daerah ampiteater Ciletuh, Jawa Barat.
Pengamatan dilakukan mulai dari bagian atas ampiteater Ciletuh hingga ke Cikadal (Muara S.
Ciletuh). Disepanjang lintasan ini tersingkap satuan batuan dari Formasi Jampang (batupasir tufan
dan breksi), Formasi Bayah (pasir konglomeratan dan lempung) Formasi Ciletuh (breksi, batupasir
greywacke, lempung), dan Melange Ciletuh (filit). Hubungan stratigrafi antara Melange Ciletuh
dengan Formasi Ciletuh diperkirakan adalah selaras, sedangkan hubungan antara Formasi Ciletuh
dengan Formasi Bayah diatasnya juga selaras, sedangkan antara Formasi Bayah dengan Formasi
Jampang diatasnya tidak selaras (lihat sketsa kolom stratigrafinya).

Gambar 8.13 adalah penamang stratigrafi lintasan Batuasih Gunung Walat yang memperlihatkan
hubungan antara Formasi Bayah, Formasi Batuasih dan Formasi Rajamandala. Hubungan stratigrafi
antara Formasi Bayah dengan Formasi Batuasih diatasnya adalah tidak selaras, sedangkan hubungan
Formasi Batuasih dengan Formasi Rajamandala diatasnya adalah selaras.





8.6 Korelasi Stratigrafi
Korelasi stratigrafi pada hakekatnya adalah menghubungkan titik-titik kesamaan waktu atau
penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu. Adapun
maksud dan tujuan dari korelasi stratigrafi adalah untuk mengetahui persebaran lapisan-lapisan
batuan atau satuan-satuan batuan secara lateral, sehingga dengan demikian dapat diperoleh
gambaran yang menyeluruh dalam bentuk tiga dimensinya. Berikut ini adalah beberapa contoh
korelasi stratigrafi yang umum dilakukan antara lain: (1). Korelasi Litostratigrafi, (2). Korelasi
Biostratigrafi, (3). Korelasi Kronostratigrafi.

1 Korelasi Lithostratigrafi
Korelasi litostratigrafi pada hakekatnya adalah menghubungkan lapisan-lapisan batuan yang
mengacu pada kesamaan jenis litologinya. Catatan: Satu lapis batuan adalah satu satuan waktu
pengendapan.







- Prosedur dan penjelasan:

1. Korelasi dimulai dari bagian bawah dengan melihat litologi yang sama.

2. Korelasikan/hubungkan titik-titik lapisan batuan yang memiliki jenis litologi yang sama (Pada
gambar diwakili oleh garis warna hitam).

3. Konglomerat pada Sumur-1 dikorelasikan dengan konglomerat pada Sumur-2, demikian juga
antara batupasir dan batugamping di Sumur-1 dengan batupasir dan batugamping dan lempung di
Sumur-2.

4. Sebaran breksi di Sumur-1 ke arah Sumur-2 menunjukkan adanya pembajian.

5. Kemudian dilanjutkan antara napal dan lempung di Sumur-1 dengan napal dan lempung di Sumur-
2.



2 Korelasi Biostratigrafi
Korelasi biostratigrafi adalah menghubungkan lapisan-lapisan batuan didasarkan atas kesamaan
kandungan dan penyebaran fosil yang terdapat di dalam batuan. Dalam korelasi biostratigrafi dapat
terjadi jenis batuan yang berbeda memiliki kandungan fosil yang sama.





Prosedur dan penjelasan:

1. Korelasikan/hubungkan lapisan lapisan batuan yang mengandung kesamaan dan persebaran fosil
yang sama (Pada gambar diatas diwakili oleh garis warna hitam).

2. Kandungan dan sebaran fosil pada batulempung di Sumur-1 sama dengan kandungan dan sebaran
fosil pada serpih di Sumur-2, sehingga batulempung yang ada di Sumur-1 dapat dikorelasikan dengan
serpih yang terdapat di Sumur-2.

3. Batupasir pada Sumur-1 mengandung kumpulan fosil K sedangkan pada Sumur-2, batupasir juga
mengandung kumpulan dan sebaran fosil K. Dengan demikian lapisan batupasir pada Sumur-1 dapat
dikorelasikan dengan batupasir pada Sumur-2.

4. Kandungan dan sebaran fosil pada lempung di Sumur-1 sama dengan kandungan dan sebaran fosil
pada napal di Sumur-2, sehingga lempung yang ada di Sumur-1 dapat dikorelasikan dengan napal
yang terdapat di Sumur-2.


3. Korelasi Kronostratigrafi
Korelasi kronostratigrafi adalah menghubungkan lapisan lapisan batuan yang mengacu pada
kesamaan umur geologinya.

Contoh : Korelasi Kronostratigrafi (Geokronostratigrafi)



Prosedur dan penjelasan:

Prosedur korelasi kronostratigrafi adalah sebagai berikut:
1. Korelasikan/bubungkan titik titik kesamaan waktu dari setiap kolom yang ada (Pada gambar
diwakili oleh garis merah, dan garis ini dikenal sebagai garis kesamaan umur geologi)

2. Korelasikan lapisan-lapisan batuan yang jenis litoginya sama dan berada pada umur yang sama,
seperti Konglomerat pada Sumur-1 dengan konglomerat pada Sumur-2, dikarenakan umur
geologinya yang sama yaitu Miosen Bawah.

3. Pada kolom umur Miosen Tengah, batupasir pada Sumur-1 dengan batupasir pada Sumur-2, dan
batugamping pada Sumur-1 dan batugamping pada Sumur-2 dapat dikorelasikan.

4. Korelasi lapisan lapisan batuan tidak boleh memotong garis umur (Pada gambar diwakili oleh garis
warna merah).



RINGKASAN
Stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan, dan pembentukan (genesa)
macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu.

Sandi Stratigrafi adalah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi ataupun tidak resmi,
sehingga terdapat keseragaman dalam nama maupun pengertian nama-nama tersebut.

Penggolongan Stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk
mempermudah pemerian, aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok
bersistem tersebut diatas dikenal sebagai satuan stratigrafi.

Batas Satuan Stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut
sebagaimana didefinisikan. Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berimpit dengan batas
Satuan Stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain.

Tatanama Stratigrafi ialah aturan penamaan satuan-satuan stratigrafi, baik resmi maupun tak resmi,
sehingga terdapat keseragaman dalam nama maupun pengertian nama nama tersebut seperti
misalnya: Formasi/formasi, Zona/zona, Sistem dan sebagainya.

Stratotipe atau pelapisan jenis adalah tipe perwujudan alamiah satuan stratigrafi yang memberikan
gambaran ciri umum dan batas-batas satuan stratigrafi.
Korelasi adalah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan satuan
stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu.

Horison ialah suatu bidang (dalam praktek, lapisan tipis di muka bumi atau dibawah permukaan)
yang menghubungkan titik-titik kesamaan waktu. Horison dapat berupa: horison listrik, horison
seismik, horison batuan, horison fosil dan sebagainya. Istilah istilah seperti : datum, marker, lapisan
pandu sebagai padanannya dan sering dipakai dalam keperluan korelasi.

Facies adalah aspek fisika, kimia, atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh
batuan yang diendapkan pada waktu yang sama dikatakan berbeda facies, kalau kedua batuan
tersebut berbeda ciri fisik, kimia atau biologinya.

Satuan Litostratigrafi adalah menggolongkan batuan di bumi secara bersistem menjadi satuan-
satuan bernama yang bersendi pada ciri-ciri litologi.
Satuan Litodemik adalah menggolongkan batuan beku, metamorf dan batuan lain yang terubah kuat
menjadi satuan-satuan bernama yang bersendi kepada ciri-ciri litologinya.
Satuan Biostratigrafi adalah menggolongkan lapisan-lapisan batuan di bumi secara bersistem
menjadi satuan-satuan bernama berdasar kandungan dan penyebaran fosil
Satuan Sikuenstratigrafi adalah penggolongan lapisan batuan batuan di bumi secara bersistem
menjadi satuan-satuan bernama berdasarkan gerak relatif muka laut.
Satuan Kronostratigrafi adalah penggolongan lapisan-lapisan secara bersistem menjadi satuan
bernama berdasarkan interval waktu geologi.
Satuan Tektonostratigrafi adalah menggolongkan suatu kawasan di bumi, yang tergolong pinggiran
lempeng aktif, baik yang menumpu (plate convergence) ataupun memberai (plate divergence)
menjadi mintakat-mintakat (terrances).

Pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci urut-urutan perlapisan
satuan stratigrafi, ketebalan setiap satuan stratigrafi, hubungan stratigrafi, sejarah sedimentasi
dalam arah vertikal, dan lingkungan pengendapan.

Kolom stratigrafi adalah kolom yang menggambarkan susunan dari batuan yang memperlihatkan
hubungan antar batuan atau satuan batuan mulai dari yang tertua hingga termuda menurut umur
geologi, ketebalan setiap satuan batuan, serta genesa pembentukan batuannya.

Korelasi stratigrafi pada hakekatnya adalah menghubungkan titik-titik kesamaan waktu atau
penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu.


Geologi
Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tetang bumi dan juga segala isinya serta aspek-
aspek yang berpengaruh didalamnya. Pada dasarnya bumi ini bersifat dinamis dimana bumi ini selalu
mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Perubahan ini akan selalu terjadi dalam skala local maupun regional. Oleh karena sifat bumi
yang selalu bergerak, maka sangatlah perlu dilakukan penelitian yang khusus terhadap pergerakan
bumi ini serta pengaruh terhadap kehidupan manusia.

I.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari diadakan praktikum Geologi Struktur yang dilakukan di daerah
Tenggarong Propinsi Kalimantan Timur, agar para mahasiswa dapat mengetahui gejala-gejala
struktur yang ada di lapangan dan selanjutnya dapat menginterpretasikan berdasarkan data struktur
yang telah diperoleh.
Adapun tujuan dari diadakan praktikum Geologi Struktur yang dilakukan di daerah
Tenggarong Propinsi Kalimantan Timur adalah agar :
Mahasiswa dapat mengetahui kondisi struktur geologi yang ada pada daerah tenggarong dan
sekitarnya.
Mahhasiswa dapat menganalisa struktur-struktur geologi yang ada pada daerah penelitian
berdasarkan pada pengolahan data yang telah diambil datanya.
Mahasiswa dapat meengetahui macam-macam struktur pada daerah penelitian berdasarkan analisis
data-data diperolehkan.
Mahasiswa dapat mengetahui meknisme struktur geologi pada daerah tenggarong dan sekitarnya.

I.3. Lokasi, Waktu dan Tempat
Secara administrative, daerah pelaksanaan praktikum berada pada daerah Ranggo, Propinsi
Jambi. Praktikum Geologi Struktur ini dilaksanakan sejak tanggal,xxxx hingga tanggal xxxx di
laboratorium geologi struktur Universitas xxxx.

I.4. Metode dan Tahapan Praktikum
Dalam melakukan praktikum di daerah Ranggo dan sekitarnya dilakukan beberapa metode
praktikum antara lain:
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan persiapan administrasi berupa perizinan baik dari pihak Universitas Kutai
Kartanegara maupun Pemerintah daerah serta persiapan teknis menyangkut peralatan dan bahan
yang digunakan selama penelitian seperti peta dengan skala yang di tentukan, kompas geologi, GPS,
dan alat-alat lainnya yang diperlukan dalam kegiatan penelitian tersebut. Dalam tahap ini juga
dilakukan studi literature untuk memperoleh gambaran umum mengenai daerah penelitian yang
selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan laporan.
2. Tahap pelaksanaan Praktikum
Pelaksanaan praktikum di lapangan merupakan tahapan pengambilan data-data geologi pada lokasi
penelitian melalui pencatatan data-data geologi permukaan berupa pencatatan data lapangan pada
buku lapangan, pengambilan conto batuan.

3. T ahap Pengolahan data
Pada tahap ini semua data yang telah diamati di lapangan diolah dalam bentuk pengukuran kekar,
gambar profil kekar, pengukuran kedudukan batuan, sketsa kekar, dibuat dalam laporan sementara
yang selanjutnya untuk dianalisa dan di interpretasika
4. Tahap penyusunan laporan
Setelah data-ddata diolah dan di interpretasikan, maka hasil penelitian disusun dalam suatu laporan
ilmiah. Laporan ini memuat semua data lapangan, hasil analisis dan interpretasi secara sistematik
berupa uraian deskriptif.

I.5. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum geologi struktur ini antara lain :
1. Peta lintasan
Untuk membantu Dalam mengetahui posisi dan sebagai penunjuk daerah penelitian.
2. Kompas geologi
Kompas geologi digunakan untuk mengukur kedudukan batuan, mengukur arah atau slope.
3. Palu geologi
Palu geologi digunakan untuk membantu mengambil sample batuan
4. GPS ( global position system )
Digunakan untuk menentukan koordinat posisi lapangan
5. Betel
Betel digunakan juga dalam pengambilan sample lunak
6. Kantong sample
Kantong sample merupakan tempat untuk menyimpan sample dan memberi label sehingga mudah
dikenali.
7. Spidol permanen
Digunakan dalam pemberian label dikantong sample.
8. Larutan HCL
Digunakan sebagai uji sifat kimiawi pada batuan, apakah bersifat karbonat atau silica.
9. Mistar dan busur derajat
Digunakan sebagai alat untuk membantu pengeplotan data
10. Klip board
Digunakan sebagai alas dalam pencatatan data lapangan serta alat Bantu dalam kedudukan batuan.
11. Klip dan Hecter
Digunakan untuk menghecter kantong sampeltempat sample
12. Kertas kuarto
Digunakan dalam pencatatan data diluar buku lapangan
13. Buku Lapangan
Digunakan untuk mencatat data-data lapangan atau merekam data
14. Roll meteran
Digunakan untuk mengukur jarak lintasan
15. Lup
Digunakan untuk melihat mineral pada batuan
16. Komparator
Merupakan alat kesebandingan dalam penamaan batuan
17. Pita meter
Untuk mengukur dimensi singkapan
18. Pensil warna
Digunakan untuk memberi simbol warna terhadap data litologi yang diperoleh
19. Alat tulis menulis


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Geometri Unsur Struktur
Unsur-unsur struktur geologi di alam, yang umumnya di lapangan dijumpai berupa singkapan-
singkapan struktur pada batuan yang terdeformasi, sebenarnya bentuk-bentuk geometrinya dapat
disederhanakan menjadi geometri yang terdiri dari struktur bidang dan struktur garis.
Unsur-unsur secara geometris pada dasarnya hanya terdiri dari dua unsur geometris yaitu:
Geometris bidang (Struktur bidang : bidang perlapisan, kekar, sesar, foliasi, sumbu lipatan, dll) dan
Geometris garis (Struktur garis : goresgaris, perpotongan 2 bidang, liniasi, dll).
Pemecahan masalah-masalah yang berhubungan dengan geometri struktur bidang dan struktur garis
seperti : masalah besaran arah dan sudut, jarak dan panjang dari struktur bidang dan struktur garis,
misalnya : menentukan panjang dari segmen garis, sudut anatara dua garis, sudut antara dua bidang,
sudut antara garis dan bidang, jarak titik terhadap bidang, jarak titik terhadap garis.
Adapun salah satu cara pemecahan masalah geometridalam geologi struktur adalah dengan metode
geometri deskriptif, yang meliputi metode grafis dan proyeksi. Dimana dalam analisa dan
pemecahan masalahnya bentuk dan posisi obyek struktur yang yang tadinya di alam memiliki
kenampakan tiga dimensi diubah menjadi dua dimensi.
Kelemahan dari metode ini adalah ketelitiannya sangat tergantung pada faktor-faktor : skala
penggambaran, ketelitian alat gambar dan tingkat keterampilan si penggambar. Namun
dibandingkan dengan metode-metode proyeksi yang lain (proyeksi perspektif dan proyeksi
stereografis), metode ini dapat lebih cepat untuk memecahkan masalah struktur bidang dan struktur
garis karena secara langsung berhubungan dengan kenampakan tiga dimensi, sehingga mudah
dipahami.
Di dalam metode grafis ini, struktur bidang dan struktur garis digambarkan pada bidang proyeksi
(bidang horizontal dan vertikal) dengan cara menarik garis-garis proyeksi dan saling sejajar satu
sama lain.

2.1.1 Struktur Bidang
Struktur bidang dalam geologi struktur dapat dibedakan menjadi struktur bidang riil dan struktur
bidang semu.
- Struktur bidang riil, artinya bentuk dan kedudukannya dapat diamati secara langsung di
lapangan, anatara lain adalah : bidang perlapisan, bidang ketidakselarasan, bidang sesar, bidang
foliasi dan bidang sayap lipatan. Bidang yang disebut terakhir ini sebenarnya merupakan kedudukan
bidang-bidang yang terlipat.
- Struktur bidang semu, artinya bentuk dan kedudukannya hanya bisa diketahui atau
didapatkan dari hasil analisa struktur bidang riil yang lain, contohnya adalah bidang poros lipatan.
Dikaitkan dengan penggolongan struktur menurut waktu pembentukannya, maka dapat dibedakan
menjadi struktur bidang primer dan struktur bidang sekunder. Bidang-bidang yang termasuk dalam
struktur primer adalah bidang perlapisan, bidang foliasi, bidang rekah kerut (mud crack), bidang
kekar kolom (columnar joint), pada batuan beku, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termasuk
dalam struktur bidang sekunder adalah bidang kekar, bidang sesar, bidang sayap lipatan.
Pada umumnya struktur bidang dinyatakan dengan istilah-istilah : jurus (srike) dan kemiringan (dip).

2.1.1.a. Definisi Istilah-Istilah Struktur Bidang
- Jurus (strike) : Arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang
bersangkutan dengan bidang horizontal, besarnya diukur dari arah utara.
- Kemiringan (dip) : Sudut kemiringan terbesar yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang
hortizontal dan diukur tegak lurus terhadap jurus.

2.1.1.b. Cara Penulisan (Notasi) dan Simbol Struktur Bidang
Untuk menyatakan kedudukan suatu struktur bidang secar tertulis agar dengan mudah dan cepat
dipahami, dibutuhkan suatu cara penulisan dan simbol pada peta geologi. Penulisan (notasi) struktur
bidang dinyatakan dengan :
- Jurus / kemiringan
Sistem Azimuth : hanya mengenal satu tulisan yaitu N X E/ Y besarnya X antara 0 - 360 dan
besarnya Y antara 0 - 90.
Sistem Kwadran : penulisan tergantung pada posisi kwadran yang diinginkan sehingga
mempunyai beberapa cara penulisan, misalnya :
Sistem azimuth : N 145 E/ 30, maka menurut sistem kwadrannya adalah : N 35 W/ 30 SW.

NO AZIMUT SIMBOL KUADRAN
1 N 175 E / 25

S 5 E / 25 SW
2 N 280 E / 15

N 80 W / 15 NE
3 N 60 E / 20

N 60 E / 20 SE
4 N 35 E / 10

N 35 E / 10 SE
5 N 320 E / 35

N 40 W / 35 NE

Table 2.1 notasi symbol

2.1.1.c. Cara Mengukur Struktur Bidang Dengan Kompas Geologi
1. Pengukuran Jurus (strike)
Bagian sisi kompas (sisi E) ditempel pada bidang yang akan diukur, kedudukan kompas
dihorizontalkan, ditunjukkan oleh posisi level dari nivo mata sapi (Bulls Eye Level), maka harga
yang ditunjuk oleh jarum utara kompas adalah harga jurus bidang yang diukur. Berilah tanda garis
pada bidang tersebut sesuai dengan arah jurusnya.
2. Pengukuran Kemiringan (Dip)
Kompas pada posisi tegak, tempelkan sisi W kompas pada bidang yang diukur dengan posisi yang
tegak lurus jurus pada garis jurus yang telah dibuat pada butir (1). Kemudian clinometer diatur
sehingga gelembung udaranya tepat berada di tengah (posisi level). Maka harga yang ditunjuk oleh
penunjuk pada skala clinometer adalah besarnya sudut kemiringan dari bidang yang diukur.

2.1.1.d. Aplikasi Metode Grafis I untuk Struktur Bidang
Aplikasi yang diuraikan di sini meliputi pemecahan masalah-masalah struktur bidang antara lain :
a. menentukan kemiringan semu
b. menentukan kedudukan bidang dari dua kemiringan semu pada ketinggian yang sama (gambar
dilampirkan)
c. menentukan kedudukan bidang dari dua kemiringan semu pada ketinggian yang berbeda
(gambar dilampirkan)
d. menentukan kedudukan bidang berdasarkan problema tiga titik (three point problem). (gambar
dilampirkan)

Adapun penjabarannya sebagai berikut :
a. Menentukan Kemiringan Semu
Suatu bidang ABCD dengan kedudukan N X E/ Y, berapakah kemiringan semu yang diukur pada
arah N Y E.
- Cara penyelesaian secara grafis :
(1) Buat proyeksi horizontal bidang ABCD pada kedalaman d, yaitu dengan membuat dua jurus
yang selisih tingginya h dengan besar kemiringan yang diketahui.
(2) Gambar proyeksi horizontal garis dengan arah N Y E, sehingga memotong jurus yang lebih
rendah di titik L (garis AL).
(3) Buat garis sepanjang d melalui L dan tegak lurus terhadap garis AL (garis AK)
(4) Hubungkan A dan K, maka sudut KAL adalah kemiringan semu.
b. Menentukan Kedudukan Bidang dari Dua Kemiringan Semu pada Ketinggian yang Sama
Dari lokasi O, terukur dua kemiringan semu, masing-masing sebesar 1 pada arah N X E dan 2
pada arah N Y E. Tentukan kedudukan bidang ABFE.
- Langkah-langkah/ konstruksi :
(1) Gambarkan rebahan masing-masing kemiringan semu sesuai dengan arahnya dari lokasi O (pada
kedalaman d).
(2) Hubungkan titik D dengan C, maka DC merupakan proyeksi horizontal jurus bidang ABFE.
(3) Buat melalui O garis tegak lurus DC dan memotong di L.
(4) Ukurkan LK sepanjang d maka sudut KOL adalah dip dari bidang ABFE.
(5) Kedudukan bidang ABFE adalah N Z E/

c. Menentukan Kedudukan Bidang dari Dua kemiringan Semu pada Ketinggian yang Berbeda
Pada lokasi O ketinggia 400 meter terukur kemiringan semu 2 pada arah N Y E, dan pada lokasi P
ketinggian 300 meter terukur kemiringan semu 1 pada arah N X E. Letak lokasi P terhadap O
sudah diketahui.
- Konstruksi :
(1) Gambarkan rebahan kemiringan semu di O dan P sesuai arah dan besarnya.
(2) Gambarkan lokasi ketinggian 300 meter pada jalur O, yaitu lokasi Q.
(3) Garis PQ adalah proyeksi horizontal jurus bidang ABFE pada ketinggian 300 meter.
(4) Buat melalui O garis tegak lurus PQ, yaitu garis OT
(5) Ukurkan RT sepanjang d, maka sudut TOR
(6) Maka kedudukan bidang ABFE adalah N Z E/ .

d. Menentukan Kedudukan Bidang Berdasarkan Problema Tiga Titik (Three Point Problem)
Maksudnya adalah menentukan kedudukan bidang dari tiga titik yang diketahui posisi dan
ketinggiannya, dimana titik tersebut terletak pada bidang rata yang sama. Dan bidang tersebut tidak
terlipat/ terpatahkan serta ketiga titik tersebut ketinggiannya berbeda.
- Diketahui tiga titik masing-masing : A ketinggian 750 m, B ketinggian 500 m, dan C ketinggian
200 m. untuk menyamakan interval tiap masing-masing ketinggian maka diberi titik D
dengan ketinggian 250 m. Jadi beda tinggi antara titik A, B, D adalah 250 m.
- Ketiga titik tersebut terletak pada bidang PQRS. Tentukan kedudukan bidang PQRS.
Langkah-langkah/ Kontruksi :
(1) Buat tiga titik dengan ketinggian yang berbeda, masing-masing titik yaitu A ketinggiannya 750
m, B ketinggiannya 500 m, dan C ketinggiannya 200 m.
(2) Agar interval masing-masing titik sama, maka beri lagi satu titik yaitu titik D dengan ketinggian
250 m yang terletak di atas titik C.
(3) Hubungkan ketiga titik tersebut, yaitu titik ABD. Maka akan membentuk suatu segitiga.
(4) Dip () terletak antara titik A dan D yaitu pada ketinggian 500 m. Dan untuk mencari dip ()
dengan menggunakan rumus di bawah ini :
DIP (a) = BT (BEDA TINGGI) / JARAK
= 750 M 500 M / 750 M
= 250 / 750
= 0,33
Jadi tan-1 0,33 = 18,20o

2.1.2 Struktur Garis
Seperti halnya dengan struktur bidang, struktur garis dalam Geologi Struktur dapat dibedakan
menjadi Struktur garis riil dan struktur garis semu.
- Struktur garis riil adalah : struktur garis yang arah dan kedudukanya dapat diamati langsung
dilapangan. Misalnya : gores garis yang terdapat dalam bidang sesar.
- Struktur garis semu adalah : semua struktur garis yang arah dan kedudukannya ditafsirkan dari
orientasi unsur-unsur struktur yang membentuk kelurusan atau liniasi. Misalnya : liniasi fragmen
breksi sesar, liniasi mineral-mineral dalam batuan beku, arah liniasi struktur sedimen (flute cast,
cross beeding) dsb. Juga dapat dimasukkan di sini kelurusan-kelurusan sungai, topografi dsb.
Berdasarkan saat pembentukannya struktur garis dapat dibedakan menjadi struktur garis primer
dan struktur garis sekunder. Dari contoh-contoh struktur garis yang disebutkan di atas, yang
termasuk struktur garis primer adalah : liniasi atau pejajaran mineral-mineral pada batuan beku
tertentu, arah liniasi struktur sedimen. Dan yang termasuk struktur garis sekunder adalah : gores-
garis, liniasi memanjang fragmen breksi sesar, garis poros lipatan dan kelurusan-kelurusan :
topografi , sungai, dsb.


Kedudukan struktur garis dinyatakan dengan istilah istilah :
arah penunjaman (trend), penujaman (plunge), arah kelurusan (bearing), dan Rake atau
Pitch.

2.1.2.a. Definisi Istilah-Istilah dalam Struktur Garis
- Arah penunjaman (trend) : jurus dari bidang vertical yang melalui garis dan menunjukkan arah
penunjaman garis tersebut (hanya menunjukkan satu arah tertentu).
- Arah kelurusan (bearing) : Jurus dari bidang vertical yang melalui garis tetapi tidak menunjukkan
arah penunjaman garis tersebut (menujukkan arah-arah dimana salah satu arahnya merupakan
sudut pelurusannya).
- Rake (pitch) : besar sudut antara garis dengan garis horizontal, yang diukur pada bidang dimana
garis tersebut terdapat. Besarnya rake sama dengan atau lebih kecil 90o.

2.1.2.b. Cara Penulisan (Notasi) dan Simbol Struktur Garis
Untuk menyatakan kedudukan suatu struktur garis secara tertulis dan suatu cara penulisan simbol
pada peta geologi.
Penulisan notasi struktur garis dinyatakan dengan: Plunge, trend (arah penunjaman).
Sistem Azimuth : hanya mengenal satu penulisan yaitu Yo, N Xo E.
- Xo adalah trend, besarnya : 0o 360o
- Yo adalah plunge, besarnya : 0o 90o (sudut vertical).
Sistem Kwadran : penulsan tergantung pada posisi kwadran yang diinginkan sehingga mempunyai
beberapa cara penulisan, misalnya :
- Sistem azimuth : 30, N 45o E maka menurut sistem kwadran adalah : 45o, N 45o E.
- Sistem Azimuth : 45o, N 90o E maka menurut sistem kwadrannya adalah : 45o, N 90o E atau
45o, S 90o E.

2.1.2.c. Aplikasi Metode Grafisi I Untuk Struktur Garis
Aplikasi yang akan dibahas di sini meliputi pemecahan masalah-masalah struktur garis, antara lain :
a. Menentukan pluge dan rake sebuah gasis pada suatu bidang (gambar dilampirkan).
b. Menentukkan kedudukan struktur garis dari perpotongan dua bidang (gambar dilampirkan) .

Adapun penjabarannya sebagai berikut :
a. Menentukan plunge dan rake sebuah garis pada sebuah bidang
Diketahui data dari hasil pengukuran didapat kedudukan N 0o E / 45o, dengan arah penunjaman N
135o E. Dengan ketinggian 30 m, skala 1 : 10000. Tentukan besar plunge dan rake.

- Penyelesaian secara grafis
(1) Buat proyeksi horizontal / garis tegak lurus dengan kedalaman d.
(2) Dari titik O buat garis dengan arah N 135o E, sehingga memotong jurus pada kedalaman d di
titik C.
(3) Melalui C buat garis CD (panjangnya = d) tegak lurus OC, maka sudut COD adalah garis
besarnya plunge = 35o.
(4) Putarlah dengan jangka dari titik O sampai ketitik A (garis OA) ketitik B.
(5) Dari B buat garis sejajar (OS), maka garis ini merupakan jurus pada kedalaman d.
(6) Buatlah melalui C garis tegak lurus pada garis butir (5), secara memotong dititk E.
(7) Hubungan titik E dengan titik O maka sudut EOS adalh besarnya rake 55o.

b. Menentukan kedudukan garis hasil perpotongan dua buah bidang
Diketahui 2 perpotongan bidang suatu pengukuran batupasir dengan kedudukan bidang yaitu N
48oE / 30o terpotong dike dengan kedudukan N 21o E / 50 NE. Tentukan kedudukan jalur
perpotongannya dimana ketinggian batupasir adalah 200 m dengan skala 1 : 10000.
- Penyelesaian secara grafis :
(1) Gambar garis jurus sesuai dengan dengan arah jurus dari batupasir dan dike serta berpotongan
di A.
(2) Gambarkan proyeksi horizontal batupasir dan dike pada kedalaman d dengan menggunakan B
dan C, seningga tergambar jurus dengan kedalaman d dari batupasir dan dike serta berpotongan di
D.
(3) Garis AD adalah proyeksi horizontal jalur perpotongan. Tentukan bearingnya, yaitu dengan
mengukur sudut antara garis AD terhadap arah utara, terhitung 0o, jadi bearingnya N 0o E.
(4) Melalui D buat garis DE (panjang = d) tegak lurus AD. Sudut DAE adalah plunge = 24o.
(5) Putar bidang batupasir dan dike sampai posisi horizontal, maka tergambar rebahan masing-
masing jurus pada kedalaman d.
(6) Buat garis DF dan DG yang masing-masing tegak lurus pada garis jurus.
(7) Buat garis DF adalah rebahan AE pada batupasir dan AG adalah rebahan pada AE pada dike.
- Sudut BAF adalah rake pada batupasir = 53o
- Sudut CAG adalah rake pada dike = 34o
- Jadi kedudukan garis potongannya adalah 24o, N 0o E.
Rake pada batupasir = 53o
Rake pada dike = 34o

2.2 Tebal Dan Kedalaman
Penentuan tebal dan kedalaman dalam geologi struktur pada dasarnya merupakan aplikasi dari
metode grafis dan goneometris.tebal merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang sejajar,
yang merupakan batas lapisan batuan. Ketebalan : jarak vertical dari ketinggian tertentu (
permukaan air laut ) kearah bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan
untuk melakukan suatu pengeboran.

Tebal
Tebal merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan
batuan. Secara garis besar, masalah-masalah penentuan ketebalan dapat dibedakan atau dibagi
berdasarkan cara perhitungannya menjadi :
a. Perhitungan berdasarkan pengukuran lansung.
b. Perhitungan berdasarkan pengukuran tidak langsung

2.2.1.a. Perhitungan ketebalan secara langsung
Perhitungan secara langsung ini dapat dilakukan di lapangan dengan syarat kemiringan lereng tegak
lurus dengan kemiringan lapisan seperti :
Medan datar / tak berelief dengan lapisan relatif tegak.
Medan vertikal dengan lapisan relatif horizontal.

2.2.1.b. Perhitungan ketebalan secara tidak langsung
Perhitungan secara tidak langsung ini dapat dilakukan sengan bermacam-macam cara tegantung
pada keadaan topografi dan kedudukan lapisan batuan.
Salah satu metode yang sering diterapkan di lapangan adalah MS (measuring section). Unsur-
unsur yang dijumpai di lapangan yang dipakai sebagai data perhitungan geometri adalah :
- Tebal semu (w)
- Tebal sebenarnya (t)
- Lebar singkapan (s)
- Dip / kemiringan lapisan batuan (o)
- Besar sudut lintasan terhadap arah jurus lapisan (o)
- Besar sudut kemiringan lereng / slope (o)
- Arah kemiringan perlapisan (D)
- Arah perlapisan (R)
Data-data yang diperoleh ini memasukkan ke dalam rumus-rumus geometri yang sesuai dengan
dengan kondisi medannya apakah datar atau miring dan arah pengukuran lintasan apakah tegak
lurus jurusan lapisan atau tidak.
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan ketebalan adalah sebagai berikut :
Rumus untuk lintasan tegak lurus jurus
- Bila lereng horizontal (gambar 2.2.1.F), maka berlaku rumus :
t = w sin o.. (rumus 1)
- Dip lebih besar dari pada slope (gambar 2.2.1.E), maka digunakan rumus :
t = w sin (180 ) ........... (rumus 2)
- Dip lebih kecil dari slope (gambar 2.2.1.C), maka digunakan rumus :
t = w sin ( + ).. (rumus 3)
- Dip lebih besar dari slope (gambar 2.2.1.D, rumusnya:
t = w cos (90o ) ........... (rumus 4)
- Bila kemiringan lapisan 90o (gambar 2.2.1.G, rumusnya:
t = w cos ............................ (rumus 5)
- Untuk beta lebih besar dari alfa (gambar 2.2.1.A), rumusnya:
t = w sin ( ) ..................... (rumus 6)
- Untuk beta lebih kecil dari alfa (gambar 2.2.1.P), maka rumusnya:
t = w sin ( ) .................... (rumus 7)

Rumus untuk lintasan tidak tegak lurus jurus
- Bila lereng horizontal, maka:
t = w sin . sin .. (rumus 8)
- Kemiringan lereng berlawanan arah dengan kemiringan lapisan, digunakan rumus :
t = w (sin . cos + cos . sin . sin ) ........... (rumus 9)
- Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih besar dari alfa, maka
digunakan rumus :
t = w (sin . cos - cos . sin . sin ) ........... (rumus 10)
- Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih kecil dari alfa, maka
digunakan rumus:
t = w (cos . sin . sin - sin . cos ) ........... (rumus 10)
Untuk menentukan ketebalan suatu lapisan, maka perlu kita memperhatikan lintasan yang dilalui
pada saat pengukuran, adapun tujuan melakukan lintasan ialah mengamati sebanyak mungkin
keadaan geologi dan hal-hal yang dibutuhkan. Serta untuk melakukan pengukuran struktur dan
pengambilan contoh batuan. Hasilnya dapat digunakan untuk membuat peta dan penampang
geologi serta kolom stratigrafi. Untuk menghasilkan ketepatan yang akurat lintasan yang dilakukan
harus terukur.
Untuk mengerjakan data pengukuran dengan beberapa alternatif rumus yang telah dikemukakan di
atas akan memungkinkan banyak kesalahan dalam perhitungan. Hasil-hasil dari perhitungan dengan
pemakaian rumus di atas apabila tidak tepat dalam menginterpretasi keadaan di lapangan maka
akan menyebabkan penyimpangan yang besar dari ketebalan sebenarnya di lapangan.
Rumus dari perhitungan ketebalan secar umum, yaitu :
T = w (sin b.cos a + cos b.sin d )
Dengan catatan bila kemungkinan kemiringan lereng dan kemiringan lapisan searah maka salah satu
dari beta dan gama harus negatif (yang negatif adalah angka yang lebih kecil). Kemudian apabila
perhitungan ketebalan tersebut tanpa memperhatikan kemiringan lereng, kemiringan lapisan searah
atau berlawanan arah dan apakah beta lebih besar dari gama atau sebaliknya, amak digunakan
rumus :
T = w (sin b.cos a - cos b.sin d .cos (D R)