Anda di halaman 1dari 18

1

Peningkatan Prestasi Belajar Kimia Melalui Model Siklus


Belajar
ABDUL KHOLIS
SMA Megeri 1 Wonoayu Sidoarjo, Jl.Pagerngumbuk Wonoayu Sidoarjo
E-mail : abdulkholis32@yahoo.com
ABSTRAK
Dalam pembelajaran kimia, guru sering mengalami kesulitan dalam menanamkan
pengetahuan kepada siswa , karena mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang
termasuk sulit dan tidak di senangi oleh siswa, sehingga dalam proses pembelajaran kimia
dibutuhkan ketrampilan dalam pembelajaran agar siswa tidak mudah bosan, malas, terkekang .
maka salah satu alternatif pembelajaran kimia yaitu dengan menerapkan model pembelajaran
yang melibatkan siswa untuk aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan, salah satu model
pembelajaran tersebut adalah Model Siklus Belajar , dengan siklus belajar diharapkan siswa
dapat meningkatkan aktivitas, inovasi dan kretifitasnya dalam proses pembelajaran sehingga
setelah proses belajar pembelajaran siswa dapat membangun pengetahuan secara sendiri dari
keterlibatannya baik secara fisik, emosional dan intelektual pada proses pembelajaran yang pada
gilirannya diharapkan konsep pemahaman yang diajarkan oleh guru dapat dipahaminya yang
pada akhirnya prestasi belajar siswa akan semakin meningkat.
Kata kunci: Prestasi Belajar, Kimia, Model Siklus Belajar

Kimia adalah salah satu mata pelajaran rumpun sain yang dapat mengembangkan
kemampuan analisis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan
menggunakan logika , serta dapat mengembangkan pengetahuan , ketrampilan, dan sikap
percaya diri .
Secara garis besar hakekat kimia adalah ilmu yangmempelajari gejala-gejala alam ,
tetapi lebih mengkhususkan diri di dalam mempelajari struktur , susunan, sifat, dan
perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi.
Dalam kegiatan pembelajaran Kimia ,seorang guru harus menguasai berbagai
ketrampilan pembelajaran yang meliputi penguasaan metode pembelajaran, pengelolahan
kelas, penggunaan media pembelajaran dan lain-lain, sehingga guru perlu berupaya untuk
meningkatkan kinerjanya dalam pembelajaran melalui berbagai pelatihan ; seperti pelatihan
penggunaan model pembelajaran, pelatihan pembuatan alat peraga, pelatihan pengembangan
silabus. Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam proses pembelajaran.
Terlebih lagi pada saat ini banyak para peserta didik yang kurang memiliki motivasi dalam
belajar, mereka lebih senang keluyuran di mall pada jam efektif, tidak masuk kelas walaupun
2

sudah dating di sekolah, bermain Play station di tempat lain atau hanya bermain handpone
saja waktu proses pembelajaran dalam kelas berlangsung, sehingga diperlukan pendidik atau
guru yang dapat memberi motivasi yang tinggi terhadap peserta didik yang mengalami
permasalahan dalam mengikuti proses pembelajaran, dimana guru tersebut dapat
menciptakan pembelajaran yang menggairakan, menantang , professional, tidak
membosankan tapi menyenagkan, sehingga mampu menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif, suasana pembelajaran yang menantangdan mampu memberikan pembelajaran
yang menyenangkan.Hal ini penting sekali , terutama karena dalam setiap pembelajaran,
guru memiliki peranan yang sangat sentral, baik sebagai perencana, pelaksan, maupun
evaluator pembelajaran. Kualitas pembelajaran sangat tergantung pada kemampuan
professional guru, terutama dalam memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik secara
efektif dan efesien.
Syaodih ( 1998, dalam Menjadi Guru Profesional; 13) mengemukakan bahwa guru
memegang peranan yang cukup penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan
kurikulum. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan
pengembang kurikulum bagi kelasnya.Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi, dari segi
proses dan segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan
sebagian besar peserta didik secara aktif, fisik, mental , maupun social dalam proses
pembelajaran. Dengan demikian guru diharapkan menguasai berbagi metode pembelajaran
yang bervariasi , sehingga peserta didik tidak mudah jenuh karena dalam pembelajaran
didapatkan berbagai macam kegiatan yang tentunya tidak monoton dan tidak membosankan.
Pemilihan metode belajar yang tepat akan lebih membatu peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran atau dalam melakukan internalisasi terhadap isi atau materi
pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran perlu disadarkan pada kesesuaian dengan
tugas dan tujuan pembelajaran yang akan ditempuh oleh peserta didik.Pemilihan metode
pembelajaran yang tepat akan membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan. Tapi kenyataan dilapangan ternyata banyak sekali guru yang dalam
pembelajaran hanya menggunakan metode yang monoton, tidak bervariasi yang
menyebabkan siswa tidak betah di kelas selama pembelajaran berlangsung. Selain faktor
guru, juga tidak terlepas dari peserta didiknya, kadang seorang guru telah begitu seriusnya
dalam memotivasi peserta didik agar pembelajaran dapat berjalan timbal balik atau terjadi
3

dua arah, tapi apa yang terjadi peserta didik tetap saja tidak termotivasi. Disamping hal di
atas pembelajaran harus dibuat dalam kondisi yang menyenangkan sehingga siswa
termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan, dengan kondisi yang menyenangkan siswa akan
tertarik baik terhadap pelajaran ataupun dengan sosok guru secara pribadi (E. Mulyasa,
2003). Berdasar hasil pengamatan peneliti ada beberapa hal yang sangat mengganggu dalam
pencapaian keberhasilan pembelajaran Mata pelajaran Kimia di SMA Negeri 1 Wonoayu
khususnya kelas XI IPA 1 adalah :Ketercapaian ketuntasan yang masih rendah sebesar 50 %,
sehingga sebanyak 50 % dari 40 anak yang harus mengikuti remidi. Penggunaan metode
pembelajaran yang kurang menantang, dan menyebabkan siswa menjadi pasif. Akhirnya
siswa akan menjadi pribadi yang malas, bosan kadang pembelajaran menjadi menjenuhkan
apalagi diberi pembelajaran yang hanya lihat, baca, tulis, yang menjadikan kreativitas siswa
menjadi mati, tidak berdaya, hanya pasrah pada sang dalang yang tak lain adalah guru. Siswa
hanya sebagai obyek yang harus mengikuti apa yang dilakukan oleh guru, tidak mempunyai
kekuatan untuk berbuat .
Menurut Aksela (2005) menyatakan suatu pengetahuan tidak dapat dipindahkan
begitu saja dari otak seseoran ke otak orang lain ( dari guru ke siswanya), tapi siswa harus
dapat membagun pengetahuan itudidalam otaknya sendiri, karena tugas seorang guru hanya
bersifat sebagai fasilitator, proses ini oleh Aksela yang terdapat dalam siklus belajar,
menurut Ali (1993) Siklus belajar adala proses pembelajaran yang didalamnya terdapat
rangkaian kegiatan yang dilakukan secara tepat dan teratur. Karena dalam mempelajari
kimia itu tidak mudah dan membutuhkan banyak proses sehingga model siklus belajar ini
juga merupakan salah satu model yang sesuai untuk dikembangkan dalam pembelajaran
kimia.
Atas dasar pemikiran ini maka masalah penelitian ini adalah bagaimana Model
Siklus Belajar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri
Wonoayu Sidoarjo.
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu strategi pembelajaranyang menerapkan model kontruktivisme adalah model
siklus Belajar ( Learning Cycle). Siklus Belajar merupakan suatu pengorganisasian yang
memberikan kemudahan untuk penguasaan konsep-konsep baru untuk menata ulang
pengetahuan siswa ( Santoso, 2005:34)
4

HOTS (high order thinking skills) atau ketrampilan berpikir tingkat tinggi dapat
dilatihkan dan dicapai oleh siswa jika kepadanya diberikan ketrampilan (Iskandar, 2004).
Salah satu pembelajaran yang melatihkan HOTS adalah learning cycle/LC. LC menjadi
perhatian dan berkembang setelah tahun 1960 diluncurkan oleh program SCIS di Amerika.
Implementasi lebih lanjut menghasilkan perkembangan dari 3 fase hingga yang terakhir (saat
ini) 7 fase. Fase fase ini menjadi penting karena berkaitan dengan pembentukan dan
pengembangan konsep Piaget.
Tahun 1960, LC terdiri dari 3 fase: exploration, invention dan discovery (versi Karplus
dan Their) serta exploration, concept introduction, dan concept application (versi Karplus).
Periode 1990-an menjadi 4 fase: doing, reflecting, linking dan planning; dan 5 fase:
enggange, explore, explain, extend (expand; eloborate) dan evaluate (Dasna, 2005:5).
Terakhir periode 2000-an Johnston menjadikannya 6 fase: identifikasi tujuam pembelajaran
ditambah 5 fase sebelumnya. Dengan pertimbangan banyaknya fase yang efektif maka
pembicaraan diarahkan pada LC-5 fase.
Learning Cycle 5 fase (LC-5E) merupakan salah satu hasil pengembangan pakar-pakar
pendidikan. Bybee et al (1989, dalam Iskandar, 2005:8) menambahkan satu fase di awal dan
di akhir daur belajar tiga fase sehingga menjadi lima fase. Fase-fase ini menunjukkan
kegiatan siswa di dalam pembelajaran sains. Fase-fase itu adalah engagement atau invitation,
exploration, explanation, elaboration dan evaluation. Pada Dasna (2005:50) mengganti kata
elaboration dengan extention yang secara teknis berarti sama.
Tabel 1 menguraikan tentang fase-fase Learning Cycle 5 fase (LC-5E) beserta kegiatan
belajar yang dapat diberikan.

5


Berdasarkan kegiatan pembelajaran di atas, dalam merencakan pembelajaran dengan
LC dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Identifikasi topik yang cocok diajarkan dengan LC dan tetapkan konsep-konsep yang
akan diajarkan.
2. Tentukan kompetensi setiap topik yang akan disajikan.
3. Tetapkan indikator yang sesuai dengan kompetensi.
4. Buatlah outline LC untuk tiap-tiap fase LC.
5. Rencanakan metode, medi dan langkah langkah pembelajarannya.
6. Buatlah alat evaluasi yang selaras.
METODOLOGI PENELITIAN
Fase-fase LC-5E Kegiatan Belajar Yang Diberikan
Engagement: bertujuan mendapatkan
perhatian siswa, mendorong kemampuan
berpikir, dan membantu mengakses
pengetahuan awal yang telah
dimilikinya.
Demontrasi.
Membaca artikel dari media terbaru, buku,
literatur lain.
Menulis bebas mendiskripsikan peristiwa.
Menganalisis grafik atau data.
Exploration : Bertujuan memberi
kesempatan siswa berpikir,
merencanakan kegiatan, melakukan
penelitian, mengorganisasikan informasi
yang telah diperoleh.
Membaca sumber otentik: menjawab open-
ended question dan membuat suatu
keputusan.
Memecahkan masalah
Membuat suatu model
Melakukan eksperimen bebas.
Explanation: Bertujuan mengklarifikasi
dan memodifikasi pemahaman siswa
berdasarkan konsep atau menerapkannya
dalam situasi baru.
Analisis data dan menjelaskan
Melengkapi ide dan fakta kejadian.
Membaca
Berdiskusi.
Extention : bertujuan mengembangkan
dan memantabkan pemahaman konsep
atau menerapkannya dalam situasi baru.
Problem solving
Experimental inquiry.
Ketrampilan berpikir: klasifikasi, abstraksi,
analisis kesalahan.
Membuat keputusan.
Evaluation : Bertujuan mengevaluasi
tahap-tahap kegiatan dalam fase-fase
sebelumnya yang mendorong
kemampuan investigasi lebih lanjut.
Telaah kasus
Teacher and/or student generated scoring
tools or rubrics.
6

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) Karena
penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga
termasuk penelitian dskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran
diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di
masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, Suharsimi 2002:82). Ciri atau karakteristik utama
dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan
anggota kelompok sasaran.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan Kelas, maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam
Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang
berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan)
dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah
direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan
pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan
Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 1 Wonoayu, dilaksanakan pada bulan Februari
sampai Mei semester genap Tahun Pelajaran 2011-2012, sebagai subyek penelitian adalah siswa-
siswa kelas XI IPA 1 tahun pelajaran 2011-2012 sebanyak 36 siswa.
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah (1) untuk
menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu
tertentu : (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai dan (3) untuk memperoleh
suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui
ketuntasan belajar siswa secara individu maupun secara klasikal. Untuk memperkuat data yang
di kumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan ) yang dilakukan oleh teman
sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan
analisis data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu
metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang
diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa untuk
memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses
pembelajaran.
7

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah
proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa
soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini di hitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu: Untuk menilai ulangan
atau tes formatif, peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada dikelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata
tes formatif dapat dirumuskan:

N
X
X

dengan X = Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa


N = Jumlah siswa
Untuk lembar observasi
Lembar observasi aktivitas guru dan siswa , Untuk menghitung lembar observasi aktivitas guru
dan siswa digunakan rumus sebagai berikut:
Rata - rata =

X
X

dimana
X = Hasil Pengamatan per item

X = Jumlah total pengamatan


Cara skoring indikator aktivitas belajar adalah dengan memberikan skor :
0,0 1,0 = sangat buruk
1,1 2, 0 = buruk
2,1 3,0 = cukup
3,1 4,0 = baik
4,1 5,0 = sangat baik


8

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data observasi
berupa pengamatan pengelolaan belajar dengan metode demonstrasi dan pengamatan aktivitas
siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus.
Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul
mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf
kesukaran, dan daya pembeda.
Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan
belajar dengan model siklus belajar..
Siklus I
Pada tahap perencanaan awal, peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang
terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I di Kelas XI IPA 1 dengan
jumlah siswa 36 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar
mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data
hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus I
No Uraian Hasil Siklus I
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
69.70
25
70
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan Model Siklus belajar
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 69,70 dan ketuntasan belajar mencapai 70%
atau ada 25 siswa dari 36 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada
siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai
75 hanya sebesar 70 % lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar
85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang
dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan model siklus belajar.

9

Berikut disajikan hasil observasi aktivitas guru dan siswa siklus ke I
No Aktivitas Guru yang diamati Skor
1 Menyampaikan tujuan 3,0
2 Memotivasi siswa 3,2
3 Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya 2,4
4 Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi 3,0
5 Menjelaskan materi yang sulit 3,2
6
Membimbing dan mengamati siswa dalam melaksanakan
dan mengerjakan LKS/ menemukan konsep
3,0
7
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
kegiatan
3,5
8 Meminta kelompok lain untuk menanggapi 3,0
9 Memberikan umpan balik 2,2
10 Membimbing siswa merangakum pelajaran 3,5
Total 30
Rata-rata 3,0
No Aktivitas Siswa Yang Diamati Skor
1 Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru 2,3
2 Membaca buku siswa/mengerjakan LKS 2,7
3 Bekerja dengan anggota kelompoknya 3,0
4 Diskusi antar siswa/antar siswa dengan guru 2,8
5 Menyajikan pembelajaran / presentasi 2,9
6 Mengajukan/ menanggapi pertanyaan/ide 2,5
7 Menulis dengan releven dengan KBM 3,0
8 Merangkum pembelajaran 3,3
9 Mengerjakan tes evaluasi/latihan 3,4
Total 26
Rata rata 2,88

Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa aktivitas guru secara umum adalah baik (skor rata
rata 3,0 yang paling dominan pada siklus I dengan predikat baik adalah Meminta siswa
menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan dan Membimbing siswa merangkum pelajaran (
skor 3,5), kemudian Memotivasi siswa dan menjelaskan materi yang sulit (skor 3,2), Aktivitas
lain adalah Menyampaikan tujuan, Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi,
Membimbing dan mengamati siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan LKS/ menemukan
10

konsep, Meminta kelompok lain untuk menanggapi (skor 3,0) dan dengan predikat cukup baik
serta Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya (2,4) , Memberikan umpan balik (2,2)
sedangkan aktivitas siswa secara umum adalah cukup baik(skor 2,88) yang paling dominan
dengan predikat baik adalah berturut turut adalah Mengerjakan tes evaluasi/latihan (skor 3,4)
Merangkum pembelajaran (skor 3,2) Aktivitas lain predikat cukup baik berturut turut adalah
Bekerja dengan anggota kelompoknya (skor 3,0), Menulis hal yang releven dengan KBM (skor
3,0) , Menyajikan pembelajaran / presentasi (skor 2,9), Diskusi antar siswa/antar siswa dengan
guru(skor 2,8), Membaca buku siswa/mengerjakan LKS (skor 2,7), Mengajukan/ menanggapi
pertanyaan/ide (skor 2,5), Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (skor 2,3).
Refleksi Siklus I , Guru masih kurang dalam Mengkaitkan dengan pelajaran
berikutnya,Guru masih kurang bisa Memberikan umpan balik,Guru masih kurang dapat
menciptakan suasana Diskusi yang baik dan masih bersifat monoton,Siswa masih kurang dalam
Bekerjasama dengan anggota kelompoknya, Siswa masih belum optimal dalam Menyajikan
pembelajaran / presentasi,Siswa kurang terbiasa Membaca buku siswa/mengerjakan LKS,
Mengajukan/ menanggapi pertanyaan/ide, Siswa kurang terbiasa Mengajukan/ menanggapi
pertanyaan/ide, Siswa kelihatannya masih mengalami kesulitan , dimungkinkan siswa belum
terbiasa dengan model ini.
Revisi Racangan dari refleksi putaran I , maka perlu dirancang kembali untuk kegiatan
penelitian , rancangan yang dimaksud adalah :.Guru harus memberikan pertanyaan yang
bervariasi,dan mengaitkan dengan pelajaran yang lalu dan tidak dijawab sendiri oleh guru,Guru
harus memberikan umpan balik dan pujian bagi siswa yang yang dapat menjawab dengan
benar,Guru harus sabar dalam membimbing diskusi sehingga tercipta suasana yang kondusif
dan siswa dapat bekerjasama dengan baik antar anggota kelompoknya, serta berani bertanya dan
mengeluarkan pendapat, Guru harus melibatkan siswa dalam penarikan kesimpulan.
Siklus II
Tahap perencanaan siklus kedua , pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS, 2, soal tes formatif II dan alat-alat
pengajaran yang mendukung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II
dilaksanakan di Kelas XI IPA1 dengan jumlah siswa 36 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak
sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan
memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak
11

terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan
pelaksanaan belajar mengajar, Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang
telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian
pada siklus II adalah sebagai berikut.

No
Uraian Hasil Siklus II
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
78,25
31
77,5

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 78,25 dan
ketuntasan belajar mencapai 77,5 % atau ada 28 siswa dari 36 siswa sudah tuntas belajar. Hasil
ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami
peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena
setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga
pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan Model Siklus
Belajar.

12

Berikut disajikan hasil observasi aktivitas guru dan siswa siklus ke II
No Aktivitas Guru yang diamati Skor
1 Menyampaikan tujuan 3,0
2 Memotivasi siswa 2,7
3 Mengaitkan dengan pelajaran berikutnya 3,2
4 Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi 3,2
5 Menjelaskan materi yang sulit 3,4
6 Membimbing dan mengamati siswa dalam
melaksanakan dan mengerjakan LKS/ menemukan konsep
2,8
7 Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan 3,3
8 Meminta kelompok lain untuk menanggapi 3,5
9 Memberikan umpan balik 3,5
10 Membimbing siswa menerangkum pelajaran 4
Total 31,6
Rata rata 3,16
No Aktivitas Siswa yang diamati skor
1 Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru 2,7
2 Membaca buku siswa/mengerjakan LKS 3.1
3 Bekerja dengan anggota kelompoknya 3,0
4 Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru 3,2
5 Menyajikan hasil pembelajaran 3,5
6 Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide 3,0
7 Menulis yang relevan dengan KBM 3,0
8 Menerangkum pembelajaran 3,4
9 Mengerjakan tes evaluasi/latihan 39
Total 28,8
Rata rata 3,20
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa aktivitas guru secara umum adalah baik (skor
rata rata 3,16) yang paling dominan pada siklus II dengan predikat baik adalah Membimbing
siswa merangakum pelajaran ( skor 4,0) , Meminta kelompok lain untuk menanggapi (skor 3,5),
Memberikan umpan balik (skor 3,5) kemudian Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan
hasil kegiatan (skor 3,3), Mengaitkan dengan pelajaran berikutnya (skor 3,2), Menyampaikan
materi /langkah-langkah/strategi (skor 3,2), Menyampaikan tujuan (skor 3,0), Membimbing dan
mengamati siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan LKS/ menemukan konsep(skor
13

2,8),sedangkan untuk memotivasi siswa dalam belajar terdapat sedikit penurunan pada aktivitas
guru dalam pembelajaran dimana skor sebelumnya sebesar 3,2 turun menjadi 2,7, hal ini
dimungkinkan karena guru kurang memahami tentang hubungan antara materi yang diajarkan
dengan dengan materi yang lalu sedangkan aktivitas siswa secara umum adalah baik (skor 3,2)
mengalami peningkatan dibandingkan pada siklus I, yang paling dominan dengan predikat baik
adalah berturut turut adalah Mengerjakan tes evaluasi/latihan (skor 3,9) , Menyajikan hasil
pembelajaran(3,5) Merangkum pembelajaran (skor 3,4), Diskusi antar siswa/antara siswa
dengan guru (skor 3,2), Membaca buku siswa/mengerjakan LKS(skor 3,1) Aktivitas lain
predikat cukup baik berturut turut adalah Bekerja dengan anggota kelompoknya (skor 3,0),
Menulis hal yang releven dengan KBM (skor 3,0) , Mengajukan/ menanggapi pertanyaan/ide
(skor 3,0) Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (skor 2,7) Pada umumnya komponen-
komponen pada aktivitas guru dan siswa sebagian besar mengalami peningkatan walupun tidak
terlalu besar, hal ini mungkin karena antara guru dan siswa mulai terbiasa dengan menggunakan
komponen komponen yang memang sudah terencana sebelum proses pembelajaran
berlangsung.
Refleksi Siklus II, Motivasi guru kepada siswa kurang begitu nampak bahkan
dibandingkan dengan pada siklus I masih lebih nampak siklus, Dalam Membimbing dan
mengamati siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan LKS/ menemukan konsep, Guru sudah
baik dalam memberikan pertanyaan pada siswa dan tidak dijawab sendiri, Dalam memberikan
penjelasan suara guru kurang begitu jelas sehingga siswa masih banyak yang tidak
memperhatikan penjelasan guru.
Revisi Rancangan Siklus III, Berdasarkan pelaksanaan tindakan dan refleksi yang
dilakukan pada putaran ke II , maka perlu dilakukan revisi rancangan pada siklus III , bentuk
rencana tindakan untuk putaran ke III sebagai berikut : Dalam pembelajaran selayaknya suara
guru dikeraskan supaya terdengar oleh seluruh siswa, Seyogyanya dalam pembelajaran , guru
memberi pujian-pujian yang menyenangkan bagi siswa, sehingga pembelajaran lebih hidup dan
menyenangkan, Diusahakan dalam membimbing diskusi guru harus berusaha seoptimal
mungkin untuk memotivasi agar siswa aktif dalam berdiskusi.
Siklus III
Tahap Perencanaan, Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang
terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang
14

mendukung, Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan di Kelas XI
IPA1 dengan jumlah siswa 36 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada
siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang
digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai
berikut.
Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus III
No Uraian Hasil Siklus III
1
2
3
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
85,80
36
90

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 85,80 dan dari 36
siswa yang telah tuntas sebanyak 32 siswa dan 4 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka
secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 90 % (termasuk kategori tuntas).
Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan
hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam
menerapkan belajar dengan model siklus belajar sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan
pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah
diberikan.
Aktivitas Guru dan Siswa pada Siklus III
No Aktivitas Guru yang diamati Skor
1 Menyampaikan tujuan 3,8
2. Memotivasi siswa 3,6
3. Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya 4,1
4. Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi 3,7
5. Menjelaskan materi yang sulit 3,8
6. Membimbing dan mengamati siswa dalam
melaksanakan dan mengerjakan LKS/ menemukan konsep
4,2
15

7.

Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan
hasil kegiatan
3,9

8. Meminta kelompok lain untuk menanggapi 4,3
9. Memberikan umpan balik 4,2
10. Membimbing siswa merangakum pelajaran 4,5
Total 40,2
Rata rata 4,02
No Aktivitas syang diamati Skor
1. Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru 3,6
2. Membaca buku siswa/mengerjakan LKS 4,2
3. Bekerja dengan anggota kelompoknya 4,1
4. Diskusi antar siswa/antar siswa dengan guru 4,4
5. Menyajikan hasil pembelajaran 4,7
6. Mengajukan/menanggapi pertanyaan /ide 4,2
7. Menulis yang releven dengan KBM 4,2
8. Merangkum pembelajaran 4,6
9. Mengajarkan tes evaluasi /latihan 4,9
Total 38,9
rata 4,32
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa aktivitas guru secara umum adalah sangat baik (skor
rata rata 4,02) Pada siklus III ini semua komponen dalam aktivitas guru mengalami
peningkatan menuju ke predikat baik , hanya tertaut sedikit seperti pada komponen Meminta
siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan(skor 3,9), Menyampaikan tujuan (skor 3,8),
Menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi (skor 3,7), Memotivasi siswa( skor 3,6)
Sedangkan aktivitas siswa secara umum adalah sangat baik (skor 4,32) mengalami peningkatan
dibandingkan pada siklus II, semua komponen pada aktivitas siswa sudah mencapai predikat
yang sangat baik hanya pada komponen Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (skor
3,7) yang berpredikat baik hal ini karena pengaruh dari guru yang kurang jelas dalam
memberikan penjelasan kepada siswa sehingga siswa agak tidak memperhatikan penjelasan dari
guru yang bersangkutan.
Refleksi, Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih
kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan Penerapan model siklus belajar. Dari data-
data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: Selama proses belajar mengajar guru
16

telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar,
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar
berlangsung, Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan
peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai
ketuntasan secara klasikal .
Pembahasan
Ketuntasan Hasil belajar Siswa, Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa model
siklus belajar memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat
dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru
(ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 70 %, 77,5 %, dan 90
%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran,Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas
siswa dalam proses pembelajaran dengan model siklus belajar sebagian besar sudah mencapai
hasil yang sangat bagus dengan rattan- rata skor 4,32. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa
dapat dikategorikan sangat baik. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah
melaksanakan langkah-langkah belajar dengan model siklus belajar dengan sangat baik, tetapi
skor rata rata yang diperoleh sangat tipis untuk mendekati ke predikat baik yaitu dengan skor
4,02 sedangkan predikat baik skor yang diminta adalah 4,00. Hal ini terlihat dari aktivitas guru
yang muncul di antaranya komponen Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
kegiatan(skor 3,9), Menyampaikan tujuan (skor 3,8), Menyampaikan materi/langkah-
langkah/strategi (skor 3,7), Memotivasi siswa( skor 3,6) yang masih berpredikat baik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan
seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:(1)
Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap
siklus, yaitu siklus I (70%), siklus II (77,5 %), siklus III (90,0 %). (2) Penerapan Model Siklus
Belajar mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan aktivitasi belajar siswa yang
ditunjukan dengan rata-rata hasil observasi dengan skor 4,32 yang berarti aktivitas belajar siswa
17

saat pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar sangat baik dan aktivitas gurupun
juga sangat baik dengan perolehan rata rata hasil observasi sebesar 4,02
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar
Kimia lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan
saran sebagai berikut: (1) Dalam pembelajaran Kimia lebih efektif bila bahan dapat dipelajari
secara kelompok, sehingga siswa mempunyai dasar-sadar edukatif serta siswa dapat
bertanggung jawab sehingga dapat memberikan pengaruh baik pada performance tugasnya
maupun didalam prestasi belajar. (2) Guru Kimia perlu menanamkan kepada siswa tentang
pentingnya pelajaran Kimia, sehingga dengan sendirinya akan tertanam sikap yang positif
terhadap pelajaran Kimia.(3) Dalam menerapkan pemberian model siklus belajar, khususnya
guru Kimia hendaknya memperhatikan faktor daya ingat, gaya kognitif, motivasi belajar,
kebiasaan belajar dan gaya belajar, agar memperoleh prestasi belajar yang optimal.(4) Untuk
mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai motivasi belajar, disarankan kepada
peneliti lain untuk mengkaji secara lebih mendalam dengan menggunakan instrumen yang lebih
bervariasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa
Cipta
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar
Mengajar, Jakarta. Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
E, Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional, Bandung, Rosda
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas
Gajah Mada. Yoyakarta.
Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM.
Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin
University Press.
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.
Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda
Karya.
18

Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Rahman, Syaiful dkk.2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan karya Ilmiah. Surabaya:
SIC
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas
Terbuka.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar.
(terjemahan) Bandung: Jemmars.