Anda di halaman 1dari 15

1

Diare Akut pada Anak







Wurry Devian Putra
102010214 (C5)

Pendahuluan
Diare merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh banyak negara baik negara maju
maupun negara berkembang. Diare secara epidemiologic biasanya didefinisikan sebagai
keluarnya tinja yang lunaka atau cair lima kali atau lebih dalam satu hari. Diare dapat
menyerang baik orang dewasa maupun anak-anak, namun pada orang dewasa, diare lebih
banyak disebabkan oleh karena adanya kelainan organic maupun fungsional dari organ-organ
di rongga abdomen, dan menyebabkan diare kronis. Namun pada anak-anak, diare lebih
sering terjadi akibat infeksi baik virus maupun bakteri dan patogen lainnya mengingat sistem
imun anak-anak serta fungsi organnya yang belum sempurna seperti orang dewasa, dan
menyebabkan diare akut. Pada makalah ini akan dibahas mengenai diare akut pada anak serta
komplikasinya sering terjadi yaitu dehidrasi karena kekurangan cairan dalam tubuhnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat 11510, No telp: (021) 56942061, Fax: (021) 5631731
E-mail: wurry.devian@gmail.com
2

Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yang profesional dan optimal.
Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:
1. Identitas pasien
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku, agma, status perkawinan,
pekerjaan, dan alamat rumah.
Data ini sangat penting karena data tersebut sering berkaitan dengan masalah klinik
maupun gangguan sistem organ tertentu.
Berdasarkan diagnosa kasus maka anamnesisnya yaitu menanyakan sejak kapan timbul
diarenya? frekuensi diarenya, konsistensinya, apakah ada darah, lendir, perubahan warna?
Apakah ada gejala lain seperti mual, muntah, dan demam? Apa faktor penyebabnya, apakah
dari makanannya? Sudah diobati belum sebelumnya?

Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dapat dibagi dua, yaitu pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
a. Pemeriksaan fisik
Secara umum pemeriksaan umum pada diare yang pertama adalah tanda vital yaitu
tekanan darah, suhu, denyut nadi dan lainnya. Di dukung dengan pemeriksaan umum berupa
inspeksi, palpasi di daerah abdomen, perkusi dan auskultasi guna mendengar bising usus.
Pada anak yang terkena dehidrasi, perlu dilakukan juga beberapa pemeriksaan untuk
menentukan derajat dehidrasinya. Yaitu seperti mengecek turgor kulit, mulut dan lidah, mata
dan air mata, ubun-ubun yang cekung, tangan/kaki dingin, basah, nadi cepat atau lemah, serta
napas cepat, dalam yang dikarenakan asidosis metabolik.
3

b. Pemeriksaan penunjang
Darah
Darah perifer lengkap (hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit). Pasien
dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis leukositnya yang
normal atau limfositosis. Pasien dengan infeksi bakteri terutama pada infeksi bakteri
invasif ke mukosa, memiliki leukositosis dengan kelebihan darah putih. Jumlah leukosit
biasanya tidak meningkat pada diare virus-mediated dan racun-dimediasi. Leukositosis
sering tetapi tidak terus-menerus diamati dengan bakteri enteroinvasif. infeksi
Enteroinvasive dari leukosit menyebabkan usus besar, terutama neutrofil, untuk
ditumpahkan ke dalam tinja. Tidak adanya leukosit tinja tidak menghilangkan
kemungkinan organisme enteroinvasive. Namun, keberadaan leukosit feses
menghilangkan pertimbangan enterotoksigenik E. coli, spesies Vibrio, dan virus.
Neutropenia dapat timbul pada salmonellosis.
Ureum, kreatinin. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan
volume cairan dan mineral tubuh.


Serum elektrolit : Na
+
,K
+
, Cl
+
.
Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam basa
(pernapasan Kusmaull).


Immunoassay : toksin bakteri (C.difficile), antigen virus (rotavirus), antigen protozoa
(Giardia, E.histolytica).
1,3

Pemeriksaan Tinja
Pemeriksaan tinja selalu penting, mula-mula di perhatikan apakah bentuknya cair,
setengah padat, atau bercampur darah, lendir. Harus segera diperiksa apakah ada amoeba,
cacing/telur, leukosit, dan eritrosit. Adanya gelembung lemak memberi dugaan kearah
malabsorbsi lemak dan penyakit pancreas. Adanya eritrosit menunjukan adanya infeksi,
sedangkan jika ada leukosit kemungkinan ada infeksi dan inflamasi usus. Pemeriksaan pH
tinja perlu di lakukan bila ada dugaan malabsorbsi karbohidrat, dimana pH tinja di bawah
6, disertai tes reduksi positif menunjukan adanya intoleransi glukosa. Pewarnaan gram
perlu di lakukan untuk mengetahui diare oleh karena infeksi bakteri, jamur, dan
sebagainya. Selain itu dapat diperiksa sifat tinja berupa volume baik itu banyak dan berbau
busuk menunjukan adanya infeksi dan bila terdapat kelainan demikian, dapat langsung di
lakukan kultur tinja. Bila terdapat minyak dalam tinja menunjukan insufisiensi pancreas,
tinja pucat (steathore) menandakan kelainan di proximal ileosekal. Diare seperti air bisa
4

terjadi akibat kelainan pada semua tingkat dari traktus gastrointestinal. Adanya makanan
yang tidak tercerna di saluran cerna adalah manifestasi dari kontak yang terlalu cepat
antara tinja dengan dinding usus. Sedangkan bau asam menunjukan adanya penyerapan
karbohidrat yang tidak sempurna. Perlu di bedakan perdarahan yang disertai diare atau
perdarahan yang menyertai tinja normal. Pada colitis infeksi dan colitis ulcerosa
perdarahan disertai dengan diare, sedangkan yang menyertai tinja normal sperti adanya
keganasan, hemoroid, polip dan lainya. Pemeriksaan fisik tinja normal tidak selalu
menyingkirkan kelainan organik.
3,4

Uji Serologi
Selain itu dapat pula di lakukan uji biokimia karena bakteri penyebab diare ada yang
mempunyai kemampuan untuk meragi gula tertentu.setelah melakukan uji-uji diatas, dapat
dilanjutkan dengan uji serologi yang paling penting, untuk mengetahui ada tidaknya
antibody terhadap antigen penyebab diare tersebut. Salah satu contoh seperti bakteri
Vibrio cholera, yang merupakan salah satu penyebab diare tersering. Bakteri ini dari hasil
identifikasi merupakan bakteri gram negatif ,berbentuk batang bengkok, punya flagel,
meragi glukosa dan tidak ragi laktosa, dan lain lainnya yang juga merupakan ciri khas
yang sangat penting utnuk membedakan dengan kuman lainya.
3,4

Diagnosis

Diagnosis Banding
Diare karena Bakteti(Enterotoksikgenik)
Bakteri yang tidak merusak mukosa misal V. cholera Eltor, Enterotoxigenic E.coli (ETEC)
dan C.perfringens. V.cholerae eltor mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus
15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Enterotoksin ini menyebabkan kegiatan berlebihan
nikotnamid adenine dinukleotid pada dinding sel usus, sehingga meningkatkan kadar
adenosisn 3-5-siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif
anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation natrium dan
kalium.

Diare karena bakteri/parasit(Enterovasif)
Bakteri yang merusak (invasif) antara lain Enteroinvasive E.coli (EIEC), Salmonella,
Shigella, Yersinia, C.perfringens tipe C. Diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus
berupa nekrosis dan ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat
5

tercampur lendir dan darah. Walau demikian infeksi kuman-kuman ini dapat juga
bermanifestasi sebagai diare koleriformis. Kuman salmonella yang sering menyebabkan diare
yaitu S.paratyphi B, Styphimurium, S.enterritidis, S.choleraesuis. Penyebab parasit yang
sering yaitu E.histolitika dan G.lamblia.

Intoleransi Laktosa
Karbohidrat dapat dibagi dalam monosakarida (glukosa, galaktosa, dan fruktosa),
disakarida (laktosa atau gula susu, sukrosa atau gula pasir dan maltosa) serta polisakarida
(glikogen, amilum, tepung). Di dalam klinis polisakarida tidak penting, karena sebelum
masuk kedalam usus halus sudah dipecah lebih dahulu menjadi disakarida oleh amilase dari
ludah dan pankreas. Laktosa merupakan karbohidrat utama dari susu (susu sapi mengandung
50 mg laktosa perliter). Penyebab dari Intoleransi laktosa terjadi karena defisiensi enzim
laktase dalam brush border usus halus.
1

Patofisiolgi, sugar intolerance(intoleransi gula) timbul bila tubuh mengalami defisiensi
salah satu atau lebih enzim disakarida dan atau adanya gangguan absorbsi serta pengangkutan
monosakarida dalam usus halus. Jadi dua faktor yang dapat menimbulkan intoleransi gula
ialah faktor pencernaan (digesti) dan faktor absorbsi. Gangguan kedua faktor ini dapat
bersifat bawaan (kongenital, primer) atau didapat (sekunder). Pada bentuk primer terdapat
kelainan genetis, sedangkan bentuk sekunder lebih banyak disebabkan keadaan seperti diare
(oleh sebab apapun), beberapa saat setelah diare oleh karena absorpsi belum pulih dan
produksi enzim belum sempurna, pasca-operasi usus, terutama bila dilakukan reseksi usus,
malnutrisis energi protein (atrofi vili).
Baik pada yang bawaan maupun pada yang didapat penderita menunjukan gejala klinis
yang sama, yaitu diare yang sangat frekuen, cair (watery), bulky dan berbau asam,
meteorismus, flatulens dan kolik abdomen. Akibat gejala tersebut, pertumbuhan anak akan
terlambat bahkan tidak jarang terjadi malnutrisi.

Diagnosis Kerja
Dari setiap keluhan dan usia yang dapat kita amati saya menduga bahwa anak ini terkena
diare karena virus.



6

Epidemiologi
Anak-anak, terutama bayi lebih rentan menderita dehidrasi disebabkan karena:
- Rasio luas permukaan tubuh dan berat yang lebih besar sehingga insensible water loss
lebih besar
- Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan akan air ketika haus
- Kebutuhan cairan basal yang lebih banyak (100-120 ml/kg/hari, sekitar 10-12% berat
tubuh)
- Memiliki tubulus renalis yang proses reabsorbsinya belum sempurna.
1

Dulu, penyakit diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada anak yang lebih besar.
Kejadian diare akut pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Penyakit ini
ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Di Negara yang
sedang berkembang, prevalensi yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari
sumber air yang tercemar, kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya
tahan badan.
4
Namun sekarang, meski telah terjadi kemajuan pengobatan dengan rehidrasi oral, diare
akut yang terjadi akibat agen infeksi tetap bertahan sebagai masalah penting di negara-negara
berkembang. Sebuah studi tentang masalah ini pada anak-anak di bawah usia 3 tahun di Cina,
India, Meksiko, Myanmar (Burma), dan Pakistan telah diterbitkan. Sejumlah 36.400 anak
penderita diare 3.279 kontrol yang sesuai usia telah diselidiki, dengan hasil 60% adalah anak
laki-laki dan kira-kira 60% berumur kurang dari 1 tahun. Hanya tiga agen infektif yang
secara konsisten atau secara pokok ditemukan meningkat pada anak penderita diare. Agen-
agen ini adalah: rotavirus 16%, Shigella spp. 11%, E.coli enterotoksigenik 16%. Rotavirus
jelas merupakan penyebab diare akut yang paling sering diidentifikasi pada anak dalam
komunitas tropis, sebagaimana pula di daerah dengan iklim sedang. Di negara-negara tropis,
usia puncak terkena infeksi adalah usia antara 6-12 bulan walaupun hal ini juga dapat terjadi
pada usia yang lebih muda.
5

Puncak insiden yang khas dalam komunitas tropis yang berkaitan dengan suhu udara yang
lebih sejuk tidak diketemukan, dan kadang-kadang memang tidak ada kecenderungan musim
sama sekali. Ini berarti, penyakit ini hadir sepanjang tahun dengan tingkat transmisi rendah,
yang mempertahankan infeksi tersebut dalam komunitas.
Meski telah jelas bahwa rotavirus ditularkan melalui fecal-oral, bertahannya agen ini
dalam komunitas yang sudah maju dengan kondisi sanitasi yang baik dan tingkat pemberian
7

ASI yang tinggi, memberi petunjuk bahwa penularan bersumberkan udara dan droplet
mungkin juga terjadi.
5


Etiologi
Infeksi diare akut berdasarkan kasus diatas disebabkan akibat infeksi Rotavirus, Norwalk
dan virus seperti Norwalk.
6


Patogenesis
Rotavirus
Virus yang biasanya menyebabkan gastroenteritis manusia digolongkan sebagai rotavirus
kelompok A, tetapi secara antigenik dan genomik rotavirus yang berbeda juga menyebabkan
berjangkitnya diare. Rotavirus menginfeksi sel-sel dalam vili usus halus. Virus-virus itu
berkembang biak dalam sitoplasma enterosit dan merusak mekanisme transpornya. Sel yang
rusak dapat masuk ke dalam lumen usus dan melepaskan sejumlah besar virus, yang
kemudian terdapat dalam tinja (sampai 10
10
partikel per gram feses). Diare yang disebabkan
oleh rotavirus mungkin akibat gangguan penyerapan natrium dan absorpsi glukosa karena sel
yang rusak pada vili digantikan oleh sel kriptus yang belum matang yang tidak menyerap.
Dibutuhkan waktu 3-8 minggu untuk perbaikan fungsi normal.
Rotavirus merupakan penyebab sebagian besar penyakit diare pada bayi dan anak-anak
tetapi tidak pada orang dewasa. Masa inkubasinya 1-4 hari. Simptom yang khas antara lain
diare, demam, nyeri perut dan muntah-muntah, sehingga terjadi dehidrasi. Pada bayi dan
anak-anak, kehilangan banyak elektrolit dan cairan dapat mematikan kecuali jika diobati.
Penderita dengan kasus yang lebih ringan mempunyai simptom selama 3-8 hari dan
kemudian sembuh sama sekali. Pada kasus seperti itu, terjadi infeksi asimptomatik. Diagnosis
laboratorium bergantung pada terlihatnya virus dalam tinja yang diambil pada awal penyakit
dan pada kenaikan titer antibodi. Virus dalam tinja terlihat melalui mikroskopi electron imun,
imunodifusi atau ELISA.
Infeksi rotavirus biasanya terdapat selama musim dingin, dengan masa inkubasi selama 1-
4 hari. Infeksi simtomatik adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak antara umur 6
bulan sampai 2 tahun, dan penularan tampaknya melalui jalur tinja-mulut. Infeksi nosokomial
sering terjadi.


8

Virus Norwalk
Virus Norwalk ditetapkan sebagai patogen penting dalam gastroenteritis epidemik. Virus
ini paling sering dikaitkan dengan wabah epidemik gastroenteritis yang ditularkan melalui
air, makanan, dan yang berhubungan dengan kulit ikan. Wabah pada masyarakat dapat terjadi
di setiap musim. Gastroenteritis epidemik nonbakteri ditandai oleh (1) tiadanya patogen
bakteria; (2) gastroenteritis dengan permulaan dan penyembuhan yang cepat dan tanda-tanda
sistemik yang relatif ringan; dan (3) pola epidemiologi dari penyakit yang sangat menular
yang menyebar dengan cepat tanpa predileksi khusus dari segi umur atau geografi.
Gastroenteritis virus mempunyai masa inkubasi 16-48 jam. Permulaan penyakitnya cepat, dan
kejadian klinik berlangsung 24-48 jam; simtomnya antara lain diare, mual, muntah-muntah,
demam ringan, kejang perut, sakit kepala dan lesu. Perawatan di rumah sakit jarang
diperlukan. Sekuele belum pernah dilaporkan.
Pengobatannya bersifat simtomatik. Karena tinja bersifat menular, pembuangannya harus
dilakukan dengan hati-hati.
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang belebihan ini akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga terjadi diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) peningkatan sekresi air dan elektrolit ke
dalam rongga usus dan selanjutnya terjadi diare timbul karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.
c. Gangguan motalitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan bekurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
menyebabkan bakteri tumbuh belebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare juga.
Patogenesis diare akut
1
a. Masuknya jasad renik yang masih hidup masuk ke dalam usus halus setelah melewati
rintangan asam lambung.
b. Jasad renik tersebut berkembangbiak (multiplikasi) di dalam usus halus.
c. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)
d. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
9

Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
a. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang menyebabkan terjadinya gangguan
keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemi dan sebagainya).
b. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan berkurang, pengeluaran
bertambah).
c. Hipoglikemia.
Gejala hipoglikemi aakan muncul bila glukosa darah menurun sampai 40mg% pada bayi
dan 50mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemia dapat berupa : lemas, apatis, peka
rangsang, tremor, berkeringat, syok, pucat, kejang sampai koma. Terjadinya hipoglikemia
ini perlu dipertimbangkan jika terjadi kejang yang tiba-tiba tanpa adanya panas atau
penyakit lain yang disertai dengan kejang.
d. Gangguan sirkulasi darah.
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringanberkurang dan terjadi
hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak,
kesadaran menurun (soporokomatosa) dan bila tidak segera ditolong penderita dapat
meninggal.
e. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)
1,2

Hal ini dapat terjadi karena:
- Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja
- Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton
tertimbun di dalam tubuh
- Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan
- Produksi metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan
oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria)
- Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. Pernafasan
bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernafasan Kuszmaull.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis berdasarkan tingkat keparahan diare:
3

a. Diare ringan dengan karakteristik sedikit pengeluaran feses yang encer tanpa gejala lain.
10

b. Diare sedang dengan karakteristik pengeluaran feses cair atau encer beberapa kali,
peningkatan suhu tubuh, muntah dan iritabilitas (kemungkinan), tidak ada tanda-tanda
dehidrasi biasanya, dan kehilangan berat badan atau kegagalan menambah berat badan.
c. Diare berat dengan karakteristik pengeluaran feses yang banyak, gejala dehidarasi sedang
sampai berat, terlihat lemah, menangis lemah, iritasbilitas, gerakan yang tak bertujuan,
respon yang tidak sesuai, dan kemungkinan letargi, sangat lemaah, atau terlihat koma.
d. Gejala-gejala terkait dapat meliputi demam, mual, muntah dan batuk.

Komplikasi
Dari segi nutrisi, diare akut berakibat buruk terhadap keadaan gizi melalui 4 mekanisme,
yaitu:
8

a. Pemasukan makanan berkurang oleh karena anoreksia, kebiasaan mengurangi/meniadakan
pemberian makanan.
b. Absorpsi makanan berkurang oleh karena kerusakan mukosa usus, vili usus pendek dan
atrofi dan enzim laktase dan disakarida lainnya berkurang.
c. Metabolisme endokrin fungsinya terganggu pada keadaan infeksi sistemik.
d. Kehilangan langsung cairan dan elektrolit, serta kehilangan nitrogen melalui tinja dan
keluarnya plasma protein dan darah karena kerusakan jaringan usus.
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan
muntah, terutama pada anak kecil dan usia lanjut. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus
yang meningkat, berkurangnya buang air kecil dengan warna urin gelap, tidak mampu
berkeringat dan perubahan ortostatik. Pada keadaan berat, dapat mengarah ke gagal ginjal
akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan sakit kepala.
1,2,4
Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang
dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik,
isotonik, dan hipertonik.

Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB): gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak
(vox cholerica). Pasien belum jatuh dalam pre-shock.
Dehidrasi sedang ( hilang cairan 5- 8% BB): turgor buruk, sura serak, pasien jatuh dalam
presyok atau syok, nadi cepat , napas cepat dan dalam.
Dehidrasi berat ( hilang cairan 8- 10 BB): tanda dehidrasi sedang ditambah dengan
kesadran menurun ( apatis sampai koma), otot- otot kaku sianosis.
2

11

Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma
kurang dari 130mEq/l
Dehidrasi isotonik (dehidrasi isonatremia) bila kadar natrium plasma 130-150mEq/l.
Dehidrasi hipertonik (hipernatremia) bila kadar natrium dalam plasma lebih dari
150mEq/l.
1


Penatalaksanaan
Rehidrasi.
Bila pasien keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat dicapai
dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin. Bila pasien kehilangan cairan
banyak dan dehidrasi, penatalaksanaan yang agresif seoerti cairan intravena atau rehidrasi
oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula atau starch harus diberikan.
Terapi rehidrasi oral murah, efektif dan lebih praktis daripada cairan intravena. Cairan oral
antara lain: pedialit, oralit, dll. Cairan infus antara lain: Ringer laktat, dll. Cairan diberikan
50-200ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan atau status hidrasi.
Untuk memberikan rehidrasi pada pasien perlu dinilai dulu derajat dehidrasi. Dehidrasi
terdiri dari dehidrasi ringan, sedang dan berat. Ringan bila pasien mengalami kekurangan
cairan 2-5% dari berat badan. Sedang bila pasien kehilangan cairan 5-8% dai berat badan.
Berat bila pasien kehilangan cairan 8-10% dari berat badan.
9

Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah cairan
yang keluar dari tubuh.
Macam-macam pemberian cairan:
a. BJ plasma dengan rumus:
Kebutuhan cairan = BJ plasma 1,025 x Berat Badan x 4 ml
0,001
b. Metode Pierce berdasarkan klinis:
Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x Berat Badan (kg)
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x Berat Badan (kg)
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x Berat Badan (kg)

c. Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis a.l (Lihat Tabel 1)
Kebutuhan cairan = Skor x 10% x kgBB x 1 liter
15
12

Tabel 1. Skor Penilaian Klinis Dehidrasi.
9

Klinis Skor
Rasa haus/muntah 1
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2
Frekuensi nadi > 120 kali/menit 1
Kesadaran apati 1
Kesadaran somnolen, sopor atau koma 2
Frekuensi napas > 30 kali/menit 1
Facies cholerica 2
Vox cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer womans hand 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2

Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak
mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau sama 3 disertai syok diberikan cairan per
intravena.
Cairan rehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral, melalui selang nasogastrik atau
intravena.
Bila dehidrasi sedang/berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infuse pembuluh
darah. Sedangkan dehidrasi ringan/sedang pada pasien masih dapat diberikan cairan per oral
atau selang nasogastrik, kecuali bila ada kontra indikasi atau oral/saluran cerna atas tak dapat
dipakai. Pemberian per oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 g
glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g Natrium Bikarbonat dan 1,5 g KCl setiap liter. Contoh oralit
generik, renalyte, pharolit dll.
Pemberian cairan dehidrasi terbagi atas:
a. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus
BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam 2 jam ini agar tercapai rehidrasi
optimal secepat mungkin.
13

b. Satu jam berikut/jam ke-3 (tahap kedua) pemberian diberikan berdasarkan kehilangan
cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok
atau skor Daldiyono kurang dari 3 dapat diganti cairan per oral.
c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja
dan insensible water loss (IWL).
Diet.
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien dianjurkan
justru minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas, makanan mudah dicerna seperti
pisang, nasi, keripik dan sup. Susu sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi lactase
transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alkohol
harus dihindaari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.
9

Obat anti-diare.
Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala.
a. Yang paling efektif yaitu derivate opioid missal loperamide, difenoksilat-atropin,
tinktur opium. Loperamide paling disulai karena tidak adiktif dan memiliki efek samping
paling kecil. Bismuth subsalisilat merupakan obat lain yang dapat digunakan tetapi
kontraindikasi pada pasien HIV karena dapat menimbulkan ensefalopati bismuth. Obat
antimotilitas penggunaannya harus hati-hati pada pasien disentri yang panas (termasuk
infeksi Shigella) bila tanpa disertai anti mikroba, karena dapat memperlama pemyembuhan
penyakit.
b. Obat yang mengeraskan tinja: atapulgite 4x2 tab/hari, smectite 3x1 saset diberikan tiap
diare/BAB encer sampai diare berhenti.
c. Obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: Hidrasec 3x1 tab/hari
Obat antimikroba.
Karena kebanyakan pasien memiliki penyakit yang ringan, self limited disease karena
virus atau bakteri non invasif, pengobtan empiric tidak dianjurkan pada semua pasien.
Pengobatan empirik diindikasikan pada pasien-pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri
invasif, diare turis (Travelers diarrhea) atau immunosupresif.

Prognosis
Dengan memperhatikan penatalaksanaan dan pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan
menghilangkan faktor penyebab, maka penyakit ini dapat memberi prognosis yang baik.

14

Pencegahan
- Penyediaan sarana sanitasi
- Program intensif pendidikan maternal terhadap ibu menyusui tentang keunggulan
pemberian PASI bagi bayi.
- Pertahankan tindakan pencegahan infeksi enterik.
- Lakukan tindakan cuci tangan yang benar.
- Ajarkan anak dan keluarga untuk mencuci tangan yang benar.
- Anjurkan orangtua untuk memvaksinasi bayinya dengan vaksin rotavirus.

Kesimpulan
Diare akut pada anak merupakan kasus yang tidak dapat dianggap ringan. Walaupun diare
akut menunjukkan gejala yang ringan dan mungkin dapat sembuh sendiri, diare akut ini dapat
menyebabkan dehidrasi dan komplikasi dari dehidrasinya yang dapat menimbulkan kematian
apabila terdapat pada anak yang imunokompromise, malnutrisi atau mendaat infeksi patogen
yang sangat banyak. Selain itu, diare akut juga dapat terjadi berulang-ulang, atau tidak
kunjung sembuh hingga 2 minggu (diare persisten). Karena itu, diperlukan penanganan yang
cepat serta tepat, dan identifikasi patogen penyebab bila diperlukan.
















15

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta
kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 1999.h.500-4.
2. Kolopaking MS. Diare. Dalam: Setiati S, Sari DP, Rinaldi I, Ranitya R, Pitoyo CW.
Lima puluh masalah kesehatan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna
Publishing; 2008.h.102-8.
3. Mary E, Muscari. Panduan belajar: keperawatan pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta:
EGC;2005.h.115.
4. Noerasid H, Suraatmadja S, Asnil PO. Gastroenteritis (diare) akut. Dalam:
Suharyono, Boediarso A, Halimun EM. Gastroenterologi anak praktis. Jakarta:
FKUI;1988.h.51-2.
5. Smith, Walker JA. Masalah pediatri di bidang gastroenterologi tropis. Dalam: Cook
GC. Problem gastroenterologi daerah tropis. Jakarta: EGC; 2002.h.133-4.
6. Graber MA, Toth PP, Herting RL. Buku saku dokter keluarga. Edisi ke-3. Jakarta:
EGC; 2006.h.163.
7. Jawetz E, Melnick J, Adelberg E. Mikrobiologi kedokteran. Edisi ke-20. Jakarta:
EGC; 1996.h.489-95.
8. Suandi IKG. Diit pada anak sakit. Jakarta: EGC; 1998.h.61.
9. Kolopaking MS, Daldiyono. Diare akut. Dalam: Sodoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Kolopaking MS, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5, jilid 1. Jakarta:
Interna Publishing; 2009.h.554-5.